Sastra, Kota, Pikiran Terbuka

Ringkasan Singkat

Video ini membahas hubungan antara kota dan sastra, menekankan pentingnya sastra dalam memahami pengalaman hidup di perkotaan. Sastra memungkinkan kita untuk berempati dan mengalami ruang kota dari sudut pandang yang berbeda, yang tidak dapat ditemukan dalam rencana pembangunan formal. Semangat perbandingan, yaitu kemampuan untuk melihat dari sudut pandang orang lain, sangat penting baik dalam sastra maupun dalam kehidupan sebagai warga kota.

  • Sastra memungkinkan kita mengalami ruang kota dari perspektif yang berbeda.
  • Semangat perbandingan penting dalam sastra dan kehidupan kota.
  • Keterbukaan terhadap sudut pandang lain adalah kunci untuk menjadi warga kota yang baik.

Pendahuluan: Sastra di Tengah Kehidupan Urban

Video ini dimulai dengan pertanyaan tentang relevansi sastra di tengah kehidupan kota yang serba instan dan individualistis. Muncul pertanyaan apakah lebih baik mempelajari keterampilan praktis daripada membaca karya sastra. Video ini bertujuan untuk membahas bagaimana sastra dan kota saling berhubungan dan bagaimana literasi, khususnya sastra, dapat berdampak pada pengalaman hidup sebagai warga kota. Kota sering dianggap hanya sebagai tempat berkumpulnya orang-orang, tetapi sebenarnya lebih dari itu.

Ruang Kota Menurut Henri Lefebvre

Video ini memperkenalkan teori sosiolog dan filsuf Henri Lefebvre tentang produksi ruang. Lefebvre menyatakan bahwa ruang terdiri dari tiga elemen yang saling terkait: ruang yang dipersepsikan (pemandangan yang kita lihat), ruang yang dikonsepkan (ruang yang direncanakan oleh pemerintah), dan ruang yang dihidupi (pengalaman dan perasaan kita dalam ruang tersebut). Kota tidak hanya terdiri dari bangunan dan rencana tata ruang, tetapi juga pengalaman subjektif warga kotanya. Pengalaman ini tidak tercermin dalam rencana strategis pemerintah, tetapi dapat diakses melalui karya seni, khususnya sastra.

Jakarta International Literary Festival (JILF)

Video ini membahas Jakarta International Literary Festival (JILF) yang mengangkat tema "kota kita di dunia". Festival ini merayakan hubungan antara sastra dan kota, mengajak kita untuk menyelami pengalaman para sastrawan dalam mengalami kota, baik Jakarta maupun kota-kota lain di Indonesia dan dunia. JILF menawarkan berbagai acara seperti bedah buku, musikalisasi puisi, diskusi dengan penulis, dan konser. Tema ini menyoroti pentingnya perbandingan dalam melihat kota dari berbagai sudut pandang.

Semangat Perbandingan dalam Sastra

Video ini menjelaskan bahwa sastra memungkinkan kita untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Saat membaca, kita menangguhkan kepribadian kita sendiri dan mencoba masuk ke dalam kepribadian tokoh dalam karya sastra. Dalam sastra modern, hal ini dikenal sebagai "escape from personality," di mana penulis mencoba melihat dari sudut pandang orang lain. Contohnya adalah penyair Fernando Pessoa yang menulis dengan banyak nama pena (heteronim) dengan kepribadian dan bahasa yang berbeda. Dalam prosa, novel yang baik menampilkan perbedaan suara antar tokoh, bukan hanya dogma dari narator.

Peran Pembaca dalam Sastra

Video ini menjelaskan bahwa membaca sastra juga melibatkan semangat perbandingan. Pembaca harus meninggalkan pandangan mereka sendiri dan mencoba memahami suara dan pikiran tokoh dalam karya sastra. Jika pembaca terlalu sibuk dengan diri sendiri, mereka tidak akan benar-benar membaca, tetapi hanya melamun. Kemampuan untuk membandingkan pengalaman dan pikiran hanya bisa dilakukan jika seseorang terbuka dan bersedia menimbang dari sudut pandang orang lain.

