0:15 Kami mencoba menjadi yang terbaik. Melayani bangsa dengan sepenuh hati. Marha kami junjung teguhkan diri dan jadikan pedoman serta kekuatan. Hadir di sini untuk mengabdi laksanakan tugas ke bangga negeri. Situt melainkani bangsa dengan akuntabilitas tinggi. Ham di sini tegas dengan hati tunjukkan kompetensi dalam harmoni. melayani bangsa loyal tanpa batasannya
1:03 selalu adaptif dan berkolaborasi bergandeng tangan satu tujuan jadikan ASN lebih berakhlak bekerja sepenuh hati tulus membantu sesama dengan bangga kami melayani bangsa Kami dari sini tegas dengan hati tujuhkan kompetensi dalam harmoni.
1:50 loyal tanpa batasannya adaptif dan berkolaborasi bergandeng tangan satu tujuan untuk menjadikan ASN lebih beragama mengerjas penuh hati tulus membantu sesama dibangan kami melayani dengan kami melayani Mamaah kami melayani H
2:52 bersama membangun asa menuju cita yang mulia. Kami hadir, kami berkarya untuk Jawa Timur yang berjaya. Langkah pasti mengiti zaman dengan semangat pembaharuan. Ilmu dedikasi dan harapan menjadi bekal masa depan. PPS Jing Pusat unggulan tempat lahirnya insan berkualitas mencetak STM berkompetensi tangguh cerdas inovasi bersatu dalam visi yang terang menjawab
3:40 tantangan jangan gemilang PPSDM Jawa Timur Center of Exens masa depan bersama membangun asa menuju cita yang mulia. Kami hadir, kami berkarya untuk Jawa Timur yang berjaya. Langkah pasti mengiti zaman dengan semangat pembaruan
4:28 ilmu dedikasi dan harapan menjadi bekal masa depan. BPSM Jatim Pusat unggulan tempat lahirnya insan berkualitas mencetak STM berkompetensi tangguh cerdas penuh inovasi bersatu dalam visi yang terang menjawab tantangan jangan gemilang PSDN Jawa Timur Center ofans masa depan
8:55 Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Shalom. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan. Rahayu. Salam sejahtera, salam sehat untuk kita semua. Dan karena masih dalam momentum lebaran, Sobat ASN, saya Mega Putri mewakili seluruh keluarga besar BPSDM Provinsi Jawa Timur mengucapkan minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin. Dengan penuh rasa syukur dari hati terdalam, kembali kami menghadirkan sebuah webinar ASN Belajar seri ke-10 tahun 2026 dengan tema Start Smarter Serve Better kembali ke fitrah menuju pelayanan penuh berkah. Persembahan Corpu SDGIS BPSDM Provinsi Jawa Timur.
9:45 Dan pagi hari ini telah bergabung secara virtual di tengah-tengah kita. Selamat pagi dan selamat datang dan selamat bergabung yang terhormat Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur Bapak Dr. Ramlianto, S.PMP. Yang kami hormati Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Bapak Dr. H. Ahmad Serruji Bakhtiar, M.PdI. Yang kami hormati Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniah Provinsi Jawa Timur, Prof. Dr. H. Abdul Halim Subhar, MA. Dan yang kami hormati pula Dekan Fakultas Psikologi UNER, Ibu Dr. Dewi Retno Suminar, M.Si., Psikolog. Serta
10:32 tidak lupa Bapak, Ibu, Sobat ASN di mana pun Anda berada. Semakin semangat tentunya sobat ASN dari Sabang hingga Merauke, seluruh Indonesia yang telah bergabung secara virtual di Zoom meeting maupun yang live YouTube di BPSDM Jatim TV. Senang sekali saya Mega Putri yang akan membersamai Bapak Ibu dari pagi hingga siang nanti dalam acara yang insyaallah penuh dengan keberkahan. Dengan mengikuti webinar ini, Sobat ASN, ASN belajar seri ke-10. Semoga kita semua mendapatkan pengetahuan dan juga meningkatkan wawasan terkait pengetahuan nilai-nilai moral dan juga spiritual dalam bekerja sebagai ASN tentunya.
11:17 sehingga mampu memberikan pelayanan publik yang lebih tulus, profesional, dan penuh dengan keberkahan. Selengkapnya akan dibahas dalam webinar ASN belajar seri ke-10 tahun 2026. Nah, Sobat ASN di mana pun Anda berada dan juga mungkin ada yang baru saja bergabung untuk membuka webinar ASN belajar seri ke-10 tahun 2026 ini, mari kita simak dan dengarkan bersama opening speech yang akan disampaikan oleh Kepala
12:04 Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur yang terhormat Bapak Dr. Ramlianto, SPMP. Kami persilakan. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sehat dan salam sejahtera untuk kita sekalian. Sobat ASN di seluruh tanah air, selamat bertemu kembali dalam ruang belajar bersama webinar series ASN belajar persembahan Jatim Corporate University Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur. Forum pengembangan kompetensi ASN ini merupakan sebuah ikhtiar kolektif untuk
12:50 menjaga semangat pembelajaran ASN agar tetap menyala dan berkelanjutan di tengah tugas pengabdian yang semakin kompleks. Sat, tema yang kita angkat pada seri ke-10 tahun 2026 ini adalah start smarter, serve better, kembali ke fitrah menuju pelayanan penuh berkah. sebuah tema sebagai refleksi komprehensif tentang momentum hari raya Idul Fitri serta urgensinya untuk menata semangat dan etos kerja SN ketika kita semua baru saja melewati bulan Ramadan, sebuah bulan pendidikan spiritual, bulan pengendalian diri, dan bulan pembentukan
13:38 karakter. Sobat ASN di seluruh tanah air, Idul Fitri bukan sekedar perayaan kemenangan setelah menjalani ibadah puasa. Ia adalah momentum kembali ke fitrah, kembali kepada kejernihan hati, kejujuran niat, dan kemurnian pengabdian. Dalam konteks kehidupan pribadi, fitrah berarti kesucian. Namun dalam konteks pengabdian sebagai ASN, fitrah dapat dimaknai sebagai kembali kepada nilai-nilai dasar pelayanan publik, integritas, keikhlasan, tanggung jawab, dan keberpihakan kepada kepentingan masyarakat. Ramadan telah melatih kita menahan diri, mengendalikan hawa nafsu, dan
14:24 menumbuhkan empati sosial. Latihan spiritual ini sejatinya memiliki implikasi besar terhadap etos kerja kita sebagai aparatur negara. ASN yang melewati Ramadan dengan kesadaran spiritual yang utuh seharusnya lahir kembali dengan keteguhan karakter, kejernihan pikiran, dan semangat pelayanan yang lebih bermakna. Di sinilah makna dari Starter serve better. Menemukan relevansinya. Kita diajak untuk memulai kembali langkah pengabdian dengan cara yang lebih bijak, lebih cerdas, dan lebih bernilai. Bekerja bukan sekedar menyelesaikan tugas administratif, tetapi menghadirkan pelayanan yang membawa manfaat dan keberkahan bagi
15:12 masyarakat. Saf SN dalam perspektif organisasi modern, kinerja tidak hanya ditentukan oleh kompetensi teknis, tetapi juga oleh keseimbangan antara kapasitas intelektual dan kedewasaan spiritual. Spiritualitas memberi makna pada pekerjaan yang menumbuhkan integritas, memperkuat komitmen, dan menghadirkan ketulusan dalam setiap pelayanan yang kita berikan. Ketika pekerjaan dilakukan dengan kesadaran spiritual, maka tugas tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai amanah. Ketika pekerjaan dilakukan dengan kesadaran spiritual, maka tugas tidak lagi terasa sebagai beban, tetapi
15:58 sebagai ibadah. Dari situlah lahir pelayanan publik yang bukan hanya profesional, tapi juga penuh nilai dan penuh keberkahan. Kesadaran inilah yang menumbuhkan integritas dalam bekerja. Ketika keputusan diambil dengan tanggung jawab moral, ketika pelayanan diberikan dengan empati, dan setiap kebijakan dijalankan dengan niat menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat. Sobat ASN di seluruh tanah air, dalam perspektif ini spiritualitas menjadi fondasi etos kerja yang kuat yang menjaga agar kekuasaan tidak disalahgunakan. Kewenangan tidak diselewengkan dan amanah tidak diabaikan. ASN yang bekerja dengan kesadaran
16:44 spiritual akan senantiasa menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi, menjaga kejujuran dalam setiap langkah dan menghadirkan pelayanan yang tidak hanya cepat dan tepat tapi juga berkeadilan dan bermartabat. Dari sinilah lahir birokrasi yang bukan sekedar efektif secara administratif, tapi juga bernilai, berintegritas, dan membawa keberkahan bagi kehidupan bersama. Sobat ASN di seluruh tanah air, kehadiran para narasumber hebat kali ini akan semakin memberikan wawasan yang luas dan makin memantapkan langkah pengabdian kita sebagai ASN Indonesia. Atas nama BPSDM Provinsi Jawa Timur dan
17:30 seluruh ASN Indonesia, izinkan kami menyampaikan apresiasi dan penghormatan setinggi-tingginya kepada satu kepada yang terhormat Bapak Dr. H. Ahmad Seruji Baktiar, M.PdI. Beliau adalah Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur yang akan mengulas tentang hikmah Idul Fitri sebagai sumber semangat baru bagi ASN dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat. Kedua, kita akan mendapatkan perspektif ilmiah dari bidang psikologi organisasi melalui paparan dari Ibu Dr. Dewi Retno Suminar, M.Si., psikolog. Beliau adalah Dekan Psikologi Universitas Airlangga yang akan menjelaskan bagaimana spirit Idul
