Sejarah Klasik, Kolonial, & Masa Depan Indonesia - Peter Carey & Asisi Suhariyanto | Chronicles #26

Bagus Muljadi www.youtube.com

Ringkasan Singkat

Video ini membahas tentang pencarian identitas Indonesia sebagai negara pasca-kolonial, dengan menyoroti tiga sindrom pasca-kolonial: kehilangan identitas, ketergantungan epistemologis, dan keterikatan pada sistem kolonial. Diskusi mencakup kepemimpinan ideal di masa lalu, legitimasi dan suara rakyat, peran perempuan, etika lingkungan, serta pentingnya epistemologi khas Indonesia.

  • Identitas Indonesia di masa lalu sangat kuat, terutama pada masa klasik.
  • Kepemimpinan ideal tercermin dalam tokoh seperti Diponegoro, yang bersahaja dan dekat dengan rakyat.
  • Pentingnya menggali kembali epistemologi khas Nusantara untuk memberikan solusi terhadap masalah eksistensial global.

Intro

Pembukaan video yang memperkenalkan topik diskusi mengenai identitas Indonesia pasca-kolonial dan bagaimana sejarah dapat memberikan pelajaran untuk masa depan.

3 Sindrom Pascakolonial

Indonesia sedang mencari bentuk sebagai negara pasca-kolonial, yang ditandai dengan tiga sindrom utama menurut Frantz Fanon: kehilangan identitas (the loss of identity), ketergantungan cara pandang (epistemic dependency), dan keterikatan pada sistem logistik kolonial (logistic colonial system) seperti ekonomi ekstraktif dan etika lingkungan. Sejarah penting untuk mengekstrapolasi masa depan dan mengoreksi kesalahan. Kehilangan identitas adalah sindrom yang umum, bahkan di negara-negara seperti Inggris. Pemimpin ideal adalah personifikasi dari nilai-nilai ideal bangsa.

Pendidikan Membuka & Menutup Masa Klasik

Sejarah dibagi menjadi prasejarah, masa klasik (abad 5-15), masa transisi (abad 16-17), dan era kolonial (abad 17-20). Bentuk ideal bangsa Indonesia ada di masa klasik, di mana potensi bangsa digunakan sepenuhnya. Masa klasik dimulai dengan pendidikan luar biasa di Sriwijaya, di mana bangsa asing belajar bahasa Sanskerta. Masa ini juga ditutup dengan pendidikan melalui kadewaguruan dengan berbagai cabang ilmu. Masa transisi menyebabkan hilangnya ingatan akan pendidikan tradisional, digantikan oleh mitos. Pendidikan modern dari Belanda kemudian masuk, tetapi ingatan tentang Sriwijaya dan kadewaguruan hilang. Abad ke-21 ditandai dengan upaya menggali kembali sejarah dan menemukan kembali masa klasik. Penerapan skala zaman penting untuk memahami sejarah, seperti memahami kekuatan kumbang badak dalam skala manusia. Di Jawa abad ke-8, barang berharga yang tertinggal di jalan tidak akan disentuh selama 3 bulan, menunjukkan standar moral yang tinggi.

Kepemimpinan Diponegoro

Diponegoro adalah personifikasi seorang pemimpin yang dapat dipelajari dari Babat Diponegoro, sebuah karya sastra yang diakui dunia. Dia adalah seorang mistikus yang digembleng oleh leluhurnya, dekat dengan rakyat kecil, dan tahan uji. Menderita adalah pupuk bagi seorang pemimpin. Diponegoro tidak berkompromi selama menjadi buronan dan mewariskan teladan yang luar biasa. Dia bukan seorang egotis, tetapi ikhlas. Diponegoro menerima penahanan dengan ikhlas dan beralih ke ranah spiritual, menjadi guru tasawuf di Fort Rotterdam. Leluhur selalu hadir dan tugas kita adalah menyambungkan nilai-nilai leluhur. Diponegoro sangat bersahaja dan keluarganya hidup dalam garis kemiskinan.

Legitimasi & Suara Rakyat

Legitimasi adalah hal abstrak yang mencekik ketika tidak ada. Di masa klasik, pemimpin mendapatkan legitimasi dari rakyat. Sumber Tiongkok kuno menceritakan tentang pengangkatan seorang ratu oleh masyarakat. Prasasti Siwagha menceritakan bahwa Rakai Kayuwangi diangkat menjadi raja atas permintaan rakyat karena mampu memadamkan pemberontakan. Meskipun memiliki akar leluhur, perkenanan masyarakat tetap menjadi penentu. Contohnya adalah Ken Angrok yang harus membuktikan kemampuannya melalui peperangan. Pada masa Majapahit, Jayanegara tetap dikehendaki menjadi raja meskipun memiliki tindakan yang tidak layak. Rakyat memiliki suara yang didengarkan, terutama pada masa Hayam Wuruk. Sistem pemerintahan di masa klasik disebut Mandala, di mana wilayah kekuasaan seorang pemimpin bergantung pada kewibawaan dan kemampuannya. Meritokrasi berlaku, di mana seseorang harus membuktikan kepemimpinannya. Airlangga harus menaklukkan banyak wilayah untuk mendapatkan perkenan rakyat setelah kehancuran Kemaharajaan Medang.

Perempuan, Keterus-terangan, Etika Lingkungan

Sebelum era kolonial, masyarakat sangat terbuka dan terus terang. Perempuan seperti Gayatri, Ratu Kalinyamat, Kartini, Rukmini, dan panglima perang perempuan memiliki peran penting. Panglima Diponegoro yang ganas mampu meluluhlantakkan pasukan Belanda. Banyak perempuan bergabung dengan Diponegoro, bahkan mencukur rambut sebagai prajurit. Ratu Kipaten, eyang buyut Diponegoro, adalah seorang yang sangat khusyuk dan bersahaja. Hubungan dengan alam sangat dekat, di mana Diponegoro selalu membuat tempat meditasi yang berdekatan dengan alam. Dia memiliki teman seekor macan dan dekat dengan berbagai hewan. 75% Jawa adalah hutan, menunjukkan penghormatan terhadap alam. Diponegoro memiliki kemampuan untuk menebak karakter seseorang.

Ketidaksempurnaan Diponegoro

Diponegoro bukanlah orang yang sempurna. Dia memiliki mata keranjang, suka minum wine, dan merokok. Namun, dia adalah orang yang ikhlas. Seperti kata Rumi, kita memiliki dua mata air: satu dari pendidikan formal dan satu dari dalam diri sendiri. Diponegoro tidak ingin mendirikan dinasti dan ingin makamnya terpinggir agar tidak menjadi tempat ziarah.

