Kajian Menjelang Berbuka: "Paradigma Ibadah" Bersama Ustadz Herdi Setiawan, S.Pd.

Ringkasan Singkat

Video ini membahas tentang paradigma ibadah dalam Islam, menekankan bahwa ibadah adalah fondasi utama syariat Islam yang mencakup seluruh aspek kehidupan seorang hamba. Ibadah merupakan tujuan penciptaan manusia dan jin, alasan pengutusan nabi dan rasul, serta dasar penurunan kitab-kitab Allah. Ibadah harus dilakukan dengan merendahkan diri, tunduk, cinta, dan sesuai dengan petunjuk syariat.

  • Ibadah adalah tujuan penciptaan manusia dan jin.
  • Ibadah harus didasari ketundukan dan kecintaan kepada Allah.
  • Manfaat ibadah kembali kepada hamba, bukan kepada Allah.

Pendahuluan

Pembukaan dimulai dengan bersyukur kepada Allah dan menyampaikan bahwa pembahasan kali ini mengenai ibadah dan paradigmanya dalam Islam. Ibadah adalah pondasi utama dalam syariat Islam yang mencakup seluruh aspek kehidupan seorang hamba.

Tujuan Penciptaan Makhluk: Ibadah kepada Allah

Allah menciptakan makhluk, termasuk jin dan manusia, dengan tujuan agar mereka beribadah kepada-Nya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Az-Zariyat ayat 56. Allah mengutus para nabi dan rasul untuk menjelaskan tata cara beribadah yang benar, karena ibadah bersifat taukifi (harus sesuai dengan dalil). Allah juga menurunkan kitab-kitab sebagai penjelasan tentang bagaimana cara merealisasikan ibadah dengan baik dan benar.

Kebutuhan Makhluk terhadap Ibadah

Seluruh makhluk, termasuk malaikat, nabi, rasul, dan orang-orang saleh, membutuhkan ibadah kepada Allah karena mereka adalah hamba-Nya. Allah menegaskan dalam surat Maryam ayat 93 bahwa semua yang ada di langit dan di bumi akan datang kepada Allah sebagai hamba. Ibadah adalah hak Allah yang paling utama dan harus diprioritaskan.

Allah Tidak Membutuhkan Ibadah Kita

Allah tidak membutuhkan ibadah kita dan tidak akan merasa diuntungkan dengan ketaatan makhluk-Nya. Sebaliknya, Allah juga tidak akan rugi jika ada makhluk yang tidak taat. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah melalui lisan Nabi Musa dalam surat Ibrahim ayat 8. Kebaikan dari ibadah yang kita lakukan akan kembali kepada kita sendiri.

Definisi Ibadah

Ibadah memiliki dua definisi: secara bahasa dan secara istilah syariat. Secara bahasa, ibadah adalah merendahkan diri dan tunduk. Secara istilah syariat, menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, ibadah adalah segala nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridai oleh Allah, baik perkataan maupun perbuatan, yang bersifat batin maupun zahir.

Poros Utama dalam Beribadah

Dalam merealisasikan ibadah, harus ada dua poros utama: kesempurnaan ketundukan dan kesempurnaan kecintaan. Kita harus tunduk sepenuhnya kepada Allah dalam setiap situasi dan kondisi, serta memiliki alasan yang kuat untuk beribadah karena cinta kepada Allah. Tanpa kecintaan kepada Allah, kita tidak akan pernah mau beribadah dan tunduk kepada-Nya.

