NU NGAMUK KE TRANS7 WAJAR? GURU GEMBUL VS GUS ULIL

COKRO TV www.youtube.com

Ringkasan Singkat

Video ini membahas tentang persepsi publik terhadap pesantren, terutama setelah beberapa kejadian negatif dan kritik yang muncul di media sosial. Guru Gembul menyampaikan data penurunan jumlah santri dan alasan-alasan di baliknya, sementara Gus Ulil memberikan perspektif sebagai orang dalam yang membela pesantren namun tetap mengakui perlunya perbaikan. Diskusi ini juga menyinggung soal strategi komunikasi pesantren dalam menghadapi kritik dan pentingnya membedakan antara kritik yang membangun dengan yang bersifat menghina.

  • Penurunan jumlah santri menjadi perhatian utama.
  • Kritik terhadap pesantren perlu direspon dengan bijak.
  • Pentingnya membedakan kritik membangun dan menghina.
  • Pesantren perlu mengkomunikasikan diri dengan lebih baik ke publik.

Pembukaan

Pembukaan dimulai dengan perkenalan dua narasumber, Guru Gembul dan Gus Ulil, yang akan membahas isu-isu terkini seputar pesantren. Isu yang dibahas meliputi kasus Alkhazini yang menewaskan santri, rencana pemerintah memberikan APBN kepada pesantren, dan video Trans7 yang dianggap mendiskreditkan pesantren. Guru Gembul sebelumnya telah membuat konten tentang kritik terhadap pesantren di kanal Gus Ulil, yang mendapat perhatian luas.

Fenomena Sosial dan Penurunan Jumlah Santri

Guru Gembul menjelaskan bahwa ada fenomena sosial yang mengindikasikan kabar buruk bagi pesantren, terutama yang terafiliasi dengan NU. Data dari Kementerian Agama menunjukkan penurunan jumlah santri dari 5 juta pada tahun 2020 menjadi 1,3 juta pada tahun 2025. Penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk kasus kekerasan dan penyimpangan seksual di pesantren yang terjadi setiap bulan, serta munculnya alternatif pendidikan Islam seperti SDIT, SMPIT, dan boarding school modern.

Sejarah dan Reputasi Pesantren

Guru Gembul menekankan pentingnya pesantren dalam sejarah Indonesia, menyebutnya sebagai tonggak awal peradaban modern dan lembaga yang melahirkan banyak pejuang kemerdekaan. Namun, ia menyayangkan bahwa pesantren saat ini sering dibully dan dijelek-jelekkan di media. Ia mengajak pesantren untuk berbenah diri dan memperbaiki reputasinya, alih-alih melakukan serangan balik terhadap kritik yang ada.

Tanggapan Gus Ulil: Posisi Insider dan Pembelaan

Gus Ulil menjelaskan posisinya sebagai insider yang membela pesantren. Ia mengakui bahwa pandangan dari luar seringkali menyederhanakan kompleksitas di dalam pesantren. Ia marah terhadap framing negatif yang dilakukan oleh Trans7, yang menurutnya sama dengan orientalisme Barat yang melihat dunia Islam secara reduksionistik. Gus Ulil menjelaskan bahwa pesantren adalah subkultur dengan cara hidup, pandangan dunia, dan nilai-nilai yang berbeda.

Kompleksitas Dunia Pesantren

Gus Ulil menjelaskan bahwa dunia pesantren seringkali tersembunyi dari pandangan publik karena lokasinya yang berada di pedesaan. Hal ini dapat menimbulkan kesalahpahaman dan asumsi yang keliru dari orang luar. Ia mencontohkan praktik cium tangan yang mungkin tidak masuk akal bagi orang luar, namun memiliki makna tersendiri bagi komunitas pesantren. Meski demikian, ia menegaskan bahwa tidak semua hal di pesantren harus dibenarkan.

Kritik Internal dan Perubahan Budaya

Gus Ulil menekankan bahwa kritik internal terhadap pesantren sudah banyak dilakukan oleh kalangan pesantren sendiri. Ia mencontohkan Rizal Mumazik, seorang Gus yang sering mengkritik tradisi feodalistis di kalangan pesantren. Ia juga menceritakan pengalamannya sendiri menulis kritik terhadap feodalisme pesantren saat masih menjadi santri. Gus Ulil juga menyebutkan adanya satuan tugas di PBNU yang menangani kasus kekerasan seksual di pesantren.

Standarisasi Infrastruktur dan Nilai Kebarokahan

Gus Ulil menjelaskan bahwa PBNU sedang berupaya untuk melakukan standarisasi infrastruktur di pondok-pondok NU, termasuk mendorong pesantren untuk memiliki tempat tinggal santri di luar rumah kiai. Namun, ia mengakui bahwa hal ini tidak mudah karena banyak pesantren kecil yang santrinya masih tinggal bersama kiai, yang dianggap sebagai kehormatan dan tabarrukan.

Tanggapan Guru Gembul: Kritik terhadap Pendekatan Primordial

Guru Gembul mengkritik pendekatan primordial yang digunakan oleh Gus Ulil, yang menurutnya terlalu menekankan perbedaan antara orang dalam dan orang luar. Ia mempertanyakan mengapa orang pesantren yang bukan orang Arab boleh belajar bahasa Arab dan menafsirkannya, atau mengapa orang pesantren berbicara tentang hal-hal gaib padahal mereka adalah makhluk nyata. Ia juga mencontohkan bahwa peneliti Indonesia yang paling otoritatif justru seringkali adalah orang luar Indonesia.

NU sebagai Subkultur Islam

Guru Gembul menekankan bahwa NU bukan hanya subkultur dari Indonesia, tetapi juga subkultur dari Islam, yang memiliki banyak klaim kebenaran. Ia mencontohkan kasus jalan jongkok di pesantren, yang menurutnya adalah tradisi lokal Nusantara yang dilabeli Islam. Ia merasa terhina jika agama Islam diklaim dengan cara seperti itu.

Pentingnya Keterbukaan dan Evaluasi Diri

Guru Gembul mempertanyakan mengapa para santri dan kiai bungkam ketika terjadi kasus pencabulan atau kekerasan seksual di pesantren. Ia menekankan pentingnya berbicara di ruang publik dan mengakui kesalahan, alih-alih hanya berbicara secara internal. Ia khawatir bahwa pesantren akan teralienasi jika terus-menerus menolak kritik dari luar.

Kemarahan Publik dan Strategi Komunikasi

Gus Ulil menjelaskan bahwa kemarahan publik terhadap NU jarang terjadi, namun kali ini ada sesuatu yang melewati batas, yaitu acara Trans7 yang dianggap tidak memiliki niat baik. Ia membenarkan aksi demonstrasi sebagai hak masyarakat yang dilukai perasaannya, selama masih dalam koridor hukum. Namun, ia mengakui bahwa cara menyampaikan respon ke publik membutuhkan strategi yang tepat.

Pengendalian Media Sosial dan Panoptikon

Gus Ulil menjelaskan bahwa NU tidak memiliki cyber army untuk mengendalikan media sosial, sehingga tidak bisa mengontrol percakapan di media sosial. Namun, Guru Gembul membantah bahwa media sosial tidak bisa dikendalikan, dan mencontohkan bagaimana buzzer politik dan influencer dapat mengubah opini publik dengan cepat. Gus Ulil juga menyadari bahwa dunia saat ini seperti panoptikon, di mana semua gerak-gerik dapat diawasi melalui media sosial.

Reaktualisasi Tradisi dan Momen untuk Mengabarkan Diri

Gus Ulil menjelaskan bahwa usaha-usaha untuk melakukan reaktualisasi tradisi terus berlangsung di dalam NU. Ia mengakui bahwa ada perkembangan baru dalam praktik penghormatan kiai yang kurang ia setujui, seperti ngesot. Ia menekankan pentingnya membedakan antara tradisi yang jelas-jelas kriminal dengan tradisi yang masih debatable. Gus Ulil juga menyebutkan bahwa momen ini adalah kesempatan bagus bagi kalangan pesantren untuk mengabarkan dirinya kepada publik dan mengedukasi pihak luar.

Ilustrasi dan Ajakan untuk Mengendalikan Medsos

Guru Gembul memberikan ilustrasi tentang pentingnya mengubah manifestasi tradisi agar tidak menjatuhkan harkat dan martabat NU. Ia mengajak warga NU untuk mengendalikan media sosial dan tidak pasrah bahwa itu adalah wilayah yang tidak bisa dikendalikan. Ia juga mencontohkan bagaimana media sosial dapat mengubah kecintaan terhadap Rohingya menjadi kebencian dalam waktu singkat.

Pentingnya Hati-hati dan Kritik yang Membangun

Gus Ulil mengingatkan bahwa apa yang dilakukan di dalam rumah tidak seluruhnya private karena adanya panoptikon media sosial. Ia juga menyadari bahwa ada kelompok yang tidak suka pada NU dan berusaha untuk memperbesar sentimen negatif. Namun, ia menekankan pentingnya tidak menggeneralisir setiap kritikan sebagai bagian dari kelompok yang tidak suka, karena ada juga kritik yang bertujuan untuk membangun.

