Dulu Tukar Baju Untuk Makan, Sekarang Jadi Bos 300 Karyawan & di Umrohkan Setiap Tahun

Dulu Tukar Baju Untuk Makan, Sekarang Jadi Bos 300 Karyawan & di Umrohkan Setiap Tahun

Ringkasan Singkat

Video ini menceritakan kisah Feri Admaja, seorang pengusaha yang sukses membangun TBK Group dengan beberapa merek kuliner seperti Preksu dan Bakso Pajero. Ia berbagi pengalaman jatuh bangunnya dalam berbisnis, mulai dari kebangkrutan hingga akhirnya menemukan kesuksesan dengan berpegang pada prinsip-prinsip agama dan fokus pada kebermanfaatan.

  • Awal mula bisnis dari musibah dan keterbatasan ekonomi.
  • Pentingnya visi dan misi dalam berbisnis.
  • Peran ilmu agama dan fikih muamalah dalam berbisnis.
  • Fokus pada kebermanfaatan dan ibadah dalam berbisnis.
  • Pentingnya tim yang solid dan komunikasi yang baik dengan karyawan.

Ditinggal Ayah dan Awal Mula Mandiri

Feri Admaja menceritakan masa kecilnya yang manja hingga akhirnya menjadi mandiri setelah ditinggal ayahnya saat SMP kelas 2. Ibunya yang seorang ibu rumah tangga tidak memiliki penghasilan, sehingga Feri bertekad untuk menghidupi dirinya sendiri dan membantu orang tua. Ia mulai berbisnis sejak kuliah, berjualan baju dan kaos, serta aktif di forum jual beli Kaskus. Dari hasil berjualan tersebut, ia berhasil mengumpulkan modal dan mendapatkan beasiswa, sehingga bisa hidup mandiri.

Restu Orang Tua dan Awal Mula Wirausaha Kuliner

Setelah lulus kuliah pada tahun 2011, Feri memutuskan untuk berwirausaha. Ia bergabung dengan komunitas yang memiliki visi yang sama dan meminta restu kepada ibunya. Awalnya, ibunya tidak setuju karena menganggap PNS adalah pekerjaan terbaik. Namun, Feri terus berusaha meyakinkan ibunya dengan menunjukkan potensi kebermanfaatan dari bisnis kuliner. Akhirnya, ibunya memberikan restu dan selalu mendampingi Feri dalam setiap langkahnya.

Kebangkrutan Pertama dan Perubahan Niat

Usaha kuliner pertama Feri bernama Juice for You, sebuah kafe yang menjual minuman jus kesehatan. Namun, usaha ini bangkrut karena Feri kurang memiliki ilmu bisnis dan hanya fokus pada tindakan tanpa perencanaan yang matang. Ia tidak memahami pembukuan, orkesting, dan teknik pemasaran yang benar. Kebangkrutan ini membuatnya dijauhi teman-temannya dan merasa malu kepada ibunya. Feri kemudian melakukan introspeksi diri dan mengubah niatnya dalam berbisnis.

Fokus pada Akhirat dan Ilmu Fikih Muamalah

Feri menyadari bahwa niat awalnya dalam berbisnis salah, yaitu hanya mengejar dunia. Ia kemudian mengubah niatnya menjadi menjadikan usaha sebagai ibadah. Ia mulai belajar ilmu agama, terutama fikih muamalah, agar dapat berbisnis sesuai dengan syariat Islam. Ia bergabung dengan komunitas pengusaha muslim Indonesia dan belajar cara berdagang yang jujur dan tidak melanggar syariat.

Modal Tanpa Riba dan Program Makan Gratis

Setelah mempelajari fikih muamalah, Feri tidak mau menggunakan riba dalam bisnisnya. Ia membuat proposal bisnis dan mengajukan kerja sama syirkah kepada orang-orang. Setelah banyak ditolak, akhirnya ada temannya bernama Rudi yang bersedia berinvestasi. Dengan modal tersebut, Feri mengganti merek kafenya menjadi Preksu (Ayam Geprek dan Susu). Ia juga membuat program makan gratis setiap Senin dan Kamis serta membaca surat Al-Kahfi di hari Jumat.

Hikmah di Balik Pandemi dan Inovasi Produk

Saat pandemi COVID-19, bisnis Preksu mengalami penurunan omset yang signifikan karena target pasarnya adalah mahasiswa yang banyak pulang kampung. Feri kemudian melakukan riset dan menemukan bahwa bakso adalah makanan yang banyak digemari oleh keluarga. Ia kemudian membuat merek baru bernama Bakso Pajero dengan varian yang lengkap dan harga yang terjangkau. Ia juga memberdayakan karyawan Preksu untuk bekerja di Bakso Pajero.

Tim yang Solid dan Value dalam Bisnis

Feri menekankan pentingnya memiliki tim yang solid dan komunikasi yang baik dengan karyawan. Ia mengumpulkan semua karyawannya dan mendengarkan keluh kesah mereka. Ia juga memberikan pilihan kepada karyawan untuk mengurangi gaji atau mengurangi hari kerja agar perusahaan tetap bertahan. Selain itu, Feri juga menekankan pentingnya value dalam bisnis, yaitu fungsional, emosional, dan spiritual.

Masalah Tidak Pernah Hilang dan Tips Istikamah

Feri mengingatkan bahwa masalah akan selalu ada dalam hidup, termasuk dalam bisnis. Ia mengajak untuk menerima masalah dengan tenang dan mengambil hikmahnya. Ia juga memberikan tips untuk istikamah, yaitu terus belajar, mencari lingkungan yang baik, meninggalkan lingkungan yang buruk, dan berdoa kepada Allah. Feri juga ingin agar perusahaannya terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi umat muslim.

Share

Summarize Anything ! Download Summ App

Download on the Apple Store
Get it on Google Play
© 2024 Summ