0:00 Assalamualaikum B. Selamat datang kembali di Guru Gembul Channel. Baraya akan tercengang ketika saya menyebutkan jumlah santri yang ada di Indonesia. Kita melihat misalkan datanya dari Kementerian Agama. Pada tahun 2020 ada 5 juta santri di Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Marauk. Tetapi kemudian turun di tahun 2021 menjadi 4,37 juta orang. Kemudian di tahun 2022 itu turun lagi menjadi 3,4 juta yang angka itu relatif bisa bertahan sampai tahun 2024. Tetapi tahun 2025 itu angkanya menjadi 1,37 juta orang. Artinya apa? Artinya dalam 5 tahun turun dari 5 juta ke 1,3 juta dan
0:48 kalau dalam persentase artinya turun sampai 76% hanya dalam waktu 5 tahun. Maka kalau kita ambil perhitungan secara kalkulatif, peminat pesantren di Indonesia itu akan benar-benar habis pada 15 sampai 20 tahun ke depan. Akan tidak akan ada lagi pesantren di Indonesia yang memiliki santri. ee saya sudah mencoba untuk mengkritik pesantren, mencoba untuk memberikan kepada mereka perspektif untuk membangun mereka, mengubah mereka. Tetapi sulit sekali walaupun sejak 5 tahun itu saya terus-terusan menyuarakan, alih-alih saya mendapatkan tanggapan positif, justru apa yang saya sampaikan, kritik saya itu dianggap sebagai hujatan makian permusuhan.
1:35 sedemikian sehingga orang-orang dari kalangan pesantren dan santri itu ketika mendengar video saya terkait dengan kritik saya atas mereka itu, mereka marah-marahnya luar biasa. Nah, sekarang terserah baraya semua mau marah-marah atau tidak, mau membenci atau tidak, tetapi ini data statistik yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama. Pesantren turun terus-terusan dari tahun ke tahun. Kalau mereka tidak mau memperbaiki diri, tidak mau mendengar kritik dan saran dari orang lain, mereka akan benar-benar punah. Jadi kalau mereka mau berbenah diri, silakan nonton videonya sampai tuntas. Yuk, kita bahas.
2:23 Saya telah mengumpulkan 10 kesalahan dan kelemahan dalam sistem pendidikan di pesantren yang itulah yang membuat mereka itu semakin lama semakin pudar pengaruhnya. Dan mohon dengarkan satu-satu. Yang pertama itu apa? Yang pertama itu adalah keengganan mereka untuk menerima kritik dan evaluasi dan ketidakmauan mereka untuk introspeksi diri dan membangun masa depan. Jadi seperti yang saya bilang, saya tu bertahun-tahun mengkritik lembaga pesantren, khususnya pesantren yang mengaku dirinya salaf gitu, bukan salafi, tapi yang salaf yang di bawah NU itu. Nah, ee tetapi mereka itu mereka biasanya menanggapi dengan melecehkan atau meremehkan. bukan terkait dengan argumentasi yang saya sampaikan, tapi terkait dengan siapa Anda gitu. Ngaji dulu sana, kamu kan enggak ngerti, kamu
3:09 kan bukan orang sini, kamu kan enggak punya sanad keilmuan dan sebagainya. Jadi mental karena orang-orang pesantren itu cenderung untuk mendengar benar dan salah itu bukan tergantung pada apa yang dikatakan, tetapi siapa yang mengatakan. Kalau ada orang bersorban, mau dia benar atau salah diikutin. Tapi kalau misalkan ada orang lain di luar itu maka mereka akan abaikan. soal benar dan salahnya itu adalah urusan yang lain. Dan ketika ada orang di luar golongannya dalam tanda kutip ee mengkritik mereka, maka mereka ya itu kemudian menjelekkan dan seterusnya. Intinya mereka tidak mau introspeksi diri, mereka cenderung untuk marah. Ada yang mengelak dengan baik-baik, tetapi ada yang justru malah marah-marah. Dan baraya bisa cek berapa banyak itu di medsos yang menjelekkan saya ketika saya mengkritik pesantren
3:56 itu. Begitu ada sampai jutaan orang gitu sampai FYP dan sebagainya. Nah, ini masalahnya. Jadi, pesantren itu tidak mau memperbaiki diri dan bahkan mereka sering menyerang balik dengan argumentasi yang kosong gitu, yang nol gitu. Jadi, misalkan saya pernah mengkritik ee langsung ya ee orang pesantren gitu dia tuh ngerokok ya. Saya cuman bilang kalau ngerokok ya jangan di depan orang yang tidak merokok karena itu kan zalim gitu. Nah, yang dia katakan apa? dia justru malah menampilkan, "Oh, ini dalil rokok dalam ilmu fikih itu adalah ini yang mengharamkannya secara mutlak, ini yang memakruhkannya, ini yang yang menghalalkannya dan sebagainya." Kita enggak butuh itu. Mereka malah tampil-tampilkan kitab dan sebagainya. Kita enggak butuh itu. Sesederhana bahwa baraya ngerokok di depan orang dan itu
