The Catch of the Mind (Captured Thoughts) by Ibn Al-Jawzi | Audiobook with Text

Ringkasan Singkat

Teks ini adalah ringkasan dari buku "The Catch of the Mind" karya Ibn Al-Jawzi, yang membahas berbagai aspek kehidupan spiritual dan intelektual. Beberapa poin utama meliputi:

  • Pentingnya menjaga pikiran dan wawasan dengan menuliskannya.
  • Penerimaan masyarakat terhadap teguran berbeda-beda.
  • Tarik-menarik jiwa antara dunia dan akhirat.
  • Kehati-hatian sebagai jalan menuju keselamatan.
  • Bahaya kesombongan dan pentingnya kesempurnaan akal.
  • Mengingat kematian dan mempersiapkan diri untuknya.
  • Kontras antara ulama dunia dan ulama akhirat.
  • Kehati-hatian dalam mencari rezeki dan bahaya kemiskinan.
  • Cinta kepada Sang Pencipta sebagai keharusan.
  • Pentingnya menjaga waktu dan menghindari tipu daya setan.
  • Berjuang melawan jiwa dan pentingnya kelembutan.
  • Bahaya mengikuti keinginan dan pentingnya kehati-hatian.
  • Pentingnya ilmu dan amal, serta bahaya kepura-puraan dalam berkhotbah.
  • Menyerahkan diri kepada kehendak Allah dan pentingnya kesabaran.
  • Kehati-hatian dalam bergaul dengan orang lain dan menjaga rahasia.
  • Pentingnya menjaga kesehatan tubuh dan menghindari kenyamanan berlebihan.
  • Menyadari tujuan penciptaan dan pentingnya kerendahan hati.
  • Bahaya kemarahan dan pentingnya mengendalikan diri.
  • Pentingnya kebersihan dan keindahan dalam Islam.
  • Bahaya mengikuti hawa nafsu dan pentingnya akal.
  • Pentingnya kehati-hatian dan persiapan menghadapi kematian.
  • Pentingnya kehati-hatian dalam memilih teman dan menghindari kesombongan.
  • Pentingnya kehati-hatian dalam bergaul dengan penguasa dan menjaga diri dari mereka.
  • Pentingnya kehati-hatian dalam berbicara tentang orang lain dan menjaga lisan.
  • Pentingnya kehati-hatian dalam mencari ilmu dan mengamalkannya.
  • Pentingnya kehati-hatian dalam beribadah dan menghindari riya.
  • Pentingnya kehati-hatian dalam bergaul dengan orang lain dan menjaga diri dari mereka.
  • Pentingnya kehati-hatian dalam mencari rezeki dan menghindari kemiskinan.
  • Pentingnya kehati-hatian dalam memilih jalan hidup dan menghindari kesesatan.
  • Pentingnya kehati-hatian dalam berinteraksi dengan dunia dan akhirat.
  • Pentingnya kehati-hatian dalam berinteraksi dengan jiwa dan keinginan.
  • Pentingnya kehati-hatian dalam berinteraksi dengan orang lain dan menjaga diri dari mereka.
  • Pentingnya kehati-hatian dalam berinteraksi dengan Tuhan dan menjaga diri dari-Nya.

Kata Pengantar

Ibn Al-Jawzi memulai dengan memuji Allah dan mengharapkan keberkahan bagi Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Ia menekankan pentingnya menjaga pikiran dan wawasan yang terlintas dalam hati agar tidak mudah dilupakan. Rasulullah SAW bersabda, "Ikatlah ilmu dengan cara menuliskannya." Ibn Al-Jawzi menjadikan buku ini sebagai jaring untuk menangkap pikiran-pikiran sekilas dan memohon manfaat dari Allah.

Bagian 1

Bagian ini membahas bagaimana penerimaan masyarakat terhadap teguran berbeda-beda. Beberapa orang mengalami pencerahan sesaat, namun kembali pada kebiasaan buruk setelah meninggalkan majelis ilmu. Hal ini disebabkan karena hati tidak selalu berada dalam keadaan waspada yang sama seperti saat mendengarkan teguran. Teguran seperti cambuk yang menyakitkan saat dipukul, namun rasa sakitnya hilang setelah serangan itu berlalu. Selain itu, saat mendengarkan teguran, seseorang terbebas dari gangguan duniawi, namun kembali tertarik pada kesibukan hidup setelahnya. Namun, ada juga orang-orang yang tidak mendapatkan teguran sama sekali, bagaikan air yang mengalir dari batu halus. Jiwa memiliki banyak tarikan yang menariknya menuju kehidupan duniawi, sedangkan mengingat akhirat adalah sesuatu yang berada di luar kodrat jiwa.

Bagian 2

Bagian ini membahas pentingnya melihat ke depan terhadap hasil akhir segala sesuatu, agar tidak tertipu oleh apa yang tampak menyenangkan. Kebenaran tentang masa depan ini diperjelas dengan merenungkan masa lalu. Penulis mengingatkan bahwa segala sesuatu harus dinilai berdasarkan tujuannya, dan kita tidak boleh terbuai oleh sesuatu yang kelihatannya menyenangkan, karena nanti kita akan menyesal. Penipuan kenikmatan duniawi membuat orang tidak berhati-hati, padahal kehidupan duniawi akan bertindak dengan hati-hati. Hal yang paling mengherankan adalah kegembiraanmu dalam delusimu sendiri, dan kecerobohanmu dalam hiburan—sambil melupakan apa yang menanti Anda.

Bagian 3

Bagian ini membahas kehati-hatian sebagai jalan menuju keselamatan. Penulis menekankan bahwa keamanan menjauhkan dirinya sendiri, dan siapa yang mengaku sabar, maka ia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri. Dua hal yang paling membutuhkan disiplin dan pengendalian adalah: lidah dan mata. Jangan biarkan kesombongan menjeratmu, karena hukuman yang paling buruk adalah ketika seseorang tidak merasa dirinya sedang dihukum. Penulis juga membahas kondisi para sarjana dan pertapa yang menjalani hukuman yang tidak mereka sadari, seperti pengejaran mereka terhadap ketenaran dan kepemimpinan.

Bagian 4

Bagian ini membahas salah satu tanda kesempurnaan akal adalah meningkatnya ambisi seseorang. Siapa yang merasa cukup dengan apa yang rendah, maka ia sendiri rendah. Penulis juga mengingatkan untuk menjauhkan kematian di depan mata Anda, karena orang yang cerdas akan mempersiapkan keberangkatan. Orang bijak adalah orang yang menghargai setiap momen sebagaimana mestinya. Jika kematian datang tiba-tiba, ia terlihat siap. Penulis juga membahas tentang cobaan berat dan penderitaan yang luar biasa yang menyerang banyak orang, dan menyadari bahwa hukumannya, tidak peduli seberapa beratnya, masih kurang dari pelanggaran mereka.

Bagian 5

Bagian ini membahas kontras antara ulama dunia dan ulama akhirat. Para cendekiawan dunia mencari keunggulan, banyak pengikut, dan pujian, sedangkan para ulama akhirat jauh dari mengutamakan hal-hal demikian. Mereka takut terhadap setan dan merasa kasihan terhadap orang-orang yang tertimpa setan. Faktor pembeda antara kedua jenis ini adalah: para cendekiawan dunia mencari keunggulan, banyak pengikut, dan pujian. Akan tetapi para ulama akhirat jauh dari mengutamakan hal-hal demikian. Penulis juga mengingatkan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga kaum itu mengubah keadaan diri mereka sendiri.

Bagian 6

Bagian ini membahas salah satu tanda kesempurnaan akal adalah meningkatnya ambisi seseorang. Siapa yang merasa cukup dengan apa yang rendah, maka ia sendiri rendah. Penulis juga mengingatkan untuk menjauhkan kematian di depan mata Anda, karena orang yang cerdas akan mempersiapkan keberangkatan. Orang bijak adalah orang yang menghargai setiap momen sebagaimana mestinya. Jika kematian datang tiba-tiba, ia terlihat siap. Penulis juga membahas tentang cobaan berat dan penderitaan yang luar biasa yang menyerang banyak orang, dan menyadari bahwa hukumannya, tidak peduli seberapa beratnya, masih kurang dari pelanggaran mereka.

Bagian 7

Bagian ini membahas bagaimana beberapa ulama dengan berani menuruti hawa nafsu terlarang, dan melihat ini sebagai suatu kondisi yang mendekati ketidakpercayaan—kalau saja tidak ada perbedaan yang halus. Penulis mengklasifikasikan orang-orang yang termasuk dalam golongan yang haram ke dalam beberapa golongan, dan mengingatkan bahwa kehati-hatian adalah hal yang tepat bagi orang yang rasional.

Bagian 8

Bagian ini membahas bagaimana skala keadilan tidak menunjukkan favoritisme. Barangsiapa yang mengenal Sang Pencipta—Yang Mulia dan Agung—akan melihat mereka beroperasi di bawah hukum keadilan, dan akan menyaksikan bahwa balasan selalu menanti, bahkan jika datangnya setelah beberapa penundaan. Maka, janganlah sekali-kali tertipu oleh keringanan hukuman, sebab balasannya mungkin tertunda, tetapi tidak akan pernah gagal. Orang yang cerdas harus selalu waspada ketika balasan mungkin akan diberikan.

Bagian 9

Bagian ini membahas realitas jiwa dan sifatnya telah lama membingungkan banyak orang, meskipun mereka dengan suara bulat menegaskan keberadaannya. Ketidaktahuan akan hakikatnya tidaklah berbahaya selama eksistensinya ditegaskan. Apa yang benar-benar membingungkan banyak orang adalah nasib jiwa setelah kematian. Posisi orang-orang yang benar adalah bahwa jiwa tetap ada setelah kematian, dan bahwa ia mengalami kebahagiaan atau hukuman.

Bagian 10

Bagian ini membahas bagaimana jiwa selalu menarik saya ke arah apa yang tampaknya dituntut oleh pertemuan peringatan, pertobatan orang yang bertobat, dan penglihatan para petapa—yaitu, penolakan, memutuskan hubungan dengan manusia dan mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk akhirat. Penulis merenungkan kecenderungan ini dan menemukan bahwa, dalam kebanyakan kasus, kecenderungan ini berasal dari Setan.

Bagian 11

Bagian ini membahas bagaimana seseorang harus memahami nilai waktunya dan kehormatan hari-harinya. Dia seharusnya tidak menyia-nyiakannya bahkan sesaat pada hal apapun yang tidak mendekatkannya pada Tuhan. Dia harus selalu mengutamakan kata-kata dan perbuatan yang terbaik. Penulis juga mengingatkan bahwa salah satu tipu daya dan tipu daya Setan yang terbesar adalah menghancurkan orang kaya dengan mengisi mereka dengan harapan dan mengalihkan mereka dengan kesenangan yang menjauhkan mereka dari akhirat.

