0:00 Mas, apakah eh dengan sederhana Mas Gita ingin mengatakan Indonesia tidak akan pernah bisa menjadi negara maju tanpa memperbaiki kualitas pendidikannya? Sepakat 1000%. Kalau kita jalan dari Sabang sampai Merauke, 88% dari kepala rumah tangga enggak punya pendidikan S1. Heeh. Udah gitu harapan kita adalah seorang anak jalan naik ojek, naik perahu, naik truk, naik bus, ke sekolah dia mudah-mudahan bisa berhadapan dengan guru yang bisa mengkompensasi defisiensi yang ada di rumah tangganya. Tapi sayangnya guru cuma digaji 2,8 juta per bulan. Honorer Rp500.000. Paling berbahaya sebenarnya federalisme di dunia pendidikan sangat
0:45 itu. Itu paling berbahaya sangat. Kita selalu bicara mengenai kerentanan, kesenjangan dalam konteks kekayaan dan pendapatan dan peluang, tapi kita jarang ngobrol mengenai kesenjangan atau inequality dalam konteks apakah itu pendidikan ataupun energi. Energi di Sabang itu beda dengan energi di kota-kota lain. Energi di Jakarta jauh lebih tinggi daripada energi di kota-kota lain. Halo, selamat datang di podcast ruang temu Jalma. Ini adalah episode ee di bulan Januari 2026. Karenanya masih boleh dong bilang selamat tahun baru.
1:32 Semoga tahun 2026 menjadi tahun yang penuh berkah. bagi kita semua. Tahun baru tetap baca buku. Podcast ruang temu Jalma ini kami adakan di toko buku Gramedia Jalma di Blok M, tempat bertemunya ide, gagasan dari buku kepercakapan. Pada kesempatan kali ini adalah sesuatu yang sangat istimewa. Karena yang menjadi tamu podcast ruang temu jalma kali ini sebenarnya seseorang yang sudah saya kenal ya bisa dibilang 20 tahun lamanya. Mungkin anak sekarang mengenalnya sebagai seorang podcast dari sebuah
2:20 pembicaraan yang isinya daging semua. tamu-tamunya berkualitas, berkelas. Jadi untuk Anda semua yang hadir di podcast ruang temu jalma, tepuk tangan untuk Bapak Gita Wiryawan. [tepuk tangan] Wow. Aku panggil Mas aja boleh ya? Bro, Bro. [tertawa] Pegang eh mikrofonnya Mas Gita, Mas. Thank you Ros. Thank you. Aduh, udah lama banget enggak ketemu. Sangat sangat sangat lama sekali. Seperti tadi introductionku eh ke Mas Gita, Mas Gita dikenal sebagai seorang podcaster and game. Tapi tahu enggak Pak Gita ini sebenarnya secara CV, his CV is amazing.
3:09 Ia memulai karirnya. Correx me, koreksi aku kalau salah. pernah di City Bank ee orang nomor satu di JP Morgan yang headquarter-nya di New York. Betul ya? JP Morgan orang nomor satu loh. Jadi bukan di Indonesia. Di Indonesia. Lalu ee kemudian pernah ee menjadi menteri di kabinet ee Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Menjadi Kepala BKPM, Menteri Perdagangan. So, sudah malang melintang dalam banyak dunia ee di kabinet, di ee kampus. Ia menurut saya seorang yang sangat lengkap. Jadi dengan
3:56 menulis buku This is Your first book, right Mas? Siap. What it takes dari tepi menuju inti kesadaran global Asia Tenggara. Ini sebuah sekali lagi pencapaian yang luar biasa. So, congratulations, Mas. Makasih. Makasih banyak. So, apa kabar dulu? Oke. Oke banget. Ini nih agak-agak nostalgic karena baru sadar bahwa ini toko buku yang gua dulu mampir hampir setiap minggu waktu SD, SMP. Tahun berapa tuh? Tahun 0-an. Ada yang sudah lahir di sini? Jadi kalau beli alat tulis, pensil, bolpen, buku, buku pelajaran, spidol di sini. Hm.
4:41 Tapi udah transformasi dan ada unsur historisnya yang masih ada sih. Keren banget. Jadi sejak kecil selalu ke toko buku Gramedia hanya untuk beli alat tulis. He. Bukan beli buku. Lebih banyak alat tulis. Terus ya komik dulu juga dijual di sini. Heeh. He dulu komik-komik yang dijual tuh Gundala Godam. Iya kan? Gundala putra petir. Iya Godam ya. Sancaka, karakter-karakter ada dulu di toko ini. Ee tapi ya keren banget bisa balik setelah puluhan tahun. Terima kasih ee Mas Gita. Jadi waktu Jalma dan Kompas TV membuka link pendaftaran untuk narasumbernya Pak Gita
5:27 ini ee hanya dalam tempo jam full dan saya tahu di kolom komennya banyak yang cukup komplain karena kok cepat banget. Anyway, Pak kita masuk dulu ke buku What It Takes ini apa yang membuat Pak kita akhirnya merasa perlu membuat buku ini ini bermuara di kegelisahan. mengenai bagaimana orang Asia Tenggara itu enggak terlalu bisa bercerita, enggak terlalu bisa bercerita mengenai dirinya sendiri atau mengenai apapun selain dirinya sendiri ke siapapun termasuk dirinya sendiri dan keluar. Ini empiris kalau kita lihat publikasi yang dikeluarkan mengenai Asia Tenggara
6:14 dari awal waktu sampai sekarang tuh enggak lebih dari 375.000 publikasi yang mana kebanyakan itu adalah tulisan yang dilakukan oleh orang non Asia Tenggara dalam konteks publikasi di seluruh dunia yang jumlahnya kurang lebih R10 juta. Secara persentase itu cuman 0,27%. Kecil banget. 375.000 R dibagi R0 juta kurang lebih 2 0,2 something pers untuk wilayah yang jumlah manusianya atau populasinya 700 juta yang merupakan 9% dari populasi dunia. H. Nah, ini membuktikan bahwa kita enggak bisa satu bercerita, dua bercerita
7:00 dengan literasi dan numerasi, ketiga, kita enggak bisa mendokumentasi. wisdom turun-temurun. Wisdom tuh dilakukan secara verbal. Kakek saya dulu pernah ngomong, orang tua saya dulu pernah ngomong, tapi kita enggak bisa presentasikan dengan sesuatu yang tertulis i dengan literasi dan numerasi semestinya. Ini kalau menurut saya yang harus diobati. Iya. I. Nah, oleh karena itu saya memberanikan diri tentunya ini ketidaksempurnaannya banyak dalam buku ini, tapi saya memberanikan diri untuk menulis mengenai kawasan Asia Tenggara bukan hanya mengenai Indonesia. Karena kalau menurut saya cerita mengenai Asia Tenggara itu jauh lebih kaya daripada cerita hanya mengenai Indonesia. H
7:46 dan kolektivitas Asia Tenggara itu perlu dikedepankan mengingat perubahan perkembangan evolusi dunia ini semakin eksponensial terkait dengan ekonomi, teknologi, perubahan iklim dan geopolitik. Jadi kesatuan kita, cohesiveness kita ini semakin dibutuhkan untuk menghadapi tantangan-tantangan yang berevolusi dengan kecepatan yang jauh lebih eksponensial daripada sebelumnya, Mas Gita, tapi kalau kita misalnya masuk ke fokus tentang di Indonesia sendiri, jadi dari Asia Tenggara itu Indonesia berapa persen? Lebih sedikit 43%. Jadi dari sisi populasi dan
8:32 ekonomi. Populasi 700 juta kita 285 ya 40 sekian persb atau aktivitas ekonominya 4 triliun dolar kita 1,5 triliun dolar I kan itu kurang lebih ya hampir 40%. Jadinya kita nih porsi yang paling besar dari Asia Tenggara. Jadi apa yang kita ucapkan, apa yang kita tulis, apa yang kita lakukan itu sangat mempengaruhi kesatuan Asia Tenggara yang sekarang terdiri dari 11 negara. Tapi kita terlalu sering berbangga diri mengenai diversitas. Kita kurang menyadari mengenai divergensi. Diversitas itu beda dari divergensi. Diversitas itu kekayaan
9:18 etnisitas kita yang berbagai ragam. biodiversitas kita yang berbagai ragam, religi kita yang berbagai ragam. Ada 250 sampai 300 juta Muslim, 150 juta Nasrani, 150 juta Buddha, 20 juta Hindu dan macam-macam menjadi 700 juta. Tapi divergensinya ini konotasinya enggak terlalu positif. H divergensi pendidikan dari 11 negara hanya dua negara yang melewati rata-rata skor PISA yang mengukur profeiensi lingual atau komunikasi dan profisiensi STEM science, Technology, engineering and mathematics untuk bisa berhitung Vietnam dan Singapura yang melewati rata-rata dunia. Indonesia nomor 69 dari 81 negara.