Sastra dan Kota: Berbagi Pengalaman Perbandingan

Video ini menekankan bahwa sastra dan kota memiliki hubungan yang erat karena keduanya berbagi pengalaman perbandingan. Dalam kehidupan kota, kita dituntut untuk melihat dari sudut pandang orang lain dan menyadari bahwa kepentingan kita tidak selalu yang utama. Kota bukanlah sekadar kumpulan individu, tetapi masyarakat yang saling berbagi pengalaman dan bertukar cara pandang. Kota tumbuh ketika warganya bersedia bertukar pikiran dan melihat diri sendiri dari sudut pandang orang lain.

Kota sebagai Masyarakat Sastra

Video ini menyamakan kota dengan masyarakat sastra, di mana orang-orang bersedia bertukar pikiran dan melepaskan cara pandang sendiri. Ketika sastra melupakan pengalaman orang lain, ia menghasilkan dogma, bukan karya sastra. Demikian pula, ketika warga kota hanya mengutamakan kepentingan sendiri, mereka kehilangan ruangnya sebagai manusia yang ada bersama orang lain. Festival seperti JILF memunculkan kesadaran tentang bagaimana kota dialami sebagai bagian dari kolektif bernama warga.

Berpikir Terbuka dan Literasi

Video ini menjelaskan bahwa literasi berfungsi untuk membuka pikiran dan membiarkan sudut pandang lain masuk menjadi bagian dari diri kita. Tujuannya adalah untuk melihat diri dari sudut pandang orang lain. Mengutip Husein Victor dan Erich Auerbach, video ini menjelaskan bahwa orang yang sempurna adalah yang memandang seluruh dunia sebagai negeri asing, karena ia memiliki keberanian untuk melihat diri asing kembali dan meragukan keyakinan yang selama ini dipegangnya. Kesadaran inilah yang merupakan pencapaian tertinggi dari kegiatan berkesusastraan dan menjadi warga kota.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 di tengah kota yang semakin serba instan untuk apa sebetulnya seseorang membaca karya sastra Bukankah lebih menguntungkan kalau misalnya dia mengikuti kursus kepribadian atau skill praktis Ya belajar skill praktis daripada menghabiskan waktu duduk-duduk baca ratusan halaman novel dan untuk apa pula di dalam kota yang semakin individualis ini seseorang perlu mendengarkan suara tokoh-tokoh di dalam sastra di dalam novel misalnya seperti itu untuk apa semua itu Bukankah lebih berguna kalau kita menggunakan waktu kita belajar hal yang praktis ya daripada menghabiskan waktu membaca sastra atau mengikuti diskusi sastra Jadi untuk apa sebetulnya sastra di tengah kehidupan urban [Musik]

0:49 Halo teman-teman untuk waktu yang lama saya sudah tidak membuat lagi Vlog ya karena kesibukan di kantor pekerjaan jadi Memang agak susah sekali mengatur waktu 2-3 bulan ini jadi channel ini cenderung Kosong gitu nggak ada isi baru gitu tapi saya akan coba memulai lagi semoga waktunya cocok dan disini sekalian juga renovasi tempat untuk syuting dan di video kali ini kita akan membahas tentang hubungan antara kota dan sastra ini satu persoalan yang mungkin kita semua bisa relate ya Jadi bagaimana bacaan literasi khususnya sastra itu bisa berdampak langsung dengan pengalaman kita hidup sebagai warga kota gitu dan mengapa saya mengangkat ini ya karena kota itu kan orang sering membayangkan itu sekedar tempat dimana orang ribuan

