Edukasi Mitigasi Bencana | Kartika Podcast

Ringkasan Singkat

Podcast ini membahas edukasi mitigasi bencana bagi anggota Persit (Persatuan Istri Tentara) dan masyarakat umum. Narasumber menjelaskan pentingnya kesadaran akan risiko bencana di Indonesia, jenis-jenis bencana, cara mengidentifikasi risiko, persiapan menghadapi bencana (termasuk menyiapkan tas siaga bencana atau "gobek"), serta langkah-langkah pertolongan pertama dan pemulihan pasca bencana. Podcast ini juga menyoroti peran pemerintah, relawan, dan media dalam penanggulangan bencana, serta memberikan tips untuk mengedukasi anak-anak tentang mitigasi bencana.

  • Indonesia adalah negara rawan bencana kedua di dunia.
  • Mitigasi bencana penting untuk meminimalkan dampak buruk bencana.
  • Semua elemen masyarakat bertanggung jawab dalam penanggulangan bencana.
  • Persiapan tas siaga bencana ("gobek") sangat penting.
  • Edukasi mitigasi bencana harus dimulai sejak dini.

Pembukaan

Podcast Kartika episode ke-6 ini dibuka dengan sapaan dari pembawa acara, Anisya Safania dan Yurizki Alia, serta perkenalan singkat. Episode kali ini bertema edukasi mitigasi bencana, mengingat seringnya terjadi bencana alam di Indonesia. Mereka akan membahas persiapan yang perlu dilakukan saat terjadi bencana bersama narasumber, Ibu Rizki Natri Janwarti, seorang manajer kualitas dan risiko di sebuah rumah sakit dan juga anggota Persit yang aktif dalam kegiatan sosial terkait penanggulangan bencana.

Perkenalan Narasumber

Ibu Rizki Natri Janwarti menjelaskan bahwa pekerjaannya sebagai manajer kualitas dan risiko di rumah sakit adalah memastikan mutu layanan, keselamatan pasien, dan mengurangi dampak risiko yang mungkin terjadi. Ia telah berkecimpung di dunia perumahsakitan sejak tahun 2010 dan juga aktif di organisasi sosial yang bergerak di bidang penanggulangan bencana seperti Tagana. Ibu Rizki juga berbagi tips tentang bagaimana membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan kegiatan sosial dengan niat memberikan manfaat seluas-luasnya.

Pentingnya Mitigasi Bencana

Mitigasi bencana adalah upaya meminimalkan dampak yang timbul akibat bencana. Edukasi mitigasi bencana penting untuk menumbuhkan kesadaran dan pengetahuan tentang ancaman bencana, sehingga meningkatkan kesiapsiagaan dan membentuk budaya tanggap bencana sejak dini. Indonesia merupakan negara rawan bencana kedua di dunia karena letak geografisnya yang berada di jalur Ring of Fire dan memiliki iklim tropis dengan curah hujan tinggi.

Tanggung Jawab dalam Mitigasi Bencana

Penanggulangan bencana adalah tanggung jawab bersama dari pemerintah, LSM, dunia usaha, dan masyarakat. TNI juga memiliki peran penting dalam upaya penanggulangan bencana. Bencana dibagi menjadi tiga jenis berdasarkan penyebabnya: bencana alam, bencana non-alam (karena kegagalan teknologi atau kelalaian manusia), dan bencana sosial.

Identifikasi Risiko Bencana

Untuk mengidentifikasi risiko bencana, penting untuk sadar diri tentang lokasi tempat tinggal dan mencari tahu risiko bencana yang ada di sana. Informasi dapat diperoleh dari berbagai sumber. Selain itu, perlu juga mengidentifikasi kerentanan dan kapasitas diri serta masyarakat sekitar dalam menghadapi bencana.

Penanggulangan Kebakaran

Jika terjadi kebakaran akibat kelalaian, kunci utamanya adalah tetap tenang dan jangan panik. Padamkan api dengan air atau kain basah jika memungkinkan. Evakuasi orang-orang di sekitar dan berikan pertolongan pertama jika ada yang terluka. Selalu ingat untuk mematikan kompor sebelum meninggalkan rumah.

Edukasi Mitigasi Bencana untuk Anak-Anak

Edukasi mitigasi bencana untuk anak-anak sekolah adalah investasi sosial jangka panjang. Edukasi harus dilakukan sedini mungkin dengan memberikan pengetahuan, pemahaman, dan simulasi tentang cara menghadapi bencana. Pemerintah juga telah memulai program sekolah siaga bencana.

Perbedaan Daerah Rawan dan Kurang Rawan Bencana

Pendekatan edukasi mitigasi risiko berbeda antara daerah rawan dan kurang rawan bencana. Di daerah rawan bencana, tingkat kesiapsiagaan harus lebih ditingkatkan dengan pelatihan yang lebih intensif. Di daerah kurang rawan bencana, fokusnya pada pengenalan bencana dasar dan tindakan yang harus dilakukan. BNPB memiliki program Destana (Desa Tangguh Bencana) untuk mengedukasi masyarakat di desa-desa rawan bencana.

Persiapan Menghadapi Bencana

Persiapan menghadapi bencana dimulai dari keluarga. Kumpulkan anggota keluarga dan beritahu tentang risiko bencana di daerah tempat tinggal. Bagi tugas kepada setiap anggota keluarga. Siapkan tas darurat atau "gobek" yang berisi barang-barang penting seperti dokumen, makanan, minuman, obat-obatan, pakaian dalam, dan alat komunikasi (peluit). Letakkan tas di tempat yang strategis dan mudah dijangkau. Pantau isi tas secara berkala (3-6 bulan) untuk memastikan makanan dan minuman tidak kedaluwarsa.

Pelatihan Mitigasi Bencana untuk Ibu Persit

Pelatihan terkait kebencanaan banyak tersedia untuk Ibu Persit dan masyarakat umum. Informasi tentang pelatihan dapat dicari melalui web, internet, dan media sosial. Kunci utama untuk mengikuti pelatihan adalah kesadaran akan pentingnya pelatihan tersebut.

Peran Pemerintah dalam Mitigasi Bencana

Pemerintah memiliki kewenangan dan tanggung jawab dalam pelaksanaan program penanggulangan bencana. Peran pemerintah antara lain membuat regulasi dan kebijakan terkait penanggulangan bencana, membentuk organisasi khusus seperti BNPB dan BPBD, serta melakukan penyuluhan dan edukasi kepada masyarakat.

Tindakan Saat Bencana Terjadi

Saat terjadi bencana, kunci utamanya adalah tetap tenang dan jangan panik, tetapi bertindak dengan cepat. Jika terjadi banjir, selamatkan barang-barang berharga dan pindahkan ke tempat yang lebih tinggi. Pantau informasi dari lingkungan sekitar dan ikuti himbauan evakuasi. Jika terjadi gempa bumi, cari tempat yang aman untuk berlindung seperti di bawah meja yang kokoh. Setelah gempa berhenti, segera evakuasi ke tempat terbuka yang jauh dari bangunan.

Mitigasi Tsunami

Di daerah pesisir dengan risiko tsunami, penting untuk memahami dan terampil dalam menggunakan sistem peringatan dini (early warning system atau EWS). Jika sirine berbunyi, segera naik ke daerah yang lebih tinggi dengan membawa tas siaga bencana ("gobek").

Pertolongan Pertama

Pertolongan pertama bersifat medis. Perhatikan lingkungan sekitar dan pastikan aman sebelum menolong. Periksa kondisi korban, apakah sadar atau tidak. Jika tidak sadar, cek jalan nafas dan denyut nadi. Jika tidak ada nafas dan denyut nadi, lakukan CPR (resusitasi jantung paru) jika terlatih. Segera minta bantuan medis.

Langkah-Langkah Tanggap Darurat

Dalam tanggap darurat, fokus utama adalah menyelamatkan diri dan lingkungan sekitar. Ingat ilmu yang telah dipelajari dan ikuti simulasi yang telah diberikan. Ketahui tanda-tanda atau alarm peringatan bencana, cara evakuasi, dan titik kumpul.

Meningkatkan Kesadaran Masyarakat

Kesadaran akan risiko bencana harus dimulai dari diri sendiri. Pahami lingkungan tempat tinggal dan alarm yang ada di sekitar. Informasikan tentang bencana kepada masyarakat melalui berbagai media.

Peran Media dalam Mitigasi Bencana

Media memiliki peran penting dalam penyebaran informasi yang cepat, jelas, tepat, dan akurat tentang bencana. Hindari memberikan informasi yang salah atau hoaks.

Aplikasi dan Teknologi untuk Mitigasi Bencana

Banyak aplikasi dan teknologi yang dapat digunakan untuk mitigasi bencana, seperti Inaris (aplikasi dari BNPB untuk melihat risiko bencana) dan magma. SIG (sistem informasi geografi) dapat menampilkan data spasial, menganalisis data, dan memvisualisasikan data terkait bencana.