Penutup

Diskusi diakhiri dengan kesimpulan bahwa kritik yang membangun sangat penting untuk kemajuan pesantren dan NU.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:01 [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ee seruput kopi kali ini istimewa karena bukan hanya narsumnya ini dua tokoh yang saya kira menarik untuk kita simak penjelasannya tentang topik masalahnya yaitu tentang pesantren juga karena ini khas ini satu sekali-kalinya Cokro TV bikin konten narsum dan hostnya pakai peci semua dan pakai baju putih semua gitu jadi pakai kacamata pakai kacamata juga Enggak janjian. Enggak janjian. Betul. Guru Gembul dan Gus Ulil Afsar Abdallah. Selamat datang ke Cokroh. Selamat datang. Terima kasih. Ini ee apa betul-betul perencanaannya

0:48 sangat singkat ini. Jadi kita senang sekali itu ada dua narsum kita ini. Jadi saya ingin kita membahas apa yang ramai di medsos lah atau ramai di dalam percakapan publik tentang pesantren. Kan tadinya ada kasus Alkhazini itu ee bangunan di pesantren buduran ya di Jawa Timur. pesantren kuno gitu, pesantren tua lah gitu. Itu menewaskan 67 santri dan ada beberapa yang cacat gitu terus ramai gitu kan. Ee karena narasinya kan oh itu takdir macam-macam. Sementara publik penginnya kan harus ada pertanggungjawaban dong, harus diusut ini siapa yang bertanggung jawab, siapa yang kelalaiannya di mana dan seterusnya. Eh ah sudah gitu malah narasi, ada rencana pemerintah ngasih

1:35 APBN. Nah, itu itu sebuah keramaian tersendiri. Terus setelah itu muncul Trans Tuju nih bikin video yang ee ramai tentang pesantren gitu ya. Ee dan itu menimbulkan kehebohan, kemarahan dari kalangan NU, kalangan santri yang merasa bahwa itu framing yang tujuannya untuk mendiskreditkan gitu. Jadi ini dua hal ini yang menurut saya menarik untuk kita bahas sekarang. Dan guru Gembul beberapa hari lalu ya atau kemarin ya bikin konten di kanalnya Gus Ulil itu yang nonton ratusan ribu loh banyaklah gitu tentang pesantren. Nah, kritik tentang pesantren. Nah, saya kira kita perlu menjelas mendengar penjelasan

2:21 dari Guru Gembul sebenarnya apa yang persepsi publik seperti apa sih tentang pesantren itu. Nah, nanti kita cross check ke Gus Ulil ee gitu. Silakan guru Gumpul. Iya. Jadi ee gini teman-teman semua kalau misalkan kita melihat ee dalam kacamata ee fenomena sosial ada sebuah gejala yang nampaknya kabar buruk buat pesantren. Jadi em pesantren khususnya yang terafiliasi dengan NU itu kalau misalkan kita melihat data dari Kementerian Agama itu jumlah santrinya terus-terusan turun. Jumlah pesantrennya terus naik tapi jumlah santrinya terus turun. H tahun 2020 itu ada 5 juta orang. Kemudian tahun 2021 itu turun jadi 4

3:08 sekian juta orang. Turun turunnya enggak terlalu besar tapi pada tahun berikutnya definisi santri itu telah berganti dari ee awalnya itu hanya santri mukim saja. Sekarang yang tidak mondok pun tidak. Itu kalau misalkan dalam kategori tertentu dimasukkan. Nah, tapi walaupun jumlahnya santri itu ee kriterianya diperbesar, angkanya masih turun. Hm. Dan bahkan tahun 2025 sekarang ya tentu saja dengan pendataan yang belum selesai. Tapi sampai sejauh ini menurut Kementerian Agama itu hanya R.300 orang di seluruh Indonesia. Jadi anggaplah data ini benar. Tentu saja datanya masih fluktuasi ya, masih belum. Tapi anggaplah data ini itu benar. Maka 76%

3:54 penurunannya dalam 5 tahun. He. Nah, kenapa bisa seperti itu? kita cek misalkan MUI di Bogor, kemudian ada MUI Banten atau lembaga apa yang ada di Banten itu, itu mengatakan di Bogor itu turun sekitar 26% dalam waktu 2 tahun saja ee jumlah santri pondokan. Ee kemudian di Banten itu juga turun ee dengan angka yang kalkulasi sekitar 17%-an gitu. Dan di wilayah-wilayah lain itu semuanya juga relatif turun. Nah, kenapa bisa turun seperti itu? Pertama, kita mengetahui bahwa setiap bulan ada update kasus kekerasan, pencabulan, penyimpangan seksual di pesantren. Ketika kita bikin ee video ini sekarang

4:41 di tanggal 16 itu di hari yang sama kita dapat berita ada santri usia 13 tahun meninggal dunia gara-gara setiap hari digebukin sama seniornya. He. Dan kemudian meninggal. Kemudian dilaporkan oleh ee kiainya sebagai demam berdarah. Tetapi visum dalam tanda kutip karena ini dari keluarganya sepihak itu mengatakan ada begitu banyak bekas luka memar dalam tubuhnya dan ada keluhan yang terjadi terus-terusan dari santri karena saya tuh digebukin terus. Kalau saya tidak naktir teman saya digebukin dan sebagainya. Nah, anggaplah ini kasus kasus-kasus tertentu, kasuistis gitu. Tetapi ketika ini terjadi setiap bulan,

5:28 2 minggu sekali dan sebagainya ini menurunkan jumlah santri di Indonesia. Makanya dari 5 juta di tahun 2020 menjadi 1,3 juta. Nah, dari angka yang ini itu ee ada masalah baru lagi. Kan seharusnya kalau misalkan ada sesuatu yang buruk enggak turunnya sedrastis itu. Tapi ini ditambah dengan fenomena baru bahwa di Indonesia itu ada alternatif pengganti pesantren. H yaitu apa? SDIT, SMP IT, boarding school yang semacam itu tuh banyak kan modern, mahal, modern. tapi pasarnya Islam. Oke. Nah, karena itu jumlah santri menurun dan jumlah santri yang menurun itu bukan hanya kuantitas, tapi orang-orang yang

6:13 masuk ke pesantren pondokan yang salaf, yang tradisional dan sebagainya itu juga semakin dari ekonomi lemah. H karena ekonomi yang lebih tingginya masuk ke sekolah-sekolah yang seperti itu. Nah, saya mengatakan di video saya itu saya tuh suka dan saya tuh tidak mungkin bisa tidak memuji pesantren. Karena pesantren itu disebut oleh Rlev misalkan sebagai awal mula tonggak sejarah modern Indonesia. Sebelumnya Indonesia klasik tuh zaman Hindu Buddha. Saya mohon maaf ya. Zaman klasik zaman Hindu Buddha. Zaman Islam itu zaman modern. Kenapa? Karena sejak saat pesantren ada, baca tulis itu masif ke seluruh masyarakat. Jadi tonggak awal kita memiliki peradaban yang diakui sebagai sejarah

6:59 modern itu adalah ketika Islam masuk. Kenapa ketika Islam masuk? Bukan hanya gara-gara Islamnya, tapi gara-gara ada lembaga pendidikan yang yang mewujudkan pendidikan itu ke seluruh kasta. Sebelumnya pendidikan ada tapi dalam kas tertentu sekarang ini. Nah, kemudian zaman kemerdekaan. Zaman kemerdekaan itu jumlah laskar jauh lebih banyak daripada TKR misalkan. Dan laskar itu 85% adalah dari para pesantren, dari santri. Jadi, pesantren itu kuat dan kita tidak mungkin bisa memisahkan Indonesia dengan sejarah pesantren. Mustahil kita enggak bisa seperti itu. Tapi sekarang dibully terus-terusan. media menjelek-jelekkan terus-terusan. Saya ajak orang-orang introspeksi diri.

7:46 Please, pesantren tolonglah berbenah. Kalian tuh punya reputasi yang besar, reputasi yang baik, punya kesakralan tertentu dalam sejarah Indonesia. Ketika sekarang ada begitu banyak kritikan, ada begitu banyak masukan, ada begitu banyak ejekan dan caciimaki, ayolah kita berpikir bahwa yuk kita bisa memperbaiki diri, gitu. He. Nah, alih-alih seperti itu komunikasi komunikasi publik dari pesantren-pesantren itu balik melakukan serangan. Hm. Bukan serangan narasi tapi serangan persekusi. Didatangi rumahnya, didemo di depan pagar rumahnya, diboikot dan sebagainya. Ketika ada kalangan yang mengaku santri misalkan yang memboikot stasiun televisi

8:33 itu politisi pasti akan ikut bawa arus. Media-media pasti langsung akan cari aman dan sebagainya. Tapi media sosial enggak bisa dikendalikan. He. Sekarang media sosial ramai-ramai mempublikasikan kekerasan, penyimpangan, feudalisme, keburukan yang terjadi di pesantren. Pikiran saya yang sederhana adalah bisakah kader-kader pesantren itu sadar diri dan mawas diri dan mengevaluasi diri, muhasabah, ya mungkin ada sesuatu yang salah dari kita dan kita harus memperbaiki diri, menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Kenapa tidak itu yang dipilih? Tapi yang dipilih justru malah dengan kekuatan massa yang besar datang ke sebuah tempat kemudian

9:19 bikin tagar dan sebagainya. Saya pikir itu kontraproduktif dengan pesantren yang ada sekarang. Tadi selain soal ee Trans TUJ juga ada itu rumahnya istrinya Ridwan Kamil. I itu betul digeruduk Bu Cinta ya Bu Atalia kan dieruduk karena dia bilang bahwa Atal jangan langsung dikasih APBN lah. Itu harus dievaluasi dulu. Betul. He. Jangan sampai ada kesan kelalaian i kelalaian dari pengasuh ee Alkzini kok malah justru dihadiahi dengan ABBN gitu yang merupakan dana publik gitu. Sebenarnya hanya mengatakan itu dan itu korek gitu kan. Digeruk gitu. Jadi kan itu ya. Nah ini Gus Ulil ee ini poin menarik ya soal komunikasi publik kan ada yang bilang gini ee di medsos itu

10:04 sekarang ini kalau orang marah-marah itu justru malah diketawain. Iya betul. Nah, sekarang ini posisi pesantren kan lagi marah-marah nih. I diketawa apapun alasannya lah ya. Jadi marah-marah kan kok transju. Wah, ini framing jahat kepada pesantren, macam-macam. Terus juga ee banyak hal lah. Nah, kemudian kemudian muncul isu-isu yang sebenarnya kan tidak esensial bagi pesantren. Isu-isu soal misalnya ee jongkok, jalan jongkok ya, feudalisme. Nah, ini saya saya inilah beberapa isunya feudalisme ee terus kemudian ngecor ya apa ee perbudakan. Nah, gitu. Terus kemudian yang ketiga soal apa ya? soal ya itu jom tangan

10:49 iya pokoknya bagian-bagian yang sebenarnya kalau kita lihat ee pesantren sebagai sebuah institusi yang kaitannya dengan sejarah Indonesia begitu kuat kan sebenarnya itu bukan hal yang substantif gitu kan tapi sekarang yang muncul itu dan direspon dengan marah-marah oh malah kontraproduktif gitu gimana Gus Ulil melihat persoalannya ini jadi ee pertama saya ingin menjelaskan posisi saya dulu ya di dalam perdebat ini posisi saya adalah saya ini adalah insider. Hm. Saya ini orang dalam bagian dari kultur yang sekarang menjadi pusat kemarahan publik ini ya. Dan sebagai bagian dari komunitas ini tentu posisi ee alamiah saya adalah membela. Tidak bisa tidak itu. Karena

