Jangan Sembarangan Menjamak Shalat! Begini Aturan Benarnya Menurut Fikih - Ustadz Ammi Nur Baits

Ringkasan Singkat

Video ini membahas hukum seputar menjamak salat, termasuk syarat, kondisi, dan catatan penting terkait pelaksanaannya. Beberapa poin utama meliputi:

  • Waktu salat telah ditetapkan, namun ada keringanan menjamak karena uzur tertentu.
  • Menjamak salat berarti menggabungkan waktu, bukan tata cara salat.
  • Niat menjamak tidak selalu disyaratkan di awal, terutama pada jamak takdim.
  • Jamak dilakukan sesuai urutan salat.
  • Jamak dan qasar adalah dua hal berbeda dengan uzur yang berbeda pula.

Pengantar tentang Salat Jamak

Allah mewajibkan salat dengan waktu yang teratur, di mana salat Subuh terpisah dari empat salat lainnya. Salat Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya memiliki rentang waktu yang berdekatan. Karena keteraturan ini, salat Subuh tidak bisa dijamak dengan salat lain karena rentang waktunya yang panjang dari Isya ke Subuh dan dari Subuh ke Zuhur. Batas akhir waktu Isya adalah tengah malam, bukan sampai Subuh. Salat siang (Zuhur dan Asar) bisa digabungkan, begitu pula salat malam (Magrib dan Isya), sehingga terjadilah syariat jamak.

Waktu Salat yang Telah Ditetapkan

Setiap salat lima waktu telah ditetapkan waktunya oleh Allah. Melaksanakan salat setelah atau sebelum waktunya hukumnya batal. Sahabat Abdullah bin Mas'ud bertanya kepada Nabi tentang amal yang paling afdal, dan Nabi menjawab salat tepat waktu. Seseorang tidak boleh keluar dari rentang waktu yang ditetapkan kecuali ada uzur yang membolehkan untuk menjamak salat, baik jamak takdim maupun takhir. Jika tidak ada uzur dan tetap menjamak, maka salatnya batal.

Jamak Takhir dan Niat

Orang yang ingin melakukan jamak takhir berarti tidak salat saat masuk waktu salat pertama, yang merupakan pelanggaran. Oleh karena itu, ulama mewajibkan untuk memasang niat akan melakukan salat tersebut setelah masuk waktu salat kedua agar tidak tertuduh meninggalkan salat. Jika tidak berniat, maka terhitung sengaja meninggalkan salat dan itu dosa besar.

Hakikat Jamak: Menggabungkan Waktu atau Gerakan Salat?

Hakikat jamak adalah menggabungkan dua waktu salat (jam'ul waqti), bukan menggabungkan gerakan salat (jam'ul kaifiyah). Jika hakikatnya adalah menggabungkan gerakan salat, maka jamak tidak boleh diselai dengan gerakan apapun kecuali yang ringan. Namun, jika hakikatnya adalah menggabungkan waktu salat, maka rentang waktu tertentu masih diperbolehkan selama tidak berlebihan dalam melakukan aktivitas yang menunjukkan tidak ada niat untuk salat.

Niat dalam Salat Jamak Takdim

Untuk jamak takhir, niat sudah pasti ada karena orang tersebut belum salat Zuhur dan berniat menjamaknya di waktu Asar. Namun, apakah jamak takdim disyaratkan harus punya niat di awal sebelum salat pertama? Pendapat yang lebih benar adalah boleh, karena jamak itu menggabungkan dua waktu salat dan tidak disyaratkan niat menggabungkan harus ada saat salat pertama. Contohnya, sahabat yang bermakmum di belakang Nabi hanya mengikuti tanpa tahu apakah Nabi akan menjamak atau tidak.

Urutan Salat dalam Jamak

Dalam jamak, salat dilakukan sesuai urutan. Dalam jamak takhir Zuhur dengan Asar, maka Zuhur dikerjakan terlebih dahulu baru kemudian Asar. Dalilnya adalah peristiwa perang Ahzab, di mana Nabi dan sahabat melaksanakan salat Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya berurutan di satu waktu karena kondisi perang.

Perbedaan Jamak dan Qasar

Jamak dan qasar adalah dua hal yang berbeda, meskipun terkadang digabung. Ada jamak saja tanpa qasar, dan ada qasar saja tanpa jamak. Contoh jamak saja tanpa qasar adalah ketika Nabi menjamak salat Zuhur dengan Asar di Madinah tanpa safar. Contoh qasar saja tanpa jamak adalah ketika Nabi di Mina, di mana salat dikerjakan tepat waktu tetapi diqasar.

