KISAH SEDIH Kehidupan Nabi Muhammad Sejak Lahir sampai Wafat Yang Jarang Orang Tahu | Kisah Islami

KISAH SEDIH Kehidupan Nabi Muhammad Sejak Lahir sampai Wafat Yang Jarang Orang Tahu | Kisah Islami

Ringkasan Singkat

Video ini menceritakan kisah hidup Nabi Muhammad SAW, mulai dari sebelum kelahirannya hingga tahun-tahun awal kenabiannya. Beberapa poin penting yang dibahas meliputi:

  • Kondisi masyarakat Arab sebelum kelahiran Nabi yang penuh dengan kemusyrikan dan kerusakan moral.
  • Kelahiran dan masa kecil Nabi Muhammad SAW, termasuk peristiwa pembelahan dada.
  • Pernikahan Nabi dengan Khadijah dan bagaimana Khadijah mendukung dakwah Nabi.
  • Reaksi kaum Quraisy terhadap dakwah Nabi, mulai dari penolakan hingga penyiksaan dan pemboikotan.
  • Hijrah pertama kaum muslimin ke Habasyah.
  • Masuk Islamnya Hamzah dan Umar bin Khattab yang memperkuat posisi kaum muslimin.
  • Peristiwa Isra Mikraj.

Pengantar

Video ini akan membahas kehidupan Nabi Muhammad SAW sejak sebelum kelahirannya hingga wafatnya, dengan fokus pada akhlak mulia beliau yang dipuji oleh Allah SWT.

Kondisi Masyarakat Arab Sebelum Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Mayoritas bangsa Arab mengikuti agama Nabi Ibrahim AS, yaitu ajaran tauhid. Namun, seiring waktu, mereka mulai melalaikan ajaran tersebut dan menyembah berhala. Amr bin Luhai dari suku Khuzaah membawa berhala Hubal dari Syam dan meletakkannya di Ka'bah, sehingga penyembahan berhala menyebar luas. Kehidupan sosial masyarakat Arab berkelas-kelas dan penuh persaingan antar suku. Perlakuan terhadap wanita sangat zalim, poligami tidak terbatas, dan perzinahan dianggap biasa. Perjudian dan minuman keras lumrah dilakukan. Kemiskinan mewarnai kehidupan masyarakat, dan praktik kecurangan dalam berdagang dianggap biasa.

Kelahiran dan Masa Kecil Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin, 12 Rabiul Awal tahun Gajah (571 M) dari suku Quraisy, Bani Hasyim. Ayahnya meninggal ketika ibunya mengandung dua bulan. Setelah lahir, beliau disusui oleh ibunya dan Suwaibah, budak Abu Lahab. Kemudian, beliau disusui oleh Halimah As-Sa'diyah di perkampungan Bani Saad selama lima tahun. Pada usia lima tahun, terjadi peristiwa pembelahan dada (syakus shodr) oleh Malaikat Jibril. Setelah itu, Halimah mengembalikan Muhammad kepada ibunya di Makkah. Pada usia enam tahun, ibunya meninggal di perkampungan Abwa. Kemudian, Muhammad diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib, dan setelah kakeknya meninggal pada usia delapan tahun, beliau diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.

Masa Remaja dan Pernikahan Nabi Muhammad SAW

Pada usia 12 tahun, Abu Thalib mengajak Muhammad berdagang ke Syam. Di Busra, mereka bertemu dengan pendeta Buhairah yang meramalkan kenabian Muhammad. Pada usia 15 tahun, Muhammad ikut serta dalam peperangan Fijar. Beliau juga menyaksikan perjanjian Hilful Fudul yang membela orang-orang yang dizalimi. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Muhammad menggembalakan kambing. Pada usia 25 tahun, beliau memulai usaha dagang dengan modal dari Khadijah. Karena kejujuran dan akhlaknya, Khadijah menawarkan Muhammad untuk membawa barang dagangannya ke Syam. Setelah kembali dengan keuntungan berlimpah, Khadijah semakin kagum dan akhirnya melamarnya. Muhammad menikah dengan Khadijah pada usia 25 tahun, sedangkan Khadijah berusia 40 tahun.