4:43 mengganggu. Baraya kena enaknya, orang itu kena asepnya. sesederhana itu. Tetapi mereka tuh enggak kepikiran itu. Mereka justru malah marah dan kemudian membandingkan dalil-dalil. Atau saya juga pernah dihujat sama seorang ulama di Sukabumi. Jadi ceritanya tuh begini baraya. Saya tuh mengkritik saya tuh ee ketemu sama sebuah lembaga pendidikan Islam berlabel Islam yang di situ tuh sampahnya berserakan di mana-mana. Kemudian saya kritik dia kan dalam fikih, dalam kitab-kitab fikih bab pertama itu kan adalah thaharah bab bebersih. Ini kenapa kebersihan itu justru malah jauh dari lingkungan pesantren, jauh dari lingkungan pendidikan Islam. Nah, yang dibahas itu bukan oh ya sudah kita bersih-bersih. Bukan seperti itu. Bukan. Mereka justru malah Anda tuh enggak ngerti. Thaharah itu maksudnya bukan
5:28 buang sampah pada tempatnya lalu dipaparkan dalilnya begitu banyak. Jadi abstraksi mereka itu rendah sekali. Mereka itu tidak bisa melihat inti, mereka tidak bisa melihat makna. Mereka hanya melihat sesuatu yang berbasis teknis. Dilarang ngerokok, cari dalilnya. Dilarang buang sampah sembarangan cari dalilnya. Bukan itu sesederhana. Kenapa sih mereka enggak cukup ya udah bersihin aja sampahnya biar enggak terlihat jelek di muka orang gitu. Sesederhana itu. Tapi mereka enggak kepikiran. Demi apa? Demi menyelamatkan egonya. Demi tidak mau e memperbaiki diri. Demi tidak mau introspeksi diri. Jadi terus-terusan aja seperti itu. Nah, gimana santri-santri di Indonesia mau maju kalau memang setiap ada yang mengkritik, setiap ada yang memberikan masukan selalu ditanggapi dengan kamu orang mana? Kalau
6:15 dari golongan saya mungkin saya pertimbangkan. Kalau tapi kalau di luar pesantren, di luar dari golongan kami dan sebagainya, ngaji dulu sana, belajar dulu sana. Itu yang mereka katakan kan. Nah, ini adalah kelemahan yang pertama dan menjadi sangat-sangat fatal. Tapi dipikir-pikir kenapa juga kalau misalkan mereka berdebat, mereka berdebat bukan pada ranah makna. Tapi pada ranah teknis seperti yang tadi itu ngerokok malah bawa dalil gitu ya. Kenapa mereka itu bawa masalah-masalah yang teknis gitu ya? Karena saya mohon maaf. Nah, ini kelemahan pesantren yang kedua yang sama fatalnya yaitu apa? Mereka justru tidak mengajarkan pola pikir dan kecerdasan nalar. Mereka justru memusuhi itu. Jadi coba ya ee ini benar atau tidak? Kalau misalkan baraya melihat ee cara berpikir
7:01 itu atau proses berpikir itu kan ada enam level. Level yang pertama itu adalah menghafal. Level yang kedua adalah memahami. Level yang ketiga itu adalah mengaplikasikannya atau menerapkannya. Level yang keempat itu adalah menganalisis. Kemudian yang level kelima itu menyimpulkan, mengumpulkan, mensintesiskan. Dan yang level keenam itu adalah menciptakan atau mengkreasi. Begitu. Nah, dari level pertama yang paling bawah sampai yang paling tinggi itu diajarkan di semua lembaga-lembaga pendidikan kecuali beberapa atau banyak pesantren salaf di Indonesia. Jadi, yang diajarkan itu hanya level berpikir satu, yaitu menghafal kata perkata. Jadi, ulama ngomong seperti itu, kiai ngomong seperti itu, hafalkan kata perkata. Kalau ada bagian yang lebih tinggi
