Bisnis Bisa Mati di Krisis Ekonomi 2025‼️James Gwee Kuliti Kesalahan Sales yang Bikin Brand Hancur

kasisolusi www.youtube.com

Ringkasan Singkat

Video ini membahas tentang tantangan yang dihadapi oleh pekerja usia 40-an dan 50-an yang terkena PHK, pentingnya kepemimpinan yang visioner, dan peluang di era digital saat ini. Coach James G menekankan bahwa zaman sekarang adalah waktu yang tepat untuk mendapatkan penghasilan tanpa modal besar, asalkan memiliki pola pikir dan keterampilan yang tepat. Selain itu, video ini juga menyoroti pentingnya pelatihan yang efektif untuk SPG (Sales Promotion Girl) dan perbedaan antara manajer dan pemimpin.

  • Pekerja usia 40-an dan 50-an yang di-PHK menghadapi tantangan besar karena kurangnya keterampilan dan pola pikir wirausaha.
  • Kepemimpinan yang visioner sangat penting untuk mengantisipasi perubahan dan mempersiapkan tim untuk masa depan.
  • Era digital menawarkan banyak peluang untuk mendapatkan penghasilan tanpa modal besar, asalkan memiliki pola pikir dan keterampilan yang tepat.
  • Pelatihan yang efektif untuk SPG dapat meningkatkan kinerja mereka dan memberikan dampak positif bagi perusahaan.
  • Perbedaan utama antara manajer dan pemimpin adalah fokus mereka: manajer fokus pada pengelolaan sumber daya untuk mencapai target saat ini, sedangkan pemimpin fokus pada persiapan untuk masa depan.

Pembukaan

Coach James G hadir untuk membahas kondisi ekonomi yang menyebabkan PHK massal, terutama di kalangan pekerja berusia 40-an dan 50-an. Pekerja yang lebih tua seringkali kesulitan beradaptasi dengan perubahan dan tidak memiliki pola pikir wirausaha, berbeda dengan generasi muda yang lebih mudah beralih ke pekerjaan seperti tiktoker atau affiliator. Coach James G menekankan bahwa generasi yang lebih tua ini cenderung menderita dalam diam dan tidak bersuara di media sosial.

Tanggung Jawab Perusahaan Saat PHK

Coach James G menyatakan bahwa perusahaan yang akan melakukan PHK memiliki kewajiban moral dan hukum untuk membimbing karyawan yang terkena dampak setidaknya tiga bulan sebelumnya. Bimbingan ini bertujuan untuk memberikan keterampilan baru kepada karyawan agar mereka dapat memulai usaha sendiri setelah di-PHK. Keputusan PHK tidak pernah baik, tetapi jika pemimpin tidak mengantisipasi situasi bisnis yang memburuk, mereka bukanlah pemimpin sejati.

Industri dan Tren Pasar

Coach James G menjelaskan bahwa semua industri terkena dampak penurunan ekonomi. Dia mencontohkan industri rokok yang mengalami penurunan karena adanya vape sebagai alternatif. Perusahaan harus membaca tren pasar dan beradaptasi, misalnya dengan beralih ke produk vape atau mengakuisisi perusahaan vape. Coach James G juga menekankan bahwa saat ini banyak orang yang menyadari potensi penjualan atau makelar, yang telah ada sejak lama tetapi dengan nama yang berbeda-beda.

Peluang di Era Digital

Coach James G menyatakan bahwa zaman sekarang adalah waktu terbaik untuk mendapatkan penghasilan tanpa modal besar. Dulu, memulai usaha membutuhkan kantor, biaya pendaftaran perusahaan, dan biaya iklan yang mahal. Sekarang, dengan adanya media sosial dan marketplace, orang dapat berjualan tanpa modal besar dan menjangkau pasar yang luas. Kuncinya adalah memiliki pola pikir dan keterampilan yang tepat untuk memanfaatkan teknologi.

Mindset dan Keterampilan yang Dibutuhkan

Coach James G menekankan bahwa kendala utama bagi orang-orang yang terkena PHK adalah pola pikir dan kurangnya keterampilan. Banyak dari mereka yang tidak memiliki akun TikTok atau merasa gengsi untuk berjualan. Padahal, zaman sekarang berjualan tidak harus tatap muka, tetapi bisa dilakukan secara online dengan jangkauan yang lebih luas. Coach James G menawarkan solusi berupa buku dan pelatihan public speaking untuk membantu mereka meningkatkan kepercayaan diri dan keterampilan penjualan.

Nge-Cake dan Obrolan Santai

Sesi ini membahas tentang cara menjual dengan pendekatan emosional, menggunakan contoh kue dari Dapur Cokelat. Coach James G menyarankan untuk mengirim kue kepada teman atau orang yang berjasa sebagai ucapan terima kasih. Pendekatan ini lebih efektif daripada hanya fokus pada produk itu sendiri. Dia juga menjelaskan pentingnya memberikan sugesti kepada pelanggan untuk membeli lebih banyak, misalnya dengan meminta mereka mengirim kue kepada lima orang.

Meminta Referensi dengan Efektif

Coach James G memberikan tips tentang cara meminta referensi yang efektif. Alih-alih meminta kenalan secara umum, lebih baik memberikan pertanyaan yang spesifik, seperti "Siapa yang Anda kenal yang suka makan cokelat?" atau "Siapa yang Anda kenal yang bisa mengapresiasi kualitas kue seperti Dapur Cokelat?". Dengan memberikan pertanyaan yang lebih terarah, orang akan lebih mudah memberikan referensi yang relevan.

Evaluasi SPG dan Pelatihan yang Efektif

Coach James G mengkritik beberapa SPG yang kurang profesional dalam menawarkan produk. Dia menekankan pentingnya memberikan pelatihan yang efektif kepada SPG, misalnya dengan membuat video tentang "do and don'ts" dalam menawarkan produk. Dengan teknologi yang ada, pelatihan dapat dilakukan secara online dan gratis, sehingga dapat menjangkau banyak SPG dengan biaya yang lebih murah.

Top Gun Leadership Bootcamp

Coach James G mengajak para pemimpin perusahaan untuk mengikuti Top Gun Leadership Bootcamp, sebuah pelatihan offline selama dua hari satu malam. Pelatihan ini bertujuan untuk membantu para pemimpin memahami perbedaan antara manajer dan pemimpin, serta mempersiapkan tim untuk menghadapi tantangan di masa depan. Dia juga memberikan contoh bagaimana seorang peserta pelatihan berhasil meningkatkan omset bisnisnya setelah mengikuti Top Gun.

Perbedaan Manajer dan Pemimpin

Coach James G menjelaskan perbedaan utama antara manajer dan pemimpin. Manajer fokus pada pengelolaan sumber daya untuk mencapai target saat ini, sedangkan pemimpin fokus pada persiapan untuk masa depan. Pemimpin harus memikirkan bagaimana tren pasar akan berubah dan bagaimana tim harus beradaptasi agar tetap relevan. Dia juga menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam bisnis keluarga sejak dini agar mereka memiliki passion dan visi untuk mengembangkan usaha tersebut.

Melibatkan Anak dalam Bisnis Keluarga

Coach James G menceritakan pengalamannya bertemu dengan seorang pengusaha sukses yang berhasil melibatkan anak-anaknya dalam bisnis keluarga. Pengusaha tersebut mengajak anak-anaknya untuk ikut rapat bisnis sejak kecil, sehingga mereka memahami tantangan dan peluang yang ada. Dengan demikian, anak-anak tersebut memilih jurusan kuliah yang relevan dengan bisnis keluarga dan memiliki passion untuk mengembangkannya.

Penutup

Coach James G menutup obrolan dengan menekankan bahwa pengalamannya dalam menangani masalah perusahaan lain telah memberikan banyak pelajaran berharga. Dia berharap pelatihan yang diberikannya dapat membantu para pemimpin mengubah mindset dan menata perusahaan mereka dengan lebih baik.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 Ada yang cuma kita nanya, "Kak, aku lagi mau nyari air mineral lorong sebelah mana ya?" gitu kan. Oh, iya seingatku sebelah sana ya. Kayak kakak gak mau coba nih, Kak. Ya, sampai dia nawarin ya berarti semangatnya ada ya. Iya. Oke, apresiasi. Nah, itu itu paling kasihan kan semangatnya ada tapi skill-nya enggak ada. Kita kasih solusi. Coach James G hadir lagi. Saya menghadirkan Anda ke sini. Kenapa? Karena kondisi ekonomi kita terutama pengusaha-pengusaha ya pemilik brand itu banyak PHK massal dan akhirnya kena korban itu belakangan yang di Unilever kalau enggak salah umur-umur yang usianya sudah mendekati pensiun ya. Iya. Iya. 40 50 enggak sih? Enggak ya. 40-an 50-an. Eh bukan Unilever ya? Gudang Garam ya? Gudang garam. Kalau Unilever tuh. Oh yang turun. Sor sori sor. Jadi Unilever itu datanya turun.

0:46 Yes. Ya. Eh labanya kan 12,6%. Uh tinggi juga ya. Tunggu tinggi signifikan banget ini. Ini nyampai 1 triliun kali ya kalau dilihat dari laporannya dia ya. Iya. Nah, kalau yang gudang garam baru gudang garam baru PHK. PHK massal yang umurnya segitu ya. Tapi kenapa yang di PHK itu bukan yang muda-muda? Karena masih ada harapan buat yang muda-muda untuk diajak ngebut untuk di era sekarang mungkin ya. Kalaupun yang muda-muda di PHK, walaupun di PHK enggak pernah sesuatu yang menyenangkan ya. Ya. Oke. Tapi kalau yang muda-mudah ph seperti tadi saya bilang, mereka relatif lebih adapit ya dan mereka bisa switching, switch misalnya ee jadi tiktoker, affiliator kan dunia seperti itu relatively ee familiar lah buat anak muda ya. Dia paling perlu belajar skill-skill yang

1:32 baru kan ya. Oke. Iya. Tapi kalau usia 40-an, 50-an di mana dia sudah hampir seumur hidupnya kerja loh sebagai karyawan. Iya. Iya. enggak punya pola pikir mindset untuk jadi entrepreneur. Ya, UMKM pun belum belum berani. Maka dia kerja berpuluhan tahun kan belum enggak berani jadi UMKM lah. Ya, karena sudah nyaman ya dan dia rasa dia enggak punya capability atau enggak punya modal, enggak berani ambil resiko. Banyak faktorlah ya. Jadi lebih nyaman jadi karyawan, lebih stabil kan. Nah, sekarang tiba-tiba out dia enggak punya mindset, dia enggak punya skill, dia enggak kebayang, dia enggak tahu dunia TikTok seperti apa. E jangan bilang

2:20 kalau e buru pabrik ya, saya bawa training untuk karyawan kantor aja ya ee yang usianya 48 sampai 55. Oke. 70 sampai 80% enggak punya TikTok loh di handphone. Oh iya ya. Yang ada Facebook. Yang you and I don't even touch Facebook anymore. Mereka bangga punya Facebook. Oh. Instagram ada tapi enggak terlalu aktif. TikTok enggak ada. Buat staling doang event enggak juga gitu. Dan sebagian dari mereka jangan kaget eh enggak belanja di marketplace. Terus kalaupun dia mau belanja, anaknya yang belanjain. Wah. So, they are not familiar with this digital world.

