Dialog: Radikalisme dan Intoleransi (Masih) Mengintai #1

BeritaSatu www.youtube.com

Ringkasan Singkat

Video ini membahas tren peningkatan intoleransi dan radikalisme di Indonesia, serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Hasil kajian Wahid Institut menunjukkan bahwa meskipun radikalisme cenderung menurun, tingkat intoleransi justru meningkat. Pentingnya peran pemerintah dan tokoh masyarakat di dalam menjaga kebinekaan dan menanggulangi radikalisme dikemukakan.

  • Intoleransi dan radikalisme di Indonesia meningkat.
  • Faktor politik dan media sosial memperburuk situasi ini.
  • Radikalisme terdefinisi sebagai tindakan merusak, sementara intoleransi adalah perasaan yang melarang ekspresi hak-hak orang lain.

Tren Intoleransi dan Radikalisme

Tren intoleransi dan radikalisme di Indonesia mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Kajian menunjukkan bahwa 0,4% atau sekitar 600 ribu warga negara Indonesia pernah terlibat dalam tindakan radikal. Sekitar 11,4 juta jiwa, atau 7,1% dari populasi, berisiko terpengaruh oleh gerakan radikal. Kenaikan sikap intoleransi dari 46% menjadi 54% juga menonjolkan masalah ini.

Penyebab Peningkatan Intoleransi

Beberapa faktor mempengaruhi peningkatan intoleransi dan radikalisme, termasuk politisasi, pidato penuh kebencian, serta konten kebencian di media sosial. Zanuba Arifah Kapsov dari Wahid Institut menekankan pentingnya memahami perbedaan antara radikalisme yang merusak dan intoleransi yang melarang ekspresi kepercayaan orang lain.

Radikalisme vs Intoleransi

Wahid Institut membedakan antara radikalisme, yang mencakup tindakan merugikan kelompok lain, dan intoleransi, yang merupakan sikap menolak hak-hak orang lain. Pendidikan dan kesadaran kolektif diperlukan untuk menangani masalah ini secara efektif.

Pentingnya Kebinekaan

Kebinekaan di Indonesia adalah warisan sejarah yang perlu dilindungi. Dalam konteks ini, pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat berperan penting dalam menjaga harmoni di tengah perbedaan. Dialog dan kolaborasi antar elemen bangsa sangatlah diperlukan.

Pembahasan Penelitian

Dalam dialog ini, peneliti Wahid Foundation membahas hasil penelitian terkait radikalisme dan intoleransi. Mereka menunjukkan bahwa meskipun ada peningkatan intoleransi, dapat terlihat penurunan dalam penggunaan kekerasan. Namun, tantangan untuk melawan kebencian dan politisasi identitas masih besar.

Politisasi dan Intoleransi

Politisasi identitas agama berkontribusi pada peningkatan intoleransi. Elit politik terkadang memanfaatkan perasaan tidak suka untuk tujuan politik. Penting untuk menghindari penggunaan identitas agama dalam politik guna mencegah ekskalasi konflik.

Dampak Sosial Politisasi

Dampak dari politisasi identitas terlihat dalam segi sosial, di mana interaksi antarumat beragama berkurang. Ada pengaruh signifikan terhadap kehidupan sosial di Indonesia, seperti semakin berkurangnya kunjungan antaragama saat perayaan.

Intoleransi dan Toleransi

Meskipun ada peningkatan intoleransi, hal ini bisa menjadi peluang untuk memahami perbedaan. Konflik non-fisik dapat mengarah ke dialog yang lebih baik. Pengalaman bertemu dengan orang yang berbeda dapat membantu mengurangi prasangka dan mendorong toleransi.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:03 Tren intoleransi dan radikalisme di Indonesia cenerung meningkat dari waktu ke waktu. Meningkatnya tren intoleransi dan radikalisme itu dipengaruhi berbagai faktor. Mulai dari fontestasi politik, ceramah atau pidato bermuatan ujaran kebencian, serta postingan bermuatan ujaran kebencian di media sosial. Direktur Wahid Institut Zanuba Arifah Kapsol. Direktur Wahid Institut, Zanuba Arifa Kapsov atau Yeni Wahid menyebut, hasil kajian Wahid Institut menunjukkan 0 ,4 persen atau sekitar 600 ribu jiwa warga negara Indonesia dari jumlah total penduduk dewasa pernah melakukan tindakan radikal. Selain itu ada juga kelompok masyarakat sekitar 11 ,4 juta jiwa atau 7 ,1 persen

