0:00 Ini trik komunikasi yang gue jamin itu bakal bikin el mengartikulasikan isi pikiran lo lebih jelas daripada 99% orang. Dan pasti lu bingung kayak ada siapa nih muncul di YouTube gue ngebahas tentang ilmu komunikasi. Tenang aja, kenalin nama gue Jason St. Gue udah punya pengalaman 6 tahun di bidang ilmu komunikasi atau science communication. Dan gue juga sudah mendirikan platform edf ilmu komunikasi online yang di mana kita sudah ngebantu 1000 orang lebih lancar berkomunikasi hanya dalam 30 hari doang dari seluruh Indonesia. Dah, jadi gua punya sedikit kredibilitas lah untuk membicarakan video hari ini. Oke. Tadi kan gua sempat janji kalau lo dalam video ini lo bakal bisa mengekspresikan
0:45 atau lo bisa menyampaikan apa yang ada dalam pikiran lo itu lebih jelas 99% daripada orang lain. Dan ini bukan cuman sekedar kayak, "Oh, Bang, lu cuman teori-teorian doang." No, no, no, no. Enggak, enggak. Semua tips dan metode yang bakal kita bahas dalam video hari ini itu sudah terbukti secara psikologi bahkan. Oke. Nah, by the way gua bakal sedikit spoiler bagi lo yang terbiasa untuk video yang kayak langsung tip 1 2 3 langsung ke inti-intinya. Nah, video hari ini gua sorry banget tapi enggak bakal cocok sama El karena video hari ini kita bakal melakukan pendekatan deep learning atau di mana kita bakal belajar secara mendalam sampai ke akar-akarnya banget tentang ilmu komunikasi. Jadi
1:32 kalau lo sukanya pendekatan pembelajaran yang jarang ada di sosial media yang lebih membahas akar-akar masalah dan menjawab kenapa lo sering belibet, gugup, dan enggak jelas ngomongnya, video hari ini itu bakal cocok banget buat. Oke, karena ini janji gue. Terus, "Bang, gimana cara kita bisa mendapatkan hal tersebut atau gue bisa ngegambarin isi pikiran gue lebih jelas?" Oke, sebelumnya gue pengen lo sama gue sama-sama memahami terlebih dahulu mengenai dasar komunikasi. Atau gua bakal jelasin dulu kenapa pada dasarnya lo dan orang lain atau lo sama gue sekarang nih ya, gua kan lagi ngobrol ke lo dan lu lagi dengerin gue kenapa sih komunikasi itu bisa terjadi terlebih dahulu. Oke, jadi pada dasarnya komunikasi itu bisa terjadi karena ada dua pihak yang terlibat. Nah, di sini
2:20 ada pihak pertama. Oke. Yang kedua itu ada pihak yang kedua. Nah, anggaplah misalnya yang pertama ini namanya Jason. ini gue nih. Nah, ini yang kedua adalah lo. Nah, yang terjadi dalam komunikasi adalah pihak pertama itu biasanya bakal menyampaikan pesan di sini. Entah itu misalkan gue kayak ngomong ke lo nih, "Bro, lu udah makan atau belum?" Nah, itu pesan gue bertanya ke Elo. "Bro, lo udah makan atau belum?" Ini bakal diterima sama el penerima pesan. Oke, yang perlu kita pahami adalah si pengirim pesan ini kita sebut sebagai komunikator dalam dunia komunikasi. Kalau El yang menerima pesan itu disebut sebagai komunikat. Oke. Nah, tapi yang
3:05 pastinya kita mikir kayak, "Oh, Bang, pasti enggak sesimpel itu doang dong. Kalau enggak lu buat apa kuliah komunikasi lama-lama banget dia cuman buat belajar ini doang?" Ya, benar jawabannya sampai situ doang. Nah, kita bakal lebih memperdalam sedikit. Pertanyaan yang kedua setelah kita mempertanyakan mengenai kenapa komunikasi bisa terjadi adalah oh kenapa ya kok gue bisa menyampaikan pesan? Nah, dengan lo mempertanyakan kenapa gue bisa menyampaikan pesan, lo bakal mendapatkan jawaban dari kenapa pesan bisa dikirimkan oleh diri lo. Ketika lo tahu proses dari gimana pesan itu bisa dikirimkan dari diri el ke orang lain atau si penerima pesan, el gua nih belibetnya di masalah yang mana atau di bagian sistem yang mana ya. Nah,