Jangan Terjebak ‘Nobel Savage’

Penting untuk tidak jatuh pada kritik "noble savage" dengan meromantisasi masa lalu sebagai selalu benar. Meskipun ada konsep kesetaraan gender dan egalitarianisme, kesultanan dan kerajaan sangat hierarkis. Kekuasaan diberikan oleh lingkungan, dan agama monoteistik dari Barat membuat manusia memandang diri sebagai eksepsional dan mengekstraksi lingkungan. Kekuasaan raja bisa diambil sewaktu-waktu oleh alam. Prosesi labuhan adalah bentuk penghormatan terhadap lingkungan.

Epistemologi Khas Indonesia

Indonesia perlu bercerita keluar karena dunia memandang Indonesia sebagai lokus mineral dasar. Kapitan Cina Rembang Lim memberikan contoh etika "secukupnya" dengan tidak merampas semua aset dari lurah. Diponegoro juga percaya pada prinsip "secukupnya" dan menentang korupsi. Alam harus dihormati. Pengetahuan tentang alam diremehkan, seperti cara naturalis memaknai kegiatan vulkanik tanpa memahami kausalitas antara laut dan gunung. Cara kita memaknai alam berasal dari mitos dan cerita, karena tidak ada dikotomi antara sains dan mitos. Penting untuk menggali kontribusi kita dalam ilmu pengetahuan agar relevan di dunia geopolitik.

Axis Mundi

Raja-raja di masa lalu melindungi alam. Ada prasasti yang membatasi komoditas hewan dan mengenakan pajak pada pandai besi untuk melindungi alam dari limbah logam. Ada penjaga hutan dan hukuman berat bagi perusak alam. Masyarakat suku anak dalam menyanyikan lagu sebelum mengambil biji-bijian dari pohon sebalik sumpah. Undang-undang di masa Majapahit memberikan hukuman berat bagi kelalaian yang mengakibatkan kematian. Leluhur kita memiliki filosofi buana agung dan buana alit, di mana kita adalah bagian dari alam semesta. Apa yang terjadi di alam akan terjadi di tubuh kita. Sebelum revolusi industri, aksis mundi adalah spiritualitas. Setelah revolusi industri, aksis mundi adalah ekonomi dan hukum supply and demand, yang menyebabkan pengerukan alam tanpa batasan. Solusinya adalah menggabungkan nilai-nilai spiritualitas dengan ekonomi yang ramah lingkungan.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 [Musik] Kok di Ponegoro tidak kelihatan orang Jawa? Sebab begitu belakang, begitu in face. Justru sebelum era kolonial, orang betul-betul speaks. It was a very open society. The world we have lost is Pran Prampuan. This is a Polyesian. Ini salah satu ciri khas dari zaman prolonial. Ada Gayatri, ada Ratu Kaliniamat, ada seorang Kartini atau seorang Rukmini, ada panglima di Ponegoro yang sebenarnya paling ganas niagang Serang.

0:46 Di masa klasik, rakyat punya suara yang didengarkan. Ketika seorang pemimpin bisa menjaga kewibawaannya dan membuktikan kemampuannya, maka wilayah mandalanya menjadi luas. Banyak negara-negara atau negara kota yang berinduk kepadanya. Tetapi begitu dia tidak mampu menjaga wibawanya dan menunjukkan bahwa dia tidak mampu memerintah, maka wilayahnya akan menyempit. Seperti itu yang ada di masa klasik. Ini menghasilkan apa? Meritokrasi. Seseorang memang harus membuktikan kepemimpinannya. [Musik] Selamat datang di Chronicles, Pak Peter. Eh, Mas Asisi, thank you for making me feel

1:34 underressed. Saya mau memulai dengan sebuah observasi, Pak Peter, masaisi bahwa Indonesia sedang mencari bentuk sebagai negara pasca kolonial. Dan Fran Vananon tadi kita bicara sedikit di backstage itu mengkarakterisasi tiga simptom dari negara-negara pasca kolonial. Yang pertama yang kita akan bahas sekarang adalah the loss of identity, kehilangan identitas. Bukan klasik untuk Indonesia sindrom pasca kolonial ini ada di mana-mana. Dan yang kedua adalah ketergantungan cara pandang epistemic dependency. Yang ketiga adalah keterikatan akan logistic colonial system,

2:21 extractive economy, environmental ethics, those sort of problems. Nah, kita mau melihat dari sejarah karena sebagai seorang matematician sejarah itu cara kita mengekstrapolasi masa depan, memprediksi masa depan. Dan yang kedua adalah cara kita untuk mengkoreksi kesalahan. Oke, kita mulai dari yang pertama. Kehilangan identitas. Indonesia bersama dengan Nepal, Albania, bahkan di Inggris sendiri sekarang baru-baru ini Pak Peter itu sedang mempertanyakan beberapa hal kepemimpinan, legitimasi, otonomi hukum,

3:09 hal-hal yang merupakan sindrom kehilangan identitas. Dan saya percaya bahwa seorang pemimpin itu adalah personifikasi dari yang ideal. Nah, kita mau berkaca dari sejarah kita, apakah kita punya signatur ideal kepemimpinan itu sendiri. Dan dari sini di depan saya ada expert di bidang klasik, di bidang transisi ke kolonial dan di bidang pasca kolonial. Saya mau mulai dari Mas Asisi. Adakah signatur sifat ideal kepemimpinan di masa lampau? Kalau ditanya ada enggak signator atau

3:55 istilahnya satu bentuk ideal di masa klasik? Banyak banget. Jadi saya akan permudah untuk teman-teman. Sejarah itu dipandang ee dipandang seperti sebuah timeline. Paling awal prasejarah. Oke, kita enggak akan membahas itu. Kemudian abad 5 sampai 15 itu muncul namanya masa klasik. Kita mengenalnya dengan era Hindu Buddha. Tapi saya lebih setuju dengan masa klasik. Setelah itu masa transisi abad 16 hingga 17. Setelah itu abad 17 sampai abad 20 adalah era kolonial. Pak Peter pakarnya untuk itu. Nah, kalau saya pikir bentuk ideal bangsa kita itu justru ada di masa klasik. Karena di sana kita bisa menggali bagaimana ketika sebuah potensi bangsa

4:42 itu digunakan sepenuh-penuhnya. Ingatan kita hari ini tentang sejarah itu hanya mampu menjangkau masa kolonial, ingatan deep down kita, bangsa kita. Karena ada pernah keterputusan yang saya bilang tadi masa transisi abad abad 16 hingga 17 itu kita lost. Bayangkan kita masa klasik kita mulai dengan apa? dengan adanya sekolah pendidikan yang sangat luar biasa di Sriwijaya sampai bangsa-bangsa untuk bisa istilahnya orang Tiongkok yang mau bersekolah di di India dia harus training di Sriwijaya karena bangsa bahasa sangsekertanya bagus. Nah, ini kita membuka masa klasik dengan pendidikan. Kemudian menutup juga dengan