11:37 bagi saya sebagai insider saya tahu banyak hal di dalam komunitas ini yang tidak diketahui oleh publik. Kan biasanya kan pandangan dari luar itu ee pasti dalam semua kasus ini tidak hanya dalam masalah NU pandangan dari luar atau outsider itu selalu pasti menyederhanakan dan kita di kita juga tidak bisa menyalahkan sepenuhnya outsider yang menyederhanakan itu karena kita juga tidak bisa meminta kalangan luar untuk memahami kompleksitas yang begitu rumit di dalam setiap komunitas budaya. H. Nah, jadi tetapi saya posisi saya sebagai insider tentu saya ee apa namanya membela komunitas saya ini. Dan terus terang dalam kasus ee yang spesifik yaitu Trans Tuju ya saya marah

12:22 sebetulnya ya. Saya marah sekali karena memang benar seperti dikatakan banyak orang itu sebenarnya framing ya. Kemarahan saya itu persis dengan kemarahan apa namanya kalau pakai pakai analogi yang agak sedikit apa namanya mungkin agak jauh tapi saya kira nyambung sama dengan kemarahan Edward Said h waktu menanggapi ee apa namanya orientalisme Barat yang melihat dunia Islam dengan sepihak sederhana reduksionistik ee dengan mengemukakan anekdot anekdot. Jadi, contoh-contoh sederhana dijadikan sebagai ee titik untuk mengkritik tanpa melihat kompleksitas, ya. Nah, saya

13:08 melihat saya saya begitu ee respon saya ee Mas Sahal ya. Nah, sekarang kita masuk ke detail-detailnya ya. ee banyak hal yang mungkin bukan hanya mungkin pasti tidak tidak diketahui oleh pihak luar tentang dunia dalam ee pesantren. Gus Dur sendiri itu menjelaskan pesantren sebagai subkultur. Artinya masyarakat dengan kultur yang berbeda. Memang mengembangkan cara hidup yang berbeda, pandangan dunia yang berbeda, nilai-nilai yang berbeda. Nah, dunia ini, dunia ini subkultur pondok pesantren ini memang ee dalam waktu yang lama itu ee tersembunyi dari pandangan publik. H.

13:54 Pertama, karena lokasi pondok pesantren lokasinya kebanyakan di daerah di pedesaan ya yang tidak tercover oleh mata media yang umumnya berpusat di kota. Nah, ini bisa ee rentan menimbulkan kesalahpahaman. ada sesuatu yang terjadi jauh di dalam pedesaan. Kehidupan tertentu yang dihidupi oleh masyarakat santri yang nilai-nilainya berbeda secara kontras dengan masyarakat di luarnya. Nah, bagi orang yang tidak masuk ke dalam sudah pasti akan membuat asumsi-asumsi yang keliru. Misalnya cium tangan, ada macam-macam. Bahkan kalau kita masuk ke pondok ada hal-hal yang bagi masyarakat di luar pondok itu gak masuk akal. Hm.

14:39 gak masuk akal sama sekali. Tetapi itu menjadi masuk akal kalau Anda masuk ke dalam komunitas itu, hidup di dalam pandangan dunia mereka, menghayati nilai-nilai mereka, baru Anda bisa masuk dan masuk akal. Kalau mau bikin analogia lah ya, bagi orang nonmuslim mencium Hajar Aswad gak masuk akal. Hm. Apa itu nyium batu seperti itu? Ya, sama dengan orang Kristen merayakan apa namanya? Paskah ya. Bagi orang di luar Kristen Paskah gak masuk akal kok. Ada orang mati 3 hari bangkit kembali. apa itu? Tetapi kita tidak bisa bersikap seperti itu kepada suatu masyarakat ya ee yang menganut

15:24 pandangan dan nilai tertentu. Kita bisa memahami mencium mencium hajar aswad itu menjadi masuk akal kalau kita menjadi bagian dari komunitas nilai. Di situ kita bisa memahami peristiwa Paskah kalau kita menjadi bagian dari masyarakat di situ. Begitu juga ketika kita masuk ke dalam dunia pesantren, kita enggak akan bisa membuat atau memahami praktik-praktik yang ada di sana kalau kita tidak masuk ke situ. Tapi dengan mengatakan ini, having said this tidak berarti bahwa semua hal di pondok pesantren harus dilegal, harus dijustifikasi. Saya tahu itu, saya paham betul. Nah, cuma soal kritik ini ya, Mas Guru Gembul. Saya sampai sekarang belum tahu nama beliau ini

16:09 dan saya harap namanya tetap anonim. Iya. Iya. I ee tetapi dengan mengatakan begini, saya ingin menegaskan gini. Sebuah kritik itu ada macam-macam. Kritik itu kalau disampaikan oleh orang dalam itu tidak masalah. H begitu disampaikan oleh orang luar yang tidak mengerti kompleksitas di dalam itu pasti akan menimbulkan masalah itu. Jadi makanya posisi insider dan outsider ini harus dipahami. Karena gini, orang-orang yang mengkritik, taruhlah tadi kita bicara soal feodalisme ya. He heeh. Kalangan pesantren yang mengkritik feodalisme pesantren itu sudah banyak. Hm.

16:55 Apakah ada akibatnya? Ada. Cuma perubahan budaya pasti butuh waktu. Saya ambil contoh misalnya ini teman seorang Gus dari Jember yang banyak sekali nulis di Facebook status panjang-panjang dan menarik dan seringki mengkritik tradisi Gus Ning, kalangan pesantren, kalangan keluarga kiai yang dianggap feodalistis. Itu namanya Mas Rizal Mumazik. Oke. Namanya Rizal Mumazik Z. Z eh ee Mumazik apa namanya? Rizal Mumazik Y. Ini di status-status di Facebook ya. Ya, itu Yahud maksudnya mumazikul Yahud. Oh, penghancur Yahudi. Oh, gitu. Kirain Yahud. Yahud dalam bahasa Indonesia. Yahud gitu. Enggak. Zionisme. Mumik. Zionisme. Oke.

17:41 Nah, Mas Rizal Mumazik ini, Gus Rizal ini seorang kiai muda rektor di Jember, keluarga kiai, keluarga pesantren juga. Dia seringkiali nulis status yang kalau bahkan bagi kalangan pesantren sendiri itu membuat telinga jadi merah padam itu. Dia seringkiali nulis mengkritik apa namanya salah satu status dia yang bagi saya menarik ini Ning sama Gus-gus itu kalau ngajak santrinya pergi suruh nyupiri setelah mampir ke restoran enggak pernah diajak makan bareng-bareng disuruh makan sendiri di luar. Neng dan Gus ini putra kiai ya? Putra Kiai. Putra kalau Gus laki-laki, Ning perempuan. Ning dan Gus kalau ngajak santrinya disuruh apa nyupiri, disuruh ngomong anaknya begitu makan tidak diajak ke dalam warung. Buat saya

18:27 itu saya enggak pernah melakukan itu dan seterusnya. Heeh. Jadi Gus dia sendiri Gus. Dia sendiri Gus dia warga kiai dan dia melakukan apa namanya kritik-kritik itu sering kali di dalam tulisan-tulisannya. Contoh yang klasik adalah bahkan ini tokoh dalam PBNU sendiri Kiai ee Masdar Farid Masudi. Oh iya. Kiai Masdar ya. K Mas Dar Farid Masudi ini ini seorang kiai dulu salah satu kiai pemikir pembaharu dalam NU generasi setelah Gus Dur ya yang menulis buku yang cukup menarik tentang ee apa namanya agama keadilan. He. Nah, Ki Masdar dulu itu mengadakan serial diskusi rutin di Kantor PBNU zaman Gus Dur. Hm. Diskusinya mengenai soal kontekstualisasi kitab kuning.

19:13 I. Nah, pada suatu saat diskusinya itu ee mengundang satu narasumber yang melontarkan pernyataan yang membuat marah kalangan pesantren tentang misalnya ada seorang apa namanya pembicara yaitu Mas Utomo Danan Jaya. Oh, Mas Tom. Iomo Danan Jaya itu salah satu pendiri para Madinah. Ya, para Madinah dan temannya Cak Nur ya. I Mas Utomo ketika diundang ke PBN ngomong, "Wih, ini dia bicara soal ketika itu lagi diskusi tentang kitab taklim ee kitab taklim mutalim, metode belajar menurut pesantren." Di mana dalam kitab ini dikatakan bahwa mengutip perkataan dari Sayidina Ali. He. Sayidina Ali itu dikenal sekali dalam kitab Taklimutlim mengatakan ini menjadi basis pandangan bunyinya para santri.

19:58 Ana abduman alamani walau harfan wahidan. Aku adalah hamba orang yang mengajari aku walaupun satu huruf. Hamb ini betul-betul dihayati oleh para santri. Mas Utomo Danan Jaya karena dia ya dia bukan orang NU tapi paham NU lah. Tapi ketika itu mungkin apa karena emosi atau apa dia kemudian apa namanya berkomentar berselor ini kitab apa harus dibakar ini. Itu dikatakan di PBNU lah dengar kiai-kiai kan wah marah kiai-kiai kemudian diminta untuk dihentikan diskusi itu. Maksud saya begini, poin yang ingin saya katakan adalah kritik-kritik internal di dalam PBNU, dalam NU sendiri sudah banyak. H ini saya cerita personal, Mas Sal ya, Mas Guru Gembul ya. Heeh.

