Ringkasan Singkat
Video ini membahas krisis yang sedang berlangsung di Iran, yang dipicu oleh masalah ekonomi seperti inflasi dan sanksi, serta bagaimana hal ini dapat menyebabkan perubahan politik yang radikal. Berikut poin-poin utamanya:
- Struktur politik Iran yang unik, menggabungkan unsur republik dan teokrasi, memberikan kekuasaan besar kepada pemimpin tertinggi dan Garda Revolusi Islam (IRGC).
- Ketergantungan ekonomi pada sektor minyak dan gas membuat Iran rentan terhadap sanksi internasional, yang memperburuk krisis ekonomi.
- Protes yang meluas dipicu oleh masalah ekonomi, tetapi berkembang menjadi penolakan terhadap otoritas dan tuntutan perubahan politik mendasar.
- Krisis ini memiliki konsekuensi domestik dan internasional yang serius, termasuk potensi perpecahan internal, konflik regional, dan gangguan pada pasar energi global.
Struktur Politik Iran: Teokrasi dan Kekuasaan Tertinggi
Iran memiliki sistem politik unik yang menggabungkan unsur republik dengan teokrasi mutlak, di mana kekuasaan tertinggi berada pada prinsip Velayat-e Faqih atau perwalian ahli hukum Islam. Pemimpin tertinggi (Wali al-Faqih) memegang kekuasaan absolut yang melampaui semua lembaga negara. Lembaga negara dirancang agar ulama memiliki kontrol penuh, terutama melalui Dewan Garda yang memiliki wewenang untuk memveto undang-undang yang tidak selaras dengan hukum Islam dan mendiskualifikasi kandidat politik. Akibatnya, ruang politik sipil sangat terbatas, dan politik elektoral sering kehilangan substansi demokrasinya. Garda Revolusi Islam (IRGC) memiliki peran yang melampaui fungsi militer biasa, menjadi pengawal ideologi dan pilar ekonomi yang bertanggung jawab langsung kepada pemimpin tertinggi. IRGC beroperasi secara independen dari kebijakan luar negeri formal, menjadikannya kekuatan yang tiada bandingnya dalam struktur kekuasaan Iran.
Ekonomi Iran: Ketergantungan Minyak dan Sanksi
Perekonomian Iran sangat bergantung pada sektor minyak dan gas, yang menyumbang lebih dari separuh pendapatan nasional. Ketergantungan ini membuat Iran rentan terhadap sanksi global, terutama dari Amerika Serikat dan Uni Eropa. Sanksi-sanksi ini memotong pendapatan negara dan melumpuhkan struktur finansial nasional, membuat Iran terisolasi dari pasar global. Konflik antara kepentingan rezim dan sektor ekonomi sipil diperparah oleh dominasi IRGC di sektor-sektor produktif, menciptakan ekosistem ekonomi yang tidak transparan dan korup. Kombinasi antara kebijakan luar negeri yang memicu ketegangan dan manajemen ekonomi yang militeristik telah memicu sanksi internasional yang kian mencekik, memutus akses Iran ke sistem perbankan global dan membatasi penjualan minyak.
Krisis Mata Uang dan Inflasi
Iran mengalami krisis mata uang dan inflasi yang tajam, yang menelanjangi kerapuhan struktur ekonominya. Nilai rial Iran jatuh ke rekor terendah, dan inflasi tahunan menembus angka 42%, dengan harga makanan pokok melonjak drastis. Lonjakan harga pangan jauh melampaui pendapatan masyarakat, menciptakan jurang kemiskinan baru. Krisis ini mencerminkan ketidaksinkronan antara kebutuhan domestik dan prioritas kebijakan strategis rezim yang bersifat ideologis, di mana anggaran negara diarahkan untuk mempertahankan kapasitas militer dan membiayai sekutu-sekutu regional. Dominasi entitas yang terhubung dengan militer dalam setiap sektor produktif mengikis ruang gerak bagi bisnis kecil dan menengah, sementara ekonomi bayangan tumbuh subur tanpa jaminan sosial atau perlindungan hukum.
Gelombang Protes dan Penindasan
Protes besar yang mengguncang Iran sejak akhir Desember 2025 berakar dari penderitaan ekonomi yang sudah mencapai batasnya. Aksi mogok dagang oleh pedagang di Grand Bazar memicu solidaritas dari pekerja, mahasiswa, dan warga biasa di kota-kota besar. Fokus protes bergeser dari masalah ekonomi menjadi penolakan terhadap otoritas dan tuntutan perubahan politik mendasar. Pemerintah Iran merespons dengan memutus akses internet di seluruh negeri dan menggunakan kekerasan untuk membubarkan massa, menyebabkan jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar. Pemerintah menuduh demonstran sebagai kakitangan kekuatan asing untuk membenarkan tindakan kekerasan dan penahanan massal.
Iran di Ambang Revolusi?
Istilah "ambang revolusi" menggambarkan fakta bahwa rezim yang berkuasa mulai kehilangan dukungan dari kelompok-kelompok utama yang selama ini menopangnya. Hilangnya dukungan dari pedagang dan kelas menengah kecil menunjukkan bahwa kemarahan sudah merata di masyarakat. Krisis kepercayaan terhadap Iran tidak hanya terjadi di dalam negeri, tetapi juga di mata dunia internasional. Para pemimpin dunia dan organisasi internasional mulai mengubah cara mereka melihat Iran, dengan adanya sanksi tambahan, evakuasi diplomat asing, dan kritik pedas dari PBB. Protes yang meledak baru-baru ini dinilai sangat berbeda dengan protes ekonomi di masa lalu, dipengaruhi oleh semangat radikal generasi muda yang menuntut kebebasan total dan menolak narasi agama yang selama ini dipakai pemerintah. Iran berada di titik persimpangan, dengan pilihan antara melakukan reformasi dan berkompromi dengan rakyat atau terus menggunakan kekerasan dan semakin dekat menghadapi revolusi.
Konsekuensi Domestik dan Internasional
Krisis di Iran membawa konsekuensi domestik dan internasional yang serius. Di dalam negeri, tekanan ekonomi dan ketegangan politik berpotensi memperdalam perpecahan internal. Negara kemungkinan besar akan merespons dengan kebijakan darurat yang sangat ketat, tetapi langkah-langkah kasar ini berisiko mempercepat hilangnya kepercayaan rakyat. Di luar batas negaranya, ketidakstabilan di Iran membawa risiko besar bagi dunia internasional, termasuk potensi konflik regional dan gangguan pada pasar energi global. Dalam skenario terburuk, kekacauan di dalam Iran bisa menyeret negara-negara besar ke dalam konfrontasi langsung. Muncul pertanyaan besar mengenai apakah Iran benar-benar akan menuju perubahan sistem pemerintahan yang total atau hanya akan masuk ke babak baru di mana pemerintah menjadi lebih kejam dari sebelumnya.

