0:00 Assalamualaikum B. Selamat datang kembali di Guru Gembul Channel. Sekitar satu du tahun terakhir Indonesia terus-menerus dibombardir oleh isu-isu negatif terkait dengan kondisi negara Indonesia. Sebagian dari isu-isu itu menyedot perhatian sampai ada di level viral. Dan sebagian yang viral itu ada yang secara organik memang viral, memang menyita perhatian, dan ada juga yang memang diviralkan oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki kekuatan besar untuk mengontrol media. Saya menggunakan analisis media Enigma seperti yang Baraya ketahui dan saya menemukan misalkan beberapa e isu-isu negatif bahkan yang sudah lewat masanya itu masih dibicarakan di media sosial. Misalkan isu Indonesia gelap itu di
0:46 bulan September ee saat ini ee video ini dibuat sebelum bulan September itu berakhir. Tetapi di bulan September itu masih ada 7 juta orang yang membicarakannya di media sosial. Kemudian ada juga demo DPR itu 240 juta orang dan ini turun setengahnya dibandingkan bulan yang sebelumnya. Kemudian ada kuota haji 230 juta orang yang membicarakan. Kemudian ada judi online. Yang ini konsisten di Indonesia ada di kisaran ee 50 sampai 80 juta penayangan per bulan Indonesia di judul. Ada juga isu-isu yang nampaknya sengaja diviralkan dan dipelihara keviralannya oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki kekuatan. Di antaranya adalah Kementerian Keuangan itu dibicarakan
1:33 sampai 1,2 miliar kali dalam 1 bulan di bulan September aja. Dan saya pernah bilang di beberapa episode bahwa di antara semua kementerian di Indonesia yang paling kuat bazarnya itu adalah Kementerian Keuangan. Kemudian KDM itu 500 juta tayangan per bulan. Kemudian Kang Emil 123 juta penayangan ee bulan ini ya. Dan kemudian ada ijazah Jokowi 123 juta e penayangan per bulan itu ditambah yang lain-lain misalkan dengan Gibran dan sebagainya itu lebih banyak lagi. Nah, dari isu-isu yang berkembang, yang diviralkan maupun secara organik viral itu ada satu hal yang membuat saya berpikir keras bahwa isu-isu itu yang sebagian di antaranya adalah isu yang
2:19 sangat negatif dan sangat sensitif itu ternyata tidak mampu memberikan gebrakan yang lebih terhadap kemajuan bangsa Indonesia. Katakanlah kita memang harus berterima kasih kepada media sosial di mana mereka sekarang memberikan kontrol politik dan kontrol sosial yang sangat besar sedemikian sehingga kebijakan-kebijakan tertentu sekarang cukup banyak di kontrol atau setidaknya disesuaikan dengan kehendak publik. Atau misalkan ada juga pejabat-pejabat yang dipaksa turun atau ada pejabat-pejabat yang mencoba dilengserkan atau dijatuhkan reputasinya. pejabat yang buruk. Maksudnya itu juga oleh media sosial dan kita memang layak untuk mengapresiasi dalam hal ini kinerja dari masyarakat yang sekarang menjadi pengawas dari ee dari
3:05 kebijakan-kebijakan maupun ee individu-individu dari para pejabat di Indonesia. Tetapi di sisi lain, ada beberapa di antaranya yang bertanya-tanya, kenapa dengan begitu banyaknya isu yang negatif terhadap Indonesia, tidak ada kekuatan yang cukup untuk misalkan menggerakkan seperti halnya yang terjadi di Sri Lanka atau di Nepal misalkan seperti itu. Ketika kemarin Nepal misalkan bergolak kemudian ada di media sosial celetukan-celetukan Indonesia gagal ee bikin kerusuhan tapi gagal untuk meruntuhkan rezim. Berarti harus begini dan begitu dan sebagainya. Nah, kenapa bisa seperti itu? Ee sebenarnya saya memiliki jawabannya dan kalau misalkan secara teoritis saya rekomendasikan Baraya untuk membaca buku-buku Karmax terkait dengan teori konflik mungkin akan menjawab banyak hal
3:50 terkait dengan kenapa konflik di Indonesia relatif gagal untuk bisa mencapai tujuannya. Dan kalau misalkan kita melihat beberapa kasus di antaranya seperti pagar laut misalkan, pagar laut itu menyita perhatian publik dan kemudian mendorong orang untuk melakukan demonstrasi besar-besaran dan sebagainya. Tapi setelah itu senyap dan setelah senyap ya sekarang jalan lagi. Bahkan ada di tempat lain kemunculan pagar laut berikutnya yang ya ternyata gagal untuk viral gitu. Atau misalkan kejadian kemarin tambang di raja itu membuat demonstrasi besar-besaran masyarakat Indonesia karena khawatir lingkungan di Papua yang sangat terjaga yang masih perawan itu sekarang malah dipakai tambang yang keuntungannya hanya untuk segelintir orang saja misalkan.
