0:00 Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi taala wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil alamin wasallallahu ala sayyidina Muhammadin wa ala alihi wasahbihi wasallam. Amma ba'du. Saya kemarin sudah menjelaskan kekacauan berpikirnya si guru gembul. Tatkala dia itu mengatakan bahwa semakin orang itu dekat dengan ulama maka dia akan semakin tersesat. Tetapi argumen yang dia bangun adalah semakin orang dekat dengan ulama maka semakin dia itu berpeluang dikatakan sesat. Ini enggak nyambung ya. Ee saya melihat beberapa komentar dan ee saya cukup senang dengan beberapa komentarnya dan juga cukup miris sebetulnya. cukup
0:46 senang karena memang ee alhamdulillah di antara penonton-penonton itu masih banyak yang ee memahami perkara aqa sehingga tahu begitu bahwa yang namanya akidah atau keyakinan itu bukanlah perkara yang bisa dilihat enteng begitu ya. Bahwa itu adalah kesalahan. Kalau ada kesalahan di dalam akidah itu adalah kesalahan yang fatal yang mana kita harus mempertanggungjawabkannya. Tetapi saya juga cukup miris karena memang ee kalau mukmin begitu yang berkomentar di dalam komentar saya itu menunjukkan kedangkalan di dalam pengetahuan agamanya. Dan harus ingat bahwa ee yang dikatakan oleh para ulama
1:32 mengenai hukum ahkam itu baik berkaitan dengan perbuatan, berkaitan dengan dengan iktikad atau berkaitan dengan ee akhlak itu mengikat dalam pengertian kenyataannya memang demikian. Meskipun penegak hukumnya itu tidak ada. Misalkan kalau seseorang itu dia dikatakan telah melakukan suatu perbuatan yang mukafirah yang mengkafirkan, maka dia itu kafir dalam kenyataannya. Ya, kafir dalam kenyataannya. Meskipun dia tidak sadar dan tidak ada orang yang memberitahu bahwa dia itu kafir. Nah, kalau misalkan sudah mati baru dia itu akan sadar. Makanya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam itu berkata, "Anasu niamun waidza matu intabahu." Manusia itu mati. Ya, manusia itu ee niam tidur pada tidur
2:18 dalam pengertian enggak sadar tuh. Kalau mereka sudah mati baru mereka itu terbangun. Nah, dalam pengertian bahwa kalau manusia-manusia ini para mukalaf ini yang mana dalam kenyataannya memang ee terkena oleh perintah dan larangan Allah Subhanahu wa taala itu tidak sadar bahwa dirinya diperintah dan dilarang. Kalau dia sesat, dia tidak sadar dia sesat. Yait e berjalan bisnis as usual. Tapi kalau sudah mati baru bangun. Nah, eh apa saran saya kepada orang-orang yang mengikuti si gurgem ini dan gurgemnya itu sendiri begitu ya? Perdalamilah permasalahan agama karena memang ee permasalahan agama itu kalau kamu sesat di dalamnya kamu baru akan tahu kalau sudah mati. Nah, banyak juga yang mengomentari bahwa saya ini tidak
3:04 melihat semua videonya loh. Justru kalau saya lihat semua videonya ini akan lebih nampak lagi kesalahannya guru gembul. Jadi kenapa kalau misalkan di dalam reaksi video itu saya selalu mereaksinya itu tatkala ada kesempatan untuk mereaksi ya karena yang namanya berpikir itu kita harus melihatnya perlangkah. Jadi langkah perlangkah. Enggak usah kita itu melihat ee misalkan ada ekuasi matematika begitu ya. Satu rumusan matematika itu kita tidak harus melihat satu proposisi di sebelah kiri kemudian proposisinya di sebelah kanan. Kemudian kita lihat dulu semuanya begitu. Enggak usah kita lihat dari setiap langkahnya itu kita lihat ada ada satu saja langkah yang salah, kita sudah bisa membuktikan bahwa itu pasti berpikirnya salah meskipun nanti pada akhirnya kesimpulannya benar. Kenapa demikian? Karena kesimpulan yang benar dari cara