18:15 Fitri dapat mempengaruhi motivasi kerja, kesejahteraan psikologis, serta kinerja pegawai dari sudut pandang psikologi. Dan ketiga, kita akan mendapatkan penguatan dimensi spiritualitas dari Bapak Prof. Dr. H. Abdul Halim Subhar, MA. Beliau adalah Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniah Provinsi Jawa Timur. yang akan membahas pentingnya spiritualitas sebagai pondasi moral dan melaksanakan tugas dalam pekerjaan. Kehadiran para narasumber hari ini menegaskan bahwa ASN belajar bukan sekedar forum diskusi tapi ruang strategis untuk menyatukan visi, menyelaraskan kebijakan, dan memastikan bahwa pembelajaran benar-benar
19:01 bertransformasi menjadi kinerja dan dampak nyata. Nah, Sobat SN, mari kita simak dengan seksama. webinar ASN belajar seri ke-10 tahun 2026. Semoga bermanfaat. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Sobat ASN telah kita simak bersama ya untuk opening speech yang telah disampaikan oleh Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur, Bapak Dr. Ramliantp. Semoga apa yang telah beliau sampaikan bisa menjadi acuan, tujuan, dan juga manfaat dari webinar kita pada pagi hari ini. Dan sebelum kita masuk ke sesi
19:49 pemaparan materi, Sobat ASN, Sobat ASN sudah dapat melakukan presensi ya di laman semestabangkom.id. Link presensi dapat Sobat ASN lihat juga pada running teks yang ada di bawah dan juga ada di kolom chat Zoom atau juga ada di pincet YouTube BPSDM Jatim TV dan juga karena mungkin trafficnya lumayan tinggi jadi sobat ASN yang masih belum bisa mengakses presensi nanti dapat dicoba kembali sebari kita mengikuti ee beberapa sesi dari webinar hari ini. Nah, Sobat ASN, sesaat lagi kita akan mengikuti pemaparan materi yang luar biasa tentunya dari narasumber-narasumber hebat kita. Namun, ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan di sini. Yang pertama, sesi
20:36 tanya jawab atau diskusi nanti akan kami berikan dan dilakukan di setiap akhir pemaparan dari narasumber dan akan kami berikan hadiah souvenir menarik untuk lima orang terpilih tentunya ya. Pastikan nanti sobat ASN raise hand atau sudah memberikan pertanyaan di kolom chat Zoom boleh atau di live YouTube dari BPSDM Jatim TV. Yang kedua, para penanya harap menyebutkan identitas diri berupa nama dan juga instansi di manaun Anda berada. Yang kemudian link absensi peserta akan diberikan setelah mengisi laman semestabank.id. Silakan secara berkala sobat ASN selalu
21:22 melihat dan juga mengecek link absensi yang telah dilakukan oleh Sobat ASN. Nah, tibalah saatnya kita menyimak pemaparan materi dari narasumber kita yang pertama tentunya sangat luar biasa. Beliau telah hadir secara virtual yaitu Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Bapak Dr. H. Ahmad Suri Bakhtiar, M.PdI. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bapak Seruji. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Bagaimana kabarnya Bapak pagi hari ini?
22:08 Alhamdulillah harus sehat, harus semangat ya, Pak. Harus baik, harus semangat, harus bahagia. Betul. sebelumnya mohon maaf lahir dan batin Bapak Seruji ya. Sama-sama Mbak. Siap. Baik Bapak dan terima kasih sudah dapat bergabung secara virtual untuk dapat memberikan pastinya banyak sekali informasi dan juga hari ini di sesi pertama dengan materi hikmah Idul Fitri untuk semangat baru ASN. Kepada Bapak Ahmad kami persilakan untuk menyampaikan materinya. Baik. Asalamualaikum warahmatullah. wabarakatuh. Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semua.
22:54 Om swastiastu, namo buddhaya. Salam kebajikan. Bismillah walhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah. Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasul. Ba'duh. Yang saya hormati ini ada guru saya Prof. Dr. Halim Subhar. Yang saya hormati Ibu ee Retno. Yang terutama yang saya hormati Bapak Kepala PBSDM Bapak Dr. Romdianto dan hadirin hadirat semuanya zoomiin dan zoomiat karena ini ada yang zoom, ada yang melalui YouTube dan juga ada yang
23:40 ee di luar jaringan. Alhamdulillah puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa taala. Allah mentakdirkan kita semua bersama-sama dalam forum ini. Walaupun secara fisik kita tidak bisa bertemu, tapi hati, pikiran, dan jiwa kita bersatu dalam forum ini. Semoga kehadiran kita sekalian senantiasa mendapatkan rida Allah dan dicatat sebagai amal ibadah. Shatullahu wasalamuhu semoga senantiasa tercah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Hadirin hadirat Bapak Ibu sekalian yang berbahagia. Kita 1 bulan penuh sudah menjalani
24:28 puasa Ramadan. tentunya ini bukan hanya sekedar rutinitas ritual, tetapi tentunya ada banyak hal, ada banyak hikmah yang dapat kita ambil dan tentunya juga banyak hal yang dapat dibentuk dari puasa selama bulan Ramadan penuh. Idul Fitri tentunya merupakan ikrar bahwa kita ini sudah melalui sebuah jalan panjang. Selama sebulan penuh kita dididik, dilatih,
25:13 dimotivasi dan disemangati oleh ibadah yang kita lakukan. Maka tentunya ibadah ini akan melahirkan sebuah kesucian hati. Suci berarti bersih tidak ternoda. Sebagai SN tentunya karena kita ini semua adalah sayyidul kaum khatimuhum. Ya pelayan tentunya dalam memberikan layanan kepada siapapun kapanpun. Maka layanan ini kita layanan dengan suci. Suci maknanya di sini kita tanpa pamri. Mari kita hilangkan nuda-nuda dalam
25:59 memberikan layanan itu nuda-nuda apresiasi. itu adalah nuda. Penghargaan-penghargaan itu adalah nuda. Dipuji-puji itu adalah nuda. Oleh karenanya, Bapak Ibu sekalian tentunya mulai saat ini mari kita sucikan hati kita dalam memberikan layanan kepada siapapun. Berarti sesuai dengan ikrar kita bahwa setiap kita salat selalu mengatakan innatiusuki
26:45 wa mahyaya waamati lillahiabbil alamin. Jadi apapun ikhtiar kita, mati hidup kita sebagai ASN tentunya harus terus menjaga kesucian hati ini dalam memberikan layanan kepada siapapun. Hindari apresiasi. Mengharap apresiasi berarti menudai kesucian kita. Mengharapkan sesuatu. Apakah kenaikan pangkat, apakah kenaikan gaji? Apakah yang lain-lainnya? Itu adalah menudai kesucian hati kita. Oleh karenanya, Bapak, Ibu sekalian, hadirkan dalam diri kita dalam
27:32 memberikan layanan kepada siapapun adalah keikhlasan. Karena semua yang kita lakukan itu adalah ibadah. Ibadah tidak hanya ibadah mahdadah ghairu mahdah. Ibadah yang diterima oleh Allah adalah selain suci, tidak berharap apa-apa dari Allah kecuali berharap ridanya dan juga harus menghadirkan keikhlasan, ketulusan sehingga apapun yang kita lakukan karena yang kita lakukan ini adalah ibadah maka insyaallah akan dicatat
28:19 sebagai amal ibadah dan insyaallah juga akan diridai oleh Allah subhanahu wa taala. ASN tentunya dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab terus harus membangun komitmen untuk memperbaiki diri. Orang yang selalu memperbaiki diri atas segala apa yang telah dilaluinya atau dilakukannya, berarti dia menyadari bahwa dirinya ingin selalu mendapatkan ridanya Allah dan selalu berharap apapun yang dilakukan dicatat sebagai amal ibadah. Dan ini menjadi penting bagi kita,
29:04 Bapak, Ibu sekalian. Karena sesungguhnya kita ini bukan siapa-siapa. Kita ini tidak punya kekuatan apapun. Kita tidak punya kemampuan apapun. Semua adalah milik Allah. Ketika semua milik Allah, maka lakukan layanan dengan kesucian hati. Lakukan pengabdian ini dengan keikhlasan. Dan teruslah kita berbenah diri agar kita diridai oleh Allah dan semua dicatat sebagai amal ibadah. Itu tentunya puasa ini sudah memberikan pelajaran yang sangat berarti bagi kita. Tetapi tidak cukup menjadi sebuah pelajaran, juga
29:49 tidak cukup menjadi sebuah pemahaman. Tapi ini tentunya harus diimplementasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Puasa ini tujuannya adalah untuk mencetak orang-orang yang muttaqin, orang-orang yang bertakwa. Maka insyaallah kalau kita betul-betul menjalankan puasa itu dengan iman wtisaban, maka kesucian hati akan kita dapatkan. Keikhlasan dalam pengabdian akan dapat kita wujudkan. Dan tentunya komitmen memperbaiki diri itu akan selalu menjadi kesadaran bagi kita semuanya bahwa kita ini adalah makhluk yang tidak sempurna.
