Eps 923 | SEJAK KAPAN ISLAM DIPALSUKAN PARA HABIB GUS DAN KIAI? SEJARAH KERUSAKAN TAUHID

guru gembul www.youtube.com

Ringkasan Singkat

Video ini membahas tentang evolusi pemikiran dalam Islam, dimulai dari Hasan Basri yang mengkritik ulama yang hanya fokus pada ilmu duniawi, hingga Rabiah al-Adawiyah yang menekankan cinta kasih Tuhan. Kemudian, munculnya tarekat sebagai jalan tengah yang sayangnya malah terjebak pada ritualisme dan persaingan antar kelompok, sehingga meruntuhkan peradaban Islam.

  • Hasan Basri menekankan pentingnya akhlak dan cinta kasih dalam berislam, bukan hanya ilmu tata bahasa Arab.
  • Rabiah al-Adawiyah mengajarkan bahwa inti berislam adalah mengabdi dan mencintai Tuhan tanpa rasa takut.
  • Kemunculan tarekat sebagai solusi malah menimbulkan masalah baru berupa ritualisme dan persaingan yang menjauhkan dari esensi spiritualitas.

Pendahuluan: Hasan Basri dan Kritik terhadap Ulama

Video dimulai dengan menceritakan tentang Hasan, seorang anak cerdas yang dibesarkan di Madinah dan menjadi murid sahabat Nabi. Setelah pindah ke Basrah dan berganti nama menjadi Hasan Basri, ia menemukan fenomena unik di mana ajaran Islam dianut secara formalitas, tetapi tidak tercermin dalam perilaku masyarakat dan pejabatnya. Korupsi merajalela, penguasa sewenang-wenang, dan pedagang curang. Hasan Basri mengkritik ulama yang sibuk mengumpulkan pengikut dan saling menuding sesat, padahal mereka hanya menguasai ilmu duniawi seperti tata bahasa Arab dan fikih, bukan esensi ajaran Islam itu sendiri.

Esensi Ajaran Islam Menurut Hasan Basri

Hasan Basri berpendapat bahwa ajaran Islam yang sebenarnya adalah tentang memelihara akhlak yang baik, memperlakukan orang dengan baik, memaafkan musuh, menghindari permusuhan, berbuat baik kepada makhluk hidup, mencintai lingkungan, dan berbelas kasih. Semua itu dirangkum dalam pelajaran tentang ikhlas, sabar, pasrah, dan memotivasi diri untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Menurutnya, ulama sejati adalah orang yang sudah menjalankan perintah Quran dan sunah, bukan hanya yang pandai menafsirkan Al-Qur'an dengan ilmu tata bahasa Arab.

Takwa dan Keikhlasan Menurut Hasan Basri

Hasan Basri menekankan bahwa berislam harus dimulai dengan keikhlasan dan ketulusan, yaitu dengan tidak lagi memiliki ikatan terhadap dunia. Takwa menurutnya adalah kesadaran diri tentang Tuhan karena rasa takut kepada amarah-Nya. Ia mempertanyakan orang-orang yang mengaku mengerti agama tetapi tetap korupsi atau meremehkan orang lain. Menurutnya, itu bukanlah ajaran agama Islam, melainkan ilmu duniawi. Pernyataan Hasan Basri ini diterima oleh banyak orang yang merasa bahwa Islam yang mereka jalani selama ini tidak membawa kesejahteraan dan kedamaian.

Rabiah al-Adawiyah dan Cinta Kasih Tuhan

Salah satu pengikut Hasan Basri yang terkenal adalah Rabiah al-Adawiyah. Rabiah meningkatkan level pemahaman berislam menjadi sangat sederhana, yaitu sebagai hamba Tuhan yang berkewajiban mengabdi dan membuat senang tuannya. Ia pasrah dan ikhlas terhadap apapun yang dilakukan Tuhan kepadanya. Baginya, semua yang dilakukan, diucapkan, dan dihasilkan harus bermotif Tuhan. Dengan begitu, seseorang akan merasakan cinta kasih Tuhan yang besar dan tidak lagi memiliki kebencian. Cinta kasih Tuhan yang luas akan meluber ke mana-mana, sehingga mendorong seseorang untuk berbuat baik dan menyebarkan cinta kasih kepada orang lain.