Sesi Tanya Jawab

Sesi tanya jawab membahas tentang tindakan yang harus diperhatikan saat terjadi kebakaran hutan (karhutla) dan tips untuk mengedukasi anak-anak tentang mitigasi bencana. Saat karhutla, analisis situasi dan segera evakuasi jika tidak aman. Jika masih aman, siapkan anggota keluarga untuk memakai APD atau kain basah sebagai pengganti masker. Edukasi anak-anak dengan cara yang interaktif sambil bermain dan lakukan simulasi.

Pesan Penutup

Untuk sahabat Persit di seluruh Nusantara, ingatlah bahwa kita tinggal di negara yang rawan bencana. Oleh karena itu, kita harus sadar dan membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan. Jangan panik ketika terjadi bencana, tetapi bertindak responsif, cepat, dan aktif. Persiapkan tas siaga bencana ("gobek") dan bangun budaya sadar risiko dan sadar bencana.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:17 Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Shalom. Salam sejahtera bagi kita semua. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan rahayu. >> Halo sahabat Persid. Salam cinta dari Kartika Podcast. >> Membuka jendela dunia untuk Persis Cendikia. Salam penuh cinta. Muah. >> Bu Aji, apa kabarnya hari ini, Ibu? >> Alhamdulillah baik, Bu Limbong. Gimana kabarnya, Ibu? >> Alhamdulillah baik juga, Ibu. Semoga sahabat Persid di rumah juga baik ya. Amin. >> Nah, sahabat Persid di rumah juga bisa interaktif bersama kami di sini melalui DM Instagram dengan cara mem-follow IG Persit Pusat dan mengirimkan pesan

1:03 melalui DM. >> Nanti pertanyaan Sahabat Persid akan kami bacakan. Jangan lupa follow IG Persit di bawah ini ya. >> Bu Aji kayaknya punya pantun nih. >> Betul. Minta kata cakepnya ya Bu ya. >> Siap. >> Pergi ke pasar membeli semangka. >> Cakep. Pulangnya membawa satu keranjang. >> Hai sahabat Persit di seluruh Nusantara, podcast seru siap hadir sekarang. >> Kita kenalan dulu kali ya, Bu ya. Tak kenal maka tak sayang. >> Benar, Bu. >> Perkenalkan saya Anisya Safania, istri dari Let Czaji Wirawan Pamayon Zipur 11DW. Dan di sebelah saya, >> saya Yurizki Alia AMDHAN, istri dari

1:49 Serda Sahman Putra Limbong Dodik Jur Rindam Jaya. Baik, senang rasanya kembali menyapa sahabat Persid di rumah dalam Kartika podcast hari ini episode ke-6 dengan tema edukasi mitigasi bencana. >> Nah, sahabat Persid, akhir-akhir ini kita sering banget menonton berita nih, Bu ya, >> mengenai banjir, Bu. Nah, hari ini kita akan mengupas tuntas apa saja nih yang perlu kita persiapkan saat terjadi bencana. >> Nah, hari ini kami sudah kedatangan narasumber sosok Ibu Persit yang sangat luar biasa. Beliau adalah Ibu Rizki Natri Janwarti SKM M.han, istri dari Kopda Jufri dari kesatuan Denpom di Viif 1 Kosrat. Silakan Ibu, apa kabar?

2:37 Selamat datang di Kartika Podcast. Apa kabarnya hari ini, Ibu? >> Alhamdulillah sehat sekali, Ibu. >> Baik, Ibu kan sini manager of quality and Ris Centra Medica Hospital Group. Nih, Bu. >> Bisa diceritakan, Bu, itu pekerjaannya apa sih, Bu? >> Baik, kalau bidang pekerjaan saya saat ini divisi quality and risk adalah kita bertanggung jawab untuk memastikan mutu layanan yang ada di karena kita bergeraknya di bidang hospital ya, di rumah sakit, kita bertanggung jawab untuk memastikan mutu layanan ee berjalan dengan baik. keselamatan pasien terjaga dan juga yang tidak kalah pentingnya adalah risiko. >> Karena di manaun kita sebenarnya itu selalu ada risiko termasuk kita bekerja di rumah sakit gitu ya. Jadi tugas saya di situ salah satunya untuk mengurangi

3:24 dampak dari risiko yang mungkin terjadi di ee kemudian hari. >> Baik. Untuk bekerja sendiri di rumah sakit itu sudah lama kah? Dari tahun berapa? Kebetulan di dunia perumah sakitan sudah lama ya, dari lulus kuliah juga dari 2010. >> 2010 sudah ada beberapa rumah sakit yang terakhir yang paling lama di tempat yang sekarang. Tapi sebelumnya juga saya pernah aktif di beberapa organisasi >> ee sosial yang bergerak di bidang penanggulangan bencana juga seperti Tagana. Tagana. >> Siap. Ibu kan sebagai persid nih Bu. sebagai manajer, sebagai ibu rumah tangga, aktif bersosialisasi juga nih, Bu. Bagaimana Ibu membagi waktunya, Bu? >> Wah, kalau bicara tentang itu tentunya

4:10 ee kita yang pertama harus bersyukur ya, bahwa yang kita minta adalah sehat aja dulu, gitu ya, dengan kesehatan, dengan modal kesehatan ee dan keinginan untuk terus memberikan manfaat yang banyak gitu ya, bahwa hidup ini harus penuh manfaat. maka kita berusaha sebaik-baiknya untuk mengatur. Ada peran kita sebagai seorang istri gitu ya. Ada juga peran kita sebagai seorang ibu dari anak-anak dan ee ada tambahan lagi nih sekarang perannya sebagai ee seorang yang bekerja juga yang punya tanggung jawab di tempat bekerja. Jadi kuncinya sebisa mungkin kita atur semuanya agar berjalan dengan ee seimbang gitu. Dan intinya itu niat memberikan manfaat seluas-luasnya.

4:55 >> Baik, luar biasa sekali. sekali kita hari ini. Nah, kembali ke topik nih, Bu. Mungkin sahabat Persid di rumah ini banyak yang belum tahu apa sih, Bu itu mitigasi bencana. >> Baik, ee pagi ini kita bicara tentang bencana ya, Bu ya. >> Jadi, sahabat Persid di mana pun ee berada bahwa ee kita harus sadar diri. itu poin terpenting kita ini tinggal di negara Indonesia yang merupakan negara ee dengan rawan bencana kedua di dunia itu berdasarkan hasil ee survei pada tahun 2023 oleh WRR atau World R gitu ya. ee tidak jauh berbeda dengan negara

5:42 pertama yang menduduki posisi pertama yaitu Filipina dan sangat mungkin kita menjadi negara yang paling tinggi yang rawan bencana. Nah, penyebabnya itu macam-macam karena di Indonesia ini secara geografis kita terletak di ee empat lempeng aktif gitu ya >> yang disebut dengan ring of fire itu >> lempeng tektonik ya nanti ada ring of fire juga. Nah, lempeng tektonik ini menyebabkan berbagai bencana seperti gempa bumi gitu ya. Nah, tadi kalau Ibu menjelaskan juga ada ring of fire. Ring of fire juga betul negara kita dilintasi oleh ee >> berbagai macam gunung berapi yang ternyata masih aktif. Nah, itu menimbulkan juga bencana-bencana alam gitu. Nah, yang kemudian Indonesia juga

6:27 memiliki topografi yang ee beragam dari mulai bentuk ee permukaan dataran tinggi, dataran rendah, ada lembah gitu ya. Ini juga sangat berisiko menimbulkan bencana seperti longsor gitu, banjir dan sebagainya. Nah, selain itu Indonesia juga memiliki iklim yang >> tropis. Nah, iklim ini menyebabkan curah hujan atau intensitas hujan itu ee tinggi ya. Makanya seringkiali kita dengar berita banjir tuh di mana-mana. Hujannya baru sebentar, banjirnya udah banyak gitu ya. Terutama di Jakarta nih langganan banjir misalnya. >> Nah, itu kenapa? Karena curah hujan yang terlalu tinggi itu di Indonesia. Bahkan banjir ini menjadi penyebab pertama gitu

7:16 ee atau ee rating pertama bencana di Indonesia. >> Oh, berarti lumayan tinggi ya, Bu? Kita berisikonya nomor dua di dunia. >> Betul. Sangat benar. >> Rumah Bu Limbong banjir enggak? >> Ee kadang-kadang, Bu. >> Kadang-kadang ya. >> Baik, Ibu. Menurut Ibu mengapa edukasi mitigasi bencana ini dirasa penting, Bu, untuk kita laksanakan? >> Ya, jadi edukasi mitigasi rencana. Jadi, e bencana sori ya. Kalau kita bicara bencana, maka kita harus memiliki upaya-upaya untuk meminimalkan dampak yang bisa timbul akibat bencana. Itu kita sebut dengan mitigasi risiko. >> Ya, itu upaya-upaya yang bisa kita lakukan gitu ya. Nah, kenapa kita penting melakukan edukasi, mitigasi bencana? Karena yang paling penting

