Kuliah Umum Digital Faith: Praktik, Tantangan, dan Peluang Beragama di Dunia Digital (Sesi Satu)

Ringkasan Singkat

Kuliah umum ini membahas tentang praktik, tantangan, dan peluang beragama di dunia digital. Para narasumber berbagi pandangan mengenai perubahan cara umat beragama berinteraksi dan mengekspresikan keyakinan mereka di era digital, serta pentingnya menjaga identitas budaya dan nilai-nilai agama di tengah perkembangan teknologi.

  • Perubahan praktik keagamaan di era digital.
  • Tantangan dan peluang beragama di dunia digital.
  • Pentingnya menjaga identitas budaya dan nilai-nilai agama.

Pembukaan dan Doa Lintas Agama

Acara dibuka dengan doa lintas agama yang dibawakan oleh perwakilan mahasiswa dari berbagai agama (Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, dan Buddha). Doa ini mencerminkan keberagaman dan inklusivitas di Universitas Satya Tera Bineka.

Sambutan dari Direktur Center for Interfaith and Multicultural Studies

Direktur Center for Interfaith and Multicultural Studies, Bapak Irfan Sarhindi, menyampaikan sambutannya. Beliau menekankan bahwa mata kuliah agama di kampus tersebut dirancang sebagai mata kuliah lintas agama yang fokus pada aspek sosial dan kultural, serta merayakan perbedaan sebagai kekayaan. Perkembangan digital dapat menjadi ruang perjumpaan dan dialog antar agama, tetapi juga ruang kontestasi narasi keagamaan yang konfliktual. Oleh karena itu, diperlukan kedewasaan dan kematangan dalam merespon dinamika tersebut.

Perkenalan Narasumber

Moderator memperkenalkan para narasumber: Dr. Abdullah Hamid (pakar teknologi pendidikan), Romo Antonio Suhardi Antara, dan Bapak Maniur Banjarnahor (pendidik agama Kristen). Latar belakang dan pengalaman para narasumber diharapkan dapat memberikan wawasan yang mendalam tentang tema kuliah umum.

Perubahan Praktik Keagamaan di Era Digital

Moderator membuka diskusi dengan pertanyaan mengenai perubahan cara umat menjalankan praktik keagamaan sejak hadirnya ruang digital.

Pandangan Dr. Abdullah Hamid

Dr. Abdullah Hamid memulai dengan cerita tentang pengalamannya sebagai instruktur moderasi beragama di Bali, di mana ia menghadapi peserta Katolik di tempat yang mayoritas Hindu. Ia menekankan pentingnya mengikuti perubahan zaman dan mencontoh tokoh seperti Gus Dur yang menjunjung tinggi kemanusiaan di atas agama. Hukum agama dapat berubah sesuai konteks, sehingga tokoh agama harus adaptif terhadap perubahan.

Pandangan Romo Antonio Suhardi Antara

Romo Antonio Suhardi Antara menyampaikan bahwa Gereja Katolik menyadari kekuatan media digital sebagai ladang misi baru. Pandemi COVID-19 semakin menyadarkan kebutuhan akan dunia digital, termasuk dalam pelaksanaan ibadah secara online. Ia juga berbagi pengalaman tentang acara kebersamaan dengan tokoh-tokoh agama lain, seperti Habib Jafar dan Pendeta Marcel, untuk membangun kebersamaan dan persaudaraan.

Pandangan Bapak Maniur Banjarnahor

Bapak Maniur Banjarnahor menekankan bahwa dunia pasti berubah seiring perkembangan teknologi. Dalam konteks iman Kristen, gereja bukan hanya tentang gedung atau tempat, tetapi tentang komunitas orang-orang yang percaya kepada Yesus. COVID-19 mengubah paradigma bahwa membangun iman tidak harus selalu di satu tempat, tetapi harus selaras dengan perkembangan teknologi. Ia juga menyoroti pentingnya kedewasaan dalam memanfaatkan teknologi dan membangun kebersamaan antar umat beragama.

Sesi Tanya Jawab

Sesi tanya jawab dibuka untuk mahasiswa.

Pertanyaan Selni Sembiring kepada Bapak Maniur

Selni bertanya tentang bagaimana identitas budaya atau lokal etnis agama dipresentasikan dan dibentuk di ruang virtual yang global. Bapak Maniur menjawab bahwa ruang virtual seringkali menjadi pengikis nilai-nilai budaya, sehingga penting untuk tetap mempertahankan identitas dan norma-norma budaya di ruang virtual.

Pertanyaan Delia Amanda kepada Romo Antonio

Delia bertanya tentang hubungan antara kecanduan HP dengan digital faith, dan bagaimana iman bisa tetap hidup di tengah kebiasaan mengutamakan HP daripada membaca Alkitab. Romo Antonio menjawab bahwa kecanduan layar adalah tantangan dari digital faith. Teknologi harus menjadi sarana untuk mengembangkan iman, bukan tujuan. Ia menekankan pentingnya menggunakan teknologi sesuai dengan maksud dan tujuannya, serta melihat buah dari apa yang kita pakai.

Pertanyaan Nurhilal kepada Dr. Abdullah Hamid

Nurhilal bertanya tentang tanggapan terhadap Habib Jafar yang sering menggunakan guyonan dalam dakwahnya. Dr. Abdullah Hamid menjelaskan bahwa Habib Jafar menggunakan guyonan agar tidak sepaneng terkait tentang agama. Dalam Islam, tidak diperbolehkan memaksa dalam memasukkan agama Islam. Strategi dakwah Habib Jafar meniru strategi dakwahnya Gus Dur dengan beragama dengan asyik.

Closing Statement

Para narasumber memberikan closing statement.

  • Bapak Maniur: Mempergunakan digitalisasi untuk mengembangkan diri, relasi, dan pertumbuhan keyakinan, serta membangun kebersamaan antar anak bangsa.
  • Romo Antonio: Menggunakan teknologi sebagai berkat, bukan batu sandungan, dan menjadikan dunia digital sebagai tempat pewartaan yang mewartakan hal-hal yang baik.
  • Dr. Abdullah Hamid: Untuk iman, kita harus kuat seperti akar, tapi untuk teknologi, kita harus menjulang tinggi.

Penutup

Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan ucapan terima kasih kepada para narasumber dan peserta.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Shalom. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan. Salam sejahtera untuk kita semuanya. Puji syukur kepada Tuhan yang maha esa karena pada hari ini kita diberikan kesehatan, kelapangan waktu sehingga kita dapat melakukan kuliah umum dengan tema digital faith, praktik tantangan dan peluang beragama di dunia digital. Yang kami hormati pada hari ini bergabung bersama kita seluruhnya ada narasumber kita ee ada Bapak Dr. Abdullah Hamid, M.Pd. Asalamualaikum, Pak. Terima kasih sudah berkenan hadir pada kegiatan kuliah umum pada hari ini.

0:45 Kemudian ada Bapak Maniur Banjarnahor, M.Pdk. Oke, selamat siang, Bapak. terima kasih sudah bergabung menjadi narasumber kami pada kuliah umum siang ini. Dan ada juga Romo Antonio Suhardi. Selamat siang Romo. Terima kasih Romo atas waktunya. I selamat siang semuanya. Selamat siang. Dan yang kami hormati di sini ada Bapak Irfan, kemudian Bapak Zainuddin Abdu Hamid, dan kemudian para dosen Pak Josua dan Bu Ernida selaku dosen keberagamaan di Universitas Satya Tera Bineka. Baik, untuk membuka kegiatan pada hari

1:32 ini ada baiknya kita awali dulu dengan doa. Nah, jadi dalam kegiatan di Universitas Terabineka ini Bapak-bapak biasanya kami diawali dulu dalam pembelajaran itu doa lintas agama. Karena ee kampus STBINEK ini kampus yang multikultural, kampus yang inklusif sehingga latar belakang suku, agama dan ras ada di dalamnya. Jadi sebelum belajar kami biasanya berdoa terlebih dahulu. Nah, baik. Ee doa lintas agama akan dibawakan oleh masing-masing mahasiswa kami yang sudah kami pilih. Boleh bantuannya kepada Pak Jo untuk

2:18 mahasiswa kita yang membawakan doa. Doa agama Islam akan dibawakan oleh Askal. Doa agama Kristen Protestan akan dibawakan oleh David. Kemudian agama Katolik akan dibawakan oleh Viona, agama Hindu akan dibawakan oleh Adityya, serta agama Buddha akan dibawakan oleh Nicholas. Apa? Baik, kita mulai. sesuai dengan urutan yang dibuat oleh Bu Ernida. Pertama, Askal, David, Viona,

3:04 Ncolas, dan Adity. Silakan, Askal. Askal, izinkan saya membawakan doa dalam agama Islam. Auzubillahiminasyaitanirrajim. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahiabbilamin. Wasalatu wassalamu ala asrofilyaai wal mursalin wa ala alihi wasohbihi ajmain. Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.

3:49 Allahumma inna nas'aluka salamatan fiddinina wafiatan fil jasadina waadatan fi ilmina wa barokatan fi rizqina taubatan qoblal maut warahmatanal maut wafiratan ba'dal maut allahumma hawin ala fiqil maut minal khirin. Rabbana fid dunya hasanah wafil akirati hasanatan waqinaabanar

4:34 wasallallahu wasallam alaihi walhamdulillahiabbil alamin. Doa dalam agama Kristen Protestan David. Saya akan membawakan doa dalam agama Kristen Protestan. Mari kita bersatu di dalam doa. Allah Bapa, sumber hikmat dan kebenaran, kami bersyukur atas terselenggaranya kuliah umum mata kuliah keberagaan aman ini sebagai ruang akademik untuk memahami iman, nilai, dan kemanusiaan kami. Kami mengingat Yesus Kristus sang firman menjadi teladan pemahaman yang mengajarkan bahwa kebenaran tidak hanya dipelajari, tetapi juga dihidupi dengan kasih. Kiranya melalui tuntutan Roh

5:21 Kudus, setiap proses berpikir kami berdiskusi dan bertanya dalam kuliah umum ini diterangi dalam kebijaksanaan dan kejujuran intelektual. Kami mohon kepada-Mu Tuhan agar narasumber diberi kejernihan dalam menyampaikan pemikiran sehingga seluruh peserta diberikan keterbukaan hati, ketajaman akal budi. Kami menyerahkan seluruh kegiatan rangkaian ini ke dalam penyertaan-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa dan mengucap syukur. Amin. Doa dalam agama Kristen Katolik Viona. Baik, marilah kita bersatu dalam doa dalam Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin. Bapa, terima kasih banyak atas segala berkat dan karunia-Mu. Karena berkat-Mu

6:09 Kau telah mengumpulkan kami dari rumah ini dengan keselamatan satu apun. Bapa saat ini kami ingin melaksanakan kuliah tamu kami ya Bapa. Kiranya Kaulah yang melancarkan kuliah tamu kami dari awal hingga akhir. Dan kiranya ilmu-ilmu yang kami dapatkan dari kuliah tamu ini bisa kami terapkan di kehidupan kami sehari-hari. Inilah doa kami ya Bapa dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu Tuhan dan Juru Selamat kami. Amin. Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin. Dalam agama Buddha Ncolas saya akan membawakan doa agama Buddha. Namo tasa bhaga arahato samma sangbuddasa.