3:52 itu yang menariknya. Nah, gua bakal kasih sedikit penjelasan lagi untuk pertanyaan kedua ini. Gini, pengirim pesan dapat mengirimkan pesan kepada si penerima pesan karena ada sebuah proses yang gue sebut sebagai encoding. Wah, ini Bang, encoding ini tuh maksudnya gimana, Bang? Nah, encoding basically adalah el tuh sebelum mulai menyampaikan kata-kata sebenarnya kalau kita lihat dari otak el, wah ini pakai FMRI gitu kan. Biasa kalau lu baca ada metodenya FMRI dari dunia medis biasanya lu bisa ngelihat aktivitas otak ketika kita sedang ngelakuin sesuatu. Sorry by the way gua nyari speedon lebih nyata ya. Nah, FMRH ini ketika dilakukan dalam dunia komunikasi ditemukan bahwa
4:39 ternyata ketika kita itu belum mulai berbicara, ada beberapa hal-hal yang terjadi di otak lo sama gue. Jadi sebelum gue mulai ngomong nih ya, sebelum gua mulai menyampaikan kata-kata, ada proses yang terjadi di otak gue dan ini yang sering bikin kita berdua jadi belibet. Nah, Bang, kalau gitu prosesnya ini apa? Nah, ini gua tulis aja proses di sini ya. Oke, prosesnya ini dalam ilmu komunikasi psikologi kita melihat pada dasarnya ada tiga proses tahapan yang bikin lo tuh bisa berbicara atau menyampaikan pesan. Oke, gua bakal jelasin yang pertama terlebih dahulu. Nah, yang pertama ini adalah proses yang gua sebut sebagai abstract thinking atau disebut dengan priming effect.
5:27 Bang, priming effect itu maksudnya gimana, Bang? Gini, ketika misalkan gue pengin ngetes lo preming effect lo nih ya, ini lu bakal ngeresin langsung kok. Kalau misalkan gue bilang ke lo, "Gajah, lu bakal keingatnya apa? Kayaknya gede deh, Bang." "Oh, dia raja hutan misalnya kayak gitu." "Oh, dia makan rumput." Oke. Kalau misalkan gue bilang ke el kelinci, lo bakal mikirnya apa? Ada yang mikir wortel kah? Ada yang mikir oh loncat-loncat kah? Oke. Kalau gue bilang ke lo, Jason Stanley, lu ingatnya apa? Wah, nyebelin dia misalnya kayak gitu. Nah, ini disebut sebagai proses dari priming effect. Priming effect adalah ketika otak lo menerima sebuah pesan, z masuk ke otak lo nih. Nah, pesan ini bakal dicari, diproses oleh otak lo.
6:12 Pesan apaagi ya atau informasi apaagi ya yang relevan dengan pesan-pesannya. Contoh kayak yang tadi, dengar ada kelinci maka lo jadi keingat wortel, loncat, warnanya putih, kecil. Nah, ini adalah framing effect. Oke. Ketika El sedang berbicara ini Jason, ini El pastinya kan kita berbicara ada banyak banget topik. Iya dong. Enggak mungkin kayak oh kita cuma ngomongin, "Bro, gimana hari ini el udah makan belum?" Udah. Oh, oke. Nice to meet you. Udah terus jalan enggak mungkin kayak gitu. Itu aneh banget. Pasti ada banyak topik yang kita bicarakan. Contohnya kayak misalkan, "Bro, gimana el kemarin sama jabatan el?" Nah, itu kan di romance gitu kan, Bro. Gimana kemarin lu udah launching YouTube lo belum? Nah, itu
6:58 juga sama tuh karir misalkan, "Bro, gimana kemarin kerjaan lo sama si Andi? Sukses enggak tuh projectnya?" Nah, itu juga sama networking misalkan. Oke, dari semua topik ini sebenarnya topik-topik itu bisa diklasifikasikan. Otak lo ada kok sistemnya. Jadi kalau misalkan gue ngomong ke elak bola, maka nanti otak el itu bakal mencari informasi-informasi relevan dengan sepak bola. Iya dong. Kayak gua lagi ngomong, "Bro, kemarin gua lagi nonton Indonesia lawan Jepang tuh." Nah, walaupun itu di kategorinya itu ya Indonesia lawan Jepang, tapi kan dia masih dalam ranah sepak bola. Nah, berarti karena dia diranah sepak bola ketika tokoh maksud, "Broh, kemarin gua nonton Indonesia lawan Jepang tuh." Oh, dia di sepak bola. Berarti ada informasi-informasi lain enggak yang gue