Kesimpulan

Dengan beribadah kepada Allah, kita merealisasikan hikmah dari kehidupan kita dan menjadikannya bermakna. Kebaikan dari ibadah akan kembali kepada kita, sementara keburukan dari tidak beribadah juga akan kembali kepada diri sendiri. Video ditutup dengan doa agar Allah memberikan keistiqamahan dalam beribadah. Pembahasan akan dilanjutkan pada pertemuan berikutnya mengenai ragam ibadah, khususnya yang bersifat batin.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

1:28 wabarakatuh. Alhamdulillah. Alhamdulillahi hamdan katsiron thyiban mubarokan fihi kama yuhibuna waardo. Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluhu la nabiya ba'da amma ba'd. Alhamdulillah. Teman-teman sekalian yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa taala. Bersyukur kita kepada Allah Subhanahu wa taala karena Allah kembali mempertemukan mempertemukan kita dan kita bisa kembali bermuwajahah untuk sama-sama membahas hal yang

2:14 berkaitan dengan dinul Islam. Hal yang berkaitan dengan ilmu di dalam agama Islam. Nah, insyaallah sebagaimana yang sudah teman-teman ketahui bahwasanya pada kesempatan sore hari ini kita akan bahas hal yang berkaitan dengan ibadah dan teman-teman sudah tahu mungkin judulnya yaitu paradigma ibadah. Jadi apa itu ibadah? Mungkin sebagian teman-teman sudah pernah mendengar pembahasan yang berkaitan dengan ibadah ini.

3:03 Nah, perlu kita pahami bahwasanya ibadah ini merupakan salah satu pondasi utama di dalam syariat Islam yang mulia ini. Kenapa? dikarenakan ibadah mencakup seluruh aspek kehidupan seorang hamba sehingga seorang hamba hidupnya itu tersistem dalam sendi-sendi ibadah ini. Ya, karena dengan ibadah ini Allah Subhanahu wa taala pertama menciptakan para makhluk. Kemudian yang kedua, mengutus para nabi

3:50 dan para rasul ke muka bumi kepada setiap umat mereka. Kemudian yang ketiga, karena sebab ibadah ini Allah Subhanahu wa taala menurunkan kitab-kitabnya. Yang pertama karena sebab ibadah Allah Subhanahu wa taala menciptakan jin dan manusia. menciptakan para makhluk. Sebagaimana ayat yang sudah kita ketahui bersama yang telah Allah Subhanahu wa taala jelaskan di dalam firmannya surat azzariyat ayat 56. Ketika Allah Subhanahu wa taala berfirman, "Wama khalaqtul jinna wal insa

4:36 illa liya'budun. Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah. Maka apa kata Syekh Shih bin Fauzan bin Abdullah Alfauzan hafidahullahu taala dalam kitab Ianatul Mustafid bisyarhi kitabi tauhid, beliau menyebutkan tafsir dari surah azzariyat ayat 56 ini. Apa kata beliau? Beliau mengatakan, "Fal hikmatu fi khalqil makhluqati hiya ibadatullahi wahdah la syarikalah." Maka hikmah dari diciptakannya para makhluk untuk merealisasikan ibadahnya hanya kepada Allah Subhanahu wa taala saja.

5:23 Jangan berisik. Siapa yang mainin gelas? Ya, ini hikmah yang disebutkan oleh Syekh Salih bin Fauzan bin Abdullah Alfaan hafidahullahu taala. Jadi, Allah menciptakan jin dan manusia hikmahnya untuk apa? Untuk merealisasikan ibadahnya kepada Allah Subhanahu wa taala. Dan bukan hanya itu, setelah Allah menciptakan manusia dengan hikmah untuk beribadah, maka kemudian Allah Subhanahu wa taala mengutus para nabi dan para rasul. Mengutus para nabi dan para rasul untuk

6:08 menjelaskan bagaimana tata cara ibadah kita kepada Allah subhanahu wa taala. Karena ibadah ini sifatnya taukifi, artinya harus sesuai dengan dalil. Enggak bisa karena kemauan kita sendiri. atau karena rancangan dan modif modifikasi kita ibadah enggak bisa ya. Ibadah itu sifatnya taukifiah. Artinya harus berdasarkan dalil. Makanya Allah Subhanahu wa taala mengutus para nabi dan para rasul kepada setiap umat untuk menjelaskan hal ini. Apa dalilnya? Disebutkan oleh Allah Subhanahu wa taala