8:02 adalah timbul kesadaran dan pengetahuan dalam diri kita, dalam masyarakat luas gitu ya. Nah, bagaimana kita bisa sadar, bagaimana kita bisa tahu, kita bisa paham ancaman-ancaman bencana itu salah satunya dari mitigasi itu >> kita harus adakan penyuluhan, kita adakan pelatihan gitu ya. Nah, sehingga kesadaran terhadap ee bahaya dari bencana bisa tumbuh dan meningkatkan kesiapsiagaan kita. Nah, selain itu juga kita harus membentuk budaya tanggap bencana sejak dini ya >> gitu. Jadi kita harus aware lah gitu. Sadar diri di mana kita berada. Sadar diri. Baik. Dalam melaksanakan mitigasi bencana ini siapa yang bertanggung

8:47 jawab, Bu? >> Nah, kalau dibilang yang paling bertanggung jawab gitu ya, maka ee banyak peran gitu. ada pemerintah di sini, kemudian ada LSM, ada dunia usaha, dan ada masyarakat sendiri sebagai yang paling banyak menjadi korban gitu ya dari bencana. Kalau ditanya siapa yang paling penting atau siapa yang paling bertanggung jawab, maka seluruh elemen tersebut mempunyai peranan yang sama besar pentingnya yang merupakan tanggung jawab bersama. karena upaya ee penanggulangan bencana itu merupakan bentuk kolaboratif >> dari sekian sektor itu, gitu ya. Nah, jadi ee di antara yang tadi saya sebutkan juga ternyata ada suami-suami

9:33 kita mungkin yang ikut di situ sebagai anggota TNI ya itu mempunyai peran juga dalam upaya penanggulangan bencana yang tidak kalah pentingnya ya, Ibu-ibu ya. Benar tuh, Sahabat Persid ya. Nah, Bu menurut Ibu nih selain banjir apa saja jenis bencana umum yang terjadi di sekitar kita, Bu? >> I jadi kalau merujuk pada Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana ya, jadi ee berdasarkan jenis penyebabnya bencana itu dibagi menjadi tiga, yaitu yang pertama ada bencana alam, kemudian ada bencana non alam, dan juga ada bencana sosial. Nah, kalau bencana alam rasanya sudah jelas ya, disebabkan oleh faktor alam yang tidak bisa kita kendalikan

10:20 lah. >> Contohnya puting beliung, >> kemudian ada gempa bumi gitu ya. Nah, ee kebakaran, longsor, seperti itu. Nah, kalau bencana non alam ini biasanya banyak juga disebabkan oleh kegagalan teknologi maupun industri dan juga em ulah manusia gitu ya atau ee kelalaian manusia. Contohnya apa? misalnya di situ ada em beberapa sektor industri yang limbahnya ke mana-mana gitu ya dan menyebabkan bencana baru. Kemudian juga ada bencana kesehatan seperti wabah epidemi >> seperti corona >> yang kemarin ya yang terjadi di

11:06 sepanjang tahun ya 2019 sampai mungkin berefek sampai 2023-2024 jangka panjang dan merusak segala sektor ya. >> Iya Bu benar Bu. Baik. Nah, >> untuk mengidentifikasi resiko bencana sendiri itu bagaimana ya, Bu? Ya. >> Ya, jadi untuk mengidentifikasi risiko bencana yang pertama tadi saya bilang ya, sangat penting untuk kita sadar diri bahwa kita ini berada di mana gitu ya. Contoh kita ada di ee suatu tempat. Nah, kita harus mencari tahu nih mengidentifikasi apa saja risiko-risiko bencana yang ada di sini. Heeh. >> Saat ini banyak sekaliah sumber informasi yang bisa kita gali gitu ya, di mana. Nah, ee kemudian kita mengidentifikasi lagi kerentan kita yang

11:53 ada di sini nih. Bagaimana saya dengan masyarakat di sekitar kita tuh bagaimana, kelemahan kita, kekurangan kita tuh apa untuk menghadapi bencana juga kita mengidentifikasi kapasitas kita tuh apa ya, kemampuan kita itu sampai di mana gitu. Jika ada bencana, saya harus ngapain ya? kita sudah tahu enggak sih kita harus ngapain gitu? Itu peningkatan kapasitasnya. Jadi kita identifikasilah itu semua supaya siap siap siaga pada saat bencana terjadi. >> Jadi bencana. Oke. Baik, Ibu. Misalnya nih, Bu kan sahabat Persid nih, Bu. Misal lagi masak gitu, Bu, tiba-tiba ee langsung mom anak, Bu. Terus lupa nih lagi masak tadi, Bu. Nah, terjadi kebakaran. Nah, kira-kira gimana itu, Bu ee penanggulangannya, Bu? e mitigasi ben

12:39 >> namanya bencana ya atau dibilang apes memang tidak ada di kalender gitu ya. Kadang kita ada faktor itu tadi kelalaian manusia kita lupa gitu ya sebagai ibu-ibu lagi masak kemudian buru-buru harus ngantar anak sekolah atau apa gitu ya. Jadi kita lupa tadi itu sudah matiin atau belum. Ternyata ada laporan nih misalnya ada telepon, ada asep di rumah ibu. Nah, apa yang harus kita lakukan pada saat kalau terjadi bencana seperti itu? Kunci utamanya yang pertama adalah tetap tenang, jangan panik. >> Tenang di sini bukan berarti tidak bertindak secara cepat ya, tapi kita tetap tenang mengkondisikan situasi gitu karena situasi yang panik itu bisa memperburuk keadaan. Nah, kemudian kita ketahui jenis bahayanya dan sumber

13:25 bahayanya. Kalau jelas oh dari kompor kompor yang menyala segera padamkan apinya, segera matikan apinya gitu ya. bisa dengan kalau kita punya apar di rumah yang paling mudah bisa dengan air atau kain basah gitu. >> Nah, kemudian kita jaga lingkungannya. Kalau banyak asap maka kita evakuasi orang-orang di sekitar supaya tidak mendekat di arah bencananya itu, gitu. Dan kemudian kita melakukan tindakan ee pertolongan pertolongan pertama jika ada yang terluka akibat dari kelalaian tadi gitu ya, bisa medis. atau juga bisa dengan pertolongan dasar. >> Baik. Baik. Jadi untuk meminimalisi resiko kalau kita buru-buru sebaiknya

14:10 kita matikan dulu Bu kompornya ya Bu ya. >> Betul. Diingat-ingat lagi. Diingat-ingat lagi ya, Bu. >> Baik. Kalau untuk edukasi ke anak-anak sekolah nih, penting enggak sih, Bu, mitigasi bencana ini? >> Iya, saya bisa bilang edukasi ke anak-anak sekolah itu merupakan investasi ya, investasi sosial jangka panjang. Karena apa? Edukasi bencana ini harusnya memang dilakukan sedini mungkin. >> He. >> Sedini mungkin dimulai dari anak-anak kita gitu. >> Nah, kenapa penting? Karena mereka nih yang akan melanjutkan kehidupan ke depannya dan mereka harusnya bisa mempunyai bekal yang lebih daripada kita >> gitu ya. Ke depan mungkin ancaman bencana itu makin >> makin luas gitu, makin lebar. Nah, ee sangat penting menanamkan

14:56 edukasi mitigasi bencana kepada anak-anak yang saat ini juga sudah mulai dijalankan oleh pemerintah ya. Dari sekolah siaga bencana juga ada itu anak siswa-siswa di sekolah sudah diberikan >> sudah diberikan >> pengetahuan, pemahaman atau edukasi terkait dengan bencana, mitigasi apa yang sudah bisa dilakukan dan juga ee terkait dengan upaya evakuasinya. Setelah itu ee mereka diajarkan untuk melakukan simulasi supaya mereka terlatih. Jadi apalah arti ilmu gitu ya, apalah arti pengetahuan tanpa ee praktik gitu ya. Mereka diajarkan simulasi pada saat terjadi bencana mereka harus ngapain gitu.

15:42 >> Baik. Nah, sahabat Persid di rumah saat terjadi bencana kita tidak perlu panik dan ee harus tetap siaga. Betul. >> Nah, kemudian Bu ini kan kita ada daerah yang rawan bencana dan daerah yang kurang rawan bencana, Bu. Nah, kira-kira apa perbedaannya, Bu menurut Ibu? >> I jadi betul ada daerah yang sangat rawan gitu ya. Ada daerah yang kurang rawan di Indonesia karena ya itu tadi selokasi secara geografis kita sangat beragam di Indonesia itu ya. Pendekatan yang digunakan dalam edukasi mitigasi risiko tentunya berbeda nih di antara kedua daerah itu. >> Daerah yang rawan bencana berarti bencananya kemungkinannya lebih sering terjadi.

