Ringkasan Singkat
Video ini membahas tentang pentingnya perubahan hidup menjadi serupa dengan Kristus melalui berbagai proses dan penderitaan. Respon yang benar terhadap kesulitan akan membawa pada perubahan, sementara respon yang salah akan mengulang masalah yang sama. Tuhan ingin kita terus diubahkan, mencerminkan kemuliaan-Nya, dan berjalan dalam kebenaran.
- Respon yang benar terhadap penderitaan akan membawa pada perubahan dan kemenangan.
- Fokus pada janji Tuhan, bukan pada realita penderitaan.
- Penderitaan adalah kesempatan untuk belajar, bertobat, dan menjadi lebih baik.
Pendahuluan
Tuhan terus menarik hidup kita untuk diubahkan menjadi serupa dengan-Nya melalui berbagai proses. Jika saat ini mengalami masa sulit, tetaplah berjalan bersama Tuhan dan belajar dari kejadian tersebut agar mata hati disingkapkan kebenaran. Respon yang benar akan mengubah hidup, sementara respon yang salah akan mengulang masalah yang sama.
Transformasi Jiwa dan Pikiran
Ketika mengikuti Tuhan, area jiwa, perasaan, dan pikiran harus diperbarui agar selaras dengan Kristus. Jika tidak, hidup akan tetap sama meskipun rajin beribadah. Tuhan ingin mengubahkan hidup dari kemuliaan kepada kemuliaan, menjadi serupa dengan-Nya. Rencana Tuhan harus digenapi melalui kehidupan kita, dan perjalanan melalui lembah kekelaman seharusnya mengubah hati kita.
Hikmat vs. Kebodohan dalam Menghadapi Proses
Orang Kristen yang bertahun-tahun beribadah tetapi tidak berubah karakternya menunjukkan ketidaklulusan dalam proses kehidupan. Tuhan mengizinkan proses terjadi agar kita belajar dan menjadi bijaksana. Orang bebal tidak berubah meski mengalami penderitaan, sementara orang berhikmat belajar dari setiap kejadian untuk diubahkan menjadi serupa dengan Kristus. Orang yang diubahkan adalah orang yang teruji dan mengalami kemenangan di saat sulit.
Penderitaan dan Respon yang Benar
Penderitaan diizinkan terjadi agar kita belajar dan diubahkan. Banyak orang mengalami penderitaan hebat, tetapi hanya sedikit yang merespon dengan benar dan berbalik kepada Tuhan. Penderitaan merobek jiwa dan membuat luka batin. Respon yang sesuai dengan firman akan membuat kita menikmati tantangan, sementara respon yang salah akan membuat kita panik dan mengeluh. Orang yang mengerti proses akan belajar dan melihat rencana Tuhan di balik semuanya.
Fokus pada Penderitaan vs. Janji Tuhan
Fokus pada penderitaan akan melukai hati dan membuat kita terus mengeluh. Sebaliknya, fokus pada janji Tuhan akan membawa kita melihat masa depan dan pengharapan. Seperti orang Israel yang tidak masuk tanah perjanjian karena fokus pada tantangan, kita harus fokus pada janji Tuhan yang penuh kabar baik. Penderitaan tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.
Penderitaan sebagai Tanda Kehormatan
Seorang panglima perang yang menang pasti mengalami banyak luka, tetapi bekas luka itu menjadi tanda kehormatan. Sama seperti kita, penderitaan yang dialami saat ini akan membawa kita melihat kemuliaan yang semakin besar. Jika bertobat dan berubah, Tuhan akan membawa kita mengalami kemenangan demi kemenangan. Penderitaan yang kita alami adalah kesempatan untuk belajar berubah menjadi lebih baik.
Penderitaan Ringan dan Kemuliaan Kekal
Penderitaan ringan yang kita alami saat ini mengerjakan kemuliaan kekal yang jauh lebih besar. Kita tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. Penderitaan adalah pikul salib, mati daging, dan menyangkal diri. Dengan melepaskan kekecewaan dan kepahitan, kita bisa melihat kemuliaan yang semakin besar.
Teladan Penderitaan Rasul Paulus
Penderitaan Rasul Paulus jauh lebih besar dari penderitaan kita saat ini. Paulus bekerja keras, sering dipenjara, dianiaya, dan mengalami bahaya maut. Dia disesah, didera, dilempari batu, dan mengalami karam kapal. Dalam perjalanannya, dia diancam bahaya banjir, perampok, dan saudara palsu. Penderitaan ini membuat Paulus diubahkan dan dipercayakan menulis sebagian besar Perjanjian Baru.
Kerendahan Hati dan Karakter yang Diubahkan
Penderitaan yang dialami Paulus membuatnya semakin rendah hati. Kadang kita harus dibawa mengalami sekolah penderitaan untuk belajar rendah hati dan tidak sombong. Paulus tidak membanggakan gelarnya, melainkan kelemahannya. Penderitaan meremukkan keangkuhan, kebebalan, dan kerasnya hati kita agar kita memiliki karakter serupa dengan Kristus.
Belajar dari Penderitaan dan Mengubah Diri
Jika mengalami penderitaan, belajarlah dari semua yang dialami, koreksi diri, dan bertobat. Belajar dari kebodohan, ketamakan, dan kesalahan. Jangan menjadi orang bebal yang terus mengulangi kesalahan yang sama. Orang yang percaya kepada Tuhan harus menjadi orang yang cerdas, penuh hikmat, dan menjadi berkat bagi semua orang. Kendalikan diri, kuasai diri, dan taruh hati sepenuhnya di hadapan Tuhan.
Maksud Ilahi di Balik Penderitaan
Apapun yang dialami, belajarlah dari semuanya karena ada maksud ilahi yang Tuhan sedang kerjakan di dalam hati. Jangan keraskan hati. Tuhan ingin kita menjadi orang kesayangan-Nya, dipakai secara dahsyat, dan memiliki karakter Kerajaan Allah. Orang bebal tidak pernah mau belajar dari kesalahan, sementara orang berhikmat belajar dari semua penderitaan.
Fokus pada Janji Tuhan dan Kemuliaan Masa Depan
Jangan fokus pada penderitaan, tetapi fokus pada janji Tuhan. Penderitaan yang dialami hari ini belum seberapa dibandingkan dengan kemuliaan yang Tuhan janjikan di masa depan. Jalani hidup, tegakkan kepala, dan lihat masa depan. Berjalan bersama Tuhan yang memimpin setiap langkah, dan nikmati semua kemurahan dan kasih setia-Nya.
Doa dan Berkat
Berdoa agar firman Tuhan mengubah hidup dan memberkati setiap orang yang sedang diproses. Memohon pertolongan Tuhan bagi yang sakit dan lemah, agar dipulihkan dan disembuhkan. Mengucap syukur atas segala berkat Tuhan.