3:50 berpikir yang salah itu hanyalah kebetulan. Begitu. Kalau di dalam guru-guru matematika kan seperti itu. Dan matematika itu adalah cabang dari logika sebetulnya. Jadi gimana ya susah ee apa namanya menyadarkan orang-orang yang tidak mau sadar. Nah, sekarang kita akan teruskan nih ya ee omongannya siapa si Gurgem ini. Ini makin jauh saja semakin jauh semakin semakin acak-acakan semakin ngawur logikanya juga semakin tidak koheren. Ini kita akan langsung saja saksikan dulu yaama. Dan siapapun yang dekat dengannya itu pasti adalah orang sesat. Begitu kan? Sebaliknya baraya adalah orang ahli maksiat. Baraya tukang judi. Baraya tukang zina. Baraya kemabukan. Tapi baraya tidak akan disebut sesat kalau baraya tidak
4:36 berafiliasi dengan kelompok tertentu. Misalkan, misal ini mah misal ya, Pak misal ini mah bukan menuduh, tapi misalkan Pak Bahlil itu adalah orang yang suka zina, orang yang suka mabuk, orang yang suka ee cabul misalkan begitu. Dia tidak akan ditudih sesat. Tidak akan kalau dia tidak berafiliasi atau tidak menegaskan identitas atau dengan kelompok agama tertentu gitu kan. Coba ada artis yang berzina, yang kumpul kebo, yang tukang fitnah, yang tukang ngejelekin orang, enggak pernah mereka dituding sesat dan menyesatkan. Yang dituding sesat dan menyesatkan itu adalah orang apa? Orang yang baik tapi dekat dengan ulama. Kan dituding sesat. Tapi ini sesat pada kenyataannya atau ditudik sesat? Saya bilang kemarin kalau dituding sesat
5:21 semua orang itu pasti bakal dituding sesat. Pasti ada yang menyebut sesat pasti itu ya. Sekelas siapapun itu, sekelas para nabi pun demikian. Cuman apakah para nabi itu sesat dalam kenyataannya atau tidak? Nah, yang dibahas oleh para ulama itu orang yang sesat di dalam kenyataannya. Itu dulu ya poinnya tuh. Ini jadi sudah salah berpikir si Gurgem itu orang yang baik tapi dekat dengan ee Ustaz Adi Hidayat itu bisa kena framing. Wah, ini mah orangnya gini gini gini gini. Enggak. Karena Ustaz Adi Hidayat sendiri kan ya memang kontroversial. Makanya coba silakan cek ya. Saya sebutkan beberapa daftar ulama atau dai yang terkemuka di Indonesia. Oke, sebentar ya. Ini juga sudah salah si gurgam itu ulama atau dai ya. Kamu itu mau bilang yang mana? Ini mau dai apa mau ulama? Beda itu. Kalau ulama itu
6:08 mereka yang tetap ilmunya pada dirinya itu ulama itu alim yang pada dirinya ada ilmu. Kalau dai itu orang yang mengajak ya untuk jadi dai itu enggak mesti jadi ulama. Duh, kalau kehancuran berpikir sudah separah gurgem ini, itu susah untuk diluruskannya. Karena yang bersangkutan ini si Gurgem ini dia tidak memiliki kapasitas untuk presisi di dalam memilih diksi. Itu Guru Gembul tuh kita saksikan di dalam beberapa debatnya, di dalam beberapa permasalahannya, podcastnya begitu. Dia ini tidak presisi di dalam memilih diksi. Sedangkan di dalam berkata, apalagi para ulama ini ada syarat. Syaratnya itu apa? harus presisi di dalam memilih diksi. Karena diksi ini kalau misalkan dia dihukumi begitu ya,
6:54 dia yang akan dihukuminya. Jadi jangan yang mau dihukuminya itu ulama, tetapi yang dikatakannya itu dai. Begitu. Ini sudah berbeda. Dan ulama pun nanti ada ulama yang tahkik yang betul-betul memang ulama, ada yang cuman masyhur sebagai ulama padahal bukan. Itu harus dibahas dulu. Begitu ya. Kita lanjutkan nih. Sebelum dilanjutkan, bagi yang belum subscribe, silakan untuk subscribe ya. Karena subscribe tidak akan mengurangi pahala Anda. [tertawa] Insyaallah. Ya, insyaallah. Ni kita lanjut nih. Saya sebutkan ya. Ustaz Abdul Somad. Nah, itu ada yang menudingnya sesat karena tidak pakai jenggot. Kemudian Ustaz Adi Hidayat itu sesat karena mentolelir adanya musik. Kemudian e Habib Jafar dianggap sesat. Karena apa?
