0:05 [Musik] Oke, selamat datang kembali di sesi deep dive kita. Nah, Anda akan mengirimkan sumber yang menarik banget nih, terjemahan awal dari retorikanya Aristoteles. Iya, betul. Misi kita hari ini eh kita coba gali ya inti dari seni persuasi klasik ini. Gimana sih menurut salah satu pemikir terbesar ini? Cara meyakinkan orang lain? Mari kita bongkar. Siap. Hal pertama nih yang langsung ee saya notice ya dari bacaan awal. Aristoteles itu melihat retorika dekat banget sama dialektika seni debat logis itu kan. Hmm. Iya mirip-mirip. Tapi katanya beda retorika ini lebih praktis gitu ya. sesuatu yang kita semua pakai sadar enggak sadar buat bela
0:51 pendapat atau nyerang pendapat orang itu bukan tepat sekali definisi kunci dari Aristoteles itu eh unik memang retorika itu bukan cuma soal em bicara indah ya tapi lebih ke kemampuan buat melihat atau menemukan gitu cara-cara persuasi yang ada di setiap situasi pendidik kemampuan melihat alatnya ya iya alat yang tersedia jadi fokusnya bukan trik tapi lebih ke analisis yang ya mendalamlah analisis. Oke. Oke. Menarik dan ee kayaknya Aristoteles ini agak kritis ya sama ahli retorika di zamannya. Oh iya betul. Sumber Anda kan nyebutin tuh dia agak kurang sret sama pembicara yang fokusnya ke hal-hal yang dia sebut non esensial. Hm. Kayak apa ya? Membangkitkan prasangka,
1:37 rasa kasihan, marah gitu-gitu. Dia bilang itu kayak membengkokkan penggaris sebelum dipakai ngukur. Nah, itu dia analoginya pas banget. Itu kan intinya mengganggu penilaian yang objektif. Ah, oke. Dan kritik itu nyambungnya ke pandangan intinya dia. Persuasi yang sejati itu harusnya akarnya di argumen itu sendiri. Argumennya ya. Iya. Alat utamanya itu namanya antimem. Ini ee semacam silogisme tapi dalam obrolan sehari-hari lah. Silogisme retoris gitu. Betul. di mana satu premisnya sering enggak diucapin karena dianggap udah ya umumlah diketahui audiens. Contohnya gimana tuh? Di teks itu kan ada contoh bilang Dorius menang Olimpiade. Nah, itu udah cukup
2:23 buat menyiratkan dia dapat mahkota. Kenapa? Ya, karena semua orang waktu itu tahu hadiah Olimpiada ya mahkota. Oh, oke oke paham. Jadi enggak perlu dijelasin lagi ya. Enggak perlu. Fokusnya jadi di logos. pembuktian logis atau paling enggak yang tampak logis buat audiens. Jadi intinya bukan sekedar mainin emosi, tapi pembuktian logis. Justru itu menurut Aristoteles lagi nih, retorika yang baik itu penting banget karena kebenaran dan keadilan itu secara alami cenderung lebih kuat. Oh, ya. Iya. Jadi kalaupun argumen yang benar itu kalah, ya seringnya karena pembicaranya gagal aja nyajiinnya secara efektif. Wah, ini menarik. Jadi argumen bagus aja enggak cukup ya? Enggak cukup. Cara penyampaian itu krusial. Ini pengingat juga buat Anda yang dengerin
3:09 gimana cara kita membungkus argumen itu penting. Oke. Jadi, selain logika argumen si logos tadi, apalagi nih bahan utama persuasi menurut Aristoteles yang bisa kita sebagai pembicara kontrol gitu. Saya baca ada tiga pilar utama, ya. Benar. Dia identifikasi tiga sumber persuasi utama yang ee bisa diciptakan pembicara. Satu, etos. Ini soal karakter personal pembicara, kredibilitasnya. Audiens mesti percaya Anda itu bisa dipegang omongannya dan niatnya baik. Oke. Etos karakter dua petos. Ini kemampuan buat em membangkitkan kerangka berpikir tertentu di audiens. Menggerakkan emosi mereka biar lebih nerima argumen kita. Emosi ya petos. Siap.
