1:32 GITA WIRJAWAN: Halo, teman-teman. Hari ini kita kedatangan teman baik saya, teman lama sejak SMP di PL tahun 70-an, Helman Sitohang. Terima kasih banyak sudah hadir. HELMAN SITOHANG: Sama-sama. Senang sekali bisa di sini. - Lo ini inspirasi untuk banyak teman -teman kita di Indonesia. Karena prestasi lo, dan karena lo bisa dibilang "homegrown". Lu lahir di Praha, tapi lama di Indonesia dan sekolah di lokal pula terus ke ITB. Cerita deh gimana lu bisa jadi seperti yang kita lihat sekarang.
2:19 - Terima kasih. Senang banget bisa ketemu lagi nih. Tadi sempat ngobrol juga sebelum ini, dan kita juga ketemu di Singapura waktu kita udah mulai berkarier. Kalau dari latar belakang, saya merasa beruntung, karena kebetulan bokap gue waktu zaman Soekarno dulu dapat beasiswa, dan dia benar-benar datang dari keluarga yang nggak punya sama sekali. Jadi mungkin ini bisa jadi inspirasi juga buat teman-teman —kalau tidak punya kemampuan finansial bukan berarti tidak ada jalan. Itu yang ayah saya lakukan waktu itu. Waktu saya kecil, saya ingat dia sering mengutip satu kalimat,
3:08 “Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Kalau langit tidak tercapai, sedikit di bawah langit bumi juga masih baik.” Itu dari Bung Karno, dan sejak kecil selalu dia pegang itu. Dengan tekad itu, walaupun tidak mempunyai apa-apa, dia bisa ke Cekoslowakia. Waktu itu banyak beasiswa zaman Bung Karno, dan banyak juga yang berhasil. Salah satunya Rahardi Ramlan, waktu zaman ayah saya di sana. Rahardi waktu itu ada di Brno, bukan di Praha. Di sanalah ayah saya ketemu ibu saya. - Jadi bokap lahir di mana? - Bokap lahir di Tapanuli tahun 1926.
3:55 Ini juga menarik, waktu dia lahir, dia diberi sekolah SD, tapi orang tuanya tidak sanggup. Dibilang, “Kita cuma sanggup sampai SD, biar adik-adik kamu juga bisa sekolah.” Jadi selama sekitar 5–8 tahun dia terputus antara SD sampai SMP–SMA, dia tidak sekolah. Akhirnya dia merasa harus keluar dari siklus itu, karena dia lihat rekan-rekan sekampungnya ini masih di daerah Tapanuli yang pedalaman banget. Dia bilang, “Saya harus keluar dari lingkup ini, bagaimana caranya.” Akhirnya dia pergi ke Riau waktu itu. Di sana dia cari pekerjaan.
4:46 Akhirnya dia punya tabungan dan kesempatan. Dia sekolah sendiri, bayar sendiri. SMP, SMA kalau tidak salah dia kebut 3–4 tahun. Dia masih cerita ke saya, kalau malam dia sekolah pakai lilin. Belajar sambil keringetan, kadang mukanya kebakar sedikit karena panasnya lilin. Tapi tekadnya benar-benar supaya bisa sekolah. Itu sangat penting, dan mungkin karena dia sering cerita tentang itu, walaupun saya tentu tidak mengalami sesusah itu untuk bisa sekolah, tapi itu juga jadi salah satu motivasi saya dari kecil. Saya lihat kalau ayah saya sudah capek-capek begini, saya juga tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan.
5:32 Kesempatan yang saya punya pasti lebih baik dari dia, walaupun saya juga punya tantangan-tantangan sendiri. Jadi dia sekolah, terus masuk UI. Tapi karena dia tidak punya apa-apa, dia sambil kerja, dagang. Dia punya toko di Tanah Abang, dan kelihatannya bakat dagangnya juga lumayan. Lama-lama punya toko, dagang dan cukup berhasil. Tapi dia bilang, antara dagang sama sekolah agak benturan, dan dia punya tekad, “Pokoknya saya harus jadi sarjana pertama di keluarga saya.” Waktu itu di keluarga belum ada yang sarjana, masih tahun 50-an. Akhirnya dia bertekad, dan kebetulan dapat informasi bahwa zaman Bung Karno banyak juga beasiswa. Karena dia sekolah di UI, nilainya bagus, akhirnya bisa dapat beasiswa.
6:21 Di situ dia harus ambil keputusan—mau dagang, mikirin uang, atau sekolah. Dia bilang ke saya, “Dalam hidup, pendidikan jauh lebih penting daripada uang.” Akhirnya toko di Tanah Abang dia jual murah, karena zaman segitu juga belum ada transaksi kayak sekarang. Tapi dia tinggalkan, walaupun katanya kalau diterusin, usahanya bisa bagus karena dia ulet. Jadi beberapa hal itu yang saya ceritakan ini mungkin sebagai latar belakang saja, bahwa kenapa saya punya inspirasi, karena dengan pengalaman ayah saya seperti itu, saya bisa merasakan bagaimana susahnya waktu itu untuk bisa sampai ke situ.
7:07 Akhirnya beliau dapat beasiswa pergi ke Praha, Cekoslowakia waktu itu. Mungkin banyak yang tidak tahu, tapi Cekoslowakia, walaupun bagian dari tirai besi, sebenarnya dari segi ekonomi dan teknik, sebelum Perang Dunia Kedua itu negara paling maju di Eropa setelah Jerman. Makanya di Indonesia banyak merek Skoda. Bertahun-tahun kemudian, saya ke ITB, mesin-mesin bubutnya masih merek Skoda semua. Saya masih ingat, juga ada sepeda merek Java. Jadi memang teknik mereka luar biasa. Waktu itu katanya bisa pilih mau ke negara mana—Rumania atau lainnya—
7:53 tapi karena Ceko paling maju, dia cari tahu sana-sini, akhirnya pilih Ceko. Di sana dia sekolah ekonomi, ketemu ibu saya. Ibu saya juga kebetulan punya latar belakang yang mirip. Ibu saya dari bagian Slovakia, waktu itu masih satu negara. Slovakia agak jauh, dekat Ukraina, sekitar 100 km dari perbatasan Ukraina sekarang. Kota kecil. Sama, ibu saya juga dari keluarga yang... di sana kehidupannya lebih merata karena sosialis, tapi dari keluarga belum ada yang sekolah cukup bagus, apalagi S1.
8:44 Jadi, ibu saya juga bertekad untuk melanjutkan kuliah, dan dia masuk ke Charles University, salah satu universitas tertua di Eropa. Seperti Sorbonne atau Oxford, dibentuk sekitar abad 14–16. Jadi mereka ketemu di Praha, dan saya lahir di sana, tahun 1965. Oktober '65. - Nyokap belajar apa? - Nyokap belajar hukum, bokap belajar ekonomi. - Ngambil S3? - Bokap S2, nyokap S1.
9:34 Jadi mereka cukup lama di sana. Waktu saya lahir, kami tinggal di Praha. Waktu itu bokap ambil satu keputusan menarik. Banyak mahasiswa Indonesia yang menikah dengan orang sana, di Indonesia yang terkenal seperti Gladys Suwandhi, dan sebagainya. Ceritanya mirip, ayahnya ke sana, kemudian menikah dengan wanita yang kebanyakan dari Ceko. yang dari Slowakia itu mungkin cuma ibu saya, terus ada 1-2 lagi. Ayah saya pikir, anak-anaknya biasanya disekolahkan di sekolah kedutaan.
10:27 Kebanyakan waktu itu sekolah di sekolah kedutaan. Tapi bokap pikir, sayang kalau sudah di sini, kenapa tidak coba sekolah lokal saja. Jadi saya mungkin satu dari sedikit anak campuran Cekoslowakia dan Indonesia yang akhirnya sekolah di sekolah lokal. Itu juga jadi hal yang menarik buat saya, karena saya mengalami... Saya tiga tahun di sana, sampai kelas tiga. Akhir tahun ajarannya waktu itu sama dengan kita, Juli. Di Indonesia waktu itu selesainya masih Desember/Januari. Kemudian dibalik.