7:46 daripada itu, misalkan menerapkan dalam kehidupan keseharian atau menganalisis atau menafsirkannya itu kamu enggak boleh. Kamu belum layak untuk menafsirkan ini. Nanti harus ada pembimbingnya, harus ada gurunya. Nanti kamu jangan dulu kritis soal ini. Kamu kan enggak akan ngerti soal ini. Jadi yang harus yang diajarkan itu adalah level terendah dalam berpikir yaitu apa? Menghafal. Jadi diajarkannya menghafal lagi, menghafal lagi, menghafal lagi. Pas bagian mau pemahaman, pemahaman di mana orang mulai bertanya mengapa itu biasanya kamu harus levelnya segini dulu baru boleh bertanya yang seperti ini. Begitu kan? Nah, ya saya bilang enggak semua pesantren salaf seperti itu, tetapi itu menjadi bagian jadi ciri khas gitu. Di mana kalau misalkan ada pesantren, santri-santri duduk ngedengerin guru yang ngomong, bertanya aja harus izin
8:33 mohon maaf saya mau bertanya. itu pun jarang diberi kesempatan untuk seperti itu kan biasanya sepihak aja. Nah, tapi kalaupun mau bertanya juga harus seperti itu gitu. Nah, ee karena level berpikirnya yang diajarkan itu adalah yang level terendah menghafal, menghafal, menghafal, memahami, menafsirkan, dan sebagainya itu jauh. Sehingga mereka itu kalau kalau beda pendapat dengan orang lain, mereka tuh langsung sewot gitu kan. Perbedaan pendapat di antara kita tuh B aja, biasa aja gitu dan tidak harus menghasilkan permusuhan. Tetapi bagi mereka, karena mereka itu resisten, karena mereka itu sebelumnya tidak pernah beda pendapat, sama semuanya. Karena apa? Karena hafalan. Kalau hafalan teks perteks, kata perkata, ya semuanya sama. Kalau misalkan ada yang beda, hati-hati sesat. Hati-hati kan mereka mudah menghakimi,
9:19 hati-hati sesat, jangan ikut pengajian itu. Nanti kamu begini dan begitu dan sebagainya. Nah, akhirnya apa? Akhirnya santri-santri kalau misalkan mau melihat realitas harus nyari dalil dulu soal misalkan bagaimana menangani sampah, bagaimana global warming misalkan. bagaimana identitas feminisme dan lain sebagainya. Mereka cari kitab yang lalu yang yang pernah mereka hafalkan gitu. Begitu kan? Bahkan ketika ada saya tuh ngomong misalkan ya ee ee kan saya tuh menyebarkan dalam tanda kutip kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh Ferdi Sambo misalkan. Nah, yang mereka katakan itu oh itu kan aib. Oh, tapi kan aib itu boleh disebarkan atas enam hal. Ini saya kitabnya itu adalah dari sini gitu. level berpikirnya tuh menghafal gitu.
10:04 Jadi mereka enggak bisa menafsirkan sendiri untuk menciptakan gagasan, pemikiran sendiri dan sebagainya. Sekalinya ada di level itu, mereka akan dianggap sesat. Bayangkan kalau sebuah lembaga pendidikan mengharamkan kita untuk berpikir di level tengah dan level atas dan justru malah mengajak orang hanya berpikir di level bawah. Seberapa parahnya. Itu yang kedua. Dan kenapa bisa seperti itu? Karena masalah yang ketiga dari pesantren salaf itu di antaranya adalah bahwa mereka itu fanatik pada masa lalu. Jadi em kenapa harus menghafal dari masa lalu, ulama-ulama masa lalu? Ya karena hanya itu yang mungkin bisa mereka akses, gitu. Jadi misalkan perdebatan tentang riba, ilmu ekonomi
10:49 itu berkembang besar dan luas sekali baraya dalam dua abad terakhir itu perkembangannya tuh luar biasa. Tetapi kalau nanya ke anak pesantren, ilmu ekonomi yang sekarang misalkan tentang riba dan lain-lain diambil ke otoritas-otoritas ulama tahun 1000, tahun 800, tahun 1100, tahun 1400, begitu. Jadi bayangkan perkembangan yang sekarang tapi harus ditarik ke masa lalu. Karena apa? Karena mereka tuh mensakralkan apa yang terjadi di masa lalu. Sudah tradisi jadi seperti itu, ya udah begitu aja gitu. Makanya mereka itu selain berdebat pasti sumber dan referensinya itu berasal dari masa lalu dan tidak berani untuk bikin sendiri di zaman sekarang. Dan kemudian kamu jangan bikin dulu yang zaman sekarang ya. Karena kan kamu itu levelnya belum
