Adab Alim Wal Muta'alim Imam Nawawi 16-25

Ringkasan Singkat

Video ini membahas tentang adab seorang guru dan murid dalam Islam, termasuk kewajiban mendidik anak, hukum mempelajari ilmu syar'i (fardu ain, fardu kifayah, dan sunah), serta adab-adab yang harus dimiliki seorang guru terhadap dirinya sendiri, dalam belajar, dan dalam mengajar.

  • Kewajiban mendidik anak sejak kecil dengan ilmu yang wajib diketahui saat dewasa.
  • Ilmu syar'i terbagi menjadi fardu ain (wajib bagi setiap individu), fardu kifayah (cukup jika sebagian melakukannya), dan sunah.
  • Adab guru meliputi niat ikhlas, akhlak mulia, menjauhi sifat tercela, memperbanyak zikir, merasa diawasi Allah, tidak merendahkan ilmu, dan menjaga kehormatan diri.

Pembukaan

Video dibuka dengan salam dan puji syukur kepada Allah SWT, serta selawat kepada Nabi Muhammad SAW. Kemudian, diperkenalkan tema yang akan dibahas, yaitu adab guru dan murid, khususnya mengenai kewajiban mendidik anak dan macam-macam ilmu syar'i serta hukum mempelajarinya.

Kewajiban Mendidik Anak

Imam Nawawi Rahimahullah menyatakan bahwa mendidik anak-anak sejak kecil adalah wajib. Imam Syafi'i dan pengikutnya berpendapat bahwa orang tua wajib mengajarkan kepada anak-anak mereka ilmu yang akan menjadi wajib setelah mereka balig, seperti salat, bersuci (wudu, tayamum, mandi wajib), puasa, dan lain-lain. Orang tua juga harus mengingatkan anak-anak tentang perkara-perkara haram seperti zina, liwat, mencuri, meminum khamer, berbohong, dan ghibah. Pengajaran ini hukumnya wajib, bukan sunah. Dalilnya adalah firman Allah dalam surat At-Tahrim ayat 6 yang memerintahkan untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka.

Upah Mengajar dan Kewajiban Ibu

Terdapat perbedaan pendapat mengenai dari mana upah untuk pengajaran anak diambil. Pendapat pertama mengatakan dari harta anak jika ia punya, jika tidak maka dari orang yang menanggung nafkahnya. Pendapat kedua mengatakan dari harta walinya (orang tuanya). Imam Syafi'i dan pengikutnya memberikan pintu bagi ibu untuk wajib mengajar jika ibu memiliki kewajiban untuk menafkahi anaknya.

Kesimpulan Kewajiban Mendidik Anak

Pendidikan anak sangat penting, terutama mengajarkan perkara wajib yang akan mereka hadapi saat dewasa. Halal dan haram juga perlu diingatkan sejak dini. Pengajaran lain seperti Al-Qur'an dan fikih hukumnya sunah. Setiap orang tua memiliki kewajiban untuk mendidik anak karena akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.

Kewajiban Mempelajari Penyucian Hati

Al-Ghazali menyatakan bahwa mengetahui batas-batas, penyebab-penyebab, terapi, dan pengobatan penyakit hati seperti hasad dan ujub hukumnya fardu ain. Ulama lain berpendapat bahwa jika seseorang memiliki hati yang bersih, maka tidak ada keharusan untuk mempelajari pengobatannya. Namun, jika hatinya tidak bersih, ia harus segera membersihkannya.

Ilmu Fardu Kifayah

Imam Nawawi menjelaskan bahwa ilmu fardu kifayah adalah ilmu-ilmu agama yang menjadi kewajiban bagi orang banyak dalam menegakkan agama mereka, seperti menghafal Al-Qur'an, hadis, ushul fikih, fikih, nahwu, dan bahasa. Ilmu-ilmu dunia yang dibutuhkan untuk keperluan urusan dunia seperti kedokteran dan akuntansi juga hukumnya fardu kifayah. Ulama berbeda pendapat tentang mempelajari hal yang menjadi faktor tegaknya urusan dunia seperti menjahit dan bertani, namun pendapat yang lebih kuat mengatakan hukumnya fardu kifayah. Orang yang melakukan fardu kifayah lebih utama daripada orang yang melakukan fardu ain karena menggugurkan dosa dari umat.

Pembagian Ilmu Syar'i dan Ghairu Syar'i

Ilmu syar'i terbagi menjadi fardu ain, fardu kifayah, dan sunah. Ilmu ghairu syar'i (bukan ilmu agama) terbagi menjadi haram (seperti mempelajari sihir), makruh (seperti syair-syair cinta yang melalaikan), dan mubah (seperti syair-syair yang tidak mengandung kebodohan). Mengajari orang yang menuntut ilmu dan memberikan fatwa hukumnya fardu kifayah.

Adab Guru: Niat dan Akhlak

Adab guru yang pertama adalah mengharap rida Allah dan tidak berniat memperoleh tujuan duniawi. Jangan menodai ilmu dengan sikap ambisius atau tamak pada dunia. Imam Syafi'i ingin ilmunya dipelajari tanpa menyandarkan satu huruf pun kepadanya. Adab kedua adalah berperilaku dengan akhlak yang baik, seperti zuhud, pemurah, santun, sabar, wara, khusyuk, dan rendah hati.

Adab Guru: Menjaga Diri dari Sifat Tercela

Guru harus menjaga diri dari sifat tercela seperti hasad (dengki), riya (pamer), ujub (bangga diri), dan meremehkan orang lain. Cara mengatasi hasad adalah dengan menyadari bahwa hikmah Allah menghendaki karunia itu diberikan kepada orang lain. Cara menghindari riya adalah dengan menyadari bahwa makhluk tidak bisa memberi manfaat atau mudarat. Cara menghindari ujub adalah dengan menyadari bahwa ilmu adalah karunia Allah. Cara menghilangkan sifat merendahkan orang lain adalah dengan berperilaku dengan hal yang diajarkan oleh Allah.

Adab Guru: Amalan dan Pengawasan Allah

Guru harus membiasakan bacaan tasbih, tahlil, zikir, dan doa-doa lainnya serta berbagai adab islami. Guru juga harus senantiasa merasakan pengawasan Allah dalam setiap keadaan.

Adab Guru: Tidak Merendahkan Ilmu dan Menjaga Kehormatan

Guru tidak boleh merendahkan ilmu dan harus menjaga ilmu dari hal-hal yang tidak pantas. Guru juga harus menjaga kehormatannya dan tidak melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan kecurigaan atau pandangan buruk dari orang lain. Jika hal itu terjadi, guru harus memberikan penjelasan untuk menghilangkan kecurigaan tersebut.

Adab Guru dalam Belajar dan Kesibukan

Guru harus senantiasa menyibukkan diri dengan ilmu, baik dengan membaca, menyampaikan, menelaah, memberikan catatan, mengkaji, berdiskusi, maupun menulis. Jangan enggan belajar dari orang yang lebih rendah dan jangan malu bertanya. Sibukkan diri dengan ilmu sebagai tujuan utama dan modal utama.

Adab Guru dalam Menulis

Guru harus mulai menulis ketika ia telah layak melakukan hal itu karena menulis akan membuka hakikat dan detail-detail ilmu dan menjadikan keilmuannya kokoh. Jangan mencoba-coba menulis apa yang tidak dikuasai dan waspada ketika menerbitkan karangan kecuali bila telah dikoreksi. Usahakan untuk memperjelas dan meringkas cara pengungkapan dan fokus pada apa yang belum pernah ditulis oleh banyak orang sebelumnya. Beri perhatian pada ilmu mazhab karena ilmu tersebut merupakan satu ilmu yang paling besar manfaatnya.

Adab Guru dalam Mengajar

Mengajar adalah akar yang dengannya agama ini bisa tegak dan ilmu itu aman dari musnah. Guru wajib meniatkan rida Allah dalam aktivitas mengajarnya dan jangan menjadikannya sebagai perantara untuk memperoleh tujuan duniawi. Didik murid secara bertahap dengan adab-adab sunah dan perilaku-perilaku yang diridai Allah. Dorong murid-murid untuk ikhlas, jujur, berniat baik, dan merasa diawasi oleh Allah. Motivasi murid-murid untuk bersikap zuhud dengan dunia dan mengingatkan mereka tentang akhirat. Motivasi murid-murid kepada ilmu dan mengingatkannya kepada keutamaan-keutamaan ilmu serta keutamaan-keutamaan ulama.

Adab Guru: Kasih Sayang dan Tidak Menyembunyikan Ilmu

Berikan kasih sayang kepada murid-murid dan berikan perhatian kepada kebaikan-kebaikan mereka sebagaimana memberikan perhatian terhadap kebaikan-kebaikan diri sendiri dan anak sendiri. Cintai untuk murid kebaikan yang dicintai untuk diri sendiri dan benci untuk murid keburukan yang dibenci untuk diri sendiri. Bersikap pemurah dengan menyebarkan secara mudah ilmu yang telah diperoleh dengan cara menyampaikannya kepada para penuntut ilmu dan bersikap lemah lembut dalam menyampaikannya kepada murid-murid dengan diiringi sifat santun. Jangan sekali-kali menyembunyikan sedikit pun ilmu yang mereka butuhkan apabila mereka pantas mengetahui ilmu tersebut.

Adab Guru: Tidak Mengajarkan yang Tidak Pantas dan Tidak Sombong

Jangan mengajarkan kepada murid sesuatu yang tidak pantas untuknya agar hal demikian tidak merusak keadaan dirinya. Tidak bersikap sombong kepada murid-murid, akan tapi hendaklah berlaku lemah lembut dan rendah hati di hadapan mereka.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahiabbil alamin. Wasatu wasalamu ala asal mursalin nabiyina Muhammadin waa alihi wasbihi ajmain. Allahumana bima alamtana waimna mafauna waidna ilma. Puji syukur kita panjatkan pada Allah rabbul alamin. Selawat serta salam semoga tercurah pada Nabi yang mulia, Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Baik, para santri serta pemirsa sekalian yang semoga Allah rahmati dan Allah berkahi kita semuanya. Semoga semuanya terus sehat dan Allah

0:46 memberikan panjang umur. Dan kali ini kita akan melihat kembali ee bagaimanakah adab guru dan murid. Terutama kita masih bahasan-bahasan awal ya. Kita masih masuk pada macam-macam ilmu syari serta hukum mempelajarinya. Nah, kali ini yang kita pelajari [Musik] ya samping nanti saya ee bahas lanjutan ya. Ini tentang masalah pendidikan pada anak, kewajiban mendidik anak ya. Kewajiban mendidik anak. Saya share dulu. Nah ini Imam Nawawi rahimahullah katakan kewajiban mendidik anak-anak dari kecil.