5:27 pendidikan adanya banyak kadewa guruan dengan cabang-cabang ilmu yang sangat bagus-bagus dari matematika sampai astronomi. Dan kemudian pada masa abad 16 hingga 17 hilang semuanya. Kita tidak mengenal menjadi bangsa yang tidak mengenal pendidikan. Setelah itu mulai abad 17 hingga 18 eh 17 ee 18 hingga abad 20 kita mengenal pendidikan dari Belanda. Dan itu kita dari segi tradisional lapis pertama yang asli dari bangsa kita itu hanya mengenal dari mitos-mitos. Kita sudah hilang ingatan tentang Sriwijaya dengan pendidikannya yang luar biasa yang segala ilmu pengetahuan pada masa itu dipelajari. Kita hilang ingatan tentang kadewa guruan, tetapi kita ingat tentang mitos-mitos. Belanda menyumbangkan satu pemikiran

6:14 yang modern, pendidikan modern, tetapi juga kehilangan sampai pada akhirnya abad 21 kita mulai menggali kembali sejarah kita. Kita ingin tahu sejauh apa kita hebat di masa lalu dan kita menemukan masa klasik. Sehingga kalau ditanya ada enggak satu kepemimpinan atau bentuk ideal, saya pikir masa klasik adalah ee satu bentuk yang sangat ideal dan kita perlu untuk memelarkan ingatan kita di masa klasik. Saya seorang ee pembuat kanal sejarah klasik. Saya berangkat dengan pengetahu tanpa sedikit sekali pengetahuan saya tentang masa klasik. Kemudian saya habiskan waktu saya selama 3 tahun untuk mendatangi lebih dari 100 candi. Setiap hari membaca jurnal ilmiah dan

7:01 menghabiskan waktu dengan buku-buku sejarah klasik juga. Dan tiba-tiba saya terkejut. Saya benar-benar terkejut. sesuatu yang saya bilang gini, kalau ini diterapkan masa sekarang, selesai semua persoalan kita. Penegakan hukum, penghormatan minoritas, ee apa menjunjung tinggi perbedaan, kemudian lingkungan itu sudah selesai dari leluhur kita. Sudah bukan lagi sesuatu yang perlu didesakkan. Tetapi sekarang kalau jadi persoalan berarti ada yang hilang ingatan kita tentang masa klasik. Nah, kanal saya itu berusaha untuk membagi keterkejutan itu kepada orang-orang. Saya terkejut, saya yakin Anda juga terkejut. Kalau Anda enggak terkejut, Anda tidak belajar dengan sungguh-sungguh. Tapi saya akan memberi sesuatu ke Mas Bagus

7:50 dan teman-teman semuanya. Anda kalau belajar tentang sejarah tidak menerapkan yang namanya skala zaman, Anda enggak akan pernah terkejut. Sejarah akan selesai sampai pada data-data saja. Skala zaman itu seperti apa? Contohnya gini, mari kita berpikir seperti seorang ilmuwan, hewan terkuat, Teman-teman pasti tahu. Hewan terkuat salah satunya adalah kumbang badak. Betul? Padahal kalau kita lihat wujudnya itu kecil banget. Kecil banget. Kita injek aja mati. Kuat dari mana? Tetapi menurut data ilmiah bahwa dia bisa mengangkat sekian kali berat tubuhnya yang kalau dikonversi kepada manusia itu seperti manusia bisa mengangkat tank dengan tangannya sendiri. Jelas dia hewan terkuat. Nah, ketika kita kagum dengan

8:36 data ini, berarti kita sudah menerapkan skala ukuran. Apa yang terjadi di Kumbang Badak kita terapkan dalam ukuran kita. Begituun dengan masa klasik, Anda akan terkejut dengan data-data dari masa klasik. Misalkan kayak gini, percaya tidak bahwa di Jawa abad ke-8 itu kalau Anda punya dompet atau HP ponsel paling mahal sekalipun tertinggal di pinggir jalan itu 3 bulan tidak ada yang berani menyentuh. Percaya tidak? Mau bukti enggak sekarang Anda letakkan dompet atau iPhone Anda sekarang ditaruh di pinggir jalan terus kita ngomong di sini. Terus kemudian kita cek bareng-bareng masih ada atau tidak.

9:21 Dan itu memang terjadi di Jawa. Nah, kalau kita terapkan skala zaman, itu sangat mengejutkan bagi saya. Bagaimana bisa sesuatu yang hari ini ada di Singapura, hari ini ada di Hongkong malah berlaku di Jawa di abad ketika kita masih belum mengenal pendidikan Barat, masih abad ke-8. Itu saja. Good start. Pak Peter, Pak Peter. Well, terima kasih Pak Peter mempelajari banyak tentang Diponegoro, seorang personifikasi dari pemimpin. Ya, congratulation on your new book by the way among many other books with Kang

10:07 Adityya Gunawan. That one. Sketsa perang Jawa. This is newly published sketsa perang Jawa tahun 1825. Kesaksian pelaku sejarah. What can we study, Pak Peter, dari seorang Diponegoro? Ya, saya lihat tugas saya sebagai seorang yang angkat Titanic dari dasar laut ke tapa batas laut. ya supaya kita bisa menikmati salah satu hidup yang utuh lagi ya dan supaya Diponegoro bisa hidup di tengah-tengah Indonesia sekarang ya di dalam bentuk

10:57 sastra beliau sendiri yang ditulis Babat Diponegoro 100 1150 halaman folio luar luar kepala. Dia tidak punya komputer, tidak punya perpustakaan, dia punya satu juru tulis. Dan dalam hitungan 9 bulan ya dia bisa membuat satu masterpiece yang dia akui dunia pada bulan Juni 2013 sebagai salah satu warisan dunia. Ya, sastrawan. Jadi dia bukan hanya seorang yang turun ke medan perang. Dia seorang mistikus di dalam tarakat Sataria dan digembleng oleh dia punya eang buyutnya

11:44 yang adalah ujung tongkat dari em Sataria di dalam lingkup dari keraton. Dia bisa menjadi seorang yang bau membau dengan wong cilik setiap hari. Ya, dia ziarah ke mana-mana tanpa alas kaki. Dia ziarah dengan pakaian comppang-camping. Dia bisa tahan uji seorang pemimpin ya banyak menderita. Menderita di dalam khazanah buddhis adalah pupuk. Ya, it's compost. Dan dia bisa betul-betul pada ujung perang tahan uji dia. Dia lari sebagai

12:30 burunan selama 4 bulan. Tidur di gua atau di bawah pohon. Sering tidak ada makanan, sering tidak ada minuman, tapi dia sampai ujung tidak berkompromi. Ya, dia bisa tahan. Dan teladan yang dia mewariskan bagi kita adalah satu teladan yang betul-betul luar biasa. Sebab dia bukan egotist ya. He is not an egotist. Ada banyak keikhlasan di dalam diri seorang di Ponegoro. Dia sedang duduk seperti kita. Saya dengan Asis. Asisi adalah General the Cook. Ya. Dan Jeneral the Cook baru saja bilang pada saya, ya