30:38 Al insan mahalul khatnisyan. Bapak, Ibu sekalian yang berbahagia, Ramadan tentunya melatih kita tentang apa itu kesabaran. Sabar berarti kita akan selalu melayani, memberikan yang terbaik seperti apapun situasinya. Karena Bapak, Ibu sekalian, kita ini melayani ASN itu adalah melayani masyarakat. Karakteristiknya masyarakat itu adalah berbeda-beda. Ada yang tipologinya soft, ada yang tipologinya
31:25 ya hard keras juga ada. Ada yang kecenderungan dalam meminta layanan itu betul-betul minta layani selayaknya seperti seorang raja. Maka di situlah Bapak Ibu sekalian, kita dituntut dengan kesabaran. Sabar berarti kita melayani dalam kondisi seperti apapun dengan senyuman, dengan sapaan, dengan sopan, dengan santun, tidak ada dalam dirinya rasa jengkel, rasa capek, rasa lelah dalam melayani masyarakat. Dan Ramadan tentunya Bapak Ibu sekalian sudah
32:10 melatih diri kita sabar buka puasa kalau belum waktunya. Sekalipun hidangan makanan sudah banyak di depan kita, kita harus bersabar menunggu beduk puasa atau azan magrib. Ini contoh-contoh kecil yang barangkali ini akan terus dan perlu kita lanjutkan dalam kehidupan sehari-hari. Kejujuran tentunya menjadi hal yang sangat penting bagi kita semua Bapak Ibu sekalian. Karena kejujuran itu adalah harga diri. Kejujuran itu adalah kemuliaan. Jujur berarti kita menghargai diri kita. Jujur berarti kita ini memuliakan diri
32:58 kita. Maka tentunya sebagai SL lebih-lebih sebagai seorang pejabat misalnya seperti saya ini pejabat kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur maka kejujuran menjadi hal yang sangat mutlak untuk dimiliki oleh saya dan tentunya oleh ASN-ASN yang lainnya. Karena kejujuran itu akan membawa kepada ketentraman. Kejujuran itu akan membawa kepada ketenangan. Kejujuran itu akan membawa kepada kebahagiaan. Dan tentunya ini menjadi penting bagi kita semua. Apa artinya kemudian hidup kalau tidak tenang? Apa artinya hidup kalau tidak tentram? Apa artinya hidup kalau tidak bahagia? Karena saya yakin
33:45 semuanya Bapak Ibu sekalian, siapapun kita hidup di dunia menginginkan hidup dengan tenang, tentram, dan bahagia, maka kata kuncinya adalah kejujuran lebih-lebih sebagai ASN. Disiplin tentunya ini menjadi hal yang sangat penting bagi kita semuanya. Dan Ramadan telah mengajari itu semua bahwa kapan waktunya kita salat, kapan waktunya kita buka puasa, kapan waktunya kita sahur, semua adalah ditentukan oleh waktu. Dan kalau kita ingin ibadah puasa kita ini ya memenuhi persyaratan, maka tentunya
34:32 disiplin. Nah, disiplin bagi ASN ini adalah hal yang sangat mutlak harus dimiliki. Jangan sampai kemudian kita melalaikan sedikit pun atas layanan-layanan yang diberikan kepada kita. Sesungguhnya Bapak, Ibu sekalian, berbuat baik kepada orang lain itu ee berbuat baik kepada dirinya ee sendiri. In ahsantum ahsantum li anfusikum. Bapak, Ibu sekalian yang berbahagia, kita tentunya sebagai ASN harus punya kepedulian sosial. Kita ini harus sensitif. Kita ini harus peka. kita ini tentunya harus
35:17 betul-betul membaca dan menyadari atas masyarakat yang diberi layanan oleh kita semuanya. Idul Fitri tentunya Ramadan sudah mengajarkan kepada kita terkait dengan kepedulian sosial dengan adanya zakat fitrah dan sekat-sekat yang lainnya. Tetapi makna yang paling penting dari ini tentunya Bapak Ibu sekalian kepedulian sosial yang harus dilakukan oleh ASN baik di internal lingkungan ASN-nya maupun di lingkungan eksternal. Karena terus terang yang namanya ASN itu, Bapak Ibu sekalian itu adalah representatif ya di mana kemudian dia ditempatkan untuk melakukan
36:02 pengabdian dan perjuangan. ASN itu adalah ya, agen di mana kemudian kita ditempatkan diberi amanah dan ASN itu sebenarnya juga aktor. Maka tentunya kepedulian sosial itu adalah wujud dari aktor yang harus kita perankan sebagai ASN, agen yang harus diperankan oleh seorang ASN dan representatif mewakili dari kementerian. Maka kalau kepedulian sosialnya tinggi, Bapak Ibu sekalian, maka tras akan terbangun. Kepercayaan kepada institusi di mana kemudian kita mengabdi dan tujuan itu akan terbangun, akan terbentuk ketika
36:48 tas sudah terbangun. Maka rasa memiliki terhadap di mana kemudian kita ditempatkan akan dapat dibentuk. Dan ketika ee rasa memiliki ini sudah ada, tentunya rasa cinta itu juga akan hadir. Dan tiga hal ini tentunya penting Bapak, Ibu sekalian, kita sebagai aktor, sebagai een dan sebagai representatif dari mana kemudian kita ditempatkan. baik sebagai guru, baik sebagai dosen, baik sebagai ASN di kementerian atau lembaga. Bapak, Ibu sekalian yang berbahagia. Karena ASN ini adalah
37:35 sebagai pelayan masyarakat, maka tentunya mari kita melayani masyarakat dengan ikhlas tanpa pamrih. Jangan ada dalam pikiran kita melakukan apa, mendapatkan apa. Yakinlah bahwa Allah pasti mencukupi kebutuhan kita, Bapak, Ibu. sekalian. Dan tentunya keinginan-keinginan kita belum tentu dipenuhi. Jadi kalau kebutuhan pasti dicukupi, keinginan belum tentu dipenuhi, maka layani dengan ikhlas tanpa paberi. Jangan berharap apapun
38:23 dari orang lain, apalagi berharap pemberian. Ketika kita berharap pemberian dari orang lain, maka sesungguhnya itu sama dengan mengerdilkan Tuhannya. Seakan-akan Tuhannya sudah tidak mampu mencukupi kebutuhan kita. Dan ini tentunya menjadi penting bagi kita semuanya, Bapak, Ibu sekalian. Jadilah birokrat yang bersih. Bersih dari korupsi tentunya, bersih dari gratifikasi tentunya bersih dari pungli. Dan tiga hal ini akan dihindari ketika kita melayani masyarakat dengan ikhlas tanpa pamrih dan hanya berharap ridanya Allah Subhanahu wa taala. bekerja dengan
39:11 profesional ini adalah hal yang harus dilakukan. Berarti Bapak Ibu sekalian, kita harus mempersiapkan diri kita dengan mutu kompetensi atau kualitas. Jadi tentunya sebagai ASN agar bisa bekerja dengan profesional, mari bekali diri kita dengan ilmu-ilmu, dengan pengetahuan-pengetahuan, dengan knowledge dan skill tentunya sehingga kita dapat bekerja secara profesional. Kalau kita bekerja secara profesional,
39:57 kepuasan tentunya akan dapat diwujudkan. Sekali lagi, kalau masyarakat sudah puas, maka rasa memiliki rasa cinta tentunya nanti pembelaannya kepada kita akan sangat luar biasa. Sebaliknya kalau kita hanya melayani yang penting dan pokoknya tidak didukung oleh kemampuan keilmuan, tidak didukung oleh skill juga dan juga tidak didukung oleh kemampuan komunikasi yang baik yang penting dan pokoknya, maka tentunya akan berbanding berbalik. Bisa jadi mereka kecewa, mereka tidak nyaman, mereka merasa tidak dengan baik, maka
40:44 rasa memiliki rasa cinta kepada kita dan kepuasan tentunya tidak dapat dimiliki. Bapak, Ibu sekalian yang berbahagia, integritas dan kepercayaan publik ini harus dapat kita miliki. Karena sekali lagi, integritas ini akan membentuk kepercayaan. Integritas itu juga akan membentuk keyakinan kepada masyarakat yang kita layani. Nah, integritas berarti ini harus ada keselarasan ya antara aturan-aturan yang kita buat dengan implementasi di lapangan. antara kata-kata yang kita ucapkan dengan perbuatan-perbuatan
41:31 yang kita lakukan. Tapi kadang kala aturannya A tetapi implementasinya kadang kata-katanya B tetapi implementasinya adalah C dan ASN tentunya harus mampu membangun integritas sehingga ee tentunya kepercayaan publik ini bisa kita raih, bisa kita dapatkan. Bapak, Ibu sekalian yang berbahagia. tiga hal tadi tentunya karena ini berkaitan dengan layanan harus
