Budaya Sekolah Aman Dan Nyaman Dalam Rangka Penguatan Karakter Dan Perlindungan Murid Di Sekolah

Ringkasan Singkat

Video ini membahas tentang pentingnya budaya sekolah yang aman dan nyaman untuk pembentukan karakter dan perlindungan murid. Beberapa poin utama yang dibahas meliputi:

  • Peran penting Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 6 Tahun 2026 tentang budaya sekolah aman dan nyaman (BSAN).
  • Pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.
  • Pentingnya deteksi dini potensi gangguan keamanan dan kenyamanan di sekolah.
  • Pentingnya penguatan kapasitas guru dan tenaga pendidik dalam menciptakan budaya sekolah yang aman dan nyaman.
  • Pentingnya pengasuhan positif di rumah untuk mendukung budaya sekolah yang aman dan nyaman.

Pembukaan

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dilanjutkan dengan sambutan dari pembawa acara. Seminar ini bertemakan budaya sekolah aman dan nyaman sebagai bagian dari pembentukan karakter dan perlindungan murid di sekolah. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia bersama Save the Children Indonesia melalui program Kreasi (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia). Program Kreasi bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. Seminar ini akan membahas regulasi dan implementasi Permen Dikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang BSAN. Tujuannya adalah meningkatkan pemahaman tentang pentingnya menciptakan budaya sekolah aman dan nyaman serta mendorong kolaborasi antar berbagai pihak dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan berpihak pada anak.

Sambutan dari Save the Children Indonesia

CEO Save the Children Indonesia, Desi Kurwiani Ukar, menyampaikan bahwa pendidikan bukan hanya tentang pencapaian akademik, tetapi juga tentang memastikan setiap anak merasa aman, dihargai, dan terlindungi di lingkungan belajarnya. Program Kreasi yang didanai oleh Global Partnership for Education merupakan upaya nyata untuk mempercepat peningkatan literasi, numerasi, penguatan karakter, dan perlindungan anak melalui intervensi di lebih dari 500 satuan pendidikan di delapan kabupaten di empat provinsi. Desi mengapresiasi Permen Dikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang BSAN sebagai langkah strategis untuk memastikan sekolah tidak hanya aman secara fisik, tetapi juga secara psikologis, sosial, dan digital. Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan catur pusat pendidikan (sekolah, keluarga, masyarakat, dan media) dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.

Laporan Kegiatan dari Kementerian Pendidikan

Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Suharti, melaporkan bahwa seminar ini bertujuan untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional dan menjadi momentum penting untuk merefleksi kembali arah pendidikan. Pendidikan tidak hanya tentang capaian akademik, tetapi juga tentang bagaimana sekolah menjadi ruang tumbuh yang aman, sehat, inklusif, dan memanusiakan bagi setiap anak Indonesia. Kegiatan ini juga sebagai wadah untuk memperkuat implementasi Permen Dikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang BSAN dan Kepmen Diktasmen Nomor 17 Tahun 2026 tentang pedoman penyelenggaraan BSAN. Seminar ini diharapkan dapat menjadi ruang berbagi praktik baik, penguatan pemahaman, serta penguatan komitmen bersama dalam melaksanakan BSAN di seluruh Indonesia.

Sambutan dari Menteri Pendidikan

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Abdul Muti, menekankan pentingnya tema seminar dalam situasi saat ini, di mana sekolah belum sepenuhnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak. Berbagai bentuk perundungan masih terus terjadi dengan pelaku yang semakin beragam. Keberhasilan pendidikan ditentukan oleh bagaimana menciptakan lingkungan fisik dan sosial yang aman bagi anak-anak untuk belajar dengan sebaik-baiknya. Permen Dikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang BSAN sejalan dengan gerakan ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah). Menciptakan lingkungan sekolah yang aman tidak hanya sekadar menata lingkungan fisik, tetapi juga mengembangkan sekolah yang ramah lingkungan dan nyaman bagi murid berkebutuhan khusus.

Menteri juga menyoroti pentingnya keamanan secara sosial dan psikologis, di mana sekolah tidak menjadi ajang demonstrasi strata sosial atau kekuatan material. Perundungan sering kali bermula dari relasi kuasa antara yang kuat dan yang lemah. Keamanan secara intelektual juga penting, sehingga perankingan dan membandingkan murid satu dengan yang lain dari capaian akademik dapat menjadi penyebab perundungan. Cara melakukan pendekatan kepada murid harus berubah dengan mengedepankan nilai dan penghormatan. Dalam deep learning, kata kunci yang pertama adalah memuliakan guru, murid, dan ilmu. Budaya sekolah yang aman dan nyaman harus ditumbuhkan melalui nilai, kebiasaan, komitmen bersama, serta kolaborasi multisektor.

Sesi 1: Kerangka Regulasi Budaya Sekolah Aman dan Nyaman

Sesi ini membahas kerangka regulasi budaya sekolah aman dan nyaman serta upaya pencegahan dan rujukan penanganannya.

Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026

Rita Pranawati, Staf Khusus Menteri Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemertaan Pendidikan Daerah 3T, menjelaskan bahwa rasa aman dan nyaman penting bagi setiap murid agar mereka nyaman di sekolah, nyaman belajar, dan nyaman berinteraksi sehingga bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Arah dan semangat kebijakan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 adalah memperkuat promotif, preventif, dan kolaboratif. Perluasan perlindungan tidak hanya fokus pada kekerasan, tetapi juga menyeluruh di sekolah, dalam pembelajaran, di luar sekolah, hingga ruang digital. Partisipasi semesta diharapkan melibatkan warga sekolah, masyarakat, orang tua, dan semua pihak yang berkepentingan. Empat aspek nyaman meliputi spiritual, fisik, psikologis, sosiokultural, dan digital. Penanganan kolaboratif diharapkan nonlitigasi. Asas yang di-highlight dalam Permendikdasmen ini adalah humanis, komprehensif, partisipatif, kepentingan terbaik bagi anak, non diskriminatif, inklusif, keadilan dan kesetaraan gender, harmonis, serta berkesinambungan.

Pedoman Penyelenggaraan Budaya Aman dan Nyaman di Satuan Pendidikan

Rusprita Putri Utami, Kepala Pusat dan Penguatan Karakter, menjelaskan lebih detail tentang Permendikdasmen 6 2026 yang terdiri dari 7 bab dan 46 pasal. Tiga hal yang di-highlight adalah penguatan tata kelola, edukasi, dan penguatan peran seluruh warga sekolah. Penguatan tata kelola meliputi deteksi dini potensi gangguan keamanan dan kenyamanan, pembentukan tata tertib dan kode etik, serta penyusunan pos-pos kegiatan yang prosedural. Edukasi warga sekolah meliputi penguatan kapasitas kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan dalam deteksi dini, penanganan pelanggaran, dan pemahaman terhadap ragam disabilitas. Penguatan peran warga sekolah meliputi pembagian peran, manajemen kelas yang melibatkan murid, keteladanan, dan penerapan budaya positif.

Pencegahan dan Sistem Rujukan dalam Mendukung Budaya Sekolah Aman dan Nyaman

Rini Handayani, Plt. Deputi Pemenuhan Hak Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, menekankan pentingnya komitmen bersama dalam melindungi anak, karena 30% waktu anak ada di sekolah. Keterlibatan seluruh pihak menunjukkan kepedulian terhadap anak. Kementerian Pemberdayaan Perempuan ingin menjamin bahwa anak di mana pun dia berada terlindungi dan terpenuhi haknya. Hak anak adalah hak asasi manusia dalam berbagai bentuk apapun. Pemenuhan hak anak dijamin oleh negara dalam pasal 28B ayat 2 dari Undang-Undang Dasar 45 yang diratifikasi dengan meratifikasi konvensi hak anak. Pendidikan termasuk unsur pengasuhan di dalamnya, sehingga orang dewasa harus menjadi role model bagi anak-anak. Disiplin positif penting untuk mengajarkan anak melaksanakan tanggung jawabnya.

Sesi 2: Implementasi Budaya Sekolah Aman dan Nyaman

Sesi ini membahas implementasi budaya sekolah aman dan nyaman di lingkungan pendidikan.

Kerangka Perlindungan Anak dalam Menciptakan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman

Tata Sudrajat, Senior Director Advocacy Campaign and Government Relation Save the Children Indonesia, menyampaikan bahwa kekerasan dapat menjadi warisan yang terus berlanjut dari generasi ke generasi. Perlindungan anak meliputi perlindungan semua hak anak, mulai dari kelangsungan hidup, tumbuh kembang, partisipasi, hingga perlindungan dari kekerasan. Perlindungan anak dapat menjadi mainstreaming atau sektor tersendiri dengan sistem perlindungan anak yang merespon kasus. Ketika terjadi insiden kekerasan, sekolah jangan merasa sendiri karena ada sistem yang sudah ada untuk melapor. Analisis struktur menunjukkan bahwa insiden kekerasan adalah puncak gunung es dari masalah yang lebih besar, seperti kepercayaan yang salah tentang kekerasan, ketidakadilan, kemiskinan, dan risiko digital. Segitiga perlindungan anak menggambarkan tingkatan risiko yang dihadapi anak, mulai dari setiap anak, anak dari keluarga yang kesulitan, anak pelaku kekerasan, hingga anak korban kekerasan. Manajemen kasus penting untuk mengatasi trauma psikologis dan mencegah pelaku kekerasan melakukan tindakan serupa.