20:44 Saya saya cerita personal. Saya pada umur 18 tahun masih di pondok pesantren di Kajen Padi. He. Saya pernah nulis artikel ee cukup panjang saya kirimkan ke sebuah majalah di ibu kota. Majalah pesan yang diterbitkan oleh ee LP3. Hm. Pesan itu pesantren. Oke. Oke. Ya. I pesan ya. Ketika itu yang ngelola ada Mas Enceng Sobirin, ada Abdul Muim Desa dan segala macam. Saya kirimkan artikel saya. Tema saya adalah saya nulis dua seri kritik terhadap feodalisme pesantren. Nah, itu menarik ini. Ini harus harus ditampilkan ini. Saya saya nulis sudah dari tahun. Oke. Waktu saya masih 83 atau 84 ketika umur saya umur 17 tahun atau 18

21:31 tahun ya masih santri ingusan di pondok pesantren. Dan saya heran kok dimuat tulisan saya. Tulisan saya dimuat di dalam majalah pesan lumayan dapat honor 11.500 ketika itu besar itu e lumayan. Nah jadi ini saya tidak tidak ya saya saya defensif posisi saya. saya dien tapi saya ingin menjelaskan jadi kepada pihak luar ya ee jadi kalangan pondok pesantren itu tidak menerima kritik dari luar itu tidak tinggal diam kita mendengarkan kritik itu dan melakukan kritik ke dalam kritik ke dalam ini tidak didengar di luar memang tapi menjadi pembicaraan internal h dan proses ini berlangsung proses ini tidak akan pernah didengar oleh media

22:17 massa sudah pas dan kita juga enggak butuh didengar media massa karena kita butuh untuk perbaikan internal ya Misalnya kasus soal yang kemarin ada pernyataan menak ya soal ee media gitu kan ya. Saya tahu Pak Pak Nasar ini ee ya tentu saja dia sama dengan saya insider. Dia bagian dari pesantren. Dia santri dia dia santri lulusan pondok pesantren yang sangat ee tua lumayan tua lah di Sulawesi Selatan, As'adiyah ya. ee dia pasti membela. Nah, cuma begini yang tidak diketahui publik adalah bahwa kasus kekerasan-kekerasan seksual di pesantren ini ini tidak berlalu begitu saja tanpa ada tanggapan internal. Jadi,

23:04 PBNO sendiri sekarang saya terlibat di dalamnya ada satu task force, ada satuan tugas yang diberikan tugas oleh Gus Yahya, ketua UMBNU untuk melakukan penanganan spesifik soal kekerasan seksual. Hm. yang menjadi ketua Mbak Wahid dan sekarang sudah bergerak itu kita mengada dan itu tidak mudah juga loh ketika kita ngomongkan isu ini ke dalam itu rumit sekali sehingga kita tentu harus menempuh cara yang bijak dan macam-macam ya. Tentu bagi orang luar ngapain sih lambat sekali ya. Oke. Oke ya. Tapi kita bertindak bergerak, kita membuat ee satuan tugas, membuat langkah-langkah bagaimana santri bisa melaporkan kalau ada kasus ee kita mendukung sepenuhnya

23:50 pihak kepolisian Republik Indonesia untuk melakukan tindakan hukum jika ada yang melakukan ee tindakan ee ini dan seterusnya. Jadi termasuk misalnya kayak Alkhazini itu ya ee sikap NU atau sikap teman-teman NU tentu sedih sekali menghadapi ini. Pasti defensif ya. Saya sendiri tidak berani terlalu banyak berkomentar mengenai soal ini. Ee tetapi saya mendengar menerima kritikan dari luar karena bagi saya itu positif. Tapi saya enggak bisa berkata apa-apa karena saya sedih sekali. Saya bisa membayangkan bagaimana sedihnya bukan saja kiai, tapi komunitas pesantren sendiri menghadapi situasi ini. Ee pasti ini harus jadi bahan refleksi diri. Nah,

24:36 salah satu langkah PBNU untuk mengatasi ini adalah tidak hanya soal, jadi gini, soal kekerasan seksual di pondok pesantren itu terkait dengan tata infrastruktur. Hm. Misalnya gini ya, pondok itu kan macam-macam ya, ada yang kaya, ada yang miskin. Umumnya sih menengah ya, tidak punya biaya yang cukup. Sehingga misalnya banyak kiai itu yang santrinya tinggal di rumahnya. Hm. Nah, kalau santri tinggal di rumah seorang kiai itu kan kurang ideal ya. sehingga PBNU sekarang ini membuat satu upaya untuk standarisasi infrastruktur di dalam pondok-pondok NU. Jadi harus didorong namanya pondok pesantren kalau

25:22 mau disebut pondok harus punya infrastruktur prasarana yaitu tempat tinggal santri di luar rumah kiai. Tapi tentu saja mendorong ke arah ini tidak mudah karena ribuan pesantren kecil-kecil yang santrinya juga ngenger dengan kiainya. Bahkan bagi para santri sendiri, ngenger di rumah kiai itu suatu kehormatan, tabarrukan. Orang luar bisa apa namanya mengatakan ini nonsens ya. Tapi bagi para santri yang menghayati nilai-nilai kebarokahan dan menghormati kiai, tinggal di rumah kiai itu kehormatan sekali. Saya sendiri kalau diberi kesempatan untuk tinggal di waktu masih santri itu. Waktu santri ya senang banget saya. Itu kayak ini, Gus. Kayak kalau di dalam

26:08 dunia non pesantren misalnya di dunia persilatan, nah itu kan biasanya nyari guru yang paling hebat gitu kan. Nah, dia nyant ya dia tinggal di rumahnya itu dan dia bisa di boleh apa pokoknya diperlakukan apapun mau gitu yang penting dapat ilmunya. Tapi ini ini enggak usah panjang-panjang saya tapi saya oke ini penjelasan saya karena saya kepengin apa karena gini kan pengin ngobrol dengan Iya saya senang karena ada orang seperti Guru Gembul yang posisinya adalah kritik. Saya yakin Guru Gembul ee kritiknya berniat baik. I ee karena saya tahu teman-teman teman-teman ee tidak suka dengan guru gembul ya. Ee tapi ya ee ya tapi bagi saya kritik-kritik itu apapun ya harus kita terima. Tapi saya tetap

26:55 soal transuju saya marah saya. Iya iya i saya marah saya. Eh Profesor Nadir SH Husein kan juga marah dengan itu. Karena ee dia bilang ini terkait dengan Kiai Anwar. Jadi n antara antara videonya dengan Kiai Anwar itu enggak nyambung gitu. Dan kalau orangorang pernah sowan ke dalamnya Kiai Anwar, masyaallah rumahnya sederhana. Iya. Makanya kan di situ disebutkan kiai memperkaya diri sarungnya ratusan juta, puluhan juta gitu kan mobilnya al eh yang ditampilkan Kiai Anwar yang sangat sederhana gitu. Jadi ini match enggak match. Tapi gini saya saya ingin Nah, kalau tadi ee Gus Ulil mengatakan saya menempatkan diri sebagai orang dalam dan karena itu defense maka berarti saya harus menjadi oposisi bagi

27:40 I. Iya. Benar. Bagus. Bagus sebagai J. Oke. Jadi begini. Em, hal pertama yang saya pikirkan dari ee uraian dari Gus Ulil itu adalah kenapa pendekatannya itu ada? Kenapa pendekatannya begitu primordial? H kenapa pendekatannya begitu saya dan Anda? Kalau misalkan tadi eh Edward Said yang begitu marah pada dunia luar karena dunia luar menghakimi kita, tapi kan sintesis dari hasil karya Edward Said dengan orientalismnya itu adalah bukan bukan ee orang luar melihat dari dalam kemudian dibalas orang dalam melihat dari ke dalam. Bukan enggak, tapi kan sintesisnya itu adalah setiap segala sesuatu dilihat dari dua kacamata sekaligus begitu kan. Jadi bukan hanya salah satu, bukan hanya ini. Nah, jadi

28:27 saya pikir ee pandangan bahwa ini dari luar tuh begini, sedangkan dari dalamnya tuh kompleks dan orang luar tuh enggak ngerti apa-apa. Saya pikir itu tuh harus kita tinjau ulang dalam hal pertama begini, ini jokes aja, tapi ayo kita diskusikan. Kalau memang orang luar pesantren itu tidak ee dianggap memiliki otoritas untuk berbicara tentang di dalam pesantren karena dia tidak mengalaminya. Lalu bagaimana kalau misalkan kita ambil kenapa orang pesantren yang bukan orang Arab malah belajar bahasa Arab menafsirkannya kemudian memberikan label-label dan dalil-dalil padahal dia sama sekali bukan orang Arab. Kenapa? Harusnya orang Arab dong yang misalkan kalau misalkan pola pikirnya adalah primordial atau misalkan pola pikir yang

29:13 lainnya, contoh lainnya adalah kenapa orang-orang pesantren itu berbicara tentang hal yang gaib. Dia kan makhluk nyata. Dia berbicara tentang hal-hal yang gaib, tentang surga, neraka dan sebagainya. Enggak ada satuun yang enggak ada satuun orang Nahdatul Ulama misalkan dalam hal ini atau orang pesantren yang punya metodologi untuk mengetahui hal-hal yang gaib. Tapi kenapa didiskusikan? harusnya jin ya berbicara tentang dirinya sendiri. Orang di luar jin enggak boleh berbicara tentang jin. Misalkan begitu ya. Atau misalkan kita ambil contoh yang lain ee para peneliti Indonesia yang paling otoritatif justru adalah orang luar Indonesia. Biasanya adalah orang Australia biasanya. Dan sumber-sumber referensi tentang misalkan Indonesia dan sebagainya itu adalah orang Australia dan atau orang Belanda. Itu yang paling dianggap otoritatif.

29:59 Bahkan orang-orang akademisi-akademisi Indonesia itu harus ngambil sumber-sumbernya dari negara-negara yang dimaksud. Pertanyaan saya adalah bukankah orang Belanda itu adalah orang luar yang enggak ngerti tradisi kita, tapi kenapa kita jadikan mereka sebagai orang yang otoritatif? Atau misalkan kita juga ada pembicaraan-pembicaraan ee di banyak sekali forum ee jangan baca buku ini. Ini kan buku dari barat, sedangkan ini isinya Islam. Kalau Islam ya harus dari dalam sendiri lah. Gus Ulil sendiri kuliahnya di luar gitu dan membicarakan tentang Islam. Jadi sebenarnya saya saya melihat bahwa pikiran Anda, saya, kamu ee kami ee dan lain sebagainya. Kami mereka kita itu sebenarnya harus kalau bahasa NU minna minhum outsider dan insider gitu ya. O outsider dan Mina gitu satu itu. Nah, ee

30:47 saya pikir itu juga harus kita tinjau ulang terkait dengan hal itu. Kenapa satu masalah yang paling besar dalam hal ini adalah karena NU itu bukan subculture semata dari gagasan yang namanya Indonesia, tetapi dia adalah subculture dari Islam yang terlalu banyak orang yang mengklaim dirinya sebagai Islam dan dirinya sebagai Islam yang benar. H. Jadi ketika NU misalkan menyuarakan dalam NU biasa aja sih jalan jongkok itu kan adalah hal yang biasa. Tidak semua orang pesantren itu seperti itu. Tetapi ada yang seperti itu. Lalu kemudian ketika ada kritik dari muslim juga yang mengaku saya tuh dari dalam. Saya Islam dari dalam. Saya bukan Kristen yang