42:23 sepertinya kita masih ada kendala teknis dari Pak Seruji. Nanti kita akan tunggu sebari Pak Surji akan kembali hadir bersama kita. Dan rekan-rekan Sobat ASN jangan lupa untuk isi link presensinya. Nanti semua untuk informasinya ada di bawah semestabangkom.id. Sobat ASN bisa langsung akses di sana ya. Dan kita sambung kembali Pak Serruji apakah sudah terhubung dengan kami di sini? Baik, ini sudah nyambung kembali. Oke, siap. Baik, Pak. Bapak, Ibu sekalian yang berbahagia. Ramadan melatih kita tentang disiplin waktu maka tentunya ini harus menjadi
43:11 etos kerja kita. Disiplin waktu. Kejujuran tentunya sudah kita lakukan selama Ramadan. Nah, pengendalian diri. Pengen diri ini, Bapak, Ibu sekalian, saya memaknai yang pertama mari kita kendalikan diri kita untuk tidak menerima sesuatu di luar hak-hak kita. Pengalian diri tentunya juga berkaitan dengan
44:00 respon terhadap masyarakat yang tentunya dalam meminta layanan kepada kita kadang kala berlebihan. Maka kita harus mampu mengendalikan diri kita agar kita tidak merespon dengan perilaku-perilaku dan tindakan yang mencederai rasa-rasa kemanusiaan. Misalnya dengan marah misalnya, kemudian dengan kata-kata yang tidak baik. Karena kalau kita marah, kata-kata yang tidak baik
44:45 ketika puasa pun itu juga akan berdampak kepada pahalanya. Tentunya ini juga akan berdampak ketika kita melayani memberikan layanan kepada masyarakat. Selanjutnya tentunya ASN ini harus menunjukkan kesederhanaan. Puasa Ramadan telah membentuk kita adalah kesederhanaan. Boleh kita beryufuriah misalnya karena sudah tuntas Ramadan. Tapi ini tetap harus dalam batas-batas kewajaran. Dalam konteks ini kita harus tetap menunjukkan kesederhanaan. Inilah Bapak Ibu sekalian nilai-nilai
45:31 menjadi fondasios kerja SN yang ee tentunya yang berkualitas. Sekali lagi, Ramadan harus betul-betul membentuk karakter kita menjadi karakter-karakter yang jujur, disiplin waktu, kemudian mampu mengendalikan diri dan juga membangun kesederhanaan. Bapak, Ibu sekalian yang berbahagia. Integritas ini adalah konsisten antara ucapan dan perbuatan. Menjauhi korupsi dan penyalahgunaan
46:17 wewenang. Nah, biasanya Bapak, Ibu sekalian ini musimnya menjelang Idul Fitri. banyak parsel-parsel ya, banyak pemberian-pemberian ini tentunya perlu kita hindari sebagai wujud dari integritas sebagai SN. Dan ini adalah buah dari puasa Ramadan. Karena ada tradisi biasanya bulan-bulan Ramadan banyak parsel-parsel,
47:03 banyak kemudian hadiah-hadiah, banyak kemudian pemberian-pemberian. Mari kita jauhi ini Bapak Ibu sekalian karena itu bukan hak kita. Kita tidak yakin kalau tidak karena kita sedang menjabat atau jadi ASN, tidak mungkin orang akan memberikan pemberian hadiah dan sebagainya. Maka ayo kita hindari ini sebagai bentuk kesucian kita dalam menjalankan puasa selama sebulan penuh. Maka setelah itu juga kita harus menjaga kesuciannya. Bapak, Ibu sekalian yang berbahagia, pengetapan kepentingan bangsa dan negara dari kepentingan pribadi dan golongan
47:50 ini adalah integritas yang harus dibangun oleh ASN di manaun kemudian kita ditempatkan, di mana pun kita bekerja dan jadi apapun kita semuanya. Bapak, Ibu sekalian yang berbahagia. Selanjutnya tentunya dari sebulan ini pasca Idul Fitri ASN diharapkan memiliki motivasi kerja yang lebih tinggi. Kalau misalnya pasca Ramadan kita sama dengan sebelum Ramadan katanya manana yaumuhu mlahi fahua maubun. Kalau hari ini sama
48:40 dengan kemarin, kita ini termasuk orang yang rugi. Supaya kita tidak rugi tentunya motivasi kerja pasca Ramadan itu harus lebih baik dan lebih tinggi. Apalagi sebaliknya misalnya ini sama saja inah rugi. Apalagi lebih misalnya lebih buruk atau ee lebih jelek dari tahun kemarin, tahun hari kemarin. Wangkanuh syar min amzihi wah mal'unun adalah celaka. Kita tentunya tidak ingin rugi dan tidak ingin celaka. Kalau kita tidak ingin rugi dan tidak ingin celaka, maka tentunya motivasi kerja kita harus lebih
49:28 baik, lebih tinggi dari hari-hari yang sebelumnya. Dan kita tentunya ingin jadi orang-orang yang beruntung, yang roihunu. Nah ini min amsihi fahua maun. Kalau kita ini apa lebih baik yair min amsihi fahua raihun. Kalau setelah Ramadan ini motivasinya semakin tinggi, kita termasuk orang-orang yang raihun, orang-orang yang yang beruntung. dan tentunya ASN di manaun kita ingin menjadi orang-orang yang beruntung. Bekerja dengan semangat pengabdian. Bapak, Ibu sekalian yang berbahagia sebagai ASN niati untuk mengabdi dan
50:14 berjuang. Kalau niatnya mengabdi dan berjuang, saya akul yakin ketulusan keikhlasan akan ada dimiliki oleh kita semua. Kita tidak akan pernah berpikir tentang pamrih, baik penghormatan, penghargaan, apresiasi misalnya, kita akan terhindar dari itu. Kalau bekerja dilandasi oleh semangat pengabdian dan perjuangan. Tapi sebaliknya kalau bekerja bukan pengabdian, bukan perjuangan, tentunya kita akan berhitung. Setiap apa yang kita lakukan ada
51:02 hitung-hitungannya. Disiplin dia berharap dipuji oleh atasannya. Berprestasi dia berharap untuk naik jabatan. dan yang lain-lainnya. Tetapi ketika kita ingin berniat mengabdi dan berjuang fa insyaallah kita akan terhindar dari itu semuanya. Bapak, Ibu sekalian yang berbahagia, ASN tentunya harus menjadi teladan bagi masyarakat. Seperti yang disampaikan bahwa kita inilah, kita inilah aktor, dan kita inah representatif. Maka jadilah een yang
51:47 mampu mendistribusikan apa yang menjadi visi misi kementerian kita atau lembaga kita atau pemerintah kita. Jadilah aktor yang mampu menjalankan program-program apa yang sudah direncanakan oleh kementerian, lembaga atau pemerintah kita. dan representatif tentunya. Mari kita jaga nama baik almamater kita ya, kementerian, lembaga maupun di mana kita ditempatkan. Oleh karenanya, Bapak Ibu sekalian, teruslah kita menjadi teladan bagi masyarakat dalam semua aspek kehidupan.
52:35 Inilah semangat baru yang harus dimiliki oleh ASN. Sekali lagi, kalau ini tidak kita dapatkan, maka sia-sialah puasa Ramadan kita yang sudah kita jalani sebulan penuh. Bapak, Ibu sekalian yang berbahagia, kita seringki mendengar bahwa ada nilai-nilai dasar ASN. Yang pertama adalah berestasi layanan. Nah, kita perlu belajar sama orang Jepang, Bapak, Ibu sekalian. Orang Jepang itu mempunyai prinsip yang sangat luar biasa dalam memberikan layanan. dia akan mengucapkan terima kasih kepada
53:22 orang-orang yang dilayani. Contohnya narasinya seperti ini. Saya mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya karena Anda sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk melayani Anda. Maka ASN yang benar, ASN yang baik itu adalah berenangsi layanan. Dan layanan itu sesungguhnya adalah kebutuhan bagi kita. bukan kebutuhan bagi mereka. Orang Jepang, Bapak, Ibu sekalian, kalau memberikan layanan, ada seorang misalnya menanyakan suatu alamat kepada kita, orang Jepang itu tidak menunjukkan arah-arahnya, tetapi dia akan mengantarkan sampai tujuannya
54:11 dicapai. Itu adalah orang Jepang. dan pasti dia akan mengucapkan terima kasih Anda sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk melayani Anda. Maka sekali lagi Bapak Ibu sekalian, mari kita belajar banyak ya bagaimana orang Jepang itu memberikan layanan kepada kita semuanya. Tetapi kalau kita kan sebaliknya kalau sudah dilayani dengan baik, dengan ramah, dengan sopan, dengan santun, terima kasih Anda sudah melayani saya dengan baik. itu kebalikannya lah. Ini nanti kita mindset kita harus dirubah, kultur set kita juga harus dirubah. Bapak, Ibu sekalian yang berbahagia, layanan kita tentunya harus akuntabel ya, harus dapat dipertanggungjawabkan.
