0:00 Assalamualaikum B. Selamat datang kembali di Guru Gembul Channel. Sejak Pak Purbaya memimpin Kementerian Ekonomi Republik Indonesia, semakin banyak caci maki dan ujaran kebencian terhadap Ibu Sri Mulyani sebagai Menteri Ekonomi sebelumnya. Banyak di antaranya yang ngomong kurang lebih seperti ini. Aduh, ternyata punya Menteri Keuangan tuh seperti ini rasanya. Halo, ke mana aja yang kemarin? Kenapa dari dulu enggak kayak gini dan seterusnya dan seterusnya gitu ya. Eh, tapi tentu saja saya tidak menganjurkan orang-orang untuk mengkultuskan satu individu dan kemudian menjelekkan individu yang lain. Dalam benak saya, dalam pikiran saya, Ibu Sri Mulyani dan Pak Purbaya itu memiliki idealisme yang sama-sama tinggi. Cuman
0:47 perbedaannya adalah pada inisiatif mereka dan pada gaya kepemimpinan mereka. Kita bisa meringkas itu semua dalam beberapa poin. Ibu Sri Mulyani itu adalah figur Menteri Keuangan yang sangat defensif. Perencanaannya ketat, disiplin fiskal, kredibilitas, berbasis data, inklusif, kemudian sangat berhati-hati dan kolaboratif. Sedangkan Pak Purbaya itu sebaliknya itu sangat cepat kemudian mendorong pertumbuhan ekonomi kemudian fleksibel dan sangat beradaptatif kemudian kemampuan teknis dan teoritisnya berpadu secara sekaligus kemudian cenderung agresif dan ambisius dan mengkomando serta memiliki kontrol yang ketat langsung datang ke lapangan
1:34 dan beliau adalah orang yang sangat demonstratif. Nah, ini adalah perbedaan karakter di antara mereka. Jadi kita bisa lihat apa yang terjadi di masa-masa sebelumnya ketika berhadapan dengan pemerintah daerah. Ibu Sri Mulyani itu ngasih anggaran kemudian ngasih bimbingan, kemudian ngasih asistensi satu demi satu dirunut secara detail. Bapak nanti anggarannya kalau bisa diarahkan ke sini ya. Kalau bagian ini laporannya begini ya begitu begegitu. Nah, itu adalah karakteristik dari Ibu Sri Mulyani. Sedangkan karakteristik dari Pak Purbaya itu datang ke satu tempat dan langsung memberikan punish and reward. Datang ada yang tidak disiplin, datang ada yang korupsi, wah saya akan persulit kehidupan kamu. Kan ngomongnya seperti
2:20 itu. Selamat pagi. Saya mau melaporkan setiap hari saya melihat petugas BA Cukai yang nongkrong. Jadi saya baru tahu walaupun kita sudah mau gebrak-gebrak, Mas ini di bawah seperti ini. Artinya mereka enggak peduli. Dianggapnya saya main-main. Bilang hari Senin ke depan kalau ada yang ketemu begini lagi akan pecat. Walaupun katanya mencatat pe negeri susah saya akan pecat. Saya persulit hidupnya masa nongkrong di Starbucks pakai seragam. Kira-kira lu kalau mau itu yang sopan-sopan dikitlah paling enggak enggak kelihatan ini kan. Jadi kelihatan bahwa kalau mereka lapor bagus-bagus terus kelihatan lapangannya begini. Nah, ini yang justru kita minta masukan dari teman-teman masyarakat semua biar kita betulin pelan-pelan. Jadi, langsung evaluasi, langsung kritik, langsung sidak. Dan karena itulah maka ketika Ibu Sri Mulyani itu kalau ngasih anggaran kemudian ada
3:06 bagian yang tidak klop dan tidak cocok itu nunggu satu periode dulu baru tahun berikutnya itu dikurangin. Sedangkan Pak Purbaya itu datang menemukan ada yang janggal langsung dirubah pada waktu itu juga langsung diambil duitnya dan kemudian disalurkan kepada instansi atau daerah yang lain kan begitu. Nah, karakteristik itu tuh beda, tapi sebenarnya masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan saya pikir tidak harus ada satu pihak dikultuskan atas pihak yang lain. Atau misalkan kita melihat pada bagaimana perilaku mereka dalam menghadapi ekonomi global. Jadi, Pak Purbaya itu cenderung agresif dan yang paling penting dalam benaknya itu adalah si uang itu terdistribusi dengan sangat