10:05 Cambodia nomor 81 dari 81 negara. ini di level sekunder atau non tersare SMA ke bawah umur 15 tahun di level tersare atau universitas ini agak menggelisahkan. Ada 10.000 kampus di Asia Tenggara, setengahnya di Indonesia, 20 juta mahasiswa di Asia Tenggara tapi hanya dua universitas yang berada di peringkat 20 teratas di dunia. Yaitu dua-duanya di Singapura. Oh, enggak ada Indonesia? Enggak ada. Jadinya Singapura tuh NTU dan NUS masuk peringkat 20 teratas. Setelah itu di Asia Tenggara tuh hanya Malaysia nomor 53 namanya University Malaya.
10:50 Saya enggak usah ngomong mengenai peringkat universitas di Indonesia, tapi jauh di bawah itu. Dan ini agak beda dengan Tiongkok yang hanya memiliki 3.000 kampus. Asia Tenggara 10.000, Ibu Tiongkok 3.000 kampus dengan jumlah mahasiswa 45 sampai 50 juta. Tapi mereka memiliki sekarang tiga universitas yang di peringkat 20 teratas. Mereka memiliki 8 universitas yang berada di peringkat 10 teratas untuk kepentingan research and development di seluruh dunia. Dan sistem pendidikan di Tiongkok itu kalau kita mau ke Wuhan, ke Cungching, ke Chengtu, ke Talian, ke Shenzen ke Shanghai, ke Pe atau ke Sinjang, kualitas pendidikannya itu beda-beda
11:36 tipis. Sedangkan kalau di Asia Tenggara, kalau kita sekolah di Cihangi, di Merauke, di Singapura, di Sebu, di Yangon atau di Manila itu bedanya jauh sekali. Nah, ini divergensi mengenai kualitas pendidikan yang kalau menurut saya itu berkorelasi dengan divergensi capaian ekonomi. Iya. Nah, paling gampang ngukurnya pendapatan per kapita di Asia Tenggara yang paling tinggi itu di Singapura 91.000. Nomor dua itu Brunei 30 40.000. Setelah itu 9 dari 11 negara di Asia Tenggara itu bukan negara ber apa? Bukan negara maju. Negara maju tuh PDB per
12:21 kapitanya harus 1.250 per orang per tahun. Malaysia aja masih 13.000, Indonesia 5.000, Filipina 4.000, Thailand 5.000-an. Kalau enggak salah 4 atau 5 dari 11 negara di Asia Tenggara itu PDB per orang per tahun ya, di bawah 2.000 dolar. Itu divergensi ekonomi yang kalau menurut saya berkorelasi dengan divergensi pendidikan ya. Nah, ini kalau enggak disikapi ya struktural, Mas. Apakah ee dengan sederhana Mas Gita ingin mengatakan Indonesia tidak akan pernah bisa menjadi negara maju tanpa memperbaiki kualitas pendidikannya? Sepakat 1000%. Kalau kita jalan dari Sabang sampai Merauke, 88% dari kepala rumah tangga enggak punya pendidikan S1. Heeh.
13:07 Udah gitu harapan kita adalah seorang anak jalan naik ojek, naik perahu, naik truk, naik bus, ke sekolah dia mudah-mudahan bisa berhadapan dengan guru yang bisa mengkompensasi defisiensi yang ada di rumah tangganya. He. Tapi sayangnya guru cuma digaji 2,8 juta per bulan. Honorer Rp500.000. Nah, siapapun kalau mau sukses itu butuh ambisi imajinasi dan kehokian. Ambisi, imajinasi itu hanya bisa disuntik oleh sosok yang inspiratif. Apakah itu tante, om, orang tua, guru, bos, atau orang yang secara random ketemu di pasar ikan yang enggak tahu gimana ngomong sesuatu yang inspiratif.
13:54 Eh, keren juga nih ya. Tapi kalau begitu, kalau imajinasi eeambi, ambisi tadi bisa ditemui oleh kapanpun, berarti enggak usah harus sekolah dong. Kita kita gaul aja. Dan kemudian kalau kita dapat mentor yang keren, kita bisa juga jadi keren. Betul. Tapi in the absence of which, kalau enggak ada mentor yang keren, He. Itu akan terjadi brain rod. He. Iya kan? Makanya kita harus berupaya supaya kalau dia di rumah tangganya enggak bisa dapat inspirasi dan imajinasi dari orang tua yang mohon maaf kebetulan enggak punya pendidikan S1, anomali ada ya yang positif. Tapi dengan premis bahwa 88% dari rumah tangga di Indonesia itu enggak memiliki pendidikan S1. Satu-satunya cara untuk mengkompensasi
14:40 defisiensi tersebut adalah di sekolah. Heeh. Karena dia 8 jam di sekolah ya. Dia mungkin ke pasar ikan cuma 30 menit. Kalau dia beruntung ketemu orang yang lagi jualan ikan tiba-tiba ngomong mengenai molecular biology itu anomali tapi enggak bisa digeneralisasi. Jadi kita harus pastikan guru yang interaksinya 8 jam dengan seorang murid dan guru yang bertanggung jawab untuk meng-scale up. Makanya saya berargumentasi bahwasanya teaching is more scalable than parenting. Karena as a parent orang tua tuh berhadapan di depan tiga anak tapi guru berhadapan di depan 20 sampai 200 anak. Jadi kalau kita mau men-scale up kebodohan itu di sekolah kalau gurunya bodoh. Kalau kita mau men-scale up
15:28 brilliance kita juga berharap di sekolah. Karena kalau gurunya brilliant kita bisa men-scale up brilliance. He. Apalagi dia berhadapan di depan 200 siswa-siswi yang bisa disuntik setiap hari ambisi dan imajinasi. Lu kalau mau jadi jurnalis yang keren di Kompas, lu harus punya ambisi. Lu harus punya imajinasi. Dan lu kalau mau sukses jadi presiden bupati gubernur walikota atau CEO perusahaan, ada harus ada unsur kehokian. Garis tangan. Garis tangan. Tapi ini ada perbedaan antara smart luck dan blind luck. Saya mau ke situ nanti ee Mas Gita, tapi saya ingat kita pernah satu masa terutama ketika startup itu ee
16:13 bermunculan lalu ada Mark Zagenberg, mereka-mereka eh yang sukses dengan Facebook, mereka enggak sekolah, mereka drop out dari sekolah dan itu kemudian menjadi euforia bahwa buat apa sekolah orang-orang terkaya yang kemudian menjadi panutan E startup itu mereka enggak sekolah tapi pintar dan kaya. Tuh Mark Zuckerberg dia sekolah di private school kalau enggak salah di Philips Academy diterima di Harvard. Untuk bisa diterima di Harvard ngambil S1 enggak bisa odop ya kan. Artinya dia sudah melewati fase yang mana dia sudah disuntik ambisi dan imajinasi yang luar
17:00 biasa. yang mana di tingkat dua sewaktu beliau sekolah dia sudah punya keyakinan he dia sudah enggak perlu lagi suntikan tambahan untuk imajinasi dan ambisi. Makanya dia memberanikan diri. Nah, ini enggak bisa digeneralisasi bahwasanya pendidikan itu enggak dibutuhkan. I saya hanya bisa menggeneralisasi dia mau sekolah di level TK tapi kalau dia sudah punya kualifikasi kognitif untuk bisa diterima di Caltek MIT, Princeton Harvard Oxford Chinghua dia enggak perlu sekolah di Cchinghua. Ya. Ya. Dia sudah memiliki ambisi dan imajinasi secukupnya untuk mendirikan meta prime atau meta prime atau meta prime prime.