31:34 membahas Islam. Saya Islam yang membahas Islam. Dalam Islam tidak ada jalan jongkok di depan kiai. Hm. Para sahabat tidak pernah jalan jongkok di depan Nabi. Para sahabat tidak pernah melakukan itu. Imam mazhab, Imam Tabiut, Tabiin, tabiin tidak ada satuun yang melakukan itu. Nah, satu-satunya alasan kenapa jalan jongkok di pesantren itu terjadi adalah karena itu tradisi lokal nusantara. He. Kalau tradisi lokal Nusantara tapi di labelinya Islam, saya marah karena tradisi lokal Nusantara lalu dibully lalu ini dilabeli Islam maka Islam yang dibully. Saya Islam tapi bukan ngikutin yang begitu ikut dibully

32:19 juga. Maka istilah insider dan outsider itu sama sekali tidak relevan dalam konteks ini. Jadi saya muslim tapi bukan NU. Saya muslim tapi bukan pesantren. Saya muslim tapi bukan Wahabi. Kenapa misalkan ada pergolakan hebat antara kalangan Nahdiin misalkan dengan Wahabi? Karena mereka itu bukan bukan ngaku-ngakunya saya NU, kamu enggak ngerti apa-apa soal NU. Saya Wahabi, kamu enggak tahu apa-apa soal Wahabi. Bukan. Tapi kita, kita tuh sama-sama Islam cuman kamu enggak ngerti apa-apa soal Islam. He. Jadi, insider, outsidernya sama sekali tidak relevan dalam kacamata ini. Coba bayangkan misalkan ada seorang guru yang makan dan itu saya melihatnya memang

33:05 seguru makan kemudian dia lepeh lagi dan santrinya rebutan untuk apa? Untuk apa? Untuk ngambil berkah. Lalu kenapa? Kenapa seperti itu? Lalu kata orang yang ada di sana dikatakan dalam tradisi pendidikan Islam ilmu itu bukan hanya didapat dari metode belajar tapi didapat dari berkah dari para kiai, berkah dari para guru. Nah, karena klaimnya karena itu sebenarnya adalah tradisi masyarakat lokal tapi kemudian diklaim itu adalah tradisi Islam. Lalu orang Islam yang insider. Hm. Saya terhina, terlecehkan karena agama saya diklaim dengan cara seperti itu. Saya enggak ikutan itu. Itu disorot media lalu itu dihujat lalu Islam

33:52 dihujat. Saya umat muslim. Kenapa saya ikut dihujat? Padahal saya bukan seperti itu. Itu masalah. Dan kemudian masalah insider, outsider juga pada akhirnya menghasilkan sebuah kesimpulan yang menjadi sangat bias. Ketika misalkan begini, dalam tradisi Islam yang paling pokok kita tuh enggak boleh fanatik kepada golongan. Fanatik pada golongan itu disebutnya ashabiyah. Dan orang yang ashabiyah itu mati jahiliah disebutnya. Dia marah karena golongan, bukan karena agama. Dia senang karena golongan bukan karena agama. Lalu sekarang kalau misalkan ada orang pesantren yang marah pada stasiun televisi karena tradisinya diusik

34:40 misalkan dalam hal ini dia tuh marah bukan gara-gara agama, dia marah gara-gara golongan. H artinya dalam hal ini pesantren lembaga pendidikan paling terkemuka yang mewakili nilai-nilai Islam di Indonesia itu dia dianggap justru mengkhianati nilai-nilai dasar dari ajaran agama Islam. Jadi kita melihat dalam konteks ee yang yang ngaku muslim dan ngaku muslim yang benar itu bukan hanya satu tapi banyak. He. Dan karena itu kita akan kebingungan menjadi mencari insidernya itu siapa. Dan kemudian masalah yang berikutnya lagi adalah begini. Ini ada pertanyaan yang mendasar kepada kalangan pesantren. Seperti yang tadi

35:26 dijelaskan ketika ada kasus pencabulan itu santri-santri ulama semuanya bungkam. Ketika ada kekerasan seksual bungkam, ada penyimpangan seksual. bungkam ketika tadi dikatakan pada akhirnya sebenarnya secara internal kita berbicara. Nah, itu masalahnya kenapa harus ada internal dan eksternal? Kenapa ketika tidak ada e ketika ada kasus misalkan pencabulan, para para santri, para kiai berbicara di ruang publik kemudian mengatakan bahwa insyaallah kami akan memperbaiki diri. Saya mohon maaf kepada masyarakat semua ini tidak akan terjadi lagi. Coba pernah enggak jadi kalau misalkan kita menganggap orang luar enggak usah karena kita mengenal diri kita sendiri. Enggak.

36:11 Kita mengenal diri kita sendiri hanya setelah kita melihat reaksi dari pihak lain, dari orang lain. Jadi saya saya mohon maaf. Jadi lagi-lagi insider dan outsider dalam hal ini juga menjadi sangat e sangat bias sangat sangat problematis. apa yang ada dalam diri saya dinilai sama orang lain dan itu saya saya akhirnya menjadi ada feedback dari saya dan begituun ada feedback dari orang lain begitu seterusnya. Bayangkan kalau pesantren setiap ada kritikan, kamu enggak ngerti apa-apa soal pesantren. Kamu enggak ngerti betapa kompleksnya di dalam sini setiap ada kritikan seperti itu dinilai sama begitu banyak orang, dihakimi sama begitu banyak orang, dihujat, diejek sama begitu banyak orang. Kemudian kamu enggak ngerti

36:56 apa-apa. Hanya saya yang ngerti soal ini. Maka pada akhirnya teralienasi yang namanya pesantren menjadi teralienasi yang namanya kiai menjadi teralienasi yang tadi dikatakan benar-benar menjadi orang yang berbeda sama masyarakat modern itu menjadi seperti itu. Dan akhirnya apa? Bayangkan kalau memang sepenuhnya terpisah dari orang lain, siapa yang nanti mau jadi penerus para santri? Hm. Penerus para santri itu adalah orang luar. masa orang dalam lagi. Orang dalam itu akan terkikis habis. Semakin lama semakin habis. Nah, orang luar yang mau masuk pesantren, wah pesantren ini kok kotor ya? Terus kata kiainya, "Kamu enggak ngerti soal kekotoran konsep dalam betapa rumitnya dalam pesantren." Enggak bisa seperti itu. Orang dalam pesantren, orang kiai harus ngomong,

37:42 "Mbak, maaf ini memang kotor, tapi insyaallah kita akan perbaiki karena dan lain sebagainya." Misalkan jadi gini, soal kemarahan publik NU, masyarakat NU marah itu jarang sekali. Hm. Jujur saja masyarakat marah kritik kepada NU itu banyak sekali. Ya, paling paling kritiknya kita tanggapi apa namanya ejek-ejekan di media sosial, di Facebook ya kayak gitu saja. Tapi kali ini menurut saya ada sesuatu yang sudah crossing the line melewati batas yaitu orang membuat acara jelas-jelas tidak punya niat baik. Ini jelas insinuasi bukan niatnya untuk mendorong ada

38:29 perbaikan di dalam tubuh NU. Karena niatnya insinuasi ini sama dengan orang Eropa bakar Quran. Tidak ada niat memahami di sini. Yang ada adalah niat ihanah. menistakan dan kita melakukan investigasi ke dalam kasus ini dan memang kita tahu di balik ini ada kita enggak mau bicara soal Wahabi segala macam ya. Oke. Ee tapi kita kalau saya sendiri yakin ada maksud ihanah, ada maksud menghina di dalam acara ini. Kalau maksudnya ihanah ya jangan marah kalau tanggapannya adalah gerudukan. Hm. Kalau Anda kepenginnya diskusi, ya mari kita diskusi. Orang NU biasa tadi saya ceritakan kritik orang luar kepada NU disampaikan dalam diskusi sering. He. Bahkan di kantor PBNU sendiri Mas Utomo

39:16 danan saya dulu diundang Mas Master ngomong di sana biasa. Jadi kalau kalau misalnya kayak kasus-kasus debat Mbak Alawi. Oke. Iya. Iya. Enggak ada apa-apa kita debat saja. Memang ada kasus-kasus apa namanya fisik, tapi itu kasus-kasus yang apa namanya? Terus terang ini tidak melibatkan banyak orang NU. Ada satu segmen kecil yang memang mengalami militansi karena kasus ini. Sebagian besar kasus Baalawi adalah debat internal dalam tubuh NU. Debatnya menurut saya bagus. Ada kiai ngarang kitab kemudian ditanggapi yang lain macam-macam. Yang sering terjadi di NU adalah debat seperti itu. Orang luar kritik, kita kritik balik. Tapi dalam kasus transuju itu beda.

40:05 Kasus transju itu ihanah. Itu itu menghina. Jadi kalau Anda niatnya menghina ya jangan marah kalau tanggapannya adalah diguruduk ke kantornya. Nah, tapi di sini letak masalahnya Gus itu kan di dalam era medsos sekarang ini ee respon kita itu satu hal. Iya. cara menyampaikan respon ke publik dan itu ditampai dipersepsikan publik itu hal lain. Di situ dia membutuhkan strategi. Misalnya tadi itu marah oke ee Transuju ee video apa framing-nya jahat gitu misalnya ke pesantren gitu ya marah. Tetapi ketika kemarahan itu diumbar ke medsos gitu ya di publik ya itu malah justru menimbulkan reaksi yang tidak diharapkan oleh NU

40:50 karena kemudian orang jadi malah ngetawain gitu ya. Terus muncul muncul hal-hal yang itu loh, video-video yang itu anekdotal gitu ya. Tapi justru kayak memberikan stereotype tentang NU. Nah, ini selain soal ini gos saya ini menarik ini poin ini soal strategi komunikasi ya. Iya. ee kenapa di NU tadi ada poin dari ee dari Guru Gembul menarik nih. Kenapa kenapa tidak ada yang mentekel per isu gitu? Misalnya misalnya ada video yang viral saya enggak tahu dari pesantren kayak pesantren Ciamis itu yang ada seorang Gus atau Kiai yang ngelempar-ngelempar jeruk itu. Itu kan merendahkan manusia banget. Ini gini nah kenapa enggak di counter? Oke itu salah gitu. Misalnya soal gini, saya sendiri ngalami sendiri

41:37 soal bagaimana menghadapi ee media-media sosial. He. Jadi gini, menghadapi media sosial itu Anda enggak bisa kontrol. Kecuali kalau Anda memilih jalan seperti kelompok tertentu yang membuat cyber army. Hm. He. He. Anda melakukan mobilisasi pasukan apa namanya bot atau pasukan apa namanya ee digital untuk melakukan apa namanya ee memproduksi narasi tandingan. Tapi kita di NU memang tidak melakukan itu. Jadi kita tidak bisa mengontrol. Jadi kalau kalaupun misalnya kita lakukan apa namanya counter terhadap isu