3:56 Tiga ya logo study. Kekuatan pembuktian dalam pidato itu sendiri. Lewat apa? ya lewat antimem dan contoh-contoh induksi retoris lah istilahnya. Etos, patos, logos. Nah, dari tiga ini ada yang lebih dominan enggak sih menurut dia? Nah, ini nih yang menurut saya agak wah mengejutkan ya dari Aristoteles. Dia bilang etos itu karakter pembicara. Iya. Itu bisa jadi alat persuasi yang paling efektif, paling kuat. Oh, iya. Lebih kuat dari logos potensinya ya. Dan yang penting dicatat, kredibilitas ini harus dibangun melalui apa yang Anda katakan dalam pidato itu. Bukan cuma reputasi Anda sebelumnya. Maksudnya gimana tuh? Jadi bukan karena Anda sudah terkenal
4:42 baik sebelumnya, terus otomatis pidato Anda dipercaya. Tapi gimana cara Anda ngomong saat itu, kata-kata yang Anda pilih itu yang membangun etos di mata audiens. Wah, dalam juga ya. Jadi saat Anda dengerin orang ngomong, perhatiin gimana dia bangun kepercayaan saat itu juga. Persis. Itu poin krusialnya. Nah, setelah kita paham bahannya etos, patos, logos, Aristoteles juga ngingetin kalau konteks itu penting banget. Konteks pidatonya ya. Iya, makanya dia bagi retorika itu jadi tiga arena utama atau tiga jenis pidato lah. Ah, iya. Yang tiga itu politik, forensik, sama seremonial. Ya, bisa dijelasin dikit? Tentu. Jadi, tergantung audiens sama tujuannya apa. Pertama, politik atau
5:29 deliberatif. Ini fokusnya ke masa depan. Apa yang sebaiknya kita lakukan atau jangan lakukan. Tujuannya buat nunjukin manfaat atau kerugian suatu tindakan. Audiens-nya biasanya ya para pengambil keputusan, majelis rapat gitu. Oke, politik masa depan manfaat rugi. Lanjut. Kedua, forensik atau judisial. Ini kebalikannya. Fokusnya masa lalu udah kejadian. Tujuannya nuduh atau ngebela suatu tindakan yang dicari apa? Keadilan atau ketidakadilan? Audiensnya jelas. Hakim atau juri. Sip. Forensik masa lalu adil tidak adil. Yang ketiga. Ketiga. Seremonial atau epideiktik. Ini fokusnya masa kini. Biasanya buat muji
6:14 atau nyela tujuannya nunjukin kehormatan atau aib. audiens-nya ya penonton pengamat kayak pidato penghargaan atau pidato pemakaman gitu. Oke, jadi beda arena, beda fokus waktu, beda tujuan, beda ukuran baik buruknya. Ya, betul. Dan kalau kita sambungin lagi, pemahaman tiga arena ini bantu kita banget buat lihat kenapa satu argumen bisa efektif di satu tempat tapi ee gagal total di tempat lain. Contohnya ya misalnya lagi debat kebijakan nih itu kan masuknya arena politik ya. Argumen paling pas ya soal manfaat atau efek di masa depan. Kalau Anda malah ngotot bahas keadilan tindakan masa lalu ya kurang nyambung. Itu lebih pas di pengadilan di arena forensik. Ah, jadi
7:01 milih peluru yang tepat buat medan perangnya. Ya, kurang lebih gitu. Memilih argumen yang pas buat arenanya itu kunci. Oke, jadi Kangkum nih dari penjelajahan singkat retorika Aristoteles ini, seni persuasi itu ya bukan sihir, tapi lebih ke kemampuanin analisis, nemuin cara terbaik di tiap situasi. Hm. Kuncinya di keseimbangan antara logos, argumen logis, etos, bangun karakter kredibel, sama patos. nyentuh audiens dengan pas. Benar. Plus harus sadar penuh sama konteksnya. Kita lagi di arena mana nih? Politik, hukum, atau seremonial. Tepat sekali rangkumannya. Nah, sebagai penutup nih mungkin ada pertanyaan buat Anda renunkan. Aristoteles nulis ini kan ribuan tahun lalu ya. Dia udah nekin
