0:00 He. Apalagi Pak Joko ini kan bukan orang sembarang, maksud saya pejabat publik tertinggi, ternyata titiknya hilang. Yang ada kan gitu, Pak. Jadi kalau ini didiamkan terus publik dipaksa tidak gaduh dan percaya begitu saja negara apalagi disuruh diam. [Musik] Halo, ketemu lagi dengan Om Begawan di Ngompol Ngopini Politik. Saat ini kami, saya Om Begawan sedang bersama-sama dengan seorang tokoh muda tokoh yang lagi viral di medsos mainstream dan
0:46 sebagainya. Kayak bintang film aja. kita akan perkenalkan Dr. Rismun Sianipar. Oke, selamat. Terima kasih, Mas. Gimana kabarnya? Sehat-sehat. Baik dong, sehat cukup tidur. Iya, kita bertemu di Kota Solo di tempat tinggal ee kotanya Pak Jokowi dan saat ini Begawan juga mau mengupas tentang hal yang berhubungan dengan Jokowi gitu, Bang. Iya, Pak. Saya mau tanya-tanya ini. Ini perkara geger ijazah palsu Pak Jokowi itu semakin bias korbannya semakin banyak bahkan dari pihak kepolisian juga tidak tegas. Bahkan ada aura ketidakjujuran
1:33 sehingga masalah ini semakin tidak jelas arahnya. Padahal masalah ini kan sangat sepele sekali. Nah, saya mau ee balik ke belakang dulu. Sebenarnya masalah ijazah Joko ini kan bermula dari ee Gus Nur dan Bambang Tri yang saat itu sekitar tahun 2019-2020 itu sudah mulai geger dan banyak dikupas di MEDIA dan sehingga Gus Nur dan Bambang Tri masuk ke penjara selama 4 tahun hanya masalah ingin tahu tentang ijazahnya Pak Jokowi. Iya. beberapa tahun ee tidak ada kabarnya tentang ijazahnya Jogo ini. Nah, tiba-tiba kemarin beberapa bulan
2:19 yang lalu ada sebuah tokoh bahkan ee secara akademisi doktor. Ada dr. Tifa, ada dr. Roy Surya, dan yang terakhir Dr. Rism Sianipar. tiba-tiba muncul untuk mempermasalahkan ee ijazah Pak Joko ini. Ini ceritanya gimana sih? Ee bank respon Sianimparnya tiba-tiba kok ngulik-ulik masalah masalah ijazahnya Pak Ji. Monggo cerita yang sejelasnya supaya masyarakat juga paham dan tahu. Ee latar belakangnya tidak ada murni impulsif, murni tanpa perencanaan, Mas. He. Jadi ee memang saya disclaimer
3:06 dulu bahwa saya pernah baca Jokowi Undercover versi PDF, tetapi saya sebagai pembaca dan ee sebagai peneliti yang suka dengan proof he bahwa harus ada bukti, bahwa ada harus ada kajian, bahwa ee tulisannya Pak Bambang Tri Joko khususnya Jokowi Undercover 1 itu murni investigasi wawancara. Heeh. He. Nah, saya bukan bidang saya di situ. Jadi, saya menempatkan bukunya Pak Bambang Tri sebagai sebuah fiksi dulu. Oh, fiksi ya. Fiksi dulu. Saya 50% percaya, 50% tidak gitu. Kemudian ee tidak menginspirasi atau menginspirasi saya belum apa yakin. Tetapi ee ketika hal itu menjadi apa
3:54 namanya? konsumsi publik, maka kita sebagai peneliti itu ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan publik. Nah, mulailah saya meneliti tahun 2000 tahun 2020 atau 2022 itu. Iya. I iya i ee ada video dari di Fakultas Kehutanan UGM yang ditunjukkan Pak Dr. Sigi Sunarta itu ee ijazahnya tapi fotokopi ijazahnya katanya Pak Jokowi dan skripsinya. He. Nah, di situ saya download terus saya cek ya ee apa namanya? Video itu kan terdiri dari frame demi frame. Nah, terus saya periksa ternyata saya yang menarik perhatian saya ketika diintipkan lembar pengesan skripsi dari Pak Joko
4:40 Widodo yang dipegang oleh Dr. Sigit Sunarta sebagai ee Dekan Fakultas Kehutanan UGM. Nah, di situ ingatan saya kembali ketika saya di UGM dulu di Teknik Elektro UGM tahun 94 ya, alumni UGM juga. UGM juga ya. Jadi saya melihat kakak angkatan saya yang angkatan 89 88 yang sedang menyusun skripsi pun masih mesin ketik manual. Manual. He. Nah, di situ saya dan kami juga memakai hanya limited apa namanya? jumlah komputer yang sangat terbatas yang saat itu didominan dengan dinominasi dengan IBMXT dan AT dan itu pun sudah hebat sekali ya software-nya operating systemnya masih dos what you see is what you get. Apa yang tertampil
