0:56 Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Shalom. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan. Rahayu. Selamat pagi. Halo sahabat Persid di seluruh Indonesia. Selamat pagi. Selamat datang di Kartika Podcast episode ke-9 karena Kartika Podcast membuka jendela dunia untuk Persih Cendekia. Salam penuh cinta. Muah. Dan sahabat Persid, hari ini kami tentu saja mengundang seluruh sahabat Persid di mana pun berada untuk berpartisipasi bersama kita di Kartika Podcast episode kali ini dengan mengajukan pertanyaan
1:41 melalui direct message atau DM Instagram dan nanti pertanyaan yang terpilih akan kita bacakan. Tapi jangan lupa untuk follow dulu IG Persid Pusat di bawah ini. Senang sekali pagi ini ya, Ibu Fika. Kita berada di sini untuk podcast ke episode ke9. >> Betul. >> Sebelum kita mulai podcast pada pagi hari ini, ada pantun ya Bu Fika yang mau saya sampaikan. Nanti tolong dibantu ee kata-kata cakepnya ya. Oke. >> Mentari pagi bersinar cerah. >> Cakep. >> Burung berkicau menyambut bahagia. >> Cakep.
2:28 >> Halo sahabat Persid yang ada di rumah, mari bersama menonton podcast kita. >> Ye. >> Izin. Tak kenal maka tak sayang. Izinkan saya memperkenalkan diri. Saya Desi Eri Desni, istri dari Len Jenderal TNI Muhammad Jamroni yang pada saat ini menjabat sebagai Korsah Likasat. Silakan, Ibu. >> Siap. Izin, Ibu. Terima kasih. Dan saya dengan Vika Wahyu Yudayana, istri dari Brickjen TNI Wahyu Yudayana yang saat ini menjabat sebagai Kadis Penat. Sahabat Persid yang ada di seluruh Indonesia, pagi ini kita kedatangan tamu
3:14 yang sangat-sangat istimewa, yaitu Bapak Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, Bapak Letnan Jenderal TNI Muhammad Saleh Mustafa dan Ibu Wakil Ketua Umum Persid KTIK Candra Kirana, Ibu Eka M. Saleh Mustafa. Ye, >> selamat pagi Bapak. Selamat pagi, Ibu. >> Apa kabar, Bapak dan Ibu? >> Alhamdulillah sehat. >> Luar biasa. Semangat ya, Bapak. Semangat. Siap. >> Bagaimana tadi pagi Bapak, Ibu ke sini macet enggak? >> Alhamdulillah lancar ya. >> Lancar, >> lancar lancar jaya Bapak Ibu. >> Engak pakai tweet-twet. >> Oh, siap. Nosobo.
4:00 >> Siap. Siap siap siap siap siap siap. Betul. Mohon izin Bapak dan Ibu untuk mengenal Bapak dan Ibu lebih jauh. Kami akan membacakan terlebih dahulu biodata Bapak dan Ibu. Mohon izin sahabat Persi di mana pun berada telah hadir bersama kita Bapak Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Bapak Letnan Jenderal TNI Muhammad Saleh Mustafa. Beliau lahir di Ternate pada tanggal 14 Maret 1969. Kami akan membacakan riwayat pendidikan militer Bapak. Tapi mohon izin tidak semua kami bacakan Bapak. Panjangan >> panjang. Betul. Luar biasa sekali. Beliau lulusan Akademi Militer tahun 1991. Kemudian beliau mengikuti Susarcap Infantri, kemudian Suslapa 1, kemudian di Kelapa 2, kemudian Sescoat dan Sesco
4:47 TNI. Kemudian riwayat tanda jasa beliau di antaranya adalah Satya Lencana Seroja, Satya Lencana Dwidya Sista, kemudian Satya Lencana Dharmanusa, Satya Lencana Wirakarya, Bintang Kartika Eka Paksarya, Satya Lencana Wiranusa, Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, Satya Lencana Bantala, dan Bintang Yuda Dharma Pratama. Luar biasa ya, masyaallah. Kemudian riwayat penugasan di dalam dan di luar negeri ini banyak sekali. Ibu izin kami bacakan yang penugasan di luar negeri dulu, Bapak. Beliau pernah menjalani OJT di Singapura, kemudian penugasan di Korea Selatan, kemudian OJT Pakistan, USA, Inggris, Kamboja, dan masih banyak yang lain, Ibu. >> Luar biasa. Dan riwayat jabatan beliau
5:34 pertama kali beliau ee di Kopasus Bapak izin. Di grup 2 Kopasus beliau pernah menjabat sebagai Danyon 23 grup 2 Kopasus kemudian dan seekopus dikasus kemudian Waff dan Kopasus kemudian dan grup 1 Paraopasus ASP Kasdam IM dan rem 132 Tadulako di Sulawesi Tengah. Ya, betul ya Bapak. Siap. Kemudian Wadan Pusenif. Kemudian beliau menjabat sebagai Kasdam Jaya, kemudian sebagai Kas Kogap Vilhan 2, kemudian beliau menjabat sebagai Pangdam 17 Cendrawasih, kemudian sebagai kepala staf Kostrat tahun 2023 kemudian menjadi pang Kostrat, kemudian beliau menjabat Irjen TNI dan saat ini beliau menjabat sebagai wakil kepala staf Angkatan Darat. Alhamdulillah.
6:21 >> Alhamdulillah. Selamat Bapak dan Ibu. >> Selamat Bapak Ibu. Kemudian Ibu Wakil Ketua Umum Persidana. Nama lengkap beliau adalah Ibu Sis Bayu Prabasari. Betul Ibu. >> Beliau lahir di Bandung tanggal 7 Februari tahun 1973. Beliau memiliki dua orang putra dan juga putri. Yang pertama Moza Permat Matasari Mustafa. Yang kedua Mozis Raihan Mustafa. Betul Ibu, Bapak. >> Siap. Lengkap ya Bapak Ibu. Sepasang sepasang sudah cukup cukup mau nambah lagi >> siap nambah lagi >> nanti saja Bapak Ibu cucu cucu siap cucu
7:07 i >> sahabat Persid yang ada di Indonesia untuk lebih mengenal sosok beliau >> kita akan sedikit bercerita ya Ibu Fika >> tentang masa kecil Bapak dan juga Ibu. >> Boleh? Boleh, boleh. >> Silakan B. Silakan. >> Oh, kecil saya ya. Siap. >> Iya, siap. >> Oke, ya. Saya tadi kan lahir sudah ya di >> Ternate. Ternate itu pulaunya kecil. Jadi, kalau kita >> kalau bahasa sana bilang round gunung. Ron gunung itu keliling gunung itu hanya 42 kilo. >> Siap. Tapi indah sekali memang. Tapi indah. Siap. Kemudian ya saya tahun '5 itu ee
7:53 ke Jakarta. >> Siap. >> Ke Jakarta tahun '5 itu bel ee pakai kapal. Kapalnya kapal perintis itu. >> Jadi Jakarta untuk ee mengikuti pendidikanlah ceritanya gitu ya. Pindah SD di Jakarta. Tapi kemudian tahun hanya sampai 3 tahun lah ya, kelas 3, kelas, kelas 3 itu saya balik lagi ke Ternate. >> Karena ini kalau di Jakarta itu kebetulan saya termasuk ya mohon maaf ya ee agak bandel gitu ya. >> Oh siap. >> Jadi kabur-kabur ke mana gitu. Takutnya orang tua saya enggak lulus sekolah. Akhirnya dipulangkan. Dipulangkan.
