Eps 924 | SAYA MENYERAH !! MENJALANI HIDUP TANPA MAKNA SELAIN KESEPIAN, KESENGSARAAN DAN HINAAN...

guru gembul www.youtube.com

Ringkasan Singkat

Video ini membahas pertanyaan filosofis mengenai prioritas antara kehidupan dan kebahagiaan, serta hak seseorang untuk mengakhiri hidupnya jika mengalami penderitaan berkepanjangan. Guru Gembul mengajak penonton untuk merenungkan makna kehidupan dan mempertimbangkan apakah kebahagiaan lebih penting daripada sekadar mempertahankan eksistensi. Beberapa poin utama yang diangkat:

  • Kehidupan manusia seringkali absurd karena kita tidak tahu mengapa kita hidup atau apa yang terjadi setelah kematian.
  • Norma dan etika yang melarang bunuh diri didasarkan pada spekulasi mistik dan ketidaktahuan.
  • Setiap kehidupan mengorbankan pihak lain, dan semakin makmur kehidupan seseorang, semakin besar dampaknya pada orang lain.

Pendahuluan

Guru Gembul membuka video dengan pertanyaan dari seorang penonton: manakah yang lebih penting, kehidupan atau kebahagiaan? Dia mengajak penonton untuk mempertimbangkan apakah seseorang yang menderita sepanjang hidupnya, tanpa harapan kebahagiaan, berhak mengakhiri hidupnya. Pertanyaan ini mendorong refleksi tentang makna kehidupan dan nilai kebahagiaan.

Mitos Sisifus dan Keabsurdan Hidup

Guru Gembul merujuk pada buku "The Myth of Sisyphus" karya Albert Camus yang menyatakan bahwa bunuh diri adalah topik filosofis yang kompleks karena kehidupan manusia pada dasarnya absurd. Manusia tidak tahu mengapa mereka hidup atau apa yang terjadi setelah mati, namun ketidaktahuan ini justru memunculkan spekulasi mistik yang mendasari etika, moral, dan hukum. Contohnya, tujuan hidup seringkali dikaitkan dengan ibadah atau membayar karma, klaim yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya.

Penderitaan dan Hak untuk Mati

Guru Gembul memberikan contoh seorang teman yang menderita cerebral palsy sejak lahir, mengalami kesulitan fisik dan emosional, serta menjadi korban perundungan. Temannya merasa menjadi beban dan tidak memiliki harapan untuk mencapai kebahagiaan. Guru Gembul bertanya apakah orang seperti ini berhak memilih untuk mati, daripada terus hidup dalam penderitaan. Agama dan masyarakat seringkali memaksa orang untuk bertahan hidup, namun apakah mereka memiliki hak untuk menentukan nasib mereka sendiri jika tidak merasakan kebahagiaan?

Kehidupan yang Mengorbankan Pihak Lain

Setiap manusia hidup dengan mengorbankan pihak lain, baik itu spesies lain yang dibunuh untuk makanan, atau habitat yang dirampas untuk pembangunan. Semakin lama dan semakin makmur kehidupan seseorang, semakin besar dampaknya pada kehidupan orang lain. Guru Gembul mencontohkan dengan rumah mewah yang mengambil jatah lahan orang lain, atau kekayaan yang membatasi akses orang lain terhadap sumber daya. Dia juga menyinggung gagasan Plato tentang populasi ideal untuk mencegah ketimpangan sosial.

Kesimpulan

Guru Gembul mengajak penonton untuk merenungkan apakah kehidupan lebih berharga daripada kebahagiaan, dan apakah mengakhiri hidup bisa menjadi pilihan yang sah. Dia berpendapat bahwa larangan terhadap bunuh diri didasarkan pada asumsi yang absurd dan tidak pasti. Video ini mendorong pemikiran kritis tentang makna kehidupan, hak individu, dan tanggung jawab sosial.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 Assalamualaikum. Selamat datang kembali di Guru Gembul Channel. Ada seorang yang bertanya dan saya harap Baraya ikut menjawabnya. Manakah yang lebih penting antara kehidupan dengan kebahagiaan? Apakah kehidupan itu bisa kita akhiri kalau misalkan kita tidak berbahagia? Misalkan ada seorang yang seumur hidupnya mengalami penderitaan yang terus-terusan, mengalami intimidasi, kelaparan, kesusahan, stres, tekanan. Dan dia tahu bahwa tidak ada seorang pun yang menginginkan agar dirinya hidup di muka bumi ini. Semuanya tentang kehidupannya adalah tentang kebencian, ketidaklayakan, dan penderitaan. Apakah orang itu layak untuk mengakhiri hidupnya? Apakah ketika dia menyadari bahwa dirinya hanya menjadi beban bagi lingkungan hidup?