6:54 di dalam surah An-Nahl ayat 36. Allah Subhanahu wa taala berfirman, "Walaqad baasna fi kulli ummatin rasulan anudullaha wajtanibut thut." Kata Allah, "Sungguh kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul." Apa inti dakwah mereka semuanya kepada umat-umatnya? Mereka mendakwahkan anudullaha wajanut thut. Sembahlah oleh kalian Allah dan jauhlah para thaut yaitu segala sesuatu yang disembah selain Allah subhanahu wa taala. Ini inti dakwah mereka. Mereka mengajak seluruh para umatnya untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa taala. Ya. Kemudian bukan hanya itu, setelah

7:42 Allah Subhanahu wa taala mengutus para nabi dan para rasul. Maka kemudian Allah Subhanahu wa taala menurunkan kitab-kitabnya untuk apa? Sebagai penjelasan ya, penjelasan bagi kita bagaimana tata cara ibadah. Bagaimana cara kita merealisasikan ibadah kita kepada Allah Subhanahu wa taala dengan baik dan benar sebagaimana yang diinginkan oleh syariat. Makanya Allah Subhanahu wa taala menurunkan kitab-kitab

8:27 sebagai apa? Sebagai bentuk penjelasan tentang bagaimana kita beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala. Sebagaimana hal ini disebutkan oleh Allah Subhanahu wa taala dalam surat Hud ayat 1 dan ayat 2. Allah Subhanahu wa taala berfirman, "Alif lam ro kitabun uhkimat ayatuhu tumma fussilat minadun hakimin khabir." Kata Allah, "Inilah satu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi Allah yang maha bijaksana lagi maha mengetahui." Apa fungsinya kitab ini? Alla ta'budu

9:13 illallah wa innani lakum minhu nadirun wa basyir. Fungsinya kitab-kitab yang Allah Subhanahu wa taala turunkan ini sesungguhnya apa kata Allah? Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Artinya di dalam kitab-kitab yang Allah Subhanahu wa taala turunkan terdapat tata cara bagaimana seseorang beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala. agar ibadahnya enggak menyimpang. Makanya Allah Subhanahu wa taala berfirman, "Agar kamu tidak menyembah selain Allah." Nah, berarti di sini dikasih tahu petunjuknya nih. Di sini dikasih tahu petunjuknya.

9:59 Innani lakum minhu nadirun wa basyir. Dan apa kata Rasul sallallahu alaihi wasallam? Sesungguhnya aku yaitu Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira. Pembawa kabar gembira kepadamu daripadanya itu daripada Allah Subhanahu wa taala. Nah, berdasarkan ayat-ayat tadi maka jelas bagi kita teman-teman sekalian yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa taala. Bahwasanya Allah subhanahu wa taala ketika telah menciptakan kita, khususnya manusia ke muka bumi ini, Allah enggak biarin kita begitu saja. Allah kasih petunjuknya.

10:45 Setelah kita diciptakan, mau ngapain kita harus bagaimana? Seperti apa? Allah kasih petunjuk-petunjuknya. Makanya Syekh Muhammad at-Tamimi rahimahullahu taala, Syekh Muhammad bin Sulaiman At-Tamimi rahimahullahu taala dalam kitab al-usul asalasa beliau mengatakan, "Annallaha khalaqana." Sesungguhnya Allah yang menciptakan kita. Warozaqona, yang memberikan rezeki kepada kita. Dan apa kata beliau? Walam yatrukna hamalan. Dan Allah enggak biarin kita ketika sudah diciptakan ke muka bumi ini dibiarin begitu aja terserah mau ngapain. Enggak. Allah kasih tahu hikmah kita diciptakan untuk apa. Kemudian

11:32 bagaimana cara kita untuk beribadah. Kemudian apa buku pedomannya? Allah turunkan kitab-kitabnya. Maka berdasarkan penjelasan ini mengharuskan seluruh makhluk untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala. Kenapa demikian? Karena makhluk seluruhnya membutuhkan peribadahan kepada Allah tanpa terkecuali siapapun itu. Tanpa terkecuali siapapun itu. Karena ibadah ini merupakan hak Allah yang paling utama yang harus ditunaikan oleh seluruh makhluknya.

