GUS BAHA - JADILAH BOROS SUPAYA REJEKI MELIMPAH

Ringkasan Singkat

Video ini membahas tentang kemudahan berbuat baik dan bersosialisasi dalam Islam, berdasarkan kitab Sahih Muslim. Gus Baha menjelaskan bahwa jika seseorang tidak mampu berbuat baik secara aktif, maka minimal tidak menimbulkan keburukan bagi orang lain. Selain itu, pentingnya tawadhu dan ikhlas dalam beragama juga ditekankan, serta bagaimana kebaikan yang kita lakukan pun bisa memiliki dampak negatif bagi orang lain, sehingga penting untuk saling memaafkan.

  • Jika tidak bisa berbuat baik, jangan menimbulkan keburukan.
  • Pentingnya tawadhu dan ikhlas dalam beragama.
  • Kebaikan yang kita lakukan pun bisa berdampak negatif.

Kemudahan Berbuat Baik Menurut Hadis

Gus Baha memulai dengan menjelaskan bahwa Islam itu mudah dalam hal berbuat baik dan bersosialisasi. Beliau merujuk pada kitab Sahih Muslim, salah satu kitab hadis paling otoritatif dalam Islam. Ketika Nabi Muhammad SAW ditanya tentang amal apa yang terbaik, beliau menyebutkan iman kepada Allah. Kemudian, Nabi juga menekankan pentingnya membebaskan budak sebagai salah satu misi Islam. Jika seseorang tidak mampu melakukan kebaikan yang membutuhkan biaya seperti membangun masjid atau fasilitas umum, maka Nabi menyarankan untuk membantu orang yang ahli dalam pekerjaan kreatif atau membantu orang yang tidak memiliki pekerjaan.

Menjaga Diri dari Perbuatan Buruk

Jika seseorang tidak mampu melakukan kebaikan aktif, maka Nabi Muhammad SAW memberikan panduan untuk menjaga diri agar tidak menimbulkan keburukan bagi orang lain. Keburukan ini bisa berupa kejahatan kriminal, pidana, atau hal-hal yang mengganggu orang lain. Contohnya, seseorang yang sedang sumpek tidak boleh mengganggu temannya yang sedang bekerja atau beribadah. Dalam kondisi emosi atau penat, sebaiknya seseorang menyepi (uzlah) agar tidak menyakiti orang lain. Nabi juga mengingatkan agar hakim tidak membuat keputusan saat emosi karena akan berdampak buruk.

Pentingnya Menyampaikan Ajaran Nabi Melalui Kitab

Gus Baha menekankan pentingnya menyampaikan ajaran Nabi Muhammad SAW melalui kitab-kitab yang otoritatif. Jika seorang dai atau ustaz tidak menggunakan kitab, maka ia hanya menyampaikan pikiran dan idenya sendiri, yang mungkin tidak sesuai dengan ajaran Islam. Dengan membaca kitab, umat berhak mendapatkan teladan dan sabda dari Rasulullah SAW. Beliau juga mencontohkan bahwa jika seorang bupati bercerita tentang daerahnya, mungkin tidak relevan bagi orang lain. Namun, jika seorang kiai membaca hadis, maka umat akan mendapatkan panduan dari Rasulullah SAW.

Respek Terhadap Umat Islam dengan Ilmu

Gus Baha menjelaskan pentingnya membaca umat Islam dengan ilmu usul fikih. Contohnya, ketika melihat seseorang tidur, jangan hanya dilihat sebagai orang yang meninggalkan tahajud atau wiridan, tetapi juga sebagai orang yang meninggalkan maksiat dan kriminalitas. Dengan ilmu, kita bisa lebih menghargai orang yang tidur karena ia juga melakukan kebaikan dengan tidak melakukan keburukan. Beliau mengutip ayat Al-Quran yang menyebutkan bahwa tidur adalah salah satu tanda kebesaran Allah.

Status Kehambaan di Hadapan Allah

Gus Baha menekankan pentingnya memantapkan status kehambaan di hadapan Allah. Beliau memberikan analogi tentang perbedaan antara ilmu manusia dan kekuasaan Allah. Secara materi, besi mungkin lebih kuat dari kertas, tetapi Allah bisa saja menghancurkan besi dan mengabadikan kertas. Oleh karena itu, penting untuk selalu menyandarkan segala sesuatu kepada Allah sebagai penguasa alam semesta. Beliau juga menjelaskan bahwa agama tidak anti ilmu, tetapi harus diiringi dengan keyakinan bahwa segala sesuatu tergantung pada kehendak Allah.

Tawadhu dan Ikhlas dengan Ilmu

Gus Baha menjelaskan pentingnya tawadhu (rendah hati) dan ikhlas dalam beragama. Jika seseorang tidak bisa tawadhu secara rasa, maka tawadulah secara ilmu. Contohnya, seorang kiai mungkin merasa hebat di kampungnya, tetapi ia harus sadar bahwa agama sudah ada sebelum dirinya dan di daerah lain yang tidak mengenalnya. Dengan ilmu, seseorang akan lebih tawadhu karena menyadari bahwa dirinya tidaklah penting. Begitu juga dengan ikhlas, jika tidak bisa ikhlas secara rasa, maka ikhlaslah secara ilmu. Beliau mencontohkan bahwa mengakui Allah sebagai Tuhan adalah fakta, sama seperti mengatakan kertas ini putih. Oleh karena itu, tidak perlu mengharapkan imbalan ketika mengakui Allah sebagai Tuhan.

Kebaikan yang Dievaluasi dan Saling Minta Maaf

Gus Baha menjelaskan bahwa dalam setiap kebaikan yang kita lakukan, pasti ada potensi kesalahan. Oleh karena itu, penting untuk saling meminta maaf. Beliau mengutip kitab Hikam yang menyebutkan bahwa manusia yang baik saja ada salahnya, apalagi yang sedang bermasalah. Beliau mencontohkan bahwa suami istri yang terlalu harmonis mungkin melupakan ibunya. Oleh karena itu, penting untuk mengevaluasi diri dan meminta maaf atas kesalahan yang mungkin kita lakukan. Beliau juga menceritakan tentang dua nabi yang memiliki pendekatan berbeda dalam berdakwah, yaitu Nabi Yahya yang berkawan dengan orang saleh dan Nabi Isa yang berkawan dengan orang yang tidak jelas.