8:39 >> Berarti Bapak dulu suka bolos ya, Pak? >> Waduh. Dulu saya sekolah di Kebun Sayur ya, SD Kebon Sayur di Kampung Melayu. Jadi kalau >> pagi itu terlambat sekolah saya langsung kabur ke mester itu >> ya. Nyari duit. Nah, nyari duitnya nyemir sepatu ya kan. >> Ngamen gitu naik-naik. Itu kan dulu zaman pasti ada mikrolet dulu ya kecil-kecil gitu ya. Dapat duit belanja beli. >> Siap. Kecil >> memang mengasah suara dari kecil ya. >> Dari kecil Bapak sudah ngamen Bapak >> ngamen. Ngamen pakai cukulele itu. >> Oh iya yang kecil ya Pak ya? I kecil itu ya. >> Terus sebenarnya dulu kenapa dibawa ke Jakarta? Karena anaknya terlalu banyak ya. >> Ya anaknya
9:25 >> iya >> keluarga besar Bapak. >> Keluarga besar. >> Jadi >> e keluar e saudara saya. Saya kebetulan orang tua saya kan ee beristri dua ya. Dari istri pertama ada >> tujuh kemudian dari satu meninggal kemudian ibu saya istri kedua ada enam. Jadi kita >> besar ya Bapak >> ya. Enam itu masih susah ya. Jadi sudahlah jadi >> yang satu kirim ke Jakarta biar merantau gitu. I tapi balik lagi karena itu tadi takutnya sekolahnya enggak berhasil kan. Begitu saya pulang ke kampung >> masuk sekolah di sana ternyata saya bisa juara kelas. >> Oh wah hebat juga ya di Jakarta bandel di kampung bisa juara kelas ya kelas.
10:10 >> Nah itu mulai deh karena biasa kan dulu ya kalau kita >> juara kelas tuh kan >> belajar kelompok gitu kan teman-teman pada dekat ya kan. I >> ya. Ada juga yang ibaratnya yang kayak kita ya dulu-dulu kecil-kecil punya masalah ya apa namanya tuh sama teman-teman cewek lah gituah ya kan belajar kelompok gitu. Jadi ya kayak kita jadi saya merasa bahwa aduh saya nih kayaknya bisa jadi berperan gitu ya bisa >> sama teman-teman bisa ngajarin bisa ini. Nah itu saya mulai sekolah serius >> karena sudah terbukti menjadi juara kelas ya Pak. Jadi percaya diri bahwa saya pintar, saya mampu begitu ya, Pak. Iya. SMP saya jadi ketua OSIS. He. >> SMA saya jadi saya bikin klub pencinta
10:57 alam kan. Jadi beraktivitas >> ee sampai daftar taruna itu. >> Jadi memang ee ee apa namanya masa kecil saya itu ee saya nikmati betul ya dengan ee berkawan, berteman, dengan alam ya naik gunung hiking gitu. >> Betul. Gunung Gamama di sana ya. Betul. Di Ternate. Iya betul Bapak. Jadi itulah yang apa namanya masa kecil. >> Iya. Kalau Ibu mungkin >> kalau masa kecil saya kebetulan saya normal-normal aja anak orang tua lah gitu. >> Anak tentara. >> Jadi kebetulan ee orang tua saya tentara angkat darat juga ya.
11:43 >> Ee apa namanya namanya? Pindah-pindah >> ya. Sekolah juga pindah-pindah waktu itu. Jadi akhirnya enggak punya sahabat karena kan hanya setahun di sini, setahun di mana gitu. Jadi akhirnya enggak punya sahabat. ee terakhir tapi terakhir saya domisili di Bandung ya. Nah, di Bandung sampai dengan kuliah sampai dengan kerja. >> Ee gitu juga dengan kalau ditanya suku bingung juga karena orang tua saya, Bapak saya Jawa sukunya >> ibu saya kebetulan sama lah Ternate. Kalau ditanya suku bingung juga, "Mama suku sukuku apa ya, Ma?" Ya, tapi kan aku lahir di Bandung, jadi kok orang Bandung dong. >> Blasterannya banyak ya, Bu? >> Iya, macam-macam. Band Tate. Iya. >> Seperti itu. Tapi untuk ini normal
12:30 sekolah seperti biasa. >> Siap. >> Untuk kenangan terindah masa kecilnya apa tuh, Bu? >> Iya. >> Bapak mungkin bisa dari Bapak >> saya. Ah, ini jadi saya waktu SD itu saya sekolah dua. >> Iya. >> Pagi saya sekolah madrasah. >> Iya. >> Ee siang saya sekolah negeri. >> Sekolah negeri. >> Oh, luar biasa. Jadi supaya ilmu agama dapat, ilmu duniawi juga dapat. >> Tapi karena namanya juga sering budaya apa bolos-bolos itu, >> jadi suatu saat ketika saya bolos-bolos, begitu saya masuk pagi >> sama gurunya di ini di ayo sekarang pelajaran kemarin ada PR lah gitu ya >> ditanya ya, Pak ya.
13:15 >> Heeh. Tentang tata cara salat gitu. >> Siap. >> Doa iftitah gitu. Duh, saya bingung doa itu apa gitu kan. Akhirnya saya baca-baca. >> Oh, ini katanya buat teman-teman tampil satu-satu suruh hafalin >> ya. Mana siswa apa Saleh? Ya, Bu, saya izin ke belakang sakit perut nanti saya belakangan aja gitu kan. Iya memang udah I >> siap >> tapi itu natural gitu ya. Saya ke belakang aja. Jadi di kamar mandi saya baca hafalin itu >> hafalin ya Pak. hafal baru saya datang kan >> masuk >> datang gimana ya Soleh maju dapat ee baca doa iftitah alhamdulillah saya hafal >> siap >> alhamdulillah saya hafal ya apa namanya
14:02 tuh jadi kayak mau apa namanya ya kesan bagi saya bahwa ternyata ketika kita dapat tekanan gitu ya dapat pressure walaupun misalnya dapat tugas-tugas gitu >> ya >> ketika kita serius dan kita fokus mungkin kita bisa melaksanakan itu dengan baik ya. >> Siap >> ya. Dari itu SD loh. >> Siap. >> Mungkin bukan prester Bapak dapat hidayah Bapak. >> Iya ya. Karena ini jadi hidayah itu mungkin lah ya bahasanya hidayah. Tapi >> mungkin zaman itu zaman kecil kan kita enggak kepikiran begitu ya mau hidayah atau apa. Tapi >> so far ya saya pikir ini tekanan itu malu-maluin juga kalau saya enggak hafal ya. >> Siap. Siap. >> Hidayah kepepet. >> Siap. >> Kepepet malah jadi bisa ya Bapak ya.
