0:00 [Musik] Hai, selamat datang di channel I know. Channel ini berisi playlist audiobook terbaru dari buku-buku bestseller bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Nah, kali ini kita akan bahas buku Jika Kita tak pernah jadi apa-apa oleh Alvi Syahrin. Satu, saat usiamu 25 nanti. Bodo amatlah pada standar kesuksesan
0:46 yang digaungkan oleh society dan media. We will be something. tanpa perlu standar itu. Ceritamu seolah berakhir di usia 25 tahun. Teman-temanmu, mereka telah menemukan tempat di dunia ini. Bekerja di perusahaan yang beken, melanjutkan studi di luar negeri, membangun sebuah startup yang sukses di kemudian hari, menikahi seseorang yang dicintai, memutuskan mengelilingi dunia dan menjadi pekerja lepas penuh kebebasan dan berbagai pencapaian duniawi yang sedap dipandang. Dan kamu duduk di kamarmu, memandang itu semua dari Instagram, berangan-angan. Kapan ya hidupku bisa kayak mereka?
1:35 Saat kamu masih kecil, orang-orang sering bertanya, "Kamu mau jadi apa?" "Dokter," jawabmu antusias. "Lalu kamu beranjak dewasa, pertanyaan berevolusi." "Mau lanjut di mana?" Jawabanmu tak berubah kedokteran. Namun itu adalah satu-satunya jawaban tersisa yang kamu miliki. Sisa mimpi di masa kecilmu. Padahal biologi tak pernah jadi pelajaran favoritmu. Padahal nilai-nilai diapurmu telah memberi tanda bahwa kamu perlu mempertimbangkan pilihan lain. Padahal belajar di sekolah saja kamu sudah merasa begitu bosan. Ingin cepat-cepat lulus. kontradiksi dengan keinginanmu untuk lanjut ke fakultas
2:20 kedokteran yang akan menghabiskan bertahun-tahun lebih lama dari mahasiswa jurusan lain pada umumnya. Meski begitu, kamu tetap bersih teguh. Aku pilih kedokteran. Sesungguhnya kamu tak punya pilihan lagi. Kamu cuma ingin sukses. Dan kata orang-orang, kalau kamu mau sukses, jadilah dokter. Enak kan? Nanti bisa buka praktik sendiri, kerjaan terjamin, bla bla bla. Jadi, kamu mengikuti standar sosial yaitu jadi dokter supaya sukses. Sayangnya seperti sebuah cerita sedih, kamu tidak diterima di Fakultas Kedokteran. Persaingan yang sengit, soal yang tanpa disangka-sangka amat sulit,
3:06 nilai yang standar. Lupakan soal frustrasi dan kebuntuhan setelahnya. Kita geser ke tahun-tahun berikutnya. Saat kamu sudah mengubur mimpi yang tak pernah benar-benar jadi mimpi. Momen setelah kamu lulus kuliah nanti sekitar usia 21 atau 22 tahun. Di usia-usia ini mimpimu berubah. Ingin jadi pengusaha. Karyawan apaan? Enggak enak jadi bawahan. Disuruh-suruh terus. Mending jadi pengusaha. Lihat Steve Jobs, Bill Gates, Jack Ma, Jeff Bezos, dan orang-orang sukses lainnya. Mereka bukan karyawan. Mereka adalah pengusaha dan mereka sukses besar-besaran. Menjadi
3:52 orang berpengaruh di dunia, memberi kontribusi besar bagi dunia, dan em setidaknya kaya raya. Begitu pikirmu. Jadi, kamu meniti jalan mereka. Mencoba menjadi pengusaha kecil-kecilan dulu. But boy, I was wrong. Gumamu saat menapaki langkah pertama di dunia usaha. Memasuki dunia usaha seperti berjalan di dalam hutan belantara di tengah gelapnya malam serta derasnya hujan. Terjembap jatuh ke lubang yang sama. Terperangkap begitu lama sampai jenuh dan berkarat. Usaha berjam-jam penghasilan 0-0. Jadi kamu mundur dari pertarungan ini. Kembali menjadi karyawan. tidak
4:38 mencintai apa yang kamu lakukan. Bukan ini yang aku mau. Bukan ini yang aku mau. Rapalmu setiap pagi di kantor. Dan di kepalamu bermain-mainlah berbagai suara. Kalau mau sukses, jadilah dokter. Kalau mau sukses, jadilah pengusaha. Kalau mau sukses, jadilah CEO muda di sebuah startup yang sedang meleit. Kalau mau sukses, jadilah Steve Jobs, Bill Gates, Jackma, atau Jeff Bezos berikutnya. Kalau mau sukses, jadilah orang kaya keliling dunia dan buktikan kehidupan suksesmu itu di Instagram dengan dalih supaya orang lain termotivasi. Sedihnya kamu begitu jauh dari standar ini. Standar yang diciptakan oleh
5:23 society dan media yang sayangnya kamu terjebak di dalamnya. Di paragraf ini, berhentilah sejenak, tarik napas dalam-dalam, lepaskan pelan-pelan, lalu keluarlah dari ruanganmu. Bawa buku ini bersamamu. I want you to be somewhere. Berdiri di bibir pantai membiarkan ombak menyelimuti jemari kakimu. Duduk di sebuah perahu di tengah danau sendiri saja. Melangkah di antara pematang sawah sambil menghirup udara segar pedesaan. atau sesederhana berbaring di atap rumahmu, tataplah langit biru dan arahkan awan itu. Lihat bagaimana awan-awan itu terbentuk seperti begitu acak, berantakan, tak
6:10 simetris, tak selalu berpolah. Namun perhatikanlah, ia tak butuh simetris dan teratur untuk terlihat indah. Ia tak butuh standar tertentu untuk tetap indah. Awan tetap menjadi awan dengan bentuknya yang berantakan dan tak simetris. Ia malah tampak seperti istana kapas indah dan menakjubkan tanpa butuh standar. Dan kita seharusnya tak butuh standar tertentu untuk sukses. Bodo amatlah pada standar-standar sukses yang dibuat oleh society dan media. Jauh sebelum kesuksesannya, Bill Gates mempelajari bahasa pemrograman saat teknologi belum semasif ini. Lalu dia mendirikan Microsoft di tahun 1975.
6:59 Kuulangi lagi, tahun 1975. Teknologi belum semasif ini. Apakah itu tampak seperti pekerjaan yang menjanjikan? Faktanya lagi, komputer belum menjadi hal yang lumrah. Apakah dia mengikuti standar kesuksesan yang diciptakan masyarakat dan media pada masa itu? Jeep Bezos memulai Amazon saat internet belum meraja lela seperti hari ini. Paranya lagi pada masa itu, jangankan internet, komputer masih belum umum. Apakah ini sesuatu yang menjanjikan? Apakah dia mengikuti standar kesuksesan yang diciptakan masyarakat dan media pada masa itu? Berbeda lagi dengan Jack Rolling, si
7:46 penulis seri Harry Potter. Dia tidak perlu mengikuti jejak Bill Gates atau Jackma. Lupakan menjadi pengusaha, lupakan teknologi. Sebab dia amat jauh dari itu. Dia hanya seorang penulis dengan iringan kegagalan di awal karirnya. bukan pengusaha, bukan CEO muda, hanya penulis, tetapi tetap sukses menjadi salah satu orang terkaya di United Kingdom. Masuk dalam daftar orang-orang berpengaruh di dunia. Sampai hari ini menjadi penulis tak pernah benar-benar menjanjikan apakah dia mengikuti standar kesuksesan yang diciptakan masyarakat dan media. Nama-nama yang kusebut di atas hanyalah contoh-contoh sederhana, bukan patokan kesuksesan. Sebab kesuksesan tak
8:32 berakhir di situ. Ada hidup yang terus berlanjut karena kita juga tahu nama-nama orang sukses yang tak bahagia dalam hidupnya. Lalu beberapa di antara mereka memutuskan mengakhiri hidupnya lewat obat-obatan terlarang, menyakiti diri mereka, dan hal-hal semacamnya. Jadi sebenarnya apa kesuksesan itu? Dan kita pun tahu nama-nama orang sukses di masa lalu yang telah dia ada. Steve Jobs, Stephen Hawking, Adolf Desler, dan berbagai nama lain. Memang kontribusi mereka masih mengalir sampai hari ini. Namun sebenarnya apa kesuksesan itu jika pada akhirnya kita semua mati? Bukankah
9:17 ini pertanda bahwa ada sesuatu yang lebih penting di dunia ini dari sekedar kesuksesan? Bukan, bukan berarti kita lantas melepas mimpi-mimpi. Kita duduk pasrah, tak lagi berharap. Bukan, bukan begitu. Bukan berarti kita melupakan cita-cita kita. Bukan berarti kita berhenti mencoba karena gagal lagi lalu merasa toh ujungnya mati. Namun pasti ada yang lebih dari semua ini. Maka tetaplah menggenggam buku ini yang akan menarikmu ke berbagai realitas kehidupan yang mudah-mudahan nanti saat kamu sukses atau gagal, kamu tak akan lagi terkecoh dengan kesuksesan yang melenakan atau kesedihan yang beruntun. Dan oh menjawab pertanyaanmu tadi. Iya ya, pasti ada yang lebih penting dari
10:03 kesuksesan. Tapi apa? Dua. Bu, aku gagal masuk universitas negeri. Mungkin hari ini kamu ditolak, tetapi nanti akan ada satu hari spesial yang membuatmu bergumam. Oh, ini toh hikmahnya. Lalu semuanya menjadi terang dan indah. Sabar, butuh waktu. Tidurmu sudah tidak nyenyak dari tadi malam. Sebab hari ini adalah pengumumannya. Kamu duduk di depan laptop dengan jantung berdebar kencang. Jemarimu yang dingin mengetuk papan ketik, mengetik deretan angka, mata menatap layar,
10:51 hatimu berharap. Mudah-mudahan diterima. Mudah-mudahan diterima. Enter. Menahan napas, berdoa dalam hati. Insyaallah pasti diterima. Allah tidak mungkin tidak mengabulkan doa hambanya. Halaman baru dimuat. Kromo memutih, layar berganti. Lalu hasil tertera di sana. Maaf, Anda tidak dinyatakan lulus. Napas panjang yang berat, bahu yang merosot, harapan yang meredup. Kecewa menyelimuti permukaan hatimu seperti mendung yang kelam. Kamu menghubungi beberapa temanmu, merasa kejanggalan di hati kala mengetahui beberapa teman yang
11:37 tak layak-layak amat. malah diterima di universitas negeri. Aneh, aku belajar hampir setiap hari dan aku menikmatinya. Aku berlatih berbagai macam soal berulang kali sampai memahaminya. Aku tak henti-hentinya berdoa. Namun, mengapa begini jadinya? Lalu kamu memandang pintu kamarmu dengan tatapan yang kosong. Bahkan membayangkan dirimu akan berkata, "Bu, aku gak diterima saja sudah membuat air mata mengalir di pipi. But tell you the truth, aku pernah mengalami hal yang sama mengikuti ujian masuk universitas negeri, menerima penolakan yang sama. Bahkan tak sampai di situ, aku mencoba
12:24 lagi di tahun berikutnya dan harus rela menerima hasil itu lagi." Ditolak. Pada akhirnya aku terpaksa melanjutkan studi di universitas swasta berakreditasi B. Aku tak menginginkan ini sebab aku pernah mendengar rumur-umur seperti susah loh dapat kerja kalau dari universitas swasta. Aku juga mind setiap kali ditanya kuliah di mana? Karena aku tak punya jawaban keren seperti aku kuliah di UGM. Namun aku menolak menyerah. Aku terus lanjut dan berusaha menerima kenyataan. Terus terusan kukatakan kepada diriku, Allah pasti ganti yang lebih baik. Allah maha mengetahui, sedangkan aku tidak.