Ampunan dan Persaudaraan

Gus Baha mengakhiri dengan membacakan hadis tentang orang yang memiliki hutang dan tidak bisa membayarnya di akhirat. Allah akan mengambil kebaikan orang tersebut untuk diberikan kepada orang yang dihutangi. Jika kebaikannya tidak cukup, maka kejelekan orang yang dihutangi akan diberikan kepada orang yang berhutang. Namun, Allah tidak ingin ada orang mukmin yang masuk neraka karena saudaranya. Oleh karena itu, Allah menunjukkan surga yang mewah kepada orang yang dihutangi dan mengatakan bahwa ia bisa membeli surga tersebut dengan memaafkan temannya yang berhutang. Dengan demikian, kedua orang tersebut bisa masuk surga bersama-sama. Gus Baha menekankan pentingnya memaafkan dalam syawalan agar tidak menjadi penyebab teman kita masuk neraka. Beliau juga berharap ada wali yang berhutang kepadanya dan tidak bisa membayar agar dibela oleh Allah di akhirat.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:10 Saya akan ngaji tentang betapa mudahnya berbuat baik dan betapa mudahnya bersosialisasi yang jadi kebutuhan sosial masyarakat. Kemudian di saat yang sama sebagai kebaikan menurut Islam. Ini saya baca kitab yang sangat otoritatif yaitu kitab Sahih Muslim. Di mana kita tahu dalam Islam pegangan Ahli Sunah Wal Jamaah juga pegangan ulama seluruh dunia adalah Alkutubus Sittah kitab enam. Di antaranya yang hadis Bukhari Muslim.

0:57 Di sini ketika Nabi ditanya tentang beberapa kebaikan, yaitu dari pertanyaan ayul amali afdol, amal apa yang terbaik? Di antaranya Nabi menyebut sekian iman billah iman ee kepada Allah Taala. Kemudian ini yang penting dilakukan semua pemimpin oleh bupati, oleh wakil bupati, oleh seluruh pemimpin baik struktural maupun kultural maupun pemimpin kecil yaitu di keluarga. Yaitu Nabi ngendikan di antara misi Islam adalah memerdekakan budak. Kemudian ada yang lagi tanya lagi, "Fain

1:44 faillam af'al." Lalu dari sekian kebaikan yang butuh biaya itu saya tidak mampu melakukan ya Rasulullah. Kalau nyumbang masjid saya ndak mampu. Kalau berbuat bikin fasilitas umum saya gak mampu. Ada yang sekian pertanyaan dari sahabat. Kalau misalnya kebaikan yang butuh biaya kami gak mampu. Termasuk di sini disebutkan kemampuan berhaji, kemampuan zakat, kemampuan sodqah. Kalau semua itu kami ndak mampu ya Rasulullah. Kata Nabi, tuinu shonian a tasnau li akhrat. Ini di Sahih Muslim di bab iman dengan judul babu bayani kaunil iman billah afdolal a'mal. Kalau saya ndak mampu semua melakukan

2:30 itu ya Rasulullah ya itu melakukan kebaikan yang butuh biaya kayak bangun masjid, bangun jalan, bangun fasilitas-fasilitas publik. tuinu sonian tasna akr tuinu nulungi siro sonian ing wong sing ahli sunah ahli kreatif atau ahli kalau orang sekarang itu bilang dia pekerja dia pekerja rumahan atau production house atau apa saja au tasnaulakr atau kamu membantu orang yang gak punya pekerjaan Terus sahabat masih tanya, "Aroita indifu an ba'dil amal?"

3:16 Kalau semua kebaikan aktif saya tidak mampu melakukan ya Rasulullah, kebaikan menolong orang lain, kebaikan yang bersifat aktif. Jawabnya Nabi, "Dan ini pegangan saya, pegangan kita semua." Panduan dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Nabi ngendikan takuarinas fahaqot minka ala nafsik. Ya, saya ulang lagi. Takufu sarinas fainnaha shodqatun minka ala nafsik. Kamu dalam berislam cukup menjaga supaya kejelekan kamu tidak punya imbas pada orang lain. Ya, ini penting dalam Islam. Jadi kalau tidak bisa berbuat baik, potensi keburukan kita jangan sampai menimpa orang lain.

4:02 Keburukan itu bisa kejahatan kriminal, bisa kejahatan pidana atau meribikan orang lain, atau kejahatan yang tidak sampai kriminal tapi mengganggu orang lain. Misalnya contoh gampang ini saya sumpek-sumpeknya sendiri ingin jalan-jalan main di teman yang di jam kerja. Ini kan sumpek-sumpeknya saya sendiri ingin hiburan terus wisata atau dolan ke teman yang sebetulnya saat itu dia mungkin ngaji atau kerja atau harus memenuhi kewajiban cari nafkah. Gara-gara nemuin saya akhirnya dia dikomplain sama majikannya atau gara-gara nemuin saya dia akhirnya ndak ngaji sama santrinya atau gara-gara nemuin saya dia terganggu aktivitasnya. Itu juga tidak boleh. Karena berarti

4:48 keburukan kita punya akibat pada orang lain. Jadi kaidah dalam Islam itu kalau tidak berbuat baik, potensi keburukan kita ini jangan sampai menimpa orang lain. Sehingga di sini Islam menyarankan uzlah. Uzlah itu nyepi. Jadi misalnya kita baru penat, baru bawaannya itu emosi, baru enggak suka kumpul orang, itu ya sebaiknya jangan jalan-jalan. Karena di antara kebaikan Islam itu tabassum, senyum atau thqatu wajin, ceria. Tapi karena kita mungkin jatuh kredit, jatuh hutang, atau punya masalah keluarga sehingga bawaan kita itu emosi. Nah, dalam seperti ini sebaiknya uzlah, menutup diri. Sehingga kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, dalam zaman akhir di antara kebaikan itu kamu meninggalkan

5:35 manusia aktivitasnya. Kemudian watadaunas min syarrik. Kamu meninggalkan manusia supaya enggak kena keburukan kamu. Jadi ada momen, ada saat di mana kita mungkin kalau ketemu orang tuh bawaannya ingin sengak, ingin ngomong yang enggak enak atau kita baru penat itu sebaiknya uzlah saja mengurung diri di kamar atau isolasi sendiri karena bawaannya baru emosi lah. Ini yang jarang dipraktikkan. Kalau sekarang malah banyak yang saat susah malah bawaannya ingin namam, ingin ingin apa? Mvonis orang lain atau ngadili orang lain. Padahal padahal pesannya Nabi kalau semua kebaikan aktif gak bisa kamu lakukan itu takufu syaroka aninas fainnaha shodqotun minka ala nafsik.