3:06 Hm. Nah, bayangkan orang-orang seusia itu yang not adaptable, enggak nyaman di dunia digital. Hm. Enggak punya mindset wirausaha. Iya. Tulang punggung keluarga. Oke. Anaknya pas lagi sekolah tinggi-tinggi, biayanya lagi tinggi-tinggi, satu SMA, satu masuk perguruan tinggi, tiba-tiba enggak ada pendapatan. Wah, mau cari duit dari mana nih? Itu yang paling berat. Jadi saya e jadi relatively saya enggak terlalu khawatir kalau usia 25, 35 lagi ee terpkena mereka relative adaptable. Yang saya concern ini oke dan ini adalah generasi yang tidak berisik. Hm.

3:52 Dia enggak di sosm teriak-teriak. Iya, dia suffer in silence. Oke. Oh, justru kalau ini didongkrak jadi enggak noise ya negara ini ya? Iya. Engak karena mungkin oknum-oknum ya kita ngomong oknum genzy yang memang relatifnya mereka kan sangat produktif sekali di jempolnya tuh kan. Iya. Mereka per di jempol ya dikit-dikit teriak kan. Iya kan? Teriak komen apa segala macamnya itu kan bikin akhirnya keberlangsungan negara tuh kayak khawatirnya pengiring opini jadi enggak cinta sama negara. Iya, mungkin dengan statementnya khawatirnya begitu si Oknum ini. Tapi sementara kalau yang silent yang sebetulnya mereka tuh kalau dibina dengan baik gitu ya itu e tapi gini kalau Genzinya dibina gimana biar juga mereka enggak noise kan bisa aja kan Genzy dibina ya sebenarnya semua harus

4:37 dibina. Nah jadi sekarang kita kembali ke yang tadi itu yang yang yang di PHK ya. Oke, oke, oke. Ee kalau sudah dipk atau mau di PHK kan rencana mPHK kan tidak terjadi langsung mendadak hari ini rapat besok lepas 3.000 orang kan enggak mungkin kayaknya sudah ada wacana berapa bulan sebelumnya kannya hitung-hitung angkanya enggak masuk nih ada wacana. Nah, kalau kita akan mempehk-kan satu perusahaan ya memphakik ada satu tindakan moral atau ada satu kewajiban dari hukumnya I bahwaoke orang yang mau di PHK 3 bulan sebelumnya harus dibimbing supaya dia ada satu skill.

5:24 Hmm. Supaya begitu menjelang PHK dia sudah mulai usahanya. Entah catering lah, masakanlah, warunglah. H iya whatever lah ya. Kue-kue kayak itu sudah dibimbing 1 2 bulan sebelum di PHK. Yang bimbing siapa? Perusahaan yang mau PHK dia punya kewajiban bimbing dia. Lah wajib katakan kalau saya aturan seperti itu. Why not? Oke. Dan ini salah leadernya atau seperti apa? Atau mungkin ini adalah satu tindakan leader yang oke banget, bagus banget. Karena daripada entar akhirnya mudarat lebih besar, makanya harus diefisiensi daripada mungkin melibatkan semua perusahaan, akhirnya malah jadinya semua karyawan terdampak gitu kan. Berarti kan ini kan keputusan

6:11 yang baik atau tidak baik nih dari leader si yang yang keputusan PHK? Bos. Iya. Keputusan PHK enggak pernah baik sih ya. Oke. Keputusan PHK enggak pernah baik. Eh, tapi kalau kita lihat, kita bahas tentang leader ya, bisnis dan leader ya, ee sampai terjadi harus PHK berarti sudah jadi satu kondisi bisnis di mana secara finansial enggak bisa support lagi. Hm. Ya, sehingga mau tidak mau harus PHK. Oke. Dan ini kan sekali lagi tidak terjadi secara mendadakkan ya. H dari 2 tahun yang lalu sudah kita bisa lihat trennya. katakan h trennya ini menurun nih. Menurun nih menurun ya bisa jadi jangan bilang ekonomi lagi sepi, ekonomi lagi bagus

6:57 pun bisa jadi produk kita lagi sepi. Betul. Iya ya. Ini trennya sudah kelihatan nih. Turun terus turun terus apapun kita lakukan enggak naik-naik nih. Oke. Nah, kalau trennya sudah kelihatan as a leader what are you doing? Namanya leader kan lihat ke depan. Oke. Ke depan ini skenarionya seperti apa? ke depan ekonomi seperti apa, ke depan demografik seperti apa, ke depan market demand seperti apa, ke depan teknologi kita seperti apa, ke depan orang kita seperti apa, produk kita seperti apa, sistem kita seperti apa. Kan ke depan kurang lebih bisa lihat dong. Iya. Iya. Nah, kalau sampai terjadi 2 tahun yang lalu sudah ada tanda-tanda tapi you didn't do anything about it or you didn't do anything ball about it. And 2

7:43 tahun kemudian baru unjlock sampai Tiara sampai enggak ketolong. Oh, kenapa? itu leadership-nya di mana sih? Ud mulai tajam nih. Ini baru nih, Coach James Gue ini. Jadi kalau kalau ngomong kasar lah walaupun di dunia nyata enggak semudah itu. Kalau ngomong kasar kalau as leader you did not anticipate this situation. Heeh. Then you are not a leader, right? Wah a leader always looks ahead, right? A leader always looks ahead. It bedanya antara leader dan manager, kan? Manajer mengelola setiap hari pagi pagi siang malam mengelola supaya capai target itu manajer mengelola tapi leader kan lihat ke depan future. Iya lihat ke future. Hari ini capai target

8:30 tapi untuk capai target gua sudah harus peres sampai setengah mati baru capai target. Tapi kalau terus-terusan begini, semakin hari semakin susah loh. Semakin hari semakin sulit loh. Ya udah enggak apa-apalah cambuk aja deh. Itu kan bukan leader. Oke. Itu kan tukang peres. Leader kan lihat ke depan supaya dengan kondisi kayak gini yang bakalan terjadi, apa yang saya harus lakukan sekarang sambil capai target, mengelola capai target. Tapi saya harus siapkan supaya ketika kondisi itu terjadi, kami jauh lebih unggul daripada orang lain kan. E ah itu baru leader dong. Oke. Ngomong sih gampang, praktik sih susah. Tapi itulah leadership kan. Iya. Iya. Tapi industri ngaruh enggak,

9:17 Coach? Misalnya contoh kayak misalnya rokok tadi kan gudang garam gitu. Ini diberita ya. Oke. Iya. karena memang mungkin udah pada pindah ke elektrik misalnya apa segala macamnya atau ya FMCG yang dimaksud adalah eh Unilever juga FMCG ya, tapi maksudnya kalau misalnya industri yang kebutuhan dasar kalau makanan apa segala macamnya itu justru malah enggak kena atau seperti apa sih di era ekonomi sekarang ini? Ee kalau sudah kondisi seperti ini semua kena sih. Semua kena. Semua kena sih. Karena the entire indeks turun kan. Oh iya ya. Jadi bukan luxury goods aja kan ya. semua kena ya. Jadi sampai ke grass root ya, akar rumput pun kena ya. Oke. Jadi kalau misalnya kayak kayak kayak rokok h

10:02 kan sudah kebaca trennya. H ya the trend of cigarettes eh it looks like it's going down ya atau has gone down eh karena ada vape ya as an alternative ya. Dan anak muda sekarang kalau kita lihat dari 10 anak muda yang vap jauh lebih banyak daripada yang merokok kan. E itu kan sudah satu indikasi indikator. Oke ya. So trennya ke sana. Jadi apakah perusahaan ini tetap mau mempertahankan tradisi kita rokok aja nothing else? Atau kalau kita baca trend vap kita harus switching ke vap atau mengakuisisi perusahaan vap. H right ya. Tapi banyak consideration lah. Banyak consideration ya. Ada yang ada yang eh business consideration ada yang

10:48 ethical consideration. Betul kan? Ya. Jadi, e tapi ee gudang Garam memphkkan karyawan karena Gudang Garam sendiri secret division. Hm. Secret division yang mungkin sulit, tapi mungkin perusahaannya sudah diversifikasi kan. Heeh. Ke yang lain-lain kan. Dan yang lain-lain itu growth. Bisa. Iya. He yang lain-lain itu bisa jadi growth gitu loh. Oke. Dan makanya kalau dengan kondisi seperti ini sebenarnya buat yang terdampak ya kayak misalnya si pekerjanya kena PHK apa segala macam di era sekarang nyadar enggak Coach? Anda kan juga ee sering dibilang pakar sales lah ya jualan apa segala macam ya di TikTok di mana-mana lah Anda udah ah FP di mana- jualan pokoknya brandingnya jualan. Iya. Nah, dari sini kita melihat bahwa

11:34 belakangan ini ada lagi naik tren. Sebenarnya dari dulu, dari 1400 tahun lalu sebetulnya ya sampai sekarang cuma namanya berubah-berubah aja biar kelihatan keren aja. Oke. Yaitu satu kata sales atau makelar. Oke. Sales. Tiba-tiba berjalannya waktu sales berubahlah se jadi apa? Ee era waktu zaman-zaman MLM misalnya. Oke ya. Okelah. Habis itu jadi agregator. Oke. Jadi afiliator. Iya. Dropshipper. Iya. Juster. Yes. Pakai gaya-gayaan agregator. Gojek agregator. Shopee agregator. Makelar ya kan dia enggak punya motor ya kan?