11:34 sampai ke situ. Kamu belum jadi mujtahid, kamu belum mengerti soal ijtihad dan sebagainya. syaratnya kan harus kamu penuhi. Nah, kalau ulama zaman dulu itu syaratnya sudah terpenuhi gitu kan. Mereka itu enggak berpikir soal akumulasi pengetahuan bahwa pengetahuan orang-orang di zaman dulu tuh justru terakumulasi di zaman sekarang. Sehingga akses informasi dan pengetahuan orang zaman sekarang itu jauh lebih memadai daripada orang-orang zaman dulu. Kan seharusnya begitu. Tetapi mereka enggak mau tetap harus mensakralkan apa yang terjadi di masa lalu gitu. Jadi ketika mereka misalkan ngaji dengan cara yang sama, ya udah gitu aja terus posisi duduknya dengan cara seperti itu. Oh jadi ikutan dulu. Coba baraya bandingkan dengan lembaga pendidikan yang lain. Misalkan mereka itu setiap tahun tuh kadang-kadang harus evaluasi. Setiap tahun tuh mereka tuh kadang-kadang rekonstruksi. Setiap tahun
12:21 mereka itu mencoba untuk gagasan-gagasan baru, metode-metode baru. Dicoba terus. Karena apa? Karena dunia tuh berkembang dan harus ada evaluasi. setiap hari harus ada evaluasi setiap tahun ini mereka enggak kembali aja ke masa lalu mau khotbah Jumat ceramahnya isinya itu-itu aja lagi gitu yang ditulis berapa puluh tahun berapa ratus tahun yang lalu gitu enggak banyak yang relevan dengan hari ini, enggak banyak yang sesuai dengan aktualisasi hari ini. Ya baca aja yang dari masa lalu gitu atau mengulang kembali apa yang sudah diajarkan di masa lalu gitu. Makanya khotbah Jumat juga itu-itu saja. Kalau ceramah ya isinya juga itu-itu saja gitu. enggak enggak ada perbaikan gitu. Nah, kenapa bisa seperti itu? Nah, ini menyangkut masalah yang keempat karena mereka itu tidak terbiasa dengan
13:08 ilmu pengetahuan, terbiasanya dengan doktrin. Jadi, kalau diajarkan dari masa lalu begitu ya tidak kritis, tidak berpikir apa-apa ya sudah ikutin aja. Makanya mereka enggak punya data statistik. mereka itu enggak punya kalkulasi, enggak punya data yang bisa diuji. Dan karena enggak punya data yang bisa diuji, ya gimana mereka bisa introspeksi? Misalkan contohnya begini lah ya. Kalau misalkan kita ada di sebuah kampus di lembaga pendidikan universitas misalkan ya, si universitas itu punya data lulusan mereka yang jadi pengusaha berapa persen, yang jadi pejabat berapa persen. Agar apa? Agar mereka tuh bisa mengevaluasi diri dari jumlah mahasiswa yang lulus tahun segini itu mereka dalam 2 tahun ke depan itu mereka jadi apa? Nah, oh ternyata kebanyakan jadi wirausaha bukan bekerja di sesuai bidangnya. Oh, berarti kita harus introspeksi. Nah, harusnya kan ada data seperti itu. Sekarang ada enggak
13:54 data dari pesantren-pesantren? Kan mereka itu sering sekali mengklaim bahwa eh tahu enggak pesantren ini tuh melahirkan ulama-ulama besar. Mereka sering mengklaim seperti itu. Ada enggak datanya? Misalkan, berapa persen di antara mereka yang jadi ulama? Berapa persen di antara mereka yang jadi pemabuk? Berapa persen di antara mereka yang jadi penipu? Berapa persen di antara mereka yang jadi koruptor? Berapa persen di antara mereka itu yang jadi orang baik? berapa persen di antara mereka yang jadi pengusaha dan sebagainya berapa. Mereka enggak punya data itu. Bahkan data yang saya sebutkan tadi, jumlah ee santri di Indonesia itu luar biasanya apa? Kementerian Agama tidak memiliki data yang valid. Dan kalau misalkan baraya cek, baraya akan menemukan angka yang begitu bervariasinya, begitu banyaknya saking tidak punya data yang valid level Kementerian Agama gitu. Jadi enggak enggak enggak ada kalau misalkan enggak
14:40 ada yang data yang valid, akhirnya apa? Mereka enggak terbiasa dengan bukti empiris. mereka tidak terbiasa dengan kalkulasi ee manual, hitung-hitungan dan sebagainya. Jadi kalau misalkan ada ngebangun berdoa saja insyaallah ini kan niatnya baik. Kalau niatnya baik pasti didukung sama Allah. Ngebangun aja nanti runtuh belakangan gitu. Gimana caranya misalkan ini pesantren ini dapat uang ya yang penting mah kalian tulus ikhlas aja di sini yang penting apa ya nanti ujung-ujungnya ngemis-ngemis gitu. Karena mereka tuh enggak punya enggak pegang data, enggak punya pegang sesuatu yang empiris. susah sekali untuk mendapatkan data-data itu. Jadi mereka enggak tahu ke depan harus seperti apa karena mereka tidak mencoba untuk mengambil data-data historis untuk jadi bahan pertimbangan dan pembelajaran hari ini.