1:36 ratusan ribu jutaan orang berkumpul di sana mengusahakan kehidupan mereka masing-masing ada yang kerja ada yang sekolah ada yang mengerjakan masing-masing urusan mereka sendiri gitu jadi hanya satu tempat yang kebetulan merupakan tempat mereka semua berkumpul tapi sebetulnya kalau dipikir-pikir lagi kota sebetulnya tidak bisa diartikan sebagai sekedar kumpulan orang ya tempat dimana orang berkumpul ya dalam berbicara tentang kota sebagai ruang kita perlu mempertimbangkan pandangan seorang sosiolog tapi juga sekaligus filsuf bernama aureld dia itu menulis buku berjudul the production of space dalam buku itu dia menteorikan bahwa ruang itu selalu terdiri dari tiga hal ruang yang dialami manusia sehari-hari itu ada 3 yang muncul secara bersamaan yang pertama adalah ruang yang

2:21 dipersepsikan yaitu segala macam ruang yang kita lihat ketika kita melakukan pergerakan di dalamnya misalnya kita naik busway atau berkendara dari satu tempat ke tempat lain kita melihat pemandangan di sekitar dan seterusnya itu adalah ruang yang dipersepsikan selain itu juga ada ruang yang dikonsepkan yang disebut sebagai konsep Space ruang yang dibayangkan yang digagas yang dipikirkan seperti ini adalah ruang yang direncanakan misalnya oleh dinas tata kota gitu ketika mereka merencanakan Bagaimana sebuah kota mau dibangun bagian mana mau dibikin jadi pasar bagian mana Jadi area industri dan seterusnya itu mereka membangun suatu konsepsi tentang ruang ini yang kita lihat secara langsung misalnya dalam apa

3:08 peta tata ruang kota gitu ya ini adalah konsep Space tapi juga ada ruang yang ketiga yang menurut saya tidak kurang pentingnya yaitu apa yang dia sebut sebagai Life Space jadi ruang yang dialami yang dihidupi gitu Ini adalah ruang yang kita rasakan ketika kita melakukan perjalanan di dalam sebuah kota atau di taman atau di manapun kita berada itu Jadi dari situ kelihatan bahwa sebetulnya ruang bukan hanya satu tempat fisik yang kita lihat ya bukan hanya persis Space tapi juga ruang yang dikonsepkan dan juga ruang yang dihidupi gitu dan ketika kita bicara ruang kota kota itu tampil dalam tiga hal itu sekaligus gitu kita tidak hanya melihat pohon-pohon rumah apartemen mall dan seterusnya tapi kita

3:55 juga melihat Bagaimana rancangan itu bekerja dalam bentuk rencana strategis misalnya kalau kita bicara tentang pemerintah ya pemerintah menyusun sebuah rencana strategis atau biasa disebut Renstra tentang tata kota gitu ya bagaimana daerah sini mau dikembangkan menjadi apa dan seterusnya gitu dan di sana Lengkap dengan angka-angka pertumbuhan yang ditargetkan gitu ya pada tahun sekian akan dibangun sekian hektar di sini dan seterusnya tapi kota bukan hanya ruang yang dirancangnya kota adalah juga satu ruang yang dihidupi yang dialami gitu dan yang apa yang dialami itu tidak muncul di range tidak muncul di rencana tata kota gitu dia sesuatu yang kita rasakan langsung di tubuh kita di dalam imajinasi kita di dalam perasaan kita di dalam mood swing kita hari demi hari itulah kota yang kita alami kota yang

4:41 kita hadapi gitu jadi kita nggak akan menemukan kesedihan kita di dalam bagan anggaran pemerintah daerah ya kita tidak akan menemukan Juga misalnya waktu yang kita buang ketika kita menunggu ojek online hujan-hujanan gitu ya di pinggir jalan gitu itu gerakan ada di dalam rencana strategis pemerintah kota yang ada adalah angka target-target pembangunan indeks-indeks dan seterusnya itu adalah semua ruang yang dibayangkan tadi yang dikonsepkan itu tapi ruang yang dihidupi selalu luput dari situ bagaimana kita mau mengakses ruang yang di hidup itu caranya adalah lewat karya seni gitu dalam hal ini sastra ya Jadi kalau kita masuk ke dalam karya sastra sebetulnya kita masuk ke dalam sebuah ruangnya ketika karya sastra itu bicara tentang kota membicarakan warga kota dan