13:11 Aku berusaha meningkatkan kualitasku seperti menghabiskan waktuku di perpustakaan sendirian. Berusaha memahami pelajaran yang tak kupahami di kelas. Meminjam buku-buku tebal, membacanya di perjalanan pulang. mengerjakan tugas-tugas hingga tengah malam. Menikmati setiap proses bersama teman-teman seperjuangan, pertahan hingga semester akhir, mengakhirinya dengan skripsi dan sidang yang sukses di hadapan dosen penguji. Berharap semua ini berbalas dengan sesuatu yang lebih baik. Dan hari ini aku sudah lulus, hanya lulusan universitas swasta. Namun kini aku bisa melihat segalanya lebih jelas. Aku memang cuma lulusan universitas swasta. Tetapi aku tidak pernah lupa
13:56 ketika dosenku berkata, "Kamu punya kualitas ITB yang kemudian menyadarkanku bahwa kita tidak selalu didefinisikan dari tempat kita belajar. Aku memang cuma lulusan universitas swasta, tetapi aku bisa mendapat pekerjaan di luar negeri saat perusahaan-perusahaan dalam negeri menolakku. Aku memang cuma lulusan universitas swasta, tetapi cita-citaku menerbitkan buku terjadi bahkan sebelum aku lulus kuliah. Aku memang cuma lulusan universitas swasta, tetapi aku bisa mengunjungi negara favoritku yang jaraknya 9.000 km dari Indonesia tanpa menggunakan uang dari orang tuaku. Dan itu terjadi berulang kali. Aku memang cuma lulusan universitas
14:43 swasta, tetapi aku yakin suatu hari nanti buku ini akan menjadi legenda. Menempati ranking pertama di berbagai toko buku. Dan sebelum membeli buku ini, orang-orang tidak akan pernah bertanya, "Alvi Syahrin lulusan mana?" "Aku memang cuma lulusan Universitas Swasta, tetapi aku mensyukurinya dan bahagia. Aku memang cuma lulusan universitas dan aku rasa itu poinnya. Maksudku jika aku diterima di universitas negeri hari ini tidak akan pernah ada. Aku tidak akan pernah bisa menuliskan ini semua. Aku tidak akan pernah bisa menginspirasimu, tidak akan bisa menularkan semangat ini kepadamu, dan kamu tidak akan pernah membaca ini.
15:28 Sungguh, beberapa tahun lalu saat aku tahu namaku tak ada di daftar kelulusan Universitas Negeri, aku tak pernah menyangka hari ini, hari ketika pikiranmu mulai terbuka oleh tulisan ini akan datang, betapa Allah telah mempersiapkan cerita indah di balik kegagalan ini. Dan tentu semua ini bisa terjadi atas kehendak Allah semata. Mungkin kamu gagal diterima di universitas yang kamu dambakan. Tetapi akan ada satu hari spesial yang telah disiapkan untukmu yang membuatmu berpikir, "Oh, iya ya, ini toh baiknya. Ini toh alasannya sebagaimana aku pada hari ini yang membuatmu berpikir, oh iya ya, aku bisa menggunakan kegagalan ini untuk menginspirasimu semua."
16:15 Mulai dari halaman ini, berhentilah berpikir bahwa universitas tertentu akan menjamin kesuksesanmu. Namun, jika kamu adalah murid SMA yang mendambakkan universitas negeri, go for it. Janganlah setelah membaca ini kamu merasa, "Oh, aku enggak perlu terlalu getol berusaha. Yang penting kualitasku aja." Tidak. Kamu harus berusaha keras, lebih banyak berdoa, dan tetap yakin bahwa apa yang Allah beri selalu yang terbaik. Perjuangkan universitas negeri dengan jalur yang baik, tapi bukan untuk gengsi. Beberapa universitas negeri menawarkan fasilitasfasilitas yang lebih baik dan harga yang lebih masuk akal. Jika kamu adalah mahasiswa universitas, berusahalah dua kali lebih keras dari
17:01 mahasiswa Universitas Negeri. Kunjungi perpustakaan lebih lama. Berbincanglah dengan para dosen. Bacalah buku dan jurnal lebih sering. Temukan kualitas yang layak dalam dirimu. Jika kamu adalah mahasiswa Universitas Negeri, tanyakanlah kepada dirimu. Tanpa almamaterku, do I matter? Tanpa almamaterku, apakah aku berkualitas? Ingat, para mahasiswa universitas swasta setelah membaca tulisan ini akan berjuang lebih keras darimu. Kamu tak boleh kalah. Semuanya harus berjuang dan tak usah takut bagaimana selanjutnya. Kamu hanya perlu menjalaninya, berdoa dan berusaha. Dan Allah yang menjamin
17:48 segalanya. Case closed. Tiga, terjebak gapier. Buka hati, beri opsi baru, evaluasi lagi mimpimu. Apakah itu benar-benar yang kamu inginkan atau ada gengsi yang menyelinap diam-diam? Ada yang salah dari Gapier? Bukan. Bukan Gapier yang salah. Ada seseorang yang salah dalam masa penantian ini. Aku tak perlu sebut nama. Seseorang ini begitu dekat dengan kita. Dia mengambil gapier karena ditolak di sebuah universitas negeri idamannya. Dia tak mau memberi kesempatan pada universitas lain. Tidak sama sekali.