Bagian 12

Bagian ini membahas bagaimana salah satu tanda kesempurnaan akal adalah meningkatnya ambisi seseorang. Siapa yang merasa cukup dengan apa yang rendah, maka ia sendiri rendah. Penulis juga mengingatkan untuk menjauhkan kematian di depan mata Anda, karena orang yang cerdas akan mempersiapkan keberangkatan. Orang bijak adalah orang yang menghargai setiap momen sebagaimana mestinya. Jika kematian datang tiba-tiba, ia terlihat siap. Penulis juga membahas tentang cobaan berat dan penderitaan yang luar biasa yang menyerang banyak orang, dan menyadari bahwa hukumannya, tidak peduli seberapa beratnya, masih kurang dari pelanggaran mereka.

Bagian 13

Bagian ini membahas bagaimana jiwa memiliki banyak tarikan yang menariknya menuju kehidupan duniawi, dan tarikan-tarikan ini muncul dari dalam. Di dalam Sebaliknya, mengingat akhirat adalah sesuatu yang berada di luar kodrat jiwa. kecenderungan—itu datang dari luar. Orang bahwa tarikan akhirat lebih kuat, karena ancaman yang didengarnya dalam Al-Qur’an. Namun kenyataannya tidak demikian. Tarikan jiwa terhadap dunia bagaikan air yang mengalir: ia secara alami ingin turun. Sebaliknya, mengangkatnya ke atas membutuhkan usaha dan tenaga.

Bagian 14

Bagian ini membahas bagaimana beberapa ulama dengan berani menuruti hawa nafsu terlarang, dan melihat ini sebagai suatu kondisi yang mendekati ketidakpercayaan—kalau saja tidak ada perbedaan yang halus. Orang-orang yang termasuk dalam golongan yang haram dapat dibagi menjadi beberapa golongan: * Pertama, orang yang tidak mengetahui bahwa perbuatan tersebut haram. Yang ini ada alasannya. * Kedua, orang yang meyakini bahwa perbuatan tersebut makruh, namun tidak haram, maka orang tersebut termasuk golongan orang yang tidak makruh. dekat dengan yang pertama. Barangkali Adam (saw) termasuk dalam kategori ini. * Ketiga, orang yang salah menafsirkan dan melakukan kekeliruan, sebagaimana dikatakan tentang Adam alaihissalam: bahwa ia dilarang memakan pohon tertentu, tetapi memakan buah dari jenis pohon tersebut, bukan pohon itu sendiri. * Keempat, orang yang mengetahui bahwa hal itu terlarang, tetapi nafsu yang menguasainya menyebabkan dia melupakan apa yang diketahuinya. Dia menjadi begitu asyiknya dengan apa yang dilihatnya sehingga mengalihkan perhatiannya dari apa yang diketahuinya. * Kelima, orang yang mengetahui bahayanya dan mengingatnya—namun gagal bertindak dengan hati-hati.

Bagian 15

Bagian ini membahas bagaimana Allah SWT telah membangun tubuh manusia ini dengan sempurna, sesuai dengan standar kebijaksanaan tertinggi. Melalui ciptaan yang rumit ini, Dia menandakan kesempurnaan tentang kekuatan-Nya dan kehalusan kebijaksanaan-Nya. Kemudian dibuat. Hal ini membuat pikiran menjadi bingung—setelah sebelumnya ia tunduk kepada-Nya kebijaksanaan—bertanya-tanya tentang rahasia di balik tindakan tersebut.

Bagian 16

Bagian ini membahas bagaimana seseorang bisa saja menyembunyikan suatu perkara yang tidak diridhai Allah dari, dan Tuhan menyingkapkannya—seringkali melalui orang itu sendiri, bahkan meskipun tidak ada orang lain yang melihatnya. Dia mungkin menyebabkan orang lain berbicara tentang hal itu, atau membawa orang tersebut ke dalam situasi yang menunjukkan dosanya, supaya semua orang tahu bahwa ada Dia yang menghukum orang yang bersalah, dan karena yang tidak dapat ditutupi oleh tirai atau kerahasiaan apa pun.

Kesimpulan

Bagian ini membahas bagaimana kecenderungan jiwa terhadap keinginan seringkali berlebihan. Ketika miring, Hal ini dilakukan dengan hati, pikiran, dan intelek—begitu menyeluruhnya sehingga seseorang menjadi tidak responsif terhadap semua saran.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:13 Kata pengantar Segala puji bagi Allah, pujian yang sampai kepada keridhaan-Nya. Semoga keberkahan senantiasa terlimpah kepada orang-orang yang paling mulia di antara orang-orang yang telah dipilih-Nya, dan kepada orang-orang yang telah dipilih-Nya. yang mendampinginya dan mendukungnya, dengan kedamaian yang begitu luas sehingga ujungnya tidak dapat dipahami. Karena pikiran bebas berkelana, memikirkan hal-hal yang terlintas di pikiran hanya untuk kemudian pergi lagi, menjadi penting untuk menjaga apa yang muncul dalam hati—agar tidak dilupakan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ikatlah ilmu dengan cara menuliskannya.” Seberapa sering sesuatu terjadi padaku, hanya untuk membuatku sibuk dan gagal mencatatnya— lalu ia hilang, dan saya menyesali kehilangannya. Saya telah mengamati dalam diri saya sendiri bahwa setiap kali saya membuka mata perenungan, keajaiban-keajaiban yang tak terlihat hadir dengan sendirinya—hal-hal yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya

1:02 diperhitungkan. Lalu, dari gundukan pemahaman itu, wawasan memancar keluar, yang tidak boleh disia-siakan atau diabaikan. Maka aku jadikan buku ini sebagai jaring untuk menangkap pikiran-pikiran sekilas—Sayd al-Khatir—dan Tuhan adalah Yang Esa dari siapa manfaat dicari. Sesungguhnya Dia dekat dan responsif. Penerimaan Masyarakat terhadap Teguran Berbeda-beda Sering terjadi ketika mendengar sebuah teguran, pendengar mengalami momen pencerahan. Namun begitu dia meninggalkan tempat peringatan itu, kekerasan dan kecerobohan kembali. Saya merenungkan secara mendalam tentang alasan di balik ini—dan saya mulai memahaminya. Lalu saya

1:47 Umumnya, jantung tidak tetap dalam keadaan waspada yang sama setelah mendengarkan suatu peringatan sebagaimana adanya pada saat mendengarkan. Hal ini disebabkan oleh dua alasan: Pertama, teguran itu seperti cambukan, yang menyakitkan ketika dipukul, tetapi setelah serangan itu berlalu, rasa sakitnya peringatan, seseorang terbebas dari gangguan duniawi. Dia telah menjauhkan tubuhnya dan pikirannya dari urusan dunia, dan hatinya penuh perhatian. Tapi begitu dia kembali ke kesibukan hidupnya, ia ditarik kembali oleh penderitaannya. Lalu, bagaimana dia bisa tetap seperti sebelumnya? Ini adalah kondisi yang umum di antara orang-orang. Namun, mereka yang memiliki terjaga bervariasi dalam berapa lama efeknya berlangsung.

2:37 dan melanjutkan tanpa menoleh ke belakang. Jika kafilah alam manusia mencoba menghentikannya, dia akan berteriak protes—seperti yang dikatakan Hanzalah tentang dirinya sendiri: “Hazanlah telah menjadi seorang munafik!” Orang kecerobohan karena sifat alami mereka, dan di waktu lain mereka dipanggil untuk bertindak karena apa mereka sebelumnya telah mendengar peringatan. Mereka seperti batang gandum yang bergoyang tertiup angin. Dan ada pula orang-orang yang tidak mendapatkan teguran. melampaui momen pendengaran—bagaikan air yang mengalir dari batu halus. Tarik-Menarik Jiwa Antara Dunia dan Akhirat Jiwa memiliki banyak tarikan yang menariknya menuju kehidupan duniawi, dan tarikan-tarikan ini muncul dari dalam. Di dalam

3:24 Sebaliknya, mengingat akhirat adalah sesuatu yang berada di luar kodrat jiwa. kecenderungan—itu datang dari luar. Orang bahwa tarikan akhirat lebih kuat, karena ancaman yang didengarnya dalam Al-Qur’an. Namun kenyataannya tidak demikian. Tarikan jiwa terhadap dunia bagaikan air yang mengalir: ia secara alami ingin turun. Sebaliknya, mengangkatnya ke atas membutuhkan usaha dan tenaga. Maka, para penolong yang diutus oleh syariat pun menanggapinya dengan dorongan dan peringatan, memperkuat kekuatan intelektual. Adapun jiwa, tarikan ke dalam adalah banyak—tidak mengherankan jika itu berhasil diatasi. Yang benar-benar menakjubkan adalah ketika hal itu dapat diatasi.

4:09 Melihat ke Depan terhadap Hasil tujuan akhir segala sesuatu pada awalnya, mencapai kebaikan dan terhindar dari keburukan. Tapi siapa pun gagal melihat hasilnya, tertipu oleh apa yang tampak menyenangkan, dan apa yang dia harapkan akan membawa kedamaiannya berakhir dengan penderitaan—dan apa yang diharapkannya akan memberinya ketenangan hanya mendatangkan kesusahan. Kebenaran tentang masa depan ini diperjelas dengan merenungkan masa lalu: Hidup Anda tidak akan lengkap tanpa adanya saat-saat di mana Anda menaati Tuhan atau tidak menaati-Nya. Jadi dimana Apakah sekarang merupakan kenikmatan atas ketidaktaatanmu? Dan di mana kesulitan ketaatanmu? Hilang—setiap orang telah pergi dengan apa yang dikandungnya. Oh, seandainya saja dosa-dosa, setelah hilang, benar-benar meninggalkan

4:57 dari kematian. Saksikan pahitnya penyesalan atas kelalaian. Aku tidak bermaksud untuk mempertanyakan bagaimana kenikmatan bisa mengatasi penyesalan tersebut—karena manisnya kenikmatan telah berubah menjadi kepahitan. Dan begitulah, penderitaan itu tetap ada, tanpa ada yang dapat mengimbanginya. Tidakkah kamu tahu bahwa segala sesuatu harus dinilai berdasarkan tujuannya? Jadi amati hasilnya dan kamu akan aman. Janganlah kamu terbuai oleh sesuatu yang kelihatannya menyenangkan, nanti kamu akan menyesal. Penipuan Kenikmatan Duniawi Barangsiapa kehidupan duniawi akan bertindak dengan hati-hati. Dan barangsiapa yang yakin akan jangka panjangnya, perjalanan ke depan akan mempersiapkan perjalanan.