0:50 yang rawan terpengaruh gerakan radikal baik melalui ajakan maupun bila ada kesempatan. Dan yang mengejutkan, sikap intoleransi di Indonesia cenderung meningkat dari sebelumnya sekitar 46 persen dan saat ini menjadi 54 persen. Kajian Wahid Institut juga memberi garis tegas antara radikalisme dan intoleransi. Tindakan merusak atau berdampak merusak kelompok masyarakat lain di tengah kehidupan bermasyarakat di Indonesia seperti perusahaan rumah ibadah agama lain. masuk dalam kategori radikalisme. Sementara intoleransi adalah sikap yang melarang orang lain mengekspresikan hak -haknya. Baik larangan terhadap etnis tertentu bekerja di

1:35 profesi tertentu, maupun larangan melakukan kegiatan keagamaan berupa perayaan hari besar budaya, serta merasa kelompoknya yang paling benar dan menyudutkan kelompok lain. Kebenekaan Indonesia merupakan kegiatan kegiatan kegiatan kegiatan kegiatan kegiatan kegiatan kegiatan kegiatan. Kebinekaan Indonesia merupakan sebuah warisan sejarah dan bentuk kearifan para Founding Fathers. Untuk itu, peran pemerintah, pemuka dan tokoh agama, serta seluruh elemen bangsa mutlak diperlukan guna menjaga kebinekaan itu. Tim Liputan Berita 1 Radikalisme dan intoleransi masih mengintai. Itulah topik dialog kita di pagi hari ini. Kajian Wahid Institut menunjukkan. Kajian Wahid Institute menunjukkan radikalisme dan intoleransi di Indonesia cenderung naik dari

2:20 waktu ke waktu. Dan untuk membahasnya sudah hadir di studio peneliti The Wahid Foundation Alam Syah M. Ja 'far. Mas Alam, terima kasih banyak sudah ada bersama kami di pagi hari ini. Terima kasih Mas Erdi. Mas Alam, kalau kita bicara ini sebetulnya kita mengutip pernyataan dari Mbak Yeni ya. Tentang radikalisme dan intoleransi yang jumlahnya kalau saya baca itu cukup signifikan jumlahnya. tapi ini hasil penelitian dari 2000... Tapi ini hasil penelitian. Dari survei sebetulnya. Dari survei. 2016 dan yang kedua tahun 2017. oke. Nah itu adalah potret pada saat itu. Iya. Nah tapi kalau kita melihat kekinian nih, zaman sekarang apakah itu sebetulnya masih kurang lebih sama? Dari untuk konteks intoleransi, sebetulnya kami melihat justru perkembangannya akan terus naik ya.

3:10 bahkan misalnya surveinya LSI yang membandingkan dari tahun ke tahun Oke. itu menunjukkan intoleransi dalam politik itu sebetulnya makin menguat di 2009 -19. Intoleransi politik itu artinya apa? Sebetulnya diukur dari ketidakterimaan orang untuk memilih pemimpin yang berbeda agama atau keyakinan. Nah ini trennya naik. Itu hanya di politik saja atau sebetulnya dari sisi -sisi, ya apa, sebetulnya kalau kita bicara ideologi juga, apakah mungkin sosial dan segala macam juga terlihat? Nah menariknya sebetulnya yang sosial itu

3:59 malah menurun. Sosial menurun? Sosial itu, artinya begini, dari intoleransi keagamaan dalam artian, variabelnya adalah apakah seseorang itu menerima kelompok lain untuk beribadah di rumah ibadahnya atau tidak. Artinya begini, dari... Atau mengekspresikan pandangan keagamaan, itu sebetulnya cenderung menurun. Artinya di sisi itu sebetulnya lebih baik? Lebih, saya kira lebih baik. Apa maknanya sebetulnya? Oke, oke. Nah, apa maknanya sebetulnya? Artinya, tantangan kita ke depan adalah bagaimana kita mengatasi masalah politisasi kebencian, ketidaksukaan, atau identitas agama. Jadi, karena itu pada tahun sebelum 2018, kami membuat satu

4:49 kesimpulan bahwa meningkatnya intoleransi itu bukan karena disebabkan menyebabkan orang tidak menghargai perbedaan agama dan keyakinan orang tidak menghargai perbedaan. tetapi karena dampak dari politisasi keagama atau tepatnya pelintiran kebencian terhadap kelompok tertentu oke artinya kan sebetulnya perbedaan itu kan memang sangat mudah untuk dimainkan dalam tanda kutip ya tapi selama ini taruhlah sebelum bentuk intoleransi ini tidak marak seperti sekarang sebetulnya perbedaan itu ada tapi tidak bermasalah kan gitu kan Saya kira tidak juga sebetulnya. Misalnya kalau kita kembali ke masa Pak Harta atau masa Orde Baru, intoleransi juga terjadi. saya kira tidak juga sebetulnya misalnya kalau kita Betul. Seperti yang sekarang. Hanya perbedaan adalah bahwa karena negara begitu kuat, media

