Ringkasan Singkat
Video ini membahas pesan Natal yang menekankan empati dan kepedulian terhadap bumi serta sesama manusia. Dr. Rita Wahyu Wulandari mengajak untuk merayakan Natal dengan kesadaran akan penderitaan orang lain dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Selain itu, video ini juga membahas tentang inkarnasi Allah sebagai tindakan Trinitas dan membantah anggapan bahwa perayaan Natal adalah penyembahan dewa matahari.
- Natal harus dirayakan dengan empati dan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
- Inkarnasi adalah tindakan Trinitas, bukan hanya tindakan dari pribadi kedua.
- Tanggal 25 Desember sebagai hari Natal adalah benar dan memiliki dasar teologis.
Pembukaan: Empati dan Kepedulian di Hari Natal
Natal adalah peringatan akan kasih Allah yang besar kepada dunia, yang diwujudkan dengan mengutus Anak-Nya. Tema utama gereja adalah caring and loving. Yohanes 3:16 menjadi inti dari pesan Natal ini, menekankan bahwa kasih Allah bukan hanya perasaan, tetapi tindakan penyelamatan. Natal yang ramah bumi berarti menjaga ciptaan Tuhan.
Makna Caring dalam Natal
Caring berarti menjaga dan memelihara. Kasih Allah diwujudkan secara konkret dengan caring, yaitu mengutus Putra-Nya ke dunia. Tindakan ini adalah inisiatif dari Tuhan yang peduli dan menjaga kita.
Trinitas dan Inkarnasi
Natal tidak akan terjadi tanpa tindakan Trinitas dari Allah yang berinkarnasi. Trinitas adalah manifestasi kasih, dengan Bapa yang mengutus, Putra yang menjelma, dan Roh Kudus yang mengerjakan. Inkarnasi adalah peristiwa trinitarian, di mana Bapa merencanakan, Roh mengerjakan, dan Putra menjelma. Sang Putra adalah logos atau firman yang menyatakan Allah. Manusia dapat mengenal Allah melalui pernyataan firman-Nya. Misi inkarnasi adalah untuk mewujudkan Bapa yang penuh kasih karunia.
Penderitaan Manusia dan Empati Natal
Yesus pernah merasakan penderitaan manusia, termasuk yang dialami saudara-saudara di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat. Gereja harus berbela rasa dan tidak hanya terpukau pada kekayaan para pengusaha yang merusak lingkungan. Pohon yang ditebang adalah nisan bagi mereka yang menderita akibat bencana alam. Natal seharusnya dirayakan dengan sederhana dan penuh keprihatinan, mengingat banyak saudara yang tidak makan dan menderita.
Cintai Bumi: Mandat untuk Memelihara
Cintailah bumi dan jangan merusak alam. Alam adalah ibu kita. Natal adalah Allah yang hadir di tengah ciptaan, sehingga orang Kristen harus hadir di tengah-tengah ciptaan Tuhan yang menderita. Inkarnasi adalah pernyataan bahwa ciptaan itu berharga. Bumi bukan sekadar sumber eksploitasi, tetapi ruang kehadiran Allah. Bumi dipercayakan untuk dipelihara, bukan dikuasai.
Keadilan Ekologi dan Mandat Tuhan
Manusia diciptakan dari tanah, sehingga abai terhadap tanah berarti merusak diri sendiri. Mandat Tuhan dalam Kejadian 2:15 adalah mengusahakan dan memelihara taman Eden. Banyak pengusaha hanya mengusahakan tanpa memelihara. Hutan ditebang tanpa kendali, sungai dicemarkan, dan satwa kehilangan habitat. Ibadah bukan hanya soal persembahan, tetapi juga keadilan ekologi dan sosial.
Damai Sejahtera di Bumi
Natal adalah kesukaan bagi bumi, seperti yang diberitakan oleh para malaikat dalam Lukas 2:13-14. Damai sejahtera (shalom) bukan hanya ketiadaan konflik, melainkan keutuhan relasi antara Allah, manusia, dan alam. Kristus datang untuk memulihkan ciptaan. Bumi adalah ibu, dan merusaknya berarti kehilangan kehangatan pelukannya.
Langkah Iman yang Nyata
Natal yang ramah bumi adalah langkah iman yang nyata. Praktik sederhananya adalah mengurangi sampah, menggunakan dekorasi ramah lingkungan, dan menanam pohon. Mulailah dari hal kecil, seperti mengurangi penggunaan plastik dan energi, serta mendidik anak-anak untuk mencintai alam. Bersuaralah untuk keadilan ekologi.
Natal Sebagai Tradisi: Membantah Fitnah
Natal 25 Desember bukanlah penyembahan dewa matahari. Tuduhan ini berasal dari pertikaian antara Gereja Katolik Roma dan kaum Protestan pada abad ke-17. Klaim ini muncul dari teolog Jerman pada abad ke-18, padahal kekristenan sudah merayakan Natal sejak abad pertama.
Inkarnasi dan Tanggal Natal
Inkarnasi adalah Allah menjadi daging, yang dimulai sejak dikandung ibunya. Seperti tradisi Tionghoa yang menghitung usia sejak dalam kandungan, kejadian manusia dimulai sejak di kandungan ibunya. Daud dikenal Tuhan sejak dalam kandungan (Mazmur 139:13-16). Jika Yesus lahir di bulan Desember, maka inkarnasinya terjadi 9 bulan sebelumnya, yaitu 25 Maret, yang bertepatan dengan hari Paskah. Rahim ibu adalah kasih karunia Allah.
Yesus Bukan Orang Eropa
Yesus adalah orang Timur Tengah, bukan Eropa. Lukisan Yesus yang berkulit putih dan berhidung mancung adalah imajinasi seniman. Betlehem tidak sedingin Eropa, sehingga gembala tetap ada di padang pada bulan Desember.
Dasar Merayakan Natal
Dasar memperingati Natal 25 Desember adalah karena Tuhan Yesus pernah lahir (2 Timotius 2:8). Lahir, mati, dan bangkit adalah inti utama Injil. Natal adalah upaya surga mencapai bumi. Kita tidak dapat mencapai surga dengan ibadah kita, tetapi karena yang punya surga mencapai bumi.
Upaya Surga Mencapai Bumi
Ketika kita beribadah, memberikan persembahan, merawat bumi, dan memiliki empati, itu semua adalah ucapan syukur karena kita dipelihara oleh Tuhan. Natal adalah upaya surga mencapai bumi. Kita tidak dapat mencapai Tuhan tanpa Tuhan yang mencapai kita. Marilah kita memelihara bumi karena Natal adalah dari pemeliharaan Allah.