Uzur Jamak dan Qasar

Qasar disyariatkan karena safar, sehingga siapa yang safar dia qasar. Uzur jamak lebih longgar daripada qasar, bisa karena safar, sakit, hujan, atau situasi tertentu yang tidak memungkinkan untuk meninggalkan kesibukan, seperti dokter yang sedang melakukan operasi. Jamak salat dilakukan karena ada kejadian insidental (sunnatun aridah).

Rangkuman Catatan Penting tentang Salat Jamak

  1. Al-Qur'an menjelaskan waktu salat, di mana empat salat disebutkan dalam bentuk rentang dan satu (Subuh) disebutkan terpisah.
  2. Salat Subuh tidak bisa dijamak dengan salat apapun.
  3. Jamak itu menggabungkan waktu, bukan tata cara salat.
  4. Jamak dikerjakan sesuai urutan.
  5. Dalam jamak takhir atau takdim, tidak disyaratkan harus punya niat di awal.
  6. Jamak itu sunnatun aridah, dikerjakan karena ada sebab atau uzur.

Sesi Tanya Jawab

Jamak qasar alasannya karena safar, tetapi safar tidak harus selalu jamak. Di Mina, Nabi tidak menjamak karena waktunya longgar. Di Arafah, sunahnya jamak takdim agar bisa banyak berdoa. Di Muzdalifah, sunahnya jamak takhir untuk memberi kesempatan bergerak dari Arafah ke Muzdalifah. Jika safar, sebaiknya salat di masjid jika memungkinkan. Jika bermakmum di belakang mukim, maka tidak boleh qasar, tetapi boleh jamak.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 wabarakatuh. [Musik] Alhamdulillahi rabbil alamin. Wasalatu wasalamu ala asrofil mursalin nabiyina wa maulana Muhammadin wa ala alihi wasohbihi ajmain. Wa ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh sallallahu alaihi wa ala alihi wasahbih. Waman tabiahum biihsanin ila yaumiddin. Alhamdulillah puji syukur kita haturkan ke hadirat Allah subhanahu wa taala. Di kesempatan siang hari ini kembali kita melanjutkan kajian rutin dengan membaca kitab Bulghul Maram

0:46 dan insyaallah kita akan membaca hadis nomor 438 berkaitan dengan hukum seputar masalah jamak ketika salat. Hadis 438. [Musik] Sebelumnya kita akan berikan pengantar terlebih dahulu tentang masalah jamak. Allah Subhanahu wa taala mewajibkan bagi para hambanya untuk melaksanakan salat. Dan jika kita perhatikan rentang waktu salat itu sangat teratur. di mana ada satu salat yang terpisah dari empat salat yang lain. Allah Subhanahu wa taala berfirman, aqimata

1:32 liduk syamsi ila gasaqil wa quranal fajr. Tegakkanlah salat liduk syamsi sejak matahari tergelincir. Lail sampai tengah malam. wa quranal fajri dan lakukanlah salat fajar di waktu fajar. Dalam ayat ini Allah menjelaskan tentang waktu-waktu salat. Aqimata liduqamsiqil. Di sini Allah menyebutkan rentang dari mulai tergelincir matahari sejak kapan itu? zuhur ilaqil sampai tengah malam yaitu sampai batas

2:19 akhir salat isya. Dan antara rentang zuhur sampai isya salat yang kita kerjakan itu berdekatan. Zuhur sekian jam berikutnya asar sekian jam berikutnya magrib sekian jam berikutnya isya berdekatan. Waanal fajri. Dan kerjakanlah Quran di waktu fajar, yaitu salat subuh. Sehingga empat salat disebutkan oleh Allah waktunya dalam bentuk rentang, batas awal, batas akhir dan satu salat disebutkan oleh Allah terpisah. Oleh karena itu, kaitannya dengan masalah jamak untuk satu salat dia tidak bisa dijamak dengan salat apapun, yaitu salat subuh. Subuh tidak bisa dijamak

3:06 dengan isya dan tidak bisa dijamak dengan zuhur. Sehingga dari isya sampai subuh rentangnya panjang. Dari subuh sampai zuhur rentangnya panjang. Maka dua salat ini tidak bisa dijamak. Karena itulah pendapat yang lebih tepat berkaitan dengan batas akhir waktu salat Isya. Kapan batas akhir waktu salat Isya? Pendapat yang lebih kuat adalah tengah malam. Sehingga orang yang mengerjakan salat Isya pasca tengah malam berarti dia telah mengerjakan salat Isya di luar waktu. Karena untuk ee apa keteraturan bahwa empat salat ini terjadi pada

3:52 rentang yang sama pada satu rentang ila gasaqil lail sampai tengah malam berarti waktu antara tengah malam sampai subuh harus ada rentang yang panjang. Akhir dari salat Isya sampai subuh harus ada rentang yang panjang. Wallahuam. Sehingga pendapat yang lebih tepat berkaitan dengan batas akhir dari salat Isya adalah tengah malam bukan sampai subuh. Selanjutnya Allah subhanahu wa taala menjadikan di sana ada salat siang dan di sana ada salat malam. Salat siang bisa digabungkan zuhur dengan asar. Salat malam bisa digabungkan magrib dengan isya. Sehingga terjadilah syariat jamak ketika salat.