5:27 ya itu yang tercetak dengan bergerigi gitu bentuk-bentuk huruf. Nah, tahun 94 saja Heeh. kami saya masih mengalami menyaksikan betapa teknologi hardware dan software itu masih sedang berevolusi ke keadaan sekarang yang sudah cenderung status proses bagaimana mungkin kalau tahun 94 saja versi cetak dari apa yang diproduksi dengan komputer itu masih kelihatan di bergerigi tepi-tepi huruf itu kok bisa teknologi yang jauh lebih canggih ada sudah ada tahun 5 85. Nah, di situlah rasa keinginan tah keingintahuan saya. Akhirnya saya berangkat ya ke Fakultas Kehutanan
6:13 UGM Yogyakarta. Tepatnya di perpustakaan ee Fakultas Kehutanan. Saya berharap saya salah. Saya berharap bahwa apa yang saya analisa adalah produk atau hasil dari ee apa namanya? pencahayaan misalnya ya, distorsi-distorsi pencahayaan. Itu harapan saya. Saya salah. Tetapi apa yang kemudian saya temukan adalah ya saya benar saya pegang skripsi tersebut saya raba juga terus saya perhatikan dengan detail 5 menit aja dikasih ke tugas perpustakaan tersebut ya terus saya fot terus saya analisa kembali ketika saya pulang saya analisa kembali bahwa di situ memang di dalam skripsi itu enggak usah secara forensik ya kasat mata aja heeh secara
6:59 orang yang paham biro birokrasi akademik seperti saya yang sudah 20 tahun menjadi dosen dan pernah menjadi mahasiswa di UGM bahwa tidak mungkin skripsi itu tanpa ada lembar pengesahan terkait dengan dosen penguji ee tanda tangannya kapan dipertahankan dan di situ juga ada kontroversi naman dosen pembimbingnya ternyata Ahmad Sumitro pakai U sementara di lembar pengesahan skripsi atas nama seseorang orang atas nama Joko Widodo itu Prof. Dr. Ir. Ahmad Soitro. Di Su iya Su Mitro. Di situ sendiri sudah menimbulkan kejanggalan dan pertanyaan-pertanyaan publik. Karena bagi mereka yang pernah skripsi tentu sangat janggal. Skripsi
7:46 itu tanpa tanda tangan dosen penguji. Bahkan namanya saja enggak ada. He nama penguji. Di situ sudah pertanyaan publik. Padahal itu ada di perpustakaan. Ada di perpustakaan. He. Dan ketika tanggal 15 April bertemu dengan wakil rektor, dua wakil rektor UGM tanggal 15 April itu bersama dr. Rosur dan dr. Tifa ya, kita tanyakan juga skripsi ini lembar pengesahan skripsi terkait dosen puguji ada enggak? Enggak ada. Dan mereka pun bingung begitu. Jadi kok enggak ada? Nah, mungkin ya mereka enggak paham ya, tidak terkait dengan itu dan tidak terkait dengan manipulasi atau reproduksi dokumen tersebut. Nah, pada saat itu juga ada seseorang bernama
8:32 Saminuddin Baruitou yang hadir juga yang mengatakan bahwa dia rekan alumninya Pak Jokowi itu menunjukkan ini loh skripsi kami dan ini dicetak di percetakan perdana. Kami enggak tahu begitu aja. Jadi secantik itu. Saya tanya kok bisa secantik itu? Padahal Times New Roman juga enggak populer saat itu di era itu di tahun '85 itu di era itu. Terus dia mengatakan, "Ya, kami enggak tahu." Hm. Ya, hasilnya ya cuma seperti itu, gitu. Terus ditunjukkan mereka juga skripsi-skripsi lain ini loh, bahwa percetakan pradana ada pitanya itu. Pita yang membatasi halaman itu dan itu masih sangat cantik pita tersebut untuk ukuran 40 tahun. Nah, setelah itu ada seseorang
9:17 yang mengirimi video untuk meyakinkan saya, video dari skripsi-skripsi lain dan isinya memang sangat modern lembar pengesahan skripsinya pakai seni roman dan itu kosong kosong kosong tanpa tanda tangan pembimbing. Iya, apalagi stampel penguji apalagi stempel kosong Pak. Bayangkan enggak mungkin UGM seceroboh itu dalam hal birokrasi atau ee apa namanya ketelitian administrasi akademik itu enggak mungkin. Karena saya ngalami sendiri betapa salah titik saja profesor kita atau dosen kita enggak mau tanda tangan. Bukan kita enggak ditunjukkan salahnya. Anda mahasiswa enggak. Heeh. Di cost sampai di K baru kita cari apa yang salah. Enggak ditunjukin kesalahannya.