6:55 Namo tasa bhawato arahato samang buddasa. Namo tasa bhagawato arahato samma sang buddasa sabisat. Semoga semua perut berbahagia. Sadu. Sadu. Sadu. Doa agama Hindu. Aditya. Izinkan saya membawakan doa dalam agama Hindu. Om. Maha. Oh, Om Burhuwahasa.

7:45 devasah prચોat omurbwaha tatiturvaryam bharg devasyaahi yo pradaya omur bhuvah tatsvaryam bg devasahi prchodayat om shanti syanti syanti

8:35 baik terima kasih kepada adik-adik yang telah membawakan doa lintas agama acara selanjutnya nya adalah kata sambutan dari Directur Center for Interfa Multiculture Studies oleh Bapak Irfan Sarhindi. Kepada Bapak waktu dan tempat dipersilakan. Iya, terima kasih banyak Bu Asuti. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Shalom. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan. Selamat siang untuk kita semua. Yang saya hormati para narasumber, ada Bapak Dr. Abdul Hamid, M.Pd. Salam kenal, Pak. Eh, kemudian ada Antoni Santara, ini sahabat saya. Eh, gimana kabarnya, Romo? Baik, [tertawa]

9:22 alhamdulillah. Kemudian juga ada Pak Maniur Banjarnahwan, MPDK. Eh, salam kenal, Pak. terima kasih sudah meluangkan waktu untuk inilah orang tahu ini pasti menyakan ee sesi kami. Kemudian juga ee terima kasih banyak Pak Zen eh selaku sekretaris dari Center for Interprate eh and Multicultural eh Studies yang sudah membantu memfasilitasi agenda rutin dari CIMS eh dan tidak lupa juga ee kerja keras dari Bapak Ibu dosen pengampu mata kuliah wajib ee keberagamaan atau religiusitas. ada Bu Asuti selaku ee moderator kita juga hari ini. Kemudian ada Pak Josua dan Bu Ernida. E ya sebagai konteks e oh tidak lupa juga untuk adik-adik mahasiswa ya yang sudah hadir ee hari ini dan ee para

10:09 tamu yang e tertarik yang kemudian sudah ee mendaftar untuk ee juga join di acara hari ini. Tadi kata Pak Zen ada sekitar 50 orang ya. ee mudah-mudahan ee proses diskusi kita ini menambah pemahaman pengetahuan kita dan menambah interaksi lintas agama sehingga kemudian ee membangun ke saling ee pahaman, membangun empati, dan membangun harmoni di antara kita semua. Ee dari saya mungkin tidak akan panjang lebar. Yang pertama mungkin juga sekaligus mengupdate kepada para narasumber atau juga pada publik yang hari ini juga ikut hadir bahwa di kampus kami ee mata kuliah wajib agama itu tidak didesain ee sebagaimana lazimnya. Di mana misalkan mahasiswa yang beragama Islam akan hanya

10:54 belajar agama Islam, yang Kristen akan belajar agama Kristen dan seterusnya gitu. ee tetapi dirancang sebagai mata kuliah lintas agama yang kami namai itu keberagamaan atau religiusitas. ee memang aspek yang diajarkan adalah aspek-aspek yang bisa menjadi ruang temu atau titik temu antara ajaran-ajaran semua agama, yaitu aspek sosial, aspek kultural, aspek yang sifatnya itu ee ee istilahnya kita bisa menemukan banyak persamaan tentu saja tanpa menafikan aspek-aspek yang kita memang perlu mengakui adanya perbedaan seperti aspek teologis dan aspek ee perbedaan itu kita kemudian ee rayakan sebagai sebuah realitas kehidupan yang yang memperkaya khazanah kita semua.

11:39 Em, nah kemudian di antara yang menjadi agenda untuk mata kuliah ini adalah kami mengundang para tokoh agama ee yang ee bisa juga memberikan insight yang lebih mendalam mengenai agama-agama ee mengenai agama yang yang beliau yang mereka anut ee untuk kemudian itu bisa menambah hasanah pengetahuan dari para mahasiswa dan apalagi kalau yang sekarang kita mengambil ee tema digital fate ee sebagai suatu suatu implikasi gitu ya dari perkembangan ee digital yang sangat yang sangat pesat yang kalau kita lihat ruang digital ini kan bisa menjadi ruang perjumpaan gitu ya yang dulu misalkan awalnya ee tanpa ruang digital hanya bergaul di lingkungan yang homogen dengan ruang digital mungkin

12:26 terekspos dengan agama yang berbeda dengan aliran dalam agama yang sama yang berbeda sehingga kemudian meniscayakan dialog gitu tetapi juga kita perlu mengingat ruang digital ini sebagai ruang kontestasi narasi narasi keagamaan yang tidak tidak jarang itu sifatnya terkesan dibentur-benturkan atau konfliktual gitu. Sehingga perlu kedewasaan, perlu kematangan untuk merespon dinamika tersebut, untuk menyikapi ee ruang digital yang kita bisa gunakan untuk mengekspresikan keberagamaan kita. Karena pada akhirnya ruang digital ini juga adalah ruang ee yang meniscayakan ee cara kita beragama itu menjadi relatif ada perubahan-perubahan ee tertentu gitu ya ee dalam mengekspresikannya.

13:11 Mungkin dari saya itu saja. Saya ee tidak sabar mendengar ee insight, mendengar ee ee pandangan, mendengar ee pengetahuan dari ee para narasumber. Ee semoga kita semua senantiasa diberikan ee kesehatan ee dan ilmu yang kita dapatkan hari ini ee bermanfaat untuk kita semua. Terima kasih banyak. Ee selamat siang. Saya kembalikan ke Bu Asuti. Selamat siang. Terima kasih Pak Irfan atas sambutannya. Nah, baik. Eh, sebelum kita mulai, saya akan membacakan terlebih dahulu VTI dari para narasumber kita yang sudah hadir pada hari ini. Saya akan mulai dari Bapak Dr. Abdullah Hamid. Eh, Bapak Dr.

13:56 Abdullah Hamid terlebih dahulu. Oke. Nah, ee saya boleh share screen ya terlihat. Oke. Nah, Bapak Dr. Abdul Hamid ini latar belakang background-nya. Wah, luar biasa ya Pakar. Oke. Ee izin saya bacakan saja ya, Pak. Khawatir saya nanti jaringannya tidak

14:42 stabil. Nah, Bapak Abdullah Hamid ini ee adalah alumni dari S1 Pendidikan Agama Islam Stein Kudus. Kemudian S2-nya Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Universitas Negeri Yogyakarta. dan kemudian S3-nya Teknologi Pendidikan juga di Universitas Negeri Malang. Nah, ini sangat ee sangat apa ya, Pak? Menarik nih karena latar belakang Bapak adalah dari Sarjana Teknologi Pendidikan. Nah, jadi ini kita nanti akan mendapatkan ilmu nih dari Pak Abdullah Hamid. Bagaimana sih sebenarnya beragama di dunia digital itu? apa tantangannya, apa hambatannya, dan bagaimana mencari solusi atas ee

15:27 miskomunikasi yang selama ini sering terjadi ya, Pak. Oke. Nah, beliau juga banyak sekali ee tulisan yang relevan kemudian experience yang luar biasa sampai mungkin saya tidak bisa menyebutkan satu persatu nih, nanti bisa saya share untuk kurikulum vit-nya pada adik-adik supaya menjadi ee motivasi pada adik-adik semuanya ya. Baik, Pak Abdullah. Kemudian kita ke Romo Antara. Oke, selamat siang Romo. Sehat Romo? Oke. Ee Romo Antonio Suhardi Antara nama panggilannya adalah Romo Antoro atau Romo Aan. Oke. Beliau lahir di Sleman,

16:15 13 April 1972. riwayat pendidikan beliau ee sudah sangat banyak sekali. Nah, ee dari tahun 1997 sampai dengan hari ini ya Romo masih aktif ya Romo. Oke. Wah, luar biasa sekali. Mudah-mudahan hari ini Romo bisa berbagi praktik baik ya kepada kami para dosen dan kepada para adik-adik mahasiswa. Oke, selanjutnya Bapak Maniur Banjarnahor. Oke, selamat siang Bapak. Nah, beliau ini ee nama lengkapnya Bapak Maniur Banjarnahor. Lahir di Batangari, 29 Agustus 1985.