0:47 Apakah dia hanya menjadi beban tanpa memiliki harapan sama sekali untuk mencapai kebahagiaan? dia dipersilakan, diperbolehkan, diizinkan untuk mengakhiri hidupnya. Atau adakah di antara barai yang berpikir bahwa ada orang-orang yang selama ini tidak pernah dicintai, tidak pernah disayangi, tidak pernah mendapatkan penerimaan. Hidup dan matinya sama sekali tidak bermakna, sama sekali tidak memiliki arti. Dan dia hidup hanya untuk menguras sumber daya yang ada di bumi untuk bisa mempertahankan kehidupannya. Maka kalau misalkan dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, apakah itu adalah sesuatu yang baik? Jadi sekali lagi maksudnya adalah apakah kita tuh benar-benar harus terus-terusan hidup bahkan ketika kita tidak berbahagia? Apakah kebahagiaan itu

1:34 tidak lebih penting daripada kehidupan? Nah, di episode ini saya ajak Baraya untuk berpikir, berkontemplasi, merenung kembali tentang apa makna kehidupan Baraya dan simak videonya sampai akhir. Karena kita sebenarnya bahkan tidak tahu setelah video ini apakah ada sesuatu yang memang benar-benar berakhir. Yuk, kita mulai. [Musik] Pada tahun 1942, seorang filosuf terkemuka bernama Albert Kamus itu menulis sebuah buku yang judulnya adalah The Myth of Sisipus. Yang salah satu isi yang kemudian cukup membuat orang merenung itu adalah dia mengatakan bahwa

2:19 bunuh diri itu adalah salah satu bagian wacana filsafat yang cukup rumit untuk dibicarakan. E kenapa seperti itu? Karena dia mendasarkan pada sebuah asumsi dasar bahwa kehidupan manusia itu adalah keabsudan. Dan manusia selama ini hidup di tengah-tengah kenyataan yang absurd. Maksudnya kehidupan manusia dimulai dari sebuah pertanyaan kenapa manusia harus hidup? Tetapi tidak ada seorang pun di antara kita yang mengetahui kenapa manusia itu harus hidup. Dan manusia juga tidak tahu setelah kehidupan ini kita mati misalkan apa yang akan terjadi. Tidak ada juga seorang pun yang tahu itu. Dan lebih absurdnya lagi adalah bahwa bahkan ketidaktahuan itu, ketidaktahuan kenapa

3:07 kita hidup dan ketidaktahuan ada apa setelah kematian misalkan itu bukannya membuat kita menjadi berpikir keras, tetapi justru malah menciptakan spekulasi-spekulasi mistik yang mencengkeram etika, moral, dan hukum manusia. Jadi etika, moral, dan hukum manusia itu didasarkan kepada keabsudan, kepada sesuatu yang tidak jelas dan tidak diketahui gitu. Misalkan manusia tidak tahu kenapa manusia harus hidup, tetapi kemudian manusia menciptakan semacam spekulasi mistik yang disifatkan menjadi transenden. Di mana tujuan manusia hidup, motif manusia untuk hidup adalah untuk beribadah kepada Tuhan misalkan. Atau tujuan manusia hidup adalah untuk membayar karmanya dalam kehidupan yang sebelumnya. atau tujuan manusia hidup sebenarnya adalah untuk

3:54 membersihkan dirinya dari berbagai kejahatan dan lain sebagainya. Nah, jawaban-jawaban itu sepenuhnya dihasilkan oleh spekulasi mistik yang tidak ada seorang pun yang bisa meyakinkan apakah itu benar-benar terjadi atau tidak. Makanya setiap klaim dari hasil spekulasi mistik itu justru menghasilkan perdebatan. Misalkan orang yang menganut agama tertentu dengan orang yang menganut agama tertentu itu masing-masing saling menyangkal tanpa ada satuun di antara mereka yang berhasil membuktikan apakah hidupnya itu memang benar-benar beribadah kepada Tuhan ataukah tujuan dari hidupnya itu adalah untuk membayar karma di zaman sebelumnya tidak pernah diketahui. Dan kemudian ee setelah kehidupan ada kematian. Setelah kematian itu ada apa? Nah, ini juga tidak pernah diketahui

