Epistemologi | Ngaji Filsafat 02 | Dr. H. Fahrudin Faiz S.Ag M.Ag

Epistemologi | Ngaji Filsafat 02 | Dr. H. Fahrudin Faiz S.Ag M.Ag

Ringkasan Singkat

Video ini adalah pengantar untuk seri ngaji filsafat, yang bertujuan untuk melatih teknik berpikir filosofis. Pembahasan mencakup epistemologi, logika, ontologi, etika, dan estetika. Penekanan diberikan pada pentingnya memiliki alat berpikir yang tepat sebelum mempelajari konsep-konsep besar filsafat, serta pentingnya kesadaran diri dan keterbukaan terhadap berbagai perspektif.

  • Epistemologi sebagai fondasi berpikir filosofis.
  • Logika dan hermeneutika sebagai alat analisis.
  • Ontologi, etika, dan estetika sebagai tahapan lanjutan.
  • Pentingnya kesadaran diri dan keterbukaan pikiran.

Pembukaan: Pengantar Ngaji Filsafat

Singaperbangsa Official memulai seri ngaji filsafat tanpa menggunakan kitab kuning secara langsung, tetapi dengan harapan menghasilkan pemahaman yang mendalam. Tujuannya adalah untuk melatih teknik berpikir filosofis, bukan sekadar menghafal sejarah filsafat. Pendekatan ini mencakup epistemologi, logika, dan isu-isu dunia yang tidak pasti, dengan target agar peserta memiliki alat untuk berfilsafat sendiri dalam waktu sekitar enam bulan.

Epistemologi: Pengantar Filsafat Pengetahuan

Bagian pertama dari ngaji ini adalah epistemologi, yang mencakup tema-tema seperti skeptisisme, relativisme, common sense, dan otoritarianisme. Epistemologi membahas pengetahuan yang tidak pasti dan bagaimana kita menentukan kebenaran. Tujuannya adalah agar peserta memahami peta pemikiran dan mampu berpikir logis.

Logika dan Hermeneutika: Latihan Berpikir

Setelah epistemologi, peserta akan berlatih logika, termasuk konsep makna, konstruksi argumen, dan kesalahan berpikir. Fase berikutnya adalah hermeneutika, yang akan memakan waktu sekitar empat bulan. Setelah itu, peserta akan masuk ke isu-isu besar filsafat seperti ontologi, etika, dan estetika.

Ontologi: Tuhan, Alam, dan Manusia

Ontologi membahas tentang Tuhan, alam semesta, dan manusia. Tujuannya adalah agar peserta tidak hanya menghafal pemikiran para filsuf, tetapi juga mampu mengkritik, mengkonsep, dan melakukan sintesis pemikiran. Bagian ini menekankan pentingnya memiliki alat berpikir yang canggih agar tidak hanya menjadi "penurut" dalam filsafat.

Etika dan Estetika: Fase Lanjutan

Setelah ontologi, peserta akan masuk ke fase etika, yang membahas nilai-nilai kebenaran rasional. Fase terakhir adalah estetika, yang lebih rumit dan berhubungan dengan ekstasi dalam dunia Sufi. Jika peserta rajin dan serius, mereka diharapkan dapat memahami alat-alat filsafat dalam waktu setengah tahun.

Gaya dan Usulan Ngaji

Singaperbangsa Official terbuka terhadap usulan gaya ngaji dan menekankan pentingnya logika dan bahasa sebagai alat berpikir. Tujuan akhirnya adalah agar peserta memiliki kesadaran diri dan mampu berfilsafat untuk diri sendiri.

Epistemologi: Definisi dan Urgensi

Epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas pengetahuan. Pengetahuan sangat penting karena semua yang kita lakukan tergantung pada pengetahuan yang kita miliki. Perbedaan antara orang pintar dan bodoh terletak pada koleksi pengetahuan di kepala mereka.

Problem Epistemologi: Hakikat dan Sifat Pengetahuan

Epistemologi mempertanyakan apakah manusia mampu mengetahui hakikat pengetahuan dan membahas sifat pengetahuan, apakah sama dengan keyakinan atau tidak. Sumber pengetahuan juga dibahas, termasuk apakah dari dalam diri atau dari luar.

Jenis Epistemologi: Idealisme vs. Realisme

Ada dua jenis epistemologi berdasarkan persepsi terhadap realitas: epistemological idealism dan epistemological realism. Idealisme berpusat pada Plato, sementara realisme berpusat pada Aristoteles. Idealisme cenderung mistik, sementara realisme lebih objektif.

Subjektivitas vs. Objektivitas: Fenomenalisme vs. Realisme

Subjektivitas (fenomenalisme) menyatakan bahwa realitas tergantung pada persepsi manusia, sementara objektivitas (realisme) menyatakan bahwa realitas eksis tanpa tergantung pada persepsi manusia. Kebenaran realitas tergantung pada persepsi individu.

Objek Pengetahuan: Fenomena

Objek pengetahuan yang bisa diketahui adalah fenomena, bukan nomina (barang apa adanya). Ini mencakup dunia di luar kita, masa lalu, masa depan, dan nilai-nilai seperti etika dan estetika.

Dimensi Psikis dan Sumber Pengetahuan

Dimensi psikis manusia sangat luas dan kompleks. Sumber pengetahuan meliputi otoritas, sains, persepsi, akal, dan intuisi. Kebanyakan pengetahuan kita berasal dari otoritas (kepercayaan pada orang lain).