4:36 Nah, setelah viral tambang-tambang itu ada yang ditutup dan ada yang dihentikan. Tetapi setelah viralnya hilang eh lanjut lagi gitu. Atau misalkan kasus Pak Ferdi Sambo gitu. Pak Ferdi Sambo itu yang cukup menarik perhatian saya karena setelah kejadian Pak Ferdi Sambo itu viral, beliaunya ditangkap, diadili, dan ditayangkan secara live pengadilannya. Dan setelah itu vonis dijatuhkan, ya sudah selesai. Ada kisah bahwa Pak Ferdi Sambut ternyata tidak dipenjara. Kisah itu tidak viral. Ada kasus, ada cerita bahwa ee pejabat-pejabat atau perwira-perwira polisi yang terlibat dalam kasus Pak Ferdi Sambo itu sekarang diaktifkan lagi bahkan naik pangkat dan sebagainya. Itu
5:21 juga nampaknya tidak memicu ee kepanikan publik atau itu tidak menjadi perhatian publik gitu. Jadi kalau misalkan ada yang viral niik, tapi kalau misalkan ditahan beberapa saat jatuh lagi gitu. Kasus korupsi timah misalkan yang katanya 300 triliun itu gitu. Setelah ee orang-orangnya divonis itu kan jalan lagi sebenarnya pertambangannya itu jalan lagi gitu. Jadi apa-apanya juga sebenarnya jalan lagi, apa-apanya juga semuanya balik lagi gitu. Nah, artinya ya ngapain kita rusuh-rusuh, ngapain kita ribut-ribut kalau ternyata kita tuh hanya ditunggangi dan menunggangi keviralan. setelah viralnya usai ya sudah tidak terjadi apa-apa gitu. Nah, setelah ditelisik-telisik saya pikir sih salah satu alasannya itu adalah mental dari masyarakat kita yang memang
6:07 inferior gitu. Dan ini sebenarnya sudah sering saya sampaikan, tetapi maksud saya adalah masyarakat Indonesia yang inferior itu ditandai dengan karakteristik mereka itu tidak mau tampil ke depan, mereka tidak mau memimpin kecuali dalam kelompok besar, dalam gerombolan besar gitu. Jadi kalau misalkan kita melihat kenapa reformasi tahun '98 itu berhasil dalam tanda kutip ee menggulingkan rezim misalkan kemudian mengganti konstitusi dan sebagainya ya karena gelombang besar masyarakat itu kemudian didatangi oleh satu figur sentral pada waktu itu adalah Pak Amin Rais yang kemudian disebut sebagai Bapak reformasi yang sejak saat itulah akhirnya gerakan-gerakan mahasiswa itu menjadi lebih terarah, terkoordinir gitu
6:53 dan lain sebagainya gitu Atau kalau kita melihat kasus yang bahkan sebelumnya lagi misalkan emm krisis tahun 1966 gitu, Pak Karnonya bisa lengser itu karena ada figurnya pada waktu itu yaitu Pak Harto yang walaupun tidak banyak berbicara tetapi mampu bertindak gitu dan menjadi ee pada waktu itu ya menjadi simbol bagi perlawanan. Begituun dengan contoh-contoh yang lain. Jadi maksud saya masyarakat Indonesia itu karena mereka inferior maka mereka itu berharap setiap perubahan, setiap perbaikan itu dikomandoi oleh pihak tertentu. Jadi masyarakat Indonesia menginginkan kalau mereka bersuara mereka ingin ada yang menyambung lidahnya, menyambung lidah rakyat gitu. Jadi harus di komando,
7:38 harus ada pemimpinnya. Saya saya melihat misalkan kasus yang seperti ini itu pada umum terjadi misalkan kemarin ee di Bandung ini saya orang Bandung di Bandung itu ada pasar yang luar biasa kotor bau bau namanya Pasar Caringin. Nah pasar Caringin itu sudah terkenal sedemikian rupa kotor, tidak higienis dan lain sebagainya. Lalu mereka itu berharap, "Pak, Pak penguasa tolong dong ini bersihkan, rapian, kelola pasar Caringin dengan baik agar kita tuh bisa bersaing dengan mall-mall modern gitu. Datanglah KDM ke sana dibersihin sama KDM sampai tuntas. Setelah itu apa? Dibikinkan sistemnya. Gimana caranya pengelolaan sampah, gimana cara memperbaiki, gimana caranya ee ya mengelola para petugas kebersihan dan
