Mengapa Rupiah Terus Melemah?

Ringkasan Singkat

Video ini membahas penyebab melemahnya nilai Rupiah terhadap Dolar Amerika, yang mencapai Rp17.500. Ferry Irwandi menjelaskan bahwa pelemahan ini disebabkan oleh kombinasi faktor eksternal (ekonomi global, kebijakan AS, geopolitik), faktor domestik (belanja negara yang besar, subsidi energi, peningkatan impor), dan kepercayaan pasar. Solusi yang ditawarkan meliputi perbaikan komunikasi pemerintah, pembenahan struktur APBN, dan sinergi antara Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

  • Pelemahan Rupiah disebabkan faktor eksternal, domestik, dan kepercayaan.
  • Pemerintah perlu memperbaiki komunikasi dan transparansi.
  • Struktur APBN harus dibenahi untuk efisiensi.
  • Sinergi antar lembaga keuangan sangat penting.

Pendahuluan

Ferry Irwandi membuka video dengan menjelaskan bahwa konten ini akan membahas secara objektif dan komprehensif mengenai penyebab melemahnya nilai Rupiah. Ia menekankan pentingnya pemahaman yang holistik agar tidak terjebak pada informasi yang setengah benar atau bias.

Konteks Pelemahan Rupiah

Rupiah melemah hingga menembus Rp17.500 per dolar AS, menjadi yang terparah dalam sejarah. Ferry Irwandi mengkritik pembahasan di media sosial yang seringkali tidak komprehensif dan cenderung ekstrem, misalnya klaim bahwa pelemahan Rupiah hanya menguntungkan eksportir. Ia membantah klaim tersebut dengan data pertumbuhan ekspor yang tidak signifikan dibandingkan impor. Ia juga menolak anggapan bahwa pelemahan Rupiah hanya tanggung jawab Bank Indonesia, karena kebijakan fiskal dan kepercayaan pasar juga berperan penting. Selain itu, ia menegaskan bahwa kondisi saat ini belum separah krisis 1998 karena percepatan pelemahan Rupiah tidak secepat dulu.

Faktor-faktor Penyebab Pelemahan Rupiah

Ferry Irwandi membagi penyebab pelemahan Rupiah menjadi tiga lapis faktor: eksternal, domestik, dan kepercayaan. Faktor eksternal meliputi kondisi ekonomi global, kekuatan dolar AS, dan konflik geopolitik. Dolar AS menguat karena dunia sedang tidak stabil, sehingga banyak investor mencari "safe haven" dan suku bunga di AS masih tinggi. Faktor domestik meliputi belanja negara yang besar, subsidi energi, dan peningkatan kebutuhan dolar.

Analisis Faktor Domestik

Ferry Irwandi menjelaskan bahwa faktor domestik menjadi alasan mengapa tanggung jawab pengendalian kurs tidak bisa dipisahkan antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan. Pendapatan negara meningkat 10,5%, namun belanja negara meningkat lebih besar, yaitu 31,4%. Belanja pemerintah pusat mencapai 610 triliun, yang menyebabkan defisit APBN sebesar 240 triliun atau 0,95% dari PDB. Defisit ini tidak akan menjadi masalah besar jika situasinya stabil, namun karena kondisi yang kompleks, defisit ini berdampak pada pelemahan Rupiah. Kebutuhan impor Indonesia meningkat, sementara pertumbuhan ekspor melambat. Subsidi energi juga meningkat signifikan, mencapai 118 triliun, untuk menjaga daya beli masyarakat.

Kepercayaan Pasar

Ferry Irwandi menekankan pentingnya kepercayaan pasar. Masyarakat semakin pintar dan mudah mengakses informasi, sehingga tidak mudah tergiur dengan klaim pertumbuhan ekonomi yang tinggi jika tidak disertai disiplin fiskal, kredibilitas bank sentral, dan arah kebijakan ekonomi yang jelas. Jika pasar tidak percaya, mereka akan menarik investasinya, yang semakin menekan Rupiah. Kombinasi faktor eksternal, domestik, dan kepercayaan inilah yang menyebabkan Rupiah menyentuh angka Rp17.500.

