KESAKSIAN SUNTREE DUGAAN PENYIMPANGAN DIBALIK PONDOK!!!

Ringkasan Singkat

Video ini membahas kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh seorang oknum kiai di sebuah pesantren di Pati, Jawa Tengah. Kasus ini melibatkan banyak korban dan telah berlangsung selama bertahun-tahun. Beberapa poin penting yang dibahas meliputi:

  • Kronologi kejadian dan modus operandi pelaku.
  • Upaya pelaporan yang sempat terhambat dan intimidasi terhadap korban.
  • Peran tokoh masyarakat dan ormas dalam mengawal kasus ini.
  • Harapan korban dan keluarga agar pelaku dihukum seberat-beratnya.

Penggerebekan Rumah Pengasuh Pondok Pesantren

Warga menggeruduk rumah pengasuh pondok pesantren di Dipati, Pati, Jawa Tengah, yang diduga melakukan kekerasan seksual terhadap santriwati. Modus pelaku termasuk menyuruh korban menelan sesuatu agar diakui oleh nabi dan gurunya, serta memberikan alasan berobat yang tidak masuk akal. Kasus ini melibatkan pencabulan oleh oknum kiai.

Identifikasi Pelaku dan Ketua Yayasan

Pelaku adalah pendiri dan pengasuh pesantren, yang di Pati dikenal sebagai "kiai". Publik mengetahui kasus ini setelah adanya demonstrasi pada tanggal 2 Mei. Ketua yayasan pesantren sempat diarak, namun bukan dia pelakunya. Ketua yayasan akan diungkap keterlibatannya setelah penetapan tersangka dan pemanggilan yang mangkir. Tersangka utama adalah Azari, seorang kiai. Status ketua yayasan belum jelas, namun akan dipanggil untuk dimintai keterangan.

Laporan Kasus dan Kronologi Kejadian

Laporan kasus ini sudah ada sejak tahun 2024, dibuat oleh ayah salah satu korban. Penanganan kepolisian sempat terhenti tanpa kelanjutan yang jelas. Ayah korban mengetahui kejadian ini dari keterangan anaknya setelah dikeluarkan dari pondok dengan alasan membuat kesalahan. Anaknya disuruh pulang untuk mengikuti acara desa, namun disalahkan karena ikut barisan upacara.

Pengakuan Korban dan Awal Mula Kejadian

Setelah dikeluarkan dari pondok, korban menceritakan kejadian yang dialaminya kepada orang tuanya. Korban masuk pesantren pada tahun 2016-2017 saat berusia belasan tahun. Awalnya semua baik-baik saja, namun mulai terjadi kejadian aneh saat kelas 9, sekitar 3 tahun setelah masuk pesantren. Korban mengenal Kiai AS sejak pertama masuk, yang awalnya baik dan tidak macam-macam.

Modus Operandi Pelaku

Awalnya, korban disuruh memijat pelaku, kemudian dicium setelah selesai memijat. Hal ini dianggap biasa oleh pelaku terhadap santri yang dekat dengannya. Seiring waktu, pelaku sering mengajak korban ziarah dan selawatan, yang kemudian dilanjutkan dengan menemani tidur. Pelaku beralasan bahwa hal ini adalah bagian dari penyembuhan karena korban dianggap memiliki banyak penyakit batin seperti iri dan dengki.

Eskalasi Kekerasan dan Dalih Agama

Korban kadang menolak, kadang mau menemani tidur karena takut. Saat di kamar, pelaku hanya diam atau melihatkan video ceramah. Pelaku mengklaim bahwa tidur bersama adalah bagian dari penyembuhan batin. Suatu saat, pelaku menyuruh korban melakukan tindakan tidak senonoh dengan alasan agar diakui oleh nabi, umat, dan guru tarekatnya. Pelaku mengklaim bahwa guru tarekat memerintahkan hal tersebut agar murid-murid patuh.

Korban Lain dan Pengakuan Ayah Korban

Korban lain juga mengalami hal serupa, bahkan ada dugaan mencapai 50 orang. Korban mengalami pelecehan sekitar 10 kali. Korban tidak berani melapor karena orang tuanya percaya pada pelaku. Kakak korban yang juga mondok di situ, dimarahi saat menceritakan kejadian ini. Korban akhirnya tahu bahwa banyak teman-temannya juga diperlakukan serupa. Jika tidak menuruti, santri akan dipukul oleh pelaku.

Praktik Pernikahan dan Kehamilan yang Tidak Diakui

Ada dugaan santriwati yang hamil dinikahkan dengan santri laki-laki, namun anaknya tidak diakui. Ayah korban mulai menjadi bagian dari pesantren pada tahun 2015 atau 2016 sebagai teman mengaji. Ia melihat kejanggalan, seperti pelaku lebih sering mengajak santriwati pergi malam dan menyuruh santriwati memijat. Ada juga dugaan santriwati yang sudah tua hamil dinikahkan dengan santri laki-laki, namun tidak diakui anaknya setelah lahir.

Dugaan Kehamilan dan Penutupan Kasus

Ada dugaan santriwati hamil dihamili oleh pelaku, kemudian dinikahkan untuk menutupi perbuatan tersebut. Pelaku terlalu akrab dengan santriwati yang sudah berkeluarga, bahkan memanggil mereka ke kamarnya untuk memijat. Ada dugaan bahwa santriwati yang hamil dinikahkan, namun anaknya tidak diakui dan diceraikan. Praktik ini diduga sudah berjalan bertahun-tahun.

Perbedaan Perlakuan dan Status Pelaku

Korban tidak sampai berhubungan suami istri, namun ada dugaan teman-temannya mengalami hal tersebut. Pelaku diduga menggunakan modus yang berbeda untuk santri yang lebih muda dan yang sudah dewasa. Pelaku sudah menikah dan memiliki istri yang tinggal di pesantren, namun jarang tidur bersama istrinya. Kasus ini sudah berlangsung sejak tahun 2009 dan pelaku pernah didemo sebelumnya.

Intimidasi dan Kekuatan Pelaku

Masyarakat sekitar takut pada pelaku karena dianggap sakti. Korban yang ingin melapor diintimidasi dan diancam akan diungkap aibnya. Tujuh dari delapan pelapor dipekerjakan di pondok pesantren. Pengacara yang mengawal kasus ini awalnya membantu karena mengetahui ada banyak korban dan ingin mencegah lebih banyak wanita menjadi korban.

Upaya Mendapatkan Keadilan dan Ancaman

Ayah korban mencari bantuan ke LBH, namun tidak ada respon. Kemudian, ia meminta bantuan ke ormas GJL (Gerakan Jalan Lurus). Pengacara sudah mengawal kasus ini selama 3 bulan dan mengeluarkan banyak biaya. Banyak yang mencoba mematahkan semangat untuk membuka kezaliman ini. Ayah korban diancam dan disuruh mencabut laporan, namun ia menolak.

Bukti-Bukti dan Apresiasi kepada Penegak Hukum

Bukti-bukti sudah kuat, termasuk visum, screenshot WhatsApp, dan keterangan saksi korban. Ada pesan WhatsApp yang berisi ajakan menemani tidur dan ancaman akan diganti jika menolak. Barang bukti dari 2 HP sudah disita. Saksi ahli juga didatangkan. Pengacara mengapresiasi Kapolres Pati beserta jajarannya yang membantu dalam perkara ini.