10:02 Enggak tunjuk. Anda mahasiswa. Iya, Pak. Ulangi. Hm. kan gaya Jawa, Pak. Ya, padahal waktu itu sedemikian sulitnya ya untuk menyusun skripsi waktu itu. Sedemikian sulitnya untuk menyusun skripsi, minta tanda tangan pun Anda harus cermat. Iya, betul. Betul. Saya balik lagi keos, apa yang salah ini kok disuruh ulangi. Ternyata titiknya hilang. Profesor misalnya titik, doktor tanpa titik. Iya. Itu saja disuruh ulang apalagi su dengan soe i nama. Nah, di situlah kejanggalan-kejanggalan. Terus saya periksa juga dengan software saya bahwa oh ini rata tengah sempurna, tepi-tepinya sangat sempurna. Di situ
10:48 menggunakan apa yang dinamakan string adjustment sehingga sempurna, Pak. Ee parata tengah tersebut. Terus tepi-tepinya itu sudah menggunakan lengkungan dengan algoritma. Jadi inilah makanya sampai saat ini UGM pun tertutup. Itu yang sangat disayangkan. Kalau memang terbuka ya ee sebarkan kepada publik bahwa saat itu memang begitu. He he. Rekonstruksi bersama percayaan perdana tersebut tapi sampai sekarang juga masih tertutup. Karena memang ee satu kita dapati sebuah skripsi lembar pengesahannya tahun 1985 atas nama Budi Darmito ternyata masih mesin ketik. Heeh. Mesin ketik brother atau yang lainnya. Dan di situ tidak ada watermch kuning polos. Sementara punya
11:35 Pak Joko Widodo sudah terbaru UGM sebagai watermx itu warna kuning. Iya. Ada ada apa ya namanya tuh? Bagaimana Dir TPD menjelaskan itu motor Max Kuning logo UGM itu sudah ada tahun 1985 tidak dijelaskan dan mungkin tidak bisa dijelaskan gitu, Mas. Iya. Iya. Ya. Jadi ketika Dr. Rismon menemukan kejangalan-kejangalan tentang ee proses atau mungkin di skripsi Pak Jokowi atau bahkan ijazah Pak Jokowi, konfirmasi pertama yang Dr. ungkapkan ke mana ini? Ke publik atau ada salah satu lembaga yang ee enggak langsung ke publik? Karena saya sebagai peneliti ya apalagi Pak Joko ini kan bukan orang sembarang,
12:21 maksud saya pejabat publik tertinggi. Iya, benar. periode 10 tahun ya seharusnya wajar untuk dikuliti, wajar untuk dipertanyakan publik, wajar untuk dikaji, wajar untuk diteliti karena beliau adalah presiden kita. He 10 tahun dua periode. Maksud saya dengan memberikan itu ke publik terjadi diskusi ilmiah. Bukan berujung laporan polisi, Pak. Diskusi ilmiah bahwa UGM juga bertanggung jawab untuk membuka akses kepada publik di ETD mereka. He eh apa thesis andation itu secara online. Apakah memang zaman itu banyak yang seperti itu atau cuma Pak Joko Widodo sendiri? Oh kalau punya Pak Joko Widodo sendiri bisa enggak dijawab mengapa itu
13:07 sangat modern dan jauh melampaui melampaui ininya zamannya dan sampai sekarang tidak ada jawaban itu tidak ada jawaban dan bahkan dari Dir Tippidum itu pun tidak tidak memberikan jawaban sama sekali. [Musik]