12:20 Kan enggak punya mall, enggak punya toko ibaratnya gitu ya. Shopee makelar juga, sales juga. Nah, iya belum lagi sekarang eranya produk digital atau digital produk jualan ebook, jualan ini apa segala macam di link.id tuh kan. Tapi ujung ujungnya akhirnya sebenarnya sales. Sales berarti kalau teman-teman yang kedampak masalah PHK apa segala macamnya sebenarnya mungkin salah satu cara adalah yang minim resiko tapi impactnya tinggi kali ya. Karena kita enggak produksi masalahnya kita tuh enggak bikin barang jadi enggak berat. Makanya mereka kalau bisa langsung masuk ke dunia sales gitu ngejualin sesuatu. Tapi masalahnya mereka enggak punya ilmu kalau mereka baca buku ini. Oh jelas ya. Speak with confidence ya. Ini James GUI langsung nih ya. Nanti sebenarnya ada sesi khusus aja kita bahas ini ya.

13:07 Public speaking belakangnya juga ramai tuh ya pejabat-pejabat kita public speakingnya seperti apa. Kalau mereka belajar atau punya ilmu ini atau punya ilmu sales itu sendiri untuk cara cepat closingnya mereka aman. Nah kondisi sekarang mereka nih kan enggak ada basic mindsetnya aja pokoknya kerja sampai mati. Heeh. Heeh. I oke. Aduh. Ya, sekarang kita bahas ya. Nih ser nih. Kayaknya panas banget. Boleh enggak sambil kita nge-kake aja zaman sekarang tuh harusnya kita ngobrol sambil Oh, ada istilah nge-kake ya. Nge-kake genzy sekarang tuh ada dong. Ini ini nge-kake ya. Ngesnack ya? Nge-esnack ngesnack ya. Istilah-istilah sekarang unik-unik nih, Coach. Nah, ini obrolan berat biasanya kan diringankan dengan sesuatu yang sebenarnya saya harus mengurangi makan cake sih. Uh,

13:53 tapi cake ini ya secara visual aja mengundang banget ini. Tergoda juga sama dapur coklat. Jangan main-main Anda sama dapur coklat. Masalahnya dapur coklat ya. Dapur coklat dari dulu. Wah, ini udah cabangnya berapa ya? Udah 24 tahun kalau enggak salah. Ratusan cabang ya kalau enggak salah ya. Nah, nih enak ini enggak terlalu manis loh. Iya, itu makanya makanya anak-anak sekarang kan sebetulnya sudah tahu edukasi mengenai tahulah ya penyakit ini, penyakit ini diabet apa segala macamnya. Tapi konsistensinya dapur coklat ini tetap ngejagain kondisi tubuh kita si pelanggan itu sendiri. 100 outlet 24 tahun dapur coklat coach. 24 tahun ada 24 tahun ini cabangnya di mana-mana. Bahkan lebih kerennya lagi dia punya delivery point di Jabur Tabek ya. Ada Jawa Tengah, Jawa Timur, Medan, Bali,

14:38 Pekanbaru, Makassar. Lengkap nih dapur coklat dari dulu dari kita muda ya. Kalau di rumah saya kadang-kadang kami dikirim kue Heeh. cake dan sebagainya. Heeh. Maaf nih kadang-kadang di rumah kan enggak terlalu banyak makan cake ya. Iya. Karena like you jaga kesehatan. Iya. Jadi cake itu kadang-kadang kami bagi ke teman. Oke. Oke. Tapi kalau terima dapur coklat itu enggak bakalan kasih orang lain. Mantap. Emang dapur coklat loh. Iyalah benar. Iya kan? Maaf ya, kalau memang misalnya adalah terkait masalah gulanya yang wah yang enggak karu-karuan, enggak tahu dari mana gitu ya, buatan apa segala macam ya, mendingan suusa ini kita kasih aja ya kan. Tapi kalau misalnya memang untuk menjaga dari memperhatikan kondisi tubuh si konsumennya, mendingan kita simpan buat gitu.

15:24 Simpan. Ee jadi kalau kualitas seperti ini, Hm. enggak perlu makan banyak pun sudah cukup kan. Iya, karena kualitasnya. Iya. Jadi kalau saya makan enggak sepotong segede gini. Heeh. Paling satu du sendok lagi udah cukup, tapi kualitasnya udah dapat. Iya, betul. Karena emangnya coklat-cokelat beneran karena karena bukan kuantitas, kualitas. Nah, kualitas cukup mantap ya. Mantap. Wah, mantap nih. Bismillah. Hm. Apagi sama kopi hitam pas temannya memang kopi hitam ya. Nah, maksud saya kenapa saya ngajak ngobrol dengan kondisi plus Heeh. ngambilin sambil dapur coklat karena biar bisa menghangatkan suasana karena bentar lagi akan panas nih obrolannya nih. Wah, udah panas. Wah, panas nih. Karena karena tadi sudah dipancing.

16:09 Heeh. Sudah saya pancing tuh. Kita lanjut ya. Heeh. Ini untuk nurunin hormon-hormon jahat keluar dari kocak. Iya. Karena orang bilang kalau makan coklat jadi tenang. Coklat ada koko ada unsur penenang. Ah, koko ada unsur pemenang. Cocok ya ber ya dapur coklat. Kalau teman-teman misalnya pengin sama kayak kita nih sambil ngobrol urusan-urusan penting apa segala macamnya, cek aja informasi di bawah tuh sosial media coklat gimana. Maka coklat itu sebagai satu comfort food kan. Ah penenang. Oke. Yuk penenang ya. Oke. Kalau kita bicara tentang tadi itu menurut saya secara pribadi zaman sekarang adalah zaman yang paling enak untuk seseorang dapat pendapatan tanpa bermodal tanpa harus punya modal modal duit. Ya. Yes yes yes.

16:54 Jangan bilang zaman dulu lah ya. Waktu saya baru mulai, kita mau buka usaha supaya kelihatan presentable harus punya kantor. Iya. Ini jasa loh ini. Ini jasa ke mana-mana seminar tapi kartu namanya harus ada kantor. Betul. Heeh. Ya, baru kelihatan bonafit. Heeh. Oke. So, harus ada kantor dan kalau alamatnya di gang mana langsung kredibilitasnya diragukan. Iya. Iya. Maka harus punya tempat usaha yang alamatnya relatif keren. Iya. Dan tempat usaha mau kantor atau toko yang e alamatnya relatif keren, sewanya lumayan. Iya, betul. Dan saya dari Singapore datang kaget waktu itu mau sewa ruko

17:41 h 2 tahun di depan. Enggak ada cerita bayar cicilan ruko per bulan. Kalau di Singapore kita sewanya bulanan loh. Oh, sini kontrak 2 tahun. Wah, cash flow lumayan juga tuh ya. Ih, kalau enggak ada duit enggak bisa mulai tuh. Iya. Oke. Belum pun usaha loh. Terus harus daftar nama perusahaan. Iya. Ya, itu ada biaya pendaftaran lagi. Oke. He. Kita produksi. Produksi punya harus punya tempat produksi harus punya capability untuk memproduksi. apalah kue, cake atau whatever gitu ya. Harus ada dapurnya, ada capability-nya. H terus mau iklan zaman dulu mana ada sosm. Hm. Mau iklan harus cetak selembaran. Betul kan?

18:26 Brosur. Iya, betul. Brosur bagi-bagi. Nah, mau cetak berapa ribu brosur? Mau bagi seluas mana? Seluas-luasnya radius 10 kilo. Iya, betul. Heeh. Jadi maket di lebih dari itu kan enggak terjangkau. Mau jangkau maket yang jauh lebih luas, pasang iklan. Iya. Iklan kan enggak murah. Oh iya ya. Iklan koran ada iklan kolom atau iklan baris. Heeh. Iklan kolom mahal, iklan baris kelihatan murah. Oke. Murahan. Betul kan? Iya. Iya. You mau pasang di majalah, majalah duit, mau pasang di radio duit. Mau pasang di TV duit. Kalau enggak ada budget iklan. Siapa yang tahu? Iya. Sekarang ya buka usaha. Perlu tempat enggak? Perlu ini

19:13 tempatnya. Iya. Oke. Ee perlu produk enggak perlu. Ini pun saya bisa bantu jual. Iya. Iya. Saya enggak perlu ada dapur. Betul ya. Oke. Perlu iklan saya pasang di sosmet, saya pasang di IG, saya pasang di YouTube, saya kasih video YouTube. Gratis semua. Heeh. Jangkauan tak terhingga. Saya bisa terima order dari Makassar misalnya, He. Ongkir ya bayarnya sendiri dan sebagainya kan. Atau saya bisa titip di marketplace zero modal man. Ah dan serentak saya bisa jual 15 produk yang berbeda-beda. Bisa enggak? Bisa no problem. Saya bisa jual ini, saya bisa jual termosnya, saya bisa jual

20:00 handuk, saya bisa jual sepatu, saya bisa aja vel mobil. Enggak ada hubungan satu dengan lain pun saya bisa jual. Oke. Susahnya di mana ya? Oke. Nah, jadi kebuka ya mindsetnya ya. Susahnya di mana ya? Susahnya adalah pola pikirnya. Itu dia. Oh, itu ternyata ya enggak punya modal financial tapi you are right. Perlu modal mindset dan perlu modal keterampilan. Oh, karena kita pasang iklan kita di di di Instagram, di TikTok, di marketplace kan ada metodenya, ada algoritmya. Betul ya? Nah, itu yang harus kita pelajari. Hm. Tapi itu ilmu, enggak usah keluar duit