7:47 pentingnya logika, logos, dan karakter etos. Iya. Coba deh kita lihat komunikasi persuasif zaman sekarang. Iklan, politik, media sosial. Sejauh mana sih prinsip Logos dan etos itu masih jadi pegangan utama atau jangan-jangan kita lebih sering main patos aja? Hmm, pertanyaan bagus. Dan yang lebih penting lagi mungkin gimana Anda bisa secara sadar dan yang penting etis menerapkan ketiga pilar ini. Etos, patos, logos dalam upaya komunikasi Anda sendiri sehari-hari. Wah, itu refleksi yang bagus banget. Oke deh, terima kasih sudah menyimak deep dive kita kali ini. Sampai jumpa di pembahasan berikutnya. Bagian kedua kali ini. Wah, kita pegang sumber klasik
8:35 nih retorika dari Aristoteles. Kita fokus ke buku I ya. Iya, betul. Kalau buku I kemarin kan soal logika argumen. Nah, buku I ini katanya lebih ke psikologi persuasi ya. Tepat sekali. Aristoteles tuh sadar banget e meyakinkan orang itu enggak melulus soal fakta sama logika aja. He gimana kita nampilin diri itu etos. Terus gimana kita bikin audiens ngerasain sesuatu itu patos. Nah, itu krusial misi kita sekarang ya. Bongkar itu gimana Aristoteles membedah emosi dan karakter buat seni persuasi ini. Oke. Oke. Siap nih. Penasaran gimana filsof kuno ini eh udah bisa mettain hati sama pikiran manusia buat ngomong di depan umum. Mari kita mulai. Sip. Aristoteles mulai dari etos,
9:22 kredibilitas pembicara. Ada tiga hal penting menurut dia. Tiga ya. Apa aja tuh? Pertama nunjukin fronesis kayak ee kecerdasan praktis gitu. akal sehatlah. Kedua, aret nunjukin karakter moral yang baik. Oke. Dan ketiga, Einoya, niat baik ke audiens. Tanpa ini argumen sehebat apapun ya, bisa jadi enggak didengerin. Wah, jadi bukan cuma soal apa yang diomongin, tapi juga siapa kita di mata mereka. Ya, masuk akal banget sih. Betul. kayaknya ini masih relevan banget sampai sekarang kan buat public speaking, leadership, bahkan ya personal branding di sosmet gitu. Persis prinsipnya timeless. Nah, kalau Etos sudah kuat baru Aristoteles masuk
10:08 ke patos, kemampuan buat ngebangkitin emosi yang pas di audiens. Nah, ini dia nih emosi. Dia percaya emosi itu bisa ngubah cara orang menilai sesuatu loh. Iya. Ya. Terus gimana dia ngebedahnya? Emosi kan wah kompleks banget dia. E pendekatannya sangat sistematis untuk tiap emosi misalnya marah, kasihan, takut gitu ya. He. Dia analisis tiga hal. Satu, gimana kondisi pikiran orang yang lagi ngerasain itu. Dua, biasanya emosi itu ditujuin ke siapa. Tiga, atas dasar apa emosi itu muncul? Pemicunya apa? Wow, detail ya. Coba contohnya marah deh. Itu gimana definisinya? Apa cuma kesal biasa? Oh, jauh lebih spesifik. Marah itu kata
10:55 Aristoteles dorongan hati. Ada rasa sakitnya buat balas dendam karena ngerasa dihina secara enggak pantes. Dihina ya kuncinya? Iya, dihina. Bisa diremehin, didengkiin, atau dilecehin. Dan menariknya nih, dia juga nyatat ada semacam rasa senang gitu dari nungguin balas dendamnya. Gila sedalam itu ya analisisnya. Berarti ngerti pemicunya. Rasa diremehkan itu penting banget ya buat orator banget. Kalau mau bikin audiens marah atau sebaliknya mau meredakan kemarahan. Nah, kalau kasihan gimana? Nah, iya kasihan itu gimana? Kalau kasihan itu muncul pas kita lihat orang lain menderita ee penderitaan yang kayaknya enggak pantas dia terima. Oke. Apalagi kalau kita ngerasa wah kayak gitu bisa nimpa kita juga atau orang