13:15 tidak boleh kembali ke Metese, tidak boleh kembali ke Banyumas apalagi jadi dia sudah sadar bahwa dia akan menjadi tahanan negara STS Kewangen. Ya, sepertiga dari hidup SAS Kewangan dalam dua kamar yang panas dan menyedihkan di Fort New Amsterdam dan Fort Rotterdam. dan dia dalam benak otak dan sepertiga dari Babat adalah mengenai Magelang. Dan apa terjadi waktu itu? Apakah saya menghunus sebab krisis saya ada di sini waktu zaman Belanda harus di belakang? Ya, saya hunus kris dan saya membunuh jenderal. Gampang saya bisa. Tapi bagaimana akan dalam perspektif sejarah seorang satria, seorang pangeran dari

14:01 Jogja mengamuk seperti begal di jalan itu tidak akan terdengar bagus. Ya, langkah baik saya menerima dengan ikhlas dan seikhlas di Ponegoro bisa membuahkan salah satu tahap total baru di dalam hidup. mundur dari fisik dan masuk ke ranah spiritual. Dan dia ujung dari hari-hari di Ponegoro adalah sebagai seorang guru tasawuf di Fort Rotterdam. Dan waktu saya pertama kali ke Fort Rotterdam sebagai mahasiswa dan saya menginap di Ford Rotterdam. Istri saya punya em mimpi dan dalam

14:47 mimpi seorang Diponegoro datang dengan dua dua naskah di dua tangan. Dan ke esok hari saya ke Jalan Irian nomor 83 untuk mengunjungi keluarga Radan Salh di Ponegoro, Radan Mas Yusuf di Ponegoro. Apa yang mereka buat? Mereka mengeluarkan dari almari catatan dari Diponegoro sebagai guru tasawuf untuk diterjemahkan dan untuk diorbitkan. Jadi saya kesimpulan dari ini Eyang Ora Sare ya leluhur tidak tidak lelo ya tidak paseng gone ya mereka masih dan tugas saya adalah

15:32 sebagai penyambung leader leluhur dalam diri di Ponegoro. Dia seorang yang sangat bersahaja. Waktu dia meninggal di Fort Rotterdam, Gubernur Selebis bilang bahwa semua keluarga garis kemiskinan. Garis kemiskinan tidak sebab mereka tidak punya tunjungan yang cukup mewah dari keraton Jogja, tapi mereka sudah terbiasa dengan hidup yang pas-pasan. Dan saya yakin kalau zaman sekarang seorang Ufa di Bintaro kalau dia naik sepeda ke Jurang Mangu atau ke Pondok Ranji naik kereta api ke Mutter line jalan dari Palmera sampai ke DPR tidak

16:19 sama sekali akan diganggu sebab orang Wong Cilik yang begitu susah hidup. Saya hanya bisa jalan beberapa meter dari rumah saya untuk lihat bagaimana orang perjuangkan hidup di atas trotuar ya. Em ini kita harus ada satu reset, remindset and the biangkaladi bagi kita adalah kita tidak punya satu revolusi yang mendobrak feudalism. Ya. Ya. Well, ya. Saya bisa setidaknya intisarikan tiga karakter tadi yang digambarkan oleh Pak Peter. Nomor satu

17:06 adalah seorang pemimpin sebagai teladan. Nomor dua seorang pemimpin sebagai jembatan dari yang spiritual dengan yang fisikal. Yang ketiga adalah kepemimpinan atau seorang pemimpin yang ditempa lewat kesusahan. Oke. Dan semua itu ditemukan dalam pribadi yang Pak Peter bahas. Tapi di akhir terakhir Pak Peter bilang tentang seorang anggota DPR yang keberatan naik kereta atau naik mobil atau jalan kaki. Oke. Nah, di situ kita bicara tentang legitimasi ya yang seakan-akan benda abstrak tapi dalam ketiadaannya dia mencekik. beberapa minggu yang lalu adalah signatur dari dipertanyakannya

17:52 legitimasi. Bagaimanakah seorang pemimpin di masa lampau, mungkin di masa klasik itu mendapatkan how do they wield legitimacy? How do they get the trust from the people? Salah satu sumber yang paling bagus untuk mengetahui bagaimana orang-orang masa klasik mendapat kekuasaannya itu malah kita dapat dari ee sumber Tiongkok. Itu yang tertua mengenai Ratusima. Jadi Ratusima itu dikatakan pada tahun sekian, saya agak lupa detailnya ya. Tahun sekian masyarakat mengangkat seorang ratu. Artinya mereka mendapat kekuasaan dari bawah diangkat. ini juga kemudian terjadi pada kalau kita tarik dari sumber kita sendiri agak agak muda lagi. Jadi satu

18:39 abad kemudian ada prasasias Siwa Gerha. Dalam prasasi Siwagha itu kemudian dikatakan ee itu kan dikeluarkan oleh Rakai Kayuangi lah. Sementara Rakai Kayuwangi itu dianalisis oleh sejarawan adalah anak bungsu dari Rak Pikatan. Anak bungso. Semestinya anak sulung yang menjadi raja. Tetapi karena ee Rakai Kayu Wangi mampu memadamkan pemberontakan pada masa itu dan kemudian menciptakan kestabilan, maka atas permintaan rakyat dia diangkat menjadi raja. Lagi-lagi dari bawah. Artinya bahwa di masa klasik mungkin beberapa orang harus memiliki akar akar akar leluhur. Anaknya raja, anaknya raja, tetapi penentu tetap masyarakat. Walaupun bangsawan kalau tidak memiliki perkenanan masyarakat enggak bisa. Kita

19:26 ambil contoh ee contoh yang paling jelas misalkan dalam ee Ken Angrok. Jadi setelah Kertaraja ee Kertajaya berkuasa kemudian dikalahkan oleh Ken Angro ini masa Singasari sekitar abad ke 11 sekitar abad 11 ke-12 sekitar itu. Ketika Ken Angrok kemudian merebut takhta tumapel dia harus melakukan banyak sekali peperangan untuk membuktikan kepada masyarakat bahwa saya mampu tetapi tetap masyarakat enggak mau. Itu kan terjadi pembunuhan banyak sekali pembunuhan. Tetapi ketika kemudian Anusapati kemudian berkuasa tidak ada persoalan sampai akhirnya ee Anusapati dibunuh oleh Toos Jaya. Ketika Toh Jaya berkuasa, rakyat bergolak tidak