8:25 sebagainya. Setelah KDM-nya pergi, sehari kemudian kotor lagi. Luar biasa. Jadi kenapa bisa seperti itu? Karena masyarakat Indonesia yang ada di Pasar Caringin pada waktu itu berharap agar mereka itu ini situasinya kondisinya kotor, tetapi berharap agar ada orang lain yang mau membersihkannya untuk mereka gitu. Nah, jadi kan KDM-nya sendiri bett gitu. Saya sudah bersihin sekarang kotor lagi ya. Itu mah udah urusan kalian. Itu kemauan kalian sendiri. orang sayanya sudah melakukan ini itu gitu. Dulu saya pernah datang ke Pasar Caringin. Pasar Caringin itu pasar yang dikelola oleh swasta dan saya tidak akan lagi menangani pasar tersebut karena saya sudah memberikan arahan sejak awal, saya sudah mengambil
9:10 tindakan, saya sudah membersihkan dan selanjutnya harus diurus sendiri karena pemerintah tidak memiliki relevansi terhadap pengelolaan pasar Caringin. Nah, itu persis seperti yang terjadi di Indonesia untuk kebanyakan kasus. Kita tuh berharap ada pihak yang lain yang mengomando kita untuk bergerak memperbaiki. Makanya di Indonesia yang selalu viral itu, pimpinan-pimpinan yang selalu viral itu adalah pimpinan-pimpinan yang berhasil membangun citra diri gitu. Ketika misalkan Pak Jokowi naik ke pucak pimpinan langsung viral dielu-elukan, dianggap sebagai Mesias, dianggap sebagai satrio piningit, dianggap sebagai penyelamat bangsa dan lain sebagainya. Kenapa enggak ada di antara mereka tuh yang
9:56 berpikir bahwa Indonesia tuh bobrok, Indonesia tuh jelek, Indonesia tuh kacau. Maka mereka membutuhkan pahlawan. Pahlawan itu siapa? Saya. Saya akan menjadi pahlawan bagi Indonesia. Kan seharusnya yang dipikirkan itu adalah seperti itu. Tapi alih-alih kita berharap menuntut kepada diri kita sendiri untuk menjadi solusi atas masalah yang ada, kita berharap orang lain yang menjadi solusinya. Ketika KDM muncul, semua orang langsung berteriak, "Semoga KDM menjadi presiden. Semoga ini." Ya, kenapa enggak dirinya aja yang berpikir, "Sayalah yang akan menjadi presiden dan akan menyelamatkan Indonesia. Sayalah yang akan menjadi pemimpin bangsa dan kemudian menjadi pahlawan bagi orang-orang yang tertindas." Kenapa enggak berpikir seperti itu? Nah, inilah mindset yang saya melihat selalu aja terjadi di
10:42 Indonesia. Kita tuh berharap pada pihak lain. Coba kalau misalkan baraya lagi bangkrut, apa yang pertama kali dipikirkan? Ada enggak teman yang bisa dipinjamin duit? Teman saya ini kalau misalkan dia si teman itu tidak mau ngasih kita pinjam duit, kitanya kecewa, kitanya marah, akhirnya enggak jadi temenan. Begitu kan. Itu yang terjadi pada Pak Jokowi. Misalkan setelah Pak Jokowi itu terlibat skandal begini begegitu, wah saya kecewa, saya menyesal sudah memilih Pak Jokowi. Gitu aja terus. Setiap ada ini dipilih dieluk-elukkan dengan bangga. Nanti setelah jatuh, wah saya menyesal. Nanti ada orang lain gitu lagi langsung fanatik kepada orang itu. Berharap padanya, menimbun sukacita padanya,
