MENDALAMI TRAGEDI KANJURUHAN DALAM 16 MENIT

Ringkasan Singkat

Video ini membahas tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada 1 Oktober 2022, di mana pertandingan sepak bola antara Arema FC dan Persebaya Surabaya berakhir dengan kematian massal ratusan penonton. Dengan lebih dari 40.000 penonton memenuhi stadion, situasi memanas dan berujung pada keributan yang melibatkan aparat keamanan, pemukulan, dan akhirnya penggunaan gas air mata yang menimbulkan kepanikan besar. Korban jiwa yang tercatat mencapai lebih dari 130 orang, menjadikannya salah satu tragedi sepak bola terburuk dalam sejarah.

  • Pertandingan berujung tragedi
  • Gas air mata digunakan dalam kerusuhan
  • Jumlah korban jiwa yang tinggi

Tragedi Kanjuruhan: Saat Pertandingan Menjadi Kematian

Pada tanggal 1 Oktober 2022, Stadion Kanjuruhan menjadi tempat tragedi ketika sebuah pertandingan sepak bola berlangsung. Pertandingan antara Arema FC dan Persebaya Surabaya yang seharusnya menjadi hiburan malah berakhir dengan kematian massal ratusan orang. Tragedi ini membuat guncang tidak hanya Indonesia tetapi juga dunia sepak bola internasional, di mana ratusan nyawa hilang dalam waktu yang sangat singkat. Penonton yang hadir, yang dikenal dengan sebutan Aremania, datang dalam jumlah besar dan menghadapi kemacetan dalam perjalanan menuju stadion.

Suasana Panas di Stadion

Sebelum pertandingan dimulai, Aremania memenuhi Stadion Kanjuruhan dengan semangat tinggi, menyemarakkan rivalitas antara Arema dan Persebaya. Pertandingan dimulai dan berjalan dengan tensi tinggi, dengan gol-gol yang tercipta dari kedua tim. Namun, suasana mulai tegang ketika terjadi keributan di tribun, yang direspons oleh aparat keamanan. Meskipun situasi sempat terkendali, peristiwa mulai bergejolak ketika Arema tertinggal dan beberapa oknum penonton melemparkan benda ke lapangan, meningkatkan ketegangan di antara penonton dan petugas keamanan.

Keributan di Lapangan

Setelah pertandingan berakhir dengan kekalahan Arema, muncul insiden ketika beberapa penonton memasuki lapangan dan alterkasi dengan pemain terjadi. Ketika aparat keamanan mencoba mengendalikan situasi, penonton yang mengalami pemukulan oleh polisi muncul, memicu reaksi massa yang mengamuk dan menyerbu lapangan. Konflik tersebut berkembang menjadi kerusuhan besar, dengan pertarungan antara penonton dan polisi, mengakibatkan banyak penonton terluka.

Penggunaan Gas Air Mata

Dalam upaya untuk mengendalikan kerusuhan, polisi melepaskan gas air mata ke arah kerumunan penonton. Gas air mata seusai dilemparkan ke beberapa tribun, menyebabkan panik di kalangan penonton. Banyak penonton, terutama anak-anak dan perempuan, mengalami kesulitan bernafas dan berjatuhan. Situasi semakin genting karena pintu keluar yang terkunci menyebabkan penonton terjebak dan mengalami desakan berlebihan, mengakibatkan banyak dari mereka kehilangan nyawa.

Kondisi Pasca Tragedi

Setelah kejadian tersebut, stadion menjadi tempat yang mengerikan dengan banyaknya korban yang terkapar. Proses evakuasi korban sangat kacau, di mana banyak tubuh tidak tertangani dengan baik dan beberapa bahkan terkena hujan. Korban yang terluka parah dibawa ke rumah sakit dengan menggunakan truk tentara, dan banyak dari mereka tidak selamat. Pihak kepolisian melakukan penghitungan jumlah korban, yang awalnya menyebutkan 131 jiwa, namun kemudian diperdebatkan karena Aremania mengklaim jumlah yang lebih tinggi.

