Ringkasan Singkat
Video ini membahas tentang Board of Peace yang dibentuk oleh Donald Trump, yang dianggap sebagai bentuk premanisme internasional dan penjajahan terselubung. Felix Siauw menekankan bahwa tujuan utama Board of Peace bukanlah perdamaian, melainkan untuk menunjukkan dominasi Amerika Serikat dan memaksa negara lain untuk tunduk. Keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace dipertanyakan, karena dianggap lebih didasari oleh kepentingan ekonomi dan rasa takut terhadap Amerika Serikat daripada dukungan terhadap Palestina atau kemanusiaan.
- Board of Peace adalah alat untuk menunjukkan dominasi AS, bukan untuk perdamaian sejati.
- Keikutsertaan Indonesia dipertanyakan karena kepentingan ekonomi dan rasa takut.
- Penjajahan pemikiran adalah masalah utama, yaitu merasa bisa menyelesaikan masalah dengan ide penjajah.
Logika Dasar dan Tujuan
Felix Siauw memulai dengan menjelaskan pentingnya memahami logika dasar dalam melihat segala sesuatu, yaitu dengan melihat tujuannya. Jika tujuannya benar, maka tindakan yang dilakukan bisa dianggap benar. Namun, jika tujuannya salah, maka semua tindakan yang dilakukan akan menjadi salah. Analogi diberikan dengan contoh seseorang yang ingin pergi ke Surabaya, di mana semua persiapannya akan benar jika tujuannya benar, tetapi akan salah jika dia malah pergi ke Padang. Logika ini diterapkan pada pembahasan Board of Peace.
Board of Peace: Alat Dominasi Amerika
Board of Peace dibentuk oleh Donald Trump untuk menunjukkan kepada dunia siapa yang berkuasa. Amerika Serikat bertindak seperti preman pasar yang melakukan apa pun yang mereka inginkan karena merasa tidak ada yang bisa menantang mereka. Trump menunjukkan kesombongannya dengan menangkap presiden Venezuela, Maduro, yang melanggar hukum internasional, dan mendukung Israel dalam melakukan apa pun yang mereka inginkan di Gaza tanpa konsekuensi. Trump tidak mau diatur oleh hukum apa pun, sehingga membentuk Board of Peace untuk menunjukkan bahwa PBB dan hukum dunia tidak berarti baginya. Tujuan Board of Peace bukanlah perdamaian, tetapi untuk menunjukkan siapa bos dan memaksa negara lain untuk ikut.
Keterlibatan Tokoh Kontroversial dalam Board of Peace
Untuk menjadi anggota Board of Peace, negara harus membayar sejumlah besar uang, namun keputusan tetap di tangan Amerika Serikat. Ini menunjukkan premanisme dalam skala internasional. Orang-orang yang bergabung biasanya tidak punya pilihan dan menunjukkan kelemahan mereka. Anggota Board of Peace termasuk orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengan Israel dan memiliki kepentingan pribadi, seperti Jared Kushner (mantunya Trump), Steve Mnuchin, Marco Rubio, dan Benjamin Netanyahu. Netanyahu, seorang tokoh yang terlibat dalam pembunuhan, justru membahas perdamaian, sementara orang-orang yang menjadi korban genosida tidak diajak bicara. Ini adalah bentuk penjajahan yang terjadi secara legal dan dilakukan oleh orang-orang berdasi.
Posisi Indonesia dalam Board of Peace
Keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace dipertanyakan, apakah perhitungannya mempertimbangkan kepentingan Palestina. Indonesia bergabung karena takut tarif dagang dinaikkan dan takut melawan Trump. Dengan bergabung, Indonesia seolah-olah menyetujui jaminan keamanan Israel, yang menjadi masalah karena tidak ada jaminan keselamatan bagi warga Gaza. Pilihan kata-kata yang selalu menjamin keamanan Israel menunjukkan bahwa Indonesia takut dan tidak punya pilihan. Lebih baik jujur mengakui bahwa keikutsertaan ini didasari oleh kepentingan ekonomi dan rasa takut terhadap Amerika Serikat. Bergabung dengan Board of Peace juga dianggap sebagai jalan normalisasi dengan Israel, di mana pemimpin Indonesia membahas perdamaian dengan Israel dan Amerika Serikat membahas rencana untuk Gaza dengan Netanyahu.
Penjajahan Pemikiran dan Pentingnya Ilmu
Felix Siauw menekankan bahwa masalah utama bukanlah kelemahan fisik atau ketidakmampuan untuk bernegosiasi, tetapi penjajahan pemikiran. Penjajahan pemikiran yang paling berbahaya adalah ketika seseorang merasa bisa menyelesaikan masalah dengan ide penjajah. Membebaskan Baitul Maqdis tidak bisa dilakukan dengan cara berpikir penjajah dan pembunuh. Ilmu akan memberikan pilihan, kekuatan, persatuan, dan cara respons yang paling baik dalam setiap situasi.