6:22 sehingga keburukan kita ya saya ulang lagi keburukan kita yang ingin emosi, ingin apa itu tidak punya akibat orang lain. Di sini kearifannya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Beliau masyur ngendikan, "La yaqdilqi wahua gban." Jangan sampai seorang hakim bikin keputusan ketika emosi. Karena bawahnya orang emosi itu pasti enggak terkontrol intelektualnya, enggak terkontrol nuraninya, enggak terkontrol semua sifat baiknya. Itu kalau punya keputusan bahaya sekali. Sehingga Nabi dari awal ngentikan lailqan orang yang sedang emosi tinggi jangan bikin keputusan penting. Kemudian oleh ulama diteruskan juga jangan bikin keputusan penting orang yang sangat lapar atau yang sangat kenyang atau yang sangat ngantuk atau

7:08 yang super sibuk. Jadi hal-hal yang potensi buruk dalam mengambil keputusan itu harus ditinggalkan. Sehingga misalnya bupati atau wakil bupati kalau sedang gak nyaman dengan suasana apa enggak boleh rapat kemudian mutuskan keputusan penting. Begitu juga kiai dan semuanya. Nah, ini yang supaya otoritatif. Kenapa saya bawa kitab itu logikanya jelas ya. Kita sebagai dai, sebagai ustaz atau sebagai mubalig atau sebagai siapa saja yang ingin kita wariskan ke umat Rasulillah adalah dawuh-dawuhnya Nabi. Dan kalau kita ngaji tidak pakai kitab itu sebenarnya umat kita jejali dengan pikiran kita, dengan ide kita. Jangan-jangan ide kita, pikiran kita ini

7:53 tidak mewarisi pikiran Islam, tapi pikiran kita atau emosi kita. Tapi kalau kita baca kitab, artinya umat ini berhak mendapat apa yang diteladankan dan disabdakan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Tapi kalau kita itu pasti inginnya itu kita misalnya kita bupati Banyuwangi mungkin kita akan cerita Banyuwangi dengan asik. Tapi bagi daerah lain apa urgensinya? Bagi saya. Begitu juga kalau kita kiai mungkin kita akan cerita fadilnya kiai. Tapi bagi orang lain yang keutamaannya jadi pekerja, jadi satpam, jadi guru, jadi pegawai negeri yang adil sehingga subjektivitas kita ini akan tinggi. Tapi kalau kita sebagai kiai baca hadis, maka umat ini

8:40 mendapatkan panduan dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Nah, dari sekian panduan itu kata Nabi, jika Anda tidak bisa berbuat kebaikan aktif, maka kebaikan yang harus Anda lakukan adalah potensi kejelekan kamu jangan menimpa orang lain. Makanya saya berkali-kali bilang, saya ini termasuk kiai yang jarang main ke alumni. Karena tadi kadang-kadang alumni itu sudah mau kerja di tempat kerjanya atau mau janjian ngantar anaknya sekolah gara-gara ada saya. mungkin semua itu dibatalkan. Sehingga silaturahim itu juga harus di-manage supaya tidak mengganggu haknya orang yang kita silaturahimi. Jangan sampai silaturahim jam 09.00, saatnya orang kerja kemudian dia dapat peringatan dari pabriknya gara-gara

9:27 sering didolani kiainya. Itu kan jadi ribet. Atau kiai karena sering didolani terus gak ngaji metuki tamu terus itu kan jadi ribet. apapun itu sehingga orang itu harus berpikir perilakunya itu ndak punya akibat laoro walor. Jangan mengganggu dirinya juga jangan mengganggu orang lain. Ini oleh Nabi disebut taku sarinas fainnaha shodqatun minka ala nafsik. Eh sifat buruk kamu itu harus dijaga supaya tidak menimpa orang lain dan itu berarti menjadi sodqah kamu atau amal kamu pada diri kamu sendiri. Jadi ini penting dimaklumatkan ke semua kita bahwa saat kita tidak bisa berbuat baik aktif misalnya enggak bisa sodqah, enggak bisa

10:12 menolong orang, setidaknya keburukan kita tidak menimpa orang lain. Nah, termasuk keburukan yang tersubung adalah kita punya pikiran yang menurut kita ini hebat, tapi bagi orang lain mungkin bahaya. Misalnya kita punya pikiran ingin jadi orang kaya raya yang dermawan. Itu artinya kan pikiran baik karena ingin jadi dermawan. Tapi artinya bayangkan orang lain tuh miskin semua butuh derma kamu. Mana mau orang lain kamu bayangkan miskin butuh derma kamu. Orang lain juga bayangkan dirinya kaya enggak butuh derma kamu. Itu namanya kebaikan yang subjektif. Kamu ingin jadi kiai yang ngajarin orang banyak, oke itu baik. Tapi kan berarti kamu bayangkan orang lain enggak bisa

10:58 ngaji terus kamu saja yang bisa ngaji sehingga kamu yang ngajarin. Ya sudahlah kebaikan itu gak usah muluk-muluk seperti itu. Jadi apa yang ditakdirkan kita jadi bupati ya jadi yang baik menolong pekerja-pekerja yang baik. Saya kemarin diceritanin banyak oleh Mas Anas aktivitas pemda Banyuwangi yang menolong banyak orang juga masyarakat juga saling menolong dan seterusnya dan seterusnya. Jadi ini jelas maksud saya supaya bupati dan semuanya pemimpin melakukan kebaikan itu berdasar panduan dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Di mana di antara aturan yang dianjurkan beliau adalah aktivitas kita sebagai manusia adalah tuinu shonian a tasnaul akhroq. Ya, saya ulang lagi.