18:35 Hanya universitas negeri itu, hanya jurusan itu. Sudah cukup. Bukankah tak ada yang salah dari bermimpi? Selama gapier ini dia menghabiskan waktu belajar lebih giat. Untuk satu jurusan itu hanya jurusan itu. Di satu universitas negeri tak ada pilihan lain. Lebih tepatnya ia tak mau ada pilihan lain. Dan itu boleh-boleh saja. Malah bagus bila dia memanfaatkan waktunya untuk belajar lebih giat. However, feeling your gap here should be more than that. Ini bukan cuma soal belajar lebih giat, tetapi ini juga momen untuk merefleksikan kembali pilihanmu dan menemukan sesuatu baru dalam hidupmu. Maksudku, kita semua pernah mendengar
19:22 cerita bagaimana Nokia bersikuku dengan produknya yang itu-itu saja, lalu tenggelam dalam kekalahan. Mereka lupa merefleksikan kembali keputusan-keputusan mereka sampai lupa untuk berinovasi dengan tepat. Hingga pada beberapa masa kemudian nama mereka sisa kenangan. Hal yang sama terjadi oleh Blackberry, tergantikan oleh iPhone dan ponsel-ponsel Android yang senantiasa berinovasi. Jadi ini saatnya untuk berpikir lebih dalam, mempertanyakan kembali pilihan-pilihanmu. Coba jujurlah, apakah ini jurusan yang benar-benar kamu inginkan? Adakah rasa gengsi di balik motivasimu memilih universitas dan jurusan ini? Apa yang sebenarnya melatar
20:07 belakangimu memilih ini? Apakah kamu membalut rasa gengsi di balik kata-kata indah seperti ini mimpiku? Aku ingin menolong orang-orang. Apakah itu benar-benar tulus atau ada gengsi yang menyelinap diam-diam? Sudahkah kamu melihat daftar mata kuliah yang akan kamu hadapi? Apakah itu membuatmu tetar? Mengapa kamu tidak memberikan opsi kedua, sebuah cadangan untuk masa depanmu sendiri? Mengapa begitu alergi pada universitas swasta? Toh tidak semua universitas swasta buruk? And youve read my own story. Jika biaya adalah kendala yang kamu khawatirkan, apakah kamu berasumsi semata mengenai keadaan finansial keluargamu? Sudahkah kamu bicarakan
20:53 masalah ini dengan keluargamu? Sudahkah kamu yakin ini pilihan yang terbaik? Dan yang terpenting dari semua itu, sudahkah kamu berdoa kepada Tuhan pencipta alam semesta yang menciptakan kita semua yang maha mengetahui lagi maha bijaksana? Sudahkah kamu berdoa supaya diberi pilihan terbaik? Ataukah ini pilihan terbaik menurutmu semata? Coba ulang kembali pertanyaan-pertanyaan tersebut dan jujurlah kepada dirimu sendiri. Evaluasi mimpimu dan realistislah. Sebab seringkiali kita begitu sok tahu tentang apa yang terbaik dalam hidup kita. Padahal kita hanya mengikuti ego hati semata. Maksudku, lihatlah kehidupanmu di masa lalu. Sudah berapa
21:38 banyak keputusan yang kamu pikir itu akan jadi pilihan terbaik, tetapi malah menjadi bumerang yang menyakitimu dan membuatmu menyesal. Sudah berapa kali? 27 tahun menjalani hidup mengajarkanku bahwa kita tak bisa menghendaki hidup sesuai kehendak kita. 27 tahun menjalani hidup mengajarkanku bahwa kita tak benar-benar tahu mana yang terbaik untuk hidup kita. 27 tahun menjalani hidup mengajarkanku bahwa menerima takdir adalah hal yang paling melegakan. Berusaha memaknai bahwa Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana. Mengapa harus khawatir? Tidaklah Allah memberi suatu ujian melainkan dengan hikmah. Mengapa terus meragu seakan satu
22:25 kegagalan berarti kiamat? 27 tahun menjalani hidup mengajarkanku bahwa semua hikmah dari kegagalan-kegagalan yang pernah kulalui tidaklah kudapati hikmahnya saat itu juga. Butuh bertahun-tahun sampai kemudian di masa depan akan menoleh ke masa lalu, melihat kilas balik hidupku dan bergumam, "Oh, ternyata ini hikmahnya ya. Dan sungguh itu lebih melegakkan hati karena sebenarnya punya kuasa apa sih kita di muka bumi ini? Namun ini bukan berarti kita hanya duduk diam, tak melakukan pergerakan, dan menata pasrah pada kegagalan. Tidak begitu. Itulah mengapa aku memintamu untuk mengevaluasi mimpimu lagi. Memberikan opsi-opsi baru, membuka hati.
23:12 Memang tak akan mudah. Ini bukan proses yang mudah. Ini bukan masa yang indah. Namun aku ingin kamu tahu setelah kamu lalui semua ini, ada satu happy ending tersisa untukmu. Kamu akan menemukan dirimu yang baru. The new version of you, a better version of you. Empat. Tapi aku enggak tahu mau jadi apa. Bill Gates tidak terakhir ke dunia ini, lalu menyadari aku akan membuat Microsoft. Steve Jobs tidak bangun dari tidurnya lalu berkata, "Aku akan membuat Apple." Lihat mereka juga bermula dari tapi aku enggak tahu mau jadi apa. Namun
23:58 mereka melakukan sesuatu dan menekutinya. "Lalu kamu mau jadi apa?" Pertanyaan itu selalu membuatmu menghela napas panjang. Sayangnya napasmu tertahan di kerongkongan bersama jawabannya. Lucu ya. Padahal dulu saat masih anak-anak, kita begitu bersemangat menjawab ini. Buru-buru mengangkat tangan dalam kelas, saling berbut jawab, meneriakkan berbagai macam profesi kepada Bu Guru. Aku pengin jadi dokter. Aku mau jadi astronot dan terbang ke Mars. Aku bakal jadi pilot. Lalu saat remaja kita akan duduk di pinggiran danau dekat sekolah bersama kawan-kawan terbaik sampai senjama merah
24:44 berbicara tentang mimpi dan masa depan sambil menatap langit. Kalau udah sukses jangan lupain gue loh. Nanti kalau udah pada sukses kita ketemu lagi ya. Janji jangan saling melupakan kalau udah sukses. Sekarang kita sudah dewasa dan mimpi-mimpi yang kita ceritakan dulu tak semudah itu menggapainya. Ternyata kita tak pernah benar-benar ingin jadi dokter. Ternyata menjadi astronaut hanya keinginan yang mudar seiring waktu. Ternyata kita tak punya modal dan mental untuk menjadi seorang pengusaha. Ternyata teman-teman yang kita harapkan berjuang bersama kita telah menemukan mimpi dan teman baru.
25:31 Kita hanyalah sekumpulan tulang belulang yang terjebak dalam cerita yang tak kita inginkan. Sekolah yang menjemukan seakan setiap mata pelajaran tak pernah ada arti mendalam bagi kehidupan di masa depan. Jurusan kuliah yang tak sesuai keinginan hati. pengangguran yang tak tahu mau jadi apa. Lalu saat sudah menemukan pekerjaan, kita terjebak dalam rutinitas kerja yang teramat melelahkan, baik melelahkan secara fisik dan mental. Kita ingin terlepas dari ini semua. Kita ingin bebas. Kita ingin berada dalam cerita yang kita inginkan. Kita ingin tenggelam dalam mimpi-mimpi yang kita rajut dulu. Namun saat kita melangkah ke depan
26:18 menatap kedua mata kita ke depan cermin lalu bertanya, "Lalu kamu mau jadi apa? Kita hanya bisa menghela napas panjang. Lalu napas itu akan tertahan di kerongkongan bersama jawaban-jawaban kita, bersama mimpi-mimpi masa lalu, bersama segalanya, kecuali satu, yaitu kegelisahan. Karena kita tak tahu mau jadi apa, kita tak mengenal passion dan mimpi. Masa depan begitu buram dan waktu terus berjalan. Namun, tenang sejenak, tarik napasmu, hembuskan perlahan. Perhatikanlah sekitarmu. Bukankah semua orang bermula dari tak tahu mau jadi
27:04 apa? Bill Gates tidak lahir di dunia ini. Lalu tiba-tiba menyadari, "Nanti kalau sudah dewasa, aku akan mendirikan perusahaan bernama Microsoft." Seperti orang-orang lain, dia memulai kisahnya tanpa tahu apa-apa. Di tahun 1968, saat usianya masih 13 tahun, di sekolahnya ada sebuah terminal komputer baru yang lambat dan besar, bahkan tanpa layar. Di tahun yang sama dia mencoba belajar bahasa pemrograman tingkat tinggi basic tanpa peduli dia akan jadi apa. Dia mencoba menulis barisan kode untuk program pertamanya yaitu sebuah permainan silang bulat silang tanpa tahu
27:51 dia akan jadi apa. Namun sejak saat itu dia tak bisa berhenti menjadikan hobi ini seperti petualangan, menghabiskan berjam-jam di depan komputer, menyelinap malam-malam di University of Washington demi menggunakan komputer. Dia tak sekadar bermimpi. Mungkin dia bahkan lupa bermimpi. Yang dia lakukan hanyalah melakukan apa yang dia lakukan. benar-benar menekuninya dan jadilah dia seperti hari ini salah satu penemu Microsoft. Steve Jobs tidak bangun dari tidurnya lalu berkata, "Aku akan jadi penemu EPO." Seperti orang-orang lain, dia memulai kisahnya tanpa tahu apa-apa. Buruknya
28:38 lagi, dia tersesat dalam jurusan kuliah yang dia bahkan tak tahu apakah ada arti untuknya. Tak tahu mau jadi apa, tak tahu apakah kuliah ini bisa membantunya. Merasa tak enak hati menghabiskan uang orang tuanya untuk kuliah ini. Jadi, dia memutuskan keluar tanpa tahu akan jadi apa. Namun, bukan berarti dia berhenti belajar. Dia tetap belajar mempelajari hal-hal yang bisa dia pelajari, mengambil kelas-kelas yang bisa diambilnya. Suatu ketika dia mengambil kelas kaligrafi di Red College. Alasannya karena setiap kali dia melihat posterposter di kampus tersebut, dia terbukau pada keindahan kaligrafinya.