Harapan Hukuman yang Lebih Berat dan Dampak Kasus

Pengacara berharap pasal yang dikenakan ditambah agar hukumannya lebih berat, minimal 15 tahun. Ia mendorong DPR untuk tidak memberikan hukuman minimal yang ringan. Korban mengalami trauma psikologis akibat kejadian ini. Ada dugaan sekitar 50 korban yang digilir. Korban pernah dikunci dari luar saat menemani tidur, dan mendengar suara perempuan lain di kamar sebelah.

Dampak Psikologis dan Harapan Korban

Ayah korban merasa kecewa karena telah mempercayakan anaknya kepada pelaku. Ia memiliki empat anak yang ditaruh di pesantren tersebut. Pengacara menekankan agar kasus ini tidak menodai pondok pesantren lain yang baik. Ia menduga ada oknum kiai lain yang membackup pelaku. Pengacara pernah diancam dan ditawari uang untuk menghentikan kasus ini, namun ia menolak.

Motivasi dan Harapan Terakhir

Pengacara termotivasi untuk mengawal kasus ini sampai tuntas karena banyaknya korban dan dampak psikologis yang dialami. Ia ingin membela anak-anak yang dititipkan ke pesantren. Ayah korban bersumpah akan memperjuangkan kasus ini sampai tuntas. Korban tidak mau bertemu dengan pelaku dan berharap pelaku dihukum seberat-beratnya.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 Warga menggeruduk rumah pengasuh pondok pesantren Dipati Pati Jawa Tengah yang menjadi pelaku kekerasan pada striwatiamb disuruhya itu biar nanti ada darah daging di tubuh saya. Keinginannya itu memasukkannya di mulut untuk suruh ditelan agar diakui oleh nabi dan umat dan gurunya. Terus dia bilang obatnya berbarat. lah dalilnya apa? Pencabwati oleh oknum kiai Dipati Pati. Pertama aku mau nanya ini beneran itu kiai pelakunya

0:46 itu seorang pendiri dan seorang pengasuh pesantren. Pendiri dan pengasuh. Betul. Tapi orang sana tuh tahunya tuh kiai itu dari mana? Kalau di sana seorang pengasuh pondok pesantren itu semua dijuluki piai. Oh, gitu. Di Pati itu begitu begitu. Terus kemudian mulai akhirnya publik ini bisa tahu awal mulainya dari mana? Kalau enggak salah dari ee ini ya ada demonstrasi dulu gitu ya. Iya. Si tanggal 2 Mei itu videonya itu kan ada yang diarak itu ya. Nah, itu banyak yang mikir itu kiainya

1:32 itu. Itu kiainya atau bukan? Itu bukan. Bukan. Bukan. Itu siapa yang diarak itu yang pakai peci? Ketua ketua yayasan itu. Ketua yayasan. Ketua yayasan ini terlibat apa tidak? Ke depan pasti kita ungkap karena kan ee seorang ketua ini sudah lama di situ pasti tahu dong. Oh, nanti kita ungkap setelah ini ee apa sudah ada penatapan tersangka, sudah ada apa pemanggilan yang mangkir lalu ditangkap gak dimasukkan ke penjara lalu kita upaya-upaya hukum untuk ee tersangka nanti tersangka berikutnya penentuan tersangkanya sudah ada. Sudah ada tanggal 28. Jadi tanggal 28 kemarin siapa yang

2:17 tersangka itu inisial Azari? Azari. Kiai itu. Kiai itu. Oke. Terus yang ketua pesantren yang diarak itu belum. Nanti dikembangkan. Ketua yayasan ya. Ketua yayasan nanti dikembangkan. Oh, berarti statusnya itu ee dia belum jelas ya apakah dia terlibat mengetahui atau tidak. Jadi kita kan jelas gitu yahatnya. Iya. dipanggil kepolisian untuk dimintai keterangan nanti apakah terlibat gak nanti tahu gak dia ikut serta gak itu mengarahkan ke santri gak kan gitu nanti. Oke. Ini aku dengar katanya kasus ini laporannya sudah ada dari tahun 2024 itu benar enggak? Betul, betul, betul. Saya yang lapor. Oh, Bapak yang laapor. Oke. Terus apa yang terjadi pada saat itu 2024 saya mulai membuat

3:04 laporan berkaitan dengan kasus ini. Oke. Di situ sudah ada ee penanganan dari kepolisian, tapi entah kenapa lama-kelamaan kok enggak ada ee kelanjutan 202. Oh. Ee apa ya? kayak senyap begitu. Iya. Waktu itu akhirnya melaporkan tahunya dari mana? Dari keterangan anak saya. Anak ini ya? Heeh. Keterangan bagaimana? Coba cerita kronologi dulu. Kronologinya gini. Ee mulai anak saya itu keluar dari pondok. Heeh. Yang dulunya katanya kiai, "Anak saya membuat kesalahan tapi enggak kesalahan.

3:49 lah wong itu anak saya itu ya di rumah itu satu hari saya ee mengikuti acara keluarga acara ee sedik bumi waktu itu ya. Oke. Jadi intinya waktu itu anak dikeluarin ya dari pesantren karena menurut keterangannya katanya bikin kesalahan begitu. Tapi enggak kesalahan. Iya intinya begitu kan penjelasannya. Tapi menurut Bapak dia enggak melakukan kesalahan. Kesalahan apa waktu itu dibilangnya? Kesalan waktu itu di desa saya ada acara kegiatan desa. Anak saya saya suruh pulang untuk mengikuti acara kegiatan di desa. Tapi satu hari terus dia kembali ke pondok

4:38 itu waktu kegiatan itu ada yang bilang kalau anak saya itu ee melakukan ee itu loh ee ikut barisan upacara upacara kegiatan desa itu disalahkan. Terus akhirnya Pak Kiai untuk anak saya enggak boleh di pondok lagi gitu. Oh, jadi dikeluarkan. Dikeluarkan. Nah, setelah itu kemudian setelah itu di rumah dia cerita nanyain dulu. Nanyain dulu. Iya. Heeh. Nanyain gimana? Kan pernah beberapa waktu itu Bapak

5:23 sering dipanggil. Heeh. Pesantren. Heeh. Terus bilangnya kan dikonuri turu ae gak enggak mau gitu kan. Pak Ki bilangnya gitu. Apa artinya? Tidur. Tidur. Terus kan Bapak sama ibu itu tanya maksudnya baturi tidur itu gimana gitu. Terus tak jelasin semua kejadian yang saya alami kamu masuk pesantren itu e tahun berapa? Saya masuk pesantren itu 2016-17. Oke. Umur berapa waktu itu? Waktu itu lulus SD berarti umur lulus SD itu umur berapa?