5:27 seterusnya maka kita bicara tentang bagaimana mereka tokoh-tokoh di dalam karya sastra itu mengalami ruangnya ruang yang dihidupi itu dan kita sebagai pembaca ikut bisa berempati mengalami ruang tersebut seolah-olah kita dipindahkan dari ruang konkrit kita sekarang masuk ke dalam ruang yang dibayangkan oleh tokoh-tokohnya yang dirasakan yang dialami itu gitu ada sebuah festival yang akan diselenggarakan sebentar lagi ya tepatnya minggu depan tanggal 22 sampai 26 Oktober ini yang memang merayakan hubungan antara sastra dan kota ya namanya adalah Jakarta International literally festival atau yang disingkat dengan Child ini adalah satu event yang memang sudah berjalan beberapa tahun ini dan pada tahun ini khusus membahas mengenai konsep hidup Urban Ya bagaimana yang Urban itu masuk ke dalam karya sastra

6:14 dibicarakan dari berbagai macam sudut pandang jadi kita diajak masuk menyelami pengalaman para sastrawan mengalami kotanya dan bukan hanya kota Jakarta tentunya tapi juga berbagai macam kota lain di Indonesia ataupun di luar ya kita mengadakan suatu komparasi suatu bandingan antara pengalaman ke kotaan kita di Jakarta misalnya dengan pengalaman kekotaan teman-teman di Makassar atau teman-teman di tempat lain di negara lain dan seterusnya di tanggal 22 sampai 2 Oktober itu akan terselenggaranya banyak banget acaranya Jadi mulai dari kayak bedah buku bedah karya musikalisasi puisi diskusi dengan para penulis kemudian juga akan ada pasar lalu konser efek rumah kaca gitu Jadi teman-teman yang tertarik nanti bisa saja ikut ke event ini itu adanya

7:00 di Taman Ismail Marzuki di kawasan sekitar situ yang menyelenggarakan adalah dewan Kesenian Jakarta silahkan Nanti teman-teman ikut dan di sana kalian akan ikut bisa terlibat di dalam diskor tentang bagaimana sastra dan kota itu saling berelasi dalam sepanjang sejarahnya Kenapa saya mengangkat tentang jilbab atau Jakarta internasional festival di sini adalah karena tahun ini mereka mengangkat tema yang menarik ya kota kita di dunia mereka itu adalah rumusan tema yang menggambarkan saya pikir masalah utama dari hubungan antara sastra dan kota atau topik utama atau isu utama dari relasi antara sastra dan kota yaitu adalah soal perbandingannya jadi ketika kita bicara tentang sastra dan kota sebetulnya itu kita bicara tentang perbandingannya jadi yang dimaksud

7:45 dengan perbandingan di sini adalah bagaimana kita bisa melihat dari sudut pandang yang bukan sebetulnya bukan sudut pandang kita ini terjadi dalam semua karya sastra ya jadi misalnya ketika kita membaca sebuah novel atau membaca sebuah puisi kan kita seperti menangguhkan sejenak kepribadian kita ya Jadi kita seperti berhenti sebentar menjadi diriku dan mencoba masuk ke dalam kepribadian yang muncul di dalam karya itu entah para tokoh yang ada di novel di cerpen ataupun kepribadian lirik yang ada di dalam puisi gitu aku lirik yang ada di sana kita mencoba berempati dengan si suara di dalam karya gitu Dan itu adalah satu hal yang tadi menggarisbawahi hubungan juga antara sastra dan kota di dalam sastra modern