17:02 Riwayat pendidikan beliau S1-nya pendidikan agama Kristen dari Sekolah Tinggi Teologi Paulus Medan. S2-nya lulus program S2 Pendidikan Agama Kristen dari Sekolah Tinggi Teologi Paulus Medan. Wah, pengalaman kerjanya juga luar biasa. Masih mengajar sampai sekarang. Oke. Nah, itulah tadi sedikit ee perkenalan dari para narasumber kita. Untuk tidak berlama-lama maka kita akan mulakan ee kegiatan kita pada hari ini. Kita berbentuknya talk show ya, Bapak-bapak para narasumber. ee enggak ters terlalu tegang. Jadi ya santai aja. Nah, baik. Ee karena tadi sudah

17:48 disampaikan oleh Pak Irfan, sekarang era teknologi sudah tidak terbendung lagi perkembangannya ya, Pak. sampai anak SD juga itu sekarang sudah sangat ee melek sekali terhadap teknologi. Nah, namun ada beberapa yang menjadi ee perhatian kita karena perkembangan teknologi yang semakin pesat juga. Nah, menjadi tanda tanya besar nih dari cara manusia berinteraksi. Nah, sehingga ee membangun identitas-identitas sosialnya sehingga beberapa manusia itu ee berharap ingin mendapatkan pengakuannya. Baik pengakuan secara jati diri, kemudian pengakuan secara identitas sosialnya, agamanya, dan lain-lain. Sukunya juga terlebih.

18:35 Nah, baru-baru ini juga ada isu-isu yang cukup hangat yang sedang merajai dunia digital. ee bagaimana ada seseorang yang dengan gamblangnya merendahkan suku lain. Nah, dan dengan gampangnya juga tidak merasa bersalah, tidak merasa menyakiti bahwa dia merasa dia punya hak untuk berbicara di dunia digital. Nah, namun ada hal yang dia tidak ee pikirkan lebih panjang bahwa hal tersebut bisa melukai ee hati orang-orang dari suku tersebut. Nah, itu menjadi titik balik ya, Pak. Di mana teknologi ini benar-benar menjadi bumerang bagi manusia itu sendiri. Nah, jadi melihat hal ini ee kita menemukan nih ee

19:21 kira-kira tidak hanya kemudahan akses yang bisa kita lalui, namun ada juga ee tanpa kita sadari transformasi ini juga membawa dampak serta tantangan nih bagi para generasi milenial atau generasi Z. Nah, jadi yang menjadi ee pertanyaan saya nih untuk para narasumber kita hari ini, saya ee awali dulu ya, Pak, dengan pertanyaan ya, Pak ya. Nanti boleh dijawab. Nah, menurut para narasumber kita yang terhormat, kira-kira nih bagaimana ee melihat perubahan cara umat menjalankan praktik keagamaan sejak hadirnya ruang digital ini? Nah, saya boleh mulai dulu dari Bapak Abdullah

20:07 Hamid dulu. Boleh, Pak. Dipersilakan, Pak. Terima kasih, Mbak Astuti. Yang saya hormati Romo Antara eh Pak Maniar, Pak Maniur Banjahor ya, Mas Zen dan teman-teman saya yang saya hormati. Yang pertama terima kasih sudah diundang, dimuliakan pada kesempatan ini. Yang pertama saya akan mulai dari sebuah cerita ya. Nanti menjawab pertanyaan Mbak Astut ini dengan sebuah cerita. Romo Antara dan Pak Maniur. Padahal saya ini adalah instruktur moderasi beragama dari Kementerian Agama Republik Indonesia. Jadi ee puji Tuhan alhamdulillah teman-teman saya banyak sekali dari lintas iman. Ada satu kejadian lucu ya teman-teman yang hadir pada kesempatan siang hari

20:52 ini. Saya ini ditugaskan oleh Kementerian Agama menjadi instruktur moderasi beragama di Bali. yang mayoritas Hindu, tapi pesertanya adalah Katolik. Romo ya Katolik. 100% peserta Katolik di tempat yang Hindu instrukturnya Islam. Jadi ini saya bingung ini bagaimana pertama saya masuk ini wong saya ini kalau dalam agama kan kita ada kaidah di Islam itu Romo dan Pak Manur itu ada lakum dinukum waliadin ya agamamu agamamu agamaku agamak akidah ini enggak boleh kalau bahasanya Gus Dur kan gitu tapi saya teringat cerita antara Romo Mangun dengan Gus Dur

21:40 itu dulu Mbak Suti enggak apa-apa ya agak agak sedikit ee ini nanti masuk ke jawaban Jadi saya mulai dari bagaimana hubungan Gus Dur, teman-teman. Gus Dur ini adalah salah satu tokoh dari Islam, guru saya dari Islam, Kiaman Wahid. Tapi sangat sayang, cinta, dan sangat dekat baik dengan ee teman-teman tokoh agama di Katolik, di Kristen, di Hindu, di Buddha, bahkan Kongguchu ini yang menaikkan ya salah satunya adalah Gus Dur yang mencabut MPR dan ee ada libur tambahan buat kita ya. libur implak itu Gus Dur. Singkat cerita saya menceritakan ya bagaimana Gus Dur dengan Romo Mangun. Jadi dulu agama itu enjoy eh Romo antara agama itu santai eh Pak

22:28 Maniur, Mbak Astuti dan teman-teman semua. Tapi pasca reformasi orang itu enggak berani guyon-guyon tentang agama. Lah ini saya mengingatkan kembali ya. Ya, ini Habib Husein ini sudah lumayan lah di login. Kalau teman-teman agen Zi sekarang kan saya yakin tahu ya bagaimana Habib ee Habib Jafar itu ya Alhidar itu bagaimana membikin singkat cerita saya bercerita terkait tentang guyon agama. Jadi Romo Mangun pada waktu itu perjalan sama Gus dari Singapura ke Indonesia di dalam pesawat eh Romo Mangun apa ya kalau di dalam bahasa pesantren itu rosting gitu ya. Saling rosting Romo Pak Maniur. Jadi antara ini saling rosting. Romo maun bilang ke Gus Dur, "Gus ini daging yang paling enak di

23:15 dunia." Nah, dia bercerita makan daging ee babi ya, Teman-teman ya. Kalau di Islam kan enggak boleh. Ini dec sama Romoangun. Gus Dur gitu kira-kira di atas pesawat dapat makan babi. Gus Dur diam aja di dalam hati mungkin tunggu pembalasanku gitu ya. Nah sampai di Jakarta Gus Dur dijemput sama istrinya ya namanya Bu Sinta Nuriah Wahid. Baru Gus Dur pada waktu itu balas balas Romo Mangun bilang gini Romo antara saya dijemput ini daging yang paling enak di dunia. Ya gitu kira-kira ya teman-teman. Tapi ini adalah guyon kelas dewasa. Kalau enggak tertawa berarti Anda belum cukup usia. Nah, seingkat cerita agama itu dulu adalah segala sesuatu yang sangat enjoy. Ya, kalau Gus

24:03 Durur mengatakan di atas agama ada namanya kemanusiaan. Kalau Anda mau menolong, orang tidak akan tanya, "Kamu agamanya apa? Masa ada orang kecelakaan kita tanya, "Agamamu apa? Kalau enggak sama agama tidak kita tolong." Kan enggak mungkin. Maka Gus Dur ini salah satu idola saya yang menjadi salah satu ee apa namanya? Bagaimana beliau melampaui zamannya. Jadi, bagaimana kita menjawab perubahan itu harus mau enggak mau termasuk saya maupun Romo Antara dan ee Pak Mania dan teman-teman semua ini adalah mengikuti perubahan ya karena tidak ada sesuatu yang abadi ya. Semua berubah. Kalau di dalam kaidah Islam fikih itu ada namanya dalam bahasa Arab

24:48 alhukmu yaduru maaatihi wujudan waaman. Jadi hukum itu berubah tergantung dengan konteksnya. Jadi zaman penjajahan Belanda kalau di Islam orang Islam itu tidak diperbolehkan pakai celana berjas berdasi. Romo Antara dan Pak Manur, Mbak Astuti dan teman-teman. Karena beliau ada kaidah duluah siapa itu si tapi. Oke, terima kasih. Jadi siapa yang menyerupai maka tidak diperbolehkan. Jadi dulu kalangan pesantren santri Islam khususnya yang saya ini background-nya di pesantren, Teman-teman

25:34 ya. Saya di pesantren kurang lebih 8 tahun belajar agama ya. Kayak sebelum Romo Antara menjadi Romo, Pak Maniur menjadi tokoh agama sama. Nah, di situ itu kalau Imam Syafi'i itu ada istilahnya ul qadim dan ul jadid. Ada hukum yang lama dan ada hukum yang baru. Walaupun hukum konteksnya berbeda tapi hukumnya sama. Sehingga bagaimana cara tokoh agama untuk menyikapi perubahan? Mau enggak mau tokoh agama harus mengikuti, beradaptasi dengan perubahan termasuk dalam bidang agama. Makanya dulu kalau di Islam itu kalau orang selain ibadah individual, Romo Antara,

26:20 Pak Maniur, Mbak Asuri, dan teman-teman itu ada namanya ibadah ritus sosial. Jadi selain ada kami ada salat, ada haji, ada puasa ya itu kami juga ada seperti zakat ya. Ada seperti zakat ya. Makanya pada waktu itu ee tokoh-tokoh agama sekarang mau enggak mau harus mengikuti perubahan, harus beradaptasi dengan lingkungan. Mungkin itu dulu Mbak Suti, nanti kita lanjutkan. Baik, terima kasih Pak Abdullah Hamid. Masyaallah, guyon yang saya saya paham guyonnya karena saya sudah dewasa ya, Robo Pak Maniur. Mungkin adik-adik mahasiswa nih nanti kalau mau tahu guyon

27:06 artinya tunggu dewasa, tunggu saatnya. Nah, baik sekarang kita ke Romo dulu nih. Nah, kira-kira menurut pandangan Romo bagaimana Romo? Baik, Ibu Astuti dan juga Pak Abdullah serta Pak Maniur serta teman-teman mahasiswa-mahasiswi semuanya. Ee saya akan bicara dari sisi agama Katolik. tentunya Gereja Katolik menyadari menyadari kekuatan media digital dan ini dicanangkan oleh Bapak Paus Benediktus ke-16 dan juga almarhum Paus Fransiskus itu menekankan digital continent sebagai ladang misi baru. Jadi ini ladang misi