6:09 Belasan tahun ya? Iya. Belasan 14. E sekarang sudah umur berapa sekarang? Kalau sekarang umur 20. Oh wis 20. Oke. Pas kamu masuk itu apa yang terjadi? Baik-baik aja semuanya atau gimana? Awal mula masuk ya baik-baik aja seperti biasa. Dulu kan santrinya sedikit cuma puluhan orang. Santri apa? Santriwati. Santri sama santriwatinya cuma 10 orang. Oke. Terus terus selama berkembangnya waktu itu santrinya mulai banyak. Masih banyak ngih. Pondoknya juga pesat gitu perkembangannya. Tapi pas kelas 9 itu awal mula jadian itu. Oke. Pas kelas 9 ee berapa tahun setelah

6:57 kamu sudah di pesantren itu? Udah 3 tahun. Sekitar 3 tahun. Berarti selama 3 tahun enggak ada apa-apa nih. Enggak ada apa-apa. Kamu sudah kenal sama Kiai Oknum ya? Ini AS ini kamu kenal dari pertama masuk. Enggih. Oke. Baik dia. Baik. Enggak ada macam-macam mula enggak ada. Enggak ada dia. Jadi kamu sering ee interaksi ya, ada ngobrol gitu-gitu. Kalau ngobrol jarang sih, Pak, kalau ketemu ditanyain kayak majunya sampai mana? Terus sekolahnya gimana gitu aja deh. Oh, dia cuma sekedar begitu aja. Dia di situ mengajar boten. Oh, boten. Terus dia ngapain kalau di situ setahu kamu? Kalau di situ itu Pak Ki ceramah.

7:45 ceramah. Jadi nanti kumpul semua nanti ada waktu dia ceramah gitu. Tiap hari Jumat. Tiap hari Jumat. Kalau tidak hari Jumat dia ada di situ. Ada di situ, tapi tidak mengajar. Oke. Dia tinggal di situ. Tinggal di situ. Kamu tahu kamarnya? Kalau kamarnya itu Pak Y itu tidurnya genta-ganti enggak? Enggak menetap. Oh, dia pindah-pindah kamar. Oh, jadi kamarnya ada banyak gitu dulu, Pak. itu enggak punya tempat tetap itu enggak punya tidurnya nggih sesuai keinginannya gitu. Oh, keinginannya pindah-pindah tapi di kamar biasanya. Cuma di ee pesantren itu ada banyak kamar gitu kan ada dalam Pak. Oh, nggih. Siap. Nah, setelah 3 tahun kemudian sesuatu terjadi sama kamu awal

8:33 mulanya itu bagaimana ceritanya? Ya, awal mula kan kronologinya bertahap. Enggak langsung separah itu. Enggak, tapi bertahap gitu kan, Pak. Heeh. Awal mulanya ya disuruh mijeti. Oh, awalnya tiba-tiba dipanggil mijet. Enggih. Disuruh mijet terus dicium. Mijit terus tiba-tiba dicium. Enggak. Kalau udah selesai kan pamitan terus dicium gitu. Cium gimana? Cium gimana diciumnya? Ya. Tangan kiri. Oh, kamu dicium. Oh, itu biasa itu diu. Di situ biasa. Di situ biasa. Kalau sudah dalam sama Pak ya itu sudah biasa. Tapi kalau santri biasa ya cuma salam tangan.

9:19 Oh, jadi kamu enggak ngerasa takut? Enggak. Oke. Terus kemudian kemudian jalannya seiring waktu itu bertahap gitu, Pak. Nggih. Sering sering juga diajak ziarah. Sering juga diajak pergi selawatan berdua atau beramai-ramai? Biasanya berdua biasanya ramai-ramai. Oke. Kamu enggak ada kecurigaan waktu itu? Enggak ada. Karena kan kalau santri kan melekatnya itu harus tawadu gitu kan. Bisa-bisa mungkin. Jadi kamu ikut aja. Kapas ziarah dan lain-lain. Enggak ada perbuatan-perbuatan yang aneh. Kalau habis ziarah sama habis selawatan biasanya langsung diajak nemenin tidur itu.

10:05 Maaf ini tidur ini tidur sampai berhubungan sih, Pak. Oh, enggak tidur maksudnya tidur satu kamar tok gitu. I lah dalilnya apa? Kalau kesannya itu katanya di sana kan ada guru tariqoh. Heeh. di Pondok sana itu ada guru tareqoh. Terus bilangnya disuruh guru thqoh itu menurut si oknum ini katanya menurut guru threqoh ini bagian daripada nyembuhin nyembuhin sakit sakit emangnya kamu ada sakit bilange nggih kulo banyak iri kulo banyak apa itu banyak penyakit dalang lah semacam iri semacam dengki semacam

10:53 banyak fitnah gitu Tu jadi dia ceritanya melihat kamu terus dia menerawang begitu ya. Kamu itu banyak sakitnya. Kamu tuh iri dengki obate iki gini gitu. Oh. Terus dia bilang obatnya tidur bareng. Nggih. Salah satu tidur. Salah satunya ya. Salah satunya tidur bareng. Nah kamu nangkapnya waktu itu apa itu artinya? Enggak. Aku enggak nangkapnya enggak gimana gimana tapi dalam hatiku ng masok aku seburuk itu gitu. Oh. Oh, kamu mikir, oh masa aku banyak irinya segala macam gitu. Terus akhirnya kamu kadang mau kadang nolak juga. Oke. Awalnya kamu mau itu kamu enggak takut nanti aku diapa-apain sama dia. Takut sih, Pak. Kalau gitu kok biasanya

11:38 aku enggak pernah tidur. Beneran enggak pernah cuma merem aja gitu. Oh, jadi kamu tetap waspada. Jadi, maaf ini di dalam kamar kemudian dia tidur di ranjang ini. Ini ranjang ya. di ranjang sini, kamu tidur di ranjang sini gitu ya. Tapi kamu tetap ee tidak tidur gitu. Terus di situ dia ngomong apa? Enggak. Kalau biasanya ya udah diam aja gitu. Diam aja. Dianya juga tidur di situ diam aja. Iya. Enggak ngomong apa-apa. Terus ee dia kadang cuma dilihatin video ceramah-ceramah gitu aja. Oh, sembari tidur dia ngelihatin video di HP. He. Oh, kamu tidur gitu. Terus ini ceritanya bagian dari penyembuhan batin kamu gitu. Engg awalnya enggak ada apa-apa nih ya. Engak ada. Oke. Hari itu enggak ada apa-apa. Terus

12:25 sering tuh diajak penyembuhan terapi batin? Iya sering. Tapi sering juga aku nolak. Gimana ya, Pak? Kan aku udah sering digituin. Jadi ii kayak merasa kok gini terus gitu. Mental saya ini kena gitu, Pak. Oke, kita pelan-pelan ya. Kamu tahunya ini bukan suatu hal yang berbahaya buat kamu. I terus karena terbiasa ini membuat akhirnya suatu hari dia melakukan sesuatu ke kamu tapi kamu enggak enggak kaget gitu. Enggak enggak enggak. Oke. Jadi dia kayak mensugesti pelan ya gitu ya. Pelan ya cara masuknya begitu maksudnya ya. Enggak tahu bawanya itu diam enggak

13:10 enggak merespon apa-apa gitu bawanya kayak sirap gitu ya. Oke. Pernah satu kejadian itu Pak Ki itu sampai bilang disuruh ngot apa itu Heeh. Pelinnya itu. Heeh. Biar nanti ada darah daging di tubuh saya. Maksudnya gimana Bapak? Gini gini. Nggih, nggih, nggih. E saya jelaskan ini. Jangan dipaksa ya kalau jelaskan ini nanti saya jelaskan enak nanti si ini inisial si A ini, Pak. Heeh. Keinginannya itu ee memasukkan alat kelaminnya di mulut untuk ditelan agar diakui