5:42 kepastian, namun lupa. Menyadari bahayanya suatu negara, namun bergegas ke arahnya. Kamu takut pada orang lain, ketika Tuhan lebih layak bagimu untuk takut kepadaNya. Dirimu namun Anda tidak dapat mengatasinya dalam hal-hal yang Anda ketahui dengan pasti! Hal yang paling mengherankan adalah kegembiraanmu dalam delusimu sendiri, dan kecerobohanmu dalam hiburan—sambil melupakan apa yang menanti Anda. seberapa dekat penyakit itu. Anda senang dengan kenyamanan Anda, tidak menyadari rasa sakit yang mendekat. Sesungguhnya kematian orang lain telah memperlihatkan kepadamu kematianmu sendiri. Tempat istirahat orang lain—sebelum kematian mereka—telah mengungkapkan tempat peristirahatanmu di masa depan. Namun pengejaran kesenangan telah mengalihkan perhatianmu dari merenungkan kehancuran dirimu sendiri:

6:31 Seolah-olah Anda belum pernah mendengar kisah orang-orang yang telah meninggal sebelumnya, Juga tidak melihat apa yang telah dilakukan Waktu terhadap mereka yang Tersapu oleh angin yang bertiup, hanya meninggalkan kuburan. Berapa kali Anda melihat seseorang yang tidak pernah pindah ke rumah sebelum ia dikuburkan? Dan seberapa sering Anda melihat seorang gubernur istana yang musuhnya menggantikannya setelah ia dipecat? Wahai kamu yang bergerak maju menuju tujuan ini setiap saat—namun bertindaklah sebagai seseorang yang tidak tahu dan tidak mengerti—Bagaimana Ketika ia tidak tahu di tanah mana ia akan beristirahat? Kehati-hatian Adalah Jalan Menuju Keselamatan menemukan bahwa keamanan menjauhkan dirinya sendiri. Dan siapa yang mengaku sabar, maka ia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.

7:21 Betapa banyak pandangan yang tidak pernah dipikirkan dua kali—namun terbukti menjadi pukulan yang fatal. Dua hal yang paling membutuhkan disiplin dan pengendalian adalah: lidah dan mata. Maka berhati-hatilah—hati-hatilah—agar tidak tertipu oleh tekad Anda untuk meninggalkan keinginan, sementara masih mendekati godaannya. Karena nafsu itu licik dalam perangkapnya. Berapa banyak prajurit pemberani yang terbunuh dalam pertempuran, terkejut karena satu hal? mereka akan mengabaikannya karena dianggap kurang waspada. Ingatlah Hamzah dan Wahshi. Jadi pikirkan baik-baik—jangan mengejar setiap kilatan petir, petir dalam cahayanya. Turunkan Karena hal itu hanya akan membuatmu terjerumus dalam aib dan malu.

8:06 Dan awal mula hasrat adalah mata yang menjelajah. Jangan Biarkan Kesombongan Menjeratmu dihukum seseorang tidak merasa dirinya sedang dihukum. Lebih buruk dari itu adalah ketika dia menikmati apa yang ada, sebenarnya, sebuah hukuman—seperti bersenang-senang dengan kekayaan yang tidak halal atau kemampuan untuk melakukan dosa dengan mudah. Barangsiapa dalam kondisi demikian, ia tidak akan pernah mencapai ketaatan. Saya telah merenungkan kondisi banyak sarjana dan pertapa, dan saya telah melihat mereka menjalani hukuman yang tidak mereka sadari. Sebagian besar dari mereka menderita hal ini karena pengejaran mereka terhadap ketenaran dan kepemimpinan. marah jika kesalahannya ditunjukkan. Pengkhotbah

8:51 Orang yang bertapa itu munafik atau suka cari perhatian. Hukuman pertama bagi mereka adalah berpaling dari kebenaran, dan malah sibuk dengan rakyat. Di antara hukuman tersembunyi yang mereka derita adalah dilucutinya kenikmatan hubungan intim. permohonan dan kenikmatan ibadah. Kecuali beberapa wanita—yang melaluinya Tuhan memelihara bumi. Diri batin mereka sama seperti diri lahir mereka—lebih tepatnya, bahkan lebih murni. Negara-negara pribadi mereka mirip dengan negara-negara publik mereka—atau lebih tepatnya, bahkan lebih indah. Aspirasi mereka mencapai bintang—atau lebih tepatnya melambung lebih tinggi lagi. Kalau mereka dikenal, mereka berusaha untuk tidak dikenal. Dan jika mereka melihat mukjizat, mereka mengingkarinya. Sementara orang-orang tersesat dalam kecerobohan mereka, orang-orang ini menyeberangi tanah tandus, sendirian.

9:41 Bumi mencintai mereka. Para malaikat di surga bergembira karenanya. Kami memohon kepada Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Agung, agar memberikan kami kesuksesan untuk mengikuti jejak mereka, dan menjadikan kita salah satu pengikut mereka. Salah satu tanda kesempurnaan akal adalah meningkatnya ambisi seseorang. Siapa yang merasa cukup dengan apa yang rendah, maka ia sendiri rendah. Aku belum pernah melihat di antara kesalahan-kesalahan mampu mencapai kesempurnaan. Dia Mencintai Maha Suci Dia yang cintanya mendahului orang-orang yang dicintainya— Dia memuji mereka atas apa yang telah Dia anugerahkan kepada mereka,

10:26 Dia menempatkan apa yang datang kemudian di antara sifat-sifat mereka di depan apa yang datang lebih dulu, Karena betapa mereka mengutamakan Dia. Dia membanggakan Dan Dia menyukai bau mulut mereka. Oh, betapa Tidak semua pencari dapat mencapainya, dan Jauhkan Kematian di Depan Mata Anda cerdas untuk mempersiapkan keberangkatan. perintah akan mengejutkannya, Begitu Aku telah melihat banyak orang tertipu oleh masa mudanya, Terganggu oleh harapan yang panjang. Seorang “Hari ini aku akan belajar, dan besok aku akan mengamalkannya.” Kemudian dia menjadi lalai dalam menghindari kesalahan,

11:16 Menunda pertobatan sejati. Dia menggunjing atau mendengarkannya, dan tidak Berharap untuk menghapusnya nanti melalui ketakwaan. Orang bijak adalah orang yang menghargai setiap momen sebagaimana mestinya. Jika kematian datang tiba-tiba, ia terlihat siap. dia hanya bertambah dalam kebaikan. Sebuah ide terlintas di benak saya mengenai cobaan berat dan penderitaan yang luar biasa yang menyerang banyak orang, mencapai puncak kesulitan. Dan aku berpikir: Puji Tuhan!— Tuhan Dan kemurahan hati menuntut pengampunan.

12:05 Lalu, saya merenung, dan mendapati bahwa banyak orang, dalam Mereka tidak pernah merenungkan tanda-tanda keesaan Tuhan, Dan janganlah meneliti perintah-perintah-Nya dan larangan-Nya. Jika Hukum Ilahi selaras dengan keinginan mereka, mereka mengikutinya. Jika tidak, mereka menuruti kemauannya sendiri. Setelah Mereka tidak peduli apakah itu halal atau haram. Jika Jika tidak, mereka meninggalkannya. yang tanpa malu melakukan dosa besar, Terkadang ilmu seorang ulama bertambah, namun Jadi saya menyadari: hukumannya, tidak peduli seberapa beratnya,

12:52 Masih kurang dari pelanggaran mereka. Dan ketika Mereka berteriak: “Mengapa ini terjadi? Karena dosa apa?” Melupakan apa yang terjadi sebelumnya— Seorang pria mungkin dipermalukan di usia tuanya, Mendapatkan Tidak menyadari hal itu karena dia mengabaikan hak Tuhan di masa mudanya. Maka apabila kamu melihat seseorang dihukum, ketahuilah bahwa Kontras Ulama Dunia dan Ulama Akhirat Aku merenungkan kecemburuan di antara para sarjana—Dan menemukan dari kecintaan mereka terhadap Dan janganlah kamu saling dengki. Seperti yang

13:40 “Dan mereka tidak merasakan dendam dalam hati mereka terhadap apa yang telah diberikan kepada mereka [orang lain].” Dan Dia juga berkata: “Dan Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan, dan janganlah masukkan dalam hati kami sesuatu dosa. dendam terhadap orang-orang yang beriman.” setiap malam untuk saudara-saudaranya. “Ayahmu adalah salah satu dari enam orang yang aku doakan setiap malam sebelum fajar.” Faktor pembeda antara kedua jenis ini adalah: Para cendekiawan dunia mencari keunggulan, banyak pengikut, dan pujian. Akan tetapi para ulama akhirat jauh dari mengutamakan hal-hal demikian. Mereka takut terhadap setan dan merasa kasihan terhadap orang-orang yang tertimpa setan. Al-Nakhaʿī menolak untuk bersandar pada tiang. ʿAlqamah

14:29 “jejak kaki yang harus diikuti.” Beberapa dari mereka, jika lebih dari empat orang berkumpul di sekitar mereka, Akan bangkit dan berjalan pergi. Mereka Mereka menyukai ketidakjelasan. Yang dipikirkan hanya bagaimana bertahan hidup sampai tiba dengan selamat. dan saling menguntungkan, Karena mereka Siang dan malam mereka hanya sekedar berhenti di tengah jalan menuju Surga. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum…” Barangsiapa menginginkan keadaan yang suci, hendaknya Allah SWT berfirman:

15:15 “Kami akan memberikan mereka air yang berlimpah.” “Jika hamba-hamba-Ku menaati-Ku, niscaya Aku akan menurunkan hujan kepada mereka pada malam hari, dan menyinari mereka dengan matahari pada siang Nabi ﷺ juga bersabda: “Kebenaran dosa tidak pernah dilupakan, dan Seperti apa yang kamu lakukan, demikianlah kamu akan diperlakukan.” “Barangsiapa yang menyucikan, maka disucikan baginya. Barangsiapa yang berbuat baik di malam hari, maka ia akan mendapat pahala di siang harinya. Dan barangsiapa yang diberi pahala pada malamnya.” akan berjalan mengelilingi perkumpulan dan berkata:

16:01 lanjutkan—biarlah dia takut akan Tuhan.” “Sesungguhnya aku telah berbuat maksiat kepada Allah, dan aku mengetahuinya dari perilaku tungganganku dan pelayanku.” Ketahuilah—semoga Tuhan membimbingmu—Yang tidak merasakan hantaman pisau. Hanya orang Apakah dia untung atau rugi. Jadi jika Ingatlah berkat yang tidak kau syukuri, Atau Waspadalah terhadap larinya berkah, Jangan terkecoh dengan ketenangan saat ini, Karena Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya mengubah keadaan suatu kaum hingga kaum itu mengubah keadaan diri mereka sendiri.”

16:48 Abu Ali ar-Rudhbari berkata: “Di delusi adalah berbuat dosa—belum diperlakukan dengan baik—dan Hal-hal Membingungkan yang Membingungkan Orang-orang yang Sesat dan saya menemukannya terbagi menjadi dua kategori: mudah dan sulit. Sedangkan yang mudah adalah ibadah yang dilakukan secara fisik, meskipun ada juga yang lebih mudah. yang lain. Misalnya saja, wudhu dan shalat lebih mudah daripada puasa, namun puasa bisa jadi mungkin lebih mudah bagi sebagian orang daripada menunaikan Di antara yang paling sulit adalah proses intelektual refleksi dan penalaran yang

17:33 mengarah pada pengenalan Sang Pencipta. Hal ini sulit bagi mereka yang didominasi oleh sensorik persepsi, tetapi mudah bagi orang yang intelektual. menundukkan diri, dan menahan dorongan alamiah agar tidak menuruti apa yang disukainya. Namun semua ini dapat menjadi lebih mudah bagi orang yang rasional ketika ia merenungkannya pahala dan akhir yang diharapkan, meskipun sulit pada saat itu. Namun kewajiban yang paling membingungkan dan menakjubkan adalah ini: Kebijaksanaan Sang Pencipta ditegaskan oleh akal budi, namun kita melihat orang yang tenggelam dalam pengetahuan dan mengabdikan diri untuk beribadah, menderita kemiskinan—menggerogoti itu dengan giginya sendiri—sementara dia dipaksa merendahkan dirinya kepada orang-orang bodoh untuk mendapatkan makanan. Dan orang yang berdosa, meski ketidaktahuannya, diperkaya hingga dunia berkelimpahan untuknya.