8:31 hal semacam ini itu dikenal dengan satu rumusan yang seringkali di atribusikan dikenakan pada para penulis ya yaitu Escape program personality jadi dalam menuliskan puisi terutama seorang penyair itu melarikan diri dari kepribadiannya paling tidak menuruti es elite itu adalah ciri dari puisi modern ya puisi yang bisa mengambil jarak ketika penyairnya mengambil jarak dari dirinya sendiri gitu berbeda dari para penyair romantik yang cenderung menulis puisi dengan cara mengekspresikan semua perasaan pribadinya para penyair modern ini justru bergerak sebaliknya sang penyair dalam hal ini mencoba melihat dari sudut pandang orang lain gitu mencoba melihat misalnya Bagaimana seorang dari tradisi yang berbeda sama sekali mengalami sesuatu sebetulnya

9:16 dalam puisi-puisi TS alien sendiri tidak terlalu tergambar ya usaha pelarian dari kepribadian ini sangat sedikit sekali ketika dia memasukkan kutipan seperti itu mungkin ya suara Dialog tokoh-tokoh itu mungkin bisa dianggap sebagai SG propersonality tetapi secara keseluruhan sebetulnya puisinya menggambarkan satu suara yang bulat ya suara utuh dari si penyair dalam hal ini DSLR kita akan jauh lebih bisa melihat perbedaan suara itu ketika kita beralih ke penyair lain yang juga punya semacam Obsesi serupa ya meninggalkan kepribadian sendiri dan melihat dari sudut pandang perbandingan membandingkan dunia dari sudut pandang orang lain gitu nah ini adalah seorang penyair dari Portugal bernama Fernando Vespa di dalam hidupnya dia cukup unik ya dia menulis banyak sekali karya yang

10:03 yang nama penanya itu ada puluhannya sampai 80 kalau nggak salah dan ini disebut sebagai heteronim jadi dia bukan sekedar menulis dengan nama samaran tetapi menulis dengan kepribadian lain ya dengan riwayat hidup lain dengan bahkan bahasa yang lain ada salah satu heteronimnya kalau nggak salah namanya wait itu apa-apa dia menulis dalam bahasa Inggris ya sedangkan teswa sendiri menulis dalam bahasa Portugis jadi kelihatan loh perbedaan bahasanya bahkan jadi ini adalah contoh Bagaimana seorang penyair berusaha keluar dari kepribadiannya sendiri ya masuk merasuk ke dalam kepribadian ramai melebur ke dalam kepribadian kota Lisbon dan seterusnya itu itu yang dilakukan oleh pesoan demikian pula dalam perkara para

10:50 penulis prosa ketika mereka menulis cerpen atau novel gitu mereka kan tidak hanya menulis dengan satu suara saja ya satu suara naratornya Misalnya seperti itu tapi mereka juga menulis dalam suara unik dari masing-masing tokohnya dan novel itu bisa dikatakan bagus sekurang-kurangnya salah satunya adalah karena muncul separasi suara antar tokoh gitu jadi suara seorang tokoh berbeda dari suara tokoh yang lain ya pilihan katanya lain Mereka merefleksikan cara pandang terhadap dunia yang lain dan seterusnya karena kalau tidak begitu maka satu novel ini isinya adalah satu dogma ajaran dari seorang narator kepada pembaca itu akan menjadi diktat bukan novel yang membuat novel itu menarik adalah Justru karena suaranya itu beragam hal semacam ini juga berlaku

11:35 bukan hanya di dalam perkara penulis sastra ya bukan hanya para penyair Novelis cerpen dan seterusnya tetapi juga para pembaca karena laku membaca itu sendiri kan seperti tadi saya sampaikan adalah laku meninggalkan sejenak atau menangguhkan sejenak pandangan-pandangan kita sendiri gitu kita coba masuk mendengar suara orang lain suara tokoh ABC dan seterusnya suara-suara di dalam puisi dan seterusnya Nah jadi semangat perbandingan atau semangat membuat diri itu tidak berada dalam relasi dengan yang lain bisa bertukar tangkap dengan kepribadian yang lain itu juga dialami oleh pembaca ya Bahkan bisa dikatakan tidak ada laku membaca yang tidak dalam arti tertentu meninggalkan diri sendiri sekarang bayangkan kalau kita membaca novel atau puisi atau cerpen itu dengan