13:55 oleh nabi dan umat dan gurunya. Guru tariqoh itu guru tarikahnya. Tareiqahnya agar tareqoh itu apa ya maksudnya? Maknanya ya kayak tariat gitu. Kayak gak gak sih tariqah itu adalah gini Pak ya. Ee di situ itu banyak ya jemaah orang-orang di situ itu jemaah tareqoh dari mm guru guru mursyid yang ada di Jawa Timur. Heeh. Nah, katanya si Ognum tadi untuk ee supaya murid-murid ini manut lah. Heeh. Niku katanya dia apa yang dilakukan dia itu yang nyuruh, yang ngendikan niku

14:43 dari guru mursyid. Oh, jadi ini kayak ajaran supaya orangnya nurut gitu ya, Saat patuh pada guru. Supaya patuh sama gurunya. Dalilnya begitu. Lah ini perlu ditanyakan juga korban itu sebetulnya banyak dari Jakarta, dari Kalimantan loh. Kok bisa? Ini tanya nanti biar bisa tanya semua. Yang saya tahu kan teman dekat saya selama di sana kan saling saling head, saling komunikasi kan sama-sama korban gitu ya. Tahu saya ya teman dekat saya. Tapi kalau korban lainnya itu kalau mau speak up semua itu banyak. H banyak. Iya 50. itu benar ada 50 kalau mau speak up semua ya ada

15:29 nama-namanya ada semua ni ada semua sekitar 50 tuh ada bahkan mungkin lebih atau di bawah 50 kurang lebihnya si kurang lebih segitu nah kamu dari kejadian yang kamu alami itu kan awalnya kamu disuruh itu ya yang tadi ya terus akhirnya kamu di maaf lebih jauhnya kayak suami istri gitu enggak enggak pernah Oh enggak enggak sampai ke sana enggak pernah Oke, berarti kamu mengalami yang tadi kamu cerita itu berapa kali seingat kamu? 10 kali. Ada 10 kalian. Setelah itu kamu kan merasa kamu merasa ini enggak kayak ah ini enggak benar ini. Ya, aku merasa gitu tapi aku enggak bisa apa-apa, Pak. Soalnya kan Bapak juga percaya sama situ. Bapak juga

16:14 Oh. Oh, ngurus di situ. Bapak juga santri situ. Oh, jadi kamu juga enggak punya tempat ngadu. Jadi kamu enggak cerita ke Bapak? Enggak pernah. Dulu pernah cerita ke kakak. Kakak itu mondok di situ juga. Terus kakak bilang apa? Ya aku bilang, "Kak, aku enggak betah kok. Aku diperlakukan kayak gitu gitu ya cerita. Ternyata kakak itu bilang sama teman dekatnya kakak. Terus teman dekatnya kakak itu cerita sama Pak Kiai terus langsung saat itu juga aku sama kakak dipanggil. Heeh. Dipanggil sama si Obnum ini. Terus kemudian dimarahi. Dimarahi kok dimarahi? Dibilangnya apa?

17:02 Wong kok cerito cerita gitu wong iku k disuruh pondok eh disuruh apa itu guru guru tareqoh tadi. Oh jadi kesannya kamu salah terus kamu diam diam aja nanti sanatnya tak putus diputus dari sananya gitu. Apa itu maksudnya? Apanya diputus? Sanat itu jalur keilmuan. Oh nanti ilmunya putus. Heeh. Itu putus dari keilmuan guru itu. Terus saat itu juga aku langsung enggak bilang siapa-siapa. Diam jadinya. Iya. Oke. Nah, akhirnya kamu kan cerita-cerita lah pasti sama teman-teman. Kamu akhirnya tahu ternyata banyak juga yang lain diperlakukan seperti itu gitu. Ng kalau biasanya ngabarin disuruh batur

17:50 itu kayak aku enggak mau gitu kan, Pak. Terus teman saya yang disuruh. Oh, kalau kamu enggak mau nanti temanmu, nanti dia enggak mau nanti si ini gitu. Iya, itu kan satu kamar jadi kan tahu terus kayak ngedumel satu sama lain ngi aku sing dikon gitu. Oh, jadi sama-sama tahu dan itu semuanya urusannya sama tarikat-tarikat itu kayak keilmuan ini gitu ya. Dan kalau gak menuruti dipukul tanya. Oh, ada pukulan pukulan itu keras. Keras berapa tahun? Berapa kali biar jujur dia diceritakan nanti kan 3 tahun berapa kali? 1 minggu berapa kali nanti yang lain berapa kali? Di sana itu menurutnya kalau tidak benar ya langsung

18:36 sikat dipukul dipukul disikat Bang. Dipukul sama siapa ya? Oknum itu tadi. Oh si oknum tadi. Kalau yang lain selain oknum itu ada yang memukul enggak? Enggak ada. Enggak dibolehin sama oknumnya. Oh dia paling tinggi ceritanya. Oh, paling tinggi strata hierarkinya paling tinggi gitu ya maksudnya membuat yang membuat yayasan yang berdiri yayasan ya itu orangnya. Oh dia dia pembuat yayasan dan foundernya gitu. Oh paham. Pernah didemo. Pernah didemo dulu tapi cerita ini dulu nanti cerita banyak nanti. Oke. Oke. Jadi kalau kamu enggak nurut kamu dipukul. Yang perempuan lain juga sama begitu. I sama. Ada enggak yang akhirnya sampai hamil? Kalau itu kurang tahu sih, Pak. tahu yang tahu ini nanti. Oh, Bapak tahu saya di situ mulai 2000

19:23 15 atau 2016 ya sebagai di situ mula-mula jadi teman e ngajilah di situ. Banyak orang-orang tua yang ngaji di situ. Saya nimbrung di situ mula-mulanya. Heeh. Sebelumnya belum bikin pondok itu. Oh, awalnya belum pondok. Belum ada apa itu kayak tempat ngumpul aja. Nah, di situ dikumpulin orang itu untuk jemaah tareqah di Jawa Timur. Oh, kayak tempat dakwah, tempat ngaji gitu ya. Jamaah lah. Jamaah ya gitu. Oke. Jamaah. Terus ngaji ya di situ mulai bikin pondok. Heeh. Terus saya ya bantulah membantu

20:12 cari santri untuk ee bantu bangun pondok, bangun sekolahan. Jadi mulai saya di situ itu mulai pembangunan gedung ee MI. Oh, dari awal. Awal ya. Terus tidak curiga ada praktik yang enggak benar di dalam itu? di situ tuh saya juga gerak-geriknya Pak Yainya itu ya kurang menurut saya kurang pas. Contoh sedahnya gini, dia itu selalu yang diajak pergi malam itu entah kegiatan selawatan, entah ziarah itu kebanyakan

20:59 santriwati atau wanita. Wanita yang di situ tuh ya. sing sudah keluarga kadang ya diajak gitu. Oke. Jadi banyakan dia suka ditemenin sama yang perempuan yang santriwati. Kamu ngerasa loh kok begini gitu ya. Heeh. Terus kemudian kejanggalan berikutnya yang Bapak lihat kejanggalan-kejanggalan di situ dia tuh selalu kenapa ya yang disuruh mijit ketika sudah banyak santri itu ya kok enggak pernah dia kok nyuruh anak laki-laki untuk mijit mijet padahal di situ banyak santri laki-lak laki-laki tapi seringnya yang perempuan perempuan dan itu sering dia suruh

