0:00 Mang Obet ini orang Sunda bekerja di Jepang. Dia itu agak kaget. Ternyata banyak sekali timun dan semangka yang dibuang. Padahal kualitasnya kualitas tinggi. Karena tidak sempat dipanen, akhirnya dibuang-buang seperti ini. Tapi sayang berceritanya mempergunakan bahasa Sunda ya. Indonesia itu kisabeng sampai Merauk ya tidak paham bahasa Sunda. Aleh sebab itu kita terjemahkan ya. K ngebarak tinggal ituak. Teu kapanen ieu teh tuh dauh waktu meureun ke manenakti bahasa yang digunakan oleh Mang Obet barusan itu maksudnya timun yang sekualitas tinggi seperti ini tidak bisa dipanen dan dibuang karena tidak sempat
0:45 waktunya enggak cukup katanya. Oleh sebab itu kita bahas dari awal ya. Bagaimana sih cerita dari Mang Obit ini yang orang Sunda bekerja dengan gaji 20 sampai R juta per bulan itu bagaimana sih sistem kerjanya? Bonteng ieu kalah patuh tutumpuk di dieu. Astagfirullahalazim. Cik c aing mah nya tuh bikun-bikun ketatangan ka urang teranawaran si goblok teh. Bang Obet bilang kalau barang-barang atau hasil tan ini harusnya dibagikan saja sama tetangga. atau sama yang kerja. Saya juga yang kerja ingin ini kalau dikasih kata tapi enggak boleh, harus dibuang karena ini barang apkiran. Nah, oke kita bahas dari awal ya. Trik cara minteran dunungan anu kumend
1:33 alias pelit jiga si Korun gini. Berikut ini Mang Obet bercerita triknya gimana caranya supaya bisa memakan semangkas jangan sampai dibuang. Nah, ini dia bercerita ketika ada semangka yang terputus padahal udah gede tapi belum matang. Harus dibawa kepada yang punya kebun diunyukin. Kata tukang kebun buang. Nah, ketika dibuang dititipkan sama pekerja yang lain di bawah ke rumah. Dia makan di rumah. Ieu ceng teh lamun urang motongkeun ieu terus engke dikadunungan dibikeun terus engke kadunungan teh pasti bakal ditar piceun gitu kan ceuk urang teh tah engke bagian maneh anu ieuna cing teh naon teh
2:19 nu mawana jadi kieu ini adalah perbedaan budaya Jepang renan budaya di Indonesia di mana total kualiti medit di antaranya kalau timun atau semangka tidak layak dimakan daripada dibagikan kepada masyarakat atau kepada orang yang tidak mampu itu lebih baik dibuang begitu saja. Jadi semua penab atau barang-barang hasil pertanian itu diseleksi mana yang layak dijual, mana yang tidak. Nah, yang tidak layak dijual tu dibuang ketong sampah tidak boleh diambil atau tidak boleh dimanfaatkan di dalam total quality manajemen itu kan seperti itu. Seperti kalau kita datang ke
3:05 bengkel auto 2000 rusak sedikit ya harus ganti tidak bisa just manfaat perbaiki misalkan begitu itu mah di bengkel biasa. Ini salah satu contoh bukti dari hasil pertanian semangka dengan pertanian timun. Ini salah satu di antaranya tuh di mobil lihat numpuk ini mau dibuang ke tong sampah padahal kualitas tinggi karena tidak sempat untuk memanennya jadi waktu panennya itu terlewat ya akhirnya dibuang begitu saja. Ini salah satu contoh budaya Indonesia dengan budaya total quality management di Jepang. Jadi di Jepang itu gajinya itu juta sampai R3 juta per bulan.