18:24 Kita melihat tubuh muda diciptakan dengan sempurna, hanya untuk itu saja kekuatan untuk layu di masa puncak kehidupan. Bingkai yang indah berubah menjadi reruntuhan yang rapuh. Kita melihat anak-anak menderita dengan cara yang menggugah belas kasihan di setiap hati. Namun kita diberitahu: Jangan ragu bahwa Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. Kemudian dan juga disuruh untuk percaya bahwa Tuhan telah menyesatkan Firaun. Kita diberitahu bahwa Adam tidak punya pilihan lain selain memakan buah dari pohon itu—namun ia dicela dengan kata-kata: “Dan Adam mendurhakai Tuhannya.” yang telah membingungkan banyak orang—beberapa sampai pada titik tidak percaya dan menyangkalnya. Jika mereka menyelidiki lebih dalam makna dari hal-hal ini, mereka akan menemukan bahwa berserah diri kepada Realitas-realitas ini sendiri merupakan suatu bentuk ujian ilahi terhadap kecerdasan—untuk melihat apakah kecerdasan tersebut mampu bertahan.

19:15 Prinsip ini, jika dipahami, akan menuntun kepada keselamatan dan ketundukan. Kami mohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Agung untuk menyingkapkan kepada kami ambiguitas yang selama ini membingungkan umat manusia. sesat. Sesungguhnya Dia dekat dan responsif. Menjaga Seseorang harus memahami nilai waktunya dan kehormatan hari-harinya. Dia seharusnya tidak menyia-nyiakannya bahkan sesaat pada hal apapun yang tidak mendekatkannya pada Tuhan. Dia harus selalu mengutamakan kata-kata dan perbuatan yang terbaik. konstan—bahkan jika tubuh tidak mampu bertindak—karena Nabi ﷺ bersabda: “Niat orang mukmin lebih baik dari amalnya.” Banyak orang saleh di masa awal memanfaatkan setiap momen. Diriwayatkan bahwa ʿĀmir bin ʿAbd Qays suatu kali diminta oleh seorang pria untuk berbicara dengannya. Dia membalas:

20:04 “Pegang matahari dengan kuat!” “Saya datang untuk mengingatkan ayah saya di saat-saat terakhirnya, dan dia berkata, ‘Anakku, tinggalkan aku “Sesungguhnya aku sedang membaca bagian keenam [Al-Qur’anku].” Ketika saat kematiannya, mereka menemukannya sedang berdoa. Dia berkata: “Sekarang catatan saya sedang disegel.” Jadi betapa tekunnya dia, kematian akan memotong amalnya, hendaknya dia berusaha semasa hidupnya untuk melakukan pekerjaan yang pahalanya kekal setelah kematian: * Mendirikan yayasan amal * Menanam pohon * Menyalurkan air untuk masyarakat * Membesarkan anak yang saleh dan mengingat Tuhan setelahnya Atau dia mungkin menulis sebuah buku pengetahuan yang bermanfaat—untuk para sarjana tulisan-tulisannya adalah keturunannya yang abadi.

20:53 pengetahuan bahwa orang lain meniru teladannya. Banyak yang telah meninggal, namun masih hidup di antara Saya telah melihat bahwa salah satu tipu daya dan tipu daya Setan yang terbesar adalah menghancurkan orang kaya dengan mengisi mereka dengan harapan dan mengalihkan mereka dengan kesenangan yang menjauhkan mereka dari akhirat. Dia menyibukkan mereka dengan mengejar kekayaan—menekan mereka untuk mengumpulkan kekayaan, lalu mendesak mereka untuk menjaganya melalui kekikiran. Ini adalah salah satu kekuatan terkuatnya dan strategi yang paling licik. perangkap halus lainnya: dia menakut-nakuti orang beriman agar menjauh dari kekayaan sepenuhnya, membuat orang-orang yang mencari akhirat merasa bersalah karena berusaha mendapatkannya. Dia menyerbu orang yang baru bertobat

21:42 untuk menyerahkan semua harta benda mereka. Dia dan memperingatkan mereka agar tidak bekerja demi mencari nafkah—berpura-pura melindungi iman mereka. Dia bahkan dapat berbicara melalui bahasa pemimpin rohani yang diikuti oleh orang yang bertobat, mengatakan hal-hal seperti: dan bergabunglah dengan barisan para petapa.” “Jika kamu tidak termasuk orang-orang yang benar-benar bertapa.” Dia mengulang-ulang hadits untuk menekan mereka lebih jauh. Pada harta miliknya dan meninggalkan mata pencahariannya. Kemudian dia bergantung pada belas kasihan orang lain, atau mencari disukai oleh para penguasa—karena ia tidak dapat mempertahankan kehidupan yang penuh dengan pengorbanan lebih dari beberapa hari. Ketika kebutuhannya mengejarnya, dia berakhir dalam keadaan yang lebih buruk dari sebelumnya,

22:27 menjual agama dan harga dirinya untuk bertahan orang-orang yang saleh, dan meneliti hadits-hadits yang shahih tentang orang-orang mukmin terkemuka, maka dia akan mengetahui: * Ibrahim a.s. memiliki ternak yang sangat banyak sehingga kota tempat tinggalnya tidak mampu menampungnya. * Begitu pula yang dilakukan Lot dan banyak nabi lainnya. * Banyak sahabat Nabi ﷺ yang seperti itu. Mereka hanya berlatih kesabaran ketika mereka miskin. Mereka tidak malu untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan bermanfaat, atau dari menikmati apa yang diizinkan ketika tersedia. Abu Bakar (ra) biasa pergi berdagang bahkan selama masa hidup Nabi ﷺ. Sebagian besar mengambil hanya apa yang mereka butuhkan dari dana publik dan menghindari ketergantungan pada orang lain.

23:13 Saya mengamati masalah ini mempengaruhi banyak cendekiawan agama saat ini. Fokus awal mereka pada pembelajaran mengalihkan perhatian mereka dari penghasilan. Kemudian, mereka menjadi tergantung pada orang-orang yang berkarakter lemah—dan dipermalukan. Padahal sebenarnya mereka layak mendapatkan kehormatan. membutuhkan orang lain. Namun ketika hal-hal ini mengering, tidak ada seorang pun yang memiliki komitmen agama dapat bertahan hidup tanpanya mengorbankan sebagian integritasnya. Jika Namun sering kali dia mengorbankan agamanya—dan tetap tidak memperoleh apa pun. Wajib bagi orang yang berakal untuk menjaga apa yang dimilikinya, berusahalah untuk mencari nafkah dan hindarilah menyanjung orang yang korup atau berpura-pura menjadi orang yang bodoh. Mereka jangan sampai terkecoh dengan klaim-klaim kosong kaum Sufi palsu yang meromantisasi kemiskinan. Kemiskinan adalah

24:02 tidak lain hanyalah penyakit ketidakmampuan. bagaikan orang yang dengan sabar menanggung penyakit—dia mungkin mendapat pahala, namun tetap saja merupakan penderitaan. Adapun orang yang berusaha menjadi pemberi, bukan penerima, dan pemberi, bukan penerima, maka dialah yang berhak menerima. termasuk golongan orang yang berani dan berbudi luhur. Siapa kehormatan kekayaan dan risiko kemiskinan. Saya merenungkan keadaan orang-orang yang berbudi luhur, dan saya menemukan bahwa mereka, sebagian besar, terampas dari kehidupan duniawi. Sementara itu, dunia sering berada di tangan orang-orang yang kekurangan. Saya melihat beberapa orang benar meratapi apa yang telah mereka lewatkan—harta benda yang

24:48 diperoleh oleh mereka yang berkarakter lebih rendah. Beberapa orang bahkan diliputi kesedihan karenanya. Maka aku berkata kepada salah seorang di situasi—Anda salah dalam beberapa hal.” Pertama, jika lalu mengerahkan upaya untuk mengejarnya. Itu lebih baik daripada bersedih atas kesuksesan orang lain tanpa harus berusaha sendiri. Penyesalanmu tanpa usaha adalah puncak kegagalan. Kedua, tujuan dunia ini adalah untuk melewatinya—bukan untuk menetap di dalamnya. Milikmu Pengetahuan saya sendiri mengonfirmasi hal ini. Apa yang biasanya didapatkan oleh mereka yang berkarakter lemah dari eksesnya membahayakan tubuh dan agama mereka. Jika Anda apa yang kamu ketahui itu berbahaya—maka kesedihanmu adalah hukuman atas keinginanmu yang salah tempat.

25:36 Ketiga, Anda tahu bahwa, secara umum, porsi manusia dalam kenikmatan duniawi lebih sedikit dibandingkan porsi hewan. Hewan makan lebih banyak, dengan kebebasan lebih besar dan lebih sedikit rasa takut—sementara Anda makan lebih sedikit dan terus-menerus khawatir. Jadi jika porsi kenikmatan duniawimu meningkat, maka hal ini hanya akan mendekatkanmu dengan hewan di alam, karena hal itu mengalihkan perhatian dari kebajikan yang adalah mereka yang paling terdorong menuju keunggulan. ketidakberhargaannya—Anda telah menghina pengetahuan Anda dan memperlihatkan buruknya penilaian Anda. “Siapapun yang Merumput di Dekat Zona Terlarang, Kemungkinan Besar Akan Memasukinya” Saya merenungkan bagaimana beberapa ulama dengan berani menuruti hawa nafsu terlarang,

26:22 dan saya melihat ini sebagai suatu kondisi yang mendekati ketidakpercayaan—kalau saja tidak ada perbedaan yang halus. Orang-orang yang termasuk dalam golongan yang haram dapat dibagi menjadi beberapa golongan: * Pertama, orang yang tidak mengetahui bahwa perbuatan tersebut haram. Yang ini ada alasannya. * Kedua, orang yang meyakini bahwa perbuatan tersebut makruh, namun tidak haram, maka orang tersebut termasuk golongan orang yang tidak makruh. dekat dengan yang pertama. Barangkali Adam (saw) termasuk dalam kategori ini. * Ketiga, orang yang salah menafsirkan dan melakukan kekeliruan, sebagaimana dikatakan tentang Adam alaihissalam: bahwa ia dilarang memakan pohon tertentu, tetapi memakan buah dari jenis pohon tersebut, bukan pohon itu sendiri. * Keempat, orang yang mengetahui bahwa hal itu terlarang,

