BUDAYA JAWA: Wahyu Keprabon, Goro Goro dan Legenda Wijayakusuma | KEARIFAN LOKAL

Ringkasan Singkat

Video ini membahas konsep "Wahyu Keprabon" dalam budaya Jawa, legenda bunga Wijayakusuma, dan hubungannya dengan kemunculan Satria Piningit. Dijelaskan bahwa Wahyu Keprabon adalah berkah Tuhan yang diberikan kepada pemimpin terpilih, seringkali disimbolkan dengan bunga Wijayakusuma. Kemunculan Satria Piningit selalu didahului dengan "goro-goro" atau kekacauan, seperti yang digambarkan dalam berbagai serat Jawa.

  • Wahyu Keprabon adalah anugerah Tuhan yang diberikan kepada pemimpin terpilih.
  • Bunga Wijayakusuma adalah simbol nyata dari Wahyu Keprabon.
  • Kemunculan Satria Piningit selalu didahului dengan "goro-goro" atau kekacauan.

Pengertian Wahyu Keprabon

Wahyu Keprabon adalah istilah yang populer di era Mataraman dan sering muncul dalam karya sastra serta pertunjukan wayang Jawa. Dalam terminologi Jawa, "wahyu" diartikan sebagai berkah Tuhan atau anugerah dari semesta yang diperoleh secara gaib. Wahyu tidak bisa dipaksakan dan akan turun kepada orang yang terpilih, yang harus kuat dan siap secara mental untuk menyandang derajat tinggi. "Keprabon" berasal dari kata "praba" (cahaya) atau "prabu" (pemimpin besar), sehingga Wahyu Keprabon bermakna aura yang memancar dari seorang pemimpin besar.

Legenda Bunga Wijayakusuma

Legenda bunga Wijayakusuma mengisahkan tentang Prabu Aji Pramosa dari Kediri yang memburu Kyayi Jamur hingga ke pesisir selatan Cilacap. Saat Kyayi Jamur bersemedi, ia menghilang dan muncul naga raksasa yang kemudian dipanah oleh Prabu Aji Pramosa dan berubah menjadi Dewi Wasowati. Dewi Wasowati memberikan bunga Wijayakusuma kepada Prabu Aji Pramosa sebagai hadiah, dengan syarat tidak boleh melepaskannya. Bunga ini akan menurunkan raja-raja besar di Jawa. Namun, saat di tengah laut, bunga itu terlepas dari tangan Prabu Aji Pramosa dan hanyut. Tradisi memperoleh Wijayakusuma kemudian mempengaruhi ritual penobatan raja-raja Jawa, khususnya era Mataraman.

Makna Simbolis Wijayakusuma

Wijayakusuma sebagai simbol Wahyu Keprabon dapat diartikan dari namanya. "Wijaya" berarti menang atau unggul, sehingga penerima wahyu harus memiliki sifat-sifat unggul secara fisik dan psikis. Berdasarkan filsafat kepemimpinan Gajah Mada, "wijaya" juga berarti tenang, sabar, dan bijaksana. "Kusuma" berarti bunga yang menebarkan bau harum, yang menyiratkan bahwa penerima wahyu harus memiliki garis keturunan bangsawan dan nama baik yang tercatat dalam sejarah. Mereka diharapkan dapat memperindah dan mengharumkan martabat bangsa dan negara.

Wahyu Keprabon dalam Pewayangan

Dalam dunia pewayangan, terdapat lakon "Tumuruning Wahyu Cakraningrat" yang mengisahkan perebutan wahyu antara Sarja Kusuma dan Samba Wisnubrata. Wahyu tersebut berpindah-pindah hingga akhirnya masuk ke dalam raga Begawan Ringin Putih, yang kemudian berubah menjadi Abimanyu. Abimanyu menikahi Dewi Utari yang memiliki Wahyu Baboning Ratu atau Wahyu Maningrat, menyimbolkan dua wahyu keprabon yang menjadi satu. Dalam Babad Tanah Jawi, dikenal juga istilah Wahyu Gagak Emprit yang dimiliki oleh Ki Ageng Giring, namun diminum oleh Ki Ageng Pamanahan, sehingga keturunannya menjadi raja-raja Jawa.