12:24 tanpa mengindahkan suara yang lain gitu Jadi kita membaca itu dalam proses pembacaan itu kita sibuk dengan diri kita sendiri dengan pikiran kita sendiri apa yang terjadi adalah kita tidak membaca ya kita akhirnya melamun ya kita sibuk dengan pikiran kita kita tidak masuk ke dalam pikiran si tokohnya karena mungkin kita merasa pikiran tokohnya konyol kita anggap itu pikirannya kacau dan seterusnya maka kita tinggalkan kita tidak membaca akhirnya sibuk dengan diri sendiri gitu nah ini adalah contoh ya bagaimana bahkan di dalam membaca pun kita itu dituntut untuk meninggalkan sejenak pendirian-pendirian kita meninggalkan kedirian kita dan ini adalah landasan dari yang tadi yang saya sebut sebagai semangat perbandingan itu orang tidak akan bisa masuk ke dalam semangat perbandingan atau kesediaan

13:11 untuk membandingkan pengalaman dan seterusnya kalau dia terlalu kekeh dengan dirinya sendiri gitu kalau dia belum selesai dengan dirinya sendiri masih sibuk mendefinisikan diri masih sibuk apa menganggap diri penting dan seterusnya itu dia nggak akan bisa masuk ke dalam pendirian orang lain gitu maka ask from personality tadi juga berlaku ya dalam hal ini dia hanya bisa dilakukan kalau orangnya terbuka untuk menimbang dari sudut pandang orang lain artinya juga memandang bahwa pandangan sendiri itu bisa salah gitu bahwa jangan-jangan pandangan sendiri ini katrol bahwa estetika yang kita terapkan kriteria yang kita anggap penting yang kita anggap selama ini kita anggap sebagai ukuran baik dan buruk menilai karya seni atau karya sastra itu

13:57 ternyata bisa salah juga gitu kesadaran bahwa pandangan sendiri itu bisa salah selera kita itu kadang-kadang katrok bahwa kadang-kadang kita bisa mengakui bahwa orang lain bisa dalam arti tertentu lebih tepat daripada kita dan kita belajar dari cara pandang orang lain itu semua itu adalah apa yang saya sebutkan tadi sebagai semangat perbandingannya jadi kesediaan untuk membandingkan pikiran sendiri dengan pikiran orang lain ya tidak menutup mata bahwa ada kemungkinan lain selain cara pandangku yang juga mungkin untuk digunakan untuk Memandang kehidupan yang luas ini gitu Dan itu adalah persis pengalaman tentang kota ya jadi di sinilah saya katakan Mengapa sastra dan kota itu relasinya sangat-sangat dekat itu persis karena itu keduanya itu

14:42 sama-sama berbagi pengalaman perbandingan itu tadi dalam konteks pengalaman hidup perkotaan kan persis ini juga yang terjadi artinya di dalam hidup bergaul dengan warga yang lain ya kita sebagai warga dan seterusnya itu kan kita dituntut juga untuk melihat dari sudut pandang orang lain ya Jadi bukan hanya sibuk dengan diri sendiri dengan kepentingan sendiri tapi juga melihat bahwa jangan-jangan orang lain punya kepentingan yang berbeda dengan kita dan atas dasar apa Kita mengutamakan kepentingan kita sendiri karena orang lain punya kepentingan berbeda juga gitu jadi kesadaran untuk memandang diri bisa keliru itu juga berlaku bukan hanya di dalam sastra tapi juga dalam pengalaman kita sebagai warga kota ya Jadi kita merasa diri tidak sebagai yang punya keseluruhan kota ini tapi sebagai satu dari sekian banyak