Penyelidikan dan Tanggung Jawab

Setelah peristiwa tersebut, pihak berwenang membentuk tim untuk menyelidiki tragedi Kanjuruhan. Temuan tim mengungkap adanya kelebihan kapasitas penonton, tindakan represif oleh aparat, serta penggunaan gas air mata yang berlebihan. Pada akhirnya, enam orang ditetapkan sebagai tersangka, dan meskipun banyak kejanggalan dalam proses peradilan, hukuman dijatuhkan terhadap mereka. Tragedi ini masih meninggalkan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab dan menjadi catatan kelam dalam sejarah sepak bola Indonesia, menyoroti bahaya dari kerusuhan dalam dunia olahraga.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:12 Pada tanggal 1 Oktober 2022, Stadion Kanjuruhan yang menjadi simbol kebanggaan pecinta sepak bola Kota Malang tiba-tiba berubah menjadi kamar mayat bagi ratusan orang. Di markas klub Arema itu, sebuah tragedi pilu yang menyesakkan dada terjadi. Pertandingan sepak bola yang harusnya [musik] menjadi hiburan masyarakat malah berakhir dengan kematian massal. Tak hanya di Indonesia, seluruh dunia dibuat terguncang akibat tragedi ini. Selama beberapa menit ke depan, kita akan mendalami apa yang sebenarnya terjadi di balik tragedi Kanjuruhan hingga membuat ratusan nyawa terenggut dalam waktu sangat singkat. Bagaimana bisa teriakan dan nyanyian di tribun penonton berubah menjadi suara tangisan dan jeritan yang tak mungkin bisa dilupakan sampai kapanpun.

1:02 [musik] Sekitar 40.000 Rib pendukung klub Arema yang dikenal dengan sebutan Aremania memadati Stadion Kanjuruhan pada Sabtu malam tanggal 1 Oktober 2022. Aremania memang selalu setia mendukung klub kebanggaan mereka di setiap pertandingan. Namun malam itu berbeda. Semua Aremania seperti mendapat panggilan wajib untuk datang ke stadion karena lawan yang dihadapi adalah Persebaya Surabaya sesama tim asal Jawa Timur yang telah menjadi musuh bebuyutan selama bertahun-tahun. Arema versus Persebaya bukan hanya soal pertandingan sepak bola, tetapi tentang rivalitas panjang yang taruhannya adalah harga diri. Sejak sore hari, lautan biru yang

1:49 menjadi warna khas Aremania terlihat di seluruh penjuru Stadion Kanjuruhan. Padahal pertandingan baru akan dimulai malam hari. Menurut kesaksian beberapa penonton, sore itu memang berbeda seperti biasanya. Perjalanan menuju Stadion Kanjuruhan harus dilalui penuh perjuangan. Terjadi kemacetan di beberapa titik. Mereka menghabiskan waktu hingga 2 jam dari yang biasanya cukup ditempuh sekitar 40 menit karena jalanan yang padat oleh Aremania. Begitu juga ketika mereka berada di stadion harus antrejam-jam sekedar masuk ke area tribun. Pertandingan dimulai sekitar pukul 20.00. Seperti biasanya, pertandingan Arema versus Persebaya selalu berlangsung panas. Apalagi di malam itu terjadi hujan gol. Baik Arema

2:35 maupun Persebaya sama-sama berhasil membobol gawang lawan dua kali di babak pertama. Tensi panas mulai menjalar ke area tribun penonton. Pada saat istirahat babak pertama terjadi beberapa keributan di tribun 13. Beberapa orang terlihat saling mengejar dan berkelahi. Mereka kemudian diamankan aparat yang berjaga. Tidak jelas apa yang menjadi pemicu perkelahian itu. Namun insidennya tidak terlalu besar. Pertandingan pun berlanjut ke babak kedua. Pada menit ke-51, Persebaya berhasil mencetak gol. Dalam situasi Arema tertinggal, suasana di tribun penonton semakin memanas. Menurut kesaksian salah satu penonton yang dimuat oleh BBC, beberapa oknum Aremania mulai melempari benda asing ke area lapangan. Mereka juga terdengar

3:21 mengucapkan kata-kata kasar. Namun, pertandingan terus berlanjut hingga akhirnya wasit meniup peluit panjang pada menit ke-90. Arema harus mengakui kekalahan atas Persebaya. di kandangnya sendiri di hadapan puluhan ribu pendukungnya. Setelah pertandingan selesai, beberapa pemain Arema terlihat mendatangi tribun penonton. Sambil tertunduk lesu, mereka meminta maaf kepada Aremania. Sekitar 15 menit, para pemain Arema masih berada di lapangan. Sementara pemain Persebaya langsung berlari menuju ruang ganti dengan pengawalan ketat dari aparat keamanan. Dan tiba-tiba di tengah situasi yang masih panas, satu penonton yang diikuti tiga orang lain di belakangnya berlari masuk ke area lapangan. Mereka berasal