20:11 mau. Pada masa Majapahit katakanlah ee Jayanegara yang kemudian diejek oleh para raton dengan berbagai tindakannya yang cabul dan tidak layak menjadi raja. Tetapi masyarakat masih menghendaki dia menjadi raja. Ketika terjadi pemberontakan Rakuti kemudian Rakuti naik ke singgahsana dan sampai Gajam Mata harus menyelamatkan ee Jayanegara kemudian Gaj bertanya kepada masyarakat, "Bukankah sudah ada raja di takhta? Kenapa Anda menangisi Jayaegara?" Mereka mengatakan dengan sangat tegas, "Dia bukan raja saya." Dan atas bantuan rakyat, Jayaegara berhasil didudukkan kembali. Jadi ee tetap harus berakar pada perkenanan rakyat. Itu yang saya tahu. Berarti kita bisa mengatakan bahwa di

20:57 masa klasik rakyat punya suara yang didengarkan. Ini berpuncak pada Hayam Buruk. Ketika Raja Hayam Buruk berkuasa, Anda bisa bayangkan dia sangat dicintai rakyat sampai ke pedalaman, sampai ke pelosok-plelosok. Semuanya taat kepada mereka. Tetapi saya mau menceritakan sedikit kepada Mas Bagus ee sistem pemerintahan ya pemerintahan di masa klasik itu agak sulit sekali kita pahami. Bahkan ilmuwan modern itu sampai harus memberikan nama baru karena dia tidak cocok dengan segala bentuk pemerintahan yang kita pahami di masa modern. Nama baru itu mereka pilih adalah Mandala. Sebenarnya nama aslinya bukan itu. Kita enggak pernah tahu. Tetapi mereka harus sematkan ini untuk memberi pembedaan. Mandala. Kalau dalam bukunya Ricklevs, pakar Asia Tenggara

21:42 dia bilang seperti akordeon. Ketika seorang pemimpin bisa menjaga kewibawaannya dan membuktikan kemampuannya, maka wilayah mandalanya menjadi luas. Banyak negara-negara atau negara kota yang berinduk kepadanya. Tetapi begitu dia tidak mampu menjaga wibawanya dan menunjukkan bahwa dia tidak mampu memerintah, maka wilayahnya akan menyempit. Dan tidak ada paksaan antara negara kota untuk berinduk kepada satu ibu kota. Tidak ada paksaan. Mereka bisa saja kadang satu mandala beririsan dengan mandala yang lain. Seperti itu yang ada di masa klasik. Ini menghasilkan apa? Meritokrasi. Seseorang memang harus membuktikan kepemimpinannya. Airlangga ketika memulai Erlangga itu di abad ke-11

22:28 ketika memulai kekuasaannya dia harus banyak sekali menaklukkan dia mendapat perkenan rakyat. Jadi sedikit cerita dari Erlangga ee Kemaharaan Medang yang Mas Mas Bagus tahu menghasilkan candi-candi besar Borobodur Perambanan itu terus bergerak bergerak itu terus berkuasa hingga masa Jawa Timur hingga abad ke-11 mereka terus berkuasa. sampai akhirnya mereka pralaya oleh serangan dari dalam, oleh seorang raja bawahan yang istilahnya mengkhianati. Ketika seorang Maharaja dari Medang ini menjalan sedang menyelenggarakan pesta pernikahan anaknya. Di tengah-tengah pesta, Bapak Ibu bisa bayangkan di tengah pesta yang sangat meriah, tiba-tiba ada serangan dan mereka kemudian hancur semuanya. Istana

23:14 mati, istana terbakar, raja meninggal. Ada satu anak menantu yang selamat, mempelai laki-laki itu selamat, yaitu air langga lari ke hutan-hutan. Dengan hancurnya kemarajaan Medang ini, Mandala buyar, enggak ada lagi mandala. Sehingga raja-raja e negara kota di tiap Jawa itu bisa membentuk mandalanya sendiri-sendiri. Persoalannya kan semua aturan-aturan yang sudah terpusat yang dulu ditentukan oleh Medang itu buyar semuanya. Akhirnya mereka bersatu padu. Hanya bertahan 3 tahun. Hanya bertahan 3 tahun. Masyarakat dengan ketidakpastian seperti itu mereka kemudian mendatangi Erlangga kemudian meminta Erlangga untuk menjadi raja raja atas seluruh Jawa. Oke, itu there's a lot to unpack there. Ada sentralisasi kekuasaan pergumulan yang mendasari

23:59 kekuasaan itu diadopsi oleh seorang figur itu hal-hal yang sangat sangat-sangat menarik. Tapi saya ada satu yang tadi saya mau ambil dari Pak Asisi ya, bahwa di dalam pembentukan sebuah kekuasaan atau legitimasi itu selalu ada pergumulan di belakangnya. Yes. Ya, selalu ada pertikaian, pergumulan, bahkan dialektik di situ. Ya, Pak Peter dari Inggris. Saya pulang pergi ke Inggris pun ada pergumulan ya dalam pembentukan sistem pemerintahan. ada pergumulan antara kaum royalis parlementaris. Di Amerika pun ada kaum konservatif, kaum ee buruh ya. Ee mungkin kita bisa argue bahwa itu hasil dari revolusi industri yang selalu

24:46 membelah dan meninggalkan kaum yang termarginalkan. Saya melihat bahwa itu sangat mengkarakterisasi bukan hanya sistem kepemerintahan di Inggris, tapi juga watak warganya gitu. Kita melihat seorang David Beckham yang walaupun hartanya enggak habis dimakan tujuh turunan. Ketika Ratu Elisabeth meninggal, dia jalan, dia jalan dia ya karena dia tahu dia kaum buruh gitu. Dan untuk menghormati raja. Untuk menghormati raja. Nah, apa yang hilang Pak Peter? What is the world we lost? ee dan karena ketika kita melihat paparan dari Mas Asisi tadi, kita tidak melihat bentuk kepemerintahan kita sekarang, cara kita menghargai

25:35 desentralisasi itu tidak persis sama dengan sejarah kita sendiri. Seakan-akan ada yang hilang seperti itu. What do you think is the world we lost? Saya sangat terpesona sebab baru saja ke Semarang dan ada satu kumpulan dari Bank Indonesia untuk meluncurkan buku 1830. Emya moderator nama Sumiang ya. Dan Sumiang bilang kepada saya kok di Ponegoro tidak kelihatan orang Jawa ya sebab begitu belak-belakan ya begitu in your face ya. Bagaimana tahayul orang Eropa dengan percaya kepada doktor-dokter mereka waktu setiap hari kita buang mayat ke laut dari kapal

26:24 perang ini. Ya. Dan saya bilang ini justru sebelum era kolonial orang betul-betul speak their minds ya. Ada ada sesuatu ada Radam Masid, ada Mangkubumi, ada seorang Joker Tingkir. Semua punya salah satu karisma dan mereka tidak di dididik di bawah Belanda untuk pelin-pelan, untuk selalu ada ya kata-kata halus atau bertindak yang dengan selalu di belakang ya. It was it was a very open society