11:13 Dan itu buat saya menjadi sesuatu yang penting, karena masa itu membentuk watak dan dasar-dasar pemikiran di usia sangat dini. Di situ saya mulai merasakan juga bagaimana pendidikan mereka— Jadi, misalnya pelajaran matematika di sana waktu SMP kelas 3 itu sangat dasar. Angkanya cuma perkalian sampai 5, atau 7 kali 7 gitu. Ini kelas 3, ya. Terus, waktu saya sampai di sini, saya masuk Tarakanita 2 di Blok I, langsung 55 kali 75 gitu. Untungnya saya cukup bagus di matematika,
12:02 jadi cepat tangkap. Tapi kemudian saya berpikir, ternyata kadang kita enggak perlu loncat terlalu jauh dari situ, karena justru penekanan pada dasar-dasar itu yang sangat penting. Dan memang repotnya, untuk membentuk dasar yang kuat di usia 4 sampai 7, katakanlah 4 sampai 8 tahun, itu butuh waktu. Tapi untuk melihat hasilnya bisa butuh 20–30 tahun. Sekarang, di zaman kita, semuanya serba cepat, siapa yang mau investasi ke situ? Biasanya yang paling penting adalah peran orang tua. Tapi di luar orang tua, tentu ada organisasi lain yang harus ambil bagian juga,
12:47 yang berani berkorban dan berinvestasi, meskipun hasilnya baru kelihatan 30–40 tahun kemudian. Kembali ke tadi, saya juga berterima kasih. Dulu saya pikir waktu kecil ya cuma ikut orang tua aja. Ayah bilang ini, ya udah ikut. Tapi belakangan saya mikir, ternyata entah dia sadar atau tidak, keputusan itu pengaruhnya besar sekali terhadap kehidupan saya bertahun-tahun kemudian. - Yang paling membentuk dari sisi watak dan kedisiplinan itu, bokap atau nyokap? - Bokap.
13:33 - Kalau nyokap pendekatannya gimana? - Pendekatannya menarik. Dia walaupun orang Barat, kulit putih, tapi sangat lembut bicaranya, tapi kalau ngomong kena banget. Jadi dia justru menyeimbangkan ayah saya, karena ayah saya latar belakangnya keras —harus sekolah sendiri bertahun-tahun, benar-benar berjuang. Jadi rasa simpati terhadap kelemahan itu agak kurang. Di situ peran istri penting untuk menyeimbangkan, Ayah saya sangat ditopang oleh ibu saya.
14:22 Dari segi disiplin sudah jelas, ya. Dan waktu saya SD–SMP, kalau nilainya belum bagus, atau kalau enggak nomor satu, "Jangan pulang.” Setengah bercanda, tapi nadanya tegas. Peran nyokap menjelaskan, "Ayah itu maksudnya ini." - Kita dulu pernah bikin film tentang kehidupan banyak orang Indonesia yang sekolah di sana, judulnya "Surat dari Praha". Kita bikin beberapa tahun lalu. Menceritakan betapa banyak sekali orang Indonesia yang enggak bisa pulang.
15:13 Untungnya bokap lo sempat, kan. Tapi ya itu, asimilasi budaya yang terjadi antara orang Indonesia yang sekolah di sana dengan komunitas lokal. Yang menarik, banyak yang belajar hal-hal seperti nuklir, dan pendidikan di sana memang luar biasa. Gue penasaran, pengalaman lo di sekolah tuh kayak gimana? Lo udah punya pengalaman di rumah tangga yang keren banget, sejauh mana sekolah ikut membentuk lo? Gue mau bungkus ini dalam konteks Indonesia. 88% kepala rumah tangga di Indonesia enggak punya pendidikan S1.
16:05 Bokap lo S2, nyokap S1. Elektorat yang nyoblos di pusat 93% enggak punya pendidikan S1. Kita udah cukup berumur, dan berkepentingan agar angka itu turun sebanyak dan secepat mungkin. Apa yang bisa lo bagi ke generasi penerus dari pengalaman lo di rumah dan sekolah? Karena kalau orang tua enggak punya pendidikan tinggi, harapannya kan dari sekolah. Guru bisa nyuntik ambisi dan imajinasi. Bokap lo udah nyuntik itu. Gimana Man? - Iya, itu poin yang sangat penting dan menarik.
16:57 Peran orang tua memang besar, tapi enggak semua— Saya merasa sangat beruntung punya lingkungan keluarga dan orang tua seperti ayah dan ibu saya yang sangat mendukung, jadi motivasi dan panutan juga. Tapi enggak selalu— Saya bisa sekolah 3 tahun di sana, di Ceko, dan saya rasa yang penting—sekarang pendidikannya agak beda. Dengan adanya AI, perubahan cepat beberapa tahun terakhir.
17:48 Pendidikan yang tepat untuk kondisi sekarang dan masa depan yang cepat berubah. Kalau saya belum tahu persis jawabannya, saya selalu kembali ke hal mendasar. Jadi, kembali ke dasar: pendidikan itu penting. Kedua, bagaimana memaksimalkan kesempatan pendidikan itu juga penting.
18:33 Kadang orang berhenti di tengah jalan, penting untuk memaksimalkan. Enggak ada satu jawaban pasti, tapi paling tidak kita punya perasaan bahwa kita sudah punya bekal untuk keterampilan dan pekerjaan nanti. Dasar-dasar itu penting. Gunakan juga teknologi. Banyak kesempatan pendidikan online.
19:18 Sekarang pendidikan harus seimbang antara tatap muka di dalam kelas, tapi juga banyak kesempatan untuk menyerap ilmu, termasuk misalnya dari Harvard banyak menawarkan banyak kelas daring. Gunakanlah. Kadang saya lihat anak muda di jalan kebanyakan lihat Instagram. Kita enggak mau menghakimi juga, tapi gunakanlah kesempatan untuk melihat— ambil kursus, serap ilmu.
20:04 Melihat Instagram dan TikTok juga tentunya ada yang diserap, tapi nggak seimbang dari sisi pendidikan. - Anak-anak kita sekarang bisa lihat layar 8 sampai 10 jam sehari. Gua sendiri membatasi, kalau bisa jangan lebih dari 2 jam, karena banyak konten yang enggak-enggak. Dan enggak ada regulasi yang membatasi. - Betul. - Kalau orang tua enggak punya pemikiran tajam, mereka juga enggak bisa melindungi anaknya. Zaman kita kecil, orang tua enggak terlalu protektif terhadap aktivitas offline.
20:57 Kita nyebrang jalan, ketemu sapi, bemo, Metromini, dibiarin aja. Kita terbiasa. Tapi sekarang orang tua lebih takut sama aktivitas offline anak, "Nak, jangan nyeberang, hati-hati, ada ini, ada itu," tapi enggak peduli dengan apa yang anak lihat secara online. - Betul sekali. - Mohon maaf, kalau lihat Indonesia, mayoritas rumah tangga enggak punya pendidikan S1. Gua mau coba jemput poin lo tentang pendidikan di sekolah. Skalabilitasnya lebih bisa dipertanggungjawabkan di sekolah, karena guru berhadapan dengan 20-200 murid,
21:42 orang tua mungkin cuma dua atau tiga anak. Skalabilitasnya lebih bisa dipertanggungjawabkan di sekolah, kan? Dalam batas intuisi aja, gua mending investasi di guru kalau gua tahu orang tuanya enggak punya pendidikan S1. Gurunya harus sangat berkualitas. Lo beruntung sekolah di PL, ITB, Saint Gallen, tapi banyak sekolah di Indonesia gurunya digaji 2,6 atau 2,8 juta, yang honorer cuma ratusan ribu sebulan. Di Singapura gaji guru 40 juta per bulan, di Malaysia 30–40 juta, di Tiongkok 30–40 juta, di Korea Selatan 40–50 juta. Kelihatan hasilnya di Singapura, di Tiongkok, di Korea Selatan.
22:32 Ini harus disikapi kalau kita peduli sama masa depan anak-anak dan cucu-cucu kita. Gimana pandangan lo soal guru? - Tentu, di luar orang tua, peran guru itu sangat besar. Saya sendiri merasakannya. Sampai sekarang saya masih ingat beberapa guru yang punya pengaruh besar terhadap saya. Apakah dari segi tekad dan keterampilan. Peran guru bukan cuma mengajarkan konteksnya.