Membangun Kapasitas Keluarga Melalui Pengasuhan Positif dalam Mendukung Budaya Sekolah Aman dan Nyaman

Siti Nurandini, Direktur Keluarga Kita, menjelaskan bahwa lembaganya fokus pada pendidikan keluarga dengan mengedukasi para orang tua. Kurikulum dasar Keluarga Kita meliputi hubungan reflektif, disiplin positif, dan belajar efektif. Fondasi hubungan yang aman penting untuk memberikan pola kelekatan yang aman bagi anak-anak dan mencegah kekerasan. Tujuh fondasi hubungan yang aman meliputi mendengarkan anak, vulnerable, empati, memvalidasi emosi, curius, alokasi waktu, dan merancang interaksi yang menyenangkan. Disiplin positif diawali dengan unlearn miskonsepsi yang ada di kepala kita semua. Anak sejak lahir memiliki otonomi dan perlu zona aman untuk belajar dan tumbuh. Orang tua dan pendidik perlu menjadi figur otoritatif yang konsisten. Prinsip dasar pengasuhan Keluarga Kita adalah mencintai dengan lebih baik, yang disingkat menjadi CARI CARA, INGAT IMPIAN TINGGI, NERIMA TANPA DRAMA, TIDAK TAKUT SALAH, dan ASYIK MAIN BERSAMA.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:57 Bangitlah jiwanya Bangunlah bangunan untuk Indonesia Raya. Indonesia Raya merdeka merdeka tanahku negeriku yang kucinta Indonesia Raya merdeka, merdeka. Hiduplah Indonesia Raya. Indonesia Raya. Merdeka, merdeka. Tanahku negeriku yang kucinta Indonesia Raya. Merdeka, merdeka.

1:42 Hiduplah Indonesia Raya. Hadirin kami persilakan untuk duduk kembali. Selamat siang. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Shalom. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan. Salam sejahtera untuk kita sekalian. Yang terhormat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Prof. Dr. Abdul Muti, M. Yang kami hormati Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Ibu Suharti M. PhD. Para pejabat eslon 1 dan eslon 2 di lingkungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia,

2:28 Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Kementerian Agama Republik Indonesia, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, serta Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Chief Executive Officer Safe the Children Indonesia, Ibu Desi Kurwiani Ukar S. M.M. Bapak dan Ibu narasumber serta Bapak Ibu hadirin sekalian yang hadir langsung di ruangan ini serta hadirin yang bergabung melalui siaran langsung di kanal YouTube. Selamat datang di seminar dengan tema budaya sekolah aman dan Nyaman pembentukan karakter dan perlindungan murid di sekolah. Senin 25 Mei 2026. Acara ini masih dalam suasana

3:16 memperingati hari pendidikan nasional. Kegiatan ini diselenggarakan atas kolaborasi Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia bersama Save the Children Indonesia melalui program kreasi atau kolaborasi untuk edukasi anak Indonesia. Kreasi adalah program untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. Program kreasi dikelola oleh Save the Children dan didanai oleh Global Partnership for Education atau GPE serta dikembangkan bersama oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan Kementerian Agama dalam konsorsium kolaboratif mitra pendidikan

4:03 Indonesia. Seminar pada siang hari ini akan membahas regulasi dan bagaimana implementasi Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah atau Permen Dikdasmen nomor 6 tahun 2026 tentang budaya sekolah aman dan nyaman atau BSAN. Dan tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman tentang pentingnya menciptakan budaya sekolah aman dan nyaman serta mendorong kolaborasi antar pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, komunitas, dan ekosistem pendidikan dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan berpihak pada anak. Acara ini diselenggarakan secara hybrid langsung dari kantor Kemendikdasmen di Jakarta dan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube

4:49 Kemendikdas Desmen Save the Children Indonesia dan Kreasi Nasional. Saya Bayu Andrianto yang akan memandu acara pada siang hari ini. Selanjutnya Bapak Ibu hadirin sekalian, mari kita simak sambutan dari Chief Executive Officer Save the Children, Ibu Deswiani Ukar. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera untuk kita semua. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam

5:36 kebajikan. Salam sehat. Yang terhormat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Bapak Abdul Muti. Terima kasih banyak Bapak telah hadir di tengah-tengah kita. Yang kami hormati Bapak, Ibu para pejabat pimpinan tinggi di lingkup Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Agama, serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Kementerian juga Lembaga Lainnya. Bapak, Ibu narasumber dan tamu undangan yang hadir langsung serta yang bergabung melalui daring. Terima kasih banyak telah hadir pada hari ini. Apa kabar

6:21 Bapak dan Ibu? Semoga dalam keadaan sehat di siang hari ini. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa karena berkat rahmat-Nya kita dapat berkumpul bersama dalam webinar yang bertema budaya sekolah aman dan nyaman atau BSAN. Kegiatan inielenggara atas kerja sama Safety Indonesia melalui program kreasi dengan Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Kerja sama ini merupakan salah satu implementasi dari nota kesepahaman atau MOU yang sudah ditandatangani bersama pada bulan Januari lalu. Bapak, Ibu yang saya hormati. Tentunya masih dalam

7:07 suasana peringatan Hari Pendidikan Nasional ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa pendidikan bukanlah hanya tentang pencapaian akademik, tapi juga untuk memastikan setiap anak merasa aman, dihargai, dan terlindungi di lingkungan belajarnya. Merupakan kehormatan tentunya bagi kami dapat bermitra dengan Kemen Dikdasmen melalui beragam program pendidikan. kesehatan, perlindungan anak hingga kebencanaan. Salah satu program bernama Kreasi Kolaborasi untuk edukasi Anak Indonesia yang didanai oleh Global Partnership for Education merupakan upaya nyata untuk mempercepat peningkatan literasi

7:52 numerasi sekaligus penguatan karakter dan perlindungan anak melalui intervensi lebih dari 500 satuan pendidikan di delan kabupaten di empat provinsi yaitu Sumatera Utara, Lampung, Kalimantan Barat, dan Maluku Utara. Kami menyadari sepenuhnya dengan peningkatan kualitas pendidikan yang tidak dapat dilepaskan dari kualitas lingkungan belajar itu sendiri. Sehingga hadirnya Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah nomor 6 tahun 2026 tentang budaya sekolah aman dan nyaman atau BSAN merupakan langkah strategis yang sangat kami apresiasi. Kebijakan ini merupakan kerangka yang komprehensif untuk memastikan sekolah

8:38 tidak hanya aman secara fisik, tapi secara psikologis, sosial, dan bahkan dalam ruang lingkup digital. Salah selama 1 tahun program kreasi berjalan. Pelatihan intensif telah membekali para pendidik untuk mengubah tantangan perilaku menjadi peluang dalam membangun karakter anak. Tentu ini merupakan hal yang tidak mudah dan kami mendapatkan berbagai pesan dari satuan pendidikan di mana tempat kami bekerja. Bapak Fugori, guru di Tanggamus menyampaikan kepada kami, kita tidak sedang menghukum masa lalu mereka. Kita sedang membangun masa depan mereka melalui disiplin positif. Di Morotai, ada seorang anak bercerita

9:23 dan menyampaikan tentang perubahan yang terjadi di rumahnya. Ia mengatakan bahwa komunikasi dengan orang tuanya kini terasa lebih hangat dan lebih lembut. Orang tua memanggilnya dengan penuh kasih sayang sehingga hubungan pun menjadi semakin hangat. Hal ini merupakan salah satu praktik baik bagaimana kolaborasi diterapkan antara pemerintah dan catur pusat pendidikan yang terdiri dari sekolah, keluarga, masyarakat, dan media dalam menciptakan lingkungan belajar aman dan nyaman. Bapak Menteri dan para hadirin sekalian, kami berkomitmen melalui program kreasi akan terus mendukung upaya pemerintah dalam memastikan setiap anak di Indonesia tumbuh dan bebas dari

10:08 kekerasan eksploitasi diskriminasi, dan intoleransi, serta mendapatkan haknya atas pendidikan yang berkualitas dan bermartabat. Kami percaya bahwa budaya sekolah tidak bisa dibangun secara instan, namun harus ditumbuhkan melalui nilai, kebiasaan, komitmen bersama, serta kolaborasi multisektor mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga nonpemerintah hingga sekolah melalui pendekatan program penguatan kapasitas guru dan tenaga pendidik, penguatan sistem perlindungan anak di sekolah, pelibatan keluarga dan komunitas serta mitra pembangunan. Kami ingin mengajak Bapak, Ibu, para

10:54 hadirin semuanya untuk ikut mengawal ekosistem perlindungan anak di Indonesia, utamanya di sektor pendidikan. Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih banyak atas dukungan dan kerja sama Kemendikdasmen dalam pelaksanaan kegiatan pada hari ini. Kepada seluruh guru, kepala sekolah, penggiat pendidikan yang hadir di sini maupun secara daring. Marilah bersama-sama kita wujudkan sekolah yang membuat anak-anak kita merasa aman, merasa dihargai, dan merasa dipercaya. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. warahmatullahi wabarakatuh. Baik, terima kasih kami sampaikan kepada

11:40 Ibu Desi Kurwiani Ukar atas sambutan yang telah disampaikan. Berikutnya kita sama-sama akan mendengarkan laporan kegiatan yang akan disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Ibu Suharti, M., PhD. Kepada Ibu Suharti kami persilakan. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera bagi kita semua. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan rahayu. Salam anak Indonesia hebat, sehat, cerdas, berkarakter. Terima kasih. Yang terhormat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Bapak Abdul Mukti.