20:46 dan enggak ada resiko. Enggak ada cerita stoknya gua beli 300 kotak dulu. Oh, enggak enggak enggak, enggak ada. Ad laku baru saya pesan. Ah, iya betul. Iya kan? Iya. Atau bahkan sekarang di keranjang kuningnya TikTok itu sendiri itu mereka yang packingin. Misalnya dapur coklat nih, saya live nih atau mungkin bikin konten. Kalau teman-teman misalnya mau cobain juga nih buat teman meeting apa segala macamnya ya kan tadi kan kita gigit aja udah keempukannya dahsyat banget tuh ya. Ya udah terkenal lah dapur coklat. Habis itu langsung nih yuk klik aja di bawah gitu langsung dapur coklatnya stornya yang yang nge-packingin dia ngirimin. Jadi enggak perlu kan ada apa konsinasi ya kalau laku baru beli salesnya kanvasing ke warung-warung ke toko-toko gitu kan obatlah vitamin lah ini enggak langsung bisa begitu. Nah, cuma memang kendalanya

21:33 orang-orang yang kena PHK apa segala macam yang kita pelajari mereka enggak tahu nih ini berjalan di balik tameng kepalsuan nih kayaknya nih bilangnya susah aku gaptek. Padahal sementara dia sendiri mindsetnya aja enggak paham kali ya. Iya enggak paham karena seperti tadi saya bilang, maaf nih sebagian orang kan TikTok aja enggak punya di handphone. Jadi ee apa ya? Gengsi kali. Gengsi pikirannya enggak ke sana. Gengsi juga enggak mungkin ada gengsi juga ya. Mungkin dulu dia manajer di perusahaan, tiba-tiba di PHK suruh dia jual roti kan enggak enak juga ya. Gengsi ya, gengsi ya. Iya. Ada ilmunya enggak sebenarnya? Jadi apakah semua orang itu pasti bisa punya ilmu sales atau jadi sales? Bisa sih zaman sekarang karena zaman sekarang bukan seperti zaman dulu. Sales itu harus face to face loh. Dulu kan face to face, saya harus nawarin, saya harus hadapi sikap Anda, saya Anda

22:19 enggak suka dan sebagainya. Ya, saya harus meyakinkan, memujuk karena kalau tidak saya keluar dengan tangan kosong. Betul kan? Dan ses sesi ini setengah jam. Masa gua ngomong sampai setengah jam datang sini tunggu setengah jam 1 jam kemudian tangan kosong kan mahal buat saya. Tapi sekarang online gua cop-cop aja. 30 menit 300 orang nonton dari 300 orang 5 beli kan lumayan juga. Heeh. Dan saya enggak perlu hadapi sikap kan. Sikap lawan bicara saya, sikap audiens saya. Saya enggak perlu mau beli syukur enggak mau beli enggak apa-apa kalau kau sini enggak mau beli gua pulang tangan kosong di omelion atasan kan. Uh. Oh. Karena ada budget transportasi ada ada target yang harus apa

23:04 justru ini bebannya lebih tinggi loh. Oke. Ini bebannya jauh lebih ringan loh. Kita praktik aja gimana? Tipis-tipis aja enggak usah seru-seri banget Coach. biar nyaran sebenarnya tadi tadi kita ngomong gini asal keragan kuning udah laku sih iya benar lu tahu enggak nih buat orang-orang yang tertentu aja gua tahu kayaknya insyaallah lu pasti langsung beli boleh kita baca dikit-dikit ya tadi coach James sebetulnya kalau yang mungkin di industri mirip-mirip kayak kita gini ini saya sudah melihat bahwa enggak apa-apa dibocorin ya udah mau beli jadi enggak jadi beliin lagi gara-gara dibocorin ya K tadi dia bilang bahwa coklat itu menenangkan itu kan masuk tuh sebetulnya kan terus orang datang datang. Biasanya kalau gua enggak cocok sama tuh coklat, mungkin bahan-bahan yang terlalu banyak buatan

23:50 apa segala macamnya kita enggak kenal atau mungkin kimianya apa enggak jelas biasanya mungkin kita kasih orang. Tapi kalau dapur coklat mah enggak gua bagi kat. Iya gua ngak bagi itu value-nya mahal banget itu. Bisa loh gua bocorin lagi. Enggak lu beli-beli aja enggak usah jadi tiba-tiba enggak jadi beli gara-gara udah ketahuan. Jadi ya coba gimana Coach kalau untuk industri makanan mungkin bisa diajarin juga bantu buat teman-teman semua. Ju lagi nih. Bisa jadi Mas Deri bilang siap. Juur Pak James. Saya enggak suka makan cek. Oke. Bisa jadi begitu ya. Hm. Dan saya jaga kesehatan dan keluarga saya enggak ada yang suka makan cek. Hmm. Ya sudah enggak apa-apa. Jangan paksa ya. Hmm. Jujur ini enak enggak? Enak ya? Enaklah. Ini ada value-nya. Ada brand yang bagus. Hmm. Dapur cokelat. Oke. Oke. So, Nas Deri.

24:37 Hm. Ini saya ada dua kotak sih. Saya bawa dua kotak ini. I ya. Just flashback and think siapa teman Anda atau orang yang you want to say thank you karena pernah bantu anda buka jalan buat Anda. Oh ya. And then you just want to say thank you. I still remember your kindness. Oke ya. Oke. Dan dia akan karena sudah lama enggak kontak sama dia, dia akan surprise banget dan hatinya hangatlah. Kalau dia lihat tiba-tiba ada kiriman ini hm dari Mas Derry dan dia bilang, "Dap chocolate made for you." Dan dia bilang, "Thank you ya, lu masih

25:23 ingat gue. Tolong kasih saya dua nama dong. Saya kirimkan, saya kasih pita, I send you." Gila. Keren banget menjual emotional value-nya ya. Ya, it's the story. Ah, it's not the product, it's the story. Oh, kenapa orang akhirnya ada resistance kalau jualan terlalu banyak ngomongin produknya? Karena gua ngotok produk sih. Ini bagus loh ini kandungannya engak enggak penting. Enggak penting. Enggak penting. You know this. This is good. It is good value. It is good taste. It is a good brand. Yeah. It has a reputation. Oke. Berkelas. Iya. Mewah. Send it to somebody who deserves it.

26:10 And this tells everything. Iya. I this says you deserve this. This says you deserve the best. This says I still remember you. I thank you. Uh give me two names. I pitakan. I sent to you. I send for you. Iya sih. Gila potensi closingnya juga naik ya. Karena orang sudah tahu dapur coklat misalnya dalam kasus ini ya, sudah tahu Heeh. disquality seperti apa gitu kan. He silakan ee klik keranjang kuning. Heh, kasih saya lima nama dan alamat yang mau dikirim. Kami kirimkan. Oh, tapi kita kirim kepada lima orang ya. Lima pie deh di keranjang kuning.

26:57 Oke. Dan limitasi itu adalah apakah ngaruh kerangsangan daya psikologis manusia? Kenapa lima? Kenapa tiga? Nyambung enggak nanti? Lima lebih gampang sih ya. Lima. Lima lebih gampang karena jadi kalau kalau saya ada 300 orang katakan lima orang bilang, "Oh iya ya. Gua udah lama enggak kirim ke mereka ya." Oke. Dan lima orang ini tersentuh masing-masing kirim lima. Gua dapat 25 loh. Hah? 25 udah hampir 10% dari audiens saya 300 orang kan? Heeh. Udah oke. Oh iya ya ya. Itu yang terjadi ketika salah satu campaignnya minuman Yakult kan. Iya dan gua enggak teriak-teriak kan. Iya ini Pak Yakult kan begitu juga kan minumnyaakul

27:43 setiap hari saya minum dua. Pertanyaanku pertanyaannya simpel. He ya. Peraturan dari mana tuh minum dua? D marketing campaign gitu ya. L gitu kan. Iya kan? Sayang kan sudah ngomong cuat-cat satu orang setuju suruh dia beli satu kan rugi banget. Se people will not think of five unless you tell them right? So if you tell them five maybe they'll listen to you and do five but if you tell them five maybe they'll send three. Still better than one. Oke. Tapi kalau orientasinya banyak banget buat apa? Berarti kekuatan storytelling lagi ya. Iya. kekuatan storyting lagi. Ee lima orang. Saya yakin dalam hidup Anda ada lima orang. Oh, pasti lagi. Iya, lagi ya yang bahkan

28:30 anggap aja dua keluarga jauh, tiga teman. Hah. Atau mungkin dua teman kelas atau satu mantan atasan, satu mantan rekan. Satu yang dulu waktu Anda susah dia pinjam duit. Lihat di studio langsung pada cengar-cengir. Ada kan, Coach? Gua coba feedback dikit ya buat untuk ngebedah kawan-kawan semua. Enggak maksud potong tapi ini buat kebaikan teman-teman semua. Apakah ini yang dinamakan sebuah satu sugesti atau orang tuh tadinya tuh enggak kepikir kok bisa-bisanya begitu akhirnya nyebut orang yang tadinya pernah berjasa buat

29:15 lu. Akhirnya jadi kepikir ya. Heeh. Jadi dan ingat remember gitu. Nah, maksud gua adalah apakah memang sales itu bagian dari sebenarnya manusia ini kan otaknya kosong. Kita lagi enggak tahu kalau bahasa gua begitu ya, Kach ya. I ya. Kita tuh makhluk rekomendatif gitu loh. Iya. I kan. Sehingga begitu ada satu penawaran kalau enak kakak coklat enak beli sekarang dong. Ayo dong beli dong beli dong. Ngumpung murah nih. Bel gitu kan. Ya udah kenapa gitu loh. Tapi begitu tadi lu aja pas ngomong begitu coach. Aku langsung kayak masalah pinjamin utang, atasan yang baik bisa buat gua sekarang berada di posisi ini gitu ya. Itu akhirnya ada rangsangan-rangsangan ya. Sebenarnya ada ilmu sendiri enggak sih maksudnya kayak istilah-istilah di sales

30:01 atau mungkin marketing apa segala macam itu sebenarnya apa istilah-istilah itu? Hal-hal seperti ini datang ke saya secara alamiah ya. Oke. Ya. Ee mungkin karena saya sudah saking banyak bawa ajak training ya. sehingga misalnya ee Mas Deri ini tolong ini minta referensi ya. Iya. I tolong saya kan sales saya harus capai target ya. Boleh tolong kasih saya nama dari dua orang atau tiga orang yang Anda kenal yang mungkin saya bisa approach mereka untuk tawaran kek ini. Ini kan minta referensi ya. Ee dan kita ajarkan jangan bilang Mas Dari handphone-nya banyak dong kontaknya 4.000 orang ya. You kan banyak kenal orang ya. Kenalin dong teman-temannya.

