0:09 Selesai. Oke, Bapak Ibu. Judul materi pagi hari ini adalah membangun kerajaan bisnis kuliner. Ini juga dari materi ini ya, dari materi ini sudah saya susun menjadi sebuah buku ya. Ini semua sudah dapat bukunya? Bukunya sudah dapat ya. sudah dikirim ke WhatsApp-nya masing-masing. Nah, ini ee dari hasil kelas workshop ini sudah saya rangkum menjadi sebuah buku yang judulnya membangun kerajaan Bisnis Kuliner gitu ya. Nah, ini banyak feedback atau masukan-masukan ya. Saya juga belajar juga dari member-member kuliner masteri ya dan akhirnya tertuang dalam sebuah buku. Nah, hari ini kita akan coba
0:55 membagi ya, kita akan coba membedah perjalanan membangun bisnis kuliner dari mulai konsep sampai eksekusi ya. Nah, kalau kita bicara konsep berarti ada hal-hal yang harus kita pikirkan sebelum kita mulai, sebelum kita eksekusi, sebelum kita action. Yang pertama mindsetnya kita kuatkan. Kemudian budget ya. Nah, ini budget ini banyak yang nanya juga loh, Mas Rangga. budget itu biasanya bukannya ditaruh di belakang ya. Nah, kalau di sini budgetnya saya taruh di depan supaya Bapak Ibu idenya, cita-citanya bisa dieksekusi. Jangan sampai mimpinya besar, budgetnya enggak ada, nanti malah enggak mulai-mulai gitu ya. Saya selalu mengajarkan mulai dari yang sederhana dari yang kecil dulu gitu ya. Nah, kemudian berikutnya ide
1:42 bisnisnya apa? Budgetnya ditentukan nanti ide bisnisnya apa, kemudian nanti bagaimana risetnya ya. Kemudian nanti bagaimana menentukan support sistemnya, siapa aja yang akan mendukung bisnis kita ya. Nah, baru setelah itu kita bicara eksekusi. Nanti eksekusinya gimana? Ada namanya prakonstruksi, persiapan, ya. Kemudian nanti ada konstruksi, kemudian nanti ada persiapan opening ya, grand opening dan nanti operasional profitable. Jadi bukan hanya buka tapi bisnisnya bisa bertahan dan profit. Nah, itu target di bisnis kuliner itu awalnya profit aja dulu. Jangan dulu bicara buka cabang dan sebagainya gitu ya. Profit aja dulu ya. Profit balik modal ya. Nah, baru kita
2:29 bicara ekspansi dan pengembangan. Oke, Bapak Ibu kita mulai dari mindset dulu ya. Jadi bicara mindset ini sebetulnya saya sudah banyak menjelaskan mindset ini di seminar. Jadi mindset yang menjadi fondasi atau kuda-kuda Bapak Ibu semua adalah growth mindset ya. Nah, masih ingat growth mindset itu jurus anti mentoknya apa? Masih ingat? 4C ya? Yang pertama, kedua, ketiga, keempat. Enggak bisa cari yang bisa, enggak punya cari yang enggak tahu cari yang enggak ada cari yang ada. Udah itu aja prinsipnya. kita sederhanakan enggak
3:14 bisa cari. Kalau enggak ketemu cari cari gitu ya. Nah, hari ini saya akan tambahkan mindset ini dari bukunya Positivity karangan Barbara Frediksen. Ya, dalam buku ini disebutkan bahwa kita hanya bisa meraih sukses secara fenomenal kalau jiwa kita bahagia lebih dulu. Setuju enggak, Bapak, Ibu? Jadi bahagia dulu baru kita bisa sukses. Jangan nunggu sukses baru bahagia. Nanti enggak sukses-sukses. Kenapa ini saya sampaikan? Karena sesungguhnya Bapak Ibu bisnis kuliner ini adalah bisnis hospitality.
3:59 Ini bisnis pelayanan bukan cuma sekedar jualan makanan. Tugas kita adalah membahagiakan pelanggan kita. Nah, bagaimana kita mau membahagiakan orang lain kalau kita sendiri enggak bahagia? Makanya bahagia dulu supaya energi kebahagiaan kita tuh bisa terpancar dan ter apa? Diterima sama konsumen-konsumen kita ya. Nah, ini saya coba mengingatkan ya mengingatkan kita semua ini seringki yang mencuri kebahagiaan kita. Yang pertama menyeret masa lalu ke masa sekarang. sesuatu yang sudah terjadi, sesuatu yang sudah kejadian masih kita pikirin terus gitu ya. Padahal sudah
4:44 jelas-jelas itu pasti tidak bisa dirubah karena sudah terjadi. Akhirnya apa? Karena ngingat-ngingat yang sudah lewat ya waktu kita hari ini terbuang. Bahasanya apa ya? Enggak mindfulness masih mikirin aja yang sudah lewat gitu ya. kita tidak menikmati hari ini. Kemudian yang kedua, menyeret masa lalu ke masa sekarang. Sesuatu eh sori menyeret masa depan ke masa sekarang. Sesuatu yang belum tentu terjadi, sesuatu yang belum tentu kejadian sudah kita takutkan, kita pikirkan gitu ya. Sehingga akhirnya membuat kita apa? Membuat kita jadi ragu-ragu, jadi nunda-nunda gitu ya.
5:29 sehingga hari ini tidak akan maksimal. Sesungguhnya yang namanya hadiah terindah dari Tuhan itu, Bapak, Ibu, ya hari ini ya. Besok kita enggak pernah tahu. Itu bukan kuasa kita, Bapak, Ibu, ya. Besok kita enggak pernah tahu. Aduh, belum lama nih bulan puasa kemarin saya kehilangan orang dekat saya ya. Sebelumnya masih ngobrol, masih ngopi. Berapa hari kemudian pergi Bapak, Ibu, ya. Nah, mungkin ya kita juga tinggal nunggu giliran aja. Itu mah kepastian, Bapak, Ibu ya. Cuma waktunya kapan kan kita enggak tahu. Ninggal bagaimana setiap hari ini kita manfaatkan sebaik-baiknya. Nah, ini saya ini sejak umur 40 ke sini gitu ya, sudah mulai ee belajar yang
6:15 namanya kesadaran gitu ya atau conscious ya. Jadi sekarang ini saya tuh sadar bahwa ah udahlah kita hidup sehari-sehari aja jadi lebih gampang gitu ya. Jadi enggak mikirnya kejauhan. Hari ini aja kita beresin, besok episode baru lagi, besok episode baru lagi. Jangan terlalu mikir kejauhan. Boleh punya mimpi, boleh cita-cita, boleh punya cita-cita. Tapi hari ini kita beresin aja dulu. Besok lain lagi episodenya, besok lain lagi episodenya. Nah, itu yang saya lakukan. Akhirnya jadi ngejalanin hidup tuh jadi lebih enteng aja, Bapak, Ibu. Mikirnya enggak kejauhan. Yang sudah lewat enggak pernah dipikirin, ya. Nah, ini saya sampaikan kenapa Bapak Ibu? Karena biser ini kan tantangannya banyak ya, stresnya juga
7:03 banyak Bapak Ibu ya. Nah, jangan sampai stresnya kita ini gitu ya bikin kita kapok nanti bisnis kuliner ya. Padahal bisnis apapun pasti stres juga gitu ya. Nah cuma ini tips buat apa ya? Buat ee kita ngerasa bahagia. Ini sebenarnya tips bersyukur Bapak Ibu ya. Jadi selalu ingat rasio 3 banding 1. Nah, setiap hari itu diingat aja momen positif apa aja gitu ya. Kalau ada momen negatif isi lagi sama momen positif. Jadi bukan berarti fake positivity semuanya dijadiin positif gitu ya. Ya nanti eh apa namanya? Positive thinking palsu lah gitu ya. Fake positivity. Jadi ya kalau lagi enggak enak sama orang ya diingat
7:49 aja enggak apa-apa. Enggak enak enggak enak sama kejadian diingat aja. Tapi kita ingat lagi hari ini ada tiga kejadian apa enggak mungkin ya enggak ada enggak ada tiga buat buat nutupinnya gitu ya. Setiap hari pasti ada. Nah, kadang kita lebih fokus sama hal-hal yang enggak enak dibanding yang enak atau yang baik gitu ya. Misalnya apa pagi ini coba kita ingat tadi saya kesal banget di jalan macet ya atau saya kesal banget tadi jalanan ditutup ya. Kesal enggak apa-apa. Coba ingat apaagi yang kira-kira pagi ini bisa kita syukuri. Oh, masih bisa bangun pagi aja ya. Masih bisa bangun pagi aja. Itu udah sebuah kenikmatan. Ada yang enggak bisa bangun dari tempat tidur, masih bisa ke kamar mandi aja itu udah satu kenikmatan. Ada
