Ringkasan Singkat
Video ini adalah percakapan antara Gita Wirjawan dan Helman Sitohang, membahas perjalanan hidup Helman, pendidikan, potensi ASEAN, dan pentingnya investasi pada guru serta STEM. Beberapa poin utama meliputi:
- Latar belakang keluarga Helman yang sederhana menjadi motivasi untuk meraih pendidikan setinggi mungkin.
- Pendidikan dasar yang kuat sangat penting, dan peran guru sangat krusial dalam membentuk generasi penerus.
- ASEAN memiliki potensi besar yang belum dimanfaatkan secara optimal, terutama dalam hal konektivitas dan sumber daya alam.
- Pentingnya menumbuhkan budaya berargumen dan berpikir kritis, serta mengombinasikan inovasi dengan nilai-nilai positif.
- Mangrove memiliki potensi besar yang jarang dibicarakan untuk menyerap karbon dan meningkatkan kemaritiman.
Intro
Gita Wirjawan memperkenalkan Helman Sitohang, teman lamanya sejak SMP, sebagai inspirasi bagi banyak orang di Indonesia karena prestasinya dan latar belakangnya yang "homegrown". Helman lahir di Praha, namun besar dan bersekolah di Indonesia, kemudian melanjutkan ke ITB. Gita meminta Helman untuk berbagi cerita tentang bagaimana ia bisa menjadi seperti sekarang.
Masa Kecil
Helman merasa beruntung karena ayahnya mendapat beasiswa pada zaman Soekarno, padahal berasal dari keluarga yang tidak mampu. Ayahnya selalu memegang prinsip "Gantungkan cita-citamu setinggi langit". Ayahnya pergi ke Cekoslowakia dan bertemu ibunya di sana. Ayahnya lahir di Tapanuli pada tahun 1926 dan sempat putus sekolah karena keterbatasan ekonomi keluarga. Dengan tekad yang kuat, ayahnya bekerja dan membiayai sekolahnya sendiri, bahkan belajar dengan lilin di malam hari. Pengalaman ayahnya menjadi motivasi bagi Helman untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan pendidikan yang lebih baik. Ayahnya kemudian masuk UI sambil bekerja dan berdagang, namun akhirnya memilih untuk fokus pada pendidikan dan menjual tokonya untuk mendapatkan beasiswa.
Praha Membentuk Helman
Ayah Helman mengambil keputusan untuk menyekolahkan Helman di sekolah lokal di Cekoslowakia, bukan di sekolah kedutaan. Helman menjadi salah satu dari sedikit anak campuran Cekoslowakia dan Indonesia yang bersekolah di sekolah lokal. Pengalaman ini membentuk watak dan dasar-dasar pemikiran Helman sejak usia dini. Pendidikan di Cekoslowakia menekankan pada dasar-dasar yang kuat, yang sangat penting untuk perkembangan jangka panjang.
– Sekolah Setinggi-tingginya
Helman menekankan pentingnya pendidikan, terutama bagi generasi muda Indonesia. Ia menyoroti bahwa mayoritas kepala rumah tangga dan pemilih di Indonesia tidak memiliki pendidikan S1. Helman berbagi pengalamannya di rumah dan sekolah, menekankan bahwa guru dapat memberikan suntikan ambisi dan imajinasi, terutama jika orang tua tidak memiliki pendidikan tinggi. Pendidikan harus seimbang antara tatap muka dan pemanfaatan teknologi, seperti kursus daring dari universitas ternama.
Investasi ke Guru
Gita dan Helman sepakat bahwa investasi pada guru sangat penting, terutama jika orang tua tidak memiliki pendidikan S1. Kualitas guru bukan hanya soal penguasaan materi, tetapi juga cara mereka menerangkannya. Helman masih ingat guru-gurunya di Pangudi Luhur yang memberikan kesan mendalam. Profesi guru adalah pekerjaan yang sangat mulia, namun kompensasi yang layak harus diberikan agar guru dapat fokus pada tugasnya. Helman dan istrinya terlibat dalam yayasan yang fokus pada pendidikan anak usia dini, karena perkembangan otak sangat pesat di usia tersebut.
STEM, AI, Kompetisi Teknologi
Helman dan Gita membahas pentingnya pendidikan STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) untuk menghadapi persaingan global. Tiongkok dan India menghasilkan jutaan lulusan STEM setiap tahun, sementara Indonesia masih jauh tertinggal. Gita menekankan bahwa Indonesia harus meningkatkan jumlah lulusan STEM agar dapat naik di rantai nilai dan tatanan geopolitik. Kualitas guru juga harus ditingkatkan agar mampu menyerap pelatihan dan menghadapi perubahan teknologi. Helman menambahkan bahwa pendidikan harus relevan dengan perkembangan AI, dan hafalan tidak lagi sepenting dulu.
Potensi ASEAN
Helman dan Gita membahas potensi ASEAN sebagai kawasan yang unik dan stabil. Gita mengadvokasi revisi terhadap charter ASEAN untuk menyelaraskan sistem pendidikan di negara-negara anggota, meniru sistem pendidikan Singapura yang sukses. Helman memilih berkantor pusat di Singapura karena percaya pada potensi Asia Tenggara. Konektivitas antarnegara ASEAN harus ditingkatkan agar kawasan ini semakin kuat. Helman dan Gita sepakat bahwa ASEAN memiliki kelebihan yang tidak bisa digantikan oleh AI, seperti pariwisata dan sumber daya alam.
Bangun Budaya Berargumen
Gita menyoroti bahwa orang Asia Tenggara kurang bisa bercerita dan menulis, sehingga perlu meningkatkan literasi selain numerasi dan STEM. Helman menambahkan bahwa ada sisi kultural di Asia Tenggara yang cenderung pendiam, namun perlu menumbuhkan budaya berargumen dan berpikir kritis. Helman percaya bahwa manusia bisa disentuh lewat sisi lembutnya, yang merupakan kekuatan Asia Tenggara.
Imajinasi, Ambisi, Keberuntungan
Gita menekankan pentingnya imajinasi, ambisi, dan keberuntungan dalam meraih kesuksesan. Ia mengusulkan agar guru digaji lebih tinggi agar dapat memberikan suntikan imajinasi dan ambisi kepada murid-muridnya. Helman setuju bahwa keberuntungan juga berperan penting, namun kesempatan harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Ia menekankan pentingnya dasar-dasar yang kuat dan tidak cepat puas.
Mangrove: Potensi Jarang Dibicarakan
Gita menyoroti potensi mangrove sebagai solusi untuk masalah karbon dunia. Indonesia memiliki potensi besar dalam penanaman mangrove, yang dapat menyerap karbon dan meningkatkan kemaritiman. Helman menambahkan bahwa negara lain sudah melihat potensi Indonesia dalam hal ini.
Work Hard, Work Smart, Believe in the Basics
Helman memberikan pesan akhir untuk Pangudi Luhur dan Indonesia secara umum: kerja keras, kerja cerdas, dan selalu percaya pada dasar. Ia menekankan pentingnya dasar yang baik dan tidak cepat puas. Gita menutup percakapan dengan mengucapkan terima kasih kepada Helman Sitohang, produk Asia Tenggara yang sudah mengglobal.