30:46 Itu kan ilfil banget. Betul ya? Aduh sering banget lagi gua dengar. Iya lagi. Kenalin dong. You kan ketua asosiasi networknya luas. Kenalin dong teman-temannya. Permintaan ini membingungkan anda loh. Gua harus kenal siapa ya? Kenapa gua harus kenalin? Ya nanti lu kalau terlalu agresif sama dia, gua yang diomelin dia. Iya. Jadi you want to bantu tapi you enggak mau bantu because my request is not specific. Oke, Mas Deri. Eh, saya perlu ya kejar target ya. And I need some referal from you. Tolong mungkin di database Bapak, siapa yang Anda kenal yang orangnya atau istrinya atau anaknya suka makan coklat

31:31 cake? Lebih sempit. Siapa yang Anda kenal? yang mungkin bisa appreciate kualitas cake seperti dapur coklat. Bukan orang yang asal makan cake, tapi bisa mengerti kualitasnya. Begitu dia makan, dia bilang, "Ah, ini bagus." Siapa orang-orang yang mungkin 3 emp you kenal yang appreciate the quality of good cakes? Oh, see this is how I ask for a reference. be specific or maybe give me three names that if we send the cake to them they will be so surprised because you have not contacted them for so long. Wuh. It cara minta referal kan. H. Nah, sekarang tadi saya gitu aja sih.

32:18 Wow. Wow. Keren, Coach. Gua jadi kepikir ya gua enggak bilang ini adalah spesifik mengenai turunnya labanya Unilever sekitar mungkin sekitar mungkin 1 triliun apa segala macam gitu ya signifikan kan enggak ke sana tapi memang contoh kasusnya lumayan obvious tapi gua disclaimer juga ini bukan berarti akhirnya malah ngungkit-ngungkit si brand terkait ya iya iya ya teman-teman mungkin bisa baca sendiri ya mungkin bisa bagian dari salah satu si orang-orang atau SPG ini bertugas gitu ketika kita masuk dalam supermarket aku sendiri Kach itu sering banget menemukan orang yang pakai baju seragam brand tersebut yang bisa jadi mungkin dari Unilever produknya e secara fabrikasi apa segala macam ya. penawaran. Ya Allah, ini justru kritik

33:05 membangun buat kawan-kawan yang ada di sana, terutama yang terdampak ya. Akhirnya ujung-ujungnya malah melakukan efisiensi yang sebenarnya ya unilever apa segala macam juga enggak mau gitu ya. Tapi terpaksa tapi kan akhirnya dampaknya ekonomi jadi turun lagi. Karena kan kalau dia dapat kerjaan kan dia bisa belanja, dia bisa beli ini beli itu gitu kan. Tapi kalau dia kepecat dia enggak punya kerjaan jadi enggak produktif dan enggak konsumtif lebih tepatnya. Itu penawarannya. Wah ya gua bilang oknum lah si SPG ini parah. Ah iya i parah ya. Enggak harus grupnya unilever lah. Kita ngomong secara umum dulu aja. Parah. Iya. Kak misalnya gua ngomong kategorinya ya. Samponya sekalian kah mau murah Kak? Gua lagi jalan sama bini gue lagi dorong troly di sebelah. Tahu kan sih yang selalu di supermarket selalu ada baju-baju andalan yang kita tahu ini brand apa kan. Ada yang lagi

33:51 aktivitasnya ngerapiin raknya ada yang apa segala macamnya. Ada yang cuma kita nanya, "Kak, aku lagi mau nyari air mineral lorong sebelah mana ya?" gitu kan. Oh iya seingatku sebelah sana ya. K, Kak, enggak mau coba nih, Kak. [Tertawa] Maksudnya kondisi gua lagi enggak butuhnya apa dipaksa untuk kebutuhan ini gitu loh. Dan masuknya kalau dia mau masuk sih monggo ya, dia SPG sales gitu, sales promotion girl gitu. Tapi maksudnya e butuh ilmu kali mereka-mereka juga soalnya mereka ujung tombaknya brand-brand besar ini loh. Yang sebetulnya akhirnya bukan gua bela-bela brand terkait ya. Tapi kalau el fatal, El juga yang kena dampaknya ekonomi enggak berputar. Iya. Iya. Jadi itu gimana sih? ee itu ya sampai dia nawarin ya berarti semangatnya ada ya. Iya. Oke. Apresiasi.

34:37 Nah, itu itu paling kasihan kan semangatnya ada tapi skill-nya enggak ada. Hah. Lama-lama enggak patah semangat dia. Iya. Oke. Jadi semangat itu harus ditunjang dengan how to kan ya. Nah, bisa jadi ee how toya sudah diajarkan tapi lupa tapi atau bisa jadi dia SPG freelance. Oh iya, SPG freelance. Dia enggak tahu tahunnya ya. ee berani nawarin gitu aja kan. Iya. Berani menghadapi orang, berani nawarin. Tapi cara nawarinnya enggak penting. Yang penting punya keberanian. Iya. Ya. Ya. Gitu. Jadi hari ini dia jual produk ini, besok pameran dia jual mobil, lusa dia jual baju gitu kan. Freelance. Tapi sebenarnya freelance itu ada ada ilmunya kan, ada supervisornya kan?

35:23 Ada. Ada supervisor, ada ilmunya tapi kadang-kadang turnover-nya saking tingginya enggak sempat training kan. Oh, iya kan hari ini tren besok dia pergi cari baru lagi enggak sempat tren sudah harus dirop ke tempat e supermarket gitu ya. Maka dengan teknologi sekarang saya rasa tidak terlalu sulit untuk kalau saya adalah sebetul perusahaan yang mau hire freelance SPG jualan ini. Sebelum saya tugaskan jualan ee dari perusahaan saya sudah produksi video ya. H apa ini? the do and of menawarkan kepada pelanggan. Iya. Cara buka obrolan seperti apa? Jangan lakukan pada saat orang lagi

36:08 tanya tanda ini the do and don'ts-nya. I oke. Dan si SPG ini sebelum tugas 2 hari sebelumnya sudah terima video dia pelajari dulu. Iya. Dia pelajari dulu. Oke. Ya. Sampai dia pelajari dulu baru nanti dari supervisor atau siapa ya. Oke kita online ya one to one ya. kita peragakan ya. Oh 10 menit aja. Oke. At least 70% of the mistakes can be avoided. H and it is free of charge. No training fee. He kan nonton video. Iya. Enggak susah kok ya. Wah ini gua ngajak brand-brand besar. Coba deh. Harusnya kolaborasi ya. Gimana kalau kita memanggil buat kawan-kawan semua yang mungkin perusahaan FMCG, mungkin retail

36:55 yang akhirnya yang harus menggunakan satu jasa yang namanya SPG misalnya, akhirnya dia coba masukin ke mall apa segala macamnya, coba aja kita panggil brand-brandnya terserah mau dari korporasinya, mau dari si produk brandnya itu sendiri atau fabrikasinya itu bisa loh dibuat satu ada enggak cas seminarnya boleh enggak coach misalnya kayak mereka-mereka siapa tahu terpanggil supervisornya atau mungkin bos-bosnya langsung gitu ya kayak brand-brand banyaklah lah zaman sekarang misalnya berangkat dari Unilever tadi turunannya kan banyak tuh m live boy clear apa segala macamnya bikin aja satu training bisa enggak nih saya bantu aja linknya video di video digital aja digital enggak usah kumpul orang enggak belajar sama coach James aja dulu kita kumpul aja bikin video buat mereka oh i bikin video buat mereka syuting SPG aja

37:41 gua bikin scriptnya serius gua bikin scriptnya you syuting SPG-nya jadiin training module kirim ke semua karyawannya SPG-nya belajar AR nonton dari video. Oh iya lebih simpel sekali. Bikin sekali aja faktor perkaliannya murah banget. Oh ya satu ya satu seri lah katakan 10 topik ya. Iya 10 topik ya. Bikin syutingnya 10 topik berapa susah sih? Ya kan 5 menit satu topik 10 topik kan sekian doang produksi 3 hari juga kelar. I ya terus dia bagi aja ke 3.000 SPG seluruh Indonesia. Wah. Ya ya ya ya ya ya. Ini leader-leader juga harus paham berarti kayak begini-begini ya. Iya. Teknologi udah di tangan kita dan setiap hari kita begini aja udah bisa

38:28 jadi konten. Susah apa sih? I ya. Oke, ini Coach James gue coba memanggil teman-teman semua mengajak. Ini pas banget nih. Kalaupun ada seperti ini saran saya ambil Top Gun Leadership Boot Camp. Ya kan? Ini Oktober. Oh, bentar lagi dong ya. Ya, Oktober. Ok. Nih, ini e posternya kita munculin, Teman-teman. Kalau gimana cara mau akses nih, cocok nih. Kalau saran saya, mendingan berita yang beredar harusnya kepukul buat kawan-kawan rilnya kepukul kayak misalnya tadi Unilever. Karena kan ini kan kita konteksnya adalah mengenai e SPG yang dikirim Heeh. atas dasar si perintah leadernya. Oke. Artinya SPG-nya mungkin ya udah asal turun aja tugas ya kanvasing, pameran,

39:13 apa segala macamnya. Tapi kan gimana leadernya itu benar-benar ngeladit kan. Nah berarti makanya cocok nih Top Gun leadership bootcamp. Leadernya pada ngumpul belajar mindset yang benar baru lu delegasikan ke SPG. Jangan langsung tiba-tiba ayo ayo. Makanya turnovernya jadi gede banget gitu. Gede banget dan ya garamin laut lah. Garamin laut ya. So dan misalnya nih misalnya ini ini saya tidak tahu ceritanya saya sok tahu aja ya. Oke. Oke. Ee katakan eh melalui modern market, traditional market, omset turun. Iya. Oke. Bisa enggak kita tariklah di setiap wilayah 20 staf kita yang punya potensial, punya