7:44 ketahuin? Ada. Misalkan oh misalkan tentang Messi. Oh misalkan tentang let's say Neymar. Oke. Oh misalkan tentang let's say World Cup atau Piala Dunia. Oh tentang Mbappe. Nah intinya otak lo bakal mencari informasi-informasi yang relevan. Oke. Dari priming effect ini, Bang, apa hubungannya dengan masalah belibet gue? Atau gue bisa mengartikulasikan isi pikiran gue gini ya. Ini adalah masalah belibet yang pertama yaitu adalah otak lo enggak menemukan informasi-informasi yang relevan dengan pesan yang diterima. Wah, Bang, berarti pas gue nerima pesan sepak bola gue enggak nemu apa-apa deh, Bang. Gua enggak tahu tentang BAPPE, gua enggak
8:30 tahu tentang apa. Betul, Bang. Nah, dari sini maka kita bisa mengasumsikan oke Bang, kalau gitu gimana caranya biar otak gue bisa muncul dulu nih pesan-pesan relevannya. Oke, aplikatifnya yang paling gue sering bilang itu adalah nih, gue selalu bilang ke semua orang, kalau lu pengin bisa jadi komunikator yang efektif atau bisa nyambung ngobrol dengan siapapun, lu harus banget baca buku. Serius, ketika lu baca buku, lu bakal mendapatkan banyak banget informasi. Kayak contoh buku yang pertama ini, Emotional Intelligence, ditulisnya sama Daniel Goldman. Nah, ini tentang e let's say topiknya itu psikologi. Ketika gue baca buku ini, maka seenggahnya gua bakal mendapatkan beberapa topik dalam ranah
9:16 psikologi. Kayak misalkan dalam buku ini dibahas tentang talamus atau mungkin visual cortex atau mungkin amikdala, sistem limbik. Nah, ini semua yang awalnya gua enggak tahu. Tapi setelah gua baca, oh ternyata di psikologi itu ada tentang sistem limbik ya. Oh, ada ini ya. Nah, seenggaknya pas gue ngobrol sama orang, gue bisa bilang, "Oh, I see. Go, lu pernah baca tentang sistem limbik enggak di psikologi?" Nah, itu gue akhirnya bisa ngomong kayak gitu. Tapi kalau misalkan pengetahuan gue itu sedikit, enggak mungkin dong gue bisa bilang kayak, "Bro, lu tahu tentang sistem limbik enggak?" Ya kan gue juga dari awal enggak tahu. Oke, jadi ini adalah yang gua sebut sebagai priming effect. Oke, next up. Setelah kita selesai untuk bagian dari priming effect, tahapan yang kedua dari priming effect ini adalah ketika otak sudah menemukan informasi-informasi yang
10:02 relevan untuk dibahas, biasanya otak lo itu bakal melakukan proses yang kedua. Proses yang kedua ini adalah gua sebut sebagai pembentukan struktur bicara. Oh, Bang. Struktur bicara tuh maksudnya apa, Bang? Oke, kalau tadi di priming effect otak lu udah munculin berbagai topik yang relevan. Contoh di sepak bola, "Oh, otak gue nemuin nih tentang MPPE. Oke, gue pengen ngobrol sama lo tentang Mbappe misalkan." Nah, tapi ketika otak el udah menentukan gue bakal ngomongin Mbappe, pertanyaan yang kedua adalah apa nih yang bakal gue omongin? Nah, ini yang jadi pertanyaan yang berikutnya yang ketiga harusnya. Maka dari sana kalau kita mau ngajar pertanyaan ini, gimana sih, Bang, cara otak gue bisa menyusun struktur bicara tentang si Mbappe ini? Nah, biasanya ada dua
10:50 kategori yang bisa terjadi. Oke. Yang pertama, otak lo bingung harus ngomong apa yang sering jadi penyebab belibet. Jadi, gimana ya cara gua ngomongin MPPE? Eh, jadi gini, Mbappe itu eh gua mereka kan nonton tentang sepak bola MPP ya. Eh, tapi Mbappe juga sebenarnya kurang jago-jago juga sih. Eh, jadi gini, enggak usah deh, enggak usah Mbappe deh. Eh, gua pakai contohnya Vanish aja deh. Eh, iya. Jadi kan Vanish kan pernah main juga. Jadi maksud gua kayak lu mau ngomongnya apa gitu. Kalau di bagian yang pertama. Nah, skenario yang kedua adalah lu bisa berbicara dengan terstruktur dan juga jelas. Bang, terstruktur dan jelas itu maksudnya gimana? Oke, ini yang bakal gue kasih tahu. Pada dasarnya berbicara dengan struktur yang jelas itu terdiri dari tiga layer utama. Gua bingung spidol gua enggak ada yang nyata kayaknya. Nah,