23:24 Saya ingat guru seperti di Pangudi Luhur, SMP kita ini, Pak Theo. Inget, kan? Sejarah dan ilmu bumi. Cara dia menerangkan itu berkesan banget. Nah, hal-hal seperti itu yang sangat penting. Seperti Bro bilang tadi, kualitas guru itu bukan cuma soal dia hafal semua atau bisa menjabarkan materi, tapi cara dia menerangkannya. Saya masih ingat banget waktu dia cerita satu kasus di mana sesuatu bisa memicu perang. Tapi cara dia menjelaskannya itu yang benar-benar kena, imajinasi bisa jalan, itu yang penting. Jadi buat pendidikan, guru dan dosen juga harus mempersiapkan,
24:20 tapi kalau gajinya pas-pasan, kemampuan ekonominya terbatas, tentu pikirannya enggak bisa 100% fokus ke sana. Makanya profesi guru itu pekerjaan yang sangat mulia. Kita dari kecil diajarin itu. Mungkin konsep itu sekarang agak memudar, ketutup sama yang online Saya setuju soal itu. Saya bukan ahli pendidikan, tapi sebagai seseorang yang merasakan pentingnya pendidikan, saya benar-benar dukung. Kemarin saya dan istri juga terlibat dalam satu yayasan yang fokus
25:10 di pendidikan anak usia dini. Salah satu alasannya karena di usia itu perkembangan otak sedang sangat pesat, otak itu seperti spons. Kami baru saja meresmikan sekolah yang ke-40 di Jawa Tengah. Fokusnya di situ. Kita harus ngobrol sama gurunya. Ada teman yang bertanya soal bagaimana anak-anak sekarang sudah pakai gadget. Rupanya anak-anak umur itu sudah diberi gadget, saya kaget juga. Seperti Bro bilang tadi, tugas guru salah satunya adalah melengkapi orang tua.
25:59 Di banyak desa di Jawa Tengah, orang tuanya kebanyakan petani, atau salah satu kerja di kota atau di luar negeri. Jadi kadang orang tuanya enggak lengkap. Kita berdua beruntung punya orang tua yang selalu hadir. Tapi banyak yang karena masalah ekonomi atau berbagai macam hal, mungkin adanya satu [orang tua] Jadi dalam konteks itu, peran guru jadi sangat penting. Apalagi sekarang banyak anak umur 5–6 tahun sudah dikasih ponsel? karena orang tuanya sibuk. Dikasih untuk melengkapi...
26:47 Tapi memang kontennya dikontrol. Tapi yang scroll kan bukan gurunya, anaknya sendiri. Seberapapun bisa dikontrol, pasti tetap ada konten yang tidak tepat buat mereka. - Iya. - Itu melengkapi apa yang bro bilang tadi. - Gue enggak terlalu ngalamin Pak Teo karena drop out dari PL, tapi gue masih ingat banget guru-guru seperti Pak Prayogo dan Pak Parsudi. Mereka punya cara mengajar yang entah gimana bisa nempel. Waktu kelas 3 SD di Budi Waluyo, ada guru yang ngajarin "mencongak". Caranya menyampaikan pertanyaan itu bisa mengkatalisasi imajinasi.
27:34 Gue selalu bilang ke anak gue, ke teman- teman, ke murid-murid gue, formulasi itu enggak sepenting imajinasi dalam pendidikan. Tapi balik lagi ke isu kompensasi. Gue enggak yakin kalau kompensasi guru cuma dua koma sekian juta per bulan, talenta terbaik bakal mau jadi guru. Mereka mungkin lebih pilih kerja di Amazon, di mana gajinya bisa puluhan atau ratusan juta, walaupun dia ada keinginan bersumbangsih di daerah. Kalau kesejahteraannya enggak terjamin, dia tetap harus menafkahi keluarganya.
28:21 Gue yakin banyak orang yang terpanggil untuk ngajar, tapi kendalanya, dia mungkin enggak bisa naruh makanan di atas meja. - Iya. Setuju. Zaman dulu mungkin kompetisi antara guru dan profesi lain masih lebih terbatas. Sekarang jauh lebih banyak kesempatan. Kelihatannya banyak kesempatan, walaupun realitanya belum tentu semua orang bisa mendapatkannya. Saya sangat setuju bahwa kualitas dan kesejahteraan guru
29:14 harus benar-benar diperhatikan secara serius. Negara-negara lain seperti Tiongkok dan India contohnya, hasilnya sudah kelihatan. - Tiongkok bisa menghasilkan 4 sampai 4,5 juta lulusan STEM setiap tahun, Makanya mau digampar apapun, gimanapun oleh Amerika, dia bisa membuahkan chip yang hampir secanggih TSMC. India sekitar 2 sampai 2,5 juta STEM setiap tahun. Tadi kita ngobrol tentang mengenai IIT dan segalanya, lo tinggal di India 3 tahun, Lo ngelihat lah dengan mata kepala sendiri.
30:01 Indonesia baru sekitar 250 ribu produk STEM setiap tahun. Asia Tenggara 750 ribu. Gua mau coba tarik ke narasi atau retorika yang sering kita dengar mengenai bonus demografi. Bonus demografi ini terkait dengan orang yang usianya 39 tahun ke bawah, atau 29 tahun ke bawah. Tapi yang paling konservatif itu di 15 tahun ke bawah. Di Indonesia itu ada 24% populasi kita, atau kurang lebih 70 juta orang, Kalau mau konversi setiap orang dari 70 juta itu menjadi produk STEM, karena kita mau merangkak di rantai nilai supaya lebih produktif. Kita mau merangkak di tatanan geopolitik supaya lebih relevan.
30:48 Itu butuh hampir 300 tahun, bro. Kalau cuma bisa memproduksi 250 ribu produk STEM. Tapi di Asia Tenggara itu pendekatannya 40 %. Jadi, seratus mahasiswa masuk kampus. Yang paling nyata itu konversi di Malaysia. Mereka bisa mengonversi 40% jadi produk STEM. Nah, balik lagi ke kolam usia di bawah 15 tahun—ada sekitar 70 juta. Kalau diambil 40%-nya, berarti ada sekitar 28 juta. Kalau kita hanya bisa mengonversi 250.000 per tahun, butuh 110 tahun. Nah, menurut gue, denominator-nya harus dinaikkan. Itu keniscayaan dan keharusan. Mau tidak mau, minimal satu juta untuk negara sebesar Indonesia. Kalau bisa menghasilkan satu juta produk STEM per tahun,
31:35 syukur-syukur dalam 28 tahun, 40% dari 70 juta itu bisa jadi orang-orang berkapasitas tinggi. Kalau enggak, gue agak khawatir, karena lihat saja India dan Tiongkok. Jumlah kampus di Tiongkok hanya sekitar 2.600 dengan 39 juta mahasiswa. Asia Tenggara punya 8.000 kampus dan 19 juta mahasiswa, tapi produk intelektualnya nyata di Tiongkok. Kita setiap hari mengonsumsi setiap hari—dari yang ada di saku, di dompet, dan segalanya. - Mobil listriknya. Sudah nyata. Dan ini risiko sistemik: kita akan terus menjadi konsumen, bukan produsen.
32:28 Itu tidak boleh diremehkan. Kecuali kalau kita betul-betul berani berinvestasi pada kualitas guru yang keren dan mengonversi sebanyak mungkin jadi produk STEM. Belum lagi di level vokasi, anak-anak umur 15 tahun, hasil tes PISA-nya, Indonesia ada di peringkat 69 dari 81 negara. Di Asia Tenggara, hanya dua negara di atas rata-rata dunia—Singapura dan Vietnam. Kenapa tidak bisa semua negara ASEAN di atas rata-rata dunia? Karena ini nyambung dengan pendidikan vokasi. Kalau mau bangun pabrik, tapi PISA-nya enggak berkenan, enggak bisa naruh sekrup seperti yang dilakukan di Singapura, Tiongkok, atau Vietnam.
33:14 Gimana bro? - Setuju sekali. Contoh yang tadi, soal STEM. Dari segi proporsi penduduk, misalnya, Tiongkok sekitar lima kali lipat Indonesia, tapi rasio lulusan STEM-nya sebelas kali lebih banyak. Jadi secara proporsi, kita hanya sepertiganya. Di seluruh Asia Tenggara juga situasinya mirip, hanya Singapura dan Malaysia yang punya keunggulan tersendiri. Dan satu hal penting, bukan hanya jumlah tapi juga kualitas. Barometer angka dan kualitas ini dua-duanya harus jalan.
34:02 Jadi ke depan, pendidikan STEM— Dan juga ini salah satu yang banyak berubah, generasi 5, 10, 15 tahun terakhir, terutama kalau sekolah ke luar negeri, misalnya ke Amerika, di sana ada liberal arts, saya tidak yakin jurusan itu ke depan —terlalu umum dan terlalu lama. Kemarin saya sempat ngobrol dengan teman di Singapura, salah satu fund manager yang sangat sukses. Dia minta saya bantu diskusi soal bagaimana mempersiapkan lulusan ke depan.