27:53 baru karena mau tidak mau seperti yang disampaikan oleh ee Pak Abdullah tadi, kita harus mengikuti zaman. Kalau tidak ya nanti bagaimana umat kita ya kalau kita ee sebagai ee tokoh-tokoh agama tidak menyadari hal ini itu nanti ee mungkin umat kita enggak ada yang ee membimbing ya sehingga nanti ke mana-mana. Nah, maka ee sampai akhirnya dan itu ee semakin disadari kebutuhan itu ketika pandemi ya. Kita ingat ya semua pandemi itu semua sampai akhirnya dengan online seperti itu. Bahkan kami awalnya juga ee ibadah ibadah perayaan ekaristi atau misa waduh kok harus

28:41 online ya? Padahal kita harus menerima tubuh Kristus gitu. Nah, ini yang menjadi waktu itu menjadi semacam ee ee pergulatan juga gitu ya. Lalu ee akhirnya bahwa oh ya ee kita menerima komuni itu tidak hanya secara fisik tapi juga secara batin ya, secara rohani gitu. Maka ee lalu kami menyebut ee sejak pandemi itu ada komuni batin. Jadi ee kita di rumah ibadah mengikuti ee lewat ee siaran online mau ee baik virtual gitu ya. Jadi dari situlah ee kita kurang lebih ya dari tahun 2021 ya sampai ee awal-awal di 2023 kalau tidak salah waktu itu karena memang pandemi

29:28 melanda beberapa negara termasuk negara kita itu sehingga kita benar-benar tidak berinteraksi karena apa? kita harus ee komunik ee itu kan hubungan masing-masing person seperti itu. Tapi ee dari situlah akhirnya bahwa dunia digital ini dibutuhkan. Hanya memang ee platform digital ini ee yang penting apa? Membantu ee untuk ee iman kita ya, iman umat seperti itu. Nah, maka tentunya pasti disiapkan dengan baik ee supaya apa? ee nanti karena apa tantangannya itu ee macam-macam nanti kalau kita tidak ee mempersiapkan betul-betul ee di dunia

30:15 digital ini. Kemudian yang berikutnya ee tadi ee Pak Abdullah nyinggung ee Habib Jafar, maka ini kami tu punya ee acara kebersamaan tokoh-tokoh agama. Jadi saya Habib Jafar, Pendeta Marcel, lalu Blimita, Bhante eh eh Dira ya dan juga ee teman-teman yang lain itu seringki membuat konten bersama yang kadang guyonan ya. Jadi di situ ee kalau ada air itu selalu pasti kita eh yuk kita baptis, kita baptis gitu ya. [tertawa] Jadi gitu kalau kalau ada air waktu itu kita pernah main-main bersama ee mengisi waktu liburan kami kita di Ancol ya di

31:02 ee dunia fantasi sana kita main bersama di sana seharian dari pagi sampai malam gitu ya sudah kalau kita kan mainan-mainan ar selalu ayo kita Habib kita kita baptis [tertawa] jadi kita ya mau membangun begini loh artinya apa dalam kebersamaan itu jangan sampai ya ya agama agam lah gitu ya Tapi ketika kita bersama ee untuk saling interaksi itu ya ee tidak lalu harus bersama dari sisi keagamaan kita, tidak. Tapi bagaimana lewat ee masing-masing dari kita ini membangun ee kebersamaan gitu. Kita enggak enggak melihat latar belakang ee keagamaan, suku dan lain sebagainya. Tapi justru di situ kami ee

31:48 bersama Habib itu dengan ee tokoh-tokoh agama mau menunjukkan bahwa nih kami loh kami itu dalam kebersamaan. Kita bisa olahraga bareng, kita juga bisa main bareng. Ada kalanya juga kita hal yang serius ya kita serius seperti itu. Nah, ini mau mengajak membuka wawasan kepada seluruh umat kita masing-masing untuk untuk itu gitu. Dan seringkiali kami candaan. Kami kan ada di grup gitu ya, di grup WA gitu. Kalau misalnya ee pendeta Marcel ketemu dengan jemaat saya nant lalu nanti ee beli minta jangan tukaran jemaat ya gitu. Jadi kadang seperti itu atau ee kadang ketemu ee tokoh yang lain gitu dengan jemaat kami

32:35 seperti itu. Jadi apa ya semakan justru di situ menambah persaudaraan, menambah ee kekayaan di dalam ee macam-macam hal gitu. Nah, ini saya rasa yang penting apa kita mengarahkan dengan dunia digital itu tidak lalu membiarkan begitu saja tentunya ee supaya ee umat kita terarah ini untuk apa, kepentingannya untuk apa. Tentunya yang pasti kalau itu berkaitan dengan iman justru semakin menambah iman kita seperti itu. Itu ee Ibu Astuti dan ee Bapak-bapak, teman-teman sekalian dari saya. Terima kasih Romo. Nah, itu juga hal yang saya rasain sih Romo, di lingkungan kerja kami ya, yang lintas agama, lintas

33:22 sukuh. Terasa itu humor itu lebih mengeratkan persaudaraan rupanya. Baik, terima kasih Romo. Sekarang kita ke Pak Maniur nih. Saya mau dengar nih statementnya Pak Maniur bagaimana pandangannya. Silakan, Pak. Baik. Eh, terima kasih Bu Astuti ee Pak Abdullah dan ee Romo Antara. Suara saya kira-kira agak jelas Bu ya? Jelas. Jelas, Pak. Jelas. Oke. Baik. Nah, memang berbicara tentang ee ketika dihubungi panitia kemarin untuk ee menjadi narasumber yang walaupun sebenarnya ya mungkin di sini Pak saya paling junior ini dibanding dengan Pak Abdul dan Romo Antara yang sudah punya jam terbang yang cukup tinggi [tertawa] kan begitu ya. Nah,

34:10 ketika dihubungi kemarin, nah, saya berpikir ini menjadi salah satu juga ee cara bagi saya juga untuk belajar mendengarkan ya bersama belajar bersama tentang ee kebersamaan kan begitu ya. Nah, berbicara tentang digital faith ini tadi ya memang ee suka atau tidak suka saya pernah dengar satu statement mengatakan seperti ini ya dikaitkan dengan konteks iman Kristen ya. Di zaman sekarang ini kita sedang menyaksikan pergeseran monumental dari bangku gereja ke pikel katanya. Ya, itu berkaitan dengan apa? Digital. Suka atau tidak suka ya bahwa memang dunia pasti berubah ya. senang atau tidak senang bahwa dunia harus

34:56 berubah seiring dengan perkembangan daripada teknologi. Nah, dikaitkan dengan ee iman Kristen ya dalam hal ini ee Protestan saya mengatakan ya kita kembali kepada ee gereja ya. Apa itu gereja? Nah, selama ini kita ee banyak orang yang terpenjara berkaitan dengan gereja itu adalah berbicara tentang gedung ya kan. berbicara tentang tempat, satu tempat dan seakan-akan iman itu hanya dibatasi oleh ruang tempat itu sendiri. Nah, sementara ketika kita lihat lebih jauh bahwa gereja itu berbicara tentang satu komunitas dari orang-orang yang mengaku percaya kepada Yesus dan mengikuti teladan Yesus. Dan

35:44 gereja itu merupakan satu keyakinan kumpulan daripada orang-orang yang percaya kepada ee ajaran atau percaya kepada Yesus dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya. Tetapi dalam konteks kehidupan sering sekali kita orang-orang itu sepertinya dibatasi oleh ruang ee tempat itu tadi. Maka ee seperti yang sudah disinggung oleh e Romo Antara tadi ya, COVID-19 sepertinya mengubah paradigma itu ya. Para tokoh-tokoh agama saya katakanlah para pendeta yang selama ini menganggap oh ini komunitas saya, ini jemaat saya ya kan. sehingga ini harus di bawah ee pengawan saya, pengawasan saya secara

36:32 ketat. Eh, ternyata di peristiwa COVID ya yang mau ee yang memaksa jemaat untuk atau memaksa para pemimpin oleh karena namanya pembatasan tidak boleh bersentuhan, tidak boleh berdekatan sehingga harus melakukan praktik iman. Contoh misalnya ibadah di gereja itu harus dilakukan secara daring. Kita tersadar ya bahwa ternyata membangun iman itu tak selamanya harus ee apa namanya ya? datang ke satu tempat ya di dalam satu lingkup nama tertentu. Tetapi yang namanya membangun iman itu ya harus bisa selaras dengan perkembangan daripada teknologi. Covid memaksa orang

37:18 Kristen itu ya harus menerima perkembangan teknologi itu dan memanfaatkan teknologi itu. Jangan sampai oleh karena pemahaman tadi, oh harus di satu tempat ini kita berkumpul baru Tuhan hadir. Ya, bisa-bisa apa namanya ya, iman daripada jemaat itu luntur. Tapi bersyukur bahwa perkembangan teknologi ternyata bisa dimanfaatkan untuk mendukung yang namanya perkembangan daripada iman itu sendiri. Perkembangan teknologi harus dipergunakan sebaik mungkin di dalam mendukung perkembangan daripada iman itu sendiri. Walaupun memang ya kita harus sadar bahwa ee dibutuhkan yang namanya kedewasaan. Saya

38:04 teringat pengalaman saya ee Bu Astuti ya. Saya juga ketika mengajar sebagai guru ee sebagai dosen ya mengajar pendidikan agama Kristen yang saya melihat kenapa saya mengatakan tadi perlunya kedewasaan. Sering sekali kita belum ya memang sudah menerima teknologi itu tadi, tetapi teknologi itu sering tidak dimanfaatkan secara maksimal. Contoh misalnya masih banyak mahasiswa yang datang yang penting nampak muka kan begitu ya. Nampak muka tapi sebenarnya hatinya tidak ada di sana bahkan cenderung ya bisa membuat kita seperti orang yang mengajar kepada ruang kosong kan begitu ya. Nah, di satu sisi lagi kita sebagai ee di dalam memanfaatkan teknologi atau ee digital ini tadi ya,

38:51 ada memang beberapa ee dampak-dampak yang mungkin nanti kita akan lebih ee apa namanya? lebih bahas lagi. Tetapi berkaitan dengan topik kita hari ini, bagaimana dari sisi pandangan iman Kristen bahwa gereja atau iman itu harus berjalan berdampingan dengan teknologi dan dengan memanfaatkan teknologi itu untuk membangun, menyelaraskan perkembangan daripada teknologi itu terhadap iman kita. Jadi kalau berkaitan dengan kebersamaan, bersama dengan teman-teman yang berbeda keyakinan ya kita juga sebagai dosen agama Kristen dan juga bergabung dengan ternyata ya sangat menyenangkan ketika kita bisa bersama-sama dengan teman-teman