1:35 Kewajiban mendidik anak-anak dari kecil. Ya, Imam Syafi'i dan pengikut-pengikutnya rahimahumullah berpendapat wajib hukumnya bagi para ayah dan ibu untuk mengajarkan kepada anak-anak mereka yang masih kecil apa yang menjadi wajib bagi mereka setelah balig. Jadi kecil diajarkan untuk ilmu yang nanti mereka butuhkan ketika balik. Ketika balik dia wajib salat, ya. Maka anak-anak sejak kecil walaupun belum balik sudah diajarkan salat. Orang tua mengajarkan pada anak-anak taharah bagaimana cara bersuci situ ada wudu,

2:21 tayamum, ada mandi besar ya, mandi wajib, mandi junub ya. Salat diajarkan pula puasa dan sebagainya. Terus pun mengajarkan kepada mereka perihal haramnya. Perkara-perkara haram juga diingatkan. Jadi bukan hanya masalah ibadah saja, tapi orang tua juga mengajarkan tentang perkara haram. Yaitu dia ingatkan tentang zina, ya tentang liwat. Liwat itu hubungan sesama jenis ya. Oh anak enggak boleh mencuri gitu ya. Diingatkan meminum khamer, minuman keras, berbohong. giba, menjelekkan orang lain ketika orang lain yang dijelekkan itu tidak ada dan semacamnya. Orang tua juga harus mengajarkan kepada

3:08 anak-anak mereka bahwa usia balik seorang anak sudah masuk fase taklif. Taklif itu berarti sudah dibebani syariat. Di samping juga memberitahukan kepada mereka hal-hal apa saja yang harus mereka lakukan pada usia tersebut. Ada yang berpendapat bahwa bentuk pengajaran semacam ini hukumnya sunah. Namun yang benar adalah hukumnya wajib. Dan hal ini bisa dipahami dari zahir nas. Sebarnya juga wajib hukumnya untuk memperhatikan hartanya dan inilah yang lebih utama. Nah, yang hukumnya sunah adalah hal yang berada di luar ini seperti mengajarkan Al-Qur'an, mengajarkan fikih, mengajarkan adab. Di samping mengajarkan kepada anak-anak

3:55 hal-hal yang dapat memperbaiki kehidupannya. Dalil tentang wajib memberikan pengajaran kepada anak bahkan budak adalah firman Allah. Ya ayyuhalladina amanu anfusakum waahlikum. Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka. Surat atahrim ayat ke nah makna ayat tadi itu Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu. Terus Mujahid dan Qotada menafsirkan maknanya. Ajarkan kepada mereka hal-hal yang dapat menyelamatkan mereka dari neraka. Ajarkan kepada mereka hal-hal yang dapat menyelamatkan mereka dari neraka. Ini jelas. Diriwayatkan dalam asahihain dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma dari Rasulullah

4:40 sallallahu alaihi wasallam. Beliau bersabda "Kullukumin waukumulatihi." [Musik] Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban dari apa yang dipimpinnya. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban dari apa yang dipimpinnya. Kemudian upah dari memberikan pengajaran pada pendapat yang pertama diambil dari harta si anak. Apabila ia tidak memiliki harta maka yang berkewajiban membayarnya adalah orang yang menjadi tanggung jawab nafkah si anak. Adapun yang kedua, Al Imam Abu Muhammad Alhusain bin Mas'ud Albagawi kitab Attzhib Attahzib mengatakan ada dua pendapat di mana kedua pendapat tersebut diungkapkan oleh ulama lain.

5:28 Yang paling su adalah upah pemberian pengajaran itu diambil dari harta si anak. Kenapa kita sebut harta si anak? Ya, karena kan bisa jadi anak tersebut ditinggal mati orang tuanya, dia punya harta terus dia butuh pengajarannya, maka diambil dari harta si anak karena hal itu adalah untuk maslat dirinya. Sedangkan pendapat kedua menyatakan diambil dari harta walinya, berarti orang tuanya gitu. Karena tidak ada kondisi darurat pada harta wali tersebut. Ketahuilah bahwa Syafi'i dan pengikut-pengikutnya memberikan pintu untuk ibu dalam hal kewajiban pengajaran. Ingat di sini ya. Ketahuilah bahwa Syafi'i dan pengikut-pengikutnya memberikan pintu untuk ibu dalam hal mewajibkan pengajaran. Karena pengajaran itu sendiri bagian dari pendidikan dan itu menjadi kewajiban bagi sang ibu seperti halnya nafkah.

6:13 Kalau kita lihat di teks Arabnya jalul umi madalan fi wujub taklim. Hmm. Ini jadi wajib bagi ibu jika ibu memang wajib untuk memberikan nafkah. Jadi intinya pendidikan pada anak juga bisa dibankan pada ibu. Ini jadi wajib ketika ibu ini akhirnya jadi punya beban kewajiban untuk menafkahi anaknya sendiri.

6:58 Tapi di sini tidak jelas disebutkan kalau orang tuanya dua-duanya masih ada gitu. Namun yang jelas dari pelajaran kali ini ya kita simpulkan ee dari pembahasan Imam Nawawi di sini mengenai pendidikan kepada anak itu sangat-sangat perlu sekali dan yang diajarkan adalah perkara wajib yang nanti mereka dapati ketika dewasa diajarkan sudah sari anak-anak. Kemudian halal haram juga diingatkan walaupun mungkin kita katakan ini dosa-dosa walaupun mereka belum dikenakan dosa ketika masih anak-anak. Tapi nanti kan ketika dewasa baru dikenakan. Nah, tetap diingatkan juga enggak boleh bohong. Ya, itu loh yang ada yang keras tuh ada beritanya itu ya. Ah, kamu enggak boleh minuman keras.

7:45 Nah, contoh seperti itu walaupun ya perkara ini kalau seandainya dia lakukan ketika kecil dia belum dikenakan dosa. Perkara bohong misalnya dia lakukan ketika kecil belum dikenakan dosa. Tapi sudah diingatkan dari kecil agar ketika balik oh sudah tahu ini tidak boleh. Oh buka aurat tidak boleh, bohongin orang tua tidak boleh, berkata kasar pada orang tua tidak boleh seperti itu. Kemudian pengajaran yang lainnya hukumnya sunah. Kalau yang dia tidak jadi wajib ketika dia dewasa itu hukumnya sunah. Seperti sini mengajarkan Al-Qur'an, dia fikih. Tapi nanti ada rincian di sini ya, mengajarkan adab gitu ya. Tapi secara umum orang tua wajib mengajarkan anak karena surat at-Tahrim ayat keenam

8:32 ya, surat at-Tahrim ayat ke-6 dan juga kita dapat lihat dari pengertian dari Ali bin Abi Thalib. maju minanar. Ajarkan kepada mereka hal-hal yang dapat menyelamatkan mereka dari neraka. Berarti hal yang dapat menyelamatkan dari neraka. Nah, itu yang kita ajarkan kepada karena masing-masing kita itu punya kewajiban dan nanti akan dituntutum. [Musik] Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban dari apa yang dipimpinnya. Wallahuam bawab. Nah, ini pelajaran kita hari ini untuk besok temanya kewajiban mempelajari tentang penyucian hati.

9:18 Nah, kita masih berada dalam ilmu yang fardu ain ya, belum yang kita pelajari tentang ilmu yang fardu kifayah. Semoga jadi ilmu yang manfaat. Saya akan lanjutkan tentang nanti pembahasan kita singgung tentang ilmu fardu kifayah yang dibahas oleh Imam Nawawi rahimahullah. Ee kita lihat dulu di sini. [Musik] Setelah kita lihat kewajiban ee mengajarkan anak ya kemarin kita bahas ya, sekarang kewajiban mempelajari tentang penyucian hati, yaitu ilmu tentang penyakit-penyakit hati seperti hasad, ujub, dan semacamnya. Maka dalam hal ini Alghazali menyatakan

10:05 mengetahui batas-batasnya, penyebab-penyebabnya, terapi dan pengobatannya hukumnya fardu ain. Berarti mempelajari hal yang berbaiki hati itu hukumnya fardu ain. Ulama lain mengatakan apabila seorang mukalaf apabila seorang mukalaf diberikan hati yang bersih, diberikan hati yang bersih dari penyakit yang diharamkan ini, maka hal itu sudah cukup baginya sehingga tidak ada keharusan baginya untuk pelajari pengobatannya. Namun jika hatinya tidak bersih, lalu ia melihat dirinya mampu membersihkan hatinya dari hal tersebut tanpa belajar, maka ia harus segera membersihkannya.

10:51 Sebagaimana halnya ia harus meninggalkan perbuatan zina dan tanpa harus mempelajari dalil-elil tentang meninggalkan perbuatan zina gitu. Enggak. Dia harus meninggalkannya tanpa mesti dulu gitu. ketika itu ia harus belajar. Nah, sekarang kita lihat ilmu fardu kifayah. Imam Nawai rahimahullah itu mengatakan tentang ilmu fardu kifayah ini yaitu menguasai ilmu-ilmu agama yang menjadi kewajiban bagi orang banyak. yang menjadi kewajiban bagi orang banyak

11:36 dalam menegakkan agama mereka seperti menghafal Al-Qur'an, hadis dan ilmu-ilmunya. Ushul fikih, fikih, nahwu, bahasa. Ya, nahwu berarti ilmunya for kifayah ya. Kalau sebagian sudah pelajari ya sudah bahasa ya lghah. Kemudian ilmu tasrif sarf pengetahuan tentang para perawi hadis. Terus ijmak dan perbedaan pendapat. Adapun yang bukan ilmu agama dan dibutuhkan untuk keperluan urusan dunia seperti kedokteran dan akuntansi maka hukumnya

12:22 juga fardu kifayah. Sebagaimana dinyatakan oleh Imam Al-Ghazali. Ya, berarti ilmu kedokteran itu pelajarinya fardu kifayah. Jadi kalau sudah ada sebagian yang mempelajarinya, maka yang lainnya jadi gugur kewajibannya. Nah, ulama berbeda pendapat tentang mempelajari hal yang menjadi faktor tegaknya urusan urusan dunia seperti mempelajari tentang menjahit, bertani dan sebagainya. Mereka juga bersisi pendapat tentang hukum asal melakukan hal-hal tersebut. Imam al-Haramain dan Alghazali menyatakan hukumnya fardu kifayah. Ya, ber mempelajari cara bertani itu fardu kifayah. Sementara al Imam Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Ali at Thaabari yang dikenal dengan Ilkiara Harosi teman dekat Imam Alharamain