7:41 Karena orang Syiah laknatullah alaih. Kemudian Aagim itu dianggap sesat karena mengajarkan sufisme yang ngacau. Kemudian ada Ustaz Khalid Basalamah sesat karena dia Wahabi. Kemudian Ustaz Felixo itu sesat karena dia HTI. Kemudian Gus Baha itu sesat karena dia mencampurkan antara sufi yang aneh-aneh dengan feodalisme Jawa. Kemudian Buya Syakur itu juga sesat karena dia liberal. Quraisyi Syiahab itu sesat karena anak-anaknya tidak berhijab dan lain sebagainya. Nah, tudingan-tudingan sesat itu justru adalah tudingan kepada para ulama tuh. Kepada para ulama gimana? Kita harus sepakat dulu apakah orang-orang yang disebutkan tadi itu ulama atau bukan? Ya, itu satu tuh. Kemudian ini kan si Gurgem ini nyebut ya orang-orang di sini nih. Ini kan daftar para ulama sesat begitu nyebutnya di situ siapa? Si
8:27 Khalid Basalamah. Kemudian nyebut Adi Hidayat, nyebut Aagim, nyebut Habib siapa tadi? Habib Jafar, kemudian nyebut Qurais Siihab. Nanti juga kalau tidak salah nyebut Gus Baha yang mana ini kan tidak membahas kesesatan ansih yang ada pada orang-orang ini kalau ada begitu si Gurgem ini hanya menyebut Gus Maha ada yang nyebut sesat Quraisy Sihab ya demikian Adi Hidayat ya demikian si siapa itu Khalid Basalamah demikian nah kalau si Gurgem ini mau masuk ke dalam gelanggangnya para ulama jangan dibahas penuding sesatnya atau tudingan sesatnya bahas permasalahan yang memang ditudingkan kepadanya sesat. Jadi permasalahan kesesatan ini dia
9:12 lepas dari orangnya siapa. Itu dulu ya. Dalam pengertian bahwa kalau kita membaca kitab-kitab para ulama ya saya penting ini kembali kepada kitabnya para ulama karena memang kita itu beragama maka kita akan melihat yang dibahas itu adalah iktikadnya, perbuatannya. itu yang dibahas lah. Kemudian kebetulan zaman sekarang itu ada orang-orang yang melaksanakan kesesatan-kesesatan itu. Makanya saya katakan sekali lagi kemarin bahwa kalau kita melihat begitu ya atau membahas kesesatan kita ini tidak membahas orangnya sebetulnya cuman kebetulan orangnya ada di situ. Kecuali kalau si gurgem ini si gurgema apa yang mau dibahas lah kesesatan-kesesatan yang mukfirat ada dia. Hampir semua kok ya. Hampir semua saya katakan itu
9:58 mubalagatan ya. Orang yang santri paham maksud saya apa. Eh, misalkan kita katakan tatkala membahas apa Khalid Basalamah, di mana tuh kesalahannya? Kita bisa banyak membicarakannya itu. Khalid Basalamah itu dia tidak memahami fikih apalagi ushul fikih. Kemudian dia itu salah di dalam iktikad. Ya, salah menurut siapa? Menurut ahlul haq, menurut kebenaran. Dan kita berdialektika di situ. Untuk apa? untuk menyadarkan orang-orang yang baik itu Khalid Basalamah ataupun orang-orang yang mengikuti Khalid Basalamah ataupun orang-orang yang sepemikiran dengan Khalid Basalamah supaya terjadi dialektika. Karena orang yang betul-betul berpikir itu akan kembali dari perkataan atau pikiran
10:45 sesatnya Khalid Basalama. Itu yang kita yang kita apa namanya? yang kita ee usahakan. Dan alhamdulillah ya kalau tidak ada orang-orang seperti ini mungkin saya masih di Wahabi sampai sekarang. Nauzubillahi minzalik. Wafat dalam keadaan Wahabiyah itu. Kemudian kalau misalkan kita lihat ee siapa namanya? Adi Hidayat ya. Adi Hidayat itu kekurangannya di mana? Sama. Enggak ngerti ushul fikih. Adi Hidayat itu orang yang ngaji ushul fikih tahu Adi Hidayat itu enggak ngerti ushul fikih. Orang yang enggak ngerti ushul fikih itu bakal nyebutnya kayak gini. Woh masa ad hidayat alim kayak gitu enggak ngerti ushul fikih? enggak ngerti adayat itu enggak ngerti ushul fikih, enggak ngerti fikih dia itu akidahnya selamat. Makanya orang-orang NU lihat apakah mereka ada yang mengkritik akidahnya Adi Hidayat begitu enggak ada ya. Enggak ada. Kalau saya sendiri saya meyakini itu ya 99,9%