34:59 Banyak yang sudah kuliah empat tahun, orang tua capek membiayai, tapi begitu lulus, enggak banyak peluang karena jurusannya tidak tepat. Pertanyaannya, apakah sekolah, terutama universitas masih perlu dengan adanya AI, gimana cara strukturnya ke depan Apakah model yang lama masih bisa jalan atau enggak? Saya juga tidak tahu jawabannya, tapi secara intuitif, kelihatannya memang harus ada perubahan. Makanya, kualitas guru jadi sangat penting, karena harus mampu menyerap pelatihannya segala macam,
35:44 Mulai dari SD, SMP, SMA—semua ke depan akan ada modifikasi. Dulu kan ada mata pelajaran hafalan, ilmu pasti, matematika, segala macam. Subjek hafalan itu ada karena— kalau kita mau cari datanya, harus ke perpustakaan, cari buku, jadi ada yang harus kita hafalin. Sekarang, tinggal buka ChatGPT atau platform lain, data itu keluar, bahkan langsung dianalisis. Jadi, apakah hafalan masih perlu? Atau bentuk hafalan seperti apa yang relevan? Jadi kembali lagi, entah dalam bentuk STEM
36:31 atau bidang lain seperti pariwisata dan alam— Indonesia punya banyak potensi, bisa sekolah yang menekankan itu. Tapi bagaimana pendidikan yang tepat dan subjek yang relevan. Ini semua akan terus berkembang dan berevolusi dengan cepat. Saya sepenuhnya setuju. Gue tetap berhipotesa bahwa secepat dan sejauh apa pun inovasi teknologi, anak muda tetap harus menguasai STEM,
37:19 karena untuk mengawal inovasi teknologi, kita perlu memahami inovasi teknologinya. Selain itu, anak muda juga harus bisa berpikir kritis— menginvestigasi ulang apa yang dianggap benar selama ini. Aksioma, asumsi, prasangka—semua harus bisa ditelaah ulang. Menurut saya, bangsa atau peradaban apa pun yang bisa maju adalah mereka yang bisa mengombinasikan kekuatan inovasi dengan kekuatan preservasi. Dan ini secara struktural membutuhkan keterbukaan.
38:07 Di level orang tua, guru, ustaz, pendeta, biksu, bos di kantor, kepala sekolah—kepemimpinan institusi sosial harus membudayakan agar kita selalu ada keterbukaan untuk mengombinasi kekuatan inovasi dengan kekuatan preservasi. Tanpa itu, mediokritas bisa jadi risiko. Gue melihat bagaimana Tiongkok sejak Deng Xiaoping tahun 1978 sampai sekarang menunjukkan keterbukaan yang luar biasa. Lee Kuan Yew di Singapura juga menunjukkan keterbukaan luar biasa sejak tahun 60-an, dan itu konsisten. Bagaimana Lee Kuan Yew menanamkan hanya tiga atribut:
38:54 kompetensi, integritas, dan akuntabilitas. Lu mau salah, lu harus ngaku. Tapi kalau lu benar, lu juga bakal dikasih penghargaan. - Meritokrasi. - Betul. Nah, gimana, Man, kita ngobrol yang normatif aja. Untuk bangsa seperti Indonesia, atau peradaban mana pun, apa sih yang harus diinvestasikan supaya ada keterbukaan? - Ya, saya pikir ini mungkin sedikit menyimpang ya. Kayak kemarin, bulan November tahun lalu, saya ikut satu konferensi yang isinya banyak entrepreneur sukses dari daerah sini.
39:44 Ada satu sesi waktu santai, ada pertanyaan trivia yang dilempar untuk voting. Jadi ada tiga perusahaan teknologi — Nvidia, Microsoft, dan satu lagi saya lupa. Waktu itu pasar lagi bagus banget. Pertanyaannya, dari tiga perusahaan ini, mana yang paling overvalued, artinya harganya sudah kemahalan karena waktu itu, dan sampai sekarang, kan hype banget soal Nvidia. Hampir semua orang menjawab bahwa Nvidia sudah kemahalan.
40:30 Saat itu market cap-nya sekitar 2,5 sampai 2,8 triliun. Apalagi sekarang. Tapi menariknya, orang-orang ini, para entrepreneur sukses dari berbagai bidang, hampir gak ada yang menjawab Nvidia akan naik lagi. Mereka bilang kemahalan. Ini menunjukkan bahwa, seperti yang tadi Anda bilang, mengerti apa sih inti dari hal ini. Terus terang, saya juga baru... Karena saya pikir, ini kan perusahaan cip kaya Intel, Intel aja sekarang ketinggalan jauh, begitu juga AMD. Apa sih yang membuat Nvidia?
41:15 Tapi ternyata, strateginya— Jensen Huang ini sudah lama banget di Nvidia, tapi dia punya visi 20 tahun, dan dia bertahan. Kalau kita lihat harga saham Nvidia selama periode ketika Microsoft, Apple, dan lain-lain naik, Nvidia gak ke mana-mana. Baru sekitar 8–10 tahun terakhir dia benar-benar bergerak, dan luar biasa pergerakannya. Dari awal Jensen fokusnya di gaming dan grafik, lalu pelan-pelan dia transformasi perusahaan itu. Tapi yang hebat, dia melihat bukan hanya soal hardware, tapi juga software
42:05 — mendidik manusia. Itu yang dia kombinasikan jadi satu produk yang sangat kuat, sampai akhirnya Nvidia jadi perusahaan pertama yang tembus market cap 4 triliun dolar — angka yang gila banget. Jadi, kembali ke poin tadi: masa depan itu sangat tidak bisa diprediksi, penuh ketidakpastian. Makanya kembali ke dasar itu penting banget. Kadang saat kita merasa tersesat, merasa “wah ini udah kejauhan buat saya, udah terlalu di awang-awang,” sebenarnya enggak. Karena kita bisa lihat pelajaran dari orang seperti Jensen.
42:51 Dia investasi dan bertahan 20 tahun karena percaya ini benar. Pendidikan juga sama. Kita bakal ngalamin benturan sana-sini, tapi kita harus melihat ke depan bahwa ini yang benar. Selama dasarnya benar. Tadi kan dibilang ada berita palsu, Masalahnya, bagaimana menyortir. Kita masih bisa lihat karena kita banyak tahu. tapi saya ga begitu yakin ke depan segampang itu untuk melihat. Bagaimana menyortir supaya tahu mana yang benar. Karena AI sendiri bisa menciptakan sesuatu yang kelihatan nyata padahal palsu,
43:42 entah wajah orang, entah peristiwa yang digabung-gabung. Jadi menurut saya, ini hal yang penting banget dimasukkan ke dalam pendidikan dan proses berpikir ke depan, dan tugas siapa? Pemerintah, swasta, individu, organisasi tertentu? Saya rasa semuanya. - Gua ada beberapa kekhawatiran tentang AI, Saya coba angkat dalam batas wajar. Yang paling struktural itu keterbatasan energi, terutama di negara-negara global south, negara-negara berkembang dan miskin, yang mencakup 84% dari planet.
44:29 Pendapatan di bawah 13.250 dolar per tahun. Mereka daya energinya kurang. Banyak yang gak tahu kalau pakai ChatGPT, DeepSeek, Gemini, atau Grok, konsumsi energinya 10 sampai 50 kali lipat dibanding Google Search. Gue juga kebetulan di dunia perfilman, dan kami pakai platform seperti Sora untuk menghasilkan gambar canggih lewat AI itu 10.000 sampai 50.000 kali lipat. Jadi dari situ aja kita udah bakal nabrak tembok. Elektrifikasi per kapita di Indonesia cuma 1.300 kW.
45:15 Sementara di Singapura, Brunei, Amerika, Tiongkok itu 10.000 kW. Gua selalu hitung, kalau kita mau jadi negara modern, elektrifikasi per kapita harus naik dari 1.300 ke 6.000. Untuk itu, kita harus bangun 400.000 MW. Tapi sekarang kita cuma bisa bangun 3.000 sampai 5.000 per tahun. Artinya butuh 120–130 tahun, belum lagi biayanya. Butuh sekitar 1 triliun dolar. Dan kita juga terbatas dalam menarik modal dari luar. Ini realisme yang harus masuk dalam narasi. Kalau kita mau memajukan diri lewat AI, ya bakal mentok karena dayanya gak cukup
46:04 Tiongkok dan Amerika udah gila-gilaan. Gua kebetulan beberapa tahun terakhir di sana. Di Amerika aja, grid yang sudah terbangun 1.300 gigawatt, dan waiting list untuk masuk ke grid itu 2.600 gigawatt. Artinya mereka udah mikir untuk meningkatkan elektrifikasi per orang dari 10.000 ke 20–30.000, sementara kita masih mati-matian mau naik dari 1.300 ke 6.000. Itu aja butuh waktu lama dan biaya besar. Jadi, AI itu niscaya akan mengelitisasi—mohon maaf. Hanya institusi, negara, dan bangsa tertentu yang bisa menikmatinya. Negara berkembang mungkin cuma jadi penonton,
46:52 bukan karena keterbatasan kognisi, tapi karena keterbatasan daya. Gimana menurut lo? - Saya pikir itu topik yang sangat kompleks. Lo tadi ada dua atau tiga poin. Pertama, kesenjangan antara orang atau negara yang sudah maju dan punya sumber daya besar, dan yang belum punya. Itu salah satu realita.