21:46 perempuan itu setiap kali kan sering jagong ya sama saya terus saya kalau kadang malam ya ikut jagonglah di situ. Heeh. ketika ee dianya itu enggak cocok sama yang satu itu alasannya wah tangannya gatal iku ngoten. Tangannya gatal maksudnya dalam arti ituu genit kurang kurang enak mijetnya. Oh mijetnya kurang bagus jadi diganti gitu. Oh jadi dia punya banyak alibi begitu. Oh caranya begitu. Heeh. Oke. Makanya dia gonta-ganti yang mijil. Dan ini perlu ditanyakan juga ini ada oknum eh mungkin oknum ee dugaan yang

22:34 dikawinkan nanti dijawab dikawinkan seorang santri yang sudah tua hamil dikawinkan ke santrinya laki-laki setelah setelah lahir tidak diakui. Setelah diakui dikawinkan lagi. ini biar bercerita ini ee sumber data dari Oh jadi dugaan dugaan di di situ. Tunggu tunggu tunggu. Iya. Ada santri, ada santri sudah dewasa. Cowok ya? Hamid cewek ya? Oh santriwati. Santriwati sudah dewasa hamil. Kemudian dikawinkan santri laki-laki. Oh, santrinya dia yang laki-laki. Jamaah. Jamaah mungkin ya kalau gak salah. Ini biar dicerita lebih santri apa jemah? Ini yang biar santri di situ tuh ya. Ada santri yang tua, ada

23:21 yang anak-anak gitu. He. Ada yang sudah berumur, ada yang masih kecil. Itu semuanya dianggap santri. Oke. Ngaji di situ. Oke. Terus dari cerita yang tadi ada santri Wi yang hamil. Duan. Dugaan, Pak. Dugaan ya? Dugaan. Heeh. dinikahkan sama di situ itu banyak ee yang sudah berumah tangga tapi diakui anak angkatnya si oknum tadi. Maksudnya gimana? Ini gini ini jelas di situ tuh ya keakraban si kiai tadi sama santri santriwati santriwati yang sudah berkeluarga ya banyak. Jadi kesannya itu terlalu akrab lah gitu.

24:06 Heeh. Heeh. Jadi di sisi lain itu ya terlalu terlalu adab. Jadi kesannya untuk dilihat tu negatif kurang kurang. Iya. Tapi akrabnya itu gimana supaya kita nih orang awam bisa nangkap ini. Wah ini enggak benar nih. Gitu. Kayak gimana gitu bayangan ee gambarannya gitu. gambarannya wong di situ ya punya punya suami ya kadang dipanggil di kamarnya untuk mejet. Oh jadi santriwati ini sudah punya suami tapi kadang dipanggil ke kamarnya untuk mijet disuruh nemeni di kamar. Nemenin di kamar mijet. Entah itu mijet entah apa kan kalau

24:53 kamar kan tertutup. Apa? Tidur katanya itu tidur. Oh, yang kayak tadi kamu cerita lebih kalau saya kan enggak berani ngatain gitu. Oh. Dan biar diterangkan jelas lagi nanti kembali ke mbaknya yang sudah dinikahkan 1 tahun gak diakui anak tidak di ini gak anak saya coba ini yang cerita ini itu maksudnya yang ini aku agak penasaran nih maksudnya dia hamil dinikahkan enggak diakuin anaknya ini gimana ini hamil tidak diakui 1 tahun dinikahkan kepada ee apa jemaah yang laki-laki tadi kan sebelah akhir wah itu gak anak saya itu diputuk digugat ya di dicerai ini ya biar cerita ini dugaannya apa dugaannya langsung poinnya aja dugaannya Apa maksudnya santriwati yang hamil ini diduganya adalah dihamili oleh si Okto ini bisa juga terus kemudian untuk menutupi dikawinkan

25:40 sama ini atau gimana? Iya itu memang dugaan dugaannya ke sana gitu dugaannya. Kenapa bisa ada dugaan ke situ? Nah karena 1 tahun dinikahi menurut keterangan dari ini Bapak Heeh. Oh ini gak anak saya lalu dicerai ya. Heeh. Dicerai. Dic dikawinkan lagi sama santrinya lagi sama santrinya lagi yang tua sampai sekarang ada masih. Oh, dari sini ada dugaan kalau ada santriwati juga yang dihamili sampai hamil gitu. Iya, dugaan kami ada dugaan. Oh, paham saya. Jadi ini praktik sudah berjalan bertahun-tahun pasti banyak hal yang dong tidak diakui ini. Masa saya sudah nikah sudah lahir kan gitu ya kemarin. Nah, ceritanya. Oke. Nah, kalau kamu kan, maaf ya, maaf

26:25 ini kalau pertanyaanku kamu kurang nyaman, bilang ya. Aku enggak mau maksa soalnya ee kamu waktu itu kan tidak sampai berhubungan suami istri, tapi dari keterangan teman-temanmu yang lain yang mengalami perlakuan kayak kamu, diajar tidur segala macam, ada yang sampai berhubungan suami istri enggak? Lah, teman saya enggak. Enggak ada. Tapi yang kamu alami mereka alami. Iya. Cuma sampai berubah suami istri enggak? Enggak. Oke. Nah, kalau dari keterangan Bapak ada yang sampai berhubungan sampai suami istri ada dugaan aja. Kalau dugaan saya ya ee saya di situ itu menurut saya dari apa yang diilakukan situ menurut saya tuh kalau

27:10 santri yang belum belum rumah tangga itu mm pikirannya itu mesti resiko lah di situ kok kelihatannya kok akrab yang sudah bersuami. Berarti Bapak ada dugaan ya, ini dugaan sampai berhubungan suami istri itu ada gitu intinya begitu ya, Pak ya. Yang sudah dewasa yang sudah dewasa. Kalau yang masih umur-umur kayak mereka menggunakan alat yang lain di berita acaranya menggunakan alat yang lain. Modus yang lain ya caranya beda ya. Tapi menurut keterangan yang memuaskan nafsunya gak mungkin bercerita dong Pak. Masa di situ diceritakan kan yang dewasa yang diambil yang cantik itu diambil untuk untuk menemani tidur. Masa dia bercerita bahwa oh saya di gitu kan se kayak suami

27:59 istri kan tapu dia kalau teman-teman. Tapi kalau yang kecil menggunakan alat yang lain. Oh paham aku. Aku nangkap. Jadi dugaannya ini kan kita bicara dugaan dulu semuanya ya. dugaannya kalau yang masih kecil disuruh yang tadi itu ya kan sama e iya kalau sudah agak dewasa terus cantik boboknya sudah sampai suami istri tanyakan lagi yang cang diambil yang yang biasa apa yang cantik kalau menurut saya sih Pak kan pernah suatu waktu itu aku tanya sama Pak Ki itu kenapa sih Mbak ini yang kurang maaf ya yang mukanya itu kurang cantiklah cantiklah gitu kok enggak pernah disuruh gitu ngo disuruh apa ya disuruh seperti saya gitu mijet entah batori apa gitu

28:45 terus jawabannya Pak Kiai ya orang itu sudah manut udah enggak oh alasannya sudah manut enggak ada penyakit seperti kayak kamu gitu oh jadi alibinya selalu begitu yang kurang pas gitu nah si si ee oknum ini sudah menikah atau belum Pak ya itu Heeh sudah loh ada istrinya Ada tinggal di situ istrinya, tapi enggak pernah tidur sama istrinya. Iya. Tapi tinggal di pesantren situ. Engih. Santri juga istrinya. Heeh. Santriwati juga enggak? Kurang paham sih, Pak. Bapak tahu kan Bapak lama tuh di situ. Di situ ya? Punya istri. Punya istri? Iya. Sudah lama nikahnya? Ya sudah lama. Istrinya umur berapa kira-kira?