11:33 akidahnya Adi Hidayat itu betul begitu. Nah, ke mana 0,1%-nya lagi tolerir terhadap itikadnya Wahabiyah tuh nyuruh belajar sama siapa itu ee Abdul Qadir Jawas misalkan ya, suruh belajar kepada wahabi-wahabi itu ee Adi Hidayat tuh. Makanya lah kok ini ahlusunah wal jamaah tapi kok tolerir di dalam usul itu kan enggak bisa. Kemudian Quraisyha misalkan bukan di dalam anaknya tidak berkerudung karena anaknya bermaksiat tidak menjadikan bapaknya sesat. Quraisyab itu dituding sesat. Kenapa? karena dia membolehkan orang tidak berkerudung itu membolehkannya. Nah, jadi ya si Gurgem ini menyebutkan kasus-kasus yang terjadi di masyarakat pun itu tidak teliti di dalam
12:18 menyebutkannya. Yang menuding sesatnya itu siapa? Yang dituding sesatnya itu apa, dia pun dituding sesat karena apa. Itu pun harus presisi kalau mau memberikan edukasi kepada masyarakat. Jadi sekali lagi saya membuktikan bahwa si Gurgem ini nafsu berbicaranya itu lebih kencang daripada kemampuan berpikirnya. Itu pada orang-orang yang dekat dengan agama. Baraya dan konten YouTube itu ya yang banyak itu yang ngaku ustaz, yang ngaku santri, yang ngaku ah banyak sekali di Indonesia. Nah, isinya itu ajakan untuk ngajak melakukan hal yang baik bukan bukan untuk menjauhi kemaksiatan bukan. Tapi nah kelompok itulah yang sesat dan menyesatkan. Orang
13:04 ini telah kafir, orang ini dan sebagainya. Om Salafi tahu apa? Wah, yang nganu mah selalu seperti ini dan sebagainya. Jadi mereka itu bukan fokus pada kemaksiatan, bukan fokus pada kebajikan, bukan fokus pada nilai-nilai agama, tapi penafsiran kelompok mereka pada agama. Jadi benar dan salah bukan terkait dengan kemaksiatan, bukan terkait pada dosa, tapi terkait pada pemikiran. seseorang. Oke, ini gurgem ya. Kamu tuh belajar agama yang benar. Jadi begini dulu ya. Saya mau apa? Melepaskan dulu pola pikir Aswajanya dulu nih ya. Saya mau berbicara dulu sebagai seorang mukmin yang sedikit banyak memahami setiap
13:50 firqah yang ada. Nih perkataan para ulama setiap firkah yang ada. Si Gurgem itu mengatakan bahwa yang fokus yang difokuskan oleh para kelompok-kelompok itu begitu ya yang dekat dengan ustaz-ustaz itu bukan kemaksiatan tetapi adalah pemikiran. Si Gurgem ini enggak tahu bahwa kemaksiatan yang terbesar itu adalah kesalahan di dalam berpikir. Kesalahannya bukan berpikirnya. Makanya kita ini memiliki ya Aswaja nih. Aswaja ini memiliki sekumpulan format di dalam berpikir supaya kita itu tidak salah di dalam berpikir namanya ilmu mantik. Karena kalau kam salah di dalam berpikir apalagi mengenai usuluddin, mengenai asas-asas pokok-pokok di dalam agama,
14:35 itu adalah dosa terbesar. Yang menjadikan kita berbeda dengan agama yang lain. Itu adalah iktikad. Yang menjadikan kita berbeda dengan firkah yang lain itu pula iktikad. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam itu mengatakan, "Iya, kepada yang Islam tapi masih dukung gurgem ni." Rasulullah sallallahu alaihi wasallam itu mengatakan bahwa umat Rasulullah itu akan terpecah menjadi sekian dan sekian 70 sekian ee apa? Firqah yang selamat itu cuman satu. Nah, dari Islam ini kan pada akhirnya ada kelompok-kelompok yang berbeda. Memang begitu keadaannya. Kelompok-kelompok yang berbeda itu tidak dilihat dari bendera sebetulnya, tapi dilihat dari pencabangan berpikir. Nah, pencabangan berpikir ini mereka pasti menyalahkan satu dengan yang lain. Karena Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengatakan semuanya di neraka kecuali satu. Nah, dan setiap firkah ini