8:34 yang pakai kateter ya dan sebagainya gitu ya. Kemudian selalu fokus pada kemenangan-kemenangan kecil. Apa nih kemenangan apa yang mau kita dapat hari ini? Hari ini misalnya kemenangannya Bapak Ibu sudah Bapak Ibu sudah bela-belain dari jauh datang ke sini mau belajar itu kemenangan kecil. Yang lain mungkin masih santai-santai tidur gitu ya ini hari Minggu. Nah ini kemenangan-kemenangan kecil ini dikumpulin Bapak Ibu ya. Kemudian otaknya selalu dilatih untuk apa? Memecahkan masalah ya. Jadi jangan sampai nanti ah saya mau pensiun, pensiunnya santai, enggak mikirin masalah apa ya nanti malah jadi tumpul ya. Justru yang melatih kita itu kan permasalahan-permasalahan problem
9:19 solving, ya. Nah, seringki kita menyenderkan kebahagiaan itu sama sesuatu yang jauh. Kalau saya tanya misalnya, saya tanya sama tim saya aja misalnya, "Kamu bahagia itu kalau apa?" "Saya bahagia itu kalau saya bisa mengumrahkan orang tua saya." Kalau orang tua kamu belum umrah, kamu enggak bahagia dong, gitu ya. Saya bahagia kalau saya punya uang sekian di rekening saya. Kalau uangnya enggak sekian, enggak bahagia dong gitu ya. Atau saya akan bahagia kalau saya diperlakukan begini. Nah, seringki kita menyandarkan kebahagiaan itu pada sesuatu yang ada di luar kita. Padahal kebahagiaan itu sesungguhnya sangat dekat, Bapak, Ibu, ya. Dan itu bisa kita ciptakan. Nah, dalam bentuk apa ya? hormon-hormon
10:05 kebahagiaan. Jadi kebahagiaan itu bisa dipanggil, bisa diciptakan, bisa di-create gitu ya dalam bentuk apa? Hormon. Ada yang namanya hormon dopamin ya. Jadi pada saat hormon ini keluar dari tubuh kita, kita akan merasa perasaan kita tuh lebih enak. Misalnya apa? Makan enak. Bapak, Ibu kalau habis makan enak ada perasaan happy enggak? Nah, itulah hormon kebahagiaan olahraga. Ya, misalnya ibu-ibu nih yang suka olahraga, bapak-bapak yang suka sepedaan, begitu sudah keluar keringat banyak gitu ya, ada perasaan lega enggak? Ada perasaan happy enggak? Nah, itulah hormon dopamin ya. Tidur cukup kalau tidurnya cukup kemudian zikir, meditasi. Di setiap agama pasti ada
10:52 metode zikir dan meditasinya masing-masing. Ini untuk apa? Mengeluarkan hormon kebahagiaan. Nah, ada juga yang namanya hormon endorfin. lebih rileks. Jadi ngadapin ngadapin segala sesuatu jadi lebih rileks aja dengan cara apa? Ketawa. Ya. Nah, saya kalau punya masalah tuh kadang cari teman-teman yang bisa diajak ketawa-ketawa aja atau di di apa di lingkungan kita cari yang bisa diajak ketawa. Ya udah kita datang ke situ aja ketawa-ketawa aja. Enggak usah cerita masalah kita ya. Enggak usah curhat. Kadang curhat juga percuma Bapak Ibu. Orang cuma kepo aja gitu ya. Solusinya tetap ada di kita sendiri. Kok cari aja orang-orang yang bisa diajak ketawa gitu ya, hormon dopamin apa hormon endorfinya
11:37 rilis. Nah, besok kita mikir lagi ya, nonton musik eh nonton film, dengar musik ya. Kemudian ada hormon kasih ya. Kalau berbagi, bersedekah ada perasaan bahagia. Nah, itu hormon kasih namanya ya. Kemudian melakukan kebaikan, sharing pengalaman dengan Bapak Ibu sharing di grup ya, cerita pengalamannya ya itu juga mengeluarkan hormon kebahagiaan. Ada yang senang Bapak Ibu yang senang di grup sharing terus omsetnya gede Bapak Ibu. Kenapa? Ya karena itu kebahagiaannya. Ada namanya Bu Ika, Ibu Siti Muslikah namanya ya. Itu rajin sekali sharing di grup ya. mungkin buat apa buat
12:25 kita sharing itu ah biasa aja tapi buat orang yang ngebaca ya wah itu bisa jadi manfaat yang luar biasa makanya kenapa di grup Kunermas ini kita coba biasakan aktif ya mungkin kalau di ini di grup 4 semua ya nah grup 4 mungkin masih belum banyak ininya ya ee membernya karena di grup lain itu sudah 1024 jadi kita setiap 1024 pindah grup nanti saya coba Masukin yang ramai-ramai di grup 3 ya, di grup yang lain saya masukin di grup 4 biar ikutan ramai. Tapi ya cerita aja pengalamannya ya. Nah, ini mengeluarkan hormon kasih juga berpelukan ya. Suami sama istri apa istri bapak sama anak ya
13:10 dipeluk itu juga mengeluarkan hormon kasih ya. Kalau yang jomblo-jomblo saya pernah baca ini di Instagram meluk pohon juga ternyata ada manfaatnya ya. Grounding namanya ya. Kemudian ada hormon serotonin. Nah, ini kalau lagi stres itu ya jangan diam di rumah. Kalau lagi stres tuh jangan mengurung diri di rumah. Diam di rumah keluar dari rumah berdoa dan beribadah di tempat ibadahnya masing-masing. Bisa di masjid, di gereja gitu ya. berjemur keluar pagi-pagi cari cahaya matahari, lihat pemandangan, jalan-jalan. Nanti tuh Bapak, Ibu, nanti tuh jalan tuh kayak selalu ketemu aja gitu ya. Coba kita ingat-ingat lagi deh semua masalah dari kita dari dulu ya sampai sekarang
13:57 kira-kira ada enggak masalah yang enggak selesai? masalah tuh selesai kok semua pada akhirnya Bapak Ibu ya zaman dulu ya soal matematika aja kita anggap masalah ya tapi kok ternyata tidak seserem yang kita bayangin gitu ya. Nah sampai kita nganggap semua masalah itu akhirnya bisa selesai kita yakinin aja. Nah tapi jangan sampai di sela kita punya masalah kita nambah masalah baru. Seringki masalah baru itu nambahnya apa? Karena kita stres. Jadinya apa? kesal sama orang, melakukan hal-hal yang emosional sehingga akhirnya nambah lagi masalah, nambah lagi masalah. Jadi kesannya tuh masalah enggak pernah selesai. Tapi kalau kita tenang menghadapi masalah, satu masalah selesai, kita beralih ke yang lain. Nah, ini ini sangat apa ya? Sangat ngebantu
14:44 perjalanan saya, Bapak, Ibu. Jadi ini kenapa saya tambahkan di sesi mindset, tapi mindset yang harus selalu kita bangun sebagai pengusaha kuliner ini ya growth mindset. Sebetulnya mindset usaha apapun ya harus growth mindset. Mindsetnya harus tumbuh dan enggak kenal kata mentok. Di samping itu selalu bahagia. Jadi saya ngingetin pagi ini jangan lupa bahagia ya. Kemudian berikutnya, nah kita juga bisa bikin ritual-ritual, ritual-ritual di tempat usaha kita supaya vibrasinya tuh positif, supaya suasananya tuh enak gitu ya, karyawan tuh senang, betah ya. Jadi ada budaya ya. ada budaya misalnya apa
15:31 mungkin Bapak Ibu pernah lihat kalau ada di rumah makan ya atau di hotel atau di mana itu sebelum mulai sebelum mulai kegiatan karyawannya olahraga dulu ya atau karyawannya joget-joget dulu atau pakai yel-yel ya. Nah saya kemarin di rest area mana ya? Rest area ee apa? Empal gentong ya? yang ada Irwan ya, yang arah Cirebon tuh ya. Nah, itu karyawannya dikumpulin dulu ee apa setoran ayat. Nah, ini kan tujuannya membangun suasana yang positif ya. Saya di hotel Yellow tuh pas lagi sarapan tiba-tiba karyawannya di luar joget-joget gitu ya. Nah, ini untuk membangun suasana yang
16:18 positif sebelum memulai pekerjaan. Kalau saya bikin senam ketawa. Nah, ini contohnya Bapak Ibu ya. hari ya. Jadi mulai kerja kita harus ketawa dulu. Jadi jangan kerja mutung-mutung. Jadi habis ayo senang ketawa ya. Oke. Tadi apa maskernya duluat kamu malah nangis. Oke. Tadi apa? Hi hi ho ho. Siap. Sat 2 3. Ha ha. Hi hi ho ho. Sekali lagi. Ha ha ha. Hi hi ho ho.