11:42 dekat kita. Dan penderitaannya itu terasa dekat atau nyata. Jadi orator bisa mainin ini buat bangkitin empati ya dengan cerita yang relevan gitu. Tepat. Nah, selain etos dan patos, Aristoteles enggak berhenti di situ. Masih ada lagi. Dia juga lihat audiens-nya, karakter mereka. Oh, ya. Berdasarkan usia kan saya ingat tuh. Betul. Dia petain kecenderungan umum. Kayak anak muda katanya penuh hasrat, optimis, impulsif, suka ngejar kehormatan, kemenangan, tapi ya gitu pengalamannya kurang, gampang percaya. Terus kalau orang tua kebalikannya ya cenderung gitu. Lebih skeptis, hati-hati, lebih banyak hidup di kenangan daripada harapan. Fokusnya ke hal yang berguna bukan yang muluk-muluk lagi. Pengalaman hidup kan. Hmm.
12:29 Enggak cuma usia ya, nasib kayak kekayaan gitu juga dibahas. Dibahas juga. Misalnya orang kaya kata Aristoteles cenderung jadi agak sombong, ngerasa superior, mikir semua bisa dibeli pakai uang. Wah, mengenali pola-pola ini entah dari usia atau kondisi hidup itu bantu orator buat nyesuaiin pendekatannya kayak profiling audience zaman dulu lah. Kerenkeren. Oke, jadi udah etos, patos, karakter audience. Ada lagi alat bantu lain di buku dua ini? Ada. Dia juga singgung soal argumen umum, topoe istilahnya kayak argumen soal kemungkinan. Contohnya misalnya kalau hal yang lebih susah aja bisa terjadi, ya berarti hal yang lebih gampang juga mungkin terjadi, kan. logis. Oke. Oke.
13:14 Terus dia bahas juga penggunaan contoh. Bisa fakta sejarah, bisa juga fabel kayak cerita esop gitu. Oh, contoh itu buat apa fungsinya? Cuma ilustrasi aja. Enggak cuma itu, bisa nguatin argumen logis, tapi juga bisa banget buat bangkitin patos. Cerita kan nyentuh emosi atau bangun etos nunjukin kita berwawasan luas. Jadi dipakainya setelah argumen utama ya biar lebih nendang. Idealnya begitu kata Aristoteles sebagai penguat. Oke, kalau kita rangkum nih ya, buku ini ngajarin kalau persuasi itu wah seni yang kompleks banget ya. Jauh lebih dari sekedar nyodorin fakta sama logika. Betul. Ini soal ngerti psikologi manusia, kredibilitas kita, emosi audiens sampai karakter mereka semuanya nyambung. Persis. Dan ini mungkin jadi bahan
14:01 renungan buat Anda yang dengerin. Seberapa relevan sih wawasan Aristoteles yang udah ribuan tahun ini eh buat komunikasi kita sekarang. Mm iya juga ya. Apakah ngerti ini bikin Anda jadi komunikator yang lebih katakanlah efektif dan empatik atau malah jadi lebih waspada aja sama trik-trik persuasi orang lain? Nah, itu dia pertanyaan bagus buat dipikirin lebih lanjut. Oke deh, terima kasih banyak udah nyimak Deep dive kita kali ini. Sama-sama. Sampai ketemu di penjelajahan kita berikutnya bagian ketiga. Nah, kali ini kita pegang kutipan dari buku retorika karya Aristoteles. Eh, spesifiknya buku ketiga, fokusnya soal gaya bahasa dan gimana nyusun argumen.