11:37 sorry ya by the way kalau kurang kelihatan karena nanti nanti gua beli spidol baru deh. Oke, jadi ada tiga struktur utama nih ya. Yang pertama itu ada OT, yang kedua ada OP, dan yang ketiga ada data atau fakta. Nah, ini adalah struktur omongan yang bisa lo ikutin untuk bikin omongan lo 99% lebih jelas daripada orang-orang di luar sana. Bang, jelasin OT itu apa, OP itu apa, data atau fakta itu apa. Oke, biar cepat aja kita bakal langsung masuk ke dalam piramida ini. Oke, OT ini gua singkat untuk opini. utama. Karena kalau ou takutnya orang o ou o bingung maksudnya. Jadi gua bilangnya ot-nya nih dibagi dari OT-nya aja setelah U ya. Nah, OT atau opini
12:24 utama ini adalah ketika el tuh menyatakan apa sih yang pengin lo sampaikan dalam tiga kalimat aja. Oke, misalkan tentang MAPP, lo misalkan mau bilang tentang apa nih? Si Bape jago. Ya bilang aja. Kalau menurut gua pribadi si Bape jago sih, Bro. Udah jangan kayak BP sih jago sih, Bro. Dia juga orangnya baik kok. Jadi itu ada dua opini tuh ya kan dia itu baik dan dia itu juga jago. Jangan jangan jangan. Lu jangan pernah di opini utama atau yang lo sampaikan pertama kali 3 detik pertama itu terlalu luas. Lu harus spesifik. Ketika lu menjadi spesifik orang bakal lebih paham apa yang lo sampaikan. Nah opini utama ini itu simpelnya cuman kayak tadi gua bilang bap jago kok bro. Udah jadi apa yang pengin lu sampaikan intinya itu apa? Yang kedua, lu bisa menyampaikan di kalimat berikutnya adalah kenapa opini
13:11 utama lu itu benar. Nah, ini gua sebut sebagai OP atau opini pendukung. Nah, kalau misalkan di opini utama gua bilang, "Bap jago kok, Bro." Nah, lu bisa nyatain emang kenapa kok menurut lu dia tuh jago. Nah, itu kita ngasih argumen. Ketika lu memberikan argumen kepada orang, orang tuh bakal lebih mudah memahami apa yang lu bicarakan. Ini ada hubungan juga dengan konsep psikologi namanya reason and justification. Dalam penelitian psikologi, can I cut in line? Itu ketika sebuah eksperimen gitu. Jadi kita ngantri gitu kan, "Pak, sor Pak, saya boleh duluan enggak apa?" "Ya, pas gue ngomong kayak gitu orangnya bakal bilang enggak enggak enggak enak aja cerita di sini kayak gitu." Tapi kalau misalnya gua bilang kayak pak sori saya boleh duluan deh ya, saya lagi sakit perut banget nih soalnya. Oh, ya udah enggak apa-apa. Nah, itu namanya reason and
13:57 justification. Ketika lu meminta sesuatu dan lu memberikan alasan terhadap sesuatunya itu orang bakal lebih membilang iya ke yang lo minta. Ini ada dalam konsepnya eh psikolog kialini principle. So ini eh termasuk ke dalam bagian OP atau opini pendukung. Nah, kenapa menurut lu tuh BP itu jago? Ya, karena dia udah pernah hampir menangin Piala dunia, Bro. Oh, oke. Berarti ini opini pendukung loan ya. Jadi kalau kita gabung jadi sat kayak gini. Menurut gua pribadi mah yang paling jago mah Bappe, Bro. kan kemarin dia hampir menang Piala Dunia. Nah, misalnya kayak gitu. Dan yang ketiga adalah ini enggak harus, tapi kalau lu bisa kasih data atau faktanya kayak misalkan dia kan hampir menang Piala Dunia dan dia juga kan pernah tuh ngejebolin dua kali L bahkan