14:48 Jadi kalau kepepet jangan takut. >> I justru ide kreatif muncul banyak ya, Pak. Benar, benar. Benar. Siap, Bapak. >> Ya, gitulah. Siap. >> Mama apa >> dari Ibu? >> Kalau saya lebih ke keluarga ya. >> Siap. >> Waktu masa kecil itu. Jadi, >> ee kebetulan orang tua saya tuh tentara itulah ibu saya juga persit aktif. >> Siap. >> Sehingga waktu itu kan banyak tersita di ee kantor ya. I. >> Nah, tapi ada satu yang wajib dilakukan adalah kalau weekend itu kita selalu >> kumpul >> ee Heeh. Kumpul keluarga >> biasanya kita pergi piknik. Nah, jadi itu yang ditunggu-tunggu sama kita gitu. >> Ibu masak, >> Bapak nyiapin kendaraan. Kebetulan saya bersaudara lima orang. >> I >> waktu itu ya masih zaman tahun segitu
15:34 kan masih susah. >> Siap. >> Kebetulan orang tua saya tidak mampu untuk beli mobil akhirnya beli angkot. Kok enggak cerita ya? >> Bisa muat banyak ya, Bu? Kan anaknya lima. >> Iya betul. >> Terus pasti bawa rantang ya. Itu dia >> bawa tiker rantang itu semua. Siap. Botram ya Ibu ya. >> Tapi kan angkot yang zaman dulu kan tahu sendiri kan gitu kan. >> Di luar ee apa namanya? >> Di depan kan hanya dua orang kemudian kan tertutup di belakang itu. Heeh. Jadi kita kalau komunikasi kita misalnya ada yang kebelet pipis atau apa itu ngetok itu >> papa papa. berhenti dulu gitu kan. >> Jadi seperti itu. Itu yang selalu kita tunggu-tunggu. >> Betul. >> Setiap weekend kita pasti acara keluarga
16:19 >> momen kebersamaan yang tidak terlupakan. Ya. Dimarahin terus kalau hari Minggu >> ini kegiatan >> hari keluarga ya Bu. Betul. Mudah-mudahan kita bisa semutin juga ya. Demikian itu khusus untuk keluarga. Siap. Siap. Ibu. >> Izin Bapak Ibu. Apakah ee cita-cita Bapak itu dari dulu memang ingin jadi seorang TNI? >> Oke ya. Saya latar belakang bukan keluarga >> TNTI, tapi saya punya kakek punya kakek-kakek itu pejuang pejuang perintis dan ada makamnya di makam keluarga itu dikasih makam kayak makam inilah pejuang
17:04 perintis. >> Iya. Pada saat ayah saya muda, beliau berkeinginan untuk menjadi ee prajurit, tapi tidak diizinkan oleh orang tuanya. Nah, kemudian ee saya waktu itu sudah karena basic saya fisika ya satu, saya sebenarnya sudah diterima di teknik perkapalan waktu itu. H. >> Ee jadi saya sudah diterima di teknik perkapalan tapi orang tua saya bilang kalau bisa jadi ee tentara. >> Tentara. Heeh. >> Nah, singkat cerita saya ketemulah >> keluarganya istri waktu itu kalau enggak salah Bapak apa ya? >> Aspes ya? >> Aspesat itu. I >> Aspes Ngasat.
17:50 >> H. Heeh. Siap. >> Terus menawarkan ke saya. Saya orangnya kurus, Mbak. Saat itu saya berat badan saya hanya 52. Jadi kalau masuk tentara >> gitu aja sudah jatuh saking kurus. kurang itu. Jadi >> akhirnya ya karena orang tua minta saya jadi >> ee tentara ya saya cobalah gitu ya daftar >> daftar >> dan ya awalnya sih ada banyak kekurangan ya 1 tahun saya ikut prakmil dan kemudian tahun depan baru saya bisa masuk. >> Tapi begitu jadi tentara ya ternyata enak juga. Iya. Apa karena jiwa saya suka adventure gitu ya, berpetualang
18:35 kata. >> Iya. Iya. Betul. >> Jadi dengan masuk sebagai prajurit, camping atau latihan luar. Oh, itu senang banget ya. >> Siap. >> Jadi memang cocoklah gitu tentara. >> I sudah sesuai ya, Pak ya. Ya, Bapak. Siap. Siap. >> Sudah sesuai. Iya. >> Kalau Ibu mungkin bisa diceritakan cita-cita cita-cita ada cita-cita jadi mesit dari dulu atau enggak? Oh, enggak. Jadi dulu ya itu kembali lagi ee karena orang tua saya tentara itu jadi kan apalagi di bidang pers itu jadi selalu ee kayak apa sih namanya werfing yang kayak gitu >> yang penerimaan-penerimaan >> ee taruna itu kan kadang-kadang kita diajaklah ke Magelang kalau ngelihat tentara tuh kok gini ya kayaknya enggak
19:21 deh gitu ya >> enggak ah gitu kan mungkin kalau ditanya dengan yang anak-anak tentara sama jawabannya gitu Iya, >> tapi mungkin ya itu tadi enggak boleh diucap kali ya. >> Iya, >> karena diucap enggak mau. Ah, tentara kayak gitu gitu ya. >> Karena belum ketemu Bapak juga mungkin, Bu. Mungkin ya. >> Beda setelah ketemu langsung suka sering sekali ya, Pak ya. >> Iya, belum ketemu nih. Kita kan kayak telur sama ayam. Jadi siapa duluan yang suka kan belum. >> Iya iya iya belum kenal waktu itu ya. >> Kalau siapa dulu yang suka >> itu kayaknya eyele-eyelan. Betul kata Ibu ya antara telur dan ayam ya Ibu. Mana yang duluan? >> Siap. Siap. >> Nah, jadi Ibu izin waktu perkenalan awal
20:06 dengan Bapak itu bagaimana Bu? Di mana kira-kira sererannya? Di mana tuh serserannya tuh? >> Biar dulu, Ibu. Biar nanti Ibu dulu yang jawablah. >> Memorinya masih ingat enggak? >> Apa? Tidak gitu ya, Pak. >> Atau enggak sweet aja, Pak? Sweet. >> Kamu masih ingat enggak? >> Eh, yang mana ya? yang gagak >> waktu dulu disuruh nyanyi di rumah itu sih dulu kan ya karena orang tua di Ternate jadi ee kita suka ke Ternate lah suka datanglah ke sana gitu kan. >> Nah begitu sampai di Ternate namanya orang sana tuh kan selalu nyanyi-nyanyi ya. Heeh. Kalau ketemu makan itu kan pasti ada organ tunggal gitu kan. >> Nyanyi-nyanyi gitu biasalah >> orang tua saya bilang, "Ayo Eka nyanyi
20:53 gitu nyanyi apa gitu kan. I >> sudahlah saya nyanyi aja apa adanya di situ kan saya enggak tahu di situ. Begitu udah lama baru tahu kalau dia nonton ternyata. We >> kesan pertama nih. Kita nonton tuh karena kita waktu SMA tim vokal grup. >> Wah suara ya. >> Siap siap siap siap. >> Jadi begitu dengar suaranya wah nih kayaknya boleh juga nih. >> Iya. terpikat oleh suaranya apa apanya nih Pak? Suara dulu kan masih jaim-jaiman. Mas >> oh anaknya pejabat kita kan anaknya biasa-biasa kan masih >> suara dulu lah. >> Tapi langsung jatuh hati ya Pak dengar
21:38 suara Ibu ya Pak. >> Iya gitulah. Berarti sudah ketemu ya telur atau ayam kan ketemu ya. Berarti siapa duluan ya? >> Dari suara turun ke hati Bu. >> Iya >> siap siap. Luar biasa. >> Tahun berapa ya lama ya? tahun tahun >> -an ya saya SMA lah gitu ya. Iya SMA. Oh jadi Bapak dan Ibu sudah kenal ketika >> I >> masih sekolah ya Bu Ibu? >> Masih sekolah iya >> ee iya ya maksudnya tapi kan saya di Bandung. He kebetulan ke Ternate aja baru ketemu. >> Oh berarti ketika Ibu Waketum ke Ternate baru ketemu dengan Bapak. >> Iya >> terengiang-ngiang suaranya ya Bapak berarti ya. >> Iya saya kan terengiang tapi yang datang ini kan ada niat gitu mau saya.
22:28 Jodoh itu namanya ya, Ibu dan Bapak. Tapi enggak langsung. Itu baru kenal itu aja gitu. Pertama ketemunya di situ aja. >> Habis itu sudah masing-masing. Setelah >> masuk masuk bar masuk komando baru ya. >> Siap gitu >> langsung takluk sama baret merahnya >> gitu ya. Kalau dulu nih waktu zaman-zaman belum menikah, masih ingat enggak Bapak dan Ibu makanan favorit atau mungkin sekarang makanan favorit Bapak dan Ibu apa sih? >> Makanan khas apa? >> Saya cerita malu ya nanti saya saya yang malu itu ya. Saya saya diajak ke Genis. >> Gendis tahu ya? Stick Gendis stick. Oh siap. >> Saya baru kali itu makan stik ya. Mohon maaf.
