Menjadi Pencuri Amal pada Bulan Ramadhan | Abu Bassam Oemar Mita

Ringkasan Singkat

Video ini membahas tentang bagaimana memaksimalkan bulan Ramadan agar tidak hanya menjadi ajang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang untuk akhirat. Poin-poin utama yang dibahas meliputi:

  • Empat tipe manusia dalam menyambut Ramadan dan pentingnya menjadi tipe keempat yang semangatnya terus meningkat.
  • Tiga komponen penting dalam menjalani kehidupan: sabar, syukur, dan rida.
  • Ramadan sebagai "prime time" untuk beramal dan bagaimana Allah memberikan keutamaan khusus pada bulan ini.
  • Pentingnya menjadikan Ramadan sebagai kesempatan untuk berbagi dan memberi manfaat kepada orang lain, bukan hanya fokus pada ibadah pribadi.

Pembukaan

Ramadan seharusnya tidak hanya menjadi fokus pada menahan lapar dan dahaga, tetapi juga memperhatikan orang lain yang membutuhkan. Memberi makan orang yang berpuasa akan mendapatkan pahala tanpa mengurangi pahala orang yang diberi makan. Kita diajak untuk "mencuri" amalan orang lain dengan berbagi, agar Ramadan kita lebih bermakna.

Empat Karakteristik Manusia dalam Menyambut Ramadan

Ada empat tipe manusia dalam menyambut Ramadan:

  1. Sempit Hati: Benci Ramadan karena merasa kehilangan hiburan.
  2. Semangat Awal: Semangat di 10 hari pertama, lalu menurun drastis.
  3. Naik Turun: Semangat di 10 hari pertama dan terakhir (terutama malam ganjil), tetapi tidak konsisten.
  4. Peningkatan Berkelanjutan: Semangat terus meningkat dari 10 hari pertama, kedua, hingga terakhir. Tipe ini mencontoh Ramadannya Rasulullah SAW.

Setiap peningkatan semangat adalah tanda diterimanya amal oleh Allah. Kesempurnaan suatu amalan dinilai dari akhirnya, bukan dari kekurangannya di awal.

Tiga Komponen Penting dalam Kehidupan

Dalam menjalani kehidupan yang penuh turbulensi, kita harus memiliki tiga komponen: sabar tanpa tepi, syukur tanpa syarat, dan rida tanpa batas. Dengan berpegang pada tiga hal ini, kehidupan akan baik-baik saja. Allah tidak menjanjikan kehidupan yang mudah, tetapi menjanjikan pertolongan bagi orang yang sabar, bersyukur, dan rida. Syukur bukan hanya anjuran, tetapi komitmen dan konsekuensi atas nikmat yang diberikan Allah.

Ramadan Sebagai "Prime Time"

Ramadan adalah bulan yang istimewa (prime time) dengan keutamaan yang besar. Waktu mempengaruhi argo pahala, dan Ramadan menempati posisi teratas di antara waktu terbaik yang dicintai Allah. Pintu surga dibuka, neraka ditutup, dan setan dibelenggu, sehingga memudahkan kita dalam melakukan ketaatan. Jika seseorang tidak mampu memaksimalkan ketaatan di Ramadan, sulit diharapkan ia bisa melakukannya di bulan lain. Analogi: jika salat di depan Ka'bah tidak khusyuk, di mana lagi bisa khusyuk?

Mahalnya Ramadan dan Doa Para Sahabat

Ramadan adalah momen waktu yang paling mahal bagi seorang mukmin. Para sahabat Nabi SAW memohon agar dipanjangkan umurnya hingga Ramadan. Mereka berdoa selama 6 bulan sebelum Ramadan, "Ya Allah, selamatkanlah aku sampai di bulan Ramadan. Hantarkanlah Ramadan kepada diriku dan jadikanlah amalku diterima di bulan Ramadan." Mendapatkan kesempatan Ramadan adalah karunia dan anugerah.

Amal yang Dicintai dan Difavoritkan Allah

Semua ibadah dicintai Allah, tetapi tidak semua difavoritkan. Melakukan amalan yang dicintai Allah di bulan Ramadan akan menjadikannya amalan favorit. Nabi SAW mengajarkan doa: "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan amalan yang paling Engkau cintai yang mendekatkan aku kepada cinta-Mu." Nabi meminta amalan favorit agar cepat mendapatkan rahmat Allah.

Beramal Keras dan Beramal Cerdas

Kita dituntut untuk beramal cerdas, bukan hanya beramal keras. Ramadan adalah peluang untuk beramal saleh karena setiap amal sangat dicintai Allah di bulan ini. Ramadan mahal bagi orang yang tepat, tetapi murah bagi yang tidak menghargainya. Kita harus meningkatkan cara pandang terhadap Ramadan, dari sekadar "rongsokan" menjadi sesuatu yang sangat berharga seperti kolektor jam antik.

Tiga Amalan Favorit yang Berat Timbangannya

Ibnu Qudamah menyebutkan tiga amalan favorit yang berat timbangannya di akhirat:

  1. Pahala orang yang bersabar (tidak ada batasan).
  2. Memaafkan orang yang menyakiti dan berbuat baik kepadanya (pahalanya diberikan langsung oleh Allah).
  3. Amalan Ramadan (puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang menggantinya langsung).

Puasa dicintai Allah karena merupakan satu-satunya ibadah yang membuat orang merasakan kehadiran Allah secara langsung. Pahala Ramadan tidak pernah dijadikan "bumper" untuk membayar kezaliman.

Ramadan: Sumur atau Sungai?

Jadikan Ramadan kita seperti sungai, bukan hanya seperti sumur. Sumur memberi manfaat tetapi dengan banyak syarat, sedangkan sungai mudah memberi manfaat kepada siapa saja. Jangan hanya fokus pada ibadah pribadi (tilawah, tarawih, iktikaf), tetapi berikan manfaat kepada orang lain. Sedekah di bulan Ramadan adalah sedekah yang paling afdal.

Melangitkan Ramadan dengan Berbagi

Ramadan bisa melangit jika kita menjadi pribadi yang memberi manfaat seperti sungai. Imam Syafi'i senang dengan orang yang memiliki empati besar di bulan Ramadan. Memberi makan orang yang berpuasa akan mendapatkan pahala tanpa mengurangi pahala mereka. Kita disuruh menjadi "pencuri" amalan orang lain dengan berbagi. Jika Ramadan kita kurang maksimal, tutupi dengan amal jariah. Islam tidak menyuruh kita egosentris, tetapi memberikan contoh dari Rasulullah SAW yang sangat dermawan.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 Ramadan itu jangan hanya kita fokus kepada laparnya diri kita, tapi kita juga memperhatikan laparnya orang yang mungkin tidak berhadapan dengan kita. Ramadan bukan hanya fokus ketika kita iktikaf, tapi Ramadan juga memperhatikan apa yang bisa kita sharing ketika kita bisa memberikan makanan berbuka, bisa memberikan senyuman kepada orang saleh. Makanya sampai Nabi mengatakan kepada kita, man fattar shiman. Barang siapa yang memberikan makanan berbuka, maka sesungguhnya dia mendapatkan pahala atas orang yang dia berikan makanan berbuka. Pahalanya diambil tanpa mengurangi pahala sedikit pun. Kita disuruh jadi pencuri, mencuri amalan orang lain supaya Ramadan kita melangit dan Ramadan kita tidak sekedar memberikan kepada kita sensasi lapar dan dahaga.