47:38 Bagaimana cara menantangnya, itu perlu pemikiran mendalam. Kadang kalau kita mau bersaing dengan seseorang atau institusi mana pun, kita punya kelebihan, dia juga punya kelebihan. Kelebihannya dia adalah bahwa dia punya infrastruktur dan uang, seperti Amerika dan negara-negara di Eropa. Tapi kita juga mempunyai kelebihan tersendiri. Kadang kita enggak perlu frontal dengan mereka, kita bisa cari di mana... Contohnya, kita punya laut yang sangat besar sebenarnya.
48:24 Saya sering dengar bahwa potensinya masih jauh di bawah output sebenarnya. Jadi apa pun yang bisa dilakuin. Orang, biar pun misalnya makan ikan, tetap pengin datang ke daerah tropis. Jadi mungkin salah satu ini. Saya sepenuhnya setuju — dan kembali lagi ke hal-hal mendasar. Kayak misalnya saya melihat ayah saya. Kalau dia melihat, “Wah, saya dari desa,” tapi dia selalu bilang, “Saya bisa.” Jadi seperti yang lu bilang tadi, kita harus punya target, punya cita-cita, dan bilang, “Saya bisa,” tapi realistis, dengan strategi bahwa, oke, saya gak akan coba bertarung di bidang AI,
49:11 tapi saya akan bertarung di tempat lain, di area yang justru mereka susah bersaing. Dan semua orang, semua negara, semua daerah punya kelebihan dan kekurangan. Kita pakai kelebihan kita itu. Jadi mungkin dari segi strategi. Tapi balik ke poin tadi, memang AI itu dari sisi energi dan pengembangannya— Sekarang orang pelan-pelan mulai paham apa sih sebetulnya ini kan baru tahap awal banget. Saya juga bukan ahlinya, tapi kita sudah bisa lihat tanda-tandanya, arahnya ke mana.
49:57 Makanya persiapan bagaimana memanfaatkan ini sekaligus menangkis Menangkis supaya bisa balik smash-nya dan tetap bermain. Itu bagian dari pembahasan penting untuk kita bersama. Apakah dalam struktur Indonesia atau ASEAN— saya tahu Bro juga baru rilis buku tentang ASEAN. Jadi kalau dilihat dari sisi kompetensi, contohnya sederhana, Saya sekarang lebih banyak fokus di ASEAN aja,
50:43 karena jujur capek juga traveling terlalu jauh. ASEAN tuh kayak kampung halaman. Tapi lucunya tahu gak? Misalnya kemarin saya rapat di Manila, mau ke Indonesia aja tuh susah banget cari flight, padahal kan sama-sama... cuma ada 2 maskapai. dan jamnya aneh-aneh. Itu baru satu contoh — kayak traveling dari Phuket ke Bali, atau Phuket ke tempat lain. Jadi konektivitas kita— Kita punya kelebihan — penduduk 700 juta, dan banyak wisatawan datang. Thailand punya lebih banyak dari kita. Pakailah itu. Kita sama-sama, entah ke Indonesia, atau Malaysia.
51:31 Konektivitas antarnegara ASEAN ini supaya kita sama-sama kuat. Kita punya kelebihan yang AI gak bisa gantiin. Orang yang mau traveling, mau lihat matahari, mau duduk di pantai — ya datang ke sini. Udara juga cukup... Jadi menurut saya banyak hal yang tetap... Dalam konteks AI — bagaimana kita menggunakan. Saya lihat anak-anak sekarang bisa 8–10 jam di depan ponsel. Kalau mereka menggunakan waktu yang sama tapi bukan untuk di Instagram, Lebih banyak lagi, kan? Jadi penggunaan yang cerdas juga penting,
52:18 karena apa pun yang kita lempar ke sana... - Tapi tetap harus ada yang mengawasi. Dan ini secara medis sudah terbukti berkorelasi dengan depresi, kecemasan, bunuh diri. Saya mau angkat beberapa poin. Lu ngomong soal ASEAN beberapa kali. Di buku gue mengadvokasi untuk dipertimbangkan revisi terhadap semangat dan substansi yang ada di charter ASEAN sebagai organisasi. Karena secara historis, terlihat banget ada divergensi pendidikan, kualitas pendidikan di Laos, Kamboja, Myanmar, Indonesia itu beda satu sama lain, dan sangat beda dengan apa yang ada di Singapura.
53:05 Singapura, menurut saya, luar biasa. PISA-nya nomor satu di dunia, dua universitasnya masuk top 20 dunia. Nah, divergensi pendidikan ini sangat berkorelasi dengan divergensi ekonomi. Kelihatan dalam 50–60 tahun, Perkembangan Singapura dari bukan apa-apa menjadi 91.000 dolar per orang per tahun. Laos, Kamboja, Myanmar sekitar 2.000, Indonesia 5.000, Malaysia 12.000, Filipina 3.000. Ini sangat bisa dihipotesiskan bahwa divergensi pendidikan berkorelasi dengan divergensi ekonomi. Yang gue advokasikan: kenapa gak kita revisi aja semangat dan substansi yang ada di charter ASEAN?
53:52 Jiplak aja sistem pendidikan Singapura ke negara-negara lain. Karena kalau kita tergantung pada pemimpin masing-masing negara, mungkin ada harapan, tapi lebih lambat. Tapi kalau ada unsur yang sedikit supranasional di ASEAN yang mengamanahkan, “Tolong teman-teman di Laos, Myanmar, Kamboja, Indonesia, tiru sistem pendidikan Singapura. Ambil yang bagus, yang jelek jangan.” Kasih waktu 5, 7, 8, atau 10 tahun. Jadi tuh barang kalo menurut gue. Karena contoh baiknya sudah ada. Dan menurut gua ini nyambung dengan kepentingan kita untuk naik di rantai nilai,
54:41 untuk naik di tatanan global. - Setuju. Dan mungkin baru tahu juga — waktu saya masih di pekerjaan lama, 25 tahun di perusahaan itu, salah satu alasan saya memilih bermarkas di Singapura, walaupun ada opsi di Hong Kong, tapi saya memilih secara sadar tetap mau tinggal di Singapura karena saya percaya Asia Tenggara punya sesuatu yang unik. Dan sebenarnya, banyak yang kurang paham soal ini di luar negeri.
55:26 Penduduk kita hampir 700 juta, hampir 10% populasi dunia. GDP, dari segi stabilitas termasuk paling stabil, dalam segi keamanan, terutama dalam 30–40 tahun terakhir. Perang besar terakhir itu kan Vietnam tahun 70-an, hampir 50 tahun lalu. Sejak itu kawasan ini stabil, pertumbuhan ekonominya bagus. Memang gak secepat Tiongkok yang bisa 10–12%, atau India yang sepuluh tahun ini bisa 7–8%, tapi stabil.
56:14 Jadi balik ke tadi, banyak produk dan sistem bagus dari sini. Singapura mempunyai kelebihan itu dengan pendidikan dan lain-lain. Kita bisa meniru. - Jiplak aja. Dan gini loh, lu ngomong populasi ASEAN 700 juta, sekitar 9% populasi dunia. Tapi jumlah buku yang pernah diterbitkan tentang Asia Tenggara cuma 375.000. Padahal total buku yang sudah diterbitkan di dunia sekitar 140 juta. Artinya, 375.000 itu cuma 0,26% dari total buku,
57:02 sementara populasi kita 9% dunia. Dari situ aja udah kelihatan: orang Asia Tenggara gak bisa bercerita. Gak bisa nulis. Dan mayoritas dari 375.000 buku itu ditulis oleh orang non–Asia Tenggara. Jadi mau gak mau, kalau Asia Tenggara mau maju, dia harus bukan cuma merangkul numerasi dan STEM, tapi juga literasi. Lu harus bisa baca, tapi juga harus bisa nulis. Dan syukur-syukur, harus bisa bercerita. Cerita lu akan sangat kaya kalau lu juga kuat dalam numerasi dan literasi. Dan ini saya coba kaitkan dengan profesi lu yang lama, selama ini mendatangkan modal dari titik A ke titik B.
