GJ 152 | “SKANDAL UI ITU BIASA?” KAMPUS MEMANG SERING JADI TEMPAT ANU ANU

Ringkasan Singkat

Video ini membahas tentang reaksi keterkejutan masyarakat Indonesia terhadap kasus misogini dan kecabulan yang terjadi di kalangan mahasiswa FH UI. Guru Gembul menyatakan bahwa masalah ini sebenarnya sudah lama terjadi dan terbuka, sehingga seharusnya tidak mengejutkan. Dia juga menyoroti masalah pelecehan dan penistaan yang lumrah terjadi di dunia pendidikan Indonesia, serta kemunafikan masyarakat terkait seksualitas. Beberapa poin utama yang dibahas:

  • Pelecehan dan penistaan sudah lama terjadi di dunia pendidikan Indonesia.
  • Masyarakat Indonesia cenderung melihat perempuan sebagai objek seksual.
  • Pelecehan terselubung sering terjadi dalam acara-acara hiburan dan formal.
  • Ketabuan seputar seksualitas menghambat edukasi dan penanganan masalah.
  • Kemunafikan masyarakat membuat masalah seksualitas menjadi terselubung dan sulit diatasi.

Intro

Guru Gembul membuka video dengan membahas keterkejutan masyarakat Indonesia terhadap kasus yang melibatkan mahasiswa FH UI yang tergabung dalam grup tertutup dengan konten misoginis dan cabul. Ia merasa heran mengapa masyarakat baru terkejut sekarang, padahal masalah ini sudah lama terjadi, terbuka, dan eksplisit. Ia menyatakan bahwa dirinya tidak terkejut dan merasa miris karena kesadaran masyarakat yang terlambat.

Pengalaman Pribadi dan Contoh Kasus

Guru Gembul menceritakan pengalamannya sendiri saat SMP, di mana senior-seniornya mengajarkan lagu dan akronim cabul di depan guru-guru. Ia juga menyebutkan kasus-kasus serupa yang terjadi di UNSTRAT pada tahun 2018 dan Universitas Sriwijaya pada tahun 2025, di mana mahasiswa baru mengalami pelecehan saat ospek. Ia mempertanyakan mengapa masyarakat baru kaget sekarang, padahal fenomena ini sudah lama terjadi.

Guru Inspiratif vs. Guru Cabul

Guru Gembul menantang penonton untuk membandingkan jumlah guru inspiratif dan guru cabul yang pernah mereka temui. Berdasarkan pengalamannya bertanya kepada mahasiswa, sebagian besar dari mereka menjawab bahwa guru cabul lebih banyak daripada guru inspiratif. Ia juga mengutip laporan Kompas tahun 2020 yang menyebutkan bahwa 77% dosen di Indonesia mengaku pernah mengetahui adanya kecabulan di kampusnya, tetapi 63% dari mereka memilih bungkam.

Video ITB 10 Tahun Lalu dan Kesadaran yang Terlambat

Guru Gembul menayangkan video dari ITB 10 tahun lalu yang menunjukkan adanya praktik yang tidak pantas. Video ini baru viral setelah kasus FH UI muncul, yang menunjukkan bahwa praktik semacam ini sudah lama dianggap lumrah. Ia menekankan bahwa lembaga pendidikan Indonesia memang bermasalah dan orang-orang yang menyelenggarakan pendidikan seringkali juga adalah orang-orang yang cabul.

Analisis Masalah: Mengapa Lembaga Pendidikan Penuh Pelecehan?

Guru Gembul menganalisis mengapa lembaga pendidikan di Indonesia penuh dengan pelecehan dan penistaan, khususnya terkait gender. Alasan pertama adalah karena masyarakat Indonesia cenderung melihat perempuan sebagai objek seksual, bukan sebagai manusia. Tradisi maskulinitas yang kuat dan patriarki membuat perempuan diperlakukan sebagai objek.