55:00 Pertanggungjawaban itu di dunia dan di akhirat, Bapak, Ibu sekalian. Yang paling berat itu adalah akuntabilitas nanti di akhirat. Nah, oleh karenanya Bapak Ibu sekalian ee agar kita ini juga memperoleh apa sisi layanan dan akuntabel, mari kita kuatkan empati intelektual kita. kita ini harus punya pemahaman bagaimana perasaan-perasaan orang yang akan kita layani seperti kemudian perasaan-perasaan yang ada pada diri kita. Maka menjadi
55:46 penting bagi kita sebagai ASN untuk membangun empati intelektual. Pahami perasaan mereka, pahami pikiran-pikiran mereka, pahami keinginan-keinginan mereka. Ini adalah empati intelektual. Kalau sudah kita mampu memahami, tentunya nanti kita akan dapat mewujudkan yang namanya empati emosional. kita akan bermanifest perasaan-perasaan kita akan include kepada orang yang dilayani. Maka tentunya dengan empati intelektual dan empati emosional, saya hakul yakin apapun yang dilakukan
56:34 oleh kita semuanya sebagai SN mesti orientasinya adalah orientasi pelayanan. Pelayanan berarti kita mengabdi dan berjuang untuk memberikan yang terbaik kepada masyarakat. Bapak, Ibu sekalian yang berbahagia dan saya yakin dengan empati intelektual dan empati emosional, akuntabilitas karena dia akan merasa apa yang dilayani itulah bagian dari dirinya. Maka saya yakin akuntabilitas yang dapat dipertanggungjawabkan. Dan tentunya Bapak Ibu sekalian, kita harus punya kompetensi gimana strategi, gimana cara, gimana pendekatan, gimana metode memberikan layanan kepada masyarakat.
57:19 Kalau kita tidak punya kemampuan, tidak punya kompetensi, tidak tahu caranya, tidak tahu pendekatannya, tidak tahu strateginya, bisa jadi kemudian kita memberikan layanan secara asal-asalan. Maka tentunya ayo Bapak Ibu sekalian, teruslah kita berbenah diri, teruslah kita meningkatkan pengetahuan dan pemahaman kita sehingga kompetensi kita akan terus semakin baik. Harmonis tentunya Bapak, Ibu sekalian menjadi hal yang antara yang dilani dengan yang melain terjadi komunikasi yang baik, terjadi interaksi yang baik. Dengan komunikasi yang baik, interaksi yang baik, maka harmonisasi dapat kita bangun. Dan ini tentunya Bapak Ibu sekalian karena kita punya tugas dan tanggung jawab melayani, mereka mempunyai hak untuk mendapatkan
58:05 pelayanan yang baik dengan komunikasi yang baik, dengan interaksi yang baik maka harmonisasi akan dapat dibangun. Nah, tentunya Bapak Ibu sekalian harus ada loyalitas. Loyalitas kita itu adalah kepada institusi, kepada lembaga, kepada kementerian, dan kepada di mana pun kemudian kita ditempatkan. Loyalitas juga ini harus dimiliki oleh kita. Loyal kepada orang yang dilayani kepada masyarakat, maka loyal kepada institusi dan loyal kepada masyarakat ini yang akan mempertemukan orientasi layanan akuntabel dan kompetensi serta harmonis akan bisa dibangun. Tapi kalau loyalitas ini tidak kita miliki,
58:52 maka tentunya sekali lagi bisa jadi kita akan memberikan layanan yang penting dan pokoknya. Bapak, Ibu sekalian yang berbahagia, zaman terus berkembang dan kita hidup di era yang serba berubah. Maka adaptif, adaptasi harus kita miliki, Bapak, Ibu sekalian. Teruslah kita beradaptasi dengan situasi yang sedang berkembang. Baik ilmu pengetahuan, baik teknologi. Lebih-lebih saat ini perkembangan digitalisasi sangat pesat. Maka tentunya sebagai ASN kita harus mampu beradaptasi. Kita harus adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan juga
59:37 perkembangan di masyarakat atas keinginan-keinginan yang dikehendaki oleh masyarakat semuanya. Bapak, Ibu sekalian yang berbahagia, tidak mungkin kita bekerja sendirian. Maka kerja-kerja kolaborasi, kerja kolaborasi berarti kerja saling menguatkan, saling mengisi, dan saling mengingatkan satu sama lainnya. Ini yang membuat diri kita menjadi sukses dalam memberikan layanan kepada masyarakat. Maka kerja-kerja kolaboratif harus kita wujudkan bersama. Bapak, Ibu sekalian yang berbahagia. tentunya sebagai ASN dari proses-proses yang sudah kita jalani, proses-proses yang sudah kita
1:00:23 lakukan, pemahaman-pemahaman yang sudah kita miliki, ee pengalaman-pengalaman yang sudah kita lakukan ini harus ada komitmen dari kita semuanya. Karena kita ini adalah bagian yang tidak terpisahkan dari negara ini. Maka ada tiga hal penting menurut saya yang harus terus kita gelorakan dalam diri kita. Yang pertama, moderasi beragama ini harus kita jaga, harus kita pelihara, harus kita kembangkan. Karena sebagai abdi negara, sebagai ASN tentunya kita akan memberikan layanan kepada siapun,
1:01:08 baik berbeda agama, berbeda suku, berbeda bahasa, berbeda ras, maka menjaga moderasi itu menjadi penting bagi kita semuanya. Yang kedua tentunya menguatkan kerukunan umat. Umat rukun, umat tenang, umat tenang. kondisi kondusif. Kalau kondisi kondusif apapun yang akan kita lakukan, fa insyaallah akan mudah, lancar, dan sukses. Maka menguatkan kerukunan umat tentunya menjadi penting bagi kita semuanya. Yang terakhir tentunya memberikan pelayanan yang adil dan profesional. Kita tidak boleh membeda-bedakan dalam memberikan layanan. Berikan layanan yang terbaik kepada siapapun, kapanpun, di manaun tanpa melihat latar belakang apapun.
1:01:56 baik latar belakang agama, latar belakang suku, ras, budaya, dan yang lain-lainnya. Itulah kira-kira beberapa hal yang perlu kita sampaikan. Kurang lebihnya mohon maaf. Wallah. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih banyak Pakji atas waktu dan juga pemaparan materi yang begitu padat ilmu. Ya, saya izin sedikit mengutip dari yang disampaikan Pak Surji, hikmah Idul Fitri memotivasi sobat ASN untuk bangkit, berprestasi, dan berkarya dengan terutama dengan tekad yang baru yang lebih kuat, ikhlas,
1:02:41 dan lebih menyala. Seperti itu Bapak Serruji ya. Dan saya izin untuk melanjutkan sesi berikutnya, Pak Seruji. Ada sesi tanya jawab di sini. Sudah ada sobat ASN yang rise hand. Baik, selamat pagi. Asalamualaikum. Bapak dari Disub ya. Boleh disampaikan? Boleh open mic dulu, Pak. Siap. Iya. Ee asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi. Selamat pagi ee Mbak Putri. Mohon izin ee dokter. Saya dari Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur. ee
1:03:26 ada ada beberapa yang mungkin perlu di komunikasikan, dipertanyakan kepada Dr. Doktor ee kira-kira bagaimana sih sesungguhnya hakikat Idul Fitri itu, Dokter? Dan kira-kira sejauh mana dampak kepada kita yang betul betul kita itu mendapatkan Idul Fitri. Demikian dokter. Baik, terima kasih atas interaksi dan juga pertanyaannya. Monggo Bapak Suruji bisa langsung dijawab dan diberikan feedback. dan
1:04:12 baik Bapak Ibu sekalian yang berbahagia, hakikat Idul Fitri adalah akan membentuk yang namanya manusia la'allakum tattaquun, manusia yang bertakwa. Manusia yang bertakwa adalah ada dua hal. Dia akan menjadi Abdullah yang saleh. Dan yang kedua adalah menjadi khalifatullah yang anfak. Abdullah yang saleh berarti dia akan selalu mengabdikan dirinya di jalan Allah. Dia ditugaskan menjadi apapun melakukannya karena Allah.