27:11 the world we have lost is Pran Prampuan. Yeah. This is a Polynesian society. Yeah. It's it's not part of the mandalas of China or of India. Memang ada pengaruh benua di antara ya nusa di antara dua benua. Tapi ini salah satu ciri khas dari zaman prolonial. Ada Gayatri, ada Ratu Kaliniamat, ada seorang Kartini atau seorang Rukmini, ada panglima Diponegoro yang sebenarnya paling ganas niagang Serang yang bisa melulantakan pada malam 23 September

27:57 1825 antara Demak dan Semarang. 400 pasukan Belanda dengan sangat teliti sekali. Dia berbaris tiga barisan, tidak langsung mengamuk attack dan dia bisa dengan siasat yang sangat jeli sekali bisa meluluantakan. Dan bukan hanya dia dan semua perempuan yang bergabung dengan Diponegoro dan ada salah satu warisan prajurit istri mencukur rambut ya untuk ikut di dalam perang Sabilan

28:45 beliau ya ee Ratu Kipaten Eyang buyutnya anak seorang kiai di Sragen keturunan dari Sultan Bima Abdul Kahir pertama dan seorang yang sangat khusuk di dalam tarekat sampun makripat. Dan kita bisa tahu sebab waktu dia meninggal dan itu bukan dongeng atau bukan dari Babat ini dari mulut dari residen Jogja waktu dia meninggal di Kadipaten. Dia panggil dia punya anak yang lahir di lereng Gunung Sundoro. Nama muda Radan Mas Sundoro.

29:32 Sultan, jalan yang aku rambah ini sulit. Dan sekarang saya tidak merasa lebih dari seorang biasa. Sultan nanti kelak kalau kamu di pintu akhirat seperti saya sekarang, jangan percaya bahwa kamu akan lebih dari seorang kuli pikulan di jalan. Jadi hidup sesuai itu ya. Dan ini adalah suatu kenyataan mereka ini satu eli yang sangat bersahaj ya orang yang sukses, orang yang tidak tergiur dengan semua berkelimpahan dari kekayaan Belanda atau

30:19 semua kesempatan yang dibawa dari luar ini salah satu yang sangat berakar dan kita bisa lihat dari ya, bagaimana hubungan dengan alam? Ya, mereka seorang di Ponegoro di mana-mana dia membuat satu tempat meditasi, tapi di mana-mana dia berdempet dengan dunia alam. di Buronan di akhir perang dia punya teman seorang ee ya seekor macan yang membawa pada malam hari kijang untuk makan ya. dia bisa ikut rhinocerus puls ya dia turun ke cincin

31:05 guling untuk lihat buaya dan burung kakak tua dia punya peniu dan ikan di golam di e di tagareo yang dia membangkitkan sendiri ini satu dunia 75% dari Jawa adalah alas ya jadi ini menjembatani salah satu respect for nature ya. Seorang di Ponegoro punya salah satu kapasitas yang sangat jeli sekali untuk bisa menebus ilmu firasat, bisa tahu karakter seorang asisi. Bagaimana apakah dia bisa diandalkan sebagai perdana menteri saya?

31:51 Ya, he had a very feminine watak, feminine yang sangat tajam dan ini membuat dia seorang bagi saya biasanya kita jumpa di dalam hidup ini teman kita mengenal teman lebih dekat dan seringki kita agak disappointed. Tapi dengan Diponegoro, saya hidup dengan Diponegoro 50 tahun. Lebih lama lebih saya kagum seorang yang begitu ikhlas. He was not a perfect person. Dia punya mata keranjang. Dia suka minum wine dari cungkup dari eh Yusuf Almakasari di

32:39 ya Afrika Selatan. He roll his own cigarettes. Sangat belak-belakan. Kalau ada yang kalah perang, dia kirim pakaian wanita dengan lipstik atau sesuai itu ya. But he he lives, you know. It's like what Rumi said, kita punya dua mata air di dalam hidup. Satu mata air kita menggali di bangku sekolah atau di Oxford atau di Harvard atau di Stanford seperti Bagita ya. Tapi kita juga punya mata air yang tidak akan kering di dalam diri sendiri. Dan bagi saya seorang di Ponegoro pernah buka itu atau dibuka oleh gemblengan Mamedeni yang gawai perintah ya dari

33:25 seorang emban dan ini trus mengalir sampai ujung ya. Dia bilang saya I'm not in the business of founding a dynasty. Tidak ada seorang cucu saya, tidak ada seorang putra saya yang bisa mengemban tugas. Kris Kanjeng K Bondo Yudo ditanam dengan jasad saya di Kampung Melayu dan makam saya sangat terpinggir tidak akan menjadi tempat ziarah ya sebab saya seorang guru tasawuf ya tidak berarti ya tidak syirk ya itu menarik kalau saya bisa mengomentari bagaimana saya memandang Diponegoro Diponegoro itu seorang pahlawan yang

34:10 berani melawan segala bentuk ketertindasan yang dibangun oleh Belanda pada masa itu. Tetapi saya meletakkannya agak berbeda. Jadi saya memandang ee kalau dalam standar klasik Diponegoro itu sebenarnya basic banget. Maksudnya ya itu standar di masa klasik. Kalau kemudian di masa kolonial saya saya agak-agak sedikit berbeda dalam memandang kalau kita melihat di masa kolonial Diponegoro sampai sebegitu menonjol. Bahkan hari ini kita begitu kagum. Justru saya malah mempertanyakan sebenarnya ada persoalan apa di masa kolonial ini yang mungkin Pak Piter lebih bisa tahu bagaimana bisa sesuatu yang sebenarnya basic tiba-tiba begitu menonjol. Kan kalau kita membuat matematis kan seperti ini. Sesuatu yang

34:55 biasa di tengah yang sama-sama biasa standar kan enggak akan terlihat. Tapi sesuatu yang biasa di tengah sesuatu yang jauh lebih bawah dia akan menonjol. Padahal idealnya semuanya standar. sesuatu yang luar biasa ini di iya di atas kan seperti itu. Seorang pejabat yang tidak korupsi itu standar banget. Memang seharusnya seperti itu. Tetapi kalau hari ini kita mengagung-agungkan seorang pejabat yang korup yang tidak korupsi betapa busuknya situasi kan seperti itu. Terima kasih. Iya betul. Saya mau luruskan sedikit ya, ambil polemik sedikit. Tadi ada yang beberapa yang penting untuk di perhatikan supaya kita tidak jatuh akan kritik the noble savage. Oke. Apa yang masa lampau itu

35:41 diromantisasi sebagai selalu yang benar, yang sudah meninggal itu selalu yang diteladani gitu ya. Di satu sisi tadi ada konsep tentang gender equality yang dimanifestasi oleh figur-figur seperti Diponegoro dengan sifat feminim. Ada keteladanan, ada sifat egalitarian ketika dia meninggal tadi. Jangan pikir kamu akan sama seperti ee orang-orang kuat. Kamu bisa saja sama rendahnya dengan orang yang kamu anggap rendah. Seperti itu kan? Tapi di satu sisi, bukankah kesultanan kerajaan itu sangat hierarkal? Tiga egalitarian sama sekali. Nah, saya bicara sama Dr. Adam Bobet whom you graciously introduc me to. Right? Dr. Adam Bobet, a Glasgow University. Right.