16:27 >> Sering terus >> maka tingkat kesiapsiagaannya harus lebih ditingkatkan >> gitu ya. Jadi tidak hanya sekedar memberikan materi atau informasi edukatif tapi mereka juga harus dilatih >> sesiapsiaga mungkin pada saat terjadi kondisi darurat. mereka bisa dengan cepat tahu apa yang harus dilakukan. >> Nah, kemudian intensitas pelatihannya juga bisa dibuat lebih sering dari daerah yang kurang rawan gitu karena untuk meningkatkan kesiapsiagaan dia. Nah, di daerah yang rawan bencana bukannya tidak penting untuk melakukan pelatihan gitu ya, tapi fokusnya dibedakan. fokusnya ee biasanya pada pengenalan bencana-bencana dasar dan juga apa yang harus mereka lakukan gitu

17:15 ya. Dengan simulasi tentunya lebih baik gitu. Tapi ee jika tidak juga kita bisa gantikan dengan media-media visual gitu supaya mereka juga terlatih intensitasnya mungkin tidak sesering di daerah yang rawan bencana. >> Sesering bencana. >> Baik. Kalau tidak salah BNPB sendiri punya yang namanya Destana ya, Bu ya? >> Destana Desa Tanggul Bencana >> itu mereka mengedukasi di desa-desa. >> Betul. Jadi itu adalah program pemerintah ya set saya. Jadi tidak hanya mengedukasi mereka mempersiapkan masyarakat di desa-desa itu untuk menjadi masyarakat yang siap dan tangguh >> jika terjadi bencana. Ini biasanya diprioritaskan untuk daerah-daerah yang rawan >> bencana bencana seperti di pesisir ya

18:01 Bu. Betul. Di pesisir pantai atau di daerah dengan ee gunung berapi gitu ya yang masih aktif dan mereka juga mengedukasi ee anak-anak juga ya Bu ya kalau tidak salah. >> Iya. Iya. Ee harusnya sih segala lini ya, semua lini gitu ya. Dari mulai anak-anak sampai dengan >> ee yang yang sudah berumur. Karena kalau bencana itu enggak enggak lihat umur nanti ya gitu. >> Buat semua. >> Iya. Nah, untuk barang-barang sendiri nih apa yang perlu disiapkan Bu? Apa saja? >> Baik. Jadi kalau kita bisa bicara tentang bencana, kita harus ada persiapan ya. Ibu-ibu juga sebagai ibu-ibu persid di rumah nih bisa mempersiapkan ee upaya mitigasi risiko itu dimulai dari keluarga kita. Jadi selain barang

18:46 kita tingkatkan dulu pengetahuan dan kesadaran kita. >> Itu juga bisa dimulai dari rumah tangga ya, Bu ya. >> Misalnya kita kumpulkan nih, kita ngobrol sama anggota keluarga, ada ayah, ibu, ada anak gitu ya. kita ngobrol aja kita kasih tahu bahwa berdasarkan data, oh kita ini berada di daerah rawan bencana gitu ya. Bu >> nah iya kita harus lebih waspada loh kalau tiba-tiba suatu saat terjadi longsor misalnya gitu. Nah sekarang kita bagi tugas yuk >> ayah kalau misalnya terjadi bencana apa yang akan ayah lakukan? bertanggung jawab nanti untuk membawa gobek dan mengamankan seluruh anggota keluarga nih menghitung ayo keluar gitu ya. Nah, Ibu punya tugas yang lain juga,

19:32 anak-anak juga punya tugas yang lain. Kita bagi tugas di situ. Nah, kemudian ada kalau bicara tentang perlengkapan itu ada yang namanya goback. Tadi saya bilang ya, Gobek itu adalah tas darurat yang ee sewaktu-waktu siap untuk dibawa go gitu ya. dibawa pergi. Isinya apa aja sih? >> Isinya adalah barang atau perlengkapan yang bisa membantu kita untuk selamat menyelamatkan hidup kita at least dalam beberapa hari ee setelah terjadi bencana lah ya gitu >> untuk survivalnya >> untuk survive gitu. Dan tidak hanya barang, di situ juga mungkin ada barang-barang penting gitu ya. contoh e seperti dokumen-dokumen penting, ijazah, akte KK itu ibu-ibu

20:21 bisa masukkan ke dalam plastik supaya aman gitu ya, tahan terhadap air. Kalau bisa pilih ranselnya juga yang besar, yang ringan, yang nyaman. Betul. Yang nyaman dipakai juga bisa muat banyak. Masukkan barang-barang yang tadi ada dokumen, kemudian ada makanan, bahan makanan yang awet ya. yang tahan lama. >> Yang tahan lama >> seperti rantum. >> Benar dan juga minuman bisa jadi ransum juga ya. >> Iya. Ee makanan, minuman, obat-obatan khusus. Kalau kita punya penyakit misalnya seperti asma gitu ya, obat-obatan khususnya apa kita siapkan, obat-obatan umumnya juga kita siapkan. Kemudian perlengkapan pribadi ini yang penting juga nih ya pakaian dalam.

21:07 >> Pakaian dalam >> karena pada saat bencana itu biasanya memang bantuan banyak ya. Nanti ada bantuan baju datang gitu ya, baik bekas maupun baru. Tapi pakaian dalam itu bisa agak sulit tuh. >> Sangat sulit >> gitu ya. Karena orang iya kalau kita disuruh mengumpulkan bantuan hanya terpikir ya baju-baju sehari-hari aja gitu ya tanpa e memikirkan iya pakaian dalamnya itu penting juga alat komunikasi. Nah, seperti peluit. Peluit itu penting kita masukin itu barang kecil yang sangat berharga. Contoh pada saat terjadi gempa di mana ada reruntuhan gitu ya, kemudian yang lain sudah mengevakuasi berlari dan kita terjebak misalnya kita ketimpa atau apa

21:53 >> ee pada saat pencarian itu kita kalau ingat gobek kita nih yang ada di ransel kita nih di punggung kita itu ada peluitnya kita bisa panggil pakai itu peluit gitu kan supaya menarik perhatian >> tim survivor untuk datang menyelamatkan kita >> menyelamatkan kita >> biar kalau misalnya ee udah ngebleng ini kan Bu enggak tahu mau ngapain kan tinggal ditiup aja ya Bu >> iya mintalah bantuan gitu kadang kan kita teriak beda-beda ya orang ya ada yang teriaknya kencang ada yang teriaknya lemah gitu ya apalagi dalam kondisi udah kesakitan atau apa gitu nah peluit itu kan cenderung punya intonasi suara yang lebih ini ya >> Nah yang penting juga bahwa tas ini ibu-ibu tempatkan di tempat yang

22:39 strategis, >> yang terlihat, >> yang mudah dijangkau pada saat terjadi bencana. Jangan ibu-ibu letakkan di gudang misalnya di lantai dua atau di mana gitu ya. Sehingga ketika terjadi bencana harus ngambil-ngambil dulu gitu >> terus lupa >> jadi yang terlihat dan gampang terlihat terlihat mudah diambil begitu terjadi keadaan darurat kita ambil dan kita bisa pergi menyelamatkan gitu. Baik. Berarti mulai sekarang ya, Bu, kita harus mempersiapkan Gobek itu. Betul. Nah, itu rasanya juga mungkin bapak-bapaknya juga pasti sering >> selalu menyiapkan ya. Dan kita juga harus memantau secara berkala tasiaga bencana itu ya, Bu. Isinya itu kita harus pantau berkala minimal 3 sampai 6

23:24 bulan untuk memastikan nih >> ya. Jangan sampai yang kita bawa nanti makanan yang expired, minuman yang sudah tidak layak minum gitu. >> Baik, Bu. Baik, Bu. kan kita sebagai Ibu Persid nih, Bu. Mungkin sahabat Persid ee juga pengin tahu nih, Bu, kalau kira-kira ada enggak, Bu, pelatihan khususnya untuk Ibu Persid Bu, untuk edukasi mitigasi bencana ini? >> I jadi kalau bilang pelatihan saat ini terkait dengan kebencanaan itu banyak sekali. untuk Ibu Persit ada banget gitu, untuk masyarakat luas ada banget karena kebencanaan merupakan isu nasional gitu yang harus dipersiapkan oleh bersama-sama ya. Banyak sekali baik program dari pemerintah maupun dari LSM,