Pelecehan Terselubung dan Kegagalan Memahami Ketabuhan

Alasan kedua adalah karena masyarakat melumrahkan pelecehan-pelecehan terselubung dalam acara-acara hiburan dan formal. Alasan ketiga adalah karena masyarakat gagal memahami ketabuhan, sehingga edukasi seks menjadi aneh dan tabu. Pembongkaran ketabuhan justru mengarah pada pelecehan, bukan edukasi yang sehat.

Kemunafikan dan Seksualitas yang Terselubung

Guru Gembul menjelaskan bahwa karena seksualitas dianggap tabu, malu, dan pamali, maka segala sesuatu yang berhubungan dengan itu menjadi terselubung. Hal ini membuat sulit untuk mendata, menganalisis, dan menemukan solusi. Ia mencontohkan penggunaan aplikasi Mi Chat di Indonesia yang sangat tinggi, menunjukkan bahwa kemesuman terselubung sangat parah. Banyak orang berperan ganda dan memiliki alter ego.

Kesimpulan dan Ajakan untuk Sadar

Guru Gembul menyimpulkan bahwa masyarakat Indonesia selama ini pura-pura tidak sadar atau memang tidak sadar akan masalah ini. Jika kesadaran baru muncul sekarang, maka masih jauh dari solusi. Ia mengajak masyarakat untuk sadar dan mengakui masalah kemunafikan yang ada.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 Assalamualaikum beres. Selamat datang kembali di sebuah negara yang sedang mengalami inflasi keterkejutan. Kemarin masyarakat Indonesia terkejut karena ada sekelompok mahasiswa-mahasiswa terbaik yang tergabung di organisasi-organisasi kampus terbaik yang bermukim di fakultas paling prestisius di sebuah kampus yang paling berprestasi. FH UI ternyata mereka tergabung dalam grup-grup tertutup yang penuh dengan penuh dengan misog, penuh dengan kecabluan, dan penuh dengan hal-hal yang tidak pantas. Orang-orang kemudian kecewa lah. Bayangkan ini mahasiswa loh. Bayangkan

0:47 mereka itu adalah kader-kader terbaik bangsa yang dididik di kampus terbaik. Kok gini? Gimana nanti ketika mereka sudah besar? Gimana nanti ketika mereka sudah memiliki ee pekerjaan? Gimana kalau mereka memasuki instansi-instansi pemerintah dan seterusnya dan seterusnya? Kemudian netizen-netizen di Indonesia akhirnya berburu siapa sebenarnya orang tuanya yang terindikasi melindungi pekerjaan mereka apa dan ternyata ketahuan ada yang pengacara, ada yang polisi, perwira dan lain sebagainya. Nah, inilah yang akhirnya membuat kita rakyat Indonesia merasa kecewa dan terkejut dengan kejadian ini. Tapi saya mohon maaf baraya. Pertama saya tidak terkejut dan yang kedua, saya merasa miris kenapa rakyat Indonesia

1:33 baru terkejutnya sekarang. Pernyataan sekarang terkejut artinya mereka baru sadar sekarang. Padahal masalah ini sudah berjibun begitu lamanya. Dan bukan hanya begitu lamanya, tetapi terang-terangan dan terbuka, eksplisit dan diumbar di mana-mana. Bagaimana ceritanya sesuatu yang diumbar di mana-mana eksplisit dan terbuka baru disadarinya sekarang? Itu pertanyaan saya. Saya saya mulai dari pengalaman saya pribadi, tapi baraya silakan konfirmasi ya. Pertama, waktu saya masuk SMP pertama kalinya waktu saya lagi cupu-cupunya saya umurnya tuh belum masuk remaja, baru anak-anak otw remaja, masih SMP