Jenis Pengetahuan: Biasa, Ilmiah, dan Lainnya

Jenis pengetahuan meliputi pengetahuan biasa (ordinary knowledge), pengetahuan ilmiah, pengetahuan teknologi, ideologi, pengetahuan filosofis, dan pengetahuan mistis/agama. Setiap jenis pengetahuan memiliki cara treatment yang berbeda.

Proses Lahirnya Pengetahuan: Ilmiah vs. Non-Ilmiah

Pengetahuan bisa lahir secara ilmiah atau non-ilmiah. Penemuan kebenaran secara kebetulan, akal-akalan apriori, intuisi, trial and error, kewibawaan, spekulasi, dan wahyu adalah contoh-contoh non-ilmiah.

Kebenaran Kebetulan dan Akal-Akalan

Kebenaran kebetulan tidak bisa diulang dan tidak prediktif, tetapi kadang-kadang benar. Akal-akalan apriori bisa jadi kebenaran, tetapi sering juga menyesatkan.

Intuisi dan Wahyu

Intuisi adalah akumulasi pemikiran bawah sadar yang muncul kembali ke atas secara tidak disengaja. Wahyu, diyakini bersumber dari Allah, memiliki modus operandi yang sama dengan intuisi.

Proses Ilmiah: Empiris, Rasional, dan Terulang

Proses ilmiah harus empiris (berdasarkan fakta), rasional (masuk akal), dan hasilnya sama jika diulang. Jika tidak memenuhi syarat ini, maka tidak bisa disebut ilmiah.

Identifikasi Pengetahuan: Langkah-Langkah

Peserta diajak untuk mengidentifikasi jenis pengetahuan yang mereka miliki, alat yang digunakan untuk memperolehnya, sumbernya, dan apakah subjektif atau objektif. Ini adalah langkah awal sebelum masuk ke logika dan hermeneutika.

Kesadaran Diri dan Tujuan Akhir

Tujuan akhir dari ngaji filsafat ini adalah agar peserta menjadi pribadi yang sadar diri, tahu diri, percaya diri, dan akhirnya bisa mengenal Tuhannya. Ini akan menghasilkan karakter yang kuat dan kemampuan untuk berfilsafat untuk diri sendiri.

Sesi Tanya Jawab: Kebenaran dan Kesalahan

Sesi tanya jawab membahas apakah kebenaran memiliki potensi kesalahan dan sebaliknya. Dijelaskan bahwa dalam kebenaran yang kita ketahui, pasti ada potensi kelemahan karena manusia terbatas.

Keterbukaan Pikiran dan Kebenaran Tentatif

Peserta diajak untuk selalu terbuka pikiran dan tidak menutup diri dari alternatif kebenaran yang baru. Kebenaran bersifat tentatif (pending) dan bisa direvisi ulang.

Mentalitas Suudzon dan Pentingnya Memahami

Mentalitas suudzon (berprasangka buruk) harus dihindari. Penting untuk memperluas wawasan sebelum menilai sesuatu dan memahami sebelum berkomentar.

Persiapan untuk Ontologi dan Saran

Peserta harus mempersiapkan diri dengan baik sebelum masuk ke bab ontologi (tentang Tuhan). Disarankan untuk membaca buku "Kisah Mencari Tuhan" karya Imam Al-Ghazali.

Poligami: Perspektif Agama dan Psikologi

Isu poligami dibahas dari perspektif agama dan psikologi. Dalam Islam, poligami harus sesuai dengan Alquran dan Sunnah, tetapi penafsiran bisa berbeda-beda. Dari sisi psikologi, mungkin tidak kondusif, tetapi tidak ada klaim universal tentang manusia.

Alquran dan Sunnah: Referensi Statis

Alquran dan Sunnah adalah referensi statis yang pasti benar, tetapi pemahaman manusia terhadapnya bisa keliru. Penting untuk tidak mensakralkan pemikiran keagamaan (Afkar ad-diniyah) dan tidak taqlid buta.

Imajinasi vs. Intuisi

Imajinasi bisa direkayasa, sementara intuisi tidak. Intuisi adalah pengetahuan yang kita miliki di bawah sadar dan muncul ketika ada momen yang memicu.

Ilmiah vs. Tidak Ilmiah: Bukan Ukuran Kebenaran

Ilmiah dan tidak ilmiah tidak ada hubungannya dengan benar dan tidak benar. Parameter ilmiah adalah empiris dan rasional.

Kelayakan dalam Agama dan Ilmu

Kelayakan dalam agama tidak selalu ilmiah. Ilmu agama bersifat eksklusif dan sesuai dengan wilayah kajiannya sendiri.

Fenomenalisme: Realitas yang Dipersepsi

Fenomenalisme adalah aliran yang menyatakan bahwa realitas adalah semua yang dipersepsi oleh manusia. Tokohnya adalah Immanuel Kant.

Penutup

Singaperbangsa Official mengakhiri sesi dengan harapan peserta dapat memahami pola-pola pengetahuan yang ada dan mengakhiri sesi dengan Hamdalah.

Share

Summarize Anything ! Download Summ App

Download on the Apple Store
Get it on Google Play
© 2024 Summ