Ringkasan Singkat
Video ini membahas tentang Herman Willem Daendels, seorang jenderal yang ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tahun 1808. Daendels melakukan berbagai perubahan besar, terutama di bidang militer dan infrastruktur, untuk melindungi Jawa dari serangan Inggris. Proyek utamanya adalah pembangunan Jalan Raya Pos (Anyer-Panarukan) sepanjang 1000 km. Namun, pembangunan jalan ini menyebabkan penderitaan bagi penduduk pribumi karena sistem kerja paksa (rodi) yang berat. Perlawanan muncul dari Pangeran Kusumadinata IX (Pangeran Kornel) dari Sumedang. Akhirnya, Daendels ditarik kembali ke Belanda dan meninggal di Afrika.
- Daendels ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk melindungi Jawa dari Inggris.
- Ia melakukan reformasi militer dan membangun infrastruktur seperti Jalan Raya Pos.
- Pembangunan Jalan Raya Pos menyebabkan penderitaan bagi rakyat pribumi akibat kerja paksa.
- Muncul perlawanan dari Pangeran Kornel dari Sumedang.
- Daendels ditarik kembali ke Belanda dan meninggal di Afrika.
Pengangkatan Daendels sebagai Gubernur Jenderal
Pada tahun 1808, Herman Willem Daendels ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda oleh Raja Belanda, Louis Napoleon, yang merupakan adik dari Kaisar Prancis, Napoleon Bonaparte. Penunjukan ini diberikan dengan mandat utama untuk melindungi Pulau Jawa dari ancaman serangan tentara Inggris yang berbasis di India. Setelah perjalanan panjang, Daendels tiba di Batavia pada tanggal 5 Januari 1808.
Reformasi dan Pembangunan Militer oleh Daendels
Setibanya di Batavia, Daendels melakukan berbagai perombakan besar-besaran, terutama di bidang militer. Jumlah tentara ditingkatkan dari 3.000 menjadi 20.000 orang. Selain itu, ia membangun rumah sakit dan tangsi militer baru. Daendels juga mendirikan pabrik senjata di Gresik dan Semarang, serta membangun pangkalan Angkatan Laut di Ujung Kulon dan Surabaya. Benteng-benteng pertahanan juga dibangun, termasuk benteng di Meester Cornelis (Jatinegara) dan Surabaya.
Pembangunan Jalan Raya Pos (Anyer-Panarukan)
Proyek utama dan obsesi besar Daendels adalah pembangunan Jalan Raya Pos (Anyer-Panarukan). Jalan ini dibangun dengan alasan untuk menjaga kewibawaan Belanda-Prancis dan untuk kepentingan militer. Jika terjadi serangan dari Inggris, serdadu dapat bergerak dengan cepat. Jalan ini memiliki panjang 1000 km.
Penderitaan Rakyat Akibat Pembangunan Jalan Raya Pos
Meskipun Jalan Raya Pos berhasil dibangun, proyek ini meninggalkan luka mendalam bagi penduduk pribumi. Dalam proses pembuatannya, para pekerja rodi seringkali harus menembus jalan yang sulit, menerobos gunung-gunung tinggi, jurang, dan hutan belantara. Herman Willem Daendels memerintahkan pembangunan jalan ini melalui sistem penjatahan, di mana setiap kabupaten yang dilalui jalan ini harus memenuhi jatah yang ditentukan. Jika tidak, penanggung jawab teknis akan dihukum. Diperkirakan sekitar 12.000 pekerja rodi meninggal karena kelaparan, penyakit malaria, dan kelelahan hebat di sepanjang jalan Anyer-Panarukan. Jalan ini menjadi kuburan massal terluas di Pulau Jawa.
Perlawanan Pangeran Kornel dari Sumedang
Meskipun banyak warga yang meninggal, Daendels tetap meneruskan proyek Jalan Raya Pos. Hal ini menimbulkan perlawanan, salah satunya dari Pangeran Kusumadinata IX (Pangeran Kornel) dari Sumedang. Pangeran Kornel tidak gentar melihat penderitaan rakyatnya yang harus mengerjakan jalan dengan membongkar Bukit Cadas yang sangat keras. Masyarakat Sumedang mendirikan patung Pangeran Kornel berhadapan dengan Daendels untuk mengabadikan jasa-jasanya. Pangeran Kornel digambarkan memberikan tangan kirinya ketika berjabatan tangan, sementara tangan kanannya memegang hulu keris naga.
Kejatuhan Daendels
Daendels bertindak keras terhadap raja-raja di Jawa, sehingga mereka menyimpan dendam kepadanya. Ketika pasukan Inggris datang, mereka bersama-sama mengkhianati Daendels. Muncul ketidakharmonisan antara pemerintah Belanda-Prancis dan pejabat pribumi. Daendels ditarik pulang ke Belanda setelah jatuhnya Napoleon. Ia kemudian mengabdi pada Raja Willem I dan dikirim ke Pantai Emas di Afrika, di mana ia terkucil, kesepian, dan meninggal pada tahun 1818.

