0:01 Fakta-fakta sebuah ramalan sudah mulai terbukti. Indonesia akan hancur dan hanya Satrio Piningit yang mampu [Musik] menyelamatkannya. Konon seorang raja di abad 12 menulis ramalan yang melampaui zaman. Ia meramalkan mobil dan kereta juga kemerosotan moral masyarakat modern. ialah Prabu Joyoboyo. Benarkah dia nostrada musnya Indonesia? Dan bagaimana cara kita mengenali Satrio Piningit atau sang terpilih bila ia muncul sebentar lagi? [Musik]
1:00 Saat Raja Jayabaya menggenggam kuasa, Gengiskan pendiri kekaisaran Mongol lahir sebagai Temucin di Mongolia saat ini. Munculnya zaman Kayuga atau masa kehancuran menggegerkan seisi Pulau Jawa. Peperangan berkobar di mana-mana hingga alam semesta menyerukan datangnya sang penyelamat yaitu Wisnu. Kekacauan ini digambarkan oleh kekawin Hariwangsa yang ditulis di Jawa
1:48 pada abad 12. Sepertinya di akhir pemerintahan raja ketiga Panjalu yakni Sri Bameswara terjadi banyak pemberontakan akibat perebutan takhta. Ditambah serangan dari kerajaan Jenggala musuh bebuyutan mereka. Di situasi inilah Raja Jayabaya tampil layaknya Wisnu yang memberantas kejahatan dan mengembalikan Jawa pada stabilitas. [Musik]
2:36 Prasasti Hantang menegaskan bahwa kerajaan Panjalu akhirnya bangkit dan menang atas musuh-musuhnya. Bahkan wilayah hantang yang membawai 12 dusun diberi anugerah sima karena masa peperangan mereka tetap setia menjunjung panji-panji sang raja. Kakawin bratauda menggambarkan sang raja menggelar upacara persembahan di medan perang di mana hiasan rambut musuh menggantikan bunga dan istana mereka dibakar laksana api pemujaan. Para musuh pun gemetar dan sang raja dijuluki Batara Jayabaya. [Musik]
3:37 Raja Jayabaya adalah raja Panjalu alias Kediri yang masyur meski hanya meninggalkan tiga prasti, yaitu prasasti hantang, prasasti Talan, dan prasasti Jebun. Tokoh Prabu Jayabaya si Jago Ramal konon meramalkan perkembangan teknologi juga munculnya Satria Piningit alias tokoh pamungkas yang dinanti-nantikan karena diyakini mampu membawa kejayaan bagi Nusantara. Mari kita cari tahu peramalan Jayabaya itu valid apa tidak dan apa Joyoboyo dan Jayabaya itu sama dan di mana sebenarnya Satria Piningit berada.
4:39 Di internet banyak yang membahas tentang raja Jayabaya, namun dicampur aduk dengan berbagai mitos dan legenda. Padahal dalam penyusun sejarah sangat penting metode kritik sumber kita terapkan. Kalau dilihat dari peringkat sumber ini, mitos dan legenda juga sastra dari zaman kemudian masuk dalam geng sumber sekunder. Sumber ini lemah, bahkan harus kita tolak. Untungnya Raja Jayabaya didukung sumber primer berupa prasasti dan karya tulis sezaman. Tapi Raja Jayabaya bukan Prabu Jayabaya Sio Rawal.