15:21 mengaku yang satu. Di situlah terjadi dialektika berpikir karena sayangnya kepada masyarakat. Jadi kalau misalkan Khalid Basalamah ya itu menyalahkan NU, NU menyalahkan Wahabi, kemudian Syiah menyalahkan Ahlusunah wal Jamaah, Aswaja menyalahkan Syiah. Itu karena rasa sayang yang ada pada diri mereka. Khalid Basalamah itu tatkala melarang orang untuk ee apa namanya? ziarah kubur misalkan itu karena sayang. Karena dalam pikirannya ziarah kubur itu memusyrikkan. Dalam pikirannya Syekh Khalid Basalamah ini. Kemudian kalau misalkan orang-orang Syiah nih ya tatkala mengatakan bahwa Aswaja itu sesat itu karena sayang kepada Aswaja itu ya bukan karena benci bukan karena sayang dan seharusnya memang seperti itu. Kenapa? Karena mereka melihat misalkan di dalam Aswaajah ini ada
16:07 pengingkaran terhadap imam mereka dan itu adalah usul bagi mereka. Kita nih Asyairah Maturidiyah tatkala melihat Wahabi mengatakan Allah di Arasy. Kita ini kasihan kepada mereka. Karena kalau mereka itu mati dalam keadaan seperti itu tadi annasun yamun waid matu intabahu. Manusia itu tidur. Kalau dia sudah mati baru sadar. Kalau wahabi-wahabi itu mati mereka baru sadar bahwa mereka itu ada di dalam kesalahan yang besar. Dan itu adalah maksiat yang tidak ada ujungnya dalam pengertian kalau kamu zina seminggu sekali, kamu dosa zinanya seminggu sekali. Itu pun kalau seminggu sekali kamu berzin hanya 3 jam, berarti kamu cuma 3 jam dosanya. Ya, kalau ke sananya selesai, ya sudah selesai, enggak ada dosanya, dituliskan lagi begitu. Kecuali nanti permasalahan tobatnya. Itu permasalahan lain ya. Kita berbicara dalam satu permasalahan. Kalau musyrik ya ee salah di dalam iktikad,
16:54 salah di dalam akidah itu dari kamu bangun sampai kamu kamu bangun kamu tidur lagi, bangun tidur sampai tidur lagi, itu dosa terus-menerus tuh kocoran dosa yang tidak berhenti. Makanya proposnya si Gurgem ini yang mengatakan bahwa yang dibahas oleh para kelompok-kelompok ini bukanlah kemaksiatan, tetapi adalah berpikir loh. Kesalahan berpikir itu adalah kemaksiatan yang paling besar. Dan kalau dia mengajukan udah jangan membahas seperti itu. Kita bersatu saja sebagai umat muslim. Salah. Karena dia sudah membiarkan kemaksiatan yang paling besar. Terlepas dari terlepas dulu begitu dari siapa yang benar di antara kelompok-kelompok yang saling menyalahkan ini. Nah, permasalahannya kalau di kita itu dialektikanya ini
17:39 tidak dibangun secara dewasa. Ya, bagaimana demokrasi saja yang ee menjadi landasan negara itu tidak diberjalankan dengan baik. Jangankan oleh para ahli agama, oleh politikus pun tidak diberjalankan dengan baik. Jadi permasalahannya kompleks. Si Gus si siapa? Si Gurgem ini jangan melihat dangkal. Jadi penglihatannya itu dangkal sekali. Tatkala satu firqah itu menyalahkan firqah yang lain ya dalam hal ini ya seperti tadi disebutkan Khalid Basalamah disalahkan sama Adi Hidayat dan sebaliknya misalkan atau NU menyalahkan Syiah dan sebaliknya itu dilihat itu adalah permasalahan yang ee membuat perpecahan. permasalahan yang merugikan keberadaan negara. Padahal yang menjadi permasalahan terdalamnya itu orang-orang ini dan yang