2:19 kelas 1 baru masuk. Itu senior-senior saya di berbagai organisasi dan acara yang dilaksanakan oleh sekolah saya itu mengajarkan hal-hal yang tidak seronok, yang tidak baik. Contoh mereka tuh pernah mengajarkan lagu dan ini saya percaya baraya juga mungkin pernah diajarkan lagu seperti ini ya. Kurang lebihnya lagunya tuh begini. Abi teh ayeuna gaduh hiji boneka nu hiji disimpen dina calana ku abdi dielusan elusna lalaunan mangga tingali endut-endutan. Begitu kurang lebihnya. Kalau baraya kurang paham saya terjemahkan maknanya saja ya. Jadi maksudnya saya memiliki sebuah boneka yang ada di dalam celana yang saya simpan di celana dan boneka itu kalau

3:05 dielus-elus dia akan endut-endutan begitu kurang lebihnya. Nah, lagu itu tuh diajarkan dan kemudian secara terbuka dikatakan ini untuk membuat kalian segera dewasa. Jadi kalian jangan mikir ke mana-mana ya. Ya jelaslah mikirnya pasti ke mana-mana karena itu dijelasin boneka yang disimpan di celana kalau dielus itu endut-endutan gitu. Apalagi coba? itu kan pikirannya tuh di di kita anak SD masuk ke SMP itu tuh diajarin lagu yang seperti itu. Bahkan saya ingat dulu tuh saya masih pakai baju SD karena masih di ospek gitu. Dan itu tuh di depan guru-guru ada di sana juga guru-gurunya biasa aja melakukan dan melihat senior-senior saya melakukan itu gitu. Kemudian mereka tuh pernah mengajarkan berbagai akronim dan singkatan-singkatan yang

3:51 cablu gitu. misalkan si kon panjang gitu. Kemudian mereka mengatakan, "Eh, jangan mikir ke mana-mana ya." Itu artinya adalah situasi kondisi toleransi pandangan dan jangkauan. Ya, ya mikirnya ke situ. Jadi, kita tuh harus situasi, kondisi, toleransi, pandangan, dan jangkauan itu yang harus bla bla bla bla bla. Nah, itu tuh banyak beraja. Dan itu tuh legal diajarkan waktu saya ospek dan setelah saya tergabung ke dalam organisasi ekstra itu. Dan sepanjang SMP kemudian SMA itu juga saya diajarkan hal-hal yang semacam itu. Ada ada pelecehan-pelecehan ada penistaan-penistaan terhadap ee gender tertentu atau terhadap profesi tertentu atau sesuatu yang lain. Itu tuh adalah

4:38 hal yang lumrah dengan sebutan bahwa ya itu kan adalah untuk pendewasaan gitu. Atau kalau baraya misalkan masih, oh saya tidak pernah ngalamin yang seperti itu. Gitu ya. Oke, ini ada ada kejadian di UNSTRAT tahun 2018 di ospek dan divideokan, didokumentasikan sehingga kita semua bisa melihatnya. Mahasiswa-mahasiswa baru itu harus membaringkan kepalanya di atas area vital temannya. Kemudian setelah itu dia harus menggesek-gesekan seperti itu dan itu divideokan dan itu ada dan itu lumrah. Kenapa dia melakukan seperti itu? Ya karena senior-seniornya juga melakukan hal yang seperti itu gitu. Atau kejadian yang lebih baru misalkan tahun 2025 di Universitas Sriwijaya ada kejadian juga di mana

5:24 mahasiswa-mahasiswa baru ketika di ospek dia harus cium kening temannya. Ya memang sekedar cium kening. Tapi kan itu tuh ada orang yang merasa terlecehkan, ada orang yang merasa sangat tidak nyaman. Tetapi karena itu adalah bagian dari peraturan ya diikuti saja gitu. Nah, hal-hal yang semacam ini tuh lumrah kan? Hal semacam ini tuh banyak kan dan ini ada di dunia pendidikan kita kan. Lalu kenapa kita kagetnya sekarang? Artinya kita sadarnya sekarang. Artinya dengan fenomena seeksplisit itu, dengan keterbukaan yang seerang benderang itu, kita kagetnya sekarang. Halo. Saya saya bertanya. Saya kalau misal seminar di depan mahasiswa itu kadang-kadang saya suka bikin pertanyaan dan sebuah tantangan dan saya ajukan juga kepada baraya sekarang. Silakan jawab ya. Saya tuh nanya kayak gini teman-teman dari