Hubungan Wahyu Keprabon dan Satria Piningit

Kemunculan Satria Piningit tidak bisa dipisahkan dari peristiwa "goro-goro" atau kekacauan. Goro-goro menggambarkan bumi dan langit yang berguncang, menyebabkan kepanikan dan penderitaan. Namun, dalam falsafah Jawa, goro-goro dianggap sebagai awal dari kebahagiaan, karena setelah gelap pasti terbitlah terang. Berbagai serat Jawa seperti Wangsit Siliwangi, Serat Musarar, Serat Kalatidha, dan Serat Centhini menggambarkan tanda-tanda kemunculan Satria Piningit setelah terjadinya berbagai kekacauan, seperti penjajahan, krisis moral, dan bencana alam. Satria Piningit tidak akan muncul dari situasi yang tenang, melainkan setelah terjadinya goro-goro yang memakan korban rakyat.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:33 eh begini,mbah setiap kali pemilu selalu saja muncul berbagai wacana yang berhubungan dengan satria piningit namun selain wacana ini muncul juga bahasan bahasan terkait "wahyu keprabon" ya tentunya masih dalam konteks budaya jawa lha kalau sepengetahuan simbah sendiri wahyu keprabon itu sebenarnya bagaimana, to? iya benar istilah wahyu keprabon memang sejak lama sudah sering kita dengar

1:22 istilah ini cukup populer di era mataraman melalui sejumlah karya sastra para pujangganya pada seni pertunjukan wahyu keprabon juga sering dijumpai dalam jagad pakeliran jawa terdapat beragam lakon yang menyinggung tentang wahyu semacam ini seperti misal wahyu tejamaya, wahyu makutarama dan wahyu jitabsara nah menurut terminologi jawa wahyu diartikan sebagai berkah Tuhan sebuah anugerah dari mekanisme kebijakan semesta

2:10 yang diperoleh seseorang secara gaib wahyu tidak dapat dipaksakan dan akan turun pada seseorang yang terpilih melalui berbagai media orang yang terpilih haruslah seseorang yang kuat dan siap secara mental untuk menyandang derajat tinggi tersebut selain itu istilah keprabon berasal dari kata praba yang berarti cahaya namun ada juga yang menganggapnya berasal dari kata prabu yang artinya bendara atau penggede

2:57 pemimpin besar jika dua arti kata ini digabungkan kita akan mendapat makna aura yang memancar di seputar kepala dan dimiliki oleh pemimpin besar keberadaan cahaya itu merupakan penanda adanya keluhuran dan kemuliaan seseorang dibanding orang lainnya bagi mereka yang memiliki kemampuan melihat hal-hal metafisika konon mereka dapat melihat cahaya keprabon yang memancar dari orang yang memangku wahyu keprabon tersebut

3:44 karena bersifat gaib maka wahyu keprabon sering diwujudkan dalam bentuk simbol atau lambang salah satunya dalam bentuk kembang semisal wijayakusuma yang mekar dan menebarkan aromanya di malam hari konon bunga ini dijaga oleh seekor burung bayan di pulau majeti dekat pulau nusa kambangan cilacap ada sebuah legenda tentang bunga wijayakusuma ini bagaimana kisahnya mbah ? begini

4:29 dikisahkan ada seorang maharaja yang berkuasa di tlatah kediri bernama prabu aji pramosa prabu aji pramosa adalah seorang raja yang berwatak keras dan tidak mau tunduk pada siapapun ketika ia mendengar tentang keberadaan seorang resi tersohor bernama kano atau sering disebut sebagai kyayi jamur yang tinggal di negaranya dia menjadi dengki tidak ingin ada orang yang lebih hebat darinya tanpa meminta pendapat dari penasehat negara