Solusi untuk Memperkuat Rupiah

Ferry Irwandi menawarkan beberapa solusi untuk memperkuat Rupiah. Pertama, pemerintah harus memperbaiki komunikasi dengan masyarakat, menghindari glorifikasi yang tidak realistis dan memberikan penjelasan yang objektif. Kedua, struktur APBN harus diperbaiki dengan memotong belanja yang tidak efektif dan mubazir. Ketiga, pemerintah harus memberikan insentif yang menarik agar pengusaha menyimpan dolarnya di Indonesia. Terakhir, Bank Indonesia, OJK, dan Kementerian Keuangan harus bersinergi dalam membuat kebijakan agar tidak saling bertabrakan dan dapat menahan capital outflow. Dengan sinergi ini, pemerintah dapat menentukan suku bunga yang tepat tanpa meresikokan beban ekonomi masyarakat.

Kesimpulan

Ferry Irwandi menyimpulkan bahwa solusi-solusi ini tidak bisa terjadi secara instan dan membutuhkan kerja keras dari pemerintah. Ia percaya bahwa pemerintah dapat melakukan yang terbaik untuk menstabilkan nilai Rupiah.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 Halo warga sipil sekalian. Oke, ini konten yang singkat tapi gua jamin tetap komprehensif. Di prinsipil ekonomi kali ini kita akan menjelaskan kenapa rupiah melemah secara objektif, holistik, dan gua rasa akan bermanfaat untuk teman-teman semua. Jadi selamat datang di prinsipil ekonomi mata uang Garuda kembali melemah dan menembus level Rp17.500 per dolar Amerika. Ini merupakan pelemahan terparah sepanjang sejarah. Oke, Teman-teman gini. Kenapa konten ini

0:47 harus gua buat? Karena selama ini gua lihat di media sosial itu pembahasannya kebanyakan half trut ya atau enggak komprehensif ya atau tergantung lu ada di siteya mana ya. Jadi ekstrem semua gitu loh. Kayak part of part-nya diambilin tapi enggak dibahas secara keseluruhan. Misalnya buat pro, buat pendukung. Mereka dengan sangat gampang bilang, "Oh ini kita enggak perlu cemas. Kita enggak usah khawatir rupiah 17.500 itu menguntukkan eksportir gitu." Jadi kalau eksported dia bakal lebih kaya karena rupiahnya melemah gitu. Coba kalian pikir gitu dan lain sebagainya. Men, lu lihat pertumbuhan ekspor kita itu enggak tinggi ya, 0,90 per PDB ya, Teman-teman. Ee sedangkan impor kita 7% ke atas gitu ya pertumbuhannya. Walaupun masih neracanya masih surplus gitu, tetap aja angka dan data yang disajikan pemerintah pun menunjukkan bahwa aktivitas ekspor kita tidak sebesar itu.

1:33 Artinya apa? Artinya yang mendapatkan keuntungan seperti itu sedikit sekali dibandingkan jumlah penduduk Indonesia secara keseluruhan. Jadi bukannya salah, tapi ya itu enggak komprehensif. Ada juga yang bilang, "Enggak kok ini enggak boleh disalahin di Kementerian Keuangan. Ini kan urusannya Bank Indonesia. Jadi kalau rupiah rumah enggak ada hubungannya sama Menteri Keuangan. Tidak juga ya walaupun pendukung Pak Purbaya ataupun anaknya Pak Purbaya sekalipun gua minta maaf tapi itu hal yang keliru juga karena ekonomi itu kausalitas dan enggak ada sejarahnya kalau kita ngomongin kurs itu semata-mata urusan kebijakan moneter doang. Itu dipengaruhi fiskal juga, ekonomi pales juga, kebijakan pemerintah juga. dan kepercayaan pasar juga yang mana dibangun oleh fiskal dan moneter serta polisi yang ada di republik ini. Jadi, jangan dilempar-lempar kesalahannya. Ada juga yang bilang nih yang benar-benar,