13:09 Ilqial Harosi ya yang menjadi teman dekat Imam Alharamain. Hukumnya fardu kifayah kata beliau. Dan ini adalah pendapat azhar, pendapat yang lebih kuat. Nah, para pengikut kami mengatakan yang dimaksud dengan fardu kifayah adalah terwujudnya suatu ibadah dari para mukalaf. Terwujudnya suatu ibadah dari para mukalaf atau sebagian mereka. Sedangkan kewajiban itu sejatinya mencakup semua orang yang terkena khitab atau perintah. Bila perbuatan itu sudah dilakukan oleh orang-orang yang mencukupi syarat fardu kifayah, maka gugurlah dosa orang lain. Berarti kalau ada yang sedang mempelajari ilmu pertanian kalau tadi kita singgung atau ilmu kedokteran, maka gugurlah dosa dari orang lain. Apabila

13:57 sudah dilakukan oleh sekelompok orang yang sudah mencukupi syarat fardul kifayah dengan sebagian mereka saja. Berarti kalau dengan sebagian tidak mesti satu ya. Pokoknya sebagian mencukupi, syaratnya mencukupi, maka kesemua mereka sama derajatnya dalam hukum melaksanakan ibadah fardu dari segi pahala dan lainnya. Lalu jika sekelompok orang melakukan salat jenazah kemudian diikuti oleh kelompok lainnya lalu oleh kelompok berikutnya maka mereka sudah melakukan fardu kifayah. Sekiranya mereka semuanya bersepakat untuk tidak melakukan salat jenazah tersebut, maka semua orang yang tidak memiliki uzur dan mengetahui hal tersebut serta mampu untuk melakukannya berdosa atau tidak mengetahui, sedangkan ia dekat dengan lokasi yang membuatnya bisa mengetahui perihal jenazah itu. Di mana kasus semacam ini lebih kepada

14:43 kelalaian. Sedangkan orang yang tidak mampu melakukannya dikarenakan tidak mampu atau karena suatu uzur tidak berdosa. Bila seorang menekuni fikih atau semisalnya lantas terlihat keunggulan dalam suatu bidang dan ia diharapkan berhasil dan menonjol dalam bidang tersebut, maka ada dua pendapat. Salah satunya ia wajib berkonsisten dalam bidang tersebut. Karena orang yang mencapai tingkatan itu tergolong sedikit, maka seperestinya ia tidak menyia-niakan apa yang telah ia peroleh dan apa yang ia telah ia tekuni. Misalnya dia kuasai muamalah atau dikuasai waris, maka tekuni itu yang lebih saleh adalah tidak wajib. Karena memulai itu menurut kami tidak akan mengubah apa yang telah dimulai kecuali dalam hal haji dan umrah. Kemudian sekiranya suatu negeri kosong tanpa mufti maka dikatakan haram tinggal di

15:31 negeri tersebut. Namun yang lebih sahih adalah tidak haram jika memungkinkan untuk menemui mufti. Jika seorang menyampaikan fatwa di satu tempat, maka dengan fatwa tersebut gugurlah hukum fardu kifayah sampai jarak yang membolehkan qasar dari segala arah. Kemudian bahwa orang yang melakukan hukum fardu kifayah memiliki keistimewaan dibandingkan dengan orang yang melakukan hukum fardu aid. Nah, ini ingat di sini poinnya ya. Orang yang melakukan hukum fardu kifayah lebih utama daripada orang yang melakukan hukum fardu ain. Karena orang yang melakukan fardu kifayah menggugurkan dosa dari umat. Nah, dia mengugur dosa dari umat seperti tadi ya, ilmu dunia ilmu kedokteran pertanian. Ilmu agama seperti ilmu nahwu, ilmu sarf. Berarti kita sudah mengangkat dosa dari umat. Itu sebelumnya kami telah memaparkan ucapan Imam Alharamain ini pada bab

16:16 mengutamakan menuntut ilmu terhadap ibadah yang manfaatnya terbatas untuk pelakunya saja. Nah, terus ketiga ada sunah yaitu seperti mempelajari ilmu asal-usul dalil. Apalagi maksakan diri mempelajarinya melebihi ilmu fardu kifayah. Nah, seperti orang awam yang mempelajari ibadah-ibadah sunah untuk tujuan beramal. Bukan membedakan yang fardu dari yang sunah yang dilakukan oleh para ulama. Sebab hal demikian hukumnya fardu kifayah bagi mereka. Jadi intinya ilmu syar'i kita sudah pelajari ada yang fardu ain, ada yang fardu kifayah dan ada yang sunah. Ya, ada yang fardu ain, fardu kifayah, dan sunah. Nah, kesempatan berikut kita bahas ilmu giriu syar.

17:02 Ilmu yang tidak syari yaitu dari ilmu umum. Ya, semoga jadi ilmu yang manfaat. Maka yang lagi mempelajari ilmu fard kifayah jangan lupa luruskan niat karena kita sedang mempelajari ilmu yang penting ya. Misalnya sekarang lagi mengikuti kelas bahasa Arab perumaiswa kabar angkatan keempat ataupun yang sebelumnya di tingkat lanjutan di angkatan ketiga. Ayo semangat terus belajar karena kita sedang mempelajari fardu kifayah yang sedang mengangkat dosa dari umat ini. Kali ini kita kembali membahas adab guru dan murid di pertemuan ke-17. kita masuk setelah melihat ada ilmu yang wajib yang yang fardu ee fardu ain, fardu kifayah, terus ada ilmu yang sunah di kita pelajari. Sekarang ada ilmu giriu syar'i, ilmu yang hukumnya haram,

17:50 makruh, dan mubah. Berarti tidak masuk dalam pembahasan ilmu syar'i lagi. Yang kemarin kita bahas ada ilmu wajib, fardu ain, fardu kifayah, dan ada ilmu yang sunah. Nah, kita sudah memaparkan pembagian ilmu syari. Ilmu gira syari terbagi menjadi tiga, yaitu ilmu yang hukumnya haram, ilmu yang hukumnya makruh, dan ilmu yang hukumnya mubah. Lalu ilmu yang haram contohnya seperti mempelajari sihir. Seperti mempelajari sihir. Karena yang demikian itu hukumnya haram. Menurut pendapat yang benar dan ditegaskan oleh jumhur ulama. Dalam hal ini ada perbedaan pendapat yang akan kami ketengahkan dalam hal tindak kejahatan sebagaimana disebutkan

18:36 oleh penulis insyaallah. Selain itu seperti ilmu filsafat, ilmu sulap, ilmu nujum, ilmu-ilmu orang yang memiliki banyak indra, dan segala hal yang menjadi penyebab munculnya keragu-raguan hal tersebut berbeda-beda tingkat keharman. Yang jelas yang di sini yang pertama beliau sebungnya ilmu yang haram di sini adalah ilmu sihir. Terus yang kedua adalah ilmu yang makruh seperti syair-syair yang diciptakan oleh orang-orang yang di dalamnya terkandung senandung cinta dan untuk bermalas-malasan. Terus ada lagi ilmu yang mubah seperti syair-syair yang diciptakan oleh orang-orang yang di dalamnya tidak terkandung unsur kebodohan. Tidak ada unsur sesuatu yang dibenci atau yang menggerakkan kepada keburukan yang menghalangi dari kebaikan dan tidak pula mendorong kepada kebaikan atau

19:23 dijadikan sebagai perantara menuju kebaikan. Jadi kita bagi ada ilmu yang haram, ada ilmu makruh, dan ada ilmu yang mubah. Lalu perihal mengajarkan ilmu dan memberikan fatwa. Nah, para ulama itu katakan, kata Imam Nawawi, mengajari orang-orang yang menuntut ilmu dan memberikan fatwa kepada orang-orang yang meminta fatwa hukumnya adalah fardu kifayah. Mengajari orang-orang yang menuntut ilmu berarti dia jadi ustaz, jadi kiai, jadi guru. Nah, itu hukumnya fardu kifayah. Mesti ada di suatu tempat gitu. Kemudian yang memberikan fatwa juga fardu kifayah. Apabila hanya ada satu orang saja yang layak, maka menjadi wajib bagi dirinya. Apabila ada sekelompok orang yang layak,

20:08 lalu dimintalah salah seorang dari mereka lantas ia menolak, apakah ia berdosa? Para ulama menyebutkan dua pendapat dalam hal mufti dan menurut pendapat yang zir, keduanya berlaku bagi guru. Nah, kedua pendapat tersebut seperti halnya dua pendapat dalam hal keenggan salah seorang saksi dalam memberikan kesaksian. Menurut pendapat yang lebih sahih adalah tidak berdosa. Selain itu disunahkan bagi seorang guru untuk sebisa mungkin berlaku lembut dan bersikab baik kepada penuntut ilmu. At-Tirmidzi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Harun al-Abdi, ia mengatakan, "Kami pernah mendatangi Abu Said al-Khudri radhiallahu anhu. Lalu ia berkata, "Selamat datang kepada wasiat Rasulullah sallallahu alaihi

20:54 wasallam. Sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, [Musik] Sesungguhnya manusia penjuru bumi ini adalah untuk mendalami agama. Apabila mereka datang kepada kalian, maka berilah mereka wasiat dengan kebaikan. Berarti di sini maksudnya adalah berikan. Kalau mereka bertanya sesuatu ajarkan. Kalau mereka minta fatwa diberikan fatwa. Intinya mengajari orang-orang yang menuntut ilmu dan memberikan fatwa kepada orang-orang yang minta fatwa hukumnya fardu kifayah.