6:09 SD, SMP sampai SMA. Berapa banyak guru yang inspiratif dan berapa banyak guru yang cablu? Sekarang bandingkan mana yang lebih banyak guru yang inspiratif atau guru yang cablu? Sepanjang saya mengajukan tantangan itu kepada mahasiswa-mahasiswa mereka, tidak ada satuun yang menjawab guru inspiratif lebih banyak mereka temui daripada guru cablu. Semua dari mereka bilang guru cablu lebih banyak daripada guru inspiratif. Nah, sekarang saya tanya kepada Baraya, benar enggak seperti itu? Baraya ngalamin SD kan, ngalamin SMP kan, ngalamin SMA kan? Pernah enggak Baraya ketemu sama guru yang ngomongnya mesum, yang ngomongnya cablu? yang perilakunya juga agak cablu gitu ya. Dan itu tuh

6:56 dianggapnya sebagai bagian dari candaan. Dianggapnya sebagai apa? Itu lumrah kan terbiasa seperti itu lah. Lalu pertanyaannya balik lagi, kenapa terkejut? Kan udah dari dulu gitu. Bahkan ini ada juga laporan Kompas ini Kompas tahun 2020 dia menyebutkan bahwa dosen-dosen pernah disurvei di Indonesia dan mereka bilang 77% dari dosen di seluruh Indonesia mengaku pernah mengetahui adanya kecabluan di kampusnya. Tapi 63% dari dosen-dosen itu bungkam alias diam. Karena apa? karena itu dianggap sebagai sesuatu yang ya dinamika kampus saja biasa aja gitu. Nah, itu itu ada ya. Kemudian ya mungkin

7:43 kita memang terkejutnya terlambat gitu. Mungkin kita sadarnya terlambat sampai akhirnya ada sebuah survei memang yang menyebutkan laporan terhadap pelecehan di ee kampus-kampus, di universitas-universitas di sekolah-sekolah tinggi itu memang pelaporannya naik 600% di tahun 2025 dibandingkan dengan 3 tahun sebelumnya. Artinya bukan soal em proses pencabluannya lebih banyak, tetapi yang dilaporkannya menjadi lebih banyak yang menunjukkan bahwa oh ternyata kita terkejutnya sekarang. Oh ternyata kita sadarnya tuh baru sekarang. Padahal kita mengalaminya sejak zaman dulu kalau dan kalau baraya masih bingung juga nih, ini ada video di ITB 10 tahun yang lalu. Simak du

8:33 lebarnya hampirnya terujah aku bakal setinya pangilandi kali seram di yang teri goyang video ini sudah ada lama sekali tetapi baru viral setelah FH Hui ini muncul ke

9:20 permukaan. Artinya apa ya? Video ini tuh udah lumrah, udah biasa. Dari dulu juga memang kayak gini gitu. Makanya please lah baraya sadarnya tuh dari dulu bukan sadarnya dari sekarang. Inilah yang terjadi bahwa lembaga pendidikan kita memang bermasalah. Bahwa bidang kependidikan kita tuh memang sebobrok itu. Bahwa orang-orang yang menyelenggarakan pendidikan seringki juga adalah orang-orang yang cablu gitu. Bahkan orang yang melakukan proses atau terjadinya kasus pelecehan di dunia akademik kita itu dilakukan oleh orang-orang akademik segitu. Nah, masih terkejut ya enggaklah enggak terkejut. Kenapa saya terkejut? Kenapa baraya baru terkejut sekarang gitu. Tapi okelah kita mengarah kepada solusi ya. Nah, jadi kita mulai dari