2:20 "Wah, kita udah krisis nih, udah lebih parah dari 98." No, kita juga belum atau enggak lebih parah dari 98. Itu juga sesuatu yang keliru ya, Teman-teman. Walaupun misalnya kurs di 98 itu lebih kecil katakan, tapi yang bikin itu krisis adalah percepatannya. karena kenaikan itu terjadi dalam waktu yang singkat 600% dari 2400 ke 15.000 misalnya. Nah, itulah yang membuat pasar panik dan hancur waktu itu. Tapi kalau ini kan kita bisa lihat kurvanya ya, dia terus melemah tapi enggak sampai tingkat percepatannya sebesar di 98 dan ini yang harus kita pahami. Jadi, balik lagi pertanyaannya kenapa rupiah melemah? Oke, Teman-teman. Hari ini kalau kita lihat itu 17.500 dan sebenarnya penyebabnya enggak bisa kita lihat.

3:05 Dalam sisi yang tunggal ada banyak faktor dan kompleks. Oke, sederhananya gua bagi ketiga lapis faktor kenapa rupiah melemah. Pertama eksternal, kedua domestik. Ketiga, kepercayaan. Apa yang dimaksud faktor eksternal? Ya, faktor ekonomi global, faktor Amerika Serikat, faktor konflik, faktor betapa kuatnya dolar sekarang, gitu. Jadi sebenarnya yang sedang melemah itu bukan rupiah doang. Banyak mata uang lain melemah, tapi kebetulan rupiah jadi salah satu yang paling lemah. Paham? Memang dolar itu lagi kuat-kuatnya. Kenapa dolar lagi kuat-kuatnya? Karena dunia lagi enggak baik-baik saja dan orang butuh safe heaven, orang butuh jaminan yang lebih tinggi. Apalagi suku bunganya Amerika Serikat itu enggak turun-turun, masih tinggi gitu. Jadi kalau lu punya duit,

3:50 ngapain lu backting ke aset ataupun investasi ke negara-negara yang volatile? Ya kan ya? Mending lu masukin aja ke US gitu loh. Karena dia bisa ngasih imbal atau kompensasi yang lebih besar karena dolarnya semakin menguat. Itulah kenapa banyak sekali modal keluar dari negara-negara berkembang menuju negara-negara maju. Terutama Amerika Serikat. Itu yang membuat tekanan ke rupiah itu semakin besar. Terus juga geopolitik dalam keadaan Timur Tengah sekarang yang belum stabil, Iran masih berkonflik dan lain sebagainya itu membuat balik lagi orang mencari self heaven, orang mencari aman. Orang lebih baik ya udah gua beli dolar aja daripada mata uang di negara gua. Apalagi di Indonesia yang kita tahu mata uang kita juga bukan termasuk mata uang yang kuat dan stabil. Itulah kenapa

4:36 banyak sekali dolar keluar dari republik ini. Tapi sebenarnya kita enggak akan semelemah itu kalau domestik kita kuat. Nah, masalahnya apa yang sebenarnya terjadi di domestik kita? Ada beberapa hal yang teman-teman harus lihat. Pertama, belanjanya besar. Kedua, subsidi energi. Ketiga, kebutuhan dolar meningkat. Oke. Kalau faktor eksternal tadi itu kiranya teman-teman gampang ya nangkap. Sekarang kebutuhan domestik itu dan itulah kenapa kita enggak bisa misahin antara tanggung jawab Bank Indonesia atau Kementerian Keuangan untuk mengendalikan kurs ini. Enggak bisa dibilang ini pure salah Bank Indonesia. No. Bank Indonesia adalah pihak yang bertanggung jawab, punya otoritas, independensi, yes. Tapi untuk melemahnya dolar itu butuh keterlibatan semua pihak, gitu. Oke, kita bahas