Abu Yazid Albustomi, Alhalaj, dan Kontroversi Cinta yang Tak Terkendali

Ajaran cinta kasih ini berlanjut hingga Abu Yazid Albustomi dan Alhalaj, yang sudah tidak lagi bisa mengendalikan diri karena cinta kasihnya sudah memenuhi seluruh jiwa dan raganya. Alhalaj bahkan meninggal dengan cara dimutilasi, tetapi tetap tenang dan mencintai orang-orang yang menyakitinya. Pada titik ini, muncul kontroversi. Sebagian masyarakat muslim menganggap ajaran ini sebagai ajaran Islam yang asli, sementara sebagian lainnya menganggapnya di luar fitrah dan bisa membuat orang menjadi gila.

Kemunculan Tarekat dan Keruntuhan Peradaban Islam

Untuk mengatasi kontroversi ini, muncul kompromi berupa tarekat, yaitu jalan mendekatkan diri pada Tuhan dengan bimbingan guru. Namun, hal ini justru menjadi kesalahan fatal karena spiritualitas yang seharusnya bersifat personal dan beragam, malah distandarisasi dengan ritual-ritual tertentu. Tarekat-tarekat saling bersaing untuk menunjukkan cara mereka yang paling benar, dengan menceritakan karamah-karamah leluhur mereka. Hal ini memicu munculnya hal-hal yang menyimpang, seperti anti kritik dan kesombongan. Tasawuf yang awalnya spiritual berubah menjadi material, dan peradaban Islam runtuh karena logika tidak jalan dan hal-hal jahat disakralkan.

Pemutarbalikan Ajaran Tasawuf

Orang-orang tasawuf modern memutarbalikkan ajaran tasawuf yang asli. Jika dulu siapapun bisa bertemu dengan Tuhan asal hatinya bersih, sekarang mereka mengajarkan bahwa seseorang tidak bisa mendekatkan diri pada Tuhan tanpa bantuan guru. Guru harus disembah dan dicium kakinya. Tepat di situlah peradaban Islam runtuh. Otak dimatikan, kreativitas dimatikan, dan logika tidak jalan. Mereka menganggap diri mereka benar dan yang lain salah.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 Asalamualaikum B. Selamat datang kembali di Guru Gembul Channel. 2 tahun sebelum Umar bin Khattab meninggal dunia, di keluarga Nabi itu ada seorang pembantu yang melahirkan seorang anak. Ternyata anak ini adalah anak yang cerdas dan anak ini adalah anak yang berpikir sangat kritis, sangat dalam, dan sangat filosofis. Namanya itu adalah Hasan. Hasan dibesarkan di Madinah dan menjadi murid bagi banyak sekali sahabat-sahabat Nabi yang tersisa pada waktu itu. Bahkan Hasan juga terlibat dalam beberapa peperangan, terlibat dalam intrik-intrik politik dan sebagainya. Tetapi pada waktu itu Hasan berpikir bahwa apa yang terjadi ya adalah sepenuhnya bagian dari ketaatan, bagian dari kesalehan. yang kemudian mengubah jalan pikirannya itu

0:47 adalah ketika beliau pindah pada usia 14 tahun ke Basrah yang kemudian mengganti namanya menjadi Hasan Basri atau Hasan dari Basrah. Nah, di Basrah dia menemukan satu fenomena yang unik bahwa ajaran Islam di situ dianut oleh masyarakatnya, dianut oleh pejabatnya, dianut oleh gubernurnya, dianut oleh pedagang-pedagang yang ada di sana. Tetapi ajaran Islam sama sekali tidak nampak di sana. Korupsi meraja lela, penguasa betapa sewenang-wenangnya rakyat tertindas dan hidup dalam penderitaan para pedagang pada culas. Ini di mana ajaran agama Islam yang benar? Ada ulama ada, tapi ulama itu sibuk mengumpulkan pengikut dengan cara menuding bahwa

1:34 ulama itu sesat, ulama itu sesat, ulama kamilah yang benar dan seterusnya. Dan dalam narasi-narasi itulah akhirnya Hasan Basri menyadari bahwa ulama-ulama itu sebenarnya bukan ulama. Ulama-ulama itu sebenarnya adalah orang yang menguasai ilmu duniawi berupa ilmu tata bahasa, nahwu sharf, ilmu logika fikih yaitu ushul fikih, kemudian ilmu tentang menafsirkan Al-Qur'an dengan menggunakan pendekatan bahasa. ya ilmu bahasa juga, ilmu duniawi juga, tapi objeknya adalah sesuatu yang berhubungan dengan agama. Nah, karena yang dimaksud masyarakat itu ternyata adalah sarjana-sarjana yang justru bergelut di ilmu-ilmu duniawi, maka ya wajar ketika peradaban Islam itu