12:18 Ya. Dan ketika disebutkan makhluk maka seluruhnya butuh ibadah. Enggak peduli apakah itu para malaikat, para nabi, para rasul yang diutus, kemudian orang-orang saleh, para wali-wali Allah semuanya butuh ibadah kepada Allah Subhanahu wa taala karena mereka semuanya hamba. Dan telah Allah Subhanahu wa taala jelaskan di dalam surat Maryam ayat 93 bahwa segala sesuatu selain Allah adalah hamba Allah Subhanahu wa taala. Apa kata Allah Subhanahu wa taala? Inna kulla man fis samawati wal ardhi illa

13:04 ati rahmani abda. Kata Allah Subhanahu wa taala dalam surat Maryam ayat 93. Inna kulla man fis samawati wal ardhi illa aia rahmani abda. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi kecuali akan datang kepada Allah yang maha pengasih sebagai seorang hamba. Maka kalau yang namanya hamba pasti butuh ibadah. Diharuskan untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala. Enggak peduli siapa itu yang namanya hamba butuh ibadah kepada

13:49 Allah Subhanahu wa taala. Dan Allah Subhanahu wa taala tegaskan kembali di dalam surah Al-Haj ayat 18. Allah Subhanahu wa taala berfirman, "Alam taro annallaha yasjudu lahu man fis samawati wan fil ardhi. Apakah kamu tidak mengetahui atau tidak memperhatikan bahwa kepada Allah yasjudul lahu? Bahwa hanya kepada Allah bersujud apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Wasyamsu wal qamar. Demikian juga bulan-bulannya apa? Matahari. Bulan wan nujum wal jibal wasyajaru

14:38 wad dawab. Allah jelaskan semuanya. Baik mataharinya bulannya bintang-bintangnya gunung-gunungnya pepohonannya, dan yang binatang-binatang melatanya. Wakirun minanas. Dan kebanyakan dari manusia mereka bersujud kepada Allah Subhanahu wa taala. Nah, kenapa di sini Allah berfirman, kat wirun minanas kebanyakan dari manusia. Karena enggak semua manusia itu mau tunduk, mau ibadah kepada Allah Subhanahu wa taala. Walaupun hikmah diciptakannya kita manusia ini untuk beribadah kepada Allah, tapi enggak semuanya mau tunduk dan ibadah kepada Allah Subhanahu wa taala. Karena dalam ayat ini Allah berfirman, wairum minanas. Dan

15:25 kebanyakan dari manusia. Berarti ada segelintir manusia yang enggak beribadah. Ada. Nah, di sini membuktikan bahwasanya siapapun makhluknya maka dia harus beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala. Dan tadi sudah dikatakan bahwasanya ibadah ini merupakan hak Allah yang harus diprioritaskan, diutamakan. Sebagaimana hadis dari sahabat e Muad bin Jabal radhiallahu taala anhu ya. Dia berkata, Muad berkata, "Kuntu rodifan Nabi sallallahu alaihi wasallam

16:13 ala himar." Satu ketika aku dibonceng oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam di atas seekor keledai. Faqal. Maka kemudian Rasul sallallahu alaihi wasallam bersabda, bertanya kepadaku, "Ya Muad, attadri maqulah alal ibad. Wahai Muad, tahukah engkau apa hak Allah yang harus ditunaikan oleh para hamba?" Qala. Maka Muad berkata, "Allahu wa rasuluhu aam." Allah dan rasulnya yang lebih mengetahui. Faq shallallahu alaihi wasallam. Maka kemudian Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda,uduhu

16:58 w yusriku bihi. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Hendaknya mereka beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun. Ini hak utama Allah Subhanahu wa taala yang harus kita tunaikan. Jadi ketika ada seorang hamba tidak beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala, maka dia enggak menunaikan hak Allah Subhanahu wa taala dengan sebenar-benarnya. Ya. Maka dari sini teman-teman sekalian yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa taala, kita tahu nih bahwasanya Allah Subhanahu wa taala itu zat yang harus diibadahi oleh kita. Semua makhluk harus beribadah kepada Allah Subhanahu wa