5:22 secara domestik lebih detail. Dolar hari ini 17.500, Teman-teman. Ya kan? Nah, kalau APBN kita bedah, kita akan menemukan sesuatu yang menarik. Pendapatan negara kita ternyata meningkat 10,5%. Kalau dalam angka kita meningkat 574,9 triliun which is besar. Ini angka yang besar. Q1 kita pendapatan negara meningkat 10,5%. Tapi namanya APBN kita enggak boleh ngitung pendapatannya doang dong. Kita harus ngelihat belanjanya. Nah, di belanja ternyata angkanya lebih besar lagi. Angkanya ada 31,4% menaik daripada Q sebelumnya. Jadi kita negara ini pemerintah belanja di APBM itu 815 triliun dan kenaikannya kayak

6:09 yang pernah kita bahas di kemarin porsinya di PDB atau GDP itu 21,8%. Nah, kalau diangkakan kayak gua bilang tadi 815 triliun dan lebih menarik lagi ketika kita bedah angka15 triliun ini ternyata 600 10 triliun itu belanja pemerintah pusat. Makanya ketika efisiensi terjadi, banyak pemda yang menjerit, banyak hal-hal yang terjadi, banyak pengurangan guru honorer atau P3K dan lain sebagainya, negara berhemat. Ya, inilah faktanya 610 triliunnya itu ternyata belanja pemerintah pusat ya, bentuknya MBG, pengadaan PGN dan belanja-belanja yang lain. Itu dua,

6:54 salah dua dari semua belanja pemerintah pusat ya. Nah, yang menarik adalah ketika kita membahas soal energi atau subsidi. Tapi sebelum itu, kita harus lihat akhirnya postur yang ada di Q1 ini menghasilkan defisit sekedar 240 triliun yang mana senilai 0,95 PDB dari GDP atau PDB. Oke, Teman-teman. Sebenarnya angka 240 triliun itu itu enggak akan jadi masalah yang besar dan enggak akan cukup untuk melemahkan rupiah. Karena bertahun-tahun di berbagai negara defisit APBN itu tidak serta-merta melemahkan kurs atau mata uang sebuah negara. Nah, cuma karena situasinya lebih kompleks dari yang kita pikir dan keadaannya lebih tidak stabil ini akhirnya berdampak. Berdampak

7:41 gimana? Gini kayak yang kita bedah ya, Teman-teman. Indonesia itu kebutuhannya atas impor itu lagi tinggi-tingginya. Walaupun neraca pembayaran kita itu masih positif ya, masih lebih banyak ekspornya, cuman pertumbuhannya itu beda jauh gitu. Pertumbuhan ekspor kita 0,90, pertumbuhan impor kita per PDB 7,18. Nah, kalau kita lihat perdagangannya di Q1, ekspor itu cuma tumbuh 0,34 sedangkan impor itu naiknya 10,05. Nah, ketika rupiah melemah ya beban APBN jadi lebih besar dong untuk membayar ya kan karena 1 dolarnya lebih mahal

8:29 dan itu membuat rupiah semakin tertekan dan tertekan dan tertekan. Sementara di sisi yang lain kayak gua bilang tadi itu arus modal terus keluar. Karena apa? Karena yang dilihat postur seperti ini, keadaan seperti ini kalau menyangkut fiskalnya. Dan balik lagi pemerintah sudah melakukan spending yang besar sekali. Dan salah satu spending terbesar itu datang dari subsidi energi. Kenaikan belanja subsidi energi kita lebih dari 266% dan kalau diangkakan itu 100 18 triliun. udah hampir 30% dari APBN dan ini memang harus dilakukan karena untuk menjaga perekonomian tetap jalan

9:15 dan tumbuh supaya tidak terjadi inflasi. Kalau ini tidak dilakukan, daya beli kurang dong. Jadi masalah subsidi pun sebenarnya enggak jadi problem kalau cuma berdiri sendiri. Tapi karena sebab dan kausalitas seperti ini, akhirnya balik lagi tekanan paling lemah datang ke rupiah yang menyebabkan angkanya bisa sampai ke 17.500. Pertumbuhan ekspor kita melambat, beban subsidi semakin besar, belanja pemerintah semakin besar, belanja beban dan sementara pendapatan negara kita enggak ngejar. Makanya yang terbebanin tetap aja kurs atau mata uang. Nah, akhirnya masuk ke layar ketiga,