23:14 >> Siap siap >> namanya orang kampung >> dagingnya kok besar gitu. di situlah saya ee masih ada Gendis ya sampai sekarang ya. I. Jadi yang di Menteng itu ya. Heeh. >> Di situlah saya ya makan stik >> pertama kali. Mak >> pertama kali dan enak. Dan sekarang kalau lagi memori-memori itu ke Gendis saja gitu. >> Enggak sih sebenarnya judulnya sih sebenarnya karena di Ternat itu kan makannya ikan aja. Iya gitu. Daging kan mahal gitu. >> Jadi begitu ke sini makan stik. Benar. >> Heeh. >> Iya. Mencicipi selain ikan ya Ibu. Iya. Luar biasa. Aduh, senang sekali mendengar cerita Bapak dari perkenalan kemudian ee apa saling ketertarikan gitu kan. Nah, yang saya pengin tahu nih dan
24:01 juga sahabat-sahabat Persid di seluruh Indonesia, hobi Bapak dan Ibu apa ya? >> Ee ay >> siap >> ya? Sport. Sport. Olahraga. >> Oh, >> olahraganya kadang-kadang over. >> Hm. juga sepeda sampai sekian sampai saat sekian >> engak juga itu tapi kan ada ininya apa ada pentahapannya >> goes ya Bapak Bapak izin masih goes dari kediaman ke sini >> masih siap dulu juga waktu di Kodam Jaya kalau enggak salah beliau dari Menteng ke Kodam Jaya Goes ya Bapak Goes dan lari ya Bapak L sekarang dari Kuningan ke Mah Besat lari juga >> lari
24:47 >> kadang-kadang bersama ketemu sama Pak Kasa Oh, siap >> berubah jadi jalan. >> Ngobrol >> ngobrol ya kan. >> Siap siap. Bukannya e hobi Bapak itu Pak ngamen Pak. >> Oh. Oh. >> Nyanyi. >> Nyanyi >> itu bukan hobi itu pekerjaan. >> Ohjaan. >> Tentaranya yang hobi. >> Tentaranya hobi. Jadi ee saya bilang bercanda sama teman-teman >> nanti kalau pensiun mau kejap saya bercocok tanam. Oh, enggak. Saya mau nyanyi di kafe aja. >> Wih, luar biasa. Sudah punya grup band juga ya, Bapak. Kami dengar >> grup band baru mau membentuk band. Iya, >> masih kekurangan penyanyi wanita mungkin.
25:33 >> Aduh, betapa hebatnya ini Bapak Wakas kita. Bagaimana sahabat-sahabat Persid? Kita bisa mendengar suara indah Bapak. >> Bapak masih ingat lagu ini, Pak? Lagunya Anmes Kamaleng. >> Cinta luar biasa. I >> kayaknya sepertinya waktu itu Bapak waktu di Kodam Jaya. Jaya. >> Siap. Berkenan Bapak mungkin >> menyanyikan >> apa tuh pertamanya gimana? Waktu pertama kali >> kulihat dirimu hadir. >> Rasa hati ini inginkan dirimu. >> Hati tenang mendengar >> suara indah menyapa
26:20 gelor hati ini tak kuangka. Rasa ini tak tertahan. >> Hati ini selalu untukmu. >> Terimalah lagu ini dari orang biasa. >> Tapi cintaku padamu luar biasa. Aku tak punya bunga. >> Aku tak punya harta. >> Yang kupunya hanyalah
27:06 hati yang setia tulus padau. >> Luar biasa. Kalau udah nyanyi biasanya enggak apa ya kata orang-orang itu pitch control, emosi. Jadi itu memang apa ya saya merasa kalau J nyanyi itu ee perasaan tuh bisa terungkap. >> Betul untuk rilis stres, untuk membuat hati lebih tenang begitu ya Bapak. Dan ada surprise sepertinya Ibu dari Bapak Bung >> sahabat Persid ini betul-betul surprise karena Ibu Eka tidak tahu kalau Bapak
27:52 ada bunga untuk Ibu untuk di situ. Ya Allah >> luar biasa. >> Jadi ee apa ya? Ee saya enggak bisa begini kalau tanpa istri saya gitu. >> Siap. Betul. >> Sayang-sayang dong. >> Luar biasa, Bapak Ibu. Ternyata ee tentara itu romantis juga ya. >> Oh iya, harus harus harus. >> Itu salah satu cara untuk meredam kemarahan istri. >> Tapi enggak suka marah kan, Pak? >> Iya. Enggak enggak. Ya, marah itu bagian dari menurut saya bagian dari bunga kehidupan. Jadi kalau
28:38 selama rumah tangga enggak pernah marah, kalau bahagia-bahagia terus si kalau marah itu bagian dari nasehat istri kepada suami. Betul. Betul. >> Kalau enggak siapa yang ngerem? >> Siap. Siap. >> Bablas. >> Siap. Siap. Kan? >> Tapi enggak enggak sakit hati kan. >> Soalnya kadang-kadang gitu, "Mas, Mas, aku mau marah nih." gitu kan. Terus iya iya dia iya iya gitu terus sudah gitu kan aku ngomel yang ada dia langsung Heeh heeh iya Mas dengar enggak dengar gitu ya. Oh ya. Iya, Mas. >> Yang paling tambah marah lagi kalau udah saya bilang, "Poknya, Mas enggak boleh begini-gini itu jangan sampai kayak gini-gini nih." Tiba-tiba dia gini,
29:23 >> "Wah, itu luar biasa." Saya langsung murka >> kayak didongengin ya, Bapak ya. >> Iya. Kalau marah kan bagian dari obat tadi itu. >> Siap. Siap siap. >> Dicium dikit sama. >> Iya. Bunga asli. Bunga asli asli. >> Nanti menyusul bunga di >> siapa yang bawa tadi? >> Yang bawa mau dikasih >> Bapak tadi yang bawa loh, Bu. >> Siap. >> Oke. >> Siap-siap. Izin Bapak Ibu, apakah ada tips untuk ee kami-kami sahabat Persid yang ada di Indonesia untuk tetap harmonis seperti Bapak dan Ibu? >> Oh. >> Apa ya? Ee ini Heeh.