39:38 tokoh-tokoh agama ketika mindset kita itu. Nah, di sini tadi ee Pak Abdullah tadi mengatakan kalau dulu guyon itu, guyon agama itu sangat bisa. Nah, sekarang ini yang perlu di sini yang menjadi perlu kita pikirkan. Kenapa sekarang orang jadi takut guyon kan begitu ya? Kenapa sekarang ini takut untuk guyon tentang agama? Karena apa ya? Ketika kita sebagai sesama tokoh agama bertemu di dalam satu ee wadah ya ternyata kita bisa bebas kok. Ya, kita bisa bebas bercanda tanpa di di merasa takut. Oh, ini nanti takut menyinggung atau bagaimana. Nah, jadi saya berpikir kebersamaan itu perlu dibangun ketika ee

40:23 mindset kita atau pola pikir kita itu sudah terbebas. Tidak lagi di apa namanya? Tidak lagi di ee tidak lagi dikuasai oleh rasa curiga. Kan begitu ya. Sehingga ketika orang seperti dikatakan tadi baptis dia, baptis dia kan tidak ada yang namanya apa seperti merasa tersinggung kan begitu. Nah, ini yang perlu kita kembangkan juga di era digitalisasi. Karena apa ya? Era digitalisasi informasi begitu cepat ya, informasi begitu cepat beredar dan segala macamnya. Nah, di sini yang perlu kita juga di zaman digitalisasi ini ya perlu kita untuk lebih memiliki pemahaman tentang keberagaman itu supaya tingkat

41:09 kecurigaan itu bisa kita minimalisir sehingga sebagai sesama anak bangsa kita boleh memandang orang yang berbeda keyakinan dengan kita itu sebagai saudara bukan saingan kan gitu ya sebagai teman bukan lawan. Nah, ini yang perlu kita harus apa ya? Jadi ee yang di apa tadi ya ee pembukaan tadi sampaikan agak belum hafal saya namanya ya di universitas ini bentuk kuliah agamanya dibuat menjadi keberagaman. Saya kira cukup bagus juga supaya apa yang dibangun di sana itu kebersamaan bukan apa bukan kecurigaan. Jadi itu mungkin ee untuk saat ini yang bisa saya sampaikan ya, bahwa dalam konteks iman Kristen, digitalisasi itu adalah

41:54 merupakan sahabat yang harus dirangkul, dipergunakan untuk apa ya mengembangkan. Bahkan dalam satu kutipan dikatakan bahwa ya digitalisasi itu sebagai salah satu media di dalam apa? Memproklamirkan atau membagikan tentang kebaikan-kebaikan yang ada di dalam konteks iman Kristen itu sendiri. Mungkin itu yang bisa saya sampaikan untuk saat ini, Bu Astuti. Terima kasih. Baik, terima kasih Pak Maniur atas responnya. Ee mohon maaf Bapak ee di Medan saat ini sedang hujan. Saya mohon maaf apabila nanti suara saya kurang jelas ya, Pak. Karena memang akhir-akhir ini Sumatera Utara diguyur hujan. I. Nah, ee sedikit informasi juga Bapak

42:39 perlu kami informasikan bahwa di Universitas Setab Bineka ee kami memiliki rumah-rumah ibadah masing-masing dari latar belakang agama yang berbeda. Nah, rumah ibadah itu ee saling berdampingan. Nah, jadi sebelah sini nanti ada wihara, sebelah wihara ada pura. Kemudian di sebelah pura ada masjid. Nah, di sebelah masjid itu ada gereja Okumeni. Nah, jadi nanti kalau ada kesempatan, Pak, ada rezeki, waktu boleh main ke Medan, singgah ke kampus kami ya, Pak untuk ee sharing sessing atau untuk sekedar melihat-lihat juga boleh. Nah, baik. Ee ada beberapa tadi yang saya tangkap bahwa ee perkembangan

43:27 digital ini sangat-sangat memudahkan ee kita khususnya memudahkan antara jarak dan waktu. Sehingga ini menjadi contoh pada saat ini kuliah tamu kita yang harusnya kita bisa ketemu di satu tempat namun mungkin ada kendala kemudian nanti dalam hal ee biaya gitu ya kan Pak. Nah, namun kita sangat terbantu dengan kuliah umum pada hari ini. Nah, kemudian ee selain juga tadi bahwa dunia digital ini adalah ee banyak besar manfaatnya, saya juga menemukan beberapa ee tantangannya ya kan, Pak. Ee ada hal-hal yang orang-orang tidak berani guyon lagi kalau sudah berkaitan dengan agama karena ee menganut

44:12 sensitivitas ya kan, Pak. Nah, jadi takut nanti ee ada isu-isu sarannya. Jadi lebih baik cari aman saja. Cari aman. Oke. Nah, baik. Ee cukup menarik nih. Saya mau kasih kesempatan ke adik-adik mahasiswa dulu ya, Pak. Mana tahu mereka punya pertanyaan yang selama ini mereka simpan dan belum ketemu sama tokoh yang bisa menjawabnya. Ee baik adik-adik mahasiswa, saya kasih kesempatan untuk bertanya kepada Bapak Abdullah, kepada Romo, dan kepada Maniur Banjarnahor. Kira-kira ada yang memiliki pertanyaan terkait digital fake pada kuliah tamu pada hari ini? Yang mau bertanya boleh diise hand ya. Saya kasih waktu untuk

44:57 bertanya. Silakan. Oke, saya buka kembali sesi pertanyaan. Apakah ada yang mau bertanya? Boleh raise hand. Oke. Ada. Atau suara saya jelas enggak

45:43 ya Pak? Jelas. Bu jelas. Jelas. Jelas sekali. Sangat jelas, Bu. Sangat jelas. Sudah paham semuanya. Kalau enggak ada yang tanya tidak paham sama sekali. Ya sudah, udah udah jelas berarti Sembiring. Iya. Oke, boleh. Selni mau bertanya kepada siapa? Tolong ditujukan ya. Saya mau bertanya kepada Bapak ini, Bu. Oke, boleh Selni. Silakan, Mbak Ibu. Selamat sore. Perkenalkan nama saya S Febrani Sembiring. Saya dari kelas ABA sore. Ingin bertanya, Ibu. Ee mohon maaf

46:28 kepada Bapak ini Bapak Bapak pembicara yang terakhir, Ibu. Bapak Maniur, Bapak Maniur ya. Bapak Maniur Banjarnahor. Bagaimana identitas budaya atau lokal etnis agama itu dipresentasikan dan dibentuk di ruang virtual yang global, Pak? Coba bisa diulang sekali lagi, Nak. Bagaimana identitas budaya atau lokal

47:16 etnis agama dipresentasikan dan dibentuk di ruang virtual yang global? Baik. Eh, terima kasih buat Selni Sembiring yang eh sudah ee memberikan pertanyaan e kepada Bapak. Nah, berkaitan dengan ee salah satu dampak daripada ee digitalisasi atau ruang virtual ini yang menjadi satu dampak negatif ya. bisa kita lihat itu bahwa seakan-akan ee

48:04 kita sebagai warga negara yang memegang teguh atau yang dikatakanlah memiliki budaya di dalam ee entitas kita masing-masing ya. Nah, ruang virtual ini menjadi satu ee pengikis yang menurut Bapak itu ya sering kehilangan. Artinya begini, di zaman sekarang ini ini menjadi satu fenomena ee dengan adanya misalnya TikTok atau media, enggak usah menyebutkan satu apa media sosial ya. Sering sekali banyak orang yang merasa karena ini adalah ruang virtual maka dia tidak perlu memegang atau dia tidak perlu mempertahankan nilai-nilai budaya. Dia

48:51 bisa bebas berbicara apapun, dia bebas bertingkah laku seperti apapun. Dia bebas mempertontonkan apapun dengan konsep dengan ee pikiran, ah enggak ketemu kok orangnya. Kan begitu. Kami tidak bertemu secara langsung. Nah, ini yang menurut Bapak itu sebagai satu penurunan yang seharusnya di ruang virtual itu ya jati diri kita sebagai warga negara, sebagai bangsa yang memiliki budaya, ruang virtual ini tidak harus e tidak menjadi satu pemicu yang membuat kita kehilangan identitas kita, yang tidak membuat kita kehilangan kebudayaan kita, norma-norma kita.

49:38 Tetapi seharusnya kita sebagai warga negara yang mengerti tentang digitalisasi atau yang sudah menggunakan digitalisasi itu atau virtual yang kerap ada di dalam virtual itu tadi ya, kita tetap harus mempertahankan identitas kita ya mempertahankan ee nilai-nilai budaya kita. tidak menjadi kalau ee Bapak mengatakan menjadi seorang pengecut seperti yang Bapak katakan itu tadi ya. Ini adalah ruang virtual saya bisa bebas berbicara apapun ya. Ini adalah ruang virtual saya bebas mengucapkan apapun, bebas menunjukkan apapun toh kami tidak akan ketemu. Ya, seperti yang sudah Bapak katakan tadi di

50:23 medsosmsos kita lihat seakan-akan itu bukan orang Indonesia lagi loh ya. seakan-akan dia tidak dilahirkan dengan nilai-nilai budaya, dengan tradisi-tradisi, dengan tutur-tutur kata, adab, sopan santun ketimuran kita seakan-akan itu hilang lenyap ketika sudah masuk di dalam media sosial. Ya, ini menjadi satu fenomena menjadi satu dampak daripada di apa namanya perkembangan teknologi itu yang seharusnya kita di generasi sekarang ini orang-orang ee di zaman sekarang ya kita tidak boleh kehilangan identitas itu karena ini adalah ruang virtual. Seharusnya ruang virtual itu harus dipergunakan secara bertanggung jawab dan ruang virtual itu adalah menjadi