14:43 di Piala Dunia. Oke, itu misalkan satu atau enggak? Dan itu kan pernah menangin Piala Dunia dan lo tahu enggak sih, Bro, Bppe juga pernah dirating player top ketiga dari seluruh dunia berdasarkan selademic.com misalnya kayak gitu. Nah, again data atau fakta pendukung ini biasa sifatnya akademis atau lu bisa gunakan dalam forum. Tapi kalau lagi nongkrong sama orang yang sifatnya itu informal kan kayak enggak asik banget kan lu di tongkrong bilang kayak jadi akademi bro bappe itu top ranking nomor tiga di dunia langsung teman-teman lu kayak enggak asik banget g maksud gue yang penting adalah el pakai opini utama dan opini pendukung. Oke. Nah, sampai sini kita bakal lanjut ke tahapan yang ketiga. Yang ketiga ini adalah ketika otak el
15:29 udah tahu mau ngomong apa, sekarang berikutnya otak lo hanya perlu memikirkan kosakata yang pengin lu gunakan itu apa sih? Udah itu doang ibaratnya kayak loin ngelukis, ada lukisan, kata-kata lu tuh kayak warna yang bisa lo gunakan untuk ngelukis. Semakin banyak warna atau semakin banyak kosakata yang lo ketahuin, semakin bisa detail lo menggambarkan apa yang pengin lo gambarkan dari struktur bicara lo di opini utama pendukung data atau fakta pendukung. Dan ini yang bakal nyembuhin juga masalah belibet lo. Nah, Bang, kosakata itu maksudnya gue udah paham sih, Bang. Tapi gimana ya cara gue memperluas kosakata gue? Yang paling gue suka banget adalah lu bisa, ini metode favorit gue. Jadi, ada orang yang mungkin lebih suka baca buku atau
16:14 mungkin ada yang suka baca majalah, baca kamus. Again, gua enggak bilang itu salah, tapi ini cara favorit gue. Cara favorit gue adalah gue sering dengerin orang yang memang punya kosakatanya itu cukup oke atau bagus setiap harinya. Oke, setiap hari gue nontonin waktu itu, kalau sekarang gue nontonnya Alex Hormozi ada, tapi lu bisa pilihlah orang di let's say dia pakai bahasa Indonesia. Kalau gua kan lebih suka pakai bahasa Inggris kalau buat belajar biasanya. Tapi coba lu cari orang yang bahasa Indonesianya itu bagus dan enak didengerin. Nah, ketika lu mendengarkan, lu bakal metode belajarnya itu kayak seorang bayi. Bayi itu dia enggak dia enggak baca A, dia enggak tahu A itu bunyinya gimana, tapi dia ngedengar ayam misalnya kayak gitu. Nah, itu kita belajar kosakata juga loh, by the way.
16:59 Jadi, kita cuma ngedengar doang. Oh, ayam artinya ini. Ketika lu mendengar orang yang kosakatanya itu bagus, efektif menggunakan kata-kata dia, lu juga bakal ketularan kosakatanya. Alhasil, perpustakaan kosakata lo bakal ikut meluas juga. Nah, ini cara favorit gue untuk memperluas kosakata. Nah, dari sini kalau misalkan seandainya lu memang, "Bang, gue pengin beneran serius nih investasi skill komunikasi gue, gini, gua ada penawaran buat lo dan lo boleh tolak." It's ok. Kalau seandainya dalam 30 hari setelah program ini lo enggak ngalami peningkatan apapun dalam skill komunikasi lo, uang lofund 100%. Jadi, tenang aja, kalau misalnya lu tertarik buat investasi skill komunikasi, lu bisa join program gue di stanleyacademic.com. Ini platform
17:44 belajar yang gue dirikan 9 bulan yang lalu. Di sana lu bakal bisa belajar cara bisa berkomunikasi tanpa rasa gugup, gagap, belibet, bahkan bisa nguasin skill komunikasi yang jauh lebih rumit lagi kayak beretorika, berargumen, bikin siapapun bilang yang k yang kita minta. Nerapin karisma yang bakal bikin lo jadi magnet manusia dan masih banyak banget lainnya. Kita juga sudah ngebantu 1000 orang lebih lancar berkomunikasi hanya dalam 30 hari doang dari seluruh Indonesia. Dan jika dalam 30 hari ini lo ngak ngamin perubahan apapun, uang lof 100%. Jadi kalau misalkan lo pengin serius nih nginvestasi skill komunikasi l, gue berharap dan gue yakin banget program ini bakal cocok sama lo. Jadi kalau misalnya lu pengin tahu lebih lanjut tentang programnya, lu bisa cek aja linknya di pin komentar di bawah. Bye bye. Thank you.