57:49 Banyak negara berkembang di Global South gak bisa mentranslasi dari ketidakpastian (uncertainty) menjadi risiko. Modal itu suka risiko, tapi modal enggak suka ketidakpastian. Ketidakpastian itu kan "unknown unknown", risiko itu "known unknown". Risk itu cuma sejauh lu bisa ngasih probabilitas. Kalau lu atau teman lu bawa modal ke salah satu titik di tanah air, “Gua mau bangun pabrik di Papua,” lalu tiba-tiba orang di Merauke bilang, “Mister, ada 68% kemungkinan
58:38 listrik akan mati selama 2,5–3 bulan tiap tahun." Kalau listrik mati segitu lama, omzet lu mungkin turun 12%, bottom line turun 18%. Itu bisa dihitung: error lu levered atau unlevered berapa. “Masih cuan nih." Lempar tuh modal, bangun tuh pabrik. Itu risiko, karena bisa diukur, dikalkulasi, diprediksi, dan bisa diberi harga. Tapi kalau orang di tempat lain didatangi pemodal, "Eh, gua mau bangun pabrik di sini." Orang setempat hanya bilang, “Insyaallah mudah-mudahan nggak mati listriknya,”
59:25 Itu uncertainty. Makanya modal enggak masuk. Menurut gue, harus dididik sebanyak mungkin orang di Asia Tenggara supaya bisa mentranslasi ketidakpastian menjadi risiko. Orang Singapura paling piawai soal ini. Makanya FDI ke Asia Tenggara sekitar 200–230 miliar; dari situ Singapura tarik 100–140 miliar. Sedangkan Indonesia cuma sekitar 30-an miliar; Malaysia, Vietnam, Thailand, Filipina masing-masing 10–20-an. Gimana, lu gelisah lihat ini? - Gelisah tapi optimis sekaligus. - Gue net optimis. - Karena ini juga peluang. Ada sisi kultural juga.
1:00:16 Kita di Asia Tenggara cenderung pendiam. Di meeting besar, yang paling vokal biasanya negara seperti India Kita sendiri di Asia Tenggara mungkin ada unsur budaya. Di Indonesia juga ada pepatah, diam itu emas. Padi yang merunduk, merunduk artinya diam aja, Kultural itu juga penting, ini kembali ke pendidikan. Apakah penerjemahannya begitu, atau ada pendekatan yang baru?
1:01:03 Diam adalah emas, tapi bukan berarti diam aja, kan? Tetap aktif, tetap bisa menuangkan dalam buku dan sebagainya. Saya rasa faktor kultural memang ada pengaruhnya, tapi saya juga setuju bahwa faktor "unknown" di Asia Tenggara jauh lebih besar daripada beberapa tempat lain di mana mereka lebih jago promosi. Kalau lihat substansi, gue tetap optimis, karena barangnya bagus, orangnya baik, karena ada daerah-daerah lain yang orangnya lebih keras, yang menyelesaikan sesuatu dengan kekerasan,
1:01:49 kita selalu dengan musyawarah mufakat, yang mana sangat bagus. Bagaimana menggunakan nilai-nilai positif dan jangan pasif, Bagaimana kita cari investor, ini sebetulnya peluang yang sangat bagus. Saya lihat Asia Tenggara kurang terstruktur, selain Singapura. Struktur itu penting karena orang harus tahu perizinan, permodalan, dan segala macam. Saya rasa usaha sudah jelas banyak, tapi kesempatan untuk perbaikan selalu ada. Saya pikir itu bagian yang— Kembali ke ASEAN, saya pikir ini kawasan yang fantastis.
1:02:34 Waktu krisis 1998, saya baru bergabung Credit Suisse, mantan bos saya waktu itu baru dipromosikan jadi kepala di Eropa. Dia manggil saya, "Man, kamu kan bisa Bahasa Ceko, Eropa Timur lagi maju sekali, Ceko, Polandia, itu kan bahasanya mirip-mirip, kamu bisa." Saya hampir mengambil tawaran itu. - Menggoda banget itu. - Iya, kan? cuma saya pikir-pikir, bagaimanapun kawasan ini sangat menarik
1:03:22 Saya merasa saya pengecut kalau pergi ke luar. Ada dua gejolak batin. Yang satu bilang pengecut, yang satunya bilang ini kesempatan luar biasa. Tapi kebetulan ada satu klien yang sangat saya hormati, dia meminta saya menunjukkan dua huruf Cina. Saya tidak berbicara Mandarin, ini apa? Dia bilang, "Enggak, tenang-tenang, yang atas artinya krisis, yang bawah artinya peluang." Krisis itu sekaligus peluang untuk belajar bagaimana menghadapinya. "Kalau kamu ke sana kan enak, tapi terserah kamu, lah," katanya. Itulah poinnya, bahwa kekurangan bisa menjadi peluang.
1:04:13 Generasi muda terutama harus bisa menggunakan ini. Kalau kita kan sudah mendekati udzur. Belum mau uzur, tapi sayangnya sudah. - Banyak yang "denial". Tapi mengenai perdamaian, keamanan, dan segalanya, secara empiris, dalam 2.000 tahun di Asia Tenggara, angka kematian berdasarkan perbedaan opini atau pandangan yang nyambung dengan etnisitas, agama, atau kedaulatan itu enggak lebih dari sembilan juta, jauh lebih kecil dibanding Eropa sebanyak 190 juta. Perang Dunia Pertama dan Kedua aja udah 100 juta lebih.
1:05:01 Belum lagi zaman medieval, zaman Napoleon, zaman Byzantin, ya lu tambahin tuh jadi 190 juta. Dari situ udah kelihatan bahwa Asia Tenggara ini sangat diberkahi dan dibekali dengan perdamaian dan stabilitas. Tapi yang kurang adalah kognisi. Tinggal disuntik aja. Kalau kognisinya dinaikin, IQ-nya dinaikin dari 78,49 syukur-syukur bisa sama kayak rata-rata Yahudi Ashkenazi, 115. Jadi tuh barang. Itu bisa diobati, bisa disikapi, selama dari kecil sampai umur 9 tahun pembentukan otaknya benar. Pastikan orang tuanya ngomong yang benar, gurunya ngomong yang benar,
1:05:47 tempat ibadahnya ngomong yang benar, institusi sosial juga ngomong yang benar. Dari umur 9 sampai 16, pastikan ekosistemnya juga benar, karena IQ enggak berkembang lagi setelah umur 16. Tapi dari umur 16 ke atas, pastikan ekosistemnya membuahkan keterbukaan, supaya lu bisa belajar mengombinasikan kekuatan inovasi sama kekuatan preservasi. Sebetulnya resepnya gampang, kan? Budaya. Ini harus dibudayakan superlatif, perfeksionis. Lu ngomong orang India. Gua ngajar di Stanford udah hampir tiga tahun, dan kalau lagi ngajar, yang paling banyak angkat tangan itu orang India.
1:06:34 Padahal kalau gua jejerin orang Indonesia, Singapura, Hong Kong, Tiongkok, Jepang, Korea, sama India — kognisinya sama. Tapi yang paling jago ngomong itu orang India. Dan ini bisa diajarin, Bro. Iya kan? Gua enggak terima aja — kognisinya sama, tapi enggak tahu gimana yang satu ini [jago ngomong], dan ini dibudayakan. Gua pernah tinggal di India tiga tahun. Kalau si Vijay pulang ke rumah, dia lapor ke ibunya, “Mama, saya baru ngambil ujian fisika, nilai saya 9,8.” Langsung digaplok, “Vijay, Umar 9,9, tetangga kita.” Jadi diadu terus. Daya dan persaingannya selalu disuntik di rumah tangga,
1:07:29 belum lagi kalau sekolah di IIT—yang daftar jutaan, tapi diterima cuma ribuan. Terus kerja di Tata, Reliance, atau perusahaan besar lain, dijejerin sama orang-orang yang kognisinya tinggi, skill omongnya juga tinggi. Itu mungkin enggak sih di Asia Tenggara? - Memang balik ke poin tadi, pembentukan watak dasar itu butuh proses. Dan secara budaya, dari kecil udah kebentuk begitu. Tapi yang penting, jangan ninggalin hal-hal yang bikin kita unik.