17:47 Nah, ini yang harus dididik bahwa sosok yang imajinatif, inspiratif tuh adalah sosok yang bisa menyuntik kriteria semestinya untuk siapapun menjadi siapapun yang sukses, yaitu ambisi dan imajinasi. Ambisi dan imajinasi untuk sekelas seorang gitawyawan bisa seperti sekarang. Nomor satu di JP Morgan Indonesia malang melintang di dunia private banking, dikenal dengan reputasi yang baik. Tentu saja bisa seperti ini karena Mas Gita sekolahnya bagus, sekolahnya Harvard. Jadi ketika Mas Gita mengatakan bahwa lu harus sekolah, tapi kan enggak semua orang bisa seberuntung dan memiliki
18:33 privilege pada e seperti seorang gitar wiriyawan. Yang enggak bisa dipungkiri adalah ada orang di Indonesia yang mungkin sekolah di SMA berapa filial di Jember. bukan berarti dia enggak bisa sukses mendirikan Meta Prime atau Microsoft Prime atau Google Prime atau Nvidia Prime selama dia bisa berinteraksi dengan siapapun yang bisa menyuntik ambisi dan imajinasi yang setara dengan apapun yang sudah disuntik ke orang seperti Bill Gates, Mark Zuckerberg, Jensen Huang, Sundar Pichai, Jack Ma dan lain-lain. Jadinya ini agnostik
19:18 terkait dengan sekolahnya di mana. Ini ini enggak bisa digenenalisasi bahwa kalau orang mau sukses harus sekolah di sekolah yang keren banget. Enggak. Itu bukan poinnya. Tapi kalau menurut saya, dia mau sekolah di rumah pun asal dia disuntik imajinasi dan ambisi. Semestinya syukur-syukur lebih tinggi imajinasi dan ambisinya dibanding imajinasi dan ambisi yang disuntik ke Mark Zuckerberg, Bill Gates dan lain-lain. Jadi nih bareng i kan. Nah, ini yang harus di budayakan. gimana membudayakan percakapan, diskusi ataupun diskursus di rumah, di kantor, di sekolah, di tempat ibadah, di institusi sosial bahwa yang dikejar itu adalah superlatif, yang dikejar itu adalah perfeksionism.
20:05 Nah, kita kurang berbicara kalau lagi gaple sama teman-teman SMP, Bro, gimana ya supaya anak-anak kita tuh bisa membuat reusable rocket? supaya bisa mendarat di Mars dan melakukan penambangan di sana supaya kita enggak merusak lingkungan kita di sini. Ada enggak percakapan seperti itu sambil main gaple dan ngopi? Gimana ya supaya Optimus yang dibuahkan diproduksi oleh Tesla ini dengan biaya konon 20 sampai 30.000 ini bisa dimanufaktur di Indonesia dengan biaya hanya 4.000 per unit. Gimana ya caranya supaya generasi penerus itu bisa memproduksi barang dan
20:52 jasa dengan efisiensi, efikasi atau efektivitas yang lebih tinggi daripada presiden-presiden yang kita saksikan, apakah itu di Tiongkok ataupun di Amerika Serikat. Itu kalau menurut saya topik-topik yang harus dibudayakan atau dibicarakan. Dan kalau kita sudah bisa membudayakan hal-hal seperti itu di rumah, di kantor, di sekolah, di institusi sosial, di tempat ibadah, mau dia Nasrani, Islam, Yahudi, Buddha, Hindu, dan lain-lain, jadi itu barang insyaallah. Mas kita ingin mengatakan bahwa sekolah penting, sekolah bagus juga sama pentingnya. Tetapi kalaupun kita tidak bersekolah bagus, selama kita menemukan
21:38 didikan yang menyuntik imajinasi kita, kreativitas kita, kita tetap bisa tumbuh menjadi pribadi yang kompeten. Sangat. Nah, apakah Mas Gita bisa sekarang itu purely karena Harvard atau sebenarnya juga di luar didikan Harvard? Oh, saya bisa mengatribusikan mungkin ya apapun yang saya sudah raih ke ibu saya, ke bapak saya, ibu saya yang mendisiplinkan saya, ayah saya yang mendidik saya untuk melakukan intelektualisasi. Saya bisa mengatribusikan ke guru kelas 3 SD saya. Kelas 3 kelas 3 SD waktu beliau mengajar mata
22:24 pelajaran mencongak, sekarang sudah enggak diajarin lagi tuh. mencongak itu dia bertanya, "Oke, ada kereta yang berangkat dari stasiun Gambir dengan 100 penumpang. Di Cirebon turun 57 naik 23. Terus stop di Semarang itu kita dilatih untuk berpikir, iya kan, dan berimajinasi." Itu saya enggak lupa pertanyaan-pertanyaan yang kalau saya korelasikan ke belakang itu dia melatih saya untuk melakukan imajinasi. Terus saya enggak lupa guru kelas 1 SMP saya di Pangudi Luhur yang suruh ngajar agama itu sekolah Katolik suruh ngajar agama tapi dia ngomong mengenai filsafat, ngomong mengenai Sokrates, ngomong
23:10 mengenai ini. Terus itu memicu proses imajinasi saya. Dan waktu saya SMA di India, guru musik saya waktu ngajar musik, teori musik untuk melakukan sinkopasi, improvisasi dalam musik jazz. itu mengajarkan konsep bahwasanya kita untuk lebih berani melakukan eksperimentasi keluar dari koridor untuk melakukan sinkopasi ataupun improvisasi keluar dari koridor semestinya namanya klasik untuk bisa melakukan improvisasi jazz itu sangat philosophical dan saya berani bilang kalau saya enggak disuntik H hal-hal seperti itu mungkin saya enggak bisa berimajinasi dan berambisi seperti
23:56 apa yang selama ini saya rasakan. Tapi peran orang tua, peran guru, dan ada juga secara random ketemu orang di mana yang ngomong sesuatu yang nyetrum. Heeh. Heeh. Nah, itu kalau menurut saya hanya bisa terjadi kalau lingkungannya itu enggak toksik. Lingkungannya tuh sangat kondusif untuk kepentingan pengedepanan inovasi. Dan pengedepanan inovasi itu hanya bisa terjadi kalau ada keterbukaan. Pembentukan otak tuh terjadi sampai umur 9, peningkatan IQ sampai umur 16. Setelah umur 16 kalau siapapun mau maju itu dia perlu keterbukaan. Hanya dengan keterbukaan orang tuh bisa maju karena
24:41 dia bisa mengkombinasikan kekuatan inovasi dengan kekuatan preservasi. Kekuatan preservasi itu namanya ortodoksi atau tradisi atau sejarah. Tapi kita harus ada keterbukaan untuk merangkul kekuatan inovasi. Kalau enggak ada keterbukaan ya sulit. Nah, sosok yang inspiratif itu akan mengajarkan mendidik anak yang umur 16 tahun ke atas untuk lebih ada keterbukaan. Kalau terlalu kolot, iya enggak ada keterbukaan, sulit untuk siapapun mengkombinasikan kekuatan inovasi dengan kekuatan preservasi. Apalagi kalau sampai umur 9 tahun pembentukan otaknya enggak optimal. Apalagi kalau sampai umur 16 tahun, peningkatan IQ-nya tertahan di 78,49.