29:30 Ya seumuran di situ sudah punya anak empat. Anak empat. Usia 40. Cucu sudah punya cucu 50. Usia berapa? Istrinya 50. 40-an. Intinya dia jarang tidur sama istrinya ya. Istrinya satu ya. Oke. Dari keterangan yang saya dapat ini dari korban dan ayah korban itu dari tahun 2009. Oh lama. Nah lama kan? 2009 2010 17 tahun belum ada yayasan tapi jemaah di demo tahun ini ya? demo pergi datang lagi di tahun 2022 ya 22 apa 2 13 ya 2013 apa 10 2011 kembali ke situ kembali buatlah buatlah yayasan

30:15 pernah didemo itu gara-gara apa sama sama kasus seperti kasusnya sama oh jadi sudah pernah ada di lingkungan situ di situ. Nah, masyarakat saat itu ee tidak maksudnya kan kayak kemarin kan akhirnya berani untuk melakukan demonstrasi. Mas Ulil itu teman saya. Iya. Dari Mas Ulil ini kan dari Mas Ulil ini kan teman baik saya. Saya berjuang sendiri. Mas Ulil ini kan ee hadir untuk mengawal itu bisa terbongkar semua kan berkat jasannya Pak Oil juga. Iya. Cuma kan ee apakah orang ini punya power atau bagaimana? Itu yang mau dicari tahu ya. Maaf ya. Kalau di situ saya pernah ee se waktu sudah ada kejadian ini saya ee di

31:02 lingkungan situ, warga situ, tokoh-tokoh yang warga situ dikumpulin masyarakat. Saya memberi keterangan bahwa oknum ini ada yang tidak beres lah kelakuannya. Heeh. Nah, di situ tokoh-tokoh masyarakat atau warga situ sama takut. Takut katanya itu sakti jaduk gitu. Oh, dia kemakan ee bahwa ini sakti takutnya nanti ee apalagi namanya Pakali ya sama orang yang berilmu gitu ya kayak begitu. Takutnya gitu. Oh, jadi yang lain itu masyarakat enggak ada yang berani untuk

31:48 ngelawan gitu ya. Yang paling yang paling krusial kan gini, si korban ee seorang korban ini mau berontak, mau lapor. Ini yang perlu dilindungi kita ini semua ini. Korban mau melapor diintimidasi. Kalau kamu melapor nanti saya ungkap semua. Ungkap semua. Ee diceritakan semua kan takut aibnya. Oh. Takut dong diancam. Nah, kamu gak usah lapor, nanti saya kerjakan. Saat ini kan ada yang dikerjakan tujuh. Ada delapan pelapor waktu itu. Oke. Yang tujuh dipekerjakan di pondok pesantren sampai saat ini. Yang satu ini saya apresiasi sekali ini bisa lapor. Iya. Mudah-mudahan psikisnya ini bisa kembali. Harapan saya gitu. Iya. Dengan keadaan seperti ini kan harus

32:33 bisa kembali. Itu kasihanlah secara psikologis ee si korban dan ayah korban ini harus bisa kembali. Oke, tahan dulu. Ini kan lu sebagai lawyer ya. Kenapa lu bisa tiba-tiba ngawal kasus ini? Nah, kebetulan gini, Pak. Gini Pak. E ini yang bercerita bercerita semua. 2024 saya buat laporan. Heeh. Ee sejalan waktu itu ee terus berhenti gih. Terus saya cari-cari bantuanlah. Wong saya itu orang enggak punya uang. Heeh. H siapapun yang bisa bantu, bisa bantu untuk ee untuk mendapatkan keadilan. Heeh. Dari awal saya tujuan laporan itu karena saya tahu sendiri di lingkup pondok situ

33:21 ada banyak korban. Kalau dibiarkan tetap banyak generasi atau wanita-wanita jadi korban di situ. Iya. Jadi korban saat itu. Saat itu ee anak Bapak itu Bapak sudah tahu mengalami kejadian ini? Kalau tahunya ya tadi dia sudah di rumah terus ee enggak pas Bapak bikin laporan di 2024 Heeh. Bapak sudah tahu anak Bapak juga digituin mulai itu. Oh oke. Setelah anak saya itu bilang sama ibunya terus ditanyai teman-temannya siapa yang pernah diperlakukan. Heeh. Heeh. Itu waktu itu di sudah di data ya.

34:07 Heeh. Heeh. Berapa anak gitu. Heeh. Saya ee terus melakukan ee pencocokan pencocokan apa yang di bilangin anak saya. Ternyata anak-anak itu ya sama cerita juga sama cerita sama yang dieritakan cuma enggak berani cerita ke publik. cuma beraninya sama Bapak aja gitu kan. Terus sampai akhirnya bisa ee ke lawyer piye? Di situ saya laporan terus lewat LBH. Heeh. Nah, sejalan waktu kok enggak ada enggak ada respon respon terus berhenti terus saya e minta

34:52 bantuan ke ormas kami. Ke ormas. Oh, ormas. Iya. kita tuh sebetulnya ca ormas punya ormas di Pati namanya itu oke GJL gerakan jalan lurus oke background kami. Oh oke. Nah gitu gerakan jalan lurus itu sebetulnya bigground itu lurus-lurus saja membantu orang lah. Saya selaku kuasa hukumnya. Oh dari situ berawalnya saya pegang 3 bulan ini cari perlindungan hukum. Iya di Semarang habis R juta. Ee Oh. Jadi kalian berjuang ini sudah lama ya? Ada 3 bulan saya. Kalau saya ini dari dulu terus dari awal itu sudah banyaklah yang banyak yang untuk mematahkan semangat saya untuk membuka

35:38 ee kezaliman ini. Heeh. Apa yang mematahkan itu? Apa contohnya? Ya, saya cari-cari bantuan itu semua orang gini mental mental semua. Sampai saya itu dibilangin loh timun kok musah duren. Apa itu maksudnya? besar timun kecil Pak timun kecil powernya besaruk l ya dimusah duri besar itu kan tetap pajur itu ee priba ada ancaman juga apa enggak ngalamin ini 2024 saya laporan itu dari pihak ee di oknum tadi he ada yang mendatangi saya suruh berhenti, suruh nyabut ke ee laporan

36:24 Heeh. Saya bilang sampai kapanpun, apapun yang terjadi saya enggak bakal nyebut laporan. Terus dia bilang apa? Nah, dari kalimat saya itu dia bilang, "Wes, ora bakal bisa kamu ngurus masalah itu sampai tuntas gitu." Oh, paham paham paham paham paham. Jadi kalau didanya ee dari sisi lu ngelihatnya kan lu lebih menguasa lah area perhukumannya gitu ya. Karena gini di di 2024 ini kan LA LP-nya itu kalau gak salah itu Juni. Juni. Juli. Juli. Iya.