17:43 taala. Akan tetapi ketika kita tahu nih Allah menciptakan kita hikmahnya agar kita beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala. Kalau kayak gitu, apakah Allah Subhanahu wa taala butuh ibadah kita? Tentu jawabnya enggak. Ya, jawabnya enggak. Kenapa? Karena Allah enggak akan merasa diuntungkan dengan ibadah yang kita lakukan. dengan ibadah yang makhluknya lakukan, dengan ketaatan yang makhluknya lakukan, Allah enggak akan merasa diuntungkan. Demikian sebaliknya, kalau ada makhluknya yang enggak taat,

18:29 yang enggak ibadah kepada Allah Subhanahu wa taala, maka Allah juga enggak akan rugi, ya. Enggak akan merasa dirugikan dan enggak akan jadi terhina Allah Subhanahu wa taala. Sehingga Allah Subhanahu wa taala berfirman melalui lisan Nabi Musa Alaih Salam dalam surah Ibrahim ayat 8. Ketika Nabi Musa ini berdakwah ke Bani Israil. Bani Israil ini kaum yang paling keras kepala, kepala batu. Bani Israil ini suruh taat enggak mau, suruh ibadah ngeyel. Akhirnya apa? Allah berfirman melalui lisannya Nabi Musa Alaih Salam. Ketika Nabi Musa mendakwahkan Islam,

19:14 syariat Islam yang mulia ini mendakwahkan agar mereka beribadah hanya kepada Allah saja, mereka enggak mau. Maka Allah berfirman melalui lisannya Nabi Musa, waqala Musa. Maka kata Allah Subhanahu wa taala dalam surat Ibrahim ayat 8 ini, waqala Musa. Dan Musa berkata, "In takfuru antum waman fil ardhi jamian fainnallahaniyun hamid. Apa kata Allah? In takfuru antum. Jika sekiranya kalian Bani Israil pada saat itu, in takfuru antum, jika sekiranya kalian kufur. Artinya apa? Bani Israil ini enggak ada yang ibadah sama Allah. Waman fil ardi jamian. Dan bukan hanya kalian, seluruh penduduk di muka bumi ini enggak

20:00 ada yang mau ibadah sama Allah subhanahu wa taala. Apa kata Allah? Fainnallaha la ghaniyun hamid. Maka tetap Allah maha kaya lagi maha mulia. Artinya apa? Enggak berpengaruh. Kita mau ibadah mau enggak, Allah enggak akan berpengaruh sama Allah Subhanahu wa taala. Ketika seorang hamba enggak beribadah kepada Allah, tetap Allah maha kaya, Allah maha mulia, tetap Allah sebagai Rabb sesembahan dan itu enggak berkurang. Dan ketika ada seorang hamba yang taat merealisasikan ubudiahnya, ibadahnya kepada Allah Subhanahu wa taala, Allah enggak akan merasa diuntungkan.

20:47 Sebagaimana disebutkan dalam hadis hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam dari Abu Dzar al-Ghifari radhiallahu taala anhu. Hadis ini hadis qudsi karena Rasul sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Qallahu taala anallaha yaakl." bahwasanya Allah Subhanahu wa taala berfirman, "Ya wahai hamba-hambaku, kata Allahumika mulia." Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, Allah berfirman, "Wahai hambaku, jika sekiranya orang yang pertama kali di antara kalian diciptakan sampai yang nanti terakhirnya, yang