24:10 dari organisasi sosial lainnya yang saat ini sudah mengeluarkan pelatihan-pelatihan baik pelatihan dasar maupun advance gitu ya sampai ke TOT-nya, >> training of trainer-nya itu juga ada. Nah, kita nih Bu sebagai Ibu Persid gimana ya Bu cara kita mengikuti pelatihan tersebut? >> Ya, jadi ee itu penting ya. Yang pertama kalau Ibu sudah bertanya gimana ya cara kita mengikuti pelatihan tersebut gitu ya, poin yang penting di situ adalah kesadaran. Oh iya, Ibu sudah sadar nih bahwa saya harus ikut pelatihan itu. Itu yang paling penting. Kita harus membangun kesadaran bahwa kita butuh pelatihan itu, ya. Nah, kemudian dengan adanya kesadaran itu kan kita jadi mencari tahu, ya. Nah, informasi terkait

24:57 dengan pelatihan-pelatihan itu sekarang banyak sekali didukung dengan teknologi-teknologi yang ada dengan penyebaran melalui berbagai media gitu ya. Ibu bisa cari dari web, dari internet, dari sosial media, bahkan ee ada juga yang diblas melalui WA-Wa ya, WA grup maupun nanti bisa diapri juga di situ biasanya nanti ada contact person, betul, ada syarat dan ketentuannya kita bisa pelajari di situ. >> Jadi ee intinya dari kesadaran diri pengin mengikuti baik. Nah, Sahabat Persid di rumah kalau mau ikut pelatihan tuh kita tinggal mencari ee mungkin sosial media atau website yang berhubungan dengan mitigasi bencana. Di

25:43 sana kita nanti bisa ikut pelatihan-pelatihan tersebut. Nah, selanjutnya Bu menurut Ibu apa peran pemerintah Bu dalam mempersiapkan masyarakat menghadapi bencana ini, Bu? >> Baik. Jadi kalau bicara pemerintah tentunya ee pemerintah memiliki kewenangan dan tanggung jawab ya dalam ee pelaksanaan program penanggulangan bencana. Nah, salah satu ee peran dari pemerintah adalah pembuat regulasi regulasi >> ee dan kebijakan terkait dengan penanggulangan bencana. Kemudian pemerintah juga bisa membentuk atau menggerakkan suatu organisasi khusus gitu ya untuk menangani bencana >> seperti BNPB, BPBD, Dinas Sosial gitu ya. Kemudian juga ee pemerintah

26:28 melakukan upaya penyuluhan edukasi kepada masyarakat agar tingkat pengetahuan dan pemahamannya dan yang terpenting adalah keterampilannya itu bisa terasah. Demikian. >> Baik. Ini kan kita bencana kan macam-macam ya Bu ya, ada banjir, tanah longsor, erupsi, gempa bumi. Itu bagaimana ya, Bu ee yang harus kita lakukan saat bencana itu terjadi? >> Iya. Jadi pada keadaan darurat atau saat terjadi bencana, kunci utamanya adalah tetap tenang, jangan panik. Apapun bencananya, tetap tenang dan jangan panik, tapi ingat, kita harus bertindak dengan cepat. Nah, itu yang mungkin agak susah ya. Kita harus cepat-cepat tapi jangan panik

27:15 gitu kan. Nah, itu bisa dilatih. >> Dilatih melalui upaya-upaya edukasi mitigasi rencana e mitigasi ee bencana tersebut. >> Nah, kita bertindak dengan cepat. Kalau misalnya kita tadi bencananya banjir gitu ya, >> kita harus bisa mengukur diri nih. Oh, air sudah masuk. >> Kita lihat perkembangannya dalam beberapa menit. Masuknya berapa? Berapa nih? nambahnya ketinggiannya berapa. Nah, kita sudah bisa mikir tuh upaya apa yang harus kita lakukan. Kalau masih lambat, kita bisa selamatkan dulu barang-barang berharga kita, dokumen berharga kita apa bisa dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi termasuk manusianya yang ada di dalam rumah tersebut, gitu ya. Nah, kemudian kita jangan lupa, jangan tinggalkan

28:00 informasi. informasi dari lingkungan sekitar tuh biasanya kalau sekarang ada WA grup RT gitu ya, RW ya yang menginformasikan bahwa ketinggian air masih aman misalnya. >> Ee aman itu artinya walaupun ada genangan air tapi tidak mengancam gitu ya. Jadi kita masih bisa di rumah kita tidak perlu evakuasi kita pindah saja ke daerah yang lebih tinggi. Bisa naik ke lantai du atau ke atas genteng bisa juga. Nah, tapi dengan informasi itu kita pantau jika di situ sudah ada himbauan untuk segera evakuasi itu jangan dilawan ya, Ibu-ibu. Kita ikutin, >> ikutin, >> ikutin. Karena ee itu adalah sistem yang terbentuk secara sosial untuk sebenarnya memberikan manfaat kepada kita.

28:46 Informasi diberikan bahwa air sudah naik, sudah tidak mungkin gitu ya. Jadi evakuasi sekarang kita segera evakuasi. minta bantuan bisa dilakukan melalui telepon gitu ya. Nah, kemudian kalau di dalam >> gempa bumi >> e gempa bumi. Gempa bumi juga sama ya. Kita tenang, jangan panik, tapi kita bertindak dengan cepat. >> Yang paling mendasar kita harus tahu teknik menyelamatkan diri itu kita mencari tempat yang aman untuk berlindung. He. >> Karena gempa bumi itu kan getaran ya >> yang semakin lama bisa menimbulkan reruntuhan >> gitu dan dan bisa memakan korban gitu. Kita cari tempat yang paling aman itu seperti meja meja yang kokoh gitu ya.

29:32 >> Nah, kita pertama dari posisi berdiri itu kita harus jongkok dulu. Jok >> ee fungsinya apa jongkok? Supaya kita tidak jatuh. Karena kalau kita berdiri dengan kondisi yang goyang-goyang, kita bisa jatuh. I kita jongkok dulu kita pegang ke bawah gitu ya. Kemudian kalau ada meja kita berlindung di kolong meja gitu sampai ee kita rasakan gempa bumi itu berhenti. >> He >> gitu. Nanti kalau sudah berhenti kita segera evakuasi. Evakuasi cari ke tempat luar yang jauh. Kalau ada lapangan terbuka yang luas gitu ya. Jauh dari gedung-gedung bangunan. Jangan juga dekati jendela-jendela. gitu. Ee ee kemudian kita absen nih anggota keluarga kita,

30:18 >> adik ada apa enggak, kakak ada apa enggak. Pastikan jangan sampai ada yang tertinggal di dalam rumah. >> Nah, dari situ kita tinggal menunggu informasi apakah sudah aman untuk kembali ke rumah atau kita bisa lanjut evakuasi di tempat pengungsian atau yang lainnya. >> Baik. Nah, bicara soal gempa tadi ya, Bu. Ee biasanya kan di daerah pesisir tuh ada potensi lain, Bu, yaitu tsunami, Bu. >> Nah, bagaimana mitigasinya, Bu? >> Ya, kalau di daerah pesisir dengan resiko ancaman tsunami, karena Indonesia sendiri sudah pernah mengalami tsunami ya dengan korban jiwa yang lumayan banyak gitu ya. Ee saat ini ee sudah dibangun sistem peringatan dini atau early warning

31:05 system di pesisir-pesisir pantai. >> Jadi yang perlu dilakukan oleh pemerintah setempat dan masyarakat di situ adalah meningkatkan pemahaman ee dan keterampilannya bahwa sudah disediakan alat EWS tadi peringatan sistem peringatan dini ketika bunyi kita harus ngapain nih? Oh iya, ada sirine itu. Kita harus familiar dengan sirine itu. Jangan sampai begitu bunyi, itu apaan sih? Itu tetangga bunyiin apa sih kita acuh gitu ya. Kita harus nah itu bisa semuanya dibentuk dengan >> edukasi, mitigasi bencana. Mereka harus diedukasi. Ini adalah sirine atau alarm peringatan dini. >> Tanda bahwa potensi tsunami akan mendekat misalnya. Nah, dalam jangka

31:52 waktu tertentu kita harus segera naik ke daerah yang lebih tinggi. Nah, tadi fungsinya gobek. Kalau kita sudah mempersiapkan goback tadi gitu ya, langsung aja kita bawa gitu. Karena kita enggak tahu kita akan mengungsi ke mana di tempat itu ada makanan atau enggak gitu. >> Dan jangan lupa jangan ketinggalan anggota keluarga kita kita perhatikan gitu ya. Jangan sampai ada yang ketinggalan ya Bu. >> Betul. >> Baik. Selanjutnya, Bu ee saat sudah terjadi ini Bu bencananya, Bu. Kira-kira menurut Ibu pertolongan pertama apa nih yang bisa kita lakukan khususnya untuk sahabat Persid di rumah ya, Bu? Misalnya ditinggal tugas sama Bapak, >> cuman Ibu sendiri nih di rumah >> sebagai yang tertua. Nah, gimana Bu