27:07 tetapi nafsu yang menguasainya menyebabkan dia melupakan apa yang diketahuinya. Dia menjadi begitu asyiknya dengan apa yang dilihatnya sehingga mengalihkan perhatiannya dari apa yang diketahuinya. Inilah sebabnya mengapa pencuri tidak mengingat hukuman potong tangan—dia sepenuhnya asyik dalam mendapatkan apa yang diinginkannya. Dan orang yang berbuat zina tidak mengingat skandal atau hukuman yang ditentukan—visinya sepenuhnya terfokus pada kesenangan di hadapannya. * Kelima, orang yang mengetahui bahayanya dan mengingatnya—namun gagal bertindak dengan hati-hati. Namun kehati-hatian adalah hal yang tepat bagi orang yang rasional—terutama ketika ia mengetahui bahwa Raja yang bijaksana (Tuhan) telah menetapkan pemotongan tangan hanya untuk seperempat dinar, atau pelemparan batu kepada seseorang hingga mati hanya untuk kesenangan sesaat, atau menyebabkan orang menjadi

27:53 ditelan bumi, diubah bentuknya, atau ditenggelamkan… Jadi, bagaimana Skala Keadilan Tidak Menunjukkan Favoritisme Siapa Sang Pencipta—Yang Mulia dan Agung—akan melihat mereka beroperasi di bawah hukum keadilan, dan akan menyaksikan bahwa balasan selalu menanti, bahkan jika datangnya setelah beberapa penundaan. Maka, janganlah sekali-kali tertipu oleh keringanan hukuman, sebab balasannya mungkin tertunda, tetapi tidak akan pernah gagal. Di antara dosa terburuk yang pantas mendapat hukuman berat adalah kegigihan dalam berbuat dosa ketika mencari ridha Allah. untuk menenangkan Tuhan dengan tindakan-tindakan yang dangkal—seperti berdoa, membaca, atau membuat doa—berpikir bahwa pertunjukan seperti itu akan cukup. Orang

28:42 Tuhan membenci, namun mengharapkan dari-Nya apa yang Dia cintai. Sebagaimana “Dan orang yang tidak berdaya ialah orang yang menuruti hawa nafsunya dan mengharap ampunan Allah.” Orang yang cerdas harus selalu waspada ketika balasan mungkin akan diberikan. jatuh. Diriwayatkan bahwa Ibnu Sirin berkata: “Saya pernah mengejek seseorang dengan menyebutnya bangkrut. Empat puluh tahun kemudian, saya sendiri bangkrut.” Dan Ibnu Jallāʾ berkata: “Seorang Aku menatap pemuda tak berjanggut dan berkata, 'Apa ini? Anda akan merasakan efeknya.’ Empat puluh tahun kemudian, saya lupa Al-Quran.” atau memperbaiki niatnya, agar dia memperoleh pahala yang baik, meskipun tertunda.

29:28 Sebagaimana Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Qur’an, 12:90) “Barangsiapa yang menundukkan pandangannya dari kecantikan seorang wanita, maka Allah akan membalasnya dengan iman.” yang manisnya akan dia rasakan di dalam hatinya.” Biarlah keadilan tidak pilih kasih. Nasib Realitas jiwa dan sifatnya telah lama membingungkan banyak orang, meskipun mereka dengan suara bulat menegaskan keberadaannya. Ketidaktahuan akan hakikatnya tidaklah berbahaya selama eksistensinya ditegaskan. Apa yang benar-benar membingungkan banyak orang adalah nasib jiwa setelah kematian.

30:16 Posisi orang-orang yang benar adalah bahwa jiwa tetap ada setelah kematian, dan bahwa ia mengalami kebahagiaan atau hukuman. Ahmad “Jiwa orang-orang yang beriman berada di surga, dan jiwa orang-orang yang tidak beriman berada di neraka.” Diriwayatkan dalam hadits tentang para syuhada: “Jiwa digantung di pohon-pohon surga.” Beberapa makna harfiah dari laporan tersebut secara ekstrem, yang mengatakan bahwa orang mati makan dan melangsungkan pernikahan di dalam kuburan berangkat setelah kematian menuju kebahagiaan atau siksaan, dan bahwa ia mengalami realitas ini sampai Hari tentang Kebangkitan. Pada hari itu akan dikembalikan ke jasad untuk dinikmati atau disiksa

31:05 mungkin lengkap melalui kemampuan jasmani. “Di dalam tubuh burung hijau”— Ini adalah kesenangan kecuali melalui media tertentu. Dalam hal ini, kenikmatan berhubungan dengan makanan dan minuman. Sedangkan untuk kesenangan intelektual dan spiritual—yang berakar pada pengetahuan dan pemahaman—kesenangan tersebut memang dapat dialami oleh jiwa itu sendiri tanpa perantara apa pun. Alasan saya menyebutkan hal ini adalah karena saya menyadari adanya semacam tekanan dalam diri saya saat memikirkan kematian, disertai dengan pandangan tentang jiwa yang lenyap dan tak ada. Maka aku berkata pada diriku maka Anda telah diberitahu tentang apa yang perlu Anda ketahui—tidak ada dasar untuk menyangkalnya.”

31:51 “Dan jika kalian masih ragu-ragu dengan berita-berita Syariat, maka pembahasannya harus beralih ke menetapkan kebenarannya.” Dia “Saya tidak ragu akan kebenaran Hukum Ilahi.” Jadi saya “Maka berusahalah untuk meneguhkan imanmu dan menyempurnakan ketakwaanmu kepada Allah. Kemudian bergembiralah di dalam janji kemudahan pada saat kematian. Sungguh, aku khawatir terhadapmu hanya karena kekuranganmu dalam bertindak.” Ketahuilah bahwa tingkat kebahagiaan itu berbeda-beda, tergantung pada tingkat kebaikan seseorang, maka bangkitlah dengan sayap usaha menuju menara tertinggi di Surga. Waspadalah terhadap pemburu keinginan, atau perangkap kecerobohan. Siapapun yang Berusaha Memperbaiki Hati, Mencari Hal yang Mustahil

32:38 Saya merenungkan sifat dunia ini dan akhirat dan menemukan bahwa peristiwa-peristiwa di dunia ini dunia bersifat indrawi dan alamiah, sedangkan kejadian akhirat merupakan masalah keimanan dan kepastian. Pengalaman sensorik memiliki pengaruh lebih kuat terhadap seseorang yang pengetahuan dan keyakinannya lemah. Dan peristiwa-peristiwa hanya bertahan melalui frekuensi penyebabnya: bergaul dengan orang-orang, memandang apa yang menarik, dan mencari pengalaman yang menyenangkan semuanya memperkuat pengaruh dunia sensorik. Di sisi refleksi, dan keterlibatan dengan pengetahuan memperkuat pengaruh akhirat. Hal ini dapat diilustrasikan dengan contoh seseorang yang pergi ke pasar dan melihat perhiasan dunia ini, lalu memasuki kuburan dan mulai merenung, merasakan hatinya melunak.

33:26 Perbedaan antara kedua negara itu sungguh mencolok. Sebab, setiap keadaan merupakan hasil dari sebab-sebab yang menimbulkan keadaan itu. Maka peliharalah dirimu dengan menyendiri, berdzikir dan memperbanyak ilmu. Pengasingan adalah seperti diet, sedangkan pikiran dan pembelajaran adalah obat. Tapi obat tidak ada gunanya ketika diambil di tengah gaya hidup yang kacau. terakumulasi dari pergaulan dengan orang lain dan kekacauan akibat tindakan duniawi. Anda tidak mempunyai obat apa pun, kecuali apa yang telah saya dirimu terhadap godaan, namun masih menginginkan pemurnian hatimu, maka kamu mencari hal yang mustahil. Apa yang Terlarang Menjadi Diinginkan

34:14 untuk sesuatu yang telah dilarang, dan saya perhatikan bahwa semakin suatu hal dilarang, semakin kuat jiwa menginginkannya. pola ini: ketika Adam (saw) dilarang dari satu pohon—meskipun banyak pohon lain—keinginannya terhadap pohon tersebut meningkat. Dalam pepatah bijak dikatakan: “Seseorang dan menginginkan apa yang belum dicapainya.” Pepatah “Jika manusia diperintahkan untuk menahan lapar, mereka akan menahannya. Namun jika mereka dilarang untuk menahan lapar, mereka akan menahannya.” menyebarkan kotoran, mereka akan terobsesi dengannya.” “Kami dilarang melakukan itu hanya karena pasti ada sesuatu di dalamnya!” “Hal yang paling dicintai seseorang adalah apa yang tidak pernah didapatkannya.”

35:00 Setelah menyelidikinya lebih lanjut, saya menemukan dua alasan inti: Pertama: Jiwa tidak tahan jika dikurung. Itu sudah terkurung dalam kerangka tubuh. Maka jika dibatasi lebih jauh dengan larangan, ia akan menjadi semakin gelisah dan memberontak. Misalnya, seorang pria mungkin menghabiskan sebulan di dalam ruangan secara sukarela dan merasa baik-baik saja. Tetapi jika diminta untuk tinggal di dalam rumah selama satu hari saja, tiba-tiba hal itu terasa tak tertahankan. Kedua: Jiwa menolak untuk ditempatkan di bawah otoritas. Oleh karena itu sering kali menyukai hal-hal yang haram dan jarang merasa senang terhadap hal-hal yang halal. Inilah sebabnya mengapa seseorang mungkin dengan sukarela melakukan tindakan keagamaan jika ia memilih untuk melakukannya—tetapi menolaknya. jika diperintahkan untuk melakukannya.

35:48 Jiwa saya selalu menarik saya ke arah apa yang tampaknya dituntut oleh pertemuan peringatan, pertobatan orang yang bertobat, dan penglihatan para petapa—yaitu, penolakan, memutuskan hubungan dengan manusia dan mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk akhirat. Saya merenungkan kecenderungan ini dan menemukan bahwa, dalam kebanyakan kasus, kecenderungan ini berasal dari Setan. Setan melihat bahwa dalam pertemuan-pertemuan pengabaran saya, tidak pernah ada kekurangan orang—begitu banyak bahwa mereka tidak dapat dihitung—yang menangis dan berduka atas dosa-dosa mereka. Sering, banyak di antara mereka yang bertobat dan meninggalkan kebiasaan masa mudanya, dengan memotong rambut mereka. Terkadang lima puluh atau seratus orang bertobat dalam satu sesi. Pada hari-hari tertentu, lebih dari seratus orang bertobat. Mayoritas dari mereka adalah laki-laki muda, yang tumbuh dengan bermain-main dan terlibat dalam dosa. Seolah-olah Setan,

36:39 melihatku merenggut jiwa dari genggamannya, ingin mengalihkan perhatianku dengan ilusi—agar dia bisa merebut kembali mereka yang telah aku tarik menjauh darinya. meninggalkan pertemuan umum, berbisik: orang-orang dalam semua ini.” Jadi “Adapun memperindah tutur kata dan menyampaikan maksud dengan fasih, maka itu adalah suatu keutamaan, bukan kehinaan.” suatu sifat buruk. Adapun yang dengan sengaja mencari pujian orang lain dengan cara yang tidak halal, maka Allah menghendakinya!” Kemudian dia mulai menggoda saya dengan penolakan dengan menyarankan agar saya meninggalkan bahkan cara-cara yang sah untuk mencari nafkah. Jadi saya “Jika saya menemukan kegembiraan dalam pelepasan keduniawian dan berhasil mengisolasi diri, maka uang saya akan habis keluar atau seseorang di keluargaku sedang membutuhkan—apakah aku tidak akan dipaksa kembali dalam kekalahan?”