15:26 Dan kenapa mereka tidak memiliki data empiris, data yang bisa diuji, data yang bisa dikalkulasi? Ya, karena kebanyakan dari ulama-ulama, kiai-kiai dan pesantren-pesantren yang salaf itu, itu mereka tuh mengabaikan ilmu pengetahuan. mereka itu sekuler gitu. Mereka tuh menganggap bahwa kimia itu ilmu duniawi. Mereka menganggap matematika itu adalah ilmu duniawi. Gitu kan. Mereka tuh enggak ngerti bahwa matematika itu yang menciptakan dan merumuskannya itu adalah ulama-ulama. Mereka enggak tahu bahwa kimia itu yang mencetak itu adalah ulama gitu. Tapi mereka mengira bahwa itu tuh adalah ilmu dunia. Ekonomi itu ilmu dunia apaap ilmu dunia. Jadi sekuler gitu. Sekuler tidak ee memisahkan antara ilmu agama dan dengan ilmu akhirat gitu. Karena itu maka kalau misalkan belajar
16:12 ilmu fikih, belajar ilmu bahasa Arab, belajar ilmu tafsir dan sebagainya dianggap sebagai ilmu agama. Sedangkan ilmu-ilmu yang lain itu tidak. Dan karena itu maka mereka tidak bisa apa-apa. Jadi hanya di lisan saja. Jadi ketika tadi saya sebutkan bahwa level satu itu adalah menghafal, level kedua memahami, level ketiga itu adalah menerapkan. mereka itu enggak bisa menerapkan karena penerapannya itu kan ada dalam ilmu-ilmu yang mereka anggap sebagai ilmu duniawi. Jadi misalkan begini, bikin masjid itu sebuah keharusan. Gimana cara bikin masjidnya? Itu kan pakai matematika, pakai ekonomi, pakai teknik sipil, tapi kan mereka enggak ngerti. Akhirnya bangun aja sendiri runtuh gitu. Nah, jadi mereka itu sekuler. Memisahkan kehidupan duniawi dengan kehidupan agama. memisahkan antara pendidikan ee
16:57 ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu akhirat. Ya, dipisahin aja yang seperti itu. Dan kemudian mereka mengajak orang-orang, mengajak santri-santri untuk meremehkan ilmu-ilmu yang mereka tuding sebagai ilmu duniawi. Ngapain belajar matematika? Emang nanti di alam barzakh bakal ditanya yang seperti itu. Ngapain belajar biologi? Dan Allah mah tidak akan pernah memasukkan ke surga atau ke neraka berdasarkan pengetahuan tentang biologi. Nah, dan lain sebagainya. mereka itu ajarin yang seperti itu. Hanya gara-gara mereka enggak ngerti dan enggak bisa ilmu-ilmu itu, mereka kemudian mengingkarinya, gitu. Nah, itu adalah ee kesalahan yang kelima yaitu sekuler dalam pendidikan. Kemudian yang keenam itu karena mereka ini kesalahan berikutnya ya, kesalahan keenam karena mereka itu tidak ngerti ilmiah. Mereka itu tidak memahami dan
17:44 tidak terbiasa dengan kalkulasi, tidak terbiasa dengan perdebatan dan menganggap ilmu itu harus dipisah seperti itu. Maka mereka itu enggak ngerti how dan enggak ngerti why. Jadi, misal begini, mereka tahu bahwa berzina itu haram. Bagaimana cara menghindarkan manusia dari zina? Mereka enggak tahu, enggak tahu caranya, enggak tahu, enggak ngerti hoya. Makanya di pesantren-pesantren itu banyak pencabulan, lebih banyak daripada sekolah biasa. Mereka tahu bahwa penyimpangan seksual itu haram. Bagaimana cara memberantas penyimpangan seksual itu? Oh, mereka enggak ngerti karena enggak tahu biologi, enggak ngerti apa-apa, enggak ngerti psikologi gitu ya. Akhirnya apa ya? Di dalam pondok pesantrennya itu banyak kasus-kasus penyimpangan seksual. Jadi