14:46 Oke, misi kita sekarang nih kita mau coba bongkar pemikiran Aristoteles. Gimana sih caranya ngomong biar enggak cuma ya logis, tapi juga benar-benar bisa bikin orang terpukal terus yakin gitu. Mari kita mulai ya. Kata Aristoteles, tahu apa yang mau diomongin itu penting, jelas, tapi gimana cara nyampeinnya itu seringki jadi kunci suksesnya. Sesuatu yang ee kadang kita lupain gitu. Betul banget. Aristoteles tuh menekankan kalau retorika itu erat kaitannya sama hmm kesan yang kita timbulkan ke pendengar. Jadi, penyampaian atau delivery itu penting. Bukan cuma soal kata-kata, tapi juga mainin suara, volume, nada, irama. Mirip kayak ya kayak akting lah di panggung. Oh, jadi kayak aktor gitu ya? Iya, bisa dibilang gitu. Penyampaian
15:31 yang bagus itu bisa bikin kita menang dalam perdebatan publik. Ini bukan cuma hiasan, tapi ee sebuah kebutuhan biar pesan kita nyampai. Ini juga cara pertama kita nyentuh patos, emosi audiens. Jadi, bukan cuma soal fakta keras aja ya, tapi gimana fakta itu dibungkusnya gitu biar pendengar enggak emak defensif atau malah jadi tertarik. persis. Prinsipnya sih ya tetap sajikan kasus secara wajar dengan fakta. Tapi kita harus sadar banget kalau cara kita ngomong itu wah pengaruhnya besar ke penerimaan pendengar. Nah, ngomongin gaya nih. Gaya yang efektif itu menurut Aristoteles kayak gimana sih? Dia nyebut dua syarat utama, jelas sama pantas. Kedengarannya simpel ya, tapi mungkin ada jebakannya. Iya,
16:18 jelas itu artinya pakai kata-kata yang umum yang orang ngertilah, gampang dipahami. Terus pantas artinya gaya kita tuh nyambung sama konteksnya. Jangan aneh-aneh. Aneh-aneh gimana tuh maksudnya? Ya, misalnya jangan perlu puitis kalau lagi ngomongin hal teknis. Atau sebaliknya jangan terlalu datar kalau lagi coba membangkitkan semangat. Nah, yang menarik nih, Aristoteles bilang kita itu sebaiknya menyembunyikan seni kita. Menyembunyikan seni maksudnya biar kedengaran alami, enggak kayak dibuat-buat, enggak kayak pakai trik. Justru kesan alami itu yang wah persuasif banget. Kalau orang ngerasa kita lagi mainin teknik, efeknya bisa hilang. Ah, oke. Oke. Jadi, persuasin terbaik itu yang enggak kerasa kayak lagi dibujuk ya. Ngomongin seni, Aristoteles
17:06 kan kayaknya suka banget sama metafora. Kenapa tuh? Penting banget ya buat dia banget. Metafora itu kayak jembatan. Dia bikin ide abstrak. jadi ee jadi konkret, jadi hidup di kepala pendengar. Aristoteles bilang kemampuan bikin metafora bagus itu kayak bakat, enggak bisa diajarin plek diiplek. Hm, gitu ya. Metafora yang pas itu bisa ngasih kejelasan, daya tarik, plus bikin gaya kita tuh unik, ada sentuhan asing yang bikin orang perhatiin. Oh, ya. Dan bisa strategis juga. Strategis gimana? Ya, misalnya mau muji ambil perumpamaan dari kategori yang lebih keren. Kalau mau nyindir atau mengkritik ya ambil dari kategori yang lebih rendah gitu. Oke. Oke. Ada contoh enggak dari
17:51 Aristoteles biar lebih tebayang gitu? Ada. Ada. Misalnya Periklus tuh dia gambarin pemuda yang gugur perang itu sebagai musim semi yang direnggut dari tahun. Kena banget kan? Wah. Iya ya. Dalam. Atau plato dia bikin simili. Perumpamaan orang yang ngerusak mayat musuh itu kayak anjing yang gigitin batu, bukan orang yang ngelemparnya. Ini kan bikin kita mikir, "Oh, iya ya, gitu. Bikin momen ahak." Keren, keren. Oke, jadi kita udah bahas soal bahannya nih, kata gaya penyampaian, terus gimana ngerangkainya jadi pidato yang utuh? Aristoteles ngomongin struktur juga kan? Iya, betul. Dan dia eh nyederhanain banget loh. Inti pidato tuh kata dia cuma dua bagian aja sebenarnya.