0:45 [musik] y murtajian rid karimun [musik] la yaradu abdin wama manal [musik] man raja Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah wasalatu wasalamu ala rasulillah

1:31 waa alihi wasobihi waman tabiahum bisan yaumilamah. Kepada seluruh hadirin yang membersamai pada kesempatan hari ini, kepada seluruh penuntut ilmu yang ikut bersama di dalam kesempatan sore kali ini. Semoga Allah senantiasa memberikan kepada kita semangat kita pada saat ketika kita memasuki bulan Ramadan. Sesungguhnya manusia ketika mereka memasuki bulan Ramadan ada ada empat karakteristik. Dan semoga kita termasuk orang yang mendapatkan karakteristik yang keempat. Maka karakter yang pertama adalah ada tipe manusia ketika mereka menyambut Ramadan, hati mereka sempit, jiwa mereka itu berkeluh kesah ketika kedatangan Ramadan. Ketika mereka merasa bahwasanya banyak entertain-intertain yang mereka bisa lakukan di luar bulan Ramadan, maka

2:19 entertain itu, hobi itu tidak bisa mereka kerjakan ketika kedatangan Ramadan. Akhirnya mereka benci kepada Ramadan. Karena Ramadan itu menjadikan mereka tidak bisa memaksimalkan hiburan yang ada pada kehidupan mereka. Ini yang pertama dan semoga kita bukan yang terpertama. Yang kedua yaitu adalah orang yang mereka memiliki tipe bahwasanya mereka senang menyambut Ramadan terutama pada 10 hari yang pertama. Tapi setelah 10 hari yang pertama dia terjun bebas, semangatnya hilang sampai akhir Ramadan. Maka ketika 1 sampai hari yang ke-10 dia terus tilawah, dia terus hadir ketika membersamai pada salat tarawih. Tapi kalau sudah hari yang ke-10, maka dia hilang di peredaran. Dia tidak pernah nongol. Bahkan dia selalu berharap semoga Ramadan itu cepat berlalu ketika

3:06 dia sudah merasakan penat dan rasa bosan. Ketika banyak sekali hal-hal yang terasa berat untuk dia kerjakan. Dan ini ada tipe yang kedua. semangatnya pada 10 hari yang pertama, tetapi hilang pada 20 hari berikutnya. Ada yang ketiga, ada orang yang mereka tipenya ketika menyambut Ramadan 10 hari yang pertama dia memiliki semangat, 10 hari yang kedua sempat turun, naik lagi pada 10 hari yang terakhir. Tapi naiknya dia pada 10 hari yang terakhir itu pun tidak 10 hari yang terakhir, tetapi hanya sematas malam-malam ganjil. Kalau di malam-malam ganjil dia nampak, tapi kalau di malam-malam genap dia tidak nampak. Sehingga akhirnya ketika di malam ganjil, maka dia tidak kita jumpai di masjid karena merasa bahwasanya pada saat itu tidak perlu memaksimalkan

3:52 ketaatan. Padahal kita harus paham Tuhan yang kita sembah di malam ganjil sama dengan Tuhan yang kita sembah di malam genap. Dan ini tipe yang ketiga. Ada tipe yang keempat. Tipe yang keempat itu adalah tipe mereka yang menjalani Ramadan yang luar biasa. Mereka 10 hari yang pertama sudah memberikan semangat. Tapi ketika mereka memasuki 10 hari yang kedua, semangat mereka lebih tinggi dibandingkan 10 hari yang pertama. Dan ketika mereka memasuki 10 hari yang terakhir, maka mereka memiliki semangat yang jauh lebih besar pada semangat pada 10 hari yang terakhir dibandingkan 20 hari yang pertama. Dan ini merupakan Ramadannya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Dan kita harus ingat setiap tanda ketika amal kita diterima oleh

4:38 Allah, maka Allah akan memberikan kepada kita semangat yang lebih besar ketika ibadah yang pertama kita telah kerjakan dan ketika ibadah itu telah diterima. Kalau 10 hari yang pertama kita diterima oleh Allah, maka Allah memberikan semangat kita yang lebih besar pada 10 hari yang kedua. Kalau 10 hari yang kedua kita diterima oleh Allah, maka Allah akan memberikan kepada kita semangat pada 10 hari yang terakhir. Karena kita tentunya sangat paham pembalap itu tahu kapan putaran terakhir dan putaran terakhir itu menentukan hasil pertandingan yang dia ikuti semenjak awal. Makanya ada satu kaidah yang cukup terkenal. Al iatu bikamalil bikamalil nihayah la binqsil bidayah. Sesungguhnya ada sebuah kaidah yang

5:24 sangat terkenal di antara para ulama. Sesungguhnya makna sesuatu terkadang itu dinilai pada kesempurnaan putaran terakhirnya, bukan pada kekurangan ketika kita pertama kali mengerjakannya. Maka semoga inilah yang menjadikan kita memohon kepada Allah semoga Allah memberikan kepada kita tipe orang yang menjalani Ramadan pada tipe yang keempat. Semangat kita pada 10 hari yang pertama maka naik lagi pada 10 hari yang kedua. Dan semangat kita pada 10 hari yang kedua naik lagi pada 10 hari yang terakhir. Siapapun yang bersemangat pada 10 hari yang terakhir tanpa membedakan antara ganjil dan genap, dialah pemenang sejatinya. Karena sesungguhnya seluruh amal tergantung penutupnya. Semoga Allah

6:10 menjadikan Ramadan kita pada tahun ini bukan hanya pada tipe yang pertama, kedua, dan ketiga, tapi semoga kita memiliki Ramadan dengan tipe yang keempat. Alhamdulillah tentunya kita senantiasa bersyukur kepada Allah atas setiap nikmat yang Allah berikan kepada kita. Tentunya ada tiga komponen yang terus kita berikan pada perjalanan kehidupan kita ketika kita menjalani kehidupan. Sesungguhnya kehidupan ini gelombangnya, angin kencangnya tidak pernah kecuali datang silih berganti. Terkadang kita mendapatkan kesulitan, terkadang kita mendapatkan kesedihan. Dan tentunya ketika kita mendapati bahwasanya kehidupan kita silih berganti, turbulensnya, kita juga mendapati anginnya yang begitu kencang, maka tidak

6:57 ada komponen yang terus kita harus miliki pada kehidupan kita kecuali kita harus memiliki tiga perkara. Kita harus memiliki sabar tanpa tepi. Kita harus memiliki syukur tanpa syarat. Dan kita harus memiliki keridaan tanpa batas. Inilah yang terus kita berikan di dalam perjalanan kita, di dalam memaknai kehidupan kita. Tanpa ketiganya hidup kita tidak baik-baik saja. Makanya Imam Ibnu Qayyim berkata, "Selama seorang manusia berpegang kepada tiga perkara ini, maka kehidupan akan baik-baik saja. Karena siapapun yang mereka berlatih untuk sabar, berlatih untuk syukur, dan berlatih untuk rida, maka sesungguhnya dia akan mendapatkan ketenangan dan mendapatkan kelapangan. Allah tidak menjanjikan kehidupan kita mudah, tapi

7:42 Allah menjanjikan bahwasanya setiap orang yang mereka selalu bersabar dan setiap orang yang mereka selalu bersyukur dan rida selalu Allah berikan kepada mereka jalan pertolongan dan Allah berikan kepada mereka jalan keluar atas setiap masalah yang mereka jumpai. Inilah yang menjadikan kita bersyukur kepada Allah. Syukur tidak menjanjikan kita pasti kaya, tapi syukur memberikan kualitas dalam kehidupan kita. Dan salah satu makna ketika kita sudah mampu bersyukur maka sesungguhnya kita akan mendapatkan ketenangan dan kelapangan di dalam kehidupan kita. Inilah yang menjadikan kita bersyukur. Syukur itu bukan anjuran. Syukur itu bukan himbuan, tapi syukur itu adalah komitmen, kewajiban, dan konsekuensi. Ketika kita menjadi objek yang terus-menerus

8:29 diguyuri nikmat oleh Allah, konsekuensinya bersyukurlah kepada Allah dengan kita memaknai setiap pemberian yang Allah berikan kepada kita tanpa kita membandingkan kenikmatan kita dibandingkan kenikmatan kenikmatan yang Allah berikan kepada orang lain. Semoga Allah membimbing hati kita menjadi hamba yang bersyukur. Bapak dan Ibu yang semoga Allah rahmati dan Allah berkahi. Kita tentunya sangat memahami sekali bahwasanya Ramadan itu merupakan salah satu di antara bulan yang berkategori prime time. Ini merupakan bulan yang memiliki keutamaan yang sangat besar yang tidak bisa kita nafikan, tidak bisa kita ingkari dan tidak bisa kita sanksikan. Ramadan adalah prime tentunya kita sangat memahami sekali bahwasanya

9:16 setiap ketaatan kita sangat tergantung oleh waktu. Karena waktu mempengaruhi setiap argo pahala yang kita lakukan dan kita kerjakan itu sangat tergantung kepada waktunya. Argonya pahala kita bisa berbeda tergantung pada waktu kapan kita melakukan satu amal. Kita kalau zikir jam .00 pagi tidak akan sama dengan zikir jam .00 siang. Kita zikir .30 tidak akan sama ketika kita berzikir 11.30. Kenapa? Karena jam . jam . itu merupakan war itu merupakan waktu prime time di antara rotasi 24 jam yang kita miliki. Ketika Allah turun langit ke dunia, maka setiap ketaatan yang dilakukan pada saat Allah turun ke dunia itu berdampak besar. Argo pahala kita menjadi lebih tinggi dibandingkan melakukan ibadah yang sama tetapi di