5:31 [Musik] Dengan taksimpu penuluh membacakan kakawin di hadapan Raja Jayabaya. Meski ini disebutnya sebagai Rakawi atau penulis kakawin, Pupanuluh disembur habis-habisan karena sang raja menganggap naskahnya jelek. Kejadian yang tertuang dalam kekawin Hariwangsa ini menyiratkan sesuatu raja Jayabaya yang sangat kritis mengenai sastra. [Musik]
6:19 Jayabaya hidup di masa ketika seni sastra sedang subur-suburnya dan kakawin adalah karya sastra bermetrum yang ditulis di atas lontar serta memiliki tujuan spiritual bagi penulisnya Di masa itu hidup dua rakawi masyhur, yakni Sedah dan Bu Panuluh yang menulis kakawin Hari Wangsa dan kakawin Baratayuda. Dari dua kakawin ini kita tahu Raja Jayabaya adalah pembimbing para rakawi. Bahkan Bupanulu mengaku dididik langsung oleh sang raja. [Musik]
7:10 Kakawin Hariwangsah berkisah tentang perkawinan Krishna dan Rukmini. Sedang kekawin Barat Yuda tentang perang besar Pandawa melawan Kurawa dan merupakan hasil koleb Empu Seda dan Empu Panulu. Paru awal naskah ini dikarang Empu Sedah sesuai order sang raja. Namun belakangan Empu Sedah dipecat jadi ganti oleh Empu Panulu. Empu Panulu sendiri mengaku gaya penulisan Empu Seda sangat indah. Sayang sekali keindahan itu di akhir kepahitan. Kata kepahitan inilah yang memicu dugaan sejarawan tentang adanya skandal. Konon ketika memeriksa naskah, sang raja menemukan gambaran istri. Tokoh saya sangat mirip dengan permaisurinya. Alhasil, Bu Sedah dituduh mata keranjang
7:56 dan dihukum mati. [Musik] Namun itu hanya dugaan tanpa dasar karena sumber sejarahnya tidak ada. Selain mendidik dan mendukung para rakawi kakawin Baratayuda juga mencatat Raja Jayabaya jago menciptakan tembang dan melakukannya. Malah tembang ciptaan sang raja populer di kalangan rakyat. Inilah yang menyebabkan nama Jayabaya masih dikenang masyarakat Jawa hingga di luar masa klasik. Apalagi ada fakta lain yang
8:43 tidak kalah mengejutkan karena Raja Jayabaya juga punya penasihat spiritual beraliran Birawa. [Musik] Saat Jawa diambang kehancuran, Dewa Wesnu memutuskan turun ke dunia menjadi raja Jayabaya. Ia diiringi resi Akastia, yakni manifestasi Dewa Siwa sebagai guru semesta. Demikianlah yang ditulis Empu Panuluh tentang Raja Jayabaya dalam kekawin Hariwangsa. Ini menyiratkan Raja
9:31 Jayabaya memiliki Purohita atau penasihat spiritual di istana. Jabatan itu disebut pengajian Sri Maharaja atau pengajar Sri Maharaja. Menurut prasasti Hantang dan prasasti Talan yang mengajar menjalankan aliran Bairawa. Dan ini menjadi catatan tertua tentang Bairawa di Jawa gunung. Kemungkinan Raja Jayabaya adalah Waisnawa atau pemuja Dewa Wisnu seperti leluhurnya, Raja Airlangga. Buktinya ia dipuji sebagai titisan Wisnu oleh para Rangkawi. Gelarnya juga menyandang
10:16 Madusuda Danawatara. Menurut kitab Patma Purana, Maduudana adalah gelar Dewa Wisnu. Begitu kuatnya toleransi di Kediri kuno. Raja Airlangga memuja Wisnu tapi gurunya Empu Barada menganut Buddha Mahayana. Raja Jayabaya yang juga wisnawa malah didampingi guru penganut Siwa Bairawa. Dan selain toleran pada aliran Bairawa, Raja Jayabaya juga pemersatu Jenggolo Panjalu yang berakhir tragis. Ketika Maharaja Erlangga memutuskan membelah kemaharajaan menjadi Jenggala
11:01 dan Panjalu Jawa. Di atas 11 pun memasuki masa terepik dalam sejarah. Peperangan berkecamuk silih berganti selama lebih dari satu abad karena dua kerajaan ini berebut hekemoni atas Jawa. Awalnya jenggala berkibar sementara raja pertama Panjalu Sri Samarawijaya hanya mampu berkuasa 9 tahun dengan akhir yang enggak jelas kemungkinan tewas dalam peperangan. [Musik] Raja Panjalu berikutnya, Sri Citendakara