29:23 Jadi di sanalah dia di dalam kelas kaligrafi belajar tentang jenis huruf serif dan sans serif. Menentukan celah yang tepat untuk setiap huruf dan hal-hal teknikal seputar tipografi. Dia menekutinya tanpa tahu akan jadi apa. Memang ini seperti tak ada hubungannya dengan Apple. Namun 10 tahun kemudian saat Steve Jobs dan rekannya hendak mendesain Mintos pertama, seluruh pelajaran yang dia dapatkan 10 tahun lalu di kelas kaligrafi ini menginspirasinya untuk membuat komputer dengan tipografi paling indah. Dan jadilah Makintosh sebagai komputer pertama dengan tipografi paling indah. Bahkan jajak-jejak itu masih bisa kita
30:09 rasakan pada awal peluncuran iPhone. Dia tak tahu mau jadi apa, tetapi dia mencoba ini itu, mempelajari ini itu. Mungkin dia bahkan lupa bermimpi. Yang dia lakukan hanyalah melakukan apa yang dia lakukan. Benar-benar menengkuninya dan jadilah dia seperti hari ini Steve Jobs yang kita kenal. Jeff Bezos tidak beranjak dewasa lalu tiba-tiba memutuskan aku akan membangun Amazon kelak. Namun dia tahu dia ingin melakukan sesuatu yang lebih dalam hidupnya. Namun seperti kita semua, dia sama sekali tak punya ide. Maka yang bisa dia lakukan adalah memanfaatkan apa yang dia miliki hari itu. Belajar sungguh-sungguh di
30:56 sekolahnya, mengambil kelas-kelas tambahan yang melelahkan, melanjutkan kuliah sebaik-baiknya, bekerja di tempat yang baik untuk mengumpulkan ilmu dan uang. Lalu di usia 30 dia memutuskan keluar dari pekerjaannya mengejar mimpinya untuk membangun sebuah platform belanja online. Namun saat itu masih tahun 1994 dan internet bukan sesuatu yang lumrah apalagi belanja online. Dia bahkan tahu peluang usaha ini gagal begitu besar yaitu sekitar 70%. Namun dia terus menekuni apa yang bisa dia lakukan. Dia mempelajari berbagai hal. Mungkin dia sampai lupa bermimpi. Yang dia lakukan hanyalah melakukan apa
31:43 yang dia ingin lakukan sebaik-baiknya. Dan jadilah dia seperti hari ini, Jeff Bezos yang kini menjadi orang terkaya di dunia. Setidaknya sampai hari ini ketika buku ini dituliskan, kita ambil tokoh wanita sekarang. seseorang yang iconic, mericondo. Sejak kecil dia begitu tertarik pada beres-beres. Ya, beres-beres sesuatu yang amat remeh. Namun dia menikmati membaca majalah-majalah tentang interior rumah dan beres-beres. Di usia 15 tahun, dia membereskan kamarnya sampai pingsan. Namun dari situ dia belajar tentang cara beres-beres yang benar. Bertahun-tahun kemudian dia tak pernah
32:28 menyangka bahwa hal beres-beres ini bisa begitu mendunia. Dia menjadi konsultan beres-beres di Jepang. Dia menulis buku tentang beres-beres dan terjual jutaan eksemplar di seluruh dunia. Dia bahkan memiliki reality show di Netflix, mengunjungi rumah orang-orang, dan membantu mereka cara beres-beres yang benar. Dia bahkan diundang ke berbagai acara bergengsi dan kanal-kanal YouTube populer. Dia tak sekadar bermimpi, mungkin dia bahkan lupa bermimpi. Yang dia lakukan hanyalah melakukan apa yang dia ingin lakukan. Benar-benar menekuninya dan jadilah dia seperti hari ini. Merondo yang kita kenali. Dan aku aku tidak terbangun dari tidurku. Lalu tiba-tiba terilami. Aku
33:16 akan menulis buku berjudul Jika kita tak pernah jadi apa-apa. Tidak, tidak semudah itu. Aku juga pernah bingung harus menjadi apa. Aku harus mengalami gagal ini itu dalam hidupku. Tetapi aku tak mau menyerah. Aku terus mencoba ini itu dalam hidupku. Lalu saat mencoba ini itu, kutemukan bahwa aku suka menulis. Lalu kurajut kedua hal itu, yaitu menulis. dan kegagalan. Jadi, ceritakan kegagalan-kegagalanku dalam buku ini dan memperlihatkan kepadamu. Kita semua bermula dari tak tahu apa-apa. Namun, kita tidak menyerah. Kita mencobain itu terus menekuninya sampai lupa bermimpi. Lalu
34:05 tahu-tahu jadi seperti ini. Dan kamu, kamu pun bermula dari tak tahu apa-apa. Namun cobalah segalanya. Pergilah ke dapur, buka kulkas, dan ambil semua rempah-rempah dan lauk di sana. Masaklah sesuatu untuk orang-orang yang kamu sayangi. Mungkin kamu akan menyukai memasak, mungkin juga tidak. Namun proses ini akan bermakna tanpa kamu tahu akan jadi apa nanti. Atau masuklah ke dalam kamarmu dan beres-bereslah. Bereksperimenlah dengan beres-beresmu itu. Beri tantangan seperti beres-beres kurang dari 5 menit atau tantangan-tantangan konyol. Mungkin ini akan jadi sesuatu, mungkin juga
34:52 tidak. Namun proses ini akan bermakna tanpa kamu tahu akan jadi apa nanti. Atau tulislah keluh kesahmu. Tuliskan keluh kesahmu. Ungkapkan seluruh rasamu. Tumpahkan semuanya. Saat hatimu sudah mulai lega, tuliskan juga jawaban-jawaban atas keluh kesahmu itu. Seperti seorang sahabat yang beri nasihat untuk sahabatnya. Semacam tulisan yang menguatkan. Mungkin ini akan jadi sesuatu, mungkin juga tidak. Namun proses ini akan bermakna tanpa kamu tahu akan jadi apa nanti. Atau lakukan apa saja sesuatu yang baik dan bermanfaat. Lalu pelajari ilmunya.
35:37 Teguhnya itu memang tak semua akan jadi sesuatu yang besar. Namun proses-proses yang kamu lalui hari ini, it all matters. It all matters. Lima, jurusan kuliah yang membuatmu sukses dan kaya. Dan ternyata kesuksesan di dunia ini adalah bisa merasa cukup sederhana tetapi tak benar-benar sederhana. Hari ini aku berjalan dan ketika aku menoleh ke belakang, aku melihat masa lalu tentang aku yang tak punya pilihan lain selain jurusan kedokteran. Karena dulu kupikir kedokteran adalah
36:24 satu-satunya jurusan yang bisa menjamin masa depanku dengan bergengsi. kuliah, lulus, kerja di rumah sakit, lanjutkan pendidikan kedokteran spesialis, kembali ke rumah sakit lagi hingga buka praktik di dekat rumah selamanya terjamin. Dan begitulah yang orang-orang dongengkan tentang jurusan kedokteran bahwa segalanya akan terjamin suatu saat nanti. Namun, aku tahu batas kemampuanku. Aku bukan murid nomor satu di kelas. Biologi bukan pelajaran favoritku. Aku bahkan tak memiliki ketertarikan mempelajarinya lebih dalam. Biayanya terlalu besar untuk finansial keluargaku. Aku akan menyiksa diriku sendiri jika
37:10 memilih jurusan kedokteran. Jadi, aku mencari pilihan lain. Jika aku harus jujur kepada diriku sendiri, aku ingin memilih jurusan yang berhubungan dengan pendidikan, pendidikan matematika atau semacamnya. Sebab aku senang mengajar. Aku suka matematika. Namun orang-orang di sekitarketuinya. Gaji guru kecil, kata mereka. Nanti dia sudah naik mobil, kamu masih naik sepeda. Aku yang polos dan terombang-ambing hari itu menyetujuinya. Jadi aku mendengar tawaran mereka yang katanya menjamin. Teknik pertambangan. Kalau kerja gajinya gede, kata orang-orang. Namun membayangkan bekerja di tengah
37:57 laut menyiksaku. Aku takut berlayar dan terbang dan apapun yang berhubungan dengan laut bawah tanah dan sisi misterius dari alam. Dan aku bukan menyerah pada sesuatu yang belum ku coba. Aku tahu batas kemampuanku. And I don't wanna hurt myself for money. Kemudian hukum nanti lanjut jadi notaris. Enak deh hidup kamu," kata orang-orang. Namun sungguh pendidikan kewarganegaraan adalah pelajaran yang aku paling buruk di kelas. Selain itu, apapun yang berhubungan dan politik tak pernah menarik hatiku. And I don't wanna to lie to myself. Kemudian ilmu komputer, teknik informatika atau sistem informasi zaman
38:46 sekarang lagi dibutuhkan banget kata orang-orang. Membayangkan bekerja di depan komputer tampak nyaman bagiku. Jadi, aku mengambil satu dari jurusan ini. Di tahun-tahun pertama aku merasa jurusan ini di luar ekspektasiku. Aku merasa salah jurusan. Aku merasa lebih cocok bila aku berada di jurusan sastra. Memang aku tergugah dan mendapat nilai sempurna di kelas kalkulus aljabar dan mata kuliah yang berhubungan dan perhitungan. Tetapi sesungguhnya hatiku tak pernah tertarik pada mata kuliah inti. Namun aku sudah basah. Aku tak boleh mundur. Maka aku belajar menyukai apa yang tidak kusukai. Aku berusaha
39:31 memahami apa yang tak kupahami. Things went by. Aku menjalani skripsi dengan hasil memuaskan yang membuat dosenku berkata, "Lanjut S2 aja kamu." Dan itu semua terbayar. Aku lulus kurang dari 4 tahun IPKU Kum Laut. Jika kesuksesan adalah mendapat deretan nilai sempurna, dukungan dosen untuk melanjutkan kuliah IPK Kum Laut, aku sudah sukses. Sayangnya kesuksesan tidak sedang kali itu. Perjuangan yang sesungguhnya baru terjadi setelah kita lulus. Dan satu-satunya yang kuketahui setelah lulus adalah aku tak ingin memiliki pekerjaan yang sesuai dengan jurusanku.