32:39 untuk memberikan pertolongan pertama Bu? Jadi pertolongan pertama ini dalam keadaan darurat ya biasanya itu lebih bersifat medis medis gitu ya. Jadi kita harus perhatikan dulu ee di situ ada yang luka atau tidak kondisi korbannya bagaimana. Korbannya nanti mungkin anak-anak kita juga bisa gitu ya kita samperin. >> Yang pertama kita harus lihat lingkungannya dulu ya Bu ya. >> Kita jangan juga menolong kalau itu membahayakan kita. Heeh. >> Maka kita harus pastikan lingkungannya itu aman sehingga kita bisa bertindak dengan tenang gitu. Kemudian kita lihat korbannya dulu. Ee saat ini sih di rumah sakit maupun di instansi lain mungkin juga di Persit bisa ya menjadi salah

33:25 satu materi pelatihan atau edukasi terkait dengan BHD atau bantuan hidup dasar. Nah, di BHD ini akan diajarkan bagaimana teknik menolong ee pada saat ada korban yang membutuhkan pertolongan medis gitu ya. Jadi kalau ada korban misalnya kita di rumah kita yang tertua gitu ya, >> kita anak kita menjadi korban nih, ada luka gitu. Yang pertama kita pastikan dia sadar dulu apa enggak. Kita bangunkan. >> Dek, Dek, halo. Bisa dengar mama enggak gitu kan. >> Kalau misalnya dia merespon, kita tanyakan apa yang sakit. apa yang kamu ber mau minum, mau apa? Kita tanyakan sambil kita perhatikan kondisi fisiknya, badannya. Apakah ada yang luka dan yang

34:10 terpenting apakah ada yang patah? >> Hati-hati ya, penanganan patah itu tidak bisa sembarangan gitu. Jadi tidak boleh memindahkan >> ee dengan kalau perlu begitu ya begitu aja dulu sampai nanti penanganan medisnya datang gitu. Nah, kalau dia tidak merespon nanti di pelatihan BHD itu ibu-ibu bisa diajarkan >> bagaimana cara mengecek orang yang tidak ada respon. Kalau dia dipukul gitu ya, >> Pak, Pak, Pak, Dik, Dek. Enggak sadar gitu ya, enggak ada jawaban. Kita cek >> jalan nafasnya. >> Jalan nafasnya >> apakah masih ada nafas? Yang paling simpel bisa dari hidung gitu ya. Kemudian kita juga bisa cek dari nadi, denyut nadinya yang ada di lehernya yang paling gampang ya. >> Kalau misalnya tidak ada teknik namanya

34:59 ee CPR di situ ya, resusitasi jantung paru. Nah, itu nanti tekniknya bisa diajarkan >> di pelatihan-pelatihan itu ya, Bu. >> Betul. Di dalam pelatihan itu termasuk e durasinya dan intensitasnya berapa kali, kedalaman tekanannya itu sampai berapa itu bisa diajarkan. gitu. Nah, itu sih pentingnya ya. Setelah itu kalau misalnya sudah upaya-upaya dilakukan semua, kita sudah tinggal meminta bantuan medis datang. Menunggu sampai bantuan medis kita serahkan kepada ahlinya. >> Tapi memang pertolongan >> P3K dasar gitu ya. Dan BHD ini harusnya sih >> bisa kita kuasain gitu ya. >> Baik. Baik. Nah, untuk langkah-langkah dalam tanggap darurat sendiri tuh

35:45 bagaimana ya, Bu? Iya. Dalam tanggap darurat ya. Jadi tanggap darurat itu pada saat bencana terjadi >> yang pertama tadi dong kita harus segera fokus kita pada menyelamatkan diri kita. Selamatkan diri kita yang pertama lingkungan kita. Kita lihat kalaupun mau evakuasi kita lihat ee apa di lingkungan situ tuh bagaimana situasinya gitu ya. Nah, kemudian kita ingatkan kita ingat ilmu yang telah kita pelajari atau simulasi-simulasi yang sudah diberikan sebelumnya. Ibu-ibu biasanya kalau kita emm >> diajarkan simulasi ya itu kita diajarkan cara mendengarkan tanda-tanda atau alarm peringatan bencana atau darurat. Kemudian kita diajarkan bagaimana cara

36:33 evakuasi. Misalnya kalau kita berada di gedung dengan ketinggian tertentu gitu ya, kita harus menggunakan tangga, tidak boleh pakai lif gitu ya, jalan berjongkok. Nah, kemudian kita tahu arahnya, >> arah evakuasi kita mau ke mana. Jangan sampai kita menyelamatkan diri, kita jalan tapi ke daerah yang lebih >> lebih parah >> ee lebih parah atau bahkan kita tersesat nanti jalannya buntuuk, kita malah >> enggak bisa menyelamatkan diri di situ. Jadi, kita harus tahu titik kumpulnya kalau ada bencana itu di mana >> gitu. Jadi, kesiapsiagaannya harus ditingkatkan. >> Baik. Jadi kalau misalnya kita mau ke mall ke mana, kita harus tahu ya Bu titik kumpulnya itu gimana jalur evakuasinya. Nah, sekarang juga kalau kita ke area publik ya seperti mall gitu

37:20 itu sudah ada ya penanda-penanda jalur evakuasi panahnya ke sini gitu ya. Nah, itu kita harus peka tuh kalau datang ke satu bangunan baru kita perhatikan sain-sain atau tanda-tanda yang ada di gedung ini tuh apa aja. Baik. >> Baik. Baik Bu. Eh, kita kan sebagai persid nih, Bu. Ee bagaimana cara kita untuk meningkatkan kesadaran masyarakat ee tentang mitigasi bencana ini, Bu? Kadang kan kita kan misal kalau di ee asrama gitu, Bu, >> dengar yang namanya alarm stelling gitu, Bu. Kalau bapak-bapaknya ya, Bu langsung keluar gitu. Nah, kalau untuk kita Ibu-ibu persid nih, gimana Bu biar kita meningkatkan kesadaran bencana ini, Bu? >> Iya. Jadi tadi kesadaran itu dari dalam

38:06 dari dalam gitu ya bahwa kalau kita tahu tahu dulu deh bahwa kita berada di sini loh. Oh kita hanya berjal berjarak berapa kilometer dari gunung berapi yang masih aktif >> gitu ya. Kita sadar bahwa kita nih hidup kita penuh dengan ancaman nih. >> Sewaktu-waktu bisa meletus gitu ya. Nah, itu harus mulai dari kesadaran kita sendiri bahwa kita enggak mau dong kena ancaman bencana itu, >> gitu. Nah, Bapak-bapak punya alarm. Alarm itu juga berfungsi untuk kita. >> Untuk kita juga >> untuk kita juga. Kita harus tahu juga tuh lingkungan di tempat kita tinggal ya. Kalau kita tinggal di asrama, di situ ada alarm yang bunyi seperti ini tandanya apa, ada bunyi seperti ini

38:52 tandanya apa? Itu kita harus paham gitu ya, sehingga ee kita bisa >> tahulah apa yang harus kita lakukan pada saat terjadi bencana. >> Baik. >> Baik. Nah, ee caranya bagaimana nih, Bu, kita menginformasikan ee bencana kepada masyarakat itu? Ya, kalau bicara informasi ini bagian yang tidak terpisahkan gitu ya dari upaya penanggulangan bencana. Bahwa dengan informasi yang jelas ini ee tentunya bisa mempercepat >> he >> proses penanggulangan bencana, evakuasi, dan penyelamatan. Informasi saat ini sudah didukung dengan kecanggihan teknologi ya dan beberapa media yang bisa disampaikan. Jadi kita bisa melihat informasi-informasi bencana

39:39 itu paling gampang mungkin yang masih sering nonton TV gitu ya, yang gadget lah yang setiap hari kita pegang gitu ya, itu bisa kalau kita mau cari di web-nya atau saat ini tuh udah banyak WA-wa grup ya. >> Itu kayaknya informasi apapun >> mau bencana besar maupun bencana kecil kehilangan jemuran aja ya itu bisa masuk di WA grup gitu ya >> gitu. Nah, ada juga beberapa aplikasi dari pemerintah seperti Inaris misalnya itu ee bisa menampilkan atau memberikan informasi kepada kita. Bahkan sekarang juga kita sering mungkin menerima SMS ya kalau misalnya ada bencana ya >> ee telah terjadi gempa bumi misalnya di wilayah ini dengan kedalaman segini