10:03 waktu yang berbeda. Makanya dalam bahasa kita kalau kita pesan taksi, kita pesan taksi jam 10.00 pagi biasanya harganya normal. Tapi kalau kita pesan taksi jam .00 sore ketika kebutuhan sangat besar kepada taksi, maka biasanya argonya itu argo kuda. Cepat sekali berjalannya. Kenapa? Karena memesan taksi, menaiki taksi pada saat jam .00 sore, jam 5.00 sore harganya lebih mahal dibandingkan kita menaiki taksi pada jam 10. pagi. Itulah yang disebut dengan prime time. Nah, tentunya kita paham sekali bahwasanya Ramadan ini merupakan sebuah prime time. Karena sesungguhnya Ramadan itu merupakan waktu yang sangat istimewa. Allah tidak pernah memberikan waktu sebagaimana istimewanya Allah

10:50 mengistimewakan Ramadan. Makanya Ramadan itu memiliki privilege yang tidak akan pernah dimiliki pada bulan-bulan yang lain. Bulan-bulan yang lain mungkin ada yang memiliki keutamaan waktu. Contohnya Zulhijah, contohnya Muharram itu memiliki keutamaan waktu. Tetapi keutamaan yang dimiliki sama bulan Zulhijah, keutamaan yang dimiliki sama bulan Muharram tidak akan pernah sama dengan keutamaan yang Allah berikan kepada bulan Ramadan. Kenapa? Karena bulan Ramadan itu menempati top trending. Di antara waktu terbaik yang paling Allah cintai dalam kehidupan kita dalam rotasi 1 tahun 365 hari yang kita lewati. Maka sesungguhnya top trending nomor satu waktu yang sangat Allah cintai itu adalah Ramadan.

11:36 Privileg-nya gak main-main yaitu adalah ketika pintu surga dibuka, ketika pintu neraka ditutup dan ketika setan itu dibelenggu. Maka ini merupakan privilege yang besar. Makanya kita mendapatkan bagaimana semua support sistem ketaatan itu sangat kita rasakan ketika kita sudah memasuki bulan Ramadan. Bapak, Ibu sering melihat tidak ada orang yang terkadang tidak hadir di masjid pada waktu bulan Ramadan hadir ke masjid. Kita juga mendapati bagaimana orang yang terkadang berhari-hari tidak membaca Al-Qur'an ketika di bulan Ramadan seakan-akan dia memiliki kekuatan baru untuk membaca Al-Qur'an tiap hari, tiap waktu, bahkan menargetkan untuk khatam dua kali ketika di bulan Ramadan. Kenapa itu kita sangat rasakan? Kalau Ramadan

12:23 sudah datang, vibes-nya, auranya, atmosferinya sangat kita rasakan betul-betul mendorong kita dalam ketaatan. Kita rela bangun jam .00, anak-anak kita rela bangun jam 3.00, mereka rela makan, mereka rela dikurangi tidurnya sebentar ketika di bulan Ramadan. Yang mana ketika di luar bulan Ramadan itu sangat sulit kita bisa lakukan untuk anak-anak. Sekali lagi, karena sesungguhnya Allah memberikan privilege yang Allah berikan kepada bulan Ramadan. Saking Allah cintanya kepada bulan Ramadan, Allah jadikan hanya di bulan ini pintu surga dibuka, neraka ditutup, dan setan itu dibelenggu untuk menunjukkan betapa mudahnya kita melakukan ketaatan ketika kita di bulan Ramadan. Makanya tidak salah kalau kita mendapatkan ada satu kaidah, faman

13:10 khurriima faqod khmail khairi kulliha. Maka seakan-akan sebagaimana para ulama mengatakan kalau ada orang kok diharamkan melakukan ketaatan di bulan Ramadan, seakan-akan dia diharamkan dari ketaatan-ketaatan itu di luar bulan Ramadan. Kalau di bulan Ramadan saja dia tidak mampu memaksimalkan ketaatan. Artinya secara realita kehidupan. Kalau ada di antara kita kok di bulan Ramadan tidak mampu khatam Al-Qur'an walaupun sekali seakan-akan. Ini bukan digeneralisir tapi seakan-akan. Terus di bulan mana lagi kamu akan khatam? Wong di bulan Ramadan saja tidak khatam. Kalau ada orang di bulan Ramadan tidak mampu istikamah untuk tarawih. Padahal tarawih di bulan Ramadan itu namanya

13:55 adalah salat tahajud yang dilakukan dengan beristirahat. Makanya dinamakan tarawih. Kok ada orang di bulan Ramadan, maka absennya, maka absennya dari tarawih itu lebih banyak dibandingkan hadirnya. Terus di bulan mana lagi dia akan tarawih dan akan tahajud? Kalau di bulan Ramadan saja dia tidak mampu untuk istiqamah di dalam salat tahajud yang disebut dengan tarawih. Pintu surga lagi dibuka, pintu neraka lagi ditutup, dan setan lagi dibelenggu. Dan itu harusnya menjadi support sistem yang luar biasa untuk bisa melakukan semua ketaatan yang bisa kita maksimalkan. Makanya reality-nya yaitu adalah reality. E maka analoginya sederhana. Kalau Bapak Ibu salat di depan makam, misalkan kita salat di

14:42 depan Ka'bah. Kalau kita salat di depan Ka'bah, kalau kita salat di depan Ka'bah kok kita tidak khusyuk, maka seakan-akan terus di salat di tempat mana lagi kamu akan khusyuk kalau di depan Ka'bah saja kamu tidak khusyuk. Karena sesungguhnya harusnya kita di depan Ka'bah itu kan khusyuk. Kalau di depan Ka'bah saja jarak antara kita berdiri dengan Ka'bah hanya sejarak 5 m, kok kita tidak khusyuk. Maka sesungguhnya ini teguran keras untuk kita. di tempat mana lagi kita akan khusyuk kalau di situ saja kita tidak khusyuk. Nah, ini pula kita di bulan Ramadan. Makanya Ramadan itu kalau sampai kita tidak bisa memaksimalkan ketaatan kita di bulan Ramadan, maka sesungguhnya kita

15:28 seakan-akan di bulan mana lagi kita akan maksimal di dalam ketaatan. Kalau di bulan Ramadan kita tidak maksimal ketaatan. Makanya akhirnya kalau ada orang di bulan Ramadan masih pelit dan tidak bisa menjadi dermawan dan tidak bisa untuk mengeluarkan hartanya untuk dia berbagi, memberi manfaat kepada orang lain. Padahal pintu surga lagi dibuka, neraka lagi ditutup, maka di bulan mana lagi dia akan dermawan? Kalau di bulan Ramadan saja dia tidak bisa dermawan. Maka inilah yang menjadikan kita akhirnya paham inilah Ramadan, inilah perkara besar dan inilah perkara yang bisa menjadikan seluruh amal ibadah kita itu menjadi besar di sisi Allah yaitu adalah Ramadan. Karena sesungguhnya Ramadan itu bukan hal yang biasa. Ramadan itu merupakan momen waktu yang

16:15 paling mahal dalam kehidupan seorang mukmin. Makanya dulu para sahabat Nabi sallallahu alaihi wasallam, para sahabat Nabi itu mereka sangat memohon kepada Allah supaya mereka dipanjangkan waktunya, supaya mereka diberikan waktu memasuki bulan Ramadan. Makanya doanya mereka sebagaimana keterangan dari Yahya bin Katsir, maka doanya mereka apa? Allahumma sallimni ila ramadan wasallimli Ramadan watasallamhu minni mutaqbala. Doanya para sahabat dulu, para ulama-ulama terdahulu ketika mereka ingin dipanjangkan umurnya sampai di bulan Ramadan, mereka berdoa sampai 6 bulan sebelum datangnya Ramadan. Mereka itu berdoa, "Ya Allah, selamatkanlah aku sampai di bulan Ramadan. Hantarkanlah