15:28 warga yang juga bisa berganti pikiran berganti perspektif dan seterusnya gitu kita bisa bertukar tangkap perspektif dengan sudut pandang orang lain gitu dalam arti ini pula kita bisa menyebut bahwa kota itu bukanlah sekedar kumpulan individu karena kalau dia Kumpulan sekedar kumpulan individu maka masing-masing bergerak ke arahnya masing-masing hancur tuh nggak ada yang namanya kota yang ada hanyalah lautan manusia gitu yang membuat kota menjadi kota adalah warganya dan warga ini menjadi warga karena mereka saling bisa sharing pengalamannya gitu mereka saling bisa bertukar cara pandang warga yang satu memandang kota meminjam dari sudut pandang warga yang lain gitu tanpa adanya kemungkinan untuk bertukar sudut pandang ini nggak akan ada yang namanya kota jadi kota dalam arti itu bisa

16:14 disamakan dengan suatu masyarakat pembaca ya masyarakat sastra sebetulnya pembaca penulis siapapun itu jadi orang-orang yang bersedia untuk bertukar pikiran melepaskan cara pandang sendiri masuk ke dalam cara pandang orang lain melihat diri sendiri dari sudut pandang orang lain dan seterusnya dan hanya dengan cara itulah suatu kota itu bisa tumbuh seperti halnya sastra nasib keduanya ini sama persis ya ketika sastra melupakan pengalaman orang lain ketika dia sibuk dengan pikirannya sendiri dengan pikiran yang dia rasakan benar adanya itu maka dia akan menghasilkan bukan karya sastra tapi sebetulnya tadi itu yang saya bilang ya dogma atau satu apa Manifesto atau apa tapi bukan karya sastra ya dia hanya menghasilkan sebuah keyakinan sebuah

17:00 keyakinan yang gak bisa digantikan yang nggak bisa didialogkan dan seterusnya itu sebuah barang mati sebetulnya demikian pula dengan kota ya ketika warga kota itu berlaku bukan sebagai warga tapi sebagai seorang individu yang sepenuhnya menguntungkan mengutamakan keuntungan sendiri kepentingan sendiri nggak mau berbagi sudut pandang dengan orang lain nggak mau mencoba melihat dari ukuran orang lain maka yang terjadi adalah seorang individu ini kehilangan kotanya Dia kehilangan ruangnya sebagai manusia yang ada bersama yang lain gitu inilah Kenapa saya sendiri menyebut tentang gels ya tentang Jakarta internasional di festival di dalam festival semacam inilah muncul kesadaran tentang bagaimana kota itu dialami bukan sebagai individu tetapi sebagai bagian dari suatu kolektif

17:45 bernama warga itu dan kita seperti halnya dalam sastra merasa diri sebagai pembaca yang bisa bertukar tangkap dengan sudut pandang orang lain sudut pandang pembaca lain ataupun dengan pengarang dengan mencoba melihat kota dari sudut pandang warga negara lain misalnya kita akan bisa mendapatkan potret kota yang sama dengan spirit yang berbeda gitu sekalipun sama-sama misalnya mendeskripsikan Jakarta tetapi karena dia dilihat dari sudut pandang seorang dari luar ya seorang dari Malaysia atau seorang dari Thailand dan seterusnya maka akan tumbuh satu Jakarta yang lain ya Nah kesediaan untuk melihat Jakarta dari sudut pandang yang lain melihat Makassar dari sudut pandang yang lain melihat Jogja dari sudut pandang yang lain dan seterusnya itu itulah yang membuat kita layak disebut sebagai warga kita warga dalam dua arti sekaligus

18:34 warga kota tapi juga sebagai warga dari satu Republik sastra itu Republik orang-orang yang membaca itu Republik of letters Dan inilah yang dimaksud dengan berpikiran terbuka jadi seorang itu membaca karya sastra mendengar musik menonton film pertunjukan dan seterusnya sehingga orang itu bisa melihat dari sudut pandang yang lain gitu ya mau membuka pikirannya pikirannya masih cukup punya ruang untuk diisi sudut pandang yang lain gitu ibarat Gelas itu nggak penuh gitu ya sehingga dia bisa diisi isian yang lain gitu ya kalau gelasnya sudah terlanjur penuh maka dia nggak akan bisa diisi oleh isian yang lain dia hanya isinya itu aja gitu nah ini yang Mau diubah sebetulnya dengan pengalaman membaca sastra mendengarkan musik