Perbaikan Ka'bah dan Kepribadian Nabi Muhammad SAW

Pada usia 35 tahun, kaum Quraisy sepakat untuk memugar Ka'bah. Ketika pembangunan sampai pada posisi Hajar Aswad, terjadi pertikaian tentang siapa yang berhak meletakkannya. Muhammad memberikan solusi dengan meminta setiap suku mengangkat ujung kain, lalu beliau sendiri yang meletakkan Hajar Aswad. Sejak awal, Allah telah menyiapkan Muhammad untuk menanggung misi besar. Beliau tidak larut dalam kerusakan masyarakat, tetapi menampilkan kepribadian yang menarik dan diakui oleh semua lapisan masyarakat. Beliau tidak suka menyembah berhala dan lebih suka menyendiri untuk merenungi kebesaran alam.

Pengangkatan Menjadi Nabi dan Wahyu Pertama

Menjelang usia 40 tahun, Muhammad suka menyendiri di Gua Hira untuk beribadah dan merenungi kebesaran Allah. Pada hari Senin, 21 Ramadan, saat berusia 40 tahun, beliau diangkat menjadi nabi. Malaikat Jibril datang dan memeluknya sebanyak tiga kali sambil berkata, "Iqra, bacalah." Kemudian, Jibril membacakan Quran surah Al-Alaq ayat 1-5. Setelah itu, Muhammad kembali ke rumahnya dengan badan bergemetar dan menceritakan kejadian itu kepada Khadijah. Khadijah menenangkan dan membawanya ke Waraqah bin Naufal yang membenarkan bahwa Muhammad adalah nabi bagi umat ini.

Dakwah Secara Sembunyi-Sembunyi

Setelah turunnya wahyu pertama, beberapa hari tidak ada wahyu selanjutnya. Kemudian, wahyu kedua turun, yaitu surah Al-Mudassir yang memerintahkan untuk memberi peringatan dan mengagungkan Allah. Fase pertama dakwah Islam dilakukan secara sembunyi-sembunyi selama tiga tahun. Orang-orang pertama yang menerima dakwah adalah Khadijah, Zaid bin Haritah, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Bakar As-Siddiq. Abu Bakar kemudian mengajak Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqas, dan Thalha bin Ubaidillah untuk masuk Islam. Mereka melakukan salat dua rakaat setiap pagi dan petang secara sembunyi-sembunyi.

Dakwah Secara Terang-Terangan dan Reaksi Kaum Quraisy

Setelah tiga tahun berdakwah secara sembunyi-sembunyi, turunlah perintah untuk berdakwah secara terang-terangan. Rasulullah mengumpulkan keluarganya dari Bani Hasyim dan menyampaikan misinya. Kemudian, beliau mendaki Bukit Safa dan berseru kepada masyarakat Makkah. Abu Lahab menentang dakwah Rasulullah. Kemudian turunlah Quran surah Al-Hijr ayat 94 yang memerintahkan untuk menyampaikan dakwah secara terang-terangan dan berpaling dari orang-orang musyrik. Hal ini menimbulkan kemarahan masyarakat Arab. Kaum Quraisy berusaha membujuk Abu Thalib untuk mencegah dakwah Rasulullah, tetapi Abu Thalib menolak.

Upaya Kaum Quraisy Menghentikan Dakwah

Kaum Quraisy berkumpul untuk memberikan citra negatif kepada Muhammad menjelang musim haji. Mereka sepakat untuk menjuluki Rasulullah sebagai tukang sihir. Ketika musim haji tiba, mereka berjaga-jaga di setiap jalan masuk ke Makkah untuk memperingatkan orang-orang agar tidak mendengarkan dakwah Rasulullah. Mereka juga mengejek, menghina, menyebarkan isu negatif, dan menawarkan ibadah secara bergantian yang ditolak oleh Allah dengan menurunkan surah Al-Kafirun.