21:41 Nah, berarti kita simpulkan dari bahasan kita sebelumnya. Ilmu itu ada dua, ada ilmu syar'i dan ghairu syar. Kalau ilmu syar'i kita bagi menjadi tiga hukum. fardu ain, fardu kifayah, dan sunah. Kalau fardu ain itu hal yang nanti kita butuhkan untuk ibadah kita ya, kita harus mempelajarinya. Terus ada fardu kifayah berarti untuk sebagian saja untuk mencukupi seperti mempelajari ilmu nahwu bahasa Arab gitu ya. Terus ada ilmu yang sunah juga seperti yang kemarin kita sebut ee untuk hal-hal yang sifatnya sunah ya. Seperti mempelajari ilmu tentang asal-usul dalil ya berarti usul fikih ya. Apalagi mengaksudkan diri mempelajarinya lebih melebihi ilmu fardu kifayah. Nah, ini ilmu fardu ain

22:26 namanya. Eh, fardu ilmu yang sunah namanya. Nah, lalu ilmu yang kita hindari ilmu yang haram yaitu seperti ilmu sihir. Ada lagi ilmu yang makruh seperti syair-syair yang membuat orang jadi malas. Syair-syair cinta termasuk juga syair-syair untuk lagu-lagu bisa jadi haram kalau ini tujuannya untuk dinyanyikan dengan alat musik gitu ya. ee juga ada yang sifatnya mubah. Syair-syair yang ee tidak mengandung unsur kebodohan, tidak mengandung suatu kebencian ya untuk menyemangati itu hukumnya mubah. Lalu yang kita simpulkan lagi dari pembahasan terakhir tadi adalah mengajari orang yang menuntut ilmu itu fardu kifayah dan memberikan fatwa kepada orang-orang yang meminta fatwa hukumnya juga fardu kifayah. Hadab seorang guru atau mualim. Bab ini luas sekali.

23:12 Di dalamnya kata Imam Nawawi, saya sudah menghimpunkan banyak hal berharga. Maka insyaallah saya akan memaparkan ringkasannya. Di antara adab guru adalah adab kepada dirinya sendiri dulu dan itu mencakup hal-hal berikut ini ya. Jadi pertama adab terhadap dirinya sendiri dulu ya. Yang pertama mengharap rida Allah. Yang pertama mengharap rida Allah. Ia harus berniat mencari rida Allah Subhanahu wa taala dan tidak berniat memperoleh tujuan duniawi. Ya. Jadi niatannya dia luruskan niatannya untuk cari rida Allah ketika dia mengajarkan ilmu jadi seorang guru, jadi seorang ustaz, jadi seorang kiai. Ini niat penting bukan untuk tujuan duniawi. Seperti misalnya tujuan

23:58 duniawi, mengejar harta benda untuk kemegahan, untuk popularitas, untuk reputasi, untuk sesuatu yang membedakan dari pesaing-pesaingnya. atau untuk membanggakan banyak orang yang bekerja atau berselisih pendapat dengannya dan sebagainya. Jadi untuk memakerkan ilmunya tidak seperti itu. Orang itu belajar atau orang itu mengajarkan ilmu. Nah, ini menunjukkan pentingnya menjaga niat sebagai seorang yang mengajarkan ilmu juga yang berdakwah juga dia penting untuk menjaga niat. Terus selain itu, jangan sampai ia menodai ilmu dan pengajaran yang ia berikan dengan sedikitp sikap ambisius ya walaupun itu secara halus yang ia peroleh dari pihak tempat ia bekerja

24:44 baik itu berupa jasa, uang dan sebagainya. Kendil hal tersebut hanya sedikit dan meskipun itu dalam bentuk hadiah yang sekiranya ia tidak bekerja di sana tentu ia tidak diberikan hadiah. Ya, artinya di sini ya jangan di sampai ia menodai ilmu dan pengajaran ia berikan dengan sedikitp sikap ambisius ya, yaitu ambisius ituu tamak gitu. Tamak pada dunia enggak boleh. Jadi kalau dia ngajarkan suatu ilmu, dia tidak boleh tamak pada dunia. Dalil semua ini akan terdapat pada ayat dan hadis yang menunjukkan mencela orang yang meniatkan selain Allah. Coba kita lihat riwayat-riwayat berikut ini ya. Diriwayatkan secara sahih dari Imam Syafi'i rahimahullah bahwa ia pernah menuturkan wadual analq taamal ilma ala

25:31 alla yunsaba ilaiya harfun minhu. Aku ingin orang banyak mempelajari ilmu ini tanpa harus menyandarkan satu huruf pun darinya kepadaku. Aku ingin orang banyak mempelajari ilmu ini tanpa harus menyandarkan satu huruf pun darinya kepadaku. Ya, coba lihat di sini. Padahal ilmu ini dari Imam Syafi'i ini. Imam Syafi'i ini meriwayatkan dia, "Aku ingin orang banyak mempelajari ilmu ini." Yaitu ini ilmu dari beliau ini yang ngajarkan tanpa harus menyandarkan satu huruf pun darinya kepadaku. Padahal adab kita kalau kita itu mendapati ilmu, kita ee katakan, "Saya dapat ilmu ini dari ustaz fulan, ustaz A, ustaz B." adabnya seperti itu. Namun ini dari sisi war

26:17 sisi tawadunnya Imam Syafi'i. Tawadunya Imam Syafi'i seperti itu. Imam Syafi'i rahimahullah juga pernah menyatakan nadu ahadan alal golati widu nadu ahadan ayah haqqu ala yadaihi. Aku tidak pernah berdebat dengan seorang pun. Aku tidak pernah berdebat dengan seorang pun untuk mencari kemenangan. Aku ingin ketika aku berdebat dengan seorang agar Allah memperlihatkan kebenaran pada kedua tangannya. Jadi Imam Syafi'i kalau berdebat pada orang dengan orang lain, dia ingin orang lain itu yang benar gitu. Padahal kebenaran itu pada Imam Syafi'i itu ada saking tawaduknya jaga diri tidak sombong dengan kebenaran yang dia itu miliki gitu.

27:04 Jadi bukan dia itu berdebat untuk cari menang. Masyaallah tawaduknya luar biasa. Imam Syafi'i juga menuturkan ya Imam Syafi'i juga menuturkan berikut ini. "Tidaklah aku berbicara dengan seseorang kecuali aku ingin agar orang itu dibimbing, diluruskan, mendapatkan pertolongan dan memperoleh penjagaan dan perlindungan dari Allah." Itu niat baik dari Imam Syafi'i ketika berbicara dengan orang lain supaya orang lain itu dapat hidayah, dapat pertolongan Allah, dapat bimbingan di tunjukkan pada jalan yang lurus. Masyaallah. Kalau seperti ini kan kita akhirnya tidak jelek-jelekan orang kalau

27:50 lagi diskusi gitu ya. Kita ingin orang lain pokoknya dapat hidayah. Abi Yusuf rahimahullah itu mengatakan, Abu Yusuf rahimahullah itu mengatakan, "Ya ariu uridu biilmikum. Ikumullaha faanni lam ajlis majelisan fiw lam akumtaahumam ajlis majelisanwium illa lam akum hatta aktadiha kata Abu Yusuf di sini wahai orang-orang niatkanlah karena Allah dengan ilmu

28:38 dengan ilmu kalian. Sebab sesungguhnya aku tidak pernah duduk di sebuah majelis di mana di majelis itu aku berniat untuk bersikap rendah hati melainkan aku tidak bangkit hingga aku lebih tinggi dari mereka. Aku tidak pernah duduk di suatu majelis di mana di majelis itu aku berniat untuk lebih tinggi dari mereka. Coba lihat tidak ingin lebih tinggi daripada orang lain. Bukan berarti dia dalam majelis ilmu. Dia merasa itu paling berilmu, paling pintar, paling benar. Ya, bukan. melainkan aku tidak bangkit hingga aku merasa terhina. Masyaallah. Jadi, coba lihat di sini adab ini. Ini poin pertama, ini poin luar biasa dari Imam Nawawi. Bagi seorang mualim ya, orang yang memiliki ilmu diajarkan pada orang lain, luruskan niat. Jangan sampai prioritasnya dunia, jangan sampai tamak pada dunia. Bahkan dibawakan sini

29:24 perkataan Imam Syafi'i ya, kalau ada orang itu melempari ilmu dari beliau itu tidak mesti disandarkan pada beliau. Tawadunya luar biasa. juga kalau berdebat Imam Syafi'i itu dia tidak ingin ee dianggap sebagai orang yang menang gitu. Namun tadi Imam Syafi'i itu katakan di ketika dia diskusi dengan orang lain, dia ingin orang lain dapat bimbingan, orang lain dapat petunjuk, orang lain berada di jalan yang lurus, orang lain mendapatkan pertolongan, orang lain mendapatkan hidayah. Masyaallah. Juga di sini diajarkan ya kalau kita berada dalam majelis ilmu itu tidak merasa tinggi dari orang lain. Karena memang kita niatannya lillah, niatannya itu karena Allah. Mengajarkan ilmu juga demikian. Nah, ini poin penting. Semoga jadi renungan bagi kami sendiri dan kita semuanya. Semoga dengan memilikinya ya

30:11 Allah memberkahi ilmu kita termasuk ilmu yang kita ajarkan pada orang lain. Kemarin kita telah bahas di sini adab seorang guru yang pertama mengharap rida Allah. ya mengharap rida Allah dan tidak berniat memperoleh tujuan duniawi. Kemudian jangan sampai ia menodai ilmu dan pengajaran yang ia berikan dengan ee sikap tamak gitu ya, ambisius pada dunia. Pokoknya dia cari rida Allah. Dan di sini perkataan-perkataan Imam Nawawi menunjukkan ee bagaimana ulama-ulama dulu menasihati. Seperti perkataan Imam Syafi'iah, "Aku tidak pernah berdebat dengan seorang pun untuk mencari kemenangan. Aku ingin ketika aku berdebat dengan seorang agar Allah memperlihatkan kebenaran pada kedua

30:57 tangannya." Jadi, ee ketika berdebat pun bukan ingin dia itu yang menang, tapi yang penting mengetahui kebenaran. Nah, terus adab yang kedua berperilaku dengan akhlak-akhlak yang baik, yaitu perilaku terpuji, nilai-nilai mulia yang dibawa, kemudian didorong dan ditunjukkan oleh agama. Seperti perilaku terpuji yang harus dimiliki oleh seorang guru itu adalah zuhud dengan dunia. Dia tidak gila dunia ya, sederhana pada dunia, hidup sederhana, bersikap tidak ambil pusing dengan

31:42 nikmat dunia yang gagal diperoleh. Ya, dia tidak ambil pusing dengan nikmat dunia yang gagal diperoleh. terus bersikap pemurah, dia dermawan, berakhlak dengan akhlak yang baik, menampilkan wajah yang ceria tanpa keluar melewati batas akhlak yang buruk. Juga sikap yang terpuji di sini bersikap santun, bersabar, dan menjauhkan diri dari sumber rezeki yang dipandang hina ya, apalagi yang haram ya. Terus senantiasa bersikap wara. Dia jawi syubhat. Wara itu di antara