37:09 Penyelidikan kalau gak salah ya. Nanti berkas perkara di mobil di tas naik penyidikan itu 3 bulan ee 23 September 2024. Oke. Oke. Satu angka jempol. Bagus. Heeh. Penyelidikan. Heeh. Langsung dinaikkan ke penyidikan. Sudah barang bukti cukup dong. Iya. Visum. Iya. Visum sudah ada scan scanner dari WA WhatsApp. Keterangan saksi ee korban juga sudah ada. Korban yang lain ada loh. Banyak korban saat itu ada berapa yang diambil keterangan? Tujuh delapan. Oh cukuplah lebih dari cukup. Terus kemudian ada yang pernyataan jangan sampai nanti ke persidangan saya dihadirkan. Oh oke. E screen di screener di apa? Ee WhatsApp.

37:56 WhatsApp-nya ada. Iya. Ya, bukti-bukti WhatsApp segala macam. HP-nya dua ada. Bukti WhatsApp WhatsApp itu apa ya? Seperti apa ya? Temani Bapak tidur. Oh, ada kalimat itu ada. Temani Bapak tidur. Kalau gak mau saya ganti yang lain yang disampaikan tadi. Kalau enggak mau nanti saya ganti yang lain dan saya pulangkan saya. Oh, ada anc. Oke, paham paham paham. Jadi ini barang bukti sudah kuat nih. Ya sudah. Terus kemudian barang buktinya dari 2 HP sudah disita. Heeh. Pada saat itu dari oknum tadi dan dari ini sudah dong. Visum sudah ada. Dari keterangan dokter, psikolog ada. Oke, cukuplah semuanya. He. Kurang apa sih, Pak? Oke. Saksi ahli dari mana yang didatangkan? Tapi saksi

38:42 ahli yang ee saya pegang 3 bulan ini. Makanya saya apresiasi kepada Pak Kapolres Pati Heeh. beserta jajarannya itu sangat-sangat apresiasi sekali membantu kita sebelumnya ini pada perkara ini. Karena saya pegang Heeh. Pak Kapores eh Pak Kasatnya baru. Heeh. Pak Kanditnya baru. Heeh. Penyidik baru. Heeh. Baru semua berkas perkara kita pelajari baru 3 bulan sudah jebol hebat Pak Nu. Oh sekarang. sekarang yang kemarin kemarin ya belum karena belum tak pegang. Iya sama orang-orang yang kemarin sama yang sekarang beda kan? Beda kan? Nah, menurut keterangan ini sebetulnya ada peristiwa-peristiwa hukum yang harus ditambahkan pasal sebetulnya kalau salah itu

39:27 kalau pasal yang di perlindungan anaknya itu kan gitu harus ada ukumannya itu 1/3 lebih besar. Heeh. karena melakukan lebih dari satu orang. Oh, jangan sampai 12 tahun dong, Pak. Nah, itu loh, Pak. Harus 15 tahun. Kalau di negara kita harus hukuman mati. Kalau kalau saya itu maka kita harus mendorong DPR beserta ee Komisi 3, DPR, semua itu harus mendorong. Jangan ada minimalnya. Minimalnya ini 3 tahun. Kalau dihukum di 12 tahun minimal 3 tahun. 15 tahun minimalnya 5 tahun itu jangan karena korban ini kasihan kalau saya mendengarkan pada malam hari ini, Pak,

40:13 sana nangis sebelumnya hati saya itu nangis. Berapa berapa korban ini? Ee kurang lebih 50 digilir loh. Kalau lebih jujur ini kan malam hari ini kan jangan takut ada saya. Ada yang ini enggak yang kayak ee ee diajak berdua gitu atau cuman satu-satu keterangannya? Ada jelaskan ada. Ada yang disuruh tidur bareng lebih pernah kejadian itu saya kan nemeni tidur itu saya di dikunci dari luar. Saya tuh kan kalau 6 menit tidur kan enggak tidur beneran kan enggak ngih etak-etak tidur gitu terus Pak ya itu pergi terus ngunci saya dari

41:00 luar terus tak batin dalam hati aja ngapain gitu kan terus kok ada suara lagi di kamar lain gitu. Oh tapi aku enggak tahu sama siapa. Kamu enggak tahu ada berapa orang kira-kira suara perempuan di kamar lain itu? Satu. Sama Pak Yai. Oh menurut keterangannya kemarin ee satu kamar bersebelahan cuma kan berdekatan Pak. Pintunya dari sapu kok itu jadi satu ya. Oh enggaknya enggak jadi satu. Oh ada kemungkinan begini ya maksudnya ini di sini siapa? Nanti dia pindah kamar sini siapa maksudnya begitu ya? pintunya sini loh, Pak. L

41:46 Iya, maaf ya. Ini aku coba untuk Iya. supaya penonton juga bisa ee nangkapnya enggak salah arah gitu. Takutnya informasinya jadi salah gitu kan ya. Tapi ini kan semuanya masih sifatnya dugaan kan. Iya. Dugaan. Jangan sampai cuman dari apa yang Bapak alami sebagai korban dan anak, Bapak meyakini bahwa orang ini memang melakukan tindakan kejahatan gitu kan. Nah, Bapak kan tahu anaknya Bapak itu pada saat itu mengalami perasaan Bapak piye waktu itu? Wah, kecewa kecewa. Soalnya saya sudah percaya penuh ya sama Pak ya itu bahwa di situ sampai anak saya empat itu saya taruh di situ semua. Oh, ada empat anak ditaruh di sana.

42:31 Berapa? Cewek semua atau cewek? Cowok? Jawa tiga. Terus cewek-cewek tiga, adiknya ini dua diu. Heeh. Tunggu dulu. Oh, yang lain enggak mengalami? Kalau adik-adik saya enggak. Oh, enggak. Masih kecil kan? Masih kecil. Yang yang yang diambilkan di situ kelas 1 MI kok. Oh, kalau MI yang usia berapa kira-kira dia sudah mulai? Kamu usia berapa waktu itu? Pertama kali kamu ingatnya kelas 9 berarti usia 15an. 15. Oh, 15-an. Kalau di bawah itu enggak kayaknya enggak kecil. Oh iya ini kan lagi cari tahu modusnya ya ibaratnya begitu ya. Iya enggak pernah kalau anak kecil. Makanya Bang perlu tak tambahi juga tak tekankan di peristiwa hukum ini. Heeh. Jangan sampai pondok pesantren yang lain

43:16 dinodai dengan oknum satu ini. Pondok pesantren di Pati kan banyak. Iya bigun-nya kan santri Islam banyak di situ. Banyak tokoh-tokoh agama tokoh-tokoh juga bagus-bagus. Jangan sampai perkara ini jangan dinodai satu orang oknum ini mengakibatkan pondok pesantren yang lain jadi imbasnyaasnya dan cara satu-satunya supaya itu tidak terjadi hukum harus tegas makanya karena tidak tidak tidak pesantren itu kan tempat yang baik tempat mencari ilmu baik tapi kalau isinya orang tidak baik yang salah itu orang tidak baik bukan tempatnya jadi yang harus dibersihkan orang tidak baik gitu kan gitu makanya hukumnya harus tegas Kalau tidak akan berimbas kepada ee pesantren-pesantren