3:52 baik untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Baru setelah itu porotin duitnya dari pajak. Sedangkan Ibu Sri Mulyani ambil dulu pajaknya karena yang paling inti itu bukan kesejahteraan rakyat tetapi ketahanan devisa dan pendapatan negara. Nah, jadi karena itu maka ambil pajaknya kalau misal digedein sedikit kemudian tarik para investor gimana caranya agar mereka itu datang ke Indonesia iming-imingi dengan pernyataan bahwa misalkan di sini kami digajinya murah enggak apa-apa kok dan sebagainya. Tapi intinya adalah tidak ada di antara mereka tuh yang benar-benar melakukan kesalahan. Yang satu fokus pada pendapatan negara, yang satu fokus pada kesejahteraan rakyat. Dan saya tidak usah berbicara panjang lebar terkait
4:37 dengan hal itu karena saya pikir sudah banyak sekali contonent kreator yang menjelaskan ini gitu ya, Pak Rayon Cin kemudian ngomongin uang dan sebagainya itu juga sudah memberikan penjelasan yang sangat komprehensif terkait dengan perbedaan di antara mereka. Saya di sini justru ingin memberikan pendekatan yang lebih konservatif terkait dengan kenapa mereka itu memiliki karakteristik yang berbeda. Dalam temuan saya, alam pikiran saya, mereka berbeda itu bukan gara-gara sekolah di tempat yang berbeda, bukan gara-gara angkatan tahunnya berbeda, bukan gara-gara mereka dibesarkan oleh kekuatan politik yang berbeda, bukan. Tapi karena mereka memiliki gender yang berbeda. Di mana Ibu Sri Mulyani adalah emak-emak yang protektif. Sedangkan Pak Purbaya itu adalah bapak-bapak koboy dan itu saya akan tawarkan kepada Baraya dengan argumentasi ilmiah, biologis,
5:24 neurologis gitu ya. Jadi bukan masalah fiskal, bukan masalah moneter, bukan masalah apa, tapi gara-gara otak mereka memang beda karena gender mereka itu berbeda. Satu hal yang harus digaris bawahi di sini adalah bahwa ee jenis kelamin manusia itu yang paling utama tuh sebenarnya bukan anunya, tapi otaknya. Jadi organ seksual terbesar manusia itu memang otaknya. Jadi kalau Ibu Sri Mulyani mengeluarkan pernyataan seperti ini dan Pak Purbaya mengeluarkan pernyataan semacam itu, maka saya pikir kita harus mempertimbangkan itu semua diambil karena mereka itu memiliki gender yang berbeda gitu. Baraya bisa cek dalam penelitian dan bukunya Ibu Helen Fiser di bukunya Anatomy of Love yang menyebutkan bahwa karakteristik dalam mengambil keputusan antara
6:09 laki-laki dan perempuan itu memang sangat-sangat berbeda. Karena apa? Salah satu alasannya itu adalah karena ee jembatan antara lak ee jembatan antara otak kanan dengan otak kiri yang dimiliki oleh laki-laki dan perempuan itu sangat-sangat berbeda. Jadi emm corpus kolossumnya itu yang di tengah-tengahnya ini itu yang perempuan memiliki ketebalan yang lebih besar dan kemudian memiliki massa yang juga lebih besar daripada yang dimiliki oleh laki-laki. Ini menyebabkan apa? Ini menyebabkan mereka si perempuan itu sering nyebrang untuk mengambil keputusan. Nyebrangnya itu maksudnya dari otak kiri ke otak kanan, otak kanan otak kiri dan sebagainya. Kalau kita ambil ee pernyataan yang agak kuno dan kontroversial untuk menyederhanakan ya. Kalau kita ngambil pernyataan bahwa otak