11:45 Saya ulang teks hadisnya secara lengkap supaya dapat berkahnya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Ada beberapa pertanyaan dari sahabat, "Ya Rasulullah, jika saya tidak bisa berbuat baik yang berbiaya atau tidak bisa berbuat baik yang aktif, apa yang saya harus lakukan?" Nabi ngetikkan tuinu shianasna ak. Kamu membantu orang yang pekerja atau kreatif, orang-orang yang kreatif atau pekerja apa saja kamu bantu dan bantu orang yang tidak punya pekerjaan. Terus ditanya lagi, "Qulu ya Rasulullah artu ba'dil amal?" Bagaimana kalau itu pun saya ndak bisa ya Rasulullah? Terus Nabi ngendikan yang penting keburukan kamu tidak menimpa ke orang lain dan itu bagian

12:31 dari sodqah kamu. Nah, perlu saya ingatkan ke semua kita l makanya pentingnya membaca umat Islam dengan ilmu usul fikih. Saya berkali-kali bilang, jika ada seseorang tidur itu jangan kamu baca sebagai tidur yang meninggalkan tahajud, meninggalkan salat qiyamullail, meninggalkan wiridan di malam hari, tapi juga bacalah saat itu dia tidak dugem, tidak maksiat, tidak narkoba. Sehingga barokahnya ilmu itu ada respek pada umat Islam yang tidur. Karena tidur itu juga ada fungsi meninggalkan sekian maksiat, sekian kriminalitas. Tapi kalau kita kulino tidak baca dengan ilmu, maka melihat orang tidur itu ya kayak

13:16 meninggalkan tahajud, meninggalkan wiridan, meninggalkan qiyamulail sehingga bawaannya kita ini akan kurang respek. Tapi kalau kita membacanya dengan ilmu, orang yang tidur di malam hari maksudnya ya sudah salat Isya itu ada sekian potensi maksiat yang dia tinggalkan. Dia tidak ngerasani orang, tidak adu-adu orang di medsos, dia tidak dugem, tidak meninggalkan e pokoknya ada sekian kebaikan dalam saat tidur itu. Ini barokahnya ilmu. Tanpa ilmu kita gak bisa respek seperti ini. Karena bawaannya akan woh ini malam-malam gak tahajud, gak wiridan, gak apa. Tapi kalau kita dengan ilmu itu akan membaca dengan tidur artinya orang tidak maksiat, tidak dugem, tidak ngerasain orang, tidak ngata-ngatain

14:01 orang. di sini sodqallahulim ketika ngentikan wamin ayatihi manamukumili wahar. Termasuk ayat Allah itu orang tidur. Maksudnya tidur yang dengan dimaknai positif tadi bisa istirahat, bisa meninggalkan maksiat, bisa apa-apa lah. Ini di sini hebatnya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ketika beliau memandu kebaikan. Di antara kebaikan itu apa? Takuarinas fnahaq minka ala nafsik. kamu, potensi buruk kamu atau keburukan kamu jangan sampai menimpa pada manusia, pada orang lain dan itu bagian dari sedekah kamu. Ya, saya mohon maaf sama Bu Bupati, sama semua pemda, sama wakil bupati karena saya gak bisa lama-lama. Saya punya wazifah. Tadi ini pun sudah nguring

14:47 ngaji saya karena saya harus ikut ngaji di sini. Dan mari sama-sama berdoa. Alfatihah. Ya, jadi status kehambaan ini kita mantapkan dulu. Jangan ada status lain kita di depan Allah kecuali status kehambaan. I saya punya analogi dan itu saya ulang-ulang karena di antara ciri Quran itu mengulang-ulang sesuatu yang harus jadi pegangan. Saya ulang lagi. Di antara ciri Quran itu mengulang-ulang sesuatu yang jadi pegangan. Jika kita belajar ilmu fisika atau ilmu apa saja, maka kita akan bicara materi sesuai statusnya. Jadi kita harus latihan untuk iman

15:33 kepada Allah. Saya tanpa mengurangi rasa hormat, saya memberi contoh begini ya. Ini jam materinya dari besi. Ini kertas materinya ya. Kertas. Sentuh secara fisik orang akan bilang jam ini lebih kuat timbang kertas dan itu mesti dibenarkan dari segi materi. Tapi kalau Anda beragama dan Anda tahu bahwa pengendali alam raya ini Allah Taala, maka kamu akan bilang, "Terserah Gus Baha gitu. Bisa saja jam ini saya punya niat saya hancurkan, kertas yang lemah ini saya simpan. Sehingga jam jam tangan ini 5 menit lagi saya hancurkan sehingga benar-benar rusak. Sementara kertas ini saya simpan sampai bertahun-tahun awet.

16:19 Nah, kira-kira seperti itulah ilmu manusia. Sesuatu yang kita sangka kuat ternyata Allah punya rencana menghancurkan itu. Dan yang kita sangka lemah ternyata Allah punya rencana untuk mengabadikan itu. Nah, di sini pentingnya iman lahu maqalidus samawati wal ard. Dia hanya Allah yang mengendalikan semua. Jadi jangan mentang-mentang kita punya ilmu bahwa materi besi itu lebih kuat timbang kertas. Terus kita pastikan bahwa besi lebih awet ketimbang. Kita sisakan satu keyakinan terserah Allah, terserah pengendalinya. Lah itu agama. Bilang terserah pengendalinya itu agama. Ya, mungkin tadi ada problem sinyal. Saya ulang lagi. Ibarat saya ini megang jam jam tangan

17:06 yang materinya dari besi. Ini kertas yang materinya lemah. Tentu kita akan bilang bahwa jam atau besi lebih kuat ketimbang apa? Kertas. Tapi Anda salah. Anda harusnya ngomong bahwa terserah pengendalinya. Bisa saja saya punya rencana menghancurkan besi ini sehingga 5 menit lagi hancur dan saya ber ingin mengabadikan kertas ini saya simpan di tempat yang aman. Nah, kira-kira agama itu agama itu bukan anti ilmu. Sehingga agama boleh kamu mengatakan besi ini lebih kuat ketimbang