12:26 Yang kami ee hormati para pejabat 1 dan 2 ini di lingkungan Kemendik Rasmin, Ibu Desi Kurwiani Ukar, CEO Safe the Children Indonesia, Ibu Rini Handayani, eh Plt Deputi Pemenuhan Hak Anak Kementerian Pemberian Perempuan dan Perlindungan Anak, Ibu Siti Nur Andini, Direktur Yayasan Keluarga kita. Ibu Rusprita Putri Utami, Kepala Pusat Penguatan Karakter, Bapak Tata Sudrajat, Senior Director Advokasi Campaign and Government Relation Save the Children Indonesia, hadirin perwakilan kementerian dan lembaga, pimpinan Safe the Children Indonesia dan program kreasi, hadirin perwakilan pemerintah

13:12 daerah dan dinas pendidikan, para kepala sekolah, guru PAUD dan SD, mitra pembangun bangunan, komunitas ee pendidikan, media, serta seluruh pemerhati perlindungan ee anak serta Bapak Ibu peserta seminar yang hadir baik secara luring maupun daring dari berbagai daerah di Indonesia. Puji syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa taala, Tuhan yang maha kuasa karena atas rahmat dan karunia-Nya kita dapat bersama-sama hadir dalam seminar hibrid hari pendidikan nasional dengan tema budaya sekolah aman dan nyaman dalam rangka penguatan karakter dan perlindungan murid di sekolah. Pak Menteri yang kami hormati, izinkan kami melaporkan beberapa hal ee terkait dengan kegiatan

13:57 hari ini. Bahwa kegiatan seminar ee Hari Pendidikan Nasional hari ini dengan membuat tema budaya sekolah aman dan nyaman dalam rangka penguatan karakter dan perlindungan murid di sekolah bertujuan untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional sekaligus menjadi momentum penting untuk merefleksi kembali apa arah pendidikan kita. pendidikan yang tidak hanya berbicara tentang capaian akademik, tetapi juga tentang bagaimana sekolah menjadi ruang tumbuh yang aman, sehat, dan inklusif dan juga memanusiakan bagi setiap anak Indonesia. Kegiatan ini juga sebagai wadah untuk memperkuat implementasi peraturan Menteri Pendidikan ee Dasaran Menengah nomor 6 tahun 2026 tentang

14:44 budaya sekolah aman dan nyaman serta Kepmen Diktasmen nomor 17 tahun 2026. tentang pedoman penyelenggaraan budaya sekolah aman dan nyaman khususnya terkait dengan perlindungan bagi murid. Kegiatan seminar hibrid hari ini ee juga diharapkan untuk dapat menjadi ruang berbagi praktik baik ee kemudian penguatan pemahaman serta penguatan komitmen bersama di dalam melaksanakan ee budaya sekolah aman dan nyaman di seluruh Indonesia. Selain itu, hasil diskusi pada seminar ini juga diharapkan dapat mendorong langkah-langkah nyata, langkah-langkah strategis di tingkat kebijakan maupun praktik di satuan pendidikan sehingga setiap murid di

15:30 Indonesia dapat belajar dalam lingkungan yang aman nyaman, inklusif, dan juga mendukung tumbuh kembang mereka secara optimal. Pak Menteri dan Bapak Ibu yang kami hormati. Kegiatan ini melibatkan 100 orang peserta, Pak ee dari berbagai pihak dari tentu saja dari Kemen Didasmen, kemudian perwakilan dari Kemenko ee PMK, perwakilan dari Kementerian Dalam Negeri, dari Kementerian Agama, Kementerian ee Pemberian Perempuan dan Perlindungan Anak. Kemudian juga perwakilan dari Dinas Pendidikan ee di wilayah Jabod Detabek, anggota mitra pendidikan Indonesia, kemudian juga ada mitra pelaksana lokal program kreasi, perwakilan organisasi, serta perwakilan SD dan PAUD dari seluruh ee wilayah

16:15 Jabodabek serta dari media massa. Adapun peserta daring ee kami mentargetkan lebih dari 5.000 Ibu peserta yang terhubung melalui ee ee kanal YouTube Kemen Dasmen dan juga kanal YouTube-nya Save the Children eh Indonesia eh Kreasi. Kemudian Dinas Pendidikan Provinsi dari empat provinsi target Provinsi Kreasi yaitu Provinsi Sumatera Utara, Lampung, Kalimantan Barat, dan Maluku Utara dan juga Dinas Pendidikan di seluruh provinsi di Indonesia. Dinas Pendidikan dari Kabupaten Target Program Kreasi yaitu dari Nias Utara, Nias Selatan, Tanggamus, Pesisir Barat, ee Kayong Utara, Ketapang, Morotai, dan Halmahera

17:03 Utara dan juga diikuti oleh Dinas Pendidikan ee kabupaten kota seluruh Indonesia. ada unsur OPD yang terlibat dalam Pokja ee budaya sekolah aman dan nyaman di an Kabupaten Target Program Kreasi juga ee turut serta dalam ee seminar ini. Selain itu juga kepala sekolah PAUD dan SD di Kabupaten Target Program Kreasi ada 560 sekolah dan kepala sekolah PAUD dan SD di seluruh Indonesia juga kami undang. Kemudian guru PAUD dan SD di ee Kabupaten Target Kreasi serta tim kelompok kerja budaya sekolah aman dan nyaman atau ee Pokja ee BSAN di kabupaten target program kreasi juga serta perwakilan sekolah dari berbagai ee wilayah program kreasi. Pak

17:49 Menteri dan Bapak Ibu yang kami hormati, seminar hari ini akan dilaksanakan kurang lebih 3 jam cukup panjang tetapi memang materinya ee cukup banyak. kami ee bagi menjadi dua sesi diskusi panel. Sesi SAT terkait kerangka regulasi budaya aman dan nyaman di sekolah yang nanti akan disampaikan oleh Bu Rita Pranawati, Staf Khusus Menteri Bidang Pendidikan Inklusif dan eh Pemerataan Pendidikan Daerah 3T yang khusus membahas terkait dengan Permen 6 2026 serta dilanjutkan oleh Bu Rospitra Putri Utami yang akan membahas terkait dengan pedoman penyelenggaraan budaya aman ee dan nyaman di satuan pendidikan. Kemudian eh Bu Rini Handayani eh Plt. Deputi Pembunuhan Anak-anak Kementerian PPPA

18:35 akan memberikan materi tentang pencegahan dan sistem rujukan dalam mendukung budaya sekolah aman dan nyaman. Sesi dua terkait dengan implementasi budaya sekolah aman dan nyaman akan disampaikan oleh dua narasumber yaitu Bapak Tata Sudrajat Senior Director Revokasi Campaign and Government Relations Children yang akan memaparkan tentang kerangka konsep perlindungan anak di sekolah dalam menciptakan budaya sekolah aman dan nyaman. Kemudian dilanjutkan oleh Bu Siti Nur Andini, direktur yayasan keluarga kita yang akan memberikan materi tentang membangun kapasitas keluarga melalui pengasuhan positif dalam mendukung budaya sekolah aman dan nyaman. Demikian yang

20:06 Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. Kepada yang terhormat Bapak Abdul Muti, M. kami persilakan asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhumsam selamat siang. Salam sejahtera untuk kita semua. Yang terhormat Ibu Desi Kurwiani Ukar, CEO Safe the Children Indonesia,

20:54 Ibu Suharti, Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang membersamai kita juga ada Pak Hafiz Muhsin, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Bersama kita juga ada Pak Marimandarto, staf ahli bidang manajemen Talenta. Ada Pak Abduh, staf ahli bidang teknologi pendidikan. Ada siapa lagi ini ya? bahwa ada Pak Ma'ruf, staf khusus menteri bidang komunikasi dan media

21:39 dan juga tentu para direktur ini Bu Perita sebagai apa ini? Sebagai narasumber apa sebagai? Kemudian Bu Rita juga ACDC ini dua fungsi sebagai narasumber sekaligus juga sebagai staf khusus menteri. Bersama kita ada Bu Rini Handayani, Deputi Pemenuhan Hak Asasi Kementerian Pembedaan Perempuan dan Pind Anak, Ibu Siti Nur Andini, Direktur Yayasan Keluarga kita. Dan tentu saja ini banyak sekali. Saya mohon maaf tanpa mengurangi rasa hormat ee seluruh peserta seminar baik

22:28 yang hadir di Kemendikdasmen maupun yang mengikuti melalui saluran Zoom di mana pun berada. Pertama-tama marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala, Tuhan yang maha kuasa karena atas rahmatnya pada siang hari ini kita dapat bersama-sama menghadiri seminar tentang budaya sekolah aman dan nyaman, penguatan karakter, dan perlindungan murid di sekolah. Tema seminar ini sangat penting dalam situasi sekarang ini di mana kita harus melihat sebuah realitas

23:15 di mana sekolah memang sekarang belum menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak kita. berbagai bentuk perundungan masih terus terjadi dan bahkan kalau kita lihat ragam perundungannya dan pelakunya juga ee semakin ee beragam dan kita semua menyadari sepenuhnya bahwa keberhasilan pendidikan itu salah satunya ditentukan oleh bagaimana kita mampu menciptakan akan lingkungan fisik dan lingkungan sosial yang aman bagi anak-anak kita untuk dapat belajar

24:00 dengan sebaikbaiknya. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar Menengah nomor 6 tahun 2026 tentang budaya sekolah yang aman dan nyaman. Dan peraturan ini juga sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Bapak Presiden terkait dengan gerakan ASRI, yaitu membangun gerakan baik di sekolah maupun di lingkungan di mana pun kita berada dalam lingkungan yang aman ee sehat ee resik dan indah. Tadi disampaikan oleh Ibu Desi dan oleh juga oleh Bu Suharti bahwa

24:47 menciptakan lingkungan sekolah yang aman itu tidak hanya sekedar bagaimana kita menata lingkungan fisik yang aman. Itu tentu sangat penting. Bahkan juga sudah ada peraturan menteri tentang bagaimana kita membangun sekolah yang secara fisik aman baik dari sisi bencana maupun dari sisi konstruksi bangunannya. Tapi juga perlu kita kembangkan dalam konteks itu adalah sekolah yang sarana fisiknya juga menimbulkan kenyamanan khususnya bagi ee murid yang berkebutuhan khusus. Kita melihat sekarang ini banyak bangunan fisik sekolah kita ini belum friendly terhadap para penyandang

25:34 disabilitas atau divabilitas. Karena itu maka ke depan dalam rangka membangun budaya sekolah yang aman, saya kira konstruksi fisik sekolah itu memang harus kita rancang sedemikian rupa supaya ramah bagi penyandang anak-anak yang berkebutuhan khusus. Yang kedua juga memang perlu kita rancang yang aman dan nyaman itu bagaimana sekolah itu lebih environmentally friendly, lebih ramah lingkungan. Saya masuk ke beberapa kelas tentu yang dibangun dengan konstruksi lama itu kelasnya sebagiannya gelap gulita. Cahaya mataharinya kurang. Sirkulasi

26:21 udaranya juga belum berjalan dengan baik. Bahkan ada kecenderungan yang seakan-akan modern begitu. Sekolah-sekolah itu mengandalkan AC untuk menciptakan ruangan yang sejuk. Padahal kalau kita lihat di banyak negara maju, justru andalan mereka bukan air kondisioner, tetapi bagaimana sirkulasi udara, bagaimana apa tinggi atap dan sebagainya itu memang dirancang supaya aman dan nyaman. Nah, tentu yang sudah ada tidak harus kita robohkan. Bangun yang baru saja juga susah. Tapi paling tidak ke depan dalam konsep kita melakukan revitalisasi, hal yang berkaitan dengan sekolah yang environmentally friendly itu harus kita

27:06 lakukan karena itu adalah kunci bagaimana kita juga tidak hanya di dalam merasanya sejuk tapi di luar semakin panas. Ini yang ee perlu menjadi bagian dari arah kebijakan ke depan. Nah, tentu saja aman itu juga aman secara sosial. Aman secara sosial dan aman secara psikologis. Karena seringki ya kita melihat sekolah-sekolah kita ini secara sosial juga belum cukup aman ya. ada fenomena yang kadang-kadang juga memang sebagian mungkin karena pengaruh dari gaya hidup ee persaingan di antara sesama murid secara sosial itu kelihatan

27:53 dan ini perlu ada bagaimana sekolah itu tidak menjadi ajang di mana anak-anak itu mendemonstrasikan strata sosial apalagi kemudian mendemonstrasikan kekuatan material yang dimiliki oleh dirinya dan orang tuanya. Sebab itu bisa menjadi sebab anak-anak tidak merasa nyaman di sekolah. Dan perundungan itu seringki bermula dari situ. Saya tidak tahu sejauh mana riset telah dilakukan, tapi paling tidak kalau kita bicara mengenai perundungan itu memang relasinya selalu relasi power, the powerful kepada the powerless.