21:34 paling akhir diciptakan, berada pada satu hati makhluk yang paling takwa di antara kalian." Artinya seluruh penduduk muka bumi ini taat semuanya. Apa kata Allah? Ma dalalika fi mulkia. Maka hal itu enggak menambah sedikit pun kekuasaan yang berada di sisiku, kata Allah. Allah tetap maha kuasa. Allah tetap maha mulia. Allah tetap maha kaya. Dan sebaliknya apa kata Allah? Walau anna awalakum wa akhirakum wa insakum wa jinnakum. Jika sekiranya orang yang paling pertama di antara kalian diciptakan sampai yang nanti akhirnya baik dari kalangan manusianya ataupun kalangan jinnya. Apa kata Nabi Sallallahu Al wasam? Kanu kata

22:21 Allah Subhanahu wa taalau aljaribu wahidinum berada pada satu hati makhluk yang paling rusak di antara kalian. Mana fiul maka hal itu pun enggak akan mengurangi sedikit pun kekuasaan yang berada di sisiku. Ini kata Allah Subhanahu wa taala. Artinya apa? Ketika seluruh penduduk di muka bumi ini semuanya enggak ada yang taat. Misalnya enggak ada yang mau ibadah sama Allah Subhanahu wa taala, Allah enggak akan lantas jadi terhina. Enggak. Allah tetap Rabb, tetap sesembahan. Allah tetap memiliki kekuasaan. Ya, maka dari itu kebaikan ibadah yang kita lakukan maka

23:08 akan kembali kepada kita. Dan ketika seorang hamba enggak beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala, maka dia akan merasakan keburukannya nanti di akhirat kelak. Tinggal pilihan buat kita. Ketika kita sekarang sudah tahu nih hikmah diciptakannya kita untuk beribadah kepada Allah, tinggal pilihan buat kita, ujian buat kita. Mau melaksanakan hikmah tersebut atau enggak. mau beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala atau enggak. Itu aja ya. Dan ingat Allah enggak akan berpengaruh sedikit pun terhadap pilihan kita.

23:54 Artinya apa? Ketika kita milih jadi orang yang taat melaksanakan ibadah kepada Allah, enggak akan berpengaruh itu buat Allah. Demikian juga sebaliknya ketika kita membuat pilihan jadi orang yang fajir, yang banyak berbuat dosa dan kemaksiatan dan lalai dari beribadah kepada Allah, Allah enggak juga terhina. Ya, maka pilihan ada di antara kita dan masing-masing dari pilihan yang kita pilih akan memberikan konsekuensi yang berbeda dan kita harus siap terhadap hal itu ya. Nah, ini ibadah yang Allah Subhanahu wa taala syariatkan kepada kita. Maka dari sini, Teman-teman sekalian yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa taala,

24:40 harus paham kita ternyata kita diciptakan itu punya tujuan, ada misi dari Allah Subhanahu wa taala itu untuk apa? Untuk beribadah. Nah, kalau kayak gitu berarti kita harus tahu juga apa itu ibadah. yang diinginkan oleh syariat Islam yang mulia ini. Nah, untuk pengertian atau definisi dari ibadah di dalam syariat itu terbagi menjadi dua definisi atau pengertiannya. Yang pertama pengertian secara bahasa, yang kedua pengertian secara istilah dan istilahnya adalah istilah syariat. Nah, kita bahas pengertian ibadah secara

25:26 bahasa. Apa itu ibadah secara bahasa? Disebutkan oleh Syekh Muhammad bin Ibrahim Alusyekh rahimahullahu taala dalam syarah kitab Kasfu syubuhat. Beliau mengatakan, "Al ibadatu hiya attadzallul wal khudu." Ibadah adalah merendahkan diri dan tunduk. Ini ibadah secara bahasa. Maka ketika seorang hamba beribadah kepada Allah harus ada bentuk perendahan diri dan ketundukan kita. Kenapa saya harus ibadah? Karena Allah telah memerintahkan kita untuk itu dan kita tunduk. Di situ ada bentuk perendahan diri. Kenapa? Karena kita seorang hamba yang