17:03 Ramadan kepada diriku dan jadikanlah amalku diterima di bulan Ramadan." Dan doa itu dilazimi membasahi bibir-bibir mereka. Ketika mereka berdoa kepada Allah, mereka lazimi 6 bulan sebelum datangnya Ramadan. Karena apa? Karena mereka tahu mendapatkan kesempatan Ramadan itu karunia. Dipanjangkan umur itu kenikmatan. Tapi dipanjangkan umur sampai di bulan Ramadan itu merupakan sebuah karunia dan anugerah. Para sahabat Nabi tidak pernah meminta dipanjangkan umur sampai di bulan Zulhijah. Mereka tidak pernah meminta dipanjangkan umur sampai di bulan Muharram. Mereka tidak pernah meminta dipanjangkan umur sampai di Rabiul Awal. Gak. Tapi para sahabat Nabi ketika mereka berdoa kepada Allah, mereka

17:50 berdoa dipanjangkan umur sampai di bulan Ramadan. Karena begitu berharganya Ramadan di hadapan mereka. Dan memang sejatinya Ramadan itu sangatlah mahal. Makanya Ramadan kalau kita sangat memahaminya dan kita mengerti, Ramadan itu merupakan salah satu di antara para waktu yang paling istimewa. Di antara keistimewaan Ramadan itu apa? Mengubah setiap amal yang asalnya amal itu dicintai. Maka menjadi amalan favorit ketika kita mengerjakannya di bulan Ramadan. Kita Bapak dan Ibu harus paham semua ibadah itu dicintai oleh Allah Subhanahu wa taala. Semua ibadah itu dicintai oleh Allah. Tapi tidak semua ibadah itu difavoritkan oleh Allah. Ibadah yang difavoritkan

18:36 oleh Allah itu gak banyak. Tapi semua ibadah itu dicintai oleh Allah. Tapi ibadah yang difavoritkan oleh Allah itu tidak sebanyak ibadah yang Allah cintai. Analoginya begini. Di dalam Al-Qur'an ada 114 surat. Semua surat di dalam Al-Qur'an semuanya dicintai oleh Allah. Tapi tidak semua surat di dalam Al-Qur'an itu difavoritkan oleh Allah. Tidak semua surat itu difavoritkan oleh Allah. Ada beberapa surat yang difavoritkan oleh Allah. Contoh Albaqarah, Ali Imran. Albaqarah kenapa? Karena ada ayat kursi. Ali Imran karena 10 ayatnya selalu dibaca oleh Nabi pada 10 ayat yang terakhir yang dibaca Nabi setiap bangun tidur. Ada Almulk, ada Al-Kahfi, ada Al-Ikhlas, ada Al-Falaq,

19:23 Annas. Itu surat-surat yang difavoritkan oleh Allah. Kalau kita membaca surat-surat yang difavoritkan oleh Allah, maka keutamaannya lebih besar dibandingkan surat-surat yang Allah tidak favoritkan. Makanya kalau Bapak, Ibu tanya kepada ulama, "Saya menghafalkan surat Al-Maidah dengan surat Albaqarah, mana yang lebih utama?" Menghafalkan surah Albaqarah lebih utama dan lebih besar pahalanya dibandingkan kita menghafalkan surah Al-Maidah. Kenapa? Karena surah Albaqarah difavoritkan oleh Allah. Ya, kita misalkan ditanya mana yang lebih utama? Saya menghafalkan surah An-Nisa dengan surah Ali Imran. Surah Ali Imran itu lebih utama dibandingkan surah An-Nisa. Itulah yang kita harus paham. Semua surat 114 surat. Semua

20:10 surat dicintai oleh Allah. Tapi tidak setiap surat itu difavoritkan oleh Allah. Kita harus paham itu. Sama amal ibadah juga sama. Semua amal ibadah itu dicintai oleh Allah. Semua amal ibadah itu dicintai oleh Allah. Tapi tidak semua amal ibadah itu difavoritkan oleh Allah. Dan kita harus paham, memberikan perhatian kita bahwasanya setiap ketaatan yang dicintai oleh Allah kalau kita melakukannya di bulan Ramadan seketika amal-amal itu akan menjadi amalan favorit di sisi Allah dan menjadi amalan yang sangat Allah cintai kalau kita melakukannya. Terlebih ketika di bulan Ramadan kita melakukan amalan tersebut di luar bulan Ramadan Allah cintai. Tapi kalau kita melakukan amalan itu di bulan Ramadan,

20:56 maka seketika amalan itu difavoritkan. Kenapa? Karena melakukan waktunya di prime time yang sangat Allah cintai dan waktu yang sangat Allah ridai itu bulan Ramadan. Menjadikan setiap waktu, menjadikan setiap amal yang dikerjakan di bulan Ramadan itu menjadi favoritnya Allah. Dan kita perlu amalan favorit. Kenapa? Supaya kita cepat mendapatkan kebaikan pahala kita ketika kita beramal dengan amalan prioritas supaya kita cepat untuk meraih rahmati Allah. Makanya kalau boleh saya menyampaikan ada satu doa yang sangat indah sekali. Kalau Ibu dan Bapak pernah membaca, ada satu doa yang indah yang diajarkan oleh Nabi. Nabi itu mengajarkan kepada kita

21:42 sebuah doa, yaitu doanya adalah Allahumma inni asaluka hubbaka wahubba man yuhibbuka wahubba amalin yuqorbu ila hubbika. Ada satu doa yang sangat indah. Doanya itu adalah ketika Nabi memohon kepada Allah Subhanahu wa taala. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu cinta-Mu. Aku memohon kepadamu cinta orang yang mencintaimu dari kalangan salihin dan salihat yang mereka juga bisa mencintaiku. Dan aku memohon amalan yang paling engkau cintai yang mendekatkan aku kepada cintamu. Jadi, ternyata cinta yang kita butuhkan sebagai manusia itu ada tiga. Cintanya Allah, cintanya orang saleh dari kalangan salihin dan saleh. Kita butuh

22:28 cintanya mereka. Karena kalau kita dicintai kalangan salihin dan salihat yang kita berinteraksi baik dengan mereka, maka kalaupun kita meninggal dunia, minimal kita akan mendapatkan doa. Dan kalau kita sampai disalatkan 40 orang yang mereka saleh ketika kita meninggal dunia, kita pun mendapatkan syafaat dari mereka. Dan yang ketiga yang diminta oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam yaitu adalah ketika Nabi memohon kepada Allah yaitu adalah wahubba amalin yuqoribu ila hubbika. Ya Allah aku memohon kepadamu amalan yang paling engkau cintai yang mampu mendekatkan aku kepada cintamu. Yang menarik mari kita jadikan nomor tiga spotlight. Ternyata Nabi tidak mengatakan kepada Allah, "Ya Allah,

23:15 berikanlah kepadaku umur yang panjang supaya aku bisa beramal ibadah dengan semua ibadah yang kau perintahkan. Semuanya aku bisa kerjakan." Nabi tidak memilih kata-kata itu dan Nabi tidak memilih diksi tersebut. Tapi Nabi justru mengatakan kepada Allah Subhanahu wa taala, Nabi melangitkan harapan beliau kepada Allah, "Ya Allah, aku memohon kepadamu amalan yang paling engkau cintai, yang mendekatkan aku kepada cintamu." Jadi, Nabi itu meminta amalan favorit. Kenapa? Karena amalan favorit itu bisa menjadikan kita mendapatkan argo pahala yang jauh lebih besar untuk cepat mendapatkan rahmati Allah. Dan Ramadan itu menjadikan semua amalan kita itu

24:00 menjadi amalan favorit. Ya, karena sesungguhnya kita bukan hanya dituntut beramal keras, tapi kita dituntut beramal cerdas. Ya, sebagaimana kalau kita melihat ada dua perusahaan. Ada perusahaan A berdiri sudah 70 tahun, ada perusahaan B berdiri 10 tahun. Tapi bisa jadi perusahaan yang baru berdiri 10 tahun valuasinya bisa mencapai R triliun. Tapi ada perusahaan yang sudah berdiri 70 tahun, valuasinya tidak sampai 5 miliar. Kenapa? Perusahaan ini yang satu berdirinya lama 70 tahun tapi valuasinya cuma 5 miliar. Tapi kenapa ada perusahaan B berdirinya baru 10 tahun tapi valuasinya bisa 5 triliun, ratusan kali lipat daripada