39:59 bakat, kita ajar dia supaya dia ni jual produk kita. Katakan saya un level nih, dia nih jual produk kita lewat TikTok keranjang kuning. Hmm. Oke, gua bagi hasil buat lu. Gua kasih komisi buat lu. Ah, sekarang selain dari see if is in the supermarket, you have to wait for the traffic to come. Heh, right. But if I hear, I go to your pocket. Oh, iya. Langsung directly. langsung loh itu bypass belum tentu kita ke supermarket itu kan kalau di sini kan orang sudah kena algoritma ya. Iya. Jadi ya dari sini sehingga ada segmen market yang ke supermarket H. Tapi ada segmen market yang tadinya mau

40:45 beli sesuatu atau enggak beli sesuatu karena ny beli sih. Betul beli kan. Nah itu bisa selamatkan mungkin 10 20% revenue kan. Heeh. Eh, oke. Karena you know there is a segment of market who digitally. Iya, why not? Iya lagi nih maksudnya ya mohon maaf ya, case ini kan karena memang bukan maksudnya menyudutkan kayak unilever apa segala macam karena memang kasusnya Anda muncul di sini gitu ya. Iya. Mengingatkan gua bahwa segede itu aja gua masih sering ketemu SPG-SPG yang kita kan juga lumayan ngamatin ya di dunia ini. Jadi enggak selamanya gua jadi konsumen, tapi kan gua juga jadi produsen gitu ya. Jadi kan kayak sekarang kan gua juga lagi jadi sales nih ya kan podcaster apa segala macamnya gitu. Jadi kita juga menyelami dunia itu

41:31 gitu. I juga itu reaktif banget Coach ketika padahal brandnya gede kan ya kita tahulah masuk supermarket ya enggak mungkin kalau enggak brandnya gede gitu kan listing waitingnya segala macamnya gitu kan ya belum lagi kapital misalnya kalau dibutuhkan gitu kan itu benar-benar gede tapi penawaran-penawarannya gua bilang oh ini ujung tombak-ujung tombaknya berarti ini tanda kutip harus dijewer-jewerin leader-leadernya nih ya kayak lu gimana sih mensupervisinya trainingnya gimana sih iya iya iya makanya pernah ada satu jargon middle managemen itu akhirnya yang kena dampak PHK ya. Mau dari kena AI lah, mau dari ya karena dia enggak mengeksekusi tahunya supervisi tapi supervisi juga berantakan. Ya, middle management sekarang lagi tren middle management itu kena PHK tuh

42:17 middle ke atas ya. Iya iya karena banyak reporting system kan sudah enggak perlu dia yang bikin reportnya. Betul ya kan ya. Eh, problem solving-nya pun enggak terlalu perlu dia. AI pun bisa bantu. Iya. Iya. Dan sebagainya. Banyak sih. Wah keren. Tapi menurut saya the world has changed for better or for worse. He ya. Tetapi jadi lebih mudah dan lebih murah. Oh, iya. Pos dengan teknologi ya kan? Dengan teknologi bisa lebih jadi mudah dan murah. Dan dulu sesuatu yang tidak memungkinkan sekarang sudah bisa memungkinkan. Meeting by Zoom. I itu kan signifikan banget ya. Jadi dulu kalau mau meeting ya mau ketemu bos ada sesuatu yang mau

43:03 disampaikan saat 2 jam itu semua manajer dari seluruh Indonesia harus terbang kumpul. Ngomong saya 2 jam Iya 2 hari. Sekarang zoom udah 2 jam kelar udah pulang kerja tuh produktif banget gratis lagi. Kayak kemarin di Nepal begitu berhasil tergulingkan lah ya tanda kutip ya perdana menterinya ya akhirnya pemilihan yang baru, pemimpin yang baru itu dipilihnya sama Genzi lewat Discord. Iya itu mana foto-fotonya ya? Oh ini nih kayaknya nih yang anti korupsi ya lewat G sih viral ini aja kali gua pilih akhirnya yang si ibu itu yang naik gara-gara dia dari dulu menyuarakan kan anti korupsi kan seperti penjara apa segala macam yang pemimpin sekarang ya dipilih lewat dasar Discord.

43:50 Iya jadi murah banget ya. Murah demokrasinya murah gitu ya. Iya murah banget ya. Terlalu disederhanakan memimpin satu leader seperti itu ya. I ya ya for better lah. Tapi teknologi buat lebih conven, lebih murah dan lebih mudah. Hmm. Jadi banyak hal yang tidak memungkinkan sudah jadi memungkinkan. Tapi sayangnya kita ini hidup dengan teknologi yang begitu powerful tapi enggak garap secara optimal loh. Hmm. Enggak garap secara optimal ya kan ya. Seperti tadi training harus kumpul. Kenapa enggak bikin video? Suar. Alright. Oke. Oke. Dan kita nanti akan ada setelah itu

44:37 kita ada role playing ya, simulasi ya. Masing-masing dikasih 5 menit ya. He. Jadi depan handphone aja. Oh rekam lagi terus kumpulin lagi ke grup gitu ya. Iya kumpul lagi ya kan. Oke. Oke. Sekarang kita simulasi ya. Kalian 15 orang zoom ya. Oke ya. Sekarang customer lewat nih tanya kamu mbak ee rap beli sendok di mana sih? Ah, bagaimana kamu buka cakap percakapan sehingga dia mau beli sendok tapi akhirnya you arahkan dia beli sosis. Oke, ayo role playing. Iya. I lewat Zoom. Oke. Enggak susah kok. Iya lagi. I kan bikin skenario aja, bikin script aja. Ayo training yuk lewat zoom santai-santai. Lu mau di mana? Kafe silakan. Eh, di tempat tidur silakan, kebun silakan, silakan. Yang penting kita zoom, kita

45:22 coba. Kan enggak penting lu di mana, enggak penting lu pakai apa. Yang penting gua ajar otak lu kan. Iya. Oke. Dan itu yang termasuk yang TopG leadership Bootcamp ini offline ya? Ya, ini offline. Saya akan ajarkan teman-teman apa sih bedanya antara seorang manajer dan leader? Oke. Kapan manajer penting? Kapan leader penting, apa pekerjaan seorang leader, apa peran seorang leader? Ya, ee dalam kondisi sekarang yang gonjang-ganjing serba tidak pasti peran leader itu seperti apa sih? E oke gitu. Di sini ya coba detailnya ya. Nah, lu tinggal klik aja sebenarnya linknya udah kita siapin. Karena sebenarnya kuncinya tadi gua nemu narasi bagus banget dari Coach James, yaitu kenapa akhirnya harus terkesan perusahaannya bagi yang merasa ya, yaitu tergesa-gesa untuk lakukan

46:09 darurat efisiensi. Tapi kalau dipikir-pikir sementara leadernya ke mana? Iya. Kok harus PHK massal? Sementara leader itu kan liihatnya ke depan masa depan setahun lagi mau ngapain, dunia lagi ke arah mana? Oh, ada future finance namanya cryptocurrency. Oh, ada karyawan yang rela enggak mau dikasih gaji THR. Ah, namanya robot AI gitu ya kan begitu kan. Ada menteri sekarang ada menteri pakai AI juga. Menteri aja diganti apalagi el karyawan biasa-biasa aja kayak begitu kan. Nah, maksudnya dengan ada seperti itu berarti kuncinya di leadernya ya berarti ya kuncinya is is always the leader. Leadernya apa nih? Eh angkat eh angkatan

46:55 apa layernya e yang ini nih Top Gun leadership ini kita bahas eh biasanya yang ikut Top Gun leadership ini adalah eh business owner. Oke ya. Business owner dia harus tahulah sebagai business owner peran leadership-nya di mana dan juga manajer ya. Manajer itu selalu pakai dua topi kan ya. Dia pakai topi sebagai manajer. Lepas topinya pakai topi sebagai leader. Hm. Nah, dua topi ini apa sih? Kapan lu pakai topi manager? Nah, kalau pakai topi manager kerjaannya apa? Kalau pakai topi leader kerjaannya apa? Ada begitu ya. Mereka enggak tahu. Satu aja spill perbedaan satu aja antara topi manager sama topi leader. Karena seperti tadi kita sudah bahas ya tadi, manajer adalah orang yang manage

47:41 h mengelola. Jadi pekerjaannya adalah mengelola. Betul. Mengelola apa? Sumber daya-sumber daya semualah supaya apa? Supaya capai target. Iya. Oke. Jadi, manajer adalah orang yang dikasih target dan dikasih sumber daya supaya dia mengelola sumber daya ini supaya capai target. I. Oke. So, the job of the manager is to manage lah melalui proseslah, melalui SOP lah, terserah. Hm. Manage supaya capai target. Oke, lepas topi manager pakai topi leader. Nah, sekarang kalau sebagai manajer gua urus capai target sih, tapi dengan tren yang akan terjadi 3 tahun ke depan, cara kerja kayak gini akan berhasil enggak? Oh,

48:27 orang-orang kayak gini cocok enggak? Produk kayak gini bisa enggak? Penawaran kayak gini bisa enggak? Cara menawarkan marketing channel-nya dengan kayak gini pakai pasukan sales semua 5 tahun ke depan bisa enggak? 5 tahun ke depan belum tentu lu ada orang sales. Belum tentu ada orang mau kerja orang pakai sales. 5 tahun ke depan belum tentu door to door. 5 tahun ke depan semua digital. Nah, orang-orang kayak gini 5 tahun ke depan orang ini dipakai untuk digital bisa enggak? And if belum bisa, what do I need to change and prepare? So that five years later oh my team is ready. Ah itu leader tuh. Oh ya.

49:12 Oke. Jadi manager fokus ke bulan ini. Leader fokus ke 2 tahun lagi 3 tahun lagi. Oke. Oh iya. Sementara subjektivitasnya manajer tahunya nge-manage jadi dia rasa-rasa ini udah oke nih. Tapi tanpa ngelihat masa depan ya. Jadi subjektif sekali. Ketika memang sudah pertumbuhannya waktu berjalan jangan-jangan enggak kepakai tuh. Enggak kep pakai pasti. Makanya mungkin timnya ke sana jalan di tempat targetnya ya. Iya. Infrastrukturnya enggak cukup, bandwid-nya enggak nyampai. Oke. Orangnya gaptek. Betul kan? Oh iya. Nah, jadi mungkin untuk dunia ke depan itu maaf nih si usia 50 sudah enggak kepakai nih. Saya harus cari usia 28. Ah. Right.