25:26 Ini struktural. Iya kan? Nah, ini kalau menurut saya kita harus menyadari bahwa pembentukan otak sampai umur 9 tahun harus robas, harus di-harness, dikawal dengan baik, dipupuk dengan baik. Peningkatan IQ sampai umur 16 harus dikawal dengan baik, dipupuk dengan baik. Terus dari 16 tahun ke atas itu harus dilatih agar manusia tuh atau warga ada keterbukaan. I itu kan kalau situasinya serba ideal, Mas Gita, bagaimana kalau situasinya sekolahnya juga tidak terlalu baik dan keluarga dalam hal ini orang tua juga punya ee kesibukan untuk survive ee bekerja. So, emm apa yang Mas
26:12 guru? Iya, guru karena guru tuh berinteraksi dengan murid 8 jam sehari. Orang tua mungkin berinteraksi dengan anak paling banter 2 3 jam, sarapan sama makan malam. Iya kan? Udah gitu anak-anak sambil ngelihat HP lagi sambil makan kalau enggak sarapan atau makan malam. Tapi kalau guru kalau didisiplinkan untuk anak-anak siswa-siswi enggak megang HP itu interaksi 8 jam. harus dioptimalkan untuk kepentingan pengedepanan inovasi. Tapi kalau gurunya cuma digaji 2,8 juta, ya talenta yang terbaik itu enggak akan mau kerja jadi guru. Mungkin maunya kerjanya di Kompas atau Kamedia. Iya kan? Nah, ini yang sangat struktural dan
27:01 ada 3,5 sampai 4 juta guru yang ditugaskan mengajarkan puluhan juta manusia yang akan menjadi generasi penerus. Tapi kalau kita enggak berani menyikapi kompensasi dan kualitas guru dan kita enggak mau mencari titik optimal interseksi antara talenta dan kekuasaan, ya sulit narasi bangsa kita ke depan. Tapi ini harus mulai dari kesadaran bahwa ada hal-hal yang struktural yang cukup problematis dan harus disikapi. Saya saya pernah baca sekilas ketika ee Jepang hancur oleh bom atom Hiroshima. Jadi, Kaisar Hirohito itu ee kira-kira
27:47 begini, bukan ditanya berapa gedung yang hancur atau berapa tank yang hancur, tapi yang ditanya adalah ee berapa guru yang masih kita miliki. Jadi, ketika kehancuran itu terjadi ee di Jepang, jadi tidak melulut tentang pembangunan gedung, tetapi bagaimana mengembalikan landasan ee pendidikan bagi anak-anak dan kita masyarakat Jepang. Dan kita lihat bagaimana kemudian setelah itu Jepang menjadi bangsa yang luar biasa kuatnya terdidik tapi sekaligus juga tidak pernah melupakan akar tradisi mereka. Nah, Mas ee kita apa yang ini mereka semua pada datang ke toko buku Jalma ingin mendengar ee tentu dari perspektif
28:32 Mas ee Gita kalau mereka di sekolah enggak dapat pendidikan pendidik yang bisa menjadi mentor atau mereka juga tidak memiliki eh kesempatan yang bisa dibilang privilege, what can they do? banyak nonton podcast yang bermutu and game contohnya ya enggak saya bukan mau promosi di situ, tapi banyak podcast-podcast seperti Jalma apa podcastnya Ros yang bermutu terus bagaimana untuk menyebarluaskan kedisiplinan untuk membaca buku ini kalau menurut saya budaya baca buku nih saya ngomong ini bukan karena di toko buku ya tapi kalau menurut saya
29:18 kalau kita mau mau melihat bangsa kita maju. Satu dengan optimisme, satu dengan problem recognition. I optimismenya gampang. Tiongkok di tahun 0 pendapatan per orang per tahunnya cuman 125 dolar. Indonesia 400 dalam 40-an tahun. Sekarang 46 tahun 2026 itu Tiongkok pendapatan per orang per tahunnya sudah.000. Indonesia hanya 5.000. Bayangin mereka beranjak dari 125 dolar ke 1,000 dalam satu generasi. Singapura tahun '5 pendapatan per orang per tahunnya di bawah 100 dolar sama dengan Kenya dan Uganda. Sekarang 91.000
30:05 dolar per orang per tahun. Dalam 1 seteng generasi mereka bisa lompat dari di bawah 100 dolar per orang per tahun menjadi 91.000. Ini optimisme bahwasanya it is doable. Ini bisa dilakukan oleh bangsa manapun selama kepemimpinannya bulat dan masyarakat luasnya bulat untuk mengedepankan pendidikan. Tapi dua-duanya ini melakukan investasi di kualitas guru. Tiongkok tuh enggak ada kompromi. Mengerekrut guru dari persental 20% teratas. Korea Selatan lebih gila lagi 5% persental teratas. Nah, ini empiris bahwasanya kalau guru direkrut dari 20% persental teratas, dia dalam 1 tahun bisa ngajar 1,eng tahun ajaran. Jadi, bayangin proses kognitifnya dari TK sampai SMA 14 tahun sekolah di otaknya
30:53 dia itu ada 14 tahun 1,5 ajaran kalau gurunya datang dari 20% persental teratas. Tapi kalau dari 20% persental terbawah dalam 1 tahun dia hanya bisa ngajar setengah tahun. Nih anak sekolah 14 tahun dari TK sampai SMA kelas 3 di otaknya cuman ada 7 tahun ajaran. Nah, ini kita enggak inginkan karena guru kalau direkrut dari bottom 20% itu dia hanya bisa ngajar setengah tahun ajaran dalam 1 tahun. Jadi kalau anak sekolah 14 tahun itu di otaknya cuman ada 7 tahun ij ajaran. Nah, ini mudah kan bisa diobati kan. Tapi kita harus berani menggaji guru kita dengan gaji yang berkenan. Heeh. Nah, jadinya kalau gurunya enggak
31:40 berkualitas ya mungkin alternatif lainnya adalah untuk bagaimana seorang orang tua pemimpin tempat ibadah, manajer di kantor, kepala institusi sosial apapun itu membudakan budaya-budaya yang keren. Ya udah, udah deh lu baca buku aja deh, jangan nonton TikTok aja. Iya. itu kalau menurut saya it's a good first step yang bisa diambil oleh anak-anak muda. I jadi mungkin kalau tapi ini bukan mengkompensasi defisiensi kualitas guru. Kalau menurut saya yang struktural adalah kita harus berani menyikapi pengerekrutan guru. ya rasanya memang itu sebuah ee sesuatu yang mutlak ya sekolah itu atau
32:25 pendidikan itu harus benar-benar menjadi ee tugas negara untuk ee secara kualitas diperbaiki. Karena kalau enggak dengan seluruh tantangan zaman, kita enggak mau Indonesia yang disebut Indonesia emas ketika semua mengagungkan soal Indonesia emas. Tapi kalau kita enggak punya fondasi pengetahuan, punya didikan yang ee apa keta sebutnya yang mengajarkan critical thinking, maka bisa bisa habis sih eh bangsa ini. Tapi saya percaya kita selalu memberikan ruang, harapan dan optimisme. Cuman tadi saya ingin menggaris bawahi apa yang dikatakan oleh Pak Gita adalah apakah itu di sekolah, apakah itu di rumah, atau di komunitas-komunitas manaun.
33:12 yang mempertemukan kita, maka yang paling penting adalah bagaimana kita secara terus-menerus harus merangsang apa yang disebut dengan imajinasi. Tanpa imajinasi maka kita hanya menjadi seorang seorang robot. Kita hanya akan menjadi orang-orang menjadi apa ya terombang terombang-ambing oleh satu keadaan karena kita sendiri tidak tahu apa yang harus kita lakukan. Jadi membangun dan merawat imajinasi itu penting yang kemudian disuntik dengan kreativitas. Nah ee Pak Gita, saya mau membuka forum dulu untuk mereka yang sudah hadir karena saya tahu mereka adalah orang-orang yang pasti sudah menyimpan pertanyaan untuk Pagita Wiryawan. Segera acungkan. Yes. Ah. Yes. Paling tidak
33:59 kamu sudah punya imajinasi dan kreativitas dengan duluan menunjukkan tangan. Sebutkan nama. Ee terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Perkenalkan namaku Nurul Fatah. Ee aku mau bertanya. Kan kita sudah sering mendiskusikan tentang pendidikan, jeleknya pendidikan Indonesia, rendahnya pendidikan Indonesia. Ee jika tidak ada langkah konkret dari pemerintah, apakah masih ada harapan untuk pendidikan berkualitas? Ee kan kita tahu bahwa ee anggaran pendidikan kita dipotong untuk ee prioritas pemerintah yaitu MBG. ini saja sudah membuktikan bahwa pemerintah itu tidak serius untuk ee memajukan pendidikan. Eh, baik,
34:45 sudah mungkin itu saja pertanyaan dari saya. Sekian, terima kasih. Asalamualaikum. Itu pertanyaan untuk Rosi, bukan untuk saya nih. Oke, saya mau coba bungkus ini dalam konteks pendidikan ya. Anggaran pendidikan per tahun tuh kurang lebih R800 triliun. Saya pernah menyampaikan eksperimen ide. Kalau kita berani mengerekrut dan menggaji guru per bulan 4 juta aja eh 40 juta aja dibanding 2,8 juta, kita mengerekrut 100.000 guru masing-masing digaji R0 juta per bulan itu 4 triliun setiap bulan. Iya kan?
35:35 Dan masing-masing guru yang direkrut ini kalau bisa IQ-nya 120 ke atas, bisa berdongeng multibahasa, dan bisa menyuntik imajinasi dan ambisi. Dan syukur-syukur bisa melatih kehokian. Saya tuh sering cerita bahwa smart luck itu lebih baik daripada blind luck. Smart llck tuh kalau butet Owi mukul shuttle cock 2000 kali setiap hari dilatih sama Richard Minaki untuk memastikan sebanyak mungkin shuttle cock-nya itu melewati net dan jatuh di sebelum garis. Begitu mereka sampai di semifinal Olimpiade kemungkinan besar mereka tuh bisa menempatkan shuttle cock-nya di atas net dan sebelum garis. Begitu mereka sampai
36:21 di final kejuaraan dunia kemungkinan besar karena mereka tiap hari mukul 2000 kali. kemungkinan besar mereka bisa menempatkan shuttle cock di sebelum garis. Nah, kalau guru ini masing-masing dari 100.000 diharuskan memenuhi kriteria seperti itu, 4 triliun per bulan, setahun cuma R8 triliun kan. 48 triliun dalam konteks 800 triliun masih manageable. Ini perlu keterbukaan dari sisi policy making tentunya. kemuliaan terkait dengan pemberian gizi ke katanya melebihi 80 juta makanan per hari. Kemarin pidato di Davos kan
37:07 sekarang sudah kurang lebih 60 juta akan ditingkatkan ke 80 juta makanan per hari kan. Kalau kemuliaan itu bisa dipertanggungjawabkan dalam arti gizinya bermutu itu bisa berkorelasi dengan peningkatan pembentukan otak dan peningkatan IQ. mengingat bahwasanya masyarakat luas di Indonesia dan negara-negara Afrika dan lain-lain itu sangat menderita dari stunting. Stunting itu berkorelasi dengan pembentukan otak, berkorelasi dengan peningkatan IQ atau kurangnya pembentukan otak atau kurangnya peningkatan IQ. Kalau itu bisa dipertanggungjawabkan, enggak ada alasan untuk enggak bisa mengkombinasikan kemuliaan peningkatan otak dan peningkatan pengrutan guru yang bermutu.