28:40 Dan yang seringki menjadi sasaran dari perundungan itu yang pertama adalah memang mereka yang physically itu mereka lemah. Bisa jadi karena memang mereka anak-anak berkebutuhan khusus itu seringki menjadi sasaran perundungan. Yang kedua itu jenis kelamin itu saja ya. Sebagian besar yang menjadi sasaran perundungan itu anak-anak perempuan, murid perempuan. Ya, ada sih murid laki-laki tapi kasusnya 0,00 gitu. Yang ketiga itu mereka yang secara ekonomi itu di bawah karena mungkin dari pakaiannya kelihatan, dari penampilan fisiknya juga kelihatan. Dan yang keempat itu mereka yang secara akademik itu capaiannya juga rendah.

29:26 Mereka yang capaian akademiknya rendah seringki menjadi sasaran dari perundungan itu. Nah, yang kelima itu mereka yang secara fisik itu berbeda dari yang lain. Bukan karena bukan karena disabilitas. misalnya mohon maaf bisa jadi karena terlalu kecil gitu atau terlalu gede atau terlalu tinggi dan sebagainya yang itu bisa jadi memang ee menyebabkan anak-anak tidak merasa nyaman dan aman karena berbagai keadaan itu. Sehingga karena itu menurut saya keamanan secara intelektual juga penting sehingga perankingan kemudian membandingkan murid satu dengan yang lain dari capaian akademik itu juga seringki menjadi sebab terjadinya perundungan.

30:12 Misalnya yang sudah gede tidak bisa mengerjakan soal, yang kecil bisa kamu tuh gede kok enggak bisa. Ini kecil aja bisa begitu. Itu kan tidak sehat. Sehingga menurut saya memang ada ee realitas di mana cara kita melakukan pendekatan kepada murid-murid kita itu harus berubah. The way we deliver knowledge itu tidak bisa dilepaskan dari value, tidak bisa dilepaskan dari nilai dan penghormatan yang kita harus memuliakan semua mereka itu. Karena itu dalam deep learning yang menjadi kebijakan kami, kata kunci yang pertama adalah memuliakan. di mana kita memuliakan guru, memuliakan semua murid, dan memuliakan ilmu.

30:58 Nah, berbagai hal tentu harus kita lakukan untuk sekolah ini menjadi sekolah yang aman dan nyaman. Dan karena kita memilih budaya, bukan sekedar kebijakan, bukan program. Sebab pendidikan itu kalau kita baca dalam Undang-Undang Sis Diknas, tujuannya kan membangun budaya dan karakter yang di situ ada mindset, ada value, dan kemudian ada behavior. Yang perilaku itu adalah perilaku yang tidak hanya bersifat individual, tapi juga harus bersifat kolektif. Sehingga budaya itu kan sesuatu yang menggambarkan bagaimana aktualisasi

31:44 nilai-nilai dan aktualisasi dari pandangan dunia dari suatu komunitas dalam lingkup dan lingkungan tertentu. Karena itu tadi Bu Desi menyampaikan tentang bagaimana perubahan sikap orang tua terhadap anak dan itu seringki tidak kita lihat itu ya. Mohon maaf kan masih banyak dari sebagian guru-guru kita ini yang ketika mengajar itu judgemental. Anak datang terlambat itu hanya dihukumi dia terlambat gitu. Tapi tidak mencoba bertanya kenapa terlambat, what is behind? Apa yang sebenarnya dibalik dia terlambat itu? Apal kok terlambatnya terus-menerus itu? Atau anak yang ketika di kelas itu tidur

32:31 dia tidur melulu di kelas itu. Bukan sedang mengalamakan tujuh kebiasaan tidur cepat bukan. Tujuh kebiasaan ini salah satunya tidur cepat. Sakit cepatnya terus di kelas tidur gitu bukan gitu. Tetapi barangkali dia mungkin harus bekerja malam hari membantu orang tuanya yang karena itu dia tidak bisa tidur cepat, dia kelelahan dan karena itu dia kemudian akhirnya tertidur setiap kali pelajaran atau mungkin karena dia kurang gizi dan sebagainya. Nah, keikhlasan kita untuk mau melihat anak kita ini tidak hanya dari apa yang kita lihat itu adalah bagian dari proses di mana budaya aman dan nyaman itu memang harus kita lakukan dengan pandangan kita

33:16 yang berbeda dengan cara kita mendidik itu. Sebagian besar hukuman disiplin itu kan masih menggunakan paradigma lama, corporal punishment yang seringki maksud kita itu mendidik, ternyata itu mengajari kekerasan. Nah, karena itulah maka kalau kita mencoba melihat ini, maka budaya sekolah aman dan nyaman dalam peraturan menteri itu tidak berhenti pada situasi di sekolah, tapi juga bagaimana komunikasi antara orang tua dengan guru, bagaimana komunikasi antara sekolah dengan masyarakat itu yang kita kedepankan. Sehingga pendekatan yang kita yang kita jadikan sebagai core value adalah pendekatan yang humanis, pendekatan yang

34:04 di situ kita memanusiakan manusia, memanusiakan semua murid kita dan memuliakan mereka sesuai dengan keadaannya. Di sinilah kemudian kenapa berbagai macam bentuk sanksi dan sebagainya itu memang akan sangat sedikit. Dan karena itu ketika awal Permendikdas ini kita luncurkan, banyak yang mengkritik kenapa enggak ada satker-satker gitu dan sebagainya. Tapi kemudian kita coba membangun ekosistem di mana semuanya terlibat. Dan di sinilah pentingnya penguatan karakter itu dilakukan sebagai bagian dari kita membangun generasi hebat, generasi emas Indonesia 2045

34:50 yang tentu saja kita memberi kesempatan anak-anak untuk bertumbuh, berproses mencapai cita-citanya. Saya seringki mengutip ee buku tulisannya John Hold. G. Johut itu guru SD, Bu Desi, guru SD di Australia. Dan buku ini sering saya sebut karena ketika saya kuliah ngambil S2 di Australia itu saya ditugaskan oleh dosen saya untuk membaca buku itu. Judulnya itu How Children Fail. Saya pikir itu buku baru sehingga saya cari di perpustakaan gitu. Serius saya nyarinya karena namanya mahasiswa baru

35:36 terus datang dari kampung kuliah ke luar negeri kan diberi tugas baca buku mesti semangat mesti buku baru. Ternyata ketika saya ketemukan buku itu ternyata buku itu terbit tahun 7 terbit sebelum saya lahir. Akhirnya karena bukunya juga kecil sampulnya warna biru gitu. Itu saya baca ya tidak lama selesai. itu diceritakan mengapa anak-anak itu gagal dalam pendidikan. Ternyata anak-anak itu tidak menjadi diri mereka sendiri. Mereka menjadi objek dari kehendak banyak pihak, termasuk kehendak orang tuanya, kehendak gurunya, dan sebagainya. Sehingga dia tidak merasa aman ketika dia belajar, enggak nyaman ketika belajar.

36:22 50 tahun kemudian buku itu terbit lagi, tapi tidak dari perpustakaan kampus saya, dari sebuah toko buku di bandara. Jadi salah satu yang saya kerjakan kalau di bandara itu kalau boardingnya agak lama itu ke toko buku ya itu biar kelihatan kutub buku jadi ke toko buku gitu walaupun kadang-kadang hanya lihat saja terus tidak beli belinya kemudian buku itu terbit lagi beda. Kalau yang pertama terbit dengan sampul warna biru, sekarang terbit dengan sampul warna putih setengah abad kemudian. Artinya apa? isu yang ditulis oleh John Hold itu itu masih relevan dengan masalah-masalah kekinian. Dan karena itu maka

37:07 berbagai persoalan itu harus kita lihat dari banyak sudut pandang gitu. Ini kemarin tadi Mbak Rita ketika saya menyebut buku sempat bisik-bisik sama Mbak Prita, "Dugaan saya tentang film Children of Heaven." Dugaan saya. Dugaan saya benar ya. Ah, benar juga Bu Arti belum nonton ya. Ee ya filmnya film lawas tapi versi Iran tapi dibuat versi Indonesia. Menarik juga. Saya tidak promosi filmnya, saya promosi nilai-nilai itu. Nah, tapi nilai-nilai itu bisa ditanamkan melalui film. Bu, saya kira ini juga nanti soal pendekatan. Jadi misalnya ada lagi itu film judulnya itu Freedom Writer.

37:55 Freedom Writer itu film lama ini tapi tidak di bioskop film lama. Tapi saya sudah nonton film itu sampai selesai. Itu juga bicara tentang ini. Ada seorang guru muda ditugaskan di kelas yang anak-anaknya itu dari keluarga bermasalah di Amerika. Sudah bisa kita prediksi anak bermasalah di Amerika itu selalu wajahnya adalah keluarga imigran yang kulitnya ada yang hitam, ada yang putih, ada yang hitam putih tapi bukan sebra ya, hitam putih yang mereka itu memang at risk itu children at risk. mereka bisa anak jalanan, bisa anak keluarga broken dan sebagainya itu.