17:51 kertas. Tapi harus kamu tambahi dari segi materi. Tapi kalau dari segi pengendalinya, maka kita jawab terserah Allah Subhanahu wa taala. Lah ini di sini pentingnya beragama. Jadi meskipun Mars tuh kayak apa kuatnya bumi, gunung kayak apa kuatnya, ternyata gunung yang kita kira kuat ternyata nyimpan magma yang potensi meledak. Yang gunung kecil yang kelihatan dari pasir kecil yang tidak berdaya ternyata enggak nyimpan magma. Jadi enggak direncanakan untuk diledakkan itu. Nah, agama itu seperti itu yang disebut di surat Yasin misalnya Allah itu siapa? Biyadihi malakutu kulli. Yang dalam kendalinya itu semuanya di alam raya ini. Sehingga di kehidupan nyata

18:36 juga sama. Ada orang yang nekuni ilmu ekonomi terus tapi miskinnya masyaallah. Ada yang gobloknya masyaallah tapi kaya. Ada kiai yang punya doa banyak, hidupnya biasa. Yang enggak punya doa kaya. Itu saya pernah baca di sebuah hadis qudsi ada riwayat begini. Nabi Musa ketemu Allah ditanya, "Limadza kata kata Allah, kenapa saya memberi rezeki orang yang bodoh?" Mak itu orang yang bodoh sekali. Kadang tak ciptakan dia jadi orang kaya dan yang pintar ekonomi kadang tak ciptakan jadi orang miskin. Si Nabi ini tanya, "Kenapa ya Allah? supaya dia tahu yang mengendalikan rezeki itu saya, bukan ilmunya dia. Katanya. Jadi, jadi banyak orang misalnya kita

19:24 yang pintar dipekerjakan orang yang enggak pintar, yang punya pabrik gak pintar mekerjakan orang yang pintar. Jadi ya kira-kira agama itu seperti itu. Sehingga dalam kita beragama itu yang paling ditekankan itu tawadu. Tawaduk itu merasa sopan atau memang sopan. Betul. Kalau dalam ikhya disebut, jika Anda tidak bisa tawadu secara rasa, tawaduklah secara ilmu. Saya ulang lagi ya. Sekiranya Anda ndak bisa tawadu secara rasa, tawaduklah secara apa? Ilmu. Karena ilmu itu akan abadi. Saya beri contoh begini. Saya ini kan misalnya kiai di kampung saya atau di kecamatan saya.

20:09 Saya mungkin bisa merasa hebat karena saya tokoh di sini. Tapi pastikan sebelum ada saya yang bernama Baha ini agama sudah jalan dan di daerah lain yang enggak kenal saya juga agama sudah jalan. Betapa gak pentingnya saya di kawasan-kawasan yang enggak butuh saya atau di era yang sebelum ada saya. Nah, dengan ilmu seperti itu orang pasti tawadu karena dia tahu daerah yang enggak ada saya ternyata ya ada masjid, ada agama. Periode yang sebelum ada saya juga agama jalan. sehingga kita ndak kumo luhur, "Wah, kalau enggak ada saya agama enggak jalan." Zaman Wali Songo ndak ada saya ya agama ya jalan. Ekonomi juga gitu. Kalau Anda pakar ekonomi yang mensejahterakan rakyat, cara tawadu itu kalau enggak bisa dengan rasa, dengan

20:55 ilmu. Sebelum ada kamu, banyak orang kaya, banyak orang yang enggak kenal kamu juga kaya. Banyak periode yang saat itu gak ada juga kaya. Berarti Anda ini gak siapa-siapa. Makanya saya pernah didatangi seorang profesor. Ini kisah nyata Gus. Sebetulnya saya dengan bapak saya itu pintar mana? Bapak saya itu gak tamat SD tapi saya bisa profesor. Saya ini profesor anak saya naik kelas saja sudah senangnya bukan main. Ini orang bodoh bisa menciptakan orang pintar. Yong. Orang pintar kesulitan menciptakan orang pintar pintar lagi. Nah kalau kita gak bisa tawaduk secara rasa, tawaduklah secara ilmu. Ikhlas juga gitu. Saya sering ngajarkan ikhlas di beberapa kesempatan ngaji. Kalau Anda gak bisa ikhlas secara rasa,

21:41 ikhlaslah secara ilmu. Pasti bisa. Bukan mungkin bisa. Pasti bisa secara ilmu. Makanya di Quran disebut fa'lam annahu la ilahaillallah. Ilmu. Fa'alam itu dari kata ilmu. Saya beri contoh. Saya mulai kecil sampai sekarang. Sekarang saya sekitar umur 50 tahun. Mulai kecil sampai sekarang itu ya bilang kalau kertas ini putih itu ya gak ada yang gaji ya gak ada yang bayar. Tapi saya selalu bilang kertas ini putih. Yang hitam ya saya katakan hitam, yang merah saya katakan merah. Kenapa? Karena itu fakta. Saya ulang lagi, karena itu fakta. Sehingga saya untuk mengatakan putih gak perlu ada yang bayar. Sehingga ketika kita latihan salat, latihan ibadah dan mengakui Allah itu sebagai Tuhan kita, kita akan malu. Loh,

22:27 faktanya Allah itu kan Tuhan. Mau mengatakan fakta kok minta upah. Ini gimana? Kita mengatakan Allah Tuhan itu sama dengan mengatakan kertas ini putih. Sama-sama itu fakta. Sama seperti saya mengatakan Pak Jokowi itu presiden kami. Itu kan fakta. Masa nunggu kalau dikasih BLT tak katakan presiden. Kalau gak ya nak. Itu kan ribet. Jadi Pak Manut misalnya rektor UGM mbok saya enggak digaji di sana atau gak kerja di sana bilang kalau beliau itu rektor. Pak Ganjar Gubernur Jawa Tengah. Mbok saya dikenal apa gak ya beliau tetap gubernur. Lama sekali kita mengatakan fakta itu ikhlas. Ikhlas itu artinya enggak minta apa-apa karena kita ingin ngomong sesuai fakta. Nah, Allah Tuhan itu fakta gitu. Nah, kenapa untuk mengatakan Allah Tuhan nunggu daha saya ini Tuhan kamu ya nunggu dulu