32:28 sifatnya jawi syubhat. Perkara yang masih samar. Kemudian sikapnya juga khusyuk, tenang, berwibawa, rendah hati, patuh. sikapnya juga tidak tertawa, terbahak-bahak. Senantiasa berperilaku dengan adab-adab syari' yang nampak secara lahir, zahir, maupun yang tidak terlihat, yaitu secara batin. Seperti membersihkan diri dengan menghilangkan kotoran-kotoran dan membersihkan ketiak. Nah, ini dari sisi penampilan ya dijaga itu juga ya. Menghilangkan boba yang tidak sedap ya. ini termasuk terus menghindari bawa yang tidak mengenakan dan juga di sini merapikan jenggot tasrihul ihya yaitu

33:14 membuat jenggotnya terlihat indah terlihat rapi. Di sini bukan kalimatnya menyukur jenggot ya di sini ya tapi merapikannya ya membuat penampilannya lebih menarik. Nah di sini perilaku ini kita lihat ada yang sifatnya ee tampak di sini ya. Bahkan ada yang sifatnya ini terkait dengan hati dan juga ada yang terkait dengan penampilan. Nah, guru yang baik hendak kelah memiliki sifat-sifat seperti ini. Kemudian guru yang baik juga itu menjaga diri dari sifat tercela, yaitu dia berhati-hati dari sifat hasad, berhati-hati dari ria, dia juga menjauhi ujub ya. Ujub berarti ini setelah beramal, ya. Merasa tinggi setelah dia beramal

34:01 gitu. atau meremehkan orang lain yang derajatnya lebih rendah dari dirinya. Tidak boleh meremehkan orang lain. Kesemua ini adalah penyakit yang menimpa banyak pemilik jiwa-jiwa yang hina. Maka cara untuk menjauhkan sifat dengki ini ya ini ya sifat dengki ini adalah dengan menyadari bahwa hikmah Allah menghendaki karunia itu diberikan kepada orang ini. Maka kita tidak boleh ada yang protes. Tidak boleh membenci apa yang telah Allah tetapkan dengan hikmahnya. Dan tidak boleh mencaci makai Allah demi menjaga diri dari perbuatan-perbuatan maksiat yang lebih jauh. Nah, ini untuk mengatasi hasad ya. Untuk mengatasi hasad berarti kita harus sadar bahwasanya Allah tetapkan takdir masing-masing orang berbeda. Rezeki masing-masing orang itu berbeda.

34:49 Ini kata Imam Nawawi seperti itu. Terus bagaimana cara menghindari riya? Jadi sifat tercela juga yang dihindari oleh seorang guru itu adalah menghindari sifat ri yaitu menyadari bahwa makhluk pada hakikatnya tidak bisa memberi manfaat. Tidak bisa memberi manfaat dan mudarat kepadanya. Maka jangan sampai ia menyibukkan diri dengan memberikan perhatian berlebihan kepada mereka sehingga ia hanya membuat dirinya sendiri capek. ya, merugikan agamanya, menyia-nyiakan amal perbuatannya, melakukan apa yang dimurkai oleh Allah dan tidak memperoleh ridanya. Ini ya. Jadi kalau ri

35:37 kita sadar bahwasanya kan kita cari pujian pada makhluk, kita harus sadari makhluk itu tidak bisa memberikan kita manfaat apa-apa dan tidak bisa memberikan kita menurut apapun. Nah, itu cara menghindari ri. Terus cara untuk menghindari rasa ucub. Sedangkan cara untuk mengusir rasa ujub kata Imam Nawawi adalah dengan menyadari bahwa ilmu adalah karunia Allah. Ilmu adalah karunia dari Allah dan sifatnya pinjaman. Maka milik Allahlah apa yang dia ambil. Milik Allahlah pula apa yang dia berikan. Dan segala sesuatu di sisi Allah memiliki waktu tertentu, ada batasnya. Sehingga seorang tidak sepantasnya bangga dengan suatu yang tidak pernah ia ciptakan, tidak pernah ia miliki, dan

36:24 tidak ia yakini akan abadi selamanya. Sementara cara untuk menghilangkan sifat merendahkan orang lain adalah ah ini yang lainnya lagi ya. Tadi sudah sifat hasad, riya, ujub. Nah, sekarang gimana cara untuk menghilangkan sifat merendakan orang lain adalah dengan berperilaku dengan hal yang telah diajarkan oleh Allah. Berikut iniquakumq maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Allah lebih mengetahui siapa yang lebih bertakwa. Surat Annajm ayat 32. Kemudian Allah Subhanahu wa taala juga berfirman, "Inna akrakumallahi atqokum." Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Nah, kalau kita pandang yang paling mulia adalah paling bertakwa maka

37:09 kita tidak mungkin merendahkan orang lain karena standarnya itu takwa. Nah, ini ee saran dari Imam Nawawi. Bagaimana kita menghilangkan sifat ihtikar. Iktikar yaitu ee merendahkan orang lain. Terus bisa jadi orang yang ia pandang lebih rendah dari dirinya lebih bertakwa. Dia lebih bertakwa kepada Allah, lebih suci hatinya, lebih ikhlas niatnya, dan lebih bersih amalnya. Nah, seorang guru tidak pernah mengetahui dengan apa ia menutup amal perbuatannya. Maka dalam hadis diingatkan, inna ahadakumalu biamali ahlil jannah. Sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amal penduduk surga. Nah, kita mohon kepada Allah keselamatan dari segala penyakit.

37:57 Nah, kemudian kita tambahkan lagi ee yang keempat membiasakan bacaan tasbih ini ya sifat guru yang baik membiasakan bacaan tasbih, tahlil, zikir, dan doa-doa lainnya serta berbagai adab islami. Jadi zikir dia giatkan, adab-adab juga dia giatkan. Nah, ini di antara adab yang harus dimiliki seorang guru pula. Terus yang kelima, senantiasa merasakan pengawasan Allah. Ya, senantiasa merasakan pengawasan Allah ketika terang-terangan dan dikalah sendiri. Menjaga bacaan Al-Qur'an dia jaga menjaga salat, menjaga puasa sunah juga insyaallah dan ibadah-ibadah lainnya

38:45 dengan berharap serta bersandar kepada Allah dalam setiap urusannya. menyerahkan segala urusan dalam setiap keadaan kepada Allah. Nah, ini merasa kita diawasi Allah terus sehingga ibadah dari untuk seorang mualim, untuk seorang guru tetap terus ada supaya ya orang lain semangat juga dalam ibadah. Kalau seorang guru, seorang ustaz, seorang kiai, mualim itu malas-malasan dalam ibadah ya yang ikuti juga jadinya ikut malas-malasan. Nah, jadi dia membiasakan bacaan tasbih, tahlil, zikir, dan doa terus senantiasa merasakan pengawasan Allah. Nah, kita lihat yang kemarin atau pembahasan sebelumnya. Adab guru adalah mengharap rida Allah. Ini jelas ya, tidak mengharap pujian

39:31 manusia, tidak tamak pada dunia. Terus yang kedua, berperlaku dengan akhlak-akhlak yang baik, santun, ee zuhud sabar war khusyuk tenang berwibawa ya. Kemudian menjaga diri dari sifat tercela. Kemarin diingatkan untuk empat hal, yaitu hasad, riya, ujub, dan meremehkan orang lain yang derajatnya lebih rendah dari dirinya. Ya. Dan kemarin diberikan solusi-solusinya. Kemudian yang keempat, membiasakan bacaan tasbih, tahlil, zikir, dan lainnya. serta berbagai adab islami. Dijalankan adab-adab islami misalnya adab tidur, adab makan yang baik, makan dengan tangan kanan, baca bismillah ya sesuai

40:17 dengan yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Kemudian senantiasa merasakan muraqabatullah, diawasi oleh Allah ya. Sehingga giat dalam ibadah wajib maupun sunah itu dia jaga. termasuk juga kalau menjalani puasa saat ini. Terus tidak merendahkan ilmu. Nah, ini yang kita bahas di poin keenam kali ini. Tidak merendahkan ilmu. Yaitu kalau di ee di kitab Arabnya dituliskan all yudillal ilma tidak merendahkan ilmu. Wadbu bihi makinasibuahu minhu wautaim kabirqahulahus

41:02 salaf ya. Yaitu tidak membawa ilmu itu ke suatu tempat di mana orang yang mempelajarinya itu tinggal. Meskipun orang yang pelajari ilmu itu tinggi derajatnya, akan tapi hendaknya ia menjaga ilmu dari hal semacam itu. Sebagaimana yang dilakukan oleh ulama salaf. Di mana di sini dikatakan riwayat-riwayat mereka tentang hal ini cukup banyak dan terkenal. Entah itu bersama para khalifah atau yang lain apabila kondisi darurat menghendaki hal demikian atau menuntut maslahat yang lebih kuat daripada keburukan yang ditimbulkan. Maka dalam hal ini kami berharap hal tersebut tidak mengapa selama keadaannya seperti ini. Riwayat-riwayat dari sebagian salaf juga dipahami dengan pemahaman ini. Maksudnya jangan sampai ilmu itu direndahkan

41:51 ya. Jangan sampai ilmu itu direndahkan, dibawa ke tempat yang tidak pas sampai kita yang tunduk kepada orang lain gitu ya. ya kita yang tunduk pada orang lain. Jangan seperti itu. Nah, kemudian yang berikutnya lagi ini penting juga mengerjakan suatu perbuatan yang dibolehkan. Di sini dikatakan kalau di terjemahan di kitab asli ya waminha anahu faala fanihi jaizan nafsil amrakiniru annahu haramun makruhunilun murua wahualik. Kalau judul yang tepat di sini adalah jangan sampai orang yang berilmu itu guru, kiai, ustaz itu menjatuhkan muruahnya, menjatuhkan kehormatannya. Nah, di sini dikatakan walaupun

42:38 pekerjaannya itu sahih, benar, boleh, tetapi bisa jadi yang tampak di orang lain itu haram, makruh, mencidai mencederai harga diri dan sebagainya. Jadi mungkin hal-hal yang di mata orang lain itu bisa jadi itu haram ya, bisa jadi itu makruh. Maka kita tidak membuat orang lain itu curiga. Walaupun kita mungkin menyatakannya itu boleh, tapi di kalangan masyarakat itu menyatakan tidak boleh. Ee seperti misalnya ee wajar saja dia dengan istrinya ya ketika di depan umum mungkin dua-duaan layaknya berbesraan seperti di rumah. Kalau itu istrinya ya secara hukum sih tidak