4:39 oleh manusia seumur hidupnya. Bahkan sepanjang sejarah manusia, tidak ada seorang pun yang pernah tahu kehidupan setelah kematian atau keadaan setelah kematian itu menjadi seperti apa. Tidak ada seorang pun yang tahu. Nah, lagi-lagi ada jawaban dari spekulasi mistik yang menjelaskan bahwa nanti akan ada alam akhirat, nanti akan ada penghakiman, nanti akan ada surga dan neraka, dan sebagainya. Tapi lagi-lagi itu adalah jawaban yang ditawarkan berdasarkan spekulasi mistik yang untuk orang yang beriman dan mempercayainya maka itu cukup untuknya. Tetapi untuk orang yang lain lagi memiliki jawaban yang lain lagi dan mereka jawabannya akan bertentangan satu sama lain tanpa ada seorang pun di antara mereka yang mampu membuktikan bahwa itu memang benar-benar nyata dan ada begitu kan. Nah, artinya kesimpulannya tetap sama. Bahwa

5:24 kenyataan manusia tentang kenapa manusia hidup dan ada apa setelah kematian itu ternyata adalah absur. Artinya kita tidak tahu. Tetapi walaupun kita tidak tahu, kita melabeli semua moral, etika, dan bahkan hukum kita itu didasarkan pada dua hal itu. Bahwa misalkan kita tidak boleh bunuh diri. Kenapa? Ya, karena itu nanti mengkhianati integritas kita sebagai manusia dan sebagai hamba Tuhan. Nah, ini kan di artinya larangan boleh dan tidak boleh didasarkan pada ketidaktahuan kita dan spekulasi mistik kita terkait dengan sesuatu di luar sana yang tidak bisa kita jangkau gitu. Nah, makanya kalau misalkan ada pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendalam lagi terkait dengan kehidupan misalkan ee apakah boleh seseorang itu bunuh diri kalau misalkan dia hidup dalam penderitaan? Misalkan, saya mohon

6:10 maaf ya ee ini bahan renungan saja. Saya punya kawan yang dia punya masalah palasi brain atau brain palasi gitu. Di mana sejak kecil, sejak bayi dia tidak bisa mengkoordinasikan tubuhnya gitu. Jadi ekspresinya menjadi aneh, tangan, gerakan tangan dan kakinya juga menjadi aneh dan lain sebagainya. Yang lebih mengerikan daripada itu semua adalah bahwa otaknya itu sadar bahwa dirinya tidak bisa mengendalikan tubuhnya dan bahwa dirinya tidak normal dibandingkan dengan orang lain. Jadi, dia sadar sepenuhnya bahwa dirinya tuh beda, bahwa dirinya itu menjadi beban. Dia berjalan aja sulit luar biasa. Untuk membasuh dirinya aja hampir tidak bisa. Untuk baca tulis dia hampir tidak bisa karena kesulitan yang sangat luar biasa.

6:56 Tetapi dia sadar itu dan akhirnya seiring berjalannya waktu dia dibully. Setiap dia keluar rumah dibully dan diejek sama teman-temannya menjadi penyedut perhatian bagi orang lain. Kemudian dia sendiri malu dan gagap kenapa harus seperti ini? Tapi dia harus menjalankan hidup yang seperti itu gitu. dia menjadi beban dan dia sendiri jijik dengan dirinya dan dia tahu bahwa cita-citanya, hasratnya, keinginannya, potensinya, apa yang dia inginkan, dan apa yang dia rencanakan di masa depan itu semuanya pasti tidak akan tercapai. Karena penyakitnya itu tidak akan pernah diobati, tidak akan pernah bisa ada yang mengobati. Dia akan terus-terusan seperti itu. Dan seiring berjalannya waktu, orang-orang yang mengurusnya selama ini satu demi satu meninggal dunia. Ibunya meninggal dunia, ayahnya

7:44 yang membelanya juga meninggal dunia. Dia kebingungan apa yang akan terjadi ke depan. Dan dari sanalah dia mulai menekankan bahwa mungkinkah dia boleh mati. Jadi pikirannya selama ini cita-citanya adalah dia ingin sesegera mungkin mati. Karena untuk hidup dia enggak pernah bahagia. Dia enggak pernah merasakan capaian tertentu, prestasi tertentu, bergaul dengan orang, mendapatkan penerimaan. Dia enggak pernah merasakan itu. Tapi dia melihat orang-orang di sekitarnya bahwa orang-orang itu hidup normal dan dirinya sendiri terkurung di kamarnya tidak bisa menjadi seperti itu. Apakah kehidupannya itu harus diperjuangkan walaupun itu membuat penderitaannya terjadi seumur hidup? Jadi, pilihannya tetap sama. Apakah dia