38:41 Kemudian gurunya mencari berbagai macam cara bagaimana supaya mereka bisa belajar dengan baik. Jadi tidak hanya sesama temannya yang dibully, gurunya pun dibully oleh muridnya itu. Jadi kadang-kadang guru itu juga bisa menjadi sasaran bully dari muridnya juga. Dan kalau guru dibully itu menggunakan statusnya sebagai guru untuk melakukan tindakan kekerasan gitu. Dan banyaklah cerita seperti ini. Tapi kemudian sang guru itu punya punya strategi jitu. Pertama dia minta murid itu menulis jurnal mengenai apa yang ada dalam pikirannya, apa yang ada dalam hatinya,

39:26 apa yang dia inginkan. Tiap hari murid-murid itu diminta nulis bebas dan gurunya mengatakan, "Kalau Anda membolehkan saya baca, saya baca buku itu. Kalau Anda tidak mikin saya baca juga tidak akan saya baca tulisan Anda itu." Semua murid punya loker. Kalau di Amerika semua murid memang punya loker kan? Nah, semua murid punya loker dan di loker itulah dia taruh buku itu. Nah, kepada murid yang mengizinkan gurunya membaca, dia baca. Dia baca. Dan ketika dia sudah menulis itulah kemudian gurunya mengetahui kenapa mereka berperilaku seperti itu, apa yang mereka harapkan dan sebagainya. That is the first stage. Itu tahap pertamanya itu. Tahap kedua kemudian dia membuat

40:12 rule of the game. Di kelas itu. Mereka boleh ngomong apa saja tapi enggak boleh mukul. Ngomong apa saja boleh, tapi tidak boleh memukul. dia buat garis gitu di kelas itu dibuat garis yang dia tidak boleh melewati garis itu. Nah, dari situ dia mulailah keluar kata-kata yang kata-kata khas anak-anak dari keluarga bermasalah dari mereka yang memang bermasalah secara sosial. Tapi paling tidak dari dua hal tadi menuliskan apa yang ada dalam pikirannya, dalam perasaannya, cita-citanya, berkata-kata yang menurut dia bisa melampiaskan emosi jiwanya itu anak-anak itu mulai berubah perilakunya. Karena selama ini mereka tidak punya

40:58 ruang untuk mengekspresikan. Ruang berekspresinya tidak ada, tidak terbuka. Dan kalau toh dia mengekspresikan dia berhadapan dengan sanksi. atau mungkin label-label yang itu membuat mereka semakin tidak nyaman di situ. Kadang-kadang label itu di disampaikan atas nama pendidikan sehingga dengan cara seperti itu mereka ada ruang untuk aktualisasi. Paling tidak yang menjadi perasaan dia didengar orang lain. Perkara kemudian diikuti apa tidak itu sudah soal yang berbeda. Kadang-kadang juga enggak bisa ngomong cuma nangis saja gitu. Nangis itu pun ekspresi yang penting. Makanya kalau orang enggak menangis itu

41:44 susah, sedih juga enggak bisa nangis itu. Tapi nangis terus juga menyedihkan yang mendengar. Nangis melulu gu ruang-ruang ekspresi itu dibuka. Tapi dia kemudian diajari rule of the game. Anda boleh berkata-kata kasar tapi jangan memukul. Itu sesuatu yang tidak mudah. Terus sedemikian rupa sampai akhirnya kelas itu jadi kelas yang hebat. Bukan karena film kemudian selalu didramatisasi dengan hebat. Bukan. Karena ini film dokumenter, semi dokumenter. Artinya kisah nyata yang difilmkan. Dan akhirnya itu menjadi cara dan karena itulah kenapa judulnya menjadi freedom writer, orang yang bebas menulis. Nah, ruang-ruang aktualisasi itu adalah

42:31 bagian dari bagaimana kita membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman itu. Mendengarkan ceramah terus dari gurunya itu selalu membosankan juga. Apalagi ceramah saya di siang hari begini juga membosankan juga gitu. Saya tahu dari wajah Bapak Ibu sekalian sudah kelihatan itu kan saya guru juga. Karena itu maka bagaimana menciptakan sekolah yang aman dan nyaman itu tidak hanya secara intelektuali dan socially mereka itu nyaman, tapi juga menurut saya spiritually juga mereka harus nyaman. Dan di antara masalah di sekolah yang seringki muncul itu kan masalah SARA. Ada perasaan di mana mereka tidak mendapatkan ruang untuk melaksanakan

43:17 ajaran agamanya dan seterusnya. Sementara Indonesia ini kan masyarakat yang sangat religius. Apa-apa dikaitkan dengan agama. Sehingga isu-isu seperti ini masih terus saja terjadi di sekolah. Sehingga karena itu maka aman itu tidak hanya physically mereka itu aman, tidak hanya intelektually mereka juga aman, tidak hanya sosial tidak aman, tapi spiritually juga mereka harus merasa aman. dia bebas melaksanakan apa yang menjadi keyakinannya dan sekolah memberikan ruang untuk itu. Sehingga karena itu maka membangun karakter itu adalah soal bagaimana kita membangun respek, bagaimana kita memuliakan, bagaimana kita menghargai dan memberi kesempatan semuanya untuk tumbuh sesuai

44:04 dengan apa yang menjadi bakat, menjadi minat dan kemudian kita memfasilitasi mereka dengan sebaik-baiknya. Karena itu maka budaya sekolah yang aman dan nyaman adalah bagian dari kebijakan Kementerian Cikdasmen yang kita berusaha untuk membangun sebuah gerakan. Ini adalah sebuah gerakan sehingga titik tekannya bukan pada punishment, bukan pada misalnya sanksi-sanksi, tapi pada pendekatan yang lebih humanis, pendekatan yang lebih manusiawi. Guru-guru lebih banyak mendengar, murid-murid lebih banyak berganding tangan. Dan karena itu maka kita lengkapi ini dengan ada lagunya ya Bu Desi ya Bu Desi sudah mendengar itu lagunya itu rukun sama teman ini

44:51 inspirasi dari Pak Presiden. Beliau memberikan pesan kepada anak-anak Indonesia ee lima pesan yang kemudian kita kita jadikan sebagai edaran bersama tiga menteri. Menteri Dalam Negeri, Menteri Agama, Menteri Peningatan Dasar Menengah yang itu dibaca setiap upacara ikrar pelajar Indonesia itu dibacakan isinya beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, menghormati, mencintai guru, orang tua. Kemudian yang ketiga itu belajar dengan sungguh-sungguh, belajar dengan baik. Kemudian yang keempat itu rukun dengan teman. Yang kelima, mencintai tanah air Indonesia. Saya kira kalau nanti lagunya

45:40 itu bonus saja itu Bu Desi sebenarnya karena saya ditugaskan Bu Prita untuk bikin lagu sehingga saya bikin lagu begitu. Alhamdulillah lagunya selesai dan kemarin saya cerita ini sebenarnya behind the screen-nya itu baru saya buka kemarin ke Mas Dick. Jadi ceritanya saya bikin apa liriknya gitu. Kemudian sempat saya share di grup pimpinan kementerian. Saya minta Mas Diki bikin musiknya. Nah, kemudian kami sinkronisasi. Begitu ada musiknya kami sinkronisasi. Mas Dwiki entah di mana. Di Jakarta. Saya sedang di Sydney waktu itu. Jadi tengah malam kami itu TikTok pakai WA. bagaimana beberapa kali saya revisi

46:26 liriknya sehingga diksinya kuat, rimanya kuat dan bisa untuk semua umur gitu. Jadi kami bekerja dari tempat yang berjauh-jauhan dalam waktu yang berbeda bisa melahirkan sebuah karya. Ketika saya enggak enak ke Mas Duiki berubah-ubah, Mas Duiki menyemangati saya dengan mengatakan ini proses kita membuat sebuah karya. Itu juga ungkapan begini. Ini kan penting ya. Proses membuat karya ternyata tidak selalu mudah. Sampai kemudian ada sebuah lagu yang menarik itu lagunya itu belum ada judul dan akhirnya itu menjadi judul karena Iwan Vales tidak tahu harus memberi judul apa lagu itu. Saking campur baurnya perasaan dia mengenai apa yang dia tulis itu sehingga liriknya selesai tapi enggak tahu judulnya apa sehingga

47:11 akhirnya diberi judul belum ada judul itu menarik itu. silakan nanti kalau mau mau nyanyi lagunya Iwan Falos juga boleh, tapi tidak pada forum ini. Tentu saja saya kira demikian dapat kami sampaikan. Terima kasih Bu Desi dan eh Save the Children atas kerja samamanya. Terima kasih juga kepada GPI kemudian program kreasi dan semua teman di Kemend Dikdasmen yang telah menyiapkan acara ini sebaik-baiknya. Terima kasih kepada semua narasumber, Pak, semua narasumber kita dari berbagai latar belakang dan juga semua peserta baik yang ikut di sini maupun yang mengikuti melalui YouTube ya, Bu. YouTube apa Zoom? Oh, ada di mana-mana. Yang tadi kata Bu

47:57 Harti 5.000 ya. Ya, insyaallah lebih dari itu karena mungkin ada yang satu penontonnya banyak satu kelas. Terima kasih kepada Dinas Pendidikan dan semua pihak yang telah mendukung acara ini. Mudah-mudahan ikhtiar kita untuk ee membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman dapat kita wujudkan bersama-sama. Dan ini adalah bagian dari bagaimana semangat pendidikan nasional itu menjadi inspirasi dan menjadi dasar untuk kita berkhidmat lebih baik lagi dalam rangka mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua. Terima kasih. Amikum warahmatullah wabarakatuh. Waalaikumsalam.