11:47 ternyata sanggup memporak-porandakan istana Jenggala. Hingga penghuninya buyar menyelamatkan diri. Ia memerintah cukup lama sekitar 61 tahun, bahkan lebih lama dari Hayam Wuruk yang hanya berkuasa 39 tahun di Majapahit. Lalu pada 1112 Masehi menyeruak nama Sri Bameswara sebagai raja Panjalu sebagai pendahulu akhir hidup sang raja masih misterius dan mungkin tragis. Apalagi prasasti Padegan satu yang terbit pada 1117 Masehi masih bercerita tentang perang. [Musik]
12:41 Pada tahun 1135, prasasti hantang menggambarkan bahwa tahta Panjalu telah dikuasai Raja Jayabaya. Dalam prasasti ini ada semboyan yang sangat terkenal. Panjalu jayati yang berarti Panjalu menang. Semboyan ini bahkan masih diingat zaman Singasari Majapahit dengan istilah Panjal Wisaya yang artinya kurang lebih sama. Dari sini jarawan menduga Jayabaya sang raja Panjalu berhasil mengalahkan Jenggala juga menyatukan dua kerajaan ini. Yang pasti Jayabaya mampu membawa stabilitas bagi Jawa hingga memungkinkan kesastraan berkembang. Ini mirip dengan Raja Erlangga yang berhasil mengembalikan kedamaian di tanah Jawa. usai dihantam Maha Pralaya. Namun yang membedakan adalah
13:27 akhir kekuasaannya. Berakhirnya pemerintahan Erlangga tercatat jelas dalam prasasti ganda kuti dan prasasti Sumangka. Namun ujung kekuasaan Jayabaya masih misteri. Diduga terjadi pemberontakan yang menyebabkan kerajaan ini mangkat. [Musik] Saat Jawa memasuki zaman baru dan masyarakatnya berganti keyakinan serta bahasa, ingatan akan peradaban masa klasik pun terkerus. Namun, nama Jayabaya tidak hilang ditelan perubahan. Tommy Pres dalam Sumi oriental mencatat rakyat Jawa di awal abad 16 masih mengingat nama Jayabaya.
14:14 Namun ia hanya sebatas nama sebagai raja yang pernah berkuasa di Kediri. Harus dibedakan antara Sri Maharaja Jayabaya tokoh historis dalam prasasti dengan Prabu Jayabaya si Jago Ramal. Karena sosok Prabu Jayabaya si Jago Ramal sudah bercampur dengan banyak mitos. [Musik] Prabu Jayabaya adalah sosok hasil kreasi para pujangga Jawa baru dalam kisah naskah babat mereka. Misalnya, Babat Jawi menggambarkan Joyoboyo sebagai keturunan Pandawa. Ayahnya bernama
14:59 Gendrayana dan anaknya bernama Jayawijaya. Tidak ada prasasti yang menulis keterangan ini. Babat tanah Jawi ditulis en abad setelah era Raja Jayabaya. Jadi jelas itu sumber yang lemah. Itu sejarah kerajaan Kediri. [Musik] Babat lain yang menjadi tangan Jayabaya adalah Babat Kadiri. Agak lain dengan babat tanah Jawi. Di sini Joyoboyo bukanlah keturunan siapa-siapa. Ia Betara Wisnu yang menjelma menjadi manusia. Anaknya bernama Ratu
15:45 Pengedongan. Negaranya bernama Daha dan keratonya disebut memenang. Artinya selalu menang siapapun lawannya. Mungkin karena prasasti Jawa kuno saat itu belum diterjemahkan Belanda Bawat ini tidak mengenal nama [Musik] Panjalu. Ternyata bujangga babat Kediri diprank orang kesurupan. Mas Ngabei Purwowijoyo, pejabat Kediri pada tahun 1832 ditugasi pemerintah Hindia Belanda menyusun kitab sejarah Kediri. Purbowijayo pun meminta bantuan Ki Dermokondo, seorang dalang wayang
16:30 kulit. Berhubung keduanya tidak mengerti mitologi sejarah, mereka pun sepakat memakai cara supranatural Roh Butolocoyo dipanggil untuk memasuki seorang penabuh gamelan dan racaunya ditulis sebagai babat Kadiri. Racuan itu menyebut Prabu Jayabaya dicintai seorang raksasa bernama Nyai. Naasnya sudahlah cintanya bertepuk sebelah tangan. Raksasa itu tewas di keroyok warga [Musik] desa. Prabu Jayabaya pun iba dan meminta sebuah monumen dibangun untuk mengenang raksasa itu. Konon itulah kisah di balik pembuatan arca totok kerot. Menurut