2:20 menjadi seburuk ini, ketika pertentangan, pertikaian, pergelutan itu tidak pernah berakhir satu sama lain. Ternyata karena apa? Karena Islamnya tidak diajarkan. yang diajarkan adalah ilmu budaya dan tata bahasa Arab yang dianggap sebagai bagian dari ajaran agama Islam. Nah, ajaran agama Islam yang didapatkan oleh Hasan Basri selama dia menjadi pengikut dari sahabat-sahabat Nabi itu sebenarnya tidak jauh dari bagaimana caranya memelihara akhlak yang baik, memperlakukan orang dengan baik, memaafkan musuh, menghindari permusuhan, menghindari pertikaian, berbuat baik kepada makhluk hidup selain manusia, bagaimana caranya kita mencintai lingkungan alam, bagaimana cara kita berbelas kasih. Dan itu semua dirangkum

3:06 dalam pelajaran-pelajaran tentang bagaimana kita ikhlas, bagaimana kita sabar, bagaimana kita pasrah kepada ketentuan Tuhan, dan bagaimana kita memotivasi diri untuk terus-terusan menjadi manusia yang bermanfaat buat alam semesta. Yang diajarkan Islam kepada dirinya tuh itu. Tapi kenapa yang dipanggil, yang disebut ulama itu adalah orang yang bisa menafsirkan Al-Qur'an menggunakan ilmu tata bahasa Arab. Jadi dalam pikiran Hasan Basri gini, ilmu tata bahasa Arab digunakan untuk apa? Untuk bisa memahami Al-Qur'an. Ilmu Al-Qur'an digunakan untuk apa? Agar kita bisa mengikuti ajaran-ajarannya. Bagaimana ajaran-ajaran itu? Ya tadi itu ikhlas, cinta kasih, dan sebagainya.

3:52 Maka yang disebut ulama itu seharusnya adalah orang yang sudah ada di titik ini, sudah ada di level menjalankan perintah Quran dan sunah. bukan yang berkutat masih pada bagaimana cara menafsirkan alif lam mim itu dalam pikiran Hasan Basri. Makanya sejak saat umur 25 tahunan itu Hasan Basri itu mogok untuk tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan fikih. Kalau kalian mau berislam maka kalian tuh harus memulai diri dengan keikhlasan, ketulusan. Dan itu dimulainya dari mana? Dari kalian tidak lagi memiliki ikatan terhadap dunia. Dunia boleh saja mengikuti kalian, tapi kalian jangan mengikutinya. Jadi, ketika ada orang yang mengejar-ngejar harta, ada orang yang mengejar-ngejar jabatan,

4:38 ada orang yang berpikir bagaimana cara dia bisa nampak jadi terkenal dan berwibawa di muka orang dan sebagainya, maka itulah yang menjauhkan diri kita dari ajaran agama Islam. Mulai dari hati, mulai dari membersihkan hati dari segala motivasi-motivasi duniawi termasuk hal-hal yang seperti itu. Nah, setelah itu baru kita merasakan ketakwaan kepada Tuhan. Makanya Hasan Basri itu berpikir bagaimana caranya kita takut kepada Tuhan, ikhlas kepada Tuhan, bagaimana caranya agar kita takwa kepada Tuhan. Dan takwanya Hasan Basri itu bukan menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi larangannya, bukan. Itu definisi dari mana? Enggak ada. Hasan Basri itu memahami takwa itu adalah kesadaran diri tentang Tuhan karena rasa takut kepada amarahnya. Ya, itu saja

5:25 seperti itu sajalah. Makanya Hasan Basri kemudian mempertanyakan ini orang-orang yang ngakunya ngajarin Islam tuh ya dia ngerti fikih, dia tahu Quran, dia tahu sunah tapi tetap korupsi. Ada orang yang ngerti katanya ngerti fikih, ada orang yang katanya ngerti tafsir tapi meremehkan orang lain, menghakimi orang lain, bahkan berkata-kata kasar di ruang publik kepada orang lain dengan percaya dirinya menunjukkan ajaran yang Islam yang benar tentang Islam itu adalah gini gini gini. Sedangkan orang-orang itu sesat menyesatkan itu ngomong lalu ngomongnya kasar dan sebagainya. Bagaimana ceritanya ajaran agama Islam seperti itu? Itu bukan ajaran agama Islam. itu adalah ilmu duniawi. Itu adalah ajaran duniawi. Levelnya baru sampai