48:44 Baik, terima kasih Pak Abdul Muti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia yang tadi memberikan sambutan dan juga pembukaan pada siang hari ini. Kami mohon sebelum kita masuk pada sesi diskusi ee lebih lanjut, kami mohon kepada Pak Menteri dan juga jajaran Bapak Ibu tamu VIP untuk berfoto bersama dengan para peserta yang sudah hadir di ruangan pada siang hari ini. Jadi berfoto ee rekan-rekan videografer dan juga fotografer silakan mengambil foto dari atas panggung sehingga seluruh peserta yang ada di ruangan ini bisa ee turut serta dalam dokumentasi kita pagi atau siang hari ini. Kepada Bapak, Ibu sekalian, kami persilakan berdiri biar tidak terlalu kaku, kita berfoto bersama.

49:32 di akan dipandu oleh rekan-rekan fotografer dan juga videografer untuk dan juga rekan-rekan dari fotokoler ya agar ee e dokumentasi siang hari ini mengenai webinar budaya sekolah aman dan nyaman ee bisa terdokumentasikan dengan baik. Bapak, Ibu juga yang berada di bagian belakang mungkin silakan mengambil tempat memastikan bahwa dirinya masuk dalam frame fotografer dan juga videografer. Jangan sampai terlewat. Nanti silakan teman-teman dari fotografer untuk memandu. Oke. Baik, kita sama-sama ambil gambar terlebih dahulu untuk teman-teman fotografer ya. Saya pandu. Satu dua

50:19 t. Oke, kita coba sekali lagi. 1 2 3. Gaya tujuh kebiasaan anak Indonesia. Oke. Gaya tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat. Oke. Tangannya tujuh sampai tangan kiri. Tangannya bentuk angka tujuh. Pastikan menggunakan tangan kiri Bapak Ibu sekalian. 1 2 3. Sekali lagi Bapak Ibu. Oke, teman-teman fotografer bersiap ya. Sekali lagi. 1 2 3. Oke, cukup. Baik, terima kasih sekali lagi pada Bapak Ibu sekalian. kami tak lupa juga kami

51:04 ucapkan terima kasih kepada Bapak Menteri yang sudah membuka dan juga memberikan sambutan di acara kita webinar budaya sekolah aman dan juga nyaman. Tadi kita sudah sama-sama mendengarkan pesan dari Pak Menteri, ada beberapa nilai yang ditekankan mengenai pentingnya budaya sekolah aman dan nyaman yang bisa diterapkan di seluruh sekolah di Indonesia agar tercipta lingkungan yang aman. dan Yaman serta inklusif. Kita berikan sekali lagi tepuk tangan kepada Pak Menteri. Terima kasih Bapak Abdul Muti sudah memberikan sambutan dan juga membuka webinar pada siang hari ini. Selamat melanjutkan kegiatan berikutnya, Pak Menteri.

51:54 Sekali lagi kami sampaikan terima kasih sebesar-besarnya atas kehadiran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Bapak Prof. Dr. Abdul Muti, M.Ed. P Pak Menteri dan juga jajaran kami persilakan untuk melanjutkan kembali aktivitasnya. Kita sesaat lagi akan memulai sesi diskusi mengenai Permend Dikdasmen nomor 6 tahun 2026 mengenai budaya sekolah aman dan juga nyaman.

52:40 Baik, sebelum sesi pertama dimulai nanti kami akan mempersilakan Bapak Ibu baik yang hadir secara luring maupun daring untuk mengajukan pertanyaan. Mungkin untuk Bapak Ibu yang berada di ruangan ini juga bisa langsung mengangkat tangan, mengajukan pertanyaan dengan tata cara menyebutkan nama. Kemudian perwakilan dari organisasi, kemudian pertanyaan akan diajukan kepada siapa? Nah, bila Bapak Ibu sekalian ingin mengajukan pertanyaan dan bergabung bersama kami melalui kanal YouTube, silakan ketik di kolom komentar nama, kemudian organisasi yang diwakili, serta pertanyaan yang akan diajukan kepada narasumber.

53:30 Sebelum kita memulai sesi pertama diskusi pada siang hari ini, mari kita bersama-sama menyaksikan tayangan video mengenai budaya sekolah aman dan nyaman sebagai pengantar diskusi kita siang hari ini. Penyelenggaraan budaya sekolah aman dan nyaman melalui penguatan peran. Setiap warga sekolah memiliki perannya masing-masing. Penguatannya dilakukan melalui pembagian peran, manajemen kelas, keteladanan, serta penerapan budaya positif secara kolektif. Kepala sekolah berperan sebagai

54:17 penanggung jawab dan koordinator kebijakan. Sementara guru bertugas sebagai manajer kelas yang memastikan suasana belajar tetap aman dan kondusif sekaligus sebagai pendidik karakter murid. Tenaga kependidikan memastikan keamanan fisik dan data sekolah. Sedangkan murid berperan aktif dalam membangun budaya positif bersama teman. Manajemen kelas dilakukan guru dengan melibatkan murid dalam menyusun kesepakatan bersama. yang memuat nilai kebajikan dan interaksi yang saling menghargai. Keteladanan diwujudkan melalui sikap ramah, komunikasi santun,

55:02 serta integritas dari kepala sekolah, guru, hingga tenaga kependidikan. Terakhir, penerapan budaya positif dilakukan melalui pembiasaan nilai karakter dan perbuatan mulia dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah. Mari wujudkan lingkungan pendidikan yang kondusif. Bersama kita bangun budaya sekolah aman dan nyaman demi masa depan anak bangsa. Semua insan ciptaan Tuhan

55:48 berbeda rupa dan kemampuan. Mari saling menghormati, jangan saling menyakiti. Tak ada guna permusuhan. Tak ada guna bertengkaran. Mari jalin persahabatan sama teman. Banyak kawan kita tenang. Banyak sahabat kita hebat. Mari bergandeng tangan

56:35 rukun sama teman. Semua insan ciptaan Tuhan berbeda rupa dan kemampuan. Mari saling menghormati, jangan saling menyakiti. Tak ada guna permusuhan, tak ada guna pertengkaran. Mari jalin persahabatan. Rukun sama teman.

57:23 Banyak kawan kita tenang, banyak sahabat kita hebat. Mari bergandeng tangan rukun sama teman. Banyak lawan kita tenang. Banyak sahabat kita hebat. Mari bergandeng tangan rukun sama teman rukun sama teman.

58:14 Baik Bapak Ibu, itu tadi video mengenai budaya sekolah aman dan nyaman. Sekarang kita akan masuk pada sesi diskusi siang hari ini. Kita akan masuk pada sesi pertama Bapak Ibu sekalian. Pada awal tahun 2026, Kementerian Dasar dan Menengah telah menerbitkan Permendikdasmen nomor 6 tahun 2026 tentang budaya sekolah aman dan nyaman. Nah, pada sesi ini kita akan berdiskusi dengan para narasumber yang akan memberikan pandangan dan juga informasi mengenai kerangka regulasi budaya sekolah aman dan nyaman serta upaya pencegahan dan rujukan penanganannya. Yang pertama saya akan memanggil Ibu dr. Rita Pranawati, S.S., M.A. selaku Staf Khusus Menteri Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemertaan

59:00 Pendidikan Daerah 3T Kementerian Dasar dan Menengah Republik Indonesia. Kami persilakan Ibu Rita untuk naik ke atas panggung. Yang kedua, saya ingin mengundang Ibu Rusprita Putri Utami, S. M., Kepala Pusat dan Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. Kemudian yang ketiga ada Ibu Rini

59:47 Handayani, S., M., Plt. Deputi Pemenuhan Hak Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. Silakan, Ibu. Selamat siang, Ibu-ibu sekalian. Namanya agak mirip-mirip ya. Ibu Rita, Ibu Prita, Ibu Rini ya. Baik, terima kasih sudah hadir pada siang hari ini untuk e menyampaikan diskusi budaya sekolah aman dan nyaman. Mungkin saya akan langsung ke Ibu Rita untuk memberikan e paparannya ya mengenai Permen Dikdasmen nomor 6 tahun 2024 26 ini bagaimana dalam kerangka regulasi apa saja mungkin yang menjadi dasar dan apa saja yang bisa ditangkap oleh

1:00:33 stakeholder agar implementasi dari Permendik Dasment ini bisa sesuai dengan yang dicita-citakan. Silakan Bu ya. Terima kasih, Mas Bayu. Bapak Ibu sekalian, selamat siang. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sehat untuk kita semuanya. Yang saya hormati Ibu Rusprita Putri Utami dan juga Bu Rini Handayani serta para narasumber lainnya dan Bapak Ibu sekalian yang hadir secara offline maupun ee online. Bapak Ibu sekalian, tadi sebenarnya Pak Menteri sudah menjelaskan ee kenapa budaya sekolah aman dan nyaman itu penting. Ee rasa aman dan nyaman itu penting untuk ada ee bagi setiap murid. agar mereka nyaman di

1:01:21 sekolah, nyaman belajar, nyaman berinteraksi sehingga bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Ini bukan hanya soal tidak ada kekerasan, tertib pada aturan, tapi benar-benar menjadi budaya. ini yang kemudian berbeda. Bukan hanya ee kalau di deep learning pembelajaran mendalam itu penting kita untuk merasa bahwa anak-anak ini punya kesadaran yang baik, punya pemikiran yang baik, punya makna yang baik. Kenapa kita harus menciptakan budaya aman dan nyaman dan tentu dengan gembira atau joyful? Ya, itu menjadi bagian yang saya kira sangat penting karena sejatinya pendidikan bukan hanya mencerdaskan tetapi bagaimana menguatkan karakter dan juga

1:02:07 bagaimana mereka bisa mengembangkan bakat dan minatnya. Karena sekolah kan sebenarnya tempat tumbuh dan berkembang. Tempat yang harusnya anak-anak merasa aman dan nyaman. Tidak hanya di rumah tapi juga rumah kedua mereka di sekolah. Bapak, Ibu sekalian, kita punya Asta Cita, kita punya di Kemenik Dasmen, kita ingin mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua. Setiap anak punya hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas ee termasuk di dalamnya dengan kondisi yang aman dan nyaman. Kita tidak ingin anak ee seorang anak itu keluar dari sekolah karena dia tidak merasa aman, tidak merasa nyaman. sehingga kemudian pendidikan yang

