0:01 Birul Walidah ini ihsana adalah dasar terciptanya proses pertunjukan ini. Naskah ayahku pulang bukan sekedar naskah. Ada nilai-nilai yang perlu kita ketahui bersama. Ada renungan yang perlu kita resapi bersama. Ada marah yang perlu kita pelajari bagaimana cara menerdamkannya. Ada rasa sakit, benci, luka dan segala rasa yang berkecamuk dalam dada yang perlu kita taklukan dengan cinta. Apapun yang terjadi, ayah tetaplah ayah, kapanpun dan dimanapun, bahkan selama-lamanya. Inilah pertunjukan ketujuh Tiatra Za'iza dengan lakon Ayahku Pulang, karya Usmar Ismail.
0:50 Pertunjukan ini murni lahir dari tangan-tangan santri tentu dengan dampingan asatis yang kita cintai. Sebagai bukti bahwa Dar El Kolam 3 excellent process. Mereka membutuhkan waktu 3 bulan untuk sebuah pertunjukan yang mungkin bisa dibilang pendek. Komposer musik oleh Ustadz Reza Maulana dan Ustadz Cucu Sudiana, penata suara oleh Ustadz Abdul Qadir, penata artistik panggung oleh Ustadz Tarmin Alamsyah, Makeup dan kostum oleh Ustaz Zawula dan Ustaz Zafini. Semua ini dikemas dengan apik oleh sutradara kita, Al-Ustaz Ahmad Mudor Al-Farisi. Mari kita saksikan pertunjukan ketujuh teater Zahiza dengan lakon Ayahku
1:39 Pulang. Selamat menyaksikan.
4:59 masih berpikir lagi. Malam hari raya Narto, dengarlah suara bedug itu bersaut-sautan. Pada malam hari raya seperti inilah, ayahmu pergi meninggalkan ibu dengan tanpa sepatah kata pun. Ayah, keesokan harinya, Setelah selesai sholat hari raya, kumaafkan segala kesalahan ayahmu. Kenapa ibu masih mengingat masa yang lampau itu? Mengingat orang
5:45 yang sudah tidak ingat lagi kepada kita? Ibu merasa ayahmu masih ingat kepada kita Narto. Mintarsi kemana bu? Mintarsi sedang keluar mengantarkan jahitan. Iya masih juga mengambil lupa jahitan. Bukankah seharusnya ia tidak usah lagi berjuang sekarang? Biarlah Narto. Karena kalau ia sudah kawin nanti kepandainya itu tidak akan sia-sia. Sebenarnya ibu mau mengatakan kalau gajiku tidak cukup untuk sekeluarga kan bu?
6:31 Bagaimana dengan namar mintar sih bu? Mintar sih nampaknya belum mau bersuami Narto. Tapi dari pihak orang tua anak lelaki itu terus saja mendesak ibu. Apa salahnya bu? Mereka kan uangnya banyak. Ala uang uang Narto. Maaf bu, bukan maksud. Aku ingin menjual adik sendiri Aku jadi mata duitan Bu Mungkin karena hidup yang penuh dan penderitaan ini Ayahmu seorang hartawan yang mempunyai tanah dan kekayaan yang sangat banyak
7:23 Kaya di waktu kami kawin dulu Tetapi Hubungan kami. Bagaikan pokok yang ditiup angin kencang. Gugur semua buahnya. Itu semua. Itu semua karena uang Narto. Ibu tidak mau adikmu mintar sih. Merasakan apa yang ibu rasakan. Biarlah mintar sih menjadi gadis sederhana. Mintar sih. Mestilah bersuamikan orang yang berbudi tinggi, mesti itu mesti. Tapi ibu kalau bisa kedua-duanya ada harta ada budi. Mau
8:11 dimana dicari Narto, Narto adik kau mintar si itu hanya gadis biasa. Apalagi keadaan kita ini sedang susah, di rumah pun sudah tidak ada uang. Sebentar lagi pula, tabungan ibu yang terakhir akan habis. Ini semua salah ayah, Bu. Sehingga Mintarsi harus ikut menderita. Sejak kecil, ia telah merasakan pahit getirnya kehidupan. Tapi, Bu, kita harus mengatasi semua ini. Harus. Aku sebagai abangnya harus lebih keras lagi dalam berjuang.