18:26 mengikutinya itu belum bisa berpikir dewasa di dalam apa? Di dalam demokrasi, di dalam menyikapi perbedaan di dalam berpikir. Itu sebetulnya yang menjadi permasalahannya itu bukan perbedaannya. Karena perbedaannya ini diakomodir oleh syariat. Justru itu saya katakan sekali lagi dosa terbesar yang bisa dilakukan oleh manusia itu apa? Kemusyrikan. Kemusyrikan itu dari mana perbuatannya? Dari pemikiran, bukan dari perbuatan. Baraya orang Syiah bisa diusir dari kampung halamannya. Walaupun baraya sama sekali tidak melakukan tindakan jahat. Tapi kalau baraya maling besi di Madura itu baraya masih ditolelir sama masyarakat. He gitu. Nah, kenapa bisa kenapa bisa seperti itu? Kenapa ada fenomena aneh yang seperti itu? Ya, karena sudah
19:13 sering saya paparkan bahwa orang-orang di seluruh dunia Islam khususnya di Indonesia sekarang mereka tuh punya penyakit asabiah. Penyakit ini adalah penyakit yang paling dibenci dan salah satu dosa paling besar dalam ruang lingkup Islam yaitu fanatik golongan. Mereka marah karena golongan. Mereka berbakti karena golongan bukan karena agama. Bukan karena nilai-nilai kebajikan, bukan karena n-nilai moral. Seperti yang dijelaskan kemarin-kemarin itu ketika ada korupsi haji semuanya diam-diam saja karena korupsi. Ketika ada aksi terorisme semuanya diam-diam saja karena terorisme. Ketika ada pencabulan, ada penyimpangan seksual, semuanya bungkam, semuanya diam. Tapi bagian kelompoknya di tuding itu marahnya bisa sampai menggeruduk
20:00 instansi media yang sangat besar. Sebentar ya. Kalau misalkan dikatakan di Madura itu nyolong besi dibiarkan. Tapi kalau Syiah diusir ini permasalahannya bukan permasalahan dekat dengan ulama. Ini kan sedang membicarakan masalah dekat dengan ulama tuh. Ini permasalahannya bukan bukan di situ. Ini permasalahannya di dalam ketidakdewasaan. Di dalam menyikapi perbedaan. Jadi perbedaan itu sebagaimana dia itu berbeda itu harus ada perbedaan itu dan harus ditonjolkan. Kalau kita memang bineka tunggal ika sebagai bernegara atau kita ini memang berdaulat sebagai sebuah agama itu harus harus harus ditonjolkan tuh perbedaan itu. Dan menyikapi perbedaannya harus dewasa. Di situlah permasalahannya jangan jadi disalahkan
20:46 kepada dekat kepada ulama. Guru gembul ya banyak orang yang mengatakan jangan panggil guru. Ah dia pengin dipanggilnya seperti itu ya. Dia menghinakan diri sendiriah ya. Kalau misalkan ada guru-guru yang tidak apa yang merasa dinistakan sama si gurgem itu ya silakan datangi si gurgemnya itu. Nah, kemudian ya ee apa namanya? Asobiyah tadi. Asobiyah nih asobiyah itu dari atau dalam suatu permasalahan tertentu itu dianjurkan asobiyah itu. Jadi asabiyah adalah dosa terbesar. Oke, berarti kita kan masuk ke dalam permasalahan yang lain ya. Apakah kita setuju memang apakah memang betul ashabiyah ini adalah dosa yang paling besar? Bukan dosa paling besar itu
21:32 musyrik. Makanya musyrik itu kalau dibawa mati enggak ada tobatnya tuh. Kamu enggak bisa dalam pengertian enggak ada tobatnya itu enggak bakalan diampuni. Kalau kamu mati nauzubillah minzalik dalam membawa kemusyrikan itu enggak bakalan keluar dari api neraka. Itu sudah kenyataannya demikian. Kamu mau percaya, kamu mau tidak percaya. Nah, asabiyah ini dia ada yang muharamah, ada yang diharamkan. Ada. Tapi ada asobiyah juga yang dianjurkan. Asobiyah yang dianjurkan begini. Selama kamu beragama, kamu itu pasti punya asabiah. Kalau kamu tidak, kalau kamu beragama kamu tidak punya asabiyah, ya kamu tidak beragama dari awal. Kalau kamu muslim, kamu itu harus melihat bahwa Islam itu yang paling baik. Semua agama itu tidak ada yang sama dengan Islam. Semuanya salah. Islamlah yang benar. Kemudian kalau sudah kamu sudah masuk Islam, di Islam itu kan ada kelompok-kelompoknya tuh, ada