37:30 “Biarlah aku mengumpulkan apa yang memenuhi kebutuhan dasarku dan melindungiku dari mengemis kepada orang lain. Jika aku hidup lama, ini akan menjadi bekal yang berharga. Jika aku meninggal, setidaknya aku meninggalkan sesuatu untuk keluargaku.” “Aku tidak akan seperti pengembara yang menumpahkan airnya karena melihat fatamorgana. Ketika ia menyadari kesalahannya, sudah terlambat untuk menyesal.” “Pendekatan sebelum tidur, dan untuk mengumpulkan cukup uang guna memenuhi kebutuhan sebelum usia tua.” Nabi ﷺ bersabda: “Lebih daripada membiarkan mereka miskin dan mengemis pada orang lain.” Dan “Betapa baiknya harta yang halal di tangan orang yang takwa.” Adapun menyendiri, hendaknya diartikan menjauhi orang lain, bukan menjauhi berbuat kebaikan. Dan sebenarnya,

38:18 pengasingan dari orang lain selalu bermanfaat. Namun menyimpang—inilah penyembahan orang terpelajar. Beberapa doa dan puasa atas penulisan karya-karya yang bermanfaat atau pengajaran ilmu yang bermanfaat—lupa bahwa ilmu pengetahuan itu adalah benih yang hasilnya berlipat ganda, dan manfaatnya meluas jauh dan luas seiring berjalannya waktu. Jiwa tertarik pada ilusi yang disajikan Setan di sini karena dua alasan: 1. Kemalasan—karena menyendiri lebih mudah daripada beraktivitas terus-menerus. 2. Keinginan untuk dipuji—karena ketika seseorang tampil sebagai orang yang bertapa, masyarakat berbondong-bondong mendatanginya dengan rasa kagum. Maka tujukanlah pandanganmu kepada generasi terdahulu, dan berjalanlah pada jalan mereka. Begitulah cara Nabi ﷺ dan para sahabatnya, semoga Allah meridhoi mereka.

39:04 Apakah pernah ada yang diriwayatkan dari mereka seperti apa yang dibuat-buat oleh para petapa dan mistikus jahiliyah, yaitu meninggalkan pengetahuan dan mengisolasi diri dari orang lain? melibatkan masyarakat—memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran? Jika seseorang bukan ulama dan memilih mengasingkan diri untuk menghindari dosa, maka tindakannya seperti orang yang sedang melakukan diet ketat, yaitu menghindari campuran yang membahayakan. Namun bagi dokter yang ahli dan tahu apa yang ia lakukan, ia mendapatkan manfaat dari apa yang ia konsumsi. Yang terbaik di antara kalian adalah mereka yang bertindak sesuai dengan apa yang mereka ketahui Saya merenungkan tujuan penciptaan, dan menemukannya berakar pada kerendahan hati, dan pengakuan atas ketidakmampuan dan kelemahan seseorang.

39:52 salah satu ulama yang mengamalkan ilmunya, seperti Malik, Sufyan Al-Thawri, Abu Hanifah, al-Syafi'i, dan Ahmad—dan salah seorang dari para petapa dan penganut agama seperti Malik bin Dinar, Rābiʿah, Maʿrūf al-Karkhī, dan Bishr al-Ḥāfī. Setiap kali orang-orang dari penyembahan, sebuah suara akan memanggil melalui keadaan: “Tidaklah bermanfaat ibadah kalian kecuali bagi diri kalian Mereka adalah pewaris para Nabi, Dan orang-orang yang menjadi sandaran masyarakat.” Dan tatapan mereka, menjadi rendah hati, dan menyadari kebenaran posisi mereka, mereka memahami hal ini. Sesungguhnya Malik bin Dinar pernah mendatangi Hasan al-Basri untuk belajar,

40:40 dan berkata, “Al-Hasan adalah guru kami.” Dan ketika kebajikan melalui pengetahuan, suara lain bergema melalui realitas, berkata: “Bukankah inti dari pengetahuan adalah untuk mengamalkannya?” Ahmad bin Hanbal pernah berkata: “Apa gunanya ilmu kalau bukan untuk mencapai ma’ruf al-karkhī?” Diriwayatkan secara shahih dari Sufyan At-Tsauri bahwa ia berkata: “Andai saja aku hanya memotong daging dan tidak pernah menulis satu hadis pun.” Umm al-Dardāʾ berkata kepada seorang laki-laki: Dia bilang, "Tidak." Dia “menambah bukti Allah terhadapmu?” Abu “Celakalah orang yang tahu tetapi tidak bertindak—satu kali saja. Celakalah dia tujuh puluh kali lipat!”

41:27 Al-Fuḍayl berkata: “Orang dosa sebelum orang yang berilmu diampuni dosanya.” Namun, sama dengan firman Allah: “Apakah mereka yang tidak tahu?” (Al-Quran, Suatu ketika Sufyān al-Thawrī mendatangi Rābiʿah dan duduk di hadapannya, sambil mengambil manfaat dari kata-katanya. Dengan demikian, ilmu pengetahuan menuntun para ulama untuk menyadari bahwa tujuan hakiki ilmu pengetahuan adalah mengamalkannya. itu—bahwa itu adalah suatu sarana, bukan tujuan. Maka mereka merendahkan hati dan mengakui kekurangan mereka. Melalui pengakuan dan kerendahan hati mereka, pengetahuan mereka berkembang menjadi pengabdian yang sejati. Dan Itulah tujuan tanggung jawab ilahi. Mencintai Sang Pencipta Adalah Sebuah Keharusan

42:16 Saya merenungkan ayat dimana Tuhan berkata: “Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya.” Dan saya menemukan bahwa jiwa menolak gagasan mencintai Sang Pencipta, seolah-olah melakukan hal itu akan membuatnya cemas. Dikatakan: Namun setelah merenungkannya lebih dalam, saya melihat bahwa kesalahpahaman ini muncul karena dominasi persepsi sensorik. Inilah Cinta yang terikat pada indra hanya terikat pada penampilan fisik. Tapi cinta yang berakar di pengetahuan dan tindakan tertarik pada makna—dan menyukai makna tersebut. Kita melihat orang-orang yang mencintai Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, dan orang-orang yang mencintai Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, sebagian dari mereka yang dengan penuh semangat mendukung Ahmad bin Hanbal,

43:04 dan yang lainnya yang berpihak pada al-Ash'arī. Mereka berjuang, bahkan menyerahkan nyawa mereka, sebagai bentuk kesetiaan kepada mereka. Namun, tidak seorang pun di antara mereka yang pernah melihat pria-pria ini. Cinta mereka tidak didasarkan pada angka-angka. gambaran luar—tetapi pada makna yang mereka wakili: kebajikan, pengetahuan, dan integritas yang dirasakan melalui mata wawasan. Jadi bagaimana kebajikan-kebajikan tersebut dan menganugerahkan makna-makna tersebut? Bagaimana kenikmatan fisik, dan Dia yang memberiku akses kepada kenikmatan intelektual yang paling besar? Kenikmatan dalam belajar dan manisnya pemahaman melampaui segala kenikmatan jasmani. Dialah yang mengajariku, menumbuhkan daya persepsiku, dan membimbingku kepada apa yang aku pahami.

43:50 Pada setiap saat, Dia menyatakan Diri-Nya kepada saya melalui ciptaan baru—setiap objek sebuah mahakarya, setiap makhluk adalah tanda. dari Dia, oleh Dia, dan melalui Dia. Kemampuanku dan segala sesuatu yang saya pahami adalah ciptaanNya. Dan di Kalau bukan karena ajaranNya, aku tidak akan mengenalNya. Bagaimana mungkin aku tidak mencintai Dia yang melalui Dia aku ada, yang menopangku, yang mengendalikan aku, kepada siapa aku akan kembali, dan sentuhannya membuat semua hal indah dan dicintai? Dia yang menciptakan kesempurnaan lebih besar dari kesempurnaan yang diciptakan-Nya. Pengrajin yang ahli lebih menakjubkan dari pada mahakaryanya.

44:38 Dan pengalaman memahami lebih manis daripada apa yang dipahami itu sendiri. Jika kita melihat sebuah karya seni yang luar biasa, kita akan terpesona olehnya. seniman—bukan lukisannya. Maka betapa lebih lagi seharusnya jiwa yang telah disucikan mencintai Penciptanya? Ketika persepsi kita merobek tabir dunia sensorik dan menembus apa yang ada di baliknya, cinta kepada Sang Pencipta menjadi tak terelakkan. Semakin seseorang melihat Sang Pencipta dalam ciptaannya, semakin dalam pula cinta kepada-Nya tumbuh. Jika cinta ini meningkat, ia berubah menjadi kerinduan dan kegelisahan. Jika ia berubah menjadi rasa kagum terhadap keagungan-Nya, maka ia berubah menjadi rasa takut yang khusyuk. Jika berfokus pada kemurahan hati-Nya, itu menjadi harapan yang kuat. “Setiap orang punya cara minumnya sendiri; setiap orang tertarik pada sumber airnya.”

45:27 Kepatuhan Intelektual pada Kebijaksanaan Tuhan Saya Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung telah membangun tubuh manusia ini dengan sempurna, sesuai dengan firman-Nya. standar kebijaksanaan tertinggi. Melalui ciptaan yang rumit ini, Dia menandakan kesempurnaan tentang kekuatan-Nya dan kehalusan kebijaksanaan-Nya. Kemudian dibuat. Hal ini membuat pikiran menjadi bingung—setelah sebelumnya ia tunduk kepada-Nya kebijaksanaan—bertanya-tanya tentang rahasia di balik tindakan tersebut. melainkan untuk melewati jalur pengetahuan, dan terlibat dalam pasar transaksi spiritual. Maka ketika akal melihat bahwa mereka akan dikembalikan di akhirat, maka mereka pun merasa tenang.