9:01 Andai saja aku punya uang sejuta bu. Kalau untuk perkawinan mintarsi, 500 ribu rupiah saja sudah cukup Narto. Setelah mintarsi nanti, datanglah giliranmu. Aku kawin bu. Belum sempat aku memikirkan kebahagiaan untuk diriku sendiri. Sebelum saudara-saudaraku senang dan ibu pun mengecap kebahagiaan atas jeripayaku nanti. merasa bahagia kalau kau bahagia Narto karena nasibku bersuami tidak baik benar
10:32 harus aku lakukan. Tetapi... Maimun kemana Bu? Maimun mungkin banyak kerjaan, soalnya katanya bulan depan dia bakal naik gaji. Naik gaji? Maimun memang pintar Bu, otaknya juga encer. Tapi... sayang kita tidak bisa menyekolahkannya lebih tinggi lagi. Tapi Bu, aku yakin Kalau ia mau berusaha, pasti ia bisa menjadi orang yang berharga di masyarakat. Narto, siapa gadis yang sering kulihat bersepeda bersamamu itu? Ah ibu, bisa aja. Dia mah cuma temanku bu. Tapi
11:22 ibu rasa dia pantas untuk kau Narto. Ya meskipun ibu tahu, derajatnya tidak sama seperti kita. Tapi kan kalau kau suka... Sudahlah Bu, buat apa aku memikirkan kawin sekarang? Mungkin 10 tahun lagi, itu pun kalau semua sudah beres. Kau juga harus kawin Narto, masa sudah tua tidak kawin-kawin. Waktu ayahmu pergi malam hari raya itu, aku peluk kalian anak-anakku. Hilang akalku. Sudahlah Bu, buat apa kita mengulang kajian lama itu?
12:10 Assalamualaikum. Lama menunggu Bu, Bang. Waalaikumsalam. Waalaikumsalam. Dari mana saja Mun, kau sudah berbuka puasa. Kerja lembur Bu, Alhamdulillah. Tadi aku berbuka puasa bersama teman di kantor. Oh iya Bu, buat perkawinan Mintarsi nanti... Eh Bang, Mintarsi mana Bang? Bu, Mintarsi mana ya Bu? Mintarsi sedang keluar mengantarkan jahitan.
13:27 Bang, ada kabar aneh nih bang. Tadi pagi, aku bertemu dengan bapak-bapak tua. Yang mirip sekali dengan ayah. Waktu Pak Tirto berbelanja di sentral tadi, tiba-tiba ia berhadapan dengan bapak-bapak tua itu bang. Pak Tirto kaget. Karena bapak tua itu seperti yang pernah saya kenal. Katanya sih bapak tua itu serupa sekali dengan Kadir Saleh Bang. Tapi setelah itu bapak tua itu menjikir Kadiri lalu menghilang begitu saja di kerumunan orang banyak Bang.
14:16 Mana mungkin dia ada di sini? Aku kira juga dia sudah meninggal dunia atau pergi ke luar negeri. Sudah 20 tahun yang lalu semenjak ia pergi malam hari raya itu. Tapi bu, ada yang mengatakan, jika ia ada di Singapura bu. Tapi itu sudah 10 tahun yang lalu. Kata orang yang pernah melihatnya, ia mempunyai toko yang sangat besar di sana. Dan hidupnya pun sangat mewah. Hidupnya memang mewah, tapi anaknya makan lumpur. Tapi setelah itu... Tak ada lagi kabar dari ayahmu.
15:01 Apalagi semenjak perang seperti saat ini. Dimana lagi kita dapat bertanya. Bu, emangnya karakter ayah bagaimana sih bu? Waktu ayahmu muda dulu, Ia tak suka belajar. Tidak seperti kau Maimun. Ia hanya suka berfoyak-foyak. Pada masa itu, ayahmu sangat disegani banyak orang. Ia suka meminjamkan uang kesana kemari. Dan seperti itulah ayahmu.