Penyiksaan dan Penindasan Terhadap Kaum Muslimin

Kaum kafir Quraisy menyepakati cara kekerasan terhadap Rasulullah dan para sahabatnya. Tokoh-tokoh seperti Abu Lahab dan Abu Jahal berani mengganggu Rasulullah secara fisik. Penyiksaan dan penindasan kepada kaum lemah lebih keras, seperti yang dialami oleh Utsman bin Affan, Mus'ab bin Umair, Bilal bin Rabbah, Amar bin Yasir, dan kedua orang tuanya. Rasulullah mencegah para sahabat untuk mengumumkan keislaman mereka dan memerintahkan untuk berkumpul secara rahasia di rumah Arqam bin Abi Arqam.

Hijrah ke Habasyah

Tekanan yang semakin keras mendorong kaum muslimin untuk mencari tempat yang aman. Pada bulan Rajab tahun kelima kenabian, rombongan pertama hijrah ke Habasyah (Ethiopia) yang dipimpin oleh Utsman bin Affan dan istrinya, Ruqayyah. Mereka mendapatkan perlindungan dari penguasa Habasyah. Setelah mendapatkan berita hoax bahwa kaum Quraisy telah masuk Islam, mereka kembali ke Makkah. Namun, sebagian kembali ke Habasyah dan sebagian lagi mencari perlindungan di Makkah. Rasulullah kembali mengizinkan para sahabat hijrah ke Habasyah untuk kedua kalinya.

Kegagalan Upaya Kaum Quraisy Membujuk Raja Najasyi

Kaum kafir Quraisy mengutus Amr bin Ash dan Abdullah bin Rabiah ke Habasyah dengan membawa hadiah untuk membujuk Raja Najasyi agar memulangkan kaum muslimin. Namun, berkat kebijakan Raja Najasyi dan kepiawaian Jafar bin Abi Thalib dalam menerangkan hakikat Islam, upaya orang-orang musyrik tersebut gagal total.

Ancaman Terhadap Rasulullah dan Penolakan Tawaran Kaum Quraisy

Kaum Quraisy mengancam Abu Thalib untuk memerangi Rasulullah. Rasulullah dengan tegas mengatakan bahwa beliau tidak akan meninggalkan dakwah ini meskipun diletakkan matahari di tangan kanannya dan bulan di tangan kirinya. Abu Thalib kembali bersemangat melindungi keponakannya. Di lain waktu, mereka menawarkan seorang pemuda gagah untuk diserahkan kepada Abu Thalib sebagai ganti Rasulullah untuk dibunuh, tetapi tawaran itu ditolak.

Upaya Pembunuhan Rasulullah dan Masuk Islamnya Hamzah

Kaum kafir Quraisy memutuskan untuk membunuh Rasulullah. Beberapa riwayat menyebutkan upaya-upaya pembunuhan yang gagal karena Allah selalu melindungi Rasulullah. Salah satunya adalah upaya Abu Jahal yang hendak melemparkan batu kepada Rasulullah saat sujud, tetapi dihalangi oleh seekor unta besar. Hamzah bin Abdul Muthalib masuk Islam setelah mendengar berita perlakuan Abu Jahal yang menganiaya Rasulullah. Hamzah membalas perbuatan Abu Jahal dan menyatakan keislamannya.

Masuk Islamnya Umar bin Khattab

Umar bin Khattab masuk Islam tiga hari setelah masuk Islamnya Hamzah. Sebelumnya, Rasulullah pernah berdoa agar Allah memuliakan Islam dengan salah seorang dari Umar bin Khattab atau Abu Jahal. Umar terkenal sebagai orang yang berwatak keras. Pada suatu hari, Umar berjalan dengan pedang terhunus untuk membunuh Rasulullah, tetapi di tengah perjalanan, ia mendapat kabar bahwa saudara perempuannya dan iparnya telah masuk Islam. Umar mendatangi rumah adiknya dan memukuli mereka. Setelah membaca lembaran Al-Qur'an, Umar tersentuh dan menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah.