8:30 memilih kebahagiaan atau memilih kehidupan? Apakah kehidupannya itu lebih berharga daripada kebahagiaan? Sehingga dia harus dipaksa untuk bertahan hidup. Agamanya memaksa dia untuk bertahan hidup. Teman-temannya memaksa dia untuk bertahan hidup. Sabar aja ya, nanti kamu di surga akan menjadi begini dan begitu dan sebagainya. Kenapa dia tidak memiliki hak untuk menentukan bahwa ya saya sama sekali tidak merasakan bahagia. Orang-orang menganggap bahwa hidup itu adalah anugerah. Orang menganggap bahwa hidup itu adalah harapan. Ya, buat orang-orang. Tapi bagaimana dengan dirinya sendiri yang dia tidak pernah lepas dari olok-olokan, bulian dan bahkan dia tidak bisa mandiri. Dia menjadi beban. Dia dia merasa jijik dengan dirinya sendiri. Nah, coba Baraya pikirkan apakah orang-orang yang bernasib seperti itu

9:15 layak untuk bertahan hidup? Atau misalkan kita menemukan ada orang lain, saya punya teman yang lain. Teman itu dia hidup waktu kecilnya itu penuh penderitaan, penuh trauma. Orang tuanya yang bercerai itu miskin. miskin semiskin-miskinnya. Maka dari itu dia sejak kecil tuh dipaksa dan diajarkan untuk mengemis dan mencuri, untuk memalak. Maka seiring berjalannya waktu, dia tidak memiliki kontribusi apapun kepada ee kepada masyarakat selain keburukan. Jadi, dia malak, dia menyebarkan narkoba, dia mengancam orang lain dan sebagainya. pokoknya kehidupannya dan keberadaannya justru bikin orang lain terancam kehidupannya dan bikin orang lain bisa aja mati gara-gara kehidupannya.

10:00 Apakah layak dia ditawarkan untuk mati itu misalkan? Tapi kan tentu saja tidak akan ada orang yang menawarkan itu dan itu dianggap sebagai bertentangan dengan moral manusia, etika manusia, hak asasi manusia dan sebagainya. Tapi sekali lagi yang ingin ditekankan di sini adalah bahwa hak asasi manusia itu didasarkan pada sebuah premis-premis yang tidak kita ketahui tentang bahwa manusia memang harus hidup ya. Kenapa harus hidup gitu kan? Mungkin saja setelah dia mati dia tuh mendapatkan sesuatu yang bahkan jauh lebih baik. Bisa aja kan, bisa aja bisa aja dia setelah mati hidup lagi di zaman di dunia isekai gitu misalkan di mana dia penuh dengan haram ya bisa saja seperti itu. Tapi kan kita tidak bisa menjangkau itu dan ketidaktahuan dari menjangkau itu itu

10:46 kita jadikan sebagai landasan moral, landasan norma. Sampai-sampai hukuman yang paling berat yang ditawarkan oleh hakim itu adalah hukuman mati. Lah kenapa harus hukuman mati itu dianggap sebagai hukuman yang paling berat? Kenapa misalkan ya saya mohon maaf kenapa misalkan tidak hukuman mati itu adalah hukuman seumur hidup dalam kondisi yang paling menderita gitu. Kenapa itu bukan dianggap sebagai hukuman yang paling berat? Kenapa hukuman paling berat itu adalah hukuman mati gitu? Padahal kan kalau sudah mati ya kita enggak tahu apa dan yang paling menderita dari hukuman mati itu adalah orang-orang yang mencintai orang yang sudah mati itu gitu. Jadi hukuman mati adalah hukuman untuk menghukum orang-orang yang bukan pelaku kejahatan. Nah, balik lagi. Jadi, kenapa hukuman yang paling berat itu dianggap sebagai

11:32 hukuman mati? Kenapa bukan hukuman pencabutan terhadap kebahagiaan? Gitu. Jadi, semua yang membuat dirinya bahagia dihapuskan, dihancurkan, dihilangkan, dan kemudian dia dipaksa hidup dalam penderitaan yang sangat gitu. Kenapa tidak seperti itu? Lagi-lagi kita tuh balik lagi pada gagasan dasar bahwa semua kebaikan, semua etika, semua moral, semua norma hukum itu didasarkan pada hak manusia untuk hidup. Apakah kalau misalkan hidup tapi menderita dia tidak boleh keluar dari penghidupannya? Dan argumentasi yang lain yang lebih saya pikir cukup relevan adalah kan setiap manusia hidup dia tuh harus mengorbankan pihak lain. Setiap keberadaan manusia dan dia mempertahankan hidupnya semakin lama dia