23:13 Gusti kalau Engkau masukkan kami ke surga engkau Tuhan. Kalau gak ya gak jadi. Gak bisa seperti itu. Ya Allah tetap Tuhan. Nah, kalau Anda nak bisa ikhlas secara rasa, ikhlaslah secara ilmu. Ilmu ya tadi kita akan selalu bilang yang putih putih yang hitam hitam. Makanya ini pentingnya ilmu. Tawadu juga gitu. Kalau Anda ditakdir orang yang GR yang gede rumongso, ditakdir orang yang kumo luhur secara rasa bisa dilawan secara ilmu. Ada periode di mana sebelum ada kita yang kaya ya banyak, yang dapat hidayat ya banyak yang terpelajar ya banyak. Ada daerah yang enggak kenal kita, nyatanya pendidikan di situ jalan, sistem sosial baik, betapa gak pentingnya kita lah. Ini nanti ee

24:01 memaksa kita atau melatih kita untuk tawad. Nah, dari hikmah ilmu itu kemudian kita minta maaf sama orang lain itu mudah. Karena kita sadar bahwa adanya kita ini problem. Saya sering digojlok orang-orang kaya. Orang-orang kaya itu ya kadang agak kurang ajar tapi enggak bisa dibantah. Begini pernah tanya saya gini, "Gus, saya ini punya mobil mahal harganya 2 miliar. Kayaknya yang berak pakai jalan raya saya kan bisa bayarnya pajak saya mahal." Sehingga kayaknya paling pantes saya yang naik untel itu kan enggak bayar pajak harusnya enggak pakai enggak boleh pakai jalan. Barsa bilang mbah-mbahnya yang naik untel itu pejuang bapak kamu enggak kata kamu enggak warisnya. K.

24:47 Artinya ada teori dalam kitab hikam. Kitab hikam itu kitab tasawuf dalam pesantren. Itu kebaikan saja di soal. Misalnya begini, kita ini bangga sebagai urip yang tertib. Hidup yang tertib di kantor, di tempat-tempat pekerjaan. Tapi kalau itu semua terjadi, kalau ada kecelakaan di jalan, itu enggak ada yang nolong langsung. SAR paling efektif tim penolong paling efektif itu ya orang-orang nganggur itu orang-orang yang di jalan-jalan di prapatan itu kalau ada kecelakaan langsung nolong itu nanti ambulans. Itu yang kedua, ketiga yang nolong pertama ya orang-orang yang nganggur-nganggur di jalan itu. Ada orang tersesat nolong. Maka ketika seorang sahabat tanya, "Ya Rasulullah, kalau engkau melarang kita jagongan di jalan itu kita gak bisa."

25:32 Tapi kata Nabi, "Ya silakan saja tapi aduq thq hak kamu di jalan itu datangkan." Apa itu? Ya, kamu bisa amar makruf nahi mungkar. Coba kalau di terminal, di terminal, di tempat publik banyak orang yang saleh itu nanti copet ya sungkan. Yang mau jambret ya sungkan karena yang di situ orang-orang saleh. Nanti yang enggak salat juga sungkan karena yang di situ banyak yang salat. Jadi kenyamanan orang pergi jauh di tempat-tempat sepi itu ya barokahnya orang-orang nganggur terus ngaji wah n kono masih ramai ada orang yang di prapat di pertigaan. Bayangkan kalau ini orang-orang saleh pasti itu nyaman. Karena wilayah publik diuni orang-orang yang saleh. Tapi orang pasti bilang itu enggak tertib. Kita inginnya hidup ya tertib di kantor atau yang suka di

26:18 masjid, di masjid. Tapi kalau itu terjadi itu enggak ada timsar gratis yang setiap saat kalau ada orang kecelakaan nolong. Makanya dalam makalah hikam itu paling masyhur di antaranya itu manusia itu siapa? Manusia itu mangkanat mahasinuhu masawiyah. Fakifala takunu masawihi masawiyah. manusia atau orang yang saat baik saja ada salahnya apalagi masalah. Jadi kalau kamu punya toko lagi laris dan saat laris itu Anda ngerumat keluarga Anda, Anda melakukan kebaikan pada keluarga Anda, pasti ada tokoh lain yang termahjubkan, yang tersingkirkan. Makanya saya pernah diskusi sama sama kiai besar, guyonan sama saya. Kita-kita kalau kiai besar sebaiknya kalau diundang di musala kecil datang apa dak?

27:04 Kata kiai yang satu, "Jangan datang, Gus. itu jatahnya kiai kecil. Terus kata yang satu datang Gus sebagai bukti tawadu bahwa kita kiai besar pun mau diundang yang kecil. Akhirnya kita ini ya kadang datang kadang enggak. Karena kadang kita enggak datang supaya jatah rezeki kecil enggak enggak terambil. Kadang ya mau datang supaya dikira tawaduk. Makanya kalau seorang profesor sering terbawa itu ya kasihan yang S1 SPDI itu kan nanti enggak jadi bintang kalau profesornya sering turun. kalah terus itu loh. Jadi kadang-kadang itu orang itu harus berpikir secara ilmu, jangan rasa terus. Jadi itu ilmu. Jadi semua yang kebaikan yang kita lakukan itu secara ilmiah bisa

27:50 diperdebatkan. Ada orang senang ngomong serius supaya bangsa ini maju. Tapi Bapak saya itu pesan saya, kamu kalau ngiai itu jangan sering ngomong serius. Kan masyarakat sudah cabek mikir hutang, mikir keluarga. gitu sowan kiai dijak ngomong serius lagi nanti capek sehingga kiai-kiai dulu itu kalau ketemu orang ya guyon terus karena tahu masyarakat sudah capek sudah banyak yang takut tanggal kredit gitu sudah takut tanggal kredit takut problem sowan kiai diancam neraka lag itu kan ketakutan berkali-kali jadi makanya ini kan kebaikan itu dievaluasi karena kita ndak nabi nak wali jadi kalau kata hikam itu apa yang anda kira baik itu ada masalah Apalagi sedang masalah.