26:13 butuh kepada apa? Kepada Allah Subhanahu wa taala sesembahan kita. Maka harus disertai dengan bentuk perendahan diri kita ketika ibadah. Enggak boleh ketika ibadah ada hal-hal tertentu yang tersisipi dalam diri kita seperti bentuk kesombongan, pamer, bangga diri, enggak boleh ya. Jadi harus merendahkan diri ketika beribadah. Rendahkan diri kita. Karena kenapa? Kita sebagai hamba yang memang butuh untuk apa? Untuk menyembah Rabb kita itu Allah Subhanahu wa taala. dan disertai dengan bentuk ketundukan. Karena kenapa? Kita harus taat terhadap apa? Allah yang memerintahkan kita untuk

27:00 beribadah, tunduk kita patuh. Nah, itu maka ibadah secara bahasa yaitu merendahkan diri dan tunduk. Tunduk kepada siapa? Kepada sesuatu yang diibadahinya yaitu Allah tabaraka wa taala. Ini ibadah secara bahasa. Adapun ibadah secara istilah syariat disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala dalam kitab Risalah Ubudiyah. Kitab ini ada di dalam kitab Majmu Fatawa. Kemudian dibuat terpisah. Dinamakan kitabnya namanya Risalah Ubudiyah. Kitabnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

27:45 rahimahullahu taala. Nah, beliau yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala ketika mendefinisikan ibadah secara istilah syariat maka beliau mengatakan alibadatu hiya ibadah adalah ismun jami' segala nama yang mencakup likulli maa yuhibbuhullahu waardo setiap nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridai oleh Allah Subhanahu wa taala. Ya, jadi ibad itu setiap nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai

28:33 dan diridai oleh Allah Subhanahu wa taala. Minal aqwali wal a'mal. Baik yang bersifat perkataan ataupun perbuatan. al batinati wahirah dan ibadah yang bersifat batin yang tersembunyi nanti akan kita bahas seperti khauf rasa takut kita kemudian tawakal bersandar kita kemudian roja rasa harap kita kemudian mahabbah rasa cinta ini ibadah yang bersifat batin yang berkaitan dengan hati wahirah Dan ibadah yang bersifat zahir yang nampak seperti

29:19 salat, seperti zakat, seperti haji, baca Quran, ini ibadah-ibadah yang zahir. Nah, jadi ini ibadah pengertian secara istilah syariat. Dan teman-teman sekalian yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa taala. Ketika kita merealisasikan ibadah kita harus adanya tadi dua poros utama di dalam beribadah, yaitu kesempurnaan ketundukan dengan disertai kesempurnaan kecintaan. Karena tadi ibadah itu secara bahasa

30:07 merendahkan diri dan tunduk. Jadi harus totalitas tunduknya kita kepada Allah. Artinya dalam setiap situasi dan kondisi memang kita tunduk kepada Allah Subhanahu wa taala. Kemudian ketika melaksanakan ibadah harus disertai dengan kesempurnaan kecintaan. Jadi, antum punya alasan ketika beribadah, kenapa ibadah? Karena saya cinta terhadap zat yang saya ibadahi, yaitu siapa? Allah Subhanahu wa taala. Kalau kalau enggak ada kecintaan kepada Allah, kita enggak akan pernah mau beribadah dan tunduk kepada Allah Subhanahu wa taala. Enggak akan. Makanya Syekh Salim bin Id alhilali

30:54 rahimahullahu taala beliau menyebutkan dalam kitab Madarijul Ubudiyah beliau mengatakan wal ibadatul makmuru biha dan ibadah yang diperintahkan dengannya yatadomanu maknal hubbi wa maknaulli mengandung di dalamnya makna ketundukan dengan disertai makna kecintaan fahiya Ya yaitu hubbiillahu, yaitu mengandung di dalamnya kesempurnaan kecintaan kepada Allah Subhanahu wa taala dengan disertai kesempurnaan ketundukan kepadanya.