46:14 Kemudian ia melihat hal yang lebih membingungkan: seorang pemuda, saat ia baru saja mulai mengejar cita-cita luhur, terlaksana. Atau seorang anak yang direnggut dari pelukan orang tua yang penuh kasih sayang yang paling membutuhkan kehadiran-Nya yang terus-menerus—namun Tuhan tidak perlu mengambilnya. Yang lebih membingungkan: kelangsungan hidup orang-orang yang sudah sangat tua, yang tidak lagi memahami arti kehidupan dan yang keberadaannya terus menerus hanya membawa penderitaan. Dan dari sifat yang sama: orang yang berakal dan beriman menerima rezeki yang sedikit, sedangkan orang yang tidak berakal dan beriman menerima rezeki yang sedikit. orang kafir yang bodoh hidupnya berkelimpahan. kecerdasannya goyah, tidak mampu memberi penjelasan. Ketika saya meneliti keseluruhan kewajiban ilahi, saya menyadari bahwa ketika akal budi gagal memahami

47:01 kebijaksanaan di balik realitas ini, namun pasti kebijaksanaan dari Yang Maha Esa yang bertindak, maka tugasnya adalah mengenali batas-batasnya sendiri dan tunduk. Dengan melakukan itu, ia memenuhi tanggung jawabnya. Jika ada yang berkata kepada akal budi: adalah bijaksana—jadi mungkinkah kebijaksanaan-Nya bisa dipertanyakan hanya karena Anda tidak memahami kasus tertentu?” Akal “Saya tahu dengan bukti yang jelas bahwa Dia bijaksana. Saya hanya tidak mampu memahami setiap perintah-Nya. pemikiran. Oleh karena itu, aku menyerah—meski aku melakukannya dengan paksa, dan sepenuhnya mengakui ketidakmampuanku.” Tidak Ada Yang Tersembunyi Dari Tuhan menunjuk kepada kebenaran Allah, dan mendapati mereka lebih banyak jumlahnya dari butiran pasir.

47:48 Di antara yang paling mengherankan adalah: seseorang bisa saja menyembunyikan suatu perkara yang tidak diridhai Allah. dari, dan Tuhan menyingkapkannya—seringkali melalui orang itu sendiri, bahkan meskipun tidak ada orang lain yang melihatnya. Dia mungkin menyebabkan orang lain berbicara tentang hal itu, atau membawa orang tersebut ke dalam situasi yang menunjukkan dosanya, supaya semua orang tahu bahwa ada Dia yang menghukum orang yang bersalah, dan karena yang tidak dapat ditutupi oleh tirai atau kerahasiaan apa pun. Demikian dan Tuhan menyatakannya. Orang-orang mulai berbicara tentangnya dengan pujian—kadang-kadang bahkan lebih dari yang seharusnya ia dapatkan. Mereka melupakan kesalahannya, dan hanya mengingat kebaikannya. Hal ini menunjukkan bahwa ada Tuhan yang tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang berbuat ikhlas. Hati manusia mulai mengenali realitas seseorang: mereka mencintai atau tidak mencintainya.

48:35 kepadanya, memujinya atau mengutuknya—dalam hubungan langsung dengan apa yang ada di antara dia dan Tuhan. Barangsiapa yang memperbaiki apa yang ada antara dirinya dengan Tuhan, maka Tuhan akan mengurus segala urusannya, dan melindunginya dari segala bahaya. Namun siapa orang-orang—sementara mengabaikan hubungannya dengan Tuhan—menemukan bahwa niatnya terbalik. Dan bahkan mereka yang memujinya bisa menjadi pengkritiknya. Ada Saya mengamati bahwa kecenderungan jiwa terhadap keinginan seringkali berlebihan. Ketika miring, Hal ini dilakukan dengan hati, pikiran, dan intelek—begitu menyeluruhnya sehingga seseorang menjadi tidak responsif terhadap semua saran.

49:22 terhadap suatu keinginan tertentu, aku memanggilnya: kata-kata—dan kemudian kamu boleh melakukan apa pun yang kamu mau.” “Bicaralah, aku akan mendengarkan.” Saya “Jelaslah bahwa kecenderunganmu terhadap keinginan-keinginan yang mubah itu lemah. Sebagian besar Kecenderungannya adalah terhadap apa yang dilarang. Izinkan saya mengungkap sifat keduanya untuk Anda—mungkin Anda akan lihatlah bahwa apa yang tampaknya manis, sebenarnya pahit.” Anda—tetapi jalan mereka sulit. Terkadang, Anda mungkin tidak memiliki kekayaan untuk mencapainya. Mendapatkannya mungkin sulit. Waktu—waktu yang berharga—dihabiskan untuk memperolehnya. Itu hati sibuk sebelum memperoleh, gelisah saat memiliki, dan takut kehilangan.

50:11 Sekalipun terpenuhi, masih ternoda oleh kekurangan. Jika itu makanan—kekenyangan membawa penyakit. Jika keintiman—sering kali menimbulkan kelelahan, konflik, atau perpisahan. Bahkan keintiman yang sah dapat mempermalukan tubuh dan melemahkan kekuatannya. Dan rinciannya terlalu banyak untuk dicantumkan di sini. Adapun hawa kelemahan sebagai kelemahan yang diperbolehkan, tetapi juga menambahkan: * penghancuran kehormatan seseorang * risiko aib * dan hukuman akhirat Lalu ada rasa sesal yang dirasakan orang yang bertobat, yang terasa menyakitkan setiap kali dosanya diingat. Tapi ketahuilah ini: dalam mengatasi keinginan daripada memenuhinya. Apakah kamu

50:58 keinginannya hidup dipermalukan? Dia ditaklukkan. Namun kuat dan dia terhormat. Dia menaklukkan. Maka berhati-hatilah melalui lensa kesenangannya—seperti pencuri yang hanya melihat manisnya uang yang dicuri, bukan ancaman amputasi. Biarkan Kenikmatan sering kali berubah menjadi pahit. Ia lenyap—atau ternoda oleh kebosanan atau penderitaan. Atau yang dicintai menjadi tidak dapat diakses. Maka dosa pertama menjadi seperti sepotong makanan yang dicicipi oleh orang yang kelaparan—itu tidak memuaskan, tetapi malah menambah keinginan. Biarkan keinginan, dan banyaknya manfaat dari kesabaran. Siapa pun yang berhenti sejenak dan merenungkan hal ini—keselamatan

51:46 sudah dekat. Sebuah pikiran datang kepadaku ketika duduk dalam sebuah pertemuan: ruangan itu tenang, hati-hati penuh perhatian, mata menangis, kepala tertunduk malu, dan jiwa menyesali kelalaian mereka. Tekad sudah ada telah berkobar kembali, dan lidah hati diam-diam menyalahkan diri mereka sendiri karena menyia-nyiakan kehati-hatian dan mengabaikan disiplin. Jadi aku berkata “Mengapa kewaspadaan ini tidak bertahan lama? Saya melihat jiwa dan kewaspadaan sebagai teman dekat saat berkumpul—tapi saat kita bangkit, mereka menjadi terasing.” Aku merenungkan hal ini dan menyadari bahwa jiwa tetap terjaga, dan hati masih mengakui kebenaran—tetapi banyak sekali hambatannya. Pikiran

52:37 kelelahan karena mengejar dunia—menyediakan kebutuhan tubuh, memenuhi kebutuhannya. Jantung terkubur di dalamnya, tubuh diperbudak. Pada memperoleh makanan, minuman, dan pakaian—merencanakan, menabung, menghitung kebutuhan tahun ini dan berikutnya. Momen berikutnya, hal ini berkaitan dengan pembuangan limbah berbahaya—termasuk air mani—yang mendorong perlunya pernikahan. Kemudian anak-anak. Pikiran sekarang bekerja penuh waktu untuk urusan duniawi, baik besar maupun kecil. Maka ketika seseorang memasuki suatu majelis zikir, dia tidak datang dengan membawa perut penuh atau kandung kemih terganggu. Dia datang dengan rasa lapar dan khawatir, melupakan dunia—tetapi ketika diingatkan, dia mengingat apa yang sudah dia ketahui. Hatinya terbangun, dan batinnya

53:25 pekerja menaiki kapal pengetahuan spiritual. Mereka Mereka meminta pertanggungjawaban hati nuraninya atas dosa-dosa masa lalu. Air mata penyesalan mulai mengalir, dan resolusi untuk perubahan pun lahir. Jika rutinitas yang saya jelaskan, dia akan mengabdikan dirinya kepada Sang Pencipta. Jika dia merasakan kenikmatan cinta-Nya, dia akan menjauhi segala hal lainnya demi kedekatan dengan-Nya. Inilah mendedikasikan diri untuk menghilangkan gangguan. Semakin mereka berusaha dalam hal ini, semakin banyak pula yang mereka terima. apa yang mereka cari—seperti hasil panen yang sesuai dengan hasil penanaman. terus-menerus terjaga, ia mungkin akan jatuh ke dalam kondisi yang lebih buruk daripada kondisi yang ditinggalkannya—yakni,

54:12 bangga terhadap negaranya sendiri, dan meremehkan negara lain. Dengan mungkin mulai berkata: “Aku, Jadi terkadang lebih baik tersandung di ladang dosa—sampai dia mencapai pantai pertobatan, dan berdiri teguh dengan kerendahan hati sebagai pelayan. Itu lebih tepat. Inilah kondisi kebanyakan orang, sehingga mereka disibukkan dengan urusan duniawi. Bahkan mereka yang menabur perbuatan baik pun harus siap mengalami kegagalan, yang diawasi oleh mata ketakutan. Dia melalui kesalahan-kesalahan itulah pengabdian mereka menjadi tulus, dan ibadah mereka diterima. Inilah yang dimaksud dengan hadits shahih: “Jika kamu tidak dan menggantikan kamu dengan suatu kaum yang berdosa, kemudian mintalah ampunan, niscaya Allah mengampuni mereka.”

55:03 Kritik terhadap Sufi Saya diperlukan. Apa yang disebut oleh orang-orang bodoh di antara para petapa sebagai “percaya kepada Tuhan” dengan mengosongkan tangan mereka kekayaan tidak sejalan dengan Hukum Ilahi. Nabi “Simpan sebagian kekayaanmu untuk dirimu sendiri.” Lalu “Meninggalkan ahli waris dalam keadaan kaya adalah lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam keadaan miskin dan meminta-minta kepada orang lain.” Jika ada orang yang berpikiran sederhana yang berkeberatan, dengan bersamanya) memberikan semua kekayaannya,” perdagangan yang berkembang pesat. Jika dia memberikan segalanya, dia masih bisa meminjam dan bertahan hidup. Untuk seseorang seperti dia, memberikan segalanya bukanlah hal yang tercela. Namun,

55:52 tidak mempunyai pekerjaan, atau yang menghentikan usahanya untuk mencari nafkah dan menjadi beban bagi orang lain, mengemis dan meyakini bahwa dia menerima pembukaan spiritual, sementara hatinya sebenarnya bergantung pada ciptaan, dan keinginannya terjerat di dalamnya. Setiap Jantungnya berdebar kencang: Ini sungguh memalukan, terutama bagi seseorang yang bisa mencari nafkah. Yang lebih buruk lagi adalah orang yang tidak bisa mendapatkan penghasilan, namun masih memberikan apa yang dimilikinya—hatinya kemudian menjadi tergantung pada harta milik orang lain. Dia mungkin akan merendahkan dirinya sendiri, menyanjung orang kaya dengan kesalehan pura-pura, dan setidaknya, bersaing dengan orang miskin dan yang membutuhkan untuk mendapatkan Apakah di antara mereka ada yang berperilaku seperti para petapa bodoh zaman sekarang? Saya sudah menunjukkan bahwa mereka mendapatkannya,

56:40 dan meninggalkan kekayaan. Ikutilah contoh mereka—itulah aliran yang paling murni. Waspadalah terhadap jalan yang dilalui oleh opini-opini yang salah—yang secara implisit menyatakan bahwa Hukum Ilahi adalah tidak lengkap dan butuh bantuan dari ide lain. Ketahuilah—semoga Tubuh itu ibarat tunggangan, dan tunggangan harus diberi makan dan dirawat. Jika Anda mengabaikannya, itu akan mengecewakan Anda dan mencegah Anda bepergian. (bersamanya) pernah membawa makanan di pundaknya. Ketika seseorang berkeberatan dengan mengatakan: “Apakah engkau akan melakukan hal itu, sebagai seorang Sahabat Rasulullah?” Dia menjawab: ketentuan-ketentuannya, ia berada dalam keadaan damai.”