42:25 apapun di media sosial selalu pasti ada counter baliknya. Ya sudah percakapan di media sosial ya seperti itu. H kita hanya melakukan sesuatu yang ee kita anggap itu benar. Kita sampaikan kepada publik. Publik menerima oke tidak juga enggak masalah. Nah, soal sekarang soal protesnya. Hm. Soal protesnya menurut saya memprotes itu hak suatu masyarakat. Ketika masyarakat marah dilukai perasaannya, mereka punya banyak pilihan. Ada umat yang memang sangat pasifis sekali dilukai mereka diam saja. Oke, itu pilihan dia. Tapi pilihan yang dipakai oleh apa namanya? Teman-teman NU adalah ya kita mengemukakan kemarahan kita, tapi toh kemarahan kita ini

43:12 kemarahan di dalam koridor yang masih di dalam koridor hukum. Kita menuntut apa namanya ee pengusutan hukum terhadap apa namanya tran tuju ini yang itu kan legal. I ee membawa ini ke rana hukum, kita protes ke kantornya. Itu bagi saya protes mengemukakan aspirasi itu hal biasa saja. Kenapa kita takut menghadapi orang yang marah protes kepada kita? Menurut saya biasa aja. Kenapa? Karena Anda memprovokasi kami, saya marah. Ya sudah gitu saja. Selama tidak ada melukai orang lain, bagi saya itu oke. Orang yang demo karena dilukai perasaannya itu seringki banyak sekali. Jadi kita tidak usah

43:57 merasa ini kenapa kok NU marah dengan cara seperti ini. Kita marahnya mestinya harus dengan cara orang NU itu marahnya berlapis-lapis. Ada yang marah dengan cara mendatangi kantor Transuju itu satu bagian saja. Ada marah yang lain dalam bentuk tulisan, ada yang marah dalam bentuk memproduksi karya ilmiah. Nanti setelah ini kan ada penelitian, ada riset, ada ini. Karena di NU sendiri ada ada satu fakultas namanya Fakultas Islam Nusantara di UNSA. ee yang tugasnya adalah menganalisis secara ilmiah. Jadi berlapis-lapis kita ada kemarahan yang sifatnya akademis juga ada seperti Edward Said. Ada kemarahan yang sifatnya memang sesuai dengan sebagian dari ee umat NU yaitu kalangan awam ya selama

44:44 itu di dalam koridor hukum. Oke. Tapi saya sekali lagi saya tekankan orang NU marah itu jarang. Hm. Jarang sekali kalau kita lihat NU selama ini itu marahnya bisa dihitung. Ini keterlaluan memang. Jadi pahami aja gitu. Ini keterlaluan. Selebihnya mari kita debat saja diskusi. Saya juga menghadapi kritiknya guru gembul atau yang lain-lain. Ya tentu saja saya kadang-kadang jengkel. Ini biasa aja manusiawi saya enggak suka tapi saya bagi saya itu hak orang. Dan nah ini yang perlu dikatakan menurut saya guru gembul pembedaan antara insider outsider itu tetap penting karena bagi saya setiap masalah itu ya

45:30 begitu ada orang yang tahu dalamnya kompleks ada yang tahu luarnya nah ya ini aja saling memberi masukan yang di dalam tahu kompleksitas memberikan edukasi publik kepada kepada pihak luar yang di luar punya keuntungan karena kadang-kadang begini orang yang terlalu tahu banyak kompleksitas kadang-kadang memang mau bergerak enggan karena banyak halangan ini itu. Jadi kadang-kadang pihak luar itu lebih leluasa mengkritik. He. Jadi keuntungannya pihak luar karena dia tidak ngerti kompleksitas. Dia bisa ngomong apa saja kadang-kadang juga tahu. Tapi kan gini Gus ada poin soal itu soal e kriteria insider outsidernya kan dalam konteks ini kan sebenarnya juga berlapis-lapis. Betul.

46:16 Jadi misalnya ada orang Islam yang dia bukan orang pesantren tadi poinnya itu ya ee itu kan sebenarnya dia insider karena dia mau sama-sama Islam. Nah, tetapi ketika tradisi di pesantren ee sebuah sebuah kebiasaan tertentu di pesantren tertentu ingat pesantren itu macam-macam. Jadi kita enggak bisa enggak bisa menggebyah uyah ya mengenenalisir tapi misalnya ada video yang tadi itu misalnya ee apa ee ro ya ee ngecor itu kemudian kan kesannya perbudakan itu ada orang Islam di luar pesantren yang dia marah dengan ini karena kok atau misalnya tadi itu ee ee apa melaku e melaku jongkok ya jalan ngesot gitu ya. itu kan sebenarnya

47:02 juga di pesantren yang saya tahu karena saya juga dari pesantren itu jarang sekali saya juga enggak ngalami itu. Enggak enggak ada itu. Saya enggak pernah ngalami di pesantren itu. Tapi memang muncul sekarang Pak baru belakangan ya e ngesot itu nah ini ada orang Islam yang marah kok itu dikaitkan dengan Islam padahal itu budaya lokal. Enggak hanya Islam. Dulu zaman Hindu Buddha di Indonesiaitu kerajaan ya begitu gitu. e feodalisme itu bahkan di bumi manusia Mingke itu si e pramudaator itu kan Mingke kan pernah suatu ketika dia sudah merasa enlighten apa gitu kan manusia modern setara tahu-tahu harus diketemu ayahnya yang bupati dia harus jalan jongkok kan melaku dodok ngesot dan dia sambil maki-maki ini budaya apa ini kok membikin saya

47:49 harus jadi kayak monyet gitu dia marah gitu artinya ini enggak khas Islam gitu tapi ketika terjadi di pesantren dan tidak ada klarifikasi dari kiainya gitu. Kesannya kan itu kayak ada orang Islam yang ikut marah gitu, Gus. Dan dia insider gitu dalam hal ini. Gimana menurut? Nah, insider itu berlapis-lapis. Betul. Ee sesama muslim tetapi kalau Anda mengikuti mazhab A, Anda bukan mazhab, Anda bukan bagian dari mazhab itu. Terhadap mazhab itu, Anda adalah outsider. H iya ya. Jadi misalnya sesama muslim tapi Anda tidak menjadi bagian dari pengikut mazhab. Anda outsider. He. Begitu juga yang ikut mazhab, outsider terhadap yang tidak mengikuti mazhab. Jadi, outsider itu berlapis-lapis. Tetapi gagasan tentang outsider itu,

48:36 insider, insider itu penting. Karena begini, orang yang mengerti masalah dengan yang tidak mengerti masalah, beda dong secara kategori epistemologisnya. Orang yang mengerti kompleksitas masalah beda dengan yang tidak mengerti masalah. Jadi kita harus membedakan itu karena di dalam semua kasus ya begitu dalam kedokteran ya begitu dalam bidang keinsinyuran juga begitu ada orang yang di dalam yang di luar. Nah tinggal ini saja membuat semacam aturan main. Jadi ee apa namanya? Misalnya begini, dalam kasus lain ya, saya sebagai orang muslim tidak akan berani saya melakukan kritik terhadap orang Kristen. Ngomong-ngomong soal teologinya orang Kristen. Saya

49:22 enggak tahu. Kalaupun saya ngomong tentang teologi mereka, saya akan ngomong yang kira-kira tidak menyakiti hati mereka. Itu pilihan saya. Dan biasanya begitu aturan mainnya. Nah, sesama muslim juga begitu. Ee apa namanya? ee kita bisa melakukan saling kritik ya, tapi ada hal-hal yang itu hanya bisa dipahami oleh kalangan dalam. Kalau kalangan luar ya mohon maaf Anda tidak tahu. Meskipun tadi saya katakan bukan berarti bahwa kita tidak terima kritik ya. Kritik penting kita terima kritik. Cuma kritik ini menurut saya ada kritik yang tepat sasaran, ada kritik yang tujuannya memang ihana. Heeh. Nah, kalau ihanah kita enggak bisa terima itu. Karena kalau ihanah

50:08 sudah-sifatnya adalah apa namanya? Insinuasi ya itu tidak ada niat baik. Di situ juga dari kritik ihana tidak ada apa, tidak ada hasil apa-apa kecuali provokasi seperti yang kita apa namanya dapatkan dari kasus trans ini kalau Anda mau diskusi ya Anda melakukan seperti tadi itu guru gembul menyebut peneliti asing melakukan penelitian mendalam ada Mitsu Nakamura studi mengenai Muhammadiyah ada Martin Van studi mengenai NU ya begitu ee mereka tahu mereka pasti juga punya kritik terhadap tradisi NU sudah pasti sebab mereka kritiknya kritik dalam di dalam konteks yang mengetahui kompleksitas tradisi itu. Nah, kita dari kritik-kritik seperti ini kritiknya

50:54 orang seperti Martin Van Brunesen atau Mitsuona misalnya, kita belajar dari situ ada juga yang tidak terima. Bahkan kritik akademis pun oleh sebagian orang juga enggak diterima. Iya. Apalagi yang kritik insinuasi ya. Oke, kita sampingkan dulu yang kritik insinuatif, Gus. Ee yang ihanah, ya. Ini kita fokus ke kritik yang niatnya itu ada yang betul-betul kritik ya. Misalnya gini, soal ada beberapa isu kan yang kemudian dilabeli feudalisme, terus ee perbudakan, terus apa gitu ya. itu kan itu kan poin-poin yang beredar di medsos ya, di di ranah publik lah. Kenapa enggak misalnya ee pesantren melakukan ee reaktualisasi atau kontekstualisasi terhadap nilai-nilai

51:40 pesantren? Kan intinya itu menghormati guru. Heeh. Ee menghormati guru itu harus, menghormati ilmu harus, tapi jangan jalan jongkok, ngesot dan yang semacam itu. Itu harus dilarang misalnya ya. Terus ro ya kerja bakti. Kerja bakti itu kan memang sesuatu yang sifatnya ya gotongroyong itu kan khas pesantren itu bagus. Tetapi jangan dianggap sebagai cara untuk kemudian ee dipakai untuk misalnya ada ngecor terus dilibatkan terus dampaknya bisa membahayakan bangunannya gitu misalnya ya. Jadi maksud saya ini semacam reaktualisasi atau pembaharuan terhadap nilai-nilai pesantren yang ee nilainya itu universal ya. menghormati guru, gotong-royong