49:57 Nah, jadi sementara ini beliau ini yang sudah berbakti begitu banyak tahun. Saya harus apain nih supaya jangan tiba-tiba gua PHK dia nih ada 5 tahun loh, ada 3 tahun loh untuk mempersiapkan dia dengan baik. Hm. Supaya mau dialifungsikan atau mau retraining atau benar-benar enggak ketolong, enggak kepakai kan you you can see what's gonna happen, right? H you can see what's gonna happen. You can see with this people will it happen? H with this system will it happen? Heeh. Ah, itu kan leadership. Itu leadership. Kenapa banyak manajer enggak pikir ke sana? Ah, karena pagi siang malam dia ditanya atasan, "Lu sudah capai target belum?" Wah. Jadi yang dia fokus target

50:44 enggak pernah atasan tanya apa persiapan Anda untuk 3 tahun ke depan? Mati. Iya. Lagi ya? Enggak ada tanya gua enggak kerja lah. Wah, lu tanya gua enggak kerja. Iya, lu enggak nanya gua enggak kerja. Berarti buat lu enggak penting kan persiapan 3 tahun ke depan lu nanyakan capai target berarti buat lu penting banget capai target kan ya udahlah itulah yang gua fokus wah because nobody demands me the kpi is not about future. The KPI about managing today now. So you measure me for today, you ask me for today I work for today. You don't ask me for tomorrow. No KPI for tomorrow not my company. Why? Kurang kerjaan. Bukan perasaan gue ya. Iya. Makanya enggak merasa memiliki ya.

51:29 Ya enggak. Maka enggak kepikir ke depan kan karena enggak disuruh pikir ke depan. Uh. Kalau mau belajar langsung ada di bawah teman-teman. Tinggal klik aja linknya di bawah. Tuh. Itu loh yang saya sampaikan supaya pulang. Perspektifnya beda banget. Oke, itu yang saya lakukan. Woh, keren. 2 hari 1 malam bootcamp-nya. Iya, itu spill doang ya. Hah, belum ada apa-apanya nih ya. Masih banyak tahapan nih. Saya pernah bareng lu sama Coach James gitu di sebuah event waktu itu 360 bisnis blueprint kan. Yes. Wah, top. Kalau pertemuan kayak begini mah iya euforia value-nya semua ya secara

52:15 psikologis itu beda ya. Kalau udah langsung ada papan tulis lah, ada role playay ketemu tatap langsung. Uh, waktu itu sesi saya hanya 2 jaman ya. Iya, lupa. 2 jam ya. Uh, seru banget itu. Ini berapa? Ini 2 hari 1 malam kan? Oh, jamnya pagi sampai ee jam 09.00 sampai jam 09.00 hari pertama. A dan semakin malam semakin gila. Saya pikir kan du hari satu malam ya, dua harinya kan bukan berarti 24 jam dong. dari siang samp magrib ini dari pagi ketemu malam ya ketemu malam habis magrib kita lanjut satu sesi lag loh berapa orang yang ngajar dua kami berdua aja iya masa ganti-gantian iya ganti-gantian Pak Alfa dan saya

53:01 Pak Alfa Maulana Sales and Leadership Professional Trainer Oke. Iya hari Jumat, Sabtu 10 11 Oktober 2025. Yes. Berapa total? Ini kan hotel bukan sih? Ee iya hotel. Hotel ya? Ialah hotel lah. Nah, hotel kan biasanya ada limitnya itu ruangannya ada berapa ruangannya? Biasanya 50 sampai 70 orang sih. Dikit amat. Iya. Kita enggak banyak-banyak lah. Yang sudah daftar berapa? Belum tahu tim saya yang handle lah. Ini kalau kita ajak mereka ya pokoknya kalau enggak bisa diakses ya berarti kehabisan gitu aja ya. Sudah keesan. Iya. Kalau enggak bisa akses habisan ya. Biasanya pada 70 kita tutuplah. 70 kita tutup. Oh ngebut nih. Karena sekarang sudah tahun berapa? Dan ini hanya setahun sekali ini. Oh setahun sekali. Dan ini para bisnis owner dan manager datang dari seluruh

53:48 Indonesia. Bahkan banyak dari luar kota karena mereka rasa di luar kota mereka enggak dapat ini. Oh iya iya. Jadi mereka datang karena ilmu-ilmu mohon maaf ya ilmu-ilmu leher ke atas tuh yang untuk yang leader sales. Iya. Iya. Dengan segala hormat B di daerah ya. Gua enggak tahu kenapa Jakarta sentris banget ya. Iya. I ya Jawa sentris okelah ya. Karena mereka di sini semua ngumpulnya ya. Iya, karena size-nya sih. Tapi dari sini sering dari Palembang datang, dari Pontianak datang, ee dari Aceh, bahkan enggak jarang dari Timor Leste. Uhuh. Iya. Ada success story-nya enggak sih ikutan top leadership yang tahun lalu gitu maksudnya? Biar teman-teman tahu gitu maksudnya kalau gua ikut, so what? Iya. I terus gitu ya. Gimana caranya? E bisa berubah

54:34 kah? He ada satu ibu muda ya, I think about 30 lah ya. Dia ikut Top Gun tahun lalu. Pulang dalam 3 minggu dia lapor ke saya, "Pak, omset naik dua kali lipat dan saya sudah ketemu cara untuk mengekspansi bisnis saya." Uh, kebuka langsung. Kebuka langsung. Kebuka langsung. Serulah. Banyaklah. Industrinya apa dia? H. FMB. Oh, FMBI dia punya restoran. Iya. Di mana ya? Di Padang ya? Iya. Dan industrinya enggak cuma FNB pasti banyak dong yang ikutan macam-macam. Ada yang apotek punya apotek di Bogor. Oh. Setelah itu, "Pak, sudah kembang usaha saya." Iya. Punya apotek gitu. Apa hax-nya?

55:21 Apa? Hex-nya adalah mindsetnya as a leader, you must do this, you must do this, you must think about this. You must look at this. This is the opportunity. This is the focus. Go. Oke. Generik kan? Generic leadership kan generic. Tapi kenapa mereka masih kehambat ya? Masih ada obstacle battle neck gitu karena belum terbuka. Mampet pikirannya. Botolnya kesumbat ya. Iya tersumbat. Iya. Jadi saya buka sumbatannya. Wow. Ya, detail pokoknya kalau mau cek sebenarnya udah ada di page-nya ya. Yes. Tinggal teman-teman baca aja TopGun Leadership Bootcamp. Nah, tuh di situ keterangannya gua rasa sih teman-teman juga merasakan hal yang sama.

56:07 Siapa sebenarnya yang harus diikuti ya buat teman-teman semua yang harus hadir? Business owners, managers, leaders, supervisors, future leaders. Future leaders berarti generasi berikutnya. Yes. Generasi. Dan dan waktu itu yang si ee ibu itu dari Padang dia generasi kedua. Oh. Untuk nyiapin buat generasi ketiga enggak? dia generasi kedua baru take over dari orang tuanya. Kan tinggal lanjutin kan tinggal autopilot. Enggak semudah itu ya. Kalau dilanjutin pasti menyusut. Pasti menyusut lah. Kan template repetisi, tren menurun. Oh. Kalau kita warisi usaha dari bapak kita, produk life cycle-nya kan udah muter berapa puluh tahun itu. Mbah benar lagi pasti menyusut kan. Jadi begitu kita take over dari orang

56:54 tua, tugas kita adalah kembangkan. Kalau kita hanya take over dan mengelola pasti menyusut karena sudah ujung-ujung sanset tuh. Oh, oke. Bapak kita kembangin usaha di puncak-puncak usia dia. Oke. Di puncak-puncak usia dia 40-an. Wah, itu bisnisnya di masa jaya dia serahkan ke kita usia 60. Oh. Iya, lagi udah senja tuh, Bro. Iya. Lagi kalau kita enggak gas ke bagian yang lain, kembangin ke bagian yang lain, udah menyusut. Tinggal lu ya kumpul-kumpul barang, siap-siap ngepak aja lah. Namanya udah mau magrib. Oh iya bagus banget lagi. Udah mau magrib ya. Iya kan? Oh, makanya ada istilah generasi ketiga

57:41 pemutus ya. Iya. Unless you diversify, you inject new energy, new ways of doing business. That's the leadership of the next generation to lead the company somewhere else, not to manage the company where your father left off. That's managing. That's not leading. Hm. Leading means ke sana yuk, let's go. Ah, itu baru lead kan. Heeh. Kalau hanya mengurus dan mengelola itu kan manajer ngupin perlu anak. Hmm. Bayar aja profesional urus setiap hari. Oh, iya ya. Iya. perlu anak supaya ini usaha papa. Eh, saya punya visi buat papa. Kita diskusi, Pak. Yuk, gas, ya. Ah, ini kita bawa perusahaan keluarga

58:28 kita ke masa depan. Ah, itu anak kita pimpin keluarga masa usaha keluarga kita yang papa sudah merintis kembangkan ke masa depan. Izinkan saya take it to the next level. Anak yang lakukan, bukan profesional. Wi. Kalau mengelola profesional enggak usah anak. Iya. Cukup direktur operasional atau mungkin direktur eksekutif. Kalau memimpin perusahaan kita untuk the next sunrise anak. Tapi kalau mengelola enggak usah anak lah. Iya. Profesional juga bisa. Kalau lebih bagus. Lebih bagus ya. Kenapa lebih bagus? Kan dia profesional. Oh dia profesional. Kita bisa pantau dia, kita bisa marahin dia.