12:19 hidup maka semakin banyak pihak lain yang mati dan dikorbankan untuk kehidupan dirinya. Setiap kita mempertahankan hidup misalkan dengan makan kita tuh harus membunuh spesies yang lain atau membunuh hewan yang lain. Dan setiap kali misalkan kita membangun rumah itu ada begitu banyak habitat dari makhluk lain yang harus kita ambil alih kita jarah. Jadi maksudnya kehidupan kita yang absurd, yang tidak jelas, yang tidak kita ketahui maknanya sama sekali itu ternyata sudah mengambil jatah bagi kehidupan yang lain. Nah, jadi kenapa harus kita pertahankan? Kan dengan adanya kita, dengan banyaknya jumlah kita, dan dengan lamanya kehidupan kita itu semakin menghabisi jatah penghidupan

13:05 dan kebahagiaan bagi makhluk-makhluk yang lain. Dan bahkan bukan hanya makhluk yang lain, tetapi juga manusia yang lain. Karena semakin besar manusia, setinggi semakin dia menjadi tinggi dan berkuasa, maka semakin banyak korban dari pihak manusia yang juga dia makan. Jadi saya mohon maaf ya. Misalkan Pak SBY itu rumahnya gede banget. Itu artinya apa? Ketika rumahnya gede banget itu berarti mengambil jatah bagi tanah dan rumah orang lain. Harga tanah di sana misalkan menjadi sangat mahal sehingga orang yang fakir miskin tidak bisa membeli di sekitar sana. Artinya apa? Semakin besar rumah kita, semakin banyak orang yang jatah lahannya kita

13:51 ambil. Semakin kaya kita, semakin sedikit uang yang diambil dan dimiliki oleh orang lain. Kan jumlah uang di seluruh dunia itu terbatas. Kalau misalkan sebagiannya kita ambil, maka sebagian yang lain yang jatuh buat orang lain juga akan habis. Kan begitu. Itu logika paling sederhananya. Atau kalau misalkan baraya mau lihat sesuatu yang lebih empiris, di Indonesia ada 12 juta rumah terbengkalai. Karena ada orang yang terlalu kaya, punya rumah hanya untuk investasi saja, diabaikan saja, terbengkalai saja, begitu saja. Padahal di sisi lain ada 12 juta keluarga di Indonesia yang tidak punya rumah. Kenapa enggak bisa dibagiin aja sama gitu? Tapi intinya pada dasarnya balik lagi adalah bahwa setiap kehidupan kita itu

14:38 mengorbankan pihak lain. Dan semakin besar kehidupan kita itu pun semakin banyak pihak lain yang dikorbankan. Bahkan semakin tinggi derajat kesadaran dari orang yang kita korbankan. Ini ini juga sempat disinggung oleh Plato di bukunya Republik itu. Dia kan bilang bahwa ee masyarakat ideal itu, kota yang ideal itu maksimal terdiri atas populasi sebanyak 5.040 orang. Kalau lebih dari itu, itu akan tidak sehat. tidak sehat. Itu maksudnya orang-orang ketika dia semakin banyak dan semakin berkuasa, dia tidak hanya akan memakan sumber daya yang dia butuhkan untuk hidup, tetapi dia akan memakan sumber daya yang dia butuhkan untuk bersenang-senang.

15:23 Makanya kalau misalkan populasi lebih dari 5.040 misalkan dalam sebuah kota, maka akan terjadi sebuah fenomena di mana yang kaya menjadi terlalu kaya dan hidup berdampingan dengan fakir miskin yang hampir tidak punya aset. hidup berdampingan yang seperti itu. Jadi artinya apa? Ya artinya kenapa kita harus mempertahankan kehidupan kita? Justru ketika semakin bermakna kehidupan kita, semakin bahagia kehidupan kita, itu semakin menggerus kehidupan dan kebahagiaan dan jatah aset buat orang lain. Kenapa Cristiano Ronaldo harus punya mobil yang mewah banget, yang harganya ratusan atau puluhan miliar rupiah? Kenapa dia harus punya itu? Padahal faktanya adalah dengan dia punya

16:09 itu artinya dia telah memadatkan uang di sekelompok kecil orang saja dan mengkarantina itu dari akses terhadap orang lain yang jauh lebih banyak. Nah, itu maksudnya. Jadi, baraya silakan pikirkan sendiri kenapa kita tuh harus hidup dan apakah hidup itu lebih berharga daripada kebahagiaan? Dan bolehkah kita berpikir bahwa mengakhiri hidup sebenarnya bukan sesuatu yang buruk dan itu bisa aja didasarkan pada sesuatu yang legal karena semua yang mengharamkannya itu adalah sesuatu yang absurd. Silakan pikirkan. Terima kasih karena sudah menyimak. Saya Guru Gembul. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.

Share

Ringkasan Video YouTube