36:30 Ini ada hubungan dengan lingkungan hidup. Cara kita meng ee hidup bersama dengan lingkungan. Nah, saya tadi juga ee menarik sekali apa yang dikatakan oleh Mas Asasisi. Jadi begini, walaupun kesultanan itu hierarkal, sangat-sangat hierarkal, enggak boleh lihat matanya, bahkan lewat begitu kan ya kan. Tapi kekuasaan itu diberikan oleh lingkungan. Itu poinnya. Justru kritik dari Adam Bobet adalah agama-agama monoteistik dari Barat itu yang membuat kita memandang manusia itu sebagai eksepsional ya. Sehingga kita memandang lingkungan itu sesuatu yang kita ekstraksi gitu. Nah, pandangan itu kita masih belum bisa lepas dari situ ya.

37:15 Tapi begituun berkuasanya seorang raja, kekuasaannya bisa diambil sewaktu-waktu oleh geological sites. Makanya ketika pertama kali dia naik takhta, seorang sultan itu memberikan sesajen, prosesi labuhan. Ada makna di situ akan respek, akan lingkungan, bahkan oleh yang tertinggi di dalam struktur hierarki. Nah, seperti itu. Nah, kita mau segway ke masa sekarang, Pak Peter. Kita tidak hidup di dalam silo. Indonesia itu perlu bercerita keluar karena kita hidup di mana dunia itu memandang Indonesia sebagai lokus dari base minerals for everything, for battery, for green mobility, coal. And

38:03 the way we extract the earth begin probably as early as the industrial revolution in the UK, right? Lebih awal ya kan? Apakah Indonesia itu punya semacam cara pandang yang bisa memberikan solusi bahkan solusi praktis tentang apa yang di share oleh dunia ini sebagai masalah eksistensial. Adakah ilmu? Adakah epistemic khas Nusantara yang kita bisa gali untuk memberikan jawaban? Who wants to take it first? Ya. Ya. Saya baru saja terlipat di dalam e salah satu em pelestarian dari gedung ee di Rambang yang dulu adalah gedung dari

38:51 Kapitan Cina Rembang Lim ya. Dan kapitan Cina waktu itu em 1848 sedang meninjau daerah ya em untuk cari tempat di mana dia akan membangun satu gedung yang bagus dan layak. Dia ditandu dan sedang ditandu dia lihat seorang perempuan di jalan yang sedang dalam situasi yang sangat terpuruk. Dia langsung panggil Dayang untuk naikkan ke tandu dan diambil langsung ke rumah sakit. Sang

39:37 Kapitan Cina sedang duduk beberapa minggu sesudahnya, beberapa bulan sesudahnya. Dan ada ketok di pintu. Dan ada seorang lurah yang datang dan bilang, "Anda pernah menyelamatkan istri saya dan anak pertama saya lelaki. Saya punya alas dari jati yang bagus. Kamu bisa semau-maunya untuk membangun gedungmu di Rembang sebagai kapiten Cina. Dan memang satu gedung yang saya ikut sedikit untuk melestarikan dibangun. Tapi ada satu saat di mana

40:23 Kapten Cina Lim sampun puis cukup ya. Dia bilang, "Saya tidak akan merampas semua aset-aset dari dari lurah, dari jati secukupnya dan secukupnya di dalam bahasa Okian menjadi pedoman bagi beliau ya. secukupnya dan di Ponegoro sama ya atau kita bisa lihat negara Norwegia ya mereka punya aset yang luar biasa di laut utara tidak seperti orang Inggris yang merampas semua tapi mereka secukupnya ya jadi mereka punya sovereign wealth fund untuk melanggengkan satu masa depan ya

41:11 you never take too cukup untuk kebutuhan semua orang, tidak untuk kerakusan semua orang. Itu adalah pedoman dari Gandi. Ya. Dan itu benar. Dan seorang di Ponegoro secukupnya ya dia bilang, "Something was always being built." Ya, saya membuat satu buku namanya korupsi yang minggu ini di diringgu oleh polisi di Lokutara Foundation ya. Dan ini mengenai korupsi di Inggris dan juga bagaimana Diponegoro menentang korupsi di dalam tubuh dari keluarga inti Sultan dengan berduyun-duyun. Banyak yang mau

41:59 menyewakan tanah. Tidak peduli rakyat apa ya mereka punya. Ada kebun nila, ada kebun kopi di lereng Merapi dan pada akhirnya membuat satu tong Mesu yang meletus sama dengan Diponegoro di ee di di Serang pada hari Rabu, 20 Juli 1825. Ya. Jadi ada dalam diri seorang di Ponegor kepercayaan bahwa ya alam adalah sesuatu yang harus direspect ya. You need what you need, you take what you need and it's cukup. You don't take more than you need. Yeah.

42:47 Ya. And that Yeah. Salah satu kebenaran ya. I ya dan ya kita mewariskan zaman kolonial Belanda dan satu zaman yang sangat kelam sekali ya dalam hal kerakusan dalam hal banyak yang dirusak. Hal yang dirusak ada alam tapi alam kita sendiri sebab diremahan pengetahuan kita mengenai alam. diremehkan ya pengetahuan mengenai bagaimana jamu atau bagaimana kita pakai ya sistem untuk merawat badan sendiri secara spiritual dan secara fisik semua

43:34 diremehkan dan di Iya I itu bagus sekali Pak Peter. Pengetahuan kita tentang alam itu diremehkan. Saya mau kasih contoh konkret ya. Jadi pertama kali pada waktu para naturalis datang ke Indonesia, mereka memaknai the volcanoes, the volcanic activities ya. Mereka melihat kegiatan vulkanik itu seperti jeruk atau kulit jeruk itu sedang mengering gitu ya. Makin lama makin susut begitu karena magmanya tersembur keluar. Tidak pernah ada di dalam kepala dia semacam konsep kausalitas ya antara laut dengan gunung, antara aliran magma yang membuatnya meletus. Cerita tentang kausalitas antara laut dan gunung itu cara kita memaknai alam

44:19 ya itu dari Yogyakarta sebenarnya tidak dalam bentuk jurnal paper, geosince letters dan lain sebagainya tapi dalam bentuk mitos cerita. Karena tidak ada dikotomi antara science and myth. It's just knowledge. Actually science itu dari kata dasar sekian yang artinya knowledge ya. kita mungkin konsepsi sains modern sekarang yang membuatnya dikotomik gitu kan. Saya mau balik close loop untuk topik terakhir ke Mas Asisi. Karena tadi di bagian akhir di paparan pertama Mas Asisi itu juga ada semacam tersirat kehilangan kita akan kontribusi kita di dalam ilmu pengetahuan yang tidak lagi dikenali oleh dunia gitu. Dan kenapa ini penting? Karena cerita itu adalah hal

45:04 yang meyakinkan orang lebih dari fakta kadang-kadang gitu ya. dan sayangnya begitu. Dan ketika kita mau membuat diri kita relevan di dalam dunia geopolitik, cerita itu menjadi penting dari mata dari mana matematik itu ditemukan? Orang India akan bilang, "Dari sini kita yang memberikan Arabic numerals. Is it back by facts? Maybe yes, maybe no." Oke. Adakah kira-kira kontribusi real yang tidak jatuh dalam romantisasi akan kontribusi kita terhadap ilmu pengetahuan sendiri seperti yang tadi tersirat di zaman Sriwijaya? He. Saya masih punya waktu berapa ini?