4:37 Selanjutnya, pada asalnya setiap salat lima waktu telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa taala waktunya. Sebagaimana yang Allah tegaskan dalam Al-Qur'an. Innasata kanat alal mukminina kitaban mauuta. Sesungguhnya salat adalah kewajiban bagi orang-orang mukmin. yang telah ditetapkan waktunya. Oleh karena itu, melaksanakan salat setelah habis waktu hukumnya batal. Sebagaimana salat sebelum masuk waktu juga batal karena batas waktunya telah ditetapkan oleh Allah. Salat zuhur sebelum masuk zuhur batal. Sebagaimana

5:23 salat zuhur setelah selesai waktu zuhur juga batal. Demikian pula yang berlaku pada asar dan salat-salat yang lain. Sehingga kita diperintahkan untuk memenuhi batas waktu yang telah ditetapkan. Sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiallahu anhu pernah bertanya kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Ya Rasulullah, ayyul a'ali afdal?" "Ya Rasulullah, amal apakah yang paling afdal?" Lalu Nabi sallallahu alaihi wasallam memberikan jawaban asalatu ala wqtiha. Amal yang paling afdal yang pertama adalah salat tepat waktu. Sehingga siapa yang mengerjakan salat tepat waktu, dia melaksanakan tugas

6:10 dalam posisi yang paling afdal. Selanjutnya, seseorang tidak boleh keluar dari rentang waktu yang ditetapkan kecuali jika ada uzur. Dan uzur itu yang membolehkan dia untuk melaksanakan salat di luar waktunya dengan cara dijamak. Baik jamak takdim maupun jamak takhir. Jamak takdim berarti dia melakukan salat sebelum waktu. Misalnya zuhur dengan asar. Berarti dia salat asarnya gimana? Sebelum waktu. Karena asarnya

6:56 diajukan. Maka orang yang melakukan jamak takdim berarti dia melakukan salat sebelum waktu. Karena itu bagi yang tidak punya uzur, nekad jamak, gimana nasib salatnya? Batal. Orang yang tidak punya uzur lalu dia menjamak salat, maka status jamaknya batal. Sementara jamak takhir, berarti dia salat setelah keluar waktu. Zuhur dengan asar dijamak takhir. Berarti salat zuhurnya setelah habis waktu. Maka siapa yang melakukan jamak takhir padahal dia enggak punya uzur, gimana nasib salatnya? Batal. Nasib salatnya batal. Baik,

7:44 catatan berikutnya. Orang yang mau melakukan jamak takhir berarti pada saat masuk waktu salat dia tidak salat. Misalnya kita mau melakukan jamak takhir zuhur dengan asar. Sudah saat masuk waktu zuhur kita enggak salat zuhur. Dan ketika sudah masuk waktu salat sampai akhir waktu sementara tidak kita tidak melaksanakannya itu pelanggaran. Ini sudah masuk waktu salat, kenapa kau tidak salat? Itu termasuk apa? Pelanggaran. Oleh karena itu, bagi mereka yang mau melakukan jamak takhir,

8:29 para ulama mewajibkan untuk masang niat bahwa saya akan lakukan salat ini nanti setelah masuk waktu salat yang kedua. Saya ulang ya. Jika sudah masuk waktu salat, tapi kita tidak melaksanakan salat, maka kita melakukan pelanggaran, kita bersalah. Sudah masuk waktu, kenapa kau tidak lakukan kewajibanmu? Sudah. Berarti saat saya mau melakukan jamak takakhir, masuk waktu zuhur, saya segera salat enggak? Tidak. Nunggu sampai kapan? Masuk a asar. Loh, ini sudah masuk waktu zuhur. Waktu zuhur sudah mau habis. Kenapa kamu enggak salat?