6:10 mempelajari ilmu-ilmu budaya bahasa Arab. Dan pernyataan Hasan Basri ini pada akhirnya diterima oleh banyak orang. Loh. Iya juga ya. Kan di dalam Al-Qur'an itu dijelaskan kalau masyarakat muslim itu bertakwa maka mereka itu akan sejahtera, mereka itu akan damai, mereka itu akan baik dan tidak akan ditemukan fakir miskin. Tapi di situ fakir miskin banyak, korupsi banyak, kekerasan banyak, kesenang-wenangan juga banyak, tapi masih mengajarkan ajaran agama Islam. Jangan-jangan Islamnya bukan itu, tapi Islam seperti yang diajarkan oleh Hasan Basri. Makanya berbondong-bondong orang mencoba untuk menjadi muridnya Hasan Basri. Tapi Hasan Basri pada waktu itu ya mengajarkan, sekedar mengajarkan saja dan tidak mengklaim sebagai pemilik otoritas. Karena otoritasnya ya hanya Tuhan saja. Dia hanya mengajarkan

6:56 tentang bagaimana caranya menangis. Hasan Basri itu terkenal dengan tangisannya yang tidak ada hentinya. Ceramah sedikit, ngomong sedikit nangis. Karena hatinya itu sudah benar-benar lembab dengan kasih sayang Tuhan. Jadi segala sesuatu itu cukup mengharukan untuk dirinya. Segala sesuatu itu cukup meresahkan untuk dirinya. Segala sesuatu itu cukup untuk membuatnya tidak bisa berkata-kata selain dengan air mata yang turun dari matanya. Itu saja. Nah, pengikut dari Hasan Basri yang kemudian menjadi cukup terkenal bahkan sangat terkenal itu adalah Rabiah al-Adawiyah. Rabiah itu itu meningkatkan levelnya sampai pada titik bahwa berislam itu sebenarnya sangat sederhana. Pernyataan bahwa kita adalah hamba dari Tuhan dan

7:43 Tuhan itu adalah penguasa alam semesta. Dan karena ini kita adalah hambanya, maka kewajiban bagi seorang hamba itu adalah mengabdi kepada tuannya, membuat senang tuannya. Itu saja. Jadi, Rabiah aladawiyah adalah seorang hamba dari Tuhan. Maka apapun yang dilakukan Tuhan kepada dirinya, pasrah, menerima, ikhlas, qanaah, udah selesai sampai di situ saja. Bahwa apa yang kita lakukan itu adalah demi Tuhan. bahwa apa yang kita perbuat, apa yang kita ucapkan, apa yang kita karyakan dan kita hasilkan itu sepenuhnya bermotif Tuhan. Dan karena sudah seperti itu, maka tepat di situlah kita akan merasakan betapa besarnya cinta kasih Tuhan. Dan orang yang bisa

8:28 merasakan cinta kasih Tuhan itu adalah orang yang sudah tidak akan lagi memiliki kebencian. Karena cinta kasih Tuhan itu luas, besar, dan mengalir terus-terusan ke hati manusia. Disadari atau tidak, itu mengalir terus-terusan ke hati manusia. Nah, orang yang merasakan bahwa hatinya itu dipenuhi oleh cinta kasih Tuhan itu di dalam hatinya itu sudah tidak mungkin tersisa ruang untuk hal-hal selain cinta kasih. Tidak ada ruang untuk kebencian, untuk kemarahan, bahkan kemarahan atas nama agama. Tidak ada yang seperti itu. Tidak ada kesombongan, tidak ada kebanggaan pribadi, tidak ada ambisi, tidak ada. Ya, hanya menikmati kecintaan pada Tuhan dan menikmati hamparan