31:40 Ini dua poros penting ibadah. Ketika ibadah kita harus tunduk kepada Allah zat yang kita ibadahi. Memang benar-benar enggak ada paksaan kita beribadah. memang bentuk murni ketundukan kita. Bukan karena dipaksa, bukan karena disuruh, bukan karena diperintah oleh selain Allah Subhanahu wa taala. Bukan. Kadang ada seseorang yang beribadah karena disuruh, disuruh orang tuanya karena terpaksa beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala, maka hilang nih poros yang pertama itu apa? Kesempurnaan ketundukannya. Saya kalau enggak salat nanti diomelin sama orang tua saya. Kalau enggak puasa nanti diomelin sama orang tua saya. Nah,

32:25 ini berarti ketika ibadah hilang satu poros ini, yaitu apa? Kesempurnaan ketundukan. Ibadah. Dia melaksanakan ibadah karena apa? Karena di tadi disuruh sama selain Allah Subhanahu wa taala. Disuruh orang tua kah? Kemudian karena adanya rasa takut, wah takut saya kalau enggak puasa nanti pasti akan kayak begini diomelin sama orang tua saya akan begini. Ah itu jadi hilang poros ketundukannya. Kemudian tadi ketika beribadah harus disertai dengan apa? Kesempurnaan kecintaan. Kita ibadah karena memang benar kita cinta sama Allah Subhanahu wa

33:12 taala ya. Karena kita tahu Allah sebagai Rabb kita tadi, Allah yang kasih kita hidup, Allah yang memberikan rezeki kepada kita. Kemudian Allah yang menghidupkan, mematikan. Allah yang mengatur kita. Maka kalau kayak gitu ya saya harus ibadah kepada Allah Subhanahu wa taala. Timbul cinta kita sama Allah Subhanahu wa taala. Ya, maka akhirnya apa? Akhirnya sempurnalah ibadah kita. Ketika beribadah disertai dengan bentuk kesempurnaan ketundukan dengan disertai kesempurnaan kecintaan kita terhadap zat yang kita ibadahi yaitu siapa? Allah Subhanahu wa taala.

34:00 Ya. Jadi ini ibadah teman-teman sekalian yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa taala yang kita harus apa? Yang kita harus realisasikan dalam kehidupan kita. Karena apa tadi? Ketika seorang hamba beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala, maka maslahat kebaikan dari ibadah yang dilakukannya akan kembali kepada kita. Ya, akan kembali kepada kita. Kemudian sebaliknya, ketika seorang hamba tidak merealisasikan ubudiahnya, enggak mau ibadah kepada Allah ketika dia hidup, maka apa? Keburukannya akan kembali kepada dirinya, bukan kepada siapapun. Maka jadilah kita hamba-hamba Allah Subhanahu wa taala yang merealisasikan hikmah dari kehidupan kita. Biar hidup kita itu bermakna. Kadang ada orang yang

34:47 hidup hampa hidupnya. Saya hidup di dunia gini-gini aja mau ngapain? Mau seperti apa? Karena dia enggak memahami hikmah diciptakannya dia buat apa. Kalau dia memahami hikmah diciptakannya dia untuk merealisasikan ibadahnya kepada Allah, maka hidupnya enggak akan hampa, enggak akan sia-sia. Ya. Maka dari itu, Teman-teman sekalian yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa taala, kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala semoga Allah subhanahu wa taala selalu mengistikamahkan kita untuk selalu berbuat berbuat ketaatan, untuk selalu merealisasikan ibadah kita kepada Allah Subhanahu wa taala sehingga kita menjadi hamba-hamba Allah yang merealisasikan hikmah diciptakannya kita. Ya, mungkin ini yang bisa ee ana

35:35 sampaikan pada kesempatan sore hari ini. Insyaallah nanti akan kita lanjutkan pada pertemuan berikutnya yang akan membahas tentang ragam-ragam dari ibadah. Dan ibadahnya ibadah yang bersifat batin, ibadah yang berkaitan dengan hati kita. Apa saja ibadah-ibadah tersebut insyaallah nanti akan kita sampaikan pada pertemuan berikutnya. Dan kita tutup dengan membaca doa kafaratul majelis. Subhanakallahumma wabihamdika asadu alla ilahailla anta astagfiruka. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Share

Ringkasan Video YouTube