Awas!! Ini ajaran berbahaya ning umi laila! Jangan pernah ikuti ajaran seperti ini!!

AZAN CHANNEL www.youtube.com

Ringkasan Singkat

Video ini membahas perbedaan pendapat mengenai tawasul, khususnya dalam konteks ziarah kubur. Neng Umi Laila berpendapat bahwa ziarah kubur adalah cara untuk meminta wali menyampaikan doa kepada Allah, sementara Buya Yahya menjelaskan bahwa tawasul yang benar adalah tetap meminta kepada Allah dengan menyebut nama-nama orang saleh yang dicintai Allah. Video ini menekankan pentingnya memahami makna tawasul yang benar agar tidak terjerumus ke dalam kesyirikan.

  • Tawasul menurut Neng Umi Laila: Meminta wali yang sudah meninggal untuk menyampaikan doa kepada Allah.
  • Tawasul menurut Buya Yahya: Tetap meminta kepada Allah dengan menyebut nama orang saleh yang dicintai Allah.
  • Pentingnya memahami makna tawasul yang benar agar tidak terjerumus ke dalam kesyirikan.
  • Dianjurkan berdoa dengan menyebut nama-nama Allah (Asmaul Husna).

Pendahuluan

Video ini membahas pernyataan Neng Umi Laila, seorang penceramah perempuan dari Surabaya, mengenai ziarah kubur dan tawasul yang dianggap menyesatkan. Potongan ceramah Neng Umi Laila banyak beredar di media sosial dan menimbulkan perdebatan. Bahkan, tokoh Aswaja seperti Buya Yahya membantah pernyataan tersebut.

Pendapat Neng Umi Laila tentang Tawasul

Neng Umi Laila menyatakan bahwa orang yang berziarah ke makam wali tidak meminta langsung kepada wali, melainkan menjadikan wali sebagai wasilah atau perantara untuk menyampaikan doa kepada Allah. Ia mengibaratkan wali seperti "Pak Pos" yang menyampaikan surat (doa) kepada Allah. Dengan kata lain, peziarah meminta wali yang sudah meninggal untuk menyampaikan doa mereka agar dikabulkan oleh Allah.

Penjelasan Buya Yahya tentang Tawasul

Buya Yahya menjelaskan bahwa ada dua jenis tawasul: tawasul dengan doa (meminta orang hidup untuk mendoakan) dan doa dengan tawasul (berdoa kepada Allah dengan menyebut nama orang saleh). Ia menekankan bahwa tawasul yang benar adalah tetap meminta kepada Allah, bukan menjadikan orang saleh sebagai perantara seperti seorang menteri yang memudahkan urusan dengan presiden. Buya Yahya juga mencontohkan bagaimana para sahabat bertawasul dengan Nabi Muhammad SAW dan pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib, saat musim kemarau.

Perbedaan Pendapat dan Potensi Kesyirikan

Video ini menyoroti perbedaan signifikan antara penjelasan Neng Umi Laila dan Buya Yahya mengenai tawasul. Menurut Neng Umi Laila, meminta wali yang sudah meninggal untuk menyampaikan doa kepada Allah bisa jatuh kepada kesyirikan. Sementara itu, Buya Yahya menjelaskan bahwa tawasul yang benar adalah tetap meminta kepada Allah dengan menyebut nama-nama orang yang dicintai Allah.

Tuntunan Al-Qur'an dan Anjuran Berdoa dengan Asmaul Husna

Video ini menekankan bahwa mengikuti tuntunan Al-Qur'an adalah yang terbaik. Al-Qur'an mengajarkan untuk berdoa dengan menyebut nama-nama Allah yang baik (Asmaul Husna). Dengan demikian, berdoa dengan menyebut nama-nama Allah lebih dianjurkan daripada meminta kepada orang yang sudah meninggal atau menjadikan mereka sebagai perantara. Penjelasan Neng Umi Laila dianggap berbahaya karena berpotensi menjerumuskan ke dalam kesyirikan, yaitu menganggap orang yang sudah meninggal dapat mengabulkan hajat.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 Ada seorang penceramah perempuan asal Surabaya namanya Neng Umi Laila. Ini cukup terkenal ya, banyak sekali potongan-potongan ceramahnya yang beredar di media sosial. Kemudian salah satu potongan ceramahnya ya kami dapatkan ini cukup berbahaya ya dan ini ya cukup menyesatkan. Bahkan tokoh Aswaja sendiri ada yang membantah pernyataan dari Neng Layla ini. Ya, coba kita lihat dulu videonya. Yaaruh nang nggone wali ngoten niku loh, Bu. Itu tujuannya apa? Bukan minta kepada walinya tapi apa? Ngerayu. "Wahai