9:15 Karena saya mau jamak takakhir. Paham? Baik. Oleh karena itu, bagi mereka yang mau jamak takhir, dia wajib pasang niat untuk melakukan jamak salat zuhur ini di waktu asar agar tidak tertuduh sebagai orang yang meninggalkan salat. Paham ya? Kenapa harus seperti itu? Agar tidak tertuduh sebagai orang yang meninggalkan salat. Ini seperti yang disebutkan ee oleh Abu Syuja dalam matan Gha Takqrib. Dan demikian pula yang disebutkan dalam mazhab Hambali, bagi mereka yang mau jamak takhir, dia wajib pasang niat bahwa salat yang sekarang saya sedang berada di waktunya akan saya tunda di

10:00 waktu yang kedua dengan jamak takhir. Kalau dia enggak punya niat itu, maka terhitung sebagai orang yang sengaja meninggalkan salat dan itu dosa besar. Tayib. Catatan berikutnya. Jamak itu sebenarnya hakikatnya apa? Menggabungkan gerakan salat ataukah menggabungkan dua waktu salat? Saya ulang. Apa hakikat dari jamak? Apakah jam'ul kaifiyah, jam'u kaifiyati salah? ataukah jamu wakt salah bagi mereka yang mengatakan bahwa jamak itu adalah jam'u kaifiyatisah,

10:49 menggabungkan gerakan salat, maka jamak tidak boleh diselai dengan gerakan apapun kecuali yang sifatnya ringan. Misalnya selesai zuhur terus dia mau jamak asar kok. Kemudian selesai zuhur dia ke toilet dulu, wudu kemudian balik lagi ke masjid, balik lagi ke ruangan utama masjid terus jamak asar. Menurut yang mengatakan bahwasanya jamak adalah jam'ul kaifiyah, menggabungkan dua tata cara dan gerakan salat, praktik ini enggak boleh. Kesempatan kamu untuk jamak sudah batal. Karena antara zuhur dengan asar kau

11:36 terpisah dengan gerakan yang banyak. Bahkan kau ke toilet ngantri dulu terus wudu baru kemudian masuk ke ruangan utama lalu mau salat Asar. Ini terlalu jauh waktunya. Kau tidak bisa jamak. Kemudian pendapat yang kedua, hakikat dari jamak adalah jam'ul wqti, jamu waktis sala. Menggabungkan dua waktu salat. Sehingga yang terjadi pada jamak adalah waktu zuhur digabung dengan waktu asar contohnya. Maka kalaupun terjadi rentang tertentu, namun tidak sampai menyebabkan orang tidak sampai menyebabkan orang ee apa berlebihan dalam melakukan aktivitas

12:22 dalam arti dia kayaknya sudah enggak punya niat untuk salat misalnya, maka dia masih boleh untuk jamak. Contoh ya, selesai zuhur kemudian dia ke toilet atau dia batal terus wudu. Apakah masih bisa untuk jamak asar? Berdasarkan pendapat yang kedua ini bisa. Tapi kalau dia melakukan aktivitas di mana orang akan menilai bahwa dengan aktivitas ini dia sudah tidak lagi untuk salat, tidak lagi punya keinginan untuk salat, maka dia sudah tidak punya kesempatan untuk jamak. Contoh, selesai salat zuhur, dia kuliah

13:08 sampai jam .00 terus balik ke masjid jamak dengan asar. Bisa tidak? Kenapa? Begitu dia kuliah berarti dia sudah tidak ada keinginan untuk salat. Sementara kalau masih gabung misalnya saya batal, saya ke toilet, masih gabung enggak? Masih. Niatnya belum putus, dia masih punya keinginan untuk segera salat Asar. Nah, seperti ini masih bisa untuk menjamak. Bisa dipahami? Insyaallah. Baik, catatan berikutnya. Ada berapa catatan, Pak? tiga baru tiga. Apakah jamak itu disyaratkan harus punya niat di awal? Terutama untuk jamak takdim. Kalau jamak

13:54 takhir pasti ya. Sehingga orang yang belum salat zuhur misalnya dan dia punya niat akan melakukan jamak di waktu asar, maka bisa dipastikan dia punya niat jamak takhir. Sehingga saat dia salat di waktu asar, dia salat zuhur kemudian asar. Apakah orang yang mau melakukan jamak takdim dia harus sudah punya niat di awal sebelum melakukan salat yang pertama? Contoh kasus ada orang salat zuhur berjamaah. Baik selesai salat zuhur terus dia ketemu rombongannya lalu rapat ya jamak dengan asar atau tidak ya. Karena tadi belum ada kesepakatan,

14:40 rapat baru dilakukan setelah salat zuhur sudah. Nah, karena baru rapat, anggaplah di situ ada 10 orang. Karena baru rapat, berarti kira-kira mereka sudah punya niat untuk jamak atau belum? Mungkin ada yang sudah punya, mungkin ada yang belum. Anggaplah misalnya lima orang belum punya, lima orang sudah punya. Akhirnya ketetapannya ini jadi jamak atau tidak hasil keputusan rapat. Berarti yang belum punya dia baru pasang niat setelah sepakat. Dipahami ini baik. Apakah yang belum punya niat untuk jamak dengan asar sebelum dia melaksanakan salat zuhur dia boleh jamak zuhur dengan