17:17 Babat Kediri setelah berkuasa cukup lama Prabu Jayabaya Muksa dan keratonnya pun berpindah ke Medang. Katanya lagi Prabu Joyoboyo meninggalkan empat candi, yaitu candi di Dusun Predung, Recok Kapal di dusun Bogem, Candi Tegowangi, dan Candi Surawana. Padahal Candi Tekowangi dan Surawana itu asli peninggalan Majapahit. [Musik] Kini kita bisa membedakan antara Maharaja Jayabaya yang historis dengan Prabu Jayabaya yang ahistoris atau tidak sesuai catatan sejarah. Tanpa manifikan
18:03 bahwa sosok Prabu Jayabaya sangat lengket di benak masyarakat karena ramalan-ramalannya yang dikenal dengan Jongko Joyoboyo, kitab ramalan terhebat Nostradamus lewat ramalan Jayabaya tersusun dari berbagai kitab anonim yang diklaim ditulis oleh Prabu Jayabaya. Isinya berupa kronologi berbagai zaman dalam sejarah dan masa depan agar selamat dari perubahan zaman, kita diminta untuk eling lan waspodo atau selalu ingat pada Tuhan dan berkesadaran. Menurut Babat Kediri,
18:48 ramal-ramalan itu bernama Serat Jayabaya dan terdiri dari tiga kitab. Yang pertama dipegang Syekh Subakir, yang kedua disimpan Prabu Jayabaya. Dan yang ketiga dimiliki Prabu Banjaransari, penguasa terakhir Jenggolo yang pindah ke Galuh. Meski Babat Kediri adalah racauan hasil kesurupan yang agak valid dan tokoh-tokonya kebanyakan fiktif, cerita ini paling enggak memberi kita gambaran bahwa pujangga Jawa Baru kebingungan dengan banyaknya versi kitab ramalan Joyoboyo. Menurut legenda kitab ramalan
19:34 Joyoboyo tertua disusun Empu Salukat dan dilanjutkan Sunaniri kedua. Namun legenda ini tidak berdasar. Menurut Johannes, ras yang terawal dari kitab ramalan Jayabaya adalah Serat Jayabaya yang diduga karangan Pangeran Adilanggu. Meski sebenarnya kitab ini anonim dan tidak lebih tua dari abad 18. Pendapat lain menyebutkan ramalan Joyoboyo yang ori adalah kitab Asrar yang konon disusun tahun 1613 Masehi. Meski ini juga tidak ada buktinya, kitab Asrar sendiri ngakunya ditulis pada zaman Prabu Jayabaya, tapi yang diceritakan tetap Joyaboyo versi Babat tanah Jawi. Anehnya, kitab Asraf Sudaha bercerita soal penjajahan Belanda dan uang Inggris. Ini petunjuk bahwa kitab
20:21 ini sebenarnya ditulis setelah abad 19. saat Jawa sempat dijajah [Musik] Inggris. Belakangan muncul serat Jongko Jayabaya yang bahkan berisi ramalan zaman edan modernitas. Sebagian besar ramalan Joyoboyo berisi tentang akademis masyarakat modern tanpa mengurangi rasa hormat bagi mereka yang meyakininya. Diduga itu semua bukan ramalan sungguhan, melainkan rekaman zaman dari kemerosotan moral yang terjadi pada masa kolonial antara abad 19 hingga abad 20. Kita perlu paham di masa kolonial ada banyak faksi kekuatan yang bermain mulai
21:08 dari priai agamawan, hingga kaum kolonialis. Dan di tengah perang kepentingan itu, rakyatlah menjadi korban. Mereka terhisab asetnya, kemerdekaannya, hingga mentalnya. [Musik] Di sisi lain, orang Jawa terkejut oleh derasnya gaya hidup bebas dan modernitas yang di bawah bangsa Eropa. Ada mobil, rel kereta api, hubungan sejenis candu, dan lain sebagainya. Ini semua membuat Pujangga prihatin hingga lahirlah kritis
21:53 sosial yang dibungkus dalam ramalan-ramalan Jayabaya. Meskipun ia sendiri tidak begitu tahu tentang Raja Jayabaya dan sekedar mencomot apa yang dibakukan Babatana Jawi tentang Jayabaya. Jadi seolah-olah Jayabaya di abad 12 mampu meramal melampaui zaman. Padahal sebenarnya sang pujangga tadi sedang melihat modernitas itu terhambat di depan hidungnya. Jika terbit di zaman sekarang, mungkin kita akan menyebutnya fiksi sejarah. Aslinya itu cerita fiktif atau rekaan tapi dibuat dengan meminjam tokoh atau peristiwa sejarah sungguhan.