44:03 lain. Jadi kesannya pesantren-pesantren lama-lama jadi negatif padahal tidak begitu. Kan begitu maksudnya. Nah, ini dugaan lagi ini. Heeh. Menurut intelijen yang saya dapat diback up oleh oknum kiai Dipati Pati ini dibongkar masih Mas anu. Heeh. Heeh. Saudaraku yang dari pondok pesantren yang mewakili pondok pesantren. Heeh. Ah, ini jangan sampai oknum-oknum pii ini menodai ee pondok pesantren yang bagus-baguslah. Kenapa? Menurut intelijen yang saya dapat, berita yang saya dapat loh ini mau saya tersangkakan yang datang oknum-okrum banyak di situ kok yang besar-besar lah. Gimana? Pada tendensnya gini, muridnya kan sudah

44:49 besar di tahun 20 2002 2020. He ini muridnya besar loh. 750 ya, Pak ya? Iya 700an. Jangan main-main ini. 750 pada saat itu dari Kalimantan, dari Jakarta. Muridnya si kiai ini. Iya. Ini kalau dibongkar ini membahayakan murid-murid yang lain. Jangan sekarang. Tapi ini ditutup dulu karena ada perkara di Pati besar nanti apa para panti besar kan kemarin nunjuk rasa menggulingan Sudewo kan itu seperti dulu Iya. Oh kum merancang. Nah kebetulan ini mungkin ditemukan oleh

45:35 ee agama saya kan Allah percaya saya orang yang tulus orang yang baik pasti ketemu orang baik loh ya. Orang yang tulus hatinya akan menemukan diberi oleh jalan Allah ketemu orang yang baik. Ketemulah kami-kami ini. Saya kawal, saya komunikasikan kepada penegak hukum. Ayo bareng-bareng. Kasihanlah kita bongkar. Wah pernah diancam loh, Bang. Diancam opo? diancam oleh pertama kali kan saya mau dikasih Rp300 juta. Oh itu bukan diancam itu. Itu bukan di itu mau dikasih duit itu kali. Dua kali. Iya tapi itu bukan ancaman maksudnya toh. Pertama kali kan 300 sogokan itu sogokan. Pertama kali 300. Heeh.

46:20 Saya tolak ada saksi dua. Heeh. Kedua kali saya ditawari 400 diancam dong di anu di ancamannya di mana? pengacara di Pati itu tidak ada yang doyan duit pas dibutuhkan. Kalau ada apa-apa yo k tanggung jawab ketulan ini kalau sampan lanjut imbasnya nanti banyak nah gitu santrinya banyak nanti imbahnya gimana gurunya nanti ke mana ya saya jawab kalau anda anak anda digitukan gimana tetap saya lanjut wong itu cukup cukup bukti kok terus

47:06 sambil ngedor meo itu siapa suruhannya suruhannya si es suruhannya orang pesantren juga tuh gak tahu saya pakai tatua pakai anu yo ya cuma saya dibilang gini oh gini kang sak gitu gini kang begitu hidup saya sudah pasang kepada Allah untuk bela ini sudah berjanji pada diri saya sendiri untuk mengawal kasus ini sampai tuntas dan terang benderang karena korbannya banyak itu nanti kalau sekitar seketika ketika nanti dihukum atau dibiarkan nanti membias terus di situ membukam dalam hati nurani seorang anak dengan kejadian itu psikisnya itu kena 1 tahun di rumah nak gak keluar banyak

47:51 teman-temannya kan kendala di psikologisnya dia dong itu yang menjadi saya itu motiv saya motivasi saya kalau dibiarkan ini membahayakan bagi generasi muda loh Pak apalagi kan pondok pesantrenya iya Pondok pesantren kan kita percaya kepada alim ulama untuk anak kita dititipkan ke mereka. He. Karena dia paham Al-Qur'an. Heeh. Paham hadis. Kita tuh percaya. Iya. Jangan sampai dinodai oleh okon satu ini dengan seketika itu nanti masyarakat seluruh Indonesia tidak percaya. Iya. Ya. Saya sebagai orang tua yang saya sesalik gitu. Saya percayakan anak saya untuk mondok, untuk menba ilmu, untuk memperbaiki akhlak anak. Ternyata di

48:39 situ diberi contoh akhlak-akhlak yang buruk tadi. Saya sebagai orang tua kecewa banget. Abangku ketemu saya abangku. Ini orang tua ini ketemu saya di masjid. Abang saya sumpah ini tanya Anda. Saya sumpah saya akan memperjuangkan Anda tahuannya nyawa saya. Karena apa? pondok pesantren yang besar pasti nanti kalau saya masuk di situ kan gak terima, Pak. Kalau Anda nanti di Win-Win solution suruh nyabut walaupun nanti perkara ini tetap ee pidana umum tetap jalan. Cuma kan saya kan malu, Bang. Saya sumpah orang dua ini nangis. Dia

49:24 ketemu saya itu nangis. Saya cari orang yang bisa untuk ee apa membela saya kan gitu di masjid. Iya. Belum ada. Saya mau cuma saya janji kepada Anda, kepada beliaunya ini. Jangan sampai saya itu kencang, Bang. Oh, iya paham. Terus mundur mereka mundur. Saya itu maju kencang dia mundur. Saya malu dong, Bang. Oh, iya. Bukan malu, kamu celaka. Alhamdulillah kan saya apresiasi sekali pada saat ini kan pihak pelapor dari korban dan orang tua ini kan kencang terus Bang. Iya. Satu. Alhamdulillah saya juga berdoa mudah-mudahan ada teman-teman saya yang bisa membantu saya. Alhamdulillah media sosial. Iya. Dan akhirnya bisa sampai sini juga gitu.

50:10 Sampai sini saya datang ke sini kan sebetulnya kan setuhan hati nurani saya. Iya. Iya. Iya. Ee Bang Ibu Bang apa yang temanku ini dari Kajen ini. Heeh. itu juga membantu kemarin, "Wah, bumi langsung diimo itu kan dengan jalan-jalan yang anu." Iya. Kita hanya beretika baik karena sudah dibantu, sudah tersangka. Ya, ya. Nanti sat hari, du hari ini nanti ditangkap, ditahan nanti. Tunggu aku mau nanya e kamu butuh bantuan psikolog untuk menyembuhkan? Udah, udah didampingi dari PPA itu. Hm. Udah pelan-pelan sudah mulai ada kemajuan. Sudah. Kamu berharap orangnya segera ditangkap ya. Kalau kamu bisa ketemu, kamu ee pengin

50:55 bilang apa sama beliau itu? Enggak mau ketemu sih. Enggak mau ketemu. Ya, kalau di pengadilan akhirat kamu ditanya sama malaikat, kamu akan bersaksi apa tentang beliau? Ya, hukum seberat-beratnya gitu. Hukum seberat-beratnya. Neraka boleh buat dia? Neraka paling paling panas. Paling panas. Cukup ya? Cukup cukup cukup. Iya cukup ya. Cukup cukup. Yeah.

Share

Ringkasan Video YouTube