4:06 dari tribun 9 dan 10. Penonton itu kemudian mendekati pemain Arema. Terlihat menunjuk-nunjuk seperti meluapkan kekesalan. Sementara pemain Arema yang menghadapinya terlihat berusaha menenangkan dengan merangkul penonton tersebut. Namun di sinilah awal dari petaka mengerikan terjadi. Masih menurut kesaksian seorang penonton, polisi kemudian datang menghampiri penonton yang masuk ke lapangan kemudian melakukan tindakan represif. Polisi menarik baju penonton tersebut kemudian melakukan aksi pemukulan. Disebutkan penonton tersebut sampai terjatuh setelah dipukul. Tiga temannya yang ada di belakang berusaha menolong. Namun mereka berakhir dengan nasib yang sama. dipukuli menggunakan tongkat hingga terjatuh. Pada saat itu, satu penonton

4:51 yang dipukuli terkapar di atas rumput lapangan. Sementara tiga lainnya sempat melawan, namun akhirnya kabur. Dan tentu saja apa yang terjadi di lapangan pada saat itu disaksikan oleh puluhan ribu penonton yang masih berdiri di tribun dalam situasi panas. Seperti api yang tersiram bensin, ledakan amarah pun membakar seisi tribun. Ratusan penonton mulai memanjat pagar pembatas kemudian masuk ke area [musik] lapangan. Mereka mengejar oknum polisi yang melakukan pemukulan. Polisi lain yang berjaga tak tinggal diam. Aksi kejar-kejaran, baku hantam, dan saling banting antara pasukan polisi dan ratusan penonton tak bisa terhindarkan. Area lapangan Stadion Kanjuruhan berubah menjadi tempat pertarungan massal. Beberapa penonton terkapar tak bergerak setelah mendapat

5:38 pukulan tongkat polisi. Kepala mereka mengeluarkan cairan merah segar. Penonton lain yang berusaha menolong malah mengalami hal yang sama. Ada juga polisi yang terlihat tak berdaya dikerumuni dan dipukuli belasan penonton. Dalam situasi yang sangat kacau, beberapa polisi mulai mengerahkan anjing pelacak untuk memukul mundur penonton. Namun, situasi tak kunjung terkendali. Ratusan penonton dari tribun terus memasuki area lapangan dan mengejar polisi. Hingga akhirnya terdengar bunyi letusan di beberapa titik yang diikuti kepulan asap pekat berwarna putih. Asap tersebut menjadi awal dari insiden pilu terenggutnya ratusan nyawa malam itu di mana tribun penonton mendadak berubah jadi tempat yang sangat mengerikan.

6:29 Setelah pertarungan massal yang sangat brutal di lapangan tak bisa dihentikan, polisi pada akhirnya harus melakukan satu tindakan yang sebenarnya sangat fatal. Melepaskan gas air mata ke arah kerumunan penonton. Gas air mata pertama ditembakkan ke tribun 12. Dari kejauhan terlihat area tribun tersebut berubah [musik] menjadi lautan awan putih. Saking pekatnya, para penonton yang ada di tribun tak bisa terlihat. Kemudian gas air mata juga ditembakkan ke tribun 10, 11, dan 14. Situasi mengerikan terjadi di tribun 14 yang kebanyakan dipenuhi anak-anak dan perempuan. Mereka mulai menjerit dan menangis karena rasa perih di mata dan kesulitan bernafas. Beberapa orang mulai terlihat berjatuhan

7:14 tak sadarkan diri. Ratusan penonton yang ada di tribun berusaha keluar untuk menghindari efek gas air mata. Namun karena bergerak bersamaan terjadi desak-desakan menuju pintu keluar. Ada yang terjepit hingga akhirnya kehilangan nyawa. Dan ada juga yang bernasib lebih tragis lagi yaitu terinjak-injak di sekitar area tangga. Beberapa wanita mulai berteriak mencari anak-anak mereka yang terpisah di tengah kerumunan. Teriakan itu kemudian berubah menjadi tangisan pilu. Ketika melihat anak yang mereka cari telah terbujur kaku di tengah lautan manusia. Ketika itu pintu keluar di area tribun dalam keadaan terkunci. Hal itu membuat kerumunan penonton yang hendak keluar malah terjebak. Mereka berusaha mendobrak