37:55 Jadinya saya enggak mau berkomentar politik, tapi saya mau berkomentar konsep. Konsepnya kalau menurut saya bisa dikombinasikan, tapi saya ingin sekali melihat kesadaran untuk berani atau secara proaktif mengerekrut guru dengan gaji 40 juta per bulan. Kalau itu bisa dilakukan, saya akan sangat optimis. Dan apakah saya optimis mengenai Indonesia? Saya sangat optimis. Saya selalu kalau ditanya pertanyaan seperti itu tergantung durasi. Kalau durasinya 6 minggu, saya enggak terlalu optimis. Tapi kalau durasinya 20 30 tahun ke depan, saya sangat optimis mengenai Indonesia. Karena anak-anak muda sekarang tuh sudah bisa menunjukkan kelaparan dan kehausan untuk perubahan
38:40 kognitif secara positif. Ini tercermin dalam platform kita di podcast yang saya enggak ngira sekali. Dan ini kalau dilakukan oleh pendongeng-pendongeng lainnya untuk mengedepankan inovasi, untuk meningkatkan kapasitas kognitif kayaknya bisa nih ke arah yang benar. Saya mau bantu jawab. Saya saya paham betul bagaimana rasa frustasi teman-teman mahasiswa kelas menengah. Saya sangat bisa merasakan itu. Mereka susah-susah sekolah, mereka capek-capek sekolah. Tapi realitas yang ada justru yang mendapat tempat adalah yang enggak sekolah atau tidak berkeringat, tetapi hanya karena privilege
39:28 satu dan lain halnya. Tapi percayalah tadi kata kunci dari Pak Gita itu menurut saya bagus banget. satu imajinasi ee ee kreativitas ya dan ambisi. Ee selama kita punya tiga ini, kita punya imajinasi tentang apa ingin kita lakukan. Kita terus mencari ilmu, apakah itu di kampus, di sekolah, dan kemudian kita punya ambisi atau ikhtiar yang tidak pernah berhenti. Percayalah karena antara ini dan ini itu akan pasti menyatu. Seberapa beratnya jalan hidupmu, kamu akan menemukan satu titik di mana kamu akan mendapat mimpimu. Jadi, segala sesuatu yang kita pikirkan,
40:15 kita harapkan, kita rasakan, dan kita ucapkan dalam doa semesta akan menuntunmu menjadi seperti apa yang kamu inginkan. Amin. Ee baik. Ee terima kasih ee nama saya Farhan. Ee seringki Pak Gita menyampaikan atau mengargumentasikan di baik platform media sosial maupun di forum-forum secara langsung terkait keterbukaan kita untuk mengundang tenaga pendidik dari luar untuk mengajar di dalam negeri terkait topik apapun. Nah, ee baru saja atau mungkin ee sekarang masih saya belum teru update ee Presiden dan Menteri dan pejabat terkait ee ke Inggris untuk salah satu agendanya untuk
41:00 apa namanya ee mengajak atau mengundang atau mengajak kolaborasi bersama Indonesia untuk ee membuka mungkin institusi pendidikannya di Indonesia. Nah, ee bagaimana pandangan Bapak Pak Angita terhadap hal tersebut? Apakah itu sebagai hal yang snafas dengan argumentasi yang seringkiali Pak Gita sampaikan? Terima kasih. Saya saya sangat menyambut dengan baik dengan catatan kalau yang dipanggil untuk ngajar dari Inggris ke sini itu untuk kepentingan ngajar sesuatu yang sudah ada ahlinya di Indonesia. Ya itu mungkin detrimental. Tapi kalau ya saya sering menggunakan contoh di Kuningan dekat Cirebon. Kalau ada kebutuhan oleh
41:46 warga untuk mendidik warga mudanya mekanika quantum dan enggak ada orang Kuningan yang ahli mekanika quantum dan kebetulan yang ada adalah orang Inggris yang asalnya mungkin Ehiopia atau Somalia dengan paspor Inggris dan dia kebetulan adalah ahli mekanika quantum yang paling keren di dunia. Ya, kenapa enggak kita harus ada keterbukaan untuk mendemokratisasikan pendidikan? Ini yang seringkiali saya sampaikan. Litmus test atau tes litmus untuk pengedepanan pendidikan adalah untuk terjadinya demokratisasi pendidikan. Kalau kita enggak punya guru untuk ngajar anak-anak kita di Jember, di Kuningan, di Tarakan, di Lahat, di Merauke untuk mereka bisa mengetahui
42:33 mengenai mekanika quantum dan kebetulan yang ada adanya di Inggris, ya kita harus ada keterbukaan. Kalau enggak ada harus datangin. Tapi kalau di Inggris ternyata yang didatangin orangnya enggak berkualitas, ya itu enggak bisa dipertanggungjawabkan. Nah, itu kalau menurut saya esensi dari demokratisasi pendidikan. Itu yang terjadi di Tiongkok, itu yang terjadi di Singapura, itu yang terjadi di Korea Selatan, itu yang terjadi di Jepang. Di awal waktu mereka tuh enggak ngerti mengenai banyak hal. Tiongkok itu semenjak tahun '8 sudah mengirim kurang lebih 9 juta warganya sekolah di seluruh dunia dan mayoritas ngambil stem. Yang sekolah di Amerika, di Jepang, di Korea Selatan, Taiwan, Eropa, Austral. dan mayoritas itu pulang dari 9 juta dan
43:21 merekalah yang menopang industrialisasi. Tiongkok tahun 2024 melakukan pendaftaran 1,8 juta paten. 1,8 juta dalam 1 tahun. Asia Tenggara selama 24 tahun sampai tahun 2024 hanya mendaftarkan kurang lebih 300.000 paten. Itu gambaran dari bagaimana mereka bisa meningkatkan kualitas pendidikan karena adanya keterbukaan di awal waktu. Nah, sekarang guru-guru di Tiongkok itu sudah sangat memiliki kualifikasi yang luar biasa sehingga mereka enggak perlu melakukan demokratisasi seperti apa yang mereka lakukan di tahun-an, 90-an. Mereka menunjukkan keterbukaan dengan ngirim apa yang disebut diaspora R9 juta.
44:07 Mereka mendatangkan guru dari manaun. Heeh. Mereka mendatangkan ahli dari Jerman, ahli dari Jepang, ahli dari Amerika untuk bangun pabrik, untuk ngajar dan segalanya di sana. Bahkan sekarang pun di kampus Chinghua, saya baru aja kemarin bicara di Chinghua dan di Peking University itu masih ada guru-guru bule di sana. H itu menunjukkan bahwasanya peradaban yang sudah eksis selama 5.000 tahun masih menunjukkan kehausan, keterbukaan, kelaparan untuk mencari ilmu dari manapun. Itu yang harus diaplikasikan di Indonesia. Jadinya saya mendukung dan menyambut inisiatif yang kemarin dilakukan oleh pimpinan ya selama itu memang bisa menumbuhkan Oh iya menumbuhkan ee menambahkan pendidikan yang berkualitas di tanah air kita.
44:52 Makanya saya tuh termasuk yang cukup setuju ketika MKES ingin membuka untuk dokter asing di Indonesia. Saya termasuk setuju sekali kenapa kita harus menolak orang asing ketika itu justru untuk menambah me apa menambah kualitas ee kesehatan lalu juga pendidikan keterbukaan itu kan absolut kita harus selalu terbuka ketika itu menambah segala sesuatu yang menyangkut pendidikan, pelayanan kesehatan dan yang ujungnya itu adalah membuat Indonesia itu makin terbuka dan makin maju ya dia yang tadi tunjuk tangan kamu kan. Iya. Oke. Tuh ya. Oke, terima kasih Pakita. Saya akan menyuarakan suatu aspirasi lokal.