40:17 Ini adalah strategi terbodoh. Aku tahu jurusan ini dibutuhkan di banyak bidang di Indonesia. Namun nanti ketika aku lulus, kamu akan tahu betapa berbedanya dunia pekerjaan dengan apa yang kamu pelajari di bangku kuliah. Keahlian dan minatku saat itu terletak pada pemahaman algoritma, sistem analisis, dan hal-hal yang cenderung akademik. Namun di Indonesia pasar untuk jurusan ini sangat berbeda dengan apa yang kuminati. Kantor-kantor di Indonesia membutuhkan sesuatu yang sebenarnya umum seperti pengembang web atau perangkat lunak yang sayangnya bukan keahlianku, bukan sesuatu yang kuminati. Aku tak ingin datang ke sebuah perusahaan berbohong kepada diriku
41:04 sendiri dan pada perusahaan bahwa aku akan menyukai ini. Dulu orang-orang pernah bilang jurusan ini penting, dibutuhkan banget sama banyak orang. Namun mereka tak pernah mengingatkanku bahwa meski ini dibutuhkan oleh banyak orang itu tak menjamin apa-apa. Contohnya, lihat aku. Minat dan keahlianku berbeda dengan yang dibutuhkan oleh banyak orang. Untuk mendalami keahlianku dan bisa tereksekusi dengan baik, aku butuh melanjutkan kuliahku di jenjang S2, which I really want to, tetapi finansial dan waktu jadi kendala utama. Sementara itu melihat lowongan pekerjaan hanya menyakiti hatiku karena tak pernah sesuai dengan keahlianku. Lalu suatu
41:51 hari aku mencoba berkontemplasi membayangkan bila aku tidak pernah memilih jurusan ini. Katakanlah aku memilih jurusan kedokteran. Aku yang polos dan terombang-ambing pasti akan berkata, "Enak ya mereka yang kuliah kedokteran. Meskipun kuliahnya lama dan susah, tapi tetap dibutuhkan sama masyarakat. kehidupannya jelas. Namun kini aku lebih dewasa dan bisa melihat lebih jelas bahwa ada yang menjamin di dunia ini. Aku tahu beberapa dokter yang harus rela dibayar sekitar 1 juta di awal karirnya. Padahal dia telah belajar bertahun-tahun mengikuti koas yang teramat melelahkan dan dia rela mengabdi kepada masyarakat dan menerima
42:37 gaji yang bagi orang lain kecil. Aku tahu para dokter yang harus rela berpisah jauh dari keluarganya dalam waktu yang lama atau bahkan tidak ditentukan untuk pergi ke pedalaman mengabdi di sana. Katakanlah aku memilih jurusan teknik pertambangan. Aku yang putus asa pasti akan berkata, "Yah, namanya hidup enggak ada yang enak. Harusnya aku melawan rasa takutku dan memilih jurusan ini. Toh, rasa sulitnya terbayar dengan tabungan yang berlimpah. Namun kini aku lebih dewasa dan bisa melihat lebih jelas bahwa tak ada yang menjamin di dunia ini. Bahkan saat ini kita bisa melihat bahwa harga minyak
43:22 telah mengalami penurunan. Sumber daya alam ini akan habis pada suatu masa. Negara Arab Saudi sebagai salah satu negara dengan minyak yang berlimpah telah merencanakan Saudi Vision 2030 dengan harapan menemukan sumber pemasukan utama lain selain minyak yang akan habis. Katakanlah aku memilih jurusan yang sesuai dengan minatku yaitu sastra. Aku yang polos dan terombang-ambing pasti akan berkata, "Enak ya bisa kuliah di jurusan yang cocok sama minat. Namun kini aku lebih dewasa dan bisa melihat lebih jelas bahwa tak ada yang menjamin di dunia ini. Selama 7 tahun
44:07 aku telah berada di dunia kepenusan ini. Aku menyukainya. Tetapi aku harus jujur bahwa ini bukan jalan yang mudah. Selalu ada kejenuhan yang tak terelakan. Selalu ada momen yang membuatku ingin menyerah. Mencari sesuatu yang lebih baru, yang lebih menyenangkan dari menulis. selalu ada orang-orang yang mengintimidasimu. Enggak bisa lu selamanya hidup dari sastra. Dan sampai di sini aku tiba di satu poin, yaitu memang tidak ada yang menjamin di dunia ini. Mau kamu berada di jurusan kedokteran, teknik atau apapun itu, sungguh itu tak menjamin kesuksesan dalam hidupmu. Maksudku, lihat saja suatu saat nanti buku ini
44:54 akan menjadi legenda. tersebar di toko buku, menempati posisi pertama di mana-mana, lalu menetap di rak bukumu. Suatu saat nanti aku akan berkeliling dunia, berdiri di sebuah podium dan bercerita tentang apa yang kuceritakan kepadamu di sini hari ini yang membuatmu berpikir, "Oh, iya ya." Lalu hatimu menghangat dan jarimu mengetik ucapan terima kasih dan sebuah pesan panjang yang manis. Dan lihat kesuksesanku di masa depan nanti sama sekali tak ada hubungan dengan jurusan yang kupilih. Namun nanti akan ada orang yang sukses sesuai dengan jurusan yang dipilihnya. Semua sudah ada bagiannya terjamin oleh
45:42 Allah Tuhan yang maha kuasa atau segala sesuatu. Kita saja yang belum tahu apa yang terjadi di halaman berikut dari buku kehidupan kita. Tetapi Allah sudah tahu yang terbaik untuk kita dan dia maha mengetahui sedangkan kita tidak. Namun jika suatu saat nanti kamu tidak pernah melihatku berkeliling dunia dan buku ini tak pernah melegenda, berarti ini bukan jalan kesuksesanku. But there must be another way. Kalau tidak di sini, bukan di dunia ini, aku tak masalah. Kesuksesan permanen tak ada di dunia ini. Karena kalaupun aku mencapai puncak kesuksesan, aku akan mati. Turun dari puncak kesuksesan meninggalkan semua embel-embelnya.
46:29 Apakah itu yang dinamakan kesuksesan permanen? Bagiku kesuksesan di dunia ini adalah bisa merasa cukup. Sekarang kembali ke kamu. Jika kamu benar-benar ingin jurusan yang membuatmu sukses dan kaya, maka pilihlah satu jurusan yang paling menarik hatimu secara keilmuan. Setelah kamu menentukan pilihanmu, sungguh-sungguhlah dalam belajar. Jika kamu tak memahaminya, jangan menyerah. Jika kamu tak menyukainya, belajarlah untuk menyukainya. Karena sungguh meski aku menghabiskan 4 tahun belajar sesuatu yang pada akhirnya tidak kutekuni untuk saat ini, aku tak menyesal sedikit pun. Aku bisa melanjutkan S2 hingga S3 jika
47:17 waktu yang tepat telah tiba. Dan pada akhirnya tak ada penyesalan bagi orang-orang yang belajar. Mereka belajar. So they find something. Maksudku jika aku menjadi mahasiswa yang senantiasa mengeluh karena salah jurusan, jika aku menjadi mahasiswa yang malas belajar karena ini tak sesuai minatku, jika aku tak sungguh-sungguh belajar di masa kuliahku, aku tak akan pernah menemukan pemikiran ini. Aku tak akan pernah bisa meneruskan ini untukmu semua. Aku tak akan menemukan kualitas ini. Maka aku mensyukuri segala hal yang telah terjadi semuanya. Masyaallah, ini terjadi atas kehendak Allah semata.
48:04 Enam, apa perlunya belajar di sekolah kalau ujung-ujungnya? Mungkin separuh wajah mimpimu bersembunyi di balik mata pelajaran di sekolah. Semua ini terasa sia-sia. Bangun begitu pagi hanya untuk menjebak diri dalam kemacetan. Mandi pagi dengan air yang dingin. Sarapan hanya seadanya. Cahaya pagi yang sudah terik. Kepadatan motor dan mobil deru dan getaran mesinnya. Kelakson saling menyahut. Asap-asap knalpot yang mengeluar seperti uap kopi panas. Sakit perut di pagi hari. Semua hanya untuk masuk ke dalam kelas. Duduk di bangku yang sama.
48:52 Bertemu teman-teman yang sama, bersama-sama mendengarkan teori-teori yang tak akan benar-benar terpakai di kehidupan nyata. Memahami rumus-rumus yang entah apa fungsinya bagi masa depanmu. Menghafal definisi ini itu yang akan terlupakan sehari kemudian. Lalu pulang dari sekolah bersama tumpukan tugas yang tak ada hentinya sampai tak ada waktu untuk mengembangkan diri, tak ada waktu untuk menekuni hobi, tak ada waktu untuk bereksperimen dengan hobi baru. Jadi untuk apa semua ini? Mengapa kita harus menghitung kecepatan bola yang jatuh? I'm looking at you, fisika. Mengapa kita harus melakukan kalkulus
49:37 pada perhitungan yang rumit beserta sistem aljabar yang tak ada habisnya? Yes, this is for you math. Dan teruntuk nyari semua mata pelajaran yang kuiskan bersama selama bertahun-tahun. What are you gonna do with my life? Lalu orang-orang dewasa menguatkan argumenku. Ini loh enggak terpakai di dunia kerja. Pendidikan di Indonesia enggak adil. Pendidikan kayak formalitas doang. Yang penting ijazahnya. Hari ini aku sudah lulus. Telah hidup bertahun-tahun setelah kehidupan sekolah dan kampus. Sekarang semuanya terlihat lebih jelas. Dulu saat masih sekolah aku bukan murid paling pintar di kelas.