15:48 Maimun, selama hari raya ini berapa hari kau libur? Dua hari bang. Oh iya, ada makanan yang belum ibu taruh di meja. Pak Tirto bertemu dengan orang tua itu kapan? Kemarin sore bang, kira-kira setengah lima. Bagaimana pakaiannya? Pak Tirto bilang pakaian yang bapak tua itu kenakan tak begitu bagus bang. Pakaiannya compang-camping, kopianya pun sudah hampir memutih. Kau masih ingat bang dengan rupaya? Tidak ingat lagi aku. Semestinya kau ingat bang. Karena umur abang pada waktu
16:34 itu sudah 8 tahun. Aku saja masih ingat walaupun samar-samar. Sudah kubilang. Tidak ingat lagi aku. Iya-iya. Habisnya Pak Tirto baik tanya tentang ayah. Ayahmu orang yang baik hati. Jika lo iya berada di sini, di rumah ini, Besok hari raya Pastilah ia bisa bersenang-senang Dengan anak-anaknya Jam berapa ini? Seharusnya Mintarsi sudah pulang sekarang Oh iya bang Ada kabarannya lagi nih bang Tadi pagi Aku bertemu dengan orang India
17:24 bang Ia mengejarkanku bahasa Urdu bang Dan aku memberikannya pelajaran Bahasa Indonesia bang Dan ia pun sempat Mengajariku cara bernyanyi ala-ala yang kayak gitu bang. Yang kayak gini nih bang. Boleh curian, boleh kanggena. Hai men hogai, teresa jena. Asik. Terai bin jena, ya lagdame temar gaya. Leca leca, Sonia leca leca. Iya terus. Leca leca. Lagi lagi lagi lagi. Leca leca. Sonia leca leca. Leca leca. Mantep mun. Nanti kau ajarkan aku pula. Apa tadi leca leca itu. Siap bang. Narto,
18:14 Maimun kalian ngapain sih? Nyanyilah bu. Daripada mikirin orang yang sudah hilang pusing palaku. Ya gak gitu juga kali. Kalian itu laki-laki jorok tau. Terserah ibu. Assalamualaikum, sudah berbuka puasa semuanya. Waalaikumsalam. Dari tadi kami menunggumu, lama benar? Maaf bu, tadi di sana memang agak lama. Jadinya, minta sih pulang terlambat. Oh ya sudah, makan dulu.
20:12 ya Bu apa yang kau lihat di luar sana Hai waktu mintasi lewat disitu tadi Hai Bang Hai Benato ih dengar mintasi dulu malam namun aku dengar orang tua di ujung jalan ini dari jembatan sana melihat-lihat karun rumah kita nampaknya
21:00 seperti seorang pengemis orang tua bagaimana rupanya hari agak gelap bang dia tidak begitu jelas kelihatannya tapi orangnya itu coba kulihat Siapamun? Tak ada orang kelihatannya bang. Waktu kami masih sama-sama muda dulu. Kami sangat berkasih-kasihan. Sejelek-jeleknya ayahmu. Masih ada kenangan yang tak dapat ibu lupakan.
21:47 Nak. Mungkinkah. Ayahmu kembali lagi. Bu. Yang lalu biarlah berlalu. Jangan ibu ingat lagi masa yang lampau itu.
22:33 Assalamualaikum... Assalamualaikum... Apakah benar... Disini... Rumah nyanyonya Saleh... Gunarto, Maimun, Mintarsi... Apa kalian dengar itu seperti suara ayah kalian? Benarkah engkau Tina? Saleh? Kamu? Kamu benar-benar Saleh? Iya Tina, benar.
23:21 Aku Saleh. Saleh, marilah masuk dulu. Apa? Bolehkah aku masuk Tina? Tentu saja boleh. Mari masuk, duduk. Saleh... Kau... Banyak berubah ya Saleh? Iya Tina... 20 tahun... Perceraian kita...
24:13 Telah banyak merubah wajahku. Tina. Mereka semua. Anak-anak kita. Iya benar. Mereka semua ini. Anak-anakmu Saleh. Pandangilah mereka. Ternyata. Mereka dapat tumbuh dewasa. Walaupun. dari dampingi dengan ayahnya. Engkau siapa namamu, nak? Saya Maimun, ayah. Oh iya, Maimun. Dulu waktu aku pergi,
25:02 engkau masih kecil, nak. Kakimu masih lemah, belum dapat berdiri. Muna yang satu ini siapa nama Muna? Saya Mintarsi ayah. Oh Mintarsi, aku dengar dari kejauhan bahwa aku mendapatkan seorang anak lagi, seorang putri. Engkau cantik Mintarsi, sama seperti ibumu di masa muda. Sekarang tak tahu apa yang harus kulakukan.