45:38 Namamu siapa? E Fahri. Fahri. di mahasiswaasi publik semester 5 kita ee salah satu sindrom kolonial itu adalah feudalisme. Di dalam ee lingkungan pendidikan itu seringki budaya itu sangat menguat sehingga relasi antara pengajar dengan yang diajar itu timpang. He implikasinya adalah mahasiswa kerap kali kurang berani untuk menyuarkan idenya karena gurunya galak enggak? Feodalisme. Iya sangat menguat begitu. Nah, konsep pagita terkait untuk mengatasi pendidikan ini dengan merekrut top 20%
46:25 terbaik di Indonesia dengan menggaji dengan sangat tinggi itu barangkali perlu disempurnakan dengan suatu model yang mampu mengatasi sindrom ini, Pak kita. Karena ini harus dihilangkan supaya kemampuan mahasiswa dalam bercerita itu tidak dibatasi oleh feudalisme itu. Terima kasih Pak kita. Sori sebelum itu aku ingin nanya lagi apakah sekarang masih banyak dosen feodal? Eh dalam batas pengalaman saya itu masih masih masa benar batas empis saya banyak. Oh feodalnya kayak gimana? Saya dosen. Hah? Kamu dosen? Oh enggak. Iya iya kelihatan kamu dosen. Asik. Iya. Tunggu kayak gimana? Mungkin kalau di universitas di tingkat
47:12 Jakarta itu masih sudah berkurang ya. Saya kan dari lokal itu dari daerah Jawa Tengah universitasnya itu masih saya temuin masih ada tapi untuk yang lulusan dari luar sih enggak. Oke. Coba random sem kayak gimana sih feodalnya dosen sekarang? Heeh. Ee mereka suka ngasih nilai sesuka-sukanya. Suka ngasih nilai sesuka-sukanya. Indikator yang disepakati. Kan di awal sudah ada kontrak belajar nih. Tapi ketika kita memenuhi kontrak belajar tersebut justru nilai kita jelek karena ya dia ngasih nilai sistem-nya dia gitu. Hm. Subjektif. Oke. Karena ee ada Mbak Eriseda pengajar di ee sosiologi UI. Dia bilang, "Wah, kalau sekarang anak sekarang, wah suka-suka mereka." Kalau saya apa lagi
48:00 ee kasih kuliah ada tuh sambil tutorial make up katanya. Jadi oh mahasiswa sekarang bisa gitu. Iya ternyata enggak juga ya. Dosen itu feodal tapi itu menurut saya subjektif kali ya. Kalau feodal kan artinya dia enggak bisa dibantah, enggak ada tanya jawab kan gitu. Masih ada banyak sih kalau di daerah benar sih kalau kata kakaknya itu mungkin di Jakarta sudah lumayan lebih maju ya. Kalau kayak saya asal dari Palembang tuh masih feudal banget-nante dokternya. Hmm. Oke, silakan Pak Gita. Ini ini dalam batas intuisi ya. Saya enggak mau mendahului siapapun. Kalau orang digaji R500.000 sebulan atau 2,8 juta sebulan honorer nonorer
48:48 mungkin pandangan hidup dan prioritas hidupnya beda dibanding kalau orang tersebut digaji R0 juta sebulan. Iya kan? Dan mungkin kualitas yang mau menerima kenyataan hanya digaji 2,8 atau Rp500.000 R itu enggak seperti yang kita inginkan. Dibanding kalau orangnya digaji 40 juta mungkin kita lebih bisa menyelaraskan aspirasi kita dengan kenyataan di kelas. Iya kan? Saya berusaha sediplomatis mungkin. Mengatakan Pak kita ingin mengatakan bahwa ada persoalan yang jauh lebih serius yang dia pikirkan sehingga konsentrasi dalam halh ini menjadi
49:33 lumayan. Iya. Kalau dia bersedia menerima R2,8 juta atau Rp500.000 sebulan dengan kenyataan bahwa dia akan kesulitan naruh makanan di atas meja untuk dirinya sendiri, istrinya, dan empat anaknya, mungkin dia akan enggak melihat murid tuh sebagai prioritas utama dalam kehidupan. Tapi kalau dia digaji R0 juta, niscaya dia akan bisa naruh makanan di atas meja untuk dirinya, istrinya atau suaminya. dan empat anaknya bahkan pembantu-pembantunya dan pandangan atau pola pikir dia mengenai murid yang diajarkan di sekolah itu mungkin berbeda. Ini dalam batas intuisi ya. Nah, kedua saya sangat menghormati diversitas. Saya
50:20 ngajar lebih jarang di kampus lokal, lebih sering di kampus di luar. Dan saya selalu mengencourage siswa-siswi saya untuk mengekspresikan pandangan yang beda. Karena diversitas pandangan itu hanya akan memperkaya Heeh. proses pemikiran. I. Nah, tentunya diversitas itu akan bagus selama diharness atau dipupuk, dikawal dalam lingkungan yang enggak toksik. Tapi diversitas on the other side itu kalau dikawal, diharness dengan lingkungan yang toksik itu juga bisa menjadi sesuatu yang kurang baik.
51:06 Heeh. Nah, jadi tugas guru adalah untuk bagaimana dia bisa memastikan diversitas pandangan itu terjamin dalam diskusi ataupun diskursus di kelas. Itu yang seringkiali saya sebut sebagai demokratisasi ide atau demokratisasi pendidikan. Bagaimana kalau situasinya tidak seideal itu? Mahasiswa-mahasiswa merasa bahwa dapat dosen yang ee feodal, subjektif dalam penilaian. Apa yang harus mereka? Artya gurunya itu mungkin harus dites ulang dengan janji bahwa dia akan digaji R0 juta besok per bulan selama dia memenuhi kriteria yang kita inginkan. Dia harus memiliki IQ setinggi mungkin. Dia harus bisa berdongeng,
51:51 bercerita. Dia menguasai multibahasa dan dia harus bisa melakukan atau membina diversitas dalam pemikiran. Nah, kalau dia enggak qualify dengan kriteria tersebut, ya mungkin dia enggak perlu diberdayakan lagi agar kita enggak perlu gelisah dan khawatir mengenai feodalisme. Dan kalau kita benar-benar bulat mengenai konsep atau filsafat, demokratisasi ide dan demokratisasi pendidikan, diversitas pandangan, itulah yang harus diramu, dikawal, di pupuk dengan baik. Tanpa itu sulit untuk kita mencari inovasi-inovasi baru. Ada soal dosen yang memang terus harus di-upgrade atau ee tenaga pendidik yang
52:37 memang harus selalu di-upgrade. Tidak saja dari keilmuannya, tapi juga soal kesejahteraannya. Tapi buat mereka, teman-teman mahasiswa yang ada di sini, kalau mereka ada di situasi pendidikan yang bisa dibilang tidak merangsang imajinasi mereka, mereka mau punya punya diskusi yang yang baik, yang terus me apa meinikan meningkatkan daya kritis mereka, tapi mereka enggak punya. Apa kira-kira Pak Gita punya enggak ee ramuan supaya mereka juga bisa jadi pribadi yang kompeten ya atau murid murid mahasiswanya? Sulit karena mereka nih terjebak di kelas 8 jam sehari. Iya kan?