1:02:52 bermutu dan berkualitas tidak mereka dapatkan sehingga mereka butuh sekolah dan seterusnya. Itu sebenarnya juga ee adalah ya cerita-cerita kemudian anak-anak keluar karena kondisi-kondisi seperti itu dan kita tidak ingin ee anak-anak mendapatkan situasi seperti itu. Nah, Bapak Ibu sekalian saya mungkin minta ke slide yang arah dan semangat kebijakan Permendikdas. Bapak, Ibu sekalian ee arah dan semangat kebijakan Permendik Permendikdasmen nomor 6 tahun 2026 yang pertama adalah memperkuat promotif ee kemudian preventif dan kolaboratif. Kenapa preventif dan promotif kita besarkan, Bapak, Ibu? Kenapa? Karena kalau sudah jadi kasus itu berat penanganannya, ee

1:03:40 kondisinya juga tidak mudah dan ee anak-anak sudah ya kalau dia pulih bagus tapi kalau tidak pulih masa depannya menjadi sangat sulit gitu. Kenapa kemudian kita mengupayakan preventif lebih banyak? Kita berharap kasusnya semakin sedikit, semakin tidak ada gitu. Jadi promotif dan preventif agar setiap anak juga merasa nyaman. Sekedar cerita dulu waktu masih di KPA ya menyelesaikan kasus itu ternyata hanya 46 kasus yang 46% kasus-kasus yang bisa selesai. Karena kalau anaknya terbully, punya kasus, kadang-kadang orang tuanya malu kemudian pindah tanpa tahu ke mana. Jadi kasus rehabilitasinya tidak selesai. Itu

1:04:28 menjadi PR. Makanya sebaiknya kita mencegah sebesar-besarnya melalui promotif ee preventif dan bekerja sama dengan semua pihak. Dan secara anggaran akan jauh lebih murah kita melakukan upaya pencegahan dibandingkan kalau sudah terjadi kasus. Itu diakui di UNICEF dan seterusnya dalam kebijakan ee internasional. Begitu. Jadi ee nilai promotif, preventif, dan kolaboratif itu menjadi nilai yang penting. Kemudian yang kedua ee perluasan perlindungan tidak hanya fokus pada bagaimana melindungi dari kekerasan, tapi yang menyeluruh di sekolah dalam pembelajaran. Kemudian juga proses pembelajaran di luar sekolah begitu

1:05:13 hingga ruang ee digital. Kenapa? Karena sebenarnya anak-anak juga berinteraksi di ruang digital gitu. Perluasan perlindungan juga penting karena kan tadi hidupnya panjang juga di dunia digital. Bahkan screen time anak-anak kita 7 jam Bapak Ibu PR banget itu. Yang ketig 7 sampai 8 jam coba. 8 jamnya di sekolah, 8 jamnya tidur, 8 jamnya main HP. Bapak Ibu tentu bisa bayangkan apa yang terjadi dengan anak-anak kita. Maka nyaman itu juga ada di ruang digital. Nah, yang ketiga itu partisipasi semesta. Kita berharap bahwa ee warga sekolah, masyarakat, orang tua, dan semua pihak yang berkepentingan ikut

1:05:58 mewujudkan ee pendidikan atau mewujudkan budaya sekolah yang aman dan nyaman. Jadi tidak hanya ee sekolah, tapi juga nanti ada ee UPTD, ada ee Puspaga dan lain-lain itu bisa mendukung itu. Nah, yang selanjutnya saya tahu ini waktunya pendek ya, Mas Bayu. Oh iya. Ngomong apa sudah berasa saya ya. Empat aspek nyaman itu yang pertama tadi disebutkan Pak Menteri spiritual dia bisa beribadah sesuai dengan agamanya, mengekspresikan sesuai agamanya. kemudian ee fisik dan juga ee psikologis dan sosiokultural serta juga di ruang digital yang tadi saya sebutkan. Kemudian penanganan kolaboratif dan pendekatannya kita

1:06:45 berharap nonlitigasi. Kalau kasus-kasus yang memang bukan pidana mari kita selesaikan karena anak pelaku biasanya juga anak korban dari situasi yang tidak nyaman begitu. Next. Ee nanti Bu Perita bagiannya menjelaskan soal apa ee Permendic Dasmen dan ee yang selanjutnya ketentuan umum sasarannya tentu semua warga sekolah mulai dari murid, kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan juga ee tenaga kependidikan selain pendidik ya. Cakupan wilayahnya tentu semuanya dari sekolah, lokasi belajar, ruang digital, dan juga ee ruang interaksi warga sekolah lainnya. Dan ini penyelenggaraannya ada penguatan tata kelola edukasi warga sekolah, penguatan

1:07:33 peran warga sekolah, respon dan penanganan pelanggaran, tanggung jawab kementerian dan pemda, serta peran pemangku kepentingan. Next. Saya pengin ngambil asas ini agak highlight. Meng-highlight sebenarnya apa yang disampaikan Pak Menteri. Tujuan pendidikan itu adalah memanusiakan manusia, memuliakan. Maka prinsip asas yang pertama adalah humanis, yang kedua komprehensif. Tadi cara menyelesaikan masalahnya bukan hanya melihat pelanggarannya, tapi melihat secara utuh. Jadi di ee Permendikdasmen juga disebutkan ada identifikasi murid kondisinya seperti apa, kemudian partisipatif. Ee ini juga melibatkan semua warga sekolah termasuk catur pusat pendidikan, ada media gitu ya. kita berharap ee menjadi penting. Kemudian

1:08:18 kepentingan terbaik bagi anak. Tadi Pak Menteri menyebut sering sekali anak menjadi tidak menjadi dirinya tapi menurut orang tua, menurut guru. Padahal kepentingan terbaik bagi anak itu harus menjadi prinsip yang utama. Selanjutnya non diskriminatif. Tadi sudah disebut juga oleh Pak Menteri bahwa itu penting sekaligus inklusif keadilan dan kesetaraan gender. Semua anak punya hak yang sama dan juga harmonis serta berkesinambungan. Oke. Jadi ini sembilan asas ini yang ingin di-highlight di Permendikdesmen eh nomor 6 tahun 2026. Kurang lebih begitu ya Bu Rita ya. Iya. Betul. Betul. Ini penting sekali nih asas ini. Oke. Ini yang mudah-mudahan bisa dipahami oleh seluruh pemangku kepentingan. Nah, saya mau geser langsung ke Bu Siap. ee perita nih yang lebih mungkin

1:09:03 lebih detail lagi, lebih deep lagi mengenai Permendik Dasmennya nomor 6 tahun 2026 ini mengenai ee budaya sekolah aman dan nyaman. Silakan Bu. Terima kasih Mas Bayu. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang Bapak Ibu semua. Eh meneruskan apa yang sudah disampaikan oleh Bu Rita. Bu Rita tadi sudah ee menyampaikan dengan sangat detail filosofi dari kebijakan ee dari Permendikdesmen 6 2026. Saya mungkin lebih ke tataran teknis yang mana ini diatur dalam Kepmen DIIKDASM nomor 17 tahun 2026. Ee secara garis besar Bapak Ibu dari Permenikdas Despmenpen 6 2026 yang terdiri dari 7 bab dan 46 pasal secara garis besar. Mungkin lanjut saja. Lanjut saja. Ini tadi sudah ya ee langsung ke bagian

1:09:49 tiga hal yang ingin saya highlight. Yang pertama adalah penguatan tata kelola. Kemudian yang kedua adalah edukasi dan yang ketiga adalah penguatan peran seluruh warga sekolah. Nah, di penguatan tata kelola yang pertama kita atur ini adalah penting sekali bagi Bapak Ibu kepala sekolah dan guru untuk melakukan deteksi dini. Karena deteksi dini ini kita ingin mengidentifikasi potensi gangguan keamanan dan kenyamanan dari seluruh warga sekolah. tidak hanya terkait fisik, tapi juga ee masalah sosial dan juga tadi bahkan juga spiritual yang disampaikan oleh Pak Menteri. Mengapa deteksi dini ini sangat penting, Bapak, Ibu? Karena sebenarnya berbagai masalah, berbagai isu sosial, berbagai hal-hal yang tidak kita inginkan itu sejatinya bisa kita mitigasi jika kita sudah melakukan ee upaya deteksi dini. Ada beberapa hal

1:10:35 yang bisa kita lakukan. Bisa dilihat di sebelah kanan. Yang pertama adalah pengenalan karakteristik dan juga kebutuhan perkembangan murid. tadi sudah disampaikan oleh Bu Rita ini penting sekali bahkan ini harus sudah kita lakukan sejak hari pertama anak masuk sekolah kita sebut sebagai MPLS. Untuk itu Bapak Ibu ee sebagai informasi juga di tahun 2026 ini MPLS ramah yang akan kita lakukan insyaallah di bulan Juli nanti ini akan sangat kita perkuat dengan upaya deteksi dini. Sekolah perlu mengenal tiap individu murid-murid baru. Perlu mengetahui bagaimana latar belakang dari mana anak ini berasal. Bahkan juga kita perkuat dengan untuk mengetahui latar belakang tanggung jawab pengasuhan. Siapa yang mengasuh anak tersebut? Apakah ayah atau ibu kandung atau mungkin dari keluarga lain misalnya

1:11:22 kakek, nenek, paman, dan bibi. Karena ternyata itu juga ada ee beberapa potensi yang bisa kita mitigasi. Bukan untuk menstigma tapi benar-benar untuk kita mitigasi. Kemudian yang kedua adalah mengidentifikasi pemantauan perubahan perilaku. Nah, ini sangat penting tadi disampaikan oleh Pak Menteri bagaimana guru, kepala sekolah, orang dewasa yang ada di sekolah ini tidak abai terhadap perubahan-perubahan. Misalnya anak yang tadinya rajin kemudian terlihat menjadi pemalas, anak yang kemudian sering terlambat sekolah, anak yang kemudian tidur dalam kelas. Ini adalah perubahan-perubahan perilaku yang bisa jadi sebenarnya ada masalah yang mungkin akarnya adalah di keluarga atau mungkin di pertemanan sosial di sekolah. Kemudian yang ketiga, identifikasi warga sekolah yang berpotensi mengganggu keamanan dan kenyamanan. Identifikasi titik rawan ini biasanya kita bisa melihat ya ada

1:12:09 titik-titik yang mungkin tidak terlihat ee secara jelas gitu ya, agak gelap di pojok lorong dan lain-lain. Ini juga menjadi titik rawan yang juga harus dimitigasi dan juga penerimaan pengaduan dan aspirasi. Yang ini juga wajib disediakan oleh sekolah baik melalui kotak pengaduan ataupun hotline ataupun ee Google Form atau apapun medianya. Lanjut saja. Nah, yang kedua yang juga paling penting Bapak Ibu, penguatan tata kelola ini juga harus dilakukan oleh Bapak Ibu Kepala Sekolah terutama melalui pembentukan tata tertib dan juga kode etik. Nah, ini tentu saja tata kode etik ini harus memuat nilai-nilai pokok. Apa saja hak dan kewajiban setiap warga sekolah, apa saja perilaku yang diharapkan dan ini harus benar-benar dipedomani oleh seluruh warga sekolah.