10:02 kepercayaan ya kan tetap aja gitu. Pada akhirnya kita berurusan sama market, kita berurusan sama user, kita berurusan sama konsumen dan makin ke sini informasi itu semakin bisa diakses. Orang-orang semakin pintar dan mereka enggak gampang tergiur dengan kata-kata pertumbuhan ekonomi Indonesia tinggi 5,61%. karena akan sangat mudah sekali untuk me-breakdown atau menjabarkan bagaimana pertumbuhan ekonomi itu gitu dan bagaimana situasi market sekarang. Tools semakin banyak. Jadi, makanya ketika tidak ada disiplin fiskal, tidak ada kredibilitas bank sentral dan tidak ada arah kebijakan ekonomi yang jelas, market drust dong. Kalau market diasia mereka bakal lebih keluarin lagi duit-duitnya seperti itu. Nah, kombinasi ketiga hal

10:48 inilah dari eksternal domestik kepercayaan yang akhirnya membuat rupiah menyentuh angka 17.500 ini, Teman-teman. Lalu apa solusinya? Wah, secara teori gampang, tapi memang butuh kerja keras banget dari pemerintah. Jadi, overall tuh gua mau bilang ini emang kondisi yang sulit, situasi yang sulit. Mau siapapun menterinya, mau siapapun presidennya mengatasi hal ini enggak bisa membalikkan telapak tangan, tapi harus diselesaikan dengan arah yang benar dan arah yang tepat. Jangan malah sebaliknya, gitu. Nah, yang harus pertama kali dilakukan pemerintah adalah benarin komunikasinya ke masyarakat, gitu ya. Gue kesal, jujur gua kesal ketika gue mendengar pernyataan-pernyataan ketika pertumbuhan ekonomi ini dirilis

11:34 atau masalah uang ini diomongin gitu. Bayangin ee menteri-menteri ekonomi, menteri keuangan gitu ada di satu konferensi pers terus bilang, "Wah, kita harus bangga nih pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,61%. Ini kita di atas Amerika, di atas Singapura, di atas Korea." Kenapa ini sangat menyebalkan untuk didengar? Karena orang yang belajar ekonomi bahkan enggak harus S1 ya, mahasiswa ekonomi pun tahu. Jangan pernah membandingkan pertumbuhan ekonomi antara negara berkembang dengan negara maju. sizing-nya udah beda dan itu menunjukkan keterbatasan intelektualitas yang luar biasa. Apalagi dari pejabat publik gitu loh ya. Namanya Amerika Serikat, Singapura dan lain sebagainya pertumbuhan ekonomi bisa 2% aja itu sudah bagus sekali karena siz-nya udah

12:20 gede. Ruang untuk bertumbuh lagi itu udah penuh gitu ya. Kalau negara berkembang ruangnya itu masih sangat terbuka. Maka bandingkanlah dengan negara berkembang lain yang punya tipikal atau karakter yang sama. Turki misalnya, Vietnam misalnya. Oh, Cina. Cina mungkin masih masuk negara berkembang memang karena populasi banyak, tapi sizing-nya sudah beda sekali. Dan kalau misalnya kita bandingin, benar-benar kita fair untuk membandingin, kita bisa bandingin dengan Taiwan. Misalnya Taiwan pertumbuhan ekonominya 13% lebih, Bos. Dan hebatnya 13% itu government spending-nya cuma 3%. Kebanyakan digendong sama ekspor. Vietnam pertumbuhan ekonominya 7% ke atas. Dan hebatnya 7% ini tanpa government spending yang besar juga. Government spediknya masih di bawah 5%. Cina eh negara yang sudah besar banget