17:05 Kurang lagi. Sekali lagi. Sekali lagi. Ya. Harus rajin namanya horestik. Harus senang. Sekali lagi. 1 2 3. Ha ha ha. Hi hi hi. Ho ho ho ho. Sekali lagi. Ha ha ha. Ho ho ketawa. Oke ya. Ingat ya. Jadi sebelum apa? Setelah berdoa, setiap pagi setelah kita berdoa ini wajib ya di Horestik ini wajib setiap pagi sebelum
17:52 mulai aktivitas kita berdoa ya. Nah, setelah berdoa kumpul apa? Setelah ngumpul. Nah, jadi ada member kita di Semarang. Aduh, Mas tuh saya hampir depresi ngurusin usaha saya gitu ya. Saya tuh apa stres tiap hari saya sampai bingung mau ngapain ya. Eh, ternyata setelah Mas Rangga ngingetin ini gitu ya, saya coba setiap hari untuk ngerasa bahagia aja gitu. Eh, benar loh, Mas. Omsetnya tiba-tiba naik naik naik gitu ya. Karyawan saya juga yang tadinya ngelihat saya tuh kayaknya mukanya ditekuk terus stres terus ya pada takut sekarang berani ngobrol sama saya, berani apa namanya ngasih masukan-masukan. Nah, ini betapa pentingnya lingkungan. Nah, itu dimulai ya dari kita dulu, Bapak, Ibu
18:39 ya. Kalau kitanya tidak menyenangkan gitu, orang mau mendekat kita sama apa? Sama kita takut ya, ya nanti gimana mau menghadapi konsumen gitu ya. Nah, ini Bapak Ibu percaya enggak kalau ketawa itu bisa nular banget ya. Ketawa, sedih, ngantuk itu juga bisa nular ya. Nah, gimana kalau sebelum mulai kita senam ketawa dulu Bapak Ibu? Boleh kita keluarin dulu hormon endorfinnya. Boleh Bapak Ibu silakan berdiri ya berhadap-hadapan ya dengan partnernya, dengan pasangannya ya. Nah, ini Bapak Ibu kenapa kalau kita ngelihat anak-anak kita gitu ya, anak-anak kecil kayaknya kok gampang bahagia ya. Bukan karena mereka enggak mikirin cicilan, bukan mereka enggak mikirin angsuran,
19:26 bisa jadi itu mereka sehari bisa 300 400 kali tertawa. Ya, anak-anak kecil itu sehari bisa 300 sampai 400 kali ketawa. Nah, kita orang tua udah nambah masalah ya, masalahnya kayaknya banyak, seharian bisa lupa ketawa. Serius terus ya. Nah, gimana kalau kita ketawa? Silakan dipandangi wajah partnernya ya. Coba dilihat, diingatin. Takut ada yang nyelip tadi cabe kalau ini bekas sarapan. Ya, coba diperhatikan ya. Diperhatikan Bapak Ibu ini pandangi wajah suaminya ya Bapak Pandangi wajah istrinya. Jangan-jangan seharian tuh tiap hari pada serius ya. Jarang
20:11 bercanda ya. Kemudian jarang tertawa ya diketawain aja sekarang masalahnya ya. Oke Bapak Ibu dengarkan instruksi saya. Jadi kalau saya bilang ha ha ha hi hi ho nanti Bapak Ibu ikutin ya. Sampai nanti kalau saya bilang ketawa, nah baru dikeluarin ketawanya. Siap siap siap. Oke. 1 2 3. Ha ha ha. Hi hi hi. Ho ho ho. Sekali lagi. Ha ha ha. Hi hi ho ho. Sekali lagi. Ha ha ha. Hi hihi. Ho ho ho. Ketawa
20:58 kurang. Ah, masih ditahan. Masih ditahan. Ingat momen-momen yang bikin ketawa. Oke, siap. Sekali lagi. Oke, 1 2 3. Ha ha. Hi hi ho ho. Sekali lagi. Ha ha. Hi hi ho ho. Ketawa. Oke, tepuk tangan buat Bapak Ibu semua ya. Jangan lupa ketawa Bapak Ibu ya. Oke. Nah, itu tadi kita bicara bicara mindset ya. Nah, sekarang sekarang kita akan membongkar keyakinan-keyakinan yang salah di bisnis kuliner. Karena bisa jadi di bisnis
21:45 kuliner ini yang sering menghambat keyakinan kita adalah keyakinan kita sendiri. Kenapa kita meyakini itu? Karena kita belum tahu ilmunya. Begitu tahu ilmunya, maka kita akan tahu kebenarannya. Nah, saya pernah cerita, Bapak, Ibu ya. Saya sampai detik ini enggak bisa masak. Nah, terus gimana Mas Rangga bisa punya banyak cabang? Kan saya kasih tahu kemarin rahasianya saya beli resep ya. Nah, terus cara beli resep itu gimana, Mas Rangga? Apakah ada restoran yang ramai kita datangin kemudian dicari ownernya terus ditanya boleh beli resep enggak? Kira-kira dikasih enggak?
22:30 Enggak. Enggak akan ya. Ya, siapa tahu tapi ada yang ngasih gitu ya. Tapi banyaknya sih enggak. Nah, terus gimana caranya? Nah, cara yang bisa saya lakukan saya selalu mencari tukang masak. bisa tukang masak atau chef gitu ya yang punya kemampuan reverse engineering. Maksudnya reverse engineering itu gimana? Banyak ya tukang masak yang bisa, "Hm, ini bahannya ini ya, ini bahannya ini ya." Nah, itu namanya reverse engineering. Nah, kita ajak datang ke restoran yang ramai itu yang kita bikin. Kita coba menunya, suruh dia cobain menu itu ya. Nah, nanti suruh dia masak. Suruh dia masak. Setelah dia masak,
23:16 kita kira apa? Kita kira-kira bisa enggak bilang, "Oh, ini lebih enak dari dia dari yang ee restoran yang apa yang kita ramai banget itu bisa enggak bilang begitu?" Subjektif karena rasa itu relatif. Nah, terus gimana supaya valid? Supaya valid ya dilakukan yang namanya blind test. Jadi blind test itu beli yang punya restoran ramai itu gitu ya. Kemudian kita jejerin kemudian enggak usah dikasih nama. Suruh orang yang nyoba. Yang menentukan bukan kita tapi orang lain ya. Nah nanti akan Bapak Ibu akan saya apa akan saya jelaskan tentang materi blind test. Nanti ada materinya khusus ya setelah ini gitu ya. Nah, itu
24:02 caranya membuat produk atau mencari produk yang sesuai dengan ee apa yang tukang masak tadi tanpa harus kita bisa masak. Nah, terus beli resepnya gimana, Mas Rangga? Ya, pada saat dia masak suruh dia memberikan yang namanya SOP produk, bukan cuma resep tertulis. Bedanya SOP produk itu apa? Kalau resep itu cuma tulisan bahan-bahan, cara pembuatan, dan biasanya masih ada tulisan secukupnya. Nah, ini ciri-ciri tukang masak itu ya begitu tuh kalau bikin resep. Garam segimana ya? Ah, pokoknya secukupnya. Nah, enggak bisa ya. Secubit enggak bisa. Jadi pada saat
24:48 membuat SOP produk itu ya harus ada yang namanya alat-alat ini. Jadi semuanya harus bisa diukur ya. Nah, alat pengukurnya apa? Yang pertama ada sendok portion. Ini di Alpha Indomart juga banyak Bapak Ibu ya. Ini murahlah alatnya. Ini buat ngukur apa? Buat mengukur bumbu garam ya. lada, merica dan sebagainya. Nah, ini buat yang air, kuah-kuah. Karena kalau masak tuh pasti ada ini kan. Nah, kemudian berikutnya timbangan digital. Kalau ini sudah ngerti lah ya buat apa aja. Buat ayamnya, dagingnya, pokoknya ini buat mengukur satuan berat. Nah, ada
25:36 lagi untuk mengukur satuan waktu. Nah, satuan waktu ini misalnya gorengnya berapa lama, numisnya berapa lama, ngungkepnya berapa lama, itu semua harus dihitung. Satu lagi suhu ya. Suhu itu gampang. Sekarang pakai yang buat ditembakin ke jidat kita tuh, Bapak, Ibu ya. Kalau pas COVID, nah pakai ee termogan, ya. Pakai termogan. Ada yang lebih ini lagi ee termostat yang dimasukin ke minyaknya. Tapi itu agak repot nyarinya. Pakai termogan juga bisa. Pokoknya semua harus bisa diukur. Ada lagi yang nanya, "Mas, kalau api kecil, api besar, api sedang, gimana ngukurnya?" Nah, itu kan biasanya
26:23 di setiap kompor tuh ada namanya potensio atau cetekan kompor. Nah, cetekan kompor itu kan ada posisi ke atas itu mati. Posisi ee apa? posisi ke kiri nanti dilihat gambarnya ya nanti kita gambar. Jadi semua harus bisa diukur. Kita harus pastikan yang melihat, yang membaca SOP produk ini ngerti dan pakai alat-alat ini. Nah, kemudian si tukang masak yang ahli tadi gitu ya, kita suruh dia masak menggunakan alat-alat ini. Nah, yang seringki terjadi kalau orang sudah jago masak biasa masaknya dia pakai apa? Feeling. Enggak ada ukurannya begini. Begitu dia masak diukur begini rasanya
27:09 pasti berubah, Bapak, Ibu. Betul enggak? Enggak apa-apa. Itu bagian dari proses. Suruh dia masak lagi. Suruh dia masak lagi sampai akhirnya rasanya ketemu sama yang kita mau. Ya, makanya saya bilang bisnis kuner ini yang penting mah modalnya tahu mana makanan enak sama enggak enak. Udah itu aja enggak perlu bisa masak. Begitu kita sudah tahu, oh ini sudah pas atau kalau kita supaya lebih meyakini lagi ada tim panelis ada beberapa orang untuk memastikan, oh ini rasanya sudah pas ya. Nah nanti rasa yang sudah pas tadi gitu ya kita kunci itu kita jadikan SOP produk ya sudah ada catatannya nih. Nah catatan itu ya kita uji cara ngujinya gimana
27:55 cara mengujinya kita panggil orang-orang yang sama sekali belum pernah masak. Waktu itu saya dapat sopir travel ya, apa belum pernah masak. Nah, saya suruh dia masak menggunakan alatalat ini dan bahan-bahan yang sudah disediakan. Pada saat dia masak rasanya sama, Bapak, Ibu. Paling beda-beda sedikitlah. Telat ngangkat dikit atau apa. Nah, itu enggak apa-apa. Nanti kalau udah cara-caranya benar, ke sananya dia akan pakai feeling, tapi langkah-langkahnya sudah benar. Nah, itulah fungsinya dari SOP produk. Jadi, sampai sekarang saya enggak pernah tergantung sama tukang masak. Tukang masak saya mah sudah ganti-ganti, Bapak, Ibu. Itu memang sudah sunatullahnya
28:40 kalau tukang masak ya begitu karena dia punya skill kan. Nah, tapi SOP produknya sampai detik ini masih ada di saya. Jadi walaupun si tukang masaknya sudah keluar, saya masih punya SOP produknya. Itu jadi aset saya ya. Kadang ada juga tukang masak yang enggak mau ngajarin. Ada enggak begitu, Bapak, Ibu? Banyak. Nah, makanya harus jelas di awal. Saya dulu bilang sama tukang masak saya, kalau ee apa namanya? Kalau kamu jago masak, ya itu karena memang sudah pengalaman. Netapi, kamu akan lebih hebat kalau bisa ngajarin yang lain masak sama enaknya. Jadi, di sini sifatnya adalah mengajarkan yang lain. Jadi, jangan sampai dia enggak ada, udah selesai bisnis kita. Dan itu banyak
29:26 terjadi Bapak, Ibu ya. Nah, dari sini juga muncul kekhawatiran, Mas Rangga kalau semua bisa masak di tempat saya nanti ketahuan dong rahasia dapur saya gitu ya. Ada yang punya ketakutan gitu? Jangan takut Bapak Ibu yang diajarin itu kan SOP produk atau SOP masak. Sama kayak orang masak Indomie ya. Saya yakin semua orang bisa masak Indomie, tapi enggak semua orang tahu apa isi bumbu Indominya. Nah, jadi yang diajarin cara bikinnya, cara masaknya, bumbunya dibuat terpisah. Itulah makanya perlu ada yang namanya Central Kitchen.