5:36 cukup terbatas, media sosial tidak berkembang, maka ekspresi itu tidak muncul. Nah sekarang dalam situasi yang sangat terbuka, ekspresi itu menjadi lebih berkembang dan variatif, ditambah lagi globalisasi. dari globalisasi terhadap intoleransi? Ya, globalisasi itu kan misalnya begini. Intoleransi yang terjadi di negara -negara lain, misalnya di Rohingya, Islamophobia di Eropa, itu memberi dampak kepada meningkatnya intoleransi di dalam negeri. Jadi intoleransi itu seperti bandul makin kita tarik, itu dia dampaknya makin kuat. itu sama dengan kalau misalnya riset kita ya, penolakan gereja di Pulau Jawa itu

6:22 kemudian direspon penolakan masjid di beberapa daerah yang mayoritas Kristen. Itu sama dengan kalau misalnya riset kita ya. Oke. Itu seperti... balas dendam jadinya. Ya, seperti balas dendam. Itu yang saya maksud globalisasi satu sisi mempengaruhi meningkatnya intoleransi. Artinya itu di tingkat sosial dong, bukan di politik sebetulnya. Ya, bisa disebut sebagai... Apa namanya Yang dalam kasus itu tentu sosial Tapi dalam konteks misalnya Mengenai kasus Trump Wilders Yang kemudian Membenci kelompok -kelompok Islam, itu bukan politik sebetulnya Oke, oke Artinya gini, di Indonesia Kalau kita melihat sekarang Soal radikalisme itu cenderung

7:09 menurun Begitu atau bagaimana? Begitu atau sebetulnya Atau bagaimana? Kalau dari sisi penggunaan kekerasan sebenarnya potensinya makin menurun oke Dari sisi itu, sementara bentuk intoleransinya ini kan sebetulnya bisa menjadi cikal bakal dari radikalisme Belum tentu sebetulnya Itu dia artinya, belum tentu itu artinya bisa menjadi tapi bisa juga tidak Karena tidak setiap tindakan -tindakan intolerans atau orang -orang yang dinyatakan sebagai intolerans itu akan melakukan tindakan radikal, apalagi terorisme. Itu akan melakukan tindakan radikal Setuju Apalagi Jadi itu tidak selalu dibaca secara linear. Setuju, setuju. Artinya gini, dari radikalismenya sebetulnya bentuk -bentuk kekerasannya itu sudah menurun, atau sebetulnya radikalisme secara utuh, ini kita bicara

7:55 istilahnya apa tadi, violent extremism, itu memang turun, atau bagaimana? Saya kira gini, analisis saya adalah masyarakat, pemerintah, dan saya kira dunia internasional. itu sebetulnya dengan secara jelas dapat membedakan kekerasan dan bukan kekerasan. Dan kekerasan itu sesuatu yang sangat berbahaya. Jadi potensi untuk mengontrol, mencegah, dan masyarakat mengenali kekerasan itu sebetulnya jauh lebih mudah. Jadi pencegahan -pencegahan yang dilakukan akan sangat lebih kuat dibanding kasus -kasus intolerasi. nah karena itulah mengapa saya mengatakan potensinya menjadi lebih turun. Nah karena itulah mengapa saya mengatakan Karena kontrol, dan kita tahu dalam kasus terorisme misalnya, kalau dibandingkan dari tahun ke tahun itu kan upaya -upaya Densus untuk melakukan pencegahan

8:46 penangan itu cukup masif, dan itu mengurangi pergerakan mereka. Karena jelas sekali bentuknya adalah kekerasan. Nah sekarang masalah yang agak rumit adalah bagaimana kalau non -physical violence. atau non -physical violence atau kekerasan non -physik seperti hate speech. Nah ini yang sebetulnya menjadi tantangan dan kita tahu ini makin meningkat. Oke, jadi disitu sebetulnya yang menjadi menarik. Bahwa sebetulnya kekerasan fisik ini sudah semakin menurun, tapi kekerasan verbal ini semakin meningkat. Justru itu sebetulnya kenapa yang disebut sebagai intoleransi tadi itu, apa namanya, justru kecenderungannya naik. Rungannya naik? dan ditambah lagi, tadi ditambah lagi ada Naik, dan ditambah lagi, tadi ditambah lagi adalah konteks politisasi identitas atau politisasi kebencian atau pelintiran

9:33 kebencian. Oke, itu menjadi pemicu atau sebetulnya itu yang membangkitkan intoleransi itu? Politisasi atau pelintiran kebencian itu sebetulnya adalah yang menjadi salah satu faktor penting. itu dia sebagai pemicunya atau sebetulnya memang dasarnya... sebagian masyarakat kita itu punya kecenderungan untuk itu, sehingga tinggal dipantik begitu dia akan jadi? Tergantung, misalnya gini, dalam kasus intoleransi itu beberapa modal, modal negatif sebetulnya, itu adalah prejudice, atau prasangka buruk ya. Kemudian konservatisme di dalam beragama, konservatisme itu artinya sebetulnya memahami agama itu secara