Penolakan Tawaran Kaum Quraisy dan Pemboikotan Kaum Muslimin

Setelah Hamzah dan Umar bin Khattab masuk Islam, kaum kafir Quraisy semakin kalangkabut. Mereka mengutus Utbah bin Rabiah untuk menawarkan harta, kekuasaan, dan wanita kepada Rasulullah dengan syarat menghentikan dakwahnya. Rasulullah menolak tawaran tersebut dan membacakan Quran surah Fussilat ayat 1-5. Kaum kafir Quraisy kemudian memboikot Bani Hasyim dan Bani Muthalib dengan melarang pernikahan, jual beli, pergaulan, kunjungan, dan berbicara kepada mereka. Mereka terkurung di perkampungan Abu Thalib selama tiga tahun dan mengalami kelaparan.

Pembatalan Pemboikotan dan Tahun Dukacita

Setelah tiga tahun diboikot, terjadi pembatalan pemboikotan karena pertentangan di kalangan kaum kafir Quraisy sendiri. Rasulullah memberitahu Abu Thalib bahwa Allah telah mengutus rayap untuk memakan lembaran perjanjian boikot tersebut hingga tersisa kalimat zikir dan lafaz-lafaz Allah. Setelah itu, Rasulullah dan kaum muslimin kembali kepada kehidupan semula. Tahun 10 kenabian disebut sebagai Amul Husni atau tahun dukacita karena wafatnya Abu Thalib dan Khadijah.

Pernikahan dengan Saudah dan Perluasan Dakwah ke Thaif

Pada bulan Syawal tahun ke-10 kenabian, Rasulullah menikah dengan Saudah binti Zum'ah. Fase dakwah yang ketiga adalah memperluas dakwah ke luar kota Makkah. Rasulullah didampingi oleh Zaid bin Haritah berangkat menuju Thaif. Namun, penduduk Thaif menolaknya dan mengusirnya. Bahkan, mereka memprovokasi masyarakat awam untuk menyerang dan mencaci maki Rasulullah. Rasulullah kemudian berdoa kepada Allah mengadukan kesedihannya.

Peristiwa di Kebun Anggur dan Kembali ke Makkah

Rasulullah dan Zaid berlindung di sebuah kebun milik Utwah bin Syaibah. Budak mereka yang bernama Adas memberikan setangkai anggur kepada Rasulullah. Setelah mendengar ucapan bismillah, Adas bertanya tentang asal Rasulullah dan kemudian memeluk Islam. Dengan perasaan sedih, Rasulullah kembali menuju Makkah. Allah mengutus malaikat Jibril bersama malaikat penjaga gunung yang siap menunggu perintah Rasulullah untuk membalik kedua gunung di Makkah. Namun, Rasulullah menolak dan berharap Allah mengeluarkan dari tulang rusuk mereka anak-anak dan keturunan yang menyembah Allah.

Dakwah Kepada Setiap Suku dan Pernikahan dengan Aisyah

Pada bulan Zulkaidah tahun ke-10 kenabian, Rasulullah kembali ke Makkah dan bersiap-siap mendakwahkan Islam ke setiap suku dan kepada orang perorang. Dakwah kepada setiap suku mengalami penolakan total, tetapi dakwah kepada perorangan sebagiannya mendapatkan sambutan yang baik. Pada bulan Syawal tahun ke-11 kenabian, Rasulullah menikahi Aisyah radhiallahu anha yang saat itu berusia 6 tahun.

Peristiwa Isra Mikraj

Di tengah kesedihan mendalam dan tekanan dari orang-orang kafir Quraisy, terjadilah peristiwa besar, yaitu peristiwa Isra Mikraj Rasulullah SAW. Peristiwa itu terjadi pada akhir masa keberadaan Rasulullah di Makkah.

Share

Summarize Anything ! Download Summ App

Download on the Apple Store
Get it on Google Play
© 2024 Summ