43:25 masalah karena itu istrinya. Tapi kalau misalnya bermesraan di muka umum dan itu dipandang oleh orang lain ya orang lain itu nganggap wah ini dengan siapa emangnya gitu. Kalau memang itu istrinya ya mungkin orang-orang tahu. Tapi kadang hal ini di mata orang lain ini jadi suatu aib karena mungkin tidak terjadi. Tidak biasa di masyarakat seperti itu yang perkara dalam rumah kok dibawa di luar rumah kurang pas. Ah, itu contohnya misalnya ini contoh dari versi kami. Nah, sepatutnya ini kata Imam Nawawi, ia memberitahukan hakikat perbuatan itu kepada rekan-rekannya. Jadi, yang orang lain sudah curiga bisa memandang orang bisa memandang itu masalah. Maka siapapun yang ia lihat melakukan hal tersebut maka ee dia berikan keterangan ini istri saya gitu ya. Seperti yang

44:13 Nabi sallallahu alaihi wasallam lakukan ketika beliau bersama Sofia. Nabi antar Sofiah itu pulang. Kemudian ada dua orang Ansar curiga pada beliau karena menyangka kalau Nabi ini jangan-jangan dengan wanita lain nih, wanita yang enggak jelas ternyata itu istri beliau. Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam katakan ini Sofiah. Ini Sofiah artinya istri Nabi sallallahu alaihi wasallam. Maka sesuatu yang butuh dijelaskan, dijelaskan supaya orang lain itu tidak curiga kepada kita. Namun pelajaran penting di sini adalah dari hadis ini jangan sampai membuat orang lain curiga. Kalau akhirnya orang lain itu curiga, kita memberikan penjelasan atau keterangan. Nah, hal demikian kata Imam Nawawi agar mereka mengambil manfaat tidak berdosa karena sangkaan sangkaan jelek mereka yang batil, yang jelek ya dan agar mereka tidak menjauh darinya serta tidak memanfaatkan ilmunya

44:59 akhirnya tidak mematkan ilmu kita gitu sebagai guru. Yang termasuk dalam hal ini adalah hadis sahih. Innaha shofiyatun. Ya, Nabi sallallahu alaihi wasallam itu katakan ini Sofiah. Ini jadi dalil jangan sampai kita itu membuat orang lain curiga. Jangan membuat orang lain itu curiga. Kita kalau membuat orang lain curiga seperti itu, kita berikan keterangan. Wallahuam bisawab. Jadi ringkasnya yang ingin kita ambil pelajaran dari adab dari seorang guru adalah perbaiki niat. cari rida Allah, tidak ee cari pujian manusia tidak gila, dunia tidak gila, kehormatan tidak gila ketenaran kemudian sifat tam terhadap dunia kita hilangkan ini sebagai guru. Kemudian berakhlak

45:45 dengan akhlak yang mulia kemudian jauhi hasad, riya, ujub. ya, hasad, riak, ucub, dan merendahkan orang lain. Kemudian juga perbanyak zikir dan perbanyak adab-adab Islam yang dia itu tunjukkan pada orang lain. Kemudian terus-menerus muraqabatullah, mendekatkan diri kepada Allah. Kemudian tidak merendahkan ilmu ya. Kemudian yang terakhir itu walaupun suatu perbuatan boleh ya menurut kita, tapi kalau membuat orang lain curiga hendaklah kita berikan keterangan sehingga orang tetap mengambil ilmu dari kita sebagai guru. Wallahuam bisawab. Nah, ini jadi pelajaran penting. Insyaallah pada pertemuan besok kita bahas adab guru yang lainnya yaitu adab selanjutnya adalah adab seorang guru dalam belajar.

46:32 Adab selanjutnya setelah kita lihat adab yang dimiliki seorang guru. Nah, di sini juga dibahas adab seorang guru dalam belajar. Di antara adab lainnya kata Imam Nawawi adalah adab dalam belajar dan kesibukan. Ya, adab dalam belajar dan kesibukan. Beliau katakan, "Sudah sepatutnya seorang untuk senantiasa menyibukkan diri dengan ilmu, baik itu dengan membaca, menyampaikan, [Musik] kemudian mutalaah, menelaah, kemudian memberikan catatan,

47:18 kemudian mengkaji, berdiskusi, dan menulis. Nah, ini harusnya kegiatan seorang penuntut ilmu dan sekaligus sebagai seorang guru. Selain itu, janganlah ia enggan untuk belajar dari orang yang di bawahnya. Dari segi usia, mungkin yang lebih rendah nasabnya, mungkin yang kurang populer, dia belajar dari situ atau dalam hal ketaatan beragama gitu ya. Atau dari segi ilmu yang lainnya. Jadi jangan sampai nganggap ngeremeh orang lain. Tetap belajar orang dari orang yang di bawahnya kalau memang ee orang tersebut punya spesialisasi dalam hal ilmu. Terus justru hendaknya ia bersemangat untuk memperoleh manfaat dari orang ya dia bersemangat untuk memperoleh

48:05 manfaat dari orang yang memiliki manfaat tersebut. Kendati orang itu berada di bawahnya pada semua hal di atas. Demikian pula janganlah ia malu bertanya ya. Jadi jangan malu bertanya ya tentang hal-hal yang tidak ia ketahui. Jadi kalau ada hal yang tidak diketahui maka jangan malu bertanya. Diriwayatkan dari Umar dan putranya radhiallahu anhuma. Keduanya pernah berkata begini. Manqo wajuq ilmuhu. Siapa yang sifatnya itu tawadu? Maaf. Siapa yang roqo ilmuhu? Siapa yang tipis wajahnya,

48:50 tipis pula ilmunya. Tipis wajahnya. Artinya dia tidak mau bertanya ya sedikit juga ilmunya. Kalau begitu mujahid mengatakan la yataallamul ilma mustahyin wala mustakbirun. Orang yang pemalu orang yang sombong tidak akan memperoleh ilmu. J orang pemalu dan orang sombong itu tidak akan memperoleh ilmu. Jadi kalau mau belajar, belajar gitu. Jangan sampai punya sifat malu. Dalam asahih dari Aisyah radhiallahu anha, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Nikman nisau nisaul ansar lam yakun yamnauhunna alya ayatafaqahna fiddin." Sebaik-baik wanita

49:37 adalah wanita ansar. Rasa malu tidaklah menghalangi mereka untuk mendalami agama. Rasa malu tidaklah menghalangi mereka untuk mendalami agama. juga ada perkataan dari Said bin Jabir. Said bin Jabir kalau di buku bahasa Arab saya Said bin Zubair. Ada perkataan dari Said bin Zubair. Ia pernah mengatakan seseorang akan senantiasa berilmu selama ia belajar. ketika ia meninggalkan ilmu dan menyangka bahwa ia sudah merasa

50:23 cukup dengan ilmu yang ia miliki. Dia sudah merasa cukup ya artinya sampai dia tidak mau belajar lagi maka ingat itu adalah sebodoh-bodoh makhluk. Jadi orang yang dikatakan dia itu berilmu kalau dia mau belajar terus. Kalau dia sudah merasa cukup ya sudah. Dia tidak disebut orang yang berilmu. Dia itu orang yang bodoh. Bahkan dikatakan sebodoh-bodohnya makhluk. Nah, ini perkataan ini semoga memampu semangat ee mompas semangat kita untuk terus belajar. Jangan merasa cukup dengan ilmu yang dulu kita dapati, yang sekarang ini kita dapati, namun terus belajar. Kemudian ada perkataan Imam Nawawi lagi di bawahnya. Selain itu, ia sepatutnya

51:11 tidak terhalang oleh kedudukannya yang tinggi atau popularitasnya untuk mempelajari apa yang belum ia ketahui. Banyak kalangan salaf dahulunya yang mempelajari dari murid-muridnya, dari murid-murid mereka apa yang tidak mereka ketahui. Dalam asahih ada sejumlah sahabat yang meriwayatkan hadis dari kalangan tabiin ya. Jadi sahabat meriwayatkan hadis dari kalangan tabiin dan ada pula sejumlah tabiin meriwayatkan hadis dari tabiut tabiin. Berarti orang di bawahnya lagi. Misalnya Amru bin Syuaib yang bukan tabiin. Namun yang meriwayatkan hadis darinya lebih dari 70 orang tabiin. Terus dalam asahihain dinyatakan bahwa Rasul sahu alaihi wasallam pernah bersabda, "Lam yakunilladzi kafaru."

51:59 Di sini di hadapan Ubay bin Ka'b radhiallahu anhu dan bersabda alaika Allah memerintahkanku untuk membacakannya di hadapan engkau. Nah dari hadis ini ulama menyimpulkan beberapa pelajaran, yaitu di antara penjelasannya tentang tawadu dan orang yang lebih utama tidak mengapa untuk membaca sesuatu di hadapan orang yang di yang tingkatannya di bawahnya. Kemudian yang kedua, senantiasa menyibukkan diri dengan ilmu itu semestinya menjadi tujuan dan modal utamanya sehingga ia tidak sibuk dengan hal lainnya. Apabila ia terpaksa melakukan hal lain dalam suatu waktu, maka ia melakukan hal tersebut setelah ia menyelesaikan tugasnya dengan ilmu. Jadi kita sibukkan dulu dengan ilmu. Kalau mau selingan-selingan yang lainnya silakan.