1:08:17 Tapi kalau unik dalam arti diam aja— Ada hal-hal yang mesti dibenahin. Termasuk di sekolah. Saya enggak tahu persis, tapi saya rasa di sekolah kita... Di Asia Tenggara umumnya, bukan cuma di Indonesia, Apakah proses pendidikan kita benar-benar aktif? Apakah siswa didorong buat tunjuk tangan atau debat di kelas? Karena kalau itu dilatih dari awal, begitu mereka lulus dan kerja, mereka bisa lebih aktif mengeluarkan ide —bukan karena mau sombong, tapi karena merasa punya sesuatu untuk disampaikan,
1:09:07 dengan struktur yang baik. Saya sendiri waktu di Zurich hampir 8 tahun, saya mungkin salah satu yang paling tidak banyak ngomong. Untungnya orang Swiss enggak banyak ngomong, jadi yang ngomong yang lain-lain. Tapi ternyata hal itu positif juga. Saya juga waktu itu mikir, saya nggak langsung "bagus" ... tapi ternyata bisa juga menjadi sesuatu yang positif. Saya menunggu momen yang tepat lalu ngomong dengan dalam dan terstruktur,
1:09:54 langsung orang diam, kan. Kadang-kadang ada yang cuma ngulang apa yang kamu bilang, tapi di dalam rapat terutama, saat ada masalah mendesak, ada orang yang cuma pengen tunjuk tangan supaya kelihatan dia ngomong. Tapi kadang dengan menunggu waktu yang tepat, menyampaikan dengan dalam dan tepat, itu solusi yang baik dengan niat yang baik. Saya percaya manusia bisa disentuh lewat sisi lembutnya. Itu kekuatan kita di Asia Tenggara —bisa menyentuh hati orang. Waktu acara peresmian sekolah ke-40 di Solo, ada teman dari Australia, dia sering ikut acara serupa.
1:10:44 Dia sudah pensiun ikut Rotary. Rotary banyak membangun sekolah di Kamboja dan tempat-tempat lain. Dia bilang, “Saya berterima kasih kamu undang saya.” Saya bilang, “Ah, enggak masalah, saya yang berterima kasih." Tapi dia bilang, “Serius, saya sudah pergi ke banyak tempat, saya pergi ke sekolah di negara lain di Asia Tenggara yang juga kurang mampu. Bedanya di sini, orangnya tulus. Saya bisa lihat dari wajahnya, dari cara guru bicara, semangat murid-muridnya, itu beda.” "Ini hal positif, kamu harus manfaatin ini.” Dan itu nempel di kepala saya.
1:11:29 Karena selama ini saya fokus di Indonesia aja, jadi enggak sadar perbandingannya. Tapi dia bilang, “Kamu harus manfaatkan, karena kalau saya mau berdonasi, dua-duanya perlu—tapi kalau dengan hati, itu jadi pembeda.” Mungkin itu kekuatan kita di Asia Tenggara, terutama Indonesia. Kita punya budaya, tapi kalau enggak bisa kita tunjukkan, orang enggak akan tahu. Dia tahu karena dia datang. Mudah-mudahan dia cerita sama teman -temannya lalu datang lagi. Itulah salah satu nilai positif kita di sini. Ini, bersama dengan berbagai peluang tadi.
1:12:15 Jadi kadang sesuatu yang kelihatan kayak kelemahan, bisa diubah jadi kekuatan. Kayak saya di board, misalnya—saya bukan orang yang banyak omong, - Tapi lu dikenal menyelesaikan kerjaan. Gua juga bukan nganjurin orang untuk jago ngecap, tapi lu harus tahu waktu yang tepat juga. - Bener banget. - Kombinasi dua tadi. - Betul. - Kembali ke poin tadi, kan. Bahannya udah bagus, gimana caranya memanfaatkannya, supaya orang melihat sendiri. - Tapi kalo lo enggak ngomong sama sekali, orang enggak akan mengakui kinerjanya. - Kembali lagi, bagaimana cara nerangin supaya enggak salah pengertian,
1:13:00 "diam itu adalah emas," dan tetap dipakai dalam konteks yang benar, kan? - Gua pertama kali ke Stanford September 2022. Yang diterima oleh Stanford cuma satu orang Indonesia. Gua gemes banget, sampai gua gebrak meja. Gua duduk sama presidennya beberapa kali, akhirnya dia bisa menerima kenyataan dan keluhan. - Menurut lu kenapa? - Tahun 2023, kalo menurut gua kurang persiapan. Kan harus ngambil SAT, itu bisa dilatih. Gua enggak percaya itu adalah soal bakat, itu skill yang bisa diakuisisi. Lu ngerjain "practice exam" delapan jam sehari selama tiga bulan, pasti bisa.
1:13:51 Dan alhamdulillah, tahun lalu 20 orang diterima. Tahun ini hampir 20 juga. Tapi kalau dilihat kumulatif, total orang Indonesia di sekolah kayak Stanford cuma sekitar 40-an. India ribuan, seribu lebih. Tiongkok juga seribu lebih. Di Amerika, di seluruh kampus ada sekitar 350.000 mahasiswa India, 350.000 dari Tiongkok daratan. Indonesia cuma 8.500. Di Inggris cuma 4.000 orang Indonesia. - Cuma 4000? - Cuma 4000, bro. Yang paling banyak di mana? Malaysia—23.000 orang Indonesia.
1:14:38 Gua bukan direktur pemasarannya Inggris sama Amerika, tapi peringkat sekolah di sana masih bisa dipertanggungjawabkan. Selama sekolah-sekolah di Asia Tenggara, kecuali Singapura, masih di bawah tingkat global atau persentil atas, lo harus nyari sekolah yang terbaik untuk generasi penerus. Gua mau tarik ke asal-usul bokap lu, sama lu. Yang bikin bokap lu sukses, menurut gua, itu ambisi, imajinasi, dan keberuntungan. Lu mau seambisi dan seimajinatif apa pun, tapi kalau enggak hoki, ya enggak bakal dapat beasiswa ke Ceko.
1:15:27 Begitu juga lu—udah ambisius, udah imajinatif, tapi kalau enggak hoki, enggak bakal jadi pemimpin di organisasi mana pun. Menurut gua, bisa disuntik dalam skala besar. Kenapa enggak kita gaji aja guru 40 juta sebulan? Gua sempat bilang di satu forum, kalau kita gaji guru 40 juta sebulan dan punya 100.000 guru yang brilian—yang bisa berpikir, nyuntik imajinasi, ambisi, dan bisa bercerita— itu cuma 4 triliun sebulan.
1:16:12 100 ribu kali 40 juta. Ya, kalo lo bisa pertanggungjawabkan bahwa itu bisa berkorelasi dengan peningkatan kecerdasan di kelurahan terkait, kesejahteraan kelurahan terkait, distribusi barang publik di kelurahan terkait, ya lo bisa ekspansi itu, percontohannya dari 100.000 ke 200.000, 500.000. Guru ada 3 juta lebih di sini. Tanpa penyikapan seperti itu kayaknya agak berat, Bro, untuk kita bisa naik kelas. Dan anggaran pendidikan kita 700 triliun. Kalau 4 triliun sebulan untuk 100.000 guru, gaji 40 juta masing-masing,
1:17:00 itu 48 triliun setahun. Kita mampu kok. Satu lagi, yang merekrut guru itu bukan Kementerian Pendidikan tapi justru PAN RB, kementerian yang lain, dan itu mereka merekrut dengan kriteria yang mereka tentukan. Terus begitu mereka merekrut, disiram ke daerah. Iya kan? Gue optimis loh bahwa kalau ada langkah-langkah seperti yang tadi gue sampaikan, disikapi aja, jadi ini barang. Iya, kan? Nah, ini perlu digaungkan, dibudayakan di level apa pun — di rumah tangga, sekolah, kantor, tempat ibadah, institusi sosial,
1:17:48 atau lo lagi dugem kek, lo lagi ngopi kek — obrolin aja ini. Jadi nih. Mungkin enggak dalam 6 bulan, tapi dalam 6 tahun, 10 tahun, atau apa. Kita nih beruntung jadi produk dari orang tua dan sekolah seperti PL. Iya, kan? Gue enggak lupa hampir digebukin berapa kali sama guru, tapi itu membentuk karir gue, dan syukur-syukur lo juga. Yang pasti lo lah. Gimana, Bro? Imajinasi, ambisi, dan keberuntungan. - Ya, tadi saya sebut di awal juga karena gue juga ngerasa dari segi keberuntungan, enggak ada pertanyaan lah.