50:24 Namun aku menikmati momen duduk bersama buku-buku pelajaran, menyingsingkan lengan untuk mengerjakan prediksi soal ujian, menantang caraku berpikir. Dulu aku pikir semua pelajaran ini tak akan berguna. But a little did I know, pelajaran bahasa Indonesia yang kupelajari sewaktu sekolah, penggunaan tanda baca, majas majas, dan berbagai teori terpakai hari ini. Setiap kali aku menulis buku. Dulu saat aku masih sekolah, aku tak tahu akan jadi penulis. Aku tak menyesali setiap waktu yang kakan untuk belajar bahasa Indonesia. Pelajaran matematika yaitu aljabar, logaritma, integral, dan kawannya memang
51:12 tak benar-benar terpakai dalam kehidupanku. Namun prosesku mencari setiap jalan dan cara menuju sebuah jawaban dari soal-soal matematika telah menguatkan caraku untuk menganalisis dan berpikir kritis. Analisis yang kuat dan pemikiran kritis sangat membantuku setiap mengkonsep sebuah ide. Entah itu berupa karya, usaha, apapun. Terlebih lagi matematika, fisika, kimia, biologi yang kita pelajari di sekolah adalah pelajaran mendasar bagi profesi-profesi penting di dunia ini. Foto black hole pertama tak akan pernah ditemukan tanpa melalui kalkulasi yang rumit yang tersusun dalam sebuah
51:58 algoritma. Kita tak pernah benar-benar tahu kandungan sebuah makanan atau minuman. sampai kita mengetahui unsur kimia di dalamnya. Begitu juga dengan pelajaran-pelajaran lain seperti ekonomi, sejarah, dan juga sosiologi. Kita tak pernah benar-benar tahu kita akan jadi apa di masa depan. Pelajar-pelajar di sekolah setidaknya merupakan dasar-dasar dari apa yang tak kita ketahui. Mungkin separuh wajah mimpimu tersembunyi di balik mata pelajaran di sekolah. Mungkin kurikulumnya butuh pemenahan di sana sini. Namun yang perlu kita benahi adalah diri kita dalam melihat semua ini. Take it as a challenge. Don't be a quitter.
52:45 Tujuh. Pengin cepat-cepat lulus saja. Kita terlalu sok tahu tentang hidup kita. Mengira satu kondisi akan menyelesaikan masalah hidup. Dan lihatlah tercapai satu kondisi rentetan masalah berdatangan. Sekarang kita ingin cepat mati tetapi tak pernah mempersiapkan apa-apa. Oh, betapa kita terlalu sok tahu tentang hidup kita. Mengapa hidup jadi sedangkal ini? Belajar semalaman penuh hanya karena terobsesi dengan nilai dan peringkat. Namun saat aku yang duduk berjam-jam berusaha memahami dan menghafal teori ini itu, aku tak pernah mendapat hasil terbaik di kelas. Remedials akan jadi
53:33 teman baikku. Tugas-tugas terkadang terlalu sulit buatku. Aku bahkan tak paham maksud dari soal-soal tersebut. Lalu aku juga tak suka ujung dari semua, yaitu ujian akhir. Proses belajarmu selama bertahun-tahun divalidasi oleh satu ujian yang hanya dilaksanakan beberapa hari. Tak mempresentasikan bertahun-tahun yang kamu habiskan di bangku sekolah. Gagal di hari itu, gagal pula tahun-tahun yang kamu perjuangkan untuk belajar. Sekolah ini jadi tak ada arahnya. Hanya nilai dan ranking yang jadi obsesi. Belajar mata pelajaran yang tak benar-benar diminati. Duh, capek sekolah kayak gini terus. Pengin cepat-cepat lulus. Segera selesai
54:20 kuliah biar bebas. Kalaupun banyak tugas, setidaknya bisa belajar yang difokusin untuk masa depan aja. Dan di sanalah kamu berada. Melangkah menuju gerbang kampus. Pepohonan rindang dan lapangan yang luas. Orang-orang baru berjalan bergelombolan dan tertawa. Yang lain duduk di gazebo bersama laptop-laptop mendiskusikan sesuatu dan kamu tahu kamu akan menikmati tahun-tahunmu di sini. Lulus 3 setengah tahun IPK Kumlaut ikut organisasi dan kepanitiaan. Semester 12 semua terasa baru. Tugas-tugas yang berbeda dari masa-masa sekolah yang membutuhkan kemandirian mendalam membuat kepala pening. Belum
55:08 lagi homesik yang datang tiba-tiba saat sedang berjalan sendirian. Tetapi masih ada teman-teman yang menyenangkan di sisimu sehingga semua terasa baik-baik saja meskipun sedang tak baik-baik saja. Semester 34 sudah terbiasa dengan tugas menumpuk. Sayangnya drama-drama mulai terjadi di sini. Teman-teman dekat mulai berjarak, beberapa bertahan, sebagian menghilang. Namun, melangkah ke kampus tak pernah seringan ini di semester ini. Semester 56, perang ketiga dimulai. Mata kuliah dan praktikum yang semakin berat. Tugas-tugas yang semakin gila-gilaan sampai malam di kampus sudah biasa. Teman-teman yang tak pernah selalu ada
55:56 mencari-cari tempat magang tapi tak kunjung ketemu. Setelah menemukan malah kesulitan mengatur waktu dan mengatur hati yang lelah bersama drama di kampus dan di tempat mag. Di saat-saat seperti ini kamu bergumam. Ya ampun, capek gini terus. Daripada kuliah mending kerja aja lah. Kerjain tugas dapat duit. Nah ini dapat lelahnya doang. Dan di sinilah kamu berada di Kubikel Perdanamu. Pesama laptop di hadapanmu disertai tugas-tugas baru. Senior-senior yang begitu welcome pada awalnya. Mereka melangkah dengan pakaian-pakaian stylish. Sangker kopi di genggaman, bergosip dan tertawa. Little did you
56:41 know they were talking about you. Lalu tugas kantor semakin menggila. Bos yang terlalu menuntut ini itu dirimu yang merasa tak bisa memberi lebih ke perusahaan. Deadline yang tak kunjung berakhir lemburnya Risi. Setiap minggunya gaji ini tak mampu membayar rasa letih mental dan pikiran. Hah, capek banget gini terus pengen nikah aja. Dan di sinilah kamu berada di bangku pelaminan. Seumur hidupmu, kamu tak pernah sebahagia ini, seterharu ini. Seperti mimpi yang menjadi nyata, seperti kisah-kisah romantis berakhir bahagia. Sayangnya hubungan-hubungan seperti ini
57:28 tak selalu berjalan mulus. Amarah yang anehnya begitu mudah tersulut pada masalah-masalah sepele. Merasa kesepian dan asing padahal telah bersama. Belum lagi drama-drama melelahkan lainnya. And there you said that. Pengin mati aja. Well, selamat datang di kehidupan. Sebuah dunia di mana rintangan tak akan pernah berakhir. Kita selalu sok tahu tentang kehidupan. Mengira satu kondisi adalah satu-satunya solusi atas masalah kita. Namun setelah solusi ditemukan, kita akan bertemu lagi dengan masalah baru. Begitu terus. Melelahkan memang. Namun mungkin ini supaya kita juga sadar.
58:15 There is so much more to life. Hidup ini bukan sebatas nilai dan peringkat yang mereka banggakan sewaktu sekolah. Hidup ini bukan sebatas almamater dan deretan prestasi yang mereka banggakan sewaktu kuliah. Hidup ini bukan sebagai saldo ATM yang mereka banggakan diam-diam sewaktu kerja. Hidup ini bukan sebatas bangun. tidur, makan, menikah, punya anak, menanti mati, hidup tak seremeh itu. Perasaan-perasaan lelah ada agar kita melihat apa yang tak kita lihat. Dan ini juga supaya kita pelajar bahwa selama ini kita terlalu sok tahu tentang hidup kita. Saat sekolah kita pikir kuliah
59:00 akan lebih melegakan. Saat kuliah kita pikir pekerjaan akan lebih baik. Saat kerja kita berpikir menikah adalah solusi atas seluruh kelalahan ini. Namun saat menikah ternyata ada kelelahan-kelelahan baru baik fisik dan juga mental. Setiap fase hidup membawa dramanya sendiri. Iya, ini melelahkan. Rasanya lebih baik tidak lanjut hidup. Tetapi bukankah kita sudah sok tahu selama ini? Lalu kita berpikir mati adalah jawaban yang paling sesuai untuk kita. Lihat bagaimana keputusan-keputusan kita yang salah di masa lalu. Sementara kita berpikir itulah keputusan terbaik. Mungkin jawabannya bukan berada di ingin
59:46 cepat-cepat lulus, ingin cepat-cepat nikah, ingin cepat-cepat itu, tetapi jawabannya adalah menerima apapun yang kamu hadapi saat ini. Maksudku kita bisa apa lagi sih? Namun aku bilang begini bukan berarti kita hanya duduk diam dan tak melakukan apa-apa. Kita harus bergerak melakukan apa yang ingin kita gapai. Mengejarnya sungguh-sungguh, berdoa tanpa henti. Namun kita juga harus bisa melepaskan kesokuan kita tentang hidup. Kita harus belajar biasa saja. Tidak terlalu bahagia, tidak terlalu sedih, biasa saja. Tetapi tetap kejar yang terbaik, lakukan yang
1:00:32 terbaik, syukuri segalanya. Sungguh Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana. Dan untuk melegakkan hatimu, aku ingin cerita sedikit. Pernah suatu hari aku ditimpa suatu masalah. Aku ingin tenang. Aku butuh mendengar sesuatu yang melegakan hati. Lalu saat aku mencari ayat-ayat Al-Qur'an, aku menemukan ini. Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa
1:01:17 musibah, mereka berkata, "Inna lillahi wa inna ilaihiun. Sesungguhnya kami milik Allah dan kepadanyaalah kami kembali. Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. Quran surat Albaqarah ayat 155 sampai 157. Mudah-mudahan ini juga melegakkan hatimu ya. Delapan. Apakah kuliah itu penting? Kuliah bukanlah tentang kerjaan yang akan kamu dapat, gaji yang akan kamu terima. It's so much more than that.