24:47 valuasi perusahaan A. Karena itu dibedakan dengan kecerdasan mereka berbisnis, manajemen mereka, strategi mereka, kecerdasan mereka ketika menangkap peluang dan menangkap bisnis itu bisa menjadi profit yang menjadikan satu perusahaan terkadang lebih cepat valuasinya meningkat karena kecerdasan tim kerja mereka dibandingkan dengan perusahaan yang mungkin 70 tahun tapi tidak memiliki kemampuan untuk menangkap peluang bisnis. Ini namanya kecerdasan dalam berbisnis. sama. Maka analoginya pun kurang lebihnya sama. Kita di dalam kita beramal, kita bukan hanya butuh beramal yang keras, tapi kita butuh beramal yang ceras. Dan kecerdasan kita di dalam kita

25:33 beramal itu salah satunya adalah ketika kita paham bahwasanya Ramadan itu merupakan salah satu peluang dan ini merupakan salah satu celah paruh waktu yang bisa betul-betul menjadi kecerdasan kita di dalam kita melakukan amal saleh. Kenapa? Karena setiap amal itu sangat dicintai oleh Allah ketika kita melakukannya di bulan Ramadan. Ramadan mahal di mata orang yang tepat, tapi Ramadan murah di mata orang yang mereka tidak pernah menghargai Ramadan. Ya. Maka sesungguhnya saya pengin menyampaikan terlebih dahulu Ramadan itu mahal dan semoga kita memahami betapa mahalnya Ramadan pada kehidupan kita. Ketika Allah memberikan karunia Ramadan tahun ini, kita masih diberikan kesempatan waktu untuk dipanjangkan

26:19 umurnya menikmati Ramadan. Karena memang Ramadan itu sangatlah mahal. Makanya kita setelah memahami Ramadan itu sangatlah mahal ketika dia menjadikan amalan yang Allah cintai menjadi amalan favorit, kita juga harus paham Ramadan itu juga merupakan salah satu di antara amal dari Ramadan itu merupakan salah satu amal yang mana pahalanya itu nanti di sisi Allah selalu senantiasa terjaga. Karena apa? Karena indahnya Ramadan. Makanya salah satu ulama bernama Ibnu Qudamah itu berkata kepada kita, ada tiga amalan favorit yang apabila ditimbang di dalam mizan kebaikan, hampir-hampir mizan atau hampir-hampir

27:04 timbangan tidak kuat untuk memikulnya. Apa tiga amal yang sangat difavoritkan oleh Allah yang apabila ditaruh di dalam mizan, mizan itu hampir tidak kuat untuk memikulnya. Ada tiga. Satu pahala orang yang bersabar. Maka Allah menyampaikan, innama yuwairuna ajruhum bihairi hisab. Pahalanya orang yang sabar itu tidak ada batasan. Makanya sabar terus kita berikan. Sabar sama Allah, sabar sama pasangan, sabar sama anak. Yang kedua termasuk amal yang sangat difavoritkan oleh Allah yang apabila diletakkan dalam timbangan kebaikan manusia kelak di pengadilan Allah hampir timbangan itu tidak kuat

27:50 memikulnya karena beratnya bobot pahalanya. Yang kedua, memaafkan orang yang menyakiti kita dan kita berbuat baik kepadanya walaupun kita pernah disakiti olehnya. Makanya Allah berfirman, "Faman afa wa aslaha faajruhu alallah." Maka sesungguhnya Allah itu, maka sesungguhnya Allah berfirman, "Faman aslaha faajruhu alallah." Barang siapa yang dia tersakiti, dia memaafkan, dia tetap berbuat baik kepada orang yang telah menyakitinya seakan-akan dia tidak pernah tersakiti. Faajruhu allallah, maka pahalanya nanti diberikan oleh Allah secara langsung. Saking beratnya bobot pahala itu, malaikat tidak bisa memikulnya. Tetapi Allah yang memberikan langsung kepada mizan. Dan mizan hampir

28:37 tidak kuat memikulnya. Kayak timbangan bayi ketika menimbang laki-laki dewasa, maka timbangan bayinya hampir rusak. Yang ketiga, amalan favorit ini yaitu amalan Ramadan. Makanya Allah menyampaikan kepada kita, wasuli wazi, sesungguhnya puasa itu untukku dan akulah yang menggantinya langsung. Jadi orang yang berpuasa dan melakukan amalan di bulan puasa maka Allah yang menggantinya langsung. Karena Allah menyampaikan wasumuli, puasa itu untukku. Akulah yang menggantinya langsung. Kenapa puasa itu sampai disifati oleh Allah dengan pengkhususan puasa itu untukku dan akulah yang

29:23 menggantinya langsung. Karena cintanya Allah kepada setiap amal Ramadan dan setiap ketaatan yang dilakukan di bulan Ramadan itu saking Allah mencintainya maka Allah memberikan pengkhususan puasa itu untukku. Dan sebagian ulama itu sampai mengatakan kepada kita, Bapak dan Ibu, kenapa Allah sangat mencintai puasa? Kenapa Allah sangat mencintai puasa dan sangat mencintai pahala puasa ketika Allah telah menerima ketaatan seorang hamba? Karena jawabannya sederhana. Karena satu-satunya ibadah yang orang mampu merasakan kehadiran Allah secara langsung dan terasa dekat itu amalan puasa. Orang kalau salat bisa riak. Orang kalau

30:09 kalau dia umrah dia bisa riak. Tapi orang kalau dia puasa tidak bisa kecuali karena Allah. Contoh kasusnya dalam kehidupan realita sehari-hari. Kita ini kalau puasa siang-siang berkumur-kumur kayak tadi pas lagi panas misalkan ketika kita berkumur-kumur mulut kita penuh dengan air. Tenggorokan kita dengan jarak tenggorokan kita dan mulut kita hanya sejarah 2 cent. Bisa enggak sekaligus kita berkumur-kumur, kita meneguk dua ceglukan, dua tegukan, empat tegukan sekaligus bisa. Ambil kumur-kumur, cegluk satu, cegluk dua bisa. Dan kalaupun kita melakukan itu, tidak ada orang yang menyadari dan tidak ada orang yang tahu apa yang kita perbuat.

30:56 Tapi apakah kita mau melakukan itu? Kita gak mau melakukan itu. Kita tidak mau mengerjakan itu. Kenapa kita tidak mau melakukan itu? Karena kita merasa dilihat sama Allah. kita merasakan dekat kehadiran Allah lah. Itulah yang menjadikan amalan dan puasa Ramadan dan seluruh amalannya itu terjaga di sisi Allah itu betul-betul terjaganya indah. Kalau kita salat, salat kita bisa jadi membayar kezaliman yang pernah kita lakukan sama orang. Bapak, Ibu salat tapi ngzalimin orang. Bisa jadi pahala salatnya dipakai untuk membayar kezaliman yang pernah Bapak Ibu lakukan kepada orang lain. Bapak, Ibu umrah, Bapak Ibu dua kali haji, umrahnya lima kali. Lalu Bapak

31:41 pernah nyakitin orang, bisa jadi pahala hajinya Bapak, pahala umrahnya ibu akan dipakai oleh Allah untuk membayar orang-orang yang pernah tersakiti kalau orang itu mengadu sama Allah. Tapi ada satu amal yang Allah tidak pernah jadikan bumper dan tidak pernah jadikan backup untuk membayar kezaliman ataupun ketika kita nyakitin orang. Maka apa amal yang tidak pernah dijadikan b? Amalan Ramadan. Amalan Ramadan ini tidak pernah diota-ati oleh Allah. Amalan salat bisa dipakai membayar kezaliman. amalan umrah, amalan haji, amalan ketika kita salat tahajud bisa dipakai untuk membayar orang yang pernah kita sakiti dan kita harus memberikan pahala kita untuk mereka. Tapi pahala yang tidak

32:26 pernah ditransfer kepada orang lain hanya pahala Ramadan. Hanya pahala Ramadan. Dan amal yang kita lakukan di bulan Ramadan. Kenapa? Saking favoritnya amal di bulan Ramadan. Dan itu tidak bisa disamakan dengan amalan-amalan yang lain. Dan itu tidak bisa disamakan dengan amalan ketaatan yang kita lakukan di bulan di luar bulan Ramadan. Karena apa? Sekali lagi, Ramadan itu mahal di mata orang yang tepat dan Ramadan itu murah di mata orang yang tidak pernah menghargai. Saya sering memberikan analogi dan contoh. Saya misalkan analoginya, ilustrasinya saya pulang ke Kudus, kota kecil saya. Saya membuka pintu, membuka lemari tua Bapak saya. Lalu saya menemukan jam tua.