5:17 prabu aji pramosa bermaksud menangkap dan membunuh kyayi jamur namun sebelum rencananya terwujud kyayi jamur ternyata telah meninggalkan kerajaan kadiri menuju pesisir laut selatan di cilacap bersama senopati pilihannya prabu aji pramosa memburu kyayi jamur hingga ke wilayah itu ketika kyayi jamur tengah bersemedi di atas batu gilang di tengah pulau sebelah selatan para senopati ingin segera menangkapnya namun sebelum jubahnya tersentuh

6:04 kyayi jamur tiba-tiba menghilang bersamaan dengan itu muncul seekor naga raksasa dari samudra prabu aji pramosa segera melepaskan panah dari busurnya panah itu tepat mengenai kepala naga raksasa tersebut dan membuatnya lenyap seketika berubah menjadi seorang putri rupawan bernama dewi wasowati dewi wasowati kemudian berjalan di atas samudra mendekati prabu aji pramosa wasowati kala itu berkehendak untuk memberikan wijayakusuma spesial

6:52 kepada prabu aji pramosa sebagai hadiah karena dia dianggap telah mengubahnya kembali menjadi manusia namun dewi wasowati juga memberikan peringatan kepada prabu aji pramosa agar tidak pernah melepaskan wijayakusuma itu dari genggaman tangannya oleh karena memiliki bunga itu prabu aji pramosa kelak akan menurunkan raja-raja besar di tanah jawa wasowati kesempatan itu juga memberi nama baru pada pulau di mana mereka berada yakni pulau nusa kembangan

7:41 setelah berkata demikian dewi wasowati lantas menghilang dan prabu aji pramosa meninggalkan pulau nusa kembangan sayangnya ketika sampai di tengah segoro anakan sampannya tersapu gelombang besar aji pramosa lengah sehingga bunga wijayakusuma terlepas dari tangannya hanyut ke dasar pusaran air jadi sepertinya legenda kembang wijayakusuma asli nusa kambangan itu sudah didengar cukup lama sampai-sampai

8:27 mempengaruhi tradisi para raja-raja jawa berikutnya khususnya raja era mataraman dan para keturunannya selama berabad-abad sebab konon setiap kali terjadi penobatan raja sebuah ritual sakral dilakukan di nusa kambangan untuk memperoleh wijayakusuma yang spesial ya mungkin saja begitu apalagi ada cerita dalam babad tanah jawi terkait bunga ini dikisahkan pangeran adipati anom selepas ayahnya wafat dan menggantikan kedudukannya dengan gelar susuhunan prabu amangkurat senapati ing alaga

9:16 dia memerintahkan pada ki pranantaka untuk pergi ke donan atau nusa kambangan ki prantaka harus mendapatkan bunga itu bagaimanapun caranya bahkan sampai ubanan sekalipun sementara susuhunan amangkurat atau sunan amangkurat ii berangkat dari banyumas menuju tegal ki prantaka yang diutus ke nusa kambangan akhirnya sampai di masjid watu di tempat itu dia melakukan tirakat luar biasa tidak makan tidak minum selama 7 hari 7 malam

10:06 pada malam jumat ki pranantaka menyaksikan sepasang sekar wijayakusuma yang bersinar sinar mencorong dia kemudian memetiknya dan membawanya ke tegal untuk diserahkan pada susuhunan atau sunan amangkurat ii gembira bukan kepalang sang nata kala itu karena bunga itu akan menjadi tanda keselamatan tahtanya dia semakin mantap untuk berkuasa nah selain apa yang diungkapkan dalam babad tanah jawi ini ada juga yang mengisahkan