59:14 Leadership is not about dipantau dan dimarahin kan. Leadership is about taking the risk, kan? Iya. Kita percaya enggak bukan keluarga kita untuk take the risk untuk keluarga eh untuk usaha keluarga. Oh iya. Rohnya enggak di sana. Oh iya. Tapi anak sendiri gua percaya sih. Resiko pun gagal pun gua rela kan. Anak gue gagal pun gua rela. Ini kayak ceritanya kita ngundang K Andrew ya siapa namanya saya lupa lagi. Maaf K Stepen K Andrew Andri Hakim bukan yang punya oleh-oleh Kartika Sari ya. Oh di Bandung. Oh apa sih namanya? Bolen deh. I kan itu kan generasinya dia enggak mau ngasih ke anak ya. ya nonton deh teman-teman ada episode-nya. Tapi malah kasihnya kan dia

1:00:01 beliau tuh generasi kedua ya dari bapaknya ngomongin tentang generasi ketiga. Tapi terkait itu adalah jawabannya salah satunya menyetujui generasi ketiga ee peng pemutus lah. Kalau penghancur kayaknya kasar banget ya anaknya ngancurin gitu kan ke sana kan. Itu malah dikasih profesional. Profesionalnya yang udah dipupuk untuk ke depan duduk di belakang kamera di sini. Hmm. Gua pikir nih anaknya atau mungkin saudaranya enggak, Bro. Orang profesional. Ih. Oh, karena anaknya enggak dipupuk. Apa itu? Oh gitu. Sehingga anaknya enggak enggak enggak punya passion untuk usaha ini. Oh ya. Kalau dari awal enggak ada passion enggak enggak bisa paksa lah. Malah jadinya berantakan dia. Iya. Oke. Iya. Ini ini satu sharing. Ee saya

1:00:49 ketemu dengan seorang pengusaha senior ya. Saya respek dengan beliau. Bisnisnya sudah besar ya. Dan saya tanya kepada beliau, "Pak, ee kenapa ya banyak pengusaha ee sudah sukses, usaha sudah besar, anaknya sudah kuliah ke luar negeri, ya, terus suruh anak pulang urus usaha bapak, mereka enggak mau. Tapi Bapak berusaha eh berhasil semua anak-anak Bapak kuliah di luar negeri, tapi balik urus usaha Bapak loh. What did you do?" Ya. Sehingga all your children sama-sama kuliah luar negeri tapi balik semua mau lanjutin usaha Bapak. Iya. Dia bilang, "Pak J begini, Pak. Banyak orang tua waktu dia sibuk kembangin usaha, dia bilang ke anak, "Kamu fokus

1:01:35 ke pembelajaran. Mau kuliah mana? Papa bayar." Oke ya. So, anak itu kuliah dan sampai dia pilih jurusan, anak itu sudah punya cita-cita. Betul. Iya. mungkin jurusan fashion designer lah, jurusan food chemical lah, whatever lah ya, nutrisi lah. Dia sudah punya passion, arkiteklah sudah punya passion. Dia belajar 5 en tahun di university, berjuang akhirnya lulus. Dia sudah punya cita-cita. Ah, saya kerja di sini, saya kerja di sana, saya punya usaha fashion desaing. Apa dia sudah punya cita-cita nih. Iya. Tiba-tiba lu suruh dia pulang urus toko kacamata papa yuk. Aduh du du duh. Nih kalau begini baru kebayang nih gua nih. Iya lagi betul kan? Iya. Lagi saya sudah punya cita-cita, Pak. Saya

1:02:22 sudah punya jurusan, Pak. Suruh gua balik urus toko kacamata lo. What's the purpose? Maka dia protes kan karena dia sudah punya cita-cita. Nah, teman saya dia bilang, "Pak James, anak saya dari SMP sudah sekolah di Singapura." Oke. Tapi setiap liburan sekolah saya ajak mereka pulang dan sengaja saya timingkan rapat dengan manajer-manajer saya waktu anak-anak saya pulang. Oke. Sehingga mereka hadir dari SMP diskusi rapat bisnis kita sehingga dari kecil dia sudah tahu kesulitan yang papa alami, peluang-peluang yang masih ada di depan. Hm. Setiap tahun. Setiap tahun saya ajak mereka balik 2

1:03:08 tahun sekali ikut rapat sehingga mereka ngerti dan punya roh usaha saya. H sehingga mereka dengan sendirinya waktu dia university dia pilih jurusan marketing, jurusan bisnis, jurusan finance kaynya sudah punya karena dia tahu I'm coming back because this business has potential. Keren. Untuk apa gua bangun dari nol? Sedangkan usaha bapak gua sudah cukup bagus. Gua tinggal kembangin aja. Oh. Saya libatkan mereka dari kecil, Pak. Banyak orang tua suruh jangan ikut lu belajar aja. Tapi sudah wisuda baru tarik balik. Nah, berarti insyaallah pilihan saya tidak salah. Suka membawa anak-anak saya umur

1:03:54 4 tahun, 6 tahun ke perusahaan gitu ya. minimal dia minimal dia t punya mindset atau punya satu narasi-narasi yang enggak asing nanti di kemudian hari gitu ya. Dan dan bukan cuma lihat ajak dia lihat kesulitan yang ada di usaha Papa, tapi juga peluang yang ada. Hm. Dan Papa belum bisa garap karena Papa enggak punya orang. Hmm. Ah. Jadi dia lihat potensial, dia bukan lihat problem. Oh, oke. Kalau dia buset kantornya perusahaannya kusut banget. Terima kasih. Gua enggak mau dah. Baru duduk sudah dikasih tahu ya. Ini kita punya piutang di sini nanti susah Nagitnya. Ini kita punya beban di sini. Itu kayaknya ribet banget ya. Iya. Kalau dia lihat kusutnya mendingan gua buka dari nol dah.

1:04:40 I ya ya. Tapi kalau dia lihat potensialnya sekusuk-kusuknya potensialnya gede. Eh untuk apa gua buka dari nol? Tinggal numpang aja lanjutin. Oke. Ya kan. E itu menarik sekali itu. Waduh. itu juga sebenarnya ada enggak bocoran-bocoran TV-TV materi yang tadi itu bisa di dalam diskusinya di Q&A-nya hal biasanya Q&A hal kayak gini keluar benar untuk future mempersiapkan dalam bukan future di ee target atau mungkin milestone-nya perusahaan tapi lebih kepada enggak cuma keluar di enggak hanya di OKR KPI tapi yang tadi tuh generasi berikutnya itu yang lebih mahal tuh nanti mungkin di pertanyaan juga bisa dibuka ya bisa ya jadi kalau untuk acara seperti ini, camp seperti ini biasa Q&A-nya banyak banget. Oke. Iya. Di sanalah ee pengalaman saya dan sebagainya itu keluar.

1:05:25 Oke. Iya, mantap. Untuk belajar di sana e silakan teman-teman cek aja di bawah mungkin terakhir sebagai penutup obrolan dalam artian artinya biar mereka proven lah. Kok James ini berarti banyak bawain perusahaan-perusahaan buat yang belum tahu siapa tahu kan teman-teman mungkin beberapa yang tahu karena nonton episode kita yang pertama kali ya. Itu boleh diceritain enggak maksudnya Anda bisa akhir sharing-sharing seperti ini akhirnya pernah megang perusahaan apa segala macamnya gitu ya. Ee saya kan punya usaha sendiri ya, saya punya pengalaman training center dan sebagainya. Tapi banyak sekali pengalaman-pengalaman saya justru dari menangani masalah-masalah perusahaan-perusahaan lain. Hm. Ya kan dari problem mereka terus saya bantu cari solusi, saya arahkan ee melalui training-training. Murni training ya, enggak ada consultingnya,

1:06:12 enggak ada coaching-nya ya. Mulni training seperti ini aja. Oke. Tapi bahkan dalam hari ini aja, du hari seperti ini mereka pulang 1 minggu kemudian, 2 bulan kemudian sudah ada testimoni ya. Dan ada yang ikut training saya berseri karena training saya topiknya beda-beda. Oh, alright. Ada yang bilang, "E kenallah, Pak, saya sudah ikut tujuh training Bapak, 8 training Bapak ya. Dan dan puji Tuhan enggak sedikit yang bilang, "Saya bisa jadi hari ini karena saya ikut training Bapak." Oh, ya. mindset saya ubah, pola pikiran saya, cara saya menata perusahaan, cara saya hitungnya, cara saya manage-nya, cara saya pandang segala sesuatu because affected by you. Wih, mantap. Oke, nanti kita main-main kalau bisa tanggal Oktober ya.

1:06:57 Ayo main-main. Iya, nanti iseng ah. Sekali sekalian liput liput acara. Iya, iya. I iya. Buat nanti siapa tahu buat ada yang nanya di kemudian kan kita sudah punya satu liputan ini loh yang dipelajari mungkin apa segala macamnya. Nanti kita lihat ya. Jadi buat teman-teman keren emang ya teman-teman harus belajar sama coach James Gui. Uhuh. Enggak berhenti-berhenti dapat coklatnya kayaknya. Kayak doyan aja langsung masih enggak supaya teman-teman lihat dan teringat teman-teman yang Anda mau kirim cake-nya habis ini sudah bisa langsung pesan ke dapur coklat dari cabang-cabang yang paling dekatlah. Mantap ya. Oke kalau gitu kayaknya demen banget karena emang semua orang juga suka sama dapur coklat. Gua pun juga demikian. Woh, dari muda, Coach. Orang tua dulu. Wah, dari zaman-zamannya

1:07:44 di Jaksel ah banyak nih. H bo kita kasih hadiah aja kalau gitu. Kelihatannya suka nih kok si James Gui. H suka dari ini. Langsung kita bawain buat bawa pulang buat orang rumah. Ini udah jamin ya enggak kasih ke orang lain. Iya. Sorry ya teman-teman yang pada nonton ya. Jadi Anda jangan baper kayak ada langsung masukin di sana tapi enggak dikirimin. Silakan. Sama-sama. Coach, makasih ya. Nanti aku mampir-mampir di tanggal 10 deh sampil 10. Kalau misalnya kesibukan saya meskipun saya tahu kan saya lebih sibuk dibanding Pak Presiden ya, tapi maksud saya I ya ya percaya percaya percaya banget. Ampun hilang nih gua nih entar nih. Thank you ya K ya. Thank you. Kalau mau belajar sama beliau langsung aja cek ya di bawah kita kasih solusi. T

Share

Ringkasan Video YouTube