Ringkasan Singkat
Video ini membahas sejarah dan asal usul ibadah haji dalam Islam, dimulai dari zaman Nabi Ibrahim dan keluarganya. Beberapa poin penting yang dibahas meliputi:
- Kisah Nabi Ibrahim, istrinya Sarah, dan Hajar di Mesir.
- Kelahiran Nabi Ismail dan Ishak.
- Perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk membawa Hajar dan Ismail ke Mekkah.
- Kisah munculnya air zamzam dan kedatangan suku Jurhum.
- Perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih Nabi Ismail.
- Pembangunan Ka'bah oleh Nabi Ibrahim dan Ismail.
- Panggilan Nabi Ibrahim kepada seluruh umat manusia untuk berhaji.
Kisah Sarah dan Raja Mesir
Nabi Ibrahim memiliki dua istri, Sarah dan Hajar. Sarah, yang sangat cantik dan salehah, menikah dengan Ibrahim hingga usia 60 tahun namun belum dikaruniai anak. Suatu hari, Ibrahim membawa Sarah ke Mesir, yang saat itu diperintah oleh raja zalim yang suka mengambil istri orang. Ibrahim meminta Sarah untuk mengaku sebagai saudarinya jika ditanya, untuk menghindari masalah. Raja Mesir tertarik pada Sarah dan mencoba menyentuhnya, namun setiap kali mencoba, tangannya mengalami stroke karena doa Sarah kepada Allah. Setelah tiga kali percobaan yang gagal dan doa Sarah, raja akhirnya menyerah dan mengusir Sarah dari istananya, bahkan memberinya hadiah seorang budak wanita bernama Hajar (ada juga pendapat yang mengatakan anak perempuannya).
Hajar dan Kelahiran Ismail
Hajar kemudian dibawa ke Palestina dan menjadi pembantu Sarah. Karena Ibrahim ingin memiliki keturunan, Sarah dengan sukarela memberikan Hajar kepada Ibrahim. Ibrahim membebaskan Hajar dari status budaknya dan menikahinya. Setahun kemudian, Hajar melahirkan seorang putra bernama Ismail. Sarah, yang merasa sedih karena belum memiliki anak, berdoa kepada Allah dan akhirnya hamil di usia 62 tahun, melahirkan seorang putra bernama Ishak. Ibrahim kemudian dikenal sebagai Abul Anbiya (bapak para nabi) karena kedua putranya menjadi nabi.
Perintah untuk Meninggalkan Hajar dan Ismail di Mekkah
Setelah kelahiran Ismail, Allah memerintahkan Ibrahim untuk membawa Hajar dan Ismail ke Mekkah, sebuah lembah yang tandus dan tidak berpenghuni. Ibrahim meninggalkan mereka di sana tanpa banyak bicara, hanya dengan sedikit perbekalan. Hajar kebingungan dan bertanya mengapa Ibrahim meninggalkan mereka di tempat yang tidak ada kehidupan. Ibrahim hanya bisa meneteskan air mata dan terus berjalan. Setelah Hajar bertanya apakah ini perintah Allah, dan Ibrahim mengiyakan, Hajar menerima dengan keyakinan bahwa Allah tidak akan membiarkan mereka mati.
Kisah Air Zamzam dan Suku Jurhum
Setelah Ibrahim pergi, Hajar mencari air antara Bukit Safa dan Marwa sebanyak tujuh kali. Kemudian, Allah memunculkan mata air zamzam di dekat kaki Ismail yang sedang menangis. Hajar membuat bendungan kecil di sekitar mata air tersebut sambil mengucapkan "Zamzam" (berkumpullah). Pada saat yang sama, suku-suku Arab dari Yaman keluar karena bendungan Ma'rib hancur. Mereka melihat burung berputar-putar di atas Lembah Mekkah dan menemukan Hajar dan Ismail di dekat mata air zamzam. Suku Jurhum meminta izin untuk tinggal di sana dan membentuk komunitas, yang kemudian menjadi cikal bakal kota Mekkah.
Ismail Menikah dan Kunjungan Ibrahim
Ismail tumbuh besar di tengah-tengah suku Jurhum dan belajar bahasa Arab dari mereka. Dia kemudian menikah dengan seorang wanita dari suku Jurhum. Ibrahim datang mengunjungi Ismail, tetapi Ismail sedang berburu. Ibrahim bertanya kepada istri Ismail tentang kehidupan mereka, dan istri Ismail mengeluh tentang kesulitan hidup. Ibrahim berpesan agar Ismail mengganti "tiang pintu rumahnya" (menceraikan istrinya). Setelah beberapa waktu, Ismail menikah lagi dengan wanita lain dari suku Jurhum. Ketika Ibrahim datang lagi, istri Ismail yang baru selalu memuji Allah dan bersyukur atas nikmat-Nya. Ibrahim berpesan agar Ismail mempertahankan "tiang pintu rumahnya" (mempertahankan istrinya).
Perintah Menyembelih Ismail dan Pembangunan Ka'bah
Setelah itu, Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih Ismail melalui mimpi. Ibrahim memberitahu Ismail tentang mimpinya, dan Ismail dengan sabar menerima perintah Allah. Mereka berdua pergi ke Mina, dan ketika Ibrahim hendak menyembelih Ismail, Allah menggantinya dengan seekor domba. Setelah itu, Ibrahim dan Ismail diperintahkan untuk membangun Ka'bah di atas fondasi yang sudah ada sejak zaman Nabi Adam. Setiap kali Ibrahim mundur untuk melihat posisi Ka'bah, dia berdiri di sebuah tempat yang agak tinggi Lalu pada saat beliau turun beliau sempat loncat ke bawah loncatan Nabi Ibrahim Alaihi Salam dari tempat tinggi itu yang melihat apakah sudah rata bangunan ka'abah atau belum ke bawah itu ke injak tanah dan sempat ada bekas telapa kakinya yang sekarang dikenal dengan makam Ibrahim. Ismail kemudian membawa Hajar Aswad, yang tadinya putih terang namun menjadi hitam karena dosa anak Adam, dan meletakkannya di Ka'bah.
Panggilan untuk Berhaji
Setelah Ka'bah selesai dibangun, Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyeru seluruh umat manusia untuk berhaji. Ibrahim merasa suaranya tidak akan sampai ke seluruh dunia, tetapi Allah menjamin bahwa seruannya akan didengar oleh semua orang beriman. Ibrahim kemudian naik ke gunung tertinggi di Mekkah dan menyeru umat manusia untuk berhaji. Suara Ibrahim dibawa oleh angin ke seluruh pelosok bumi, dan semua orang beriman mendengar dan datang untuk berhaji. Rangkaian peristiwa yang dilakukan oleh Ibrahim dan keluarganya kemudian menjadi bagian dari ibadah haji.