25:54 Aku pun tak tahu apa yang harus aku lakukan. Anak-anak semuanya sudah besar. Sudah menjadi orang pandai. Gunarto dia sudah bekerja di perusahaan tenun. Dan maimun ini, ia tak pernah absen selama masuk kelas. Selalu menjadi juara satu. Mereka sudah mempunyai penghasilannya masing-masing. Dan mintar sih itulah, dia yang selalu membantuku menjahit. Ah ibu, bisa saja.
26:43 Sepuluh tahun, Menjadi saudagar besar di Singapura Aku Aku Aku Menjadi kepala perusahaan Dengan pegawai Berpuluh-puluh orang Banyaknya Namun Malang bagiku Toko itu Telah habis terbakar Seolah-olah masih belum puas menyeretku ke lembah kesengsaraan. Saham-saham yang kubeli merosot semua nilainya.
27:33 Sementara aku sudah mulai tua. Tak tahu apa yang harus kulakukan. dan istriku tergambar kembali di depan mata dan jiwaku kalian seperti mengharapkan cinta dan kasihku Gunarto mahukah kau mengambilkan aku segelas air minum hanya engkau yang tidak Narto
28:24 ayahmu yang sedang berbicara itu semestinya engkau bahagia nak sudah sepantasnya ayahmu bertemu kembali dengan anak-anaknya yang sudah lama tidak bertemu tak apa latiha bila Gunarto tak mau engkau lama Apakah kau memberikan aku segelas air minum? Baik ayah. Maimun, kapan kau mempunyai seorang ayah? Gunarto. Kami tidak mempunyai seorang ayah bu, kapan kami mempunyai seorang ayah? Gunarto,
29:12 apa katamu? Kami tidak mempunyai seorang ayah. Kalau kami mempunyai seorang ayah, kenapa kami harus hidup sengsara seperti ini? Jadi budak orang. Saat aku berumur 8 tahun, aku dan ibu hampir saja terjun ke dalam lautan. Untung saja ibu cepat sadar. Dan kalau kami mempunyai seorang ayah, Kenapa aku harus menjadi budak orang saat aku berpura 10 tahun? Kami tidak mempunyai seorang ayah. Kami besar dalam kesengsaraan.
30:02 Tidak ada kebahagiaan dalam hati ini. Dan kau Maimun, apakah engkau lupa saat engkau SD, engkau pergi ke sekolah dengan pakaian yang robek Serta tambahan sana sini. Itu semua terjadi. Karena kita tidak mempunyai seorang ayah. Kalian dengar? Itu semua terjadi karena kita tidak mempunyai seorang ayah. Kalau kita mempunyai seorang ayah. Mana mungkin kita harus hidup sengsara seperti ini.
30:47 Tapi bang, ibu saja sudah maafkannya. Kenapa kita tidak? Ibu seorang wanita. Saat aku kecil, aku pernah menangis di pangkuan ibu. Dan ibu selalu berkata, ini semua salah ayahmu. Ayahmu yang harus disalahkan. Lalu, aku menjadi budak orang. Dan ibu menjadi babu mencuci pakaian orang lain. Aku buktikan. Bahwa aku bisa memberi makan keluarga aku tanpa seorang ayah. Dan aku berteriak kepada dunia. Aku tidak butuh bantuan orang yang telah
31:34 meninggalkan keluarganya dalam keadaan sengsara. Saat umurku 18 tahun. Yang ada di otakku hanyalah gambaran ayah yang telah sesat. Ia kabur bersama wanita yang telah membawanya ke dalam lembah keturjanaan. Lupa ia kepada keluarganya, anaknya, istrinya bahkan kewajibannya. Hartanya yang ditinggalkan bertumpuk-tumpuk. Sampai-sampai tabunganku sendiri hilang bersama ayah yang tidak tahu diri itu. Kalau aku memang mempunyai seorang ayah, maka ayah itulah musuh besar.