30:12 Kalau belum punya Central Kitchen, ya bumbunya dibuat terpisah di rumah. Bumbu itu apa aja sih? Kalau di rumah makan itu kan bumbu itu standar. Ada bumbu marinasi biasanya ya. Bumbu marinasi itu apa? Misalnya bumbu putih, bumbu kuning, bumbu merah ya bumbu apa? Bumbu buat ungkep ayam. Kalau saya bumbu marinasi itu buat ngolesin. Jadi lele sebelum digoreng tuh diolesin dulu, dimarinasi gitu ya, baru digoreng. Ayam gitu ya, sebelum diungkep dimarinasi dulu baru digoreng. Nah, itu bumbunya sama base-nya. Nah, itu saya buat terpisah. Saya waktu itu sewa waktu masih punya satu atau dua cabang, saya sewa rumah kontrakan petakan kecil ya. Rumah petakan
30:58 saya sewa itu khusus di situ yang masak bumbu. Nah, kalau yang masak bumbu saya itu sampai sekarang masih ikut saya 20 tahun lebih, Bapak Ibu. Tapi tukang masaknya udah ganti-ganti, ya. Nah, jadi tugas dia bikin bumbu nanti baru dikirim ke cabang apa ke resto, ke outlet ya. Nah, nanti kalau yang bakeri apa ya? Bikin premixnya. Jadi kalau bisa karyawan tuh enggak perlu tahu bumbunya sampai kalau perlu garamnya merek apa, penyedapnya merek apa, mereka enggak perlu tahu. Jadi tahunya dikasih nomor aja ini bumbu ini, bumbu ini, gitu ya. Nanti SOP-nya dibuat seperti itu. Jadi nanti pada saat Bapak, Ibu mau memfranchise-kan, mau kemitraan, rahasia dagangnya terjaga.
31:45 Ya, bisa dipahami sampai sini? Ya, membuat tahu kalau membuat tahu. Tapi kan dia tidak terlibat di masakan. Jadi dia enggak enggak pusing apa urusan perpolitikan di apa namanya? Dunia politik di rumah makan. Enggak perlu tahu. Kalau misalnya Ibu usahanya masih rumahan, ya udah ibaratnya pembantu rumah tangga kita lah atau ART yang tugasnya bikinin bumbu. Dia kan enggak ikut-ikutan di apa keruetan rumah makannya ya. Nah, sampai akhirnya bisnis saya makin gede. Bikin bumbu kan dulu modelnya pasta Bapak, Ibu ya. Modelnya pasta jadinya pasta. Nah, saya harus kirim ke Malaysia, saya harus kirim ke ee mana
32:32 lagi? Kalimantan, ke Sumbawa, ke mana-mana. Kalau pakai pasta itu kan biayanya mahal ya. Jadi diconvert jadi bubuk, bumbunya dibikin jadi bubuk. Nah, saya kerja sama sama pabrik. Enaknya kalau sama kerja sama sama pabrik, ada perjanjian yang namanya NDA, non disclosure agreement. Jadi dipastiin ya enggak akan dibocorin ke mana-mana bumbu kita gitu ya. Nah, waktu zaman saya dulu kerja sama-sama pabrik itu harus bikinnya minimal 300 kilo sampai 500 kilo. Jadi bikin bumbu kering. Nah, itu bayarnya lumayan, biayanya lumayan ya. Ada minimum order. Nah, enaknya Bapak, Ibu di Kuliner Master ini ada member kita yang punya pabrik bumbu.
33:19 Jadi, Bapak, Ibu kalau mau bikin bumbu fried chicken, bumbu apa? Bumbu apa gitu ya? Bumbu apa? Bumbu buat restonya. Nanti bisa konsul sama dia. Nanti R&D-nya free gratis. Jadi boleh uji coba uji coba sampai jadi. Dan minimum quantity-nya cuma 20 kilo. 20 kilo mah seminggu juga habis kalau ramai gitu ya. Jadi banyak kemudahan ya. Insyaallah sebagai member kuliner Masri Bapak Ibu banyak kemudahan. Ini saya kasih nomor pabrik bumbu karena Bapak Ibu kalau mau menstandarkan kuncinya ada di bumbu ini gitu ya. Nah, ini namanya Pak Jerry. Nanti tanya-tanya aja pokoknya password-nya Bapak Ibu kalau kalau mau ini bilang aja
34:07 saya member kuliner masteri gitu ya. Nah, insyaallah dapat murah tuh Bapak Ibu ya. Dapat murah, dapat kemudahan. Ini kalau saya tulis nomor di sini bukan berarti Bapak Ibu harus pesan di sini. Ini sebagai pembanding ya. Pokoknya ini urusan bumbu ya. Ini bumbu KM nomor teleponnya 0813 22 709 9. Oke ya. Kebaca enggak tulisannya? Ya, tapi pada akhirnya jangan sampai juga kita jadi ketakutan orang tahu resep
34:54 kita, bumbu kita gitu ya. Kayak KFC aja banyak yang bisa bikin ayam kayak KFC atau lebih enak gitu ya. Tapi yang paling penting itu kan bagaimana brandingnya ya, manajemennya itu juga harus kita pikirin. Jangan kita sibuk jagain resep, jagain bumbu, akhirnya enggak ngapa-ngapain dan enggak percaya sama orang gitu ya. Nah, tinggal membagi-bagi aja. Yang ngurusin bumbu nanti siapa gitu ya. Yang ngurusin restonya nanti siapa gitu ya. Oke, bisa dipahami sampai sini Bapak Ibu ya. Jadi sekarang sudah enggak ada lagi istilah beda tangan, beda rasa. Ini Bapak, Ibu juga kalau mau mendelegasikan yang biasa masak sendiri bisa dibikin standar seperti ini. Jadi nanti Bapak Ibu tinggal ngontrol-ngontrol saja
35:42 ya. Nah, ada member kita sate Taican juga begitu kok. Sama sekarang di ngetes ininya create predct baru apa semua di apa distandarisasi seperti ini ya. Jadi lebih gampang. Oke berikutnya harus pakai penglaris ya. Nah, ini keyakinan yang saya juga enggak percaya Bapak Ibu ya. Ya, kalau yang punya keyakinan seperti itu, silakan. Namanya keyakinan kan bebas, Bapak, Ibu, ya. Namanya keyakinan itu tidak bisa diintervensi. Tapi kalau saya enggak percaya bisnis kuliner itu harus pakai penglaris. Saya punya saya punya karyawan banyak yang X KFC dan McD ya. Saya selalu tanya sama mereka, kalau di
36:28 KFC McD ada ritual-ritual khusus enggak? Misalnya bakar-bakar apa menyan misalnya ya di KFC, di McD gitu ya supaya manggil apa? Manggil arwah atau apa biar ngelarisin gitu ya. Semua bilang enggak ada ya. Enggak ada pokoknya ritual-ritual khususlah di KFC atau McD gitu ya. ya di kamar kata Bapak ini ya katanya enggak tahu ininya penglarisnya penglaris Amerika mungkin ya. Nah intinya semua bilang enggak ada ya. Nah berarti kan mereka enggak pakai penglaris gitu-gitu sudah laris ya. Nah ini saya punya satu case Bapak Ibu ya. Saya punya satu kejadian tentang tanah kuburan. Ada yang pernah ngalamin? Jadi
37:14 salah satu sering ya, salah satu outlet saya ya, salah satu outlet saya pernah ada yang dilempar tanah kuburan. Jadi isinya kain putih ya, isinya kain putih apa kain putih isinya tanah sedikitlah tanahnya gitu ya. Nah, terus setelah kejadian itu ee karyawan saya bilang, "Pak, ini setelah kita dilempar tanah kuburan, Pak, ini omset kita turun terus, Pak, ya. Jadi sekarang itu kalau konsumen ngelihat itu sering mereka bilang tempat kita kayak tutup ya. Sering ya kejadiannya begitu ya. Nah, akhirnya saya coba datang ke lokasinya. Begitu saya datang ke sana ternyata persis di samping toko saya ada toko
38:02 bakeri yang baru dibuka. Bukan berarti toko bakri itu yang ngelempar tanah kuburan. Bukan gitu ya. Jangan seuzon dulu ya. Memang akhirnya tempat saya agak ketutup. Nah, terus saya bilang sama karyawan saya, "Kamu mulai besok pasang tulisan jam operasional besar. Buka jam berapa, setiap hari apa gitu ya. Pokoknya jam buka, jam tutup, tulis yang gede. Jangan sampai enggak ada, enggak kebaca gitu ya dari pinggir jalan. Nah, terus ini lampu-lampu saya bilang tuh udah ada yang mati ya, ada apa? Ada yang udah ee redup. Lampu ini ada masa pakainya, Bapak, Ibu ya. Walaupun masih hidup kena debu apa kalau ini reduk ya. Saya bilang ganti-gantiin
38:47 kalau perlu lampu kita lebih terang dari kiri kanan ya. Kemudian banner-banner nih, banner-banner kayak gini saya bilang ganti tuh banner-banner udah ada yang udah ada yang pudar warnanya, udah ada yang enggak ada warnanya, udah ada yang sobek-sobek semua ganti. Ya, setelah itu dilakukan, Bapak Ibu omsetnya naik lagi. Nah, kadang yang menurunkan aura bisnis kita karena enggak ada maintenance, lampu mati enggak diganti, ya. Sehingga akhirnya tempat kita kelihatan apa? Redup gelap enggak kelihatan, suram. Ya, terus banner. Banner baru bikin bagus ya. Tapi
39:34 ini umurnya paling 3 bulan apalagi ditaruh di luar kena cahaya matahari apa redup hilang warnanya. Ditambah lagi ada usaha baru yang berdiri persis di samping kita. Jadi punya dia kelihatan bagus, kita kelihatan kayak udah tutup gitu loh, Bapak Ibu maksudnya. Jadi orang kalau nanya penglari saya di mana-mana ramai gitu ya. Penglari saya tuh cuma satu lampu, Bapak, Ibu. Saya tuh lampu selalu saya pakai paling terang. Kalau lampu terang ada yang nyangka tutup enggak? Coba lihat Alfamart, Indomart ada yang lampunya remang-remang enggak? Ada. Lampunya semua terang. Dan lampunya saya selalu kalau untuk rumah makan warnanya seperti ini. Ini
40:21 namanya warm white. Kenapa warna rumah makan itu seperti ini? Supaya warna makanan jadi lebih bagus. Golden brown ya keluar. Tapi kalau untuk di dapur itu wajib warna putih supaya warna makanan tidak berubah. Ini banyak loh member-member Kunir Master Bapak Ibu cuma bikin terang restonya itu omsetnya naik. Itu baru itu yang dilakuin ya restonya pokoknya dibikin terang aja udah omsetnya langsung naik ya. Itu penglaris yang pertama. Jadi saya tuh enggak pernah percaya penglaris-penglaris Bapak Ibu. Jangan sampai Bapak Ibu omsetnya enggak
41:06 naik-naik. Sibuk cari penglaris ke sana ke sini, ke sana ke sini, omsetnya enggak naik malah frustasi nanti ya. Nah, ini Bapak Ibu datang ke sini ini penglaris yang sesungguhnya ya. Karena Bapak Ibu meng-upgrade knowledge dan knowledge-nya bisa dipraktikkan ya. Nah, berikutnya bisun ini musiman ya. Ini termasuk saya enggak percaya ya. Ada yang bilang, "Mas, saya enggak mau ah bisnis kuliner gampang jenuh pasarnya." Nah, yang jenuh itu bukan pasarnya, yang jenuh itu pengusahanya karena enggak punya visi atau cita-cita jangka panjang. Kemarin saya sempat bahas di seminar ya, ini siapa di sini yang omsetnya lagi turun ya?