9:14 luasnya cinta kasih Tuhan. Seperti itu saja. Dan karena hati manusia itu begitu kecilnya dibandingkan aliran cinta kasih Tuhan yang tidak ada hentinya itu mengalir terus, maka akhirnya cinta kasih itu akan luber ke mana-mana. Jadi, Rabiah Al-Adawiyah memahami bahwa ketika kita merasakan cinta kasih Tuhan yang tidak terhingga, yang tidak terperi, maka dia akan berbuat baik kepada orang lain. Dia akan menyebarkan cinta kasih kepada orang lain. Karena hatinya sudah terlalu penuh, hatinya sudah terlalu ber yang tidak lagi bisa ditampung oleh dirinya sendiri. Dia hanya bisa bertahan dengan cara apa? Meluberkan cinta kasih itu kepada manusia yang lain. Maka dia hanya berpikir soal memberikan kemanfaatan. Dia hanya berpikir tentang bagaimana cara memberikan kemaslahatan,

10:00 dia enggak akan memiliki kebencian. Dia tidak akan memiliki keresahan. Dia hanya memiliki cinta kasih yang harus disebarkan terus-terusan kepada manusia. Dan bahkan pada level itu saking cintanya kepada Tuhan, bahkan tidak ada rasa takut sama sekali. Termasuk ancaman terhadap kemertian, ancaman terhadap neraka sekalipun. Rabiah aladawiyah seringki dikaitkan dengan syair-syairnya yang dalam tanda kutip meremehkan neraka, dia tidak takut masuk neraka. Ya enggak apa-apa. Pertama, saya akan percaya bahwa Tuhan yang maha kasih tidak akan menyiksa hamba-Nya yang tunduk takut patuh pada dirinya. Dan seandainya Tuhan benar-benar memasukkannya ke dalam neraka, Rabiah

10:47 mengatakan, "Saya ikhlas, saya tulus." Karena apa? yang dilakukan Tuhan kepada saya akan saya terima karena saya adalah hamba-Nya. Itu saja. Saya mau dimasukkan ke dalam neraka, saya mau dimasukkan ke dalam surga. Saya enggak peduli karena saya hanya membutuhkan cinta kasih Tuhan yang masuk ke dalam diri saya. Karena saya adalah hamba Tuhan dan saya tidak memiliki pilihan lain selain mencintainya dan pasrah terhadap apa yang dilakukannya. Ini ada di level yang sebenarnya sebagian kalangan sudah menjadikannya sebagai titik kontroversi. titik yang ya mungkin ada yang setuju dan tidak setuju. Tapi ini berlanjut. Nah, berlanjut itu sampai pada level Abu Yazid Albustomi dan Alhalaj di mana mereka itu sudah benar-benar dalam tanda

11:34 kutip tidak lagi bisa mengendalikan dirinya. Cinta kasihnya sudah penuh. Bukan hanya ke hati, masuk ke otak, masuk ke dalam tubuh. Seluruh aliran darahnya sudah dipenuhi oleh cinta kasih. dan akhirnya lebur. Tidak lagi memahami dirinya siapa, tidak lagi memahami realitas, tidak lagi bisa membedakan mana dunia, mana akhirat. Dia sudah enggak bisa membedakan seperti itu. Udah buta, udah gila, udah lebur. Bahkan alaj, alhallaj itu meninggal dengan cara apa? Dimutilasi sedikit-sedikit. Hidungnya dipotong dulu, lidahnya dipotong dulu, telinganya dipotong dulu, matanya dicungkil dulu. Itu adalah satu yang mengerikan. Tangan kakinya dipotong dulu dengan cara yang mengerikan dan sebagainya. Tapi diriwayatkan bahwa dia itu tenang sekali, senang sekali. Kata-kata

12:21 terakhir sebelum lidahnya dipotong itu adalah saya tetap mencintai bahkan kepada orang-orang yang melakukan ini kepada saya. Ya, seperti itu. Jadi, bahkan penderitaan yang paling mengerikan sekalipun dia terima karena dia memahami bahwa bahkan hal semacam ini tuh adalah ditakdirkan oleh Tuhan. Inilah Tuhan yang memberikan saya nasib seperti ini. Dan saya ikhlas saja. Saya menerima itu sepenuh hati. Mau di dunia seperti itu, mau di akhirat diperlakukan seperti apa, saya percaya kepada Tuhan dan saya hanya ikhlas menghambah padanya. Itu. Nah, pada titik inilah kemudian kontroversi itu menjadi semakin besar. Di satu sisi banyak masyarakat muslim yang mengira bahwa ya ajaran Islam yang asli itu yang seperti itu,