19:19 mengikuti diskusi-diskusi dan seterusnya itu jadi Seluruh aktivitas yang kita sekarang disebut sebagai literasi itu sebetulnya fungsinya adalah persis itu Membuka pikiran dalam pengertian membiarkan yang lain masuk menjadi bagian dari kita membiarkan diri asing kembali melihat diri dari sudut pandang orang lain dalam arti ini juga ada sebuah ungkapan yang menarik ya yang dinyatakan oleh sebetulnya oleh tokoh lama dari abad pertengahan namanya Husein Victor yang kemudian dikutip oleh seorang kritiku sastra terkenal sekali namanya Eric aurba ini adalah penulis kritikus yang menulis banyak tentang beli literatur ya sastra dunia ya ungkapannya itu dia kutip dari buku hiu

20:06 sen Victor ya di sini Saya terjemahkannya orang yang memandang tanah kelahirannya mindah masihlah seorang pemula Ia yang melihat semua negeri sebagai kampung halamannya sudah mulai kuat tetapi sempurnalah ia yang memandang seluruh dunia sebagai negeri asing di dalam perkataan ini kan kita bisa melihat dengan jelas ya bahwa kalau orang itu masih menganggap bahwa tanah kelahirannya sendiri itu yang paling indah yang paling keren yang lain katrol semua atau dengan kata lain pandangan sendiri itu yang paling keren pandangan orang lain jelek semua gitu Itu dia masih pemula ya Tapi ketika dia sudah mulai melihat semua negeri sebagai kampung halamannya jadi dia sudah familiar dengan cara pikir orang lain dia sudah familiar dengan tata adat istiadat atau cara berpikir dari manusia-manusia yang lain warga kota

20:53 yang lain maka dia sudah mulai kuat tetapi yang paling sempurna menurut si Husein Victor yang dikutip oleh our bah ini adalah ia yang memandang seluruh dunia sebagai negeri asingnya yang di tahap kedua tadi kan dia merasa semua seluruh dunia ini adalah kampung halamannya jadi dia kosmopolit seperti itu tapi ini bukan yang paling maqomnya bukan yang paling tinggi ya yang paling tinggi adalah ia yang merasakan seluruh dunia ini asing ya ibaratnya seperti Ketika kita melihat dunia untuk pertama Mengapa ini dianggap sebagai maqom paling tinggi menurut Husein Victor dan kemudian aurbah ini karena kesadaran untuk atau keberanian untuk melihat diri asing kembali itu adalah puncak pencapaian dari proses tadi itu ya proses literasi proses SQ from

21:39 personality proses menjadi warga kota dan seterusnya tidak mementingkan diri sendiri bahasa gampangnya ya tadi itu adalah persis makna tersembunyi dibalik perkataan sederhana tadi itu ya jadi kesadaran untuk bisa melihat diri sendiri itu asing ya kenapa saya bisa berpikiran seperti ini ya kan ini jelek menurut pandangan yang lain dan seterusnya jadi kesadaran untuk apa ya punya self Daud nya punya masih punya keraguan terhadap diri yang selama ini kita yakini harga mati kemudian kita tanyakan lagi kesadaran kesangsian semacam inilah yang menurut our bank dan Victor ini dianggap sebagai maqom paling tinggi dari kegiatan berkesusastraan berliterasi atau dalam konteks ini juga bisa kita katakan kesadaran tertinggi

22:26 dari warga kota yaitu ketika seseorang bisa melihat dirinya asing Kembali jadi melihat dari sudut pandang tetangganya melihat dari sudut pandang mereka yang status sosialnya berbeda dan seterusnya dan inilah yang membuat kita menjadi warga ya dalam arti sastra ataupun dalam arti kota [Musik]

Share

Ringkasan Video YouTube