1:04:59 Dia berbuat apapun karena Allah. Tidak ada dalam dirinya Abdullah yang saleh ketika melakukan itu. Ketika misalnya disiplin waktu, penuh dengan karya, penuh dengan inovasi, ingin naik pangkat, ingin dipromosikan, itu adalah Abdullah yang saleh. Maka kalau dalam diri kita berbuat melakukan baik disiplin, berprestasi, berinovasi, masih ada dalam pikiran kita. untuk dipromosi, naik pangkat, naik jabatan. Sesungguhnya kita sudah gagal membentuk puasa kita menjadi puasa yang tidak bisa menjadi Abdullah yang saleh. Yang kedua, khalifatullah yang anfa
1:05:46 dia memberikan kemanfaatan, kebaikan, dan kebajikan kepada orang lain. Maka yang ada dalam dirinya apa yang bisa saya lakukan untuk orang lain? Apa kebaikan apa yang bisa saya berikan kepada orang lain? Kebajikan apa yang bisa diberikan kepada orang lain itu wujudnya. Jadi kalau belum seperti itu berarti puasa tidak membentuk khalifatullah yang anfa. Karena tugas manusia di dunia itu ada dua. Abdullah yang saleh yang selalu mengabdikan dirinya di jalan Allah dengan ketulusan dan keikhlasan. Dan khalifatullah yang anfak menjadi ASN
1:06:33 yang kreatif, dia menjadi ASN yang inovatif. Dia menjadi ASN yang adaptif dan dia menjadi ASN yang selalu anfauhum linnas, memberikan manfaat kepada siapapun. Maka kalau ini tidak bisa diwujudkan, maka tentunya ibadah sebulan penuh yang kita lakukan tidak berdampak apa-apa. Kalau itu misal sama dengan tahun kemarin wangkana yaumuhu lah mlahi fahua robihun fahua maubun. Rugi kita ini berpuasa selama bulan Ramadan karena tidak ada nilai-nilai yang kita dapatkan dari itu. Maka suci berarti dia lepas dari noda-noda berbuat pengin dihormati,
1:07:19 dihargai itu berarti Abdullah yang saleh sudah itu. Kemudian memberikan manfaat kebajikan berarti dia sudah menjadi khalifatullah yang anfa itu suci namanya. Tidak ada nuda apapun. Semoga ya Ramadan itu betul-betul menjadi Idul Fitri itu menjadi nyata bukan hanya di kata-kata. Dan mohon maaf Bapak Ibu sekalian, saya tidak berani mengatakan seperti ini kalau ini belum saya lakukan. Saya takut kabur indallahi antaalun. Allah akan benci dan murka kalau hanya berkata-kata tapi tidak kemudian melakukan. Maka bebaskan diri kita dari sesuatu yang menjadikan diri kita kadang menjadi Tuhan. Ya,
1:08:08 kita harus bersih dari itu, suci. Sehingga kemudian kalau berprestasi itu karena Allah, kalau naik pangkat itu karena Allah, kalau promosi itu karena Allah, bukan karena kemampuan kita, bukan karena ibadah kita. Kalau merasai kemampuan kita, maka sesungguhnya kita sudah menuhankan kemampuan kita. Sementara lailahaillallah tiada Tuhan selain Allah. Jangan karena kemudian ibadah kita kita naik pangkat berarti Tuhannya bukan Allah lagi tapi Tuhannya adalah ibadah. Sementara lailahaillallah tiada Tuhan selain Allah. Itulah makna suci. Itulah makna fitri Bapak Ibu sekalian. Nah, ini yang tentunya harus terus ada dalam diri kita sehingga dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab
1:08:54 kita tidak berpikir akan promosi, akan naik pangkat, akan naik gaji. Enggak ada itu semuanya. Karena menjadi Abdullah yang saleh, apapun yang dilakukan itu terserah Allah. Neraka surganya itu hanya Allah yang punya kapasitas. Ibadah kita tidak menentukan surganya Allah, tidak menentukan nerakanya Allah. Tapi Allahlah yang menutkan surga dan nerakanya. Ya, ini harus betul-betul bersihkan ji jiwa kita sehingga mampu menjadi Abdullah yang saleh dan menjadi khalifatullah yang anfa. Itu kira-kira Bapak dari Disub nggih. Baik, terima kasih atas jawaban yang telah diberikan Bapak Serrui. Dan kita
1:09:41 akan lanjut ke sesi penanya yang kedua. Pakruji mohon izin. Sudah ada yang raise hand. Monggo. Sudah ada lagi ya. Boleh kami persilakan untuk open mic. Baik Bapak Muhammad Zulkadir. Baik. Kami persilakan untuk menyampaikan pertanyaannya Bapak. Siap. Mohon maaf dokter. Mohon izin. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ada beberapa yang memang masih menjadi ganjalan bagi kami. Kalau nilai Ramadan
1:10:27 itu terkait dengan etasn untuk disiplin waktu, kejujuran, pengendalian diri, kesederhanaan dan berkualitas. nya ee Ramadan ini kita harapkan ada integritas yang sangat tinggi yang dimiliki oleh ASN sehingga juga nanti bisa memotivasi kerja lebih tinggi bekerja dengan semangat pengabdian menjadi teladan bagi masyarakat. Tentu diri kita sendiri mungkin bisa agak mudah karena kita paksa. Tapi mohon untuk doktor terkait dengan
1:11:14 bisa mengeluarkan motivasi itu kepada rekan-rekan kerja kita, kepada pimpinan, kepada kita mungkin lebih warahmatullahi wabarakatuh. ya suaranya. Baik. Oh I baik terima kasih. Bisa diterima Bapak Seruji ya untuk pertanyaannya. Bisa bisa. Jadi begini ee Bapak Ibu sekalian, kalau kita ingin menjadi orang yang disiplin bukan belajar dalam konteks memahami disiplin,
1:12:00 pengetahuan disiplin. Kalau kita ingin menjadi orang baik, kita tidak belajar dalam konteks pemahaman orang baik, pengetahuan orang baik. Tapi kalau kita ingin menjadi orang baik, yang pertama taqarub ilallah, dekat dengan Allah. Media instrumen untuk dekat dengan Allah sudah ada yang namanya salat. Maka kalau kita ingin baik kepada orang lain, ingin disiplin, ingin kemudian menjadi orang yang kreatif, inovasi, maka tentunya ini harus dekat dengan Allah. Taqarub ilallah. Salat itu adalah media instrumen.
1:12:46 Mari kita muhasabah diri, introspeksi diri, Bapak, Ibu sekalian. Bagaimana dengan salat kita? Apakah salat kita ini sudah tepat waktu? Maksudnya kalau zuhur tidak tidak nyambung ke asar maksud saya itu ya. Apakah salat kita ini sudah benar? Karena salat ini, Bapak, Ibu sekalian, tanhail fahsyai wal munkar. Menjegat di perbuatan keji dan mungkar, Pak. Mari kita muhasabah diri. Salat kita yang lima waktu. Mari kita sempurnakan dengan salat malamnya, salat tahajudnya. Kalau bisa
1:13:31 23 rakaat, kalau enggak bisa cukup ya 11 atau 13 misalnya. Mari kita sempurnakan lagi dengan duhanya. Nah, di situlah Pak yang akan membentuk bukan pemahaman kita, bukan pengetahuan kita, Pak. Tapi darah itu yang mengalir. Karena itu guru saya mengatakan kalau ingin berkata-kata yang baik, bukan belajar kosakata yang baik, bukan belajar tata bahasa yang baik, bukan belajar gramar yang baik, tapi kalau ingin berkata-kata yang baik, maka ayo perbaiki hatinya Pak. lah memperbaiki hati itu yaitu dengan ibadah. memperbaiki hati itu bukan dengan
1:14:18 pengetahuan yang kita baca dengan pemahaman bukan tapi maka ibadah salatnya kita perbaiki. Yang kedua, Bapak Ibu sekalian karena ala wa inna jasadi mudatan shuat shu al jasadu kulluhu waid fasadat fasadal jasadu kulluhu. Dalam diri kita ini ada segumpal daging ya hat. Kalau itu baik, maka akan baik semuanya. Tutur katanya baik, pikiran-pikirannya baik, tindakan-tindakannya baik. Nah, membentuk mutwah yang soluhat itu bukan dengan baca, tapi dengan taqarrub ilallah. Dekat dengan Allah. Itulah yang akan membentuk.
1:15:03 Kalau hanya dengan pengetahuan dan pemahaman, seberapa kuat kita mampu ya mengkonstruksi pemahaman dalam diri kita, tapi kalau salat ibadah kita pasti. Yang kedua, mohon maaf yang membentuk mutwah menjadi saluhat itu adalah mensyukuri apapun yang terjadi, Pak. Hidup itu adalah ujian. Ada diuji dengan musibah, ada diuji dengan nikmat. Itu yang membentuk mutwahnya menjadi mutwah yang salhat. Apalagi berkaitan dengan rezeki. Dikasih sedikit bersyukur. Kenapa? Pertanggungjawaban di akhirat sedikit. Kalau banyak jangan senang-senang, jangan bahagia karena pertanggungjawabnya adalah besar juga,
1:15:50 banyak juga. Maka syukuri apapun yang terjadi karena itu yang terbaik menurut Allah. Yang kedua, kalau ini mutwahnya menjadi mutwah yang soluhat Pak. Maafkan siapapun yang menyakiti kita, menzalimi kita, mencaci maki kita, memfitnah kita. Karena mutwahnya menjadi saluhat. Kalau tidak saluhat berarti mutuahnya fasadat. Kalau fasadat dia punya penyakit hati, Pak. Hasad, iri, dengki, sombong, subah, Pak. lah ini tentunya semua muaranya disalat. Maka maafkan siapapun orang yang menyakiti kita itu adalah
1:16:36 qadaqadarnya Allah juga. ini adalah ujian ketauhidan kepada kita juga itu. Nah, kemudian yang keempat mohon maaf hormati dan hargai siapapun dia. Karena ketika kita menghormati dan menghargai siapapun berarti hatinya itu soluhat. Menghormati dan menghargai siapun sesungguhnya dia sudah menghormati dan menghargai yang menciptakannya. Ingat Bapak Ibu sekalian bahwa Allah tidak pernah menciptakan sesuatu yang sia-sia. Maka hormati dan hargai siapapun, Pak. Maka insyaallah mutwahnya menjadi mutwah yang saluhat. Maka qolbunnya akan menjadi qolbun salim. Hati yang sehat,
1:17:23 hati yang bersih, hati yang suci. Lah ini yang kemudian harus kita lakukan. Saya hakul yakin, Pak, kalau itu dilakukan dan ya ini bukan sumah dan riak bagian dari penguatan kepada diri kita semuanya. Dan sekali lagi saya tidak pernah mengatakan apapun sebelum saya melakukannya. Saya pernah, Pak, difitnah, dicaci maki, dibilangin macam koruptor, anjing, cancuk. Saya tidak marah, saya tidak tersinggung, saya tidak benci, saya tidak dengki. Karena itu bagian dari mutghah kita. Mutwahnya harus mutwah yang soluhat. Makanya sekali lagi kalau kita ingin berkata-kata yang baik itu bukan belajar
1:18:09 kosakata yang baik, bukan belajar gramar yang enggak, tapi memperbaiki hati kita. Nah, Ramadan Bapak, Ibu sekalian itu bagian dari memperbaiki kalbun kita, hati kita, mutwah kita, Pak. Sehingga puasa itu kan ada yang sah kemudian tidak berpahala, Pak. Ada yang sah kemudian berpahala. Nah, kita tentunya ingin puasanya itu sah dan berpahala. Maka tadi itu mari kita bangun kesucian. Berarti mutwahnya itu harus mutwah yang soluhan. Apa itu mutwah? Ala wahi qolbun itu adalah hati.