13:06 yang sepenuhnya spiritual, yang murni tentang keikhlasan, bukan tentang menghakimi tata cara ibadah orang lain, bukan. Tapi yang murni seperti itu. Tapi di sisi lain, masyarakat muslim juga berpikir bahwa kalau seperti itu ya masyarakat jadi gila semua dan itu di luar fitrah. Dan tidak mungkin ada ajaran agama yang mengajarkan sesuatu di luar fitrah seperti itu. Nah, titik itulah yang menciptakan sebuah kompromi yang akhirnya menghancurkan peradaban Islam. Yaitu apa? Kalau ajaran ini benar tapi akhirnya membuat orang menjadi terlena dalam kegilaan, maka satu-satunya jalan itu adalah ayo ikuti jalan itu, tapi harus ada guide-nya yaitu guru. Nah, akhirnya muncullah sejak saat itu tuh tarekat-tarekat di abad ke-12, di

13:53 abad ke-13 itu muncul tarekat-tarekat. Nah, tarekat-tarekat itu punya pemahaman begini. Kamu pengin kan mendekatkan diri pada Tuhan sampai merasakan cinta kasih yang luar biasa? Oke. Tapi harus ada guide-nya. Guide-nya itu adalah kamu ritualnya harus begini, wiridnya harus begini, selawatnya harus begini, mengabdi kepada gurunya begini-begini dan sebagainya. Jadi, katanya itu adalah guide-nya. Ini kesalahan fatal. Karena apa? Karena sesuatu yang sebelumnya spiritual. Spiritual itu tidak ada metodologinya. Dan karena itu setiap orang itu bisa menemukan Tuhan dengan cara yang beraneka ragam, berbeda-beda. Enggak ada satuun orang yang punya cerita narasi yang sama. untuk bisa mendekatkan diri pada Tuhan. Enggak ada ceritanya. Tapi sejak saat ada guide-nya itu nanti kamu

14:39 selawatnya begini setiap pagi sekian ribu kali. Nanti kamu wiridnya begini setiap mau tidur bacakan 33 kali. Nanti kamu begini, nanti kamunya ini begini. Nah, setiap tarekat-tarekat itu berkembang dengan cara-cara seperti itu, dengan skema-skema yang sama. Dan karena mereka punya skema masing-masing dan ingin menunjukkan bahwa skemanya adalah yang paling bisa mendekatkan diri pada Tuhan, maka mereka mulai menceritakan tarekat ini menceritakan leluhur saya itu lebih mulia daripada Syekh Abdul Qadir Jailani. Leluhur saya itu bisa membelah bulan, membelah matahari, membelah Jupiter, Satunus, Uranus, Neptunus, Pluto. Dan leluhur saya itu bahkan bisa mengancam malaikat RQIB dan atid, bisa mengancam malaikat-malaikat

15:24 zabaniah, bisa mengancam dan menakut-nakuti Jibril. Ada yang mengatakan leluhur saya. Semuanya seperti itu. Karena apa? Ini adalah persaingan dari kelompok-kelompok tarekat untuk menunjukkan bahwa cara kami yang paling benar untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Buktinya apa? Buktinya karamah-karamah dari orang yang menjalankan ritual ini itu begitu-begitu semuanya tuh untuk apa? untuk mempromosikan jualannya yaitu tarekat. Dan dari situlah mulai muncul hal-hal yang lebih menyimpang. Misalkan ketika mereka dikritik, mereka anti kritik luar biasa. Yang mengkritiknya itu tidak akan mendapatkan berkah dari gurunya. Atau kalau yang mengkritiknya, "Ah, kamu mau belajar masih seuprit, belajar dulu sana. Ah, kamu mah ngajinya

16:11 kurang jauh. Ah, kamu kopinya kurang kentel. Ah, kamu mau begadangnya kurang lama. Banyak kan santri-santri yang tarekat tasawuf yang mengatakan seperti itu. Tarekat tasawuf yang asli itu enggak mungkin ngomong seperti itu. Karena level terbawah, level paling dasar pintu gerbang untuk mendekatkan diri pada Tuhan adalah pengakuan bahwa dirinya hamba. Hanya sekedar hamba. Dan karena hanya sekedar hamba, maka tidak mungkin dia menjadi sombong. Jadi kalau misalkan ada kata belajar dulu sana itu kan ada kesombongan di situ. Mustahil ada tarekat yang seperti itu. Tapi kan ada tarekat yang seperti itu. Nah, itu tarekat yang palsu. Jadi tarekat Alawiyah yang mengajarkan seperti itu atau ada yang di Kalimantan Selatan yang seperti itu atau ada yang di Sulawesi Selatan seperti itu atau ada yang di Jawa Timur, di Jawa Barat bagian selatan