15:27 asar? Wallahu taala alam. Pendapat yang lebih benar boleh. Karena jamak itu tadi ya menggabungkan dua waktu salat dan tidak disyaratkan dalam kejadian menggabungkan itu diiringi dengan niat bahwa salat pertama dengan salat yang kedua harus digabungkan. Niatnya niat salatnya bukan niat menggabungkannya. Begitu sudah jadi jamak maka jadilah dia melakukan jamak takdim. Dan dalil tentang ini cukup banyak. Misalnya para sahabat ketika salat bermakmum di belakang Nabi sallallahu alaihi wasallam, mereka hanya ngikut. Mereka hanya ngikut. Nabi sallallahu

16:12 alaihi wasallam salat zuhur kemudian beliau jamak dengan asar. Sahabat hanya ngikut yang mungkin mereka tidak tahu apakah nanti Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mau jamak atau tidak. Kalau beliau jamak saya akan jamak. Kalau beliau tidak jamak ya kita enggak enggak jamak. Sehingga mereka hanya ngikut. Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika itu menjadi imam dan para sahabat ngikuti beliau. Sementara tidak dijumpai riwayat bahwa beliau menyampaikan pengumuman sebelum jamak. Wahai ya ayyuhannas, wahai seluruh masyarakat, nanti saya akan jamak, maka ikutilah aku. Beliau tidak menyampaikan demikian. Andaikan itu ada, tentu sahabat akan menyampaikan. Wallahuam. Selanjutnya

16:59 catatan berikutnya dalam jamak dilakukan sesuai dengan urutan salat. Dalam jamak dilakukan sesuai dengan urutan salat. Maka dalam jamak takhir zuhur dengan asar. Salat mana duluan yang dikerjakan? Zuhur. Baru kemudian salat asar. Magrib dengan isya mana duluan? magrib baru kemudian isya sehingga dikerjakan sesuai dengan urutan. Dalil akan hal ini adalah kondisi yang dialami oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam dan para sahabat pada saat peristiwa perang Ahzab. Pada waktu perang Khandak, kaum muslimin

17:48 mereka siaga dan berjaga di titik-titik perbatasan parit. yang disebut dengan al-utum. Al-utum artinya ee apa? Tembok ya yang pendek dan dia menjadi tameng ketika orang itu perang dia siaga di balik tembok namanya Al-Utum. Mereka berjaga seperti itu sampai akhirnya waktu zuhur lewat, waktu asar lewat hingga mendekati magrib. Mereka baru bisa melaksanakan salat. Dan ketika itu musim dingin. Karena peristiwa khandaq itu terjadi di musim

18:34 dingin. Musim dingin berarti siangnya lebih pendek daripada malam. Nabi sallallahu alaihi wasallam melaksanakan salat zuhur, asar, magrib, dan isya di satu waktu yang sama. Beliau ketika itu sudah mendekati tenggelam matahari tapi beliau belum salat. Ya, sampai Umar bin Khattab radhiallahu anhu emosi, marah-marah dan Nabi sallallahu alaihi wasallam juga menyampaikan, "Aku juga belum salat." Akhirnya sebagai peraturan perang di masa silam, kalau magrib perang berhenti, malam perang berhenti. Begitu sudah masuk waktu malam barulah masing-masing kembali ke ee apa? Posnya sendiri-sendiri. Di saat itulah Nabi sallallahu alaihi wasallam dan para

19:19 sahabat baru bisa melaksanakan salat. Maka beliau salat zuhur, asar, magrib, Isya berurutan di satu waktu yang sama. Dan para ulama mengatakan ketika itu belum ada syariat tentang salat khauf, belum ada syariat tentang salat perang. Sehingga Nabi sallallahu alaihi wasallam tidak melakukan salat khauf. Salat khauf itu baru ada belakangan. Tayib. Dalam kejadian inilah kita bisa memahami bahwa bagian dari aturan dalam jamak, jamak itu dikerjakan sesuai dengan urutan salat. Maka jamak takhir magrib dulu baru isya, zuhur dulu baru asar dan demikian seterusnya.