1:02:07 Sekarang cari kerja susah, lulus kuliah malah jadi pengangguran. Ngapain buang-buang duit kuliah? Kerja aja langsung dapat duit. Toh setelah lulus kuliah juga nyari duit. Banyak yang enggak kuliah tapi lebih sukses. Penemu Facebook dan Microsoft aja drop out. Belum lagi orang-orang sukses lain yang gue enggak tahu. Ngapain kuliah kalau ujung-ujungnya di dapur? Aku banyak mendengar suara-suara ini di dalam kepala para mahasiswa yang merisaukan masalah ini dari ucapan para keluarga besar untuk anaknya yang bermimpi menempuh pendidikan yang lebih tinggi di dalam kepala para lulusan SMA yang sudah lelah dengan belajar lagi belajar lagi. Aku tak akan memberi motivasi apapun di
1:02:53 sini. Aku hanya ingin mengungkapkan kenyataan. Memang benar sulit mencari pekerjaan sekarang. Meskipun kamu menyandang gelar ini, itu begitu mudah menemukan berita-berita yang menyatakan bahwa ada ratusan ribu lulusan sarjana yang masih menjadi pengangguran. Namun selama ini kita telah salah berpikir. Kuliah bukan untuk mencari dan menemukan pekerjaan. Jika ingin mencari pekerjaan, kita cukup kunjungi situs portal lowongan kerja. Namun jika kita mencari ilmu yang mungkin akan dibutuhkan di masa depan, lanjutkan kuliahmu. Kuliah itu bukan tentang pekerjaan yang akan kamu dapat, gaji yang akan kamu terima. Kuliah adalah tentang menimpa
1:03:39 ilmu. Well, kuliah bisa menopang karet di masa depanmu. Maksudku, jika kamu ingin menjadi dokter, kamu jelas butuh menempuh kuliah kedokteran. Jika kamu ingin menjadi konselor, jelas kamu butuh menempuh kuliah yang sesuai agar dapat mendapat kredibilitas yang terpercaya. Dan berbagai macam profesi lainnya yang butuh kredibilitas yang terpercaya. Kita tak pernah tahu akan jadi apa. Meski kita tahu kita ingin jadi apa, kita tak pernah benar-benar tahu. Jadi, kita butuh belajar, kita butuh ilmu. Seorang pebisnis tak akan sukses begitu saja tanpa punya ilmu yang mumpuni. Katakanlah pebisnis ini tidaklah
1:04:24 menempuh pendidikan di bangku kuliah. Namun, sepanjang hidupnya pastilah dia belajar. Melihat peluang ini itu, memprediksi berbagai perubailitas. mengaplikasikan teori-teori yang diketahuinya untuk memperkuat bisnisnya dan lain sebagainya sampai bisnisnya sukses. Apa sih yang membedakan pebisnis sukses dan pebisnis yang tidak sukses? Ilmu. Apa sih yang menjadikan Bill Gates, Mark Zuckerberg, Jeff Bezos lebih sukses daripada orang-orang sukses lain di era ini? ilmu karya mereka seperti Microsoft, Facebook, Amazon bisa menduduki peringkat tertinggi di planet ini karena mereka mampu melihat peluang ini itu. Mempelajari pola-pola yang
1:05:10 berhasil dan pola-pola yang tak berhasil, bereksperimen dengan teori-teori baru. Mereka punya ilmu untuk sampai berada di sini. Dan kuliah menyimpan sekilas ilmu-ilmu yang penting bagi kehidupanmu di masa depan. Kita bisa memperdalam sebuah ilmu yang bila kita sungguh-sungguh mempelajarinya, kita akan menguasainya lalu menjadi penting dan dicari karena ilmu yang kita kuasai itu. Kita akan belajar membandingkan teori ini. Itu kita akan belajar mengaplikasikan sebuah teori pada sebuah studi kasus. Kita akan belajar bagaimana berpikir sistematis. Kita akan dituntut untuk berpikir kreatif dan kritis.
1:05:55 Kita akan ditempatkan pada berbagai diskusi dan presentasi yang menguatkan cara kita berpikir. Kita diharuskan menelurkan sebuah hasil penelitian entah dalam bentuk tugas akhir, skripsi, tesis yang akan mengajarkan banyak hal tentang melihat pola. Kuliah adalah simulasi yang bermanfaat untuk kita. Memang banyak perbedaan antara realitas akademis dan kebutuhan industri. Mungkin kita belajar ini itu tetapi tak pernah benar-benar terpakai saat kerja nanti. Namun cara kita berpikir yang terasa lewat tugas-tugas di masa kuliah, presentasi dan diskusi, skripsi yang melelahkan, dan bagaimana kamu berusaha menopang diri dalam berbagai tekanan
1:06:42 selama kuliah. It all counts. It all matters. Terlebih dari itu, kuliah membuka peluang-peluang yang tak akan kamu dapatkan jika memutuskan tidak melanjutkan kuliah. Seperti bertemu dosen-dosen dengan segudang ilmu dan pengalaman yang bisa kamu jadikan berbagai sumber inspirasi atau mentor atau sesederhana berguru kepadanya pada ilmu-ilmu yang ingin kamu dalami. Memang ada kesan bahwa dosen itu susah ditemui begini begitu. Namun jika kamu tahu cara pendekatan yang benar dan jika kamu sungguh-sungguh, tak mungkinlah para dosen mengabaikan seorang mahasiswa yang berpotensi. Jika kenyataannya diabaikan, mungkin
1:07:30 belum menemukan dosen yang tepat atau cara pendekatan yang tepat. Kesempatan lain saat kuliah yaitu bisa menggunakan laboratorium untuk melakukan suatu simulasi atau jaringan sosial. Selain para dosen, ada para mahasiswa, teman-temanmu yang bertalenta, yang bisa jadi akan menjadi rekan kerjamu atau calon atasanmu atau mungkin calon bawahanmu. Dan di baris ini kamu mungkin sedang mengangguk dan bergumam. Iya, aku harus pertahankan ini. Kuliah memang penting. Jadi, aku ingin menambahkan bahwa kuliah itu penting, tetapi tak menjamin kesuksesan seseorang. Namun daripada tak melakukan apa-apa, mengapa tak memilih
1:08:17 belajar dengan cara yang telah diakui? Memang suara suara itu masih menggema kuat. Sekarang cari kerja susah, lulusan kuliah malah jadi pengangguran. Ngapain buang-buang duit kuliah? Kerja aja langsung dapat duit. Terus setelah lulus kuliah juga nyari duit. Banyak yang enggak kuliah tapi lebih sukses. Penuh Facebook dan Microsoft aja drop out. Belum lagi orang-orang sukses lain yang gue enggak tahu. Ngapain kuliah kalau ujung-ujungnya di dapur. Namun kamu bisa membongkam suara-suara itu dan berkata, "When it comes to learning, I'm not a quiter." belum bisa kuliah.
1:09:03 Pada akhirnya setiap orang punya prioritas dan kebutuhan berbeda dan setiap orang punya cerita berbeda menuju kesuksesan. Kamu enggak usah lanjut kuliah dulu. Perih meski kamu sudah bisa menebak hari ini akan tiba. Beberapa tahun belakangan, kondisi finansial keluargamu berantakan. Ayahmu di PHK dan tak kunjung menemukan pekerjaan. Ibumu sering sakit-sakitan akhir-akhir ini. Tabungan keluarga terkuras banyak untuk itu. Belum lagi adik-adikmu yang masih duduk di bangku sekolah yang lebih
1:09:48 membutuhkan pendidikan. Atau mungkin kisahmu berbeda. Mungkin kamu adalah seorang anak laki-laki yang dituntut banyak. Mungkin kamu adalah seorang anak perempuan yang belum diizinkan kuliah atas alasan yang belum kamu ketahui. Namun, takdir kalian sama, yaitu belum bisa melanjutkan kuliah. Orang-orang mungkin sudah menghiburmu dengan ucapan banyak sarjana tapi malah jadi pengangguran. Modul sarjana atau enggak sama aja. Sama-sama cari duit ujungnya. Banyak yang enggak kuliah tapi lebih sukses. Penemu Facebook dan Microsoft aja drop out. Belum lagi orang-orang
1:10:33 sukses lain yang gue enggak tahu. Namun, kamu baru saja membaca bab sebelum ini dan kamu ingin kuliah. Iya, kuliah adalah salah satu cara untuk menuntut ilmu dengan cara yang diakui negara dengan hiasan pendidikan yang legal. Namun jika tujuan kita sungguh-sungguh menuntut ilmu, tentulah kita tak akan fokus pada pintu yang tertutup. Kita akan mencari pintu-pintu lain yang terbuka untuk menuntut ilmu. Mungkin bicara seperti ini mudah, mungkin kamu butuh solusi yang nyata. Oke, apa hobimu? Belum tahu. Cobalah segalanya.
