Ringkasan Singkat
Kuliah umum ini membahas tentang praktik, tantangan, dan peluang beragama di dunia digital. Para narasumber berbagi pandangan mengenai perubahan cara umat beragama berinteraksi dan mengekspresikan keyakinan mereka di era digital, serta pentingnya menjaga identitas budaya dan nilai-nilai agama di tengah perkembangan teknologi.
- Perubahan praktik keagamaan di era digital.
- Tantangan dan peluang beragama di dunia digital.
- Pentingnya menjaga identitas budaya dan nilai-nilai agama.
Pembukaan dan Doa Lintas Agama
Acara dibuka dengan doa lintas agama yang dibawakan oleh perwakilan mahasiswa dari berbagai agama (Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, dan Buddha). Doa ini mencerminkan keberagaman dan inklusivitas di Universitas Satya Tera Bineka.
Sambutan dari Direktur Center for Interfaith and Multicultural Studies
Direktur Center for Interfaith and Multicultural Studies, Bapak Irfan Sarhindi, menyampaikan sambutannya. Beliau menekankan bahwa mata kuliah agama di kampus tersebut dirancang sebagai mata kuliah lintas agama yang fokus pada aspek sosial dan kultural, serta merayakan perbedaan sebagai kekayaan. Perkembangan digital dapat menjadi ruang perjumpaan dan dialog antar agama, tetapi juga ruang kontestasi narasi keagamaan yang konfliktual. Oleh karena itu, diperlukan kedewasaan dan kematangan dalam merespon dinamika tersebut.
Perkenalan Narasumber
Moderator memperkenalkan para narasumber: Dr. Abdullah Hamid (pakar teknologi pendidikan), Romo Antonio Suhardi Antara, dan Bapak Maniur Banjarnahor (pendidik agama Kristen). Latar belakang dan pengalaman para narasumber diharapkan dapat memberikan wawasan yang mendalam tentang tema kuliah umum.
Perubahan Praktik Keagamaan di Era Digital
Moderator membuka diskusi dengan pertanyaan mengenai perubahan cara umat menjalankan praktik keagamaan sejak hadirnya ruang digital.
Pandangan Dr. Abdullah Hamid
Dr. Abdullah Hamid memulai dengan cerita tentang pengalamannya sebagai instruktur moderasi beragama di Bali, di mana ia menghadapi peserta Katolik di tempat yang mayoritas Hindu. Ia menekankan pentingnya mengikuti perubahan zaman dan mencontoh tokoh seperti Gus Dur yang menjunjung tinggi kemanusiaan di atas agama. Hukum agama dapat berubah sesuai konteks, sehingga tokoh agama harus adaptif terhadap perubahan.
Pandangan Romo Antonio Suhardi Antara
Romo Antonio Suhardi Antara menyampaikan bahwa Gereja Katolik menyadari kekuatan media digital sebagai ladang misi baru. Pandemi COVID-19 semakin menyadarkan kebutuhan akan dunia digital, termasuk dalam pelaksanaan ibadah secara online. Ia juga berbagi pengalaman tentang acara kebersamaan dengan tokoh-tokoh agama lain, seperti Habib Jafar dan Pendeta Marcel, untuk membangun kebersamaan dan persaudaraan.
Pandangan Bapak Maniur Banjarnahor
Bapak Maniur Banjarnahor menekankan bahwa dunia pasti berubah seiring perkembangan teknologi. Dalam konteks iman Kristen, gereja bukan hanya tentang gedung atau tempat, tetapi tentang komunitas orang-orang yang percaya kepada Yesus. COVID-19 mengubah paradigma bahwa membangun iman tidak harus selalu di satu tempat, tetapi harus selaras dengan perkembangan teknologi. Ia juga menyoroti pentingnya kedewasaan dalam memanfaatkan teknologi dan membangun kebersamaan antar umat beragama.
Sesi Tanya Jawab
Sesi tanya jawab dibuka untuk mahasiswa.
Pertanyaan Selni Sembiring kepada Bapak Maniur
Selni bertanya tentang bagaimana identitas budaya atau lokal etnis agama dipresentasikan dan dibentuk di ruang virtual yang global. Bapak Maniur menjawab bahwa ruang virtual seringkali menjadi pengikis nilai-nilai budaya, sehingga penting untuk tetap mempertahankan identitas dan norma-norma budaya di ruang virtual.
Pertanyaan Delia Amanda kepada Romo Antonio
Delia bertanya tentang hubungan antara kecanduan HP dengan digital faith, dan bagaimana iman bisa tetap hidup di tengah kebiasaan mengutamakan HP daripada membaca Alkitab. Romo Antonio menjawab bahwa kecanduan layar adalah tantangan dari digital faith. Teknologi harus menjadi sarana untuk mengembangkan iman, bukan tujuan. Ia menekankan pentingnya menggunakan teknologi sesuai dengan maksud dan tujuannya, serta melihat buah dari apa yang kita pakai.
Pertanyaan Nurhilal kepada Dr. Abdullah Hamid
Nurhilal bertanya tentang tanggapan terhadap Habib Jafar yang sering menggunakan guyonan dalam dakwahnya. Dr. Abdullah Hamid menjelaskan bahwa Habib Jafar menggunakan guyonan agar tidak sepaneng terkait tentang agama. Dalam Islam, tidak diperbolehkan memaksa dalam memasukkan agama Islam. Strategi dakwah Habib Jafar meniru strategi dakwahnya Gus Dur dengan beragama dengan asyik.
Closing Statement
Para narasumber memberikan closing statement.
- Bapak Maniur: Mempergunakan digitalisasi untuk mengembangkan diri, relasi, dan pertumbuhan keyakinan, serta membangun kebersamaan antar anak bangsa.
- Romo Antonio: Menggunakan teknologi sebagai berkat, bukan batu sandungan, dan menjadikan dunia digital sebagai tempat pewartaan yang mewartakan hal-hal yang baik.
- Dr. Abdullah Hamid: Untuk iman, kita harus kuat seperti akar, tapi untuk teknologi, kita harus menjulang tinggi.
Penutup
Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan ucapan terima kasih kepada para narasumber dan peserta.