22:18 mazhab-mazhabnya. Ya, setiap orang yang menganut mazhab itu harus mengakui, harus mengiktikadi bahwa mazhab yang dianutnya itu adalah mazhab yang terbaik. Harus demikian itu asabiyah tuh mana asabiyah yang haram yang tidak boleh. Asobiyah yang haram itu tatkala ada perbedaan di dalam masalah yang furu yang dalil-dalilnya zonniat, kemudian kita menganggap itu adalah perbedaan yang usuli, perbedaan yang prinsipil. Padahal itu perbedaan yang tidak prinsipil. Itulah fanatisme yang diharamkan. Nah, apakah si gurgam ini mengetahui pembagian asabiah itu? Enggak tahu dia itu ya. Enggak tahu pembagian itu. Harus ada. Karena kalau tidak ada asobiyah, tidak akan ada agama dari awal. Itu
23:05 kemudian ya kalau mengatakan tadi nih kemaksiatan. Coba lihat saya mau ngasih tahu saja ee di dalam Sahih Muslim itu beberapa hadis awal yang menjadi permasalahan itu permasalahan apa? Permasalahan iktikad. Itu kan masyhur hadisnya. Tatkala Ibnu Umar didatangi oleh dua orang tabiin yang mana dua orang tabiin itu mengadukan ada qadariah tuh kepada Ibnu Umar. Ada qadariah. Ee ya Ibnu Umar, ada orang nih di kampung saya namanya anu dan anu. Dia itu punya iktikad bahwa perbuatannya itu unuf. Bahwa perbuatannya itu dibuat sendiri oleh dia tanpa campur tangan Allah subhanahu wa taala. Dalam pengertian itu bukan dibuat oleh Allah tapi adalah perbuatan kita sendiri. Ya, bagaimana kata Ibnu Umar? Bagaimana? Ana barium minhum wahum bariun minna atau minni ya
23:52 atau bariun minhu. Begitu. Saya ini berlepas diri dari orang itu dan orang itu berlepas diri dari saya. Andai kata dia itu orang yang punya iktikad seperti itu memiliki gunung, memiliki emas sebesar atau sebanyak gunung, kemudian dia sedekahkan di jalan Allah, maka tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa taala. Ini maknanya apa? Menurut sebagian ulama ya, orang itu kafir. Karena apa? Karena iktikad. Bukan karena maksiat umum. Bukan. Bukan karena mabuk, bukan karena zina, bukan karena mencuri, bukan. Makanya bagi orang-orang yang awam itu maksiat-maksiat yang halnya itu perbuatan semua dilakukan itu lebih baik daripada dia terjun ke dalam permasalahan iktikad, dalam permasalahan aqaid. Karena ini khatrun adzim. Karena
24:39 ini adalah apa namanya? ee kekhawatiran yang sangat besar yang mana apalagi kalau zaman sekarang kamu itu tidak akan sadar bahwa kamu itu sesat sebelum kamu mati. Kalau kamu tidak berpikir itu ya termasuk guru gembul ini, termasuk orang-orang yang mengikuti guru gembul ini kan pada akhirnya kasihan ya kok sebodoh ini orang itu ya kok sebodoh guru gembul ini. Jadi kebodohannya itu sudah apa ya murakab di atas murakab di atas murakab di atas murakab. Coba kalau dia dari awal cuma berhenti di dalam satu proposisi begitu ya, tidak masuk ke dalam proposisi yang lain, masuk lagi ke dalam proposisi yang lain. Ini kan setiap proposisi yang dibangun itu dia dibatable tuh. Dan kalau si guru gembul yang ngomong, yang diomongkan sama si guru gembul ini, ini bukan debatable, itu salah. Ya, kemudian dari kesalahan itu dibangunlah argumen yang lain atau
25:25 ya tambah salah lagi kan. Kasihan ya, kasihan. Semua kemaksiatan tolelir. Tapi kalau pemikirannya berbeda dengan kelompoknya, itu kriminal yang bahkan bisa mendorong seseorang melakukan pembunuhan, fitnah, persekusi kepada pihak yang dianggap menjadi lawannya. Coba beray ingat kasus itu kan karena memang ee apa namanya? Kalau memang itu terjadi ya itu ada dalam ee rangka apa ya ee tahzir begitu ya dan itu diakomodir oleh syariat. Ada dalam rangka kurang paham terhadap agama. Ini permasalahannya kompleks. Enggak bakalan bisa diselesaikan sama seorang ee siapa itu si Gurgem. Enggak bakalan bisa. Yang ma apa yang bisa ditawarkan untuk agama itu?
