Ringkasan Singkat
Video ini membahas tentang autofagi, proses detoksifikasi tubuh yang melibatkan daur ulang sel-sel rusak dan penggantiannya dengan sel baru. Autofagi sering dikaitkan dengan puasa intermiten, tetapi efektivitasnya tidak hanya bergantung pada durasi puasa. Video ini menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi autofagi, seperti resistensi insulin, kondisi mikrobioma usus, dan asupan makanan, serta perbedaan antara autofagi dan ketosis.
- Autofagi adalah proses detoksifikasi dan regenerasi seluler yang penting bagi kesehatan.
- Durasi puasa saja tidak menjamin terjadinya autofagi; faktor lain seperti kadar gula darah dan kondisi mikrobioma usus juga berperan.
- Autofagi dan pembentukan otot (melalui mTOR) adalah dua proses yang berlawanan, sehingga perlu strategi yang tepat untuk menyeimbangkan keduanya.
Pembukaan
Bobby Sant membuka video dengan memperkenalkan Cero, seorang ahli intermittent fasting bersertifikat, untuk membahas autofagi. Banyak orang tertarik dengan autofagi karena dianggap dapat menyembuhkan berbagai penyakit, termasuk kanker, dan meregenerasi sel. Beberapa orang percaya bahwa puasa 16-18 jam sudah cukup untuk memicu autofagi, tetapi Bobby mempertanyakan apakah semudah itu.
Apa Itu Autofagi dan Bagaimana Cara Kerjanya
Cero menjelaskan bahwa autofagi adalah proses detoksifikasi tubuh di mana sel-sel rusak, tua, dan mati didaur ulang dan diganti dengan sel baru. Proses ini dapat membantu mengatasi berbagai penyakit seperti diabetes, hipertensi, penyakit metabolisme, tumor, kanker, dan autoimun. Bahkan, ada bagian dari autofagi yang disebut krinofagi, yang bekerja khusus pada organ-organ pengatur hormon. Autofagi menjadi daya tarik karena dianggap sebagai cara alami untuk menjaga kesehatan tanpa obat-obatan.
Apakah Puasa 18 Jam Cukup untuk Autofagi?
Cero menjelaskan bahwa autofagi dapat terjadi jika kadar gula darah rendah dan kadar keton tinggi. Keton adalah bahan bakar tubuh saat puasa, yang dihasilkan saat tubuh membakar lemak. Banyak orang yang berpuasa 18 jam merasa lapar, pusing, dan lemas, yang menandakan bahwa autofagi belum terjadi karena tubuh masih menggunakan gula sebagai bahan bakar utama (sugar burner) dan belum beralih ke pembakaran lemak (fat burner).
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Autofagi
Autofagi dipengaruhi oleh dua faktor utama: resistensi insulin dan kondisi mikrobioma usus. Mikrobioma usus yang seimbang penting untuk menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan dan memfasilitasi autofagi. Semakin lama durasi puasa, semakin dalam proses autofagi yang terjadi. Puasa 18 jam dianggap sebagai titik awal, tetapi untuk hasil yang lebih optimal, disarankan untuk berpuasa lebih lama, seperti 22-23 jam.
Lama Waktu yang Dibutuhkan untuk Mencapai Autofagi
Lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai autofagi bervariasi pada setiap orang, tergantung pada kadar gula darah dan pola makan masing-masing. Untuk mencapai autofagi, penting untuk mengurangi asupan karbohidrat dan gula. Jika seseorang mengonsumsi makanan tinggi gula, akan sulit untuk mencapai autofagi meskipun sudah berpuasa lama. Puasa tetap memberikan manfaat regenerasi sel, tetapi belum tentu mencapai autofagi yang optimal.
Autofagi vs. Ketosis
Ketosis adalah kondisi di mana tubuh membakar lemak sebagai bahan bakar utama, dan ini merupakan pintu gerbang menuju autofagi. Ketosis belum tentu berarti autofagi, tetapi autofagi pasti terjadi dalam kondisi ketosis. Untuk mencapai autofagi, pemilihan makanan sangat penting. Disarankan untuk mengonsumsi lemak baik seperti alpukat, MCT oil, dan butter.
Autofagi dan Asupan Protein
Autofagi adalah proses penghancuran sel-sel yang tidak terpakai, sedangkan mTOR (mammalian target of rapamycin) adalah proses pertumbuhan sel. Kedua proses ini berlawanan dan tidak dapat terjadi bersamaan. mTOR dipicu oleh asupan protein, sehingga saat melakukan autofagi, asupan protein harus dibatasi. Untuk orang yang ingin mencapai autofagi tetapi tidak mampu berpuasa panjang, disarankan untuk membatasi asupan protein kurang dari 20 gram saat berbuka puasa dan memperbanyak konsumsi lemak baik.
Menyeimbangkan Autofagi dan Pertumbuhan Otot
Untuk orang yang aktif membangun otot dan mengonsumsi protein tinggi, autofagi dapat dicapai dengan berpuasa lebih lama, seperti 18-24 jam. Saat berpuasa, fokuslah pada autofagi, dan saat makan, fokuslah pada pertumbuhan otot. Penting untuk menyeimbangkan kedua proses ini agar sel tidak berkembang terlalu aktif, yang dapat memicu penyakit seperti diabetes dan kanker.
Cara Mengukur Autofagi
Untuk mengetahui apakah autofagi sudah tercapai, dapat dilakukan pengukuran kadar gula darah dan keton. Kadar gula darah harus di bawah 90 sebelum berbuka puasa, dan kadar keton minimal lebih dari satu. Tubuh mengeluarkan gula saat berolahraga atau bangun tidur, sehingga kadar gula darah bisa meningkat meskipun sedang berpuasa.
Penutup
Bobby Sant merasa tercerahkan dengan penjelasan Cero tentang autofagi. Cero membuka jasa konsultasi dan coaching untuk membantu orang mencapai target penurunan berat badan, kesehatan, dan pengobatan masalah hormon melalui intermittent fasting. Setiap individu memiliki kondisi yang berbeda, sehingga pendekatan yang digunakan juga harus personal.