30:09 saya ya mungkin ee punya background, pengalaman dan histor saya merasakan bahwa kekuatan keluarga itu persid ya, keluarga tentara itu menjadi hal yang sangat penting ya bagi kehidupan prajurit. Itu saya rasakan ketika saya mulai menjabat Danyon. >> Iya. ya. Dan Yon ketiga itu kita sudah diberikan kewenanganlah untuk mengurus ya administrasi maupun tanggung jawab yang lebih besar untuk mengurus keluarga. Saya mulai membuka komunikasi dengan prajurit dan permasalahan yang terbanyak itu adalah masalah keluarga. >> Jadi kalau masalah meningkatkan
30:55 profesional prajurit saya rasa gampang ya. >> Siap. latihan tinggal kita awasi. Tetapi treatment terhadap permasalahan keluarga ini tidak segampang dengan kita melatih prajurit. >> Jadi kita perlu komunikasi, kita perlu apa namanya? Pendekatan ya kita harus open ya. >> Saya bilang, "Ya sudah kamu kalau ada masalah apa udah datang aja ke rumah nanti istri ngomong sama e istrinya anggota ngomong sama istri saya, saya ngomong sama suaminya." >> Iya. Siap. Dan bagi saya itulah kekuatan khususnya TNI Angkatan Darat kita kan sumber daya kita kan bukan ee apa namanya ee alat yang diawaki tapi kita manusia
31:41 yang yang kita maintenance >> karena kita sumber daya angkatan darat itu manusianya. Jadi kekuatan seorang prajurit itu salah satunya ya dia harus berangkat dari keluarga yang kuat ya gitu. >> Betul betul Bapak. >> Jadi dukungan istri dan keluarga ya Bapak yang sangat dibutuhkan. >> Betul apalagi anak-anak. >> Betul. Nah, saya rasakan ketika keluarga itu kuat ya, kita kan lambang ini kan >> ya anak menjadi besar menjadi ini ketika kita membina ikatan kehidupan prajurit itu dengan kekeluargaan. Jadi saya sampai sekarang kalau ada anggota misalnya anaknya mau daftar apa gitu saya senang. Saya senang sekali kalau ada saya bangga
32:28 lihat kalau ada anaknya prada dulu misalnya sekarang sudah serka >> anaknya siapa saj lah anggota itu yang >> bisa masuk taruna itu saya alhamdulillah saya sangat senang sekali siap siap >> itulah ke apa hebatnya dorongan orang tua terhadap anak tidak hanya masa itu tapi masa yang akan datang >> akan datang >> ya betul betul dukungan keluarga memang nomor satu ya benar enggak betul betul Tapi yang penting harus terbuka ya. Iya. Dengan keluarga, dengan >> baik suami, istri maupun anak-anak kita harus saling terbuka. >> Kita harus saling pahami apa yang menjadi ee keinginan-keinginan kita bersama untuk kita jadikan satu >> ee tujuan hidup kita. >> Benar. >> Betul. Betul.
33:15 >> Kemudian kalau kesalahan pasti wajar ya. >> Enggak ada manusia yang sempurna, enggak ada suami yang sempurna, enggak ada juga. Siapap. Betul. Tapi kalau istri saya rasa mendekati sempurna ya. Bersit itu mendekati sempurna. Kalau suami mungkin kadang-kadang ada kesalahan ya mungkin waktu atau apa ya keterbatasan ya. >> I >> hal yang paling ee mudah untuk menyelesaikan itu adalah meminta maaf. >> Iya. >> Siap. >> Mengakui kesalahan dan jadi kadang-kadang suami itu karena mungkin merasa prajurit dia ini ya. Siap. Jadi harus apa namanya komandan atau apa sehingga >> enggak enggak enggak lu apa namanya itu kehidupan. >> Siap >> ya. Sehingga sehingga saya rasa ya
34:01 itulah >> harus saling memaafkan, saling pengertian dan berkomitmen ya. >> Iya komitmen itu yang paling penting. >> Siap. Betul. Nah mungkin kita agak sedikit flashback sedikit. Izin Bapak Ibu, kami ingin mendengarkan cerita Bapak dan Ibu tentang pengalaman atau perjalanan hidup Bapak dan Ibu. Mungkin dari awal menikah sampai dengan sekarang Bapak dan Ibu sudah berada di posisi sekarang. Bisa diceritakan Bapak atau mungkin ada hal-hal yang berkesan? Iya. I >> selama penugasan atau selama Bapak dan Ibu menjalankan kehidupan berumah tangga? >> Iya. Kita nikah tahun '99 ya. >> Tahun '9. >> Tahun '99. Saat itu saya kapten ya, kapten di Kopasus. Kemudian
34:47 ee punya anak kemudian pindah ke Solo. Nah, Solo. >> Di Solo ya karena biasa dari grup 1 itu kan agak keras ya. >> Iya. >> Masuk ke Solo ya namanya Wong Jowo kan >> mana Jawa. Jadi agak sedikit sedikit inilah ee >> kalem gitu ya. sehingga ya saya dengan kehidupan prajurit itu saya menyesuaikan dengan kehidupan prajurit yang ada di Solo, dengan keluarga yang di Solo ya kita ee menyesuaikanlah gitu ya, beradaptasi. Nah, ada satu saat ee ketika apa ya, Mbak Mati yang ee makan nasi liwet ya.
35:32 >> Oh, iya. Nasi liwet nasi liwet liwet >> itu. Iya, itu ya. ee ternyata murah-murah di Solo. Saya bilang sama >> istri, "Wah, Mah, ini kita bisa nabung gitu." >> Kita bisa nabung ya, Bapak kalau di Jawa ya. >> Nah, sehingga ya pada saat di Solo itu kita menikmati dengan kehidupan yang ada. Terus kalau di Solo itu juga kita kalau cuti kan kita ke ini ya, Mama ya, ke Jakarta ya. >> Jakarta, ke Bandung sama Bandung. Nah, kita juga karena keluarganya masih ya waktu itu kita punya mobil panter lah satu. Jadi kalau mau cuti itu ee anak waktu itu masih kecil ya, masih sudah dua ya, ada Moza, ada Ryan dua
36:19 >> yang lahir di Solo. Heeh. Jadi kalau kita berangkat itu mobil kita siapin tempat tidur ya. >> He. >> Jadi kita berlawanan dengan arus mudik. Waduh. >> Oh iya. >> Kalau mudik kan dari Jakarta ke Jawa. Heeh. Dari Jawa ke Jakarta. >> Gantian nyetirnya. Iya. >> Dulu saya ini ee supir akap >> antar kota, antar provinsi. >> Sampai cadangan ya, Ibu ya. >> Gantian. Jadi itulah ya apa ya sampai kita apa membiasakan kalau jalan-jalan itu keluarga kalau turouring kita pakai mobil. >> Siap. >> E nah itu di Solo ya. >> Solo. >> Kemudian jadi Danyon. Nah itu tadi ya >> Bogor. >> E Bogor sampai di grup satu. Nah, di grup itu
37:05 kebetulan kebetulan saya sama Pak Kasadnya satu ini ya, satuan satuan. >> Jadi ee ada suatu pernah kejadian ya dalam kehidup ee di satuan itu kita buat kegiatan kemudian ee datang dapat uang banyak gitu ya. >> Dari kegiatannya dapat uang banyak. Terus ee ee Kasad kebetulan wakil saya waktu itu. >> Siap >> nyampaikan, "Ini komandan ini ada uang banyak nih." Nah, ternyata anggota di bawah ribut. Nah, ribut bilangnya begini, "Itu pasti komandan kalau dapat uang
37:50 pasti beli mobil baru." >> Sebentar lagi lihat aja. >> I sebentar lagi lihat aja. Pasti sama komandan sama apa itu ibunya pasti punya mobil baru. Siap. >> Waduh nyampai ke telinga saya kan. >> Iya. >> Akhirnya saya bilang sama panggil Pak Dan ini gimana nih anggota ngomong begini ya sudah kumpulkan anggota kumpulkan anggota saya taruhlah uang itu di atas meja di ruang pertemuan itu. Ini wadan ya. Setelah ini koordinasi dengan anak buah mau diapakan uang ini? Nanti laporkan saya. Saya tinggalin. >> Siap. He. >> Jadi uangnya ada sekitar hampir berapa miliar lah gitu. >> Siap. >> Ee terus anggota jadi ee kaget loh kok beda nih komandan nih. >> Nah rapat singkat cerita berjalanlah kan
38:38 sudah dibelikan perlengkapan belikan kaos aerobik. Nah suatu saat Wadan bilang sama saya ada kegiatan lagi komandan mau ada lebaran, mau ada ini kan biasa ngasih TH air. >> Biasanya siap air. >> Kita cari lagilah gitu. >> Siap. Nah, singkat karena kita sudah terbuka itu ternyata anggota itu punya teman banyaknya. Anggota Bintara itu punya teman Pak Haji ini, Pak Haji ini ya. >> Dia datang bawa Pak Haji-Pah Hajinya itu. >> I >> izin komandan Pak Haji ini mau nyumbang kerbo sapi gitu. Oh >> iya. Izin komandan. Pakaj ini mau ngasih uang ini buat anggota prajurit >> dan itu saya ternyata kalau kita terbuka sama anggota >> siap >> maka kebaikan itu akan dibalas berlipat
39:23 ganda oleh anggota. >> Oh siap Bapak. Siap. >> Itu saya rasa filosofi kehidupan ya. >> Siap. Siap. >> Kita memberi satu mungkin ee kita akan mendapat lebih. >> Siap. >> Siap. Siap. >> Berarti selama perjalanan Bapak mungkin ada sosok yang menginspirasi Bapak pada saat itu? Ya, paling ayah saya ya. >> Oh, siap. >> Ayah, ayah saya >> tidur. Ayah kuat sekali ya, >> siap. >> Ayah saya dulu ee zaman tahun '5 itu mohon maaf ya, mohon maaf jadi pemuda Ansor dan salah ya menjadi inilah yang melawan gerakan
40:08 G30S PKI itu >> ya. Makanya masih muda ya orangnya idealis dan ya mudah-mudahan saya masih bisa mewarisi >> idealisnya almarhum. >> Amin. >> Siap. Siap. Siap Ibu dan Bapak. Nah, ini kalau melihat cerita pengalaman hidup dan pengalaman penugasan kan ini pasti Bapak dan Ibu sibuk luar biasa ya. Waktunya ee banyak dihabiskan untuk pekerjaan juga untuk organisasi. Bagaimana Bapak dan Ibu menjaga keseimbangan antara kehidupan dinas atau organisasi dan waktu untuk keluarga? Silakan Bapak. >> Saya ya. Oh, saya terus. >> Monggo Ibu dulu boleh. >> Tadi sudah bilang Bapak aja.