28:37 Saya sering cerita ada orang suami istri harmonis. Harmonis sekali. Itu tanyakan ibunya pasti mulai enggak peduli dengan ibunya karena terlalu harmonis dengan istri. Itu pasti bukan mungkin lagi. Jadi jangan tanya istrinya, tanya ibunya. Oh, jok nikah lupa saya. Ngalor ngidul sama istrinya. Tanyakan temannya. Woh, itu jok nikah lupa temannya. Tapi yang baik sama teman. kan istrinya jatah belanja untuk ngopi ya begitu terus itu jadi siklus sosial itu. Nah, di sini pentingnya saling minta maaf karena dalam kebaikan kita pasti ada kesa kesalahan ketika karir kita baik di pemerintahan maupun di kampus padi dengan sendirinya ada yang agak tersingkirkan meskipun itu sudah hukum alam tapi apapun itu kita harus

29:24 minta maaf. Makanya banyak saya sering cerita berkali-kali dulu itu ada dua nabi yang seangkatan itu luar biasa debat ilmiahnya tapi debat baik mulai dulu ya ada ee polemik itu ya mulai mulai dulu ya ada yang Nabi Yahya itu suka berkawan orang-orang saleh. Kalau ditanya kenapa kamu berkawan orang-orang saleh? Ya enaklah karena berkawan orang saleh. Sang Nabi Isa sering berkawan orang-orang yang enggak jelas. Ditanya kenapa Anda suka berkawan orang-orang yang enggak jelas? Innama ana thibun udawilard. Nabi dan kiai itu ibarat dokter ya. Tentu nyembuhkan yang sakit sakit. Kalau Anda seorang dokter pasti neliti daerah-daerah pandemi. Masa neliti daerah sehat?

30:10 Nah, jadi dulu Bapak wasiat ke saya ya gitu. Kowe nak jadi kiai k bengkel. Jadi kiai itu kayak bengkel. Kalau enggak siap dadani orang enggak jelas ya jangan jadi kiai. Kan itu. Ya. Tapi kan masalahnya kita sendiri salehnya pas-pasan. Takut terkontaminasi. Jadi yang jelek bukan jadi baik kita yang baik jadi jelek. Jelek lah. Itu kan mulai dulu ya polemik. Sejauh mana kita punya kekuatan untuk tidak terpengaruh yang negatif. Yang negatif terpengaruh kita menjadi posi positif. Jadi ini cerita-cerita syawalan bahwa dalam kebaikan kita itu ada kesalahan. Maka kita tetap istigfar, tetap saling minta maaf. Dulu bapak saya kalau diceritin ada seorang kiai sampai sepuh jadi imam masjid istikomah sekali. Dulu

30:56 bapak saya itu nguyu yo istikomah istikomah tapi wong lio terus or iso jadi kader. Jadi calon-calon kiai ini sudah putus asa karena enggak pernah punya kesempatan jadi imam. Jadi di balik istikamah itu ya ada memahjubkan orang lain. Makanya alhamdulillah di Indonesia tuh ada pegawai pensiun. Kalau gak habis itu karena yang anyar-anyar itu mesti ini kurang pengalaman, ini kurang senior ti barokahnya ada pensiun kan gantian. Ti masalahnya di dunia kiai itu gak ada pensiun. Tambah sepuh tambah mantap. Tambah sepuh tambah mantap. Nah itu sebaiknya ya mulai mundur-mundur sedikit dari imam masjid itu ya. Nyari-nyari yang lain lah supaya ada kaderisasi ada. Jadi intinya itu di balik kebaikan yang kita lakukan pun itu

31:43 ada masalah sehingga kita butuh istigfar. Di sini pentingnya dawuhnya para wali-wali dulu ada istilah wastigfaruna yahtaju ilal istigfar. Ketika kita minta maaf sebetulnya minta maaf sendiri itu butuh minta maaf lagi. Minta maaf lagi itu butuh minta maaf lagi. Misalnya saya dengan Mas Hilmi ini akrab pernah pakai uangnya misalnya. Itu kadang kita bayar itu malah tersinggung kok kayak orang lain saja bayar. Minta maaf juga gitu. Kalau kamu punya teman akrab terus minta maaf resmi itu tersinggung k wong lio auk sepuro. Jadi kadang sepura itu malah masalah. Itu kan sama kamu punya teman akrab terus kalau mau main assalamualaikum saget saget masuk nopo mboten angsal mboten boleh enggak main itu mesti teman

32:28 kamu tersinggung kok kayak orang lain saja. Artinya ketika Anda merasa benar karena protokoler ketika masuk ke teman, ternyata itu salah. Teman kamu maunya enggak protokoler karena sudah akrab. Tapi ketika kita merasa akrab ternyata selono dianggap problem. Kita gak pernah tahu lah. Di sini kata ulama-ulama, minta ampun itu kebutuhan manusia. Karena dalam kebaikan kita pasti ada kesalahan. Makanya disebut ee apa itu? Wastigfaruna yahtajual istigfar. Kita selalu diajari rbanaamna anfusana. Ya Allah, kita ini selalu menzalimi diri kita sendiri. Jadi, saat kita baik pun ada unsur kesalahan. Yait kalau Anda jadi orang

33:15 pasti ada yang termakjubkan. Kalau Anda kiai besar atau profesor atau pejabat turun ke bawah. Ya, kalau gubernur turun terus ya bupati enggak jadi bintang. Kalau saya kiai besar misalnya turun terus ya kiai-kiai kampung itu ya kasihan saya pernah diundang mana kipanak datang itu kiai kecil bilang matur nuwun Gus gak teko atuk iwake atuk iwake gak untuk saya katanya barokahnya saya ada itu lucu ya matur nuwun betul matur nuwun Gus jenengan gak dugi akhirnya jatah besarnya untuk saya lah tapi yang punya rumah komplek udang tau teko PP aku wong cilik aduh lah ini saya harus mendahulukan versi soibul bait yang punya rumah apa versi kiai yang termasubkan. Artinya pilihan apapun saya harus

34:01 istigfar karena ada saja unsur salahnya ya gitu ya. Makanya ini kan makanya ya saya minta UGM juga saya sering ngundang saya saya terus nanti dikira karena kampus besar Gus Bak mau juga keliru lagi. Kalau satu dua kali mungkin boleh. Kalau keseringan ya enggak boleh. Nanti itu dikira saya maunya hanya sama kampus besar. Padahal saya sama RT ya sering datang juga. Nah, ini yang terakhir saya bacakan teks otoritatif sebagaimana janji saya di ee kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di sebuah hadis ini terakhir nanti supaya enggak lama-lama saya juga punya wazifah.