8:00 pintu besi, namun tak berhasil. Ratusan penonton kemudian berdatangan dari area tripun membuat mereka yang ada di depan pintu tercepit. Karena kehabisan oksigen mereka bertumbangan dan terinjak-injak. [musik] Malam itu, pintu 13 stadion Kanjuruhan berubah menjadi kuburan massal. Puluhan orang yang kebanyakan anak-anak terkapar tak bernyawa. Sementara yang masih dalam keadaan sadar hanya bisa menangis karena terjepit. Mereka [musik] hanya bisa pasrah menunggu ajal. Di area lain, tepatnya di sekitar Musola Stadion, situasinya tak kalah mengerikan. Puluhan orang terkapar dalam kondisi sangat tragis. Kebanyakan mengalami luka di bagian kepala yang entah apa penyebabnya. Ada juga kesaksian yang bikin merinding dari salah satu pemain asing Arema bernama Abel Kamara. Menurut

8:48 Kamara, setelah kekacauan terjadi, mereka segera diamankan aparat menuju ruang ganti. Namun dari ruang ganti mereka bisa mendengar dengan jelas keributan yang terjadi di lapangan. Para pemain juga mendengar suara dentuman yang berasal dari gas air mata yang ditembakkan. Beberapa saat kemudian, Kamara melihat puluhan orang yang dimasukkan ke ruang ganti dalam keadaan kritis. Mereka diduga kehabisan oksigen akibat terjebak di tribun yang dipenuhi gas air mata. Kamara juga bisa mendengar dengan jelas suara teriakan dan jeritan yang membuat situasi malam itu menjadi sangat mencekam. Para pemain Arema yang ada di ruang ganti tak bisa ke mana-mana selama 4 jam. Setelah situasi mulai berangsur aman, para pemain Arema dengan pengawalan ketat aparat kepolisian

9:35 digiring keluar area stadion. Pada saat itulah Kamara melihat pemandangan yang tak bisa dia lupakan seumur hidup. Tepat di depan ruang ganti pemain Arema, puluhan tubuh tak bernyawa diletakkan berjajar. Di perjalanan keluar dari stadion, Kamara melihat ratusan sepatu, pakaian, dan cairan merah segar menempel [musik] di lantai. Meski terdengar mengerikan, kesaksian Kamara tersebut ternyata hanya menjadi bagian kecil dari banyaknya fakta yang jauh lebih mengerikan yang terungkap beberapa hari kemudian yang bahkan sampai membuat tragedi kanjuruhan jadi pemberitaan menghebohkan di luar negeri. Setelah kerusuhan berakhir, ruang lobi dan beberapa area di dalam Stadion Kanjuruhan digunakan sebagai posco

10:22 evakuasi darurat. Di momen ini lagi-lagi ada kesaksian [musik] mencekam dari beberapa relawan yang melakukan evakuasi. Mereka mengatakan [musik] saking banyaknya beberapa tubuh tak bernyawa tergeletak begitu saja tanpa kain penutup ketika dievakuasi ke Rumah Sakit Teja Husada, Kabupaten Malang. Bahkan memasuki tengah malam, hujan tiba-tiba mengguyur. Tubuh-tubuh tak bernyawa itu dibiarkan saja di luar terkena rintik hujan. Beberapa korban yang masih ada di stadion dalam kondisi kritis dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans dan truk tentara. Situasi malam itu benar-benar kacau. Banyak korban kritis yang kemudian kehilangan nyawa di perjalanan atau selama menjalani perawatan di rumah sakit. 5 hari berselang, pihak kepolisian mengumumkan jumlah korban

11:09 jiwa tragedi Kanjuruhan sebanyak 131 orang. Namun data itu dibantah Aremania. Menurut mereka, jumlah korban mencapai 200 orang karena adanya beberapa penonton kehilangan nyawa yang langsung dibawa ke rumah duka tanpa didata di rumah sakit. Pada tanggal 24 Oktober, pihak kepolisian kembali melakukan pembaruan data korban jiwa. Disebutkan ada 135 orang yang kehilangan nyawa akibat tragedi Kanjuruhan. Mirisnya, sebagian besar korban masih berada di bawah umur dengan rentang usia 3 sampai 17 tahun. Selain itu, 42 korban jiwa di antaranya adalah perempuan. Berdasarkan jumlah korban tersebut, tragedi Kanjuruhan menjadi tragedi sepak bola