45:49 8 detik. 8 detik. Gimana cara now? Gone. Oke. Tapi boleh enggak kalau saya bercerita ee ada satu yang saya pikir penting juga untuk saya sampaikan di sini menjadi pembekalan kita untuk memandang Indonesia ke depan seperti apa? Jadi ee begini Mas Bagus, saya mempelajari banyak beberapa prasasti ya, prasasti dari masa klasik dan lain-lain itu ternyata memang ada perlindungan ee para raja-raja di masa dulu terhadap alam. Iya. Artinya ee ada prasasti yang membatasi komoditas hewan, ada prasasti yang menceritakan tentang ee pajak pada setiap ububan pada ee para pandai besi. Artinya mereka dianalisis atau didoga itu berusaha untuk ee para raja ini

46:35 melindungi alam dari limbah limbah logam. Ada juga prasasi yang menceritakan ada penjaga hutan. Ada prasasi yang menceritakan hukuman yang sangat berat bagi mereka yang merusak alam. ada konservasi alam berbasis lingkungan dan seterusnya. Artinya bagaimana leluhur kita di Jawa kuno di masa klasik itu sangat menghargai alam. Yang dibilang Pak Piter tadi itu. Itu bahkan sudah sejak yang secukupnya tadi itu sejak zaman Austronesia. Saya pernah membeli sebuah gelang di Muar Jambi itu katanya biji-bijiknya diambil dari sebuah sebuah pohon yang namanya sebalik sumpah. Itu masyarakat suku anak dalam kalau mau mengambil biji-bijinya itu menyanyikan lagu. Dan setelah menyanyikan lagu mengambil secukupnya karena dipercaya bahwa ini memiliki tuah

47:22 dan ketika diubah menjadi gelang atau kalung dia bisa membalikkan sumpah. Nah, ini kan satu potret kecil di mana kita sangat menghargai alam. Pertanyaannya kok bisa leluhur kita bisa seperti itu? Bahkan seperti ini ada undang-undang di masa klasik di masa Majapahit Kutara Manawa pasal 279. Saya minta dikoreksi bagi yang tahu. Saya agak lupa ya kata ee angkanya. Tapi kalau tidak salah pasal 279 itu mengatakan seperti ini. Kalau seseorang melakukan kelalaian dan kemudian mengakibatkan kematian, maka dia harus membayar denda yang cukup berat kepada raja. Kalau kemudian pengadilan membuktikan, berhasil membuktikan bahwa dia memang bersalah, maka hukumannya adalah dia seperti orang yang melakukan pembunuhan tingkat pertama, artinya mati

48:08 dan nilainya dua nyawa. Karena Majapahit itu tidak mengenal hukum penjara. Dia mengenal hukum wupun tidak ada mensreanya, Pak. Mensre ya berarti kan ada ada mensreanya. Itu hukumannya tingkat pertama. Nah itu bayangkan kalau dikonversi ke sekarang kita mengeruk sebuah pasir di dalam gunung kemudian menimbulkan bencana dan kemudian menimbulkan kematian kerusakan pada suatu desa. Tinggal dihitung aja yang mati berapa. Satu kematian hitungannya pada orang yang terhukum ini dari perusahaan yang melakukan pengurukan ini dua nyawa. Kalau standar Majapahit oke itu kan cukup-cukup keras. Nah, yang menjadi dasar pemikiran itu, sori aku mencuri waktu lagi. Yang menjadi dasar pemikiran itu adanya filosofi yang dimiliki leluhur kita. Ini yang hilang dari kita. Mereka memandang adanya namanya buana agung, buana alit. Artinya

48:56 bahwa kita ini bagian dari alam semesta ini. Mereka mempercayai dan ini bisa ditarik data-datanya dari naskah-naskah kuno bahwa apa yang menyusun kita panca maha buta itu sama dengan yang menyusun alam semesta. Panca maha buta efeknya apa? Efeknya adalah apa yang terjadi di alam akan terjadi di tubuh kita. Apa yang ada di alam, gunung, dewa, sungai, laut itu ada di dalam tubuh kita. ada gunung, dewa, sungai, laut, dan lain-lain. Kalau kerusakan terjadi di alam, kerusakan terjadi di diri kita. Kalau alam sampai tidak seimbang, maka terjadi kekacauan di masyarakat yang mereka personalisasi menjadi buto. Iya. Maka itu ada ada yang harus dibereskan yaitu membereskan alam dan ada ruat dan seterusnya. Ini yang hilang di dalam masyarakat kita. Nah, sedikit terakhir

49:42 dari saya sebelum revolusi industri kita bisa melihat bahwa aksis munde. Aksis Mundi itu semua gerakan peradaban yang berporos ya, yang menjadi poros itu adalah spiritualitas. Dari ee piramida di Mesir, kuil-kuil di Babilonia sampai Candi Borobudur itu digerakkan, dibangun oleh tujuan spiritualitas. Setelah revolusi industri, manusia mengenal akses mundi yang baru yang kita miliki sekarang, yaitu apa? ekonomi, hukum supply and demand. Dengan dengan aksis muda yang baru ini kita jadi mengeruk alam tanpa tanpa pertimbangan apapun, tanpa ada batasan apapun. Nah, ke depan seperti apa? Saya pernah berbincang dengan seorang arkeolog dari UGM cukup bagus juga. Solusinya adalah

50:27 dua aksis mundi ini sama-sama diambil yang bagus-bagus aja kemudian digabungin. I artinya nilai-nilai dari masa dulu spiritualitas tetap diambil yang bagus-bagus tetapi juga tidak mencemari alam. Berarti kan kita harus menghasilkan produk-produk yang ee ramah lingkungan tetapi murah untuk masyarakat gitu kan bisa digunakan gitu kan. round of applause for our guest here. Thank you folks. That's Chronicles. Thank you. Thank you, gentlem. [Musik]

51:42 Yeah.

Share

Ringkasan Video YouTube