10:08 untuk bisa menemukan solusi kita menemukan masalahnya dulu. Jadi masalahnya kita analisis kenapa lembaga pendidikan kita penuh dengan pelecehan dan penistaan khususnya terkait dengan gender gitu ya. Alasan pertamanya adalah karena ya sebenarnya e kita ee manusia di Indonesia itu melihat perempuan itu bukan sebagai manusia tetapi sebagai perempuan yang menjadi objek ee seksualitas kita gitu. Jadi pikirannya tuh arahnya itu adalah ke sana. kita tuh punya tradisi maskulinitas yang sebenarnya tidak terlalu kuat tapi patriarkinya kuat luar biasa gitu. Dan karena itu kita melihat perempuan itu sebagai sesuatu yang diperlakukan bukan sesuatu yang sedang melakukan. Dia

10:54 tuh objek dan objektifikasi karena itu ya. Nah, karena itu maka kita tuh selalu berpikir ketika bertemu dengan perempuan, hal pertama yang kita tengok itu adalah bagaimana karakteristik-karakteristik fisiknya. Alih-alih kita berpikir tentang sesuatu yang menjadi karyanya, alih-alih kita berpikir tentang bagaimana prestasinya, ee capaiannya, dan sebagainya. Hal pertama yang kita bayangkan tentang seorang perempuan itu adalah ya bagian-bagian atau urusan-urusan yang berhubungan dengan seksualitas gitu. Itu itu yang pertama kan. Kemudian yang kedua, kita tuh melumrahkan pelecehan-pelecehan terselubung. Jadi, Baraya sadar enggak sih bahwa dalam acara-acara kita misalkan acara lucu-lucuan gitu ya, acara komedi

11:39 kemudian ee berbagai acara formal tapi pas acara santai kita tuh memang membiasakan untuk punya pelecehan-pelecehan terselubung gitu. Jadi, misalkan dulu ada acara lawak gitu ya, acara komedi biasanya ada bintang tamu perempuan gitu. Nah, si bintang tamu perempuan itu diadakan di situ hanya untuk jadi objek rayuan. Cie, cie, cie gitu ya. Terus si perempuannya itu enggak ngapa-ngapain. Dia benar-benar sepenuhnya jadi objek di sana. Dia dirayu, dia digombalin, kemudian hasil gombalannya itu tertawa. Kemudian dia tuh dipuja dan dipuji, kemudian dibayangkan secara sensual gitu kan. Diperlakukan secara sensual gitu. Jadi em kita tuh memang cablu tapi cablunya itu terselubung gitu. Jadi dibalut dengan candaan, dibalut dengan

12:25 ini kan sesuatu yang formal tapi lucu, ini kan lagi santai, ini kan lagi biasa. Jadi kita tuh dipenuhi oleh kecabluan-kecabluan yang memang sepenuhnya diselubungkan dengan berbagai ee gimik gitu. Ngalamin enggak seperti itu? Ngalamin kan? Ya, itu yang kedua, kita tuh udah terbiasa banget dengan hal-hal yang seperti itu. Kemudian yang ketiga, kita tuh adalah masyarakat yang gagal untuk memahami ketabuhan. Coba em kalau kayak ada usulan, yuk kita sex education kepada masyarakat gitu, itu berontak masyarakat tuh. Oh, jangan gitu, itu berarti melegalkan yang begini dan begitu dan sebagainya gitu. Makanya seks education di Indonesia juga jadi sangat aneh gitu, sangat tabu gitu. Padahal itu namanya juga edukasi ya.