10:51 bahwa cara memetik wijayakusuma asli nusa kambangan itu tidak seperti memetik bunga pada umumnya bunga ini dipetik tidak dengan tangan melainkan dengan menggunakan batin melalui semedi setelah melakukan ritual labuhan sang pemetik akan melakukan tirakat seperti yang dilakukan ki prantaka dalam tirakat itu sang utusan akan mendapat petunjuk di mana dia akan meletakkan kain putih bersih sebagai tadah barulah kemudian

11:38 oleh karena kehendak semesta bunga yang dimaksud akan jatuh dengan sendirinya ke dalam kain yang telah disiapkan tadi itu selanjutnya bunga itu dibawa ke kraton dalam prosesi yang tidak kalah sakral dan diserah terimakan pada susuhunan atau sultan jika tadi simbah mengatakan bahwa wijayakusuma itu merupakan simbol dari wahyu keprabon dalam bentuk nyata lalu bagaimana babarannya mbah ya kita bisa melihat dari nama pertama adalah wijaya

12:25 wijaya memiliki makna menang atau unggul dengan demikian seseorang yang berpeluang untuk menerima wahyu keprabon harus memiliki sifat-sifat unggul baik secara fisik maupun psikis yang telah terlatih melalui pengalaman dan proses pertumbuhan pribadi yang panjang sementara itu berdasarkan kajian filsafat kepemimpinan gajah mada wijaya diinterpretasikan sebagai sikap yang tenang, sabar dan bijaksana ini berarti bahwa individu yang berpotensi menerima wahyu keprabpun

13:13 adalah mereka yang memiliki sifat-sifat yang demikian juga yang kedua adalah kusuma kusuma adalah bunga, kembang, puspa atau puspita tentu saja yang dimaksud adalah bunga yang menebarkan bau harum dari makna ini dapat disimpulkan bahwa individu yang berhak atas wahyu keprabon adalah mereka yang masih memiliki jejak atau garis keturunan bangsawan dari masa lampau dan memiliki nama baik serta tercatat dalam sejarah mereka dianggap akan memperindah dan mengharumkan martabat

14:03 serta peradaban bangsa dan negaranya seperti leluhurnya di masa lampau oh ya tadi di awal, simbah mengatakan bahwa dalam pewayangan pun wahyu keprabon juga dikisahkan apa bisa diceritakan salah satunya mungkin mbah oh ya baik dalam jagad pakeliran jawa kita mengetahui adanya lakon berjudul tumuruning wahyu cakraningrat lakon tersebut mengisahkan terjadinya perebutan wahyu antara sarja kusuma putra duryudana raja hastina dengan samba wisnubrata putra prabu kresna

14:52 yang sama-sama berkeinginan untuk menjadi raja kisahnya dimulai dari penangkilan negeri hastina di mana prabu duryudana terlihat muram karena pangeran adipati anom sarja kusuma pergi tanpa pamit adipati karna mencoba menghibur duryudana dengan berkata agar kepergian sarja kusuma tidak perlu dipikirkan karena masalah tersebut akan diselesaikan oleh karna sendiri dengan dibantu oleh para kurawa yang lain dalam pencarian itu ketika sampai di tepi hutan tikbrasara

15:38 pasukan hastina bertemu dengan pasukan dari dwarawati yang dipimpin oleh setyaki sebagaimana adipati karna, setyaki bersama patih udawa dan emban doblajaya tengah mencari samba wisnubrata yang juga sedang meninggalkan kesatriannya tanpa pamit pertemuan kedua pihak itu memanas dan berakhir dengan konflik manakala sengkuni yang turut serta dalam rombongan hastina menuduh setyaki beserta orang-orang dwarawati telah menyembunyikan dan menganiaya sarja kusuma

16:24 dalam konflik itu pasukan dwarawatilah yang lebih unggul sementara pasukan hastina lari pontang panting memasuki hutan di sisi lain, di dalam hutan tikbrasara samba wisnubrata tengah bertapa dalam tapanya itu samba melihat cahaya terang sebesar biji bawang itulah wahyu cakraningrat yang kemudian melesat turun dan masuk ke dalam raga samba karena merasa telah mendapatkan apa yang dicari samba berubah menjadi pongah dan lupa diri