41:53 Boleh angkat tangan enggak apa-apa ya. Nah, terus ada yang bilang begini, "Mas Rangga, ini omset nih lagi turun karena daya beli ya, Mas turun ya?" Ya, bukan bukan daya belinya, Bapak, Ibu. Daya juangnya yang turun. Ya, kita lihat masih banyak kok restoran yang ramai, restoran yang ngantri. Kenapa demikian? Yang terjadi adalah sekarang ini persaingan makin banyak, saingan Bapak, Ibu makin banyak, konsumen jadinya semakin selektif mau mengeluarkan uangnya. Dia enggak mau ngeluarin uang asal-asalan makan di tempat yang asal. Nah, jadi seharian ini nanti Bapak Ibu akan belajar bagaimana bikin rumah makan yang enggak ngasal gitu ya, supaya orang enggak takut keluar uang di tempat kita.
42:39 Nah, jadi kalau kita bicara mindset ya ini tadi pastikan keyakinan-keyakinan yang salah tidak menghambat diri kita ya. Oke, berikutnya kita bicara budget. Kalau di Buner ini budgetnya berapa kira-kira Mas Rangga yang ideal? Nah, ini enggak ada jawaban pastinya, Bapak, Ibu, ya. Karena di bisnis kuliner ini kebutuhan operasionalnya beda-beda. Ya, kalau saya lebih senang begini, "Mas, saya ada budget sekian. Kira-kira saya bisa bikin bisnis kuliner apa?" Ya, karena bisnis kuliner ini bisa dimulai dengan budget berapa aja kira-kira? Sejuta bisa enggak bikin bisnis kuliner, Bapak, Ibu? Bisa. R10 juta bisa, Rp100 juta bisa, R miliar bisa. Nih saya kasih
43:26 tips. Ada member kita di Makassar modal sejuta sekarang omsetnya ratusan juta. Dia lagi bangkrut-bankrutnya waktu itu usahanya fashion. Dia bikin rujak modal sejuta cukup enggak? Cukup. Dia bikin rujak. Dia bikin rujak ya cari buahnya yang segar. Dia promosinya pakai cara apa? Dia punya teman-teman ada yang dokter kandungan. Dia dia kirimin tuh dokter kandungan disuruh bikin story ya. Nah, dokter kandungan kira-kira followernya siapa yang lihat statusnya dia? Ibu-ibu ngidam ya, Dok. Di mana, Dok, itu belinya, Dok? Gitu kan. Jadi yang apa yang ee pasien-pasiennya tuh bilang kayak gitu, itu modal sejuta ya. Nah,
44:11 jadi sekarang ini kita bicara produk sama gimana cara masarinnya. Jadi enggak harus modal gede. Modal gede juga kalau kalau misalnya enggak pas ya ya enggak jadi apa-apa juga ya. Langsung kepikiran nih. Oh iya juga ya bikin rujak gitu ya. Nah hati-hati Bapak Ibu di bisnis kuliner ini banyak biaya tersembunyi ya. Biaya apa itu? Biaya try and error ya. Coba ini salah coba itu salah coba ini gagal. Nah, saran saya ini untuk Ibu-ibu atau Bapak-bapak yang baru mulai, pertahankan biaya awal serendah mungkin. Jangan dulu nafsu, sewa ruko, sewa ini gitu ya. Jangan dulu validasi dulu produknya ya. Apalagi pakai uang bank,
44:59 uang investor ya. Nah, nanti bisnisnya enggak berhasil dikejar-kejar de collektor malah makin pusing untuk recover lagi gitu ya. Nah, jadi ini biaya-biaya ya. Musnya mana ya, Mas ya? Nah, ini biaya-biaya yang biasanya ada di kok keluarnya gini kalau keluarnya ini aja gimana, Mas? Ini biaya-biaya yang ada di bisnis
45:44 kuliner. Ada biaya persiapan survei ya, survei kemudian desain ya. Survei kalau Bapak Ibu wara-wiri ke sana ke sini kan itu ee butuh biaya. Nah, itu masuk ke biaya persiapan. Desain. Nah, desain ini desain 3D ya. Desain 3D ee resto ya. desain boot-nya, desain packaging-nya, ya. Nah, ini kalau kira-kira desain 3D resto berapa sih biayanya, Bapak, Ibu? Jadi, resto kita enggak asal bikin aja, didesain dulu, digambar dulu kira-kira berapa biayanya? Ya, per meter 250 biasanya gitu ya. Kalau misalnya tempatnya ada 20 m kayak 250 ya lumayan biayanya ya.
46:32 ini ada yang sampai bayar R30 juta, R juta gitu ya, bayar biaya desain aja. Nah, kalau kayak begini ya tentunya berat juga di awal. Nah, makanya di Kunermas ada yang bagian bikin desain-desain gitu ya. Itu biayanya cuma R,5 juta Bapak, Ibu ya. Nah, ini nanti sekali lagi bilang aja saya member kuliner Mastery gitu ya. Nah, ini ada namanya JJ ya, namanya JJ. Ada ada beberapa gitu ya, cuma yang lain lagi overload ya karena member kuliner masanya ke sana semua gitu ya. JJ ya. Ada yang posisinya di Jakarta, ini
47:17 posisinya di Klaten. Jadi tinggal Bapak Ibu kasih ukurannya aja nanti dia bikin nanti lihat di apa di IG-nya contoh-contohnya ya. ini 08 82 16 62 276 ya mendingan dirubah-rubah desain daripada sudah jadi dirubah-rubah gitu ya. Nah, sekali lagi ini hanya buat survei, jadi buat pembanding tetap nanti Bapak Ibu cari kira-kira mana yang apa yang lebih e affordable ya. Oke, berikutnya ada biaya sewa tempat. Ini juga hati-hati, ini biaya yang lumayan paling mahal ya.
48:06 Kemudian, nah saya tuh kesalnya kalau di Indonesia nih sewa tempat tuh bisa jadi variabel yang paling mahal. Justru saya di Malaysia saya bisa punya banyak cabang karena sewa tempatnya murah. Kenapa murah di Malaysia itu? Karena sewa tempatnya bulanan. Di sana sewa ruko-ruko tuh bulanan ya. Kalau di kita sewa tuh harus setahun. Dikasih murah kalau ngambil 5 tahun di muka. Ya. Saya di Jogja tuh ada sewa apa? Sewa tempat itu harganya Rp150 juta per tahun. buat Parangga saya kasih murah deh R juta setahun tapi ambilnya 5 tahun di muka ya ya sama aja dong gitu ya berarti duit saya R00 juta harus apa udah udah mendem duluan di situ. Nah ini
48:53 di Indonesia nih kondisinya begitu. Kalau di Malaysia itu sewa tempat itu enggak boleh naik-naikin seenaknya. Itu sudah ada pemda yang ngatur. Misalnya kawasan nih saya misalnya buka di kawasan sah alam itu sewa tempatnya rate-nya tuh sama segituan. Yang ngebedain itu cuma hook sama tengah ya. Atau misalnya saya sewa tempat bekas X restoran ada perlengkapannya itu biasanya sewanya beda. Tapi kalau kosongan itu sama ya terus bayarnya bulanan. Makanya kalau kurang bagus tinggal pindahin aja. Kalau di kita duit sewa tuh udah gede duluan di depan bisa ratusan juta Bapak Ibu ya. Nah, jadi hati-hati nih milih sewa ya. Nanti kita bahas nih lokasi-lokasi yang
49:39 cocok buat disewa. Kemudian berikutnya renovasi, perlengkapan dapur. Ya, perlengkapan dapur standar Bapak Ibu ya. Perlengkapan dapur dan perlengkapan produksi itu gas, kompor kayak gitu-gitu ya. Nah, kemudian berikutnya perlengkapan saji. Nah, ini juga pembelian ini hati-hati Bapak Ibu. Nah, seringkiali jebakannya begini. Ah, saya mau mulai bisnis kuliner nih. Dari sekarang saya nabung-nabung deh. Beli piring ya, beli gelas, beli mangkok. nabungnya dari sekarang. Akhirnya yang seringkiali apa terjadi? Enggak kepakai. Kenapa enggak kepakai? Karena enggak sesuai konsep. Ya. Jadi saran saya beli peralatan saji kayak mangkok, kemudian ee piring dan sebagainya itu terakhir.