10:21 teknik. Itu artinya sebetulnya memahami agama itu secara teksual, hitam putih gitu. Nah, tidak kontekstual gitu. Tidak kontekstual ya. Ini yang kemudian menjadi semacam kayu bakar ketika terjadi politisasi. Jadi kalau politisasi terjadi, orang -orang yang mengalami situasi semacam ini, perasangka, ketidaksukaan, dan konservatif di dalam beragama, Agama itu kemudian bisa terjebak atau melakukan tindakan... Boleh, dan kalau saya sebut misalkan kenapa intoleransi itu meningkat, ya ini sebetulnya juga dalam tanda kutip yang punya andil besar menyebabkan itu adalah para elit politik. tentu saja yang memanfaatkan identitas agama, keyakinan... Ketika ada

11:07 politisasi artinya kan ada orang yang melakukan politisasi gitu kan? Dan yang orang yang mampu untuk melakukan politisasi itu adalah para elit politik. Orang yang mampu untuk melakukan politisasi itu adalah para elite politik, begitu nggak kira -kira? Ya, kami sebelum menyebutnya itu untuk menyasar para entrepreneur politik yang menggunakan identitas agama atau ketidaksukaan atau kebencian terhadap kelompok yang lain sebagai alat untuk mendapatkan keuntungan politik. Nah, karena itulah kami di White Foundation kemudian menegaskan penting sekali untuk melihat atau menyasar para... Lihat atau menyasar para political entrepreneur ini, sehingga dari situ kita bisa mengurangi, dan karena itu tentu saja menghimbau kepada para elit politik untuk tidak menggunakan ini sebagai salah satu alat politik, karena ini sangat berbahaya bagi itu. Artinya gini, apakah Wahid

11:58 Foundation itu melihat bahwa dampak dari politisasi yang dilakukan oleh para elit ini itu besar sekali terhadap kondisi intoleransi yang terjadi? di Indonesia. Pertanyaannya itu? Betul. Besar sekali kan? Besar sekali. Dan ini sebetulnya bukan hanya gejala Indonesia, ini gejala dunia. Eropa mengalami, Amerika mengalami terhadap misalnya kasus Islamophobia, atau ketidaksukaan terhadap para imigran. Dan ini terjadi karena ada proses politik atau politisasi perbedaan agama dan keyakinan. Nah, kalau pertanyaannya apakah dampaknya besar bagi kehidupan sosial sangat besar. Nah, kalau pertanyaannya apakah dampaknya besar bagi kita? Misalnya, dulu banyak teman -teman mengatakan

12:45 kalau hari raya natal atau idul fitri itu biasa orang saling berkunjung ya. Tapi karena ini makin menjadi perbincangan publik di media sosial itu seperti terjadi segregasi atau pembelahan. dan mereka -mereka yang biasa saling berkunjung itu makin berkurang. Dan mereka -mereka yang biasa saling... Nah itu sebetulnya dampak yang bisa kita rasakan dalam kehidupan saya. Oke, kalau misalkan itu makin berkurang, ini yang saya tangkap adalah sebetulnya masih ada secerca harapan. Masih ada proses -proses di mana kalau di tempat lain ada semacam segregasi, di tempat lain ini justru masih tetap utuh ada. Nah ini menariknya, menurut saya intoleransi dalam pengertian... Ya, intoleransi dalam pengertian tidak menghargai atau menolak hak -hak dasar

13:35 yang dijamin oleh undang -undang dan pada umumnya tidak menggunakan cara -cara kekerasan, pada umumnya adalah penggunaan kekerasan verbal dalam konteks itu intoleransi itu sebetulnya dalam beberapa hal saya melihat itu sebagai jalan orang untuk menjadi lebih toleran. Jadi bagaimana kita bisa menjadi orang -orang yang terbuka kalau kita belum mengalami konflik -konflik yang non -violent tadi. Dari situ orang kemudian belajar. Dan kalau kita lihat banyak profil -profil tokoh -tokoh gitu ya, yang kita baca itu sebetulnya mereka juga mengalami fase itu.

14:22 Artinya tercerahkan setelah proses itu? gitu, katakanlah saya juga begitu, sejak kecil ada asumsi -asumsi yang negatif terhadap orang -orang yang berbeda, tapi karena saya belum bertemu kemudian saya mengalami perjumpaan dialog -dialog kegiatan -kegiatan yang kemudian setelah itu meruntuhkan prejudice -prejudice ini masalah berarti termasuk yang tercerahkan juga ya, salam kita jadinya sebentar, kita akan lanjutkan di segmen berikut kita jadikan sebentar, kita akan lanjutkan di segmen berikut pemirsa jangan kemana -mana, kami segera kembali

Share

Ringkasan Video YouTube