20:06 Selanjutnya kita sudah pernah belajar tentang qasar dan sekarang kita belajar tentang jamak. Dan jamak dengan qasar ini dua hal yang berbeda. Jamak sendiri, qasar sendiri. Meskipun terkadang digabung jamak sekaligus qasar. Mungkin enggak, Pak, jamak saja tanpa qasar? Mungkin. Mungkinkah qasar saja tanpa jamak? Mungkin. sehingga dua-duanya memungkinkan. Sudah. Apa contohnya jamak saja tanpa qasar? Hadis Ibnu Abbas radhiallahu anhuma. Beliau pernah menceritakan jamaan Nabiu shallallahu alaihi wasallam bainad zzuhri wal asri wal magribi wal

20:53 isya bil madinati min ghairi matharin wala khauf. Nabi sallallahu alaihi wasallam pernah salat jamak di kota Madinah antara zuhur dengan asar, magrib dengan isya di Kota Madinah. Ya, bukan karena hujan dan bukan karena situasi perang. Lalu Ibnu Abbas ditanya, "Kenapa Nabi sallallahu alaihi wasallam jamak?" Kata Ibnu Abbas, "Lialla yuharrija ummatahu." Beliau tidak ingin memberatkan umatnya. Baik. Sehingga yang dilakukan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ketika itu menjamak salat zuhur dengan asar di Madinah. Artinya dalam posisi tidak

21:39 safar. Maka beliau jamak saja tanpa qasar. Karena orang yang salat dalam posisi mukim itu tidak qasar. Ada juga yang qasar saja tapi tidak jamak. Seperti praktik Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika di Mina. Di Mina sunahnya adalah salat tepat waktu tapi qasar. Zuhur dua rakaat. Sudah zuhur saja. Nanti asar salat tepat waktu dua rakaat, nanti magrib 3 rakaat, isya tepat waktu dua rakaat. Diqasar tapi tidak jamak. Itu sunah di Mina. Ketika orang berada

22:24 di Mina itu qasar saja tapi tidak jamak. Sehingga di sini kita mendapatkan pelajaran bahwa jamak dengan qasar itu dua hal yang berbeda. Ada jamak saja tanpa qasar, ada qasar saja tanpa jamak. Baik. Lalu apa latar belakangnya jamak dengan apa latar belakangnya qasar? Kemarin sudah kita bahas bahwa qasar itu disyariatkan karena orangnya safar sehingga siapa yang safar dia qasar. Maka safar sama dengan qasar. Karena itu bagi siapa yang tidak safar enggak boleh qasar.

23:11 Sakit Pak enggak boleh qasar. Kecuali kalau dia dirawat di luar kota, baru dia bisa qasar. Karena uzur qasar itu hanya satu, yaitu safar. Yang kedua, jamak. Uzur jamak lebih longgar daripada qasar. Jamak itu bisa karena safar, bisa karena sakit, bisa karena hujan, bahkan bisa karena situasi tertentu yang dia dalam posisi sehat walafiat. misalnya akan ada kesibukan yang tidak mungkin bisa dia tinggalkan ketika nanti dia akan melakukan tindakan seperti ini.

23:57 Kita boleh sebutkan contoh ya. Kalau andaikan seorang dokter mau melakukan tindakan operasi butuh waktu nabrak salat misal ya operasi dimulai sebelum magrib jam .00 dan akan berakhir kurang lebih jam .00 malam. misalnya atau bahkan sampai jam 09.00 malam, otomatis dia akan melintasi waktu magrib. Maka dalam posisi ini dokter boleh jamak takhir. Karena alasan apa? Tidak memungkinkan meninggalkan lokasi operasi dalam posisi dia sedang melakukan tindakan. Ya, Anda bisa bayangkan ya. Wis dibeleh sik tak tinggal.

24:43 Wis dibel tak tinggal sik aku tak salat. Saya enggak tahu apakah bisa gantian sif-sifan atau tidak. Mungkin dokter lebih paham ya. Sehingga misalnya di situ ada tiga tim dokter ya. Ada tiga orang satu tim dokter misalnya melakukan satu tindakan operasi selama sekian jam. Dalam tindakan itu kalau kemudian tidak bisa dihentikan nabrak waktu salat maka dia boleh jamak. Jadi mungkin ini sifatnya pekerjaan tapi karena genting dia bisa jamak. Enggak ada hujan orangnya sehat walafiat bukan sakit dalam posisi dia punya kesibukan tertentu yang tidak mungkin untuk ditinggalkan. Baik. Karena itulah para

25:30 ulama mengatakan jam'us shaun aridah. Jamak salat itu karena ada kejadian insidental. Sunah aridah. Jamak salat dilakukan karena ada kejadian insidental. Karena itu dilakukan dengan sebab tertentu. Wallahuam. Baik, itu beberapa pengantar yang perlu diperhatikan berkaitan dengan masalah jamak. Ada berapa catatan, Bu? Coba kita ulang ya. Pertama apa? Pertama tentang penjelasan dalam Al-Qur'an mengenai waktu salat. Waktu salat yang lima, empat ini Allah