40:26 >> ee kekuatan berapa skala rature gitu ya. Nah, itu sebenarnya sistem peringatan dini semua untuk kita gitu. Nah, media-media informasi ini ee tentunya sangat penting. Jadi, jangan juga kita gaptek atau kita tidak mau tahu gitu ya atau kita tidak mau bergaul okelah ee membatasi diri gitu. Enggak mau terlalu banyak ngumpul atau ngobrol di luar. Kita jangan ketinggalan informasi itu. >> Tetap harus kita sadar ya, Bu, bahwa kita tetap harus waspada. >> Betul. Betul. >> Baik, Bu. Biasanya kan saat terjadi bencana itu garda terdepan ini biasanya kan bapak-bapaknya nih Bu, Bapak-bapak TNI untuk ee tanggap darurat. >> Nah, selain Bapak TNI biasanya juga saat terjadi bencana itu ada juga relawan nih Bu. Nah, apa Bu peran relawan itu

41:13 menurut Ibu? Ya, jadi pada saat tanggap darurat, bencana terjadi itu banyak sekali ee peran-peran penting yang bisa dilakukan oleh sekelompok orang termasuk suami-suami kita ya sebagai prajurit TNI gitu ya. Itu perannya sangat krusial dan bahkan ee >> mungkin bisa dibilang hampir tanpa istirahat mungkin ya. He. >> Mereka bersiapsiaga menjaga, meninggalkan kita keluarganya gitu ya untuk pergi ke daerah rawan bencana. ee untuk menyelamatkan gitu ya. >> Selain dari anggota TNI di situ juga ada relawan >> relawan >> relawan-relawan ini juga em harus kita apresiasi ya. >> Relawan ini merupakan orang yang

41:59 terpanggil hatinya, yang mempunyai keikhlasan, >> yang pada saat itu mungkin saja keluarganya juga menjadi korban gitu ya. Tapi mereka harus juga memperhatikan orang lain, memperhatikan korban-korban yang lain, gitu. >> Nah, ee mereka ini menjadi garda terdepan dalam upaya evakuasi, kemudian sampai nanti pemulihan, pemulihan yang bersifat psikological sampai ee nanti ee membangun harapan-harapan untuk bisa kembali hidup normal. >> Baik. Baik. Ee biasanya setelah terjadi bencana nih, Bu, apa yang biasanya harus kita lakukan? >> Setelah terjadi bencana? Baik, kalau kita sudah ee sudah berada di titik evakuasi atau kita merasa sudah aman nih

42:47 ada di rumah gitu ya, tapi bencananya sudah berhenti, misalnya gempanya sudah berhenti atau banjirnya sudah surut, >> nah kita fokuslah pada upaya untuk pemulihan gitu ya, bahwa kita harus sadar, kita harus bisa mengasses gitu ya. pasca terjadi bencana ini, apa kerugian yang saya alami misalnya, wah tangan saya patah. >> Tentunya itu yang menjadi fokus kita untuk dibenerin. Kita datang ke bantuan medis untuk dilakukan penanganan. >> Kemudian, oh ternyata setelah saya asses adalah setelah banjir, rumah saya penuh dengan lumpur gitu ya. Maka kita melakukan upaya-upaya pemulihan, pembersihan gitu. Nah, nanti juga mungkin ada yang berdampak nih kalau

43:32 gempanya gede, kemudian ada beberapa sarana umum atau fasus umum yang rusak. Nah, itu bisa dilakukan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, lembaga-lembaga organisasi sosial ini untuk melakukan upaya rehabilitasi infrastruktur gitu ya. bisa dengan mulai menentukan atau menentukan prioritas mana dulu yang mau kita kerjakan, apakah akses jalannya, apakah ee fasilitas seperti bangunan sekolahnya gitu ya. Yang paling penting dulu dikerjakan secara bersama-sama. >> Baik. Jadi untuk ee memulihkan infrastruktur itu seperti jalan yang putus ya, Bu. Diperbaiki dulu untuk

44:17 akses ee evakuasi dan pemulihan ya, Bu. Baik. Betul. >> Sudah. >> Kalau dari segi ekonomi nih, Bu. >> Iya. >> Ee langkah yang perlu diambil dalam pemulihan ekonomi itu seperti apa? >> I ekonomi juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan ya ketika terjadi bencana. Bukan hanya kita korban ee secara mental, kemudian korban secara kerusakan, tapi juga ekonomi kita tuh biasanya nanti terdampak gitu ya. masyarakat tuh tidak jarang yang mulai hidup dari nol lagi >> karena mata pencaharian mereka rusak >> gitu. Nah, di situ ada peran yang lebih dominan dari mungkin dari dunia usaha

45:04 bekerja sama juga dengan pemerintah ya untuk ee bisa memberikan bantuan-bantuan modal usaha, kemudian akses ya akses terhadap market atau pasar sehingga mereka dibeli diberi ruang misalnya untuk kalau mau jualan gitu ya UMKM UMKM gitu kita harus ee memberikan ruang supaya ekonomi mereka Iya. Betul. Bisa ya, Bu? >> Bisa muter lagi gitu ya, ekonominya bisa pulih kembali. Baik. Jadi pemerintah harus memfasilitas ya, Bu intinya ya. >> Betul. Tidak hanya pemerintah, ada dukungan juga dari dunia usaha gitu ya supaya bisa >> pemberian modal ya, Bu. >> Betul. Baik. >> Baik Bu. Ee sahabat Persid yang ada di

45:50 rumah ee biasanya kan setelah terjadi bencana nih ee orang kan mengalami yang namanya trauma Bu. ada beberapa lah yang mengalami trauma. Nah, gimana nih kalau misalnya sahabat Persid ee ada yang mengalami seperti itu, Bu, bagaimana cara memberikan dukungan psikologis, Bu, kepada korban? >> Baik, bicara tentang psikologis ini sebenarnya dasar ya. Kalau kita punya kerugian material atau kerugian fisik yang lain itu mungkin bisa dipulihkan >> seiring dengan berjalannya waktu. Tapi kalau psikologis yang hancur itu >> itu bisa ee panjang gitu ya. Nah, maka pertolongan psikologis itu juga menjadi salah satu hal yang sangat penting di

46:35 fase pemulihan setelah terjadi bencana. Ee kalau saya dulu pernah mengikuti ya mungkin nanti Ibu-ibu Persid juga bisa mengikuti namanya ada psychological first aid. Jadi pertolongan pertama >> ee secara psikologi nih kepada korban-korban >> dari bencana. >> Yang pertama tentunya ee kehadiran kita dan telinga kita >> itu menjadi poin yang sangat penting. >> Kita dengarkan keluhannya ya, Bu. >> Iya. Seringki dalam dukungan psikologis itu kita tidak usah bawa apa-apa ya Ibu-ibu ya. Enggak usah bawa uang, enggak usah bawa apa, tapi kita hadir di situ dan kita mendengarkan >> apa keluhan mereka. >> Di situ biasanya kita diajarkan gini ya, kalau di pelatihan misalnya ibu sebagai korban, saya akan pegang tangan ibu gitu

47:22 ya. Saya akan tatap mata ibu. >> Heeh. >> Saya tidak mau berbicara banyak atau bertanya banyak karena saya tahu beban ibu sudah banyak >> gitu. >> Ibu masih diam nih, kita pegang aja terus. dia tuh sedang mengumpulkan kepercayaan saya bisa cerita apa enggak gitu ya. Nanti lama-lama dia bisa cerita >> berkeluk ke saya Bu mengeluarkan >> saya hancur saya udah ini hilang semua ini. Kita dengarkan, kita elus-elus tangannya kita tatap matanya supaya mereka merasa didengar dan dihargai gitu ya. >> Nah setelah mereka puas menyampaikan semuanya kita berikan masukan, kita berikan kata-kata positif. Intinya untuk membangun harapan itu selalu ada gitu ya, Ibu. Bukan hanya

48:10 Ibu, kita semua terdampak. Kita yakin bahwa kita bisa bangkit dari ini. >> Berikan semangat. >> Betul. Nah, dan ee rehabilitasi psikologis itu tidak >> memakan waktu yang singkat ya. >> Seringki memakan waktu yang lumayan lama gitu. He. >> Jadi memang kehadiran salah satu relawan nanti di situ bisa bertugas itu mungkin dari ee TNI juga mengirimkan nanti bagian khusus psikologi gitu ya. >> Dan ada ahli-ahli psikologi yang ee >> untuk pemulihan trauma ya Bu. >> Iya. Berjuang di situ. >> Baik. Kalau saya lihat juga teman-teman saya biasanya kan ee ikut terjun juga dalam bencana tersebut terus ee bernyanyi-nyanyi bersama anak-anak. >> Iya. Betul. Betul. itu adalah salah satu