57:26 “Jika kamu telah mengamankan bekal untuk sebulan, maka perbanyaklah beribadah.” Beberapa pihak menyatakan: keraguan pada Penyedia. “Kepercayaan lebih baik!” Waspadalah Meskipun ucapan-ucapan seperti itu diriwayatkan oleh beberapa tokoh saleh dari generasi terdahulu, jangan bergantung pada mereka, dan jangan goyah dengan kontradiksi mereka. Seperti yang dikatakan Abū Bakr al-Marwadhi: “Saya mendengar Ahmad bin Hanbal menganjurkan pernikahan. Saya berkata kepadanya, ‘Namun Ibnu Adham berkata…’” Ahmad menyela saya, meninggikan suaranya, dan berkata: “Saya sebutkan contoh Nabi ﷺ dan para sahabatnya. Teman-teman, dan kau membawakanku jalan setapak?” Ketahuilah—semoga harus meninggalkan segala cara, dan berkata:

58:12 dalam cuaca panas, atau kehangatan dalam cuaca dingin”—dia Begitu pula jika seseorang yang sudah berkeluarga berkata: “Saya kepada Allah” dan mereka mengalami kerugian, “Cukuplah menjadi dosa bagi seseorang jika ia mengabaikan orang-orang yang ia dukung.” Mencari nafkah menyatukan energi, membebaskan hati, dan memutus ketergantungan pada orang lain. Diri alamiah memiliki hak-hak yang dituntutnya. Hukum Ilahi menjelaskan hal ini dengan mengatakan: mata memiliki hak atas dirimu.” Pikirkanlah pencari spiritual seperti anjing yang tidak mengenali pelancong—ia menggonggong pada semua orang. Namun, berikanlah sedikit saja, dan ia akan tenang. Jadi,

59:00 memberi Anda ketenangan pikiran. Pahami prinsip-prinsip ini—ini sangat penting. Manusia dan Keinginan mereka sebagai perangkap, kehancuran, dan jerat kehancuran. Barangsiapa aman. Tetapi barangsiapa dikuasai oleh hawa nafsunya, betapa cepatnya ia jatuh. Saya melihat beberapa pria duniawi yang ingin memiliki selir, kemudian menggunakan afrodisiak dan stimulan untuk meningkatkan keinginan. Tak lama kemudian, panas alami mereka habis—dan mereka pun hancur. Di antara keinginan jiwa, aku belum pernah melihat yang lebih cepat merusak daripada keinginan ini. Setiap kali hati seorang pria tertuju pada orang yang cantik, maka hasrat seksualnya akan meningkat.

59:48 melampaui norma. Dan ketika dia melihat seseorang yang lebih menarik, hal itu menjadi lebih intens lagi, menyebabkan keluarnya cairan mani secara berlebihan, sehingga menguras hakikat kehidupan. Sebaliknya, jika seorang pria menikahi seseorang yang tidak menarik, keinginannya mungkin tidak terpenuhi sepenuhnya, dan zat yang membahayakan belum sepenuhnya dibuang. Hal ini mengakibatkan retensi dan penderitaan, serta meningkatnya kerinduan akan keintiman. Begitu pula, orang yang makan berlebihan akan merugikan dirinya sendiri—begitu pula orang yang makan kurang. Dengan demikian, saya belajar bahwa hal terbaik dari semua hal adalah moderasi. Dunia ini perjalanan—dan pemandunya haruslah akal budi. dorongan dan keinginan, betapa cepatnya dia akan

1:00:36 kehidupan duniawi. Ukurlah hal ini dengan masalah akhirat—dan pahamilah. Berjuang Melawan Jiwa Saya jiwa (jihād al-nafs) dan menemukannya sebagai bentuk perjuangan yang paling besar. Saya juga melihat banyak Para cendekiawan dan petapa salah memahami maknanya. jiwa dari semua keinginannya, yang keliru karena dua alasan: Pertama, terkadang seseorang menolak keinginan jiwanya, namun pujian yang diterimanya atas keinginan itu Penyangkalan menjadi kenikmatan yang jauh lebih besar daripada apa yang ditahannya. Misalnya, dia mungkin menahan diri dari kesenangan yang diizinkan dan menjadi terkenal karenanya. Jiwa kemudian merasa puas dengan kekurangan tersebut karena

1:01:22 telah mendapatkan sesuatu yang lebih manis—reputasi. Bahkan melalui penyangkalan ini, lebih baik daripada orang lain yang tidak menyangkal dirinya sendiri. Ini adalah sebuah rahasia bentuk kesombongan yang memerlukan kesadaran yang halus dan tajam untuk mengungkap dan memurnikannya. Kedua, kita diperintahkan untuk menjaga jiwa, dan salah satu cara menjaganya adalah dengan memberikannya hal-hal yang mempertahankannya—yang, dalam banyak kasus, adalah hal-hal yang diinginkannya. Kami seperti penjaga ini jiwa. Itu bukan milik kita, tapi amanah yang ada pada kita. Menyangkal sepenuhnya kebutuhan sahnya adalah berbahaya. Kadang-kadang, pengencangan yang berlebihan menyebabkan keruntuhan total. Beberapa orang memaksakan diri begitu kerasnya sehingga jiwa terlepas sepenuhnya dari mereka—dan kemudian tidak dapat ditemukan kembali.

1:02:11 Pendekatan yang tepat adalah memperlakukan jiwa sebagaimana pasien bijak memperlakukan dirinya sendiri: ia membuat Ia menahan kepahitan dalam pengobatan demi penyembuhan, tetapi meredakannya dengan sedikit rasa manis. Ia hanya makan apa yang diresepkan dokter dan dalam jumlah yang terukur. Dia tidak membiarkan Keinginan mengarahkannya pada makanan yang memicu rasa lapar atau kenikmatan yang menghalanginya menikmati kesenangan di masa depan. Demikian pula orang mukmin yang berakal tidak akan melepaskan kendali jiwanya, dan tidak pula akan menyerah. itu kebebasan penuh. Ia mengendurkan kendali saat masih pada jalurnya, dan mengencangkannya saat menyimpang. Kalau tergelincir, ia menariknya pelan-pelan, dan kalau melawan, ia menariknya kuat-kuat. Dia mempertahankannya melalui disiplin dan diplomasi—seperti seorang suami memperlakukan istrinya yang lembut: pertama melalui nasihat, kemudian melalui jarak jauh jika diperlukan, dan akhirnya, jika semuanya gagal, dengan tekad yang kuat.

1:03:03 Tidak ada cambuk yang lebih baik untuk mendisiplinkan jiwa selain cambuk kemauan yang kuat. Inilah perjuangan dalam tindakan. Adapun dialog batin, meliputi nasihat dan celaan: Ketika jiwa condong kepada manusia dan mencari sifat-sifat rendah hati, ingatkanlah: “Bukankah kamu adalah orang yang dimuliakan Allah ketika Dia berkata: ‘Aku menciptakanmu dengan tangan-Ku sendiri’, dan ‘Aku perintahkan para malaikat untuk bersujud kepadamu’, Bukankah Dia telah berbicara kepadamu, meminjam darimu, dan membeli darimu? Jika ia menjadi sombong, katakanlah: cairan? Seteguk air bisa membunuhmu. Gigitan nyamuk bisa membuat Anda menggeliat.” Jika ia menjadi malas, ingatkanlah ia tentang hak-hak Tuannya atas hamba-hambanya. Jika ia mengendur dalam bertindak, berikan ia motivasi dengan hadiah besar.

1:03:51 Jika ia condong kepada hawa nafsu, takutilah ia dengan hukuman yang berat. Juga memperingatkannya tentang konsekuensi duniawi, seperti firman Allah: “Katakanlah: “Pertimbangkanlah olehmu, jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatanmu…” (QS. 6:46) Atau “Aku akan memalingkan orang-orang yang sombong di bumi dari tanda-tanda kekuasaan-Ku…” (QS. 7:146) Inilah kata-kata—bersamaan dengan perjuangan melalui tindakan. Tidak Langsung Terjawab Saya melihat Seorang mukmin berdoa namun tidak melihat jawaban. Dia mengulang doanya, durasinya bertambah panjang,

1:04:37 dan masih belum ada jawaban yang jelas. Dia kesengsaraan, dan membutuhkan kesabaran. Respons tersebut merupakan penyakit yang memerlukan pengobatan. dan aku berdoa—tapi tidak ada jawaban. Lalu Setan mulai berputar-putar dalam arena penipuannya. Dia berbisik: “Tuhan Dia tidak pelit. Apa gunanya penundaan ini?” Jadi saya “Pergi kau, dasar terkutuk! Aku tidak butuh pembelaanmu, dan aku tidak akan pernah menerimamu sebagai agenku.” Kemudian aku menoleh ke diriku sendiri dan berkata: jika tidak ada alasan untuk menundanya selain karena Allah ingin menguji kesabaranmu dalam menghadapi cobaanmu,

1:05:23 musuh—itu saja sudah cukup sebagai kebijaksanaan.” Lalu aku bertanya “Apa alasan mendasar dari penundaan ini?” Saya 1. Tuhan adalah Tuan—Dia memberi dan menahan. Keberatan tidak punya tempat di sini. 2. Kebijaksanaannya terbukti. Apa yang Anda anggap baik bagi Anda mungkin tidak sejalan dengan kebijaksanaan-Nya. Dokter mungkin melakukan hal-hal yang tampak membahayakan—tetapi sebenarnya dimaksudkan untuk penyembuhan. Ini mungkin sama. 3. Respon yang tertunda mungkin merupakan suatu rahmat. Nabi ﷺ bersabda: “Seorang hamba tetap dalam keadaan baik selama dia tidak tergesa-gesa dan berkata: “Saya berdoa tetapi tidak dijawab.” 4. Mungkin makanan yang najis, atau kelalaian saat berdoa. Atau mungkin sebuah dosa yang

1:06:09 kamu belum benar-benar bertobat. Selidiki sendiri. Jawabannya mungkin ada di sana. Diriwayatkan bahwa Abu Yazid mengatakan ada seorang asing yang menginap di rumahnya. Abu Yazid memerintahkan seseorang

…

Share

Ringkasan Video YouTube