52:28 terus itu kan universal tuh. Tetapi aktualisasinya itu bentuknya seperti apa kan bisa harus berubah gitu. I nah itu kenapa enggak dilakukan gitu. Ee maksudnya kenapa enggak menempuh jalan itu? Tadi saya katakan usaha-usaha melakukan reaktu tradisi itu berlangsung di dalam NU memang kan kita tidak bisa menceritakan ini semua keluar kan karena kalau enggak ditanya enggak ada peristiwa begini kita juga enggak ngomong. Karena tujuan kita kan perbaikan internal, jadi reaktualisasi tradisi berjalan terus. Termasuk di dalam hal-hal yang terkait dengan praktik penghormatan kiai itu. Itu juga ada perkembangan. Ada perkembangan baru yang buat saya sendiri juga saya enggak setuju seperti apa namanya ee apa ngesot itu saya sendiri pada saat saya jadi

53:15 santri itu tidak ada. Heeh. He. Dan ketika baru ketika tradisi itu muncul ee saya terusang agak agak kurang setuju itu ya. Tapi okelah saya menghargai ee apa yang melakukan itu em Anda bisa berdebat di sini apakah ini tradisi yang oke atau tidak. Karena gini, tadi guru-gebul menarik mengatakan bahwa Kanjeng Nabi sendiri tidak mempraktikkan itu, sahabat tidak melakukan itu. Ya, kalau kalau itu logiknya banyak hal yang tidak dilakukan Nabi dan sahabat juga dilakukan oleh umat Islam belakangan. Jadi, tradisi Islam itu berkembang dari waktu ke waktu termasuk tradisi penghormatan kepada ulama. Ini tidak khas Indonesia. Kalau Anda pelajari apa namanya literatur tentang

54:02 keulamaan dari abad ke abad, penghormatan kepada ulama yang seperti itu seperti kita praktikkan di Indonesia itu tidak khas Indonesia dan itu tidak bisa kita katakan itu adalah pengaruh dari agama-agama di luar Islam misalnya. Karena kalau kita mengatakan pengaruh seolah-olah Islam tidak mengembangkan apa-apa. He. Jadi memang berkembang tradisi di dalam umat Islam, terutama di kalangan sufi-sufi yang memang mengembangkan tradisi menghormati guru yang bagi kalangan luar ekstrem bagi kalangan luar ini. Nah, saya menghormati kep terhadap kritik-kritik pada tradisi ini. Tapi yang perlu Anda perhatikan gini, kalau tradisi itu jelas-jelas melakukan sesuatu yang bersifat kriminalitas

54:50 misalnya seperti bullying, oke kita setuju itu kalangan pondok sendiri setuju memberantas itu. Tapi kalau atau kekerasan seksual, kekerasan seksual itu kita setuju itu. Tapi hal-hal yang seperti ngesot dan segala macam itu bagi saya masih debatable. Dalam konteks apa Anda mengatakan tradisi seperti itu? Itu tidak baik dilakukan. Karena itu kan berbicara mengenai standarnya. Standar apa? Apa yang dilanggar? Hukum tidak. Kalaupun misalnya menggunakan apa namanya standar moral, moralitas kalangan pesantren dengan di luar beda. Ngesot bagi gini ngesotnya mingke terhadap Belanda beda dengan ngesotnya santri kepada bupati. Bupati. He.

55:35 Karena dalam konteks bupati ini konteks bupati yang menjadi komparadornya Belanda dalam konteksnya santri ini bagian dari masyarakat yang menghormati kiainya. Jadi selama tidak melanggar hukum menurut saya kita masih bisa berdebat di sini. Anda boleh setuju atau tidak bagi saya koridornya menurut saya adalah hukum. Selama tidak melanggar hukum bagi saya soal tradisi itu bisa diperdebatkan. Tapi Gusul kan enggak setuju kan dengan tradisi. Saya sendiri, saya sendiri ada yang saya enggak setujuak yang soal tadi Gus gini eh sedikit ya. Jadi sebenarnya harus di ini juga. Jadi ee saya saya mohon maaf ini dalam pikiran saya aja saya tuh bukan Wahabi ya dan saya tuh saya tuh tidak berafiliasi dengan organisasi apapun,

56:21 dengan ormas apapun dan saya mengatakan saya tidak bermazhab dalam teologi, dalam fikih dan sebagainya. Ee jadi saya bukan yang seperti itu, tapi maksud saya adalah seperti ini. Em coba bisakah kita maju seperti Jepang? Kalau enggak salah Gus Ulil pernah ngomong seperti ini dalam artikel saya saya lupa Gus Ulil apa siapa dari ee hutan kayu itu. Tapi kurang lebihnya seperti ini. Em ada tradisi dan tradisi itu harus kita hormati. Budaya itu harus kita hormati dan kita harus pegang teguh dan kita harus wariskan kepada generasi selanjutnya. He. Tapi manifestasi dari tradisi itu wajib kita rombak sesuai dengan perkembangan zaman. Semisal ee masyarakat di Papua ada sebagian di antara suku-sukunya yang

57:07 ketika putra atau putrinya meninggal dunia maka si ibu harus motong jarinya. Nah, apakah itu harus dilestarikan? Sebenarnya itu adalah manifestasi dari sebuah tradisi. Idealitanya sesungguhnya adalah rasa belas kasihan ibu kepada anaknya. Kan begitu ya. Nanti manifestasi dari culture itu bagaimana? Adalah potong jari. Nah, apakah kita harus pertahankan itu? Ya enggak juga. Kenapa tidak seperti Jepang? Jepang itu ketika dia ada restorasi e Meiji kemudian ada kaisar yang merombak semuanya. Kaisar itu bilang kuncir samurai itu jahat. Tinggalkan samurai katana itu. Itu sekarang ketinggalan zaman. Ganti dengan senapan itu. Banyak di antara para

57:53 samurai itu yang mending bunuh diri daripada harus melepas pedangnya itu. Tetapi kebanyakan masyarakat Jepang pada akhirnya mengikuti kaisar bahwa berubah. Yang apakah tradisi mereka berubah? Tidak. Kesetiaan mereka tetap. Kedisiplinan mereka tetap. ee janji mereka memegang janji mereka tetap, kemudian efisiensi mereka itu tetap dan lain sebagainya. Sekarang eh bahwa secara idealita, idealitasanya itu adalah bahwa kita wajib menghormati guru, wajib menghormati orang yang memberikan pengetahuan, wawasan, dan inspirasi kepada kita. Itu adalah sebuah kewajiban. Tetapi caranya apakah dengan membungkuk, apakah dengan bersalaman, apakah dengan ngesot dan sebagainya itu

58:39 adalah manifestasi. Dan manifestasi itu bisa dirubah sesuai dengan perkembangan zaman. Sehingga ketika zaman sekarang melihat dengan sorot kameranya ditampilkan ke mana-mana, kemudian NU dan pesantren dilabeli feudal dan karena itu maka itu akan menjatuhkan harkat dan martabatnya. Maka pembelaan yang paling proporsional dari NU seharusnya adalah yuk kita tinjau ulang tradisi itu karena itu adalah cara kita untuk menyelamatkan harkat dan martabat kita. Dan dan kayak gini nih. Coba sekarang mari kita ilustrasikan. Ee Pak Kiai Sahal mau ketemu dengan Pak Prabowo Subianto di tengah jalan bertemu dengan

59:24 saya. Lalu saya mohon maaf ini cuman ilustrasi. Pak Kiai Sahal ternyata bau mulut ketemu sama saya. Aduh, saya berpikir untuk menyelamatkan harkat martabat Pak Kiai Sahal di depan Pak Prabowo, saya harus bilang, "Pak, ini makan permennya Bapak mohon maaf bau mulut." Seandainya reaksi dari Kiai Sal, "Kamu kok ngehina saya sih?" "Ya, terserah saya dong. Saya gini ya gini aja." lalu bertemu dengan Pak Prabowo. Saya yakin pertemuan itu adalah pertemuan yang tidak nyaman dan mungkin menghasilkan sesuatu yang buruk. Begitu kan? Nah, sekarang saya sampaikan pesantren itu yang salaf dengan semua atribut-atribut manifestasi budaya dan

1:00:10 kulturnya itu itu sekarang membuat NU-nya dihujat. Heeh. Membuat pesantrennya dijelek-jelekan. membuat Islamnya terstigma oleh masyarakat. Lalu saya bilang, "Please, itu kultur bisa diubah. Manifestasinya aja yang diubah. Hormat kita kepada guru bisa aja diganti. Misalkan setelah kita lulus dari itu, kita belikan guru kita itu mobil mewah atau kita bikinkan pesantren baru dan sebagainya itu bisa. Tapi yang disorot di muka bahwa kita harus ngesot itu sama sekali tidak sakral. itu produk kebudayaan, produk akal pikiran manusia bisa dirombak kapanpun demi

1:00:55 kebaikan umat Islam, kebaikan lembaga pendidikan yang namanya pesantren, dan demi kebaikan Nahdatul Ulama kultural. Bisa enggak saya mengajukan argumentasi itu? Ya, bisa banget. Iya. I bisa banget dan secara faktual ya di dalam beberapa isu terjadi. Jadi saya tadi saya katakan bahwa ee perubahan-perubahan internal di dalam tubuh nahdiin baik di pondoknya maupun di luar pondoknya itu terjadi dari waktu ke waktu misalnya ya. Nah di sini pentingnya pembedaan antara orang dalam dan orang luar. Guru Gembur orang yang dari dalam tahu betul apa yang terjadi pada tahun-an dulu dengan pondok pesantren sekarang ini. Bagaimana apa transformasi yang terjadi pada banyak level itu banyak sekali.