40:54 >> Siapsiap. >> Iya. Iya. >> Yang pertama dari semuanya itu kita harus sehat. >> Siap. >> Betul. >> Kita harus sehat. Jadi kita harus jaga kondisi kesehatan. yang tahu kan diri kita ya yang memberikan alert terhadap tubuh kesehatan ee kesehatan kita adalah diri kita sendiri sendiri. >> Jadi saya harus ee menjaga kesehatan. Yang kedua, kita harus bahagia, happy ya. He >> happy. Jadi kadang-kadang kita kalau terima tugas, perintah itu kadang-kadang orang sudah mengeluh. Ya, ya menurut saya tuh hal yang kurang bagus. Kita harus happy. Dan yang ketiga, semua pekerjaan yakin tidak bisa kita kerjakan sendiri. Ayo kita ramai-ramai.
41:39 >> Betul. Betul. >> Kita ramai-ramai ya. Kita berjalan bersama. >> Nah, itulah makanya dalam kehidupan saya dalam pekerjaan. Dalam pekerjaan saya pakai filosofi. >> Siap. Nah, unity, loyality, disiplin, loyality, professionality, >> professionality >> and e morality. >> Morality >> ya. Jadi unity itu kebersamaan ya, disiplin ya berarti disiplin. >> Loyality itu kesetiaan. Jadi saya enggak boleh kesetiaan sama prajurit saya. Saya enggak boleh enggak setia. Dia dia juga dengan saya harus setia. Saya dengan teman-teman dengan atasan juga saya harus setia. Betul. >> Karena loyalitas itu bagi saya adalah hal yang mendasar.
42:25 >> Kemudian profesional ya. Saya harus memimpin dengan contoh misalnya saya nyuruh nembak ternyata saya enggak bisa nembak. Saya suruh lari ternyata saya enggak bisa lari. >> Jadi >> teladan ya Bapak. >> Iya. Ya. Contohlah bukan teladan. Contohlah. Kalau teladan takutnya kebenaran gitu. Siap siap siap >> siap siap siap. >> Dan terakhir Bapak tadi menyebutkan morality. Jadi >> morality. mau cerdas mau apa, tapi kalau tidak ada moralnya nothing gitu ya, Bapak. Morality. Morality itu tidak hanya agama. >> Betul. >> Morality itu ee bagian dari moril juga. Moril. Moril prajurit. >> Jadi kita maintenance-nya kan di hati. Makanya kan angkatan darat ini karena memimpin manusia manusia dengan manusia. >> Betul. >> Kita kekuatannya tuh kan di hati hati kita.
43:10 >> Betul. >> Jadi kita kalau bahasa jawanya itu jarkoni. >> Siap. bisa enggak bisa ngelakoni ya atau >> ya hanya ngomong to no talk only misalnya kan bahasa-bahasa siap siap >> mungkin pertanyaan berikutnya kita >> siap kepada Ibu Ketu >> siap silakan Bapak silakan Bapak untuk Ibu Waketung >> apa arti dan makna persid Kartika Candra Kirana bagi Ibu Waketung >> iya iya Sebenarnya ee ini saya mau jujur aja ya, jujur ya. Siap. >> Sebenarnya ee menjadi Ibu Persid itu bisa dibilang berat, tanggung jawabnya
43:57 banyak seperti itu. >> Di awal-awal pernikahan memang itu terasa berat sekali. Iya. >> Ya, namanya kita masih junior pasti kan ee sebenarnya bukan dimarahin sih, tapi maksudnya pembelajaran lah itu buat kita gitu kan, diajari gitu kan. >> Siap. ee terasa berat gitu kan. Duh, waktu itu ingat enggak waktu saya lagi hamil besar 9 bulan >> hamil anak >> ada pertama ada kunjungan waktu itu saya di seksi ekonomi harus bawa makanan menyiapkan makanan segala macam ee kemudian malamnya masih harus cuci piring itu >> oh udah enggak ada sekarang sudah enggak ada ya kayak gitu ya enggak ada >> tapi dulu tahun '99 masih >> bien zaman dulu
44:42 >> nah seperti itu. Jadi itu rasanya tuh sebenarnya dalam hati saya tuh ah lama-lama persubarin aja lah. Ada ada seperti itu ya. Ini ini ee saya bicara jujur. Jadi kalau dibilang ee kita enggak marah dengan Persi itu enggak mungkin >> ada rasa marahnya. >> Pernah enggak marah? >> Pernah. >> Oh pernah kan >> kan saya tanya lagi. >> Siap. Siap. Siapak. Siap. Tapi dengan berjalannya waktu gitu setelah ee sekian tahun menikah kita melalui kebersamaan dengan ee anggota Persid juga sesama anggota Persid. Akhirnya di situ kita ee saya merasakan gitu bahwa oh ternyata Persid itu penting, >> sangat-sangat penting. >> Siap. >> Pertama ee dengan kekeluargaan itu kan kita bisa mendapatkan ee komunikasi yang
45:28 baik. Kita bagaimana cara kita ee bergaul dengan baik. kita tahu, oh yang ini ternyata kita enggak boleh hanya lihat >> ke senior yang sudah menjabat di atas-atas, >> ternyata anggota di bawah juga masih banyak yang perlu kita perhatikan seperti itu. Akhirnya saya merasa bahwa Persit itu sangat-sangat >> ee penting dalam ee militer. >> Siap. >> Salah satunya adalah jika tidak ada persid enggak mungkin nih ya misalnya kayak gini kan di sini cantik nih. Kalau tentara tuh mungkin sini polos aja nih meja. Iya enggak? Tapi kalau dengan adanya persid ah cantik nih ada ini terus ada apa ada apa ada ini harusnya ada cangcimen nih cangcimen >> siap >> setuju betul betul itu bias
46:14 >> setuju banget gitu aja >> sebenarnya ada ada tapi di ruang transit >> oh bocoran ya Bu >> iya itu persit kan tapi kalau tentara kan pasti oh ya tugas bertugas aja seperti itu. Jadi akhirnya untuk ee mengimbangi dinas yang kaku akhirnya Persit lah >> yang harus mengimbangi supaya itu menjadi ee sempurna gitu. >> Jadi humanis gitu. Betul. Lebih indah gitu. Betul. Jadi kalau saya ditanya saat ini persid itu sangat penting. >> Siap. >> Betul. G. >> Dan mungkin Ibu ada tips >> atau ee mungkin masukan bagi sahabat Persid yang saat ini sedang menyaksikan >> bagaimana menjadi anggota Persid yang