34:46 Ada orang itu punya hutang. Hutang itu ya hutang memang hutang. Singkat cerita orang itu gak bisa bayar. sampai akhirat. Dan aturannya Allah, orang yang punya hutang gak bisa bayar ini harus diaudit, harus diselesaikan di akhirat. Kalau gak bisa diselesaikan di dunia, diselesaikan di akhirat. Walhasil akhirnya di akhirat itu ditagih. Ditagih dan gak mampu bayar. Karena di akhirat sudah gak ada kredit, enggak ada ATM, gak ada apa saja. Terus kata Allah solusinya kebaikan kamu dikasihkan yang ngutangi. Ternyata kebaikan dia gak cukup juga. Bayarnya apa? Kejelekan yang ngutangin dikasihkan yang utang kayak apa

35:32 celakanya? Kebetulan yang ngutangi salahnya banyak. Ini kan repot. Tapi Allah itu ndak suka kalau ada orang mukmin yang satu saudara kemudian masuk neraka karena saudaranya ini. Kata Allah jika ini masuk neraka berarti disebabkan komplain atau ketidakikhlasan temannya yang mukmin. Masa orang mukmin menyebabkan mukmin yang lain masuk neraka. Allah gak ingin. Makanya di antara nikmatnya beragama itu ukhuwah. Persaudaraan. Baik persaudaraan atas nama iman atau atas nama kebangsaan atau atas nama kemanusiaan. Akhirnya si yang ngutangi ini tadi jangan dibahasakan kreditur nanti kita kayak bangnya yang ngutangin lah nanti ya bahasa gampangnya yang ngutangin

36:17 karena gak semua orang utangnya sama bank sama Allah ditunjukkan satu surga yang luar biasa. Nanti tak baca teks Arabnya ya supaya dapat berkahnya bahasa Arab. Terus saking mewahnya surga itu si yang ngutangin tanya, "Ya Allah, itu untuk nabi siapa?" Karena semewah itu pasti untuk kelas nabi atau untuk wali siapa? Katanya. Terus kata Allah, sabda Allah ee untuk siapapun yang mampu membeli. Lalu siapa yang bisa membeli surga semewah itu? Kamu bisa. Terus dengan apa? Ya Allah, kamu mengampuni teman kamu itu, kamu bebaskan dari hutangnya, nanti tak kasih surga itu. Terus akhirnya sama Allah kata orang itu, "Ya, ya Allah saya bebaskan. Ya

37:02 sudah, kamu berdua masuk surga." Loh dapat. Karena Allah gak ingin ada kasus aneh. Dua orang mukmin ini kan bersaudara. Masa bersaudara kemudian yang satu menjadi penyebab masuknya neraka. Karena ini gak mau mema maafkan. Artinya kalau kita syawalan itu harus benar-benar mau memaafkan karena kalau tidak Anda menjadi penyebab teman kamu masuk jadi kita janganlah jadi orang mukmin yang menjadi problem bagi saudara kita. Jadi makanya saya itu berharap ada wali utang saya terus gak bisa bayar karena ini masih dibela-belain Allah ini. Karena Allah enggak ikhlas kalau ada walinya masuk neraka. Jadi kalau ada wali utang kamu itu utangin saja, doain

37:49 enggak bisa nyaur, no enggak bisa bayar. Nanti ini akan dibela-belain Allah di akhirat. Karena wali ini enggak pantes masuk neraka. Neraka ya. Jadi kalau ada wali utang kamu mau bayar sudah gak usah bayar nanti di akhirat saja. Lah yang ribet kalau yang kamu utangin dia ahli neraka. Kamu nagnya disuruh masuk neraka. Ahah. Itu ribet itu sudah utang dia ahli ya. Tak baca teksnya supaya ini ada di kitab Ikhya halaman 197 juz 2. Ee status hadisnya waqala shahihul isnad. Kata Imam Hakim ee hadis ini shahihul isnad. Saya baca Arabnya nanti insyaallah ee sebagian

38:35 ya supaya kelihatan teks aslinya di bab Hukuqul Muslim nama Rasulullah. alaihi wasallam. Jalis badat. Nabi ketika santai-santai duduk tahu-tahu tertawa sampai gigi depannya itu kelihatan. Jadi tertawa sangat sampai gigi depannya kelihatan. Yang notainya beliau sering hanya senyum. Kali ini tertawa betul sampai gigi depannya kelihatan. Faqala Umaru radhiallahu anhu. Ya Rasulullah bi anta wa ummi adhakaka. Apa yang bikin kau sampai tertawa seperti itu? Rulani min umati jasaya ba yadil izzah. Dua lelaki dari umatku sama-sama sungkeman nuntut keadilan di depan Allah. Jasaya itu sungkem. Duduk bersimpuh itu kalau dalam bahasa Arab

39:21 itu apa namanya? faq a min faqah aklam qbi lamqatiun faqalnaamati faqbi minari kalau kebaikannya dia gak cukup ya salah saya supaya di limpahkan ke dia terus summa fad aina rasulillah sallallahu alaihi wasallam bil buka nabi di tengah-tengah cerita tuh Nangis senangis-nangisnya. Karena habis senang lalu nangis. Karena ini kan kebaikannya sudah dikasihkan habis. Cukup enggak cukup. Akhirnya kejelekan yang ngutangin ini diberikan. Makanya kalau kamu ingin masuk surga

40:07 utangi orang-orang saleh sebanyak-banyaknya dan doain enggak bisa apa nyaur. Tapi tak jamin orang saleh itu enggak suka hutang karena hidupnya sederhana. kayaknya saya gak akan utang Mas Silmi itu karena orang orang saleh itu hidupnya sederhana pasti gak butuh kalaupun utang paling ya untuk makan kan gampang nyaurnya apa terus terus kata Rasulullah faqah coba kamuat yang di sana itu ada F

Share

Ringkasan Video YouTube