1:01:41 Memang kita tidak bisa ya mungkin kalau disebut kesalahan mungkin kesalahan kita tidak mengabarkan ini seluruhnya kepada pihak luar. Nah. Nah, makanya saya katakan begini, momen ini sebetulnya ini momen yang bagus. Hm. Momen ini adalah momen bagus bagi kalangan pesantren untuk mengkabarkan ee dirinya kepada keluar apa sih pesantren itu? Kalau misalnya ada hal-hal yang problematis dipersoalkan oleh pihak luar ya n mari kita bicarakan ee pesantren bisa menerima bisa tidak. Nah, karena pondok itu juga banyak reaksinya juga macam-macam. Ada yang menerima, ada yang tidak. Tapi menurut saya ee sekarang ini adalah momen yang tepat bagi kalangan pesantren untuk

1:02:28 menceritakan dirinya kepada keluar, mengedukasi publik. Ini saya bilang kepada teman-teman apa namanya di NU ini sekarang saatnya. He. Jadi ini memang menurut saya di satu viak ini adalah musibah tanda kutip tapi juga ini adalah berkah. Sebetulnya karena kesempatan ini kesempatan bagus untuk koreksi ke dalam, tetapi juga sekaligus mengoreksi pandangan orang luar tentang orang dalam. H sekaligus juga mengoreksi pandangan orang dalam yang itu memang tidak bisa dipertahankan. Iya. Jadi bagi saya, makanya makanya ini menurut saya proses saling belajar ya, saling apa namanya? Mengedukasi. Tapi menurut saya memang kita dari via NU ini ee terutama

1:03:15 akhir-akhir ini ya setelah minat peneliti luar terhadap NU dan juga Muhammadiyah berkurang. Sekarang ini di akhir-akhir ini minat peneliti itu lebih banyak ke kelompok-kelompok radikal. H karena radikal pun berkulang. Gus sekarang ini yang berinat itu tentang Cina. Jadi tema Islam sebenarnya sudah sewu ya dari segi geopolitik enggak seksi lagi sebenarnya. Jadi kalau di barat masih di barat di barat masih barat. Tapi ini Gus ini kan soal pentingnya mengabarkan apa yang dilakukan dan akan dilakukan oleh NU ya oleh pesantren ya kan ada ungkapan no picture sama dengan hoa. Iya betul. Nah, itu ee ee saya kira dalam era sekarang itu penting sekali ee ada semacam entah itu video atau

1:04:02 testimoni atau apa dari orang dalam yang mentackel isu-isu ini gitu. Jadi misalnya tadi itu misalnya bukan hanya ee isu-isu yang ee video-video potongan-potongan ya itu perlu misalnya kayak jeruk tadi itu perlu ditaackel itu bahaya banget itu. Atau misalnya soal hal-hal yang dipersepsikan negatif ee kerja kerja apa perbudakan gitu misalnya atau yang tadi itu atas nama tabarukan terus ee di apa makanan di direbut gitu misalnya diperebutkan. Nah, itu kan ee dari pihak apa yang dilakukan pembaharuan internal yang dilakukan oleh PISMIL Reform ya yang dilakukan di dalam internal itu perlu ada

1:04:48 buktinya gitu loh, Gus, dalam bentuk video atau testimoni. Kalau enggak itu enggak efektif ya. Makanya saya bilang bahwa ini kesempatan bagi kita teman-teman NU untuk mengabarkan dirinya keluar dan mengedukasi pihak keluar. Dan dalam hal ini saya kepengin apa namanya mengatakan kepada pemeriksa di sini sebetulnya dalam beberapa waktu terakhir mungkin 10 15 tahun terakhir ini itu kita juga melakukan langkah-langkah yang bagi saya cukup apa namanya cukup maju. He. Jadi, NU itu punya aplikasi atau super app yang bagi saya cukupcukup bagus sekali. Di antara app ee Super App atau aplikasi Islam mungkin ini salah satu aplikasi yang terbaik yaitu N online.

1:05:35 Hm. Nah, di dalam N Online itu ini sekaligus mengabarkan sesuatu kepada keluar ya. I bahwa sebetulnya via NU itu sudah berusaha untuk mengabarkan keluar melalui aplikasi ini. Di sini kita menceritakan keluar apun yang ada dalam tradisi kita, tradisi keagamaan, tradisi keilmuan, tradisi kekiaian, kesantran, segala macam itu ada di sini. Ee sudah banyak publik yang tercerahkan melalui aplikasi ini. Tetapi lagi-lagi masalah ya kalau sudah media sosial kita kadang-kadang ya tidak bisa mengendalikan. He. Jadi media sosial ini adalah apa namanya wilayah terra inkognita yang ee kadang-kadang kita enggak bisa duga. Ya sudah. Dan juga gini, saya sendiri juga sadar bahwa

1:06:23 percakapan dalam media sosial ini ya kadang-kadang penting kadang-kadang tidak penting karena percakapan ini bertahan hanya 2 3 hari saja. H hm. I kan setelah ini kita enggak tahu apa yang apa yang dipercakapkan publik kan. Jadi apa yang apa yang kita kira menit ini penting, tiba-tiba menit berikutnya jadi enggak penting karena ada isu lain gitu. Nah, perubahan tidak bisa bekerja dengan algoritma 1 menit, 2 menit seperti itu. Di NU sendiri ada algoritma lain yang kita kerjakan. Kita melakukan perbaikan ke dalam. Misalnya gini, ini saya kabarkan keluar, ada hal yang mungkin mungkin bagi orang luar tidak penting. Ee kita sekarang di di NU ini mengerjakan satu program ini dikerjakan oleh apa namanya? ee lakmesdam PBNU e lembaga saya di dalam

1:07:08 PBNU ini yaitu untuk menangani masalah perkawinan anak misalnya. Hm. Sesuatu yang ya orang enggak banyak membicarakan karena ini enggak kontroversial kan atau enggak jadi viral. Jadi perkawinan anak kita mencoba untuk mengatasi masalah ini masalah serius sekali jarang dibicarakan perkawinan anak ya itu tradisi yang mengakar dalam masyarakat. kita juga perlu menangani itu. Ada yang banyak yang masih mengatakan, "Oh, kawin anak itu oke secara agama." Tapi kita mencoba memberikan pemahaman secara pelan-pelan ya. Macam-macam yang lain-lain juga banyak. Jadi memang kita punya kelemahan dalam hal-hal tertentu, tapi kita juga punya sesuatu yang saya anggap bagus melakukan perubahan-perubahan dalam tradisi kita.

1:07:55 Nah, memang kurangnya kita Iya. menceritakan ee apa naratifkan keluar itu naratif making enterprise gitu ya. Tetapi saya ya saya ya saya jengkel dengan situasinya tapi juga sekaligus gembira karena karena ini momen punya kesempatan untuk momen untuk momen untuk apa otok kritik ya perbaikan ke dalam tapi juga momen untuk Nah ini penting juga kalau kita memahami hukum sosiologi ya masyarakat itu ini apa namanya kasarnya lah ya ya kalau Anda di apa namanya diserang ya pasti nyerang balik. H ya itu kan hukum biasa itu. Cuma nyerang baliknya gimana gitu kan. Tapi kalau

1:08:42 enggak ada serangan balik bagi saya kalau enggak ada reaksi kepada Trans Tuju wah bahaya itu. Itu malah justru nanti soliditas internal bisa. Jadi kita perlu mengkanalisasi kemarahan ee apa teman-teman NU ini secara ter ter terstruktur dengan baik ya. Ee karena bagi saya kadang-kadang kemarahan seperti ini menunjukkan bahwa sebuah organisasi masih punya soliditas. Hm. Heeh. Karena kalau sudah tidak peduli, kalau orang sudah tidak peduli kepada sesuatu ya dia dilukai diam saja. bahwa suatu masyarakat dilukai masih bereaksi, berarti dia masih hidup sebagai

1:09:27 organisme. Dia melakukan reaksi balik. Nah, cuma kalau reaksi baliknya kontraproduktif ya kita kritik. Oke, kita kritik ya. Dan juga reaksi balik itu juga harus harus jangan kontraproduktif. Nah, makanya ini mungkin mungkin kita perlu dengar juga ee dari pandangan dari orang yang sangat sangat fasih dalam dunia medsos ya kayak guru gembul. I karena dia yang melihat sendiri ini kan sosok yang sangat mengharga saya sendiri kan pemain juga dalam. Iya. Tapi kan Gusulil temanya macam-macam soal tenis, soal jadi banyak dia urusannya. Enggak hanya NU. NU tuh mungkin malah cuma 30% kali dari urusan dia. I dia trum and tenis. Tapi poin saya adalah ini kan guru gembul ini contoh orang yang dia

1:10:14 katakan aja dari luar dari luar pesantren yang sangat menghargai, mengapresiasi jasa pesantren, nilai penting pesantren, tapi resah ketika pesantren ee dalam representasi di medsos atau di media itu seperti itu. Dan lebih resah lagi kok respon pesantrennya kok malah kontraproduktif gitu kan. Jadi itu yang silakan. Ee sebenarnya saya enggak benar-benar luar sih. Kalau misalkan kita mau lihat ini ya dalam artian saya tuh membantu pembangunan pondok pesantren itu sampai dua sekarang itu. Kemudian saya tuh ada satu pondok pesantren binaan dalam tanda kutip yang di dalamnya itu ini menarik info ini. Iya jarang diketahui ini. Jadi saya tuh ada pesantren di Malang sana dan itu

1:11:01 santri-santrinya di sana itu enggak bayar tapi suruh kerja bikin AI. Nah, makanya nanti di sana teman-teman saya yang di sana itu ada aplikasi namanya Kiai K A tapi belum selesai. Roannya bikin AI. Iya roannya bikin AI. Iya. Nah, saya saya bilang saya bilang jadi sebenarnya gini. pesantren itu yang ee gotong-royong. Gotong-royong itu bukan kerja sama. Gotong-royong itu ideologi. Ideologi di mana kita bisa hidup bermasyarakat tanpa uang dan tanpa otoritas terpusat. Jadi gotongroyong yang dipahami oleh Bung Karno yang dengan itulah Karmax kemudian menjadikan itu sebagai referensi komunisme gitu kan. Nah, jadi ee gotongroyong yang dimaksud di pesantren itu sebenarnya saya bela, saya

1:11:47 dukung di mana pada waktu itu kiai-kiai itu tidak memiliki ee tidak memumut biaya, tapi dia punya aset yang besar. Jadi, ada peternakan, ada perguruan silat, ada berbagai padepokan pengobatan dan sebagainya. Santri-santri yang masuk ke sana enggak bayar, tapi dia kerja di sana. Siang bekerja, malam ee belajar. Lalu dari mana mereka makan minumnya? Ya, dari tempat itu juga. Makanya nanti PKI itu marah-marah disebutnya setan desa. Karena wilayah yang luas dikuasai oleh segelintir kecil orang gitu kan. Dalam tradisi Israel tuh kibutsnya itu sosialisme itu. I terus terus. Nah, balik lagi. Nah, ee tapi ini tidak masuk ke medsos. Yang masuk ke medsosnya itu adalah perbudakan. Kenapa yang saya

1:12:33 barusan lihat dari Gus Ulil, saya mohon maaf ya. I ee ada kontradiksi dalam perkataannya di mana di satu sisi bahwa ee ini berkah

…

Share

Ringkasan Video YouTube