50:25 Karena nanti begitu sudah beli tahu-tahu konsepnya beda ya enggak kepakai. Akhirnya ada yang numpuk begitu aja. Nah, saran saya Bapak, Ibu. Jadi, pastikan dulu produknya apa. Nanti beli sampel-sampel aja dulu. Beli sampel-sampel misalnya setengah lusin, nanti ditaruh produknya cocok enggak di piringnya. Jangan-jangan kegedean atau jangan-jangan kekecilan gitu ya. Udah beli sampel-sampelnya dulu. Nanti setelah oke, difoto bagus ya, platingnya oke, baru beli dalam jumlah banyak. Kalau saya beli peralatan saji ini kira-kira harus berapa banyak, Mas Rangga? Sesuaikan aja dengan jumlah sitting capacity-nya. Saya biasanya kalau beli perlengkapan saji ini 2,5
51:13 kali dari jumlah kursi. 2,5 kalinya. Nanti yang 1 seteng saya pakai, yang satu untuk cadangan biasanya dikeluarkan pada saat bulan puasa yang kita enggak sempat cuci piring ya karena ramai gitu ya. itu cadangan keluar. Nah, pahami juga yang sering hilang biasanya apa yang sering hilang kalau di resto Bapak Ibu? Sendok garpu. Ke mana coba hilangnya? Sampah. Tempat sampah dibuang gitu ya. Biasanya main langsung buang-buangin. Nah, pastikan juga ada SOP buang sampah. Jadi, buang sampah itu jangan apa namanya? Main asal buang aja. Pastiin sendok garpunya diambil. yang sering hilang tuh sendok, garpu, sama tempat
52:00 sambal. Makanya tempat sambal tuh saya pakai yang plastik-plastik mika aja tinggal buang-buang. Nah, terus setiap minggu ada stok opnam ee apa namanya? Stock opnam inventory. Kalau enggak ada yang hilang, nah karyawan saya kasih insentif. Kalau ada yang hilang enggak dapat insentifnya, ya. Jadi mendingan kita ngasih bonus buat yang ngejaga daripada ngasih hukuman buat yang ee enggak peduli gitu ya. Kalau saya, saya yang peduli justru saya perhatiin gitu ya. Nah, kadang kala kita ngasih hukuman potong gaji buat ada yang kebuang, tapi yang menjaga enggak kita kasih apa-apa. Nah, seringkiali kan begitu ya.
52:46 Ada. Jadi saya tuh sistemnya buat karyawan M3. Nah, kem kan ada karyawan M3 tuh ada sistem insentif dan bonus. Nah, insentif dan bonus itu bukan berarti target omset, tapi target sesuai pekerjaannya masing-masing. Karena kan dia mau melakukan target itu apa? Barang enggak ada yang hilang nanti dia kasih insentif. Ya. Terus toilet bersih nanti dia dikasih insentif. Kalau omset mah ngikutin gitu ya. Nah, jadi kemudian berikutnya ada elektronik ya, ada elektronik ini standar rekrutmen. Rekrutmen itu ee ada biayanya juga biaya placement ya. Kita misalnya mau merekrut ee di Depok
53:34 ya, infloker Depok terus apa nanti besok di sesi Mas Ical lah akan dibahas dengan jelas ya soal rekrutman, furniture dan dekorasi ya. Kemudian soft sign dan neonsin. Nah, ini juga biasa eh apa di bisnis retail tuh harus ada ya bahan baku awal biaya marketing. Nah, biasanya biaya marketing itu saya 2 sampai 5% dari target omset. Misalnya target omset saya R200 juta. 5% itu harus saya keluarin di awal buat promosi. 5% itu berapa? Ya, berarti R10 juta kalau omset R00 juta. R juta itu harus saya pakai buat iklan, harus saya pakai buat influencer, harus saya pakai buat voucher gitu ya. Itu biaya marketing. Nah, modal kerja sebetulnya kalau di
54:21 bisnis kuliner ini ya modal bahan baku aja buat stok awal ya. Kalau gaji karyawan dicadangin ya enggak perlu sebetulnya. Kenapa? Karena begitu sudah dapat omset sudah otomatis ada pos untuk bayar gaji. Kecuali Bapak Ibu dibayarnya kontrak misalnya ya, ada catering dibayarnya kontrak. Nah, itu berarti harus siapin ee cadangan gaji. Tapi kalau udah udah cocok ee konsepnya, cocok lokasinya, itu sudah langsung dapat gaji karyawan tuh sudah bisa langsung tercover, biaya sewa langsung tercover. Ya. Yap. Silakan mengenai desain terus sama dengan kita tolong.
55:06 Oke. Jadi yang namanya soft apa di apa di bisnis retail itu ada dua ada dua ee apa ya? Ada dua penanda identitas. Jadi ada soft sign sama pul ya. Sofsin itu biasanya tulisan atau identitas kita yang nempel di bangunan. Kalau puls yang pakai tiang. Nah, supaya kebayang Bapak Ibu bayangin aja Alfamart Indomart. Kalau di Alfamart ada tulisan Alfamart yang nempel di bangunannya. Ada puls yang pakai tiang supaya apa? Supaya dari jauh enggak kelewat, bisa kelihatan. Nah, itu subsign sama puls gitu ya, Mbak ya.
55:52 Ada lagi desain desain produk kita sendiri ituimana desain produk. Desain produk biasanya foto produk kayak gitu ya. Kalau menu-menu nanti saya jelasin setelah ini. Misalnya menu yang dipilih apa gitu ya kayak gitu ya. Iya harus ada logonya nanti saya jelasin soal logo ya. Ada lagi yang lain? Lanjut ya. Oke. Nah, sekarang kita bicara. Tadi bicara budget ya. Tadi bicara budget. Nah, sekarang kita bicara idenya. Kalau saya mau buka bisnis kuliner, idenya apa, Mas Rangga? Idenya hari ini saya tidak akan mengarahkan Bapak Ibu milih apa, milih
56:37 apa, milih apa. Silakan, idenya bebas. Tapi yang paling penting Bapak, Ibu paham substansinya ya. Kira-kira kalau Bapak Ibu disuruh milih ya mau buka bisnis kuliner nih cari yang sudah banyak saingannya atau yang masih sedikit saingannya? Nah, enggak ada benar, enggak ada salah ya. Yang ada konsekuensi atas pilihan kita. Kalau pilih yang sudah banyak itu rawan perang harga. Kalau yang masih sedikit saingannya butuh edukasi pasar. Nah, kadang misalnya ada yang bilang begini, "Mas Rangga, saya mau buka restor nih.