0:45 walinya Allah, tolonglah bilangkan ke Allah." Ngeten dungo. Jadi itu namanya tawasul. Paham nggih? Ah, jadi Neng Umi Laila menyatakan bahwa orang-orang yang ziarah ke makam-makam wali itu ya mereka bukan minta sama wali-wali ya. Mereka bukan minta supaya hajatnya dikabulkan oleh para wali-wali itu, tapi menjadikan wali-wali itu sebagai wasilah namanya tawasul. Jadi bukan minta kepada wali supaya hajatnya dikabulkan, tapi minta supaya wali itu menyampaikan doanya kepada Allah Subhanahu wa taala. Wahai wali, tolonglah ya sampaikan doa

1:30 kami kepada Allah Subhanahu wa taala. Ya, itu tawasul kata Neng Umi Laila ya, bukan minta sama wali ya sebenarnya itu ya minta juga sama wali cuma minta doanya disampaikan kepada Allah Subhanahu wa taala supaya Allah subhanahu wa taala ini mengabulkan doanya. Jadi ibaratnya wali-wali itu ya dijadikan seperti Pak Pos lah ya. Seperti Pak Pos. Pak Pos, saya punya surat. Tolong dong sampaikan kepada siapa yang dituju. Ya, jadi wali yang sudah meninggal dunia itu diminta supaya menyampaikan doa orang yang berziarah supaya disampaikan kepada Allah

2:16 subhanahu wa taala ya. Dan ini dibantah oleh seorang tokoh Aswaja ya, oleh Buya Yahya. Coba kita lihat video dari Buya Yahya. Itu ada namanya tawasul. Tawasul beda, bukan itu babnya? Kalau tawasul itu adalah dua. Pertama, tawasul dengan doa. Yang kedua, doa dengan tawasul. H. Kalau tawasul dengan doa itu adalah di antara orang yang hidup. Misalnya Anda datang kepada kiai fulan, Habib fulan, "Ya, Habib, Kiai doain saya." Padahal dia sendiri bisa doa kepada Allah, tapi dia minta kepada orang lain agar mendoakan. Ini tawasul bidua. Dan ini sudah biasa dan umum. Yang kedua adalah doa bit tawasul. Doa di dalamnya ada tawasul. Yang mana ya? Ini yang sering orang enggak paham

3:01 mempermasalahkan masalah yang kedua ini. Yang pertama jelas enggak ada masalah. Yang kedua juga sebetulnya tidak ada masalah bagi yang paham. Cuma yang menjadi masalah adalah kadang dari kita yang pakai tawasul salah memahamkan orang lain. Sehingga cara memahamkan kadang-kadang tawasul itu kan ya kalau minta kalau Pak Presiden ketemu presiden susah kan lewat menteri loh. Ini kan kurang ajar kepada Allah gak begitu. Ini biasanya ahli tawasul ini salah menjelaskan tentang tawasul. Yang senang tawasulan salah menerjemahkan makna tawasul. Sehingga yang anti tawasul tambah jadi karena salah memahamkan makna tawasul. Tawasul itu bukan menjadikan orang perantara, bukan. Tawasul doa bitawasul bukan menjadikan orang perantara. Kalau doa tawasul bidua tadi ia menjadikan orang untuk mendoakan

3:46 kita yang pertama. Tapi tawasul yang selama ini dipermasalahkan ada orang salah paham. Bukan menjadikan orang perantara ya kalau kita kepada presiden susah lewat ini ke Pak Lurah siwat lewat Bu Lurah lewat anaknya. Ini kan urusan dengan manusia tapi dengan Allah enggak kita bisa langsung. Maka tawasul doa dengan tawasul itu maknanya lah ini yang selama ini dijalankan oleh para ulama kita ini maknanya tawasul. Doa dengan tawasul artinya minta kepada Allah. Mintanya tetap kepada Allah. dan membawa orang-orang yang Allah cintai. Itu tawasul. Allahumma inni atawajuhika binabika nabi dalam hadis. Ya Allah aku memohon

4:32 kepadamu dan aku bawa bersama doaku orang yang sangat kucintai Nabi Muhammad. Berikan ya itu tawasul itu begitu. Syekh Abdul Qadir Aljailani ini bahasanya menerjemahkan salah ya. Jadi perantara lah ini kurang ajar. Makanya dalam kitab Sahih Bukhari, Allahumma inna kunna. Ya Allah dulu kami bertawasul allahum ya Allah lah mintanya kepada Allah inuna kami dulu bertawasul kepadamu yakni membawa di saat memohon kepadamu kami bawa binabikan dengan nabimuaskina kau beri hujan ya Allah wa inna dan sekarang kami natawalu ilaika kami memohon kepadamu dengan membawa