26:16 jelaskan dalam bentuk rentang dan satu disebutkan secara terpisah. Aqimata lidamsiqil wa quranal fajr. Tegakkanlah salat dari sejak matahari tergelincir sampai tengah malam. Min menjelaskan tentang rentang awal, rentang akhir untuk waktu salat dari mulai zuhur sampai akhir dari salat Isya yaitu tengah malam. Sedangkan salat subuh terpisah. Wa quranal fajr. Dan kerjakanlah Quran di waktu fajar. Salat subuh disebut dengan Quranul fajar karena dianjurkan ketika salat subuh memperpanjang bacaan Al-Qur'an. Sehingga salat subuh ee yang sesuai sunah, bacaan yang dibaca

27:04 ketika salat adalah surat-surat yang panjang. Oleh karena itu, catatan berikutnya yang kedua sebagai konsekuensinya satu salat ini tidak bisa dijamak dengan salat apapun. Subuh tidak bisa dijamak dengan isya, tidak bisa dijamak dengan zuhur. Sehingga yang bisa dijamak adalah yang ada di rentang ini yang siang dan yang malam. Zuhur asar dan magrib isya. Selanjutnya catatan yang ketiga bahwa jamak itu sifatnya apa tadi? menggabungkan waktu bukan menggabungkan kaifiah. Maka meskipun ada rentang tidak masalah. Yang

27:51 penting dia tidak melakukan aktivitas yang menunjukkan dia sudah memutus kegiatan salat. Catatan yang keempat bahwa jamak itu dikerjakan sesuai urutan bagi mereka yang jamak takhir, zuhur, asar. Jamak takhir di waktu asar, jamak takhir di waktu isya, magrib isya. Catatan yang kelima, bahwa dalam jamak takhir atau jamak takdim tidak disyaratkan harus punya niat. Karena itu kalau ada kasus salat magrib, di tengah salat hujan deres. Sudah berarti sebelum salat magrib apakah sudah punya niat jamak?

28:39 Sudah punya niatnya belum? Belum. Kenapa? Belum hujan. Di tengah salat magrib, rakaat yang ketiga, hujan terus terus sekali. Selesai magrib hujan belum reda. Boleh jamak enggak? Boleh. Boleh. Tapi kan dia enggak punya niat, Pak. Tadi sebelum magrib dia punya niat jamak isya enggak? Tidak. Kenapa? Belum turun hujan. Kalau gambling boleh enggak, Pak? Misalnya sudah lihat mendung gelap, ini kayaknya kok peluang besar hujan. Ya sudahlah wahai jemah niatkan jamat Isya misalnya. Barangkali nanti kalau jadi turun hujan alhamdulillah kita sekalian jamak isya. Boleh kayak gitu? Gak boleh. Kok bisa

29:28 gambling kayak gini ya? Baik. Sehingga yang bisa dia lakukan adalah begitu selesai magrib kok hujan belum reda dan itu bisa membasahi badan. Kalau orang keluar dari masjid maka dia boleh jamak dengan isya. Selanjutnya jamak itu sifatnya sunatun aridah. Artinya dia dikerjakan karena ada sebab. Dan sebab ini merupakan uzurnya. Maka orang yang melakukan salat jamak tanpa uzur, batal salat yang tidak pada waktunya. Termasuk juga tadi catatan yang terlewat, hukum asal salat dikerjakan pada waktunya. Siapa yang melakukan jamak tanpa uzur,

30:14 berarti dia pasti salat di luar waktu, baik takdim maupun takhir. Wallahuam. Walhamdulillahi rabbil alamin. Itu beberapa pengantar dan nampaknya sudah jam .00. Maka untuk pembacaan hadis insyaallah akan kita bacakan di pertemuan berikutnya insyaallahu taala. Demikian wasallallahu ala nabiyana Muhammadin wa ala alihi wasahbihi wasallam. Baik, ada yang mau disampaikan? ee untuk istilah malah saya pernah dengar ee kalau safar ee jamak qasar itu alasannya karena safar. Kemudian kalau

31:01 yang jamak saja itu karena masyaqah itu benar enggak ustaz punya? Baik. Masyaqah tadi. Alhamdulillah. Kalau jamak qasar alasannya karena safar. Safar yang tidak jamak pun boleh. di Mina. Nabi sallallahu alaihi wasallam itu musafir dan beliau tidak jamak. Karena itu bagian dari sunah. Ketika di Mina salat zuhur, asar, magrib, isya dikerjakan di masing-masing waktunya. Cuman di qasar. Sehingga di Mina azan zuhur terus salat dua rakaat sudah selesai. Enggak ada apa-apa lagi. Tidak salat ba'diyah, tidak salat qobliah di