57:24 Saya punya tanah ya." Nah, itu di daerah situ tuh Mas Rangga belum ada pemain kuliner sama sekali. Berarti kan masih sedikit saingannya. Nah, kalau dikasih tahu begitu saya agak deg-degan juga karena bisa jadi belum ada saingannya, belum ada pasarnya. Jadi di situ bukan tempat orang nyari makan ya. Jadi kalau saya sebetulnya lebih senang nyari yang sudah banyak saingannya. Kenapa? Karena sudah jelas pasarnya ada. Nah, supaya tidak terjebak perang harga, saya bikin kategori baru. Contoh gini deh, Bapak, Ibu. Karena ini di Jakarta gitu ya, Bapak, Ibu. Lebih gampang jualan handphone di depan rumah
58:11 atau di ITC? Apa? ITC Roxy ya. Roxy atau yang di Kuningan tuh apa? Ambassador ya? Nah, ambassador. Enak jualan handphone di situ apa di ambassador atau di Roxy? Enakan di Roxy kan banyak saingannya di Roxy. Tapi orang dari mana-mana ke situ cari handphone sama kuliner juga. Kalau kita jualan di depan rumah, berarti kita harus harus apa? Harus ngebuka pasar, ngajak orang datang gitu ya. Saya mendingan cari yang sudah banyak saingannya, tapi saya bikin kategori baru supaya tidak terjebak perang harga. Kategori baru tuh apa? Saya bikin pecelele. Saya enggak usah repot-repot lagi jelasin sama orang Indonesia apa itu pecelele. Semua pasti sudah tahu
58:57 pecelele. Nah, tinggal saya bikin pecelele kategori baru. Lelenya digoreng tepung, lelenya kasih filet supaya saya bisa jual lebih mahal dari pecelele kaki lima. Karena di kaki lima enggak ada, ya. Nah, jadi kalau saya lebih milih yang sudah banyak. Nah, kemudian boleh nyontek enggak kira-kira Bapak Ibu di bisnis kuliner ini? Boleh. Namanya itu benchmarking ya. Nyontek itu kan yang ngajarin Bapak pendidikan kita Ki Hajar Dewantoro. Beliau bilang 3N. Niteni niru apa? Niteni niru 3N. Niteni amati tiru modifikasi ya. Apa
59:44 satu lagi kok saya lupa ya? Niteni niru modifikasi. Hah? Neni niru nambahi. Ah ada i-nya belakangnya. Jadi saya lupa. Niteni niru nambahi. Amati tiru modifikasi. Ya. Jadi jadi harus ada benchmark-nya. Kalau kita mau laku ya cari yang sudah laku. Kan kita mau ikutan laku, cari yang sudah laku. Nah, nanti apa yang belum ada di situ baru kita bikin ya. Nah, untuk menciptakan ide di bisnis kuliner ini, Bapak, Ibu ya, Bapak, Ibu pakemnya tuh harus ini. Ini pakemnya. Pastikan penawaran yang kita punya tidak dimiliki
1:00:31 atau di belum dimiliki oleh kompetitor. Jadi, enggak asal buka mau bikin kopi, bikin kopi. Ya, saya tanya bedanya apa sama yang lain? Oh, bedanya gini gini tapi yang lain juga ada ya. Nah, bedanya itu bukan berarti harus produknya saja, Bapak, Ibu. Bedanya itu bisa dibedain dari pelayanannya, tampilannya, ya. Jadi, pintu-pintu diferensiasi itu banyak. Kadang kita ngejarnya rasa. Rasa itu banyak yang punya rasa enak. Nah, contoh di sini siapa yang tahu sambal tempong Indra di Bali? Boleh angkat tangan. Ada yang sudah pernah ke Sambal Indra ya? Sambal itu ramai banget Bapak
1:01:18 Ibu tempatnya. Nanti boleh lihat di YouTube deh. Itu ramai banget ya. Nah di sana ada satu sambal tempong lagi. Apa yang terkenal di sana? Tempong pink ya. Kenapa yang terkenal itu bukan tempong indra? Terus yang satunya tempong Indri. Karena udah pasti nih si Indri ini followernya Indra. Tapi pink ini dia produknya sama sama Indra, kurang lebih mirip. Tapi yang jelas-jelas bedanya adalah kalau kita ke tempong pink suasananya beda. Semua temboknya pink. Dari depan tuh kita sudah lihat warnanya pink, kursinya pink, mejanya pink, terus apalagi? Ee gelasnya pink, terus piringnya warna
1:02:06 pink. Pokoknya semua warna pink. Jadi dia membedakan dari si tampilan. Kalau produk relatif. Nah, kalau Bapak Ibu cuma cuma sama yang lain, nanti dianggapnya follower dari yang udah ngetop, dari yang sudah ada. Dan itu gampang dilupakan ya. Jadi selalu cari saya bedanya sama yang sudah ada apa ya. Yang di tempat lain enggak ada, di tempat saya ada. Bisa dibedakan dari penampilannya, penyajiannya gitu ya. Nah, kemudian pastikan menyelesaikan masalah konsumen. Nah, ini yang sering kali kemarin saya sampaikan di seminar informasinya enggak jelas kita jualan apa. Itu bikin konsumen pusing juga ini jualan apa sih rumah
1:02:53 makan gitu ya. Nah, ini saya cerita sedikit. Ada member kita juga namanya Mas Isa. Dia ee bekas kepala cabang Bank BRI di Bandung ya. Dia buka pecelele kan. Dia buka pecelele. Nah, begitu sudah ikut kelas saya tuh yang harga ditulis, dia langsung langsung mikir juga. Oh, iya juga ya. Ini harus saya tulis kayaknya harganya nih. Jadi biasanya dia itu jualan pecelele itu kan ada tusukan-tusukannya Bapak, Ibu ya. Ada tusukan yang harganya apa? Tusukan ati ampla, tusukan apalagi tuh usus yang kayak gitu-gitu ya, jantung yang kayak gitu-gitu. Dia cerita ke saya, "Koach, ini sebelumnya tusukan-tusukan saya nih,
1:03:39 gitu ya, ini sampai malam tuh selalu sisa. Kadang besoknya udah masih ada dan kebuang gitu ya. Nah, begitu saya tulis, saya tulis tuh begitu pulang seminar saya tulis pakai tari rapi saya gantung saya tulus pakai speidol. Semua tusukan harga Rp6.000 itu belum jam 0.00 itu udah habis." Nah, bisa jadi itu nyisa karena orang mau ngambil takut, enggak ada harganya, takut mahal dengan ditulis, ah ngambil gitu ya. Ini hal sederhana Bapak Ibu. Jadi ngasih solusi. Solusi apa yang mau kita kasih? Nah, solusi itu bukan berarti harus harus nyiptain sesuatu yang mahal. Sederhana aja. Contoh BB Kaleo. Saya senang banget nih BB Kaleo. Ada yang tahu enggak solusi BB Kaleo
1:04:24 apa? BBKL itu memberikan solusi kalau buka sambal tinggal ditarik doang cetek gitu ya. Cara ngikat cara ngikat plastik sambal ini kan sepele Bapak Ibu. Biasanya kan kita digigit ya kalau yang ada giginya. Kalau yang enggak ada giginya kan kasihan dia dicetek doang gitu. Cara ngikatnya dibedain. Kalau sekarang sih sudah pabrikan dia ya. Sekarang tuh sudah pabrikan tinggal sobek yang ada gerigi-geriginya gitu. Kalau dulu yang diikat. Nah, kebanyakan kita kan kalau ngikat plastik lalapan, plastik sambal ikat mati. Kalau BB Kali yo tinggal tarik aja, cepret selesai ya. Cara ngikatnya dibedain. Nah, itu contoh hal kecil memberikan solusi Bapak Ibu ya. Nah, kemudian sentuh. Nah, ini
1:05:11 menawarkan nilai tambah yaitu nilai tambah tuh tadi yang saya contohin. Misalnya saya jual lele, lele goreng ya. Nilai tambahnya di tempat saya ada lele goreng tepung, ada lele vilet yang enggak ada durinya gitu ya. Nah, kemudian sentuh emosional benefit. Nah, ini juga yang sering terlupakan apa itu emosional benefit. Kalau Bapak Ibu jualan makanan cuma mengandalkan rasa yang enak gitu ya, itu namanya functional benefit. Rasa enak, porsi banyak, itu fungsional benefit. Semua restoran bisa melakukan itu. Nah, yang sering terlupakan adalah emotional benefit. Emotional benefit itu apa? Pada saat kita datang ke restoran disapa dengan ramah oleh ownernya.
1:05:59 Pada saat kita datang ke restoran, ada apa? Spot-spot foto yang instagramable. Itu eh emotional benefit. Karyawannya ramah-ramah. Jadi bicara emotional benefit itu adalah pengalaman orang saat datang ke tempat kita. ya bukan cuma makanannya enak. Nah, yang seringki kita pikirkan, oh makanannya enak gitu ya, porsinya banyak tapi emosional benefitnya terlupakan. Padahal orang seringkiali balik karena emosional, karena pengalaman. Nah, kemudian berikutnya amanah terhadap janji. Nah, ini juga yang harus dipastikan seringkiali gitu ya. Ini yang terjadi di foto menu.
1:06:45 Lihat di sosial media, di buku menu. Wah, tampilan fotonya wah gitu ya. Begitu datang di meja, weh kok gini ya. Wah weh ya. Nah, ini harus diperhatiin ya. Jadi jangan sampai apa yang dijanjikan begitu datang tidak sesuai. Ini konsumen akan kecewa ya. Oke, berikutnya kita bicara riset, Bapak, Ibu. Tadi ide, silakan idenya Bapak, Ibu bisa pilih apa saja. Yang penting ini fundamentalnya, ini substansinya gitu ya. Silakan idenya boleh apa saja. Nah, setelah punya idenya kita lakukan riset, kita uji coba kira-kira apa sih yang
1:07:31 dibutuhin sama pasar, masalah apa yang harus kita selesaikan. Terus apakah orang sudah jenuh sama produk yang ada? Nah, ini solusi dikali waktu sama dengan masalah baru. Nah, masalah baru itu apa? Kebosan pelanggan. Jadi, customer itu selalu ya pengin sesuatu yang baru, Bapak, Ibu ya. Ini contoh misalnya orang dulu makan mie goreng ya. Orang dulu makan mie goreng muncul inovasi. Mie goreng itu bisa dimasak sendiri di rumah. muncul lagi inovasi mie itu bisa dibikin dalam perjalanan praktis tinggal cari air panas makin ada inovasi lagi. Enggak perlu air panas cukup air biasa nanti ada teknologi selfitting. Saya ke
1:08:17 Jepang, ke Cina nih udah udah biasa ya. Mungkin di Indonesia belum terlalu banyak ya selfitting kayak gitu ya. Nah, terus apalagi ini yang saya bilang informasi yang enggak jelas ya. Nah, jadi posisikan diri kita sebagai pelanggan, Bapak, Ibu ya. Hati-hati harapan customer itu terus meningkat. Kalau kita enggak ngasah ee apa tidak mengasah diri ya nanti kadal luarsa juga, Bapak, Ibu. Banyak brand-brand yang tadinya legend enggak bisa mengikuti perkembangan gitu ya, akhirnya tertinggal. Kenapa? kayak sederhana kemarin ya, Pak Isman, Pak Fidi masih mau terus datang gitu ya. Karena dia harus harus terus relevan