33:14 Di situ ada tulisan 1947. Berarti jam itu dibuat 2 tahun setelah kemerdekaan. Jam itu jam itu objeknya sama jam. Apakah setiap orang akan memberikan harga yang sama pada jam yang saya miliki ketika saya temukan? Gak. Kalau saya bawa ke pemulung mungkin pemulung menghargai Rp10.000 plus dengan kerupuk satu plastik. Kalau saya bawa ke satpam komplek rumah saya mungkin satpam itu akan memberikan harga untuk jam yang saya temukan itu paling paling harganya Rp50.000. R karena mungkin dia sungkan saya menawarkan. Saya ketika bawa kepada tukang servis jam mungkin dia akan menghargai Rp100.000. Kenapa dia menghargai Rp100.000? ya karena mungkin dia melihat jam itu jam tua, tapi dia tidak paham

34:01 historinya dan dia tidak paham tentang mekanisme jam antik mau dibawa ke mana dan dijual ke mana. Tapi jam itu ketika saya bawa pulang, saya foto, saya mention kolektor jam, kemudian saya mention orang yang paham tentang koleksi, orang yang paham tentang vintage gitu. Maka bisa jadi ada yang datang ke rumah saya menawar jam itu dengan harga R200 juta. Kenapa? Karena dia tahu kalau jam ini dilemparkan ke pasar internasional bisa jadi laku R miliar. Yang menarik untuk menjadi peranungan untuk kita, kenapa jamnya sama, objeknya sama, tapi tiap orang memberikan harga yang berbeda-beda. Karena orang akan memberikan harga itu sesuai dengan latar belakang. Maka

34:46 tukang pemulung dia memberikan harga R.000. ribu pada jam antik yang saya tawarkan kepadanya ya. Karena dia menganggap jam itu hanya sekedar rongsokan. Security di rumah saya memberikan harga Rp50.000 ya karena dia hanya melihat karena sungkan saja dia kalau melihat saya menawarkan lalu dia tidak beli tukang servis jam lebih baik lagi Rp100.000 dia memberikan harga karena dia enggak ngerti bahwasanya jam itu bisa jadi lebih mahal lagi kalau dia punya pasar yang dia tahu atau link yang dia kenal. Tapi kenapa kolektor jam itu bisa memberikan harga R00 juta? Karena dia tahu otentiknya jam itu tuh mahal dan historinya itu sangat tinggi sekali. Dan bisa jadi bisa jadi kalau dia lemparkan kepada kolektor yang lebih loyal lagi

35:33 maka bisa laku dengan harga mungkin 1 2 miliar sama Ramadan itu sama Ramadan itu ada yang melihatnya hanya sebatas rongsokan kayak pemulung ketika melihat jam atik sekedar rongsokan. Ada yang melihat Ramadan itu sekedar sungkan karena yang lain itu taat akhirnya dia taat. Sungkan kalau dia tidak taat. Yang lain puasa masok saya tidak puasa. Ada yang ketiga, ada orang yang mereka itu ketika menjalani Ramadan kayak tukang servis zam. Dia tahu barangnya mahal. Dia tahu ini merupakan waktu yang utama tapi dia kalah dengan manajemen syahwatnya. Dan ada yang keempat, ada orang yang menghargai Ramadan itu kayak kolektor. Maka dia tahu 30 hari yang dia berikan untuk melakukan ketaatan di bulan

36:18 Ramadan tidak sebanding apa yang akan dia dapatkan dalam kehidupan di akhirat ketika Allah membalasnya dengan kelipatan yang tidak terhingga. Dan Ramadan sekali lagi mahal di mata orang yang tepat, tapi Ramadan itu murah di mata orang yang tidak pernah menganggap Ramadan itu mahal. Makanya kalau ada di antara kita selama ini melihat Ramadan kayak pemulung ketika melihat jam sekedar rongsokan supaya minimal kita upgrading. Kita upgrading minimal kita menjadi orang yang minimal kita menjadi orang yang sungkan dengan orang yang taat kita berbuat ketaatan. Kalaupun kita selama ini melihat Ramadan sekedar sungkan,

37:03 semoga kita meningkat upgrading bahwasanya kita melihat Ramadan sebagaimana tukang servis jam. Tapi kalau selama ini kita melihat Ramadan kayak tukang servis jam ketika melihat jam antik, ayolah minimal pada Ramadan tahun ini kita meningkat upgrading. Kita melihat Ramadan sebagaimana kolektor jam antik ketika menemukan jam antik masih berfungsi dengan nilai histori yang sangat tinggi yang menjadikan dia akan sangat senang bersukacita ketika mendapatkan itu. dan masing-masing dari kita berbeda-beda. Setelah kita memahami ini, maka tentunya kita paham bahwasanya setelah kita paham bahwasanya Ramadan itu termasuk di

37:49 antara amalan favorit, termasuk prime time dan Ramadan itu mahal, maka kita juga harus memahami apa perkara yang bisa kita maksimalkan ketika kita menjalani Ramadan. Karena Ramadan bukan hanya sekedar tarawih. Ramadan bukan hanya sekedar tilawah. Ramadan bukan hanya sekedar iktikaf dan ditutup dengan zakat fitrah. Ramadan bukan hanya ini. Karena banyak orang yang akhirnya melihat Ramadan hanya dari sudut pandang empat perkara. Ramadan itu tarawih, Ramadan itu tilawah, Ramadan itu iktikaf, dan Ramadan itu zakat fitrah. Lalu kita mudik ketika kita pulang ke kampung halaman kita melepaskan rindu dengan keluarga kita tercinta.

38:35 Tapi Ramadan bukan hanya sekedar itu. Ramadan itu ada perkara-perkara yang harus selalu kita maksimalkan. Maka yang harus kita maksimalkan ketika kita mengetahui Ramadan itu merupakan amalan favorit, amalan yang sangat Allah cintai, sangat mempengaruhi argo pahala kita ketika kita melakukan ketaatan di bulan Ramadan, maka setidaknya ada dua aspek yang harus selalu kita perhatikan. Apa dua aspek yang kita harus perhatikan supaya betul-betul melangitkan Ramadan kita? Supaya betul-betul Ramadan kita bukan hanya sekedar memberikan kepada kita sensasi dahaga dan sensasi lapar. Tapi Ramadan lebih daripada itu. Kita pengin Ramadan itu menjadi tabungan dan

39:21 investasi jangka panjang kita. Dan Ramadan itu kita harapkan bisa menyelamatkan kita ketika kita tadi tahu bahwasanya Ramadan merupakan satu-satunya pahala yang tidak pernah dipakai untuk me-back up apabila kita melakukan kezaliman. Maka apa yang harus kita maksimalkan supaya Ramadan ini betul-betul bermakna? Karena kita tentunya harus paham kalau menanam benih bukan hanya fokus kita menyirami tapi memastikan tidak ada rumput liar. Memastikan pula komposisi air yang kita siramkan harus tepat dan tidak berlebihan. Memastikan pupuknya harus tepat. Memastikan ketika tumbuh harus kita rawat supaya bisa menjadikan benih itu tumbuh. Lalu benih itu memberikan manfaat kepada banyak orang dengan buah dan rindangnya daun-daun

40:07 yang ada. Sama Ramadan ini pun juga Ramadan ini pun juga harusnya sebagaimana benih. Dan benih Ramadan ini tidak hanya sekedar Ramadan itu bermanfaat untuk kita. Ramadan bukan hanya menjadikan kita semangat dalam tilawah. Ramadan bukan hanya menjadikan kita semangat bangun jam . Ramadan bukan hanya semangat ketika kita menetapkan target kita bulan ini khatam lima kali. Itu semuanya perbuatan baik. Tapi Ramadan juga perlu sesuatu yang bisa memberikan kebaikan ketika melangitkan Ramadan kita. Kita perlu sekali supaya Ramadan ini bisa naik lalu bisa menggapai rahmatnya Allah yang ada di langit-langit yang Allah tebarkan rahmatnya setiap harinya di bulan Ramadan.