3:52 Tetapi sistem kerjanya seperti itu. Kalau di pertanian diseleksi mana nih ee hasilnya yang sekiranya bakal menghasilkan maka diseleksi. Nah, sekiranya semangka atau timun itu ini sudah ada tanda-tanda bakal jelek digunting, dibuang-buang semuanya. Jadi disisakan yang sekiranya berkualitas dan layak dijual. Begitu sudah layak panen dilihat masih tetap juga ada yang di upkir puh sayang banget ya semangka semangka yang harganya Rp400.000 ternyata itu yang kualitas bagus itu nak ya agak sekecil seperti ini itu harganya
4:38 Rp300.000 Ibu. Makanya tadi bilang miliaran dalam satu kebun ini dan tidak ada istilahnya ini ya kasihan nih ee saya yang dikasihkan sampai tukang kebunnya sendiri ini memakai trik untuk menikmati semangka karena semangka itu kan beramai wah di pang itu. Ternyata tadi bila saya ingin sekali mencicipi semangka yang saya tanam enggak bisa di sana itu lebih baik dibuang daripada dikasih kepada karyawan. Nah, ini permasalahan yang harus kita perhatikan. Apakah mau total quality management atau mau sistemi seperti di Indonesia? Kalau di Indonesia itu kan tidak ada yang mubajib. Kalau sekiranya barang-barang
5:26 yang tidak layak dijual ya dimanfaatkan gitu dikasihkan ke tetangga itu nilai ibadahnya tinggi katanya. Budaya pertanian di Indonesia itu kalau lagi hujan enggak usah berangkat pagi, nunggu saja surut hujannya. Nah, tetapi kalau di Jepang itu karena pasang target waktu sesuai dengan pesanan karena harus memenuhi target bahwa tanggal ini, bulan ini harus sudah bisa dikirim barangnya. Oleh sebab itu, walaupun hujan ya tetap aja dia itu pergi nih. Hujan-hujanan juga enggak apa-apa. Karena apa? Karena ter apa? Kejar target begituah. Nah, inilah barangkali salah satu contoh bahwa kerja manusia itu seperti robot.
6:11 Semuanya sistematis dan jelas. Jadi, tidak ada istilah untung-untungan. Jadi, semuanya juga serba terencana dari mulai pembibitan sampai pemeliharaan panen dan distribusi itu sudah jelas pasarnya. Jadi, tidak ngawang-ngawang begitu. [Musik] Bila itu pergi menghindari bahaya. Tinggalkan negeri hanya sementara. Lari dari kejahatan yang kecil. Kita luruskan ucapan Mang Obet tadi ya. katanya pemilik lahan itu atau bos saya ini
6:58 pelit sampai-sampai yang namanya semangka itu dibuang begitu saja, tidak ditawarkan kepada karyawan yang membutuhkan seperti timun tadi kan banyak yang dibuang ya, semangka juga sama. Tetapi dia itu mau kalau ditawarin enggak? Nah, ini barangkali karena merasa bahwa aturannya itu kan semua karyawan tuh digaji dengan pasti. Ada yang R juta, ada yang R30 juta per bulan. Nih salah satu contoh itu belum potongan listrik ee penginapan, belum segala-gala itu kotor. Nah, tetapi karena sudah ada aturan seperti itu, tidak ada istilah ajas manfaat. Kalau semangka
7:46 atau timun yang tadi yang bagus-bagus itu diapkir ya diapkir dibuang begitu sekali dengan Jej atau Jia-jia yang kerja di Tiongkok itu ya yang kemarin kita bahas kalau Jej itu karena sambil berernak barang-barang akiran itu dijadikan pakan ternak kotoran ternaknya menjadi pupuk. Jauh sekali ya dengan Mang Obet di Jepang. Ini kan budaya. Jadi budaya Cina begitu, budaya Jepang begini, budaya Indonesia sosial seperti yang tadi dijelaskan. Jadi mana yang harus kita ambil? Ya silakanlah mana yang terbagus. Toh kita lihat sekarang Jepang itu menjadi negara maju tetapi
8:33 tidak beranak pinak. Ada kemungkinan manusianya itu musnah paling duluan dibanding dengan bangsa-bangsa lain karena tidak mau menikah. Begitu juga di Cina atau di negara maju kan seperti itu. Sementara di Indonesia beranak pinak tetapi hidupnya tidak glamor, tidak semaju Jepang, tidak semaju Cina, tetapi hidupnya itu ya ada kegiatan sosial. orang miskin dapat ee bantuan dari orang-orang kaya. Karena 2,5% di Islam itu kalau di Kristen kan ada perpuluhan dan masih banyak lagi aturan-aturan yang bisa melestarikan kehidupan orang-orang miskin karena ada nilai sosialnya, tidak dibuang kalau
9:19 memang barang itu masih bisa dimanfaatkan. Jadi ada istilah adjust manfaat beda dengan total quality management ya. Kalau di TQM itu tidak ada istilah ajas manfaatnya. Kalau dibuang ya dibuang dari bahaya. Tinggalkan negeri hanya sementara. Mali dari kejahatan yang kerja.