51:08 satu wadah bagi kita untuk tetap menunjukkan nilai-nilai yang kita anut ya, ajaran kebenaran yang kita pegang, nilai-nilai kebudayaan, norma dan adab yang kita punya ya sehingga tidak terjadi seperti yang sudah Bapak sampaikan itu tadi ya. Itu menjadi satu fenomena penggerusan nilai-nilai kita ya, krisis identitas. Dan yang paling mirisnya sering sekali kita melihat bahwa banyak generasi muda seakan-akan malu menunjukkan identitasnya, ya kan? Malu menunjukkan budayanya, malu menunjukkan ee jati dirinya dan lebih mempertontonkan bahkan merujuk kebudayaan daripada orang dari

51:53 luar yang dianggap sebagai sesuatu hal nilai yang modern. Maka Bapak mengatakan tidak selamanya ya yang bersumber dari karena ada satu apa namanya itu ya ee pemahaman yang salah menurut Bapak ya. Yang perlu kita harus benarkan terutama dalam generasi muda ya jangan selalu berorientasi bahwa dari luar itu pasti bagus, dari luar itu pasti keren, dari luar itu pasti hebat. Belum tentu nenek moyang kita lebih hebat sebenarnya kan begitu ya. Orang lain belum tahu apa-apa, nenek moyang kita sudah bisa bangun. Candi Borobudur yang luar biasa. Orang lain belum bisa apa-apa. Kita sudah punya pakaian tradisional yang sangat indah, luar biasa. Tapi entah mengapa ya ini sering kita lupakan. Kita merasa malu

52:41 dengan itu dan ee berubah bertransformasi dengan nilai-nilai yang diambil dari luar sehingga akhirnya itu hasil seperti yang Bapak katakan tadi ya. mempertontonkan, memperkatakan, mengucapkan hal-hal yang sebenarnya bukan dari diri kita. Hanya seperti supaya dicap hebat atau modern atau up to date. Itulah bahas kita sekarang itu kan ya. Jadi ruang virtual harus tetap mempertontonkan ruang virtual harus tetap menjadi satu sarana bagi kita untuk menunjukkan nilai-nilai adab ketimuran kita, budaya kita. ya, saya sebagai orang Batak ya harus tetap menunjukkan saya sebagai orang Batak ya kan kita mungkin saudara-saudara yang mungkin dari ee suku yang lain ya dengan

53:27 kebudayaannya harus tetap menunjukkan nilai-nilai kebudayaannya itu di manaun karena apa ya jangan sampai kita kehilangan kebudayaan kita itu. Itu mungkin yang bisa saya jawab Bu Astute. Baik terima kasih Pak Maniur. Mohon maaf tadi ada kesalahan teknis sedikit ya Pak. Baik. Bagaimana dengan Selni? Saya rasa cukup ee luar biasa ya tanggapan dari Pak Maniur. Oke, pertanyaan selanjutnya kita boleh ke Delia Amanda. Nih Delia boleh dirujukan pertanyaannya kepada siapa? Persilakan Delia. Maaf sebelumnya suan saya kedengaran Ibu Bapak. Ee boleh mohon maaf suaranya kurang

54:13 jelas Delia boleh lebih dekat? Boleh, boleh. Ee sudah terdengar, Ibu? Sudah. Baik. Ee karena tadi sudah ditanya kepada Bapak Mani, sekarang saya ingin bertanya kepada Romon. Eh, pertanyaan saya ini Bapak kan di era digital ini para anak muda itu eh sering ketergantungan kepada HP nih, Pak. Jadi kita setiap bangun tidur nih pasti ee kita di luar itu bukannya HP, Pak. Nah, misalnya ee setiap bangun, setiap apa, setiap kegiatan apapun itu pasti bukannya HP. Menurut Bapak ini ee kita

54:59 ee maksudnya ketika kita membuka media sosial daripada Alkitab, lalu sebenarnya apakah hubungannya dengan digital fed ini Bapak? Dan bagaimana iman bisa tetap hidup di tengah kebiasaan kita kepada digital tersebut? Mengutamakan HP daripada membaca. Bahkan ketika kita ke gereja nih, Bapak, kita bawanya itu HP bukan Alkitab. Nah, ee bagaimana pandangan Bapak terhadap aktivitas tersebut? Terima kasih. Oke. Baik. Ee terima kasih untuk pertanyaannya berkaitan dengan ee bagaimana menghadapi kita ya banyak orang seringki ini salah satu tantangan

55:45 ya tantangan dari ee digital fight itu adalah tadi kecanduan layar ya kecanduan HP itu. Nah, ini yang kalau kita tidak hati-hati ya memang akhirnya ee yang harusnya membantu menjadi sarana yang baik untuk mengembangkan iman kita lalu berbeda karena ee tadi kecanduan tadi ya sehingga yang harusnya menjadi sarana bukan tujuan. Jadi bukan tuan juga gitu ya. karena seolah-olah bangun tidur langsung kalau enggak ada. Jadi kadang gini saya saya sampai kadang itu juga bicara ke umat saya gitu ya ee

56:32 ketika enggak ada HP itu sudah kayak kehilangan aduh dunianya gitu ya. Ini yang seringkiali terjadi gitu. Ee padahal kalau dulu kita bangun tidur itu kan langsung ee bangun langsung ee berdoa tanda salib paling tidak dalam Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Amin. Sekarang kan enggak yang dicari HP-nya di mana, HP-nya di mana gitu. Bahkan ketika HP itu hilang itu sudah kayak seolah-olah dunia itu runtuh gitu. Seolah-olah enggak punya ini lagi pegangan lagi. Nah, ini yang tentunya menjadi ee tantangan bagi kita semua ya. Tidak hanya kita sebagai orang Katolik atau Kristen ee di gereja gitu ya. Bahkan sekarang e kitab suci ada di HP kita ini

57:20 gitu. Semuanya ada di sini, ada di tangan kita. Tapi bagaimana kita menggunakan itu menjadi sarana bagi kita gitu. Kalau memang ini membantu kita ya saya rasa enggak apa-apa untuk kita sehingga ee karena kita tidak membawa Alkitab lalu kita ya menggunakan. Cuma jangan sampai lalu gini kita ini kan lalu curi-curi ada WA terus balas WA. Nah, ini kan lalu sudah berbeda lagi fungsinya. Kita sedang berdoa ya, benar-benar berdoa sudah kita buka buka Alkitabnya saja. Bahkan ada ibadat, ibadat pagi, ibadat siang, ibadat sore, ibadat malam. Ada di sini semua aplikasi ee Katolik gitu, eh Katolik gitu ya. Itu

58:05 sudah ada semuanya. itu kan dibuat untuk membantu kita supaya di mana pun kita berada sekarang lebih ringkas paling tidak gitu ya, lebih kita bisa ee enggak perlu repot-repot gitu, kita sudah ada di situ. Yang penting apa? Kita menggunakan sesuai dengan memang maksud dan tujuannya itu dibuat sehingga membantu kita juga. kami para imam kadang ya kalau memang enggak ada ee enggak ada yang bawa semua ya sudah kita mau tidak mau kadang lihat ee di aplikasi tapi itu ee kegunaannya atau fungsinya memang untuk kita pewartaan misalnya renungan kita para Romo, para pendeta juga kadang pakai tab atau pakai

58:51 ini ya untuk itu karena sudah enggak ya memang kadang sudah enggak zamannya lagi ya kita pakai begini-begini gini ya, kertas gini ya, Pak Pendeta gitu kan ya. Gitu udah udah enggak zamannya lagi gitu. Sekarang kita bisa buat di sini gitu. Bahkan sekarang ada chat ee GBT itu juga gampang sekali kita butuh apa saja gitu. Tapi itu kan perlu kita lihat kembali benar enggak ya gitu ya. kita yang harus ee punya semacam apa ya ee namanya supaya kita bisa membedakan gitu ya, membedakan apa yang memang harus kita sampaikan dengan baik. Apakah ini hanya sekedar ee haw aja gitu. Maka

59:39 sekarang kan kalau kita nih saya kan bikin renungan harian ya tiap hari lalu saya kirim-kirim ee broadcast gitu ya. Sekarang ketika WA itu kan hanya bisa lima aja, lima orang atau lima grup itu tentunya pasti ada. Karena zaman dulu saya bisa 250 loh. Awal-awal saya bikin renungan itu saya bisa kirim 250 orang lalu ternyata dibatasin karena mungkin apa? pernah saya waktu itu mengalami ee di-hack gitu karena oh dicurigai ini ee pewartaan yang kayaknya mungkin spam atau apa gitu lalu ee dibatasi oleh WA sehingga akhirnya tinggal lima saja, lima grup atau lima orang gitu supaya

1:00:27 apa? tentunya tidak apa-apa kita ini kan kecenderungan kita ya enggak menyaring dulu, enggak membaca dulu. Dapat ini langsung dikirim kirim kirim kirim kirim. Nah, itu yang lalu menjadi spam sehingga lalu ee ketika dibatasin itu supaya apa? ya sudah kita bikin grup khusus untuk renungan, untuk apa dan sebagainya. Yang penting kita bisa komunikasi dengan grup kita, dengan teman-teman kita seperti itu. Nah, jadi ee kita melihat kembali fungsinya, manfaatnya bukan hanya sekedar oh ini lalu kita bisa gunakan untuk apa saja karena ini berkaitan dengan ee digital fight tentunya ya, berkaitan dengan bagaimana untuk meningkatkan ee iman kita ini supaya apa? Aku semakin ketika

1:01:13 menghayati diri kita sebagai orang Katolik, sebagai orang Kristen, saya rasa ya aku semakin dekat dengan Tuhanku. Lalu aku mewujudkan imanku ini dalam ee keseharianku, mewartakan hal-hal yang baik, saya menjadi pribadi yang toleran dengan orang lain, gitu. Nah, ini yang saya rasa perlu kita lihat di sana sehingga sungguh-sungguh ee apa yang kita lakukan ini tidak hanya sekedar kita ee menggunakan begitu saja, tapi benar-benar ini menjadi sarana saja. Sarana kalau itu sarana membantu kita, pakailah. Kalau ternyata itu tidak membantu kita, malah menyesatkan kita, malah membuat kita terpecah belah, ya sudah enggak usah digunakan gitu ya.