40:54 Apa yang harus kita lakukan, Ustaz? Supaya Ramadan ini bukan hanya memberikan kepada kita alumni yang gagal. Karena alumni yang gagal di madrasah bernama Ramadan itu jauh lebih banyak dibandingkan alumni yang berhasil. Nabi sampai mengatakan rubimin laisu min. Berapa banyak orang yang puasa tidak mendapatkan puasanya kecuali adalah lapar dan dahaga. Berarti yang kita harus betul-betul lakukan adalah kita harus memiliki sebuah sistem untuk menjadikan diri kita tidak terperosok kepada alumni yang gagal. Apa yang harus kita lakukan untuk melangitkan Ramadan kita supaya Ramadan kita tetap bermakna? dan tetap menyibukkan malaikat raqib ketika

41:40 mencatat amal kita di bulan Ramadan. Maka yang harus kita lakukan ada dua. Saya sampaikan secara sederhana karena waktu kita tidak terlalu panjang. Yang pertama memastikan bahwasanya Ramadan supaya Ramadan ini betul-betul menjadi benih yang bisa memberikan kebaikan. Jadikan Ramadan kita bukan hanya sekedar Ramadan itu menciptakan filsafat kehidupan kita selayak sumur, tapi jadikan Ramadan ini selayak sungai untuk kita. Jangan jadikan Ramadan hanya sebatas sumur, tapi Ramadan itu harusnya menjadikan diri kita selayak sungai. Kun nahron wala takun.

42:28 Jadilah kamu sungai. Jangan sebagaimana kamu menjadi sumur. Ini gimana sih maksudnya, Ustaz? Oke, mari kita bahas. Sumur itu memberi manfaat. Fix. Kita setuju sumur itu memberi manfaat. Tapi sumur ketika memberi manfaat, maka sumur ketika memberi manfaat itu banyak syarat untuk didapatkan manfaatnya. Kalau pengin diambil airnya harus pakai timba atau minimal pakai mesin air. Itu sumur. Kita juga mendapati kalau sumur itu dipakai renang tidak bisa, dipakai mancing tidak bisa, dibuang kotoran gak bisa, mencuci baju di permukaan sumur tidak bisa. Harus diambil ke atas. Sumur itu banyak syaratnya. Maka itulah filosuf sumur. Ada orang

43:13 yang hidup itu kayak sumur. Dia memberi manfaat. Dia bisa di dalamnya ada kebaikan tapi tidak memberikan kebaikan. Tapi tidak memberikan manfaat kepada banyak orang. Ini kayak sumur. Sumur itu di dalamnya ada air. Air itu merupakan mata kehidupan manusia. Tapi dia kalau memberikan air itu banyak sekali syaratnya. Dan ternyata tidak mudah baginya memberikan manfaat kepada orang. Ada orang yang mereka menjalani Ramadan itu kayak sumur. Dia fokus pada tilawahnya, dia fokus kepada tarawihnya, dia fokus kepada dia fokus kepada amalan makhdahnya. Tapi ternyata semua ketaatan yang dia kerjakan hanya untuk pribadinya dan menjadi konsumsi dan menjadi konsumsi pribadi dan dia tidak pernah

44:00 naik ke atas dan orang-orang di sekitarnya tidak mendapatkan manfaat. orang tahunya dia puasa, orang tahunya dia tarawih, orang tahunya dia iktikaf. Sebatas itu doang, tidak lebih. Ada orang yang mereka menjalani Ramadan itu hanya sebatas sumur. Ini yang pertama. Ada orang yang mereka menjalani Ramadan itu mereka hidupnya sebagaimana sungai. Ada orang yang menjalani Ramadan itu mereka itu kayak sungai. Ramadan itu kayak sungai. Gimana Ramadan itu kayak sungai? Sungai itu kalau kita pikirkan, kita bedah dulu sungai Nahron, sungai itu gampang memberi manfaat. Diambil airnya tidak perlu pakai timbang. Diambil airnya tidak perlu pakai pompa. Dipakai mancing bisa, dipakai renang bisa, dipakai nyuci baju

44:47 bisa, bahkan dipakai membuang kotoran pun sungai dengan rela memindahkan kotoran kita ke tempat yang jauh dan menyeretnya ke tempat yang jauh sampai hilirnya. Itulah sungai. lah ada orang itu yang mereka itu menjalin Ramadan itu kayak sungai. Dia bukan hanya fokus pada tarawihnya, dia bukan hanya fokus kepada tilawahnya, dia bukan hanya fokus kepada iktikafnya, tapi dia fokusnya adalah bagaimana dia memberikan asas kebermanfaatan walaupun dia menjalankan amalan Ramadan. Karena amalan itu sejatinya ada dua. Ada amalan yang sifatnya hanya untuk pribadi kita. Ada amal yang kedua, ada amal yang sifatnya mutaaddi. Ada amal yang sifatnya bisa memberi manfaat kepada orang lain. Dan kaidahnya sederhana.

45:34 Amalan ketika memberikan manfaat kepada orang lain itu terkadang sangat dicintai oleh Allah dibandingkan amalan yang hanya memberikan manfaat untuk pribadi. Kenapa? Kalau kita melakukan amalan fardi untuk pribadi semata, maka yang merasakan manfaat hanya kita tetap mendapatkan pahala. Tapi tidak sebesar ketika amal kita memberikan manfaat kepada orang lain. Allah itu paling suka amal mutaaddi. Allah itu paling senang kepada amal mutaaddi. Makanya amal mutaaddi itu sangat Allah cintai. Itulah yang menjadikan kita akhirnya mendapatkan bahwasanya Nabi itu ketika mengajarkan agama ini kepada kita tuh titik beratnya tuh salah satunya terus memberikan manfaat kepada banyak orang. bukan hanya kepada banyak orang, bahkan

46:19 kepada sesama makhluk. Makanya kan kita mendapati ada sedekah, ada ada hadiah, ada infak, ada wakaf, ada senyum, ada berbagi. Kenapa semua itu ada dan meramaikan dalam hasanah fikih yang diajarkan Nabi kepada kita? Karena sesungguhnya ajaran Nabi itu bersifat satu. Bagaimana kita memberi manfaat dan Islam itu bukan ajaran yang menitek beratkan supaya kita menjadi orang yang egosentris. Inilah yang menjadikan kita harus paham Ramadan kita itu bisa melangit lalu bisa meninggi. Itu ketika kita justru menjadi pribadi-pribadi ketika di bulan Ramadan itu selayak sumur. Makanya kita memberikan bagaimana asas

47:06 kebermanfaatan dengan Ramadan yang kita jalani, tilawah yang kita maksimalkan, iktikaf yang kita khusyukkan. Maka bukan hanya itu, apa manfaat yang bisa kita share dan apa manfaat yang bisa kita berikan pada saat di bulan Ramadan. Karena salah satu di antara waktu terbaik untuk berbagi itu terjadi di bulan Ramadan. Makanya kita mendapati dari hadis Anas bin Malik, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam itu bertanya. Anas bin Malik mengatakan, "Ayu shodqati afdal ya Rasulullah." Mana seodqah yang paling afdal ya Rasulullah? Maka Nabi mengatakan, "Asodqatu fi Ramadan. Sedekah yang paling afdal itu sedekah di bulan Ramadan. Makanya kita mendapati Nabi itu orang yang paling dermawan dan kedermawanan Nabi sangat lebih tinggi lagi ketika di

47:53 bulan Ramadan. Kenapa hadis itu sering kita dengarkan? Di balik-balik mimbar ketika kita di bulan Ramadan bahwasanya Nabi itu dermawan dan kedermawanan Nabi lebih tinggi lagi ketika di bulan Ramadan. Karena Nabi secara tidak langsung itu memberikan kepada kita sebuah pesan. Ramadan itu jangan hanya kita fokus kepada laparnya diri kita, tapi kita juga memperhatikan laparnya orang yang mungkin tidak berhadapan dengan kita. Ramadan bukan hanya fokus ketika kita iktikaf, tapi Ramadan juga memperhatikan apa yang bisa kita sharing ketika kita bisa memberikan makanan berbuka, bisa memberikan senyuman kepada orang saleh, bisa memberikan kecukupan kepada orang yang sedang mendapatkan getirnya musibah dalam kehidupan mereka. Maka itulah yang

48:39 menjadikan Ramadan kita. bukan hanya mencetak kita sebagai pribadi egosentris ataupun hanya sekedar kita memiliki sifat sebagaimana sumur. Tapi Ramadan itu harusnya menjadikan kita selayak sungai. Makanya sedekah yang diucapkan ataupun sedekah yang paling Allah cinta itu salah satunya sedekah di bulan Ramadan. Makanya sampai Imam Syafi'i rahimahullahu taala itu berkata, Imam Syafi'i itu paling senang kalau orang itu bukan hanya fokus pada ibadah di bulan Ramadan, tapi Imam Syafi'i mengatakan, "Saya tuh senang sama orang ketika di bulan Ramadan mereka memiliki empati yang besar." Makanya sampai Nabi mengatakan kepada kita, "Man fatoroiman lahu ajri

49:26 maniman." Barang siapa yang memberikan makanan berbuka, maka sesungguhnya dia mendapatkan pahala atas orang yang dia berikan makanan berbuka. Pahalanya diambil tanpa mengurangi pahala sedikit pun. Jadi ternyata ada satu nas yang cukup menarik, ada satu hadis yang cukup menarik. Kita disuruh jadi pencuri. Pencuri apa? Pencuri yang Allah ridai. Pencuri apa yang Allah ridai? Mencuri amalan orang lain. Kapan? Kalau kita memiliki sifat sebagaimana sungai, kita memberikan manfaat ketika dia berbuka, kita ambil pahalanya tanpa mengurangi pahala dia ketika berpuasa dan kita mendapatkan tambahan Ramadan supaya Ramadan kita melangit dan Ramadan kita tidak sekedar memberikan kepada kita sensasi lapar dan dahaga.