16:57 yang aneh-aneh yang seperti itu. Nah, itu yang palsu semua. Karena mereka tuh bukan mengajarkan mendekatkan diri pada Tuhan, tapi mengajarkan nanti wiridnya sekian ribu kali dalam sehari nanti datang ke kuburan ini, ini, ini. Nanti kuburannya itu harus kita kasih toping warna-warni yang hijau ini yang gini-gegini. Lalu cium. Nanti ketemu sama ulama ini cium kakinya, cium lututnya, cium pundaknya, lutut kaki, lutut kaki dan sebagainya. Itu yang diajarkan itu adalah yang seperti itu. Bukan bagaimana caranya agar kita menjadi hamba yang baik, bukan. Tapi bagaimana caranya agar kita menghamba kepada guru kita, agar dia mendapat memberikan kepada kita ilmu dan agar ilmu itu bisa kita gunakan untuk membantah orang lain yang ngaji ngajinya kurang jauh. Nah, inilah di sini tasawuf pada akhirnya yang awalnya itu

17:44 sebenarnya sepenuhnya baik atau sepenuhnya itu spiritual berubah menjadi sepenuhnya material. Gara-gara apa? Yaitu gara-gara Allahalaj, gara-gara Abu Yazid Albustomi yang dia gila tapi menurut orang itu benar, maka harus ngambil jalan tengah yaitu harus ada gurunya. Waduh, [Musik] maaf yang harus ada gurunya kan begitu. Dan akhirnya apa? Si guru-gurunya itu memiliki otoritas lebih bahkan mengaitkan dirinya itu dengan keistimewaan, dengan karamah yang luar biasa. Begitu. Akhirnya apa? Peradaban Islam runtuh karena logikanya enggak jalan. Kemudian hal-hal yang jahat itu justru malah disakralkan sebagai bagian dari ajaran agama Islam. Dan luar

18:29 biasanya apa? Mereka itu membalik ajaran tasawuf dulu. Ajaran tasawuf itu siapapun bisa bertemu dengan Tuhan, siapapun bisa menikmati cinta kasih Tuhan asal dia hatinya bersih. Itu kan ajaran asli yang tasawuf. Sekarang yang diajarkan oleh orang-orang tasawuf itu para habib dari alawiyah itu gitu ya. Mama Gufron yang diajarkan tuh kebalik. Kalian tuh enggak bisa mendekatkan diri pada Tuhan karena kalian tuh ahli maksiat. Karena kalian tuh berdosa. Kalian itu bahasa Arab aja belum ngerti. Kamu tuh tafsirnya aja enggak ngerti tapi berharap masuk surga. Tapi bisa kok masuk surga lewat bantuan kami, lewat syafaat dari kami. Makanya orang-orang alawiyah yang habib-habib yang apa itu yang mereka tawarkan itu apa? Syafaat dari kami. Begitu. Jadi, awalnya

19:15 cinta kasih Tuhan kepada manusia itu langsung dan intim dan bisa dilakukan dijangkau oleh siapapun yang hatinya bersih berubah menjadi kamu tidak bisa jadi apa-apa tanpa bantuan saya, tanpa bantuan guru. Dan karena itu guru tuh harus disembah, dicium kakinya gitu kan. Tepat di situlah akhirnya peradaban Islam runtuh. Sekali lagi ya, otaknya sudah langsung enggak jalan, dimatikan, kreativitasnya dimatikan. mau nanya aja dianggap kritik. Kalau gurunya enggak tahu apa-apa harus tetap dimuliakan dan menyebarkan cerita-cerita khurafat dan sebagainya. Otak logikanya seperti itu, otak spiritualnya udah sama sekali dangkal. Tapi luar biasanya mereka menganggap diri mereka tuh benar. Mereka menganggap bahwa yang lain yang enggak ngerti pemikiran kami itu salah,

20:01 belajarnya kurang jauh. kamu enggak belajar dari ulama bersanad yang seperti itu. Nah, itulah sebuah skenario yang luar biasa yang pada akhirnya membuat Tuhan benar-benar bisa memilah mana orang yang layak masuk surga dan mana orang yang mengklaim memilik surga. Terima kasih karena sudah menyimak. Saya Guru Gembul. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.

Share

Ringkasan Video YouTube