18:36 Oh iya. Apa aja tuh? Pertama nyatain dulu pokok masalahnya apa. Itu pernyataan kasus. Kedua, kasih bukti atau argumen buat nguatin pernyataan tadi. Argumen ini intinya logos. Argumen logisnya cuma dua itu intinya. Ya, intinya itu bagian lain kayak pendahuluan atau penutup itu fungsinya buat dukung dua inti tadi. Pendahuluan misalnya kayak ngasih peta di awal biar pendengar enggak bingung tahu mau dibawa ke mana omongan ini. Oke, strukturnya simpel ya intinya. Tapi tadi kita balik lagi nih ke soal kepantasan gaya. Berarti gaya bicara kita juga harus fleksibel dong ya. Enggak bisa sama terus. Tepat sekali. Itu penting banget. Aristoteles nekanin gaya kita harus bisa nunjukin emosi yang pas, marah, sedih, semangat, tergantung situasi dan juga
19:24 harus nunjukin karakter. Karakter pembicara atau gimana? Bisa karakter kita, bisa juga disesuaiin sama siapa audiens-nya. Kan beda ya ngomong sama katakanlah akademisi dibanding ngomong sama masyarakat umum di pasar gitu misalnya. Kenapa sih penyesuaian ini penting banget? Nah, ini nyambungnya ke etos, kredibilitas kita. Kalau gaya bicara kita terasa pas sama situasi, sama emosi yang ditunjukin sama siapa kita, audiens itu jadi lebih percaya. Ah, jadi biar kelihatan otentik gitu ya. Ya, otentik dan bisa diandalkan. Rasa percaya inilah fondasi kuat buat persuasi. Kalau orang udah enggak percaya sama kita, argumen sebagus apapun ya h susah masuknya. Oke, jadi kesimpulannya nih dari semua obrolan kita menurut Aristoteles
20:11 persuasi itu kompleks ya. Enggak cukup cuma ngandelin logika argumen logos doang, enggak cukup. Kita juga harus bisa bangun kredibilitas etos dan eh nyentuh emosi pendengar, Pak Tos. Betul sekali. Dan gaya penyampaian sama struktur itu alat kuncinya buat nyampai ke tiga pilar itu. Gaya yang efektif itu tadi, jelas, pantas, alami, dan cerdas. Pakai metafora biar ide jadi hidup. Dan strukturnya. Strukturnya ingat aja yang simpel. Nyatakan posisimu, terus buktikan. Itu dasarnya. Nah, ini mungkin jadi pertanyaan buat kamu yang dengerin buat dibawa pulang. Coba deh perhatiin seberapa sering kamu sadar sama cara orang ngomong bukan cuma apa isinya. Dan gimana kalau kamu sadar kira-kira itu ngubah cara kamu ngerespons atau memahami pesannya enggak? Ya, coba deh
20:57 pikirin itu.