53:23 Dan saya berkeyakinan sikap atau perilaku yang feodalistis itu kemungkinan berkorelasi dengan kegelisahan seorang guru. Karena dia mungkin enggak cukup kesejahteraannya sehingga dia enggak bisa memprioritaskan pendidikan karena dia harus lebih memprioritaskan hal-hal lain. I iya kan? Dan kalau dia sudah disejahterakan dan ternyata dia masih feodal, ya mungkin dia belum memenuhi kriteria-kriteria basic lainnya, yaitu dia ditugaskan untuk memiliki IQ 120 ke atas. Dia harus memiliki kapasitas berbahasa lebih dari satu bahasa. Dia harus memiliki kapasitas untuk berdongeng dan dia harus memiliki kapasitas dan keterbukaan untuk
54:08 mengharnness memupuk mengawal diversitas. ya, KPI-nya harus dipertanggungjawabkan. Kalau KPI-nya tidak dipertanggungjawabkan, ya kita akan terus-menerus terjebak dengan feodalisme yang tidak diinginkan. Dan ee paling berbahaya sebenarnya feederalisme di dunia pendidikan sangat itu. Itu paling berbahaya. Sangat. Kita selalu bicara mengenai kerentanan, kesenjangan dalam konteks kekayaan dan pendapatan dan peluang. Tapi kita jarang ngobrol mengenai kesenjangan atau inequality dalam konteks apakah itu pendidikan ataupun energi. Energi di Sabang itu beda dengan energi di kota-kota lain. Energi di Jakarta jauh lebih tinggi daripada energi di kota-kota lain. Ya itu kalau menurut saya kesenjangan yang harus disikapi dengan distribusi public goods
54:55 atau demokratisasi public goods. Pendidikan juga sama. Jangan sampai orang di titik A dapat pendidikan yang lebih bagus daripada di titik B ataupun C. Nah, ini kalau bisa ya disikapi secara kita bisa lakukan eksperimentasi. Rekrut aja 100.000 guru dengan kualitas kriteria yang kita inginkan dan kita pantau setiap minggu kek setiap bulan, setiap kuartal, setiap semester atau setiap tahun. Dan saya berani menyampaikan bahwa itu bisa diukur apakah berkorelasi dengan peningkatan kecerdasan kesejahteraan kesehatan dan distribusi publik goods di kode pos terkait. He. Kalau enggak ya sudahudah ganti dengan calon yang baru, kandidat yang baru yang
55:42 mungkin lebih bisa memenuhi kriteria yang diinginkan. Aku rasa ini eh salah satu masukan terobosan yang yang baik sekali dari seorang eh Gita Wiryawan. Bagaimana investasi kita justru pada kesejahteraan guru supaya mereka tidak lagi memikirkan what's on the table for the kids atau makan apa. Hari ini mereka digaji cukup tetapi kemudian mereka menjadi seorang pendidik yang berkualitas. Cewek dulu ya. Boleh ya. Ya. Yang di depan ya. I ee selamat siang Mbak Rosi, Pak Gita. Ee saya Feni. Saya mau tanya tentang lebih lanjut tentang pendidikan, terutama dalam lingkup keluarga. Bagaimana menyadarkan keluarga kalau pendidikan
56:28 itu lebih dari sekedar akademis, tapi akan banyak perspektif yang akan berubah seiring berjalannya waktu kita belajar. baik dari belajarnya dari buku maupun dari belajar ee sekolah atau bahkan kuliah. Ee terlebih ketidaksadaran itu juga ternyata struktural. Dalam perspektif saya sebagai perempuan, pendidikan juga penting dalam empowerment perempuan agar meraih taraf hidup yang lebih baik sehingga terlepas dari kemiskinan bahkan dari kekerasan. Dan kami juga berhak berkontribusi untuk negara dan lepas dari idealisme yang tertinggal seperti perempuan pantas dikasarin karena ee perempuan suka dianggap kayak kita manusia kelas kedua
57:14 gitu. Dan karena ee idealisme itu kita sering ee menghadapi kalau ee banyak kekerasan yang dialami oleh perempuan karena kita tidak bisa berpikir kritis kalau kita tidak punya hak untuk hidup lebih baik. Begitu. Makasih. Silakan Pak Gita. Saya ini sudah 3 seteng tahun di Stanford ngajar. Di sana ada anak Indonesia dari Pontianak. Hm. Orang tuanya tuh sangat biasa-biasa banget. Bapaknya montir,
58:00 ibunya ibu rumah tangga. yang secara kebetulan waktu anak ini masih kecil, ibunya tuh enggak tahu gimana ya beliin buku karena mungkin ketemu orang di pasar, ketemu siapa gitu yang punya kebiasaan beli buku untuk anaknya. Dibeliin buku, ini anak montir, terus dia menang olimpiade biologi dunia. Dapat emas. Terus daftar ke satu sekolah aja di Amerika namanya Massachusetts Institute of Technology, MIT. Terima pernah dari Pontianak ke mana pun, ke Singapura, ke Tokyo enggak pernah langsung tembak langsung ke MIT. Dapat beasiswa full lulus dalam 4 tahun
58:47 IP-nya hanya 4,0. Terus dia mau ngambil S3 di mana aja dia apply ke sekolah-sekolah IV ke Stanford. Dia milih ke Stanford dan dia baru aja disertasinya selesai beberapa bulan yang lalu. Ini bukti bahwasanya walaupun orang tua tuh ada keterbatasan, tapi ada episode-episode tertentu yang mana seorang ibu ketemu dengan orang yang bisa memberikan suntikan. Eh, lu coba deh beliin anak lu buku. Ini enggak bisa digeneralisasi, ini anomali. Nah, kalau kita enggak bisa merangkul generalisasi seperti itu, kita
59:33 harus bergantung dengan metode atau pedagogi atau mekanisme alternatif. Ya, kalau orang tuanya 88% enggak berpendidikan S1, gimana untuk mendidik seorang anak mengenai gender equality? Gimana mendidik anaknya mengenai human rights? Gimana mendidik anaknya bahwa kesantunan dalam komunikasi, perilaku sehari-hari itu harus dikedepankan? Ya, harus dicari alternatifnya. alternatifnya tuh ya balik lagi ke guru karena interaksinya 8 jam sehari atau dua pimpinan di tempat ibadah. Iya kan kalau berkhotbah kalau bisa diisikan hal-hal yang nyambung dengan
1:00:19 bagaimana kita bisa mengekualisasi antara perempuan dan laki-laki. Bagaimana kita bisa mengekualisasi hak yang utuh yang ada di atau inherent di masing-masing manusia. Kalau enggak ada di tempat ibadah ya di institusi sosial atau di kantor atau di pasar atau di mana ya. Yang terakhir adalah ya secara kebetulan atau secara sistemik diinstitusionalisasi atau dilembagakan kebiasaan atau kedisiplinan untuk nonton podcast. ini gimana caranya ya? Kalau anak-anak sekarang tuh nonton atau megang HP 8 sampai 10 jam ini udah terjadi fenomena
1:01:05 under protection of online activities, over protection of offline activities. Orang tua sekarang tuh lebih protektif terhadap aktivitas offline anak-anaknya, tapi sangat underprotective terhadap aktivitas online di HP. Iya. kita anak kita di sekolah ngelihat HP apa yang dilihat kita enggak tahu, di kamar mandi enggak tahu, di kamar tidur enggak tahu. Ini kan sangat menggelisahkan. Nah, ini kalau menurut saya harus di tata ulang bagaimana penggunaan HP itu adalah untuk hal-hal yang lebih positif. Nah, ada juga fenomena bahwasanya generasi sekarang ini sudah mulai menderita dari amnesia historis. Amnesia historis tuh lupa dengan
1:01:52 sejarah. Kenapa? Karena kita terjebak dengan kekinian. Kita tuh berkomunikasi hanya satu sama lain. 8 miliar manusia kita hanya berkomunikasi 8 sampai 10 jam terkait dengan kekinian tanpa berkomunikasi dengan predisessor kita yang jumlahnya 105 miliar yang sudah meninggal sebelum kita secara kumulatif. Itu namanya sejarah. Kalau kita lebih belajar dari sejarah itu wisdom-nya banyak sekali. Kita bisa belajar banyak dari kegagalan dan kesuksesan peradaban sebelumnya, bangsa sebelumnya, negara sebelumnya, orang sebelumnya. Nah, ini gimana membiasakan untuk anak-anak muda sekarang untuk enggak terlalu lekat dengan kekinian, tapi lebih mau belajar dengan
1:02:37 hal-hal yang historis sifatnya. Ya, mungkin mulai dari perkumpulan kayak begini nih, kita lagi ngobrol gimana nih? Dan mudah-mudahan dengan asumsi bahwa masing-masing dari kalian ini adalah opinion leader ya, ini bisa dimultiplikasi. Kalian tuh adalah community multiplier. Kalian tuh bisa berpengaruh terhadap mungkin 2 3 4 atau 5 orang. Kalian tuh masing-masing adalah community multiplayer. Mulai dari situ dan enggak tahu gimana nanti eh ternyata bisa 285 juta kena. Ya, harus diapproach dengan optimisme, jangan pesimisme. Kalau itu bisa dilakukan satu persatu, langkah demi
1:03:25 langkah, saya rasa equalisasi seperti yang Anda aspirasikan itu bisa tercapai. Semoga menjawab ya. Ee saya tahu banyak banget yang masih ingin bertanya karena Mas Gita, look at this. Nih rasanya yang ikut dengerin adalah orang-orang di luar yang mendaftar link. Betul sekali. Iya. Enggak apa-apa. Ini bagian dari perpaduan imajinasi dan ambisi. Anda punya imajinasi ingin mendengar Pak Gita Wiryawan dan berambisi ikut mengantri di bagian belakangnya. Itu cara mencari ilmu juga ee Pak Gita. Jadi tepuk tangan dong untuk semua crowd yang ada di sini.