6:56 kiri itu cenderung logis, otak kanan cenderung emosional. Nah, perempuan itu ininya besar sehingga logis iya, emosional iya gitu. Kalau kita mau menyederhanakan gitu ya, sehingga perempuan itu setiap mengambil keputusan itu seringkiali jauh lebih lama daripada laki-laki. Laki-laki itu fokus, terarah, presisi kalau ngambil keputusan. Sedangkan perempuan coba kasih kepada mereka dua pilihan baju, yang merah sama yang hijau. Mereka nge-lag-nya itu bisa lama. Karena apa? Karena mereka mempertimbangkan jauh lebih banyak hal daripada laki-laki. Apa itu? resiko dan kesempatan emosional di masa depan itu yang hanya dipikirkan perempuan dan tidak pernah dipikirkan
7:42 laki-laki dalam mengambil keputusan ya karena si perempuan jadi lebih banyak ininya gitu ya pikirannya itu lebih banyak gitu dan karena itu overthinking terhadap masa depannya juga jauh lebih banyak dan karena itu kekhawatiran perempuan terhadap keputusan dan kesimpulannya dipertanyakan oleh orang lain itu juga jauh lebih besar daripada laki-laki. laki-laki relatif ngambil kesimpulan, ngambil keputusan, nanti ada perkataan dari orang lain ke belakang, nanti akan ada gosip, bodo amat, yang penting gas aja terus ke situ, gitu. Dan karena itu laki-laki cenderung untuk mengambil risiko yang lebih besar daripada perempuan. Dan inilah yang akhirnya kita bisa pahami dari kebijakan-kebijakan Pak Purbaya dengan kebijakan-kebijakan Ibu Sri Mulyani. Kebijakan Ibu Sri Mulyani itu sangat hati-hati, sangat defensif, dan
8:29 kolaboratif. menganggap bahwa ee Kementerian Keuangan itu harus berkolaborasi dengan kementerian-kementerian yang lain untuk bisa mengambil sebuah konklusi, untuk bisa mengambil sebuah kebijakan gitu. Nah, sedangkan Pak Purbaya, Pak Purbaya sekarang rela ikhlas dijauhin sama menteri-menteri yang lain, digosipin sama menteri-menteri yang lain, dijauhin dan didemo sama pejabat-pejabat yang lain, enggak apa-apa. Yang penting fokus saya tuh jelas, terarah. Arahnya adalah ke sana. Nanti ada kontroversi, nanti ada yang nge-bully urusan lain, gitu kan. Begitu ya. Dan itu pulalah alasan Ibu Sri Mulyani itu cenderung untuk e fokusnya pada penerimaan negara. Karena apa? Ya, karena dia perempuan. Perempuan itu secara evolusi didorong untuk mempertahankan sarangnya. Sedangkan laki-laki didorong untuk
9:15 berburu di luar sarangnya. Nah, jadi si perempuan akan mempertahankan sarangnya. Ibu Sri Mulyani menganggap negara itu adalah sarangnya dia dan kemudian dia harus pertahankan. Makanya cadangan duitnya harus dibesarkan, ditebalkan, uang dinginnya tuh harus tersedia dalam jumlah yang memadai. Jadi walaupun nanti pertumbuhan ekonominya seret dikitdikit dikit dikit gitu, tetapi aman. Dihajar krisis, dihajar inflasi, dihajar apa itu bertahan. Coba Ibu, sepanjang masa kekuasaan Ibu Sri Mulyani di Kementerian Keuangan itu berapa kali kita diserang krisis dari mulai krisis Covid kemudian sesudahnya yang diprediksi sama Rayuncin akan gelap gitu Indonesia gelap gitu ya tahun 2023 kemudian ada krisis tahun
10:03 2008 dan sebagainya kita tuh bertahan karena memang kecenderungan Ibu Sri Mulyani memang untuk mempertahankan kekuatan ekonomi kita, kekuatan moneter kita. Nah, sedangkan Pak Purbaya itu sebaliknya dia agresif. Nanti ada uang cadangan di sini keluarin semuanya, gelontorin semuanya, investasikan untuk rakyat semuanya, golangkan semuanya. Nah, ini menyebabkan apa? Ini menyebabkan kalau Indonesia ada krisis, ada apa, sebenarnya ekonomi Indonesia itu bakal goyah, gitu. Tetapi Pak Purbaya itu percaya bahwa masyarakat Indonesia yang menggolangkan uangnya itu akan menjadi benteng kekuatan dari ekonomi Indonesia, gitu kan. Nah, jadi agresif dan kompromistis. Sedangkan yang satu lagi kolaboratif dan sangat