22:46 Dalam hal ini, Raja Jayabaya dimodif menjadi Prabu Jayabaya si Jago Ramal. Tapi tak hanya mengecam keadaan pujangga, Joko Joyoboyo juga dengan cerdas menabur harapan akan datangnya Satrio Piningit. Sebagai Ratu Adil, Satrio Piningit akan mengembalikan kegemilangan Nusantara. Sayangnya tidak ada kesepakatan di antara kitab-kitab yang diklaim sebagai ramalan Jayabaya tentang ciri-ciri Satrio Piningit. Serat jangka Jayabaya misalnya mencatat bahwa Satria Piningit akan turun di lereng timur Gunung Lawu membawa Trisulaweda dan ditemani Sabdo Palon. [Musik]
23:33 Tri Sulaweda menyeratkan kebangkitan kepercayaan lama kitab ini sezaman dengan serat dermo gandul yang juga mengangkat sabdo palon tokoh yang mengkritik para penyebar Islam. Sebaliknya kitab Asrar yang tidak jauh dari masa penulisan Serat Jongko Joyoboyo justru mengunggul-unggulkan bahasa Arab. [Musik] Kitab ini menyebut Satra Piningit nanti akan lahir di kota Makkah dan Bristana 2 di Mekah dan di Jawa. Semua kitab ini diperkirakan ditulis sekitar abad 19
24:19 hingga 20. Jadi curiga apa jangan-jangan keberadaan begitu banyak versi ramalan Joyoboyo menyeratkan adanya perang ideologi di antara para pujangganya. Jadi masih percaya [Musik] ramalan terlepas dari vali tidaknya ramalan Jayoboyo, kepercayaan akan Satrio Piningit sesungguhnya beredar dalam di kesadaran masyarakat Jawa. Kakawin Hari Wangsa yang ditulis MPU Penulu di abad 12 menyebut bahwa setiap kali Jawa dilanda kekacauan, Dewa Wisnu turun ke bumi dalam berbentuk wujud untuk mengembalikan
25:05 keseimbangan. Diduga inilah dasar dari keyakinan akan adanya Satrio Piningit dan Ratu Adil yang lestari dalam pertunjukan wayang hingga ujung-ujungnya digunakan para pujangga jangka Jayabaya. Mungkin karena hendak memberi harapan bagi masyarakat Jawa yang pada masa kolonial hancur oleh perubahan zaman. Mereka sadar harapan mampu menguatkan siapapun yang tertindas dan terburuk. Karena di mana ada harapan, di situ ada
25:50 keberanian untuk mencari jalan keluar. Maka sejatinya Satri Biningit adalah kita semua ada dan berani untuk bertindak, bekerja, bersyukur, berbuat baik, namun tidak diam saat melihat ketidakadilan. Mari kita terus berharap akan masa depan yang lebih baik dan mewujudkannya dengan tindakan nyata.