11:55 paling mematikan kedua sepanjang sejarah. Setelah bencana Estadion Nasional tahun [musik] 1964 di Peru yang jumlah korbannya 328 [musik] jiwa, pemerintah kemudian membentuk tim pencari fakta gabungan untuk mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi di [musik] balik tragedi Kanjuruhan dan siapa yang harus bertanggung jawab. Tim pencari fakta kemudian mendapati beberapa temuan penting yang terdengar janggal dan tidak seharusnya terjadi, yaitu jumlah penonton yang melebihi kapasitas stadion. Menurut ketua tim pencari fakta saat itu, Mahfud MD, kapasitas stadion Kanjuruhan hanya Rp38.000. Namun saat malam tragedi terjadi, [musik] tiket yang dijual diduga sebanyak R2.000.

12:40 Hal inilah yang menyebabkan terjadinya desak-desakan hebat di tripun. Selain itu, tim pencari fakta juga menyoroti soal aksi kekerasan yang dilakukan aparat di lapangan yang memicu amarah penonton di tribun. Dan yang paling mengejutkan, tim pencari fakta menemukan adanya mobilisasi pasukan yang membawa gas air mata pada pertengahan babak kedua. Padahal saat itu tidak ada ancaman atau potensi gangguan [musik] keamanan. Perdebatan juga terjadi mengenai jumlah gas air mata yang dilepaskan aparat. Polri mengklaim hanya 11 gas air mata yang ditembakkan. Namun, media Washington Post memberi data mengejutkan [musik] bahwa aparat melepaskan 40 gas air mata. hanya dalam 10 menit. Selain itu, ada juga perdebatan mengenai penyebab para korban

13:27 kehilangan nyawa. Berdasarkan otopsi yang dilakukan tim independen dari Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia, tidak ada residu gas air mata yang ditemukan di tubuh para korban dan penyebab mereka kehilangan nyawa kebanyakan akibat patah tulang iga dan dada yang diduga akibat terinjak-injak dan berdesak-desakan. Namun keluarga korban memberi kesaksian mereka yang kehilangan nyawa didapati dalam kondisi wajah menghitam, busa keluar dari mulut, dan adanya cairan urin yang keluar. Selain itu, aparat juga mengklaim kekerasan yang terjadi di lapangan adalah upaya membela diri. Tetapi ini juga dibantah oleh Aremania yang menyebut aparat melakukan pemukulan terlebih dulu. Sebagaimana terlihat pada beberapa video yang viral di media

14:13 sosial. Semua temuan janggal tim [musik] pencari fakta serta perbedaan versi dari aparat dan pihak keluarga korban tidak pernah ada penjelasan pasti mana yang benar dan mana yang salah, siapa yang berkata jujur dan siapa yang berbohong. Pihak Aremania dan keluarga para korban menuntut adanya proses keadilan [musik] yang transparan. Polri kemudian mengumumkan enam tersangka yang dianggap bertanggung jawab atas tragedi Kanjuruhan. Mereka menjalani proses peradilan yang lagi-lagi disoroti karena adanya beberapa kejanggalan. Salah satu yang paling menghebohkan saat itu adalah fakta tabung gas air mata yang ditemukan di tribun yang mengindikasikan aparat menembakkan gas air mata secara langsung ke arah penonton. Namun, jaksa penuntut umum malah menyatakan faktor angin

15:01 menjadi penyebab yang lebih krusial [musik] dalam tragedi kancuruhan. Dari keenam tersangka, satu di antaranya dibebaskan. Sementara lainnya divonis hukuman beragam berkisar 1 sampai 2 seteng tahun penjara. Dua tersangka bahkan sempat divonis bebas juga namun dibatalkan oleh Mahkamah Agung. Tragedi Kanjuruhan sempat membuat sepak bola Indonesia berada di ambang sanksi berat. Namun berkat lobi yang dilakukan pemerintah FIFA tidak menjatuhkan sanksi sama sekali. bahkan justru mengajak PSSI sebagai organisasi induk sepak bola Indonesia untuk berkolaborasi agar tragedi yang sama [musik] tidak terulang lagi. Namun apapun itu, tragedi Kanjuruhan tetap menjadi catatan merah yang tidak akan pernah bisa dihilangkan

15:46 dari sejarah sepak bola Indonesia [musik] untuk selamanya. Jangankan ratusan nyawa, satu nyawa yang melayang sudah terlalu mahal hanya untuk ditukarkan dengan sebuah pertandingan sepak bola. [musik]

Share

Ringkasan Video YouTube