10:48 berhati-hati. Nah, ini didasarkan pada kecenderungan otak laki-laki dan perempuan yang memang berbeda. Dan ini bukan hanya terlihat antara Pak Purbaya dengan Ibu Sri Mulyani. Kita bisa melihat semuanya dalam kecenderungan laki-laki dan perempuan di mana-mana. Ee begitu kan? laki-laki misalkan lebih berani untuk ngambil resiko dalam investasi, lebih berani bikin startup, lebih berani bakar uang sampai nangis-nangis untuk cita-cita masa depannya adalah seperti ini. Sedangkan perempuan enggak berani untuk itu. Ada uang ya ditabung, ada uang ya dipertahankan dalam bentuk aset, ada uang ya sudah ini dijadikan sebagai uang cadangan dan lain sebagainya. Tidak langsung di gitu gitu. Makanya yang
11:34 gagal dalam kehidupan itu kebanyakan laki-laki. Yang berhasil dalam kehidupan itu juga kebanyakan laki-laki. Sedangkan perempuan ada di tengah-tengah di antara keduanya. Dan perbedaan yang lain terletak pada bagian manakah yang paling sering digunakan oleh otak laki-laki dan perempuan. Otak laki-laki itu lebih banyak menggunakan area korteks pariatal. Sedangkan yang perempuan itu ada di area limbik prefrontal. Nah, kenapa e dampaknya apa? Dampaknya yang perempuan itu lebih emosional dan lebih personal, lebih detail dan lebih emosional. Sedangkan laki-laki adalah hal yang sebaliknya. Jadi, dalam hal ini perempuan itu akan sangat-sangat cenderung untuk kooperatif dan sangat-sangat cenderung untuk berkolaboratif.
12:20 Berkolaborasi. Dia tuh enggak mau nyakitin orang lain, enggak enakan. takut kalau kebijakannya itu juga berdampak pada orang yang lain dan hal yang seterusnya. Sedangkan laki-laki cenderung tidak melihat secara personal, tapi melihat secara objektif. Jadi, karena melihatnya secara objektif, maka berpikirnya itu lebih analitik dan lebih sistematis, tidak terikat pada hubungan-hubungan yang lebih personal dan hubungan-hubungan yang lebih emosional. Jadi, Ibu Sri Mulia ini cenderung subjektif. Nanti kalau saya minjamkan uang misalkan saya ngelihat orangnya seperti apa, saya harus berhati-hati. Saya khawatir orang ini tuh gimana. Jadi ditunda-tunda dulu,
13:06 pikirin dulu. Kasih orang ini jangan. Kasih orang ini jangan. Kalau dikasih gimana, kalau enggak gimana saya harus melihat dulu latar belakangnya kayak gimana, saya harus lihat dulu. Nah, itu pikirannya Ibu Sri Mulia ini. Kalau misalkan mau minjamin duit. Kalau Pak Purbaya sebaliknya mau butuh duit boleh nih dikasih duitnya. Tapi orang itu tuh di Sandra. orang itu dipegang. Lu mau ke mana aja gua sandra gua pegang enggak boleh lari ke mana-mana sebelum duitnya balik lagi sama saya gitu. Jadi enggak peduli orang ini nanti kayak gimana dipegang aja gitu. Bikin jaminan, bikin peraturan, bikin regulasi. Gimana caranya orang yang minjam hutang sama saya itu bakal balikin dan kalau dia gagal harus ada jaminannya kepada saya. Fix kayak gitu. Nah, begitu kan itu karakteristik dari ee cowok bukan hanya
13:52 menteri koboy, tapi cowok pada umumnya seperti itu. Dan karena lebih tegaan dan lebih mengabaikan unsur-unsur personal, maka laki-laki biasanya juga lebih berorientasi pada hasil. Mau prosesnya berdarah-darah, mau prosesnya kayak gimana, gua enggak ambil pusing. Pokoknya ending-nya seperti itu. Itu kan yang diancamkan misalkan Pak Purbaya kepada KDM. Saya enggak mau ngopi bareng, saya enggak mau apa. Pokoknya data saya menunjukkan ada pengendapan di sini. Coba cek, datangkan datanya ke saya, lakukan sesuai ini, ini, ini. Jadi enggak enggak urusan sama Pak KDM itu mah. Ya, kita sama-sama pejabat publik ya, pokoknya mah urusan aja hasilnya harus begini. Sedangkan Ibu Sri Mulyani kalau ada kejadian seperti