17:09 di tengah perjalanan pulang samba bertemu dengan sarja kusuma dikarenakan kepongahannya wahyu cakraningrat di dalam raga samba secara tiba-tiba berpindah ke tubuh sarja kusuma yang juga baru saja menyelesaikan tapa bratanya oleh karena perpindahan itu samba wisnubrata merasa bahwa sarja kusuma telah merebut wahyu cakraningrat darinya keduanya kemudian bertarung dalam pertarungan itu mereka tidak menyadari bahwa wahyu cakraningrat

17:56 ternyata lagi lagi berpindah tempat pada sudut lain di hutan tikbrasara yakni pada bagian tepi danau begawan ringin putih kala itu juga sedang bertapa pada keheningan samadinya itu begawan ringin putih tidak menyadari bahwa wahyu cakraningrat tiba-tiba masuk di dalam raganya yang dia tahu, ketika membuka mata, apa yang nampak dalam pandangan matanya hanyalah suasana yang sangat terang benderang namun bersamaan dengan itu pula datanglah samba dan sarja kusuma

18:43 keduanya meminta wahyu cakraningrat yang berada di dalam raga begawan ringin putih karena merasa tidak memiliki wahyu itu begawan beringin putih tentu saja tidak bisa mengabulkan permintaan keduanya bahkan begawan beringin putih mempersilahkan keduanya untuk memeriksa tubuhnya ketika samba dan sarja kusuma menjamah tubuh begawan ringin putih keduanya justru terpental tersapu angin sangat kencang hingga membuat terlempar jauh dari tempat itu samba terjatuh di hadapan setyaki dan rombongannya

19:29 dia mengatakan pada setyaki bahwa begawan ringin putih telah merampas wahyu cakraningrat darinya sementara sarja kusuma yang jatuh di hadapan adipati karna dan pasukan hastina juga mengatakan bahwa wahyu cakraningrat telah dirampas oleh begawan ringin putih darinya serta-merta kedua pihak itu bersama-sama mencari begawan ringin putih untuk membunuhnya begawan ringin putih berhasil ditemukan dia dikepung rapat namun baru beberapa langkah siap mendekat angin kencang kembali datang

20:15 dan memporak porandakan para pengepung seluruhnya setyaki buru-buru pulang ke dwarawati untuk melaporkan hal tersebut pada prabu kresna prabu kresna pun kemudian datang menggunakan senjata cakra pusakanya prabu kresna berusaha untuk menaklukkan sang begawan namun tidak disangka begawan beringin putih mendadak berubah wujud menjadi keponakannya sendiri yakni abimanyu putra arjuna yang lahir dari istrinya subadra kelak abimanyu akan menikahi dewi utari putri prabu matswapati yang juga memiliki

21:04 wahyu baboning ratu atau wahyu maningrat perkawinan keduanya adalah simbol dua wahyu keprabon yang menjadi satu yakni wahyu cakraningrat dan wahyu maningrat kelak pasangan ini memiliki putra bernama parikesit dan dialah yang menjadi raja di hastina pasca perang bratayuda nah merujuk kisah dari jagad pakeliran ini wahyu keprabon disebut sebagai wahyu cakraningrat dan wahyu maningrat sementara itu dalam babad tanah jawi kita mengenal istilah wahyu gagak emprit

21:50 wahyu ini berada dalam sebuah kelapa hijau dan dimiliki oleh ki ageng giring namun sayangnya, pada fase cerita berikutnya, kelapa ini justru diminum oleh ki ageng pamanahan yang sedang bertamu dan kehausan akibatnya raja-raja jawa selanjutnya merupakan keturunan dari ki ageng pamanahan dari kisah-kisah diatas bisa disimpullkan bahwa wahyu keprabon itu sendiri memiliki banyak nama atau sebutan lalu kapan wahyu keprabon itu akan turun dan apa hubungannya dengan satria piningit, mbah?