18:31 laki-laki main sama laki-laki, perempuan main sama perempuan, kiai sama santrinya dan sebagainya. Itu kasus seperti itu tuh banyak. I kan jauh lebih banyak daripada di lembaga-lembaga pendidikan yang biasa. Nah, karena apa? Karena mereka tahu bahwa itu tuh haram. Tapi bagaimana caranya? Ho, bagaimana caranya mereka enggak pernah bisa melakukan itu. Nah, atau misalkan coba mereka itu bisa ceramah tentang kejahatan Israel, mereka bisa ceramah tentang genosida Palestina. Bagaimana cara ngalahin Israel? Mereka enggak pernah ngajarin itu karena enggak bagaimana caranya tuh mereka enggak tahu gitu. Makanya di lingkaran coba Baraya cek ya, ada sebuah pesantren di satu tempat. Kriminalitas di sana turun enggak sejak ada pesantren itu? Perzinahan di sana turun enggak sejak ada pesantren itu? Ya enggak, biasa aja
19:16 karena enggak ngerti how-nya bagaimana gitu apalagi why gitu. How aja mereka tuh enggak ngerti gitu. Makanya berumah tangga itu baik. Bagaimana cara mempertahankan rumah tangga itu? Kalau ditanya kiai-kiai itu bisa menjelaskan panjang berdasarkan dalil ini, kitab anu apa, tapi banyak di antara mereka yang rumah tangganya tidak bahagia bahkan bercerai gitu. Dan biasa ulama-ulama, ustaz-ustaz itu yang bercerai itu ya biasa karena apa ya mereka tidak bisa mempertahankannya. Kenapa tidak bisa mempertahankannya? Karena enggak tahu haya itu bagaimana. Tapi kalau ceramah tuh bisa. Ceramah tuh bisa karena apa? Ya di lisan saja yang level tadi menghafal. menghafal itu. Nah, kalau misalkan sudah menerapkan level 3 belum berpikir menerapkan mereka tuh sudah enggak bisa karena enggak tahu hnya tuh bagaimana. Coba kita bisa diskusikan hal itu ya. Tapi itu yang keenam. Kemudian yang ketujuh, kenapa mereka itu enggak
20:01 bisa menjawab ho dan enggak bisa jawab why? Ya, karena mereka itu menjadikan guru itu sebagai pusat dari ilmu pengetahuan, pusat dari kesadaran gitu. Nah, ini kelirunya gitu. Saya melihat banyak sekali kiai-kiai yang untuk berbicara, untuk menyampaikan pesan aja kesulitan gitu, tetapi ya tetap diikutin dan tetap dianggap ini berkah, ini karamah dan dan lain sebagainya gitu. Nah, inilah sebenarnya yang menjadi salah satu masalah kenapa di pesantren itu banyak kejadian-kejadian pencabulan. Kenapa seperti itu? Ee ada beberapa pengamat yang sampai mengatakan banyak pencabulan yang terjadi di santri eh di pesantren-pesantren itu karena mereka itu ngikut taklid buta pada guru. Demi
20:47 tabaruklah, demi cari berkah dan sebagainya. Guru ngomong kayak gini gitu diikutin gitu. Jadi sumber pengetahuan mereka sumber kebenaran itu pada individu gitu kan. Kan seharusnya begini Baraya kebenaran itu berdiri sendiri dan sumbernya itu bisa didapatkan dari manapun. Nah, tetapi kalau orang-orang itu yang biasa di pesantren-pesantren dan terdoktrin itu, itu kebenaran itu ber ee tergantung pada siapa yang mengatakannya. Jadi, kalau yang mengatakannya salah, ya kebenarannya jadi ikut salah gitu kayak gitu. Jadi ngikutin ulamanya aja gitu. Makanya ketika ulamanya bikin cerita kayak kemarin ada zikir zakar gitu ya, pelecehan seksual sesama jenis, kemudian ada ah banyaklah ada Mas Beci yang zaman dulu itu gitu. Ada banyak sekali kasus-kasus di pesantren itu yang benar-benar ee memalukan dan memilukan.