1:09:03 kayak hoka-hoka bento ya. Saya baca tadi Pak Mas Yusohadi nulis di Instagramnya ee berubah jadi hawand supaya relevan ya. Nah, ini Bapak Ibu kalau Bapak Ibu mau menciptakan produk pastikan produknya divalidasi dulu ya. Kemudian pasarnya divalidasi, kemudian apa? Bagaimana cara masuk ke pasarnya dan nanti bagaimana cara mengembangkannya atau ekspansinya. Sekarang kita bicara validasi produk. Validasi produk itu saran saya cari produk yang kita suka supaya tahu mana yang enak, mana yang enggak enak. Sebetulnya itu aja kalau kita suka. Kalau enggak suka kan kita
1:09:49 enggak mau nyobainnya juga enggak mau gitu ya. Nah, kemudian cari yang sudah menjalankannya, lalu jadikan acuan atau benchmark supaya kita tahu mana yang laku, ya kan kita pengin laku juga. Nah, lalu jangan nafsu cepat jualan, Bapak, Ibu. Validasi produknya ya. Jangan nafsu cepat jualan. Tes dulu dalam skala kecil. open PO, CFD, bazar, jualan di mobil dan lain-lain. Intinya bukan berarti Bapak Ibu harus jualan di situ terus, enggak. Itu untuk memvalidasi produk kita. Coba orang mau beli lagi enggak? Ciri-ciri produk yang valid itu kan orang beli lagi, repeat order, repeat order, repeat order. Nanti kalau sudah
1:10:35 ketemu repeat order-nya, nah baru Bapak, Ibu boleh sewa tempat, boleh ekspansi gitu ya. Oke, sekarang kita bicara produk ya. Selalu hitung HPP-nya Bapak, Ibu ya. Kemudian hitung additional cost-nya. Kalau additional cost itu apa aja? Additional cost itu biaya packaging plastiknya ya. Apa kalau misalnya orang dibungkus apa kan ada biaya plastik, ada biaya packaging sampai plastik sambal yang kecil-kecil itu semua dihitung. Dan saran saya ada beberapa varian di saat kita create produk. Jadi enggak cuma satu varian saja. Nah, kemudian berikutnya lakukan tes terhadap produk kita. Untuk ngetes itu bukan cuma minta
1:11:24 tolong teman-teman atau saudara nyobain. Kalau kita disuruh nyobain keluarga atau teman-teman, biasanya sih semua bilang enak. Enaknya karena enggak enak sama kita, ya. Jadi enaknya enak-enak respect gitu ya. Nah, sebaiknya lakukan yang namanya blind test. Nah, blind test itu misalnya gini, saya mau jualan bebek, saya pasti akan cari bebek yang paling laku di Jakarta karena sudah jelas-jelas dia laku. Bebek apa namanya? Bebek kaleo, bebek selamat. Anggap gitu ya. Nah, saya beli bebek kaleo, bebek selamat ini saya take away, saya bungkus, kemudian saya taruh di meja
1:12:11 bebek kaleo, bebek selamat sama bebek punya saya. Enggak usah dikasih nama, cukup dikasih tulisan A B C. Nah, itu namanya blind test. Nah, kita suruh orang nyoba. Kita suruh orang nyoba gitu ya. Kira-kira bebek mana yang paling disukain? Kan kita cari itu bukan yang enak, yang disukai. Nah, ini namanya preferensi ya. Nah, begitu dicoba, oh ternyata. Nah, ini ada ada form-nya Bapak, Ibu ya. Ada formnya. Begitu pertama dicoba, skor saya di bawah BB Kaleo. Misalnya, saya akan minta si tukang masak yang tadi tuh kan di cerita yang awal ada tukang masak tuh ya. Si tukang masak tadi misalnya
1:12:58 sama restoran yang laku tadi, begitu orang coba skornya masih di bawahnya. Saya minta dia perbaiki lagi rasanya sampai nanti di blind test skornya di atas yang laku ini. Itu namanya adjustment gitu ya. Nah, nanti kalau udah kalau udah apa udah di atas ini ternyata orang nyoba berarti produk kita valid Bapak Ibu. Nah, kadang enggak diuji begini udah bilang, "Wah, punya kita tuh banyak yang bilang lebih enak dari ee apa yang udah laku. Tapi enggak ada datanya." N kalau begini kan ada datanya gitu ya. Ya. AK-ang skornya itu gimana? Ya diisi aja nanti. Nanti diisi skornya kayak pakai yang pagar-pagar gitu, Pak.
1:13:44 Nanti misalnya oh ini skornya sekian gitu ya. Iya. Heeh. Nanti ada ada ee di Google apa? Di Google Form ini. Eh di Google Drive ya. Ini semua sudah dapat Google Drive-nya ya. Sudah masuk di grup. Nah di Google. Di Google Drive apa? di Google e di grup itu nanti di ininya ada Google Drive-nya Hisana Fried Chicken ya. Jadi Hisana Fred Chicken Pak Aksan Hisana Fried Chicken itu selalu rutin melakukan ini. Jadi dia sama produk-produk yang di sekelilingnya di blind test. Jadi blind test-nya tuh bisa satu aula suruh nyobain. Nah dengan begini objektif enggak bisa kita oh lebih enak dari ini, lebih ini gitu ya. Nah, ini yang disebut
1:14:30 dengan blind test gitu ya. Nah, ciri-ciri produk yang sudah pas dengan pasar Bapak Ibu ya, orang mau beli lagi. Itu sederhananya gitu. Kalau Bapak Ibu jualan sekali beli, ah ya mungkin dia enggak enak sama kita. Tapi kalau dia terus repeat order, nah itu berarti produk kita sudah bisa diterima. Jadi tugasnya validasi ini adalah Bapak Ibu mencari produk yang orang mau beli lagi. Kemarin rumus kaya itu apa? Marginnya tinggi ya. yang belinya banyak. Kemudian yang sudah beli mau beli lagi ya. Nah, sekarang kita bicara target market. Nah, ini juga masih banyak yang belum apa belum mengenal atau belum paham target market. Kalau saya tanya target
1:15:16 marketnya siapa? Oh, target market saya semua umur Mas Rangga dari anak kecil sampai orang tua itu makan di tempat saya. Oh, berarti dia belum punya spesifik target marketnya. Saran saya Bapak Ibu, Bapak Ibu harus segera mengenali siapa target market utamanya supaya apa? Supaya jualannya enggak capek. Supaya nanti kalau mau mengembangkan, mau buka cabang tidak salah lokasi. Nah, biasanya kalau kita bicara target market selalu tiga ada selalu ada tiga kelompok Bapak, Ibu. Udah cuma ini aja kelompoknya. Yang pertama anak muda dan pelajar. Yang kedua,
1:16:02 karyawan ya atau pekerja kantoran. Yang ketiga keluarga dan keluarga dan sekarang nambah lagi nih keluarga dan emak-emak atau family dan ibu-ibu gitu ya. Nah, target market itu cuma tiga itu aja Bapak Ibu ya. Nah sekarang buat mengetahui siapa target market utama kita, kita perlu melakukan yang namanya profiling. Nah, profiling itu zaman saya dulu, Bapak, Ibu, untuk memprofiling target market saya, saya foto, si konsumen disuruh pegang logo, saya foto. Nanti dari foto itu saya lihat yang paling banyak datang ke
1:16:49 tempat saya siapa. ya. Nah, nanti lihat berdasarkan kebiasaannya. Kalau anak muda pelajar kebiasaannya apa? Kalau datang ke resto kita bisa langsung kelihatan mereka sama-sama sama teman-temannya rombongan pakai seragam sekolah. Itu yang kelihatan ya. Kalau kantoran sama teman-temannya pakai baju seragam kantor pakai lanyard gitu ya. Kalau keluarga family ada anak kecil atau ibu-ibu semua isinya. Udah itu aja ngebedainnya. Nah, sekarang kita foto ya. Saya sudah foto dari foto ini. Kira-kira ini siapa? Anak muda atau kantoran? Ini kantoran. Pakai seragam kantor. Oke. Ini
1:17:37 anak muda ya. Ini anak muda ya. Ini anak muda. Ini anak muda pakai seragam SMA. Ini anak muda. Ini. Ah, ini kantoran. Ini anak muda. Ini anak muda sekolah gitu ya. Ini family ya. Ini anak muda. Anak muda ini family lah ya. Ini family ya. Ini anak muda. Anak muda. Anak muda. Anak muda. Anak muda ya. Nah ini kan butuh
1:18:23 latihan Bapak Ibu untuk ngenalin ini gitu ya. Nah, dari foto-foto ini saya bisa tahu ternyata yang paling banyak datang ke tempat saya adalah anak muda. Nah, sekarang kalau untuk ngedatangin lebih gampang ngedatangin lebih banyak anak muda atau keluarga kita tarikin yang baru-baru atau misalnya kantoran. Lebih gampang anak muda kalau nawarin itu lebih gampang nawarin ke yang sudah suka daripada yang kurang suka kita tarik-tarik. Bisa dipahami enggak sampai sini, Bapak, Ibu? Nah, inilah fungsinya target market. Jadi, kita tuh sudah tahu, oh ternyata yang datang ke tempat saya anak muda. Jadi, nanti kalau saya mau buka cabang, saya buka cabang yang di daerah banyak anak mudanya. Di mana
1:19:09 kira-kira Bapak Ibu? Daerah kampus. Nah, ini terbukti loh, Bapak, Ibu. di daerah-daerah yang banyak kampusnya itu balik modal cabang saya itu lebih cepat dibanding yang di area perumahan. Bukan berarti di perumahan enggak laku gitu ya, cuma di daerah-daerah anak muda itu lebih cepat. Makanya saya di Margonda itu bisa ada tiga cabang loh, Bapak, Ibu. Satu jalan depan depan karena daerah mahasiswa ya. Kalau diperhatiin banyak saya tuh di daerah mahasiswa BINUS itu berapa kali balik modalnya Bapak Ibu gitu ya. Karena daerahnya anak muda. Nah kalau daerah anak muda saya promosi bikin paket-paket
1:19:56 yang anak muda, bahasa-bahasa anak muda gitu ya. Kemudian fasilitasfasilitas anak muda. Fasilitas anak muda kira-kira apa, Bapak Ibu? Sandang, pangan, casan. ya. Ah, jadi kalau anak muda tuh yang penting charger. Kalau Wii kadang ya mereka sudah punya kuota sendiri. Charger ya ada apa ada TV belum tentu juga mereka sibuk sama gadget masing-masing. Yang penting
…