14:38 itu dia biasanya dia akan datangkan asisten, dia datangkan penyuluh. Bahkan Ibu Sri Mulyanya sendiri yang langsung datang ke satu tempat. Oh, gini gini gini. Oh, berarti harusnya caranya seperti ini. Menurut Ibu kayak gimana? Kalau menurut saya mah begini. Oh, i ya kan kayak gitu. Jadi ee sekali lagi ya, ini cenderung bukan gara-gara satu lebih baik daripada hal yang lain, tetapi gara-gara memang mereka memiliki pendekatan yang berbeda dan didasarkan pada basis gender yang berbeda. Dan kita sekali lagi bisa melihat bukan hanya pada sosok Pak Purbaya dan Ibu Sri Mulyani, tetapi sebagian besar laki-laki memang cenderung bersikap seperti itu dan perempuan juga cenderung bersikap seperti itu gitu. Mana yang lebih baik? Ya, harusnya saling melengkapi. Enggak
15:23 ada yang lebih baik dan lebih buruk. Jadi, misalkan begini, Baraya. Cowok itu suka banget untuk menghasilkan uang dan dia relatif lebih jago menghasilkan uang daripada perempuan. Kita sepakati ya, kita sepakat. Tapi berapa banyak di antara cowok-cowok yang sudah mendapatkan penghasilan justru malah ngasih dompet dan ATM-nya itu ke perempuan, ke istrinya. Karena kemampuan mengelola uang itu jagoan perempuan daripada laki-laki. Gu saya juga gitu. Jadi ya dompet isinya ya hanya segelintir uang saja sisanya semuanya diserahkan kepada perempuan k istrinya. Sebab kalau saya yang mengelolanya boncos. Sedangkan istri saya mampu untuk ee mengalokasikan unuk ini, unuk ini, unduk ini dan sebagainya. Dan dengan alamiah aja terjadi seperti itu gitu.
16:10 Baraya jujur saja di berapa banyak di antara baraya laki-laki yang bekerja mencari nafkah dan dapat duit banyak tapi mengelolanya diserahkan kepada istri. Begitu kan? Nah, Ibu Sri Mulyadi dan Pak Purbaya juga seperti itu. Pak Purbaya itu fokusnya apa? Kesejahteraan rakyat. Gimana caranya biar rakyat itu dapat duit? Nah, sedangkan Ibu Sri Mulani kalau saya sudah dapat duit saya akan alokasikan buat apa? Apa dan apa gitu. Itu adalah gaya kepemimpinan. Makanya em di Amerika Serikat misalkan itu negara paling demokratis, itu negara paling maju. Tapi untuk menerima kepemimpinan perempuan mereka itu sulit. Karena apa? Karena Amerika Serikat itu negara yang bermasalah. Amerika Serikat itu adalah negara yang agresi. Karena negara yang agresi, maka pemimpinnya juga harus agresif. Dan itu adalah karakteristik cowok. Sedangkan ada
16:57 negara maju yang lain, misalkan Selandia Baru pemimpinnya perempuan. Lah, kok bisa tetap maju? Karena sebenarnya majunya bukan sama perempuan, majunya sama laki-laki. Tapi untuk mempertahankan kemajuan itu perempuan tuh bisa mengelola dengan baik begitu. Jadi kemampuan mengelola yang sudah ada. Sedangkan laki-laki kemampuan untuk mendapatkan apa yang belum dimiliki. Sekali lagi, tidak ada yang lebih baik dan lebih buruk. Ini memiliki resiko dan peluang masing-masing. Resiko Pak Purbaya dengan gaya yang seperti ini itu adalah kalau dihantam krisis kita siap-siap aja gitu. Tapi kebaikannya adalah saya optimis seperti yang dikatakan Pak Purbaya bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia itu akan lebih daripada pertumbuhan ekonomi di zaman Ibu Sri Mulyani. Terima kasih karena sudah menyimak. Saya guru gembul. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.