26:11 Gus Dur. Gus Dur itu pernah dituding sesat dan menyesatkan. Apakah gara-gara beliau korupsi? Bukan. Apakah gara-gara beliau cabulan? Bukan itu. Tapi gara apa? Gara-gara pemikirannya dianggap liberal. Dia buta matanya, dia buta hatinya, dan dia sesat dan menyesatkan. Bukan karena tindakan kriminal, tapi gara-gara dia itu pemikirannya berbeda. Coba baraya cek misalkan ada Ustaz Firanda gitu ya yang suka dakwah ya gitulah. Kenapa dia dianggap sesat dan menyesatkan dalam agama? Apakah dia pernah tersandung kasus korupsi? Tidak. Apakah dia pernah mencabuli santrinya juga tidak. Apakah dia pernah malakin orang juga tidak. Nah, tapi dia dianggap sesat, menyesatkan dan berbahaya itu
26:56 karena pemikirannya berbeda. Oke, sudah kita selesaikan di situ dulu ya. Jadi sekali lagi saya angkat dulu berbicara sebagai Aswaja, sebagai Islam saja nih ya. Posisinya begini. Kalau seseorang itu iktikadnya salah beserta dia itu mengerjakan seluruh kebaikan itu tidak ada kebaikan baginya. Itu menurut siapapun tuh, bukan hanya menurut Aswaja. Tanya Wahabi tuh tanya Wahabi. Wahabi pun demikian iktikadnya. Tinggal nanti permasalahannya yang benar-benar benar itu siapa. Itu masalahnya nanti. Jadi, Ustaz ya yang dia itu penzina, pencuri, pemabuk, tapi iktikadnya benar itu jauh lebih baik daripada ustaz yang iktikadnya salah tapi dia itu saleh ya. Enggak mabuk, gazuni gazina. Itu jauh
27:43 posisinya. Demikian. Orang-orang Wahabi itu bakal begitu. Daripada kamu jadi NU, mending jadi Wahabi tukang mabok. Sama orang NU juga begitu. Daripada kamu jadi Wahabi, mending kamu jadi NU tapi tukang mabok. Sama. Kenapa? Kita angkat dulu posisinya. Karena posisinya kalau dia salah di dalam iktikad, di dalam kenyataannya dia salah, terpas nanti siapa yang benar, n itu adalah perbincangan yang lain. Maka dia itu tidak akan dianggap muslim sama sekali. Indallah di sisi Allah Subhanahu wa taala. Dan itulah yang kita bicarakan dari satu ustaz kepada ustaz yang lain, dari satu alim kepada alim yang lain. Permasalahannya di mana? Permasalahannya di Indonesia ini orang-orang kurang dewasa di dalam menyikapi dialektika itu. Itu permasalahannya. Makanya heran
28:28 kan Wahabi-wahabi itu diajak berdebat enggak mau. Sama kayak si Gurgem ini diajak berdebat enggak mau. Itu adalah ketidakdewasaan di dalam menyikapi perbedaan. Makanya jangan cuman ngomong-ngomong kayak gitu, tapi diajak debat, enggak maulah. Itu mah ketololan begitu ya. Memalukan gurgem. Dan saya harap orang-orang yang ngikut gurgem ini segera tobat. Kalau enggak mau ya enggak apa-apalah udah urusan kalian itu mah. Ya nauzubillah minzalik. Demikian mudah-mudahan Allah subhanahu wa taala memaafkan kita semua. Wallahu taala alam bawab. Asalamualaikum warahmatullahi taala wabarakatuh. Yeah.