1:12:55 Kemudian juga tata tertib ini diharapannya menggunakan kalimat-kalimat disiplin positif. Untuk pos ini juga menjadi sangat penting Bapak Ibu, bagaimana mekanisme kegiatan yang ada di sekolah dalam proses pembelajaran harus menggunakan mekanisme yang prosedural terutama misalnya untuk pos penanganan kekerasan, kemudian bahkan juga pos penggunaan fasilitas sekolah, pos pelaksanaan kegiatan di luar sekolah. Dan ini juga sangat penting karena juga ada beberapa kasus yang terjadi saat ini. Sering sekali ada musibah terjadi pada saat proses pembelajaran di luar sekolah. Nah, ini dalam mekanismenya tentu perlu ada upaya sekolah misalnya untuk mengetahui bagaimana kondisi di lapangan nanti anak-anak untuk beraktivitas di luar sekolah seperti apa. Apakah benar-benar bisa kita jamin keamanan dan lain-lainnya ini adalah pos-pos yang juga harus e benar-benar ee

1:13:41 disusun oleh sekolah. Lanjut saja. Kemudian edukasi warga sekolah tentu saja peran ee kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan ini harus kita perkuat kapasitasnya. Apa saja kompetensi yang perlu kita perkuat? tentu saja ee kemampuan tadi deteksi dini. Kemudian penanganan pelanggaran. Setiap guru harus memahami bagaimana mekanisme atas penanganan pelanggaran. Pemahaman terhadap ragam disabilitas ini juga sangat penting tadi yang Bu Rita sampaikan. Salah satu asasnya adalah inklusif. Bagaimana kita bisa menjamin ee dunia pendidikan yang inklusif jika guru-guru saja misalnya belum paham tentang ragam-ragam disabilitas.

1:15:15 terhebat. Nah, modul ini sudah kita kembangkan mulai dari jenjang PAUD sampai dengan SMA dan SMK yang mana melalui modul ini sebenarnya kita benar-benar mengajarkan hal-hal ee dasar tapi sangat diperlukan oleh setiap siswa. Bagaimana dia memahami emosi, bagaimana dia memahami cara meregulasi emosinya, bagaimana dia memahami bagaimana pertemanan yang positif dan sehat. Hal-hal sesimpel dan sesederhana itu ternyata juga sangat mempengaruhi bagaimana ee pola interaksi nantinya antar siswa. Sehingga harapannya setiap sekolah yuk Bapak Ibu mulai manfaatkan modul pembiasaan karakter hebat yang bisa diimplementasikan melalui pendekatan kokurikuler ya. Lanjut saja ya. Penguatan warga

1:16:00 sekolah tentu saja ada pembagian peran warga sekolah. Setiap insan yang ada di sekolah memiliki tanggung jawab yang sama pentingnya Bapak Ibu. Tanggung jawab untuk mewujudkan budaya sekolah aman dan nyaman ini tidak lagi bertanggung jawab hanya sebuah tim saja yang terdiri dari beberapa guru, tapi sejatinya ini menjadi tanggung jawab semua guru, kepala sekolah, dan juga bahkan harus melibatkan murid. Kemudian manajemen kelas penting sekali setiap wali kelas Bapak, Ibu ini untuk menyusun kesepakatan kelas yang melibatkan murid. bagaimana kesepakatan kelas ini ee menjadi media untuk benar-benar membangun komitmen bersama, membangun kolektivitas dengan para murid untuk benar-benar ee mengatur apa saja ya do and yang ada di kelas. Nah, ini

1:16:45 iya sudah waktunya ya, Mas ya. Sudah dicolek. Saya mungkin sampai yang penerapan budaya positif ya. Keteladanan tentu menjadi penting Bapak, Ibu, bagaimana peran orang-orang dewasa terutama ya untuk bisa ee menjadi teladan yang baik bagi ee murid-murid. Tidak mungkin kita berharap anak-anak kita memiliki perilaku yang baik jika orang dewasa yang dia lihat justru kebalikan. Ya. Kemudian penerapan budaya positif ini juga tadi menjadi kata kunci yang Mbak Pak Menteri sudah sampaikan. Ini bukanlah program tapi ini benar-benar budaya yang benar-benar mengakar dan terlihat bagaimana dalam keseharian pembelajaran di sekolah. Mungkin itu, Mas Bayu. Terima kasih. Baik, nanti mungkin bisa mengelaborasi dengan adanya pertanyaan-pertanyaan juga ya, Bu Prita ya. Saya mau langsung ke Bu Rini mungkin dalam kacamata Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia ee dengan

1:17:31 keluarnya Permenik Dasmen nomor 6 2026 mengenai budaya sekolah aman dan nyaman ini ee bagaimana cakupan kolaborasinya? Apakah memang sudah ee bisa membantu secara signifikan ee menciptakan perlindungan terhadap anak-anak di sekolah dan juga lingkungan sekolah gitu Bu? Baik. Ee terima kasih ee Mas Bayu. Jadi ee kalau tadi sudah mendengarkan apa yang dijelaskan Bu Rita, Bu Prita gitu ya ee terkait dengan Permen 6 2026 ini tentunya ini ee kita bersama dalam ruangan ini maupun offline maupun online tentu menguatkan komitmen kita bersama ya. Bagaimana ee melindungi anak itu karena tadi 30% waktunya itu ada di sekolah. Jadi sekolah itu adalah ee rumah kedua ya dari anak-anak. Nah, ee

1:18:17 keterlibatan seluruh pihak Saf Children gitu ya, kemudian Yayasan Kreasi ini menunjukkan semuanya peduli. Nah, kalau kami dari Kementerian Pemberian Perempuan tentunya ingin menjamin ya melihat ya bagaimana anak itu di mana pun dia berada itu terlindungi dan terpenuhi haknya. Hak anak itu tidak kecil. Artinya hak anak itu adalah hak ajazi manusia dalam berbagai bentuk apapun. Nah, mereka harus didengarkan pandangannya. Kalau melihat tadi apa yang kriteria kemudian prinsip dalam ee Permen 6 2026, nah tentunya ini akan membawa kalau ini gerakan ya tadi Pak Menteri menyampaikan ini sebuah gerakan, nah tentunya ini akan terlaksana dengan

1:19:03 masif karena negara kita sudah menjamin pemenuhan hak anak itu terstate di dalam pasal 28B ayat 2 dari Undang-Undang ee Dasar 45 ee itu diratifikasi dengan kita meratifikasi konvensi hak anak. Nah, tahun 1990 pada tahun 2000 itu ee kita langsung ee merubah amendemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia ee dan memasukkan salah satu pasalnya itu adalah pemenuhan hak anak. Nah, pemenuhan hak anak ini tentunya mulai dari bagaimana tadi kalau misalnya ee apa kemarin juga sudah ada penandatanganan komitmen bersama penerimaan siswa yang ramah gitu ya. Nah, tentunya ini hak anak pertama karena enggak ada lagi kalau anak tidak memiliki akta kelahiran itu tidak bisa

1:19:49 masuk sekolah gitu ya. Jadi itu hak anak pertama. Nah, di ee di sinilah kita saling antara satu hak dengan hak yang lain itu saling bekerja sama. Di pasal 2 dalam kluster konvensi hak anak itu pendidikan itu termasuk unsur pengasuhan di dalamnya. Jadi, bagaimana kita orang dewasa menjadi role model bagi anak-anak kita. bagaimana partisipasi anak, bagaimana ee disiplin positif tadi ee kalau disiplin itu penting. Jadi tidak bisa mengabaikan, mengajarkan anak untuk melaksanakan tanggung jawabnya. Jadi kita dalam hal ini tidak terus-menerus bicara terkait dengan hak anak, tapi juga kewajiban. Tapi bagaimana anak itu bisa menjalankan kewajibannya? tentu ada

1:20:35 unsur dia mendapatkan hak untuk dididik dan dilatih dan diasuh dengan pengasuhan yang berbasis anak. Nah, ee kemudian yang keempat tentunya ee kluster ketiga itu adalah dia mendapatkan hak kesehatannya. Tadi Pak Menteri sudah menyampaikan bangunan sekolah, kemudian ventilasi, kemudian secara tidak hanya sarana prasarana tapi juga ee aspek sosial. itu menjadi satu hal yang paling penting di dalam ee sebuah lingkungan, satuan pendidikan. Dan yang terakhir, bagaimana menciptakan ee anak-anak itu ee merasa nyaman, aman ee tanpa kekerasan, tanpa diskriminasi gitu ya. Karena ini tidak bisa dilakukan di satuan pendidikan saja. Karena anak itu ada 30% waktunya di rumah. Jadi antara

1:21:22 orang tua, keluarga, dan ee ten pendidik dan tenaga pendidikan yang ada di lingkungan. Tidak hanya tenaga pendidik dan kependidikan, tapi penjaga sekolah juga ee termasuk juga tenaga kependidikan ini harus memiliki sensitivitas. Nah, antara ee agar dia tidak masuk ke dalam ee perlindungan khusus. Karena anak tadi yang disampaikan Buurita bahwa anak yang menjadi korban kekerasan itu juga adalah ee ee menjadi pelaku kekerasan ya itu juga korban. Karena ee saya yakin dan percaya bahwa orang tua maupun guru tidak ada yang ingin anak-anaknya ee dia

…

Share

Ringkasan Video YouTube