Ringkasan Singkat
Video ini membahas kisah Isra Mi'raj, perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan kemudian ke langit ketujuh. Video ini menjelaskan konteks sejarah, detail perjalanan, pertemuan Nabi dengan nabi-nabi lain, perintah salat, serta pengaruh kisah ini pada seni dan budaya Islam.
- Isra Mi'raj terjadi pada bulan Rajab, setahun sebelum Nabi hijrah.
- Perjalanan ini mencakup Isra (dari Mekah ke Yerusalem) dan Mi'raj (dari Yerusalem ke langit ketujuh).
- Nabi Muhammad bertemu dengan nabi-nabi lain dan menerima perintah salat 50 kali sehari, yang kemudian dinegosiasi menjadi 5 kali.
- Kisah ini telah menginspirasi banyak karya seni dan budaya Islam.
Pengantar Isra Mi'raj
Isra Mi'raj diperingati sebagai hari libur nasional di Indonesia. Peristiwa ini terjadi pada bulan Rajab tahun 621 Masehi, setahun sebelum Nabi Muhammad hijrah. Kisah ini diabadikan dalam Al-Quran, surat Al-Isra ayat 1, yang menceritakan perjalanan Nabi dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem (Isra), dan kemudian ke langit ketujuh yang disebut Sidratul Muntaha (Mi'raj).
Detail Perjalanan Isra Mi'raj
Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang berjarak 1462 km ditempuh Nabi dengan cepat menggunakan Burok, hewan mirip keledai yang bisa terbang. Nabi tidak ditemani manusia lain dalam perjalanan ini. Saat itu, Nabi sedang berduka karena Khadijah dan Abu Thalib baru saja meninggal. Kisah lengkap Isra Mi'raj dapat ditemukan dalam riwayat-riwayat Nabi, seperti Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.
Riwayat dan Detail Peristiwa
Peristiwa Isra Mi'raj terjadi pada suatu malam di bulan Rajab ketika Nabi berada di sisi Ka'bah dalam keadaan antara tidur dan sadar. Dua laki-laki membawa baskom emas berisi iman dan hikmah, membelah dada Nabi, mencuci isi perutnya dengan air zam-zam, dan mengisi dadanya dengan iman dan hikmah. Kemudian, Nabi menaiki Burok menuju Baitul Maqdis di Yerusalem, yang merupakan pusat kegiatan spiritual lintas agama.
Masjidil Aqsa dan Latar Belakang Sejarah
Baitul Maqdis adalah kawasan di Yerusalem yang menjadi pusat kegiatan religius. Menurut kitab suci Yahudi, Baitul Maqdis dibangun oleh Nabi Sulaiman dan tanahnya dibeli oleh Nabi Daud. Kawasan ini juga menjadi latar kisah Nabi Ibrahim yang hendak mengorbankan anaknya. Baitul Maqdis telah mengalami renovasi dan pembangunan ulang berkali-kali, menjadi pusat kegiatan spiritual lintas agama yang juga rentan konflik. Saat Isra Mi'raj, kiblat salat masih menghadap Baitul Maqdis sebelum dipindahkan ke Ka'bah.
Perjalanan ke Langit dan Pertemuan dengan Nabi
Nabi Muhammad tiba di Masjid Aqsa, salat sunnah 2 rakaat, dan kemudian diantar oleh Jibril naik ke langit. Di setiap pintu langit, Nabi bertemu dengan nabi-nabi lain seperti Nabi Isa, Nabi Yahya, Nabi Yusuf, Nabi Idris, Nabi Musa, dan Nabi Ibrahim. Di langit ketujuh, Nabi melihat kubah, pohon besar, dan sungai-sungai indah.
Perintah Salat dan Negosiasi
Di langit ketujuh, Nabi bertemu dengan Allah dan menerima perintah salat 50 kali sehari. Saat perjalanan pulang, Nabi Musa menyarankan untuk bernegosiasi karena umatnya tidak akan sanggup. Nabi Muhammad bernegosiasi hingga akhirnya mendapat angka 5 kali sehari. Meskipun sudah 5 kali, Nabi Musa masih menyarankan untuk bernegosiasi lagi, tetapi Nabi Muhammad malu.
Reaksi Masyarakat dan Dukungan Abu Bakar
Setelah kembali, Nabi menceritakan perjalanannya dan menyampaikan perintah salat, tetapi banyak orang kafir Quraisy yang tidak percaya dan menertawakannya. Abu Bakar, seorang tokoh senior yang dihormati, menyatakan kepercayaannya pada peristiwa Isra Mi'raj, yang menginspirasi orang lain untuk percaya juga.
Kisah Sampingan dan Inspirasi Seni
Ada banyak riwayat sampingan tentang Isra Mi'raj, seperti Nabi melihat Telaga Kautsar, bertemu malaikat yang mengajak mendaki pohon di kampung orang mati syahid, dan melihat perempuan pelacur dibakar di neraka. Kisah Isra Mi'raj yang mistis dan ajaib ini menginspirasi banyak karya seni di berbagai budaya, terutama penggambaran Burok dalam gaya Persia dan India.
Pengaruh Budaya dan Rasionalisasi
Kisah Isra Mi'raj memiliki dampak budaya, dengan banyak merek menggunakan nama Burok. Beberapa ulama mencoba merasionalkan peristiwa ini dengan menjelaskan bahwa Isra Mi'raj hanya terjadi secara ruh saja. Perayaan Isra Mi'raj diperingati untuk mengingat turunnya perintah salat.