1:18:40 Orang tua, kesempatan, masuk sekolah yang bagus. Seperti Bro bilang, saya sebenarnya produk lokal. Begitu selesai pulang dari Ceko ke sini, kan rekan-rekan ITAS, SMP kita yang merayakan Lustrum ke-60 hari ini. Terus habis itu gue ke Medan, ke SMA di Medan 3 tahun, terus ke ITB. Semua lokal. Dan setelah itu saya sebenarnya enggak punya pendidikan formal lain. Saya banyak baca, banyak belajar, dan saya suka belajar dari pengalaman kerja. Itu penting banget. Dan ya balik ke tadi, tanpa guru-guru di SD, SMP, SMA, di ITB juga,
1:19:34 dasar-dasar tadi... melengkapi dari orang tua dan lingkungan. Teman-teman juga punya pengaruh positif. Itu semua membentuk. Jadi buat saya, saya selalu merasa bersyukur diberi kesempatan. Makanya salah satu hal penting yang perlu ditanamkan, kalau kita sudah punya kesempatan, pakailah kesempatan itu. Jangan dihambur-hamburkan, jangan dibuang-buang. Itu yang penting untuk ditanamkan. Balik ke poin lo soal guru-guru. Menurut gue ini masalah yang kompleks karena kalau bicara 3 juta guru, apakah 100.000 dulu atau 200.000 dulu, tapi mulai dengan sesuatu dulu.
1:20:21 Coba dulu, karena kita tahu apa pun yang dicoba itu baik. Apakah nanti cakupannya baru 30%, 70%, itu urusan belakangan. Kadang-kadang kalau sesuatu kelihatannya besar, orang suka kewalahan, makanya kayak yayasan yang saya dukung, cuma 40 sekolah, tapi harus dimulai. Kalau semua orang ngerjain hal-hal kayak gitu kan bagus. - Lo ngerekrut guru di PAUD itu gimana tuh? Nah, saya belajar ini dari satu organisasi lagi yang saya [terlibat]
1:21:07 namanya Yayasan Ars 86 Care. Ini teman-teman istri saya, anak-anak arsitektur Parahyangan 86 ngumpul dan merasa terpanggil, dan yayasan ini udah 20 tahun berdiri. Saya mendorong dan bantu dari sisi lain-lain, tapi ide awalnya dulu datang dari Room to Read. Waktu itu kami membangun sekolahnya... Room to Read itu sangat besar, organisasi global. Kebetulan saya chairman untuk Asia Tenggara. Mereka itu selalu memastikan kalau kita mau bantu terutama di desa, harus ada partisipasi besar dari desa itu. Jadi jangan cuma dikasih, harus ada ekosistemnya.
1:21:59 Sangat mirip dengan poin kamu. Gurunya sudah ada, kurikulum sudah ada—kita enggak sentuh itu. Yang kita bantu itu memperbaiki ruangannya. Kalau Bro lihat, sedih juga lihat beberapa PAUD karena di Indonesia tidak disentuh anggaran pemerintah, hanya desa. Jadi kalau desanya kurang mampu. Beberapa sekolah yang kita renovasi bener-bener renovasi penuh— atap bocor, anak kecil ke toilet cuma ditutup daun pisang. Itu kan bagian dari pendikan. Bayangin gimana mau ngajarin sanitasi?
1:22:46 Sekolah yang kita bangun sudah ada toilet sendiri, Ini bagian dari pendidikan. Struktur sudah ada, kita tingkatkan— lebih gampang daripada membuat baru atau mengubah total. Saya belajar dari Room to Read. Room to Read sekarang sudah menyentuh 50 juta anak tahun ini, dan tahun ini mereka ulang tahun ke-25. Saya juga yang bawa Room to Read ke Indonesia sekitar 8 tahun lalu. Tadinya mereka enggak ada di sini, hanya di Afrika. Saya bilang Indonesia juga perlu. Kapan-kapan saya undang kamu ke acaranya, menarik banget.
1:23:36 Fokus mereka bikin buku dan perpustakaan untuk sekolah-sekolah di pedalaman dalam bahasa lokal. Jadi di Indonesia ya bahasa Indonesia. Kalo di Bangladesh ya bahasa Bangladesh. Gambar karikaturnya dibikin orang lokal juga, bukan Snow White atau Pinokio, tapi karakter lokal, yang naik gajah, ke sawah. Begitulah. - Boleh tuh, gue mau. Gue selalu ngebayangin ngajar di kampus itu lebih gampang daripada ngajar di TK. Gimana lo bisa mentranslasi...
1:24:25 Lo harus ngomong dengan cara yang bisa dicerna anak umur 4 tahun. Enggak gampang. Itu menurut gue tantangan untuk seorang guru di level yang paling rendah, yaitu TK, pembentukan otak paling esensial ada di situ, sampai kelas 3 SD, umur 9. Gue mau agak bergeser dikit. Ini sesuatu yang mudah dicapai buat masyarakat Asia Tenggara: mangrove. Lo kan aktif di filantropi. Gue juga mulai lihat mangrove karena ini cepat berhasil. Mangrove itu 1 hektar bisa menyekuestrasi 1 kiloton karbon.
1:25:16 Di Indonesia konon ada 2,8 juta hektar, konon 22% dari total mangrove dunia. Itu aja sudah bisa sekuestrasi 2,8 gigaton karbon. Kalau dikumpulin sama Malaysia, Thailand, Brunei, Filipina, Kamboja, dan lain-lain yang punya pantai, kita tanam mangrove total 10 juta hektar, kapasitas sekuestrasi 10 gigaton, sementara emisi karbon setiap tahun cuma 40 gigaton. Jadi masyarakat yang rendah pun bisa berkontribusi
1:26:02 untuk seperempat masalah karbon dunia. Kita bisa serap 10 gigaton setiap tahun dari emisi karbon yang 40 gigaton. hanya dengan penanaman mangrove sampai 10 juta hektare. Indonesia sudah 2,8, mungkin bisa naik ke 5 atau 6 juta. Menurut gue, ini bisa sekuestrasi karbon, tapi kedua, lo bisa memperkaya kemaritiman, karena perikanannya bakal lebih kuat, pangan birunya bakal lebih kuat. Kita kurang protein—makanya pembentukan otak agak suboptimal. Semakin proteinnya banyak dari ikan, daripada daging,
1:26:47 Kalau daging mah susah, lah. Konsumsi sapi kita cuma 3 kilo per orang per tahun, sementara Jerman, Eropa, Argentina, Brazil 40–50 kilo. Makanya protein mereka lebih banyak, dan kita enggak punya lahan untuk ngerawat atau membudidayakan sapi. Sapi itu perlu lahan. Belum lagi airnya. Tapi maritim? Ini agak-agak... Kalau menurut gue ini nyambung dengan percakapan sebelumnya untuk memperkaya wilayah kita. - Balik ke poin tadi, kita gunakan aset yang kita punya. Amerika enggak punya banyak mangrove, paling di Florida. Cakupan kita jauh lebih besar.
1:27:34 Saya beberapa bulan lalu ke Abu Dhabi. Mereka nyumbang 100 juta dolar buat pusat riset yang mau dibangun di Bali. Artinya negara lain lihat potensi kita. Ini satu contoh bahwa orang luar sudah lihat potensi kita dan kita bisa memanfaatkannya. Kalau bicara peluang lain, misalnya pusat data AI yang akan pakai banyak karbon. Kita bisa atasi: “Oke kamu punya itu, saya punya kekuatan ini. Kalau mau menyeimbangkan emisi di dunia.
1:28:20 Peluangnya besar, terutama di pantura, Sumatera bagian timur, Papua, Sulawesi, Maluku, Kalimanta, Flores, dan lain-lain. - Untungnya Asia Tenggara banyak pulau. Afrika dan Amerika Latin juga di katulistiwa, tapi pulau mereka enggak banyak, cuma satu garis pantai aja. Kalau kita muter-muter di pulau, jadinya lebih banyak. - Dan garis pantai mereka kebanyakan pasir, enggak terlalu cocok, sedangkan mangrove butuh lumpur. Saya setuju, peluangnya besar. Dan ikan-ikan di mangrove beda dengan di laut lepas,
1:29:11 - Proteinnya lebih tinggi. Bro, kita sudah 1,5 jam nih, - Enggak terasa. - Ada pesan akhir enggak? Khususnya untuk PL ke depan, Indonesia, Asia Tenggara? - Khusus buat PL: selamat, 60 tahun. Luar biasa. Dibangun tahun 66-an, masa kacau-kacaunya. Kenyataan bahwa ada orang punya ide bangun sekolah di tengah keadaan begitu, itu luar biasa. Kita sangat beruntung bisa sekolah di SMP ini yang sekarang 60 tahun.
1:29:58 Secara umum, dari pengalaman saya pribadi: kerja keras, kerja cerdas, dan selalu percaya pada dasar. Dasar yang baik, yang ditanamkan dengan baik, suatu saat hasilnya akan baik. Jangan cepat puas, jangan cepat ingin lihat hasil. Itu aja. - Siap. Thank you banget, Bro. - Thanks, Bro. Sama-sama, Bro. - Teman-teman, itulah Helman Sitohang, produk Asia Tenggara yang sudah mengglobal. Terima kasih.