1:02:00 Jadi kita lihat buahnya, buahnya baik enggak yang kita pakai ini gitu. Kalau buahnya baik kenapa tidak itu ya. Jadi seperti itu yang bisa saya sampaikan. Terima kasih. Baik, terima kasih Romo. Nah, karena belum ada nih yang bertanya kepada Gus Hamid. Iya, Ibu mau kasih kesempatan. Siapa kira-kira yang mau bertanya sama Gus Hamid nih? Ini satu kesempatan yang luar biasa nih. Nurhilal mau bertanya kepada siapa? Nurhilal. Nurhilal suaranya belum kedengaran, Kak. Tanya sama Pak Abdullah, Bu.

1:02:46 Oh, iya. Oke. Pas sekali nih tembakan saya. Silakan. Hilal bertanya kepada Gus Hamid. Asalamualaikum, Pak. Perkenalkan saya Nurhilal dari prodi Agribisnis. Saya mau bertanya dengan Pak Du Habib Jafar yang seorang pendakwah terkenal di media sosial seperti IG dan TikTok. Dengan dakwahnya yang santai dan cerdas itu kayak ada julukan gitu, "Pak, Ayub login" gitu setahu saya ya. Jadi dia kayak menarik perhatian orang gitu kontennya. Nah, pertanyaannya kalau misalnya Habib Jafar ini bisa menarik perhatian orang untuk login, apakah itu menjadi tantangan untuk Habib Jafar? Karena dia harus membenarkan seseorang dan menguruskan pandangan orang-orang

1:03:32 orang-orang kayak sekitar gitu. Kok orang ini bisa dengan mudah menarik agama orang itu login ke agama Islam? Jadi menurut Bapak, tanggapan Bapak itu tentang Habib Jafar tuh kayak mana ya, Pak? Terima kasih, Pak. Sama-sama. Oke, izin langsung menjawab e Nurhilal. Nah, ini Romo sama Pak Maniur ini generasi Z ini seperti ini. Nur Hilal. Jadi, Habib Jafar membikin mengatakan, "Yuk, login." Itu bagian dari guyonan ya. Kalau bahasa Pak Manur sama Romo Antara ini jadi beragama sekarang itu kaku sekali. di Pasca ada kejadian mohon maaf ya penistaan agama yang ada di DKI

1:04:19 Jakarta ya 212 Pak Manir Romantara ya itu menjadi momentum antar umat beragama ini menjadi kaku. Jadi kalau Mbak Tuti tadi mau guyon tentang agama itu takut gitu Mbak Nurhilal ya. Jadi Beb Jafar itu sebenarnya guyon ya. itu bukan serius, itu bukan beneran candaan Nur Hilal. Karena di dalam tradisi Islam ya saya enggak tahu kalau dalam tradisi yang lain, kalau dalam tradisi Islam itu ada namanya la iqraha fiddin. Tidak diperbolehkan memaksa dalam memasukkan agama Islam. Bahkan Nabi Muhammad, nabi umat Islam itu pengin loh pamannya namanya Abu

1:05:06 Thalib. ya, mbahnya, kakeknya namanya Abdul Muthalib untuk agar bisa masuk Islam. Tapi enggak bisa karena ini adalah hidayah. Nabi Muhammad gak punya kuasa mentok gitu ya. Kuasa hidayah hanya kuasa dari Tuhan. Jadi kalau Habib Jafar itu teman saya Habib Jafar ini e Romo Antara ee Pak Maniur nanti salam kalau ketemu ya. Kemarin saya habis dari rumahnya yang di Jakarta ya kolam renangnya itu kemarin diskusi panjang di sana. Jadi besok tanggal 16 saya ketemu ya. Salam nanti Roma Antara ya dari Hamid Surabaya. Jadi Habib Jabar itu guyon ee Mbak Nurhilal itu adalah candaan agar tidak sepaneng terkait tentang agama. Itu enggak boleh di dalam

1:05:52 Islam itu mengajak ke Islam dengan ee paksaan. Intinya itu adalah hanya cenda saja. Biar persaudaraannya tambah akrab, pertemanannya tambah raket dan seterusnya. Lah memang BB Jafar ini adalah punya background filsafat ya. Beliau dulu mondoknya di Pasuruan, di Bangil ya. Beliau itu Madura swasta gitu istilahnya kalau di Jawa Timur. Rama antara sama Pak Manul. Jadi beliau itu aslinya Madura swasta ya. Ada Madura negeri. Kalau Madura negeri itu Madura di pulau Madura. Ini yang Madura swasta lah. Beliau itu punya apa? Forum-forum yang sangat asyik gitu ya. yang beragama itu sebenarnya enjoy loh. Gus Dur dulu sama Romo Mangun dan beberapa tokoh

1:06:37 agama baik di Kristen, di Hindu, Buddha ya, maupun di Katolik maupun Kongguchu itu sering menertawakan Gus Dur itu menertawakan diri sendiri khususnya Islam ya. Karena kalau yang menertawakan di luar Islam kan enggak berani nanti kena pasal gitu ya Pak Manur sama Rowantara ya. Tapi kalau saya menertawakan diri saya sendiri itu puncak dari ee orang itu sebenarnya adalah candaan orang yang paling baik adalah menertawakan diri sendiri. Dan itu yang sering dilakukan oleh Gus Dur gitu. Jadi sebenarnya Habib Jafar itu meniru strategi dakwahnya Gus Dur gitu ya dari dengan beragama dengan yang asyik. Jadi enggak usah takut dalam beragama bahwa agama ini sebenarnya

1:07:24 adalah ee cahaya ya yang menerangi. Jadi jangan malah kita menjadi antar umat beragama malah kaku gitu ya teman-teman ya. Jadi agama is enjoy. Jadi itu selanjutnya di dalam Islam itu ada kaidah ee agamamu, agamamu, agamaku, agamaku. Jadi tidak. Jadi memang dalam Islam itu ada batasan. Kalau akidah ya enggak boleh kita cerita ke orang lain. Makanya forum seperti ini itu ya terkait terkait tentang muamalah bagaimana hablum min minannas berhubungan antar sesama manusia. Jadi di dalam Islam itu ada namanya berhubungan dengan Tuhan,

1:08:09 berhubungan dengan manusia, berhubungan dengan alam semesta. Lah kalau berhubungan dengan manusia dan alam semesta itu boleh, aman. Tapi kalau terkait tentang akidah, saya yakin juga Roma Antara maupun Pak Manur juga di agama lain biasanya memang ada batas-batas mana yang diperbolehkan mana yang tidak lah. Seperti Habib Jafar itu strateginya strategi candaan kepada ee biasanya kan kepada teman-temannya ya lawannya itu ayo asyhadu asyhadu gitu ya Romo ya. Biasanya kalau di dalam Islam kan masuk Islam kan paling gampang mengucapkan dua kata sudah login gitu kira-kira kan begitu tidak usah dibaptis gitu kelamaan gitu kan biasanya kan gitu itu hanya candaan ya itu bukan beneran

1:08:56 itu sebenarnya terima kasih [tertawa] baik terima kasih wah diskusi yang sangat menarik ya Bapak-bapak namun ee karena waktu kita sudah menunjukkan akan berakhir nih. Jadi untuk adik-adik yang masih memiliki pertanyaan, saya kami akan buka pertanyaan itu. Namun boleh dikirimkan ke komting masing-masing. Nanti akan kami share ke para narasumber kita ya. Nah, seru ya untuk kuliah umum kita pada hari ini. Iya. Saya ini juga jadi salah saya salah satu pembina NU yang orang muda di Kabupaten Bekasi loh. [tertawa] Oh, salam salam. Mereka mempercayakan saya.

1:09:41 NU cabang Katolik ini berarti. NU cabang Katolik. Iya betul. Waktu Munas kemarin saya ikut juga kok. Oh Munas Gusurian. Iya Munas Gudurian di ee mana? Di Pondok Gede. Asrama yang di asrama haji Pondok Gede ya. Iya. Kok enggak ketemu kita ya, Romo ya? Saya pembicara juga loh di sana. [tertawa] Oh ya. Di bagian media saya. Di bagian media. Oh siap siap siap siap. Oke. Baik. Iya. Nah, ini berarti menjadi pintu ee silaturahmi yang baru ya, Bapak para narasumber akhirnya bisa ketemu di mudah-mudahan bisa memperpanjang silaturahmi kita untuk ke depannya ya, Pak. Nah, baik. Ee tadi seperti yang saya

1:10:27 sampaikan karena waktu kita terbatas, kita akan dipisahkan oleh waktu. Namun untuk penutup saya mau masing-masing closing statement-nya dari para narasumber kita hari ini khususnya untuk ee peluang dan tantangan nih beragama di dunia digital. Ee boleh dimulai dari Bapak Maniur dulu. Baik ee terima kasih Bu Astuti. Saya pikir tadi masih ada sesi berikutnya rupanya sudah habis Pakunya Bapak ya. Tapi lain waktu baik terima kasih. Jadi ee sebagai closing statement dari saya itu eh apa namanya ya? Eh teknologi digitalisasi itu ya bagian yang tidak

1:11:13 terpisahkan dari kita. Maka mari kita pergunakan ee digitalisasi itu untuk mengembangkan diri kita sendiri, relasi kita, dan ee mengembangkan ee pertumbuhan keyakinan kita. Dan pergunakanlah ee digitalisasi itu untuk terus membangun kebersamaan antar anak bangsa, bukan untuk menjadi ee pemecah, tetapi harusnya digitalisasi itu kita pergunakan untuk merangkul sesama ya, agar ya kita menjadi negara yang ee maju ya, yang kuat di dalam iman, tetapi juga bisa berangkulan dengan sesama yang berbeda keyakinan dengan kita. Jadi ibaratnya digitalisasi bukan musuh, tapi digitalisasi itu adalah alat yang harus kita pergunakan sebaik mungkin untuk

1:11:59 kebaikan bersama. Itu mungkin dari saya. Baik, terima kasih Pak Maniur. Boleh Romo dikasih closing statement-nya untuk hari ini. Oke. Baik saudara-saudari semuanya, teman-teman muda. Jadi gunakan teknologi sebagai berkat, bukan batu sandungan. Oh iya. menjadikan dunia digital ini tempat bukan tempat pelarian tapi tempat pewartaan yang mewartakan hal-hal yang baik meskipun dunia cepat berubah mohon iman harus tetap bertumbuh dalam kedalaman ya bukan hanya sekedar kecepatan saja ya karena ngikutin dunia digital ini tidak tapi iman tetap bertumbuh dalam kedalaman ya justru ee

1:12:48 dunia digital ini tentunya menjadi sarana bagi kita untuk menjadi rahmat, menjadi berkah di dalam hidup kita masing-masing dan setiap klik unggahan interaksi kita itu membawa rahmat bagi sesama. Tuhan memberkati. Mantap. Terima kasih, Romo. Gus Hamid nih closing statement-nya. Terima kasih. Boleh dong, Gus. Terima kasih. Saya mengutip sebuah kaidah di dalam Islam. al muhafadh alal qodim shih waldu bil jadidil aslah. Untuk iman kita harus ya dalam seperti yang dikatakan kita harus kuat seperti akar ya tapi untuk teknologi kita harus menjulang tinggi.