5:20 biammi nabika dengan paman nabim mintanya tetap kepada siapa Allah bukan minta kepada mayat Pernah suatu kita ada diskusi dengan orang yang anti tawasul. Subhanallah. Jadi kita ngomong 2 jam itu kelihatannya gak paham. Akhirnya saya coba saya undang mari kita datang ke pondok Albah setiap Jumat ada doa untuk orang meninggal dunia dan tawasul di sana dibalas. Kami tidak akan datang di acara untuk minta kepada orang meninggal dunia. Ajib. Saya diskusi 2 jam ini minta kepada orang meninggal dunia. Enggak ada kalimat saya minta pada orang meninggal dunia. Jadi lihat dia. Jadi mindsetnya itu sudah salah. Cara berpikirnya sudah mengatakan kamu itu suka nyembah kuburan gitu loh. Jadi

6:06 dan juga hal begini ini biasanya yang salah dari kita yang biasa tawasul. Cara menjelaskannya kurang gamblang sehingga orang lain tambah salah dari awal mereka punya kebencian tambah salah. Tawasul mintanya kepada Allah membawa sesuatu yang dicintai oleh Allah. Dan yang dicintai oleh Allah bisa saja dia adalah amal saleh. Seperti dalam hadis Bukhari, orang yang terperangkap dalam gua. Tiga orang terperangkap dalam gua minta, "Ya Allah, aku pernah punya amal baik. Aku pernah berbakti pada ibuku ya Allah." Maka geserlah batu. Lihat mintanya kepada Allah. Membawa amal saleh atau membawa orang saleh. Selesai. Nah, itu tawasul beda ya. Kalau tadi doa untuk meninggal dunia ini adalah doa tawasul. Semoga Allah memberikan pemahaman yang benar. Nah, jadi sangat jauh berbeda ya penjelasan dari Neng Umi Laila dengan penjelasan dari Buya Yahya.

6:54 Kalau penjelasan dari Neng Umi Laila tawasul itu ya kita datang ke makam wali kemudian kita minta tolong kepada wali itu supaya doa kita disampaikan kepada Allah Subhanahu wa taala. Ya. Wahai wali sampaikan tolong sampaikan doa saya. Saya punya hajat ini, ini, ini, ini, dan ini. Ya, tolong sampaikan kepada Allah Subhanahu wa taala. Itu kalau menurut penjelasan Umi Laila minta tolong kepada orang yang sudah meninggal dunia. Dan ini jatuh kepada kesyirikan ya. Jatuh kepada kesyirikan. Sementara kalau menurut penjelasan dari Buya Yahya tadi ya, tawasul itu bukan minta kepada orang yang sudah meninggal dunia ya. Tawasul itu tetap minta kepada Allah

7:40 Subhanahu wa taala dengan menyebut nama-nama orang yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa taala. Ya. Kemudian Buya Yahya membawakan kisah di mana para sahabat bertawasul dengan paman Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Ya. Padahal kalau di sini tawasul yang disepakati ya. Karena pada saat itu paman Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam masih hidup ya bukan sudah meninggal dunia. Ya. Jadi, ada tawasul-tawasul yang memang secara syariat dibolehkan seperti yang diceritakan oleh Buya Yahya tadi, tawasul terhadap amalan saleh kita ya. Seperti pemuda yang terjebak di dalam goa, bertawasul dengan amalan saleh yang sudah kita kerjakan itu disepakati, diperbolehkannya. Ya, tidak ada

8:27 perselisihan di kalangan ulama tentang diperbolehkannya tawasul dengan amalan saleh ya. Kemudian tawasul dengan orang saleh yang masih hidup itu pun tidak ada perselisihan tentang diperbolehkannya. Begitu juga dengan kisah yang dibawakan oleh Buya Yahya tadi di mana sahabat Umar bin Khattab radhiallahu anh ya tawasul dengan pamannya Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam ketika terjadi musim kemarau ya di zaman Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam mereka minta supaya Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam yang berdoa tawasul dengan Nabi. Ya. Tapi ketika Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam sudah meninggal dunia mereka mendatangi paman Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Jadi paman Nabi Muhammad sallallahu