1:18:58 Jadi puasa Ramadan itu bagian dari beberapa bagian yang terus dibangun dalam diri kita sehingga mudwahnya terbentuk menjadi mudwah yang suluhan. Tapi kalau mudwahnya fasadat, rusak, pola pikirnya, rusak kata-katanya, rusak tindakannya rusak, Pak. Nah, ini menjadi penting bagi kita semuanya. Jadi, setelah Ramadan tentunya teruslah kita ibadah-ibadah yang lainnya memaafkan, mensyukuri, menghormati ini menjadi penting bagi kita semuanya. Itulah kira-kira Bapak dan Mbak yang kemudian perlu saya sampaikan ya. Baik, terima kasih Bapak Surji atas informasi dan juga insight yang telah
1:19:45 diberikan dan terima kasih untuk sobat ASN yang sudah bertanya dan berinteraksi di segmen pertama ini. Saya yakin banyak banget Pak Surji yang mau bertanya dan raise hand tapi kita simpan dulu untuk segmen berikutnya ya karena di segmen pertama ini hanya dibatasin untuk dua penanya saja. Baik, terima kasih banyak Bapak Surji untuk waktunya. Sehat selalu. Kita bertemu lagi dalam kesempatan berikutnya. Nah, Sobat ASN, saya yakin masih banyak sekali yang ingin digali dan diulik dari pembahasan tema kita pada hari ini. Namun sebelumnya, rekan-rekan Sobat ASN, kita akan ada satu informasi yang sangat penting. Silakan bisa disimak bersama.
1:23:57 Selamat datang kembali sobat ASN dalam ASN Belajar. AR seri ke-10 tahun 2026 dengan tema Start Smarter Serve Better, kembali ke fitrah menuju pelayanan penuh berkah. Nah, kita tadi di segmen pertama sudah mengikuti dari paparan yang disampaikan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Bapak Dr. H. Ahmad Surji Bakhtiar, M.PdI. Nah, sekarang kalau masuk ke segmen kedua ini, kita akan bersama-sama mendengarkan narasumber dari Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniah Provinsi Jawa Timur Prof. Dr. H. Abdul Halim Subadar, MA.
1:24:51 Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi Bapak Abdul. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi, Mbak. Selamat pagi, Bapak. Bagaimana kabarnya, Pak? Hari kedua efektif kerja ya setelah lebaran. Ng, alhamdulillah semua berjalan dengan baik-baik. Iya. Alhamdulillahiabbil alamin. Cocok sekali, Pak, dengan materi yang akan Bapak Abdul Halim berikan pada sesi kedua ini. Nanti Bapak akan sampaikan untuk urgensi spiritualitas dalam melaksanakan tugas pekerjaan. Langsung saja kepada Prof. Dr. H. Abdul Halim Subahar kami persilakan. Asalamualaikum warahmatullahi
1:25:37 wabarakatuh. Bismillah walhamdulillah wasalatu wasalamu ala sayidina Muhammad ibni Abdillah waa alihi wasbihi w yang sangat kami muliakan Bapak Dr. Ramlianto, Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur. Sahabat saya Bapak Dr. Ahmad Surwaji Bakhtiar, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur. Ibu Retno selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya. Serta Mbak Putri host acara ini yang sangat kami banggakan. Alhamdulillah
1:26:25 saat ini kita akan membincang persoalan-persoalan yang sangat strategis yang menjadi tema ASN Belajar ke-10. Mudah-mudahan dan insyaallah kegiatan seperti ini akan sangat berdampak bagi perbaikan kinerja ASN, bagi perbaikan kualitas ASN di Jawa Timur di masa-masa yang akan datang. Insyaallah ada beberapa yang hal yang ingin kami sampaikan sebelum masuk pada tema kajian spiritualitas bekerja dan berkhidmah yang akan kami sampaikan. Yang pertama yang perlu pemahaman kita bersama bahwa Allah itu menciptakan beberapa anugerah
1:27:12 yang ini sangat spesial dan hanya khusus untuk manusia. Ada anugerah fisik atau jasmani, ada anugerah akal, ada anugerah kalbi, dan ada anugerah hayat yang menjadi penentu apakah kita ini hidup sejak awal berproses sebagai manusia sampai terat. Keempat anugerah ini merupakan satu kesatuan gak bisa dipisah. Misalkan hanya fisik saja terpisah dari akal dan kalab itu bukan manusia, tapi penjaga sawah itu yang biasa digudakan
1:27:57 para petani untuk menghalau ee burung dan ayam yang sedang memakan pertanden. Demikian juga kalau tanpa fisik hanya ada roh misalkan, maka ini pun bukan manusia. bisa jin atau bisa makhluk lain. Demikian juga hanya aspek yang lain. Ketiga ketika aspek empat ini tidak menjadi satu kesatuan, maka bukanlah manusia yang utuk. Jadi manusia utuh secara sederhana kita pahami kalau keempat
1:28:42 anugerah ini ada dalam satu kesatuan dalam diri kita. Jadi ada anugerah fisik atau jism atau jasmani, ada anugerah akal, ada anugerah kalbu, ada anugerah hayat dan kehidupan. Keempat anugerah Allah tersebut, fisik, akal, kalbu, dan hayat. merupakan satu kesatuan anugerah bagi manusia dan menjadi potensi spiritualitas kita. Sehingga manusia disebut manusia itu karena kesatuan potensi itu. Sebaliknya tanpa kesatuan anugerah maka bukanlah manusia itu. Ini hal pertama yang nanti akan kami
1:29:29 klarifikasi lebih lanjut. Seberapa karakteristik anugerah fisik, anugerah akal, anugerah kalbu, dan anugerah hayat itu sendiri. Yang pertama fisik atau gizm atau jasmani. Jasmani kita adalah ciptaan Allah yang terbaik dalam Al-Qur'an. Laqad khalqnal insana fi ahsan surat atin ayat ke4. Konsekuensi ciptaan terbaik itu setelah Allah melengkapi anugerah akal dan kalbu, maka manusia barulah menjadi hamba Allah sekaligus khalifatullah di muka bumi. Kalau tanpa akal dan kalb manusia itu
1:30:16 tidak mungkin menjadi hamba Allah dan khalifatullah. Justru perbedaan antara manusia dan makhluk-makhluk yang lain karena menyatunya antara fisik, akal dan kalbu yang kemudian ee hidup mulai dari masa pembentukan, nutfah alaqah dan mudur dan seterusnya sampai kita menjadi pada sekarang. Keterbatasan anugerah fisik atau jism atau jasmani tidak mampu mencapai rasionalitas seperti yang dicapai akal atau spiritualitas yang dicapai oleh kalbu. Karena masing-masing indra fisik hanya
1:31:03 mampu menangkap satu kebenaran. Satu contoh sebagaimana Imam Ghazali itu menyampaikan dalam kitab almunkit minal. Beliau itu memberikan gambaran seperti ini bahwa satu indra hanya mampu menangkap satu sinyal kebenaran. Misalkan indra mata ya hanya bisa melihat. Mereka tidak mampu menangkap kebenaran dari aspek suara. Demikian juga telinga hanya mampu mendengar. dia tidak mampu mencapai kebenaran yang didapat oleh indra mata dan lain-lain. Satu contoh misalkan akan keterbatasan
1:31:49 kita kadang-kadang keluar dari rumah kita ya sudah jelas bumi gerisik-gerisik bahwa sedang terjadi ee hujan rintik-rintik dan itu kita rasakan kita dengarkan dari dalam rumah kita masih keluar itu tangan kita itu kita keluarkan begitu kita terasa bahwa tingan kita itu basah baru kita komentar Oh, ternyata hujan ya. Jadi perasa ini tidak begitu percaya hasil tangkapan dari alat pentingnya. Sehingga satu indra itu sangat mampu menangkap kebenaran pada
1:32:35 indra-indra tertentu. Tetapi indra yang lain tidak mampu menangkap kebenaran indra yang dicapai oleh indra yang lain. Nah, oleh karena itu, Alghazali itu menyatakan bahwa satu indra hanya mampu menangkap kebenaran indra tertentu dan tidak mungkin mampu menangkap kebenaran yang dicapai oleh indra yang lain. Tetapi ketika Allah itu memproses kompetensi dan memberikan berupa anugerah akal, akal itu mampu merasionalkan menyambung keterbatasan masing-masing indra itu menjadi satu kesatuan yang utuh sehingga bisa dirasionalkan. Ternyata betul-betul hujan setelah ada pembuktian dari pertama pendengaran
1:33:21 kemudian kemudian dirasakan baru kemudian dengan bukti penguat bahwa telah terjadi hujan. Itu keterbatasan anugerah fisik. tidak mampu mencapai kebenaran yang berdasarkan ras rasionalitas yang dicapai oleh akal dan tidak mampu mencapai kebenaran atau spiritualitas yang dicapai oleh. Tetapi anugerah ini dari aspek fisik memang berproses sejak awal. Ketika Allah itu telah mempertemukan sel sperma dan ovum. Kemudian dalam satu wadah yang disebut dengan nutfah.