11:27 fanatisme padanya, kemudian mensakralkan dirinya. Nanti kalau kalau orang itu sudah jelek, orang itu sudah staminanya habis, cakranya sudah habis, ah saya menyesal dulu pernah ngedukung itu, nanti ada lagi gitu aja terus-terusan. Jadi masyarakat Indonesia itu tidak pernah menganggap, tidak pernah bercermin. Coba lihat di kaca kita tuh kan sebenarnya punya potensi. Ada di antara kita yang miskin, tapi sebenarnya kita sadar bahwa kita cerdas. Ada di antara kita yang sadar bahwa diri kita tuh bodoh, tapi kita tuh punya koneksi yang kuat. Ada yang kita tuh berpikiran bahwa saya tuh tidak punya koneksi yang kuat, tapi saya punya memiliki kemampuan dan bakat yang sangat luar biasa. Kita tuh tidak ngaca pada diri sendiri, tidak melihat potensi diri sendiri, tidak memandang diri kita sendiri itu sebagai
12:13 makhluk ciptaan Tuhan yang sebenarnya sempurna apa adanya tentang diri kita sendiri. Enggak. Kita justru malah berpikir bahwa kalau ada masalah, kalau ada sesuatu yang buruk, kita melihat orang lain. Siapa yang sekarang harus kita kagumi? Oh, orang itu harus kita kagumi karena dia merakyat. Hidup, hidup, hidup, hidup. Lalu mensakralkan dia. Pas dia jelek, jatuhkan lagi. Oh, orang itu yang sekarang jadi harapan kita, jadi tumpuan kita. sakralkan lagi, glorifikasi lagi. Ada yang mengkritik kita marah-marah lagi. Pas dia sudah jatuh, pas dia sudah lemah, pas dia sudah berkhianat, lemah lagi. Kita cari lagi. Bukan lihat pada diri kita sendiri. Apakah diri kita bisa diandalkan? Apakah diri kita itu bisa menjadi pahlawan? Apakah diri kita itu bisa menjadi solusi bagi masa depan bangsa kita? Tidak. Tidak. Tidak seperti
13:00 itu. Kita berpikirnya orang itu, orang itu, yang orang itu, orang itu. Makanya setiap ada pemilu, ya orang inilah yang bakal begini, orang itu terus aja seperti itu baraya. Kapan selesainya gini? Kita terlalu inferior, baraya. Jadi please, mental seperti itu tuh mental yang buruk. Ingat catat saya tuh sering ngomong berkali-kali baraya bahwa ketika kita berharap pada pihak lain, berharap pada orang lain, bersiap-siaplah untuk dikecewakan. Cowok baraya yang pernah jatuh miskin, yang pernah jatuh dan tidak bisa bangkit lagi, katakanlah seperti itu. Pada momen itu, siapa di antara teman-teman baraya itu yang mau nolong? Enggak banyak kan sebenarnya. Enggak. Karena mereka tuh
13:46 punya kebutuhan masing-masing. Mereka punya cerita masing-masing. Mereka punya penghidupan masing-masing. Jadi jangan berharap bahwa kalau misalkan baraya punya teman orang kaya, lalu baraya ke bawa kaya gitu. Enggak. Kalau baraya misalkan berteman dengan orang-orang yang jenius kemudian baraya otaknya ke bawa jadi IQ-nya tinggi juga enggak. Seperti itu. Enggak. Baraya bisa ke bawah jenius kalau misalkan baraya berteman dengan orang jenius dan kemudian memanfaatkannya. Baraya kemudian bisa jadi orang kaya. Hanya gara-gara berteman dengan orang kaya, bukan tetapi gara-gara baraya memang layak untuk jadi orang kaya sama seperti mereka dan sebagainya. Jadi mulai dari hal yang sederhana, jangan pernah berharap pada pihak lain. Baraya punya kontrol penuh. Baraya punya kuasa penuh pada diri Baraya sendiri. baraya tidak
14:33 bisa mengontrol orang lain. Dan karena itu maka satu-satunya orang yang bisa membuat diri baraya itu menjadi berkualitas dan menjadi solusi bagi begitu banyak kerusakan itu adalah baraya sendiri. Jadi, jadilah orang yang berkualitas, jadilah orang yang hebat dan tunjukkan kepada masyarakat di dunia bahwa barayalah harapan dan cita-cita orang lain, bukan sebaliknya. Terima kasih kalau sudah menyimak. Saya guru gembul. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.