9:12 alaihi wasallam ini masih hidup bukan sudah meninggal dunia ya. Makanya ada riwayat yang mengatakan jiaka biammin nabiyina fasqina. Ya kami datang wahai Allah dengan paman Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dengan paman nabi kami faskina maka turunkanlah hujan. Ya. Jadi pada saat itu memang terjadi musim kemarau panjang ya. musim kemarau panjang sehingga mereka mendatangi paman Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam supaya paman Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam ini berdoa kepada Allah subhanahu wa taala supaya menurunkan hujan. Ya, makanya di dalam hadis disebutkan ya dalam hadis Bukhari ya di sana diriwayatkan Allahumma inna kunna tawalu

10:00 ilaika binabina fatasqina wa inna tawalu ilaika biammi nabiyina fasina. Ya, ya Allah sesungguhnya kami bertawasul kepadamu lewat perantaraan nabimu. Maka turunkanlah hujan pada kami. Dan sekarang ya kami bertawasul kepadamu lewat perantaraan paman nabi kami. Maka turunkanlah hujan pada kami. Ya. Jadi di sini ya para sahabat bertawasul kepada paman Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam ketika paman Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam masih hidup. Bukan ketika paman Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam sudah meninggal dunia. Ya. Jadi kalau bertawasul dengan orang yang masih hidup itu diperbolehkan,

10:45 enggak ada perselisihan. Ya. Sedangkan kalau bertawasul dengan menyebut nama-nama orang saleh yang sudah meninggal dunia itu memang ada perselisihan ya. Ada perselisihan. Dan kalaulah memang kita diperbolehkan bertawasul dengan menyebut nama-nama orang-orang yang saleh, ya kenapa kita enggak menyebut nama Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam? Menyebut nama para sahabat. Kenapa kita menyebut nama-nama para wali? Ya, ya kita husnuzon bahwa wali itu adalah orang-orang saleh. Tapi wali tidak dijamin surga. Enggak ada yang menjamin surga. Kalau kita husnuzon bahwa mereka ahli surga, naam. Tapi enggak ada yang bisa menjamin bahwa mereka ahli surga. Sedangkan para

11:32 sahabat itu sudah jelas dijamin surga. Nabi jelas dijamin surga. Enggak ada Nabi enggak dijamin surga. Ya, kalau memang diperbolehkan kita berdoa dengan membawa nama orang-orang yang saleh, ya kenapa kita enggak membawa nama orang yang jelas saleh? Ya kan seperti itu. Kemudian kalau kita mengikuti tuntunan Al-Qur'an ya di dalam Al-Qur'an juga jelas tuntunan dari Allah Subhanahu wa taala ketika kita berdoa ya nama siapa yang harus kita bawa. Allah Subhanahu wa taala jelas mengatakan walillahil asmaul husna fad'uhu biha. Jadi hanya milik Allahlah nama-nama Allah Subhanahu wa taala yang baik. Maka berdoalah dengan nama-nama Allah Subhanahu wa taala yang baik.

12:17 Ya. Jadi kalau kita mengikuti apa yang dijelaskan oleh ee Ning Layla tadi itu sangat berbahaya ya. Fatal itu bisa jatuh kepada kesyirikan. Syirik besar menganggap orang yang sudah meninggal dunia itu bisa mengabulkan hajat kita. Itu kan hajat juga ya. Menjadikan perantara hajat supaya mereka ini bekerja menyampaikan doa kita kepada Allah Subhanahu wa taala. Wahai wali, ya tolong dong sampaikan doa kami kepada Allah Subhanahu wa taala. Itu kan artinya kita menyampaikan hajat kita kepada wali yang sudah meninggal dunia. Berbeda dengan yang disebutkan oleh Buya Yahya tadi. Meskipun dengan orang yang

13:03 sudah meninggal dunia, tapi tidak meminta kepada orang yang sudah meninggal dunia. mintanya kepada Allah Subhanahu wa taala dengan kemuliaan dengan menyebut nama-nama orang yang saleh. Ya, wahai Allah ya dengan keagungan, dengan kemuliaan fulan, fulan, dan fulan, hamba mohon kepadamu ya Allah kabulkanlah hajat hamba. Ya, berbeda dengan wahai wali ya tolong sampaikan hajat kami kepada Allah Subhanahu wa taala. Kami menginginkan ini dan itu jauh berbeda. Kalau yang diajarkan oleh Neng Laila tadi itu sangat berbahaya, fatal, jatuh kepada kesyirikan. Ya, sementara kalau yang dijelaskan oleh Buya Yahya tadi ya, itu tidak jatuh kepada kesyirikan. Hanya

13:48 saja yang lebih masuk, yang lebih dianjurkan kita berdoa dengan menyebut nama-nama Allah Subhanahu wa taala yang mulia. Ya, walillahil asmaul husna faduhu biha ya. Mudah-mudahan bermanfaat.

Share

Ringkasan Video YouTube