31:47 Mina. Karena kita hanya qasar saja. Makanya kaum muslimin di Mina itu mungkin bisa disebut nganggur, ngetekur ya, paling longgar waktunya. Karena kegiatan dia cuman datang ke Jamarat, lempar jumrah balik lagi. Tapi karena panasnya dalam situasi serba terbatas, jemaah paling enggak betah. Sehingga orang di Mina itu kapan segera bisa meninggalkan Mina? Makanya dengan adanya nafar awal, dengan adanya nafar awal, begitu masuk tanggal 12, oh masyaallah wis kukutan kabeh bersih itu terutama tenda-tenda yang reguler. Kita selalu sarankan kepada jemaah yang kami bimbing kita nafar sani karena

32:34 nafar awal mereka sudah bersih. Setelah itu Mina kau kuasai sudah sepi, kasur-kasur nganggur, bantal-bantal, makanan berlimpah. Sudah toilet mau didiamin sejam bisa karena sudah sepi. Yang nafarsan makanya enggak usah khawatir yang Nafarsani Anda kalaupun di tanggal 10, 11, 12 itu penuh orang. Nanti di tanggal 12 Anda bisa istirahat maksimal. Sehingga orang di Mina biasanya enggak betah karena ya itu panas nganggur. Makanya mereka pengin segera ke hotel. Tapi di sini ketika di Mina jemaah cukup salat apa? Qasar tanpa jamak. Walaupun

33:24 dia safar. [Musik] Terus kenapa kok tidak jamak? Karena longgar waktunya. Orang bisa menguasai semua waktu salat. Dia bisa nyantai selesai zuhur dia nyantai. Selesai asar dia nyantai. Makanya tidak jamak. Kemudian ketika di Arafah jamak takhir atau takdim? Di Arafah sunahnya takdim. Tujuannya apa? Biar bisa banyak berdoa. Salat zuhur, asar, terus doa. Maka dilakukan jamak takdim biar waktu dia untuk berdoa lebih panjang. Nah, sayangnya di Arafah dipakai ngudud

34:11 ya. Ini banyak yang ngudut ini. Masyaallah. Ini orang di tempat mustajab malah ngerokok dan ngobrol karo koncone. Kalau di Muzdalifah jamaknya apa? Di Muzdalifah takhir. Jamaknya takhir. Tujuannya apa? Memberi kesempatan agar orang bisa melakukan salat bergerak dari Arafah ke Muzdalifah. dia tidak terhenti untuk melakukan salat magrib sehingga salatnya ditakhir di isya jika memungkinkan. Kalau tidak memungkinkan maka boleh mengerjakan salat sesuai kondisi. Seperti kemarin,

34:58 pergerakan dari Arafah menuju Muzdalifah itu adalah suasana paling kodit sepanjang masa. Sehingga jemaah yang kami bimbing ada yang mengusulkan kita takhir sesuai sunah. Baik, tapi enggak ada yang bisa memastikan bis ini akan sampai di sana sebelum subuh dan itu berbahaya. Akhirnya kita minta sudah kita takdim semuanya masuk magrib, isya berangkat dan qadarullah sampai di Muzdalifah setelah subuh. Kalau tadi tidak takdim mungkin tidak dapat salat magrib dan isya karena di atas base terus bisnya ya base-nya bergerak tapi lambat sekali. Lebih cepat

35:44 orang jalan daripada gerakan base. Wallahuam. Baik cukup. Nah, kalau kita lagi safar itu kita harus salat di masjid jamaah atau qasar? Harus di masjid atau tidak? Kalau kita lagi safar, apakah kita harus salat di masjid? Jika memungkinkan untuk salat di masjid, harus salat di masjid. Tapi kalau tidak memungkinkan, bisa salat di semua tempat yang bisa kita akses. Misalnya mereka yang berada di jauh dari pemukiman, kemudian sudah masuk waktu salat, maka dia bisa salat walaupun tidak di masjid. Oleh karena itu, bagi mereka yang safar

36:30 di luar kota dan dia menetap di sana misalnya di hotel. Nah, terus masuk waktu salat ya jangan salat di kamar. Ada masjid, Pak, sebelah hotel, kamu datang ke masjid jangan salat di kamar. Karena lelaki seharusnya salat jemaah di mana? Di masjid. Walaupun dia musafir. Wallahuam. Nah, kalau salat di masjid kok dia bermakmum di belakang mukim, maka salatnya tidak boleh qasar. Kalau mau jamak boleh enggak, Pak? Silakan. Dia boleh jamak dengan alasan safar atau karena masyaqah karena dia harus bolak-balik terlalu jauh misalnya ke masjid tanpa kendaraan. Baik, demikian semoga bermanfaat.

37:17 Wasallallahu ala nabiina Muhammadin waa alihi wasahbihi wasallam. Wa akirwanahamdulillahiabbil alamin. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Share

Ringkasan Video YouTube