21:33 Tetapi ya karena kiainya seperti itu ya sudah ngikut. Jadi jadi benar dan salah tergantung pada individu gitu. Jadi makanya mereka juga akhirnya kalau misalkan ada yang mengkritik mereka tuh bukan nyari isinya apa, tapi siapa yang mengatakannya gitu. Kamu siapa? Kamu orang mana? Kamu kan enggak ngerti soal pesantren. Kamu kan tidak pernah ada di dalamnya. Begitu gitu. Karena mereka itu melihat benar dan salah itu tergantung pada individu. Di pesantren, tergantung pada gurunya. gurunya mau ngomong gini gitu dan sebagainya. Bahkan ketika gurunya misalkan melakukan pelecehan kepada Tuhan, ada bangunan runtuh gara-gara kesalahan mereka sendiri. Kemudian yang disalahin Tuhan. Ini takdir Tuhan. Dia melakukan pelecehan pada Tuhan, tetapi dia akan dibela habis-habisan sama para santrinya. Enggak apa-apa Tuhannya dilecehkan, enggak apa-apa. Enggak apa-apa Tuhannya
22:18 disalahkan, enggak apa-apa. Yang penting gurunya jangan disalahkan. semuanya guru. Jadi memujanya kepada guru. Makanya di antara e santri-santri itu banyak yang rela jalan bebek di depan kiainya, mencium kaki kiainya banyak. Demi apa? Demi berkah. Padahal Nabi aja enggak pernah kayak gitu. Bahkan Tuhan pun tidak pernah kayak gitu. Ya, tapi ya anggap ya ini makanya mereka itu sangat fanatik kepada gurunya dan itu diajarkan memang secara sistematis tuh diajarkan seperti itu. Nah, ini yang menjadi pusat dari kesalahan itu poin nomor tujuh. Dan karena mereka itu berpusat pada gurunya, benar salah itu tergantung pada gurunya, maka mereka itu enggak akan mempan kalau mendapatkan dalil. Bahkan dalil Quran dan sunah pun akan mereka abaikan kalau berbeda dengan
23:05 perkataan gurunya. Coba beraya baca Quran kemudian tunjukkan dalilnya bahwa misalkan jalan bebek tuh diharamkan dalam Quran, dalam hadis misalkan begitu. Mereka tuh kamu enggak ngerti apa-apa. Karena tafsirnya itu harus gini. Nah, mereka tuh Quran, sunah itu disingkirkan tafsirnya. Tafsir dari siapa? Dari gurunya yang dipakai. Jadi walaupun ada dalilnya diabaikan yang dipakai itu adalah kamu kan enggak ngerti tafsirnya, kamu kan enggak ngerti bahasa Arab. Tuh kan ini maksudnya adalah begini. Jadi tafsirnya bahkan baraya coba ya di pesantren-pesantren itu ee pesantren-pesantren salaf itu jarang yang ngajarin Quran dan sunah sih. Tapi kalaupun misalkan ada ya kalaupun ada. Nah, baca Quran itu enggak boleh sendirian harus dibimbing. Sedangkan kalau baca penafsiran dari
23:50 gurunya, dengar dari penafsiran gurunya itu enggak apa-apa, sendirian juga. Jadi kalau baca Quran dan hadis mereka kira itu kalau enggak dibimbing bisa menjadikan orang sesat. Tapi kalau belajar logika dan tafsiran dari gurunya itu enggak boleh. Jadi, ya itu karena otoritasnya dari situ. Makanya jangankan ya jangankan buku-buku ilmu pengetahuan, jurnal-jurnal ilmiah, penelitian terbaru, jangankan yang seperti itu, itu semuanya akan dilanggar. Quran, hadis aja akan diabaikan kalau tidak sesuai dengan tafsir dari gurunya atau logika berpikir dari gurunya. Begitu kan? Makanya sering sekali akhirnya bernala rendah kalau memang hasilnya menjadi seperti ini. Itu poin keedelapan. Poin kesembilannya, gurunya kenapa bisa
24:36 menafsirkan dan diikuti dan sebagainya? Ya, karena ternyata si gurunya itu karena sudah biasa disanjung, sudah biasa menjadi pusat kebenaran, mereka itu sudah terbiasa untuk bikin-bikin ajaran baru tanpa pengetahuan, tanpa dasar, tapi mereka bikin ajaran baru. Kayak saya saya punya e kerabat dia pesantren. Nah, di dalam pesantrennya itu ada pengajaran kurang lebih seperti ini. Kalau kamu mau hafal Quran dengan cepat, maka puasa dari jam .00 malam sampai jam 12.00 malam berikutnya hampir 24 jam. buka dan sahurnya itu di waktu yang hampir bersamaan. Saya saya bisa tunjukkan pesantrennya yang mana yang seperti itu baraya, tapi itu ada. Nah, ajaran itu dari mana? Quran enggak ada, hadis enggak ada, jurnal penelitian mengharamkan itu. Ahli biologi, ahli