52:46 Kemudian faedah. [Musik] Jadi kalau faedahnya itu berhenti di sini. Di antaranya penjelasan tentang tawadu dan orang yang lebih utama tidak mengapa untuk membacakan sesuatu di hadapan orang yang tingkatannya di bawahnya. Nah, ini kalau ini ee adab lagi bagi seorang guru ketika belajar ya. Senantiasa guru itu menyibukkan diri dengan ilmu. Semestinya menjadi tujuan utama dan modal utamanya. Dengan ilmu tadi dia sibukkan diri sehingga ia tidak sibuk dengan hal yang lainnya. Apabila ia terpaksa melakukan hal lain dalam satu waktu, maka ia melakukan hal tersebut setelah ia menyelesaikan tugasnya dengan ilmu. Jadi fokus dengan

53:32 ilmu dulu. di guru ya itu fokus dengan ilmu. Terus yang berikutnya lagi adab guru di sini adalah semestinya ia mulai fokus menulis. Nah, ini guru itu harus menulis ketika ia telah layak melakukan hal itu. Karena dengan menulisnya akan membuka hakikat dan detail-detail ilmu dan menjadikan keilmuannya kokoh dengan hal itu. Jadi menulis itu membuat orang itu kokoh ilmunya. Beda dengan orang atau guru yang tidak menulis ya. Menulis akan memaksanya untuk banyak mengkaji, banyak menelaah, banyak meneliti, dan mendalami mana yang jelas dan mana yang samar-samar, mana yang sahih dan mana yang diif,

54:18 mana yang kuat dan mana yang lemah serta mana yang berisi penyanggaan dan mana yang tidak. Dengan menulis jugalah seorang peneliti digambarkan dengan sifat mujtahid itu ya. Itu keunggulan kalau seorang itu tidak hanya belajar saja, namun dia menulis ketika dia pantas untuk menulis, ketika dia layak untuk menulis. Kalau di sini dikatakan oleh Imam Nawawi, id taahala lahu. Jika memang dia itu pantas untuk menulis. Terus hendaklah ia benar-benar mawas diri agar tidak mencoba-coba menulis apa yang tidak ia sukai, ia kuasai, maaf yang tidak ia kuasai. Sebab hal tersebut akan mencederai agama, mencederai ilmu, dan mencederai harga dirinya. Terus berikutnya lagi, hendaklah ia juga waspada ketika menerbitkan karangannya

55:04 kecuali bila ia telah mengoreksi. Jadi dia koreksi dulu, mengkaji ulang dan mengulang-ulangnya baru dia boleh mencetaknya. Terus hendaklah ia berusaha untuk memperjelas dan meringkas cara pengungkapan. Jadi tidak terlalu bertele-tele ya itu dalam menulis ya. Kan tapi jangan sampai ia terlalu memperjelas yang akhirnya cara pengungkapan tersebut menjadi lemah dan jangan pula terlalu ringkas yang akhirnya menjadi ruet dan harus dihapus gitu ya. Terus seharusnya menjadi fokus pada artinya dalam menghasilkan suatu karya adalah apa yang belum pernah ditulis oleh banyak orang sebelumnya. Yang dimaksudkan di sini adalah jangan sampai ada suatu karya tulis yang merasa tidak memerlukan karya tulis lainnya dalam seluruh aspeknya. Bila ia tidak

55:49 memerlukan sebagian aspeknya, maka hendaklah ia menulis sesuatu yang serupa, namun dengan perkaya dengan beberapa tambahan dengan menggabungkan aspek-aspek yang belum ditulis. Jadi baiknya menulis sesuatu yang belum ditulis berarti. Selain itu, hendaklah karangannya itu tentang sesuatu yang manfaatnya umum dan banyak dibutuhkan. Demikian pula hendaklah ia memberi perhatian pada ilmu mazhab. Ingat ya, dia memberi perhatian pada ilmu mazhab. [Musik] Ini kata Imam Nawawi di sini, dia perhatian pada ilmu mazhab. Sebab ilmu tersebut merupakan satu ilmu yang paling besar manfaatnya. Dengan ilmu itu pula seseorang dapat menguasai sebagian besar disiplin ilmu-ilmu lainnya. Nah, ini poin-poin penting yang perlu diperhatikan ketika kita jadi guru.

56:35 Sibukkan diri dengan ilmu intinya ya. dan juga sibukkan diri dengan menuliskan ilmu ketika id tahall lahu jika memang sudah punya kapasitas untuk menulis. Kita masuk sekarang tentang adab taklimihi yaitu adab bagaimana seorang guru itu ketika mengajar. Adab ketika seorang guru itu mengajar. Ah dikatakan di sini ketahuilah bahwa mengajar adalah akar yang dengannya agama ini bisa tegak. Taklim yaitu memberikan pengajaran. Ingat itu adalah qamuddin akar yang dengannya agama ini bisa tegak. Dengan mengajar pula ilmu itu aman dari musnah. Pemusnahan. Artinya ilmu ilmu itu akan tetap ada,

57:22 tidak sampai musnah. Maka ia adalah di antara perkara agama yang paling penting, ibadah yang paling agung dan kewajiban for kifay yang paling tegas. Allah Subhanahu wa taala berfirman, Dan ingatlah ketika Allah mengambil sumpah orang-orang yang diberi Alkitab bahwa kalian benar-benar akan menjelaskannya kepada manusia dan tidak akan menyembunyikannya. Surat Ali Imran ayat 187. Berarti di sini disuruh menjelaskan dan tidak menyembunyikannya. Menjelaskan

58:07 ilmu, menjelaskan isi Al-Qur'an, isi Alkitab dan tidak menyembunyikannya. Allah juga berfirman dalam Albaqarah ayat 159. Innalladzina yaktumuna ma anzalna. Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan. Dalam asahih dari banyak riwayat disebutkan bahwa Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda "Liyuballighasahidu liyuballigahidu minkumul gibah. Hendaklah orang yang hadir di antara kalian menyampaikan kepada orang yang tidak hadir. Hendaklah orang yang hadir di antara kalian itu

58:53 menyampaikan kepada orang yang tidak hadir. Nah, hadis-hadis yang bermakna serupa dengan hadis tersebut banyak ya. Yang semakna dengan itu banyak. Ijma juga sudah menyatakan hal tersebut yang intinya kita memperhatikan adab-adab sebagai seorang guru ketika mengajar. Berikut ini. Pertama, seorang guru wajib. Ini sebenarnya lanjutan dari yang ada mualim ya. Ketika belajar dan mengajar ini wajib. Kalau di buku terjemahan dimulai dari nomor satu lagi, tapi kalau dari buku asli dimulai dari delapan. Nah, seorang guru wajib meniatkan rida Allah dalam aktivitas mengajarnya. Dia luruskan niat ya yang ia lakukan sebagaimana yang telah dijelaskan dan jangan sampai ia menjadikannya sebagai

59:40 perantara untuk memperoleh tujuan duniawi. Seorang guru perlu senantiasa menghadirkan dalam pikirannya bahwa mengajar adalah ibadah yang paling utama. Dia harus tahu bahwasanya itu ibadah yang paling utama agar hal tersebut menjadi pendorong baginya untuk selalu menuruskan niat, selalu memperbaiki niat, sekaligus menjadi motivasi untuk menjaga niat. dari hal-hal yang dapat mengotori dan hal-hal yang dapat hal-hal yang dibenci lantaran dikhawatirkan luputnya keutamaan dan ee kebaikan yang besar ini. Berarti yang pertama ini adalah luruskan niat. Kalau mengajarkan suatu ilmu ya luruskan niat terlebih dahulu. Terus yang berikutnya sebagian ulama menyatakan hendaklah seorang tidak

1:00:26 dilarang untuk mengajar dikarenakan niatnya yang tidak benar. Artinya begini, sebab bisa saja diharapkan niatnya menjadi baik bagi banyak orang yang baru pertama kali mengajar. Barangkali agak kesulitan meluruskan niat ya dikarenakan jiwa mereka yang lemah dan kurangnya kecakapan mereka dalam meluruskan niat. Nah, jadi bagi orang-orang yang baru mengajarkan ilmu boleh jadi ada rasa ingin dipuji gitu ya. Tapi enggak apa-apa dia dia sambil berusaha untuk perbaiki niat. Oleh karena itu, menghalang-halangi mereka mengajar hanya akan membawa kepada luputnya banyak ilmu. Meskipun diharapkan adanya keberkahan ilmu dan keberkahan itu diluruskan bila ia senang dengan ilmu.

1:01:13 Para ulama juga pernah mengatakan begini, "Kami menuntut ilmu." Para ulama katakan begini, "Ilhairillah faakuna illa lillah. Kami menuntut ilmu itu asalnya karena selain Allah. Maka ilmu itu enggan kami peroleh kecuali jika karena Allah saja. Maksudnya ujung-ujungnya akhirnya niatnya karena Allah. Maka biarkan orang mungkin awalnya seperti itu nanti pelan-pelan niatnya itu berubah ketika dia mengajarkan ilmu. Mungkin orang yang baru awal tadi kata Imam Nawawi, dia itu baru menata niat gitu ya. dia baru menata niat, maka biarkan dia mengajarkan seperti itu. Terus yang ketiga,

1:01:58 hendaklah ia mendidik murid secara bertahap dengan adab-adab sunah dan perilaku-perilaku yang diridai Allah. juga membiasakan dirinya dengan adab-adab dan perilaku-perilaku yang tidak terlihat serta melatihnya menjaga diri dalam segala kondisi baik tersembunyi maupun tampak. Nah, hal yang pertama kali yang harus dilakukan adalah mendorong murid-muridnya dengan ucapan dan perilaku yang ikhlas, jujur, berniat baik, dan merasa diawasi oleh Allah dalam seluruh waktu. Selain itu hendaknya ia senantiasa dalam keadaan seperti itu sampai ia mati.

1:02:44 Ya, mengenalkan kepada murid-muridnya bahwa dengan hal itu akan terbuka baginya pintu-pintu kebaikan. Dadanya menjadi lapang, terpancar dari hatinya mata air hikmah dan kelembutan. diberkahi dalam hidup dan ilmunya dan memperoleh bimbingan untuk berperilaku benar dalam ucapan, perbuatan serta hukum yang ia putuskan. Nah, demikian pula ia mendorong murid-muridnya. Jadi, ini awalnya ini orang yang mengajarkan ilmu ini motivasi adab-adab dulu pada murid-muridnya ya. Apa yang mesti diajarkan gitu ya. Dia motivasi supaya murid-muridnya bisa ikhlas gitu ya. Terus juga demikian pula ia mendorong murid-muridnya untuk bersikap zuhud dengan dunia.