48:56 metode untuk menghibur gitu ya. Menghibur itu salah satunya untuk memperbaiki betul psikologisnya bisa dengan bernyanyi atau menonton bersama nanti bercerita bersama gitu ya. >> Baik, selanjutnya nih Bu menurut Ibu apa peran media nih Bu dalam mengedukasi mitigasi bencana nih Bu? >> Ya. Jadi kalau tadi kita sempat bicara tentang informasi ya. betapa pentingnya informasi itu dalam dalam suatu bencana. Maka ee siapa sih yang berperan dalam penyampaian informasi ini? Di situ ada peran dominan dari media. >> Media. >> Media itu punya peran yang sangat krusial dalam penyebaran informasi gitu ya. >> Nah, apa saja peran mereka? Intinya itu

49:44 mereka memberikan berita yang cepat, jelas, tepat, dan akurat. Heaks ya gitu ya. Jadi >> langsung di lokasi kejadian. >> Iya. Tolonglah pada saat kejadian bencana ini jangan kita memberikan informasi yang salah-salah gitu ya. Karena bisa menimbulkan kerusuhan baru atau masalah baru gitu ya. Mereka bertanggung jawab dalam memberikan informasi yang >> tadi jelas, cepat, tepat, akurat, dan hoaks-hoaks gitu. Jadi dalam waktu sesingkat-singkatnya dia harus memastikan bahwa informasi terdeliver nih ke semua lini, ke masyarakat. ke pemerintah, ke semua lini yang bertanggung jawab yang ikut bisa bisa berpartisipasi dalam penanggulangan bencana itu. >> Baik. Ee ada ini enggak sih, Bu, kayak

50:30 aplikasi apa, teknologi apa yang untuk dapat kita gunakan? >> Iya. Jadi kalau bicara aplikasi atau teknologi saat ini sudah banyak ya teknologi baik yang diciptakan oleh pemerintah maupun juga dari ee ee organisasi-organisasi lainnya. Contohnya seperti Inaris. Inaris itu adalah aplikasi yang dikembangkan oleh BNPB ya. >> Nah, di situ kita bisa lihat ee ancaman atau risiko bencana di suatu daerah. Nah, kemudian juga ada magma gitu. Nah, itu kadang juga kita dapat SMS-SMS masuk tuh dari ee kementerian atau dari BNPB gitu ya. itu juga termasuk e salah satu aplikasi yang mereka gunakan untuk membroadcast atau menyebarkan informasi-informasi

51:16 itu. >> Baik, kalau untuk SIG sendiri itu apa ya, Bu? >> Ya, kalau SIG sistem informasi geografi ya. sistem informasi geografi itu adalah sistem yang ee dikembangkan sejak tahun 1960-an dan mengalami perkembangan terus-terusan gitu ya dengan berkembangnya waktu dan teknologi >> saat ini. Jadi sistem ini bisa melakukan menampilkan data spasial, bisa menganalisis data, bisa memvisualisasikan data. Contoh ee kalau kita lihat satu peta, dia bisa menampilkan peta rawan bencana. Oh, di sini merah nih. Di daerah ini ternyata ada gunung berapi gitu ya. Kemudian dia bisa menampilkan data spasialnya di

52:02 situ. Data berapa jumlah penduduk atau populasinya di situ, gendernya berapa, yang berisiko tinggi berapa, kemudian titik evakuasinya dari tempat letusan itu atau gunung berapi itu berapa kilometer? itu bisa ditampilkan semua oleh SIG itu >> canggih ya canggih >> iya jadi semua itu sebenarnya untuk kesiapsiagaan kita ya >> baik nih Bu Aji udah banyak banget nih DM di Instagram Persid Pusat nih Bu dari Sahabat Persid nah sahabat Persid yang ada di rumah kita akan membacakan nih pertanyaan dari sahabat Persid yang ada di rumah >> nah untuk pertanyaan pertama saat ini daerah kami sedang dilanda musim kemarau dan di beberapa titik di

52:49 Sumatera Selatan ada kebakaran hutan. Apa yang harus diperhatikan saat terjadi selama ada bencana karhutla seperti upaya dan pengurangan dampak resikonya? >> Ya. Ee baik. Jadi dari Ibu Persid di Sumatera Selatan ya yang saat ini mungkin sedang terjadi ee >> ee bencana kebakaran ya. Jadi kita sebagai ibu persid nih, sebagai ibu rumah tangga yang ada di rumah gitu, sebagai peran kita sebagai ibu dan sebagai istri bisa melakukan ee beberapa hal yang dilakukan. Jadi yang pertama kita harus analisis situasi, assesment situasi. Apakah posisi kita sudah aman dari titik lokasi kebakaran gitu ya. Kalau tidak aman tentunya kita segera evakuasi.

53:34 >> Segera evakuasi. kita bisa memperkirakanlah perkembangan api itu akan cepat menjalar dan akan bisa membahayakan kita atau tidak gitu ya. Kalau posisi kita masih aman tapi misalnya terdampak terdampak dengan asap-asapnya aja, boleh kita masih ada di rumah tapi kita edukasi dan kita siapkan anggota keluarga kita gitu ya, suami kita, anak-anak kita untuk memakai APD, alat pelindung diri untuk menghalau asap masuk. Pastikan jendela pintunya tertutup gitu. Kemudian juga kalau misalnya enggak ada APD, enggak ada masker, mau keluar rumahnya juga susah, bisa menggunakan kain yang dibasahkan. Kain yang dibasahkan itu digunakan sebagai penutup ini ya. Dia akan >> pengganti masker ya, Bu. Biar enggak

54:21 masuk ya, Bu, ke pernapasan kita. Nah, juga kita bisa melakukan upaya preventif ya, pencegahan. ee kita jaga anak-anak kita untuk tidak mendekati nih atau tidak keluar rumah dulu deh karena asapnya terlalu tebal atau jangan kamu mendekati ini ya karena di situ ada titik kebakaran gitu. Jadi kita tahan-tahan dululah di rumah sebagai upaya preventif. >> Baik. Satu lagi nih Bu pertanyaan dari sahabat Persid. Nah, kita sebagai Ibu Persid nih Bu, apa tips Ibu untuk kita sebagai ibu persid mengedukasi anak-anak kita di rumah Bu? Ya, jadi kalau bicara edukasi di mana aja gitu ya, bisa kita mulai dari rumah tangga kita, dari anak-anak kita sedini mungkin yang tadi saya bilang mereka

55:06 adalah investasi kita gitu ya. Investasi untuk ke depannya mereka harus punya pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan lebih daripada kita. Nah, kita bisa ciptakan edukasi dengan cara-cara yang interaktif. bisa kita sambil bermain. Tentunya kita harus punya pengetahuannya dulu ya. >> Tidak berarti pengetahuan itu hanya bisa didapat dari gelar akademis atau pendidikan, tapi kita juga bisa men-searching. Hari gini gampang sekali ya. Kita buka web informasi tentang bencana, lalu kita edukasi anak-anak kita. Ayo duduk semua di sini, mama mau bercerita misalnya. Nah, ini ini ini. Kemudian setelah mereka dibekali dengan cara yang interaktif sambil bermain atau

55:53 apa, kita lakukan simulasi. >> Iya, simulasi. Kita main yuk. Nih contoh nih di dapur ada kebakaran nih. Mama lupa matiin motor gitu ya. Eh sori matiin api, matiin kompor gitu. Kemudian ada asap, ada api. Ayo apa yang harus kita lakukan? Kakak harus ngapain, adik harus ngapain. Kita buat semenarik mungkinlah supaya anak-anak itu >> kayak kita lagi main sama anak-anak biar mereka juga tertarik ya, Bu. >> Betul. Dan sangat penting sih menanamkan kesadaran dan pemahaman sejak dini. >> Baik. >> Baik. Luar biasa sekali ya, Bu jawaban dari Bu >> Ki. Baik. Ee kira-kira ada pesan enggak, Bu, untuk sahabat Persid di seluruh Nusantara ini? >> Baik. ee untuk sahabat Persid di seluruh Nusantara,

56:38 ingat kita harus sadar bahwa kita tinggal di negara yang rawan bencana. Oleh karena itu, kita harus sadar dan membekali diri kita dengan pengetahuan dan keterampilan. Tentu saja kita tidak panik. Jangan panik ketika terjadi bencana, tapi kita juga harus bertindak responsif, cepat, dan aktif gitu ya. Tahu apa yang harus kita lakukan. kita harus mempersiapkan apa yang harus kita bawa dari sekarang dipersiapkan di rumahnya masing-masing ibu-ibu untuk goeknya gitu. Dan kita juga harus membangun budaya sadar, sadar risiko, sadar ee bencana. >> Baik, terima kasih atas pesannya kepada sahabat Persid di seluruh Nusantara.

57:25 Baik, sahabat Persid, jangan lupa untuk menonton episode selanjutnya ya, karena Kartika Podcast membuka jendela dunia untuk Persit Cendikia. Salam penuh cinta. Muah. Ş

Share

Ringkasan Video YouTube