1:04:11 Ee biasanya di podcast ruang ee Temu Jalma ini selalu ada book advisor dari Jalma. Apa kira-kira buku yang direkomendasikan bulan ini? Halo, Mbak Rosi, halo Mbak Gita. Terima kasih sudah berjumpa di Jalma. Aku Rio sebelumnya Buketviser. Aku mau berterima kasih dulu ke Pak Gita sudah mlaunching buku Watx. Sebagai Buket Visiser, aku cukup senang karena ada buku yang kemudian membahas Asia Tenggara secara cukup komprehensif karena memang di ee rilisan yang akhir-akhir ini memang sangat jarang sekali yang berbicara mengenai Asia Tenggara secara region begitu. Nah, ee untuk buku yang aku rekomendasikan sebenarnya sifatnya eh referensi lanjutan begitu untuk buku what itxes-nya Pak Gita Wiryawan. Karena
1:04:58 di Whats berbicara soal bangsa-bangsa di Asia Tenggara, kemudian bagaimana kepemimpinan dan edukasi sangat berguna untuk melepaslandaskan bangsa-bangsa ini agar bisa lebih maju lagi. Aku merekomendasikan buku dari Jaret Diamond namanya e judulnya Uphie. ini mengisahkan tentang bagaimana ee bangsa-bangsa di dunia melewati krisis-krisis yang menerpa ee bangsa-bangsa tersebut. Menariknya di sini Jet Diamond itu biasanya membahas membahas suatu ee geografis gitu dengan perspektif sejarah. Tapi di sini eh di Abvival ini dia menambahkan sisi psikologisnya. Jadi salah satu poin pentingnya dari ee J diamond buku ini adalah bagaimana kaitan dari krisis yang
1:05:46 menerpa diri pribadi itu bisa saling ber ee berkaitan dengan krisis yang menerba bangsa-bangsa di dunia. Oke, jadi sangat nyambung sekali dengan bahasan yang ada di what it terutama terkait kepemimpinan dalam bangsa. Begitu saja Mbak Rosi. Thank you terima kasih banyak. Ee saya boleh nambahin dikit enggak? Go ini. Ini jangan lupa ya. Narasi terkaya di dunia kalau menurut saya itu terjadi di Indonesia. How come? Banyak yang enggak tahu 75.000 tahun yang lalu kita semua belum lahir itu ada letupan namanya Toba. He ya yang kalau menurut saya sangat
1:06:32 game changing terhadap humanity itu menghemburkan 2.800 km³ deb batu-batuan lava dan segalanya yang mengelilingi dunia selama konon puluhan sampai ratusan tahun yang mengurangi populasi dunia sampai 3.000 sampai 5.000. Nah, ini menurut saya adalah riset cognitif. Karena siapapun yang bisa survive 3.000 sampai 5.000 itu adalah mereka yang bisa manjat pohon lebih cepat karena tsunami, lava dan segalanya. Mereka yang bisa ngumpet di goa, mereka yang bisa
1:07:18 berenang lebih cepat, mereka yang bisa pokoknya yang bisa survive. Jadi survival instinct mereka itu mengubah tatanan kognitif mereka sehingga jumlah neuronnya itu berkembang lebih banyak di keturunan mereka. Ini yang membuahkan apa yang diargumentasikan oleh beberapa ahli antropologi termasuk Jared Diamond, termasuk Yuval Harari bahwasanya telah terjadi revolusi kognitif 70.000 ri yang lalu. Eh, jadi ukuran otak manusia ini tiba-tiba lebih besar 70.000 tahun yang lalu. Dan saya berani berspekulasi, belum berhipotesa bahwasanya itu berkorelasi dengan kejadian di Indonesia yaitu 75.000 tahun yang lalu. Wow. Iya kan? Ini kekayaan narasi Indonesia
1:08:05 nih. Makanya jangan terlalu banyak nonton TikTok. Baca buku. Kedua, di milenium pertama kejayaan Indonesia itu termanifestasi tentunya di Sriwijaya dan Shilendra yang mampu dalam 75 tahun dari tahun 650 sampai 725 membangun konstruksi bangunan yang indah, perkasa, dan luar biasa yaitu Borobudur. Dan jangan lupa di zaman Sriwijaya itu siapapun biksu scholar Buddha kalau mau melakukan kulminasi pendidikan di Nalanda University di Bihar di India mereka harus orientasi di Palembang selama beapa minggu, berapa bulan dan ini indah sekali karena
1:08:54 peradaban kita ini berinteraksi dengan peradaban dua peradaban yang hebat yang pertama adalah dinasti Tang dari 6008 sampai 907 kalau enggak salah atau 618 sampai 907 dan dinasti Umayyah dan Abas di Timur Tengah. Ini tiga peradaban yang luar biasa di Tiongkok, Indonesia dan di Timur Tengah. Ini milenium pertama yang pertama 75.000 tahun yang lalu di kampung halamannya Rosi. Milenium pertama Sriwijaya dan Shalendra. Yang ketiga tentunya Majapahit ya, dari akhir abad ke-13 sampai sekitar akhirnya abad ke-15.
1:09:41 Tapi kita tuh mengalami ketidakuntungan di abad ke-15 karena terjadi beberapa hal. Satu tentunya meninggalnya Hayamuruk dan Gajah Mada. Kedua, runtuhnya dinasti Kemer. Ketiga, diambil alihnya Vietnam oleh Dinasti Ming. Dan keempat, ditemukannya alat cetak di Eropa oleh Yohannes Gutenberg yang di awal waktu untuk mencetak kitab Injil, tapi itu digunakan untuk mencetak ulang informasi apapun yang mengakselerasi diseminasi informasi dan mengakselerasi ilmu pengetahuan. dan fast forward 20 detik. Di abad ke-17,
1:10:29 Dinasti Ching dari Tiongkok mengambil sikap untuk menarik diri dan enggak mau melakukan eksternalisasi sehingga terjadi kevakuman. Secara geopolitik, kekuatan Eropa yang datang ke Asia Tenggara tidak diimbangi dengan kekuatan Tiongkok. Makanya tidak terjadi equilibrium. kita mengalami the three and a half centuries of humiliation, yaitu periode kolonial atau penjajahan. Bukan Indonesia aja, Malaysia, Singapura Brunei Vietnam, Laos, Myanmar, dan lain-lain. Jadi kita belajar dari sejarah dan kita bisa mengambil langkah untuk bagaimana di abad ke-21 kita bisa mencapai keemasan yang diaspirasikan oleh kita semua. Wow. Tepuk tangan untuk Bapak Gita Wiryawan.
1:11:14 Saya rasa komunitas seperti ini juga menjadi satu komunitas di mana menceritakan yang tadi Pak Gita katakan kedua tiga orang aja, kedua tiga orang lagi aja kita bisa menjadi the agent di mana kita terus menumbuhkan imajinasi dan terus menjadi jalan bagi yang lainnya untuk ee membuka ambisi-ambisi ee pemuda-pemudi Indonesia lainnya. Eh, saya mau kasih sedikit aja ee ini ee moral cerita dari apa yang dikatakan oleh Pak Gita Wiryawan, education atau pendidikan itu betul-betul penting banget dan kita sungguh menaruh harapan bagi para guru, para dosen, terutama
1:11:59 dalam hal ini para pendidik. Meski kita juga tahu bagaimana kesejahteraan mereka jauh berkurang, tetapi seperti yang tadi kata Pak Gita bahwa yang paling penting tuh kita tuh dapat seseorang yang nyetrum, nyetrom imajinasi kita, membuka jalan untuk kita supaya kita being ambitious itu enggak apa-apa loh. Having ambitious, having ambition atau punya ambisi itu enggak apa-apa loh. Yang penting jangan menghalalkan segala cara. Eh, last but not least, pasti kalau saya bicara sama teman-teman kelas menengah nih, eh, Pak Gita, pasti ada kejengkelan mereka untuk melihat gua susah-susah belajar, capek-capek, tapi yang ini ya
1:12:46 gitu doang. Please don't get jealous for those who goes up very apa? Quick, believe me, they will go down pretty soon. Berbahagialah menjadi orang-orang yang selalu mencintai proses. Terima kasih Bapak Gita Wiryawan. Terima kasih untuk Anda semua yang selalu hadir di podcast ruang Temu Jalma. Sama-sama kita angkat. What it Takes. Mereka semua pada punya loh. Wow. What it takes Asia Tenggara dari tepi menuju inti kesadaran global. Semoga semua Anda yang hadir di sini dan Anda yang menyaksikan podcast ruang temu
1:13:32 Jalma menjadi bagian yang selalu mendorong Indonesia dari tepi menuju ke inti kesadaran global. See you next month. Bye. Thank