47:00 baik. >> Oh, gitu. >> Ini yang nonton Persid semua ya? >> Bapak-bapaknya juga mungkin ada Pak. >> Oh, Bapak-bapak. I Bapak-bapak pencinta Persid. >> Iya, betul. >> Tapi semuanya prajurit pasti cinta sama Persid. Iya. Nah, mungkin ee apa ya? Kalau di dalam kehidupan Persit saya hanya mengajak bagaimana kita guyub, >> guyup, >> saling berkoordinasi dengan baik, >> kebersamaan dan kebetulan saya selalu mempunyai ee kalau misalnya saya datang ke kunjungan-kunjungan kerja, saya akan selalu di mintakan pesan dan kesan. >> Betul. Saya selalu menuliskan persid sejati adalah istri yang selalu
47:45 mendampingi suami di mana pun bertugas. >> We itu selalu sejati >> adalah istri yang selalu mendampingi >> suami di mana pun bertugas. >> Betul. >> Jadi suami-suami harus ditungguin ya Ibu >> dalam suka dan duka ya. Suka dan duka. Betul. >> Ada cerita lucu ini. Nih. Jadi >> begitu saya kan jadi dan rem tadulako itu mendadak tiba-tiba karena ada kejadian heli jatuh >> e almarhum waktu itu senior kita ya pas Anwar jatuh helinya kemudian saya diperintah Panglima TNI saat itu di makam untuk menjadi Danrem Tadulako. >> Siap. >> Tadinya kita sudah berharap dan remrem yang enak-enaklah gitu ya. >> Siap. Dan rem tadulaku. Jadi kita berangkat itu ya ma ya.
48:31 >> Iya. >> Itu koper satu. >> Hm. Karena perintahnya besok harus nyampai di tempat Palu kan. >> Sampai serah terima. Begitu nyampai di Palu siap >> ada kunjungan kapori di Poso. >> Siap. >> Jadi kita nyampai di rumahnya taruh koper terus saya kan mau ke Poso. Takut dia >> sendiri kan rumah belum belum kenal sama Judan. >> Betul. >> Pah. Saya ikut ya ikutlah ke poso. Saya kan waktu itu poso ni seperti apa gitu kan. Malam-malam juga itu kan. Ya udah akhirnya saya tidurkan di mes batalion. >> Batalion. >> Mes batalion. >> Seru ya, Bu ya? Seru. Seru. Kalau tidak menjadi istri seorang prajurit TNI, kita enggak merasakan itu. Dan yang saya
49:16 rasakan itu ee mungkin hanya cerita-cerita bahwa Poso itu mengerikan gitu. Tapi begitu saya sampai di sana tidak. Tidak semengerikan itu ya, Bu. >> Ada gerakan-gerakan itu tapi kan di gunung. Sementara kita di kota aman. >> Siap. Ya, betul Ibu. >> Berarti Ibu waktu itu mengalami langsung ya waktu diajak Bapak ke Poso pada saat itu. >> Saya ajak ke Poso. Saya ajak ke Pakiai naik heli. >> Oh, >> kebetulan kok dinasnya selalu di daerah Rawan kan? Aceh. >> Iya betul. >> Poso sama Papua. >> Selalu betul betul. >> Jadi akhirnya ya sudah terbiasa. >> Terbiasa dakdik dugukdek. Nah, itu. >> Tapi nanti Bu Fika bilang kalau Kodam Jaya kok hitung. Nah, itu Kodam Jaya ada
50:04 COVID. Iya. Tetap tetap ada tantangannya ya Bapak ya. Tangan betul. Jadi kadang-kadang kalau kalau saya jalan-jalan sama teman gitu kan, eh kita ee ngopi-ngopi di mana? Ayolah Mbak Eka. Mbak Eka kan dulu istri Kasdam Jaya. Iya tapi COVID. Semua kafe tutup >> tutup. Betul. Siap. Siap. >> Izin Bapak. Harapan pengalaman apa dalam perjalanan hidup Bapak dan Ibu yang bisa dibagikan kepada kami generasi muda Persid untuk sahabat-sahabat Persid yang sekarang suka dibilang tuh Persid ee zaman Genzi. Gen >> G iya iya >> ya. Always be happy lah gitu ya.
50:49 >> I. Tapi begini, saya kalau pribadi saya ya bekerja, saya diajarin sama senior, kebetulan sudah almarhum ya. Senior itu saya anggap senior yang baik ya, almarhum Ricky Samuel. >> Iya. dia ee beliau menyampaikan kepada saya kalau kita di mana pun kita bekerja, di mana pun apapun masa berganti ya mau zaman berganti, zaman Genzet, zaman >> siap >> ada tiga yang saya lakukan. Yang pertama do the best. >> Do the best. Jadi ketika misalnya kita masih sekolah, do the best saja. Nah, belajar yang baik, ya. yang terbaik yang bisa kita berikan di Persit juga ketika
51:35 itu lakukan yang terbaik. Kalau memang jadi komandan batalyon, punya anggota Persid punya ini, lakukanlah yang terbaik yang bisa kita lakukan. >> Iya. Siap. Sekecil dan sebesar apapun yang ditugaskan kepada kita. Heeh. Besar kecilnya juga dia kecil. >> Betul. >> Tapi yang penting bermanfaat kepada >> betul >> orang lain. Ya. >> Betul. Betul. >> Nah, setelah saya lakukan do the best pasti ada hambatan, pasti ada kendala karena kita ingin yang terbaik. Ya, jangan menyerah. Never surrender. >> I >> ya. Karena saya yakin setiap ada kesulitan pasti ada kemudahan. >> Kemudahan. Siap. >> Itu >> siap. Siap. >> Itu kita harus yakin dulu. Kalau kita enggak yakin itu kita yang contoh itu tadi saya bilang, "Oh, saya ternyata sulit nih ngumpulin teh air buat anak
52:20 buah. >> Ternyata datang anak buah yang kasih uang ke saya >> untuk saya bagikan ke anggota." >> Siap. Betul. Ya. Jadi, nah yang terakhir ini mungkin tingkatannya mungkin ya mungkin tiap orang berbeda ya. Willing sacrifice. Rela berkorban. >> Rela berkorban. >> Jadi rela berkorban itu kalau orang kan konotasinya ngasih uang, ngasih tidak. >> Iya. >> Ternyata kecil perhatian. Misalnya ada anggota punya kesulitan >> ngomong ke kita, kita ajak ngomong, "Eh, kamu ada kesulitan apa?" >> Itu juga bagian kita dari rela berkorban. kita memperhatikan anak buah kita. >> Siap. Betul. Betul sekali, Bapak. >> Iya. Itu tiga tiga kunci. Mungkin generasi genjet, Ibu-ibu Persid silakan sesuai dengan ininya mau dilakukan.
