Kh Muhammad misdhi-Kajian hakikat tingkat tinggi

Kh Muhammad misdhi-Kajian hakikat tingkat tinggi

Ringkasan Singkat

Video ini membahas tingkatan puasa dalam Islam, mulai dari puasa umum hingga puasa khusus, serta hakikat puasa khusus yang dijalani oleh para wali. Dijelaskan pula mengenai laku spiritual Nabi Muhammad SAW sebelum menerima wahyu, termasuk meditasi dan khalwat di Gua Hira, serta hubungannya dengan ajaran Nabi Ibrahim.

  • Puasa memiliki tingkatan: umum, khusus, dan khusus ilallah.
  • Puasa khusus melibatkan menjaga panca indera dari perbuatan dosa.
  • Hakikat puasa khusus adalah membersihkan hati dari segala bentuk kekhawatiran duniawi.
  • Nabi Muhammad SAW melakukan khalwat dan meditasi sebelum menerima wahyu pertama.
  • Laku spiritual Nabi Muhammad SAW memiliki kesamaan dengan ajaran Nabi Ibrahim.

Tingkatan Puasa: Umum, Khusus, dan Khusus Ilallah

Video ini menjelaskan tiga tingkatan puasa dalam Islam. Pertama, puasa umum, yaitu menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan suami istri, yang merupakan puasa menurut syariat. Kedua, puasa khusus, yaitu menjaga tujuh anggota tubuh (mata, telinga, mulut, tangan, perut, kaki, dan hati) dari perbuatan dosa. Misalnya, menjaga mulut dari membicarakan keburukan orang lain. Puasa ini baru memiliki nilai di sisi Allah. Ketiga, puasa khusus ilallah, yaitu puasa hati, di mana hati senantiasa terhubung dengan Allah dan bersih dari segala bentuk kekhawatiran duniawi.

Hakikat Puasa Khusus: Puasanya Para Wali

Puasa khusus ilallah adalah puasanya para wali Allah, yang hatinya selalu merasa cukup dan menerima segala ketentuan Allah. Mereka tidak memiliki rasa takut atau khawatir terhadap kehidupan dunia maupun akhirat. Wali adalah orang biasa yang selalu merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah, baik sedikit maupun banyak. Puasa ini menekankan pentingnya menjaga hati agar tetap baik, karena jika hati rusak, maka seluruh diri seseorang akan rusak.

Meditasi Nabi Muhammad SAW Sebelum Menerima Wahyu

Sebelum menerima perintah salat, Nabi Muhammad SAW melakukan meditasi (khalwat, uzlah, riyadhoh) di Gua Hira. Hal ini dilakukan karena Nabi Muhammad SAW melihat kerusakan moral di Mekkah setelah ditinggalkan oleh Nabi Isa selama 500 tahun. Meditasi ini bertujuan untuk memohon petunjuk kepada Allah. Nabi Muhammad SAW bertanya-tanya tentang agama yang seharusnya dianut, apakah mengikuti agama nenek moyangnya, Nabi Ibrahim.

Cara Nabi Muhammad SAW Bertemu Malaikat Jibril

Nabi Muhammad SAW memiliki kelebihan yang tidak dimiliki manusia biasa. Kelahiran Nabi Muhammad SAW saja sudah meruntuhkan berhala-berhala yang disembah oleh orang-orang yang tidak bertauhid. Nabi Muhammad SAW bisa bertemu dengan Malaikat Jibril karena melakukan laku spiritual seperti Nabi Ibrahim, yaitu tahanut, khalwat, uzlah, atau riyadhoh (meditasi). Dengan mengheningkan cipta, Nabi Muhammad SAW akhirnya bisa bertemu dengan Malaikat Jibril.

Hubungan Laku Spiritual Nabi Muhammad SAW dengan Ajaran Nabi Ibrahim

Laku spiritual Nabi Muhammad SAW di Gua Hira memiliki kesamaan dengan ajaran Nabi Ibrahim. Khalwat berarti mengasingkan diri dari keramaian. Laku Ibrahim juga mencakup penyembelihan kurban, yang secara hakiki berarti mengorbankan ego dan pikiran duniawi. Semua ajaran langit (agama samawi) memiliki dimensi batin, sebagaimana dalam Islam terdapat syariat (lahir) dan hakikat (batin). Mengheningkan cipta adalah cara untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan tidak ada larangan dalam Islam untuk melakukannya.

Laku Spiritual dalam Tradisi Jawa dan Islam

Dalam tradisi Jawa, laku spiritual dikenal dengan istilah sembah raga, manembah rasa. Dalam Al-Quran, salat juga merupakan gerakan raga. Inti dari laku spiritual adalah menghubungkan hati (qalbu) dengan Allah. Pikiran duniawi harus dikurbankan agar hati menjadi kosong dan terhubung dengan Allah.

Share

Summarize Anything ! Download Summ App

Download on the Apple Store
Get it on Google Play
© 2024 Summ