13:12 Karena kita tuh gagal untuk menemukan eh mana esensi dari ilmu pengetahuan dan mana kecenderungan-kecenderungan hawa nafsu kita, gitu. Nah, makanya semua hal yang berhubungan dengan sensual bahkan ketika itu mendidik sekalipun itu ditutup dengan ketabuan, saru, pamali dan sebagainya. Kita ngomong, "Mah, ini kenapa saya waktu kecil tiba-tiba tegang ininya, ih jangan ngomong gitu, Pamali. Jangan ngomong gitu, saru. Jangan ngomong gitu, diam aja bla bla bla dan akhir dan diam. Nah, karena itu adalah bagian dari ketabuhan ketika kita masuk ke dunia pendidikan yang katanya mencerahkan. Nah, salah satu wujud dari upaya mencerahkannya itu adalah dengan membongkar ketabuhan. Dan pembongkaran terhadap ketabuhan-ketabuan itu justru

13:58 malah mengarahkan kita kepada sesuatu yang jauh lebih tidak sehat gitu. Bukannya sex education tapi malah pelecehan. bukannya mengajarkan tentang reproduksi yang baik, misalkan mengajarkan tentang interaksi yang baik, tetapi justru malah membahas tentang hal-hal penistaan dan pelecehan. Begitu. Itu tuh lumrah terjadi gara-gara kita tuh gagal untuk mendefinisikan dan memposisikan apa ketabuan itu. Dan masalah itu tuh berujung pada masalah berikutnya yang bahkan lebih mengerikan lagi yaitu apa? Masyarakat kita tuh kan terkait dengan hal-hal yang berbau seksualitas itu jadi tabu, jadi malu, jadi saru, jadi pamali. Dan karena itu maka segala sesuatu yang berhubungan dengan itu menjadi terselubung. Karena menjadi terselubung sulit untuk didata. Karena sulit itu sulit untuk

14:44 dianalisis. Karena sulit untuk dianalisis kita tidak punya solusinya sampai sekarang. Coba sekarang baraya bayangkan kemesuman ee terselubung kita itu parah banget. Free seks di Indonesia, seks bebas di Indonesia itu sama parahnya dengan di barat. Tapi ketika di barat itu terlihat kita mah enggak. Coba Baraya lihat datanya ya. Ee aplikasi yang paling sering digunakan untuk bermesum-mesum meria itu adalah Mi Chat. Iya kan? Dan beraya tahu di Indonesia pelanggan Mi Chat adalah yang terbesar di seluruh dunia. Sampai-sampai seandainya pelanggan di seluruh dunia itu digabungkan jadi satu itu angkanya hanya seperempat dari pengguna Mihat di

15:31 Indonesia. besar sekali. Indonesia tuh lebih dari 80% baraya yang pengguna met itu. Nah, met digunakannya untuk apa? Untuk itu. Jadi ketika di negara-negara yang barat mah ada red distrik misalkan ada apa segala rupa yang terbuka yang bisa dilihat dan bisa dipantau kemudian bisa diantisipasi hal-hal buruknya. Nah, kita mah enggak. Karena kita mah terselubung sehingga banyak orang-orang yang berperan ganda, banyak orang-orang yang memiliki altern ego, banyak ustaz-ustaz misalkan yang di satu sisi memiliki kehidupan yang sangat religius, sangat spiritualis, sangat baik dan sebagainya. Dia punya mat-hal yang seperti itu. Itu kan di Indonesia begitu. Nah, kita tuh terselubung pada bagian itunya. Nah, kita tuh udah tahu itu. Kita tuh udah tahu. Jadi, sudah

16:17 lama kita tuh mengalami hal seperti itu. Makanya saya kaget ketika Baraya kaget melihat ada kasus di FH UI. Please lah. Artinya selama ini kita tuh pura-pura enggak sadar atau emang enggak sadar. Dan kalau kita sadarnya baru sekarang artinya ya itu artinya kita masih jauh banget dari solusi. Karena jangankan upaya untuk menemukan jalan keluarnya, bahkan kita baru tahu masalahnya sekarang. Kita hidup dalam sebuah masyarakat yang penuh kemunafikan. Baraya. Terima kasih karena sudah menyimak. Saya Guru Gembul. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.

Share

Ringkasan Video YouTube