53:07 Alhamdulillah. >> Iya. Luar biasa itu kunci-kunci yang sudah kita dapatkan ya untuk sahabat semua. >> Kerepekannya katanya. Contekannya Ibu nih saya jawab. Terima kasih Bu. Terima kasih. Mohon izin Bapak dan Ibu. Ini partisipasi dari Sahabat Persid luar biasa sekali. Dan pertanyaan yang sudah masuk itu juga ternyata banyak, Bapak. Jadi kita sekarang akan membacakan pertanyaan-pertanyaan dari sahabat Persid yang sudah masuk di DM Instagram kita Bapak di Instagram Persid Pusat. >> Ee kita menuju ini ya, Ibu. >> Ee pertanyaan ini ya, Ibu. Baik. ee bagaimana Bapak dan Ibu saling support baik dalam kehidupan sehari-hari maupun
53:54 saat berdinas. Support apa sih, Pak yang Bapak rasakan itu menjadi motivasi terbesar dari Ibu atau Ibu support terbesar dari Bapak? >> Seperti apa? >> Mama dulu untuk Bapak dulu. >> Eh, Kak dulu deh. >> Oh, mama dulu. >> Siap. >> Kan dibilang enggak kerja. >> Iya. Jadi support yang saya dapatkan dari suami untuk menjalankan tugas gitu memang kan ya seperti tadi saya sampaikan gitu dalam kehidupan persis ini pasti ada saat kita gembira sedih, ada juga kita apa namanya >> ee marah seperti itu gitu. Nah, saya selalu kepada siapa lagi? Karena ibu saya selalu berpesan begini ee tutup mulutmu. >> Heeh. tutup matamu tapi buka telingamu
54:41 besar-besar seperti itu. Dalam artian jangan bergosip, jangan melihat kekurangan orang >> atau kelebihan orang, tapi kamu harus mendengar apa yang menjadi pelajaran-pelajaran buat kamu seperti itu. Ee dan >> enggak boleh memperlihatkan >> siap >> ee dapur kita. Misalnya pada saat kita susah, jangan terlihat susah, kita gembira juga kita jangan memamerkan kegembiraan kita. Iya. Dan bila terjadi itu semua hanya bisa disampaikan kepada suami >> seperti itu. >> Iya. >> Akhirnya saya selalu apa-apa saya selalu bilang baik itu berita gembira maupun berita buruk saya selalu menyampaikan ke suami dan suami selalu support dengan memberikan nasehat. Ee terkadang saya agak marah juga gitu. Kadang-kadang nasehatnya tuh enggak sesuai dengan
55:27 jawaban yang ingin saya dengar gitu kan. namanya wanita kan seperti itu. >> Tapi akhirnya saya berpikir, oh betul juga ya karena memang kan laki-laki lebih objektif lah daripada wanita sehingga >> oh begitu ya. Ee >> oh ternyata seperti itu gitu. >> Walaupun misalnya kalau >> masalah itu adalah di bidang finansial ya saya minta juga. Jadi kalau untuk wanita yang nomor satu adalah >> support dari suami. >> Suami. >> Betul seperti itu. Betul. Kalau Bapak >> nah karena tadi itu ya kembali lagi ya karena saya selalu ingin memberikan yang terbaik. Jadi istri saya kadang-kadang nyontoh juga memberikan yang terbaik kepada kehidupan Persit lah gitu ya.
56:13 Siap. >> Siap. >> Contoh misalnya perhatian terhadap PAUD. >> Siap. >> Terhadap TK, terhadap ini ya. >> Iya. Betul >> ya. larinya ke saya juga. Ke >> mana lagi, Pak? >> Saling support ya, Pak. Bapak dan Ibu. Siap. >> Jadi ee selalu ee di setiap kita waktu Danyon ya, waktu sebelum Danyon, Wadanyon aja sudah ya kita ee membenahi TK ya. >> Iya. >> Membenahi apa? PAUD. Nah, itu ee saya anggap sebagian dari support saya terhadap istri karena >> istri siap. >> Kalau di bidang militer ya kan mungkin enggak bisa ya. Tapi ee saya lihat peran istri yang bisa saya dukung itu adalah membina kehidupan keluarga besar dari
56:58 satuan yang kita tempati. >> Betul, betul, betul, betul. >> Jadi mau tidak mau apa yang diminta oleh istri ya saya harus siap >> siap mendukung ya, Pak. >> Dan alhamdulillah itu tadi >> ada aja rezekinya ya, Pak. >> Rezekinya >> di balik kesulitan ada kemudahan. >> Ada kemudahan. Betul. Betul. Bapak, >> apa tip Bapak dan juga Ibu untuk mempersiapkan anak-anak menjadi generasi yang hebat? >> Oke. Em, anak saya yang pertama ee sekarang dokter gigi ya. >> He. >> Dari ee Universitas Indonesia lulus. Kemudian yang kedua sekarang lagi sastra Inggris lagi magang. ee saya selalu berdiskusi dengan istri
57:45 bahwa kita punya latar belakang waktu masa anak-anak yang bisa menjadikan pembelajaran ya. He. >> Sehingga ee saya berkesimpulan berdua. Yang pertama yang kita lakukan terhadap anak itu adalah komunikasi. >> Iya. Betul. >> Nah, komunikasi membuka komunikasi kemudian memberikan ruang kepada mereka sesuai dengan apa yang menjadi ee minat mereka. >> Betul. Jadi enggak saya misalnya kan bias saya orang anak tentara jadi tentara gitu ya saya lepas jadi anak saya memang yang pertama ingin jadi dokter yang kedua memang ee hobinya itu ee di bidang mobil lah gitu ya otomotif >> otomotif. Jadi itu saya berikan kesempatan kepada Jadi tidak ada
58:31 perlakuan khusus sebenarnya sih. Kita hanya berkomunikasi. Jadi kadang-kadang saya juga dimarahin sama anak saya juga seni. >> Wujud dari keterbukaan itu tadi ya Bapak dan Ibu. >> Apalagi yang masalah tenot-tot itu Papa jangan itu ya Papa tuh jangan bilang lu enggak mau sampai ngawal. Jadi kalau hari Minggu kita ada ini waktu diprotes pulang aja pengawalnya kat >> diingatkan Bapak diingatkan siap siap >> luar biasa sekali Bu Fika tamu kita >> pada hari ini >> enggak luar biasa >> sangat menginspirasi >> saya rasa banyak juga yang luar biasa Mbak Desi juga pasti punya yang luar biasa Mbak Fika juga >> iya B >> luar biasa Bapak dan Ibu bisa kita
59:16 jadikan panutan apa yang disampaikan Bapak Wakasa dan juga Ibu Waketum. >> Kami terima kasih sekali kepada Bapak dan Ibu. >> Banyak sekali >> banyak sekali ilmu-ilmu ya, nilai-nilai yang bisa kita jadikan acuan ke depan dan juga untuk sahabat-sahabat Persid yang ada di seluruh Indonesia. Sahabat persin. Mana sahabat persin? Menyapa. >> Eh, terima kasih Bapak dan Ibu telah berkenan hadir. Kartika podcast kali ini. Terima kasih. >> Mohon maaf lahir batin. Apabila ada hal-hal yang kurang berkenan kami mohon maaf lahir batin Bapak Ibu. Dan tentu
1:00:03 saja kami juga mengucapkan terima kasih banyak kepada sahabat Kartika Podcast di mana pun berada. Terima kasih untuk partisipasinya pada hari ini dan jangan lupa untuk menyaksikan tayangan Kartika Podcast episode selanjutnya. Karena >> Kartika Podcast membuka jendela dunia untuk Persit Cendekia. Salam penuh cinta. Muah. Ah.