1:03:32 Memalingkannya dari sesikap ketergantungan kepadanya, condong dan tertipu dengan dunia. Ia juga mengingatkan murid-muridnya bahwa dunia ini sementara. [Musik] Sedangkan akhirat itu pasti datang dan abadi. Sesungguhnya menyiapkan diri menuju yang abadi dan berpaling dari yang fana. adalah jalan orang-orang yang kuat dan kebiasaan hamba-hamba Allah yang saleh. Jadi dia motivasi supaya murid-muridnya juga zuhud pada dunia ee kemudian ee tidak tertipu dengan dunia ya. Dan ingatkan terus kepada murid-muridnya tentang akhirat. Satu lagi

1:04:17 hendaklah ia motivasi murid-muridnya kepada ilmu dan mengingatkannya. mengingatkannya kepada keutamaan-keutamaan ilmu. Ya, jadi ada pelajaran khusus menceritakan tentang keutamaan-keutamaan ilmu sehingga para murid itu semangat serta keutamaan-keutamaan ulama bahwa mereka adalah pewaris para nabi. Tidak ada tingkatan yang lebih tinggi daripada ini. Nah, ini perlu diingatkan kepada murid-murid ya tentang keutamaan ilmu supaya mereka terus semangat dalam menimba ilmu. Nah, yang lainnya ini poin baru empat poin kita bahas. Kesimpulannya itu harus

1:05:04 ikhlas. Terus biarkan orang mengajarkan ilmu walaupun awalnya itu tidak ikhlas. Nanti ilmu yang mengantarkan dia untuk ikhlas. Terus kesimpulan yang lainnya lagi ajarkan adab-adab kepada murid. Kemudian ajarkan untuk ikhlas dan jujur dan juga zuhud pada dunia. Lalu motivasi murid-murid kepada ilmu dan mengingatkannya dengan keutamaan-keutamaan ilmu supaya mereka semangat terus dalam mencari ilmu. Nawawi di halaman 75 poin nomor 4 yang kita bahas kemarin. Hendaklah guru itu motivasi murid-muridnya kepada ilmu dan mengingatkannya kepada keutamaan-keutamaan ilmu

1:05:51 serta keutamaan-keutamaan ulama. bahwa mereka itu adalah pewaris para nabi dan tidak ada tingkatan yang lebih tinggi daripada ini. Artinya seorang guru dia motivasi supaya murid-muridnya semangat kasih motivasi berupa keutamaan-keutamaan ilmu dan bagaimanakah menghormati para ulama. Karena ulama itu adalah warasatul anbiya, pewaris para nabi. Kemudian hendaklah ia yang kelima memberikan kasih sayang kepada murid-muridnya dan berikan perhatian kepada kebaikan-kebaikan mereka sebagaimana ia memberikan perhatian terhadap kebaikan-kebaikan dirinya dan anaknya sendiri. Jadi dia menganggap

1:06:37 murid-muridnya itu adalah anak-anaknya sendiri. Sehingga dia didik anaknya dengan baik, maka dia didik murid-muridnya juga dengan baik. Di samping itu, ia memperlakukan muridnya seperti anaknya sendiri dalam hal kasih sayang, dalam hal perhatian terhadap kebaikan-kebaikan dan bersabar dengan sikap kasar serta perilaku buruk dari murid tersebut. Jadi dia sabar sebagaimana anak-anaknya kalau nakal pun dia bisa sabar menghadapinya. Begitu pula ada kalanya ia memaafkan. I maafkan perilaku buruk dan kasar yang berasal dari muridnya. Sebab manusia adalah tempat segala kekurangan. Masyaallah. Ini adab yang luar biasa di poin nomor 5 ini ya. Jadi dia perlakukan murid-muridnya seperti anak sendiri.

1:07:25 Kemudian kalau murid-muridnya pun berkelakuan jelek, dia juga sabar dan dia mudah memaafkan ya murid-muridnya yang ee berbuat salah itu padanya. Jadi seorang guru itu harus berjiwa pemaaf. [Musik] Kemudian yang berikutnya lagi Imam Nawawi katakan hendaklah ia mencintai untuk muridnya kebaikan yang ia cintai untuk dirinya sendiri dan membenci untuk muridnya keburukan. yang ia benci untuk dirinya sendiri. Artinya kalau dia menyukai hal ini, dia

1:08:10 senang juga kalau murid-muridnya mendapati itu. Misalnya ilmu ini dia mudah untuk memahaminya, maka dia senang untuk itu. Maka dia juga berusaha supaya murid-muridnya seperti itu pula dan dia senang untuk itu. Dalam hadis dalam kitab sahihain, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, "La yminu ahadukum hatta yuhibaki mauhibsi." Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Ibnu Abbas radallahu anhuma itu mengatakan.

1:09:07 Kata Ibnu Abbas, "Orang yang paling mulia bagiku, orang yang paling mulia bagiku adalah kawan dudukku yang melangkah di antara orang-orang sampai ia duduk menghadapku. Seandainya aku sanggup mencegah lalat, hinggap di wajahnya, niscaya akan aku lakukan." Nah, itu bentuk mencintai saudara kayak gitu tuh. Dalam satu riwayat disebutkan, "Sungguh lalat benar-benar hingga padanya sehingga menggangguku." Jadi ketika saudaranya itu dihinggapi lalat, dia juga enggak senang. Sebagaimana dia itu senang kalau ya saudaranya itu mendapatkan kebaikan. Dia juga senang kalau dia itu mendapatkan kebaikan. Dia juga senang kalau saudaranya mendapatkan seperti itu pula. Nah, ini namanya ee mencintai seperti

1:09:53 mencintai sesuatu sebagaimana dia suka untuk mendapatkan itu. Mencintai kalau dia senang kalau saudaranya mendapatkan itu sebagaimana ia pun senang kalau dia mendapatkan itu. Lalu yang satu poin lagi, bersikap pemurah. Bersikap pemurah dengan menyebarkan secara mudah ilmu yang telah ia peroleh dengan cara menyampaikannya kepada para penuntut ilmu dan bersikap lemah lembut. dalam menyampaikannya kepada murid-muridnya dengan diiringi sifat santun, menyampaikan nasihat, memberikan arahan kepada perkara-perkara yang penting dan mendorong mereka untuk menghafalkan ilmu-ilmu ilmu-ilmu berharga yang telah ia berikan kepada mereka. Jadi, sini adalah seorang guru itu harus pemurah dan

1:10:40 penyabar. ee pemurah dengan dia itu maksudnya mudah untuk menyebarkan ilmu tadi dan mudah untuk mengamankan pada orang lain dengan sikap lemah lembut, dengan sikap santun. Jadi karakternya dia harus bangun sikap lemah lembut dan sikap santun. Lalu poin keedelapan lagi, jangan sekali-kali nomor delan jangan sekali-kali ia menyembunyikan sedikit pun ilmu yang mereka butuhkan apabila mereka pantas mengetahui ilmu tersebut. Namun kadang berarti ya di sini catatan catatannya ya dari perkataan Imam Nawawi ini terkadang kita mesti menunda ilmu karena belum saatnya karena ilmu ilmu ini nanti didapatkan besok bukan saat ini. Nah itu jadi pertimbangan kalau kita ingin

1:11:27 menyampaikan ilmu kepada murid-murid. Lihat di poin nomor 7uh ini masih adab seorang guru ketika mengajar. Adab seorang guru ketika mengajar dikatakan hendaklah bersikap pemurah dengan menyebarkan secara mudah ilmu yang telah ia peroleh dengan cara menyampaikannya kepada para penuntut ilmu dan bersikap lemah lembut dalam menyampaikannya kepada murid-muridnya dengan diiringi sifat santun. Nah, ini ini cara penyampaiannya. sifat santun, menyampaikan nasihat, memberikan arahan kepada perkara-perkara yang penting, dan mendorong mereka untuk menghafal

1:12:12 ilmu-ilmu berharga yang telah ia berikan kepada mereka. Jadi, ada motivasi di dalamnya. Pokoknya cara penyampaiannya, penyampaian yang baik. Terus yang kedelapan, yang kedelapan jangan sekali-kali ya menyembunyikan sedikitp ilmu yang mereka butuhkan. Apabila mereka pantas mengetahui ilmu tersebut, jangan sekali-kali menyembunyikan sedikit pun ilmu yang mereka butuhkan apabila mereka pantas mengetahui ilmu tersebut. Namun kalau berarti tidak tepat untuk disampaikan saat ini, maka bisa ditunda sampai nanti mereka ee punya tingkat pemahaman untuk memahaminya.

1:12:58 Nah, terus yang berikutnya lagi, [Musik] jangan sekali-kali ia mengajarkan kepada muridnya sesuatu yang tidak pantas untuknya [Musik] agar hal demikian tidak merusak keadaan dirinya. Seandainya muridnya bertanya kepadanya tentang ilmu, ia tidak perlu jawab. Tidak perlu menjawab. Ia kemudian memberitahukan bahwa hal tersebut berbahaya dan tidak bermanfaat baginya. Bahwa ia tidak menghalangi muridnya dari ilmu tersebut karena pelit, akan tapi karena sayang dan cinta. Jadi yang tidak pantas untuk diajarkan jangan diajarkan kepada murid-murid kita. Terus yang ke-10,

1:13:44 tidak bersikap sombong kepada murid-muridnya. Tidak bersikap sombong kepada murid-muridnya. Akan tapi hendaklah ia berlaku lemah lembut, berlaku lembut dan rendah hati di hadapan mereka. Ya, berlaku lemah lembut dan berlaku lembut dan rendah hati di hadapan mereka. Di sini diperintahkan untuk clean, lemah lembut, dan rendah hati, tawadu. Sebab Allah memerintahkan untuk bersikap rendah hati kepada setiap orang. Allah memerintahkan rendah hati kepada setiap orang. Nah, di sini Allah Subhanahu wa taala berfirman, dikatakan ayatnya di sini oleh Imam Nawawi, wfit jana lil

1:14:30 mukminin [Musik] wf janahak minal mukminin. Kalau di kitab asli kami surat alhijr ayat 88 ya. Kalau diterjemahan di sini wahmin cuma surat yang berbeda saja. Asyuara ayat 215. Dan rendahkanlah hatimu kepada orang-orang beriman. Dan rendahkanlah hatimu kepada orang-orang beriman. Ini perintah untuk tawadu. Terus dari Iyad bin Himar radhiallahu anhu, ia berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Inallah aa ilai anw." Sesungguhnya Allah telah

1:15:17 mewahyukan kepadaku agar kalian itu bersikap tawadu, rendah hati, tidak boleh sombong. Juga ada hadis dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Mana naqat shodqatun min. illah. "Tidaklah berkurang harta karena sedekah. Tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba ampunan kecuali kemuliaan." "Tidaklah Allah itu menambah kepada seorang hamba pemaafan kecuali kemuliaan." Dan tidaklah seorang itu bersikap tawadu, berarti di sini perintah tawadu, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya. Hadis riwayat

1:16:03 Muslim. Nah, ini adalah tentang sikap rendah hati. Rendah hati kepada manusia secara umum. Bagaimana halnya dengan mereka yang seperti anak-anaknya sendiri [Musik] dengan keharusan mereka untuk senantiasa bersamanya dalam menuntut ilmu dan juga kewajiban mereka kepadanya seperti dekat dengan guru, bertanya serta menjadi tempat mengadu. Dalam sebuah hadis juga dari Nabi sallallahui wasallam beliau bersabda, liman tuimuna waliman taamuna minhu. Bersikap lemahlembutlah kepada orang-orang yang kalian ajar dan kepada orang-orang yang darinya kalian belajar.

…

Share

Ringkasan Video YouTube