1:11:19 Mungkin kamu bisa belajar bahasa pemrograman lewat internet. Kamu bisa mencari learning programming online dan kamu akan menemukan puluhan atau mungkin ratusan situs yang menawarkan itu. Ya, tapi enggak bisa bahasa Inggris. Sorry, no excuse. Kamu harus berjuang lebih keras dari mereka yang berkuliah. Tunjukkan kalau kamu memang bukan seseorang yang mudah menyerah. Buktikan kepada dirimu kalau kamu memang sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Dan oh, mereka yang berkuliah juga harus menelan jurnal-jurnal berbahasa Inggris dengan kosakata asing. Mungkin nanti pada beberapa saat ke depan kamu akan mendapat pekerjaan
1:12:04 sebagai programmer lewat internet dari rumah. Well, it's a thing now. Atau jika bahasa pemrograman adalah sesuatu yang terlalu rumit untukmu, belajarlah desain. Lihatlah halaman media sosial brand-brand terkenal. Lihat bagaimana mereka membuat sebuah postingan. Kamu buatlah desain yang serupa itu sebagai bahan belajar. Atau coba lihat desain sampul buku-buku populer saat ini. Lalu tirulah desain sampul tersebut sebagai bahan belajar. bukan untuk kebutuhan komersil tentunya. Buatlah agar desainmu bisa serupa desain-desain profesional itu. Tak tahu harus desain menggunakan apa, cari di Google, ada desain online atau
1:12:51 design online for amats. Jangan mengeluh karena perbedaan bahasa. Sudah ada Google Translate sekarang hitung-hitung belajar bahasa Inggris, kan? Nah, kalau memang tak bisa bahasa Inggris sama sekali, sekarang sudah banyak aplikasi yang dapat membantumu belajar bahasa Inggris. Jangan gunakan ponsel pintarmu hanya untuk media sosial yang seringkiali menguras waktumu. Atau jika desain agak terlalu rumit untukmu, belajarlah menulis. Mulailah dari banyak sekali membaca. Lalu cobalah menulis sesuatu yang menggelisahkanmu, sesuatu yang perlu orang-orang baca. Publikasikanlah jika bermanfaat. Sekarang sudah banyak media sosial yang
1:13:37 dapat menaungi tulisanmu. Ya, meskipun gratisan. Namun untuk latihan dan seorang pemula mengapa tidak mencoba? Jika menulis tidak bisa, nontonlah video-video memasak atau seni rupa di YouTube. Lalu, praktikkanlah dengan bahan-bahan yang kamu miliki di rumah. Tak punya, ya beli. Biaya yang kamu keluarkan untuk bahan-bahan ini tak semahal dengan biaya yang harus kamu habiskan untuk kuliah. Lagi pula belajar butuh modal. Toh modalnya tak banyak-banyak amat kan. Jika semua ini sudah kamu coba dan tak bisa kamu lakukan, cari lain. Coba segalanya. Tetapi jika sudah banyak yang kamu coba,
1:14:24 tetapi semua terasa begitu rumit, well, jangan buru-buru memutuskan. Mungkin kamu baru saja mencoba. Mungkin kamu sudah lama mencoba. Semua selum mudah di awal cerita. Lalu saat kesulitan menyentuhmu, kamu malah memilih menyerah, bukannya menaklukkan. Lagi pula, apa sih yang mudah di dunia ini? Kuliah yang kamu inginkan itu juga tak mudah. Belajar untuk dididak pun tak mudah, sama-sama sulit dan itu adil. Tak ada kisahnya seseorang menuntut ilmu dengan berleha-leha. Menuntut ilmu itu susah payah. Lalu jika kamu sudah cukup menguasai kemampuan-kemampuan ini, cobalah buat
1:15:11 sesuatu yang komersil. Mencoba bekerja lepasan dari rumah, membuka usaha dari kemampuan tersebut. Apapun itu yang setidaknya bisa menghasilkan. Nanti perlahan-lahan menabunglah. Ini tak akan jadi perjuangan yang mudah. Ya memang. Namun sekali lagi apa sih yang mudah di dunia ini? Teruslah berusaha, berinovasilah, belajarlah, membacalah, jangan berhenti. Iya, akan banyak kegagalan di depan sana. Tetapi tolong jangan menyerah. Nanti saat tabunganmu sudah cukup, kamu bisa kuliah seperti yang kamu inginkan. Namun, kuliahlah jika kamu memang
1:15:56 membutuhkannya. Bukan karena gengsi, bukan karena balas dendam pada masa lalu. Semua orang punya prioritas dan kebutuhan berbeda. Jadi, putuskanlah sesuatu dengan ilmu pula bukan perasaan semata. 10. Saat mereka merendahkanku. Dulu aku sering mendengar kisah seperti dulu aku direndahkan. Sekarang orang-orang tahu namaku dan mereka berusaha menghubungiku lagi. Jadi, aku berusaha menikmati momen direndahkan ini. Meski berat, meski menyakitkan, aku tetap melakukan
1:16:42 sesuatu. Berharap aku juga sukses di kemudian hari. Mereka mengerubungi mejaku lagi. Perutku mulai melilit. Telapak tanganku dingin, jantungku berdegup kencang. Namun aku berusaha tampak biasa saja. Duduk di bangkuku begitu tenang, fokus dengan buku tulis di meja. Namun mereka seolah ingin melihatku bergerak menantang mereka. Seingatku ada tiga sampai empat orang yang mengerubungiku. Mereka menggebrak mejaku, menghadiku dengan kata-kata yang tak enak didengar, menjailiku, dan menertawakanku.
1:17:27 Sekali lagi, aku sudah berusaha biasa saja. Terkadang aku melihat teman-temanku, tetapi mereka hanya mampu memandangku dengan tatapan sor enggak bisa bantu. Lalu pada suatu waktu sepulang sekolah masih di dalam kelas, salah seorang dari mereka mendorongku dengan dorongan yang katanya adalah bercanda membuatku terpojok sampai ke dinding belakang. Lalu tangannya berada di leherku. Tenang, dia tidak mencekik, hanya berlagak seolah-olah mencekik. Sekali lagi, aku hanya bisa diam, berusaha tidak peduli, tidak menatapnya, tidak juga berusaha menghindar. Aku berusaha biasa saja.
1:18:14 Namun, setiap kali aku pulang sekolah, aku menyimpan rasa sakit hati yang mendalam akibat perlakuan mereka. Mereka tidak tahu kalau aku punya trauma di masa kecil dan tindak perundungan seperti ini memperparah kecemasanku. Aku bahkan menus baris ini dengan rasa cemas. Namun pada masa-masa seperti itu, meski rasanya ingin mengakhiri segalanya, aku selalu menguatkan diriku. Aku bukan satu-satunya yang menjadi korban bullying. Seorang teman di kala sebelah dengan fisik yang tidak senormal remaja umumnya. juga mengalami hal yang sama denganku. Sejak saat itu aku tahu doa-doa orang yang terzalimi adalah mustajab, maka aku
1:19:01 memanfaatkan itu. Sejak saat itu pula aku sering membaca kisah-kisah orang sukses. Orang-orang sukses itu seringkiali bercerita bahwa mereka saat masih sekolah dulu juga dirundung. Saat itu aku menyimpulkan bahwa orang-orang yang direndahkan pasti akan sukses. Jadi aku yakin aku akan sukses nantinya. Aku hanya butuh bersabar dan menanti saja. Memang pada akhirnya masa kelam itu beralu pula. Namun orang-orang yang merendahkanku selalu ada. Kali ini dari bentuk yang berbeda dalam bentuk omongan. Dia kok di depan komputer terus. di rumah terus. Dia kerja enggak sih? Di
1:19:48 rumah terus. Sisanya aku tak mau tahu apa. Aku berusaha biasa saja. Aku meragak seakan tak tahu apa-apa. But I keep doing my things and I let them do theirs. Dan hari ini telah tiba. Mereka yang merendahkanku. Tak ada lagi kabar dari mereka. Well, aku sempat tahu sedikit kabar dari mereka. Ada yang berhenti sekolah. Ada yang terperangkap dalam kehidupan yang penuh racun. Namun hari ini aku sudah tak tahu apa-apa lagi. Mungkin mereka sudah berbahagia. Mungkin ada sesuatu yang mengganjal dalam hidup mereka akibat kesalahan mereka di masa lalu yang belum mereka tebus.
1:20:34 Aku tak pernah tahu kabar mereka lagi dan tak ingin tahu. Dan kabarku, mereka juga tak tahu kabarku. Well, mungkin mereka mendengar tentangku. Sekarang
…