1:34:07 Kemudian berproses menjadi alaqah. Kemudian proses menjadi mudah yang tadi disampaikan oleh Pak Kepala Tanwil itu. Nah, kemudian terus juga idamulahm ada daging sebelum menjadi tumma ansyahu khalq akar. Jadi anugerah fisik itu kemudian disempurnakan dengan anugerah non fisik ketika usia dalam kandungan itu sudah mencapai 4 bulan. Jadi 40 hari nutfah, 40 hari alaqah, 40 hari mudra. Begitu sudah mencapai 4 bulan maka tma anahu khq ak meniupkan
1:34:56 roh yang di dalamnya itu ada adalah anugerah akal dan kalb manusia. Kemudian yang kedua itu anugerah akal. Anugerah akal adalah anugerah yang menjadikan manusia mampu mengakses ilmu dan berpikir rasional. Ini penting karena ini yang akhirnya membedakan antara manusia dengan makhluk-makhluk yang lain. Dengan anugerah akal menjadikan manusia berbeda dengan ciptaan sebelumnya yang bersifat fisik karena sudah dilengkapi non fisik seperti akal. Keterbatasan anugerah akal mesti mampu melebihi anugerah fisik atau jism atau jasmani dan mampu mencapai rasionalitas.
1:35:44 tapi belum mampu mencapai spiritualitas yang diharikan spiritualitas yang mampu dicapai oleh suatu contoh misalkan perasaan kita sebagai manusia berimpan perasaan kita mencapai kenikmatan ketika sedang beribadah itu bukan diizm yang menyatakan akan seperti itu. Bukan akal yang menyatakan seperti itu, tapi kenyataan seperti itu hanya bisa dirasakan dengan potensial. Karena itu kemampuan rasionalitas
1:36:31 tidak akan mampu mencapai kemampuan spiritualitas yang dicapai oleh atau qbun. Dalam istilah kita sehari-hari sering digunakan istilah hati. Sebenarnya yang benar itu adalah atau QB dalam istilah agama. Jadi banyak ahli berpandangan bahwa dengan anugerah fisik dan akal kalb manusia disebut makhluk viiduensi. Fisik berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Sedang akal dan kalbu berasal dari roh dan akal kembali ke atas. Dua hal yang berbeda asal muasalnya akan terus saling tarik-menarik selama hidupnya antara ke
1:37:18 bawah dan ke atas, ke tanah dan ke ini persoalan-persoalan tarik-menarik dalam kehidupan kita. Satu sisi kita akan mengabdi secara optimal. kita akan melakukan mujahadah kepada Allah ya. Tapi pada sisi yang lain ada tarik menarik agar supaya kita itu tidak ke atas tapi justru ke bawah ke hal-hal yang hina, ke hal-hal yang tercipta dari roh, dari tanah, ke hal-hal yang tercipta dari bawah. Jadi antara tarik-menarik ke atas dan tarik-menarik ke bawah selalu menjadi problem dan tantangan bagi kehidupan kita. Bagaimana
1:38:06 agar supaya kita ini selamat? Allah memberikan anugerah yang sangat luar biasa yang namanya anugerah QB. Qolbun atau anugerah hati. Oleh karena itu kita selalu memang berdoa agar supaya kita diselamatkan oleh Allah agar kita masuk pada kelompok jismus salim, aqlus salim danbun salim. Ini perjuangan kita ke depan dan sekaligus ini tantangan-tantangan kita ke depan dalam rangka menjadikan kita sebagai hamba Allah dan khalifatullah di muka bumi. Anugerah kalbu atau anugerah kalb adalah anugerah yang memungkinkan manusia bukan
1:38:54 hanya mencapai rasionalitas, tetapi sekaligus spiritualitas spiritualitas yang tingkatan. Anugerah kalbu memungkinkan manusia merasakan nikmatnya iman, merasakan nikmatnya beribadah, merasakan kekhusyukan ketika salat, dan merasakan kebahagiaan ketika bekerja. Karena bekerja bagi mereka bukan sekedar bekerja tapi sekaligus berkhidmah. Jadi ada sisi spiritualitas ketika bekerja dan itu berbisa di kalbu. Jadi kalbu sebagai pengendali semua anugerah yang kita miliki. Puasa Ramadan tentu hal yang sangat
1:39:40 spesial bagi kita. Kami mengistilahkan puasa Ramadan itu adalah pendidikan samawi. Bukan hanya kita dilatih, bukan hanya kita dilatih kejujurannya, dilatih berpikirnya, tetapi Allah yang melatih kita, Allah yang membina kita, Allah yang mendidik kita secara langsung. Ada tiga hal paling tidak menjadi rasionalitas kita. Kenapa kami menyebut bahwa puasa Ramadan adalah pendidikan syarah? Karena ini memang khas khusus tujuannya khusus. Yang dipanggil itu ya ayyuhalladzina amanu.
1:40:28 Wahai orang-orang yang beriman. panggilannya amanu. Amanu itu bukan ada pada tataran fisik, bukan ada pada ranah akal, tapi ada pada ranah kalb hati nurani kita. Jadi yang dipanggil itu bukan fisik kita, bukan akal kita, tapi kalbu kita. Ya ayyuhalladzina aman. Kalau kalbunya itu seberapa sedikit keimanan kita kepada Allah itu ag. Tapi kalau sudah ingkar pada keimanan kepada Allah meskipun Allah berkali-kali memanggil mengharap dengan panggilan nisra. Ya
1:41:13 ayyuhalladzina amanu. Wahai orang-orang yang beriman. Orang seperti itu tidak pernah mendengar. Yang kedua, cara dalam pelaksanaan puasa Ramadan itu khusus. Tujuannya khusus, yang dipanggil khusus, caranya khusus, berbeda dengan ibadah ibadah yang lain. Kalau ibadah salat, ya cara kita salat, indikator kekhusyukan salat kita itu masih bisa terasakan oleh orang-orang yang paling dekat dengan kita. Kalau kita berzakat, ya besar kecilnya
1:41:59 zakat kita. akan ditahu diketahui oleh orang yang menerima zakat kita atau orang yang menyaksikan ketika kita bersabat. Kalau kita melaksanakan ibadah haji, bukan hanya sekeluarga yang tahu. Mungkin satu kampung, mungkin satu kabupaten, mungkin satu provinsi kita itu diketahui. Sehingga kadang orang kalau sudah haji tidak dipanggil Pak Haji itu gak noleh ya. Sebab haji itu merupakan sakit tersendiri. Tetapi siapa yang tahu bahwa kita ini sedang berpuasa? Gak ada yang tahu itu.
1:42:47 Meskipun bibir kita itu kering, itu bukan tertanda bahwa kita sedang berpuasa. Meskipun bibir kita itu basah, itu bukan pertanda kita sedang tidak berpuasa. Karena apa? Karena puasa itu hanya untuk Allah Subhanahu wa taala. Asumuli kata Allah, puasa itu hanyalah untukku. Wa ana ajzi bihi. Dan hanya aku yang tahu seberapa besar pahala yang akan diberikan Allah kepada orang yang berpuasa. Jadi ini kekhususan-kekhususan yang dipanggil khusus caranya khusus. Yang ketiga itu tujuannya khusus
1:43:33 yang tadi telah disampaikan oleh Bapak Kepala itu laallakum tattaquun agar supaya kamu menjadi orang-orang yang tetap. Jadi puasa Ramadan itu Allah ingin membawa orang-orang yang beriman menjadi orang-orang yang bertakwa. Ini solusi dari kehidupan kita. Jelas jika ini dilakukan secara bagus akan berdampak pada kehidupan pasca Ramadan. Oleh karena itu, seberapa kuat perintah puasa dalam rangka memantapkan kalbu
1:44:21 kita. Banyak motivasi-motivasi yang dilakukan oleh Rasul. Manoma ramadana imanan wahtisaban. Barang siapa yang berpuasa Ramadan betul-betul karena iman dan karena mengharap rida dari Allah Subhanahu wa taala, niscaya Allah akan mengik dosa-dosa yang
…