50:13 Coba misalkan Bapak Ibu misalkan memberikan makanan berbuka satu santri misalkan di program sini ada, di program kita juga ada ya di program PTPN juga ada, di tempat kita juga ada. Kita misalkan memberikan makanan berbuka. Oke kita tanya satu makanan berbuka berapa? Kelayakan R30.000. Oke R30.000 satu orang kita kalikan 30 berarti berapa? Rp900.000. Berarti kalau Bapak Ibu memberikan R900.000, maka Bapak Ibu telah menggandakan dua Ramadan. Ramadan dia dan Ramadan Bapak. Dua Ramadan. Kita bukan hanya fokus kepada laparnya kita, tapi kita juga bisa merasakan

50:59 perihnya lambung orang lain ketika kita berikan makanan berbuka. Bukankah itu yang paling Allah cintai? Kalau kita misalkan ngasihkan R9 juta, berarti 10 Ramadan orang itu yang kita berikan makanan berbuka kita grab pahalanya, kita ambil, kita jadi pencuri amalan mereka tanpa mengurangi pahala mereka di sisi Allah. Plus Ramadan kita satu 11 Ramadan. Padahal kalau kita pengin mencicipi 11 Ramadan, kita harus hidup 11 tahun. Kalau kita mumpu R0 juta misalkan, oke R0 juta. Kita mengambil 100 Ramadan kita grab itu pahalanya plus Ramadan kita 101. Seakan-akan kita ini berjalan mendapatkan 101 Ramadan. Kalau Ramadan kita yang satu ada yang kurang, ada

51:46 Ramadan dua. Kalau Ramadan kita ada yang salah, ada Ramadan ketiga. Terus sampai 100. Padahal kalau kita hari ini pengin mencicipi 100 Ramadan, hampir mustahil. hampir mustahil karena umurnya umat Nabi sallallahu alaihi wasallam antara 70 antara 60 sampai 70. Hadis ini memberikan kepada kita tentang satu makna. Ramadan itu bermakna luar biasa. Tapi janganlah kita ketika Ramadan hanya menjadi orang yang egosentris. Bahwasanya Ramadan tentang aku, tentang laparku, tentang perihku, tentang berbagai macam keterbatasan yang aku harus lewati ketika di bulan Ramadan. Ramadan tidak hanya bicara tentang perihmu, Ramadan tidak hanya bicara tentang laparmu, Ramadan tidak hanya bicara tentang dagamu, tapi Ramadan berbicara tentang daganya orang

52:33 lain. Dan ini merupakan amalan terbaik. Kita tahu Ramadan kita ini kan masih banyak kurang. Jujur aja Bapak dan Ibu, sama kayak saya, kita masih banyak kadang Ramadan kurang maksimal. yang harusnya kita baca kadang-kadang kita scrolling, yang harusnya kita tilawah kita pakai ngobrol yang harusnya kita menahan mata tapi kita membiarkan mata melat kita ini di bulan Ramadan terkadang masih suka juga masih terset melakukan maksiat lah. Terus caranya gimana supaya Ramadan ini terback up dan mampu untuk tetap mendapatkan kualitasnya. kualitas Ramadan itu dengan amal jariah yang kita sharing. Inilah yang terkadang sering kita lupakan dalam perjalanan Ramadan.

53:18 Banyak orang yang mereka menjalani Ramadan hanya sekedar antara dirinya dan pandangan hidupnya sebagaimana seumur yang dirinya tidak bisa memberi manfaat kepada banyak orang kecuali dengan banyak syarat. Momen sore ini di hari pertama Ramadan, kita harus sadar Ramadan ini harus upgrading kitanya. Ramadan ini harusnya menjadi satu Ramadan yang bukan kita hanya sekedar bagaimana kita fokus kepada tarawih, fokus kepada tilawah, iktikaf, ataupun ditutup dengan zakat fitrah. Tapi Ramadan itu harusnya menjadi satu

54:03 momen bahwasanya kita harus menjadi orang yang memiliki empati. Sebagaimana Nabi selayak angin sepoi-sepoi ketika di bulan Ramadan. Saking begitu dermawannya Nabi sallallahu alaihi wasallam. Bapak, Ibu, kalau infak dan sedekah di luar bulan Ramadan kelipatannya antara 10 kali lipat, maksimal 700 kali lipat. Tapi kalau kita di bulan Ramadan, kita akhirnya pengin untuk memberi manfaat, bukan hanya untuk menjadi backup kalau Ramadan kita ada yang rusak dengan kita banyak berbagi kepada orang lain. Tapi setiap kita berbagi di bulan Ramadan, maka kelipatannya dengan kelipatan. Hanya Allah yang tahu kelipatan itu.

54:50 Karena Allah tidak pernah membocorkan kepada kita berapa kali kelipatan amal yang dilakukan di bulan Ramadan. Kenapa Allah rahasiakan? Saking gedenya pahala yang menanti bagi mereka yang memaksimalkan ketaatan. Dan salah satu amalan prioritas kita di waktu prent yaitu adalah berbagi. Mari kita jadikan Ramadan kita bukan hanya sekedar urusan antara kita dan kelaparan kita, tapi Ramadan harusnya menjadi momen bagi kita untuk tidak menggenggam harta berlebihan, tapi supaya kita bisa berbagi kepada orang di sekitar kita. Maka sesungguhnya inilah Ramadan. Melangitkan Ramadan anak tangganya adalah semakin banyak engkau memberi

55:35 manfaat kepada orang, semakin justru Ramadanmu maksimal. Kalaupun Ramadanmu ada yang rusak, entah karena satu hal yang tidak bermanfaat yang kita kerjakan, bisa jadi akan terpick up dan akan tertutupi dengan kita mencuri amalan orang lain ketika mereka melaksanakan Ramadan dengan kita memberi makanan berbuka. Islam itu indah. Islam tidak menyuruh kita supaya egosentris, tapi Islam itu memberikan contoh dari Rasulullah. Nabi adalah orang yang paling tidak egosentris dalam hidupnya. Inilah saatnya melangitkan Ramadan kita. Kun nahron w takun. Jadilah sungai. Jangan hanya sekedar menjadi sumur dalam Ramadan kita. Wasallallahu ala nabina

56:21 Muhammad. Walhamdulillahiabbil alamin. Semoga ini bisa memberi faedah kepada keluarga besar para penuntut ilmu yang hadir pada kesempatan hari ini. [musik] karim lawdin [musik] w manal raja asmu wazusama [musik] jalala faidu asal

57:08 jam [musik] irilimiala [musik] sometimes we fall into darkness and we lose hope. gets harder to [musik] when pain is all that we honest. It stays in our soul. It gets [musik] hard to let go. Oh Allah, please give us patience

57:55 for you the only one who [musik] truly knows. Ya Allah qwi imani [musik] inni falam. [musik] Some take longer to heal when hasn't sa and hearts are full of [musik] regret. When fear is all that we feel, it's hard to forget that [musik] it's all in your head.

58:40 Oh Allah, please give us patience for you the only [musik] one who truly knows. Ya Allah [musik] quani inni fam wa anar rahman. [musik] arjual amalam duaam [musik] yaabbi qwi [musik] imani in arjual amani [musik] wahab kalam

59:27 duaam [musik]

Share

Ringkasan Video YouTube