32:23 Gunarto! Bang! Bang, lihatlah ayah bang. Ayah sudah tua bang. Ayah sudah tua. Sering benar kau ucapkan kata ayah kepada orang yang tak berguna ini. Hanya karena ia seorang tua yang datang ke rumah kita. Dan menyebut dirinya ayah kita. Lalu kau sebut pula ya ayah kita. Padahal ia tidak kita kenal. Sama sekali tidak. Bang Narto, kita adalah darah dagingnya bang. Bagaimanapun buruknya ayah kita, kita tetap anaknya bang. Yang harus merawatnya. Jadi, maksudmu ini kewajiban kita. Setelah ia melepaskan hawa nafsenya dimana-mana. Dan sekarang ia kembali dalam keadaan tua.
33:09 Dan kita harus merawatnya. Aku tidak sudi. Sama sekali tidak. Kepada ayahmu. Ayah kandungmu. Ayah kandung. Memang Gunarto dulu mempunyai seorang ayah. Tapi sudah meninggal 20 tahun yang lalu. Dan Gunarto yang sekarang adalah Gunarto yang dibangun oleh diri Gunarto sendiri. Aku merdeka. Semerdeka-merdekanya orangmu.
34:00 melakukan banyak kesalahan dan dosa kepada kalian aku mengakui itu dan sebab itulah aku datang pada hari ini pada hari itu aku untuk memperbaiki segala kesalahan dan dosa terhadap kalian tapi yang benar katamu benar to aku aku hanyalah seorang yang tak harus diperdulikan
34:48 aku hanyalah orang miskin dan aku tidak berkehendak mendorong-dorongkan agar diterima dimana tempat yang tidak aku kehendaki baiklah aku akan pergi sekarang tapi tahukah kau Narto betapa rasa sakitnya hatiku orang yang pernah dihormati
35:33 aku orang yang pernah memiliki uang berjuta-juta banyaknya sekarang aku diusir oleh anak kandungku sendiri tapi biarlah dalam apapun aku terjerumus ke dalam kelembah sengsaraan aku tidak akan kembali lagi. Ayah, tunggu dulu ayah. Jika Bang Narto tidak ingin menerima ayah, aku lah yang akan menerima ayah. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi. Maimun, apa pernah kau menerima pertolongan darinya?
36:24 Dulu aku memang pernah menerima tamparan, tendangan. bahkan pukulan darinya tapi sepiji zarah pun aku tidak pernah menerima kebahagiaan darinya tak apalah Maimun biarlah aku pergi sekarang jika aku kembali aku hanya mengganggu kebahagiaan dan ketenangan kalian saja Memang inilah jalan terbaik untukku. Tidak ada jalan untukku kembali. Ayah, ayah tunggu dulu ayah. Apa ayah sudah makan?
37:13 Apa ayah punya uang? Kemana ayah akan pergi? Kepi jalan atau dalam sungai. Aku hanya seorang pengemi sekarang. Memang sudah tiga hari aku berdiri di depan jalan sana. Memang seharusnya aku malu untuk masuk ke dalam rumah ini lagi. Rumah yang dulu pernah aku tinggalkan. Aku sudah mulai tua lemah dan sadar.
37:59 Langkahku terayu kembali aku sudah tua dan
39:46 kamu setelah apa yang telah kamu lakukan kepada ayah. Tidak ada rasa kasihan kamu bang, tidak ada rasa tanggung jawab terhadap adik-adikmu ini yang tidak memiliki ayah lagi.
40:35 sebagai terdakwa sudah lama aku mencoba untuk menghilangkan rasa itu dan sekarang kalian tinggal pilih aku atau dia tidak tidak bang aku akan panggil ayahku kembali aku tidak peduli bang apa yang akan abang lakukan kepada aku kalau perlu bang bunuh saja aku bang Ayahku harus pulang bang, ayahku harus pulang, ayahku pulang Maimun
43:15 Bang Nardo! Ayah Bu! Ayah! Bang! Bang Maimun! Ayah mana bang? Ayah mana? Maimun... Dimana ayahmu? Tidak aku dapet lagi Bu, dimana ayah berada? Naimun Bang Ayah Bang Ayah dimana kau dapatkan sarung dan kopya ini dekat jembatan Bang lalu Ayah Bagaimana dengan
44:01 Ayah aku tidak tahu lagi Bang dimana berada aku tidak tahu lagi Bang jadi ayah mau setelah untungan
48:23 Nisa Kuroto Ayun, kelas 4 biologi sebagai Bintarsi. Gibran Willy, kelas 5 bisnis sebagai Maimun. Maulana Syahrim Al-Gifari.