1:13:33 Jadi ketika iman kita kuat ya baik dalam agama apapun kita itu juga harus menjulang tinggi. Tapi tradisi agama kita harus kuat ya. Tapi di sisi lain kita harus ee bercahaya, kita harus menjulang tinggi. Jadi berakar kuat dan menjulang tinggi. Itu kita sebagai seorang Indonesia yang beriman ya, yang bertakwa kepada Tuhan. Tapi di sisi lain bagaimana kita bangga dengan keindonesiaan kita. Kita bisa ya ee mempengaruhi yang lain. Saya membacakan sedikit puisi. Saya membaca sebuah buku ya. Buku ini saya yakin teman-teman banyak yang sudah baca judulnya The Seven Habit ya. Ada tujuh kebiasaan yang

1:14:19 aktif. Ada sebuah puisi yang puisi ini masih abadi sampai sekarang di salah satu negara Eropa di Inggris sekarang sudah. Ee beliau mengatakan judulnya Ingin mengubah dunia. Ketika saya masih kecil saya bermimpi untuk mengubah dunia. Tapi semakin dewasa saya tersadar bahwa dunia sangat besar. Saya perkecil impian saya untuk mengubah negara saya. Tapi semakin dewasa, semakin bijaksana, ternyata negara juga sulit untuk dirubah. Maka saya kecilkan lagi impian saya untuk mengubah daerah saya. Ternyata daerah saya macam-macam, susah sekali. Maka kemudian saya kecilkan lagi impian saya untuk mengubah keluarga saya. Ternyata keluarga saya banyak kepala dan sangat sulit berubah. di akhir masa saya baru

1:15:06 tersadar jika pada waktu itu saya berpikir untuk mengubah diri sendiri mungkin dengan dukungan keluarga dengan dukungan negara dan mungkin saya bisa mengubah dunia. Terima kasih sampai ketemu lagi. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam luar biasa, Gus. Bolehlah nanti Gus sekali-sekali eh Habib Jafarnya didatangkan ya Gus. [tertawa] Romo siap siap siap berti Roma antara nanti yangah nanti ya [tertawa] kasih iya besokbesok Kamis kami jumpa tanggal 16 [tertawa] iya salam dari ST Bineka ya Romo. Oke. Siap siap nanti izin minta nomornya ya Romo

1:15:52 ya. Nomornya R Manir dan Roma Antara nanti. Oke. Siap siap. Oke. Baik. Ee terima kasih kepada narasumber untuk kuliah umum kita pada hari ini. Luar biasa sekali. pengalaman yang sangat ee baru dan luar biasa bagi kita semuanya. Nah, baik. Kita sebelum tutup akan melaksanakan sesi foto terlebih dahulu bagi para narasumber. Kita akan foto dengan sertifikat dari kami. Boleh di-handle kepada Pak Josua. Saya persilakan. Baik, Bu. Terima kasih untuk ee penyerahan sertifikatnya. Kita serahkan kepada Pak Irfan. Silakan, Pak Irfan.

1:16:41 Oh, ee saya ya, Pak Joswa ya. Iya, saya hanya share aja. Iya. Oh, iya. Baik, baik. Ee terima kasih banyak Pak Josua. Ee oke ini ya ini ee sertifikat untuk eh Romo Antara. Terima kasih banyak ee Romo Aan untuk ee kehadirannya ya, sudah beberapa kali ee berkenan untuk sharing di tempat kami. Terima kasih banyak Romo, sehat selalu. Nanti mudah-mudahan kita ketemu ya kalau saya sudah pulang ke saya mampir nanti. [tertawa]

1:17:27 Oke, berikutnya untuk Pak Maniur. Pak Maniur terima kasih banyak sudah hadir. Tadi saya ee mendengarkan ee penjelasannya sangat menarik sekali ya. sayang sekali memang kalau sudah menarik waktu jadi terasa sebentar. [tertawa] Salam kenal ya, Pak. Nanti mudah-mudahan kita bisa lagi ya, Pak. Mudah-mudahan tidak bosan untuk sharing dengan mahasiswa-mahasiswa kami. Baik, Pak. Baik, Pak. Terakhir untuk Pak untuk Gus Hamid. Gus Hamid terima kasih banyak sudah hadir. Ee mudah-mudahan nanti kita bisa ketemu ya. Ee, Gus ee salam kenal juga. Alhamdulillah. Ditunggu di Surabaya. Ditunggu di Surabaya. Siap. Siap. Terima kasih banyak. Alhamdulillah dipertemukan melalui Pak Zen ya. Mudah-mudahan nanti kita bisa ee bertemu lagi. Terima kasih banyak ee Bapak-bapak semua.

1:18:13 Demikian Bu Astuti, silakan. Oke. Baik, terima kasih Pak Josua dan Pak Irfan. Sekarang kita ambil sesi foto bersama bersama mahasiswa dan para narasumber ya, Pak. Oke. Baik. Ee kita foto dulu. untuk yang pertama. Sat du. Wah, ini cukup banyak nih. He ada 26. Wah, luar biasa sekali [tertawa] ya. Lima saja, Bu. Mungkin untuk perwakilan. Lima. Oke, Pak ya. Baik, Pak. Dua tiga,

1:18:59 empat. lima. Oke. Ee untuk informasi selanjutnya tayangan ini bisa diakses nanti ya, Pak ya di YouTube ya, Pak. Wah, betul. Kami Center for Interface and Multicultural Studies. Iya, nanti boleh diakses bagi adik-adik mahasiswa untuk melihat rekaman ee videonya dan ee baiklah kita sudah berada di ujung waktu, Pak. Ee saya mewakili civitas akademika dari Universitas Setyatera Bineka mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya bagi para narasumber kita yang sudah hadir berkenan berbagi pengalaman,

1:19:44 berbagi inspirasi untuk kami para dosen dan adik-adik mahasiswa. Semoga kuliah umum pada hari ini memberikan ee jendela baru, pengalaman baru bahwa beragama di dunia digital itu tidak semenyeramkan yang kita bayangkan. Nah, justru akan membawakan dampak yang lebih positif nih, kemudian membawakan ee nilai-nilai yang baru bagi orang-orang yang ee aktif di dunia digital. Mudah-mudahan pertemuan kita ini bukan pertemuan yang terakhir ya, Pak. Mudah-mudahan ada rezeki waktu lagi untuk bisa bertemu dan menjadi narasumber kami nanti di kesempatan berikutnya. Baik untuk Pak Irfan apakah ada yang mau disampaikan lagi Pak? Sudah cukup Pak Zain. Apakah ada yang mau

1:20:32 disampaikan? Sudah cukup Ibu. Mungkin terima kasih kepada eh Romo, kepada Gus Hamid, kepada Pak Maniur atas kehadirannya. Mudah-mudahan kita bisa bersilaturahim dalam ee kegiatan kuliah umum berikutnya. Baik, terima kasih Bapak. Ee ada awal ada akhir maka kita akan tutup pertemuan kita pada hari ini. Ee sebenarnya sangat berat sekali saya mau menutup. [tertawa] Enggak terasa ya, Pak waktunya. Oke. Baik. Terima kasih para kepada Pak Abdullah Hamid, kepada Romo, kepada Bapak Maniur mudah-mudahan diberikan kesehatan selalu kemudian ee diberikan kelancaran dan kemudahan dalam

1:21:18 aktivitas. Amin. Amin semuanya. Baik, terima kasih buat Bu Astuti, buat Romo, dan Pak Abdullah. Senang bertemu. Nanti saling tukar WA ya, mohon di Boleh, boleh, Pak. Boleh, boleh Romo, boleh Romo. [tertawa] Baik. Oke. Baik. Terima kasih kepada Bapak, terima kasih kepada adik-adik mahasiswa semuanya, terima kasih kepada para dosen pengampu mata kuliah keberagamaan, terima kasih kepada Pak Irfan selaku Direktur CIMS. Kemudian terima kasih kepada Pak Zainuddin yang telah mengakomodikasi semua kegiatan kita pada hari ini. Oke. Baik, kita akhiri umum kita pada hari ini. Sampai bertemu pada hari Sabtu di sesi keduanya. Selamat siang. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatam semuanya berkati.

1:22:04 Terima kasih Romo. Saya kirim salam sama Bhante Dira ya karena Oke siap siap siap saya undang Bhante Dira enggak bisa karena di Australia katanya tanggal 20. Oh iya makanya tanggal 16 enggak bisa bia ganti orang kami. I harusnya Bhante Dira yang memfasilitasi kita untuk minggu depan. Tapi karena di Australia jadi enggak bisa dari agama Buddha. Oke. Oke. Siap. Siap. Kirim salam ya, Romo ya. Oke. Siap. Ya. Y. Oke. Baik. Adik-adik mahasiswa sudah boleh logout ya, sudah boleh lift dari Zoom. Terima kasih untuk kehadirannya. Absensi jangan lupa diisi ya.

Share

Ringkasan Video YouTube