22:38 nah kehadiran satria piningit tidak bisa dilepaskan dari sebuah peristiwa yang bagi sebagian orang cukup menyeramkan yakni peristiwa goro-goro pada adegan goro-goro, seorang dalang selalu mendahuluinya dengan suluk goro-goro suluk ini menggambarkan bagaimana bumi dan langit bergocang-goncang bumi seperti bergerak disebabkan oleh gempa sebanyak 7 kali dalam sehari yang merembet hingga sampai samudra raya bersamaan dengan itu guntur juga meledak-ledak

23:24 orang-orang menjadi begitu panik sehingga mereka saling berbenturan lari keempat penjuru mata angin jika sebagian orang menganggap bahwa goro-goro begitu mengerikan namun sebaliknya bagi masyarakat jawa yang sangat lekat dengan falsafah cakra manggilingan goro-goro justru ditangkap sebagai awal dari kebahagiaan sebagaimana kita tahu, bahwa sehabis gelap tentu terbitlah terang karena falsafah cakra manggilingan yang demikian masyarakat jawa memiliki persepsi bahwa kemunculan seorang satria piningit

24:11 selalu didahului dengan goro-goro goro-goro itu sendiri terbagi atas beberapa sebutan diantaranya adalah goro-goro kalatidha hingga goro-goro kalabendhu dan goro-goro jaman gemblung (edan) namun keseluruhannya sama-sama menyeret orang kecil ke dalam penderitaan lahir dan batin sebelum pada akhirnya mereka kembali menikmati kebahagiaan untuk diketahui, gambaran semacam itu bukan hanya terdapat dalam jagad pakeliran atau jagad pewayangan saja namun juga terdapat dalam sejumlah serat

24:57 diantaranya adalah dalam wangsit siliwangi, serat musarar, serat sabda palon, serat kalatidha dan juga serat centhini dalam wangsit siliwangi misalkan, tanda-tanda kemunculan satria piningit digambarkan setelah terjadinya kekeringan yang melanda hingga sungai cibanteun negara akan pecah karena kerbau putih digembalakan oleh orang-orang jangkung raja-raja dibelenggu dan orang-orang jangkung lah yang berkuasa penduduk asli hanya akan menjadi orang suruhan bisa kita simpulkan bahwa keadaan buruk ini

25:45 menggambarkan suatu masa di mana kita sebagai sebuah bangsa dijajah oleh bangsa eropa kemudian muncul juga goro-goro lain dimana digambarkan bahwa ada sekawanan monyet yang berkuasa kala itu penduduk asli seperti terbangun dari mimpi begitu sadar miliknya ternyata telah dicuri dan dijual mereka tidak menyadari bahwa di luar keadaan telah berganti gambaran dalam wangsit siliwangi ini tentu bisa kita simpulkan bahwa masa yang dimaksud adalah masa di mana kita pernah dijajah bangsa jepang

26:33 hasil bumi dirampas sementara penduduk asli justru tidak tahu bahwa dunia luar sedang berubah dan para penjajah jepang sendiri sebenarnya telah kalah hingga pada akhirnya muncul fase ketiga dimana sekawanan monyet yang berkuasa dan para orang jangkung yang menggembala kerbau putih telah kabur penduduk asli menjadi bersukacita hingga kemudian muncul satria piningit yang disebut satria kinunjara murwakuncara dalam versi raden ranggawarsita usai hal itu terjadi wangsit siliwangi juga menggambarkan muncul kembali kerusuhan

27:21 kematian terjadi dimana-mana dan manusia saling berebut tanah di saat inilah muncul seorang pemimpin gendut yang mungkin bisa diartikan sebagai pemimpin yang hanya mementingkan dirinya sendiri dan pada fase ini pula terjadi bencana alam yang cukup dahsyat juga yakni meletusnya gunung gede dan 7 gunung lainnya itulah goro-goro yang tercatat dalam wangsit siliwangi pada pupuh sinom bait ke 20 dari serat musarar terdapat gambaran bagaimana negara juga sedang mengalami keadaan berantakan