25:22 syaraf, ahli neurologi, ahli pangan, ahli gizi, semuanya pasti menyangkal itu, pasti membantah itu. Tapi sumber dari sumber mereka itu dari mana? Ee ya ini kebiasaan kiai, kami juga melakukan itu maka kami juga melakukan itu gitu ya. sesederhana itu gitu. Jadi otoritas benar dan salahnya itu ngikutin kiai. Mau dia benar, mau dia sesuai dengan Quran dan hadis, mau sesuai dengan penelitian ilmiah dan sebagainya yang ngikutinnya ke situ gitu. Itu parahnya itu yang seperti itu. Jadi ya gimana mau berkembang, gimana mau maju kalau misalkan santri-santrinya semuanya memusatkan kebenaran dan kejahatan itu ee kepada gurunya. Sedangkan si gurunya itu bebas untuk bikin. Makanya coba baraya ya datang ke sana. Ini juga pesulap merah sering bongkar ya kayak gitu ya. Tapi pesulap merah mah nyerangnya ke dukun gitu ya. Nah, coba
26:09 misalkan baraya datang. E, saya pengin ilmu kebal. Oh, kalau mau ilmu kebal wiridnya gini. Kalau mau dapat jodoh cepat wiridnya gini. Itu ngarang sendiri. Ada yang bacaan ini 1000 kali di pagi hari, ini 1000 kali di ini kali dan sebagainya. Ada ajaran hisibnya begini, nanti selawatannya begini, nanti ininya begini. Bagaimana caranya untuk kaya? Bagaimana caranya lepas dari hutang dan sebagainya. Ini wiridnya seperti ini. Lepas utang tuh bukan berpikir bagaimana caranya berusaha agar bisa melunasi. Bukan. Tapi dikasih wirid ini, dikasih wirid itu. Siapa yang bisa ngarang-ngarang ajaran seperti itu? Di Quran, di hadis tuh enggak ada. Ya, gurunya yang bikin sendiri seperti itu tuh gurunya aja dan diikutin sama orang-orang, diikutin sama santri-santrinya gitu. Jadi semakin jauh
26:56 dari kebenaran dan semakin jauh dengan realitas hari ini gitu. Jadi pada enggak nyambung gitu. Nah, itu poin keesembalahan. Em kemudian yang ke-10 itu karena kebenaran itu tergantung pada individu, bukan pada kebenaran universal, tapi pada kebenaran individu. Jadi orang ini benar ee kita ikutin kalau orang ini pasti salah gitu ya. Bukan bukan isinya tapi orangnya. Karena terbiasa untuk seperti itu, maka mereka itu biasa menggeruduk pengajian lain. Sekarang banyak kan pengajian-pengajian saling geruduk satu sama lain gitu kan. PWI sama Habib-Habib geruduk-gerudukan ee NU ke Wahabi digeruduk-gerudukin dan lain sebagainya. Kenapa sih digeruduk seperti itu? Karena mereka itu enggak melihat benar dan salah itu berdasarkan e aslinya seperti itu, tapi berdasarkan
27:43 siapa yang mengatakannya. Jadi gurunya akhirnya genggengan, ya udah akhirnya ikut-ikutan geng-gengan semuanya gitu. Jadi guru ini, pengikut guru ini, pengikut guru itu, pengikut guru itu, dan sebagainya ya akhirnya ngikutin. Nanti dalam pemilu gurunya dipegang sama partai politikus ya akhirnya ngikut ke situ nanti apa semuanya terpusat pada gurunya. Akhirnya agama itu ya ada agama saya mah sesuai dengan ini, agama saya mah sesuai dengan itu, bukan sesuai dengan teks. Akhirnya ya kacau semuanya jadi primordial, jadi terpolarisasi, terkotak-kotakan, akhirnya membenci satu sama lain. Umat muslim itu kan terpecah belah kan. Jadi begitu banyak golongan. Ya, karena itu, karena bukan mengikuti benar dan salahnya, bukan ngikutin dalil, tapi ngikutin penafsiran dari manusia dan kemudian penafsiran dari manusia itu disakralkan sebagai bagian
28:29 dari agama. Video ini juga mungkin akan dipotong-potong ya, kemudian dijadikan ujaran kebencian dan sebagainya. Tapi sekali lagi ya, ingat ya, pesantren sekarang tuh turun terus-terusan. Saya sudah memperingatkan sejak 5 tahun yang lalu. Jadi kalau misalkan tidak mau peduli, tidak mau memperbaiki diri, ya terima kasih karena sudah menyimak. Saya guru gembul. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.