13:07 nih misalnya pertumbuhan ekonominya memang di bawah kita 5% nih. Tapi kan harus kita lihat 5% itu yang gendong yang kayak mana gitu dan itu juga berbeda. Makanya kenapa ini harus diperbaiki? Kenapa tidak boleh digorifikasi atau ABS? Karena market melihat, masyarakat melihat, orang yang berurusan sama pasar melihat. Gimana ceritanya lu bisa percaya ketika pejabat publik lu mengatakan hal seperti itu? Padahal kalau dijelaskan dengan benar pun, objektif pun, tanpa ada imbuhan-imbuhan glorifikasi dan bangga pun orang bakal lebih appreciate gitu loh. Itu yang membuat market itu dipercaya. Nah, ini hal yang paling dasar karena balik lagi tentu di luar semua rumus ini dan angka ini ada yang namanya

13:52 angka psikologis dan ini yang harus dijaga sama pemerintah kita. Kedua, struktur APBN kita harus diperbaiki banget dan pemerintah harus berani. Ya, kita lihat tadi ya, belanja pemerintah naik 31,4 815 triliun 610 triliun Q1 dari pusat doang. Okeah, sudah capek kita ngomongin soal MBG kan dan pengadaan-pengadaan aja FBGN. Nah, ini harus dipotong-potong nih, harus diberes-beresin nih. Kalau memang enggak mau dihilangin, bikinlah dengan cara paling efektif, bikinlah dengan cara paling benar, gitu. sehingga ruang fiskal kita untuk menanggulangi semua kebutuhan ini tadi bisa lebih expand, bisa lebih fleksibel, bisa lebih egjal. Kalau ini enggak dibenerin, masih ada belanja-belanja tidak efektif atau mubazir atau yang gede banget tapi peruntukannya tidak sesuai, inilah yang

14:39 akan menghancurkan ekonomi kita. Dan kalau ekonomi kita hancur, ya itu akan jadi beban yang besar sekali untuk pemerintahan sekarang. Justru gua ngomong kayak gini karena care, enggak mau ABS. Ya, maksudnya balik lagi. Makanya pembenahan APBN itu harus dilakukan. Ini menyangkut fiskalnya. Yang kedua, ya ini sebenarnya sudah mulai dilakukan ya, tapi harus dilakukan lebih lagi ya. Kita harus parkir dolar itu enggak gampang keluar dari negara kita ya kan cadangan devisa ekspor ya teman-teman. Jadi sehingga pengusaha-pengusaha itu tertarik untuk menyimpan uangnya di Indonesia sehingga enggak lari keluar. Itu pernah kita bahas masalah DHE dan lain sebagainya. Dan insentifnya harus menarik. Bukan cuman pemaksaan. Kalau insentifnya menarik dan pengusaha-pengusaha ini paham urgensinya, kebutuhannya dan punya

15:25 azas manfaat buat mereka, maka mereka akan lakukan. Dan itu mungkin akan berdampak dalam menahan laju melemahnya rupiah. Terakhir ya antara BI, OJK ke MENQ ya harus sinergi. Masalah aturan SBN, masalah suku bunga, masalah subsidi. Jangan sampai saling tabrakan, saling salah-salahan, saling lompat-lompatan gitu. Dan ini yang harus terjadi BI kem OJK gitu dan berdasarkan porsi dan tugas masing-masing. Karena kalau sampai tidak sinergi kebijakannya saling tupat tibih ya rupiahnya akan terus melemah. Dan itu yang benar-benar harus dilakukan pemerintah kita. Karena dengan sinergi ini kita bisa nahan kapital outflow. Kita bisa tahu jalan paling efektif dan memperkuat rupiah seperti apa. Kita bisa

16:11 tahu gambaran suku bunga yang pas tanpa harus mengurangi, tanpa harus meresikokan beban ekonomi masyarakat seperti apa. Nah, tiga hal sederhana ini aja itu gua kira akan sangat membantu sekali untuk menstabilkan nilai mata uang kita yaitu rupiah. Dan tentu itu enggak bisa terjadi secara instan dan tentu ini bukan pekerjaan mudah ya kan. Tapi gua percayalah Bapak, Ibu semua bisa melakukan itu dengan baik. Oke, itu aja konten kali ini. Semoga bermanfaat. Sampai jumpa di konten selanjutnya. See ya.

Share

Ringkasan Video YouTube