28:07 hubungan pemimpin negara dengan rakyat semakin jauh dan tidak dinamis sesama pemimpin saling jegal untuk tampil paling depan bagi para winasis, itu adalah masa dimana terjadi perseteruan dua trah yakni trah jaka tingkir atau pajang dengan trah pakubuwana atau trah mataram lalu pada pupuh sinom bait 21 muncul gambaran bagaimana negara pada waktu itu banyak diintervensi oleh penguasa asing orang pintar menjadi tidak berdaya mereka yang kaya semakin kaya dan rakyat semakin sengsara

28:52 pada pupuh sinom bait kedua serat musarar menggambarkan datangnya zaman kalabendhu zaman di mana banyak terjadi kerepotan sehingga pemimpin negara tidak sempat lagi mengurusi dirinya sendiri digambarkan bahwa dia sampai-sampai tidak sempat merias diri sendiri kain dan sabuk tidak sempat dikenakannya pemimpin ini dianggap tidak sanggup menyelesaikan beberapa persoalan negara dikarenakan sifatnya yang serba bimbang dan tidak tegas berbeda lagi dengan gambaran serat kalatidha karya ranggawarsita

29:37 pada pupuh sinom bait 1 sampai 5 digambarkan bahwa negara akan menghadapi berbagai persoalan para pemimpin tengah terjebak dalam kebingungan sekaligus berada dalam tekanan sehingga mereka menyingkirkan para bawahan yang baik dan justru menempatkan para pembantu baru yang sebelumnya memiliki banyak masalah mereka mempertahankan kedudukannya dengan cara menjegal sesama bawahan lainnya norma-norma kehidupan di zaman kalabendhu tampak sangat merosot para cerdik pandai dan kaum pemuka agama

30:22 yang seharusnya menjadi teladan justru hanyut dalam praktek politik yang menghalalkan segala cara rakyat semakin menderita mereka tidak mengetahui yang benar dan yang salah berbagai cara digunakan untuk melanggengkan kekuasaan kiranya ini senada dengan apa yang tertulis dalam serat centhini sejumlah hal buruk terjadi banyak pemimpin yang bicaranya serba asal-asalan sehingga tidak dapat dipercaya oleh rakyatnya banyak wanita telah kehilangan rasa malu mereka terjebak dalam industri yang dianggap mudah

31:10 mendapatkan uang dengan cepat terjadi krisis ekonomi dan moral korupsi terjadi di mana-mana hubungan persaudaraan merenggang angka kejahatan naik dan kriminalitas merajalela dalam serat ini juga disebutkan sejumlah bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, angin ribut, banjir bandang, kekeringan yang panjang dan hujan yang salah musim di samping itu juga muncul kerusuhan dan pertengkaran yang tidak diketahui siapa dalangnya kewibawaan negara dan para pemimpin

31:57 semakin merosot di mata rakyatnya banyak pemimpin yang mengatakan bahwa negara dalam keadaan tentram dan sejahtera namun realitasnya justru sebaliknya iya zaman edan adalah suatu zaman di mana masyarakat menjadi bingung tidak bisa membedakan mana yang benar - mana yang salah seperti yang sering mbah bilang akan banyak orang terpilih jadi pemimpin tapi tidak selalu para pemimpin itu masuk dalam kategori satria piningit berdasarkan sejumlah serat yang kita ketahui selama ini

32:47 satria piningit tidak akan pernah muncul dari situasi yang adem ayem dia hanya muncul setelah terjadinya goro-goro yang banyak memakan korban rakyat baik melalui peristiwa alam maupun peristiwa sosial politik apalagi sosok satria piningit yang masuk dalam kategori "ratu adil"

Share

Ringkasan Video YouTube